| Reason | |||
|---|---|---|---|
| 0950163162727000 | Rp 3,438,766,529 | - | |
CV Moramarsadamanatra | 08*7**4****05**0 | Rp 3,444,709,477 | - |
CV Bintang Sago Jaya | 0031916943203000 | - | - |
PT Nadya Ratu Permata | 09*2**4****05**0 | - | - |
| 0735004806201000 | - | - | |
Tri'VI, CV | 00*2**9****46**0 | - | - |
| 0016229460201000 | - | - | |
| 0026318303201000 | - | - | |
| 0017567975201000 | - | - | |
| 0031192701201000 | - | - | |
| 0025636879202000 | Rp 3,438,766,098 | pengalaman pekerjaan tidak bkisa di hitung karena Pengalaman Kerja untuk Pelaksana Lapangan Pekerjaan Gedung Madya tidak menyebutkan jabatan pemilik skk di dua paket pekerjaan dslam curiculum vitae | |
| 0836508747202000 | Rp 3,489,322,716 | Rencana Keselamatan Kontruksi tidak Sesuai dengan LDP Dokumen | |
| 0923762439201000 | - | - | |
| 0019854348201000 | - | - | |
| 0745604322201000 | Rp 3,438,766,098 | Rencana Keselamatan Kontruksi tidak Sesuai dengan LDP Dokumen Tidak Melampirkan Daftar Personil yang di tawarkan | |
| 0023331408429000 | Rp 3,442,563,955 | Kapasitas Peralatan yang ditawarkan tidak sesuai dengan Dokumen Tidak melampirkan Pengalaman berupa CV atau Referensi pengalaman | |
| 0020500351201000 | Rp 3,567,172,615 | Tidak Melampirkan Daftar Peralatan Daftar personil Tidak dan Refensi atau CV tidak dilampirkan | |
| 0733926653201000 | Rp 3,451,332,847 | Rencana Keselamatan Kontruksi tidak Sesuai dengan LDP Dokumen Tidak melampirkan Daftar Peralatan ( Daftar Personil digabung pada dokumen teknis Peralatan) Daftar Personil tidak dilampirkan | |
CV Pro Builder Construction | 09*0**4****05**0 | - | - |
| 0018942979218000 | - | - | |
| 0935861864203000 | - | - | |
| 0963926985201000 | - | - | |
| 0723297511201000 | - | - | |
| 0733159453331000 | - | - | |
| 0026681148201000 | - | - | |
| 0816972947201000 | - | - | |
| 0626372288412000 | - | - | |
| 0824604375205000 | - | - | |
| 0719009722201000 | - | - | |
| 0821371176201000 | - | - | |
| 0719470601202000 | - | - | |
| 0900844739201000 | - | - | |
| 0904696648201000 | - | - | |
| 0028733608211000 | - | - | |
| 0016636805214000 | - | - | |
| 0023371032201000 | - | - | |
| 0767387335205000 | - | - | |
| 0946411816212000 | - | - | |
CV Brima Gatra | 04*9**4****05**0 | - | - |
| 0920061694001000 | - | - | |
| 0825643349201000 | - | - | |
| 0023609217201000 | - | - | |
| 0965134836201000 | - | - | |
| 0023272842211000 | - | - | |
| 0838347979212000 | - | - | |
| 0020455580201000 | - | - | |
| 0730500006201000 | - | - | |
| 0025513227201000 | - | - | |
| 0031469018201000 | - | - | |
| 0928291772205000 | - | - | |
| 0705401032202000 | - | - | |
CV Telu Sara Ita | 0019252329201000 | - | - |
| 0744879834205000 | - | - | |
| 0031192818201000 | - | - | |
| 0626689004205000 | - | - | |
| 0023817760202000 | - | - | |
| 0667526750201000 | - | - | |
| 0028788941201000 | - | - | |
| 0623566288201000 | - | - | |
| 0024506685201000 | - | - |
1
METODE PELAKSANAAN
PROGRAM : PROGRAM PENUNJANG URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH
KABUPATEN/KOTA
KEGIATAN : PEMELIHARAAN BARANG MILIK DAERAH PENUNJANG URUSAN
PEMERINTAHAN DAERAH
SUB KEGIATAN : PEMELIHARAAN/REHABILITASI SARANA DAN PRASARANA PENDUKUNG
GEDUNG KANTOR ATAU BANGUNAN LAINNYA
PEKERJAAN : Belanja Konstruksi - Akademi Komunitas Negeri Kabupaten Kepulauan
Mentawai
LOKASI : BUKIT PAMEWA KECAMATAN SIPORA UTARA
I. UMUM
1. LATAR BELAKANG
Rencana Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai Tahun 2023-2026 menjadi
dokumen perencanaan pembangunan kurun waktu tahun 2023-2026. Dokumen ini menjadi
pedoman bagi pemerintah daerah dalam menyusun perencanaan pembangunan tahunan
kurunwaktu tahun 2023 hingga tahun 2026. Hal ini sebagai tindak lanjut amanat Undang-
Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang PerubahanKedua atas Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota Menjadi Undang- Undang
yaitu dilaksanakannya pemilihan kepala daerah serentak secara nasional pada tahun 2024.
Rencana Pembangunan Daerah (RPD) Kabupaten KepulauanMentawai 2023-2026
selanjutnya menjadi pedoman bagi seluruh satuankerja perangkat daerah dalam menyusun
dan merumuskan Rencana I. 4 Strategis (Renstra) Perangkat Daerah untuk kurun waktu
2023-2026 juga menjadi pedoman bagi pemerintah dalam menjabarkan arah danstrategi
pembangunan tahunan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Penyusunan
Rencana Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai Tahun 2023-2026
dilakukan dengan pendekatan penganggaran money follow program priority dengan
memperhatikanperencanaan berbasis tematik, holistik, integratif dan spasial. Begitujuga
2
tetap fokus pada isu strategis pembangunan yang masih menjadi permasalahan
pembangunan jangka pendek dan menegah.
Pembangunan Ekonomi adalah serangkaian usaha kebijaksanaan pemerintah untuk
mencapai suatu hasil positif yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan ekonomi memiliki tujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat ,
memperluas kesempatan kerja dengan jumlah lapangan kerja semakin meningkat dan
mengarah pada pembagian pendapatan secara merata disetiap daerah ( Lesmana, 2014).
Tolak ukur pertumbuhan suatu perekonomian juga tidak bisa lepas dari peran pengeluaran
pemerintah di sektor layanan publik yaitu infrastruktur didik atau Human Kapital.Semakin
tinggi Human Capital yang dimiliki seseorang maka kemampuan seseorang untuk
menghasilakan barang dan jasa akan meningkat.
Human Capital muncul karena ada suatu aktivitas pemasukan di dalam pendidikan baik
secara formal maupun non formal. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam
upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan dianggap sebagai sarana
untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas maka dibutuhkan pendidikan.
Pendidikan diposisikan sebagai sarana untuk peningkatan kesejahteraan melalui
pemanfaatan kesempatan kerja yang ada dan mencerminkan tingkat kepandaian atau
pencapaian pendidikan formal dari penduduk karena, semakin tingginya tamatan
pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi pula kemampuan kerja atau produktivitas
seseorang dalam bekerja. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui tamatan
pendidikan diharapkan dapat mengurangi jumlah penganguran.
2. SUMBER DANA DAN PERKIRAAN HPS
Sumber pendanaan untuk keseluruhan Pekerjaan Belanja Konstruksi - Akademi
Komunitas Negeri Kabupaten Kepulauan Mentawai Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan
Kab. Mentawai Tahun Anggaran 2023. Dak fisik – Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan
Kab. Mentawai Dasar APBD Kebudayaan Kab. Mentawai yang tertuang dalam DPA-
SKPD. Total HPS untuk Pekerjaan Belanja Konstruksi - Akademi Komunitas Negeri
3
Kabupaten Kepulauan Mentawai adalah sebesar Rp. 4.300.000.000,00- (Empat Milyar
Tiga Ratus Juta Rupiah )
3. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN
Jangka waktu maksimum untuk penyelesaian seluruh pekerjaan adalah selama 150
(Seratus Lima Puluh) hari kalender.
II. SPESIFIKASI BAHAN BANGUNAN KONTRUKSI
4
NO JENIS MATERIAL SPESIFIKASI BAHAN
1 KELOMPOK AIR,TANAH,BATU DAN SEMEN
Air Sesuai dengan persyaratan PBI-1971
Pasir Pasang (Sedang) Sesuai dengan persyaratan PBI-1971
Pasir Beton (Kasar) Sesuai dengan persyaratan PBI-1971
Pasir Urug Sesuai dengan persyaratan PBI-1971
Bahan Tanah Timbunan Sesuai dengan persyaratan PBI-1971
Batu Kali Sesuai dengan persyaratan PBI-1971
Split 0..5 - 1 cm Sesuai dengan persyaratan PBI-1971
Batu Belah Sesuai dengan persyaratan PBI-1971
S i r t u Sesuai dengan persyaratan PBI-1971
Kerikil/agregat Beton Sesuai dengan persyaratan PBI-1971
Batu bata / merah bakar biasa Sesuai dengan persyaratan PBI-1971
Semen / PC (50kg) Portland Cement Indonesia NI-8 -1972 atau ASTM C-150 Type 1, Semen Padang
Semen / PC (kg) Portland Cement Indonesia NI-8 -1972 atau ASTM C-150 Type 1, Semen Padang
Semen Warna (Tepung Affa) Merek AM
Tepung Gypsum Merek AM
2 KELOMPOK BAHAN BETON PABRIKASI
Keramik, Lantai 40 x 40 (Unpholis) Ikad SNI Standar Pabrik
Keramik Lantai 40 x 40 (Polish) Ikad SNI Standar Pabrik
Garanit 60 x 60 (Polish) Granit Standar Pabrik SNI
Garanit 60 x 60 Granit Standar Pabrik SNI
Keramik 30 x 30 Ikad SNI Standar Pabrik
Keramik 20 x 25 Ikad SNI Standar Pabrik
Keramik 30x 60 Ikad SNI Standar Pabrik
3 KELOMPOK BAHAN KAYU
Dolken kayu galam dia 8-10 cm, pjg 4 m (Perancah) Kayu Sesuai dengan persyaratan SNI 03-3527-1994
Kayu Marsawa ( Papan ) Klas II Kayu Sesuai dengan persyaratan SNI 03-3527-1994
Kayu Marsawa ( Balok ) Klas II Kayu Sesuai dengan persyaratan SNI 03-3527-1994
Kayu Merantih ( Papan ) Klas III Kayu Sesuai dengan persyaratan SNI 03-3527-1994
Kayu Merantih ( Balok ) Klas III Kayu Sesuai dengan persyaratan SNI 03-3527-1994
Kayu untuk Perancah Kayu Klas III Kayu Sesuai dengan persyaratan SNI 03-3527-1994
Kayu Perancah 5/7 Cm Kayu Sesuai dengan persyaratan SNI 03-3527-1994
Triplek 4 mm Standar Pabrik, SNI
Plywood 9 mm Standar Pabrik, SNI
Multiplek tebal 9 mm Standar Pabrik, SNI
Waterproofing coating waterbase Lemkra Waterlock
Ornamen GRC GRC
gypsum Tebal 9 MM Jayaboard
4 KELOMPOK BAHAN LOGAM
Besi setrip
Besi Beton Polos KS Standar Pabrik SNI
Kawat Beton Kawat Bendrat SNI Pabrik
Besi Ulir KS Standar Pabrik
Paku biasa 1 cm - 4 cm Standar Pabrik, SNI
Paku biasa 5 cm - 7 cm Standar Pabrik, SNI
ACP Seven Seven Standar Pabrik SNI
Paku Sekrup 3,5" Standar Pabrik, SNI
Skrup fixer Standar Pabrik, SNI
Sealant (Lem Silicont) Standar Pabrik, SNI
Talang Air Zinggalum Standar Pabrik, SNI
Kusen Allumunium Alexindo White Alexsindo
Allumunium Strip Doble Lebar 8 Cm Alexsindo
Besi Siku 40.40.4 Standar Pabrik, SNI
Besi Siku 30.30.3 Standar Pabrik, SNI
Besi Siku 20.20.2 Standar Pabrik, SNI
Besi Hollow 40 x 40 x 2mm Standar Pabrik, SNI
Besi Hollow 20 x 40 x 2mm Standar Pabrik, SNI
Sunda Plafond Sunda Plafond
List Profil PVC Sunda Plafond
Pintu Alluminium Alexsindo
Daun Jendela Alluminium Alexsindo
Profil kaca Standar SNI pabrik
Floor Hinge Dekson Standar Pabrik SNI
Kawat Las Standar Pabrik, SNI
Pipa Galpanis 2 inci Standar SNI pabrik
Besi Plat 4 x 8 Tebal 6 MM Standar SNI pabrik
Besi Siku 50.50.5 MM Standar SNI pabrik
Besi Siku 60.60.6 MM Standar SNI pabrik
5
5KELOMPOK BAHAN ATAP
Atap Spandek Warna Standar SNI pabrik
Seng Plat BJLS 20 Warna Standar SNI pabrik
Atap Seng Gelombang BJLS 20 Biasa Standar SNI pabrik
Seng Plat BJLS 20 Biasa Standar SNI pabrik
Perabung Seng Plat BJLS 20 Standar SNI pabrik
6KELOMPOK BAHAN KACA
Tebal 5 mm Merk Asahimas
7PENGGANTUNG/PENGUNCI
Kunci Seiss Seiss SNI Standar Pabrik
Grendel Pintu Solid SNI Standar Pabrik
Pasangan Tarikan Jendela kunci kait ( rabuncis ) Solid SNI Standar Pabrik
Engsel casemen jendela allumunium Solid SNI Standar Pabrik
Engsel 4" Kuningan Solid SNI Standar Pabrik
8ASPAL, BAHAN BAKAR, MINYAK, DAN CAT
Thinner Standar SNI pabrik
Platone Cat Besi Plantone Standa SNI Pabrik
Cat Minyak Plantone Standa SNI Pabrik
Plemer Kayu Plantone Standa SNI Pabrik
Plemer Tembok Wall Putty ( Merek RJ )
Meni kayu - warna Plantone Standa SNI Pabrik
Meni besi - warna Plantone Standa SNI Pabrik
Cat dasar tembok Delux
Cat alkali resisting primer Delux
Cat Tembok Interior Delux
Cat Tembok Exterior Delux Pentalite
Cat Tembok (Dasar) Delux Weathershield
Residu Standar SNI pabrik
Minyak Cat Standar SNI pabrik
Dempul San Polac
Amplas Standar SNI pabrik
Cat Dasar TL Delux
Minyak bekisting Standar SNI pabrik
Kuas Alpha
Sealtape Standar SNI pabrik
9KELOMPOK BAHAN SANITAIR
Kloset Duduk Merek Toto Toto
Closet Jongkok Toto Toto
Urinoir Toto
Wastafel Toto
Floor Drain Stainlestell Standar SNI pabrik
Kran Air Dinding Stainlestell Honda SNI Standar Pabrik
Bak cuci Piring Stenlis Standar SNI pabrik
Pipa PVC Ø1/2" AW Rucika
Pipa PVC Ø3/4" AW Rucika
Pipa PVC Ø1 1/2" AW Rucika
Pipa PVC Ø2" AW Rucika
Pipa PVC Ø3" AW Rucika
Pipa PVC Ø4" AW Rucika
Stop Kran 3/4 Onda
Tangki Air 1000 Liter (Penguin) Penguin
Mesin Jet Pump. Kap. 250 watt ( " SANYO " PD-H250B ) Sanyo
Katup Otomatis Standar SNI pabrik
10KELOMPOK BAHAN LISTRIK
Lampu Pasang LampuTL 2 x 18W (Lumi Stone LED)" Merek Phillips SNI
Lampu Bola Lampu LED 10 Watt Merek Phillips SNI
Kabel NYM 2 x 2,5 mm2 Eterna SNI
Kabel NYM 3 x 2,5 mm2 Eterna SNI
Fitting Bola Lampu Broco SNI
Stop Kontak AC Merek Phillips SNI
Stop Kontak Merek Phillips SNI
Saklear Tunggal Merek Phillips SNI
Saklear Ganda Merek Phillips SNI
Saklar Triple Merek Phillips SNI
Inbouw Dus (metal) Clipsal SNI
MCB 6A (schneider) Broco SNI
MCB 10A (schneider) Broco SNI
Box MCB 6 Grup Broco SNI
6
III. SPESIFIKASI PERALATAN KONTRUKSI DAN PERALATAN
BANGUNAN
1. Setiap jenis alat dan perkakas yang digunakan sedapat mungkin dipilih yang
paling kecil bahaya dan risikonya serta lebih mudah penggunaan dan
perawatannya, dan diberi penjelasan singkat cara penggunaan dan
pemeliharaannya;
2. Alat dan perkakas yang digunakan harus dipastikan telah diberi sistem
perlindungan atau kelengkapan pengaman untuk mencegah paparan (expose)
bahaya secara langsung terhadap tubuh pekerja;
3. Informasi tentang jenis, cara penggunaan / pemeliharaan / pengamanannya alat
dan perkakas dapat diperoleh dari manual produk dari pabrik pembuatnya,
ataupun dari pedoman/peraturan pihak yang kompeten.
Spesifikasi Peralatan Konstruksi dan Peralatan Bangunan
No. Jenis Alat Kapasitas Jumlah
A Persyaratan Peralatan Utama untuk Tender Pekerjaan
1 Dump Truck 3-5 M3 3 Unit
2 Concrete Mixer 0.5 M3 3 Unit
3 Steger - 25 Set
4 Genset 15 KVa 2 Unit
5 Stamper Kuda Kap 73,2 Kg 3 Unit
Keterangan, Penyedia wajib melampirkan :
Bukti kepemilikan terhadap daftar peralatan (contoh BPKB, STNK, Invoice) untuk
kendaraan dengan status milik sendiri
Bukti pembayaran sewa beli (contoh invoice uang muka, angsuran) untuk
peralatan dengan status sewa beli
Surat perjanjian sewa untuk peralatan dengan status sewa
IV. SPESIFIKASI PROSES/ KEGIATAN
Penyedia menyusun rencana keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (K3).
Penyedia bertanggung jawab atas keselamatan dan kesehatan semua pihak di lokasi
kerja. Penyedia setiap saat harus mengambil langkah-langkah yang patut diambil
7
untuk menjaga keselamatan dan kesehatan para personilnya. Penyedia harus
memastikan bahwa staf kesehatan, fasilitas pertolongan pertama pada kecelakaan,
dan layanan ambulance dapat disediakan setiap saat di lapangan bagi personil
penyedia termasuk sub penyedia maupun personil PPK dan telah dibuat
perencanaan yang sesuai dengan semua persyaratan kesehatan dan kebersihan
untuk mencegah timbulnya wabah penyakit. Penyedia harus menunjuk petugas
keselamatan kerja yang bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan dan
mencegah terjadinya kecelakaan. Petugas yang bersangkutan harus memenuhi
aturan dan persyaratan K3.
Prosedur identifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendaliannya :
Mengakomodasi kegiatan rutin.
Mengakomodasi kegiatan non rutin.
Kegiatan semua orang yang memiliki akses di tempat kerja.
