Jasa Konsultansi Penyusunan Baseline/ Karakteristik Das Bodri

Basic Information
Type: Public Tender
Tender Code: 10299734000
Date: 1 August 2025
Year: 2025
KLPD: Kementerian Kehutanan
Work Unit: 693543 Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Pemali Jratun
Procurement Type: Jasa Lainnya
Method: Pengadaan Langsung
Contract Type: Lumsum
Financial Information
Value (Nilai Pagu): Rp 60,000,000
Estimated Value (Nilai HPS): Rp 59,884,500
Winner (Pemenang): CV Lapitaya
NPWP: 09*0**6****42**0
RUP Code: 60171886
Work Location: Wilayah kerja BPDAS Pemali Jratun - Semarang (Kota)
Participants: 1
Attachment
KERANGKA     ACUAN   KERJA                           
                                                                       
   KEGIATAN    PENYUSUNAN      BASELINE/KARAKTERISTIK                  
                     DAS  PADA   DAS  BODRI                            
                                                                       
      WILAYAH    BPDAS    PEMALI   JRATUN   TAHUN    2025              
                                                                       
                                                                       
                      I.  Latar Belakang                               
                                                                       
      Di dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai (DAS) Pasal 22 Ayat (a) mengamanatkan untuk melakukan
                                                                       
Inventarisasi Karakteristik DAS sebagai dasar penyusunan Rencana Pengelolaan DAS
                                                                       
seperti yang diamanatkan pada Pasal 21. Untuk selanjutnya digunakan sebagai dasar
penyusunan Sistem Informasi Pengelolaan DAS yang berisi data pokok DAS, baik spasial
                                                                       
maupun non spasial dan sistem pendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaan
                                                                       
DAS, seperti yang diamanatkan pada Pasal 61 Ayat (a) dan (b). Pada perumusan
Lokakarya Pengelolaan DAS yang diadakan di Yogyakarta pada bulan Oktober 1985 telah
                                                                       
disepakati bahwa Pengelolaan DAS dilakukan sesuai dengan azas ”One Watershed One
                                                                       
Management Plan”. Dari pernyataan azas tersebut mempunyai pengertian bahwa
satuan DAS telah ditetapkan sebagai satuan (unit) pengelolaan dan penanganan
                                                                       
yang berbeda antara satuan DAS satu dengan satuan DAS yang lain sesuai dengan
                                                                       
karakteristik DAS.                                                     
                                                                       
      Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat diidentifikasi dari berbagai sudut pandang,
                                                                       
antara lain dari sudut pandang ekosistem maka DAS sebagai satu kesatuan ekosistem,
                                                                       
dari sudut pandang hidrologi maka DAS merupakan satuan kajian hidrologi, dari sudut
pandang fisiografi (geomorfologi) maka DAS mempunyai 3 (tiga) ciri/watak, yaitu bagian
                                                                       
hulu, tengah, dan hilir, dari sudut pandang fungsi kawasan maka DAS di bagian hulu
                                                                       
sebagai fungsi produksi atau sebagai daerah resapan air, bagian tengah sebagai fungsi
transpot material, dan bagian hilir sebagai fungsi deposisi (pengendapan).Inventarisasi
                                                                       
karakteristik DAS akan digunakan dalam penyusunan Rencana Pengelolaan DAS dan
                                                                       
penyusunan Sistem Informasi Pengelolaan DAS, PP Pengelolaan DAS Nomor 37 Tahun
2012 pada Pasal 1 Ayat (5) mengamanatkan bahwa Pengelolaan DAS adalah upaya
                                                                       
manusia dalam mengatur hubungan timbal-balik antara sumberdaya alam dengan
                                                                       
manusia di dalam DAS dan segala aktivitasnya, agar terwujud kelestarian dan keserasian
ekosistem serta meningkatnya kemanfaatan sumberdaya alam bagi manusia secara
berkelanjutan. Hubungan timbal-balik antara sumberdaya alam (vegetasi, lahan, dan
                                                                       
air) sebagai suatu sistem alam (natural system) dan manusia sebagai suatu sistem sosial
(social system) membentuk hubungan saling interaksi (interrelationships) dan saling
                                                                       
ketergantungan (interdependency) yang akan menentukan karakeristik DAS yang
                                                                       
bersangkutan. Sebagai langkah awal di dalam pengelolaan DAS maka perlu terlebih
dahulu diketahui karakteristik dari DAS tersebut. Secara etimologis, istilah karakteristik
                                                                       
diambil dari bahasa Inggris yakni characteristic, yang artinya mengandung sifat khas. Ia
                                                                       
mengungkapkan sifat-sifat yang khas dari sesuatu. Jadi yang dimaksud dengan
karakteristik DAS adalah suatu sifat yang khas, yang melekat pada DAS tersebut.
                                                                       
Karakteristik DAS terbagi dalam dua bagian, yaitu karakteristik statis dan karakteristik
                                                                       
dinamis. Karakteristik statis merupakan variabel dasar yang tidak mudah berubah dan
akan sangat menentukan proses hidrologi yang terjadi pada DAS tersebut. Dalam hal ini
                                                                       
karakteristik DAS meliputi variabel morfologi dan morfometri DAS. Selain itu terdapat
                                                                       
pula karakteristik DAS yang bersifat dinamik, yaitu variabel yang akan mempengaruhi
percepatan perubahan kondisi hidrologi di dalam DAS. Variabel yang termasuk dalam
                                                                       
karakteristik dinamis DAS adalah meterologi/klimatologi, penutup/penggunaan lahan,
                                                                       
kondisi sosekbud masyarakat di dalam DAS, dan kondisi kelembagaan pengelola DAS.
                                                                       
                    II.  Gambaran Umum                                 
                                                                       
                                                                       
     DAS Bodri merupakan salah satu DAS dipulihkan dari 17 DAS yang dipulihkan (Klasifikasi
DAS, 2019). Dokumen Rencana Pengelolaan DAS Terpadu DAS Bodri disusun tahun 2014 sampai
                                                                       
dengan tahun 2025 sudah lebih dari 13 tahun. DAS Bodri memiliki beberapa isu pokok
                                                                       
diantaranya merupakan daerah penyangga Kota Kendal, disamping itu direncanakan akan
dibangun bendungan bodri dengan total investasi sekitar 1,7 triliun. Disamping itu DAS Bodri
                                                                       
mengalami degradasi lahan seperti adanya alihfungsi lahan, adanya tanggul sungai yang jebol,
banjir dan tanah longsor, adanya penambangan liar serta pendangkalan sungai Bodri.
                                                                       
     Mengacu pada SK Menteri Kehutanan Nomor 150 tahun 2025 tentang Penetapan Batas
                                                                       
DAS, wilayah DAS Bodri seluas 627,89 Km2 (62,789.58 ha) dengan keliling DAS sepanjang
210,76 Km (210.756,67 m). DAS Bodri berdasarkan luas klasifikasinya termasuk DAS Kecil
                                                                       
dengan luasan < 100.000 ha. Secara geografis DAS Bodri terletak pada posisi koordinat
109°56'17.839" BT s/d 110°22'22.648" BT dan 6°49'57.782" LS s/d 7°18'0.599" LS. Dengan
                                                                       
wilayah administrasinya meliputi 4 Kabupaten yaitu Kabupaten Temanggung seluas 29,717.94
ha (47.33), Kabupaten Kendal seluas 28,721.28 Ha (45.74 %), Semarang seluas 4,185.18 Ha
                                                                       
(6.67 %) dan Kabupaten Wonosobo seluas 165.19 Ha (0,26%).              
                                                                       
                Daftar Luas Wilayah Administrasi DAS Bodri             
    No    Kabupaten                   Luas (Ha)        Prosentase      
                                                                       
    1     Temanggung                  29,717.94           47.33        
    2     Kendal                      28,721.28           45.74        
    3     Semarang                    4,185.18             6.67        
                                                                       
    4     Wonosobo                     165.19              0.26        
     Jumlah/Prosen                    62,789.58           100.00       
                                                                       
 Sumber : Analisa GIS Tahun 2025                                       
                                                                       
   Secara hidrologis DAS Bodri terdiri dari 4 Sub DAS, diurutkan dari yang terbesar yaitu Sub
                                                                       
DAS Bodri seluas 22,517.35 Ha, Sub DAS Lutut seluas 18,929.64 Ha, Sub DAS Putih seluas
12,540.47 dan Sub DAS Logung seluas 8,802.27 Ha.                       
                                                                       
                  Daftar Luas Sub DAS Wilayah DAS Bodri                
                                                                       
    No    Sub DAS                     Luas (Ha)      Prosentase        
                                                                       
     1    Sub Das Bodri               22,517.35          35.86         
     2    Sub Das Lutut               18,929.64          30.15         
                                                                       
     3    Sub Das Putih               12,540.47          19.97         
                                                                       
     4    Sub Das Logung              8,802.27           14.02         
       Jumlah/Prosen                  62,789.58         100.00         
                                                                       
 Sumber : Analisa GIS Tahun 2025                                       
                                                                       
     Berdasarkan topografinya kelerengan wilayah DAS Bodri memiliki kelerengan lahan curam
                                                                       
hingga sangat curam seluas 22.608,43 ha (36,01%), agak curam seluas 14.414,90 ha (22,96%)
dan untuk kelerengan landai hingga datar seluas 25,766.26 (41,04) dari total luas DAS Bodri.
                                                                       
                  Daftar Luas Kelerengan Lahan Wilayah DAS Bodri       
                                                                       
                             Sub DAS (Ha)                              
  No  Kelerengan Lahan                             Jumah    %          
                    Bodri  Logung  Lutut   Putih                       
  1  Sangat Curam   1,420.36 860.17 5,044.34 3,004.54 10,329.41 16.45  
  2  Curam          1,742.51 2,105.47 4,654.88 3,776.16 12,279.02 19.56
  3  Agak Curam     3,278.23 2,244.16 5,158.22 3,734.29 14,414.90 22.96
  4  Landai         4,055.12 1,678.93 2,765.46 1,470.26 9,969.77 15.88 
  5  Datar         12,020.99 1,913.54 1,306.74 555.22 15,796.49 25.16  
       Jumlah      22,517.20 8,802.27 18,929.64 12,540.47 62,789.58 100.00
                                                                       
 Sumber : Analisa GIS Tahun 2025                                       
     Luas tutupan lahan DAS Bodri meliputi : Pertanian lahan kering campur seluas 24,316.80
                                                                       
Ha (38,73%), hutan tanaman 13,033.92 Ha (20,76%), pertanian lahan kering 8.087,96 Ha
(12,88%), pemukiman seluas 4,931.94 Ha (7,85%), perkebunan 4,869.48 Ha (7,76%), sawah
                                                                       
4.715,20 Ha (7,51%), tambak 1,173.75 Ha (1,87%), hutan lahan kering sekunder 1,015.95 Ha
(1,62%), belukar 209.05 Ha (0,33%) hutan mangrove sekunder 96.58 ha (0,15%),
                                                                       
pertambangan 2,93 ha, tanah terbuka 59,71 (0,10) dan tubuh air seluar 276,33 (0,44%).
                                                                       
                   Daftar Luas Tutupan Lahan Wilayah DAS Bodri         
                                Sub DAS (Ha)         Jumah  Prosen     
  No  Tutupan Lahan                                                    
                         Bodri Logung   Lutut  Putih                   
     Pertanian Lhn Kering 5,056.91 3,158.94 6,689.26 9,411.70 24,316.80 38.73
  1                                                                    
     Campur                                                            
  2  Hutan Tanaman     2,807.15 1,468.30 7,215.75 1,542.72 13,033.92 20.76
  3  Pertanian Lahan Kering 3,721.71 1,908.09 2,458.15 8,087.96 12.88  
  4  Pemukiman         2,935.17 784.19 827.78  384.79 4,931.94 7.85    
  5  Perkebunan        2,603.82 1,167.05 375.42 723.18 4,869.48 7.76   
     Sawah             2,986.14 114.42 1,136.56 478.08 4,715.20 7.51   
  6                                                                    
  7  Tambak            1,173.75    -       -      -  1,173.75 1.87     
     Hutan Lahan Kering 859.63  156.32     -      -  1,015.95 1.62     
  8                                                                    
     Sekunder                                                          
  9  Tubuh Air          260.95          15.38     -   276.33  0.44     
  10 Belukar              0.36   24.16 184.53     -   209.05  0.33     
  11 Hutan Mangrove Sekunder 96.58 -       -      -    96.58  0.15     
  12 Tanah Terbuka       15.03   20.81  23.87     -    59.71  0.10     
  13 Pertambangan           -      -     2.93     -     2.93  0.00     
        Grand Total   22,517.20 8,802.27 18,929.64 12,540.47 62,789.58 100
 Sumber : Analisa GIS Tutupan Lahan Tahun 2024                         
     Luas Kawasan hutan di wilayah DAS Bodri seluas 16,699.55 Ha atau sekitar 26,6 Ha yang
terdiri dari Hutan Lindung 1.086,55 Ha (1,73), Hutan Produksi, 12,992.17 ha (20,69%) dan
Hutan Produksi Terbatas 2.620,83 ha. Sedangkan untuk areal penggunaan lain seluas 46,090.03
ha (73,40%).                                                           
                                                                       
                Daftar Luas Fungsi Kawasan Hutan Wilayah DAS Bodri     
                                                                       
                              Sub DAS (Ha)                             
  No Kawasan Hutan                                 Jumah    %          
                     Bodri  Logung   Lutut   Putih                     
  1  Areal Penggunaan Lain 16,527.86 7,094.40 11,720.21 10,747.56 46,090.03 73.40
  2  Hutan Lindung   549.01 178.05  359.49         1,086.55  1.73      
                                                                       
  3  Hutan Produksi 5,295.57 1,354.86 5,254.76 1,086.97 12,992.17 20.69
  4  Hutan Produksi Terbatas 144.76 174.96 1,595.18 705.94 2,620.83 4.17
                                                                       
        Jumlah     22,517.20 8,802.27 18,929.64 12,540.47 62,789.58 100.00
 Sumber : Analisa GIS Tahun 2025                                       
     Luas lahan kritis DAS Bodri berdasarkan analisa lahan kritis tahun 2024 meliputi sangat
                                                                       
kritis seluas 1.035,34 ha (1,65%), kritis seluas 7.561,40 ha (12,04%), agak kritis seluas
33.900,80 ha ( 53,99%), potensial kritis seluas 9.286,65 (14,79%). Sedangkan lahan dengan
                                                                       
kategori tidak kritis seluas 11,005.39 ha (17,53%).                    
                                                                       
                  Daftar Luas Kekritisan Lahan Wilayah DAS Bodri       
                             Sub DAS (Ha)                              
  No Kekritisan Lahan                              Jumah    %          
                     Bodri Logung    Lutut   Putih                     
  1  Sangat Kritis  406.44  214.00  355.49   59.41 1,035.34  1.65      
                                                                       
  2  Kritis        2,695.62 1,066.26 1,838.66 1,960.87 7,561.40 12.04  
  3  Agak Kritis   6,819.08 5,157.57 13,226.01 8,698.14 33,900.80 53.99
  4  Potensial Kritis 4,668.19 1,403.88 1,750.52 1,464.06 9,286.65 14.79
                                                                       
  5  Tidak Kritis  7,927.87 960.56 1,758.96 358.00 11,005.39 17.53     
       Jumlah      22,517.20 8,802.27 18,929.64 12,540.47 62,789.58 100.00
                                                                       
