| 0904416047907000 | Rp 708,180,000 | |
| 0022182240907000 | Rp 728,475,540 | |
| 0016634461907000 | - | |
| 0018727800906000 | - | |
| 0936110808901000 | - | |
| 0021521786906000 | - | |
| 0318095643907000 | - | |
| 0027882836907000 | - | |
| 0749193330907000 | - | |
| 0850877895903000 | - | |
| 0023529597907000 | - | |
| 0210644696907000 | - | |
| 0415103233907000 | - |
METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN
KEGIATAN : PENGELOLAAN DESTINASI PARIWISATA KABUPATEN/KOTA
PEKERJAAN : PEMBANGUNAN TOOL GATE DAN PAGAR DI PANTAI BATU
BELEK LEMBONGAN
LOKASI : KABUPATEN KLUNGKUNG
TAHUN ANGGARAN : 2023
I. PENDAHULUAN
Metode Pelaksanaan Kontruksi merupakan kunci untuk dapat mewujudkan seluruh perencana
menjadi bentuk bangunan fisik. Metode pelaksanaan pekerjaan merupakan penjabaran tata cara dan teknik-
teknik pelaksanaan pekerjaan yang akan dilaksanakan di lapangan dan inti dari seluruh kegiatan dalam
system menajemen kontruksi.
Penyusunan metode pelaksanaan pekerjaan dimaksudkan untuk mencapai keberhasilan dalam hal
mutu, efisiensi waktu dan optimalisasi biaya pelaksanaan, dimana pekerjaan terealisasi sesuai dengan waktu
yang telah ditentukan, biaya yang telah dianggarkan dan kualitas pekerjaan sesuai dengan yang di
rencanakan.
Metode pelaksanaan yang dipaparkan akan digunakan sebagai acuan kerja untuk melaksanakan
pekerjaan Pembangunan Tool Gate Dan Pagar Di Pantai Batu Belek Lembongan yang isinya diuraikan
keterkaitan dari masing-masing pekerjaan maupun antara pekerjaan terhadap spesifikasi yang telah
diisyaratkan.
II. SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI (SMKK)
Peraturan Perundang-undangan dan persyaratan SMKK yang wajib dipunyai dan dipenuhi dalam
pelaksanaan paket pekerjaan ini adalah
• Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2
tahun 2022 Tentang Cipta Kerja;
• UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
• UU No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi
• PP No. 50 Tahun 2012 Tentang Penerapan SMK3
• Peraturan Menteri PU No 10 tahun 2021 tentang pedoman sistem manajemen
keselamatan konstruksi
• Instruksi Menteri PUPR Nomor: 02/IN/M/2020 tentang Protokol
• Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dalam
Penyelenggaraan Jasa Konstruksi.
Membuat Prarencana SMKK untuk segala kegiatan keteknikan konstruksi dalam mewujudkan proses
pekerjaan konstruksi yang handal, aman, dan ramah lingkungan. Dalam hal ini, Penyedia Jasa membuat
Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) yang berisikan segala kegiatan untuk menjamin dan
melindungi keselamatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat
kerja.
III. METODE PELAKSANAAN
3.1. LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup Pekerjaan Pembangunan Tool Gate Dan Pagar Di Pantai Batu Belek Lembongan.
Untuk pekerjaan utama adalah pekerjaan beton
3.2. PEK. PEMBUATAN PAPAN NAMA PROYEK
1. Pelaksanaan :
Papan nama proyek merupakan pertanda bahwa pada lokasi dimaksud akan dilakukan
kegiatan/pembangunan. Pekerjaan pembuatan papan nama proyek di buat dan di pasang dibagian
depan halaman proyek sehingga mudah dilihat umum. Ukuran dan redaksi papan nama tesebut
90 x 150 cm dengan tiang setinggi 250 cm atau sesuai dengan petunjuk Pemerintah Daerah
setempat atau Direksi. Keterangan yang umumnya dimuat pada papan nama proyek, antara lain:
• Judul Kegiatan
• Nilai Kegiatan
• Nomor Kontrak
• Waktu Pelaksanaan (sesuai kontrak)
• Subur Dana
• Kontraktor Pelaksana
• Konsultan Pengawas
Untuk bagian bawah pada tiang penyngga akan dicor beton untuk perkuatan dan pemasangannya
dimulai data pelaksaan pekerjaan sampai dengan selesai masa pekerjaan. Sisa-sisa dari material
dari pembuatan papan nama yang mengotori areal kerja akan dikumpulkan dan dibuang keluar
lokasi pekerjaan pada tempat yang telah disediakan.
2. Peralatan yang digunakan:
Gergaji, Palu, Meteren, Linggis, Cangkul, Ceton dan Alat Bantu.
3. Bahan
Balok Kayu, Triplek 12 mm, Paku usuk, Banner papan nama, pasak, dan bahan pedukung
lainnya.
4. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Cidera terkena perakatan kerja → • Menggunakan APD Berupa Helm,
Luka Ringan Sarung Tangan Dan Sapayu Bot
5. Personil saat pekerjaan
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.3. PEK. PENGUKURAN DAN PEMASANGAN BOWPLANK
1. Pelaksanaan:
a. Pekerjaan pengukuran dilakukan dengan menggunakan pesawat theodolith. Pengukuran ini
sangat penting karena merupakan dasar dari pembangunan proyek, posisi bangunan baik
arah horizontal maupun venrtikal.
b. Peil bangunan umumnya diambil dari As jalan atau titik tertentu yang disepakati bersama
dengan Direksi Teknis, dan menjadi acuan selanjutnya dalam melaksanakan pekerjaan.
c. Setelah pekerjaan pengukuran dilanjutkan dengan pekerjaan pasang bouwpank. Bouplank
adalah alat bantu untuk membuat sudut (90°) dan ketinggian/elevasi lantai.
d. Bouwplank dibuat dari kayu terentang (kayu hutan kelas IV) ukuran minimum 3/20 cm
yang utuh dan kering. Bouwplank dipasang dengan tiang-tiang dari kayu sejenis ukuran 5/7
cm dan dipasang pada setiap jarak satu meter. Papan harus lurus dan diketam halus pada
bagan atasnya.
e. Pemasangan bouwplank dilakukan pada jarak minimal 1 m di luar denah yang akan dibuat,
tujuannya agar bouwplank tidak terbongkar saat penggalian pondasi.
f. Bouwplank harus menunjukan ketinggian 0.00 dan As Kolom/dinding. Letak dan
ketinggian permukaan bouwplank harus dijaga dan dipelihara agar tidak berubah selama
pekerjaan berlangsung.
g. Letak dan ketinggian permukaan bouwplank selanjutnya akan dijaga dan dipelihara agar
tidak berubah selama pekerjaan berlangsung.
h. Sisa-sisa material dari pekerjaan pemasangan bouwplank yang sudah tidak digunakan akan
dikumpulkan dan dibuang ke luar lokasi pekerjaan pada tempat yang telah disediakan.
2. Peralatan yang digunakan:
Theodolit, waterpas, gergaji, palu, benang sipat dan alat bantu.
