| Reason | |||
|---|---|---|---|
Tirta Multi Teknik, Kso Lihat Anggota | 00*2**3****31**0 | Rp 50,118,628,324 | - |
| 0016841173722000 | Rp 50,984,000,000 | - | |
PT Fitra Rezky Mandiri | 0666791066722000 | Rp 51,504,000,000 | tidak melampirkan jaminan penawaran sesuai dengan di tetapkan dalam dokumen pemilihan |
| 0660392770086000 | - | - | |
| 0018528232214000 | Rp 51,248,536,000 | tidak melampirkan jaminan penawaran sesuai dengan di tetapkan dalam dokumen pemilihan | |
PT Sudewa Putra Arthomoro | 06*2**9****34**0 | - | - |
| 0015860661003000 | - | - | |
PT Epithu Logica Sembada | 09*5**4****15**0 | - | - |
PT Indo Trans Konstruksi | 08*8**7****07**0 | - | - |
| 0022274534822000 | - | - | |
| 0719540841952000 | - | - | |
| 0028910677203000 | - | - | |
CV Radja Mulia Sakti | 06*0**8****53**0 | - | - |
| 0017015611218000 | - | - | |
| 0748095114804000 | - | - | |
| 0313671513013000 | - | - | |
| 0864592183006000 | - | - | |
CV E Dua S | 06*3**0****21**0 | - | - |
Multi Conblock Nusantara | 03*0**4****41**0 | - | - |
| 0030018774618000 | - | - | |
| 0012070694432000 | - | - | |
| 0012194635631000 | - | - | |
PT Sinar Inti Persada | 00*6**5****19**0 | - | - |
| 0017395286609000 | - | - | |
| 0906122403009000 | - | - | |
PT Riefna Tour Indonesia | 06*3**6****34**0 | - | - |
| 0022469191321000 | - | - | |
| 0210199626623000 | - | - | |
| 0714758174602000 | - | - | |
| 0631236437322000 | - | - | |
| 0751979881101000 | - | - | |
CV Bobaigo Perkasa | 06*0**3****54**0 | - | - |
PT Sangkamadeha Natodos Moragabe | 01*8**7****17**0 | - | - |
| 0033380098435000 | - | - | |
| 0011454188952000 | - | - | |
PT Rianaida Ciptaartha | 00*5**3****02**0 | - | - |
Atria Consult | 0017139106111000 | - | - |
| 0411765415952000 | - | - | |
CV Janur | 0020642948445000 | - | - |
| 0818512931427000 | - | - | |
CV Mutia Karya | 07*5**0****22**0 | - | - |
| 0942950635101000 | - | - | |
| 0031261571722000 | - | - | |
| 0745697821722000 | - | - | |
| 0032763039093000 | - | - | |
| 0026563205511000 | - | - | |
| 0210159166652000 | - | - | |
| 0022126262657000 | - | - | |
| 0013220157009000 | - | - |
ADENDUM 01..METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN
Pembangunan Gedung Laboratorium Terpadu
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
Metode pelaksanaan yang harus disampaikan dalam dokumen penawaran peserta tender adalah
pekerjaan :
I PEKERJAAN STRUKTUR
A PEKERJAAN TANAH
B PEKERJAAN PONDASI
C PEKERJAAN BETON
D PEKERJAAN RANGKA ATAP BAJA
II PEKERJAAN ARSITEKTUR
A PEKERJAAN PASANGAN
B PEKERJAAN PENUTUP LANTAI DAN DINDING
C PEKERJAAN PENGECATAN
D PEKERJAAN KUSEN
E PEKERJAAN SANITAIR
F PEKERJAAN FASADE
III PEKERJAAN MEKANIKAL , ELEKTRIKAL , ELEKTRONIK & PLUMBING
A PEKERJAAN LISTRIK
B PEKERJAAN PLAMBING (PEMIPAAN GEDUNG)
D PEKERJAAN PANEL LISTRIK
E PEKERJAAN TATA UDARA
F PEKERJAAN SISTEM PENANGKAL PETIR
G PEKERJAAN GROUNDING PANEL MV, LVMDP, TRAFO, GENSET, PANEL ARUS LEMAH
H PEKERJAAN FIRE ALARM
I PEKERJAAN HYDRANT-SPRINKLER
J PEKERJAAN TATA SUARA (SOUND SISTEM)
K PEKERJAAN DISTRIBUSI KELISTRIKAN ( POWER HOUSE )
L PEKERJAAN LIFT
I. PEKERJAAN STRUKTUR
1.a. Pekerjaan Tanah
a. Sebelum pekerjaan tanah Manager Teknik 1 membuat rencana mapping pekerjaan dari dimulai
pekerjaan sampai dengan selesai dan koordinasi dengan Ahli K3 Konstruksi untuk persiapan
pekerjaan SMK3 dengan diadakan rapat kordianasi dipimpin Manager Pelaksanaan / Proyek.
Guna mempelajari gambar rencana, spesifikasi, bahan / material, peralatan, personil, tenaga
kerja yang nantinya diajukan ke Pengawas Lapangan / MK.
b. Lingkup yang harus disiapkan adalah pekerjaan cutting tanah, pekerjaan galian tanah, pekerjaan
langsiran tanah, serta pekerjaan timbunan tanah (fill) dalam area gedung.
c. Setelah itu penentuan peralatan pendukung pekerjaan cutting tanah menggunakan excavator
dengan kapasitas mesin 45 – 50 HP dan volume bucket 0,18 – 0,21 m3 sedangkan untuk
memenuhi kebutuhan volume pekerjaan cutting tanah maka dibutuhkan 3 unit excavator.
Sehingga pekerjaan cutting tanah dapat diselesaikan sesuai dengan time schedule.
d. Peralatan yang digunakan juga harus dalam keadaan baik dikarenakan pekerjaan cutting tanah
diselesaikan dilanjutkan dengan pekerjaan langsiran tanah yang harus dikeluarkan dari area
pekerjaan / proyek menggunakan dump truk yang dibutuhkan 2 unit.
e. Terkait pelaksanaan pekerjaan langsiran Ahli K3 Konstruksi harus menyiapkan akses jalan yang
akan dilalui serta pengurusan ijin lintas dump truk kepada warga dan pihak terkait dikarenakan
akses jalan melewati kawasan permukiman warga untuk langkah pencegahan dampak
lingkungan di akses jalan yang dilalui.
f. Serta perlengkapan SMK3 seperti cone, police line, rambu-rambu, dan banner himbauan harus
terpasang dahulu, serta dipersiapkan flagman untuk mengatur arus lalu lintas dump truk yang
keluar masuk di area pekerjaan / proyek.
g. Dampak lingkungan yang akan ditimbulkan seperti debu, sisa tanah dari dumptruk di jalan harus
segera dibersihkan karena jalan tersebut adalah jalan yang dilalui oleh warga setempat yang bisa
mengakibatkan kecelakaan.
h. Untuk pekerjaan galian pondasi alat yang dibutuhkan adalah excavator dan mesin bored pile
kapasitas Drilling Dia 400 mm s/d 1100mm,Drilling depth 20/27 m, Rated output torque 70 kNm,
Engine Power 84 kW/2200 rpm, Kelly bar Inter-locking kelly 273x3x7.5 weight 2000 kg, Kelly bar
Friction kelly 273x3x7.5 weight 2335 kg yang dibutuhkan 2 unit.
i. Dengan sudah tersusunnya rencana kerja ini selanjutnya harus disesuaikan dengan time
schedule yang sudah dibuat dan sudah disepakati dengan konsultan Mk dan PPK.
j. Setelah rencana kerja sudah dibuat harus dilakukan survei lapangan bersama agar dapat
dilakukan pengecekan rencana pelaksanaan dengan aktual yang ada dilapangan / lokasi.
Sehingga tidak ada perbedaan dalam pelaksanaan galian tanah.
k. Dampak resiko pekerjaan tanah adalah galian runtuh, akses licin / curam, jatuh terperosok.
Jadwal Pekerjaan Tanah
1.b. Pekerjaan Pondasi
a. Sebelum pekerjaan pondasi Manager Teknik 1 membuat rencana mapping pekerjaan dari dimulai
pekerjaan sampai dengan selesai dan koordinasi dengan Ahli K3 Konstruksi untuk persiapan
pekerjaan SMK3 dengan diadakan rapat kordianasi dipimpin Manager Pelaksanaan / Proyek. Guna
mempelajari gambar rencana, spesifikasi, bahan / material, peralatan, personil, tenaga kerja yang
nantinya diajukan ke Pengawas Lapangan / MK.
b. Lingkup yang harus disiapkan adalah pekerjaan pekerjaan pondasi.
c. Setelah itu penentuan peralatan pendukung pekerjaan pondasi menggunakan excavator dengan
kapasitas mesin 45 – 50 HP dan volume bucket 0,18 – 0,21 m3 sedangkan untuk memenuhi
kebutuhan volume pekerjaan pondasi maka dibutuhkan 3 unit excavator. Sehingga pekerjaan
pondasi dapat diselesaikan sesuai dengan time schedule.
d. Peralatan yang digunakan juga harus dalam keadaan baik dikarenakan pekerjaan pondasi
diselesaikan.
e. Terkait pelaksanaan pekerjaan langsiran Ahli K3 Konstruksi harus menyiapkan akses jalan yang
akan dilalui serta pengurusan ijin lintas dump truk kepada warga dan pihak terkait dikarenakan
akses jalan melewati kawasan permukiman warga untuk langkah pencegahan dampak lingkungan
di akses jalan yang dilalui.
f. Serta perlengkapan SMK3 seperti cone, police line, rambu-rambu, dan banner himbauan harus
terpasang dahulu, serta dipersiapkan flagman untuk mengatur arus lalu lintas dump truk yang
keluar masuk di area pekerjaan / proyek.
g. Dampak lingkungan yang akan ditimbulkan seperti debu, sisa tanah dari dumptruk di jalan harus
segera dibersihkan karena jalan tersebut adalah jalan yang dilalui oleh warga setempat yang bisa
mengakibatkan kecelakaan.
h. Untuk pekerjaan galian pondasi alat yang dibutuhkan adalah excavator dan mesin bored pile
kapasitas Drilling Dia 400 mm s/d 1100mm, Drilling depth 20/27 m, Rated output torque 70 kNm,
Engine Power 84 kW/2200 rpm, Kelly bar Inter-locking kelly 273x3x7.5 weight 2000 kg, Kelly bar
Friction kelly 273x3x7.5 weight 2335 kg yang dibutuhkan 2 unit.
i. Dengan sudah tersusunnya rencana kerja ini selanjutnya harus disesuaikan dengan time schedule
yang sudah dibuat dan sudah disepakati dengan konsultan Mk dan PPK.
j. Setelah rencana kerja sudah dibuat harus dilakukan survei lapangan bersama agar dapat
dilakukan pengecekan rencana pelaksanaan dengan aktual yang ada dilapangan / lokasi.
Sehingga tidak ada perbedaan dalam pelaksanaan galian tanah.
k. Dampak resiko pekerjaan tanah adalah galian runtuh, akses licin / curam, jatuh terperosok.