 Sumber : Analisa GIS Kekritisan lahan tahun 2024                      
                                                                       
                   III. Maksud dan Tujuan                              
                                                                       
      Maksud dari inventarisasi ataupun identifikasi karakteristik DAS untuk
                                                                       
mengetahui sifat dan ciri/watak biogeofisik DAS dan sosial ekonomi budaya dan
                                                                       
kelembagaan masyarakat yang ada di dalam DAS yang khas dan menonjol yang akan
memberikan kontribusi cukup besar terhadap baik dan buruknya kondisi DAS dalam
                                                                       
rangka penyusunan data dasar pokok Sistem Informasi Pengelolaan DAS dan untuk
                                                                       
menentukan kebijaksanaan makro DAS.                                    
                                                                       
Tujuan dari kegiatan inventarisasi dan identifikasi karakteristik DAS adalah:
                                                                       
                                                                       
1. Diperolehnya data karakteristik DAS dan estimasi kondisi, potensi, dan
                                                                       
   perilaku/watak yang diperlakukan dalam rangka pengembangan sumberdaya alam
   dan sumberdaya manusia serta kelembagaan secara optimal.            
                                                                       
2. Diperolehnya data dan informasi mengenai perlakuan-perlakuan yang mungkin
                                                                       
   terjadi di dalam DAS dan selanjutnya untuk dijadikan sebagai dasar dalam
   perumusan pemecahan permasalahan DAS  yang akan  dilakukan secara   
                                                                       
   terintegrasi (terpadu) antara sektor (lintas sektoral) dalam rangka pengelolaan
                                                                       
   DAS terpadu                                                         
                    IV.  Sasaran Kegiatan                              
                                                                       
      Sasaran wilayah penyusunan inventarisasi dan identifikasi karakteristik DAS
                                                                       
adalah dengan memandang Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai satu kesatuan
ekosistem yang utuh dari hulu sampai hilir, seperti yang diamanatkan dalam PP
                                                                       
Pengelolaan DAS Nomor 37 Tahun 2012 pada Pasal 10 Ayat (1). Lokus penyusunan
                                                                       
inventarisasi dan identifikasi karakteristik DAS di wilayah kerja Balai Pengelolaan DAS
Pemali Jratun untuk TA 2025 yaitu DAS Bodri. DAS Bodri merupakan DAS lintas
                                                                       
Kabupaten yang di tetepkan sebagai DAS prioritas dan termasuk DAS yang dipulihkan
                                                                       
daya dukungnya.                                                        
                                                                       
            V.   Metode Identifikasi Karakteristik DAS                 
                                                                       
      Secara umum metode identifikasi karakteristik DAS yang digunakan meliputi
metode interpretasi dan pemetaan paramater-parameter karakteristik lahan dan DAS,
                                                                       
baik secara kuantitatif maupun kualitatif, yang secara garis besar bentuk analisisnya
                                                                       
adalah sebagai berikut:                                                
                                                                       
1. Metode interpretasi dilakukan pada citra penginderaan jauh dan pada peta- peta
   tematik, citra penginderaan jauh yang digunakan meliputi citra berskala kecil (citra
                                                                       
   Landsat, MODIS, NOAA), citra berskala sedang (citra SPOT, ALOS, ASTER, SRTM-
                                                                       
   90), dan citra berskala besar (citra IKONOS, QUICKBIRD, WORLDVIEW), sedang
   peta-peta yang digunakan meliputi peta dasar Rupa Bumi Indonesia (RBI), dan peta-
                                                                       
   peta tematik. Beberapa citra penginderaan jauh satelit masih harus dilakukan koreksi
                                                                       
   geometrik dan radiomentrik sebagai dasar untuk menyesuaikan format dan
   proyeksinya, dan untuk memudahkan dalam intergrasi dengan hasil analisis peta-
                                                                       
   peta tematik dengan bantuan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG/GIS).
                                                                       
2. Melakukan integrasi data geofisik DAS yang diperoleh hasil interpretasi citra
   penginderaan jauh dan peta dasar serta peta-peta tematik dengan data sosial
                                                                       
   ekonomi budaya dan kelembagaan DAS hasil pengumpulan data sekunder dari
                                                                       
   instansional.                                                       
                                                                       
Konsep DAS                                                             
                                                                       
      Berdasarkan kamus Webster (1966), Linsley (1975), Manan (1978),  
                                                                       
Soemarwoto (1982), Mangundikoro (1985), Salim (1985), Sandy (1985), Martopo
                                                                       
(1985), Tejoyuwono (1985), Gunawan (1991) diperoleh kesamaan batasan DAS, yaitu:
“ a river or drainage basin is the entire area drained by a stream on system of connecting
                                                                       
streams such that all streamflow originating in the area discharged through a single
outlet”                                                                
                                                                       
                                                                       
      Konsep yang lain menyatakan bahwa DAS memiliki 3 komponen utama yang
                                                                       
menjadi ciri khas atau penciri utamanya, yaitu:                        
   a. suatu wilayah yang dibatasi oleh puncak gunung/bukit dan punggung/igir-igirnya;
                                                                       
   b. hujan yang jatuh di atasnya diterima, disimpan, dan dialirkan oleh system sungai;
                                                                       
   c. sistem sungai itu keluar melalui satu outlet tunggal.            
                                                                       
      Selanjutnya beberapa ahli DAS membuat suatu kesimpulan bahwa DAS 
                                                                       
merupakan:                                                             
                                                                       
   a. suatu wilayah bentang lahan dengan batas topografi;              
   b. suatu wilayah kesatuan hidrologi; dan                            
                                                                       
   c. suatu wilayah kesatuan ekosistem.                                
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                        Gambar. Daerah Aliran Sungai                   
                                                                       
      Dari ketiga konsep wilayah tersebut maka definisi DAS adalah: suatu wilayah
                                                                       
kesatuan ekosistem yang dibatasi oleh pemisah topografis dan berfungsi sebagai
pengumpul, penyimpan, dan penyalur air, sedimen, polutan, dan unsur hara dalam
                                                                       
sistem sungai dan keluar melalui satu outlet tunggal.                  
                                                                       
Karakteristik DAS                                                      
                                                                       
      Karakteristik DAS pada dasarnya meliputi 2 (dua) bagian, yaitu karakteristik
                                                                       
biogeofisik dan karakteristik sosial ekonomi budaya dan kelembagaan, yang secara rinci
                                                                       
dapat dijelaskan sebagai berikut:                                      
a. Karakteristik biogeofisik meliputi: (a) karakteristik meteorologi DAS, (b) karakteristik
                                                                       
   morfologi DAS, (c) karakteristik morfometri DAS, (d) karakteristik hidrologi DAS, dan
                                                                       
   (e) karakteristik kemampuan DAS.                                    
b. Karakteristik sosial ekonomi budaya dan kelembagaan meliputi: (a) karakteristik
                                                                       
   sosial kependudukan DAS, (b) karakteristik sosial budaya DAS, (c) karakteristik sosial
                                                                       
   ekonomi DAS, dan (d) karakteristik kelembagaan DAS.                 
                                                                       
Perolehan Data Karakteristik DAS                                       
                                                                       
      Data karakteristik DAS meliputi beberapa variabel yang dapat diperoleh dengan
                                                                       
cara interpretasi citra penginderaan jauh, interpretasi, analisis, dan pembacaan peta
                                                                       
dasar serta peta-peta tematik. Data karakteristik meteorologi/klimatologi DAS diperoleh
dari data sekunder hasil pencatatan alat- alat yang dipasang pada stasiun cuaca/iklim di
                                                                       
lapangan. Data karakteristik morfologi DAS diperoleh dari interpretasi, analisis, dan
                                                                       
pembacaan peta-peta tematik (geologi, geomorfologi, topografi, tanah). Data
karakteristik morfometri DAS diperoleh dari hasil interpretasi dan pengukuran setelah
                                                                       
dilakukan delineasi batas DAS meliputi: luas DAS, bentuk DAS, jaringan sungai, pola
                                                                       
aliran, kerapatan aliran, profil sungai utama (penentuan sungai utama, panjang sungai
utama, panjang sungai terpanjang, perbedaan tinggi) dan gradien sungai. Data
                                                                       
karakteristik hidrologi DAS diperoleh dari interpretasi citra penginderaan jauh dan peta
                                                                       
tematik untuk mendapatkan data koefisien Limpasan Permukaan (C), diperoleh dari
hasil pencatatan alat-alat hidrologi yang dipasang pada Stasiun Pengamat Aliran
                                                                       
Permukaan (SPAS) untuk menghasilkan data Debit Maksimum (Q maks), Debit
                                                                       
Minimum (Q min), Debit Rata-Rata (Qav), Debit Jenis (Qsp), Koefisien Regime Sungai
(Qmaks/Qmin), dan Koefisien Storage sungai (Qmin/Qav).                 
      Data karakteristik kemampuan DAS diperoleh dari hasil interpretasi citra
                                                                       
penginderaan jauh dan interpretasi, analisis, dan pembacaan peta-peta tematik untuk
mendapatkan data erosi. Data penutup lahan, penggunaan lahan, dan pemanfaatan
                                                                       
lahan diperoleh dari interpretasi citra penginderaan jauh berskala kecil, berskala sedang,
                                                                       
dan berskala besar. Data karakteristik sosial kependudukan DAS, karakteristik sosial
budaya DAS, karakteristik sosial ekonomi DAS, karakteristik kelembagaan DAS diperoleh
                                                                       
dari analisis dan pencatatan data sekunder dari instansional, seperti data potensi desa
                                                                       
(PODES), data dari Biro Pusat Statistik (BPS) tingkat pusat dan daerah, dan data dari
Kabupaten dalam Angka                                                  
                                                                       
                                                                       
1. Karakteristik Meteorologi DAS                                       
                                                                       
   a. Curah Hujan                                                      
         Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat
                                                                       
     yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Curah hujan 1
                                                                       
     (satu) milimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar
     tertampung air setinggi satu milimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
                                                                       
     Satuan curah hujan selalu dinyatakan dalam satuan millimeter atau inchi namun
                                                                       
     untuk di Indonesia satuan curah hujan yang digunakan adalah dalam satuan
     millimeter (mm). Hujan merupakan input air yang masuk dalam suatu DAS, oleh
                                                                       
     karena itu mengetahui besarnya curah hujan sangat penting.        
                                                                       
         Untuk dapat mengetahui besarnya curah hujan yang terjadi diperlukan data
                                                                       
     curah hujan yang diperoleh melalui stasiun-stasiun hujan, baik yang dikelola
     oleh BMKG,  Kementerian Kehutanan ataupun dinas/instansi lain yang
                                                                       
     bersangkutan. Metode untuk menggambarkan curah hujan pada suatu wilayah
                                                                       
     dapat digunakan metode poligon Theissen ataupun metode ishohyet. Poligon
     Theissen digunakan apabila wilayah yang dipetakan memiliki topografi datar,
                                                                       
     sedangkan jika wilayahnya memiliki topografi berombak hingga bergunung maka
                                                                       
     metode yang paling sesuai adalah Ishohyet. Klasifikasi curah hujan yag
     digunakan dalam kajian karakteristik DAS ini dapat dilihat pada tabel berikut ini
                              Tabel Curah Hujan                        
                                                                       
        NO           Curah Hujan         Kategori Nilai                
                     (mm/tahun)                                        
         1             < 1500                 Sangat rendah            
         2          1500 – < 2000               Rendah                 
         3           2000 – <2500               Sedang                 
         4          2500 – < 3000                Tinggi                
                                                                       
         5            >= 3000                 Sangat Tinggi            
                                                                       
   b. Intensitas Hujan                                                 
         Intensitas hujan adalah banyaknya curah hujan persatuan jangka waktu
                                                                       
     tertentu. Apabila dikatakan intensitasnya besar berarti hujan lebat dan kondisi ini
     sangat berbahaya karena berdampak dapat menimbulkan banjir, longsor dan efek
                                                                       
     negatif terhadap tanaman. Intensitas hujan harian selama 1 tahun adalah rata-
                                                                       
     rata intensitas hujan setiap harinya selama 1 tahun, sedangkan intensitas hujan
     tahunan, total dari seluruh intensitas hujan sepanjang tahun.     
                                                                       
                                                                       
         Metode untuk menggambarkan intensitas hujan pada dasarnya sama
     dengan metode untuk menggambarkan curah hujan, yaitu dapat digunakan
                                                                       
     metode poligon Theissen ataupun metode ishohyet. Poligon Theissen digunakan
                                                                       
     apabila wilayah yang dipetakan memiliki topografi datar, sedangkan jika
     wilayahnya memiliki topografi berombak hingga bergunung maka metode yang
                                                                       
     paling sesuai adalah Ishohyet. Klasifikasi curah hujan yag digunakan dalam kajian
                                                                       
     karakteristik DAS ini dapat dilihat pada tabel berikut ini        
                                                                       
                            Tabel Intensitas Hujan                     
       N0.           Intensitas Hujan     Kategori Nilai               
                       (mm/hari)                                       
                                                                       
         1             <=13,60                 Sangat rendah           
         2            13,61 – 20,70               Rendah               
         3            20,71 – 27,70               Sedang               
                                                                       
         4            27,71 – 34,80               Tinggi               
         5              > 34,80                 Sangat Tinggi          
                                                                       
                                                                       
2. Karakteristik Morfologi DAS                                         
                                                                       
   a. Geologi                                                          
                                                                       
         Variabel geologi merupakan variabel yang sangat penting dalam 
                                                                       
     pembentukan karakteristik DAS dalam kaitannya dengan air permukaan maupun
     air tanah. Sifat-sifat geologi lahan yang tercermin dalam litologi (jenis batuan),
                                                                       
     stratigrafi maupun struktur geologi akan sangat mempengaruhi keberadaan dan
     potensi air permukaan dalam DAS tersebut.                         
                                                                       
         Jenis batuan yang bersifat kedap (tersusun dari material : lava, andesit,
                                                                       
     granit) akan menghasilkan aliran dengan puncak lebih tajam dan waktu naik
                                                                       
     (rising limb) lebih pendek dari pada jenis batuan yang bersifat tidak kedap air
                                                                       
     (permeable) seperti batu kapur (limestone) dan batu pasir (sandstone). Hal ini
     disebabkan oleh batuan yang bersifat kedap air akan sedikit meloloskan air,
                                                                       
     sehingga sebagian besar air hujan yang jatuh di atasnya akan dialirkan sebagai
                                                                       
     limpasan permukaan yang langsung masuk ke dalam sungai. Untuk batuan yang
     bersifat tidak kedap air akan banyak meloloskan air, sehingga sebagian kecil dari
                                                                       
     air hujan yang akan mengalir sebagai limpasan permukaan.          
                                                                       
         Untuk memperoleh informasi variabel geologi ini maka sumber data utama
                                                                       
     yang dapat diacu adalah Peta Geologi Bersistem yang diterbitkan oleh Direktorat
     Geologi Tata Lingkungan. Namun apabila peta tersebut tidak tersedia, dapat
                                                                       
     digunakan informasi yang terdapat dalam REPPPROT ataupun melakukan
                                                                       
     interpretasi pada citra penginderaan jauh.                        
                                                                       
   b. Geomorfologi                                                     
                                                                       
         Bentuk lahan terbentuk dari proses struktural (lipatan, patahan dan
                                                                       
     pengangkatan), proses pelapukan batuan induk (geologi), erosi, pengendapan
                                                                       
     dan vulkanisme yang menghasilkan konfigurasi ragam bentuk muka bumi berupa
     pegunungan, perbukitan dan dataran. Karakteristik geomorfologi akan
                                                                       
     mempengaruhi besarnya potensi limpasan permukaan, erosi, banjir dan tanah
                                                                       
     longsor yang terjadi di wilayah DAS.                              
                                                                       