3. Bahan
Balok Kayu Kayu albesia, Papan Kayu Kayu albesia, dan paku usuk
4. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Cidera terkena perakatan kerja → • Menggunakan APD Berupa Helm,
Luka Ringan Sarung Tangan Dan Sapayu Bot
5. Personil saat pekerjaan
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.4. PEKERJAAN TANAH
3.4.1. Pekerjaan Galian Tanah
1. Pelaksanaan :
a. Seluruh area galian akan dibersihkan terlebih dahulu sesuai dengan petunjuk
Pengawas/Direksi Teknis.
b. Setelah posisi titik ukur tetap ditentukan, berdasarkan titik tetap tersebut dilakukan
pengukuran terhadap titik dan elevasi galian tanah. Tandai hasil pengukuran dengan
menggunakan patok kayu yang diberi warna cat dan tarik benang sebagai acuan.
c. Penggalian tanah kemudian dilakukan dengan acuan patok dan benang yang telah dipasang.
Galian akan disesuaikan dengan jenis pondasi yang akan dibuat, untuk pondasi menerus dari
pasangan batu kali maka penggalian dilakukan sepanjang denah bangunan. Bila pondasi
poer/setempat maka penggaliannya hanya di sudut-sudut bangunan atau pada tumpuan yang
tempat pemasangan kolom.
d. Tanah sisa galian dibuang pada area yang telah ditentukan dan tidak mengganggu
pelaksanaan pekerjaan. Galian tanah untuk pondasi dilakukan sampai kedalaman dan lebar
sesuai rencana. Pada setiap periode tertentu kedalaman galian tanah selalu diperiksa dengan
menggunakan alat ukur manual atau dengan theodolith.
e. Pengaman akan dilakukan terhadap dinding tepi galian agar tidak longsor dengan
memberikan suatu dinding penahan atau penunjang sementara atau lereng yang cukup.
f. Langka-langkah pengamanan akan dilakukan terhadap bangunan lain yang berada dekat
dengan lubang galian yaitu dengan memberikan penunjang sementara pada bangunan
tersebut sehingga dapat dijamin bangunan tersebut tidak akan mengalami kerusakan.
g. Pekerjaan ini disesuikan dengan ukuran galian yang akan dibuat ditambah dengan kelebihan
galian di bagian kanan dan kiri sebesar 10 cm untuk mempermudah pekerjaan.
h. Bila ada genangan air dalam galian maka harus disediakan pompa drainase secukupnya
supaya air dapat segera dipompa ke luar, sehingga tidak mengganggu proses pekerjaan.
i. Saat penggalian tanah sangat memungkinkan ditemukannya banyak potongan kayu, atau
intalasi kable/pipa air yang tertanam dibawah tanah. Jika hal ini dijumpai, maka segera
melaporkan kepada direksi/pengawas lapangan.
j. Galian sekala besar dilakukan dengan alat berat seperti Excavator PC 200. Panjang dan lebar
galian dikerjakan sesuai profil yang telah dipasang sesuai gambar rencana dengan galian
tanah digali sampai peil yang telah ditentukan yang kemudian mendapat persetujuan direksi
dan pengawas.
k. Untuk galian sekala kecil dilakukan secara manual menggunakan tenaga manusia yang
dibantu dengan alat bantu seperti belincong, cangkul, sekop dan lainnya.
2. Peralatan yang digunakan:
Excavator PC 200, Cangkul, Belincong, Sekop, Linggis, Meteran, Theodolith dan Alat Bantu
Lainnya.
3. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Tertimbun longsoran → Luka Berat • Menggunakan APD Berupa Helm,
• Terkena alat berat→ Luka Berat Sarung Tangan Dan Sapatu Bot
• Terjatuh ke lubang galian → Luka • Membuatn turap penahan tanah
Ringan • Membuat pagar pelindung atau sefty
line
• Memasang rambu-rambu atau tanda-
tanda
4. Personil saat pekerjaan
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.4.2. Pekerjaan Urugan Kembali
1. Pelaksanaan:
a. Sebelum memulai pekerjaan urugan tanah kembali, terlebih dahulu dilakukan
pengupasan lapisan tanah atas (stripping) minimal setebal 30 cm untuk
menghilangkan lapisan rumput, sisa-sisa akar tanaman, tanah humus dan benda-
benda lainnya yang dapat mengganggu kekuatan tanah.
b. Kondisi area pekerjaan pengurugan dicek dan dipastikan tidak terdapat genangan air
dan lumpur. Apabila terdapat genangan air dan lumpur sesegera mungkin genangan
tersebut akan disedot menggunakan pompa air sampai tidak lagi terdapat genangan
air dan lumpur pada lokasi pengurugan.
c. Setelah lokasi pengurugan siap, Penghamparan timbunan tanah akan dilakukan apis
demi lapis dengan ketebalan lapisan maksimum 30 (tiga puluh) cm, disiram/dibasahi,
diratakan dan kemudian dipadatkan dengan alat mekanis (stamper).
d. Setiap lapis dari pengurugan tanah kering ini dipadatkan sampai sekurang kurangnya
menjadi 90% dari kepadatan kering maksimum menurut Modified Proctor Test
(ASTM D 1557).
e. Bahan urugan yang gunakan harus bebas dari segala kotoran atau humus.
f. Selama pemadatan dilakukan, keseragaman jenis tanah dipermukaan harus dijaga
agar dapat diperoleh hasil pemadatan yang merata.
g. Pekerjaan urugan tanah akan dilakukan serapi mungkin agar tidak mengotori area
sekitar dan tidak mengganggu pekerjaan lainya.
h. Kelebihan volume tanah hasil galian akan dipindahkan sementara dan diletakkan
pada lokasi yang tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan yang akan atau sedang
berlangsung.
2. Peralatan yang dipergunakan:
Cangkul, Gerobak Dorong, Sekop, Temper dan Alat Bantu Lainnya.
3. Bahan
Tartu ( Tanah Berbatu).
4. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Terjatuh ke lubang galian → Luka • Menggunakan APD Berupa Helm,
Ringan Sarung Tangan Dan Sapatu Bot
• Memasang rambu-rambu atau tanda-
tanda
5. Personil saat pekerjaan
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.4.3. Pekerjaan Urugan Pasir
1. Pelaksanaan :
a. Urugan pasir dilakukan pada dasar galian pondasi atau dibawah beton rabat untuk lantai
bangunan.
b. Pasir diratakan dengan menggunakan tarikan kayu dan selalu dikontrol ketebalan dari pasir
tesebut.
c. Ukuran dari ketebalan urugan pasir diseuaikan dengan gambar rencana dan material pasir
disesuaikan dengan spesifikasi teknis dan merupakan dalam keadaan padat.
d. Pasir dibasahi dengan air dan dipadatkan dengan menggunakan stamper agar memperoleh
kondisi urugan yang benar-benar padat dan rata.
e. Ditempat yang sulit dilakukan pemadatan dengan alat, pemadatan akan dikerjakan dengan
tenaga manusia yang mendapatkan persetujuan dari direksi dan pengawas.
f. Material pasir sisa dari pekerjaan urugan yang masih akan digunakan akan dikumpulkan
dan ditempatkan secara rapi diluar area lantai kerja agar tidak mengganggu aktivitas
pekerjaan selanjutnya.
2. Peralatan yang digunakan:
Cangkul, Sekop, Stamper dan Alat Bantu Lainnya.
3. Bahan
Pasir urug.
4. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Terpeleset → Luka Ringan • Menggunakan APD Berupa Helm,
Sarung Tangan Dan Sapatu Bot
5. Personil saat pekerjaan
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.5. PEKERJAAN PONDASI
3.5.1. Pekerjaan Pasangan Batu Kosong
1. Pelaksanaan :
a. Sebelum pekerjaan batu kosong dilakukan pastikan galian tanah dan urugan pasir dibawah
pondasi telah dilaksanakan.
b. Batu kosong yang digunakan merupakan batu sungai yang dibelah dan tidak porous, bersih,
besar dari batu yang digunakan tidak lebih dari 30 cm. Pasangan batu kosong dilakukan
sebelum pemasangan batu kali.
c. Batu kosong yang akan dipasang sebelumnya akan dibersihkan dan dibasahi seluruh
permukannya.
d. Pemasangan batu kosong dipasang dengan ketebalan sesuai dengan yang diisyaratkan dan
pada lokasi yang ditentukan pada gambar rencana kontruksi dan sudah mendapatkan
persetujuan dari pengawas/direksi lapangan.
e. Batu-batu sisa pasangan batu kosong akan dipindahkan dan dirapikan agar tidak
mengganggu lingkungan sekitar.
2. Peralatan yang digunakan:
Cetok, Benang Sipat, Meteran, Ember, Gerobak Dorong, dan Alat Bantu Lainnya
3. Bahan :
Batu kali dan pasir urug
4. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Terjepit atau tertimpa batu atau alat • Menggunakan APD Berupa Helm,
berat → Luka Berat Sarung Tangan Dan Sapatu Bot
5. Personil saat pekerjaan
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.5.2. Pekerjaan Pasangan Pondasi Batu Kali 1 Pc : 5 Ps
1. Pelaksanaan :
a. Batu kali yang dipergunakan merupakan batu kali yang dibelah atau batu gunung yang keras
dan tidak porous dan bersih, besar batu tidak lebih dari 30 cm. Batu-batu tersebut sekurang-
kurangnya mempunyai tiga bidang pecah. Pemasangan sesuai dengan dimensi pada gambar.
Perbandingan campuran yang dipakai sebagai perekat adalah 1 Pc : 5 Ps.
b. Pondasi pemasangan batu kali dialasi dengan pasir urug yang bersih dan tidak
mengandung benda yang lebih besar dari 1,5 cm dengan ketebalan sesuai dengan gambar
kerja. Kemudian disiram dengan air.
c. Pada setiap pokok galian dibuatkan profil pondasi dari kayu atau bamboo dengan ukuran
sesuai dengan ukuran pondasi yang akan dibuat.
d. Batu kali ditata saling berkait/tidak boros, direkatkan dengan adukan campuran
e. 1 Pc : 5 Ps. Bahan-bahan seperti pasir, semen dan air adukan pasangan batu kali
mengikuti ketentuan yang digunakan dalam pekerjaan beton.
f. Setelah selesai pemasangan pondasi batu kali, semua acuan/profil akan dicabut dari
lubang pondasi dan pekerjaan urugan kembali dapat dilaksanakan.
g. Sebelum berumur minimal 2 hari pasangan pondasi batu kali tidak boleh diinjak atau
dibebani yang dapat mengakibatkan keretakan pada pondasi.
h. Untuk mencegah pengeringan yang terlalu cepat dari pengaruh sinar matahari,
pondasi batu kali akan disiram air minimal sampai dengan 7 hari setelah pemasangan.
i. Pasangan pondasi batu kali dikerjakan sebagai dudukan sloof struktur maupun
praktis sesuai dengan gambar rencana.
j. Sisa – sisa batu dari pasangan batu kali akan dipindahkan dan dirapikan peletakannya.
2. Peralatan yang digunakan:
Cetok, Benang Sipat, Meteran, Ember, Gerobak Dorong dan Alat Bantu Lainnya
3. Bahan
Batu kali, pasir urug, dan semen PC (Semen Portland, Semen Tonasa /Dynamix/Conch @40 kg)
4. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Terjepit atau tertimpa batu atau alat • Menggunakan APD Berupa Helm,
berat → Luka Berat Sarung Tangan Dan Sapatu Bot
5. Personil saat pekerjaan
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.6. PEKERJAAN PEMBESIAN
Pekerjaan Pembesian Tulangan dikerjakan pada awal proyek. Hal tersebut untuk mempercepat
pekerjaan karena tidak terkait atau berpengaruh dengan pekerjaan lain. sebelum pemasangan besi dilakukan
pembersihan agar terhindar dari karat, pengecekan dimensi besi agar sesuai dengan spekteknis Kemudian
dilanjutkan dengan pemotongan besi agar sesuai dengan ukuran dimensi yang telah disesuaikan dalam
gambar kerja. Pekerjaan pembesian mengacu pada gambar kerja.
Pekerjaan ini dilaksanakan pada minggu ke Penyimpanan Besi Beton Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam tahap penyimpanan :
• Tumpukan besi jangan sampai bersentuhan dengan tanah. Oleh karena itu harus diganjal
dengan balok beton.
• Besi harus berjarak minimal 5 cm dari logam yang lain.
• Besi harus terlindung dari kotoran, karat, benturan dan minyak.
• Cara pelaksanaan dalam tahap penyimpanan :
• Setiap bandel besi harus terdiri dari satu jenis besi (bentuk dan diameter)
• Jarak antar ikatan adalah sekitar 2 m.
• Di dalam label ditulis panjang, type, nomer referensi dan kode besi.
1. Pekerjaan :
1.1. Pekerjaan Persiapan
• Ada gambar kerja/shop drawing.
• Mempelajari gambar kerja/shop drawing.
• Buistat.
• Menyiapkan bahan, alat dan tenaga kerja.
1.2. Pemotongan dan Pembengkokan Besi :
• Gunakan meja yang kuat dan rata.
• Siapkanlah gambar acuan.
• Cek diameter besi atau wiremesh.
• Cek kembali besi-besi yang telah dibengkokkan.
• Cek ukuran mandrel benar-benar pas. Inside radius >2d untuk besi kekuatan
rendah, 3d untuk besi kekuatan tinggi.
• Jika ada besi yang susah dibengkokkan maka boleh dipanaskan dengan
persetujuan engineer.
• Ikuti perubahan schedule pembesian dan dapatkan dokumen terbaru.
• Pembengkokan menggunakan alat barbender.
1.3. Pemasangan Besi Beton
• Besi harus bersih (dari kotoran, minyak).
• Perletakan tulangan pembesian harus diatur sehingga ada ruang tersedia untuk
proses pemadatan beton.
• Jika ada besi yang perlu disambung maka harus ada overlapping yang sesuai
perhitungan atau spesifikasi teknis.
• Suatu ketika mungkin perlu merakit tulangan dahulu di luar bekisting baru
kemudian meletakkan sesuai posisinya.
• Flow proses penyimpanan hingga pemasangan harus direncanakan paling efektif
dan efisien.
1.4. Seting pembesian di lokasi pekerjaan
• Dirikan scaffolding jika diperlukan untuk pemasangan pembesian yang berdad
diketinggian seperti kolom dan balok serta pelat.
• Pasang unting-unting pada as kolom, sloff dan balok pelat.
• Pasang penggapit tulangan pada jarak tertentu.
• Masukkan begel yang diperlukan.
• Dirikan semua besi tulangan, kemudian ikat pada penggapit.
• Ikat begel pada jarak tertentu, sesuai shop drawing.
• Pasang beton decking secukupnya.