Jadwal Pekerjaan Pondasi
1.c. Pekerjaan Beton
a. Sebelum pekerjaan sebelum Manager Teknik 1 membuat rencana mapping pekerjaan dari
dimulai pekerjaan sampai dengan selesai dan koordinasi dengan Ahli K3 Konstruksi untuk
persiapan pekerjaan SMK3 dengan diadakan rapat kordianasi dipimpin Manager Pelaksanaan /
Proyek. Guna mempelajari gambar rencana, spesifikasi, bahan / material, peralatan, personil,
tenaga kerja yang nantinya diajukan ke Pengawas Lapangan / MK.
b. Lingkup yang harus disiapkan adalah pekerjaan pekerjaan beton terdiri dari pekerjaan besi,
pekerjaan begisting dan pekerjaan beton.
c. Peralatan pendukung pekerjaan besi untuk produksi menggunakan bar bending minimal s/d 32
mm, bar cutter minimal s/d 32 mm dibutuhkan sebanyak masing-masing 2 unit, genset minimal
100Kva sebanyak 1 unit, tower crane dibutuhkan JIB 50-60 meter untuk angkat besi dan
pengecoran, pickup dengan isi silinder 2.499 cc dan kapasitas bak minimal 1,4 ton sebanyak 1
unit dan didatangkan sebelum pekerjaan dimulai. Sehingga pekerjaan pondasi dapat
diselesaikan sesuai dengan time schedule.
d. Peralatan pendukung pekerjaan begisting untuk produksi menggunakan scafolding dengan tinggi
170 mm per set sebanyak 1.800 set dan aksesoris. Karena penggunaan scafolding harus
memenuhi 1,5 lantai.
e. Untuk zona scafolding yang harus dipenuhi seperti gambar diatas, sehingga dapat memenuhi
umur beton dan tidak menghambat pekerjaan begisting selanjutnya.
f. Peralatan yang digunakan juga harus dalam keadaan baik dan harus disiapkan lahan untuk
penyimpanan serta dilakukan perwatan rutin yang dikoordinir oleh Ahli K3 Konstruksi dan apabila
ada kerusakan segera dilaporkan ke Manajer Pelaksanaan / Proyek.
g. Peralatan pendukung untuk pekerjaan beton untuk produksi menggunakan carmix kapasitas 3,5
-4,5 m3 sebanyak 2 unit, concrete pump tipe long boom panjang 32 – 40 meter sebanyak 2 unit,
tower crane spesifikasi JIB 50 – 60 meter untuk pengecoran kolom. Dan personil Ahli K3
Konstruksi memeriksa keadaan peralatan terkait kerusakan dan monitoring perawatan untuk
mencegah dan memperbaiki kerusakan dan apabila ada kerusakan dilaporkan ke Manajemen
Pelaksanaan / Proyek.
h. Terkait pelaksanaan pekerjaan langsiran Ahli K3 Konstruksi harus menyiapkan akses jalan yang
akan dilalui serta pengurusan ijin lintas carmix dan concrete pump kepada warga dan pihak
terkait dikarenakan akses jalan melewati kawasan permukiman warga untuk langkah
pencegahan dampak lingkungan di akses jalan yang dilalui.
i. Serta perlengkapan SMK3 seperti cone, police line, rambu-rambu, dan banner himbauan harus
terpasang dahulu, serta dipersiapkan flagman untuk mengatur arus lalu lintas dump truk yang
keluar masuk di area pekerjaan / proyek.
j. Dampak lingkungan yang akan ditimbulkan seperti debu, sisa tanah, sisa beton dari carmix dan
concrete pump di jalan harus segera dibersihkan karena jalan tersebut adalah jalan yang dilalui
oleh warga setempat yang bisa mengakibatkan kecelakaan.
k. Dengan sudah tersusunnya rencana kerja ini selanjutnya harus disesuaikan dengan time
schedule yang sudah dibuat dan sudah disepakati dengan konsultan MK dan PPK.
l. Setelah rencana kerja sudah dibuat harus dilakukan survei lapangan bersama agar dapat
dilakukan pengecekan rencana pelaksanaan dengan aktual yang ada dilapangan / lokasi.
Sehingga tidak ada perbedaan dalam pelaksanaan galian tanah.
m.Dampak resiko pekerjaan tanah adalah galian runtuh, akses licin / curam, jatuh terperosok.
Jadwal Pekerjaan Beton
1.d. Pekerjaan Rangka Atap Baja
a. Sebelum pekerjaan rangka atap baja Manager Teknik 1 membuat rencana mapping pekerjaan
dari dimulai pekerjaan sampai dengan selesai dan koordinasi dengan Ahli K3 Konstruksi untuk
persiapan pekerjaan SMK3 dengan diadakan rapat kordianasi dipimpin Manager Pelaksanaan /
Proyek. Guna mempelajari gambar rencana, spesifikasi, bahan / material, peralatan, personil,
tenaga kerja yang kemudian akan diajukan Pengawas Lapangan / MK.
b. Mengajukan material approval ke Pengawas Lapangan / MK sebelum pemesanan bahan /
material.
c. Melakukan pengujian bahan / material untuk mengetahui mutu dan berat jenis dengan
didampingi Pengawas Lapangan / MK.
d. Melakukan pengukuran pada pedestal untuk pemasangan angkur dari jumlah angkur, tegak lurus
angkur, dan base plat dialkukan pengecekan hasil pemasangan angkur dengan Penagawas
Lapangan / MK.
e. Membersihkan area lokasi fabrikasi dari material yang menggangu dan mengajukan Ijin
Pelaksanaan dengan persetujuan Manajer tekni 1 dan Manajer Pelaksanaan / Proyek.
f. Setelah itu penentuan peralatan pendukung pekerjaan rangka atap baja menggunakan tower
crane dengan spesifikasi JIB 50-60 meter. Sehingga pekerjaan pondasi dapat diselesaikan sesuai
dengan time schedule.
g. Sebelum pasang rangka atap baja, rangka di cat zincromate.
h. Peralatan yang digunakan juga harus dalam keadaan baik dikarenakan pekerjaan rangka atap
baja diselesaikan.
i. Terkait pelaksanaan pekerjaan langsiran Ahli K3 Konstruksi dan Manajer Teknik 1 berkoordinasi
menetukan area fabrikasi serta kesiapan area dilantai 5 seperti angkur untuk erection rangka
atap baja dititik kolom pedestal yang akan dipasang.
j. Setelah erection rangka atap baja
k. Serta perlengkapan SMK3 seperti cone, police line, rambu-rambu, dan banner himbauan harus
terpasang dahulu, serta dipersiapkan flagman untuk mengatur arus lalu lintas dump truk yang
keluar masuk di area pekerjaan / proyek.
l. Dampak lingkungan yang akan ditimbulkan seperti debu, sisa tanah dari dumptruk di jalan harus
segera dibersihkan karena jalan tersebut adalah jalan yang dilalui oleh warga setempat yang bisa
mengakibatkan kecelakaan.
m.Dengan sudah tersusunnya rencana kerja ini selanjutnya harus disesuaikan dengan time
schedule yang sudah dibuat dan sudah disepakati dengan konsultan Mk dan PPK.
n. Setelah rencana kerja sudah dibuat harus dilakukan survei lapangan bersama agar dapat
dilakukan pengecekan rencana pelaksanaan dengan aktual yang ada dilapangan / lokasi.
Sehingga tidak ada perbedaan dalam pelaksanaan galian tanah.
o. Dampak resiko pekerjaan tanah adalah galian runtuh, akses licin / curam, jatuh terperosok.
Jadwal Pekerjaan Rangka Atap Baja
II. PEKERJAAN ARSITEKTUR
2.a. Pekerjaan Pasangan
a. Sebelum pekerjaan pasangan Manager Teknik 1 membuat rencana mapping pekerjaan dari
dimulai pekerjaan sampai dengan selesai dan koordinasi dengan Ahli K3 Konstruksi untuk
persiapan pekerjaan SMK3 dengan diadakan rapat kordianasi dipimpin Manager Pelaksanaan /
Proyek.
b. Lingkup yang harus disiapkan adalah pekerjaan Pasangan bata ringan, Plesteran dan acian.
c. Setelah itu penentuan peralatan pendukung pekerjaan pasangan menggunakan Tower Crane
dengan spesifikasi JIB 50 s/d JIB 60 dengan jumlah 1 unit..Sehingga pekerjaan pasangan dapat
diselesaikan sesuai dengan time schedule.
d. Peralatan yang digunakan juga harus dalam keadaan baik dikarenakan pekerjaan pasangan
diselesaikan dilanjutkan dengan pekerjaan plafond dan pekerjaan penutup lantai.
e. Pada pekerjaan pasangan tidak bisa lepas dengan pekerjaan struktur, artinya pekerjaan pasangan
dapat dilaksanakan apabila beton sudah mencukupi umur dan sudah dilaksanakan
pembongkaran scaffolding. Terkait alur zonasi pekerjaan mengikuti alur zonasi pekerjaan
struktur.
f. Sebelum melaksanakan pekerjaan plesteran dan acian, dilakukan pemeriksaan dan menjamin
bahwa semua pipa-pipa, saluran-saluran, angker dan sebagainya telah terpasang dan disetujui
secara tertulis Konsultan MK. Kontraktor wajib memeriksa permukaan-permukaan yang akan
dilapisi, bila terdapat cacat atau keadaan yang merugikan, harus diperbaiki lebih dahulu.
g. Pasangan kepala plesteran dibuat pada jarak 1 m, dipasang tegak dan menerus menggunakan
bilah-bilah plywood/kayu sementara setebal yang diperlukan untuk patokan kerataan bidang.
h. Perataan plesteran antar kepalaan plesteran harus menggunakan bilah/jidar dari aluminium
hollow yang cukup kuat dan lurus sehingga dicapai kerataan plesteran (tidak bergelombang) baik
secara tegak maupun mendatar
i. Bilamana dicapai hasil yang bergelombang maka Kontraktor harus memperbaikinya sehingga
tidak bergelombang.
j. Setiap pertemuan yang datar terhadap lengkung atau cembung bidang tidak boleh melebihi 5 mm
untuk setiap jarak 2 m. jika melebihi Kontraktor berkewajiban memperbaikinya dengan biaya atas
tanggungan Kontraktor
k. Tingkat Kelembaban plesteran harus dijaga sehingga pengeringan berlangsung wajar tidak terlalu
tiba-tiba seperti setiap kali terpapar dari terik panas matahari, harus ditutup dengan bahan
penutup yang bisa mencegah penguapan air secara cepat.Jika terjadi keretakan sebagai akibat
pengeringan yang tidak baik, plesteran harus dibongkar kembali dan diperbaiki sampai dinyatakan
dapat diterima oleh Konsultan MK dengan biaya atas tanggungan Kontraktor.
l. Terkait pelaksanaan pekerjaan pasangan Ahli K3 Konstruksi harus menyiapkan dan memasang
perlengkapan SMK3 seperti, police line,safety net disekitar area kerja untuk menghindari jatuhnya
material,Penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) seperti body harnes,Helm, Sepatu safety,Masker,
Sarung Tangan, dan pelindung mata , pagar pengaman,rambu-rambu, dan banner himbauan dan
larangan harus terpasang dahulu terutama untuk pekerjaan pasangan yang berada diatas
ketinggian.
m. Pastikan material tidak dibuang sembarangan dan tidak mencemari lingkungan sekitar. Sisa
semen dan bahan kimia lainnya harus dibuang sesuai dengan standar pembuangan bahan
berbahaya.
n. Dengan sudah tersusunnya rencana kerja ini selanjutnya harus disesuaikan dengan time schedule
yang sudah dibuat dan sudah disepakati dengan konsultan MK dan PPK.
o. Setelah rencana kerja sudah dibuat harus dilakukan survei lapangan bersama agar dapat
dilakukan pengecekan rencana pelaksanaan dengan aktual yang ada dilapangan / lokasi.
Sehingga tidak ada perbedaan dalam pelaksanaan pekerjaan pasangan.
p. Dampak resiko pekerjaan pasangan adalah :
Terjatuh dari ketinggian ,Pastikan pengaman jatuh (fall arrest system) harus tersedia untuk
pekerja yang berada pada ketinggian lebih dari 2 meter.Pagar pengaman pada perimeter
bangunan, terutama pada sisi yang terpapar risiko jatuh.Penempatan tanda peringatan
atau rambu untuk menghindari pekerja lain memasuki area berbahaya.
Tertimpa alat, jatuh terpeleset,tertimpa material bata atau material lain jatuh saat
diangkat menggunakan tower crane, tertusuk besi, tertusuk paku, tertimpa kayu bekisting.