Perilaku manusia, kemampuan dan faktor manusia lainnya.
Mengidentifikasi bahaya yang berasal dari luar tempat kerja yang dapat
mempengaruhi kesehatan dan keselamatan personil di tempat kerja.
Bahaya yang ada di sekitar tempat kerja dikaitkan dengan kegiatan kerja
penyedia jasa.
Sarana dan prasarana, peralatan dan bahan di tempat kerja yang disediakan oleh
penyedia jasa atau pihak lain.
Modifikasi pada K3 termasuk perubahan sementara dan dampaknya pada
operasi, proses dan kegiatannya.
Beberapa kewajiban perundangan yang digunakan terkait dengan penilaian risiko
dan penerapan pengendaliannya.
Desain lokasi kerja, proses, instalasi, mesin/peralatan, prosedur operasi dan
instruksi kerja termasuk penyesuaian terhadap kemampuan manusia.
1. Bangunan Rektorat
8
TABEL IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO, SKALA PRIORITAS, PENGENDALIAN RISIKO K3 DAN PENANGGUNG JAWAB K3
PENILAIAN RESIKO PENANGGUNG JAWAB
SKALA
NO URAIAN PEKERJAAN IDENFIKASI BAHAYA TINGKAT PENGENDALIAN RESIKO
KEKERAPANKEPARAHAN PRIORIATAS NAMA PETUGAS
RESIKO
1 2 3 4 5 6 7 8 9
B. RUANG REKTORAT
I. PEKERJAAN LEVELING LANTAI
1 Pekerjaan Pembersihan Lapangan dan peralatan
2 Pekerjaan Pemasangan Bowplank 1.1 Terkenan pecahan material 1 1 1 1 1.1Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
3 Uji Job Mix Formula (JMF) 1.2 Terpukul palu saat memancang 1.2Memberikan Pengarahan Pekerjaan
1.3 Terkena kayu yang runcing 1.3Pemakaian APD Keselamatan Kerja
1.4 Terkena peralatan saat pembersihan lapangan 1.4Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
II. PEKERJAAN PONDASI
1 Pekerjaan Pondasi Plat
a Pekerjaan Galian Tanah 1.1 Terluka saat mengali 2 2 4 2 1.1Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
b Pekerjaan Urugan Pasir Bawah Pondasi 1.2 Tertimpa material saat memasang 1.2Memberikan Pengarahan Pekerjaan
c Pekerjaan Lantai Kerja Beton K100 Bawah Pondasi 1.3 Luka terhadap pengunaan peralatan kerja 1.3Pemakaian APD Keselamatan Kerja
d Pekerjaan Urugan Kembali 1.4 Terluka karna material 1.4Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
2 Pekerjaan Pasangan Pondasi Tapak Uk. 100x100x30 cm
a Beton Mutu K175
b Pembesian
c Bekisting pondasi
III. PEKERJAAN BETON BERTULANG
1 Pekerjaan Pasangan Kolom 25/30 K1
a Beton Mutu K175 1.1 Tertimpa material saat memasang 2 3 6 2 1.1Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
b Pembesian 1.2 Luka terhadap pengunaan peralatan kerja 1.2Memberikan Pengarahan Pekerjaan
c Bekisting Kolom 1.3 Terluka karna material yang pecah 1.3Pemakaian APD Keselamatan Kerja
1.4 Terjatuh saat memasang material 1.4Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
2 Pekerjaan Pasangan Kolom 15/15 K2
a Beton Mutu K175
b Pembesian
c Bekisting Kolom
3 Pekerjaan Pasangan Kolom 25/30 K1 Atas
a Beton Mutu K175
b Pembesian
c Bekisting Kolom
4 Pekerjaan Pasangan Kolom 15/15 K2 Atas
a Beton Mutu K175
b Pembesian
c Bekisting Kolom
5 Pekerjaan Pasangan Sloof 25/30 S1
a Beton Mutu K175
b Pembesian
c Bekisting Sloof
6 Pekerjaan Pasangan Sloof 15/25 S2
a Beton Mutu K175
b Pembesian
c Bekisting Sloof
7 Pekerjaan Pasangan Balok 13/20 B1
a Beton Mutu K175
b Pembesian
c Bekisting balok
9
8 Pekerjaan Pasangan Ring Balok 15/25 R1
a Beton Mutu K175
b Pembesian
c Bekisting Balok
9 Pekerjaan Pasangan Ring Balok 13/20 R2
a Beton Mutu K175
b Pembesian
c Bekisting Balok
10 Pekerjaan Pasangan Plat beton T = 12 cm Tengah
a Beton Mutu K175
b Pembesian
c Bekisting Lantai
11 Pekerjaan Pasangan Plat beton T = 12 cm Belakang
a Beton Mutu K175
b Pembesian
c Bekisting Lantai
12 Pekerjaan Pasangan Plat beton T = 12 cm Kanopy
a Beton Mutu K175
b Pembesian
c Bekisting Lantai
13 Pekerjaan Pasangan Plat beton T = 12 cm Meja
a Beton Mutu K175
b Pembesian
c Bekisting Lantai
IV. PEKERJAAN DINDING
1 Pas. Dinding Bata sp. 1:4 Tebal 1/2 bata
2 Pas. Plesteran 1PC : 4 Pasir Pasang tebal 15 mm ( dinding batu bata ) 1.1 Tertimpa material saat memasang 2 3 6 2 1.1Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
3 Pas. Acian 1.2 Luka terhadap pengunaan peralatan kerja 1.2Memberikan Pengarahan Pekerjaan
4 Pas. Pekerjaan Ukiran GRC 1.3 Terluka karna material yang pecah 1.3Pemakaian APD Keselamatan Kerja
5 Pekerjaan Pemasangan ACP 1.4 Terjatuh saat memasang material 1.4Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
V. PEKERJAAN KUZEN, PINTU, VENTILASI, DAN PARTISI
1 Pasangan Kuzen Pintu Type PJ.1, 4 Unit
a Pasangan Kusen Pintu Alluminium 4" 1.1 Tertimpa material saat memasang 1 2 2 2 1.1Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
b Pemasangan 1 m2 Pintu kaca rangka alluminium + Kaca Tebal 5 MM 1.2 Luka terhadap pengunaan peralatan kerja 1.2Memberikan Pengarahan Pekerjaan
c Pasangan Engsel Tanam Floor Hinge 1.3 Terluka karna material yang pecah 1.3Pemakaian APD Keselamatan Kerja
d Pasangan Kunci Tanam + Handel 1.4 Terjatuh saat memasang material 1.4Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
e Pasangan Grendel Tanam Pintu
f Pemasangan 1 m2 Ventilasi kaca rangka alluminium + Kaca T = 5 MM
g Pasangan Engsel Casemen Jendela Allumunium
h Pasangan Tarikan Jendela kunci kait ( rabuncis )
i Pasangan Kaca mati Tebal 5 MM
2 Pasangan Kuzen Pintu Type PJ.2, 2 Unit
a Pasangan Kusen Pintu Alluminium 4"
b Pemasangan 1 m2 Pintu kaca rangka alluminium + Kaca Tebal 5 MM
c Pasangan Engsel Tanam Floor Hinge
d Pasangan Kunci Tanam + Handel
e Pasangan Grendel Tanam Pintu
f Pemasangan 1 m2 Ventilasi kaca rangka alluminium + Kaca T = 5 MM
g Pasangan Engsel Casemen Jendela Allumunium
h Pasangan Tarikan Jendela kunci kait ( rabuncis )
i Pasangan Kaca mati Tebal 5 MM
10
3 Pasangan Kuzen Pintu Type P1, 2 Unit
a Pasangan Kusen Pintu Alluminium 4"
b Pemasangan 1 m2 Pintu kaca rangka alluminium + Kaca Tebal 5 MM
c Pasangan Engsel Tanam Floor Hinge
d Pasangan Kunci Tanam + Handel
e Pasangan Grendel Tanam Pintu
4 Pasangan Kuzen Pintu Type P2, 7 Unit
a Pasangan Kusen Pintu Alluminium 4"
b Pemasangan 1 m2 Pintu kaca rangka alluminium + Kaca Tebal 5 MM
c Pasangan Engsel 4 "
d Pasangan Kunci Tanam + Handel
e Pasangan Grendel Tanam Pintu
5 Pasangan Kuzen Pintu Type P3, 6 Unit
a Pasangan Kusen Pintu Alluminium 4"
b Pemasangan 1 m2 Pintu kaca rangka alluminium + Kaca Tebal 5 MM
c Pasangan Engsel 4 "
d Pasangan Kunci Tanam + Handel
e Pasangan Grendel Tanam Pintu
6 Pekerjaan Pintu Aluminium Type P.4, 9 Unit
a Pasangan Kusen Pintu Alluminium 4"
b Pemasangan 1 m2 Pintu rangka alluminium Strip
c Pasangan Engsel Pintu 4"
d Pasangan Kunci Pintu
7 Pekerjaan Kuzen Jendela Alluminium Type J.1, 12 Unit
a Pasangan Kusen Pintu Alluminium 4"
b Pemasangan 1 m2 Jendela kaca rangka alluminium + Kaca T = 5 MM
c Pasangan Engsel Casemen Jendela Allumunium
d Pasangan Tarikan Jendela kunci kait ( rabuncis )
8 Pekerjaan Kuzen Jendela Alluminium Type J.2, 4 Unit
a Pasangan Kusen Pintu Alluminium 4"
b Pemasangan 1 m2 Jendela kaca rangka alluminium + Kaca T = 5 MM
c Pasangan Engsel Casemen Jendela Allumunium
d Pasangan Tarikan Jendela kunci kait ( rabuncis )
e Pasangan Kaca mati Tebal 5 MM
8 Pekerjaan Kuzen Jendela Alluminium Type J.3, 3 Unit
a Pasangan Kusen Pintu Alluminium 4"
b Pasangan Kaca mati Tebal 5 MM
9 Pekerjaan Kuzen Jendela Alluminium Type J.4, 2 Unit
a Pasangan Kusen Pintu Alluminium 4"
b Pemasangan 1 m2 Jendela kaca rangka alluminium + Kaca T = 5 MM
c Pasangan Engsel Casemen Jendela Allumunium
d Pasangan Tarikan Jendela kunci kait ( rabuncis )
e Pasangan Kaca mati Tebal 5 MM
10 Pekerjaan Kuzen Ventilasi Aluminium Type V.1, 7 Unit
a Pasangan Kusen Ventilasi Alluminium 4"
b Pemasangan 1 m2 Ventilasi kaca rangka alluminium + Kaca T = 5 MM
c Pasangan Engsel Casemen Jendela Allumunium
d Pasangan Tarikan Jendela kunci kait ( rabuncis )
11 Pekerjaan Dinding Partisi
a Pekerjaan Rangka Dinding Rangka Kayu KLS II
b Pekerjaan Dinding Gypsum Tebal 9 MM
11
VI. PEKERJAAN KAP ATAP
1 Pekerjaan Pasangan Kuda-Kuda Kayu Kelas II
2 Pekerjaan Gording kayu Kelas II 1.1 Tertimpa material saat memasang 2 3 6 2 1.1Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
3 Pekerjaan Atap Spandek Warna T = 25 MM 1.2 Luka terhadap pengunaan peralatan kerja 1.2Memberikan Pengarahan Pekerjaan
4 Pekerjaan Nok Atap 1.3 Terluka karna material yang pecah 1.3Pemakaian APD Keselamatan Kerja
4 Pekerjaan Lisplank ACP 1.4 Terjatuh saat memasang material 1.4Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
5 Pemasangan 1 M¹ Talang Air Zinggalum
6 Pekerjan Pengecatan Residu
VII. PEKERJAAN LANTAI DAN PENUTUP DINDING
1 Pekerjaan Tanah Timbunan
2 Pek. Urugan Pasir 1.1 Tertimpa material saat memasang 1 2 2 2 1.1Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
3 Pek. Cor Lantai Beton K 175 1.2 Luka terhadap pengunaan peralatan kerja 1.2Memberikan Pengarahan Pekerjaan
4 Pekerjaan Penutup Lantai 1.3 Terluka karna material yang pecah 1.3Pemakaian APD Keselamatan Kerja
a Pas. Geranit Lantai Polished 60x60 lantai 1.4 Terjatuh saat memasang material 1.4Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
b Pas. Lantai Unpolished 60x60 lantai Luar
5 Pekerjaan Keramik Kamar Mandi
d Pas. Keramik 30 x 30
e Pas. Keramik Dinding 30 x 60
6 Pas. Keramik Meja Dapur
a Pekerjaan Pemasangan Dinding Batu Bata 1 : 4
b Pekerjaan Plasteeran 1 : 4
c Pekerjaan Acian Dinding
d Pas. Keramik Meja 30 x 30
e Pas. Keramik Meja 30 x 60
7 Pekerjaan Awerking Beton
VIII. PEKERJAAN PLAFOND
1 Pas. Rangka Plafond Kayu Kelas II 1.1 Tertimpa material saat memasang 2 2 4 2 1.1Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
2 Pas. Plafond pvc 8 mm motif , list profil 1.2 Luka terhadap pengunaan peralatan kerja 1.2Memberikan Pengarahan Pekerjaan
1.3 Terluka karna material yang pecah 1.3Pemakaian APD Keselamatan Kerja
1.4 Terjatuh saat memasang material 1.4Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
IX. PEKERJAAN PENGECATAN
1 Pekerjaan Pengecatan Dengan Cat Air
1.1 Tertimpa material saat memasang ( Kena Mata ) 1 2 2 2 1.1Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
1.2 Luka terhadap pengunaan peralatan kerja 1.2Memberikan Pengarahan Pekerjaan
1.3 Terhirup gas cat 1.3Pemakaian APD Keselamatan Kerja
1.4 Terjatuh saat memasang material 1.4Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
X. PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL ( ME )
1 Pasangan Intalasi Titik Lampu dan stop kontak
2 Pasangan Stop Kontak 1.1 Tertimpa material saat memasang 2 2 4 2 1.1Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
3 Pekerjaan Pas. Stop Kontak AC 1.2 Luka terhadap pengunaan peralatan kerja 1.2Memberikan Pengarahan Pekerjaan
4 Pekerjaan Pas. Saklar tunggal 1.3 Terluka karna material yang pecah 1.3Pemakaian APD Keselamatan Kerja
5 Pekerjaan Pas. Saklar ganda 1.4 Terjatuh saat memasang material 1.4Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
6 Pekerjaan Pas. Pasang LampuTL 2 x 18W (Lumi Stone LED)"
7 Pekerjaan Pas. Bola Lampu LED 10 Watt
8 Pekerjaan Pas. Box + MCB 2 pase
12
XI. PEKERJAAN SANITASI
1 Pekerjaan Kloset Duduk
2 Pekerjaan Kloset Jongkok 1.1 Terluka saat mengali 2 2 4 2 1.1Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
3 Pekerjaan Urioir 1.2 Tertimpa material saat memasang 1.2Memberikan Pengarahan Pekerjaan
4 Pekerjaan Wastafel 1.3 Luka terhadap pengunaan peralatan kerja 1.3Pemakaian APD Keselamatan Kerja
5 Pekerjaan Bak Cuci piring 1.4 Terluka karna material 1.4Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
6 Pekerjaan Pas. Pipa 4"
7 Pekerjaan Pas. Pipa 3"
8 Pekerjaan Pas. Kran Air 1/2 - 3/4
9 Pekerjaan Pas. Pipa 3/4" air bersih
10 Pekerjaan Pas. Floordrain
11 katup Otomatis
12 Stop Kran 3/4 Inci
13 Mesin Jet Pump. Kap. 250 watt
14 Tangki Air 1000 Liter (Penguin)
15 Pekerjaan Pemasangan Septick Tank
XII. PEKERJAAN PERLENGKAPAN LUAR
A Pekerjaan Rabat Beton
1 Pekerjaan Galian Tanah 1.1 Terluka saat mengali 2 2 4 2 1.1Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
2 Pekerjaan Urugan Pasir Saluran 1.2 Tertimpa material saat memasang 1.2Memberikan Pengarahan Pekerjaan
3 Pekerjaan Lantai Kerja K 100 Saluran 1.3 Luka terhadap pengunaan peralatan kerja 1.3Pemakaian APD Keselamatan Kerja
4 Pekerjaan Pemasangan Batu Bata 1 : 4 1.4 Terluka karna material 1.4Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
5 Pekerjaan Tanah Timbunan 1.5 Terhirup gas cat
6 Pek. Urugan Pasir Rabat Beton
7 Pek. Cor Lantai Beton K 175 Rabat Beton
8 Pekerjaan Plasteran 1 : 4
9 Pekerjaan Acaian
B Pekerjaan Tower Air
1 Pekerjaan Galian Tanah
2 Pekerjaan Urugan Pasir
3 Pekerjaan Cor Beton K 100 Lantai Kerja
4 Pekerjaan Pasangan Pondasi Tapak Uk. 80x80x20 cm
a Beton Mutu K175
b Pembesian Tulangan Pokok D12
c Bekisting pondasi
5 Pekerjaan Urugan Kembali
6 Pekerjaan Pasangan Kolom 30/30
a Beton Mutu K175
b Pembesian Tulangan Pokok D12 Begol D8
c Bekisting Kolom
7 Pekerjaan Pasangan Sloof 15/20
a Beton Mutu K175
b Pembesian Tulangan Pokok D12 Begol D8
c Bekisting Sloof
8 Pekerjaan Besi Siku 50 x 50 x 5 Cm
9 Pekerjaan Besi Siku 60 x 60 x 6 Cm
10 Pekerjaan Pengelasan
11 Pekerjaan Besi Plat T 5 MM Buat Tapak
13
2. Bangunan Gapura
TABEL IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO, SKALA PRIORITAS, PENGENDALIAN RISIKO K3 DAN PENANGGUNG JAWAB K3
PENILAIAN RESIKO PENANGGUNG JAWAB
SKALA
URAIAN PEKERJAAN IDENFIKASI BAHAYA TINGKAT PENGENDALIAN RESIKO
KEKERAPAN KEPARAHAN PRIORIATAS NAMA PETUGAS
RESIKO
2 3 4 5 6 7 8 9
PEKERJAAN PENDAHULUAN
Pekerjaan Pembersihan Lapangan
Pekerjaan Pemasangan Bowplank 1.1 Terkenan pecahan material 1 1 1 1 1.1 Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
1.2 Terpukul palu saat memancang 1.2 Memberikan Pengarahan Pekerjaan
1.3 Terkena kayu yang runcing 1.3 Pemakaian APD Keselamatan Kerja
1.4 Terkena peralatan saat pembersihan lapangan 1.4 Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
PEKERJAAN PONDASI
Penggalian 1 m3 tanah biasa sedalam 2 m
Pekerjaan Cor Beton Kedap Air K 175 1.1 Terluka saat mengali 2 3 6 2 1.1 Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
Pemasangan 1 m3 pondasi siklop, 60% beton Camp, 1PC : 2 PB : 3 Kr dan 1.2 Tertimpa material saat memasang 1.2 Memberikan Pengarahan Pekerjaan
40% batu belah 1.3 Luka terhadap pengunaan peralatan kerja 1.3 Pemakaian APD Keselamatan Kerja
Menurunkan cincin pertama 1.4 Terluka karna material 1.4 Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
Menurunkan cincin Kedua
Pek. Cor beton bertulang Poer 1.20 x 1.20 x 0.40
Pek. Mutu Beton K.175
Pek. Pembesian Tulangan (Besi Polos Ø 16)
Pek. Bekesting Pondasi
Pek. Cor beton bertulang Poer 1.20 x 2.34 x 0.40
Pek. Mutu Beton K.175
Pek. Pembesian Tulangan (Besi Polos Ø 16)
Pek. Bekesting Pondasi
Pekerjaan Pemasangan angker Ø 16
Pengurugan kembali 1 m3 galian tanah
14
III PEKERJAAN BETON
1 Pekerjaan kolom 35 x 60 1.1 Tertimpa material saat memasang 2 3 6 2 1.1Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
a Mutu Beton K 175 1.2 Luka terhadap pengunaan peralatan kerja 1.2Memberikan Pengarahan Pekerjaan
b Pek. Pembesian tulangan (Besi Polos Ø 16) (Besi Polos Ø 8) 1.3 Terluka karna material yang pecah 1.3Pemakaian APD Keselamatan Kerja
c Pek. Bekesting kolom 1.4 Terjatuh saat memasang material 1.4Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
2 Pekerjaan Kolom 40 x 80
a Mutu Beton K 175
b Pek. Pembesian tulangan (Besi Polos Ø 16) (Besi Polos Ø 8)
c Pek. Bekesting kolom
3 Pekerjaan Sloof 30 x 40
a Mutu Beton K 175
b Pek. Pembesian tulangan (Besi Polos Ø 16) (Besi Polos Ø 8)
c Pek. Bekesting sloof
4 Pekerjaan Balok 30 x 40
a Mutu Beton K 175
b Pek. Pembesian tulangan (Besi Polos Ø 16) (Besi Polos Ø 8)
c Pek. Bekesting Balok
5 Pekerjaan Plat Beton T 10 Cm
a Mutu Beton K 175
b Pek. Pembesian tulangan (Besi Polos Ø 10)
c Pek Bexisting Lantai
IV PEKERJAAN DINDING
1 Pemasangan 1 m2 dinding Bata, 1PC : 4 Pasir Pasang
2 Pemasangan 1 m2 Plesteran 1PC : 4 Pasir Pasang tebal 15 mm 1.1 Tertimpa material saat memasang 2 3 6 2 1.1Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
3 Pemasangan 1 m2 Acian 1.2 Luka terhadap pengunaan peralatan kerja 1.2Memberikan Pengarahan Pekerjaan
4 Profil Beton 1.3 Terluka karna material yang pecah 1.3Pemakaian APD Keselamatan Kerja
5 Pemasangan Besi Hollow 40 x 40 x 2 mm 1.4 Terjatuh saat memasang material 1.4Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
6 Pemasangan Alumimnium Composit Tebal 0.3 MM
7 Pemasangan Besi Pipa Galpanis 2 Inci
8 Pekerjaan Afwerking Beton Plat Lantai
9 Pekerjaan Rumah Adat
V PEKERJAAN LANTAI
1 Pengurugan 1 m3 Tanah Timbunan
2 Pengurugan 1 m3 dengan pasir urug T = 10 CM 1.1 Tertimpa material saat memasang 1 2 2 2 1.1Pengarahan tentang K 3 Petugas K3
3 Membuat Lantai kerja beton mutu f3c = 14,5 Mpa (K 175) T = 10 CM 1.2 Luka terhadap pengunaan peralatan kerja 1.2Memberikan Pengarahan Pekerjaan
4 Pekerjaan lantai Keramik 40 x 40 1.3 Terluka karna material yang pecah 1.3Pemakaian APD Keselamatan Kerja
1.4 Terjatuh saat memasang material 1.4Gunakan Rambu Rambu Peringatan atau Pengaman
15
A. PELUANG KEMUNGKINAN KEKERAPAN
Nilai 1 = Jarang terjadi
Nilai 2 = Kadang-kadang terjadi
Nilai 3 = Sering terjadi
B. AKIBAT KEPARAHAN
nilai 1= luka ringan
nilai 2 = luka sedang
nilai 3 = luka berat, cacat, kematian
C. PERHITUNGAN ANALISA TINGKAT RESIKO
Tingat Risiko K3 Konstruksi (TR) adalah hasil perkalian antara nilai probabilitas/kekerapan terjadinya risiko K3 konstruksi (P) dengan nilai
keparahan/dampak/akibat yang ditimbulkan (A) atau dengan rumus RISIKO = peluang x akibat
KLAFIKASI NILAI RESIKO
1 1-3 TINGKAT RESIKO RENDAH
2 4-6 TINGKAT RESIKO SEDANG
3 8-9 TINGKAT RESIKO TINGGI
D. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan dan hasil perhitungan analisa risiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), maka dapat
disimpulkan
sebagai berikut :
Dari hasil identifikasi bahaya di dapatkan 6 resiko kecil, 11 resiko sedang, kegiatan dengan rekap kegiatan 17 jumlah variabel
kecelakaan yang telah di kelompokan.