     Untuk mendapatkan informasi bentuk lahan, maka dapat dilakukan dengan
                                                                       
     interpretasi pada citra penginderaan jauh. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan
     data bentuk lahan yang belum banyak tersedia. Dalam pemetaan bentuklahan,
                                                                       
     terdapat 3 kriteria utama yang digunakan, yaitu :                 
                                                                       
     1) Topografi                                                      
                                                                       
     2) Materi                                                         
     3) Proses                                                         
                                                                       
         Topografi dalam pemetaan bentuk  lahan secara garis besar     
                                                                       
     dibedakan menjadi 6 klas, yaitu : datar, landai, berombak, bergelombang,
     berbukit dan bergunung. Untuk materi dibedakan dalam beberapa klas, yaitu :
                                                                       
     Fluvial, Marin, Vulkanik, Struktural, Denudasional, Aeolin, dan Organisme. Yang
                                                                       
     terakhir adalah untuk proses digunukan keterangan tentang proses yang terjadi
                                                                       
     pada bentuk lahan tersebut, misalnya terkikis kuat, terkikis lemah, dan
     seterusnya. Proses penamaan bentuk lahan juga menggunakan ketiga kriteria
                                                                       
     tersebut, sebagai contoh adalah :                                 
                                                                       
     1) Perbukitan Denudasional Terkikis Kuat                          
                                                                       
     2) Pegunungan Struktural Lipatan Terkikis Lemah                   
                                                                       
         Sistem klasifikasi bentuk lahan yang digunakan dalam proses pemetaan
                                                                       
     bentuk lahan mengacu pada sistem klasifikasi bentuk lahan yang dikeluarkan oleh
                                                                       
     BAKOSURTANAL sebagaimana tercantum pada Format 1.                 
                                                                       
   c. Topografi                                                        
                                                                       
         Variabel topografi dalam karakteristik DAS ini dibagi ke dalam 4 variabel,
                                                                       
     yaitu ketinggian DAS, orientasi DAS, kemiringan lereng DAS dan bentuk lereng
     DAS. Keempat variabel topografi tersebut mempunyai peranan yang erat
                                                                       
     dengan  proses terjadinya infiltrasi, limpasan permukaan dan erosi yang
                                                                       
     terjadi akibat air hujan yang turun.                              
                                                                       
     1) Ketinggian ( Elevation ) DAS                                   
            Elevasi rata–rata dan variasi ketinggian pada suatu DAS merupakan
                                                                       
        faktor penting yang berpengaruh terhadap temperatur dan pola hujan,
                                                                       
        khususnya pada daerah dengan topografi bergunung. Ketinggian suatu tempat
        dapat diketahui dari peta topografi, diukur di lapangan atau melalui foto udara,
                                                                       
        jika terdapat salah satu titik kontrol sebagai titik ikat. Hubungan antara elevasi
                                                                       
        dengan luas DAS dapat dinyatakan dalam bentuk hipsometrik (Hypsometric
        Curve). Perhitungan ketinggian rata-rata DAS ditunjukkan pada gambar
                                                                       
        berikut :                                                      
                    Gambar. Perhitungan Tinggi Rata – rata DAS         
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                    Gambar. Perhitungan Tinggi Rata – rata DAS         
                                                                       
                                                                       
     2) Orientasi DAS ( Aspect )                                       
                                                                       
            Transpirasi, evaporasi dan factor-faktor yang berpengaruh pada jumlah
        air yang tersedia untuk aliran sungai, seluruhnya dipengaruhi oleh orientasi
                                                                       
        umum atau arah dari DAS. Orientasi DAS secara normal dinyatakan dalam
        derajat azimuth atau arah kompas seperti arah utara, timur laut, timur dan
                                                                       
        sebagainya. Tanda arah anak panah yang menunjukkan arah DAS dapat
        dipakai sebagai muka DAS (faces). Arah aliran sungai utama dapat juga dipakai
                                                                       
        sebagai petunjuk umum orientasi DAS. LEE (1963) menyatakan bahwa arah
                                                                       
        DAS dapat dinyatakan sebagai azimuth dari garis utara searah jarum jam
        seperti terlihat pada Gambar 4.                                
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                        Gambar. Arah atau azimuth DAS                  
                                                                       
                                                                       
     3) Kemiringan Lereng DAS                                          
                                                                       
            Kemiringan rata-rata DAS (Sb) adalah faktor yang berpengaruh terhadap
        limpasan permukaan. Kecepatan dan tenaga erosif dari overland flow sangat
                                                                       
        dipengaruhi oleh tingkat kelerengan lapangan. Untuk mengukur lereng dapat
                                                                       
        dilakukan dengan menggunakan alat Abney Level atau clinometer. Pada potret
                                                                       
        udara pengukuran lereng dapat dilakukan dengan menggunakan slope
        meter atau dengan mencari beda tinggi dengan paralaks meter atau dengan
                                                                       
        menggunakan rumus AVERY (1975) dan HORTON (1945) menggunakan   
                                                                       
        contour method dengan rumus :                                  
                                                                       
                  𝐶𝑥 𝑙                                                 
        𝐿𝑒𝑟𝑒𝑛𝑔 (%) =                                                   
                   𝐴                                                   
        dimana : C =      interval kontur (m)                          
             l = total panjang kontur (m)                              
             A = luas DAS (m2)                                         
                                                                       
          Jika suatu daerah mempunyai lereng yang seragam, maka lereng rata-rata
                                                                       
      dapat diperoleh dengan menggunakan rumus:                        
                                                                       
                  𝑒                      𝑐                             
       𝐿𝑒𝑟𝑒𝑛𝑔(%) = 𝑥100%  atau 𝐿𝑒𝑟𝑒𝑛𝑔 = 𝑐𝑡𝑔                            
                  𝑑                      𝑑                             
                                                                       
        dimana : c =      perbedaan elevasi antara titik tertinggi dan terendah pada
                DAS (m)                                                
             d = Jarak horizontal antara elevasi titik tertinggi dan titik terendah tersebut
                                                                       
                ( m )                                                  
                                                                       
          Untuk memudahkan proses pemetaan dari variabel lereng tersebut, maka
                                                                       
      peta lereng yang sudah dihasilkan dikelompokkan atau dikelaskan ke
                                                                       
      dalam 5 kelas, yaitu :                                           
                                                                       
                        Tabel Klasifikasi Kemiringan Lereng            
                                                                       
          Kode/ Kelas    Kemiringan Lereng     Keterangan              
                                                                       
              1                  0 – < 8       Datar/Landai Agak       
              2                 8 – < 15       Miring Miring           
              3                 15 – < 25      Curam                   
              4                 25 – < 45      Terjal                  
              5                   >45                                  
                                                                       
                                                                       
     4) Bentuk Lereng DAS                                              
                                                                       
            Berdasarkan pendekatan hidromorfometri untuk DAS yang mempunyai
                                                                       
        wilayah perbukitan yang mempunyai lereng cekung akan menghasilkan
                                                                       
        kenaikan hidrograf (rising limb) lebih tajam dari bentuk lereng cembung.
        Bentuk lereng DAS rata-rata dapat dilihat pada curve hypsometrik yang juga
                                                                       
        digunakan dalam perhitungan ketinggian DAS. Klasifikasi bentuk lereng DAS
                                                                       
        dikelompokkan dalam 2 klas, yaitu :                            
                          Tabel Klasifikasi Bentuk Lereng              
                                                                       
          Kode/ Kelas    Bentuk Lereng         Keterangan              
                                                                       
                                                                       
             Cb            Cembung      Lebih 50% kenampakan curva     
                                        hypsometrik cembung            
                                                                       
             Ck             Cekung      Lebih 50% kenampakan curva     
                                        hypsometrik cekung             
                                                                       
                                                                       
                                                                       
   d. Tanah                                                            
                                                                       
         Tipe dan distribusi tanah dalam suatu daerah aliran sungai sangat
                                                                       
     berpengaruh dalam mengontrol aliran bawah permukaan (Subsurface flow)
     melalui infiltrasi. Variasi dalam tipe tanah dengan kedalaman dan luas tertentu
                                                                       
     akan mempengaruhi karakteristik infiltrasi dan timbunan kelembaban tanah
                                                                       
     (soil moisture storage). Pemilihan variabel tanah juga merupakan fungsi dari
     tujuan studi, misalnya untuk mempelajari overland flow dalam single watershed,
                                                                       
     maka watershed tersebut dibagi dalam zona – zona menurut tipe tanah, tetapi
                                                                       
     jika untuk mempelajari yang lebih detail lagi, maka perlu klasifikasi tipe tanah
     yang detail juga, yang didasarkan pada pembatas permukaan geologi DAS yang
                                                                       
     bersangkutan yaitu : persentase batuan permeabel, persentase batuan kurang
                                                                       
     permeabel. Variabel lain yang perlu diperhatikan adalah kedalaman lapisan kedap
     dan permeabilitas rata-rata dari horizon A.                       
                                                                       
                                                                       
         Jenis tanah dengan tekstur pasir akan mempunyai tingkat infiltrasi yang lebih
     tinggi dibanding dengan jenis tanah bertekstur lempung. Dengan demikian jenis
                                                                       
     tanah dengan tekstur pasir (kasar) akan mempunyai limpasan permukaan yang
                                                                       
     lebih kecil dari pada jenis tanah dengan tekstur lempung (halus). untuk kondisi
     ini DAS dominan dengan jenis tanah bertekstur halus lebih mudah terjadi erosi
                                                                       
     daripada DAS dominan dengan jenis tanah bertekstur kasar.         
                                                                       
         Sistem klasifikasi tanah yang sebaiknya digunakan dalam penyusunan peta
                                                                       
     tanah untuk karakteristik DAS adalah menggunakan sistem klasifikasi Puslitanak
     seperti tercantum pada Format 2.                                  
   e. Pewilayahan DAS                                                  
                                                                       
         Secara umum suatu DAS dibagi dalam tiga wilayah, yaitu wilayah hulu,
                                                                       
     wilayah tengah dan wilayah hilir. Ketiga wilayah tersebut memiliki karakteristik
     dan fungsi yang berbeda, yaitu :                                  
                                                                       
                                                                       
     1) DAS Bagian Hulu didefinisikan sebagai daerah aliran yang terbatas pada
        bagian Hulu dimana > 70% dari permukaan lahan DAS tersebut umumnya
                                                                       
        mempunyai kemiringan lahan > 8%. Disini, aspek prioritas pemanfaatan
                                                                       
        lahan adalah konservasi tanah dan pengendalian erosi. Secara hidrologis,
        DAS Bagian Hulu biasanya membentuk daerah utama pengisian kembali
                                                                       
        curah hujan untuk air permukaan dan air tanah dari DAS. (Screening Study
                                                                       
       Brantas Watersheed).                                            
                                                                       
     2) DAS Bagian Tengah didefinisikan sebagai aliran yang terbatas pada bagian
        tengah, dimana kurang lebih 50% dari permukaan lahan DAS tersebut
                                                                       
        mempunyai kemiringan lahan < 8% serta dimana baik konservasi tanah
                                                                       
        maupun pengendalian banjir adalah sama pentingnya. Secara hidrologis
        DAS Bagian Tengah membentuk daerah utama transisi curah hujan untuk air
                                                                       
        tanah. (Screening Study Brantas Watershed).                    
                                                                       
     3) DAS Bagian Hilir didefinisikan sebagai daerah aliran yang terbatas pada bagian
                                                                       
        Hilir, dimana kurang lebih 70% permukaan lahannya mempunyai    
                                                                       
        kemiringan < 8%. Disini, pengendalian banjir dan drainage biasanya
        merupakan factor-faktor yang terabaikan dalam pengembangan tata guna
                                                                       
        lahan. (Screening Study Brantas Watershed).                    
                                                                       
                                                                       
3. Karakteristik Morfometri DAS                                        
                                                                       
   a. Luas DAS                                                         
                                                                       
         DAS dibatasi oleh igir pegunungan yang berfungsi sebagai batas (river
     divide) dan akhirnya mengalirkan air hujan yang bertemu pada satu outlet.
                                                                       
     Akibatnya, semakin luas suatu DAS, hasil akhir (water yield) yang diperoleh
                                                                       
     akan semakin besar, karena hujan yang ditangkap juga semakin banyak.
                                                                       
                                                                       
                                                                       
     Cara menghitung luas DAS:                                         
      1) Menghitung luas DAS dengan cara menampilkan pada kertas millimeter grafis
                                                                       
        (grid berukuran 1 cm x 1 cm). Luas DAS adalah jumlah kotak tercakup,
        dikalikan unit kotak, kemudian dikalikan skala peta.           
                                                                       
      2) Menggunakan Planimeter                                        
                                                                       
      3) Menggunakan Sistem Informasi Geografis                        
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                       Gambar. Ilustrasi Perhitungan Luas DAS          
                                                                       
                           Tabel. Klasifikasi Luas DAS                 
                                                                       
         No            Luas DAS        Klasifikasi DAS                 
                                                                       
         1            >1.500.000       DAS Sangat Besar                
         2         500.000-<1.500.000  DAS Besar                       
                                                                       
         3          100.000-<500.000   DAS Sedang                      
                                                                       
         4          10.000-<100.000    DAS Kecil                       
                                                                       
         5             < 10.000        DAS Sangat Kecil                
                                                                       
   b. Bentuk DAS                                                       
                                                                       
                                                                       
         Bentuk DAS mempunyai pengaruh pada pola aliran sungai dan ketajaman
     puncak discharge banjir. Bentuk daerah aliran sungai ini sulit untuk dinyatakan
                                                                       
     secara kuantitatif. Dengan membandingkan konfigurasi basin, dapat dibuat suatu
                                                                       
     indeks yang didasarkan pada derajat kekasaran atau circularity dari DAS.
                                                                       
     MILLER (1953) menggunakan circularity ratio dengan menggunakan rumus :
                                   4𝜋𝐴                                 
                               𝑅𝑐 =                                    
                                    𝑝2                                 
     dimana : Rc = circularity ratio                                   
            A = Luas DAS (km2)                                         
            p = perimeter (keliling DAS = km)                          
                                                                       
         Bila besarnya nilai Rc adalah 1 berarti bentuk DAS tersebut adalah lingkaran.
                                                                       
     YAMAMOTO  dan ORR (1972) dan SEYHAN (1977) menggunakan ratio menyerupai
                                                                       
     buah pir ( lemniscate ratio ) dengan rumus :                      
                                 𝑃𝑒𝑟𝑖𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑛𝑖𝑠𝑐𝑎𝑡𝑒 (𝐾)              
                   𝐿𝑒𝑚𝑛𝑖𝑠𝑐𝑎𝑡𝑒 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 =                                  
                                     𝑃𝑒𝑟𝑖𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝐷𝐴𝑆                     
         Nilai lemniscate ratio = 1 berarti DAS berbentuk buah pir.    
                                                                       
                                                                       
     Perimeter lemniscate (K) atau lemniscate constant diperoleh dengan rumus :
                                                                       
                                   𝐿𝑥𝐿𝜋                                
                               𝐾 =                                     
                                   4𝐴                                  
      dimana : L = Panjang maksimum DAS (jarak horisontal dari outlet ke titik
                 terjauh DAS)                                          
   c. Jaringan Sungai                                                  
                                                                       
                                                                       
         Pola aliran atau susunan sungai pada suatu DAS merupakan karakteristik fisik
     setiap drainase basin yang penting karena pola aliran sungai mempengaruhi
                                                                       
     efisiensi sistem drainase serta karakteristik hidrografis dan pola aliran menentukan
                                                                       
     bagi pengelola DAS untuk mengetahui kondisi tanah dan permukaan DAS
     khususnya tenaga erosi.                                           
                                                                       