Kecelakaan akibat tower crane yang tidak berfungsi atau pengunaan alat yang tidak sesuai
standar.
Cedera kulit akibat kontak langsung dengan plester atau bahan kimia yang ada dalam
plester.
q. Jadwal pelaksanaan Pekerjaan :
jadwal Pelaksanaan pekerjaan pasangan
2.b. Pekerjaan Penutup Lantai dan Dinding
a. Sebelum pekerjaan Penutup Lantai dan dinding Manager Teknik 1 membuat rencana mapping
pekerjaan dari dimulai pekerjaan sampai dengan selesai dan koordinasi dengan Ahli K3
Konstruksi untuk persiapan pekerjaan SMK3 dengan diadakan rapat kordianasi dipimpin
Manager Pelaksanaan / Proyek.
b. Lingkup yang harus disiapkan adalah pekerjaan penutup lantai.
c. Setelah itu penentuan peralatan pendukung pekerjaan pasangan menggunakan Tower Crane
dengan spesifikasi JIB 50 s/d JIB 60 dengan jumlah 1 unit. Alat ini digunakan untuk mengangkat
material dari area penyimpanan di bawah ke lantai yang akan dikerjakan, Sehingga pekerjaan
penutup lantai dapat diselesaikan sesuai dengan time schedule.
d. Peralatan yang digunakan juga harus dalam keadaan baik dikarenakan pekerjaan pasangan
diselesaikan dilanjutkan dengan pekerjaan pengecatan dan pemasangan kusen.
e. Pada pekerjaan penutup lantai tidak bisa lepas dengan pekerjaan struktur, dan pekerjaan
pasangan artinya pekerjaan penutup lantai dapat dilaksanakan apabila beton sudah mencukupi
umur dan sudah dilaksanakan pembongkaran scaffolding, dan pada area yang akan dikerjakan
penutup lantai sudah selesai dalam mengerjakan pasangan dinding dan pekerjaan plafond.
Terkait alur zonasi pekerjaan mengikuti alur zonasi pekerjaan struktur dan pasangan.
f. Perlu diperhatikan sebelum mengerjakan pekerjaan penutup lantai, Lantai beton harus padat
dan rata dan dikerjakan sesuai dengan standard pengerjaan lantai beton yang baik dan benar
dimana resiko terjadinya retak susut/kering sudah dikurangin dengan adanya siar-siar pada jarak
tertentu dan kerataan permukaan dengan menggunakan dudukan bekisting yang kuat dan kaku
serta jidar yang rata dan kaku.
g. Lantai yang sudah dikerjakan tidak boleh terkena air selama 48 jam dan sebaiknya tidak dipakai
selama 1 (satu) minggu. Jika akan segera dibebani dengan lalu lintas yang berat dalam 2 (dua)
minggu pertama umur beton maka sebaiknya dilindungi dengan multipleks plywood
h. Terkait pelaksanaan pekerjaan pasangan Ahli K3 Konstruksi harus menyiapkan dan memasang
perlengkapan SMK3,Penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) seperti,Helm, Sepatu safety,Masker,
Sarung Tangan, dan pelindung mata ,rambu-rambu, dan banner himbauan dan larangan harus
terpasang dahulu.
i. Pastikan material tidak dibuang sembarangan dan tidak mencemari lingkungan sekitar. Sisa
semen dan bahan kimia lainnya harus dibuang sesuai dengan standar pembuangan bahan
berbahaya.
j. Dengan sudah tersusunnya rencana kerja ini selanjutnya harus disesuaikan dengan time
schedule yang sudah dibuat dan sudah disepakati dengan konsultan MK dan PPK.
k. Setelah rencana kerja sudah dibuat harus dilakukan survei lapangan bersama agar dapat
dilakukan pengecekan rencana pelaksanaan dengan aktual yang ada dilapangan / lokasi.
Sehingga tidak ada perbedaan dalam pelaksanaan pekerjaan penutup lantai.
l. Dampak resiko pekerjaan penutup lantai adalah :
Terjatuh dari ketinggian ,Pastikan pengaman jatuh (fall arrest system) harus tersedia untuk
pekerja yang berada pada ketinggian lebih dari 2 meter.Pagar pengaman pada perimeter
bangunan, terutama pada sisi yang terpapar risiko jatuh.Penempatan tanda peringatan atau
rambu untuk menghindari pekerja lain memasuki area berbahaya.
Tertimpa alat, jatuh terpeleset,tertimpa material bata atau material lain jatuh saat diangkat
menggunakan tower crane, tertusuk besi, tertusuk paku, tertimpa kayu bekisting.
Kecelakaan akibat tower crane yang tidak berfungsi atau pengunaan alat yang tidak sesuai
standar.
Cedera kulit akibat kontak langsung dengan plester atau bahan kimia yang ada dalam
plester.
m. Jadwal pelaksanaan Pekerjaan :
jadwal Pelaksanaan pekerjaan Penutup Lantai dan dinding
2.c. Pekerjaan Pengecatan
a. Sebelum pekerjaan pengecatan Manager Teknik 1 membuat rencana mapping pekerjaan dari
dimulai pekerjaan sampai dengan selesai dan koordinasi dengan Ahli K3 Konstruksi untuk
persiapan pekerjaan SMK3 dengan diadakan rapat kordianasi dipimpin Manager Pelaksanaan /
Proyek.
b. Lingkup yang harus disiapkan adalah pekerjaan Pengecatan.
c. Sebelum pelaksanaan pengecatan beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu terkait pemilihan
warna dan contoh hasil pengecatan dengan media ruangan yang digunakan sebagai mockup.
Pastikan dinding sudah benar benar kering. Faktor kekeringan pada dinding yang akan dicat
berpengaruh langsung pada daya rekat cat yang akan diaplikasikan, cat akan bagus jika
menempel langsung pada permukaan dinding yang akan dicat. Bersihkan permukaan dinding
dengan amplas yang kasar atau gunakan scraping besi untuk membersihkan permukaan dari
sisa acian yang menonjol atau kotoran yang mengeras.
d. Lapisi permukaan dinding dengan cairan alkali dengan cara di rol atau kuas untuk menahan
keluarnya air dari dalam tembok (hal ini dilakukan apabila permukaan dinding belum benar
benar kering dari persyaratan minimum yang diperlukan).Penggunaan wall filler dan alkali
resisting primer sebaiknya dari merk sama dengan produk catnya.Pengecatan dilakukan dengan
kuas/roller sampai didapatkan hasil akhir yang merata warnanya minimal tiga kali pengecatan
dan harus didapat warna yang merata
e. Terkait pelaksanaan pekerjaan pengecatan Ahli K3 Konstruksi harus menyiapkan dan memasang
perlengkapan SMK3 seperti, police line,safety net disekitar area kerja untuk menghindari
jatuhnya material,Penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) seperti body harnes,Helm, Sepatu
safety,Masker, Sarung Tangan, dan pelindung mata , pagar pengaman,rambu-rambu, dan
banner himbauan dan larangan harus terpasang dahulu terutama untuk pekerjaan pengecatan
yang berada diatas ketinggian.
f. Pastikan material limbah tidak dibuang sembarangan dan tidak mencemari lingkungan sekitar.
Sisa cat dan bahan kimia lainnya harus dibuang sesuai dengan standar pembuangan bahan
berbahaya.
g. Dengan sudah tersusunnya rencana kerja ini selanjutnya harus disesuaikan dengan time
schedule yang sudah dibuat dan sudah disepakati dengan konsultan MK dan PPK.
h. Setelah rencana kerja sudah dibuat harus dilakukan survei lapangan bersama agar dapat
dilakukan pengecekan rencana pelaksanaan dengan aktual yang ada dilapangan / lokasi.
Sehingga tidak ada perbedaan dalam pelaksanaan pekerjaan pengecatan.
i. Dampak resiko pekerjaan pengecatan adalah :
Terjatuh dari ketinggian ,Pastikan pengaman jatuh (fall arrest system) harus tersedia untuk
pekerja yang berada pada ketinggian lebih dari 2 meter.Pagar pengaman pada perimeter
bangunan, terutama pada sisi yang terpapar risiko jatuh.Penempatan tanda peringatan atau
rambu untuk menghindari pekerja lain memasuki area berbahaya.
Tertimpa alat, jatuh terpeleset,tertimpa material-material yang jatuh saat diangkat
menggunakan tower crane,. Kecelakaan akibat tower crane yang tidak berfungsi atau pengunaan
alat yang tidak sesuai standar.
Cedera kulit akibat kontak langsung dengan cat atau bahan kimia yang ada dalam cat.
j. Jadwal pelaksanaan Pekerjaan :
jadwal Pelaksanaan pekerjaan pengecatan
2.d. Pekerjaan Kusen
a. Sebelum pekerjaan Kusen Manager Teknik 1 membuat rencana mapping pekerjaan dari dimulai
pekerjaan sampai dengan selesai dan koordinasi dengan Ahli K3 Konstruksi untuk persiapan
pekerjaan SMK3 dengan diadakan rapat kordianasi dipimpin Manager Pelaksanaan / Proyek.
b. Lingkup yang harus disiapkan adalah pekerjaan Kusen Aluminium, Hardware, daun pintu solid
engineering.
c. Sebelum pelaksanaan pekerjaan perlu meneliti gambar-gambar dan kondisi dilapangan
(ukuran dan peil lubang) serta membaut contoh jadi untuk semua detail sambungan dan
profil alluminium yang berhubungan dengan sistem konstruksi bahan lain.
d. Prioritas proses pabrikasi, harus sudah siap sebelum pekerjaan dimulai, dengan membuat
lengkap dahulu shop drawing dengan petunjuk Konsultan MK meliputi gambar denah, lokasi,
merk, kualitas, bentuk, ukuran.
e. Semua frame/kusen baik untuk dinding, jendela dan pintu dikerjakan secara pabrikasi dengan
teliti sesuai dengan ukuran dan kondisi lapangan agar hasilnya dapat dipertanggung jawabkan.
f. Pemotongan aluminium hendaknya dijauhkan dari material besi untuk menghindarkan
penempelan debu besi pada permukaannya. Didasarkan untuk mengerjakannya pada tempat
yang aman dengan hati-hati tanpa menyebabkan kerusakan pada permukaannya
g. Angkur-angkur untuk rangka/kusen alluminium terbuat dari steel plate setebal 2-3 mm dan
ditempatkan pada interval 600 mm.
h. Penyekrupan harus dipasang tidak terlihat dari luar dengan sekrup anti karat/stainless steel,
sedemikian rupa sehingga hair line dari tiap sambungan harus kedap air dan memenuhi
syarat kekuatan terhadap air sebesar 1.000 kg/cm2.
i. Toleransi pemasangan kusen alluminium disatu sisi dinding adalah 10 – 25 mm yang
kemudian diisi dengan beton ringan/grout.
j. Untuk memperoleh kekedapan terhadap kebocoran udara terutama pada ruang yang
dikondisikan hendaknya ditempatkan mohair dan jika perlu dapat digunakan synthetic rubber
atau bahan dari synthetic resin.
k. Sekeliling tepi kusen yang terlihat terbatas dengan dinding agar diberi sealent supaya kedap air
dan kedap suara.
l. Terkait pekerjaan daun pintu sebelum pemasangan, penimbunan bahan-bahan di tempat
pekerjaan harus ditempatkan pada ruang/tempat dengan sirkulasi udara yang baik, tidak
terkena cuaca langsung dan terlindung dari kerusakan dan kelembaban. Harus diperhatikan
semua sambungan siku/sudut untuk rangka kayu dan penguat lain yang diperlukan hingga
terjamin kekuatannya dengan memperhatikan/menjaga kerapian terutama untuk bidang-
bidang tampak tidak boleh ada lubang-lubang atau cacat bekas penyetelan.
m. Untuk pemasangan hardware kusen seperti pemasangan lockcase, handle dan back plate
serta door closer harus rapi, lurus dan sesuai dengan letak posisi yang telah ditentukan oleh
Konsultan MK. Apabila hal tersebut tidak tercapai, Kontraktor wajib memperbaiki tanpa
tambahan biaya.Seluruh perangkat kunci harus bekerja dengan baik, untuk itu harus dilakukan
pengujian secara kasar dan halus.
n. Terkait pelaksanaan pekerjaan kusen Ahli K3 Konstruksi harus menyiapkan dan memasang
perlengkapan SMK3 seperti, police line,safety net disekitar area kerja untuk menghindari
jatuhnya material,Penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) seperti body harnes,Helm, Sepatu
safety,Masker, Sarung Tangan, dan pelindung mata , pagar pengaman,rambu-rambu, dan
banner himbauan dan larangan harus terpasang dahulu terutama untuk pekerjaan kusen yang
berada diatas ketinggian.
o. Dengan sudah tersusunnya rencana kerja ini selanjutnya harus disesuaikan dengan time
schedule yang sudah dibuat dan sudah disepakati dengan konsultan MK dan PPK.
p. Setelah rencana kerja sudah dibuat harus dilakukan survei lapangan bersama agar dapat
dilakukan pengecekan rencana pelaksanaan dengan aktual yang ada dilapangan / lokasi.