16
Berdasarkan hasil analisa perhitungan tingkat risiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada proyek PERENCANAAN
PEMBANGUNAN GAPURA DAN KANTOR SERTA LANDSCAPE sedang dengan membutuhkan tenaga Petugas K3 Konstruksi adalah
petugas di dalam organisasi Pengguna Jasa dan/atau Organisasi Penyedia Jasa yang telah mengikuti pelatihan/sosialisasi K3
Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum
17
V. SPESIFIKASI METODA KONTRUKSI/METODA
PELAKSANAAN/METODA KERJA
I. PEKERJAAN PENDAHULUAN
1. Pekerjaan Pembersihan Lapangan dan peralatan
Metoda Pekerjaan
- Pembersihan lahan adalah pekerjaan yang terdiri dari pembersihan lahan dari semua
pohon, halangan - halangan, semak – semak, sampah, dan bahan lainnya yang tidak
dikehendaki atau menggangu keberadaannya sesuai dengan yang diperintahkan oleh
direksi Pekerjaan. Teknis pelaksanaan pekerjaan
- membersihkan lapangan/Lokasi pembangunan dari hal-hal yang dapat merusak
pelaksanaan pembangunan.
- Penebangan pohon/pembersihan harus tuntas sampai pada akar-akarnya sehingga
tidak merusak struktur tanah.
- Melakukan Pembersihan Material yang dapat mengurangi mutu/kualitas pekerjaan.
2. Pekerjaan Pengukuran dan pemasangan bowplank
Metoda Pekerjaan
Pekerjaan ini biasanya dilakukan seiring atau setelah pekerjaan pengukuran dilakukan.
Pemasangan Bouwplank (Pematokan) dilaksanakan bersama-sama oleh Pihak Proyek,
Perencana Pengawas, Pelaksana dan dibuat Berita Acara Pematokan. Bowplank terbuat
dari papan yang bagian atasnya dipakukan pada patok kayu persegi 5/7 cm yang
tertanam dalam tanah cukup kuat. Untuk menentukan ketinggian papan bouwplank
secara rata bagian atasnya dari papan bowplank harus di waterpass (horizontal dan
siku), sedangkan untuk mengukur dari titik As ke As antar ruangan digunakan meteran.
Setiap titik pengukuran ditandai dengan paku dan dicat dengan cat merah dan ditulis
ukuran pada papan bouwplank agar mudah di cek kembali. Pemasangan papan
bowplank dilaksanakan pada jarak 1,5 m dari As sekeliling bangunan dan dipakukan
pada patok – patok yang terlebih dahulu ditancapkan kedalam tanah.
3. Pekerjaan Papan Proyek
Metoda Pekerjaan
Seiring pembersihan lokasi dibuat papan nama proyek, papan nama proyek ini dipasang
pada tempat yang mudah dilihat dengan mencantumkan data-data proyek antara lain
nama proyek, pekerjaan, lokasi, nilai proyek, waktu pelaksanaan, pengawas pelaksana
proyek, dll. Setelah pekerjaan pembersihan lapangan selesai dilakukan, barulah
dilakukan pengukuran lokasi. Hal ini bertujuan untuk menentukan letak bangunan,
elevasi dan titik ikat (Bench Mark). Dalam pengukuran digunakan alat Theodolit dan
18
rambu ukur. Pengukuran ini dilakukan oleh seorang surveyor. Titik-titik yang menjadi
acuan ditandai dengan menggunakan patok. Patok terbuat dari kayu bulat dengan
panjang ± 1m yang ditancapkan kedalam tanah.
II. PEKERJAAN PONDASI
1. Pekerjaan Galian Tanah
Metoda Pekerjaan
a. galian tanah dengan ukuran sesuai diameter pipa beton di lokasi yang akan
dibangun pondasi dengan memakai cangkul. Untuk mempermudah pekerjaan
penggalian tanah, pakai cangkul yang mempunyai pegangan lebih pendek.
b. Setelah galian tanah telah mencapai kedalaman sekitar 80-100 cm, masukkan pipa
beton yang pertama ke dalamnya. Hati-hati ketika memindahkan pipa beton ini dan
pastikan sempurna masuk ke dalam lubang galian tanah.
c. Lanjutkan kembali penggalian tanah di daerah rencana pembuatan pondasi
tersebut. Ingat, lakukan pekerjaan ini dengan lebih hati-hati mengingat sudah ada
pipa beton di dalamnya. Jangan khawatir, selama Anda meneruskan penggalian
tanah, pipa beton akan turun levelnya sesuai dengan kedalaman permukaan tanah
di dalam lubang galian.
d. Pekerjaan penggalian tanah dilarang sesudah mencapai lapisan tanah yang keras.
Biasanya lapisan tanah ini berada di kedalaman yang berkisar antara 2-3 meter.
e. Setelah itu, masukkan pipa beton kedua ke dalam lubang galian sempurna di atas
pipa yang pertama. Masukkan lagi pipa berikutnya hingga ketinggian susunan pipa
beton setara dengan level permukaan tanah. Cek sekali lagi untuk memastikan
pipa-pipa beton tersebut tersusun dengan benar.
f. Agar susunan pipa-pipa beton terangkai kuat, Anda sanggup menambal celah-
celahnya dengan adukan semen dan pasir. Biarkan tambalan ini selama beberapa
ketika semoga mengering sebelum Anda benar-benar menutup sumuran.
g. Buat adukan beton sebagai pengisi pondasi sumuran yang terdiri atas semen, pasir,
kerikil, dan air. Pastikan semua bahan-bahan ini tercampur rata sebelum
digunakan.
h. Masukkan watu kali terlebih dahulu ke dalam sumuran hingga ketinggiannya
mencapai 50 cm. Tuangkan adukan beton di atasnya. Atur sedemikian rupa semoga
19
adukan beton ini sanggup masuk ke celah-celah tumpukan watu kali dan
mengikatnya.
i. Masukkan lagi batu-batu kali ke dalam sumuran tadi hingga ketinggiannya
bertambah 50 cm. Jangan lupa tuangkan lagi adukan beton di atas gundukan watu
kali tersebut. Demikian langkah-langah seterusnya hingga seluruh volume sumuran
terisi penuh oleh watu kali dan adukan beton.
j. Di bab atas pondasi sumuran ini, Anda sanggup melaksanakan pekerjaan
pembesian untuk menciptakan kolom bangunan.
2. Pekerjaan Pasir Urug
Metoda Pekerjaan
Permukaan tanah yang sudah digali diatasnya diberikan pasir urug, kemudian
dipadatkan dengan menggunakan alat stamper. Urugan pasir ini berfungsi untuk
menstabilkan permukaan tanah asli dan menyebarkan beban. Urugan Pasir dipadatkan
perlapis hingga mencapai ketebalan Urugan Pasir yang sesuai dengan gambar kerja
dan spesifikasi teknis .
3. Pekerjaan Pas. Pondasi Batu Bata 1 : 4
Metoda Pekerjaan
Sediakan bak yang diisi air untuk merendam batu bata yang akan dipasang (± 10 menit
)
Buat tarikan benang tiap ± 7 lapis bata.
Pemasangan kaso 5/7 di dua ujung lokasi secara tegak lurus
Tinggi pasangan bata maximum yang diperbolehkan terhadap sesuai dengan gambar
dan rencana dan syarat-syarat pekerjaan
sebelum pelaksanaan pasangan dimulai, pasangan batu bata sebaiknya disiram.
Tebal adukan pengikat tidak kurang dari 10 mm dan adukan harus padat sedemikian
rupa sehingga membentuk sambungan yang lurus.
Kemudian pekerja / Tukang memasang batu bata hingga menyusun seperti gambar
kerja dan direkat dengan adukan beton
Tukang memastikan susunan pasangan batu bata sejajar, kokoh dan rapi
20
Juru Ukur melakukan pengukuran agar pasangan bata terpasang dengan sejajar dan
Sesuai Bestek
4. Pekerjaan Urugan Kembali
Metoda Pekerjaan
Permukaan tanah yang sudah digali diatasnya diberikan pasir urug, kemudian
dipadatkan dengan menggunakan alat stamper. Urugan pasir ini berfungsi untuk
menstabilkan permukaan tanah asli dan menyebarkan beban. Urugan Pasir dipadatkan
perlapis hingga mencapai ketebalan Urugan Pasir yang sesuai dengan gambar kerja
dan spesifikasi teknis .
5. Pekerjaan Pondasi Tapak
1. Pekerjaan Galian Tanah
Metoda Pekerjaan
Setelah pekerjaan Pendahuluan dan pekerjaan pemancangan selesai dilakukan, hal
yang dilakukan selanjutnya yaitu pekerjaan galian tanah pondasi. Galian tanah pondasi
diperlukan untuk perletakan pondasi plat Pondasi batu Kali Dan Pondasi batu bata.
Pengalian dilakukan sesuai dengan gambar rencana pondasi dan telah mendapat
persetujuan dari pengawas. Bidang horizontal galian tanah harus mempunyai jarak
yang lebih besar dari lebar pondasi, hal ini berfungi untuk memungkinkan
pemasangannya, penopangan dan lain-lain. Kedalaman galian harus sesuai dengan
gambar rencana.
Tanah hasil galian ditumpuk ditempat yang telah ditentukan oleh pengawas, karena
tanah tersebut akan dipakai kembali.
2. Pekerjaan Pasir Urug
Metoda Pekerjaan
Permukaan tanah yang sudah digali diatasnya diberikan pasir urug, kemudian
dipadatkan dengan menggunakan alat stamper. Urugan pasir ini berfungsi untuk
menstabilkan permukaan tanah asli dan menyebarkan beban. Urugan Pasir dipadatkan
perlapis hingga mencapai ketebalan Urugan Pasir yang sesuai dengan gambar kerja
dan spesifikasi teknis .
21
3. Pekerjaan Pasangan Pondasi Tapak Uk. 100x100x30 cm
Metoda Pekerjaan
A. Pekerjaan persiapan
Pembuatan dan pengajuan gambar shop drawing pekerjaan pondasi
telapak.
Approval material yang akan digunakan.
Persiapan lahan kerja.
Persiapan material kerja, antara lain : semen PC, pasir, split, kaso, multiplek, besi
beton, kawat beton, paku, air, dll.
Persiapan alat bantu kerja, antara lain : theodolith, waterpass, meteran, bor listrik,
gunting besi, pembengkok besi, gergaji, unting-unting, benang, selang air, dll.
B. Pekerjaan Penulangan
Untuk pondasi telapak ini perakitan tulangan dilakukan di luar tempat pengecoran di
lokasi proyek agar setelah dirakit dapat langsung dipasang dan proses pembuatan
pondasi dapat berjalan lebih cepat.
Cara perakitan tulangan :
Mengukur panjang untuk masing-masing tipe tulangan yang dapat diketahui dari
ukuran pondasi telapak.
Mendesign bentuk atau dimensi dari tulangan pondasi setempat, dengan
memperhitungkan bentuk-bentuk tipe tulangan yang ada pada pondasi setempat
tersebut.
Merakit satu per satu bentuk dari tipe tulangan pondasi dengan kawat pengikat agar
kokoh dan tulangan tidak terlepas.
C. Pekerjaan pemasangan tulangan
Setelah merakit tulangan pondasi telapak maka untuk pemasangan tulangan dilakukan
dengan cara manual karena tulangan untuk pondasi setempat ini tidak terlalu berat dan
kedalaman pondasi ini juga tidak terlalu dalam.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemasangan tulangan:
Hasil rakitan tulangan dimasukan kedalam tanah galian dan diletakkan tegak turun
permukaan tanah dengan bantuan waterpass.
Rakitan tulangan ditempatkan tidak langsung bersentuhan dengan dasar tanah, jarak
antara tulangan dengan dasar tanah 40 mm, yaitu dengan menggunakan pengganjal
22
yang di buat dari batu kali disetiap ujung sisi/tepi tulangan bawah agar ada jarak antara
tulangan dan permukaan dasar tanah untuk melindungi/melapisi tulangan dengan
beton (selimut beton) dan tulangan tidak menjadi karat.
Setelah dipastikan rakitan tulangan benar-benar stabil, maka dapat langsung melakukan
Pengecoran.
D. Pekerjaan pemasangan bekisting
Bekisting adalah suatu konstruksi bantu yang bersifat sementara yang digunakan untuk
mencetak beton yang akan di cor, di dalamnya atau diatasnya.
Tahap-tahap pekerjaan bekisting :
Diasumsikan yang akan dibuat bekisting adalah bagian tiangnya untuk penyambungan
kolom sedangkan untuk pondasinya hanya diratakan dengancetok (sendok spesi).
Supaya pondasi beton yang dihasilkan tidak melengkung maka waktu membuat
bekisting, jarak sumbu tumpuan bekistingnya harus memenuhi persaratan tertentu.
Papan cetakan disusun secara rapih berdasarkan bentuk beton yang akan di cor.
Papan cetakan dibentuk dengan baik dan ditunjang dengan tiang agar tegak lurus
tidak miring dengan bantuan alat waterpass.
Papan cetakan tidak boleh bocor.
Papan-papan disambung dengan klem / penguat / penjepit.
Paku diantara papan secara berselang-seling dan tidak segaris agar tidak terjadi retak.
E. Pekerjaan pengecoran
Tahap-tahap pekerjan pengecoran pondasi telapak yaitu :
Sebelum melakukan pengecoran beton terlebih dahulu membuat Job Mix Formula
untuk menentukan komposisi campuran yang diperlukan sehingga didapatkan mutu
beton yang sesuai dengan yang diharapkan. Job Mix Formula yang telah dibuat
kontraktor diserahkan kepada direksi maupun pengawas lapangan untuk disetujui.
Pada proyek ini untuk pekerjaan struktur menggunakan beton Site Mix K 175.
Mempersiapkan bahan-bahan yang digunakan untuk pengecoran seperti: semen,
pasir, split, serta air dan juga peralatan yang akan digunakan untuk pengecoran.
3). Pengecoran beton dimulai setelah konsultan/direksi menyetujui untuk pengecoran
beton yang dinyatakan dalam permohonan pelaksanaan kerja.
23
Periksa kekuatan acuan yang sudah dipasang /difabrikasi, semua ukuran dan
perkuatan acuan diperiksa benar dan disahkan oleh konsultan/direksi untuk pekerjaan
selanjutnya.
Pasang sparing pipa-pipa mekanikal dan elektrikal yang melintas area pengecoran.