         Metode kuantitatif untuk mengklasifikasikan sungai dalam DAS adalah
                                                                       
     pemerian orde sungai maupun cabang– cabang sungai secara sistematis seperti
                                                                       
     berikut ini :                                                     
                                                                       
     1) Sungai-sungai pada daerah hulu mendapat skala terkecil (1)     
     2) Pertemuan sungai dengan orde sama, maka terjadi kenaikan orde. 
                                                                       
     3) Pertemuan sungai dengan orde yang berbeda tidak terjadi kenaikan orde
                       Gambar. Orde Sungai menurut Strahler            
                                                                       
   d. Pola Aliran                                                      
                                                                       
         Bentuk pola aliran (drainage pattern) ada bermacam – macam yang masing
                                                                       
     – masing dicirikan oleh kondisi yang dilewati oleh sungai tersebut. Bentuk pola
                                                                       
     aliran yang biasa dijumpai ada tujuh jenis yaitu :                
                                                                       
     1) Dendritik: seperti percabangan pohon, percabangan tidak teratur dengan arah
        dan sudut yang beragam. Berkembang di batuan yang homogen dan tidak
                                                                       
        terkontrol oleh struktur, umunya pada batuan sedimen dengan perlapisan
                                                                       
        horisontal, atau pada batuan beku dan batuan kristalin yang homogen.
     2) Paralel: anak sungai utama saling sejajar atau hampir sejajar, bermuara pada
                                                                       
        sungai-sungai utama dengan sudut lancip atau langsung bermuara ke laut.
                                                                       
        Berkembang di lereng yang terkontrol oleh struktur (lipatan monoklinal,
        isoklinal, sesar yang saling sejajar dengan spasi yang pendek) atau dekat
                                                                       
        pantai.                                                        
                                                                       
     3) Radial: sungai yang mengalir ke segala arah dari satu titik. Berkembang pada
        vulkan atau dome.                                              
                                                                       
     4) Trellis: percabangan anak sungai dan sungai utama hampir tegak lurus,
                                                                       
        sungai-sungai utama sejajar atau hampir sejajar. Berkembang di batuan
        sedimen terlipat atau terungkit dengan litologi yang berselang-seling antara
                                                                       
        yang lunak dan resisten.                                       
     5) Annular: sungai utama melingkar dengan anak sungai yang membentuk sudut
                                                                       
        hampir tegak lurus. Berkembang di dome dengan batuan yang berseling
                                                                       
        antara lunak dan keras.                                        
     6) Centripetal: sungai yang mengalir memusat dari berbagai arah.  
                                                                       
     7) Berkembang di kaldera, karater, atau cekungan tertutup lainnya.
                                                                       
     8) Multibasinal: percabangan sungai tidak bermuara pada sungai utama,
        melainkan hilang ke bawah permukaan. Berkembang pada topografi karst.
                                                                       
         Pola aliran yang digunakan bisa dibedakan dengan membedakan garis yang
                                                                       
     dijadikan tanda pola aliran tersebut. Pola aliran yang diinterpretasi mempunyai
     kegunaan untuk melihat dan mengetahui jenis- jenis kandungan mineral, batuan
                                                                       
     dan ataupun kemungkinan terdapatnya bahan tambang. Salah satu contohnya
                                                                       
     adalah pada pola aliran trelis untuk aliran sungai cenderung mempunyai batuan
     lunak, karena tereduksi lebih banyak.Pola aliran pada citra penginderaan jauh bisa
                                                                       
     diidentifikasi dengan melihat morfologi dri permukaan bumi tersebut. Citra
                                                                       
     penginderaan jauh menampilkan semua kenampakan yang ada pada permukaan
     bumi dengan bentuk dua dimensi. Apabila menginginkan bentuk yang lebih detail
                                                                       
     dapat dilihat dengan menggunakan stereoskop.                      
                                                                       
         Selain itu dari hasil interpreatasi dan deleniasi pola aliran air di daerah
                                                                       
     Gunung Api didapatkan bahwa pola aliran air yang terdapat disana ialah pola
                                                                       
     dendritic, radial dan paralel. Pada pola aliran dendritic bentuknya ialah seperti
     percabangan pohon dengan arah dan sudut yang beragam yang berkembang
                                                                       
     pada batuan sedimen dengn perlapisan horisontal atau pada batuan beku dan
                                                                       
     batuan kristalin yang homogen. Sedangkan untuk pola aliran radial berbentuk
     seperti lingkaran, percabangan anak sungai dan sungai utama hampir tegak lurus
                                                                       
     dan berkembang di batuan sedimen terlipat dengan litologi yang berselang
                                                                       
     seling antara lunak dan resistan. Serta pada pola lairan paralel berbentuk anak
     sungai utama hampir sejajar atau sejajar bermuara pada sungai- sungai utama
                                                                       
     atau langsung ke laut dan berkembang di lereng yang terkontrol oleh struktur
                                                                       
     atau dekat pantai.                                                
                                                                       
         Hasil akhir dari intrepretasi ini ialah peta bentuk pola aliran yang terdapat
     dalam kertas kalkir yang membedakan antara berbagai bentuk pola aliran yang
                                                                       
     terdapat dalam citra atau foto udara yang di amati.Untuk lebih jelasnya masing –
     masing bentuk pola aliran tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.7. 
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                        Gambar. Berbagai Bentuk Pola Aliran            
                                                                       
   e. Kerapatan Aliran                                                 
                                                                       
         Adalah panjang aliran sungai per kilometer persegi luas DAS. Semakin besar nilai
     Dd semakin baik sistem pengaliran (drainase) di daerah tersebut. Artinya, semakin
                                                                       
     besar jumlah air larian total (semakin kecil infiltrasi) dan semakin kecil air tanah yang
     tersimpan di daerah tersebut.                                     
                                                                       
          ∑𝐿𝑛                                                          
      𝐷𝑑 =                                                             
          𝐴                                                            
     Dd  : kerapatan aliran (km/km2)                                   
     Ln  : panjang sungai (km)                                         
                                                                       
     A   : luas DAS (km2)                                              
                                                                       
         LYNSLEY (1975) menyatakan bahwa jika nilai kepadatan aliran lebih kecil dari 1
     mile/ mile2 (0,62 Km/ Km2), DAS akan mengalami penggenangan, sedangkan jika nilai
                                                                       
     kerapatan aliran lebih besar dari 5 mile/ mile2 ( 3,10 Km/ Km2), DAS sering mengalami
     kekeringan                                                        
                                                                       
   f. Profil Sungai Utama                                              
                          Gambar. Profil Sungai Utama                  
                                                                       
                                                                       
           Sungai merupakan  jalan air alami, yang mengalir menuju     
       samudera, danau , laut dan atau ke sungai yang lain.Sungai terdiri dari
                                                                       
       beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai,
                                                                       
       kemudian beberapa anak sungai akan bergabung untuk membentuk sungai
       utama. Gambar 8 menunjukkan profil sungai utama dalam suatu DAS.
                                                                       
                                                                       
     1) Penentuan Sungai Utama                                         
                                                                       
           Cara menentukan sungai utama menurut Horton adalah dengan   
       memperhatikan pertemuan antara 2 (dua) sungai, selanjutnya :    
                                                                       
       a) Apabila sudut sama (Ø1=Ø2), maka pilihlah sungai yang lebih panjang
                                                                       
       b) Apabila sudut tidak sama, maka pilihlah sudut yang kecil (misal Ø4>Ø3,
                                                                       
          pilih sungai pada sudut Ø3).                                 
                                                                       
     2) Panjang Sungai Utama dan Sungai Terpanjang                     
                                                                       
           Panjang sungai terpanjang dalam DAS diukur dari outlet ke sumber asal
                                                                       
       air, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 9, dari titik O sampai H (OH).
       Sedangkan OS adalah panjang sungai utama (induk).               
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                     Gambar. Panjang Sungai Terpanjang dalam DAS.      
                                                                       
     3) Perbedaan Tinggi DAS                                           
                                                                       
           Elevasi rata – rata dan variasi ketinggian pada suatu DAS merupakan
       faktor penting yang berpengaruh terhadap temperatur dan pola hujan,
                                                                       
       khususnya pada daerah – daerah dengan topografi bergunung. Ketinggian
                                                                       
       suatu tempat dapat diketahui dari peta topografi, diukur dilapangan atau
       melalui foto udara, jika terdapat salah satu titik kontrol sebagai titik ikat.
                                                                       
       Hubungan antara elevasi dengan luas DAS dapat dinyatakan dalam bentuk
                                                                       
       hipsometrik (Hypsometric Curve). Perhitungan ketinggian rata-rata DAS
       ditunjukkan pada gambar berikut :                               
                      Gambar. Perhitungan Tinggi Rata – rata DAS       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                   Gambar. Kurva Hipsometrik suatu DAS (AVERY, 1975)   
                                                                       
     4) Gradien Sungai Utama                                           
                                                                       
           Salah satu cara menghitung gradien sungai rata – rata adalah dengan
                                                                       
       slope faktor yang dikembangkan oleh BENSON (1962) yaitu dengan  
                                                                       
       menghitung lereng saluran antara 10 % dan 85 % jarak dari outlet seperti
       ditujukkan pada Gambar 11.                                      
              Gambar. Penaksiran 85 – 10 slope factor dan profile curvature- indeks.
                                                                       
            Jarak    O – Z =     Lb adalah panjang sungai utama.       
                                                                       
                        OB =     (0,1)Lb dan OA – (0,85)Lb             
         Gradien Sungai (Su) = (H85-H10)/ (0,75)Lb.                    
                                                                       
                                                                       
4. Karakteristik Hidrologi DAS                                         
                                                                       
   a. Limpasan Permukaan                                               
         Limpasan permukaan (overland flow) merupakan bagian kelebihan hujan
                                                                       
     (excess rainfall) yang mengalir di permukaan lahan pada saat terjadi hujan,
                                                                       
     apabila hujan berhenti maka tidak terjadi lagi limpasan permukaan. Koefisien
     limpasan permukaan adalah perbandingan antara bagian hujan yang menjadi
                                                                       
     limpasan permukaan dengan total hujan pada suatu kejadian hujan. Limpasan
                                                                       
     permukaan inilah yang menjadi tenaga penggerus/pengelupas lapisan tanah atas,
     pengangkut material tanah permukaan yang lepas atau yang dikenal dengan
                                                                       
     proses erosi permukaan oleh tenaga limpasan permukaan, yang kemudian
                                                                       
     membawanya ke dalam badan-badan air (sungai, rawa, danau, waduk,  
     dan   laut/lautan) membentuk banjir kiriman (banjir limpasan) menyumbang
                                                                       
     banjir di sungai serta membawa lumpur yang menyebabkan pendangkalan atau
                                                                       
     dikenal dengan proses sedimentasi.                                
                                                                       
         Estimasi besarnya limpasan permukaan yang dinyatakan dalam bentuk
     koefisien limpasan permukaan dapat dilakukan dengan mendasarkan pada
                                                                       
     parameter-parameter morfometri dan morfologi yang menjadi karakteristik DAS
                                                                       
     yang diperoleh melalui interpretasi citra penginderaan jauh (satelit dan foto
                                                                       
     udara) dan analisis peta-peta tematik. Cook (1942 dalam Chow,1964)
     memberikan contoh parameter-parameter morfometri dan morfologi yang
     menjadi karakteristik DAS yang dipertimbangkan dalam melakukan estimasi
                                                                       
     besarnya nilai koefisien limpasan permukaan dalam suatu DAS ataupun Sub DAS.
     Limpasan permukaan bergerak pada atau diatas permukaan lahan pada setiap
                                                                       
     jengkal lahan (space of land), maka wilayah DAS ataupun Sub DAS harus dibagi-
                                                                       
     bagi lagi menjadi satuan-satuan (unit) lahan terkecil untuk menilai besarnya nilai
     atau angka koefisien setiap satuan-satuan lahan tersebut. Penjumlahan nilai
                                                                       
     ataupun angka koefisien limpasan permukaan dari setiap satuan-satuan lahan
                                                                       
     dalam suatu DAS ataupun Sub DAS dapat digunakan untuk menyatakan besarnya
     nilai atau angka koefidien limpasan permukaan DAS ataupun Sub DAS yang
                                                                       
     bersangkutan.                                                     
                                                                       
         Parameter-parameter morfometri dan morfologi yang menjadi karakteristik
                                                                       
     DAS yang dipertimbangkan untuk memprediksi besarnya nilai atau angka
                                                                       
     koefisien limpasan permukaan ada 4 (empat) faktor, antara lain (1) kondisi
     topografi yang menggambarkan kondisi fisiografi ataupun relief permukaan yang
                                                                       
     dapat diwakili sebagai ukuran kemiringan lereng permukaan lahan, menjadi faktor
                                                                       
     dominan dalam menentukan besar kecilnya curah hujan yang jatuh kemudian
     menjadi limpasan permukaan setelah dipertimbangkan besarnya kapasitas
                                                                       
     infiltrasi, (2) kondisi tanah dan batuan yang menentukan besarnya bagian curah
                                                                       
     hujan yang mengalami peresapan ke dalam lapisan tanah dan batuan yang
     dikenal dengan infiltrasi tanah, (3) kondisi tutupan vegetasi dan jenis tanaman
                                                                       
     semusim yang berfungsi untuk menerima atau menangkap dan menyimpan air
                                                                       
     hujan yang jatuh di permukaan lahan tersebut tergantung pada jenis dan
     kerapatan penutupan vegetasi dan tanaman semusim lainnya, (4) kondisi
                                                                       
     timbunan permukaan lahan (surface storage, surface detention) yang mampu
                                                                       
     menangkap air hujan yang jatuh sehingga berfungsi untuk menghalangi laju aliran
     limpasan permukaan, yang berarti pula bahwa permukaan lahan tersebut menjadi
                                                                       
     tergenang ataupun mengalami pengatusan cepat.                     
                                                                       
         Gunawan (1991) membuat modifikasi dalam melakukan interpretasi kondisi
                                                                       
     timbunan permukaan lahan yang merupakan ledok-ledok ataupun cekungan-
     cekungan permukaan lahan yang berfungsi menghalangi laju aliran limpasan
                                                                       
     permukaan tersebut menjadi faktor kerapatan aliran (drainage density) yang
                                                                       
     dihitung berdasarkan panjang jaring-jaring pola aliran dibandingkan dengan luas
     lahan diatasnya. Semakin tinggi nilai dan atau kondisi kerapatan alirannya
                                                                       
     semakin tinggi nilai pengatusannya, untuk menyatakan besaran nilai atau angka
     kerapatan aliran Gunawan (1991) memodifikasi kriteria yang dikembangkan oleh
                                                                       
     Linsley (1958, 1975) dari 3 (tiga) kelas menjadi 4 (empat) kelas disesuaikan
                                                                       
     dengan klasifikasi yang dikembangkan oleh Cook (1942 dalam Chow, 1964).
     Secara teknis interpretasi parameter-parameter morfometri dan morfologi yang
                                                                       
     menjadi karakteristik DAS yang dipertimbangkan dalam memprediksi besarnya
                                                                       
     nilai atau angka koefisien limpasan permukaan per satuan lahan pada DAS
     ataupun Sub DAS dapat diacu dalam Sistem Standar Operasional Prosedur (SSOP)
                                                                       
     Pengendalian Banjir dan Tanah Longsor yang dikeluarkan oleh Direktorat
                                                                       
     PEPDAS Dirjen BPDASPS Departemen Kehutanan Republik Indonesia (2007).
                                                                       
   b. Debit Maksimum (Q maks)                                          
                                                                       
