Pertemuan Komite Ahli Nasional Surveilans Pd3i Dan Jejaring Laboratorium Rujukan Pd3i

Basic Information
Type: Public Tender
Tender Code: 53129047
Date: 27 September 2024
Year: 2024
KLPD: Kementerian Kesehatan
Work Unit: Sekretariat Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit
Procurement Type: Jasa Lainnya
Method: Penunjukan Langsung
Contract Type: Lumsum
Financial Information
Value (Nilai Pagu): Rp 241,488,000
Estimated Value (Nilai HPS): Rp 241,488,000
Winner (Pemenang): PT Maju Bajo Sentosa
NPWP: 4*6**2****24**0
RUP Code: 52661536
Work Location: labuan bajo - Manggarai Barat (Kab.)
Participants: 1
Attachment
SPESIFIKASI TEKNIS                               
          PERTEMUAN KOMITE AHLI NASIONAL SURVEILANS PD3I                
             DAN JEJARING LABORATORIUM RUJUKAN PD3I                     
                           TAHUN 2024                                   
                                                                        
 1. LATAR BELAKANG                                                      
       PD3I adalah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, yang masih menjadi
    masalah kesehatan, tidak hanya di Indonesia namun juga di dunia. PD3I merupakan
    penyakit yang potensial terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) dan bahkan bisa menjadi
    Wabah.                                                              
                                                                        
       Meskipun program imunisasi sudah terlaksana di Indonesia, namun sejumlah
    kasus PD3I seperti campak, difteri dan pertusis masih ditemukan di beberapa daerah.
    Cakupan imunisasi yang rendah di daerah tertentu telah menyebabkan terjadinya PD3I
    yang sebenarnya sudah dapat dikendalikan (reemerging disease).      
                                                                        
       Saat ini terjadi peningkatan kasus dan wabah Campak Rubella di beberapa
    daerah di Indonesia. Pada tanggal 18 November 2022, dilaporkan adanya kasus Polio
    dari Vaccine Derived Polio Virus type 2 (VDPV2) di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh,
    sehingga wabah Polio dikonfirmasi terjadi di Indonesia dan masih berlanjut hingga saat
    ini. Sebanyak 11 kasus Polio telah dilaporkan pada bulan November 2022 - April 2024.
                                                                        
    Selain itu, selama tahun 2023 dilaporkan terdapat 101 KLB Campak, 4 KLB Rubella, 2
    KLB Campuran Campak-Rubella, dan 103 KLB Difteri, serta 13 kasus Tetanus
    Neonatorum dan 2.163 kasus pertusis. Hingga April 2024, jumlah kasus PD3I yang
    dilaporkan adalah 10 KLB Campak, 1 Suspek KLB Campak, 35 KLB Difteri, 5 kasus
    Tetanus Neonatorum, dan 588 kasus Pertusis yang tersebar di seluruh kabupaten dan
    provinsi di Indonesia.                                              
                                                                        
       Kondisi tersebut menyebabkan semakin banyaknya spesimen yang dikirim ke
    laboratorium untuk pemeriksaan penyakit Campak, Rubella dan PD3I lainnya,
    sehingga meningkatkan beban laboratorium rujukan PD3I agar dapat melakukan
    pemeriksaan spesimen secara cepat dan akurat untuk mendukung pelaksanaan
    program. Salah satu rekomendasi dari Kajian Respons Wabah Polio yang dilakukan
    pada Juli 2023 adalah perlunya penguatan surveilans PD3I dengan lebih
    meningkatkan sensitivitas petugas surveilans di tingkat Puskesmas, dinas kesehatan
                                                                        
    kabupaten/kota, dinas kesehatan provinsi, dan RS. Untuk menguatkan jejaring
    laboratorium Campak Rubella, selama tahun 2023 telah dilakukan beberapa kali
    pemeriksaan panel penyakit campak dan rubella di 5 laboratorium kesehatan
    masyarakat yaitu Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Jakarta,
    BBLKM Surabaya, BBLKM Yogyakarta, BBLKM Banjarbaru, dan Laboratorium
    Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.                                     
                                                                        