Sehingga tidak ada perbedaan dalam pelaksanaan pekerjaan kusen.
q. Dampak resiko pekerjaan kusen adalah :
Terjatuh dari ketinggian ,Pastikan pengaman jatuh (fall arrest system) harus tersedia untuk
pekerja yang berada pada ketinggian lebih dari 2 meter.Pagar pengaman pada perimeter
bangunan, terutama pada sisi yang terpapar risiko jatuh.Penempatan tanda peringatan atau
rambu untuk menghindari pekerja lain memasuki area berbahaya.
Tertimpa alat, jatuh terpeleset,tersayat circle saw, mata terkena debu serpihan potongan
aluminium,tertusuk mesin bor. Tertimpa material-material yang jatuh saat diangkat
menggunakan tower crane.Kecelakaan akibat tower crane yang tidak berfungsi atau
pengunaan alat yang tidak sesuai standar.
r. Jadwal pelaksanaan Pekerjaan :
jadwal Pelaksanaan pekerjaan kusen
2.f. Pekerjaan Sanitair
a. Sebelum pekerjaan Sanitair Manager Teknik 1 membuat rencana mapping pekerjaan dari dimulai
pekerjaan sampai dengan selesai dan koordinasi dengan Ahli K3 Konstruksi untuk persiapan
pekerjaan SMK3 dengan diadakan rapat kordianasi dipimpin Manager Pelaksanaan / Proyek.
b. Lingkup yang harus disiapkan adalah pekerjaan Sanitair.
c. Sebelum pelaksanaan pekerjaan perlu meneliti gambar-gambar yang ada dan kondisi dilapangan,
termasuk mempelajari bentuk, pola, penempatan, pemasangan sparing-sparing, cara
pemasangan dan detail-detail sesuai gambar. Semua material untuk pekerjaan sanitair yang
dipasang telah diseleksi baik, tanpa cacat dan disetujui tertulis Konsultan MK.
d. Untuk pekerjaan wastafel dan perlengkapannya yang dipasang Ketinggian dan konstruksi
pemasangan harus disesuaikan gambar untuk itu serta petunjuk-petunjuk dari produsennya
dalam brosur. Pemasangan harus baik, rapi, waterpass dan dibersihkan dari semua kotoran dan
noda dan penyambungan instalasi plumbingnya tidak boleh ada kebocoran-kebocoran
e. Pada tempat-tempat yang akan dipasang floor drain, penutup lantai harus dilubangi dengan rapi,
menggunakan pahat kecil dengan bentuk dan ukuran sesuai ukuran floor drain tersebut.
f. Pada pemasangan Kloset, Urinal dan Wastafel pada pertemuan dengan dinding harus di tutup
sealent.
g. Terkait pelaksanaan pekerjaan sanitair Ahli K3 Konstruksi harus menyiapkan dan memasang
perlengkapan SMK3 seperti, police line,safety net disekitar area kerja untuk menghindari jatuhnya
material,Penyediaan Alat Pelindung Diri (APD),Helm, Sepatu safety,Masker, Sarung Tangan, dan
pelindung mata , pagar pengaman,rambu-rambu, dan banner himbauan dan larangan harus
terpasang dahulu terutama untuk pekerjaan sanitair yang berada diatas ketinggian.
h. Dengan sudah tersusunnya rencana kerja ini selanjutnya harus disesuaikan dengan time schedule
yang sudah dibuat dan sudah disepakati dengan konsultan MK dan PPK.
i. Setelah rencana kerja sudah dibuat harus dilakukan survei lapangan bersama agar dapat
dilakukan pengecekan rencana pelaksanaan dengan aktual yang ada dilapangan / lokasi.
Sehingga tidak ada perbedaan dalam pelaksanaan pekerjaan kusen.
j. Dampak resiko pekerjaan sanitair adalah :
Terjatuh dari ketinggian ,Pastikan pengaman jatuh (fall arrest system) harus tersedia untuk pekerja
yang berada pada ketinggian lebih dari 2 meter.Pagar pengaman pada perimeter bangunan,
terutama pada sisi yang terpapar risiko jatuh.Penempatan tanda peringatan atau rambu untuk
menghindari pekerja lain memasuki area berbahaya.
Tertimpa alat, jatuh terpeleset, Tertimpa material-material yang jatuh saat diangkat menggunakan
tower crane.Kecelakaan akibat tower crane yang tidak berfungsi atau pengunaan alat yang tidak
sesuai standar.
Cedera otot, cedera sendi, atau patah tulang dikarenakan beberapa material sanitair memiliki
beban yang berat.
Iritasi kulit, gangguan pernapasan, atau keracunan akibat paparan bahan kimia
k. Jadwal pelaksanaan Pekerjaan :
jadwal Pelaksanaan pekerjaan Sanitair
2.g. Pekerjaan Facade
a. Sebelum pekerjaan Penutup Lantai Manager Teknik 1 membuat rencana mapping pekerjaan dari
dimulai pekerjaan sampai dengan selesai dan koordinasi dengan Ahli K3 Konstruksi untuk
persiapan pekerjaan SMK3 dengan diadakan rapat kordianasi dipimpin Manager Pelaksanaan /
Proyek.
b. Lingkup yang harus disiapkan adalah pekerjaan Alumunium Composit Panel (ACP), Pekerjaan
Curtain Wall.
c. Sebelum pelaksanaan pekerjaan fasad beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu Setiap hasil
produk dari pabrik harus dilengkapi dengan gambar tersendiri atas denah, tampak, dan potongan
detail yang mengindikasikan hubungan, baik dengan item pekerjaan yang sama dan dengan item
konstruksi lain di lapangan yang ada, perkuatan, ankur, dan item tambahan, dan finishing
material.
d. Untuk melaksanakan pekerjaan ACP hanya tenaga kerja spesialis yang terlatih yang
berpengalaman, baik dengan material dan metode yang disyaratkan dan menguasai persyaratan
desain yang boleh dikerjakan.
e. Pabrikan memiliki pengalaman dalam memproduksi aluminium lembaran dan komposit dengan
ukuran dan lingkup pekerjaan yang setara. Produk dari pabrik harus pernah digunakan
sebelumnya untuk pekerjaan eksterior dengan hasil yang memuaskan.
f. Pabrikan harus memiliki kemampuan untuk memproduksi unit-unit tersebut sesuai jadwal.
Ajukan contoh produk dengan dokumen laboratorium independent kepada Konsultan MK.
g. Mengingat pekerjaan fasad merupakan pekerjaan yang krusial sehingga pelaksana nantinya
harus memiliki Surat Dukungan Material Alumunium Composite Panel (ACP), yang harus
disertakan :
Brosur dari produk ACP tersebut
Surat Penunjukan Distributor/sales dari principle (apabila dukungan dari distributor)
Memiliki ISO 9001, 14001 dan 45001, Hasil Uji Test Chemical Composition ASTM E 34-06
h. Terkait pekerjaan Curtain Wall Pemasangan dilakukan oleh tenaga ahli yang khusus dalam
pekerjaan ini dengan menunjukkan surat keterangan referensi pekerjaan-pekerjaan yang pernah
dikerjakan kepada Direksi Lapangan untuk mendapatkan persetujuan
i. Pelaksanaan pemasangan harus lengkap dengan peralatan bantu untuk mempermudah serta
mempercepat pemasangan dengan hasil pemasangan yang akurat , teliti dan tepat pada
posisinya.Untuk pemasangan rangka, pasang dahulu besi siku nya dengan posisi seperti pada
gambar kerja sebagai dasar rangka panel.
j. Untuk mengikat besi siku dengan dinding, digunakan dinabolt ø 10mm yang sebelumnya sudah
di bor. Jarak antar dinabolt bisa dilihat pada gambar kerja. Setelah itu, pasang rangka aluminium
38x38 untuk landasan panel composit di setelah rangka besi siku.
k. Posisi dan jarak rangka aluminium 38x38 di sesuaikan dengan gambar kerja.Lalu, untuk
mengikat rangka aluminium dengan besi siku, digunakan dinabolt ø10mm yang sebelumnya di
bor dahulu.
l. Rangka-rangka untuk Curtain Wall harus diperiksa dengan teliti, harus tegak lurus, dan
terpasang pada posisinya.Setelah semua rangka sudah benar pemasangan maupun posisinya,
siapkan panel composit yang sudah diukur dan dipotong sesuai ukuran pada gambar kerja.
m. Untuk pemasangan curtain wall, rangka profil aluminium horizontal dan vertical dipasang
setelah rangka besi siku. kemudian kaca one way dipotong – potong sesuai ukuran pada gambar.
selanjutnya dipasang pada rangka – rangka yang sudah disediakan.
n. Setelah itu, sambungan pada celah-celah diberi sealant.
o. Pembersihan panel dan curtain wall setelah pekerjaan selesai dapat dilaksanakan dengan air
dan spons atau sikat lembut. Apabila pengotoran lebih berat bisa ditambahkan deterjen netral.
p. Kontraktor harus melindungi pekerjaan yang telah selesai dari hal-hal yang dapat menimbulkan
kerusakan. Bila hal itu terjadi, Kontraktor harus memperbaiki tanpa biaya tambahan dan waktu
tetap sesuai dengan kontrak.
q. Hasil pemasangan pekerjaan Curtain Wall harus merupakan hasil pekerjaan yang rapih dan tidak
bergelombang
r. Dengan sudah tersusunnya rencana kerja ini selanjutnya harus disesuaikan dengan time
schedule yang sudah dibuat dan sudah disepakati dengan konsultan MK dan PPK.
s. Setelah rencana kerja sudah dibuat harus dilakukan survei lapangan bersama agar dapat
dilakukan pengecekan rencana pelaksanaan dengan aktual yang ada dilapangan / lokasi.
Sehingga tidak ada perbedaan dalam pelaksanaan pekerjaan fasad.
t. Dampak resiko pekerjaan fasad adalah :
Terjatuh dari ketinggian ,Pastikan pengaman jatuh (fall arrest system) harus tersedia untuk
pekerja yang berada pada ketinggian lebih dari 2 meter.Pagar pengaman pada perimeter
bangunan, terutama pada sisi yang terpapar risiko jatuh.Penempatan tanda peringatan atau
rambu untuk menghindari pekerja lain memasuki area berbahaya.