         Perhitungan debit maksimum (banjir puncak, Qmaks) dilakukan pada
     mulut sungai dari DAS ataupun Sub DAS diestimasi berdasarkan pada nilai
                                                                       
     koefisien limpasan permukaan (C), intensitas hujan (I) yang lamanya sama
                                                                       
     dengan waktu konsentrasi (Tc), dan luas DAS (A). Total nilai atau angka koefisien
     limpasan permukaan per satuan lahan adalah nilai koefisien limpasan permukaan
                                                                       
     total DAS atau Sub-DAS. Intensitas hujan dihitung sama dengan lamanya waktu
                                                                       
     konsentrasi (Tc) yang dihitung berdasarkan panjang DAS dan parameter
     morfometri DAS lainnya. Perhitungan debit maksimum (Qmaks) dapat dihitung
                                                                       
     dengan menggunakan Rumus Rasional sebagai berikut.                
                                                                       
     Qmaks  =  C. I. A.                                                
     Qmaks  =  Debit maksimum (banjir puncak) (m3/detik),              
     C      =  Koefisien limpasan permukaan, besarnya 0,278 untuk luas DAS/Sub-DAS
               (km2), dan 0,00278 untuk luas DAS/Sub-DAS (ha),         
     I      =  Intensitas hujan yang lamanya sama dengan waktu konsentrasi (Tc)
               (mm/hari),                                              
     A      =  Luas DAS (km2 atau ha tergantung koefisien C).          
                                                                       
     Keterangan : Rumus Metode Rasional hanya dapat digunakan untuk Sub- DAS kecil di
               Pulau Jawa (<5.000 hektar) (Gunawan, 1991) atau (<6.000 hektar)
               (Hadi, 2005) atau DAS/Sub DAS kecil di luar Pulau Jawa (<10.000 hektar)
               (PEPDAS, 2010).                                         
         Perhitungan Debit maksimum (banjir puncak) di Lapangan (Qmaks) dapat
                                                                       
     dilakukan di mulut sungai pada DAS atau Sub-DAS, dengan menggunakan
                                                                       
     Rumus Manning. Pengukuran debit maksimum (Qmaks) dengan Rumus atau
     Metode Manning  untuk digunakan sebagai pembanding hasil pengukuran
     debit maksimum dengan menggunakan Rumus  atau Metode Rasional.    
                                                                       
     Pengukuran debit maksimum (Qmaks) dengan menggunakan Metode Manning
     dilakukan pada suatu penampang sungai pada mulut DAS atau Sub-DAS. Adapun
                                                                       
     rumus yang digunakan dapat dinyatakan sebagai berikut.            
                                                                       
     Qmaks  = 1/n . R 2/3 . S 1/2 . A.                                 
                                                                       
     Qmaks  = Debit maksimum (banjir puncak) (m3/detik),               
     R      = Jari-jari hidrolis penampang sungai (m),                 
                                                                       
     S      = Kemiringan hidrolis muka air sungai pada saat banjir maksimum terjadi
             dengan melihat tanda-tanda pada saat terjadi banjir maksimum (%),
     A       =     Luas penampang sungai (m2),                         
                                                                       
     N      = Koefisien kekasaran dasar sungai rata-rata dengan pembobotan,
     Keterangan:                                                       
                                                                       
     R      = A/p (p: perimeter basah penampang sungai).               
                                                                       
   c. Debit Minimum (Q min)                                            
         Perhitungan debit minimum (Qmin) di lapangan dilakukan di mulut sungai
                                                                       
     dalam suatu DAS atau Sub-DAS dalam kondisi musim kemarau pada saat debit
                                                                       
     sungai terkecil. Pengukuran debit sungai terkecil (debit minimum) atau debit
     sungai saat ini pada saat tidak terjadi banjir dapat dirumuskan sebagai berikut.
                                                                       
     Qmin  = w. d. a. l/t.                                             
                                                                       
     Qmin  = Debit sungai minimum (m3/detik),                          
     w     = Lebar penampang sungai rata-rata (m),                     
                                                                       
     d     = Kedalaman air sungai rata-rata (m),                       
     a     = Koefisien kekasaran dasar penampang sungai rata-rata (%), 
                                                                       
     l/t   = Kecepatan aliran pada seksi sungai rata- rata (m/detik).  
                                                                       
         Seyogyanya setiap pengukuran parameter sungai dilakukan minimal 3 kali
                                                                       
     perlakuan. Pengukuran debit banjir maksimum (Qmaks) dapat dilakukan pada
     saat musim kemarau dengan melihat tanda-tanda banjir puncak pada tepi
                                                                       
     penampang sungai atau menanyakan kepada penduduk setempat (lokal).
                                                                       
     Demikian juga pengukuran debit minimum dipilih dalam kondisi debit sungai
     paling kecil pada saat musim kemarau. Pada dasarnya debit minimum suatu
                                                                       
     sungai tidak pernah sama dengan nol (Qmin tidak 0) karena sebelum air sungai
                                                                       
     itu mengalir hingga mulut sungai biasanya di bagian hulu DAS air sungai telah
     dimanfaatkan oleh penduduk petani untuk irigasi tradisional. Oleh karena itu perlu
     dilakukan penelusuran di lapangan (river routing) guna mengetahui adanya
                                                                       
     pengambilan air sungai di bagian hulu oleh penduduk petani. Berapa besar debit
     irigasi dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran debit minimum atau
                                                                       
     menggunakan Metode Larutan Garam (Solution method).               
                                                                       
   d. Debit Rata-Rata (Qav)                                            
                                                                       
         Debit aliran rata-rata (Qav) dari suatu sungai merupakan besaran hidrologi
                                                                       
     yang penting sebagai indikator potensi DAS dalam menyimpan air hujan yang
     jatuh ke dalam lapisan akuifer untuk selanjutnya dikeluarkan secara pelan-pelan
                                                                       
     dalam bentuk mataair ataupun rembesan. Apabila besarnya debit aliran rata-
                                                                       
     rata setiap tahunnya tinggi atau tidak jauh bedanya menunjukkan bahwa wilayah
     DAS sebagai prosesor cukup berfungsi baik, hal ini menunjukkan karakteristik DAS
                                                                       
     atau kesehatan DAS terjaga atau tidak.                            
                                                                       
   e. Debit Jenis (Qsp)                                                
                                                                       
         Debit jenis atau spesifik (Qsp) dari suatu sungai merupakan besaran
     hidrologi yang penting sebagai indikator bahwa setiap satuan luas DAS (km2 atau
                                                                       
     hektar) sehingga satuan debit jenis atau spesifik dalam km2 atau hektar
                                                                       
     (m3/detik/km2 atau hektar) sebagai indikator kemampuan satuan luas DAS dalam
     menyimpan dan mengalirkan air hujan yang tersimpan dalam DAS sebagai
                                                                       
     prosesor yang baik, sehingga hal ini juga menunjukkan karakteristik DAS atau
                                                                       
     kesehatan DAS terjaga atau tidak.                                 
                                                                       
   f. Koefisien Regime Sungai (Qmaks/Qmin)                             
         Parameter karakteristik Hidrologi DAS yang diperoleh dari perbandingan
                                                                       
     antara debit maksimum (Qmaks) dan debit minimum (Qmin) atau sering disingkat
                                                                       
     dengan parameter Qmaks/Qmin merupakan indikator besaran hidrologi untuk
                                                                       
     menyatakan apakah DAS itu berfungsi sebagai prosesor yang baik atau tidak,
     dapat ditinjau dari sudut pandang nilai perbandingan itu. Apabila nilai besaran
                                                                       
     perbandingan antara Qmaks/Qmin besar (>50) berarti lebih banyak kejadian
                                                                       
     banjir maksimum yang terjadi,dan sebaliknya kejadian debit minimum dapat
     sangat-sangat kecil hanya tidak pernah nol (0). Pemantauan besarnya
                                                                       
     perbandingan Qmaks/Qmin rata-rata tahunan (.25 tahun) dapat digunakan
                                                                       
     sebagai indikator selama kurun waktu tersebut terjadi peningkatan atau
     penurunan potensi DAS  sebagai pengatur aliran sungai sehimgga    
     parameter ini dikenal dengan koefisien regime (pengaturan) sungai atau aliran
                                                                       
     sungai. Kondisi karakteristik DAS yang baik apabila terjadi perubahan penurunan
     perbandingan Qmaks/Qmin rata-rata.                                
                                                                       
   g. Koefisien Storage sungai (Qmin/Qav)                              
                                                                       
         Parameter karakteristik hidrologi DAS yang diperoleh dari perbandingan
                                                                       
     antara debit minimum (Qmin) dan debit rata-rata (Qav) atau sering disingkat
                                                                       
     dengan parameter Qmin/Qav merupakan indikator besaran hidrologi untuk
     menyatakan apakah DAS itu berfungsi sebagai prosesor untuk menyimpan air
                                                                       
     hujan yang jatuh sehingga dapat membentuk mataair yan g permanen atau
                                                                       
     relatif permanen. Indikator parameter Qmin/Qav ini sebaliknya dengan
     parameter Qmaks/Qmin karena apabila nilai perbandingan ini kecil (<50)
                                                                       
     yang berarti debit minimum (Qmin) yang terjadi harapannya justru semakin
                                                                       
     mendekati besarnya debit rata-rata atau dengan kata lain debit minimum pada
     musim kemarau masih cukup besar. Pemantauan karakteristik DAS dengan
                                                                       
     menggunakan parameter perbandingan Qmin/Qav secara series (>25 tahun)
                                                                       
     untuk menunjukkan perubahan penurunan dan kenaikan nilai perbandingan
     tersebut. Karakteristik DAS yang baik apabila selama kurun waktu tersebut terjadi
                                                                       
     kenaikan nilai perbandingan Qmin/Qav rata-rata.                   
                                                                       
5. Karakteristik Kemampuan DAS                                         
                                                                       
   a. Erosi dan Sedimentasi                                            
                                                                       
         Pendugaan kehilangan Lapisan Tanah Atas sebagai Erosi Permukaan
     (Surface Erosion) dan sedimentasi dapat dilakukan melalui berbagai cara, baik
                                                                       
     secara kualitatif maupun secara kuantitatif berdasarkan konsep satuan lahan
                                                                       
     dalam satuan Daerah Aliran Sungai (DAS) atau sub-DAS. Secara konseptual dan
                                                                       
     praktis cara-cara pemantauan erosi permukaan dan sedminetasi tersebut dapat
     dijelaskan sebagai berikut :                                      
                                                                       
     1) Secara Kualitatif                                              
                                                                       
            Erosi permukaan dapat diestimasi berdasarkan adanya kenampakan
                                                                       
        gejala-gejala erosi permukaan yang tampak, seperti adanya bekas-bekas
        percikan material tanah hasil pengelupasan oleh pukulan air hujan (splash
                                                                       
        erosion), aliran lembaran yang bergerak perlahan di permukaan (sheet
        erosion), adanya alur-alur kecil hasil goresan aliran limpasan permukaan (rill
                                                                       
        erosion), parit-parit kecil hasil perkembangan dari alur-alur permukaan oleh
        goresan aliran limpasan permukaan (gully erosion), kenampakan pemunculan
                                                                       
        batang pohon dan akar-akarnya akibat goresan aliran air hujan yang melalui
                                                                       
        batang (stemflow), gundukan tanah dibawah tanaman pohon/kayu akibat
        pukulan hujan melalui air tembusan (throughfall), melalui aliran tajuk pohon
                                                                       
        (crown dreep), dan lain-lain masih banyak lagi kenampakan-kenampakan kecil
                                                                       
        di permukaan akibat tenaga pukulan air hujan dan tenaga aliran limpasan
        permukaan.                                                     
                                                                       
                                                                       
     2) Secara Kuantitatif                                             
            Pendugaan erosi permukaan dengan menggunakan plot erosi dengan
                                                                       
        ukuran panjang 22 meter dan lebar 2 atau 4 meter dengan kemiringan plot
                                                                       
        kurang lebih 9% dan dipasang untuk dicobakan pada berbagai jenis tanaman
        ataupun kebun campuran. Pada mulut plot erosi dipasang drum terukur (1)
                                                                       
        sebagai penampung lumpur dan air hujan yang terangkut dan kelebihannya
                                                                       
        ditampung dalam drum penampung (2). Berat per satuan volume lumpur
        ditimbang dikalikan dengan berat jenis (BD) lumpur sehingga dapat diperoleh
                                                                       
        hasil lumpur dalam gram per liter. Pengukuran erosi permukaan tersebut
                                                                       
        dikenal dengan pengukuran erosi aktual (metode volumetrik).    
                                                                       
     3) Secara prediktif kuantitatif                                   
            Pendugaan erosi permukaan berdasarkan rumus USLE (Universal Soil
                                                                       
        Loss Equation) yang dikembangkan oleh Wischmeier dan Smith (1978) sebagai
                                                                       
        berikut.                                                       
                                                                       
        A = R x K x L x S x C x P …………………..………………………..(2.11) A = erosi 
           permukaan (ton/ha/tahun),                                   
        R = faktor erosivitas hujan,                                   
                                                                       
        K = faktor erodibilitas tanah,                                 
        L = faktor panjang lereng,                                     
                                                                       
        S = faktor kelerengan lahan,                                   
        C = faktor tanaman                                             
                                                                       
        P = faktor manajemen lahan                                     
                                                                       
         Kriteria  besarnya erosi permukaan    menurut Departemen      
     Kehutanan (1986) adalah sebagai berikut.                          
                                                                       
                             Tabel Klasifikasi Erosi                   
                                                                       
         No    Kategori Erosi Permukaan    Besaran Erosi Permukaan     
                                               (ton/ha/tahun)          
          1    Sangat Ringan                      < 15                 
          2    Ringan                            15 - 60               
          3    Sedang                            60 - 180              
                                                                       
          4    Tinggi                           180 - 460              
          5    Sangat Tinggi                      >460                 
                                                                       
     Erosi Lembah dan Erosi Tebing Sungai                              
                                                                       
         Pendugaan besarnya Erosi Lembah dan Erosi Tebing Sungai serta Erosi Total
                                                                       
     Sungai dapat dilakukan secara kuantitaif berdasarkan parameter erosi permukaan
                                                                       
     (USLE) dengan cara perbandingan persentase (SCS Amerika). Nilai erosi
                                                                       
     permukaan tersebut diestimasi berdasarkan pada setiap satuan lahan sehingga
     dapat diketahui agihan spasial besarnya erosi permukaan. Besarnya erosi
                                                                       
     permukaan per satuan lahan dalam satuan DAS atau Sub-DAS belum    
                                                                       
     mempertimbangan besarnya erosi lembah dan erosi tebing (valley and bank
     erosion). Besarnya erosi lembah sungai dan erosi tebing sungai dipertimbangkan
                                                                       
     antara 10 hingga 25 % kali besarnya erosi permukaan (A) (Ahli Konservasi Tanah
                                                                       
     dan Air Amerika, SCS). Erosi total sungai (Gross erosion, GE) adalah besarnya
     erosi permukaan (A) ditambah besarnya erosi lembah dan erosi tebing ((10-25
                                                                       
     %)A) yang dapat dirumuskan sebagai berikut.                       
                                                                       
       GE   = A + (25% x A)                                            
       GE   = Erosi total sungai (Gross Erosion) (ton/ha/th) atau (mm/tahun)
       A =  Erosi permukaan (Metode USLE) (ton/ha/th).                 
                                                                       
     Hasil Sedimen Sungai (Sediment Yield, SY)                         
                                                                       
         Besarnya hasil sedimen sungai (SY) dapat diduga melalui prediksi besarnya
                                                                       
     erosi total sungai (GE) dikalikan dengan rasio pelepasan sedimen (Sediment
                                                                       
     Delivery Ratio, SDR) yang dapat dirumuskan sebagai berikut.       
                                                                       