Bersihkan seluruh permukaan dan lokasi pengecoran dari kotoran dan sampah.
Tuang beton Site Mix K175 ke dalam area pengecoran, pada saat pengecoran adukan
beton diratakan dan dipadatkan dengan vibrator sehingga beton dapat padat dan
tidak ada sarang tawon.
Setelah melakukan pengecoran, maka pondasi setempat tersebut dibiarkan mengering
dan setelah mengering pondasi diurug dengan tanah urugan serta disisakan beberapa
cm untuk sambungan kolom.
4. Pekerjaan Urugan Kembali
Metoda Pekerjaan
Permukaan tanah yang sudah digali diatasnya diberikan pasir urug, kemudian
dipadatkan dengan menggunakan alat stamper. Urugan pasir ini berfungsi untuk
menstabilkan permukaan tanah asli dan menyebarkan beban. Urugan Pasir dipadatkan
perlapis hingga mencapai ketebalan Urugan Pasir yang sesuai dengan gambar kerja
dan spesifikasi teknis .
III. PEKERJAAN BETON BERTULANG
1. PEKERJAAN KOLOM
Metoda Pekerjaan
A. Lingkup Pekerjaan
Melakukan Perakitan besi, Pemasangan Bekisting dan Pengecoran Beton.
B. Persiapan Pekerjaan
Mengirim program kerja (workplan) termasuk metoda kerja, schedule, perlatan,
personil kerja dan gambar kerja yang akan digunakan, untuk memperoleh persetujuan
dari Konsultan sebelum pekerjaan
Memberitahu Konsultan secara tertulis paling sedikit 24 jam sebelum tanggal
dilakukannya pelaksanaan pekerjaan
Ruang Lingkup Pekerjaan adalah :
Pekerjaan pabrikasi Besi
24
Pekerjaan bekesting
Pekerjaan Instalasi besi Tulangan
Cor Beton K-175
C. Pengukuran
Surveyor melakukan pengukuran dengan alat ukur dan memberi tanda (marking)
untuk posisi titik perletakan kolom praktis beton bertulang.
D. Pekerjaan pembesian
Pembesian atau perakitan tulangan kolom dikerjakan ditempat lain yang lebih
nyaman.
Perakitan kolom harus sesuai dengan gambar kerja.
Selanjutnya adalah pemasangan tulangan utama, sebelum pemasangan sengkang,
terlebih dahulu dibuat tanda pada tulangan utama dengan kapur.
Selanjutnya adalah pemasangan sengkang, setiap pertemuan antara tulangan utama
dan sengkang diikat oleh kawat dengan system silang.
Setelah tulangan selesai dirakit, besi tulangan diangkut ke lokasi yang akan dipasang.
Setelah besi terpasang pada posisinya dan cukup kaku, lalu dipasang beton deking
sesuai ketentuan. Beton deking ini berfungsi sebagai selimut beton.
E. Pekerjaan Bekisting
Bekisting dipasang dalam 2 sisi, sisi depan dan sisi belakang, dan 4 sisi dipasang untuk
kolom struktur dipasang dengan multiplek 12mm sebagai bahan bekisting + tulangan
kayu kaso 4/6. .
Ukur bekisting menggunakan meteran agar mendapatkan hasil yang sesuai, setelah itu
kemudian letakkan bekisting pada tempat yang sudah ditentukan.
Bekisting diberikan skoor dari kayu reng 3/4 sebagai penguat tekanan saat coran
dituangkan, antar skoor diberi jarak sekitar 30cm dengan skoor lainnya.
Pemasangan skoor dapat menggunakan paku sebagai perekatnya, kemudian paku
dipakukan dengan menggunakan palu.
F. Berikut langkah-langkah dalam pekerjaan kolom beton
Menyiapkan Papan Bekisting, Besi Beton, dan cor K 175 untuk pekerjaan kolom beton.
25
Menyiapkan sepatu kolom yang ditarik garis lurusnya dari sloof. Fungsinya agar
bekisting tepat berada pada titik koordinatnya sesuai dengan gambar perencanaan.
Sepatu kolom biasanya menggunakan besi stek yang dibor pada lantai.
Melakukan perakitan besi tulangan sesuai dengan desain yang telah ditentukan.
Memasang bekisting kolom. Jangan lupa beton decking atau tahu beton penyangga
besi tulangan. Tujuan beton decking ini untuk menjaga jarak selimut beton agar tidak
berubah selama proses pengecoran.
Memasang sabuk sloof pada bekisting kolom untuk memperkuat. Ukuran sloof yang
digunakan relative sesuai dengan Soft Drawing. Untuk mengunci balok tersebut harus
menggunakan tie rod. Tie rod bisa buat sendiri dari kayu dan besi atau bisa membeli
barang jadi. Jika ingin membuat sendiri menggunakan as drat ukuran 10 mm, besi ulir
10 mm dan plat besi tebal 3-5 mm.
Memasang pipa support Untuk menjaga vertikaliti dari kolom terhadap sloof dan
balok.Untuk mendapatkan kolom struktur yang sempurna, bekisting tidak boleh
miring ataupun goyang saat pengecoran Oleh karena itu pemasangan pipa support
dinilai sangat penting.
Setelah kompenen bekisting dan besi serta celah bekisting dirapatkan dan
mendapatkan persetujuan dari direksi, maka dilakukanlah pengecoran beton sesuai
dengan jenis beton yang diinginkan. Untuk hasil pengecoran merata harus dibantu
dengan menggunakan alat concreate vibrator.
G. . Pekerjaan pembongkaran bekisting kolom
Setelah bentuk beton sudah stabil yaitu umur > 24 jam, maka bekisting kolom sudah
dapat dibongkar.
Pertama-tama, multiplek dipukul-pukul dengan menggunakan palu agar lekatan beton
pada multiplek dapat terlepas.
Kendorkan push pull (penyangga bekisting), lalu lepaskan push pull.
Kendorkan baut-baut/paku-paku yang ada pada bekisting kolom, sehingga
rangkaian/panel bekisting terlepas.
26
2. PEKERJAAN PASANGAN SLOOF
Metoda Pekerjaan
a. Lingkup Pekerjaan
Melakukan Perakitan besi, Pemasangan Bekisting dan Pengecoran Beton.
b. Persiapan Pekerjaan
Mengirim program kerja (workplan) termasuk metoda kerja, schedule, perlatan,
personil kerja dan gambar kerja yang akan digunakan, untuk memperoleh persetujuan
dari Konsultan sebelum pekerjaan
Memberitahu Konsultan secara tertulis paling sedikit 24 jam sebelum tanggal
dilakukannya pelaksanaan pekerjaan
Ruang Lingkup Pekerjaan adalah :
Pekerjaan pabrikasi Besi
Pekerjaan bekesting
Pekerjaan Instalasi besi Tulangan
Cor Beton K-175
c. Pengukuran
Surveyor melakukan pengukuran dengan alat ukur dan memberi tanda (marking) untuk
posisi titik perletakan sloof beton.
d. Pekerjaan pembesian
Pembesian dilakukan terpisah, jadi perakitan pembesian tidak dirakit pada area kerja
ring balok
Setelah semua peralatan tersedia pada lokasi yang jauh dari area kerja sloof,
selanjutnya pekerjaan pembesian siap dimulai.
Untuk Sloof, disiapkan 2 buah besi diameter 12 untuk bagian atas dan 2 buah besi
diameter 12 untuk bagian bawah.
Begel untuk sloof menggunakan besi diameter 8 dengan jarak antar begel 15 cm.
Kemudian begel diikatkan dengan kawat bendrat sebagai pengkakuan sloof, pengikatan
dibantu dengan tang gegep.
Setelah semua pembesian selesai, pastikan kembali posisi dan ukuran tiap komponen
pembesian sesuai, serta pastikan juga bahwa kawat beton telah terikat dengan
sempurna.
27
e. Pekerjaan Bekisting
Bekisting dipasang dalam dua sisi samping kiri kanan, dipasang dengan multiplek 12mm
sebagai bahan bekisting + tulangan kayu kaso 4/6. .
Ukur bekisting menggunakan meteran agar mendapatkan hasil yang sesuai, setelah itu
kemudian letakkan bekisting pada tempat yang sudah ditentukan.
Bekisting diberikan skoor dari kayu reng 3/4 sebagai penguat tekanan saat coran
dituangkan, antar skoor diberi jarak sekitar 30cm dengan skoor lainnya.
Pemasangan skoor dapat menggunakan paku sebagai perekatnya, kemudian paku
dipakukan dengan menggunakan palu.
f. Berikut langkah-langkah dalam pekerjaan sloof beton.
Menyiapkan Papan Bekisting, Besi Beton, dan cor beton K 175 untuk pekerjaan sloof
beton.
Menyiapkan sepatu kolom. Fungsinya agar bekisting tepat berada pada titik
koordinatnya sesuai dengan gambar perencanaan. Sepatu kolom biasanya
menggunakan besi stek yang dibor pada lantai.
Melakukan perakitan besi sesuai dengan soft drawing.
Memasang bekisting sloof seperti pada gambar di samping. Jangan lupa beton decking
atau tahu beton penyangga besi tulangan. Tujuan beton decking ini untuk menjaga
jarak selimut beton agar tidak berubah selama proses pengecoran.
Memasang sabuk sloof pada bekisting kolom untuk memperkuat. Ukuran sloof yang
digunakan relative sesuai dengan Soft Drawing. Untuk mengunci sloof tersebut harus
menggunakan tie rod. Tie rod bisa buat sendiri atau membeli jadi. Jika ingin membuat
sendiri menggunakan as drat ukuran 10 mm, besi ulir 10 mm dan plat besi tebal 3-5 mm.
Jarak sloof sangat tergantung dari jarak pasangan kolom. Apabila jarak kolom sekitar 3-4
m maka jumlah sabuk sloof 2 dengan jarak dibagi rata. Namun jika jarak kolom lebih dari
4 m maka menyesuaikan dengan prinsip semakin ke bawah jarak sabuk semakin pendek
karena bebannya lebih besar di bawah.
Memasang pipa support Untuk menjaga horizontal dari sloof terhadap kolom.Untuk
mendapatkan sloof struktur yang sempurna, bekisting tidak boleh miring ataupun goyang
saat pengecoran Oleh karena itu pemasangan pipa support dinilai sangat penting.
28
Setelah kompenen bekisting dan besi serta celah bekisting dirapatkan dan mendapatkan
persetujuan dari direksi, maka dilakukanlah pengecoran beton sesuai dengan jenis beton
yang diinginkan. Untuk hasil pengecoran merata harus dibantu dengan menggunakan
alat concreate vibrator.
g. Pekerjaan pembongkaran bekisting Sloof
Setelah beton berumur 28 hari (beton konvensional), sementara bekisting samping
(tidak menahan momen) dapat dibuka > 24 jam dimana bentuk beton sudah stabil.
Pertama-tama, multiplek dipukul-pukul dengan menggunakan palu agar lekatan beton
pada multiplek dapat terlepas.
Kendorkan push pull (penyangga bekisting), lalu lepaskan push pull.
Kendorkan baut-baut/paku-paku yang ada pada bekisting sloof, sehingga
rangkaian/panel bekisting terlepas.
3. PEKERJAAN PASANGAN BALOK
Metoda Pekerjaan
A. Lingkup Pekerjaan
Melakukan Perakitan besi, Pemasangan Bekisting dan Pengecoran Beton.
B. Persiapan Pekerjaan
Mengirim program kerja (workplan) termasuk metoda kerja, schedule, perlatan,
personil kerja dan gambar kerja yang akan digunakan, untuk memperoleh persetujuan
dari Konsultan sebelum pekerjaan
Memberitahu Konsultan secara tertulis paling sedikit 24 jam sebelum tanggal
dilakukannya pelaksanaan pekerjaan
Ruang Lingkup Pekerjaan adalah :
Pekerjaan pabrikasi Besi
Pekerjaan bekesting
Pekerjaan Instalasi besi Tulangan
Cor Beton K-175
29
C. Pengukuran
Surveyor melakukan pengukuran dengan alat ukur dan memberi tanda (marking)
untuk posisi titik perletakan Balok beton.
D. Pekerjaan pembesian
Pembesian dilakukan terpisah, jadi perakitan pembesian tidak dirakit pada area kerja
ring balok
Setelah semua peralatan tersedia pada lokasi yang jauh dari area kerja sloof,
selanjutnya pekerjaan pembesian siap dimulai.
Untuk balok, disiapkan 2 buah besi diameter 12 untuk bagian atas dan 2 buah besi
diameter 12 untuk bagian bawah.
Begel untuk balok menggunakan besi diameter 8 dengan jarak antar begel 15 cm.
Kemudian begel diikatkan dengan kawat bendrat sebagai pengkakuan sloof,
pengikatan dibantu dengan tang gegep.
Setelah semua pembesian selesai, pastikan kembali posisi dan ukuran tiap
komponen pembesian sesuai, serta pastikan juga bahwa kawat beton telah terikat
dengan sempurna.
E. Pekerjaan Bekisting
Bekisting dipasang dalam dua sisi samping kiri kanan, dipasang dengan multiplek 12mm
sebagai bahan bekisting + tulangan kayu kaso 4/6. .
Ukur bekisting menggunakan meteran agar mendapatkan hasil yang sesuai, setelah itu
kemudian letakkan bekisting pada tempat yang sudah ditentukan.
Bekisting diberikan skoor dari kayu reng 3/4 sebagai penguat tekanan saat coran
dituangkan, antar skoor diberi jarak sekitar 30cm dengan skoor lainnya.
Pemasangan skoor dapat menggunakan paku sebagai perekatnya, kemudian paku
dipakukan dengan menggunakan palu.
F. Berikut langkah-langkah dalam pekerjaan balok beton.
Setelah bekisting terpasang dengan baik, bekisting diolesi minyak bekisting kemudian
letakkan pembesian balok pada posisinya tepat didalam bekisting.
30
Pastikan pembesian telah terletak dengan sempurna pada posisinya didalam bekisting
dengan membuat tahu-tahu beton di bawah dan digantung kiri kanan bagian dalam
bekisting, dengan maksud mendapatkan selimut beton.
Pengecoran beton dilakukan menggunakan mutu beton K 175.
Setelah area siap, lakukan pengecoran beton dengan menuang adukan beton ke area
pengecoran, Penuangan beton dilakukan secara bertahap, hal ini dilakukan untuk
menghindari terjadinya segregasi yaitu pemisahan agregat yang dapat mengurangi
mutu beton. Selama proses pengecoran berlangsung pemadatan beton menggunakan
vibrator. Hal tersebut dilakukan untuk menghilangkan rongga-rongga udara serta untuk
mencapai kepadatan maksimal.
G. Pekerjaan pembongkaran bekisting balok
Setelah beton berumur 28 hari (beton konvensional), sementara bekisting samping
(tidak menahan momen) dapat dibuka > 24 jam dimana bentuk beton sudah stabil.
Pertama-tama, multiplek dipukul-pukul dengan menggunakan palu agar lekatan beton
pada multiplek dapat terlepas.
Kendorkan push pull (penyangga bekisting), lalu lepaskan push pull.
Kendorkan baut-baut/paku-paku yang ada pada bekisting sloof, sehingga
rangkaian/panel bekisting terlepas.
4. PEKERJAAN PASANGAN RING BALOK
Metoda Pekerjaan
A. Lingkup pekerjaan
Pekerjaan pembesian, pekerjaan bekisting dan pekerjaan pengecoran.
B. Pekerjaan persiapan
Pembuatan dan pengajuan shop drawing pekerjaan membuat ring balok beton
bertulang.
Approval material yang akan digunakan.
Persiapan material, antara lain: Portland cement, pasir, split, air, kaso, multiplek 12
mm, besi beton, kawat beton, dan paku.
31
Persiapan alat kerja, antara lain: theodolith ,concrete mixer, meteran, waterpass,
cangkul, talang cor, ember, sendok semen, raskam, benang, dan selang air.
C. Pengukuran
Surveyor melakukan pengukuran dengan theodolith dan memberi tanda (marking)
untuk posisi titik perletakan ring balok beton.
D. Pekerjaan pembesian
Pembesian dilakukan terpisah, jadi perakitan pembesian tidak dirakit pada area kerja
ring balok.
Setelah semua peralatan tersedia pada lokasi yang jauh dari area kerja ring balok,
selanjutnya pekerjaan pembesian siap dimulai.
Untuk ring balok, disiapkan 2 buah besi diameter 12 untuk bagian atas dan 2 buah
besi diameter 12 untuk bagian bawah.
Begel untuk ring balok menggunakan besi diameter 8 dengan jarak antar begel 15 cm.
Kemudian begel diikatkan dengan kawat bendrat sebagai pengkakuan ring balok,
pengikatan dibantu dengan tang gegep.
Setelah semua pembesian selesai, pastikan kembali posisi dan ukuran tiap komponen
pembesian sesuai, serta pastikan juga bahwa kawat beton telah terikat dengan
sempurna.
Pekerjaan Bekisting
Bekisting dipasang dalam 3 sisi dan dua sisi, sisi kanan, sisi kiri dan sisi bawah,
dipasang dengan multiplek 12mm sebagai bahan bekisting + tulangan kayu kaso 4/6. .
Ukur bekisting menggunakan meteran agar mendapatkan hasil yang sesuai, setelah itu
kemudian letakkan bekisting pada tempat yang sudah ditentukan.
Bekisting diberikan skoor dari kayu reng 3/4 sebagai penguat tekanan saat coran
dituangkan, antar skoor diberi jarak sekitar 30cm dengan skoor lainnya.
Pemasangan skoor dapat menggunakan paku sebagai perekatnya, kemudian paku
dipakukan dengan menggunakan palu.
E. Pekerjaan pengecoran
Setelah bekisting terpasang dengan baik, bekisting diolesi minyak bekisting kemudian
letakkan pembesian ring balok pada posisinya tepat didalam bekisting.
32
Pastikan pembesian telah terletak dengan sempurna pada posisinya didalam
bekisting dengan membuat tahu-tahu beton di bawah dan digantung kiri kanan
bagian dalam bekisting, dengan maksud mendapatkan selimut beton.
Pengecoran beton dilakukan menggunakan mutu beton K175.
Setelah area siap, lakukan pengecoran beton dengan menuang adukan beton ke area
pengecoran, Penuangan beton dilakukan secara bertahap, hal ini dilakukan untuk
menghindari terjadinya segregasi yaitu pemisahan agregat yang dapat mengurangI
mutu beton. Selama proses pengecoran berlangsung pemadatan beton
menggunakan vibrator. Hal tersebut dilakukan untuk menghilangkan rongga-rongga
udara serta untuk mencapai kepadatan maksimal.
F. Pekerjaan pembongkaran bekisting ring balok
Setelah beton berumur 28 hari (beton konvensional), sementara bekisting samping
(tidak menahan momen) dapat dibuka > 24 jam dimana bentuk beton sudah stabil..
Pertama-tama, multiplek dipukul-pukul dengan menggunakan palu agar lekatan
beton pada multiplek dapat terlepas.
Kendorkan push pull (penyangga bekisting), lalu lepaskan push pull.
Kendorkan baut-baut/paku-paku yang ada pada bekisting kolom praktis, sehingga
rangkaian/panel bekisting terlepas.