       Dalam rangka mencapai komitmen global eradikasi polio dan komitmen regional
    dalam mencapai eliminasi campak-rubela/CRS pada tahun 2026, ada beberapa
    indikator AFP dan PD3I lainnya yang harus dicapai setiap tahun. Indonesia telah
    berupaya memperkuat surveilans Acute Flaccid Paralysis (AFP) dan PD3I lainnya di
    semua tingkatan dengan melibatkan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes),
    organisasi profesi, Komite Ahli Nasional Surveilans PD3I, lintas program, lintas sektor
    dan mitra.                                                          
       Untuk memperkuat surveilans PD3I di Indonesia, program nasional surveilans
    PD3I didukung oleh Komite Ahli Nasional Surveilans PD3I yang beranggotakan pakar
    dari organisasi profesi dan pakar kesehatan Masyarakat, serta sektor terkait lainnya.
    Selain itu, terdapat beberapa Laboratorium rujukan PD3I di Indonesia dengan masing-
    masing wilayah pemeriksaannya, yaitu 3 laboratorium rujukan Nasional Polio, 1
    laboratorium rujukan Pertusis, dan 9 laboratorium rujukan Campak-Rubella/CRS
    termasuk 4 laboratorium baru serta 8 laboratorium pemeriksaan kultur Difteri dan 2
                                                                        
    laboratorium rujukan untuk tes ELEK. Komite Ahli Nasional Surveilans PD3I dan
    Laboratorium Rujukan PD3I ditunjuk dengan surat keputusan yang ditandatangani oleh
    Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.             
       Memperhatikan permasalahan yang terjadi, fakta yang mempengaruhi, analisis
    situasi untuk mendukung dan mendorong pemerintah dalam hal kajian, pemantauan
                                                                        
    KLB, memberikan masukan dan rekomendasi, serta meningkatkan kinerja Surveilans
    PD3I untuk mencapai target Pemberantasan Polio Global pada tahun 2026 dan
    Eliminasi Measles-Rubella/CRS Tahun 2026, dan Target Nasional Pengendalian
    Difteri, maka perlu diadakan rapat koordinasi antara Komite Ahli Nasional Surveilans
    PD3I, Jejaring Laboratorium Rujukan PD3I, dan Kementerian Kesehatan untuk
    melakukan evaluasi pencapaian target Polio dan Campak Rubella serta pengendalian
    infeksi Difteri dan Pertusis.                                       
                                                                        
       Pertemuan ini akan dilakukan di Nusa Tenggara Timur, mengingat provinsi ini
    belum memenuhi NPAFP Rate (hanya 4 kabupaten dari 22 kabupaten, dengan
    NPAFP Rate > 3/100.000 anak dibawah 15 tahun) dan Discarded Rate (hanya 1
    kabupaten dari 22 kabupaten, yang telah mencapai > 2/100.000 penduduk). Selain itu,
    Kabupaten Manggarai Barat belum mencapai kedua target tersebut (NPAFP Rate 0,00
    dan MR Discarded Rate 0,00).                                        
                                                                        
       Pertemuan ini melengkapi kegiatan Koordinasi Komite Ahli surveilans PD3I yang
    dilaksanakan dengan metode daring untuk membahas masing-masing kejadian PD3I
    dan didanai dengan APBN. Pertemuan ini juga bermaksud untuk membahas semua
    substansi surveilans PD3I (seluruh kejadian/kasus PD3I, kinerja, capaian,
                                                                        
    permasalahan, dan solusi) selama 2024. Dengan kegiatan ini diharapkan dapat
    menghasilkan rekomendasi yang dapat meningkatkan serta memperkuat kinerja
    surveilans PD3I baik di tingkat Pusat maupun Provinsi/Kabupaten pada masa
    selanjutnya.                                                        
                                                                        