       SY   = GE x SDR                                                 
       SY   = sedimen total sungai (ton/liter),                        
       GE   = erosi total sungai (ton/ha/th atau                       
            mm/tahun).                                                 
                                                                       
         Besarnya rasio pelepasan sedimen (SDR) dapat diperhitungkan berdasarkan
     perbandingan antara besarnya erosi permukaan (A) dengan erosi total sungai
                                                                       
     (GE). Besarnya rasio pelepasan sedimen berbanding terbalik dengan luas DAS
     yang digambarkan dalam bentuk grafik hubungan antara luas DAS dan nilai SDR,
                                                                       
     semakin besar luas DAS semakin kecil besarnya nilai SDR. Besarnya nilai SDR
                                                                       
     dapat dihitung berdasarkan sifat fisik tanah dan berat jenis (BD) setiap jenis
     tanah.                                                            
                                                                       
                                                                       
   b. Penutup Lahan, Penggunaan Lahan, dan Pemanfaatan Lahan           
         Data penutup lahan (land cover), penggunaan lahan (land use), dan
                                                                       
     pemanfaatan lahan (land utilization type) merupakan tingkatan atau strata data
                                                                       
     yang disesuaikan dengan kebutuhan dan skala penyajian yang diinginkan untuk
     tujuan pengelolaan DAS. Secara deskriptif uraian tingkatan data dapat disusun
                                                                       
     menurut skala perencanaan DAS, sumber data, klasifikasi data sebagai berikut:
                                                                       
     1) Data penutup lahan merupakan tingkatan skala kecil (makro) atau dalam
                                                                       
       perencanaan DAS termasuk skala provinsi (DAS antar provinsi). Sumber data
       yang digunakan juga dalam skala kecil, seperti citra satelit Landsat dan peta
                                                                       
       yang digunakan adalah peta penutup lahan berskala lebih kecil atau sama
                                                                       
       dengan 1:100 000. Klasifikasi penutup lahan juga sangat sederhana hanya
       terdiri atas berpenutup vegetasi atau non vegetasi.             
                                                                       
     2) Data penggunaan lahan merupakan tingkatan skala menengah (meso) dan
                                                                       
       dalam perencanaan DAS termasuk skala kabupaten (dalam satu atau antar dua
       kabupaten). Sumber data yang digunakan berskala sedang, seperti citra
                                                                       
       SPOT, ASTER, dan ALOS serta peta yang digunakan berskala lebih besar
                                                                       
       atau sama dengan 1:50 000. Klasifikasi penggunaan lahan sudah agak rinci
       terdiri atas  penggunaan lahan sawah, tegalan, kebun campuran,  
                                                                       
       permukiman, hutan, semak belukar, badan air, dan sebagainya.    
                                                                       
     3) Data pemanfaatan lahan merupakan tingkatan skala besar (mikro) dan dalam
       perencanaan DAS termasuk skala rencana teknis lapangan (RTL) untuk
                                                                       
       manajemen lahan. Sumber data yang digunakan berskala besar, seperti citra
                                                                       
       satelit IKONOS, QUICKBIRD, dan/atau WORLDVIEW serta peta yang   
       digunakan berskala lebih besar atau sama dengan 1:10 000. Klasifikasi
                                                                       
       pemanfaatan lahan sangat rinci sampai dengan tingkat satu satuan lahan
       terkecil, seperti penggunaan lahan sawah maka pada tingkat pemanfaatan
                                                                       
       lahan sampai tingkat jenis tanaman jagung, kedele, dan kacang-kacangan.
                                                                       
   4) Daya Dukung Lahan DAS                                            
                                                                       
         Daya dukung lahan adalah kemampuan suatu lahan untuk mendukung
                                                                       
     dalam alokasi pemanfaatan ruang/lahan dalam wilayah DAS untuk tujuan
     penataan ruang yang sesuai dengan kapasitas penyediaan (supportive capacity)
                                                                       
     dan  kapasitas daya tampung DAS (assimilative capacity). Agar dalam
                                                                       
     pemanfaatan ruang DAS sesuai dengan kapasitas lingkungan dan sumber daya
     maka alokasi pemanfaatan ruang/lahan harus mengindahkan kemampuan lahan
                                                                       
     (land capability). Kapasitas sumberdaya alam DAS tergantung pada kemampuan,
                                                                       
     ketersediaan, dan kebutuhan akan lahan, air, dan vegetasi karena akan
     menentukan dalam penataan ruang dan pemanfaatan sumberdaya alam tersebut.
                                                                       
     Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan akan lahan, air, dan vegetasi
                                                                       
     di suatu wilayah DAS menentukan keadaan surplus dan defisit dari lahan, air, dan
     vegetasi untuk mendukung kegiatan pemanfaatan ruang dalam DAS     
                                                                       
         Salah satu cara untuk menentukan daya dukung lahan dalam lingkungan
                                                                       
     DAS  adalah melalui alokasi pemanfaatan ruang yang tepat berdasarkan
                                                                       
     kemampuan lahan yang dikategorikan ke dalam tingkat kelas, sub kelas, dan unit
     pengelolaan/manajemen lahan disesuaikan dengan tingkatan perencanaan
                                                                       
     pengelolaan DAS. Kemampuan lahan merupakan karakteristik lahan DAS yang
                                                                       
     mencakup sifat tanah (fisik dan kimia), topografi, drainase, dan kondisi lingkungan
     DAS yang lain. Berdasarkan karakteristik lahan tersebut suatu wilayah DAS
                                                                       
     dapat dilakukan klasifikasi kemampuan lahan ke dalam tingkat kelas, sub kelas,
                                                                       
     dan hingga unit pengelolaan/manajemen lahan. Kemampuan lahan berkaitan
                                                                       
     dengan tingkat bahaya kerusakan dan hambatan dalam pengelolaan lahan
     DAS, apabila tingkat bahaya atau resiko kerusakan dan hambatan penggunaan
                                                                       
     ruang meningkat maka spektrum penggunaan ruang dalam DAS akan menurun.
                                                                       
     Klasifikasi kemampuan lahan dibagi ke dalam 8 kelas, kelas I hingga IV
     mempunyai kemampuan untuk bidang pertanian, sedang kelas V hingga VIII
                                                                       
     mempunyai kemampuan untuk bidang non pertanian. Khususnya untuk kelas VII
                                                                       
     dan VIII merupakan lahan yang harus dilindungi atau untuk fungsi konservasi.
     Secara rinci klasifikasi kamampuan lahan dalam tingkat kelas dan penggunaan
     ruang/lahan dapat dilihat pada tabel berikut.                     
                                                                       
         Kemampuan lahan dalam tingkat sub kelas pengklasifikasiannya didasarkan
                                                                       
     pada jenis faktor penghambat atau ancaman dalam penggunaannya, kategori sub
     kelas hanya berlaku untuk kelas kemampuan lahan kelas II hingga kelas VIII,
                                                                       
     karena kemampuan lahan kelas I tidak mempunyai faktor penghambat. Kelas
                                                                       
     Kemampuan lahan yang dirinci lagi ke dalam tingkat sub kelas didasarkan pada 4
                                                                       
     (empat) faktor penghambat, yaitu: (1) kemiringan lereng (t), (2) penghambat
     terhadap perakaran tanaman (s), (3) tingkat erosi/bahaya erosi (e), dan (4)
                                                                       
     genangan air (w). Sub kelas kemiringan lereng (t) terdapat pada lahan yang
                                                                       
     faktor lwerengnya menjadi faktor penghambat utama, yang meliputi kemiringan
     lereng, panjang lereng, dan bentuk lereng sangat mempengaruhi erosi, limpasan
                                                                       
     permukaan, serta kemudahan atau faktor penghambat terhadap usaha  
                                                                       
     pemanfaatan ruang/lahan DAS, sehingga dapat menjadi petunjuk dalam
     pengelolaan/ manajemen lahan. Cara penamaan kelas dan sub kelas dilakukan
                                                                       
     dengan menuliskan faktor penghambat di belakang angka kelas, sebagai contoh,
                                                                       
     lahan kelas III dengan faktor penghambat kelerengan (t) maka dapat ditulis
     dengan sub kelas IIIt.                                            
                                                                       
         Kelas kemampuan yang telah dirinci ke dalam sub kelas selanjutnya masih
                                                                       
     dapat dirinci menurut unit pengelolaan/ manajemen lahan yang dikategorikan
                                                                       
     berdasarkan pada intensitas faktor penghambat dalam kategori sub kelas. Dengan
     demikian dalam kategori unit pengelolaan/ manajemen lahan telah diindikasikan
                                                                       
     kesamaan potensi dan hambatan/resiko sehingga dapat digunakan untuk
                                                                       
     menentukan tipe pengelolaan atau teknik konservasi yang dibutuhkan.
     Kemampuan lahan pada tingkat unit pengelolaan/ manajemen lahan memberikan
                                                                       
     faktor kelerengan yang lebih spesifik dan detil dari lahan tingkat sub kelas. Tingkat
                                                                       
     unit pengelolaan/manajemen lahan diberi simbol dengan menambahkan angka
     (1, 2, 3, dan seterusnya) di belakang simbol sub kelas, angka-angka tersebut
                                                                       
     menunjukkan besarnya tingkat faktor penghambat yang ditunjukkan dalam sub
                                                                       
     kelas, sebagai contoh, sub kelas IIIt (faktor penghambat kelerengan) dengan
     intensitas 1 (satu) maka dapat ditulis dalam unit pengelolaan/manajemen lahan
                                                                       
     tingkat IIIt1, IIIt2 dan seterusnya.                              
6. Karakteristik Sosial Kependudukan DAS                               
                                                                       
   a. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Geografis                          
                                                                       
         Dalam ekosistem DAS, penduduk merupakan bagian yang sangat penting.
     Salah satu aspek kependudukan yang perlu diperhatikan antara lain menyangkut
                                                                       
     kepadatan penduduk geografis. Kepadatan penduduk geografis di suatu wilayah
                                                                       
     mempunyai pengaruh terhadap potensi kerusakan lingkungan termasuk terhadap
                                                                       
     kelestarian sumberdaya lahan. Asumsi yang digunakan adalah bahwa suatu
     wilayah yang mempunyai kepadatan penduduk geografis tinggi cenderung akan
                                                                       
     lebih mempunyai resiko terjadinya kerusakan lingkungan dari pada wilayah
                                                                       
     dengan kepadatan penduduk geografis rendah. Hal tersebut disebabkan intensitas
     pemanfaatan lahan dan air akan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah yang
                                                                       
     mempunyai kepadatan penduduk geografis yang lebih rendah.         
                                                                       
         Kepadatan penduduk geografis adalah merupakan cerminan dari besarnya
                                                                       
     tekanan penduduk terhadap lahan. Semakin tinggi kepadatan penduduk geografis
     semakin besar pula tekanan penduduk terhadap lahan.               
                                                                       
         Di wilayah hulu kepadatan penduduknya biasanya tergolong rendah.
                                                                       
     Seharusnya di wilayah ini kerusakan lingkungan relatif kecil. Namun demikian
                                                                       
     pengalaman empiris di beberapa wilayah di Indonesia menunjukkan bahwa di
     wilayah ini terjadi kerusakan lingkungan walaupun kepadatan penduduknya
                                                                       
     rendah.                                                           
                                                                       
     Kerusakan lingkungan disebabkan oleh faktor sosial ekonomi penduduk.
                                                                       
     Sebagian besar penduduk di wilayah ini bermata pencaharian petani dengan
                                                                       
     tingkat penghasilan yang rendah. Di wilayah ini biasanya banyak terjadi
     penebangan hutan.                                                 
                                                                       
         Khusus untuk wilayah yang kepadatan penduduk geografisnya tinggi perlu
                                                                       
     mendapat perhatian karena suatu wilayah yang mempunyai kepadatan penduduk
                                                                       
     geografis yang tinggi cenderung akan lebih mempunyai resiko terjadinya
     kerusakan lingkungan. Hal tersebut disebabkan intensitas pemanfaatan lahan dan
                                                                       
     air akan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah yang mempunyai kepadatan
                                                                       
     penduduk geografis yang lebih rendah.                             
                                                                       
         Cara mengukur kepadatan penduduk geografis adalah dengan membagi
     jumlah penduduk dengan satuan jiwa di suatu wilayah dengan luas wilayah
                                                                       
     tersebut dengan satuan km2. Data tentang jumlah penduduk dan luas 
     wilayah dapat diperoleh dari Kecamatan Dalam Angka dengan unit analisis
                                                                       
     desa/kelurahan, Kabupaten/Kota Dalam Angka dengan unit analisis kecamatan.
                                                                       
     Data ini merupakan data yang diterbitkan oleh Kantor Statistik Kabupaten/Kota.
     Data ini tersedia untuk setiap tahun. Di samping itu data ini juga dapat
                                                                       
     diperoleh dari Potensi Desa dengan unit analisis desa/kelurahan dalam
                                                                       
     format SPSS (softcopy) yang juga merupakan data yang dikeluarkan oleh Badan
     Pusat Statistik. Data ini tidak terdapat setiap tahun. Data Podes yang telah ada
                                                                       
     adalah data tahun 1990, 1993, 1996, 2000,2003, 2006, 2008, dan 2011.
                                                                       
   b. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Agraris                            
                                                                       
         Aspek lain yang perlu diperhatikan dalam penyusunan karakteristik DAS
                                                                       
     adalah menyangkut tekanan terhadap lahan pertanian akibat adanya konversi
     penggunaan lahan dan  proses fragmentasi lahan pertanian. Besarnya
                                                                       
     tekanan terhadap lahan  pertanian mencerminkan semakin besarnya   
                                                                       
     penggunaan lahan non pertanian. Hal tersebut akan berdampak bagi kondisi
     lingkungan terutama kualitas lahan dan ketersediaan air. Salah satu aspek yang
                                                                       
     dapat menggambarkan adanya tekanan terhadap lahan pertanian adalah
                                                                       
     menyangkut kepadatan agraris. Kepadatan agraris adalah merupakan  
     perbandingan antara jumlah rumah tangga tani dengan luas lahan pertanian.
                                                                       
     Semakin tinggi kepadatan agraris semakin tinggi pula tekanan terhadap lahan
                                                                       
     pertanian.                                                        
                                                                       
         Tingginya kepadatan penduduk agraris di suatu DAS menunjukkan adanya
     tekanan terhadap lahan pertanian. Dengan kepadatan penduduk agraris yang
                                                                       
     tinggi menyebabkan pertanian yang berkembang cenderung tidak efisien.
                                                                       
     Perkembangan pertanian yang tidak efisien akan berpotensi mengakibatkan
     adanya degradasi kualitas lahan. Hal tersebut perlu mendapatkan perhatian agar
                                                                       
     nantinya tidak mengganggu kelestarian lingkungan di wilayah DAS yang
                                                                       
     bersangkutan.                                                     
                                                                       
         Cara mengukur kepadatan penduduk agraris adalah dengan membagi
                                                                       
     jumlah petani dengan satuan jiwa di suatu wilayah dengan luas lahan pertanian
     di wilayah tersebut dengan satuan km2. Data tentang jumlah petani dan
     luas lahan pertanian dapat diperoleh dari Kecamatan Dalam Angka dengan unit
                                                                       
     analisis desa/kelurahan, Kabupaten/Kota Dalam Angka dengan unit analisis
     kecamatan. Data ini merupakan data yang diterbitkan oleh Kantor Statistik
                                                                       