5. PEKERJAAN PASANGAN PLAT BETON
Metoda Pekerjaan
Pekerjaan pembesian, pekerjaan bekisting dan pekerjaan pengecoran.
Plat Beton Tebal 12 Cm
Plat Beton tebal 10 m
A. Lingkup pekerjaan
Adukan Beton yang Dibuat di tempat K 175
Adukan beton yang dibuat setempat untuk volume kecil, harus memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut :
33
1. Pelaksanaan penakaran semen dan agregat harus dengan kotak-kotak
takaran yang volumenya sama sesuai hasil trial mixes dan disetujui oleh
Konsultan.
2. Banyaknya air untuk campuran beton harus sesuai dengan trial mixes,
sedemikian rupa sehingga tercapai sifat kemudahan kerja (workability) yang
sesuai dengan penggunaannya.
3. Adukan beton dibuat dengan menggunakan mesin pengaduk beton
(concrete mixer), dimana tipe dan kapasitasnya harus mendapat
persetujuan Konsultan.
4. Kecepatan pengadukan harus tidak boleh melebihi kapasitas mesin
pengaduk.
5. Jumlah pengadukan beton tidak boleh melebihi kapasitas mesin pengaduk.
6. Lama pengadukan tidak kurang dari 5 (lima) menit kapasitas mesin
pengaduk.
7. Mesin pengadukan yang tidak dipakai lebih dari 30 (tiga puluh) menit harus
dibersihkan dulu dari sisa-sisa beton lama sebelum dimulainya adukan
beton baru.
B. Pengecoran Beton
1. Beton harus secepat mungkin dicorkan setelah pengadukan dan dilakukan
sedemikian rupa sehingga tidak terjadi pengendapan agregat maupun
bergesernya posisi tulangan atau acuan. Pengecoran harus dilaksanakan
secara kontiniu dalam satu elemen struktur atau diantara siar pelaksanaan
(construction joint) yang telah disetujui.
2. Pengecoran beton tidak dibenarkan untuk dimulai sebelum acuan/ bekisting
dan pemasangan baja tulangan selesai diperiksa dan mendapat persetujuan
Konsultan.
3. Sebelum pengecoran dimulai, maka tempat yang akan dicor harus terlebih
dahulu dibersihkan dari segala kotoran (potongan kayu, batu tanah dan lain-
lain) dan dibasahi dengan air semen.
4. Bila pengecoran dihentikan untuk kemudian dilanjutkan dalam waktu lebih
dari 24 (dua puluh empat) jam, atau bila dipandang perlu oleh Konsultan,
34
maka permukaan beton lama yang akan disambung harus terlebih dahulu
dibersihkan dan bila perlu dikasarkan dengan menyikat, atau dengan cara
lain bila betonnya sudah sangat mengeras, untuk kemudian disiram dengan
air semen dan selanjutnya baru dicor dengan beton baru.
Tempat dimana pengecoran akan dihentikan harus mendapat persetujuan
dari Konsultan.
C. Pemadatan Beton
a. Selama pengecoran berlangsung, beton harus dipadatkan dengan memakai
vibrator, yang dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak merusak acuan
maupun posisi tulangan. Penyedia Jasa/ Kontraktor harus menyediakan
vibrator dalam jumlah yang cukup untuk menjamin efisiensi pekerjaan
tanpa adanya penundaan.
Pemadatan beton secara berlebihan sehingga menyebabkan pengendapan
agregat, kebocoran acuan dan lain sebagainya, harus dihindari.
b. Beton pada umumnya dicor secara berlapis. Masing-masing lapisan ini harus
dipadatkan dan harus dijaga sedemikian rupa agar mempunyai ikatan yang
baik satu sama lain.
D. Pembengkokan dan Penyetelan Baja Tulangan
1. Sebelum penyetelan dan pemasangan baja tulangan dimulai, Penyedia Jasa/
Kontraktor harus membuat rencana kerja pemotongan dan pembengkokan
baja tulangan (bar bending schedule), yang sebelumnya harus diserahkan
kepada Konsultan untuk mendapatkan persetujuan.
2. Tulangan harus bebas dari kotoran-kotoran seperti lemak, karet lepas,
tanah, serta bahan-bahan atau kotoran yang bisa mengurangi daya
lekatnya.
3. Pembengkokan baja tulangan harus dilakukan secara hati-hati dan teliti,
sesuai dengan aturan dalam SNI. Pembengkokan tersebut harus dilakukan
oleh tenaga yang ahli, dengan mengunakan alat-alat sedemikian rupa
sehingga tidak menimbulkan cacat, patah dan retak-retak pada batang baja.
4. Pemasangan dan penyetelan tulangan harus berdasarkan peil-peil yang
sesuai dengan gambar dan sudah diperhitungkan mengenai toleransi
35
penurunannya. Pemasangan dilakukan dengan menggunakan pengganjal
jarak selimut beton (beton decking) untuk mendapatkan tebal selimut yang
sesuai dengan gambar. Apabila hal tersebut tidak tercantum di dalam
gambar atau dalam spesifikasi, maka dapat digunakan ketentuan dalam
peraturan yang berlaku.
5. Tulangan harus dipasang sedemikian rupa sehingga sebelum dan selama
pengecoran tidak akan berubah tempatnya.
6. Ketebalan selimut beton harus dibuat dengan pengganjal yang umum
dipakai dalam praktek, seperti terbuat dari beton (dengan mutu paling
sedikit sama dengan beton mutu beton yang akan dicor), dengan jumlah
minimum 4 (empat) buah setiap m² cetakan atau lantai kerja, atau seperti
yang diinstruksikan oleh Konsultan, dan tersebar merata.
E. Acuan Pengecoran Beton
1. Untuk elemen struktur yang lainnya, acuan dapat dibuat dari pelat baja,
atau kayu dan multipleks/ tripleks, atau bahan lain yang disetujui Konsultan
serta mempunyai permukaan yang baik untuk pekerjaan finishing pada
bagian yang berada di atas permukaan tanah.
Penyedia Jasa/ Kontraktor harus memberikan contoh dan perhitungan
kekuatan bahan yang akan dipakai untuk acuan, untuk disetujui oleh
Konsultan.
2. Acuan harus dipasang sesuai dengan ukuran-ukuran jadi yang ada di dalam
gambar dan menjamin bahwa ukuran-ukuran tersebut tidak akan berubah
sebelum dan selama pengecoran. Acuan juga harus dipasang sedemikian
rupa sehingga tidak akan terjadi kebocoran atau hilangnya air selama
pengecoran.
3. Acuan harus dibersihkan dari segala kotoran yang melekat seperti potongan
kayu, paku, serbuk gergaji, tanah, dan sebagainya yang dapat mengurangi
mutu beton atau merusak beton yang sudah mengeras pada waktu
pembongkaran acuan.
36
4. Acuan harus kokoh dan cukup rapat sehingga dapat mencegah kebocoran
adukan. Acuan harus diberi ikatan-ikatan secukupnya sehingga terjamin
kedudukan dan bentuknya yang tetap. Acuan harus dibuat dari bahan yang
baik, tidak menyerap air, dan mudah dibongkar tanpa merusak beton yang
sudah mengeras.
Untuk menjamin bahwa air beton tidak diserap sebagian oleh bahan acuan,
maka acuan bisa dilapisi dengan plastik atau bahan sejenisnya.
5. Acuan beton harus menghasilkan konstruksi akhir yang mempunyai bentuk
ukuran dan batas-batas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar
rencana, acuan harus dipasang sedemikian rupa sehingga membentuk
seperti tertera pada gambar rencana.
6. Apabila acuan memikul beban-beban yang besar atau mempunyai bentang
bebas yang besar, maka Penyedia Jasa/ Kontraktor harus membuat
perhitungan dan gambar rencana yang khusus. Disamping kekuatan dan
kekakuannya, stabilitas dari acuan juga harus diperhitungkan dengan baik.
7. Tiang-tiang acuan dari besi atau kayu harus dipasang di atas papan kayu
yang kokoh dan harus dapat disetel dengan mudah dan dengan ketepatan
yang baik. Tiang tidak boleh mempunyai lebih dari satu sambungan yang
tidak disokong ke arah samping. Bambu tidak boleh digunakan sebagai tiang
acuan.
F. Pembongkaran Acuan
1. Pembongkaran acuan harus dilaporkan dan mendapatkan persetujuan
Konsultan, serta dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sebelum
pembongkaran, Penyedia Jasa/ Kontraktor harus meyakini bahwa bagian-
bagian konstruksi yang akan dibongkar acuannya sudah dapat memikul
berat sendiri dan beban-beban pelaksanaan.
2. Apabila setelah acuan dibongkar ternyata terdapat bagian-bagian beton
yang keropos atau cacat lainnya, yang akan mempengaruhi kekuatan
konstruksi tersebut, maka Penyedia Jasa/ Kontraktor harus segera
memberitahukan kepada Konsultan, untuk meminta persetujuan Konsultan
37
mengenai cara pengisian atau penutupannya. Semua resiko yang terjadi
sebagai akibat pekerjaan tersebut menjadi tanggungan Penyedia Jasa/
Kontraktor.
3. Bila beton yang keropos atau cacat tersebut diragukan mutunya, maka
Konsultan berhak untuk meminta Penyedia Jasa/ Kontraktor melaksanakan
uji coba non destruktif seperti Ultrasonic Pulse Velocity Test, atau Hammer
Test, atau kalau dianggap perlu, mengadakan pengujian dengan melakukan
core drilling pada bagian beton yang benda ujinya gagal memenuhi syarat
spesifikasi. Dalam hal ini, coring beton harus dilakukan oleh tenaga ahli yang
berpengalaman agar bisa didapat hasil coring yang baik, serta jika persiapan
dan pemotongan benda uji (hasil coring) yang memenuhi syarat, bisa
mendapatkan hasil uji mutu beton yang obyektif.
4. Acuan hanya boleh dibongkar apabila bagian konstruksi yang ditopangnya
telah mencapai umur dan kekuatan yang cukup untuk memikul berat sendiri
dan beban-beban pelaksanaan yang akan bekerja padanya. Kekuatan ini
harus ditunjukan dengan hasil pemeriksaan benda uji yang bersangkutan.
Apabila untuk menentukan saat pembongkaran tidak dibuat benda-benda
uji seperti ditentukan diatas, maka acuan baru boleh dibongkar setelah
beton berumur minimal 2 (dua) minggu. Khusus untuk cetakan samping
boleh dibongkar setelah beton berumur minimal 5 (lima) hari, kecuali bila
dapat dibuktikan sebaliknya atau bila diijinkan oleh Konsultan.
5. Pada bagian konstruksi yang akibat pembongkaran acuan bekerja beban
yang lebih besar dari pada beban rencana, cetakan dan acuannya tidak
boleh dibongkar selama keadaan demikian masih berlangsung.
Pembongkaran cetakan dan acuan dari bagian konstruksi yang akan
memikul secara langsung seluruh atau bagian besar beban rencana, harus
dilakukan dengan hati-hati.
38
IV. PEKERJAAN DINDING
A. Pekerjaan Dinding
1. Pekerjaan Pas. Dinding Bata sp. 1:4 Tebal 1/2 bata
Metode Pekerjaan
Pertama dilakukan persiapan dengan cara membersihkan area yang akan dipasang
dinding bata merah, menghitung volume pekerjaan dan kebutuhan material yang
dibutuhkan.
Buat marking jalur-jalur dinding dua sisi setelah dinding dan dibuat tanda posisi
kolom praktis, ring balok, dan lubang kusen.
Bata merah direndam dulu (sampai gelembung udaranya hilang) sebelum dipakai
untuk mengurangi penyerapan air.
Memasang bata merah pada jalur marking serta jalur benang acuan yang telah
dipasang pada profil kayu pada ujung jalur dinding lapis demi lapis sampai setinggi 1
m dengan menggunakan adukan 1 pc : 4 ps Pada pelaksanaannya, adukan semen
pasir tersebut diaplikasikan secara merata ke permukaan bata merah.
Kemudian bata merah disusun di atas adukan mortar tersebut sambil terus diperiksa
kerataan pasangannya. Kemudian bata merah dipukul perlahan sampai mencapai
elevasi yang diinginkan.
Setelah tinggi pasangan bata merah mencapai 1 m kemudian dilanjutkan dengan cor
beton kolom praktis.
Periksa kelurusan serta vertikal pasangan bata merah, apabila sudah benar dan
sesuai dengan yang diinginkan maka lanjutkan pemasangan sampai dengan tinggi
maksimum 1 m, kemudian periksa lagi kelurusan dan vertikalnya, setelah itu
dilanjutkan cor kolom praktis dan dilanjutkan pemasangan bata merah sampai
elevasi yang ditentukan dan cor kolom praktis sampai elevasi sesuai gambar
2. Pekerjaan Pas. Plesteran 1PC : 4 Pasir dan Acian
Metode Pekerjaan
a. Persiapan
Pembuatan dan pengajuan gambar shop drawing pekerjaan plesteran dan acian.
Approval material yang akan digunakan.
Persiapan lahan kerja.
39
Persiapan material kerja, antara lain : semen PC, pasir pasang dan air.
Persiapan alat bantu kerja, antara lain : waterpass, meteran, unting-unting, jidar,
raskam, benang, kertas gosok, dll.
b. Pelaksanaan
Plesteran biasa menggunakan adukan 1 PC : 4
Pekerjaan plesteran dinding harus tepat pada sudut sikunya serta tegak lurus terhadap
lantai yang ada di sekitarnya, permukaan rata tidak bergelombang.
Tentuikan dahulu titik/jalur pemasangan pekerjaan mekanikal dan elektrikal.
Sebelum diplester, lakukan penyiraman/curring terlebih dahulu pada permukaan
dinding bata untuk menghindarkan keretakan.
Buat adukan untuk plesteran dinding bata.
Buat kepalaan plesteran dengan jarak sekitar 1 m dan lebar 5 cm, dengan alat bantu
unting-unting untuk loting, waterpass dan jidar alumunium.
Lekatkan adukan plesteran pada permukaan dinding sekityarnya, kemudian ratakan
dengan raskam dan jidar.
Perataan plesteran dengan acuan kepalaan yang telah dibuat.
Acian dapat dilaksanakan setelah permukaan plesteran sudah kering (cukup umur).
Permukaan plesteran sebelum di aci telebih dahulu disiram air. Untuk memperoleh
hasil acian yang halus, setelah plesteran diberi lapisan acian semen, permukaan acian
sebelum mengering digosok dengan menggunakan kertas gosok
3. Pekerjaan Pemasangan ACP ( Seven )
Metode Pekerjaan
- Pemotongan Aluminium Composite
i. Pemotongan ACP harus sesuai dengan pola/motif yang telah disetujui
oleh konsultan
ii. Dalam pemotongan ACP Perforasi motif kerawang, kontraktor terlebih
dahulu memberikan detail motif yang akan dilakukan pemotongan dan
di approval oleh konsultan
40
iii. Kontrakor telebih dahulu membuat moke up dan di approval oleh
konsultan
iv. Segala material waste dan moke up akibat permintaan pola
pemotongan oleh konsultan menjadi tanggung jawab kontaktor
- Pemasangan Aluminium Composite
i. Rangka hollow 40 x 40 yang digunakan dalam pemasangan aluminum
composite harus ditempelkan pada area structural dengan sistem
pengelasan atau dynabolt apabila menempel pada area struktur beton
bertulang
ii. Pekerja yang digunakan dalam pemasangan aluminium komposit harus
memiliki pengalaman dalam pekerjaan yang sama.
4. Pekerjaan Ukiran GRC
Metode Pekerjaan
Proses pembuatan GRC merupakan hal yang paling penting dalam memberi kepuasan
kepada konsumen dengan memproduksi GRC dengan kualitas yang terbaik. Kualitas adalah
hal yang sangat inti dalam suatu produk, jika kualitas kurang bagus maka akan membuat
konsumen kecewa, nah hal itu yang tidak diinginkan oleh kami. Kualitas yang baik diperoleh
dengan proses yang sangat hati-hati dan teliti dalam pembuatan dan adanya
pengecekan/pengontrolan disetiap tahapan proses atau dibutuhkan quality control sampai
produk GRC ini diserahkan ke konsumen. Karena kualitas inilah yang akan mempengaruhi
harga produk GRC, dan kualitas yang bagus akan memberikan kepuasan tersendiri bagi kami
dan konsumen.
1. Proses desain
Tahapan ini merupakan tahapan paling awal dari proses pembuatan. Desain yang dibuat
merupakan acuan awal dalammembentuk produk GRC yang akan disesuaikan dengan
permintaan dan kebutuhan dari konsumen. Proses desain itudensiri meliputi beberapa
tahapan seperti:
a. Brainstorming
41
b. Propose
c. ACC konsumen
d. Desain fix
2. Pembuatan mal acuan
Desain GRC yang telah fix kemudian dilanjutkan dengan tahap pembuatan mal aplikasi
(skala 1:1) yang nantinya akan dijadikan acuan pembuatan master prototype. Mal acuan ini
harus dibuat semaksimal mungkin persis dan akurat dengan desain yang sudah ada untuk
memudahkan dalam proses produksi GRC. Hal ini akan sangat mempengaruhi kemudahan
proses instalasi GRC nantinya.
3. Master prototype
Selanjutnya setelah mal acuan dibuat masuk pada proses pembuatan master prototype.
Sebenarnya master prototype ini bisa jadi diperlukan ataupun tidak, tergantung dari jumlah
hasil moulding yang diperlukan, sehingga proses ini dapat dikategorikan tidak wajib dalam
pembutaan produk GRC.
4. Moulding Moulding
GRC merupakan tahapan yang paling crusial dalam mendapatkan kualitas produk GRC yang
dibuat. Moulding GRC merupakan istilah lain dari cetakan negative dari sebuah produk GRC.
Biasanya moulding GRC ini dibuat dengan teknik repro dan cetak rusak. Cetakan repro
bertujuan untuk membuat cetakan masal yang berulang pada satu moulding (produksi),
sedangkan cetak rusak hanya dapat digunakan sekali produksi saja.
5. Produksi
Teknik produksi GRC ada beberapa macam antara lain sprying (teknik semprot menggunkan
mesin GRC) dan casting/premik (teknik cetak tuang, baik manual atau menggunakan mesin)
6. Finishing akhir
Fnishing akhir bertujuan untuk meneliti dan merevisi jika ada yang diperlukan, misalnya
saat melepas produk GRC dari cetakan setelah proses produksi GRC terdapat kekurangan
42
seperti kurang halus atau sedikit berpori pada permukaan produk, dapat diperbaiki. Dengan
kata lain prose finishing adalah proses penyempurnaan produk pada tahap akhir produksi.
7. Curing
Proses curing adalah proses pengeringan produk GRC. Proses ini memerlukan tempat
dengan sirkulasi udara yang baik. Agar tingkat kematangan/pengeringan bisa maksimal,
proses ini normalnya membutuhkan waktu minimal satu minggu masa curing.