Tertimpa alat, jatuh terpeleset,tertimpa material-material yang jatuh saat diangkat
menggunakan tower crane,Kecelakaan akibat tower crane yang tidak berfungsi atau pengunaan
alat yang tidak sesuai standar.
u. Jadwal pelaksanaan Pekerjaan :
jadwal Pelaksanaan pekerjaan fasad
III. PEKERJAAN MEKANIKAL, ELEKTRIKAL, PLUMBING
3.1. Pekerjaan Listrik
Pelajari gambar rencana instalasi listrik, termasuk jalur kabel, panel, titik lampu, sakelar, stop
kontak, dan peralatan lainnya dengan Manajer Teknik, Manajer Ahli K3, Manajer Pelaksana /
Proyek.
Pastikan spesifikasi material sesuai dengan RKS, RAB yang sudah ditentukan dan diajukan
Material Approval, Ijin Pelaksanaan kepada Pengawas Lapangan / MK untuk mendapatkan
persetujuan.
Material seperti Kabel listrik, pipa conduit (PVC atau besi), fitting, MCB (Miniature Circuit
Breaker), sakelar, stop kontak, panel listrik, dan tipe, warna cahaya lampu diajukan Manajer
teknik 1 ke Pengawas Lapangan / MK dengan lampiran RKS, RAB, Gambar Kerja.
Pelaksanaan SMK3L oleh Ahli K3 Konstruksi antara lain memastikan area kerja bersih dan bebas
dari material yang dapat mengganggu pekerjaan. Menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti
sarung tangan, sepatu safety, dan helm proyek.
Ahli K3 Konstruksi juga mengidentifikasi bahaya pada pekerjaan ini seperti tersayat benda tajam,
tersengat listrik, jatuh dari ketinggian, tertimpa benda jatuh.
Sebelum pelaksanaan pekerjaan Manajer Teknik 1 mengajukan Ijin Pelaksanaan ke Pengawas
Lapangan / MK dengan menjelaskan .
Pasang pipa conduit (baik yang ditanam di dinding/plafon atau ditarik dalam jalur kabel) sesuai
jalur yang ditentukan pada gambar kerja. Serta ketinggian armatuer sesuai dengan Gambar
Rencana.
Pastikan penyambungan antar pipa conduit rapi menggunakan flexible dan menggunakan fitting
yang sesuai.
Pemasangan kabel sesuai dengan spesifikasi dan penyambungan dilaksanakan sesuai
ketentuan. Setelah itu dilakukan tes merger untuk memeriksa tegangan pada sambungan untuk
mencegah kabel terputus dengan didampingi Pengawas Lapangan / MK.
Tarik kabel melalui conduit atau ducting dengan hati-hati agar tidak merusak isolasi kabel.
Tandai kabel untuk memudahkan identifikasi fungsi (misalnya: fase, netral, dan grounding).
Pasang panel listrik, MCB, sakelar, stop kontak, dan titik lampu sesuai rencana instalasi.
Pastikan setiap sambungan kabel menggunakan konektor atau isolasi kabel yang baik.
Cek kembali bahwa setiap peralatan telah dipasang dengan benar dan tidak ada hubungan
singkat (short circuit).
Periksa kembali semua sambungan, pastikan tidak ada kabel yang terkelupas atau longgar.
Pastikan sistem grounding sudah terpasang dengan baik untuk keamanan dari sengatan listrik.
Lakukan uji coba penyalaan lampu, sakelar, dan stop kontak.
Gunakan multimeter untuk mengukur tegangan dan memastikan kabel tidak ada hubungan
pendek.
Gunakan earth tester untuk memastikan sistem grounding berfungsi dengan baik.
Lakukan uji beban untuk memastikan jaringan listrik dapat beroperasi dengan stabil tanpa
overload.
Dan dituangkan dalam Ceklist Pekerjaan yang disetujui oleh Kontraktor dan Pengawas Lapangan
/ MK.
Rapikan instalasi listrik dan pastikan tidak ada kabel yang menggantung atau terkelupas.
Pasang label pada panel listrik dan titik instalasi untuk memudahkan identifikasi.
Serahkan dokumentasi instalasi listrik kepada pemilik proyek untuk referensi perawatan di masa
depan.
Tabel Jadwal Pekerjaan Listrik
3.2. Pekerjaan Plumbing (Pemipaan Gedung)
Manajer Teknik 2 memastikan gambar kerja dan spesifikasi material sesuai dengan desain yang
direncanakan dan membuat Gambar kerja (Shopdrawing) dan Material Approval yang diajukan ke
Pengawas Lapangan / MK.
Manajer Teknik 2 mempelajari lingkup pekerjaan dengan mengidentifikasi jalur pipa air bersih, air
kotor, air limbah. Dan mempelajarai dimensi, tipe, ukuran, ketebalan material / bahan yang akan
digunakan. Serta mempelajari denah tata ruang, detail pemipaan, detail perkabelan, serta
pemasangan sparingan yang sudah direncanakan.
Mengevaluasi bahan / material Pipa PVC, pipa PPR, pipa HDPE, pipa galvanis, fitting (sambungan,
elbow, tee, reducer), kran, valve, pompa air, dan tangki air. Dan apabila ada perbedaan notasi,
ukuran atau tipe akan diklarifikasi dengan Pengawas Lapangan sebelum dikerjakan.
Terkait keselamatan kerja, Ahli K3 Konstruksi memberikan arahan kepada pekerja untuk memakai
APD seperti sarung tangan, sepatu safety, dan helm proyek dan dimonitoring oleh Ahli K3
Konstruksi dan membuat laporan K3.
Pastikan jalur kerja bebas dari material lain yang bisa menghambat pekerjaan.
Tentukan jalur pipa sesuai gambar kerja, baik untuk pipa tertanam di dinding/lantai atau di atas
plafon sesuai dengan Gambar Kerja.
Potong pipa sesuai ukuran yang dibutuhkan dan lakukan penyambungan menggunakan metode
yang sesuai (lem PVC untuk PVC, heat fusion untuk PPR, atau drat/ulir untuk pipa galvanis).
Pasang fitting dan valve pada titik yang telah ditentukan.
Pastikan ada slope/kemiringan yang cukup untuk mencegah air tergenang dalam pipa.
Lakukan uji tekanan dengan mengisi pipa dengan air dan memeriksa kebocoran.
Tentukan jalur pipa pembuangan air kotor dari wastafel, kamar mandi, dapur, dan toilet menuju
saluran utama pembuangan sesuai dengan Gambar Kerja.
Gunakan pipa PVC atau pipa HDPE dengan sambungan yang rapat agar tidak bocor.
Pastikan kemiringan pipa cukup (±2% atau 2 cm per meter) untuk memastikan aliran air lancar ke
saluran pembuangan.
Pasang pipa ventilasi untuk menghindari tekanan udara dalam pipa yang dapat mengganggu aliran
air kotor.
Hubungkan sistem air limbah ke septik tank atau jaringan pembuangan kota sesuai peraturan yang
berlaku.
Pasang talang dan downspout (pipa vertikal) untuk mengalirkan air hujan dari atap ke saluran
drainase.
Pastikan jalur pipa bebas hambatan dan memiliki kemiringan yang cukup agar air tidak
menggenang.
Pasang pipa hydrant atau sprinkler sesuai spesifikasi teknis dan peraturan kebakaran.
Gunakan pipa tahan tekanan tinggi seperti pipa galvanis atau pipa HDPE.
Hubungkan sistem ke pompa pemadam kebakaran dan lakukan uji tekanan untuk memastikan
tidak ada kebocoran.
Lakukan uji tekanan dengan mengalirkan air ke dalam sistem dan memeriksa apakah ada
kebocoran dengan didampingi Pengawas Lapangan / MK.
Pastikan semua valve, sambungan, dan kran berfungsi dengan baik.
Lakukan uji aliran dengan membuang air dalam jumlah besar dan memastikan tidak ada
penyumbatan.
Periksa ventilasi udara untuk memastikan tidak ada tekanan balik dalam sistem pembuangan.
Uji tekanan air pada pipa hydrant dan sprinkler untuk memastikan distribusi air bekerja dengan
baik dengan didampingi Pengawas Lapangan / MK, dan dibuatkan Berita Acara Tes Commisioning.
Rapikan semua jalur pipa dan pastikan tidak ada kebocoran atau sambungan yang longgar.
Bersihkan area kerja dan buang sisa material yang tidak terpakai.
Dokumentasikan instalasi dengan foto dan gambar "as built drawing" untuk referensi perawatan
di masa depan dan sudah disesuaikan dengan pelaksanaan pekerjaan.
Jadwal Pekerjaan Plumbing
3.3. Pekerjaan Panel Listrik
Pastikan gambar kerja dan spesifikasi panel listrik sesuai dengan standar SPLN, SNI, dan PUIL
(Peraturan Umum Instalasi Listrik).
Identifikasi lokasi pemasangan panel utama, panel distribusi, dan jalur kabel.
Tentukan kapasitas panel listrik berdasarkan daya yang dibutuhkan.
Material Utama:
o Panel LVMDP, SDP, dan panel kontrol.
o MCB, MCCB, ACB, kontaktor, relay, dan busbar.
o Kabel listrik (NYA, NYY, NYFGbY, NYYHY, dll.).
o Pipa conduit, kabel tray, dan aksesoris pendukung.
o Peralatan grounding dan surge arrester.
Peralatan Kerja:
o Bor listrik, obeng listrik, kunci pas.
o Tang crimping, multimeter, clamp meter.
o Alat penguji isolasi dan continuity tester.
Gunakan APD lengkap (helm, sarung tangan isolasi, sepatu safety).
Pastikan panel listrik dalam kondisi OFF sebelum pemasangan.
Gunakan Lockout Tagout (LOTO) untuk menghindari risiko tersengat listrik.
Persiapan Lokasi:
o Pastikan ruang panel bersih, kering, dan memiliki ventilasi.
o Panel dipasang di area yang mudah diakses dan tidak terhalang.
Pemasangan Panel:
o Panel ditempatkan sesuai posisi yang ditentukan dalam gambar kerja.
o Gunakan anchor bolt untuk mengamankan panel ke dinding atau lantai.
Pasang MCB, MCCB, ACB, dan kontaktor sesuai dengan kapasitas beban.
Sambungkan busbar fase, netral, dan grounding sesuai standar.
Pastikan urutannya benar (R-S-T untuk 3 phase, L-N untuk 1 phase).
Tarik kabel daya utama dari trafo atau genset ke LVMDP.
Gunakan kabel tray atau pipa conduit untuk melindungi jalur kabel.
Sambungkan kabel dari LVMDP ke SDP dan beban listrik lainnya.
Pastikan penyambungan rapi, kuat, dan sesuai warna standar (Merah-Kuning-Hitam untuk fase,
Biru untuk netral, Hijau untuk grounding).
Pasang grounding system dengan nilai tahanan ≤ 5 Ohm.
Gunakan surge arrester untuk melindungi panel dari lonjakan tegangan.
Gunakan multimeter atau insulation tester untuk memastikan tidak ada kebocoran arus.
Pastikan tegangan sesuai dengan spesifikasi (220V untuk 1 phase, 380V untuk 3 phase).
Hidupkan panel dan uji distribusi daya ke seluruh sistem listrik.
Pastikan MCB dan MCCB bekerja normal saat terjadi arus lebih.
Pastikan semua komponen terpasang dengan rapi dan aman.
Rapikan jalur kabel dan pasang label untuk identifikasi.
Dokumentasikan hasil pengujian dan buat as-built drawing.
Serahkan laporan hasil kerja kepada pihak terkait.
Jadwal Pekerjaan Panel Listrik
3.4. Pekerjaan Tata Udara
Pastikan gambar kerja HVAC sesuai dengan desain dan standar ASHRAE, SMACNA, SNI 03-6572-
2001, dan NFPA 90A.
Identifikasi lokasi pemasangan unit AC, ducting, diffuser, dan sistem ventilasi.
Tentukan kapasitas dan jenis sistem HVAC yang digunakan, misalnya:
o Split AC / VRV / VRF J untuk gedung perkantoran, mall, dan rumah sakit.
o Chiller & Cooling Tower J untuk gedung skala besar dan industri.
o AHU (Air Handling Unit) dan FCU (Fan Coil Unit) J untuk sistem terpusat.