     Kabupaten/Kota. Data ini tersedia untuk setiap tahun.             
                                                                       
   c. Persentase Rumah Tangga Petani                                   
                                                                       
         Sektor pertanian di beberapa DAS di Indonesia masih merupakan sektor
                                                                       
     yang dominan, namun demikian di beberapa DAS yang lain, sektor pertanian ini
     tidak lagi menjadi sektor yang dominan. Hal itu ditunjukkan dengan rasio rumah
                                                                       
     tangga tani terhadap jumlah rumah tangga yang menunjukkan angka yang sangat
                                                                       
     bervariasi. Bervariasinya kegiatan ekonomi penduduk di wilayah ini mencerminkan
     adanya dinamika wilayah. Dinamika wilayah tersebut perlu diarahkan agar
                                                                       
     nantinya tidak menjadikan potensi kerusakan lingkungan. Untuk DAS yang
                                                                       
     mempunyai proporsi rumah tangga tani tergolong besar mempunyai resiko
     kerusakan lingkungan yang lebih tinggi dari pada DAS yang mempunyai proporsi
                                                                       
     rumah tangga tani lebih kecil. Dalam Potensi Desa dengan unit analisis
                                                                       
     desa/kelurahan terdapat data persentase rumah tangga tani ini.    
                                                                       
7. Karakteristik Sosial Budaya DAS                                     
                                                                       
   a. Tingkat Pendidikan                                               
         Pendidikan merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk
                                                                       
     menggambarkan kondisi sosial suatu wilayah.Dalam Data Podes terdapat data
                                                                       
     putus sekolah SD dan putus sekolah SLTP. Dua indikator ini dapat digunakan
     untuk menggambarkan kondisi pendidikan di daerah penelitian. Disamping itu
                                                                       
     dengan dua indikator ini juga dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat
                                                                       
     kemiskinan suatu wilayah.                                         
                                                                       
         Besarnya angka jumlah penduduk putus sekolah baik SD maupun SLTP
                                                                       
     mengindikasikan kondisi perekonomian yang yang buruk.Kondisi perekonomian
     yang buruk disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor
                                                                       
     alam.Faktor alam yang dimaksudkan adalah kondisi fisik lahan yang tidak
                                                                       
     menguntungkan untuk kegiatan pertanian, padahal Sebagian besar masyarakat
     masih menggantungkan hidupnya pada sector pertanian.Dengan kondisi fisik
                                                                       
     lahan yang demikian menyebabkan masyarakat petani terpuruk dalam  
     kemiskinan.                                                       
                                                                       
   b. Kearifan/Nilai-Nilai Lokal Masyarakat                            
                                                                       
         Dalam masyarakat lokal di beberapa wilayah di Indonesia terdapat
     peraturan-peraturan lokal yang disusun dan dilaksanakan oleh masyarakat
                                                                       
     setempat. Peraturan-peraturan tersebut disusun dengan bahasa yang sederhana
                                                                       
     namun dengan bahasa yang sederhana tersebut justeru dapat dimengerti oleh
                                                                       
     seluruh lapisan masyarakat di desa yang bersangkutan. Peraturan-peraturan
     tersebut walaupun levelnya di tingkat desa namun sebagai sebuah peraturan
                                                                       
     sudah memiliki kekuatan hukum karena telah ditetapkan sebagai Peraturan Desa
                                                                       
     (Perdes).                                                         
                                                                       
         Dengan kekuatan hukum ini maka peraturan-peraturan tersebut telah
     mempunyai kemampuan  untuk mengikat hukum kepada seluruh warga    
                                                                       
     masyarakat di desa tersebut. Peraturan Desa yang berkaitan dengan pengelolaan
                                                                       
     DAS  sebagai contoh telah terdapat di Desa Gemawang Kecamatan     
     Ngadirojo Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah. Peraturan tersebut ditaati
                                                                       
     oleh semua warga masyarakat di desa tersebut. Peraturan Desa sejenis juga
                                                                       
     terdapat di Desa Sembukan Kecamatan Sidoharjo Kabupaten Wonogiri Provinsi
     Jawa Tengah yang telah disyahkan pada tanggal 15 Desember 2009. Desa lain
                                                                       
     yang memiliki Peraturan Desa untuk pengelolaan lingkungan adalah Desa
                                                                       
     Tempursari Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah yang telah disyahkan
     pada Bulan Februari 2010 (Giyarsih, 2010).                        
                                                                       
         Masyarakat lokal yang sebetulnya merupakan target group yang paling
                                                                       
     potensial untuk melaksanakan peraturan tersebut karena lebih memahami
                                                                       
     Peraturan Desa dari pada Peraturan Daerah. Alasannya sangat sederhana, karena
                                                                       
     mereka sendiri yang merencanakan dan menyusun Peraturan Desa tersebut.
     Sebaliknya Peraturan Daerah direncanakan dan disusun bukan oleh masyarakat
                                                                       
     tapi oleh Pemerintah Daerah (Giyarsih, 2010).                     
                                                                       
         Dari fakta empiris ini maka untuk pengelolaan lingkungan dalam pengelolaan
                                                                       
     suatu DAS maka  peraturan yang paling dekat dengan masyarakat lokal
     itulah yang merupakan peraturan yang paling efektif dilaksanakan. Oleh karena
                                                                       
     itu dalam kaitannya dengan aspek kelembagaan maka lembaga-lembaga lokal di
     tingkat desa termasuk yang merancanakan dan melaksanakan peraturan lokal
                                                                       
     inilah yang perlu dikoordinasi dengan lebih optimal.              
                                                                       
         Variabel kearifan/nilai-nilai lokal dalam konservasi dapat diperoleh dengan
     cara wawancara terstruktur dengan panduan kuesioner atau wawancara
                                                                       
     mendalam (indepth interview) dengan metode sampling kepada informan misal
                                                                       
     kepada tokoh masyarakat atau kepala desa.                         
                                                                       
8. Karakteristik Sosial Ekonomi DAS                                    
                                                                       
   a. Mata Pencaharian                                                 
                                                                       
         Sektor pertanian masih menjadi sektor yang dominan bagi sebagian
     besar penduduk Indonesia. Di wilayah hulu suatu DAS biasanya kegiatan sektor
                                                                       
     pertanian ini sangat dominan.                                     
                                                                       
         Pengalaman empiris di beberapa wilayah di Indonesia mengindikasikan
                                                                       
     bahwa lokasi beberapa industri merupakan peralihan dari lahan sawah beririgasi
                                                                       
     teknis yang subur menjadi lahan industri. Kawasan industri ini masih menjadi satu
     dengan lahan pertanian di sekelilingnya. Hal ini mengindikasikan adanya gejala
                                                                       
     urban sprawl (gejala perembetan kenampakan fisik kekotaan ke arah luar). Gejala
                                                                       
     urban sprawl yang terjadi di wilayah ini mempunyai tipe leap frog development.
     Tipe leap frog development merupakan tipe gejala urban sprawl yang paling
                                                                       
     merugikan secara ekologis.                                        
                                                                       
         Keberadaan kawasan industri tersebut di satu sisi memang menguntungkan
                                                                       
     masyarakat sekitar karena dapat menyerap tenaga kerja lokal untuk bekerja di
     pabrik khususnya untuk bagian produksi. Namun demikian di sisi lain
                                                                       
     menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan apabila limbah tidak dikelola
                                                                       
     dengan baik oleh pabrik.                                          
                                                                       
         Khusus untuk kawasan perkotaan, maka sektor perdagangan dan industri
                                                                       
     menjadi sektor yang diandalkan di wilayah ini. Seperti halnya wilayah yang
     berciri kekotaan, maka kawasan ini juga sarat dengan permasalahan lingkungan
                                                                       
     perkotaan. Mulai dari sampah rumah tangga sampai dengan limbah industri yang
                                                                       
     dibuang ke DAS tak pelak lagi menyebabkan tercemarnya DAS tersebut. Untuk
     itu di wilayah ini perlu pengelolaan sampah dan limbah industri sehingga
                                                                       
     mengurangi resiko pencemaran DAS.                                 
         Dengan demikian suatu wilayah yang didominasi oleh kegiatan pertanian
                                                                       
     atau dengan kata lain struktur mata pencaharian sebagian besar penduduknya di
     sektor pertanian maka akan mempunyai resiko yang lebih tinggi terhadap
                                                                       
     kerusakan DAS. Data persentase penduduk bermata pencaharian sebagai petani
                                                                       
     dapat diperoleh dari data Kecamatan Dalam Angka dengan unit analisis
     desa/kelurahan dan Kabupaten/Kota Dalam Angka dengan unit analisis
                                                                       
     kecamatan. Data ini diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik yang tersedia untuk
                                                                       
     setiap tahunnya.                                                  
                                                                       
   b. Tingkat Pendapatan                                               
                                                                       
         Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan
     penduduk adalah kesejahteraan keluarga. Dari data Podes dapat digunakan
                                                                       
     data mengenai jumlah rumah tangga Pra Sejahtera dan Sejahtera I menurut
                                                                       
     klasifikasi dari BKKBN. Untuk menilai tingkat kesejahteraan penduduk di suatu
     DAS digunakan data mengenai proporsi rumah tangga Pra Sejahtera dan
                                                                       
     Sejahtera I. Semakin rendah proporsi rumah tangga Pra Sejahtera dan Sejahtera
                                                                       
     I menunjukkan tingkat kesejahteraan yang semakin baik. Sebaliknya, semakin
     tinggi proporsi rumah tangga Pra Sejahtera dan Sejahtera I menggambarkan
                                                                       
     tingkat kesejahteraan yang semakin rendah.                        
                                                                       
         Penduduk yang miskin mempunyai potensi sebagai pelaku kerusakan DAS.
                                                                       
     Oleh karena itu untuk kawasan-kawasan yang proporsi penduduk miskinnya
     besar perlu diwaspadai karena potensial merusakkan DAS.           
                                                                       
         Keterbatasan ekonomi masyarakat tersebut bila tidak segera ditanggulangi
                                                                       
     dapat berpotensi terjadi kerusakan DAS. Hal tersebut karena pada wilayah yang
                                                                       
     miskin untuk memenuhi kebutuhan hidup, masyarakatnya cenderung akan
                                                                       
     memanfaatkan sumberdaya yang ada secara berlebihan sehingga bila tidak
     dibatasi akan mengakibatkan kerusakan DAS.                        
                                                                       
9. Karakteristik Kelembagaan DAS                                       
                                                                       
   a. Peran Lembaga Pemerintah Dalam Konservasi DAS                    
                                                                       
         Pengembangan kelembagaan telah menjadi bagian dari strategi   
                                                                       
     pembangunan. Pengembangan kelembagaan juga merupakan bagian dari strategi
     pengelolaan suatu DAS.                                            
     Kelembagaan baik berupa organisasi maupun bukan organisasi merupakan salah
                                                                       
     satu penggerak pembangunan. Dari pernyataan ini sekaligus dapat   
     dipostulasikan bahwa kelembagaan sekaligus juga merupakan penggerak
                                                                       
     dalam pengelolaan di suatu DAS.                                   
                                                                       
         Dengan  adanya  pengembangan kelembagaan diharapkan dapat     
                                                                       
     menggerakkan para pihak untuk berperan secara aktif dalam pengelolaan
                                                                       
     lingkungan di suatu DAS. Di samping itu, dengan penguatan kelembagaan maka
     pembagian peran menjadi lebih jelas. Masing-masing pihak akan mengetahui
                                                                       
     dengan pasti wewenang dan tanggung jawabnya, sehingga sistem pengelolaan
                                                                       
     suatu DAS dapat dilaksanakan secara optimal. Dalam hal ini pihak pemerintah
     kabupaten/kota berperan sebagai ujung tombak dalam pelayanan kepada
                                                                       
     masyarakat dan lebih kompeten dalam upaya pemberdayaan masyarakat dan
                                                                       
     upaya pengembangan kelembagaan masyarakat (Giyarsih, 2010).       
                                                                       
         Kegagalan berbagai proyek pembangunan di Indonesia salah satu 
     penyebabnya adalah belum siapnya lembaga di tingkat lokal yang langsung
                                                                       
     menyentuh target group (msayarakat) dalam menjalankan proyek pembangunan
                                                                       
     tersebut. Belajar dari pengalaman empirik berbagai proyek pembangunan yang
     dilaksanakan dengan sistem top down serta lebih mementingkan pembangunan
                                                                       
     fisik dari pada pengembangan kelembagaan di tingkat lokal lebih banyak
                                                                       
     mengalami kegagalan dari pada keberhasilan. Dari pengalaman empiris inilah
     mestinya pendekatan pembangunan yang diterapkan dalam pengelolaan suatu
                                                                       
     DAS bukan pendekatan sentralistik namun pendekatan partisipatif.  
                                                                       
         Di samping itu dalam pelaksanaan pengelolaan suatu DAS diharapkan
                                                                       
     sebanyak mungkin melibatkan masyarakat dan mendorong masyarakat untuk
                                                                       
     dapat berpartisipasi secara nyata. Untuk meningkatkan kinerja pengelolaan
     lingkungan guna mewujudkan Koordinasi, Intergrasi, Sinergitas, Sinkronisasi
                                                                       
     (KISS) yang optimal maka penguatan kelembagaan lokal di tingkat desa menjadi
                                                                       
     sangat penting dan mendesak untuk dilakukan. Data tentang peran lembaga
     adapt dalam kegiatan konservasi ini dapat diperoleh dengan cara wawancara
                                                                       
     terstruktur dengan panduan kuesioner atau wawancara mendalam kepada
                                                                       
     informan misal tokoh masyarakat atau kepala desa dengan teknik sampling.
   b. Peran Lembaga Adat Masyarakat Dalam Konservasi DAS               
                                                                       
         Sinergisme spasial kelembagaan merupakan upaya-upaya yang dilakukan
     untuk memadukan kelembagaan sejenis antar wilayah sedemikian rupa sehingga
                                                                       
     produk akhir yang akan dicapai oleh kelembagaan hasil perpaduan tersebut lebih
                                                                       
     baik apabila dibandingkan dengan produk akhir kinerja masing-masing
     kelembagaan sebelum dipadukan. Dalam kaitannya dengan pengelolaan DAS
                                                                       
     yang secara admistratif biasanya terdiri dari beberapa kabupaten/kota maka
                                                                       
     sinergisme spasial kelembagaan ini sangat diperlukan (Giyarsih, dkk, 2011).
                                                                       
         Kerjasama saling menguntungkan yang dibangun dapat meliputi dua, tiga,
                                                                       
     atau lebih kelembagaan yang sama antar wilayah yang berbeda tergantung dari
     konsensus yang telah disepakati antarwilayah. Masing- masing kelembagaan di
                                                                       
     masing-masing wilayah yang berbeda tentu mempunyai pertimbangan sendiri-
                                                                       
     sendiri sesuai dengan kepentingannya. Skala wilayah yang diciptakan dapat
     dalam skala lokal maupun skala regional (Giyarsih, dkk, 2011).    
                                                                       
         Pertama kali yang harus dirumuskan dalam sinergisme spasial kelembagaan
                                                                       
     ini adalah visi dari bentuk sinergisme spasial kelembagaan yang disepakati.
                                                                       