V. PEKERJAAN KUZEN, PINTU, VENTILASI, DAN PARTISI
1. Pemasangan Kuzen Aluminium
Metode Pekerjaan
a. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Penyedia Jasa/ Kontraktor diwajibkan untuk
meneliti gambar, kondisi di lapangan (ukuran dan lubang-lubang), termasuk
mempelajari bentuk, pola, layout /penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan
detail-detail sesuai gambar.
b. Kusen yang terpasang harus sesuai petunjuk gambar dan diperhatikan ukuran,
bentuk profil, type kusen dan arah pembukaan pintu/ jendela.
c. Detail kusen dan sambungan dengan material lain harus disesuaikan dengan type
pintu/ jendela yang akan terpasang.
d. Penyedia Jasa/ Kontraktor Pelaksana harus membuat Gambar Detail Pelaksanaan
(Shop Drawing) dan disetujui oleh Konsultan, yang menjelaskan :
– Dimensi dan bentuk jendela/pintu yang akan dipasang.
– Detail pemasangan.
– Detail pertemuan aluminium dengan komponen lain yang berhubungan.
– Kelengkapan ukuran-ukuran.
e. Fabrikasi Dan Assembling
– Proses fabrikasi dan assembling harus berdasarkan data di shop drawing yang
sudah disetujui Konsultan.
– Dimensi kaca sudah mempertimbangan untuk pegangan kaca ke dalam cerukan,
dan muai susut kaca. Bagian pegangan adalah dua sisi yang paling panjang, ukuran
43
kaca dilebihkan 0,5cm untuk masing-masing sisi, sedangkan untuk sisi yang pendek
hanya menempel saja di bidang pemasangan dikurangi 0,5cm masing-masing sisi
dan diisi sealant.
– Tepi kaca yang dipotong/dilubangi dari pabrik/workshop sudah dirapikan dan
dipoles agar halus, transparan, bebas dari bintik-bintik cerah kaca dan lebih presisi
saat pemasangan.
– Tepi kaca untuk pintu frameless diberi finishing bevel lengkung.
– Sealant diaplikasikan pada sambungan-sambungan jendela kaca.
– Standar toleransi assembling dijelaskan dalam table berikut :
No. Keterangan Toleransi
1. Bergesernya pemasangan kunci/engsel dan hardware ± 3 mm’
lain dari tempat yang ditentukan.
2. Gap (celah) antar sambungan kaca (vertikal dan ≤ 5 mm’
horizontal)
3. Gap (celah) antar sambungan bahan tahan air (gasket) ≤ 3 mm’
4. Perbedaan ukuran dalam ± 1.5 mm’
5. Perbedaan ukuran dalam, dari jendela yang ≤ 2 mm’
bersebelahan
6. Sealant sesuai shop
drawing
2. Pemasangan dinding Partisi
Dinding adalah suatu struktur padat yang membatasi dan kadang melindungi suatu area.
Umumnya, dinding membatasi suatu bangunan dan menyokong struktur lainnya,
membatasi ruang dalam bangunan menjadi ruangan-ruangan, atau melindungi atau
membatasi suatu ruang di alam terbuka. Tiga jenis utama dinding struktural adalah dinding
bangunan, dinding pembatas (boundary), serta dinding penahan (retaining).
Job sheet dinding kayu (terlampir)
44
Menyiapkan peralatan tangan (bukan mesin) antara lain: obeng, tang, mistar rol baja, siku,
pensil, pahat, palu besi, palu kayu, gergaji besi, gergaji potong, gergaji belah, unting-unting,
waterpass, benang lott, dll. Semuanya dimasukkan dalam kotak perkakas yang terbuat dari
papan kayu.
Menyiapkan mesin-mesin portable antara lain: mesin bor, mesin grenda, mesin ketam,
mesin gergaji, mesin ampelas, mesin router, kabel rol, dll. Semuanya dimasukkan dalam
kotak perkakas yang terbuat dari papan kayu.
Untuk membuat rangka dinding kayu digunakan balok kayu ukuran 5/10-400.
Dipergunakannya balok kayu ukuran 5/10 karena rangka dinding kayu tidak menerima
beban berat, tetapi hanya merupakan balok perangkai (kelam).
Kayu ukuran usuk 5/10 cukup murah harganya dibandingkan kayu yang lebih besar
ukurannya tetapi konstruksinya cukup kokoh menerima beban yang diterimanya. Sedang
jumlahnya dipasaran/toko-toko kayu sangat mudah didapat.
Namun demikian harus dicari kayu yang cukup kuat tetapi awet, misalnya kayu jenis
kamper, merbau, bengkirai, kempas, laban, dan lain sebagainya. Selain cukup awet dan kuat
pengerjaanya juga tidak terlalu sukar. Selain itu juga syarat-syarat fisik kayu juga harus
diperhatikan antara lain:
a. Kayu sebaiknya lurus(tidak terlalu melengkung)
b. Ukuran penampang kayu dari ujung yang satu ke ujung yang lain hampir sama
c. Tidak terdapat kayu muda/kowal/gubal
d. Tidak terdapat retak-retak pada sepanjang kayu
e. .Kayu kering udara (tidak terlalu basah)
f. Kayu tidak lapuk/tidak kena rayap/tidak kena jamur.
Pembuatan rangka kayu juga harus memenuhi persyaratan teknik konstruksi dan ekonomis.
Antara lain:
a. Secara ekonomis penggunaan ukuran kayu maupun jumlah kayu cukup hemat, tetapi
dari segi teknis kekuatan/kekakuan konstruksinya cukup kuat.
b. Kayu sedikit mungkin dibuang/dicoak/ditakik, agar tidak mengurangi kekuatan kayu.
c. Hubugan antara balok yang satu dengan yang lain menggunakan pen dan lubang
dengan tebal purus 1/3 lebar kayu.
d. Rangka dinding kayu meupakan satu kesatuan (modul) yang dipasang pada sisi
dalam di antara 2 tiang utama sisi kanan dan kiri dan 2 balok utama (gelagar) sisi atas
dan bawah.
e. Pemasanagan rangka kayu dinding kayu mempunyai jarak bersih 3,7m terhadap sisi
dalam tiang utama dan tinggi rangka dinding mempunya ukuran tinggi bersih 3m.
45
f. Pemasangan rangka kayu mempunyai jarak 2,7cm terhadap sisi luar tiang utama
(direncanakan sesuai dengan tebal dinding kayu setebal kurang lebih 2,7cm).
sehingga jika dinding kayunya akan kelihatan rata dan rapih.
g. Pemasangan antara rangka dinding kayu dengan tiang utamadan balok utama
dengan menggungakan paku sekrup kepala segi enam panjang 3”. Hal ini
memudahkan pemasangannya dan jika dikehendaki dibongkar atau dilepas lagi
dengan mudah. Sudut-sudut pada kerangka harus betul-betul siku (90 derajat) dan
posisi tiang utama harus betul-betul vertical (dilot).
h. Konstruksi dinding rangka tersusun adalah konstruksi yang disusun setingkat demi
setingkat. Konstruksi rangka tersusun biasa dipasang terbuka atau dilapisi dengan
papan. Kalau konstruksi rangka tersusun masih terbuka, penempatan tiang-tiang,
palang-palang dan kuda-kuda penopang tidak hanya menurut perhitungan statika
melainkan juga menurut keindahan bangunan.
pemasangan dindind partisi gypsum Berikut ini adalah ke-13 tahapannya:
1. Tahapan yang pertama adalah membersihkan area pemasangan, mulai dari
membereskan semua perabot dan barang supaya Anda leluasa dalam melakukan
pekerjaan.
2. Ukur antara lebar dan tinggi dari ruangan, kemudian tandai dengan titik-titik pada
lantai maupun dinding tempat yang akan dipasang dengan partisi gypsum. Tentunya
sesuai dengan desain yang sudah Anda buat.
3. Selanjutnya, potong rangka disesuaikan tinggi maupun lebarnya, sesuaikan dengan
jarak ideal yaitu (60×60 cm).
4. Kemudian pasang rangka tersebut sesuai dengan tanda titik yang telah Anda buat tadi.
Pastikan agar posisinya tetap tegak lurus.
5. Selanjutnya, pasang papan gypsum di salah satu sisi dari rangka tersebut.
6. Untuk memperkuat, gunakan sekrup gypsum ya! jangan lupa juga untuk periksa
permukaannya menggunakan waterpass.
7. Langkah selanjutnya, pasang papan gypsum lagi pada kedua sisi rangka secara teratur,
dimulai dari salah satu sisinya.
8. Kemudian Anda dapat memasang instalasi listrik, telepon, atau kelengkapan lainnya.
Jika Anda ingin ruangan Anda bisa kedap udara, Anda bisa pasang juga material
peredam.
9. Rapikan kabel-kabel instalasi dengan cara mengikatnya.
46
10. Setelah selesai proses instalasi, Anda dapat memasang papan gypsum di sisi
sebaliknya. Sehingga, instalasi tersebut akan tertutupi dengan papan gypsum.
11. Setelah itu, tempel dan rekatkan textile tap pada setiap sambungan antara gypsum 1
dengan gypsum lainnya, gunakan juga compound pada sambungan tersebut di bagian
kepala sekrup gypsum.
12. Setelah itu, haluskan bagian-bagian tersebut menggunakan amplas.
13. Tahap finishing bisa Anda lakukan dengan menggunakan cat atau bahan pelapis
lainnya.
VI. PEKERJAAN KAP ATAP
1. Pekerjaan Kuda Kuda Kayu
Metode Pekerjaan
Bahan:
- Untuk Kuda-kuda digunakan kayu kelas II ukuran sesuai gambar.
- Untuk Gording digunakan kayu kelas II ukuran sesuai gambar.
1. Pekerjaan kuda-kuda yang dimaksud adalah pekerjaan membuat :
- Rangka kuda-kuda, gording dan nok
- Rangka atap
2. Kuda-kuda mengunakan kayu kelas II . Ukuran kuda-kuda diambil kemiringan sebesar
30 ( tiga puluh derajat ) atau di sesuaikan gambar . Sebagai pengikat antar kuda-kuda
digunakan silang angin dan ikatan gempa.
3. Untuk pekerjaan rangka atap dibuat dari kayu kelas II yang kering dan berkualitas
baik, pada setiap sambungan atau pen harus dicat dengan meni kayu.
4. Ukuran kayu untuk kuda-kuda, gording, balok nok, papan ruiter di sesuaikan dengan
gambar kerja.
5. Untuk pekerjaan papan listplank tumpang sari dipergunakan kayu kelas III yang ker
ing dan berkualitas baik dengan ukuran yang di sesuaikan dengan gambar .
6. Untuk mengamankan kayu gording, nok dan konstruksi kayu bagian atas bangunan
dari serangan rayap, semua kayu tersebut di labur atau di rendam pada bak
penampungan dengan bahan residu. Kontraktor harus memberikan contoh terlebih
47
dahulu sebelum mendatangkan material tersebut untuk mendapatkan persetujuan
terlebih dahulu dari Konsultan Pengawas.
7. Dalam pemasangannya harus diperhatikan benar -benar dan dipasang sedemikian
rupa agar jangan sampai terlihat bergelombang dan alurnya tidak lurus , yang
mengakibatkan kelihatan tidak estetika
8. Bubungan agar dibersihkan terlebih dahulu dan dimal dengan di tarik benang antara
ujung dengan ujungnya agar permukaan menjadi lurus .
9. Untuk mengamankan kayu gording, nok dan konstruksi kayu bagian atas bangunan
dari serangan rayap, semua kayu tersebut di labur atau di rendam pada bak
penampungan dengan bahan residu.
2. Pekerjaan Atap Spandek Warna T = 25 MM
Metode Pekerjaan
Bahan:
Atap Spandek
Persiapan
Sebelum memulai pemasangan spandek, pastikan Anda memiliki peralatan dan
perlengkapan yang dibutuhkan seperti palu, gergaji, obeng, bor, penggaris, dan alat
penyangga. Pastikan juga area pemasangan sudah bersih dan rata serta telah dilakukan
pengukuran secara teliti untuk memastikan ukuran spandek yang diperlukan.
Pemasangan rangka atap
Rangka atap harus dipasang terlebih dahulu sebelum pemasangan spandek. Pastikan rangka
atap sudah terpasang dengan kuat dan benar serta telah dilakukan pengukuran untuk
menentukan jarak antar rangka. Pastikan juga atap sudah rata dan tidak membentuk sudut
yang tajam.
Pemasangan spandek
Spandek harus dipasang dari arah bawah ke atas. Pastikan spandek telah dipotong sesuai
dengan ukuran yang dibutuhkan dan dibawa ke atap dengan hati-hati agar tidak tergores
atau rusak. Letakkan spandek di atas rangka atap dan pastikan spandek sudah benar-benar
rata.
48
Pemasangan sekrup
Sekrup harus dipasang dengan tepat dan pada tempat yang benar. Pasang sekrup pada
bagian atas spandek dan pasangkan pada bagian bawah rangka atap. Pastikan jarak antar
sekrup sesuai dengan spesifikasi spandek yang digunakan dan pastikan sekrup benar-benar
menempel pada rangka atap.
Pemotongan spandek
Spandek harus dipotong pada bagian ujung yang tidak terpasang pada rangka atap. Gunakan
gergaji atau gunting spandek untuk memotong spandek dan pastikan potongan spandek
sudah rata dan tidak membentuk sudut tajam yang dapat membahayakan pengguna.
Penyelesaian pemasangan
Pastikan semua spandek telah terpasang dengan benar dan kuat. Cek kembali posisi sekrup
dan spandek apakah sudah terpasang dengan benar dan tidak ada yang kendor. Setelah
selesai, pastikan semua alat dan bahan telah dibersihkan dan diatur dengan rapi.
Dalam melakukan pemasangan spandek, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar
proses pemasangan berjalan dengan lancar dan aman. Pastikan selalu menggunakan alat
pengaman seperti helm dan sepatu bot, serta pastikan rangka atap kuat dan stabil. Jangan
lupa untuk memeriksa spandek secara berkala dan melakukan perbaikan jika diperlukan.
Dengan melakukan pemasangan spandek dengan benar dan tepat, Anda dapat memastikan
bahwa atap Anda aman, kokoh, dan tahan lama.
VII. PEKERJAAN LANTAI DAN PENUTUP DINDING
1. Pekerjaan Tanah Timbunan
Metode Pekerjaan
a. Meyiapan Tempat Kerja
Sebelum penghamparan timbunan pada setiap tempat, semua bahan yang tidak
diperlukan harus dibuang sebagaimana diperintahkan oleh direksi pekerjaan.
Kecuali untuk derah tanah lunak atau tanah yang tidak dapat dipadatkan atau tanah
rawa, dasar pondasi timbunan harus dipadatkan seluruhnya (termasuk
49
penggemburan dan penggeringan atau pembasahan bila diperlukan) sampai 15 cm
bagian permukaan atas dasar atas pondasi memenuhi kepadatan yang disyaratkan.
Bilamana timbunan akan dibangun atas permukaan tanah dengan kelandaian lereng
lebih dari 10%, ditempatkan diatas permukaan lama atau pembagunan timbunan
baru, maka lereng lama akan dipotong sampai tanah yang keras dan bertangga
dengan lebar yang cukup sehingga memungkinkan perlaratan pemadat dapat
beroperasi. tangga-tangga tersebut tidak boleh mempunyai kelandaian lebih dari 4%
dan harus dibuatkan sedemikian dengan jarak vertikal tidak lebih dari 30 cm untuk
kelandaian yang kurang dari 15% dan tidak lebih dari 60 cm untuk kelandaiannya
yang sama atau lebih besar dari 15%.
Dasar saluran yang ditimbun harus diratakan dan dilebarkan sedemikian hingga
memungkinkan pengoperasian peralatan pemadat yang efektif.
b. Penghamparan Timbunan
Timbunan harus ditempatkan ke permukaan yang telah disiapkan dan disebar dalam
lapisan yang merata yang bila di padatkan akan memenuhi toleransi tebal yang
disyaratkan. Bilamana timbunan dihampar lebih dari satu lapis, lapisan-lapisan
tersebut sedapat mungkin di bagi rata sehingga sama tebal.
Tanah timbunan umumnya diangkut langsung dari lokasi sumber bahan ke
permukaan yang telah disiapkan pada saat cuaca cerah dan disebarkan.
Penumpukan tanah timbunan untuk persediaan, terutama selama musim hujan.
biasanya tidak diperkenankan, terutama selama musim hujan.
Timbunan di atas atau pada selimut pasir atau bahan drainase porous, harus
diperhatikan sedemikian rupa agar kedua bahan tersebut tidak tercampur. Dalam
pembentukan drainase sumuran vertikal diperlukan suatu pemisah yang menyolok di
antara kedua bahan tersebut dengan memakai acuan sementara dari pelat baja tipis
yaag sedikit demi sedikit ditarik saat pengisian timbunan dan drainase porous
dilaksanakan.
Penimbunan kembali di atas pipa dan di belakang stsuktur harus dilaksanakan
dengan sistematis dan secepat mungkin segera setelah pemasangan pipa struktur.
50
Akan tetapi, sebelum penimbunan kembali, diperlukan waktu perawatan tidak
kurang dari 3 jam setelah pemberian adukan pada sambungan pipa atau pengecoran
struktur beton gravity, pemasangan pasangan batu gravity atau pasangan batu
dengan mortar gravity. Sebelum penimbunan kembali di skitar struktur penahan
tanah dari beton, pasangan batu dengan mortar, juga diperlukan waktu perawatan
tidak kurang dari 14 hari
Bilamana timbunan badan jalan akan diperlebar, Iereng timbunan lama harus
disiapkan dengan membuang seluruh tetumbuhan yang terdapat pada permukaan
lereng dan harus dibuat bertangga (atau dibuat bergerigi) sehingga timbunan baru
akan terkunci pada timbuan lama sedmikian sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan.
Selanjutnya timbunan yang diperlebar harus dihampar horizontal lapis demi lapis
sampai dengan elevasi tanah dasar, yang kemudian harus ditutup secepat mungkin
dengan lapis pondasi bawah dan atas sampai elevasi permukaan jalan lama sehingga
bagian yang diperlebar dapat dimanfaatkan oleh lalu lintas secepat mungkin, dengan
demikian pembangunan dapat dilanjutkan ke sisi jalan lainnya bilamana diperlukan
Lapisan penopang di atas tanah lunak termasuk tanah rawa harus dihampar sesegera
mungkin dan tidak lebih dari tiga hari setelah persetujuan penggalian atau
pembersihan dan pengupasan oleh Direksi Pekerjaan. Lapisan penopang dapat
dihampir satu lapis atau beberapa lapis dengan tebal antara 0,5 sampai 1,0 meter
sesuai dengan kondisi lapangan dan sebagaimana diperintahkan atau disetujui oleh
Direksi Pekerjaan.
c. Pemadatan Timbunan
Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan, setiap lapis harus
dipadatkan dengan peralatan pemadat yang memandai dan disetujui Direksi
Pekerjaan sampai mencapai kepadatan yang disyaratkan
Pemadatan timbunan tanah harus dilaksanakan hanya bilamana kadar air bahan
berada dalam rentang 3 % di bawah kadar air optimum sampai 1 % di atas kadar air
optimum. Kadar air optimum harus didefinisikan sebagai kadar air pada kepadatan
kering maksimum yang diperoleh bilamana tanah dipadatkan sesuai dengan SNI 03-
1742-1989.