2. Alat yang digunakan
Barbender, Gerinda, Meteran, dan alat pendukung lainnya
3. Bahan
Besi Beton
4. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Tertusuk Besi → Luka sedang • Menggunakan APD Berupa Helm,
• Terpelanting → Luka ringan Sarung Tangan, Sapatu Bot, Kaca
• Kecelakan alat kerja → Luka berat pelindung, dan lainnya
5. Personil saat pekerjaan berlangsung :
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.7. PEKERJAAN BEGISTING
Pemasangan begesting harus kuat dan kokoh agar pada saat melakukan pengecoran begesting tidak
mudah lepas yang akan mengakibatkan hasil beton yang tidak bagus. Diharapkan sebelum melakukan
pengecoran pekerjaan begesting dan pembesian dicek terlebih dahulu
1. Pekerjaan :
1.1. Pekerjaan Persiapan
• Ada gambar kerja.
• Mempelajari gambar kerja.
• Menyiapkan lahan/pembersihan.
• Menyiapkan alat ukur.
• Menyiapkan alat kerja/sarananya.
• Menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan.
1.2. Pekerjaan Pelaksanaan
• Marking posisi begisting sesuai gambar rencana
• Fabrikasi bekisting.
• Olesi minyak bekisting pada bagian yang akan terkena beton.
• Dirikan bekisting sesuai rencana.
• Pasang form tie pada jarak-jarak tertentu.
• Cek dimensi dan siku-siku pada begisting.
• Pasang perancah atau scaffolding untuk pekerjaan begisting yang berada di
ketinggian.
• Pasang penggapit bekisting.
• Pasang skoor dengan menggunakan pipe support pada keempat sisinya.
• Cek kevertikalan bekisting dengan menggunakan unting-unting pada 4 sisi.
• Kuatkan skoor dan penggapit.
2. Alat yang digunakan
Gergaji kayu, schafolding, palu, kapak, meteran dan alat dukung lainnya.
3. Bahan
Kayu kelas III, Paku 5 cm – 12 cm, Minyak bekisting, Balok kayu kelas II, Plywood tebal
9 mm, dan Bambu.
4. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Tertusuk paku → Luka sedang • Menggunakan APD Berupa Helm,
• Kecelakan alat kerja → Luka sedang Sarung Tangan, Sapatu Bot, Kaca
• Infeksi pada mata dan pernafasan → pelindung, dan lainnya
Luka sedang
5. Personil saat pekerjaan berlangsung :
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.8. PEKERJAAN BETON
Pekerjaan Pengecoran beton dikerjakan setelah pekerjaan pembesian, pekerjaan begesting sudah
selesai dan juga sudah dilakukan pemeriksaan oleh direksi dan pengawas lapangan. Kemudian dilanjutkan
dengan melakukan pekerjaan pengecoran sesuai dengan mutu beton yang diperlukan. Dalam pengecoran
disiapkan sebuah vibrator untuk menggetarkan gerak beton agar beton tersebar dengan rata dan
mendapatkan hasil beton yang maksimal.
3.8.1. Pekerjaan Beton Rabat dan Lantai Kerja
1.3. Pelaksanaan:
a. Mempersiapkan mix disign sesuai kebutuhan
b. Melakukan trial mix di batching plan sesuai dengan mix design
c. Perencanaan dan persiapan sebelum pengecoran
d. Jika menggunakan ready mix maka pemesanan dilakukan dan di informasikan kepada
konsultan pengawas
e. Melakukan pekerjaan pengukuran untuk menentukan leveling lantai.
f. Memastikan lokasi untuk lantai kerja sudah terdapat urugan pasir dengan ketebalan sesuai
rencana dan telah diratakan.
g. Membersihkan area untuk lantai kerja dari sampah dan kotoran yang mengganggu
pelaksanaan pekerjaan.
h. Memasang patok dan leveling lantai kerja yang diperlukan sebagai acuan untuk menentukan
ketebalan rabatan atau bisa juga dengan membuat kepalaan dengan jarak 1 m untuk leveling
lantai kerja.
i. Setalah lokasi untuk lantai kerja siap, adukan dituang ke area dengan menggunakan talang
cor atau ember.
j. Adukan rabatan diratakan dengan menggunakan cangkul maupun sendok adukan/raskam
sampai ketinggian yang telah ditentukan dengan cara melakuka tarikan benang dari patok
level satu dengan yang lainnya.
k. Pekerjaan beton rabat dilakukan dengan rapi dan untuk sisa-sisa adukan yang digunakan
sebagai rabatan akan dikumpulkan dan dibuang keluar lokasi pekerjaan.
1.4. Peralatan yang digunakan:
Cetok, Ember, Kasut, Cangkul, Sekop, Gerobak Dorong, Concrete Mixer Dan Alat Bantu
Lainnya.
1.5. Bahan :
Beton mutu f'c = 7,4 Mpa (K100)
• Semen PC (Semen Portland, Semen Tonasa /Dynamix/Conch @40 kg)
• Pasir beton
• Kerikil (Maks 30 mm)
• Air.
1.6. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Tertimpa Concrete Mixer → Luka • Menggunakan APD Berupa Helm,
Berat Sarung Tangan Dan Sapatu Bot
• Cedera terkena benda tajam saat • Memastikan Concrete Mixer layak
mengaduk campuran→ Luka ringan pakai
1.7. Personil saat pekerjaan berlangsung :
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.8.2. Pekerjaan Beton Sloof
1. Pelaksanaan:
a. Mempersiapkan mix disign sesuai kebutuhan
b. Melakukan trial mix di batching plan sesuai dengan mix design
c. Perencanaan dan persiapan sebelum pengecoran
d. Jika menggunakan ready mix maka pemesanan dilakukan dan di informasikan kepada
konsultan pengawas
e. Pekerjaan sloof dilakukan setelah pekerjaan dibawahnya sudah selesai dilaksanakan.
f. Besi yang digunakan dengan kualitas sesuai spesifikasi teknis dengan diameter besi
tulangan sesuai dengan gambar rencana.
g. Merangkai potongan besi sesuai dengan bentuk sloof yang telah direncanakan.
h. Memasang rangkaian besi tulangan pada lokasi sloof yang akan dibuat.
i. Penyiapan bekisting sesuai dengan bentuk akhir beton dan kuat menerima beban selama
pelaksanaan, serta dapat dibongkar dengan mudah tanpa menimbulkan kerusakan pada
konstruksi.
j. Bekisting dipasang sehingga membungkus besi tulangan, posisi bekisting dibuat benar-
benar tegak.
k. Antara tulangan dengan bekisting beton dipasang beton decking dengan ketebalan yang
disesuaikan terhadap ketebalan selimut beton lengkap dengan kawat pengikat. Pemasangan
beton decking dilaksanakan sedemikian rupa, agar ketebalan selimut beton yang dihasilkan
menjadi rata.
l. Pengecoran beton dilaksanakan dengan pengawasan atau persetujuan Direksi.
m. Pengecoran dilakukan dengan tertib, rapi dan teratur dengan cara-cara semestinya.
n. Bila pengecoran menggunakan ready mix, maka pekerjaan yang tidak bisa di jangkau oleh
beton ready mix menggunakan Concrete Pump kapasitas 80 m3/jam
o. Alat vibrator digunakan selama waktu pengecoran agar tidak terjadi rongga udara pada
beton atau terjadi keropos beton.
p. Beton yang sudah dicor kemudian dilindungi dari gangguan luar/cuaca dan senantiasa
dibasahi selama 28 hari agar tercapai mutu beton yang direncanakan.
q. Pembukaan bekisting dilakukan setelah beton memiliki umur yang cukup dan dilakukan
dengan hati-hati dan sepengetahuan Direksi atau atas petunjuk dari Direksi.
r. Sisa – sisa material dari pekerjaan beton sloof maupun pembongkaran bekisting yang masih
digunakan kembali pada pekerjaan selanjutnya akan ditata dan disusun dengan rapi,
sedangkan untuk material yang sudah tidak dipergunakan kembali akan dibuang keluar
lokasi pekerjaan pada tempat yang telah disediakan.
