Uraian Singkat
Secara historis pendidikan Dayah/Pondok Pesantren dianggap sebagai sistem pendidikan
tertua dan produk budaya Indonesia asli. Pesantren muncul bersamaan dengan proses
Islamisasi di Nusantara pada abad awal mula masuknya ajaran Islam. Penyelenggaraan
pendidikan keagamaan semula berada di tempat-tempat pengajian yang mengajarkan
dasar-dasar ilmu keislaman, seperti belajar nahwu/sharaf, Al Quran, hadits,
akidah/tauhid, fiqh dan akhlaq. Bentuk ini kemudian dikembangkan dengan pendirian
tempat-tempat menginap bagi para pelajar (santri), yang kemudian disebut pesantren.
Meskipun bentuknya masih sangat sederhana, pada waktu itu pendidikan pesantren
merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang terstruktur, sehingga pendidikan ini
sangat bergengsi.
Beberapa dekade terakhir pesantren mengalami perkembangan jumlah yang luar biasa
dan menakjubkan, baik diwilayah pedesaan, pinggiran kota maupun perkotaan. Hal ini
menunjukkan orientasi pimpinan Dayah/Pesantren dan independensi Teungku/Kiyai
memperkuat argumentasi bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan swasta yang
sangat mandiri dan sejatinya merupakan praktek pendidikan berbasis masyarakat.
Dalam upaya meningkatkan kembali perhatian dan kecintaan para santri untuk terus
mempelajari kitab-kitab kuning sebagai sumber utama kajian ilmu-ilmu agama Islam,
maka perlu diselenggarakan perlombaan membaca, menerjemahkan dan memahami
kitab-kitab kuning bagi para santri Dayah melalui Kegiatan Lomba Baca Kitab Kuning
dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar. Tentu saja kegiatan ini bukan hanya semata-mata
memperlombakan teknik - teknik membaca sebuah kitab kuning, tetapi juga
kemampuan dalam memahami serta menyampaikan kandungan teks kitab kuning yang
di bacanya kepada publik. Dengan demikian Musabaqah ini merupakan ajang
perlombaan kemampuan dalam membaca, memahami serta mengungkapkan kandungan
kitab kuning secara komprehensif.