Material Utama:
o Unit AC (Split, VRF, Chiller, AHU, FCU, atau Cooling Tower).
o Ducting (lembaran galvanis, aluminium, atau fiberglass).
o Peredam suara dan isolasi termal.
o Pipa refrigeran (tembaga) dan pipa drainase (PVC/HDPE).
o Kabel listrik, panel kontrol, dan thermostat.
o Diffuser, grille, dan damper.
Peralatan Kerja:
o Bor listrik, mesin bending pipa, alat crimping.
o Mesin las dan pemotong pipa tembaga.
o Manifold gauge untuk pengisian refrigeran.
o Vacuum pump untuk pengosongan udara di pipa AC.
Gunakan APD lengkap (helm, sarung tangan, sepatu safety, kacamata).
Pastikan unit HVAC tidak dihidupkan sebelum instalasi selesai.
Perhatikan tekanan refrigeran dan kebocoran gas beracun (R32, R410A, R22, dll.).
1. Unit AC Split / VRF / VRV
o Pasang indoor unit di dalam ruangan sesuai gambar kerja.
o Pasang outdoor unit di lokasi yang memiliki ventilasi baik.
o Pastikan koneksi listrik dan pipa refrigeran sesuai spesifikasi.
2. Chiller dan Cooling Tower
o Tempatkan chiller di ruang mesin dan cooling tower di area terbuka.
o Sambungkan ke sistem perpipaan pendingin (chilled water system).
o Periksa sistem kontrol dan valve sebelum pengoperasian.
3. AHU dan FCU
o Pasang AHU di ruang mesin atau shaft HVAC.
o Sambungkan ke ducting dan sistem pendingin.
o Pastikan aliran udara sesuai kapasitas ruangan.
Pasang ducting sesuai desain, gunakan braket untuk penyangga.
Tambahkan peredam suara dan insulasi termal untuk efisiensi energi.
Pasang diffuser, grille, dan damper untuk distribusi udara yang optimal.
Pasang pipa tembaga refrigeran dengan ukuran yang sesuai.
Lakukan bending pipa dengan hati-hati untuk menghindari kebocoran.
Instalasi pipa drainase untuk mengalirkan kondensat dari AC ke saluran pembuangan.
Pasang thermostat dan panel kontrol di lokasi yang mudah dijangkau.
Pastikan jalur kabel listrik terlindungi dan sesuai standar tegangan.
Hubungkan ke MCB atau panel listrik utama dengan kapasitas yang cukup.
Gunakan manifold gauge untuk mengecek tekanan refrigeran.
Pastikan tidak ada kebocoran pada sambungan flare.
Lakukan vacuum pipa dengan vacuum pump selama 30-60 menit.
Isi refrigeran sesuai kapasitas sistem.
Hidupkan unit HVAC dan periksa suhu output serta distribusi udara.
Pastikan volume udara sesuai kapasitas ruangan.
Pastikan semua komponen HVAC telah terpasang dengan baik.
Rapikan jalur pipa, ducting, dan kabel listrik.
Dokumentasikan hasil pengujian dan buat as-built drawing.
Serahkan laporan kerja kepada pihak terkait untuk inspeksi akhir.
Jadwal Pekerjaan Tata Udara
3.5. Pekerjaan Sistem Penangkal Petir
Pastikan gambar kerja sistem penangkal petir sudah sesuai dengan standar desain dan mencakup
titik penangkal, jalur penghantar, dan grounding system.
Tentukan jenis sistem penangkal petir yang digunakan:
o Sistem Konvensional (Franklin Rod) J menggunakan batang penangkal petir.
o Sistem Elektrostatis (Early Streamer Emission / ESE) J memiliki jangkauan proteksi lebih
luas.
o Sistem Faraday Cage (Mesh/Grid) J umumnya untuk gedung tinggi atau fasilitas industri.
Identifikasi lokasi pemasangan terminal udara (air terminal), penghantar (down conductor), dan
grounding system.
Material Utama:
o Batang penangkal petir (copper rod atau stainless steel).
o Down conductor (kabel BC 50-70 mm² atau strip tembaga).
o Grounding system (grounding rod, grounding plate, atau grounding grid).
o Bahan reduksi tahanan tanah (bentonit, charcoal, garam).
o Grounding clamp dan terminal konektor.
o Boks inspeksi grounding untuk kemudahan pemeliharaan.
Peralatan Kerja:
o Tangga atau scaffolding untuk pemasangan di atap.
o Bor tanah atau auger untuk pengeboran grounding.
o Mesin las exothermic atau alat crimping untuk penyambungan kabel.
o Alat ukur tahanan tanah (Earth Tester / Megger).
Gunakan APD lengkap (helm, sarung tangan isolasi, sepatu safety, safety harness jika bekerja di
ketinggian).
Pastikan cuaca dalam kondisi cerah sebelum pemasangan.
Lakukan LOTO (Lockout Tagout) jika bekerja di dekat sumber listrik.
Pasang batang penangkal petir pada titik tertinggi bangunan.
Gunakan tiang penyangga dengan ketinggian minimal 1,5 meter dari permukaan atap.
Pastikan posisi penangkal petir melindungi seluruh area bangunan sesuai radius proteksi.
Jika menggunakan sistem ESE, pastikan pemasangan sesuai spesifikasi pabrikannya.
Tarik kabel BC / strip tembaga dari terminal udara ke sistem grounding dengan jalur sependek dan
selurus mungkin.
Hindari tikungan tajam untuk mengurangi hambatan listrik.
Gunakan isolator dan bracket untuk mengamankan kabel di dinding atau struktur bangunan.
Lakukan pengeboran tanah hingga kedalaman minimal 3 meter atau sesuai spesifikasi proyek.
Masukkan grounding rod / pelat tembaga ke dalam lubang.
Tambahkan bahan reduksi tahanan tanah (bentonit, charcoal, garam) untuk meningkatkan
efisiensi grounding.
Hubungkan grounding ke down conductor menggunakan grounding clamp atau las exothermic.
Tutup area grounding dengan boks inspeksi agar mudah diperiksa di kemudian hari.
Gunakan Earth Tester (Megger) untuk mengukur tahanan tanah.
Pastikan nilai tahanan ≤ 5 Ohm atau sesuai standar proyek.
Jika nilai tahanan terlalu tinggi, tambahkan grounding rod atau bahan pereduksi tanah.
Gunakan multimeter untuk memastikan semua sambungan dalam kondisi baik.
Pastikan tidak ada sambungan longgar atau korosi di jalur penghantar.
Uji dengan alat simulasi atau metode loop impedance test untuk memastikan sistem berfungsi
optimal.
Pastikan semua koneksi dan instalasi sudah sesuai spesifikasi.
Rapikan jalur kabel penghantar petir dan beri label jika diperlukan.
Dokumentasikan hasil uji coba dan buat as-built drawing sebagai referensi pemeliharaan.
Serahkan laporan hasil kerja kepada pihak terkait untuk inspeksi akhir.
Jadwal Pekerjaan Penangkal Petir
3.6. Pekerjaan Grounding Panel MV, LVMDP, Trafo, Genset, Panel Arus Lemah)
Pastikan gambar desain grounding system sesuai dengan standar SPLN, SNI 04-0225-2000, dan
IEEE 80.
Identifikasi lokasi titik grounding untuk Panel MV (Medium Voltage), LVMDP (Low Voltage Main
Distribution Panel), Trafo, Genset, dan Panel Arus Lemah.
Pastikan nilai tahanan tanah (resistansi tanah < 5 Ohm, atau sesuai spesifikasi proyek).
Material Utama:
o Electrode Rod / Grounding Rod (besi galvanis, tembaga, atau stainless steel) panjang 2,4–
3 meter.
o Konduktor Grounding (kabel BC 50–70 mm² atau kawat tembaga berlapis PVC).
o Grounding Clamp / Connector (klem sambungan tembaga atau bimetal).
o Bahan Pengurang Resistansi Tanah (bentonit, charcoal, garam).
o Grounding Box (boks inspeksi beton atau plastik).
o Bor tanah atau auger manual/mekanis untuk pengeboran lubang grounding.
o Mesin las atau alat crimping untuk penyambungan kabel grounding.
o Multimeter dan Earth Tester (Megger) untuk pengukuran tahanan tanah.
Gunakan APD (helm, sarung tangan karet, sepatu safety, dan alat isolasi listrik).
Pastikan area kerja tidak bertegangan sebelum pemasangan grounding.
Gunakan LOTO (Lockout Tagout) pada panel listrik sebelum pengerjaan.
Tentukan titik pemasangan grounding sesuai gambar kerja.
Lakukan pengeboran tanah dengan kedalaman min. 2,5–3 meter atau hingga mencapai tanah
lembab.
Masukkan grounding rod secara vertikal ke dalam lubang dan pukul dengan palu atau hammer drill
hingga tertanam sempurna.
Jika resistansi masih tinggi, gunakan bahan pengurang resistansi tanah (bentonit, garam, arang)
dan padatkan.
Hubungkan kabel BC / kawat tembaga ke grounding rod menggunakan grounding clamp atau las
exothermic.
Pastikan sambungan kuat dan tidak mudah lepas serta memiliki konduktivitas yang baik.
Kabel grounding harus ditanam dalam tanah minimal 50 cm atau ditarik melalui pipa PVC sebagai
pelindung.
c) Pemasangan Grounding ke Panel MV, LVMDP, Trafo, Genset, dan Panel Arus Lemah
1. Panel MV (Medium Voltage) & LVMDP
o Hubungkan kabel grounding ke terminal grounding panel menggunakan klem atau baut
konektor.
o Pastikan panel memiliki bar tembaga grounding sebagai terminal utama.
2. Trafo (Transformator)
o Sambungkan terminal netral trafo ke sistem grounding untuk stabilisasi tegangan.
o Gunakan grounding mesh (jaring grounding) jika spesifikasi mengharuskan.
3. Genset (Generator Set)
o Hubungkan grounding genset ke chassis mesin dan terminal netral untuk perlindungan
gangguan listrik.
o Pastikan nilai resistansi tanah memenuhi spesifikasi agar tidak terjadi tegangan
mengambang.
4. Panel Arus Lemah (CCTV, Fire Alarm, Data Center, dll.)
o Gunakan grounding khusus untuk panel arus lemah, biasanya terpisah dari grounding
listrik utama untuk menghindari interferensi.
o Gunakan isolasi tambahan jika grounding panel arus lemah terhubung dengan sistem
listrik lainnya.
Tutup titik grounding dengan grounding box untuk memudahkan perawatan.
Pastikan jalur kabel grounding aman dari gangguan mekanis.
Periksa ulang semua koneksi sebelum pengujian.
Gunakan Earth Tester (Megger / Clamp Meter) untuk mengukur resistansi tanah.
Pastikan hasil pengukuran ≤ 5 Ohm atau sesuai standar proyek.
Jika resistansi masih tinggi, tambahkan grounding rod atau perbaiki metode penanaman.
Gunakan multimeter untuk memastikan semua titik grounding terhubung dengan baik.
Pastikan tidak ada sambungan longgar atau korosi pada terminal grounding.
Uji coba arus gangguan dengan loop impedance test untuk memastikan sistem grounding bisa
meredam lonjakan tegangan.
Pastikan semua koneksi grounding telah diperiksa dan memenuhi standar keamanan.
Rapikan jalur kabel grounding agar tidak mudah rusak atau terlepas.
Dokumentasikan hasil pengujian dan buat as-built drawing sebagai referensi perawatan.
Serahkan laporan hasil kerja kepada pihak terkait untuk pemeriksaan akhir.
Jadwal Pekerjaan Grounding PANEL MV, LVMDP, TRAFO, PANEL ARUS LEMAH
3.7. Pekerjaan Fire Alarm
Sebelum pekerjaan dimulai Pengajuan Material Approval dan gambar Kerja (Shopdrawing) ke
Pengawas Lapangan / MK sesuai dengan Gambar Rencana dan RKS.