2. Peralatan yang digunakan:
Cetok, Ember, Gerobak Dorong, Sekop, Cangkul, Bar Cutter, Bar Bender, Compressor,
Concrete Vibrator, Concrete Mixer, Concrete Pump dan Alat Bantu Lainnya.
3. Bahan :
Beton
• Semen PC (Semen Portland, Semen Tonasa /Dynamix/Conch @40 kg)
• Pasir beton
• Kerikil (Maks 30 mm)
• Air.
4. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Tertimpa Concrete Mixer → Luka • Menggunakan APD Berupa Helm,
Berat Sarung Tangan Dan Sapatu Bot
• Terkena gergaji→ Luka Berat • Memastikan Concrete Mixer layak
• Menginjak paku→ Luka Berat pakai
• Tertimpa Besi→ Luka Berat • Pengambilan besi dengan cara benar
• Terkena alat potong besi/gerinda→ dan menggunakan alat safty berupa
Luka Berat sarung tangan
• Mengambil atau membersihkan sisa-
sisa paku yang digunakan atau yang
berjatuhan selama pekerjaan
bekisting.
5. Personil saat pekerjaan berlangsung :
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.8.3. Pekerjaan Beton Kolom
1. Pelaksanaan:
a. Mempersiapkan mix disign sesuai kebutuhan
b. Melakukan trial mix di batching plan sesuai dengan mix design
c. Perencanaan dan persiapan sebelum pengecoran
d. Jika menggunakan ready mix maka pemesanan dilakukan dan di informasikan kepada
konsultan pengawas
e. Pekerjaan kolom dilakukan setelah pekerjaan dibawahnya sudah selesai dilaksanakan.
f. Besi yang digunakan dengan kualitas sesuai spesifikasi teknis dengan diameter besi
tulangan sesuai dengan gambar rencana.
g. Merangkai potongan besi sesuai dengan bentuk kolom yang telah direncanakan.
h. Memasang rangkaian besi tulangan pada lokasi kolom yang akan dibuat.
i. Penyiapan bekisting sesuai dengan bentuk akhir beton dan kuat menerima beban selama
pelaksanaan, serta dapat dibongkar dengan mudah tanpa menimbulkan kerusakan pada
konstruksi.
j. Bekisting dipasang sehingga membungkus besi tulangan, posisi bekisting dibuat benar-
benar tegak.
k. Antara tulangan dengan bekisting beton dipasang beton decking dengan ketebalan yang
disesuaikan terhadap ketebalan selimut beton lengkap dengan kawat pengikat. Pemasangan
beton decking dilaksanakan sedemikian rupa, agar ketebalan selimut beton yang dihasilkan
menjadi rata.
l. Pengecoran beton dilaksanakan dengan pengawasan atau persetujuan Direksi.
m. Pengecoran dilakukan dengan tertib, rapi dan teratur dengan cara-cara semestinya.
n. Bila pengecoran menggunakan ready mix, maka pekerjaan yang tidak bisa di jangkau oleh
beton ready mix menggunakan Concrete Pump kapasitas 80 m3/jam
o. Alat vibrator digunakan selama waktu pengecoran agar tidak terjadi rongga udara pada
beton atau terjadi keropos beton.
p. Beton yang sudah dicor kemudian dilindungi dari gangguan luar/cuaca dan senantiasa
dibasahi selama 28 hari agar tercapai mutu beton yang direncanakan.
q. Pembukaan bekisting dilakukan setelah beton memiliki umur yang cukup dan dilakukan
dengan hati-hati dan sepengetahuan Direksi atau atas petunjuk dari Direksi.
r. Sisa – sisa material dari pekerjaan beton sloof maupun pembongkaran bekisting yang masih
digunakan kembali pada pekerjaan selanjutnya akan ditata dan disusun dengan rapi,
sedangkan untuk material yang sudah tidak dipergunakan kembali akan dibuang keluar
lokasi pekerjaan pada tempat yang telah disediakan.
2. Peralatan yang digunakan:
Cetok, Ember, Gerobak Dorong, Sekop, Cangkul, Bar Cutter, Bar Bender, Compressor,
Concrete Vibrator, Concrete Mixer, Concrete Pump dan Alat Bantu Lainnya.
3. Bahan :
Beton
• Semen PC (Semen Portland, Semen Tonasa /Dynamix/Conch @40 kg)
• Pasir beton
• Kerikil (Maks 30 mm)
• Air.
4. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Tertimpa Concrete Mixer → Luka • Menggunakan APD Berupa Helm,
Berat Sarung Tangan Dan Sapatu Bot
• Tertimpa tumpukan kayu→ Luka • Memastikan Concrete Mixer layak
Berat pakai
• Terkena gergaji→ Luka Berat • Memastikan penyimapan kayu
• Menginjak paku→ Luka Berat tersusun rapid an pengambilannya
• Tertimpa Besi→ Luka Berat dengan cara yang benar
• Terkena alat potong besi/gerinda→ • Pengambilan besi dengan cara benar
Luka Berat dan menggunakan alat safty berupa
sarung tangan
• Mengambil atau membersihkan sisa-
sisa paku yang digunakan atau yang
berjatuhan selama pekerjaan
bekisting..
5. Personil saat pekerjaan berlangsung :
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.8.4. Pekerjaan Kolom Praktis, Ring Balok Praktis
1. Pelaksanaan:
a. Kolom Praktis
b. Mempersiapkan mix disign sesuai kebutuhan
c. Melakukan trial mix di batching plan sesuai dengan mix design
d. Perencanaan dan persiapan sebelum pengecoran
e. Pekerjaan Kolom praktis dilakukan bersamaan dengan pengerjaan pasangan bata
ringan.
f. Pekerjaan pengukuran dilakukan untuk menentukan posisi kolom praktis bangunan
sesuai dengan gambar rencana.
g. Memasang rangkaian besi tulangan pada lokasi kolom yang akan dibuat.
h. Stek besi untuk penguat dinding pasangan bata ringan dipasang dengan baik dan
disesuaikan dengan ketentuan pada gambar rencana maupun spesifikasi teknis.
i. Mempersiapkan bekisting sesuai dengan bentuk akhir dari beton dan kuat menerima
beban selama pelaksanaan, serta dapat dibongkar dengan mudah tanpa menimbulkan
kerusakan pada konstruksi.
j. Bekisting dipasang sehingga membungkus besi tulangan, posisi bekisting dibuat
benar-benar tegak. Celah – celah papan dibuat serapat mungkin agar air adukan yang
keluar dari bekisting.
k. Antara tulangan dengan bekisting beton dipasang beton deking secara merata sesuai
dengan kebutuhan lengkap dengan kawat pengikat.