 2. TUJUAN                                                              
                                                                        
    1. Memperoleh rekomendasi dari Komite Ahli Nasional Surveilans PD3I dalam
      penguatan surveilans AFP dan PD3I lainnya.                        
    2. Memperoleh update situasi dari laboratorium rujukan PD3I dan rekomendasi untuk
      laboratorium rujukan dalam penguatan surveilans AFP dan PD3I lainnya.
    3. Memperkuat koordinasi dan kolaborasi antara Komite Ahli Nasional Surveilans
      PD3I, laboratorium rujukan PD3I, Direktorat Pengelolaan Imunisasi, mitra
      internasional serta lintas sektor/lintas program terkait.         
3.   PESERTA/ PENERIMA MANFAAT                                          
    A. Ketua dan Anggota Komite Ahli Nasional Surveilans PD3I : 32 orang
    B. Ketua Komite Imunisasi Nasional : 1 orang                        
    C. Anggota SEA RCCPE (South-East Asia Regional Certification Commission for Polio
                                                                        
      Eradication) dari Indonesia : 1 orang                             
    D. Direktur Pengelolaan Imunisasi, Kementerian Kesehatan : 1 orang  
    E. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur : 2 orang    
    F. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat : 1 orang       
    G. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur: 1 orang        
    H. Laboratorium rujukan PD3I : 4 orang                              
    I. Para Ketua dan anggota Tim Kerja Direktorat Pengelolaan Imunisasi, Kementerian
      Kesehatan: 16 orang                                               
                                                                        
    J. CDC Country Office Indonesia : 2 orang                           
    K. WHO Country Office Indonesia : 2 orang                           
    L. Tim NPO dan Epidata WHO EPI Indonesia : 2 orang                  
                                                                        
4. STRATEGI PENCAPAIAN KELUARAN                                         
                                                                        
    I. Pelaksana                                                        
      Kegiatan dilaksanakan oleh Direktorat Pengelolaan Imunisasi beserta LP/LS
    II. Metode Pelaksanaan                                              
      Metode pelaksanaan kegiatan dilaksanakan secara penunjukan langsung
                                                                        
                                                                        
    III.  Tahapan dan Waktu Pelaksanaan                                 
      Tahapan kegiatan terdiri dari                                     
       1. Persiapan pelaksanaan kegiatan                                
       2. Penyiapan bahan                                               
       3. Pelaksanaan kegiatan                                          
       4. Pembuatan laporan Pelaksanaan kegiatan                        
                                                                        
       5. Evaluasi pelaksanaan kegiatan                                 
                                                                        
      Waktu Pelaksanaan kegiatan tersebut adalah sebagai berikut        
                                                                        
                                                  Jadwal                
   Tahapan                                                              
             Sub Komp/  Akun  Kategori                                  
    (Komp/                              Pelaksanaan      Penarikan      
                Item    Belaja (U/P)                                    
  Sub Komp)                                                             
                                       Bulan  Minggu   Bulan  Minggu    
   Koordinasi Koodinasi  52     U     Oktober   III   Oktober   I       
  Pelaksanaan Komite Ahli                                               
   Surveilans Nasional PD3I                                             
  PD3I dan KIPI & Laboratorium                                          
             Rujukan PD3I                                               
5. KURUN WAKTU PENCAPAIAN KELUARAN                                      
  Rangkaian kegiatan ini akan dilaksanakan pada Bulan Oktober 2024      
6. BIAYA YANG DIPERLUKAN                                                
  Biaya paket meeting yang dikeluarkan berasal dari anggaran HLN CDC Tahun 2024
  sebesar Rp. 241.488.000,-. Rincian lebih lanjut atas biaya tersebut disajikan dalam
  Rencana Anggaran Biaya (RAB).                                         
                                                                        
                                                                        
                              Ketua Tim Kerja Imunisasi WUS,            
                              Surveilans PD3I dan KIPI,                 
                                                                        
                                                                        
                                                                        
                                                                        
                              dr. Endang Budi Hastuti, MKM