51
Seluruh timbunan batu harus ditutup dengan satu lapisan atau lebih setebal 20 cm
dari bahan bergradasi menerus dan tidak mengandung batu yang lebih besar dari 5
cm serta mampu mengisi rongga-rongga batu pada bagian atas timbunan batu
tersebut lapis penutup ini harus dilalsanakan sampai mencapai kepadatan timbunan
tanah yang disyaratkan.
Setiap lapisan timbunan yang dihampar harus dipadatkan seperti yang disyaratkan,
diuji kepadatannya dan harus diterima oleh Direksi Pekerjaan sebelum lapisan
berikutnya dihampar.
Timbunan harus dipadatkan mulai dari tepi luar dan bergerak menuju ke arah sumbu
jalan sedemikian rupa sehingga setiap ruas akan menerima jumlah usaha pemadatan
yang sama. Bilamana memungkinkan, lalu lintas alat-alat konstruksi dapat
dilewatkan di atas pekerjan timbunan dan lajur yang dilewati harus terus menerus
divariasi agar dapat menyebarkan pengaruh usaha pemadatan dari lalu lintas
tersebut.
Dalam menempatkan timbunan di atas gorong-gorong dan bilamana disyaratkan,
dalam Kontrak atau pada jembatan, harus membuat timbunan tersebut sama tinggi
pada kedua sisinya. Jika kondisi-kondisi memerlukan penempatan timbunan kembali
atau timbunan pada satu sisi lebih tinggi dari sisi lannya, penambahan bahan pada
sisi yang lebih tinggi tidak boleh dilakukan sampai persetujuan diberikan oleh Direksi
Pekerjaan dan tidak melakukan penimbunan sampai struktur tersebut telah berada
di tempat dalam waktu 14 hari, dan pengujian-pengujian yang dilakukan di
laboratorium di bawah pengawasan Direksi Pekerjaan menetapkan bahwa struktur
tersebut telah mencapai kekuatan yang cukup untuk menahan tekanan apapun yang
ditimbulkan oleh metoda yang digunakan dan bahan yang dihampar tanpa adanya
kerusakan atau regangan yang di luar faktor keamanan.
Bahan untuk timbunan pada tempat-tempat yang sulit dimasuki oleh alat pemadat
normal harus dihampar dalam lapisan mendatar dengan tebal gembur tidak lebih
dari 10 cm dan seluruhnya dipadatkan dengan menggunakan pemadat mekanis.
Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai dengan peralatan pemadat mesin
gilas harus dihampar dalam lapisan horizontal dengan tebal gembur tidak lebih dari
52
10 cm dan dipadatkan dengan penumbuk loncat mekanis atau timbris (tamper)
manual dengan berat statis minimum 10 kg. pemadatan di bawah maupun di tepi
pipa harus mendapat perhatian khusus untuk mencegah timbulnya rongga-rongga
dan untuk menjamin bahwa pipa terdukung sepenuhnya.
2. Pek. Urugan Pasir
Metode Pekerjaan
Permukaan tanah yang sudah di urug diatasnya diberikan pasir urug, kemudian
dipadatkan dengan menggunakan alat stamper. Urugan pasir ini berfungsi untuk
menstabilkan permukaan tanah asli dan menyebarkan beban. Urugan Pasir
dipadatkan perlapis hingga mencapai ketebalan Urugan Pasir yang sesuai
dengan gambar kerja.
3. Pek. Cor Lantai Beton K 175
Metode Pekerjaan
a. Lingkup pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pekerjaan cor beton di bawah lantai .
b. Kuantitas pekerjaan
Pekerjaan ini menggunakan satuan isi (m3).
c. Pelaksanaan pekerjaan
Menyiapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan
Membuat adukan beton K175 menggunakan concrete mixer
Adukan beton yang telah jadi dibawa ke area pengecoran dengan
menggunakan gerobak sorong
Beton dihamparkan pada area yang telah dipasang bekisting,.
Permukaan pengecoran diratakan dengan menggunakan rushkam dan
dibuat datar terhadap terhahadap permukaan lantai .
A. Pekerjaan Penutup Lantai dan Dinding
Pas. Geranit Lantai Polished 60x60 lantai
Pas. Lantai Unpolished 60x60 lantai Luar
Pas. Keramik 40 x 40
53
Pas. Keramik 30 x 30
Pas. Keramik Dinding 30 x 60
Pelaksanaan pekerjaan pasang keramik lantai
Metode Pekerjaan
Lantai dasarnya/permukaan dibersihkan dari kotoran/debu dan disiram terlebih
dahulu sebelum ditebar adukan pasangan keramik.
Rendam keramik terlebih dahulu dalam air hingga jenuh sebelum dipasang.
Buat adukan untuk pasang keramik.
Pasang benang untuk sumbangan mendapat pasangan permukaan keramik yang rata
dan garis siar/nat yang lurus.
Buat kepalaan adukan dengan jarak 1 - 1.5 m supaya adukan yang ditebar
permukaannya yang rata/flat.
Tebar adukan secara merata untuk menghindarkan terjadi rongga.
Pasang keramik kepalaan untuk tanda star awal pemasangan pada adukan yang
sudah ditebar dengan perekat acian. Kemudian dilanjutkan pemasangan keramik
lantai lainnya dengan contoh kepalaan pasangan keramik yang telah dibuat.
Pada ketika pemasangan, tekan keramik atau pukul dengan palu karet untuk
mendapat permukaan lantai keramik yang rata.
Cek kerataan permukaan pasangan lantai keramik dengan waterpass.
Setelah pemasangan lantain keramik selesai, biarkan beberapa ketika untuk
mengeluarkan udara yang ada dalam adukan pasangan lantai keramik. Setelah itu
gres dilanjutkan dengan pekerjaan perapihan/finish garis siar/nat.
Pekerjaan terakhir yaitu pencucian permukaan lantai keramik dari kotoran.
Pelaksanaan pekerjaan pasang keramik Dinnding
Metode Pekerjaan
1. Periksa ukuran ruangan terhadap gambar kerja arsitektur atau finishing
2. Periksa instalasi MEP terhadap gambar kerja arsitektur dan MEP. Pastikan posisi
outlet MEP sudah sesuai gambar kerja.
54
3. Siapkan material keramik yang akan dipasang dengan disortir keseragaman warna
dan bentuk.
4. Buatlah marking di dinding untuk pemasangan plesteran dinding, baik vertikal
maupun horizontal. Cek marking dengan menggunakan waterpass (kurangi dengan
ketebalan keramik dan tile adhesive)
5. Buat kepalaan keramik pada dinding bata/beton yang telah diplester secara
horizontal dan vertikal. Pastikan tile spaacer digunakan untuk memastikan lebar nat
seragam dan sesuai spesifikasi.
6. Periksa kepalaan keramik vertikal / horizontal, apakah bertemu nat, baik terhadap
dinding sampingnya maupun terhadap lantai (bila harus ketemu nat).
7. Keramik dinding agar dipasang menerus kebawah sampai di bawah permukaan
finishing lantai. Apabila bidang keramik tidak sampai setinggi plafond, maka bidang
pertemuan dengan plester aci / cat diberi tali air atau skoneng (sesuai permintaan /
gambar). Tile spacer harus digunakan pada nat dan sudutan pertemuan antar
keramik.
8. Cek kembali posisi outlet MEP apakah sudah sesuai dengan gambar shop drawing/
9. Siapkan adukan tile adhesive sesuai dengan prosedur masing-masing produk tile
adhesive yang digunakan.
10. Tile adhesive digelar, kemudian direkatkan menggunakan roskam bergerigi.
Kemudian sisi bawah keramik diisi dengan tile adhesive terlebih dahulu sebelum
dipasang. Hal ini untuk menjaga bagian bawah keramik yang kemungkinan
melengkung sehingga terisi dan tidak terjadi kekosongan (kopong).
11. Lanjutan dari proses pemasangan dinding keramik hingga selesai, sambil dirapikan
dengan menggunakan palu karet.
12. Untuk keramik disisi opening atau bukaan baik pintu maupun jendela, jangan
dipasang dahulu sebelum kusen pintu / jendela terpasang.
13. Periksa pemasangan keramik dengan jidar untuk memperkecil terjadinya
gelombang dalam pemasangan keramik.
55
14. Setelah pemasangan keramik berumur 4 hari, lalu isi nat keramik dengan bahan
pengisi nat yang telah disetujui owner.
15. Setelah selesai, keramik dibersihkan dengan menggunakan kain lap (lap busa atau
sejenisnya) yang lembab (bukan basah) hingga bersih.
VIII. PEKERJAAN PLAFOND
Metoda Pemasangan Rangka Plafond Kayu
Metode Pekerjaan
1. Ruangan yang hendak dipasang plafon harus telah diplester dengan rapi.
2. Kemudian siapkan bahan yang dipakai. Gunakan ruangan supaya diketahui jumlah
bahannya. Secara lazim saya akan sebutkan beberapa bahan yang dibutuhkan,
antara lain: kayu kaso 5 cm x 7 cm, atau 5 cm x 5 cm, papan kalsiboard atau triplek,
paku 2,5 inchi, paku 3 inchi, paku triplek atau paku khusus kalsiboard, cornice, cat
tembok, dan lis plafon.
3. Siapkan bahan pendukung, seperti kursi atau meja kerja panjang secukupnya.
4. Timbang sudut ruangan menerapkan selang air kecil sebagai waterpas. Tandai
dengan pensil posisi tinggi plafon, hingga nantinya akan menciptakan plafon yang
sama tingginya.
5. Gunakan dinding ruangan, usahakan dipaskan ke dinding, potong kaso dengan
ukuran tadi. Gunakan gergaji kayu untuk memotongnya, ujung potongan harus siku
sehingga akan gampang memasangnya dan kelihatan rapi.
6. Ambil potongan kaso tadi dan pasang pada dinding dengan paku 3 inchi pada
bagian yang telah ditandai. Sekiranya paku menjadi bengkok setelah dipukul
dengan palu, maka ganti paku dan gunakan paku beton ukuran 3 inchi. Hal ini
pengaruh dinding yang telah terlalu lama dan memiliki plesteran yang berkwalitas
sehingga keras dan bendung paku.
7. Potong dan pasang lagi pantas dengan ukuran berikutnya, pada tiap sisi dinding.
8. Gunakan sepanjang 81 cm, tandai dengan pensil dan pasang paku ke arah bawah,
pasang benang. hal ini juga dijalankan pada bagian ujung arah yang berlawanan,
dan tarik benang dengan pesat. Benang ini berfungsi sebagai patokan pemasangan
rangka sehingga lurus dan sejajar. Sekiranya kerangka pada ukuran 81 tadi telah
selesai, kemudian menilai dan memasang ukuran 61 cm.
56
9. Pasang benang seperti langkah sebelumnya, ukur dan potong pantas dengan ruang
antar kaso, umumnya tiap potongan akan berbeda-beda pantas dengan ketebalan
kayu. Pasang dengan paku 2,5 inchi. Ratakan dengan benang supaya lurus akhirnya.
10. Pasang sekur ke arah gordeng atau usuk atap, sehingga memperkuat plafon untuk
menahan bobotnya sendiri. Pasang sekur dalam jumlah yang cukup supaya kuat.
Metoda Pemasangan Plafond PVC Sunda
Metode Pekerjaan
- Bidang pemasangan bagian rangka langit-langit harus rata, tidak cembung, kaku
dan kuat, kecuali bila dinyatakan lain, seperti permukaan merupakan bidang
miring/ tegak sesuai yang ditunjukkan dalam gambar.
- Setelah seluruh rangka langit-langit terpasang, seluruh permukaan rangka harus
rata, lurus dan waterpas, tidak ada bagian yang bergelombang.
- Hasil pemasangan penutup langit-langit harus rata, tidak melendut.
- Setelah plafond PVC terpasang, bidang permukaan langit-langit harus rata, lurus,
waterpas dan antara unit-unit PVC tidak terlihat bergelombang. Pada beberapa
tempat tertentu harus dibuat manhole / access panel ukuran 60 cm × 60 cm di
langit-langit yang bisa dibuka, diberi engsel tanpa merusak plafond PVC di
sekelilingnya untuk keperluan pemeriksaan/ pemeliharaan ME (Mekanikal dan
Elektrikal).
- Pelaksanaan pekerjaan penyetelan level plafond harus dilakukan secara hati-hati
terhadap semua komponen yang terdapat di bagian dalam atau dibalik plafond,
yaitu komponen instalasi ME (Mekanikal dan Elektrikal) eksisting dan yang baru.
- Pasang rangka hollow / kayu sesuai ukuran ruangan. Dimana cara memasang
rangka plafon pvc sama halnya dengan pemasangan plafon gypsum. Hanya yang
membedakan cara penutupannya saja.
- Memotong list menjadi sudut 45 derajat kemudian ditempatkan pada sisi-sisi
dinding. Nah kenapa di plafon pvc , list plafon terlebih dahulu di pasang karena list
tersebutlah yang akan mengunci plafon pvc nya, sangat beda di plafon gypsum.
Kalau plafon gypsum kita harus memasang plafon gypsum terlebih dahulu baru
kita pasang listnya
- Kencangkan list dengan sekrup pada hollow
57
- Potong plafon sesuai ukuran dengan pisau cutter / gergaji. Pada tahap ini di
maximalkan jangan sampai salah ukur dikarenakan pada plafon pvc tersebut tidak
ada lagi pengomponan (dempul) dan pengecetan. Jadi bila kita salah ukur , maka
plafon tidak bisa terpakai
- Pasang plafon sesuai urutan
- Kancing plafon menggunakan sekrup
- Semua bahan di atas harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.
IX. PEKERJAAN PENGECATAN
1 Pekerjaan Pengecatan dinding Interior dan Exsterior
Metode Pekerjaan
- Pengecatan Dinding
Yang termasuk pekerjaan cat dinding adalah pengecatan seluruh plesteran
bangunan dan/ atau bagian-bagian lain yang ditentukan gambar.
Sebelum dinding diplamur, plesteran sudah harus betul-betul kering tidak ada
retak- dan Penyedia Jasa/ Kontraktor meminta persetujuan kepada Konsultan.
Pekerjaan plamur dilaksanakan dengan pisal plamur dari plat baja tipis dan
lapisan plamur dibuat setipis mungkin sampai membentuk bidang yang rata.
Sesudah 7 (tujuh) hari plamur terpasang dan percobaan warna besi No. 00,
kemudian dibersihkan dengan bulu ayam sampai benar-benar bersih.
Selanjutnya, dinding dicat dengan menggunakan Roller.
Lapisan pengecatan dinding dalam terdiri dari 1 (satu) lapis resistance sealer
yang dilanjutkan dengan 3 (tiga) lapis emulsion dengan kekentalan cat sebagai
berikut ;
Lapis I encer (tambahan 20 % air)
Lapis II kental
Lapis III encer.
Untuk warna-warna yang sejenis, Penyedia Jasa/ Kontraktor diharuskan
menggunakan kaleng-kaleng dengan nomor percampuran (batch number) yang
sama.
58
Setelah pekerjaan cat selesai, bidang dinding merupakan bidang yang utuh, rata,
licin, tidak ada bagian yang belang dan bidang dinding dijaga terhadap kotoran.
X. PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL ( ME )
Metode Pekerjaan
Sebelum pekerjaan elektrikal dilaksanakan, perlu ditunjukkan contoh-contoh
material, tipe dan juga merek yang akan digunakan untuk mendapatkan
persetujuan.
Pengadaan material untuk pekerjaan elektrikal disimpan di sekitar lokasi terdekat
dengan area pekerjaan dan melindungi diri dari kemungkinan kerusakan material
menyebabkan benturan perangkat keras, sedangkan material lain disimpan di
gudang tertutup.
Teknis pelaksanaan pekerjaan ini sesuai dengan gambar desain, RKS dan
spesifikasi teknis pekerjaan elektrikal dan mekanikal.
Pelaksanaan pekerjaan elektrikal dan mekanikal sesuai dengan perencanaan dan
membutuhkan kontrol yang lebih lanjut, sehingga dikerjakan oleh orang yang
berkompeten di bidangnya.
Untuk pekerjaan instalasi listrik, telepon, ducting, dan fire alarm dilakukan
sebelum plesteran dan dinding dan pemasangan plafond.
Instalasi Stop Kontak dan Saklar-Saklar dipasang pada dinding dengan rapi sesuai
penempatannya pada gambar-gambar rencana, setelah semua instalasi titik api
dan instalasi stop kontak dan saklar terpasang barulah diberi lampu-lampu sesuai
dengan spesifikasi teknis dan gambar-gambar rencana.
Pekerjaan Elektrikal Arus Kuat dan Arus Lemah
Metode Pelaksanaan Pekerjaan Elektrikal Arus Kuat dan Arus Lemah adalah sebagai berikut :
Persiapan
Pembuatan dan pengajuan gambar shop drawing pekerjaan elektrikal arus kuat dan arus
lemah.
Approval material yang akan digunakan.
59
Persiapan lahan kerja.
Sebelum pekerjaan dilaksanakan, terlebih dahulu material kerja dan alat bantu
kerja disiapkan.
1. Pemasangan sparing kabel
Sparing dipasang dulu apabila ada pengecoran beton lantai, untuk menghindari
bobokan beton pada saat penyambungan kabel antar lantai.
2. Pemasangan instalasi kabel
Kabel vertical ditanam pada dinding dengan perlindungan pipa conduit, dimana
pipa tersebut harus ditanam dulu pada dinding bata sebelum dinding diplester.
Supaya tidak mudah bergerak pada saat dinding diplester, maka pipa yang
ditanam diberi klem dengan jarak sekitar 1 m.
Kabel horizontal dipasang pada plat lantai beton dengan menggunakan pipa
pelindung conduit yang diberi perkuatan klem dengan jarak sekitar 1 m, hal ini
dimaksudkan untuk memudahkan maintenance. Pemasangan kabel horizontal
harus sejajar, tidak boleh saling melintas.
3. Pemasangan panel
Panel listrik dipasang pada dinding yang sudah ditentukan, rata dan tidak miring.
Semua kabel yang masuk ke dalam panel listrik diberi tanda sesuai dengan
kegunaannya dan dilengkapi dengan ring karet supaya lubang panel bagian atas
dapat terlindung dari debu/kotoran. Khusus untuk kabel dengan Ø 16 mm2 harus
diberi sepatu kabel dalam panel.
Pada sisi pintu panel bagian dalam harus dibuat diagram instalasinya termasuk
daya cadangan yang sudah direncanakan, hal ini perlu untuk memudahkan bila
ada perbaikan instalasi.
4. Pemasangan fitting dan armature
Fitting dan armature dipasang setelah kabel ditest ketahanannya, agar tidak
terjadi bongkar/pasang armature.
Pemasangan saklar dan stop kontak
60
Marking jalur conduit pada dinding dan bobok dinding bata, jangan lupa gunakan
cutter.
Pasang conduit dan inbow dos.
Tunggu sampai plester dinding akhir.
Sambungan saklar, stop kontak dengan aslinya.
Pasang saklar dan stop kontak, gunakan waterpass agar rata.
Testing dan commissioning
Test tahanan kabel sebesar 2 ohm dan grounding serta test fitting/armature
selama ± 1 x 24 jam
XI. PEKERJAAN SANITASI
PEKERJAAN SANITASI
Metode Pekerjaan
- Pekerjaan ini harus dilakukan/ dikerjakan oleh tenaga-tenaga ahli yang betul-
betul berpengalaman dan menguasai teknologi pemasangan, serta mempunyai
keahlian khusus dalam pekerjaannya.
