URAIAN SINGKAT PEKERJAAN
Penilaian Teknis Aset Pipa, Aset Bangunan, dan Pendukung Lainnya
Perumda Tirta Wibawa Mukti
Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Wibawa Mukti sebagai
badan usaha milik daerah yang bergerak dalam penyediaan air bersih
memiliki peran strategis dalam mendukung peningkatan kualitas hidup
masyarakat, pertumbuhan ekonomi regional, serta pemenuhan standar
pelayanan minimal di bidang air minum. Dalam menjalankan fungsinya,
Perumda mengandalkan jaringan sistem penyediaan air minum (SPAM) yang
tersusun dari berbagai komponen aset teknis, mulai dari jaringan perpipaan,
instalasi bangunan, hingga fasilitas pendukung lain seperti reservoir, pompa,
valve, meter induk, dan perlengkapan operasional.
Seiring bertambahnya jumlah penduduk, pertumbuhan kawasan
permukiman, serta perubahan pola konsumsi air masyarakat, beban kinerja
sistem perpipaan dan bangunan penunjang semakin meningkat. Di beberapa
kecamatan, pertumbuhan pelanggan mencapai 3–5% per tahun, sehingga
menuntut kesiapan infrastruktur dari sisi kapasitas maupun kehandalan
operasi. Jaringan pipa yang dibangun secara bertahap selama lebih dari satu
dekade kini berada pada kondisi yang bervariasi; ada yang masih berfungsi
optimal, tetapi tidak sedikit yang menunjukkan tanda-tanda penurunan
kualitas seperti kebocoran, karat, sedimentasi, atau penurunan tekanan (loss
of pressure).
Data internal Perumda menunjukkan bahwa tingkat kebocoran non
revenue water (NRW) rata-rata masih berkisar 28–35%. Angka ini tergolong
cukup tinggi dibandingkan standar nasional yang menargetkan NRW berada
di bawah 20%. Salah satu faktor terbesar penyebab tingginya NRW adalah
usia aset pipa yang sudah melewati umur teknis, penyambungan liar,
kerusakan jaringan bawah tanah akibat pembangunan infrastruktur eksternal,
serta kelemahan sistem monitoring terhadap pipa-pipa lama yang tidak lagi
tercatat secara akurat dalam sistem inventaris aset.
Selain jaringan perpipaan, keberadaan aset bangunan seperti reservoir,
kantor pelayanan, unit pengolahan air, rumah pompa, dan bangunan
operasional lainnya memegang peranan penting untuk menjamin kualitas dan
kontinuitas layanan. Banyak bangunan yang dibangun pada periode 2005–
2015, sehingga kini memasuki siklus usia 10–20 tahun—masa di mana
dilakukan evaluasi menyeluruh terkait struktur, fungsi, kelayakan, serta
kebutuhan revitalisasi. Di beberapa titik, ditemukan indikasi penurunan
kualitas struktur bangunan, seperti retak rambut, penurunan daya dukung
pondasi, serta ketidaksesuaian kapasitas bangunan dengan beban
operasional saat ini.
Aset pendukung lain seperti pompa, genset, panel listrik, flow meter,
gate valve, dan hydrant juga harus mendapatkan perhatian serius, mengingat
komponen-komponen inilah yang menentukan kestabilan suplai air dan
kemampuan Perumda dalam mengatasi gangguan teknis di lapangan.
Berdasarkan laporan operasional, beberapa equipment telah beroperasi lebih
dari 7–10 tahun tanpa dilakukan evaluasi komprehensif, sehingga rawan
mengalami penurunan efisiensi dan kenaikan biaya operasional.
Selain faktor teknis, aspek legal, administratif, dan akuntabilitas
pengelolaan aset juga menjadi alasan pentingnya dilakukan penilaian teknis
ini. Pemerintah daerah melalui ketentuan akuntansi aset menuntut semua
BUMD untuk memiliki data aset yang valid, mutakhir, dan dapat
dipertanggungjawabkan. Sayangnya, pada banyak perusahaan daerah, data
inventaris sering kali tidak sejalan dengan kondisi aset di lapangan. Beberapa
aset belum teridentifikasi lokasi koordinatnya, tidak memiliki catatan
pemeliharaan yang lengkap, atau belum dilakukan pembaruan nilai aset
sesuai kondisi fisik. Ketidaksinkronan ini berpotensi menimbulkan masalah
dalam auditing, perencanaan investasi, hingga penyusunan laporan
keuangan.
Selain itu, penilaian teknis juga menjadi dasar penting bagi Perumda
Tirta Wibawa Mukti dalam menyusun Rencana Induk Sistem Penyediaan Air
Minum (RISPAM) maupun dokumen rencana jangka panjang lainnya. Tanpa
data teknis yang akurat, perencanaan kapasitas, rehabilitasi jaringan, dan
pengembangan layanan tidak akan dapat dilakukan secara efektif. Penilaian
ini juga penting sebagai acuan dalam menentukan prioritas pembangunan,
perhitungan kebutuhan anggaran, pemetaan risiko teknis, serta penyusunan
strategi peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
Dari sisi pelayanan, kebutuhan masyarakat terhadap air bersih terus
meningkat, sementara gangguan layanan seperti tekanan rendah, air tidak
mengalir saat jam puncak, dan kebocoran pipa di beberapa zona distribusi
masih terjadi. Kondisi ini tidak hanya menurunkan kepuasan pelanggan, tetapi
juga berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan. Oleh karena itu,
penilaian teknis aset menjadi momentum untuk memastikan bahwa seluruh
infrastruktur yang dimiliki Perumda dapat memberikan manfaat optimal dan
mendukung keberlanjutan usaha.
Penilaian teknis juga mendukung penerapan prinsip good corporate
governance (GCG) dalam pengelolaan perusahaan daerah. Dengan adanya
data teknis yang akurat dan terukur, proses pengambilan keputusan akan
lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Perusahaan dapat
memastikan bahwa setiap rupiah investasi yang dikeluarkan benar-benar
berdasarkan analisis kebutuhan yang jelas dan tidak hanya karena asumsi
umum. Hal ini juga membuka ruang bagi peningkatan efisiensi operasional,
termasuk pengurangan kebocoran, penurunan biaya perawatan jangka
panjang, peningkatan umur teknis aset, dan optimalisasi penggunaan
anggaran.
Berdasarkan seluruh kondisi tersebut, maka Penilaian Teknis Aset Pipa,
Aset Bangunan, dan Pendukung Lainnya Perumda Tirta Wibawa Mukti
menjadi kebutuhan mendesak yang harus dilaksanakan secara profesional,
terukur, dan komprehensif. Hasil dari kegiatan ini akan menjadi pijakan
strategis dalam menyusun rencana pengembangan, rehabilitasi, peremajaan
aset, serta perencanaan investasi jangka menengah dan panjang.
Penilaian ini diharapkan menghasilkan data faktual dan terverifikasi
mengenai kondisi teknis, umur ekonomis, tingkat kerusakan, prioritas
penanganan, kebutuhan perbaikan, dan estimasi biaya, sehingga manajemen
Perumda Tirta Wibawa Mukti dapat mengambil kebijakan dengan dasar yang
kuat. Pada akhirnya, kegiatan ini tidak hanya bertujuan memperbaiki kondisi
infrastruktur, tetapi juga meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat
Kabupaten Bandung Barat, menjamin ketersediaan air bersih yang aman,
serta memperkuat kepercayaan publik terhadap perusahaan daerah sebagai
penyedia layanan air minum yang profesional dan berkelanjutan.