l. Sebelum pengecoran dilakukan, terlebih dahulu akan diperiksa kekuatan acuan yang
sudah terpasang/dipabrikasi dan dipastikan semua ukuran sesuai dengan gambar
rencana.
m. Setelah area siap, pengecoran dilaksanakan dengan campuran yang telah diisyartkan
dalam spesifikasi. Adukan beton diratakan dan dipadatkan agar tidak terdapat
keropos pada beton.
n. Beton yang sudah dicor kemudian dilindungi dari gangguan luar/ cuaca dan
senantiasa dibasahi selama 28 hari agar tercapai mutu beton sesuai dengan yang
direncanakan.
o. Pembukaan bekisting dilakukan setelah beton memiliki umur yang cukup dan
dilakukan dengan hati-hati dan atas petunjuk pengawas/direksi pekerjaan.
p. Sisa – sisa material dari pekerjaan kolom praktis maupun pembongkaran bekisting
yang masih digunakan kembali pada pekerjaan selanjutnya akan ditata dan disusun
dengan rapi, sedangkan untuk material yang sudah tidak dipergunakan kembali akan
dibuang keluar lokasi pekerjaan pada tempat yang telah disediakan.
A. Ring Balok Praktis
a. Pekerjaan pengukuran dilakukan untuk menentukan posisi balok ring praktis bangunan
sesuai dengan gambar rencana.
b. Balok ring praktis dikerjakan setelah pasangan bata telah dipasang sampai pada
ketinggian dimana ring praktis akan ditempatkan sesuai dengan gambar rencana.
c. Memasang rangkaian besi tulangan pada lokasi ring praktis yang akan dibuat. Stek besi
untuk penguat dinding pasangan bata ringan dipasang dengan baik dan disesuaikan
dengan ketentuan pada gambar rencana maupun spesifikasi teknis.
d. Mempersiapkan bekisting sesuai dengan bentuk akhir dari beton dan kuat menerima
beban selama pelaksanaan, serta dapat dibongkar dengan mudah tanpa menimbulkan
kerusakan pada konstruksi.
e. Bekisting dipasang sehingga membungkus besi tulangan, posisi bekisting dibuat benar-
benar tegak. Celah – celah papan dibuat serapat mungkin agar air adukan yang keluar
dari bekisting.
f. Antara tulangan dengan bekisting beton dipasang beton deking secara merata sesuai
dengan kebutuhan lengkap dengan kawat pengikat.
g. Sebelum pengecoran dilakukan, terlebih dahulu akan diperiksa kekuatan acuan yang
sudah terpasang/dipabrikasi dan dipastikan semua ukuran sesuai dengan gambar
rencana.
h. Setelah area siap, pengecoran dilaksanakan dengan campuran yang telah
diisyaratkan dalam spesifikasi. Adukan beton diratakan dan dipadatkan agar tidak
terdapat keropos pada beton.
i. Beton yang sudah dicor kemudian dilindungi dari gangguan luar/ cuaca dan senantiasa
dibasahi selama 28 hari agar tercapai mutu beton sesuai dengan yang direncanakan.
j. Pembukaan bekisting dilakukan setelah beton memiliki umur yang cukup dan
dilakukan dengan hati-hati dan atas petunjuk pengawas/direksi pekerjaan. Celah-
celah/rongga antara ring praktis dengan pasangan bata ringan diberikan adukan secara
menyeluruh pada rongga tersebut.
k. Sisa – sisa material dari pekerjaan kolom praktis maupun pembongkaran bekisting
yang masih digunakan kembali pada pekerjaan selanjutnya akan ditata dan disusun
dengan rapi, sedangkan untuk material yang sudah tidak dipergunakan kembali akan
dibuang keluar lokasi pekerjaan pada tempat yang telah disediakan.
2. Peralatan yang digunakan:
Ember, Gerobak Dorong, Sekop, Cangkul, Bar Cutter, Bar Bender, Compressor, Molen dan Alat
Bantu.
3. Bahan
Beton
• Semen PC (Semen Portland, Semen Tonasa /Dynamix/Conch @40 kg)
• Pasir beton
• Kerikil (Maks 30 mm)
• Air.
4. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Tertimpa Concrete Mixer → Luka • Menggunakan APD Berupa Helm,
Berat Sarung Tangan Dan Sapatu Bot
• Tertimpa tumpukan kayu→ Luka Berat • Memastikan Concrete Mixer layak
• Terkena gergaji→ Luka Berat pakai
• Menginjak paku→ Luka Berat • Memastikan penyimapan kayu
• Tertimpa Besi→ Luka Berat tersusun rapi dan pengambilannya
• Terkena alat potong besi/gerinda→ dengan cara yang benar
Luka Berat • Pengambilan besi dengan cara benar
dan menggunakan alat safty berupa
sarung tangan
• Mengambil atau membersihkan sisa-
sisa paku yang digunakan atau yang
berjatuhan selama pekerjaan
bekisting.
5. Personil saat pekerjaan berlangsung :
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.8.5. Pekerjaan Beton Balok, Balok Anak
1. Pelaksanaan:
a. Mempersiapkan mix disign sesuai kebutuhan
b. Melakukan trial mix di batching plan sesuai dengan mix design
c. Perencanaan dan persiapan sebelum pengecoran
d. Jika menggunakan ready mix maka pemesanan dilakukan dan di informasikan kepada
konsultan pengawas
e. Pekerjaan balok dilakukan setelah pekerjaan kolom selesai dilaksanakan dan umur
kolom telah memenuhi persyaratan.
f. Melakukan pekerjaan pengukuran untuk menentukan posisi dan elevasi balok sesuai
dengan gambar rencana.
g. Penyiapan bekisting dan acuan sesuai dengan bentuk akhir beton dan kuat menerima
beban selama pelaksanaan, serta dapat dibongkar dengan mudah tanpa menimbulkan
kerusakan pada konstruksi.
h. Merangkai potongan besi sesuai dengan bentuk balok yang telah direncanakan.
i. Memasang rangkaian besi tulangan pada lokasi balok yang akan dibuat.
j. Bekisting dipasang sehingga membungkus besi tulangan, posisi bekisting dibuat benar-
benar tegak.
k. Antara tulangan dengan bekisting beton dipasang beton decking dengan ketebalan yang
disesuaikan terhadap ketebalan selimut beton lengkap dengan kawat pengikat.
Pemasangan beton decking dilaksanakan sedemikian rupa, agar ketebalan selimut beton
yang dihasilkan menjadi rata.
l. Pengecoran beton dilaksanakan dengan pengawasan atau persetujuan Direksi.
Pengecoran dilakukan dengan tertib, rapi dan teratur dengan cara- cara semestinya.
m. Bila pengecoran menggunakan ready mix, maka pekerjaan yang tidak bisa di jangkau oleh
beton ready mix menggunakan Concrete Pump kapasitas 80 m3/jam
n. Alat vibrator digunakan selama waktu pengecoran agar tidak terjadi rongga udara
pada beton atau terjadi keropos beton.
o. Beton yang sudah dicor kemudian dilindungi dari gangguan luar/cuaca dan senantiasa
dibasahi selama 28 hari agar tercapai mutu beton yang direncanakan.
p. Pembukaan bekisting dilakukan setelah beton memiliki umur yang cukup dan dilakukan
dengan hati-hati dan sepengetahuan Direksi atau atas petunjuk dari Direksi.
q. Sisa – sisa material dari pekerjaan balok beton maupun pembongkaran bekisting yang
masih digunakan kembali pada pekerjaan selanjutnya akan ditata dan disusun dengan
rapi, sedangkan untuk material yang sudah tidak dipergunakan kembali akan dibuang
keluar lokasi pekerjaan pada tempat yang telah disediakan.