Sanitair harus terpasang dengan baik, sempurna, dan kokoh, sesuai dengan yang
dipersyaratkan dalam petunjuk pemasangan produk sanitair bersangkutan dan
disetujui Konsultan.
Semua sistem dari Sanitair harus dapat bekerja dengan baik dan sempurna.
Penyedia Jasa/ Kontraktor harus menjaga pekerjaan Sanitair yang sudah selesai
dilaksanakan, sehingga terhindar dari kejadian-kejadian yang bisa menimbulkan
kerusakan.
Hasil pekerjaan pemasangan Sanitair harus dapat berfungsi dengan sempurna
dan tidak cacat.
Perbedaan letak/ posisi plumbing yang terjadi di lapangan, harus segera
dilaporkan ke Konsultan agar segera dibuatkan shop drawingnya oleh Penyedia
Jasa/ Kontraktor. Dansemuanya harus diajukan kepada Konsultan untuk disetujui
oleh Pemberi Tugas.
61
XII. PEKERJAAN RABAT BETON
1. Pekerjaan Galian Tanah
Metoda Pekerjaan
Setelah pekerjaan Pendahuluan dan pekerjaan pemancangan selesai dilakukan, hal
yang dilakukan selanjutnya yaitu pekerjaan galian tanah pondasi. Galian tanah pondasi
diperlukan untuk perletakan pondasi plat Pondasi batu Kali Dan Pondasi batu bata.
Pengalian dilakukan sesuai dengan gambar rencana pondasi dan telah mendapat
persetujuan dari pengawas. Bidang horizontal galian tanah harus mempunyai jarak
yang lebih besar dari lebar pondasi, hal ini berfungi untuk memungkinkan
pemasangannya, penopangan dan lain-lain. Kedalaman galian harus sesuai dengan
gambar rencana.
Tanah hasil galian ditumpuk ditempat yang telah ditentukan oleh pengawas, karena
tanah tersebut akan dipakai kembali.
2. Pekerjaan Pasir Urug
Metoda Pekerjaan
Permukaan tanah yang sudah digali diatasnya diberikan pasir urug, kemudian
dipadatkan dengan menggunakan alat stamper. Urugan pasir ini berfungsi untuk
menstabilkan permukaan tanah asli dan menyebarkan beban. Urugan Pasir dipadatkan
perlapis hingga mencapai ketebalan Urugan Pasir yang sesuai dengan gambar kerja
dan spesifikasi teknis .
3. Pek. Cor Lantai Beton K 100
Metode Pekerjaan
a. Lingkup pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pekerjaan cor beton di bawah lantai .
b. Kuantitas pekerjaan
Pekerjaan ini menggunakan satuan isi (m3).
c. Pelaksanaan pekerjaan
62
Menyiapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan
Membuat adukan beton K 100 menggunakan concrete mixer
Adukan beton yang telah jadi dibawa ke area pengecoran dengan
menggunakan gerobak sorong
Beton dihamparkan pada area yang telah dipasang bekisting,.
Permukaan pengecoran diratakan dengan menggunakan rushkam dan
dibuat datar terhadap terhahadap permukaan lantai .
4. Pekerjaan Pas. Dinding Bata sp. 1:4 Tebal 1/2 bata
Metode Pekerjaan
Pertama dilakukan persiapan dengan cara membersihkan area yang akan dipasang
dinding bata merah, menghitung volume pekerjaan dan kebutuhan material yang
dibutuhkan.
Buat marking jalur-jalur dinding dua sisi setelah dinding dan dibuat tanda posisi
kolom praktis, ring balok, dan lubang kusen.
Bata merah direndam dulu (sampai gelembung udaranya hilang) sebelum dipakai
untuk mengurangi penyerapan air.
Memasang bata merah pada jalur marking serta jalur benang acuan yang telah
dipasang pada profil kayu pada ujung jalur dinding lapis demi lapis sampai setinggi 1
m dengan menggunakan adukan 1 pc : 4 ps Pada pelaksanaannya, adukan semen
pasir tersebut diaplikasikan secara merata ke permukaan bata merah.
Kemudian bata merah disusun di atas adukan mortar tersebut sambil terus diperiksa
kerataan pasangannya. Kemudian bata merah dipukul perlahan sampai mencapai
elevasi yang diinginkan.
Setelah tinggi pasangan bata merah mencapai 1 m kemudian dilanjutkan dengan cor
beton kolom praktis.
Periksa kelurusan serta vertikal pasangan bata merah, apabila sudah benar dan
sesuai dengan yang diinginkan maka lanjutkan pemasangan sampai dengan tinggi
maksimum 1 m, kemudian periksa lagi kelurusan dan vertikalnya, setelah itu
dilanjutkan cor kolom praktis dan dilanjutkan pemasangan bata merah sampai
elevasi yang ditentukan dan cor kolom praktis sampai elevasi sesuai gambar
63
5. Pekerjaan Tanah Timbunan
Metode Pekerjaan
a. Meyiapan Tempat Kerja
Sebelum penghamparan timbunan pada setiap tempat, semua bahan yang tidak
diperlukan harus dibuang sebagaimana diperintahkan oleh direksi pekerjaan.
Kecuali untuk derah tanah lunak atau tanah yang tidak dapat dipadatkan atau tanah
rawa, dasar pondasi timbunan harus dipadatkan seluruhnya (termasuk
penggemburan dan penggeringan atau pembasahan bila diperlukan) sampai 15 cm
bagian permukaan atas dasar atas pondasi memenuhi kepadatan yang disyaratkan.
Bilamana timbunan akan dibangun atas permukaan tanah dengan kelandaian lereng
lebih dari 10%, ditempatkan diatas permukaan lama atau pembagunan timbunan
baru, maka lereng lama akan dipotong sampai tanah yang keras dan bertangga
dengan lebar yang cukup sehingga memungkinkan perlaratan pemadat dapat
beroperasi. tangga-tangga tersebut tidak boleh mempunyai kelandaian lebih dari 4%
dan harus dibuatkan sedemikian dengan jarak vertikal tidak lebih dari 30 cm untuk
kelandaian yang kurang dari 15% dan tidak lebih dari 60 cm untuk kelandaiannya
yang sama atau lebih besar dari 15%.
Dasar saluran yang ditimbun harus diratakan dan dilebarkan sedemikian hingga
memungkinkan pengoperasian peralatan pemadat yang efektif.
b. Penghamparan Timbunan
Timbunan harus ditempatkan ke permukaan yang telah disiapkan dan disebar dalam
lapisan yang merata yang bila di padatkan akan memenuhi toleransi tebal yang
disyaratkan. Bilamana timbunan dihampar lebih dari satu lapis, lapisan-lapisan
tersebut sedapat mungkin di bagi rata sehingga sama tebal.
Tanah timbunan umumnya diangkut langsung dari lokasi sumber bahan ke
permukaan yang telah disiapkan pada saat cuaca cerah dan disebarkan.
Penumpukan tanah timbunan untuk persediaan, terutama selama musim hujan.
biasanya tidak diperkenankan, terutama selama musim hujan.
64
Timbunan di atas atau pada selimut pasir atau bahan drainase porous, harus
diperhatikan sedemikian rupa agar kedua bahan tersebut tidak tercampur. Dalam
pembentukan drainase sumuran vertikal diperlukan suatu pemisah yang menyolok di
antara kedua bahan tersebut dengan memakai acuan sementara dari pelat baja tipis
yaag sedikit demi sedikit ditarik saat pengisian timbunan dan drainase porous
dilaksanakan.
Penimbunan kembali di atas pipa dan di belakang stsuktur harus dilaksanakan
dengan sistematis dan secepat mungkin segera setelah pemasangan pipa struktur.
Akan tetapi, sebelum penimbunan kembali, diperlukan waktu perawatan tidak
kurang dari 3 jam setelah pemberian adukan pada sambungan pipa atau pengecoran
struktur beton gravity, pemasangan pasangan batu gravity atau pasangan batu
dengan mortar gravity. Sebelum penimbunan kembali di skitar struktur penahan
tanah dari beton, pasangan batu dengan mortar, juga diperlukan waktu perawatan
tidak kurang dari 14 hari
Bilamana timbunan badan jalan akan diperlebar, Iereng timbunan lama harus
disiapkan dengan membuang seluruh tetumbuhan yang terdapat pada permukaan
lereng dan harus dibuat bertangga (atau dibuat bergerigi) sehingga timbunan baru
akan terkunci pada timbuan lama sedmikian sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan.
Selanjutnya timbunan yang diperlebar harus dihampar horizontal lapis demi lapis
sampai dengan elevasi tanah dasar, yang kemudian harus ditutup secepat mungkin
dengan lapis pondasi bawah dan atas sampai elevasi permukaan jalan lama sehingga
bagian yang diperlebar dapat dimanfaatkan oleh lalu lintas secepat mungkin, dengan
demikian pembangunan dapat dilanjutkan ke sisi jalan lainnya bilamana diperlukan
Lapisan penopang di atas tanah lunak termasuk tanah rawa harus dihampar sesegera
mungkin dan tidak lebih dari tiga hari setelah persetujuan penggalian atau
pembersihan dan pengupasan oleh Direksi Pekerjaan. Lapisan penopang dapat
dihampir satu lapis atau beberapa lapis dengan tebal antara 0,5 sampai 1,0 meter
sesuai dengan kondisi lapangan dan sebagaimana diperintahkan atau disetujui oleh
Direksi Pekerjaan.
65
c. Pemadatan Timbunan
Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan, setiap lapis harus
dipadatkan dengan peralatan pemadat yang memandai dan disetujui Direksi
Pekerjaan sampai mencapai kepadatan yang disyaratkan
Pemadatan timbunan tanah harus dilaksanakan hanya bilamana kadar air bahan
berada dalam rentang 3 % di bawah kadar air optimum sampai 1 % di atas kadar air
optimum. Kadar air optimum harus didefinisikan sebagai kadar air pada kepadatan
kering maksimum yang diperoleh bilamana tanah dipadatkan sesuai dengan SNI 03-
1742-1989.
Seluruh timbunan batu harus ditutup dengan satu lapisan atau lebih setebal 20 cm
dari bahan bergradasi menerus dan tidak mengandung batu yang lebih besar dari 5
cm serta mampu mengisi rongga-rongga batu pada bagian atas timbunan batu
tersebut lapis penutup ini harus dilalsanakan sampai mencapai kepadatan timbunan
tanah yang disyaratkan.
Setiap lapisan timbunan yang dihampar harus dipadatkan seperti yang disyaratkan,
diuji kepadatannya dan harus diterima oleh Direksi Pekerjaan sebelum lapisan
berikutnya dihampar.
Timbunan harus dipadatkan mulai dari tepi luar dan bergerak menuju ke arah sumbu
jalan sedemikian rupa sehingga setiap ruas akan menerima jumlah usaha pemadatan
yang sama. Bilamana memungkinkan, lalu lintas alat-alat konstruksi dapat
dilewatkan di atas pekerjan timbunan dan lajur yang dilewati harus terus menerus
divariasi agar dapat menyebarkan pengaruh usaha pemadatan dari lalu lintas
tersebut.
Dalam menempatkan timbunan di atas gorong-gorong dan bilamana disyaratkan,
dalam Kontrak atau pada jembatan, harus membuat timbunan tersebut sama tinggi
pada kedua sisinya. Jika kondisi-kondisi memerlukan penempatan timbunan kembali
atau timbunan pada satu sisi lebih tinggi dari sisi lannya, penambahan bahan pada
sisi yang lebih tinggi tidak boleh dilakukan sampai persetujuan diberikan oleh Direksi
Pekerjaan dan tidak melakukan penimbunan sampai struktur tersebut telah berada
di tempat dalam waktu 14 hari, dan pengujian-pengujian yang dilakukan di
66
laboratorium di bawah pengawasan Direksi Pekerjaan menetapkan bahwa struktur
tersebut telah mencapai kekuatan yang cukup untuk menahan tekanan apapun yang
ditimbulkan oleh metoda yang digunakan dan bahan yang dihampar tanpa adanya
kerusakan atau regangan yang di luar faktor keamanan.
Bahan untuk timbunan pada tempat-tempat yang sulit dimasuki oleh alat pemadat
normal harus dihampar dalam lapisan mendatar dengan tebal gembur tidak lebih
dari 10 cm dan seluruhnya dipadatkan dengan menggunakan pemadat mekanis.
Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai dengan peralatan pemadat mesin
gilas harus dihampar dalam lapisan horizontal dengan tebal gembur tidak lebih dari
10 cm dan dipadatkan dengan penumbuk loncat mekanis atau timbris (tamper)
manual dengan berat statis minimum 10 kg. pemadatan di bawah maupun di tepi
pipa harus mendapat perhatian khusus untuk mencegah timbulnya rongga-rongga
dan untuk menjamin bahwa pipa terdukung sepenuhnya.
6. Pek. Urugan Pasir
Metode Pekerjaan
Permukaan tanah yang sudah di urug diatasnya diberikan pasir urug, kemudian
dipadatkan dengan menggunakan alat stamper. Urugan pasir ini berfungsi untuk
menstabilkan permukaan tanah asli dan menyebarkan beban. Urugan Pasir
dipadatkan perlapis hingga mencapai ketebalan Urugan Pasir yang sesuai
dengan gambar kerja.
7. Pek. Cor Lantai Beton K 175
Metode Pekerjaan
a. Lingkup pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pekerjaan cor beton di bawah lantai .
b. Kuantitas pekerjaan
Pekerjaan ini menggunakan satuan isi (m3).
c. Pelaksanaan pekerjaan
Menyiapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan
67
Membuat adukan beton K 100 menggunakan concrete mixer
Adukan beton yang telah jadi dibawa ke area pengecoran dengan
menggunakan gerobak sorong
Beton dihamparkan pada area yang telah dipasang bekisting,.
Permukaan pengecoran diratakan dengan menggunakan rushkam dan
dibuat datar terhadap terhahadap permukaan lantai .
8. Pekerjaan Pas. Plesteran 1PC : 4 Pasir dan Acian
Metode Pekerjaan
c. Persiapan
Pembuatan dan pengajuan gambar shop drawing pekerjaan plesteran dan acian.
Approval material yang akan digunakan.
Persiapan lahan kerja.
Persiapan material kerja, antara lain : semen PC, pasir pasang dan air.
Persiapan alat bantu kerja, antara lain : waterpass, meteran, unting-unting, jidar,
raskam, benang, kertas gosok, dll.
d. Pelaksanaan
Plesteran biasa menggunakan adukan 1 PC : 4
Pekerjaan plesteran dinding harus tepat pada sudut sikunya serta tegak lurus terhadap
lantai yang ada di sekitarnya, permukaan rata tidak bergelombang.
Tentuikan dahulu titik/jalur pemasangan pekerjaan mekanikal dan elektrikal.
Sebelum diplester, lakukan penyiraman/curring terlebih dahulu pada permukaan
dinding bata untuk menghindarkan keretakan.
Buat adukan untuk plesteran dinding bata.
Buat kepalaan plesteran dengan jarak sekitar 1 m dan lebar 5 cm, dengan alat bantu
unting-unting untuk loting, waterpass dan jidar alumunium.
Lekatkan adukan plesteran pada permukaan dinding sekityarnya, kemudian ratakan
dengan raskam dan jidar.
Perataan plesteran dengan acuan kepalaan yang telah dibuat.
Acian dapat dilaksanakan setelah permukaan plesteran sudah kering (cukup umur).
68
Permukaan plesteran sebelum di aci telebih dahulu disiram air. Untuk memperoleh
hasil acian yang halus, setelah plesteran diberi lapisan acian semen, permukaan acian
sebelum mengering digosok dengan menggunakan kertas gosok
69
VI. SPESIFIKASI JABATAN PEKERJAAN KONTUKSI
4. ORGANISASI PENGADAAN KONTRUKSI
Nama Dan Organisasi Pengadaan Kontruksi
UNIT KERJA : DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KAB. MENTAWAI
NAMA PPK : RIFKI ERIAWAN, ST
JABATAN : PPK
NAMA : JANTI SALELEUBAJA, S.Sos.,M.M
JABATAN : PPTK
PROGRAM : PROGRAM PENUNJANG URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH
KABUPATEN/KOTA
KEGIATAN : PEMELIHARAAN BARANG MILIK DAERAH PENUNJANG
URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH
SUB KEGIATAN : PEMELIHARAAN/REHABILITASI SARANA DAN PRASARANA
PENDUKUNG GEDUNG KANTOR ATAU BANGUNAN LAINNYA
PEKERJAAN : PERENCANAAN PEMBANGUNAN GAPURA DAN KANTOR SERTA
LANDSCAPE
LOKASI : BUKIT PAMEWA KECAMATAN SIPORA UTARA
PERSONIL PENYEDIA
Setiap kegiatan/pekerjaan perancangan, perhitungan dan gambar-gambar
konstruksi, penetapan spesifikasi dan prosedur teknis serta metode pelaksanaan/
konstruksi/kerja harus dilakukan oleh tenaga ahli yang mempunyai kompetensi yang
disyaratkan, baik pekerjaan arsitektur, struktur/sipil, mekanikal, elektrikal, plumbing
dan penataan lingkungan maupun interior dan jenis pekerjaan lain yang terkait;
Setiap tenaga ahli tersebut harus mempunyai kemampuan untuk melakukan proses
manajemen risiko (identifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendalian risiko) yang
terkait dengan disiplin ilmu dan pengalaman profesionalnya, dan dapat memastikan
bahwa semua potensi bahaya dan risiko yang terkait pada bentuk rancangan,
spesifikasi teknis dan metode kerja/konstruksi tersebut telah diidentifikasi dan telah
70
dikendalikan pada tingkat yang dapat diterima sesuai dengan standar teknik dan
standar Keselamatan Konstruksi yang berlaku;
Setiap tenaga K3 terampil dibidang K3 Konstruksi di atas harus melakukan analisis
keselamatan pekerjaan (job safety analysis) setiap sebelum memulai pekerjaannya,
untuk memastikan bahwa potensi bahaya dan risiko telah diidentifikasi dan
diberikan tindakan pencegahan terhadap kecelakaan kerja dan/atau penyakit di
tempat kerja;
Tenaga ahli yang dibutuhkan dalam pembagunan antara lain :
a. Pelaksana 1 (satu) orang, mempunyai sertifikat kompetensi SKA Ahli Teknik Bangunan
Gedung dengan pengalaman minimal 3 (tiga) tahun.
b. Petugas K3 Konstruksi 1 (satu) orang, yang memiliki Petugas keselamatan kontruksi
berpengalaman minimal 3 (tiga) tahun.
PERSYARATAN PENYEDIA KONSTRUKSI
Memiliki Surat Izin sebagai berikut :
a) Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK) yang masih berlaku
b) SBU Klasifikasi : jasa Klafikasi Kecil yang masih berlaku
c) Sub Klasifikasi : Konstruksi Gedung Pendidikan KBLI (41016) Kode (BG006)
d) Telah melunasi kewajiban pajak tahun terakhir
e) Persyaratan Kualifikasi Perusahaan lainnya akan ditentukan dalam Dokumen
Pengadaan.