Manajer Teknik 2 melakukan identifikasi titik pemasangan detektor, panel kontrol, manual call
point, dan alarm bell.
Manajer Teknik 2 memastikan jalur kabel, kapasitas daya, dan sistem komunikasi antar perangkat
sudah sesuai Gambar Rencana dan RKS.
Material Utama:
o Fire Alarm Control Panel (FACP) sebagai pusat kendali sistem sesuai dengan Gambar
Rencana dan RKS.
o Smoke Detector (detektor asap) untuk mendeteksi kebakaran berbasis partikel asap
sesuai dengan Gambar Rencana dan RKS.
o Heat Detector (detektor panas) untuk mendeteksi kenaikan suhu sesuai dengan Gambar
Rencana dan RKS.
o Manual Call Point (MCP) sebagai tombol darurat pemicu alarm manual sesuai dengan
Gambar Rencana dan RKS.
o Alarm Bell / Sirine untuk memberikan peringatan kebakaran sesuai dengan Gambar
Rencana dan RKS.
o Strobe Light sebagai peringatan visual sesuai dengan Gambar Rencana dan RKS.
o Kabel Fire Alarm (NYM / FRLS / FPLR) dan conduit untuk proteksi kabel sesuai dengan
Gambar Rencana dan RKS.
Peralatan Kerja:
o Bor listrik, obeng, tang crimping, solder, multimeter.
o Alat ukur (meteran, waterpass) untuk memastikan pemasangan sesuai desain.
o Laptop atau perangkat konfigurasi untuk sistem berbasis addressable fire alarm.
Gunakan APD (helm, sarung tangan, sepatu safety, dan harness) jika bekerja di ketinggian.
Pastikan pemasangan kabel dilakukan dengan sistem lockout-tagout (LOTO) untuk menghindari
sambungan yang salah.
Hindari pemasangan detektor asap di dekat sumber asap non-kebakaran seperti dapur atau ruang
parkir.
Lakukan pengukuran dan marking sesuai gambar kerja.
Tarik kabel fire alarm (FRLS / FPLR) melalui pipa conduit atau kabel tray.
Gunakan jalur kabel yang aman, jauh dari sumber listrik tegangan tinggi untuk menghindari
interferensi.
Beri label pada setiap kabel untuk mempermudah identifikasi saat perawatan atau perbaikan.
Pasang panel kontrol fire alarm di ruang khusus yang mudah diakses oleh petugas keamanan.
Pastikan panel dipasang pada posisi yang mudah dioperasikan dan memiliki suplai listrik
cadangan (UPS/Battery Backup).
Sambungkan panel dengan jaringan detektor, manual call point, alarm bell, dan perangkat lain
sesuai desain.
Untuk sistem addressable, lakukan konfigurasi perangkat menggunakan software yang sesuai.
Pasang smoke detector di plafon dengan jarak minimal 50 cm dari dinding dan sesuai desain titik
proteksi.
Gunakan heat detector di area seperti dapur, ruang mesin, atau tempat dengan suhu tinggi.
Hubungkan detektor ke panel dengan kabel yang sudah ditarik sebelumnya.
Pasang MCP pada ketinggian ±1,2 meter dari lantai agar mudah diakses.
Tempatkan MCP di jalur evakuasi atau dekat pintu keluar darurat.
Hubungkan MCP ke panel kontrol menggunakan jalur kabel yang telah disiapkan.
Pasang alarm bell di lokasi strategis agar dapat didengar di seluruh area bangunan.
Pasang strobe light di area yang membutuhkan peringatan visual, seperti ruangan dengan tingkat
kebisingan tinggi.
Hubungkan perangkat ini ke panel kontrol dan pastikan daya cukup untuk aktivasi alarm.
Periksa semua koneksi kabel dengan multimeter untuk memastikan tidak ada sambungan yang
salah.
Nyalakan sistem dan pastikan panel kontrol menerima daya dengan baik.
Uji smoke detector dengan menggunakan smoke tester untuk memastikan deteksi asap bekerja.
Uji heat detector dengan alat pemanas atau heat gun untuk memastikan respons terhadap suhu
tinggi.
Uji manual call point dengan menekan tombol darurat dan pastikan alarm berbunyi.
Uji alarm bell dan strobe light untuk memastikan peringatan bekerja dengan baik.
Semua hasil Tes Commisioning dilampiri Berita Acara dengan persetujuan Tim Teknis, Pengawas
Lapangan / MK dan PPK.
Lakukan simulasi kondisi kebakaran dan pastikan sistem merespons dengan cepat.
Periksa apakah panel kontrol menunjukkan lokasi deteksi kebakaran dengan benar (untuk sistem
addressable).
Pastikan semua perangkat telah terpasang dengan rapi dan sesuai standar.
Rapikan jalur kabel dan beri label untuk mempermudah pemeliharaan di masa depan.
Dokumentasikan hasil uji coba dan buat as-built drawing sebagai referensi teknis sesuai dengan
hasil pekerjaan yang sudah dikerjakan.
Manajer Teknik 2 memberikan pelatihan kepada pengguna atau tim keamanan mengenai cara
penggunaan sistem fire alarm.
Jadwal Pekerjaan Fire Alarm
3.8. Pekerjaan Hydrant Springkler
Pengajuan Material Approval ke Pengawas Lapangan sesuai dengan Gambar Rencana dan RKS
Identifikasi titik pemasangan hydrant, jalur pipa distribusi, pompa pemadam, dan titik sprinkler
sesuai dengan Gambar Kerja dan Manajer Teknik 2 mengajukan approval ke Pengawas Lapangan
/ MK.
Pastikan kapasitas pompa dan tekanan air memenuhi kebutuhan operasional sistem.
Material Utama:
o Fire Hydrant Pillar (Tipe Wall Hydrant atau Outdoor Hydrant).
o Fire Sprinkler (pendent, upright, sidewall).
o Jaringan Pipa (pipa galvanis, pipa besi schedule 40 atau 80).
o Valve & Fitting (gate valve, check valve, pressure gauge, flow switch).
o Pompa Hydrant (pompa utama, jockey pump, dan diesel pump).
o Reservoir atau Tandon Air.
Peralatan Kerja:
o Alat ukur (waterpass, theodolite, meteran).
o Peralatan las, bor listrik, mesin threading (penyambungan pipa).
o Alat pengangkat (crane, chain block) untuk instalasi pompa dan hydrant.
Gunakan APD (helm, sarung tangan, sepatu safety, dan kacamata pelindung) dan dimonitoring
Pastikan pekerjaan instalasi pipa dilakukan dengan sistem lockout-tagout (LOTO) untuk
mencegah kesalahan pengoperasian.
Lakukan pengawasan terhadap pekerjaan di area ketinggian dengan menggunakan scaffolding
atau tangga yang aman.
Lakukan pengukuran dan marking sesuai gambar kerja.
Pasang pipa utama dari pompa hydrant ke jalur distribusi hydrant dan sprinkler.
Gunakan metode las atau ulir (threading) untuk penyambungan pipa, sesuai dengan spesifikasi
teknis.
Pasang fitting (T, elbow, reducer) untuk membentuk jaringan pipa sesuai rute desain.
Pastikan setiap sambungan diuji kebocoran sebelum melanjutkan pekerjaan berikutnya.
Pasang hydrant box dan hydrant pillar pada titik yang telah ditentukan.
Hubungkan hydrant pillar ke jaringan pipa distribusi dengan gate valve untuk kontrol aliran air.
Pasang selang hydrant (fire hose), nozzle, dan aksesori lainnya dalam hydrant box.
Pastikan tekanan air mencukupi untuk menyuplai hydrant saat digunakan dalam keadaan darurat.
Pasang sprinkler di plafon atau titik sesuai desain:
o Pendent Sprinkler (menghadap ke bawah untuk area indoor).
o Upright Sprinkler (menghadap ke atas untuk area terbuka atau pabrik).
o Sidewall Sprinkler (terpasang di dinding untuk koridor atau ruangan sempit).
Sambungkan sprinkler ke jaringan pipa distribusi menggunakan fitting yang sesuai.
Pastikan sprinkler memiliki temperature rating yang sesuai untuk ruangan tertentu.
Pasang pompa utama, jockey pump, dan diesel pump pada dudukan yang stabil.
Hubungkan pompa dengan jaringan pipa hydrant dan sprinkler menggunakan gate valve dan
check valve.
Pastikan reservoir air memiliki kapasitas yang mencukupi untuk kebutuhan pemadam kebakaran.
Instal panel kontrol pompa dan sistem alarm tekanan untuk memastikan sistem bekerja otomatis
saat tekanan turun.
Lakukan hydrostatic test dengan menekan air ke dalam pipa dengan tekanan tertentu (biasanya
10-12 bar) selama beberapa jam.
Pastikan tidak ada kebocoran di sambungan pipa, valve, dan koneksi sprinkler.
Uji coba pompa hydrant dengan menyalakan sistem dan mengukur tekanan output.
Pastikan jockey pump dapat menjaga tekanan air pada sistem dalam kondisi standby.
Uji diesel pump untuk memastikan berfungsi saat listrik padam.
Buka hydrant dan periksa apakah air keluar dengan tekanan yang cukup.
Uji sprinkler dengan simulasi panas (gunakan heat gun) untuk memastikan sprinkler aktif saat
suhu tinggi.
Pastikan alarm tekanan bekerja saat tekanan turun.
Pastikan semua komponen sistem telah terpasang dengan benar dan sesuai standar.
Rapikan jalur pipa dan periksa kembali apakah ada bagian yang perlu diperbaiki.
Dokumentasikan hasil uji coba dan buat laporan termasuk as-built drawing sebagai referensi
pemeliharaan.
Serahkan manual operasional sistem hydrant dan sprinkler kepada pengguna gedung.
Jadwal Pekerjaan Hydrant Springkler
3.9. Pekerjaan Tata Suara (Sound System)
Pengajuan Material Approval ke Pengawas Lapangan sesuai dengan Gambar Rencana dan RKS
Pastikan gambar desain dan spesifikasi teknis sesuai dengan kebutuhan akustik ruangan.
Identifikasi titik pemasangan speaker, mixer, amplifier, dan perangkat lainnya.
Tentukan jenis sound system yang digunakan: mono, stereo, atau surround sound.
Material Utama:
o Speaker (ceiling speaker, wall-mounted speaker, line array, subwoofer) sesuai Gambar
Kerja dan Spesifikasi
o Mikrofon (wired atau wireless) sesuai Gambar Kerja dan Spesifikasi
o Amplifier untuk menguatkan suara sesuai Gambar Kerja dan Spesifikasi
o Mixer Audio untuk mengatur kualitas suara sesuai Gambar Kerja dan Spesifikasi
o Kabel Audio (XLR, TRS, RCA) dan kabel listrik sesuai Gambar Kerja dan Spesifikasi
o Bracket dan dudukan speaker sesuai dengan posisi pemasangan sesuai Gambar Kerja dan
Spesifikasi
Gunakan APD (helm, sarung tangan, sepatu safety, dan harness) jika bekerja di ketinggian dan
dimonitoring oleh Ahli K3 Konstruksi.
Pastikan sumber listrik dimatikan saat melakukan pemasangan perangkat elektronik.
Hindari jalur listrik utama saat memasang kabel audio untuk mencegah gangguan suara
(noise/hum).
Tentukan lokasi pemasangan speaker sesuai dengan coverage area dan akustik ruangan.
Pasang bracket speaker di dinding atau plafon menggunakan anchor/baut yang sesuai.
Pastikan posisi speaker menghadap ke arah audiens dengan sudut yang optimal.
Hubungkan speaker ke amplifier menggunakan kabel low impedance (untuk jarak pendek) atau
high impedance (untuk jarak jauh dengan trafo matching).