2. Peralatan yang digunakan:
Ember, Gerobak Dorong, Sekop, Cangkul, Bar Cutter, Bar Bender, Compressor, Concrete
Vibrator, Concrete Mixer Dan Alat Bantu.
3. Bahan
Beton
• Semen PC (Semen Portland, Semen Tonasa /Dynamix/Conch @40 kg)
• Pasir beton
• Kerikil (Maks 30 mm)
• Air.
4. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Tertimpa Concrete Mixer → Luka • Menggunakan APD Berupa Helm,
Berat Sarung Tangan Dan Sapatu Bot
• Tertimpa tumpukan kayu→ Luka Berat • Memastikan Concrete Mixer layak
• Terkena gergaji→ Luka Berat pakai
• Menginjak paku→ Luka Berat • Memastikan penyimapan kayu
• Tertimpa Besi→ Luka Berat tersusun rapi dan pengambilannya
dengan cara yang benar
• Terkena alat potong besi/gerinda→ • Pengambilan besi dengan cara benar
Luka Berat dan menggunakan alat safty berupa
• Terjatuh dari ketinggian→ Luka Berat sarung tangan
• Mengambil atau membersihkan sisa-
sisa paku yang digunakan atau yang
berjatuhan selama pekerjaan
bekisting.
5. Personil saat pekerjaan berlangsung :
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.8.6. Pekerjaan Beton Plat Lantai
1. Pelaksanaan:
a. Mempersiapkan mix disign sesuai kebutuhan
b. Melakukan trial mix di batching plan sesuai dengan mix design
c. Perencanaan dan persiapan sebelum pengecoran
d. Jika menggunakan ready mix maka pemesanan dilakukan dan di informasikan kepada
konsultan pengawas
e. Melakukan pekerjaan pengukuran untuk menentukan elevasi plat.
f. Bekisting dan acuan dipasang sesuai dengan bentuk akhir beton dan kuat menerima beban
selama pelaksanaan, serta dapat dibongkar dengan mudah tanpa menimbulkan kerusakan
pada konstruksi.
g. Memasang rangkaian besi tulangan pada lokasi plat yang akan dibuat.
h. Untuk pemasangan wiremesh, terlebih dahulu dilakukan pengukuran luas wiremesh
sesuai dengan luas bidang yang telah diperhitungkan sebelumnya. Apabila luasan tersebut
masih kurang, maka akan ditambahkan overlap kurang lebih 15 cm.
i. Ukuran diameter wiremesh yang dipasang disesuaikan dengan kebutuhan yang telah
direncanakan.
j. Material wiremesh yang berkarat tidak akan digunakan dalam pelaksanaan pembesian.
k. Antara tulangan dengan bekisting beton dipasang beton decking dengan ketebalan yang
disesuaikan terhadap ketebalan selimut beton lengkap dengan kawat pengikat. Pemasangan
beton decking dilaksanakan sedemikian rupa, agar ketebalan selimut beton yang dihasilkan
menjadi rata.
l. Pengecoran plat dilakukan bersamaan dengan pengecoran balok.
m. Pengecoran beton dilaksanakan dengan pengawasan atau persetujuan Direksi.
n. Bila pengecoran menggunakan ready mix, maka pekerjaan yang tidak bisa di jangkau oleh
beton ready mix menggunakan Concrete Pump kapasitas 80 m3/jam
o. Pengecoran dilakukan dengan tertib, rapi dan teratur dengan cara-cara semestinya.
p. Alat vibrator digunakan selama waktu pengecoran agar tidak terjadi rongga udara
pada beton atau terjadi keropos beton.
q. Beton yang sudah dicor kemudian dilindungi dari gangguan luar/cuaca dan senantiasa
dibasahi selama 28 hari agar tercapai mutu beton yang direncanakan.
r. Pembukaan bekisting dilakukan setelah beton memiliki umur yang cukup dan
dilakukan dengan hati-hati dan sepengetahuan Direksi atau atas petunjuk dari Direksi.
s. Sisa – sisa material dari pekerjaan beton plat lantai maupun pembongkaran bekisting
yang masih digunakan kembali pada pekerjaan selanjutnya akan ditata dan disusun
dengan rapi, sedangkan untuk material yang sudah tidak dipergunakan kembali akan
dibuang keluar lokasi pekerjaan pada tempat yang telah disediakan.
2. Peralatan yang digunakan:
Ember, Gerobak Dorong, Sekop, Cangkul, Bar Cutter, Bar Bender, Compressor, Concrete
Vibrator, Concrete Mixer Dan Alat Bantu.
3. Bahan
Beton
• Semen PC (Semen Portland, Semen Tonasa /Dynamix/Conch @40 kg)
• Pasir beton
• Kerikil (Maks 30 mm)
• Air.
4. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Tertimpa Concrete Mixer → Luka • Menggunakan APD Berupa Helm,
Berat Sarung Tangan Dan Sapatu Bot
• Tertimpa tumpukan kayu→ Luka Berat • Memastikan Concrete Mixer layak
• Terkena gergaji→ Luka Berat pakai
• Menginjak paku→ Luka Berat • Memastikan penyimapan kayu
• Tertimpa Besi→ Luka Berat tersusun rapi dan pengambilannya
• Terkena alat potong besi/gerinda→ dengan cara yang benar
Luka Berat • Pengambilan besi dengan cara benar
• Terjatuh dari ketinggian→ Luka Berat dan menggunakan alat safty berupa
sarung tangan
• Mengambil atau membersihkan sisa-
sisa paku yang digunakan atau yang
berjatuhan selama pekerjaan
bekisting.
• Menggunakan APD berupa safety belt
saat bekerja pada elevasi yang tinggi
5. Personil saat pekerjaan berlangsung :
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.9. PEKERJAAN PENUTUP DINDING DAN LANTAI
3.8.1. Pekerjaan Pasangan Dinding Batu Batako
1. Pelaksanaan :
a. Sebelum memulai pekerjaan pasangan batako, terlebihdahulu menyerahkan contoh material
yang akan dipergunakan kepada Pengawas/Direksi Teknis. Minimal 3 (tiga) contoh dari
hasil produk yang berlainan, untuk mendapatkan persetujuan.
b. Tidak diperkenankan memasang batu batako dengan keadaan yang ukurannya dari setngah.
c. Mengukur bidang bawah dinding yang akan di bangun dinding batako, kemudian
melakukan penarikan benang antara sudut-sudut dinding, dan menggunakan alat bantu
waterpass untuk memastikan penarikan benang lurus.
d. Menyiapkan setting out posisi.
e. Batako dipasang tegak lurus dan berada pada garis-garis yang seharunya dengan bentang
benang yang sipat datar.
f. Dinding yang menempel pada kolom beton harus diberi angker besi setiap jak 40 cm.
g. Untuk lapisan dasar menggunakan semen instan dan tebarkan secara merata.
h. Letakan batako diatas adukan semen instan, tekan permukaan bata (menggunakan palu karet
agar rata sesuai dengan tarikan benang.
i. Letakan blok pada masing-masing ujung dinding periksa kerataan dengan waterpas.
j. Gunakan pecahan batako untuk meratakan permukaan dinding.
k. Pemasangan harus dijaga kerapiannya, baik dalam arah vertical maupun horizontal.
l. Pemasangan batako yang tekena udara terbuka, selama waktu-waktu hujan lebat harus
diberi perlindungan dengan menutup bagian atas dari tembok.
m. Pembobokan pasangan batako untuk pemasangan instalasi listrik, air dll menggunakan
gerinda/alat potong, dan dilakukan setelah pasangan bata ringan berumur minimal 7 hari.
n. Semua sisa-sisa pekerjaan pasangan dibersihkan, dikumpulkan dan dipindahkan keluar
lokasi pekerjaan, kemudian dibuang pada tempat yang telah disediakan untuk pembuangan
material yang tidak digunakan.