     Setelah merumuskan visi yang merupakan cita-cita jangka panjang maka
     untuk selanjutnya perlu merumuskan misi-misi yang akan ditempuh dalam rangka
                                                                       
     mencapai visi tersebut. Kelembagaan antar wilayah yang bergabung dalam
                                                                       
     sinergisme spasial kelembagaan tersebut harus mempunyai komitmen yang tinggi
     terhadap kerjasama kelembagaan antar wilayah yang telah disepakati dan
                                                                       
     tentu  saja secara  konsisnten dan konsekuen masing-masing harus  
                                                                       
     melaksanakan misi-misi yang telah dirumuskan. Data sinergisme spasial
     kelembagaan ini dapat diperoleh dengan cara wawancara terstruktur dengan
                                                                       
     panduan kuesioner atau wawancara mendalam kepada informan misal petugas
                                                                       
     dari instansi yang berkaitan dengan pengelolaan DAS dengan teknik sampling.
                                                                       
   c. Sinergisme fungsi Kelembagaan DAS                                
                                                                       
         Seperti halnya dengan bentuk sinergisme spasial kelembagaan, istilah
     sinergisme fungsional kelembagaan juga mempunyai tujuan untuk optimasi hasil
                                                                       
     pembangunan dengan penggabungan berbagai kelembagaan yang berbeda akan
                                                                       
     dicapai hasil yang lebih baik dari pada masing-masing kelembagaan berdiri
     sendiri-sendiri. Menurut Yunus (2005), penekanan penggabungan dalam
     sinergisme spasial kelembagaan adalah pada ruang/wilayah/daerah. Sementara
                                                                       
     itu penekanan penggabungan dalam sinergisme fungsional kelembagaan adalah
     pada kegiatan atau institusi yang berkompeten menanganinya.       
                                                                       
      Lebih lanjut Yunus (2005) menyebutkan bahwa pada sinergisme spasial
                                                                       
     kelembagaan melibatkan berbagai ruang yang berbeda-beda, sedangkan
                                                                       
     dalam sinergisme fungsional kelembagaan dapat melibatkan berbagai ruang yang
                                                                       
     berbeda maupun ruang yang sama namun berbagai fungsi/kegiatan yang
     bervariasi. Sinergisme fungsional kelembagaan dalam ruang yang sama harus
                                                                       
     diusahakan dalam rangka optimasi hasil pembangunan. Upaya untuk   
                                                                       
     menghindarkan adanya konflik kepentingan overlapping kegiatan maupun antar
     institusi yang menangani program pembangunan yang sama atau yang berkaitan
                                                                       
     harus bekerjasama sehingga kedua hal tersebut dapat dihindarkan.  
                                                                       
         Pengalaman berbagai negara menunjukkan adanya ineficiency yang
                                                                       
     berakibat pada pemborosan sumberdaya (waktu, tenaga, dan biaya) dan
     keterlantaran obyek pembangunan akibat tidak adanya sinergisme fungsional
                                                                       
     kelembagaan dalam suatu wilayah pembangunan (Drakakis-Smith, 1980 dalam
                                                                       
     Yunus, 2005). Dalam upaya pengelolaan lingkungan di suatu DAS apakah menjadi
     tanggung jawab Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas
                                                                       
     Pertambangan, atau dinas lainnya? Kejelasan kewenangan membawa    
                                                                       
     konsekuensi finansial yang harus dikeluarkan dalam penanganan program
     pembangunan untuk pengelolaan lingkungan. Saling lempar tanggung jawab akan
                                                                       
     mengakibatkan keterlantaran atau tidak tertanganinya masalah yang seharusnya
                                                                       
     mendapat perhatian (Yunus, 2005).                                 
                                                                       
         Sinergisme fungsional kelembagaan  antar  institusi dalam     
                                                                       
     ruang/wilayah/daerah yang sama dalam pengelolaan suatu DAS perlu diatur
     untuk menentukan tugas dan wewenang, sehingga penanganan program  
                                                                       
     pembangunan dapat dilaksanakan dengan baik. Walaupun dalam beberapa hal
                                                                       
     terkendala dengan alokasi dana, tenaga, dan waktu, namun apabila job
     descriptions telah jelas terumuskan, maka semua tindakan yang dilakukan oleh
                                                                       
     institusi yang berbeda akan bersifat komplementer dengan tujuan akhir yang
                                                                       
     sama.                                                             
         Sama halnya dengan data sinergisme spasial kelembagaan, maka data
                                                                       
     sinergisme fungsional kelembagaan ini juga dapat diperoleh dengan cara
     wawancara  terstruktur dengan panduan kuesioner atau wawancara    
                                                                       
     mendalam kepada informan misal petugas dari instansi yang berkaitan
                                                                       
     dengan pengelolaan DAS dengan teknik sampling.                    
                                                                       
                     VI.  PELAKSANAAN                                  
Tahap Persiapan                                                        
                                                                       
                                                                       
    Sebelum pelaksanaan penyusunan Karakteristik DAS, terlebih dahulu perlu
dilakukan persiapan yang meliputi penyiapan bahan-peralatan, sumberdaya manusia
                                                                       
serta pembentukan Tim Penyusun Karakteristik DAS.                      
                                                                       
1. Pembentukan Tim Pelaksana                                           
                                                                       
       Untuk melaksanakan penyusunan Karakteristik DAS, maka perlu membentuk
                                                                       
   Tim yang disesuaikan dengan kondisi di daerah antara lain:          
                                                                       
   a. Tim Administrasi. Tim ini bertanggungjawab dalam pekerjaan administrasi seperti
                                                                       
     menyiapkan surat menyurat ke instansi terkait, kelengkapan blanko-blako
     lapangan, transportasi dll.                                       
                                                                       
   b. Tim Pemetaan/GIS. Tim ini bertanggung jawab dalam pekerjaan kartografi dan
                                                                       
     proses analisis peta-peta digital. Disamping itu Tim juga melakukan pelaksanaan
     ground-check hasil pemetaan tersebut;                             
                                                                       
   c. Tim Survey. Tim ini bertanggung jawab dalam proses pengumpulan dan
                                                                       
     pengolahan data sekunder (kondisi umum Biofisik dan Sosial Ekonomi DAS).
   d. Tim Penyusun Naskah Karakteristik DAS. Tim ini bertugas menyusun naskah Buku
                                                                       
     I, II dan III.                                                    
                                                                       
2. Administrasi                                                        
                                                                       
       Dalam pelaksanaan survey lapangan perlu disiapkan surat-surat ijin dan
   permohonan data/informasi kepada instansi-instansi terkait untuk pengumpulan
                                                                       
   data. Disamping itu untuk memperlancar pelaksanaan ground check di lapangan perlu
                                                                       
   disiapkan pula surat ijin kepada instansi terkait di daerah.        
                                                                       
Tahap Kegiatan                                                         
                                                                       
    Dalam pelaksanaan kegiatan penyusunan karakteristik DAS di awali dengan
pengadaan bahan dan peralatan yang meliputi :                          
                                                                       
1. Pengadaan Bahan                                                     
                                                                       
   a. Alat tulis dan alat gambar                                       
                                                                       
   b. Peralatan survey sampel air, bor tanah, kompas, termometer, pengukur
                                                                       
     debit, dll                                                        
   c. Peta meliputi: :                                                 
                                                                       
     •  Peta topografi atau Peta Rupabumi Indonesia                    
                                                                       
     •  Peta tanah                                                     
     •  Peta geologi                                                   
                                                                       
     •  Peta iklim                                                     
                                                                       
     •  Peta penggunaan lahan                                          
     •  Peta penutupan lahan                                           
                                                                       
     •  Peta lereng                                                    
                                                                       
     •  Peta tingkat bahaya erosi                                      
     •  Peta pola aliran DAS/sub DAS                                   
                                                                       
2. Pembuatan Borang/Blangko Isian                                      
                                                                       
                                                                       
   a. Morfometri DAS                                                   
   b. Morfologi                                                        
                                                                       
   c. Penutupan lahan DAS                                              
                                                                       
   d. Penggunaan lahan                                                 
   e. Debit sungai                                                     
                                                                       
   f. Data erosi DAS                                                   
                                                                       
   g. Iklim dari stasiun meteorologidalam DAS                          
   h. Data penduduk                                                    
                                                                       
   i. Data sarana/prasaran dan social ekonomi penduduk                 
                                                                       
Tahap Pelaksanaan                                                      
                                                                       
      Setelah bahan dan peralatan tersedia selanjutnya melakukan kegiatan berupa
                                                                       
mengumpulkan data-data yang diperlukan meliputi :                      
                                                                       
1. Deliniasi batas DAS dan penggambaran peta dasar DAS                 
2. Pengumpulan data sekunder, meliputi: peta-peta (hutan,pola aliran, topografi,
                                                                       
   tingkat bahaya erosi, iklim, lereng, tanah, goelogi, penggunaan lahan, penutupan
   lahan), data statistic, data DAS (morfometri, morfologi, erosi, debit, lereng,
                                                                       
   panjang sungai, dll. Tabel isian terlampir pada Format 3).          
                                                                       
3. Penggunaan data  primer/survey lapangan, meliputi pengamatan dan    
   pengukuran kondisi DAS, lereng , penggunaan lahan, proses geomorfik dalam DAS.
                                                                       
   Dalam tahapan ini kegiatan yang dilakukan adalah :                  
                                                                       
   a. Penentuan DAS dan Skala Pemetaan                                 
                                                                       
         Setiap DAS yang ada di wilayah Indonesia harus dikaji karakteristiknya,
                                                                       
     namun mengingat jumlah DAS yang sangat banyak maka jumlah DAS yang
     dikaji tersebut disesuaikan dengan kemampuan dan anggaran yang tersedia pada
                                                                       
     masing-masing BPDAS. Untuk menentukan urutan DAS tersebut dapat   
                                                                       
     menggunakan urutan DAS Prioritas yang telah ditetapkan.           
                                                                       
         Setelah ditentukan DAS yag akan dikaji karakteristiknya, langkah
     selanjutnya adalah menentukan skala pemetaan yang akan digunakan dalan
                                                                       
     kajian karakteristik DAS tersebut. Skala pemetaan mempunyai peranan sangat
                                                                       
     penting karena menyangkut pada keteilitan data dan informasi yang akan
     dihasilkan. Skala pemetaan ditentukan berdasarkan luas DAS masing-masing
                                                                       
     mengikuti keTentuan sebagai berikut:                              
                                                                       
                                                                       
                                                                       
                  Tabel. Skala Pemetaan untuk Karakteristik DAS        
                                                                       
      No  Luas DAS (Ha) Klasifikasi                    Skala Peta      
                                   Keterangan                          
                        DAS                                            
      1     >1.500.000 DAS Sangat Lintas Provinsi       1 : 250.000    
                        Besar    Lintas Kabupaten       1 : 250.000    
                                 Dalam Kabupaten         1 : 50.000    
      2     500.000 - < DAS Besar Lintas Provinsi       1 : 250.000    
            1.500.000            Lintas Kabupaten       1 : 250.000    
                                 Dalam Kabupaten         1 : 50.000    
      3     100.000 - < DAS Sedang Lintas Provinsi      1 : 100.000    
            500.000              Lintas Kabupaten       1 : 100.000    
                                 Dalam Kabupaten         1 : 50.000    
                                 Dalam Kota              1 : 25.000    
      4     10.000 - < DAS Kecil Lintas Provinsi         1 : 50.000    
            100.000              Lintas Kabupaten        1 : 50.000    
                                 Dalam Kabupaten         1 : 25.000    
                                 Dalam Kota              1 : 10.000    
      No  Luas DAS (Ha) Klasifikasi                    Skala Peta      
                                   Keterangan                          
                        DAS                                            
      5     < 10.000  DAS Sangat Lintas Provinsi         1 : 10.000    
                        Kecil    Lintas Kabupaten        1 : 10.000    
                                 Dalam Kabupaten         1 : 10.000    
                                 Dalam Kota              1 : 10.000    
     Sumber :Ditjen BPDASPS dan PP 15/2010                             
                                                                       
   b. Pengumpulan Data Sekunder (Instansional)                         
                                                                       
         Data ini diperoleh melalui kegiatan survei instansionaal pada dinas/instansi
                                                                       
     terkait guna mendaatkan data-data atau hasil publikasi yang terkait dengan
                                                                       
     variabel-variabel karakteristik DAS Data yang dikumpulkan meliputi data-data
     yang bersifat fisik dan data sosial ekonomi.                      
                                                                       
                                                                       
   c. Pengumpulan Data Primer (Survei Lapangan)                        
                                                                       
         Data ini diperoleh melalui pengukuran parameter langsung di lapangan
     ataupun wawancara dengan responden, dimana jumlah sampel pengukuran dan
                                                                       
     respondennya ditentukan secara acak berlapis (stratified random sampling
                                                                       
     procedure). Data yang dikumpulkan meliputi data-data yang bersifat fisik dan data
     sosial ekonomi.                                                   
                                                                       
   d. Tahap Pengolahan dan Analisis Data                               
                                                                       
                                                                       
         Setelah semua data yang diperlukan terkumpul selanjutnya dilakukan analisa
     data yang meliputi :.                                             
                                                                       
     1) Penetapan Kriteria                                             
                                                                       
        Penetapan kriteria tentang:                                    
                                                                       
        - Kondisi fisik morfometri/morfologi                           
        - Pola aliran dan tingkat percabangan sungai                   
                                                                       
        - Fluktuasi debit sungai dan curah hujan                       
                                                                       
        - Tingkat erosi sedimentasi                                    
        - Penggunaan lahan dalam DAS                                   
                                                                       
        - Tingkat sosial ekonomi penduduk                              
                                                                       
        - Tingkat kelembagaan DAS                                      
     2) Pengolahan Data (Pemetaan)                                     
                                                                       
        - Pemetaan data fisik DAS (pola aliran, tanah, lereng, geologi, iklim)
        - Pemetaan penggunaan lahan DAS                                
                                                                       
        - Pemetaan data sosial ekonomi DAS                             
        - Pengolahan data mutu hidup                                   
                                                                       
     3) Analisis Data (Kuantitatif dan Deskriptif)                     
                                                                       
        - Analisis kuantitatif kondisi fisik DAS                       
        - Analisis deskriptif kuantitatif pemamfaatan lahan DAS        
                                                                       
        - Analisis data sosial ekonomi DAS                             
                                                                       
        - Analisis data kelembagaan DAS                                
     4) Penggambaran Peta (Reproduksi)                                 
                                                                       
        - Digitasi peta analog ke digital (apabila tersedia peralatan GIS)
                                                                       
        - Anotasi peta dan cetak peta berwarna                         
                                                                       
Tahap Penyusunan Laporan                                               
                                                                       
      Penyusunan laporan hasil kajian karakteristik DAS dilakukan membahas data-
                                                                       
data yang telah di kumpulkan dan dianalisa baik data primer hasil kunjungan lapangan,
maupun data sekunder yang diperoleh dari instansi yang terkait. Hasil laporan ini
                                                                       
kemudian dilakukan pembahasan dengan melibatkan dinas/instansi yang berada dalam
                                                                       
lingkup Kementerian Kehutanan di daerah, dinas/instansi terkait di daerah, dan
Direktorat Perencanaan dan Evaluasi Pengelolaan DAS.                   
                                                                       
      Semua saran dan masukan hasil pembahasan merupakan bahan koreksi untuk
                                                                       
perbaikan laporan yang disusun. Setelah laporan akhir diperbaiki sesuai dengan saran-
saran dan tanggapan pada saat pembahasan, maka laporan digandakan dan dijilid untuk
                                                                       
kemudian dibagiakan pada dinas/instansi yang terkait dengan kegiatan pengelolaan
                                                                       
DAS, baik yang berada pada lingkup Kementerian Kehutanan maupun dinas/instansi
terkait lainnya.                                                       
                                                                       
      Selain buku utama sebagai laporan akhir juga di lengkapi dengan buku II sebagai
                                                                       
lapiran data dan buku III berupa peta-peta tematik. Dalam buku III peta-peta yang perlu
di laampirkan untuk melengkapi informasi antara lain :                 
                                                                       
1. Peta Curah Hujan                                                    
                                                                       
2. Peta Intensitas Hujan                                               
3. Peta Geologi                                                        
4. Peta Geomorfologi                                                   
                                                                       
5. Peta Erositivitas Hujan (R)                                         
6. Peta Erodibilitas Tanah (K) (mencakup jeluk tanah)