2. Peralatan yang digunakan:
Sendok Semen, Gergaji, Palu Karet, Gerinda/Alat Pemotong, Ember, Benang, Meteran,
Gerobak Dorong, Scissors Lift, dan Alat Bantu Lainnya.
3. Bahan
Batako
4. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Cidera terkena alat kerja → Luka • Menggunakan APD Berupa Helm,
Ringan Sarung Tangan Dan Sapatu Bot
• Tertimpa Batu Bata Ringan → Luka • Memeriksa kelayakan alat-alat kerja
Berat • Memasang jaring pengaman
5. Personil saat pekerjaan berlangsung :
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.8.2. Pekerjaan Plesteran
1. Pelaksanaan:
A. Plesteran Permukaan Dinding:
a. Semua permukaan yang akan diplester dibersihkan, bebas dari serpihan karbon lepas
dan bahan lainnya yang mengganggu.
b. Pekerjaan plesteran hanya diperkenankan setelah selesainya pemasangan intalasi
listrik dan air dan seluruh bagian yang akan menerima plesteran telah terlindungi di
bawah atap.
c. Pekerjaan plesteran dapat dimulai setelah pekerjaan persiapan dan pembersihan
selesai.
d. Plesteran menggunakan Semen PC (Semen Portland, Semen Tonasa /Dynamix/Conch
@40 kg)
e. Perbandingan campuran adukan/plesteran disesuikan dengan spesifikasi teknis atau
langsung dari prabriknya.
f. Untuk memperoleh permukaan yang rapid an sempurna, bidang plesteran dibagi-bagi
dengan kepala plesteran yang dipasangi kelos-kelos sementara dari bamboo.
g. Kepala plesteran dibuat pada setiap jarak 100 cm, dipasang tegak dengan
menggunakan kepingan kayu lapis tebal 6 mm untuk patokan kerataan bidang.
h. Setekah kepala plesteran diperiksa kesikuannya dan keratannya, permukaan dinding
baru dapat ditutup dengan plesteran sampai rata dan tidak ada kepingan-kepingan kayu
yang tertinggal dalam plesteran.
i. Seluruh permukaan plesteran harus rata dan rapi, kecuali bila pasangan akan dilapisi
dengan bahan lain.
j. Sisa – sisa pekerjaan yang telah selesai harus segera dibersihkan.
k. Tali air (naad) selebar 4 mm digunakan pada bagian-bagian permukaan dengan bukaan
dinding atau bagian lain yang ditentukan dalam Gambar Kerja, dibuat dengan
mengguanakan profil kayu khusus untuk itu yang telah diserut rata, rapi dan siku.
Tidak diperkenankan membuat tali air dengan menggunakan baja tulangan.
B. Plesteran Permukaan Beton:
a. Permukaan beton yang akan diberi plesteran harus dikasarkan, dibersihkan dari
bagian-bagian yang lepas dan dibasahi air, kemudian diplester.
b. Permukaan beton harus bersih dan bahan-bahan cat, minyak, lemak, lumut dan
sebagainya sebelumnya pekerjaan plesteran dimulai.
c. Permukaan beton harus dibersihkan menggunakan kawat baja. Setelah plesteran
selesai dan mulai mengeras, permukaan plesteran dirawat dengan penyiram air.
d. Plesteran yang ridak sempurna, misalnya bergelombang, retak-retak, tidak tegak lurus
dan sebagainya harus diperbaiki.
2. Peralatan yang digunakan:
Sendok Semen, Kasut, Jidar, Ember, Cetok, Waterpass, Scaffolding, Scissors Lift dan Alat
Bantu Lainnya.
3. Bahan
Semen PC (Semen Portland, Semen Tonasa /Dynamix/Conch @40 kg)
4. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Cidera terkena alat kerja → Luka • Menggunakan APD Berupa Helm,
Ringan Sarung Tangan Dan Sapatu Bot
• Memeriksa kelayakan alat-alat kerja
• Pemeriksaan kelayakan alat-alat kerja
5. Personil saat pekerjaan berlangsung :
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
3.8.3. Pekerjaan Acian
1. Pelaksanaan:
a. Terlebih dahulu pastikan bahwa kondisi permukaan plesteran rata, lurus pada bagian sudut
dan siap untuk diaci.
b. Membersihkan permukaan yang akan diaci dari kotoran dan debu.
c. Apabila permukaan yang akan diaci terlihat kering, permukaan disiram dengan sedikit air
untuk membasahi dinding tersebut.
d. Setelah plesteran disiram air sampai jenuh sehingga plesteran menjadi rata, halus, tidak
ada bagian yang bergelombang, tidak ada bagian yang retak dan setelah plesteran berumur
8 (delapan) hari atau sudah kering total.
e. Pengacian harus diratakan dengan menggunakan jdaran untuk memperoleh hasil acian
yang rata.
f. Acian menggunakan semen instan dengan ketebalan yang dianjurkan ± 1,5 mm tergantung
dari kerataan dasar permukaannya.
g. Hasil acian tidak perlu digosok dengan menggunakan kertas semen, ampals atau
sejenisnya.
h. Hasil pekerjaan acian harus rapi dan tidak terdapan gelombang, retakan, dan tidak rata.
i. Setelah pengacian selesai dilakukan, selama 7 hari harus selalu menyiram bagian
permukaan yang diaci dengan ari sampai jenuh, sekurang-kurangnya dua kali setiap
harinya.
j. Sisa-sisa pekerjaan acian atau adukan yang mengotori lantai kerja dibersihkan dengan cara
dikumpulkan menggunakan cetok atau alat bantu lainnya, kemudian dipindahkan atau
dibuang keluar lokasi pekerjaan.
2. Peralatan yang digunakan:
Sendok Semen, Kasut, Ember, Scaffolding, Jidar, dan Alat Bantu Lainnya.
3. Bahan
Semen PC (Semen Portland, Semen Tonasa /Dynamix/Conch @40 kg)
4. Identifikasi bahaya dan resiko dan pengendalian resiko K3 :
JENIS BAHAYA DAN RESIKO K3 PENGENDALIAN RESIKO K3
• Cidera terkena alat kerja → Luka • Menggunakan APD Berupa Helm,
Ringan Sarung Tangan Dan Sapatu Bot
• Pemeriksaan kelayakan alat-alat kerja
5. Personil saat pekerjaan berlangsung :
• Pelaksana : 1 Orang
• K3 : 1 Orang
Semarapura, 23 Mei 2023
Di Buat Oleh
CV. JAYA DESAIN
I Komang Mahayana, ST
Direktur