Pasang mikrofon sesuai dengan kebutuhan: mikrofon meja, mikrofon wireless, atau mikrofon
gantung.
Hubungkan mikrofon ke mixer audio menggunakan kabel XLR atau TRS.
Jika menggunakan mikrofon wireless, pastikan frekuensi tidak terganggu dengan perangkat lain.
Tempatkan mixer pada lokasi yang mudah diakses oleh operator audio.
Pasang amplifier di rak atau meja dengan ventilasi yang cukup untuk menghindari panas berlebih.
Hubungkan amplifier ke speaker dengan kabel yang sesuai dan periksa impedansi speaker untuk
mencegah kerusakan.
Sambungkan equalizer, crossover, atau processor audio jika diperlukan untuk mengoptimalkan
suara.
Pastikan sumber daya listrik stabil dan gunakan stabilizer jika perlu.
Gunakan conduit atau kabel tray untuk merapikan jalur kabel.
Hindari kabel audio berdekatan dengan kabel listrik untuk mencegah gangguan elektromagnetik
(humming).
Beri label pada setiap kabel untuk mempermudah pemeliharaan di masa depan.
Periksa semua koneksi untuk memastikan tidak ada kabel yang longgar atau terbalik.
Nyalakan sistem dan pastikan tidak ada suara dengung atau noise yang mengganggu.
Lakukan uji coba mikrofon dan pastikan suara terdengar jelas tanpa feedback.
Atur equalizer untuk menyesuaikan bass, treble, dan mid-range sesuai kebutuhan ruangan.
Uji jangkauan suara di seluruh area untuk memastikan distribusi yang merata.
Jalankan sistem pada volume tinggi untuk menguji kestabilan daya.
Periksa apakah ada distorsi suara atau komponen yang overheat.
Rapikan semua kabel dan pastikan sistem terlihat profesional serta aman digunakan.
Buat dokumentasi pengaturan sound system termasuk konfigurasi mixer, equalizer, dan jalur
kabel.
Berikan panduan operasional kepada pengguna agar sistem dapat digunakan dengan optimal.
Lakukan pengecekan akhir bersama tim teknis dan pemilik proyek, serta Pengawas Lapangan / MK
dan dibuatkan Berita Acara Tes Commisioning.
Jadwal Pekerjaan Tata Suara
3.10. Pekerjaan Distribusi Kelistrikan (Power House)
Pengajuan Material Approval ke Pengawas Lapangan sesuai dengan Gambar Rencana dan
RKS.
Pastikan gambar desain distribusi kelistrikan sesuai dengan spesifikasi yang telah disetujui.
Verifikasi kapasitas daya listrik yang akan disalurkan serta sistem proteksi yang digunakan.
Pastikan jalur kabel, panel listrik, dan perangkat distribusi sesuai standar PUIL (Persyaratan
Umum Instalasi Listrik) dan SPLN (Standar PLN).
Material Utama:
o Trafo (transformator) untuk menyesuaikan tegangan distribusi sesuai spesifikasi
o Kabel tegangan menengah (MV) atau tegangan rendah (LV) sesuai spesifikasi
o Panel listrik utama (Main Distribution Panel - MDP) dan panel sub-distribusi sesuai
spesifikasi
o Circuit Breaker (MCB, MCCB, ACB), relay proteksi, busbar, dan grounding system sesuai
spesifikasi
o Genset atau sumber cadangan jika diperlukan.
Peralatan Kerja:
o Alat ukur listrik (multimeter, clamp meter, megger, ground tester).
o Alat kelistrikan (tang crimping, obeng listrik, kunci pas, alat potong kabel).
o Peralatan pengaman (APD seperti sarung tangan isolasi, sepatu safety, dan helm proyek).
Pastikan area kerja bersih dan bebas dari material yang dapat menyebabkan gangguan.
Gunakan APD (Alat Pelindung Diri) seperti sarung tangan isolasi, helm, dan kaca mata
pelindung dan Ahli K3 Konstruksi melakukan Moritoring.
Pastikan semua pekerja memahami prosedur keselamatan kerja kelistrikan (LOTO – Lockout
Tagout) sebelum memulai instalasi.
Siapkan pondasi atau dudukan transformator dan pastikan kuat serta tahan getaran.
Pasang trafo sesuai dengan spesifikasi, baik tipe trafo gardu tiang, gardu beton, atau trafo
dalam ruangan.
Hubungkan trafo dengan panel distribusi utama (MDP) menggunakan kabel tegangan
menengah (MV) atau busbar.
Pastikan sistem grounding trafo telah terpasang dengan nilai tahanan tanah sesuai standar (<
5 Ohm).
Tarik kabel dari MDP ke sub-panel distribusi (SDP) dan ke berbagai beban listrik (lampu, mesin,
AC, pompa, dll.).
Gunakan kabel NYY, NYFGBY, atau NYYHY untuk tegangan rendah, serta XLPE/SWA untuk
tegangan menengah.
Pastikan kabel ditarik melalui jalur conduit, tray kabel, atau ducting sesuai perencanaan.
Lakukan penandaan (labeling) pada setiap jalur kabel untuk mempermudah identifikasi dan
pemeliharaan.
Tanam batang grounding (copper rod) sedalam 3-5 meter dan hubungkan ke grounding trafo
serta peralatan listrik lainnya.
Ukur tahanan tanah dengan ground tester, pastikan hasil sesuai standar (< 5 Ohm).
Pasang sistem proteksi petir (lightning arrester) pada Power House untuk menghindari
kerusakan akibat sambaran petir.
Letakkan genset pada lokasi yang memiliki ventilasi cukup untuk pendinginan mesin.
Hubungkan genset ke panel ATS agar otomatis menyala saat listrik PLN padam.
Pastikan knalpot genset diarahkan ke luar ruangan agar gas buang tidak mengganggu
lingkungan kerja.
Gunakan megger untuk menguji isolasi kabel dan memastikan tidak ada kebocoran arus.
Gunakan multimeter untuk memastikan tegangan sesuai dengan perencanaan.
Lakukan uji continuity untuk memastikan sambungan kabel tidak terputus.
Uji panel dengan beban bertahap, mulai dari beban ringan hingga beban penuh.
Periksa apakah MCB, MCCB, dan relay proteksi berfungsi dengan baik saat terjadi kelebihan
arus.
Simulasi pemadaman listrik dan pastikan ATS bekerja dengan baik jika menggunakan genset.
Lakukan pengukuran tahanan tanah grounding menggunakan earth tester.
Pastikan nilai resistansi berada di bawah standar (< 5 Ohm) untuk memastikan keamanan dari
sengatan listrik.
Rapikan jalur kabel dan pastikan semua komponen sudah terpasang dengan benar.
Lakukan pengecekan akhir dengan tim teknis dan pemilik proyek.
Dokumentasikan hasil pengujian serta buat gambar as-built drawing untuk referensi
pemeliharaan ke depan.
Pastikan seluruh sistem siap beroperasi secara optimal dan aman. Dan dibuatkan Berita Acara
Tes Commisioning dengan Tim Teknis dan PPK serta Pengawas Lapangan / MK.
Jadwal Pekerjaan Distribusi Kelistrikan (Power House)
3.11. Pekerjaan Lift
Pastikan gambar kerja lift sesuai dengan spesifikasi teknis, termasuk dimensi shaft (ruang lift),
jalur rel, mesin, dan panel kontrol dan manajer Teknik 2 mengajukan Gambar Kerja dan Material
Approval ke Pengawas Lapangan / MK.
Melakukan verifikasi terkait surat dukungan lift diantaranya surat penunjukan keagenan yang
dikeluarkan oleh pabrikan pembuat lift yang mempunyai sertifikat ISO 9001, ISO 14001, ISO
45001 pabrikan, Sertifikat teknisi yang dikeluarkan oleh pabrikan lift, sertifikat teknisi K3
pemasangan dan pemeliharaan Elevator Kementerian Ketenagakerjaan RI, Sertifikat Effisiensy
Energi, Surat penyataan kesediaan mengurus perijinan operasional lift. Sehingga
Manajer Teknik 2 memeriksa material utama Rel pemandu (guide rail), kabin lift,
counterweight, motor penggerak, wire rope, panel kontrol, dan sistem rem dan apabila ada
perbedaan .
Serta menyiapkan alat kerja bantu alat ukur (waterpass, total station), alat bor, pengelasan,
tangga, peralatan listrik, dan alat keselamatan kerja.
Identifikasi bahaya gunakan terjatuh dari ketinggian, tertimpa material, kaki terjepit di mesin,
sehingga Ahli k3 Konstruksi akan menerapkan alat pelindung diri (APD) seperti helm, sarung
tangan, sepatu safety, dan harness.
Pastikan area pemasangan lift bersih dari material yang mengganggu serta memastikan diarea
pit lift tidak ada air yang masuk / rembes dan dimonitoring oleh Ahli K3 Konstruksi.
Lakukan koordinasi dengan tim proyek terkait akses dan pengangkutan material lift dan
dimonitoring oleh Ahli K3 Konstruksi.
Pastikan dimensi shaft void ruang lift sesuai dengan desain yang telah disetujui oleh Pengawas
Lapangan / MK.
Periksa kerataan dan kelurusan dinding shaft menggunakan theodolite dan waterpass.
Pastikan dudukan rel pemandu dan landasan motor sudah siap dan kuat menahan beban lift.
Pasang bracket rel pemandu di sepanjang shaft dengan jarak sesuai Gambar Kerja.
Posisikan dan pasang rel pemandu secara vertikal menggunakan alat ukur untuk memastikan
kesikuan.
Kencangkan rel dengan baut dan lakukan pengecekan kembali sebelum melanjutkan tahap
berikutnya.
Angkat mesin penggerak (motor lift) ke posisi atas shaft menggunakan alat bantu seperti crane
atau katrol.
Pasang mesin di dudukannya dan pastikan terpasang kuat serta sejajar dengan sistem
penggerak lainnya.
Pasang panel kontrol di ruang mesin atau lantai dasar sesuai desain sistem kelistrikan lift.
Pasang wire rope atau belt ke mesin penggerak dan counterweight sesuai spesifikasi.
Angkat dan pasang kabin lift di dalam shaft dengan sistem pengaman yang sesuai.
Sambungkan kabin dengan sistem penggerak dan pastikan keseimbangannya dengan
counterweight.
Pasang pintu lift di setiap lantai sesuai dengan posisi yang telah ditentukan.
Instalasi sensor pintu otomatis untuk mencegah kecelakaan akibat pintu tertutup saat
pengguna masuk/keluar.
Pastikan sistem buka-tutup pintu berfungsi dengan baik sebelum melakukan pengujian lebih
lanjut.
Periksa semua sambungan baut, rel, dan wire rope untuk memastikan tidak ada bagian yang
longgar.
Pastikan kabin lift bergerak dengan lancar tanpa hambatan di sepanjang rel.
Sambungkan panel kontrol ke sumber listrik dan lakukan uji coba operasi sistem kontrol.
Uji fungsi tombol lantai, sensor pintu, dan emergency stop.
Lakukan uji daya untuk memastikan konsumsi listrik sesuai dengan spesifikasi teknis.
Lakukan uji coba dengan beban bertahap, mulai dari tanpa beban hingga kapasitas maksimal
lift.
Uji sistem rem darurat dan sensor keamanan untuk memastikan lift berhenti jika terjadi
gangguan.
Pastikan semua fitur keamanan seperti alarm, intercom, dan pencahayaan darurat berfungsi
dengan baik.
Bersihkan area kerja dan pastikan semua material sisa dipindahkan dan dinyatakan siap untuk
tes commisioning oleh Ahli K3 Konstruksi.
Manajer Teknik2 melakukan pengajuan / permohonan untuk melakukan pemeriksaan akhir
bersama dengan tim teknis dan pemilik proyek yang diajukan oleh Manajer Teknik 1 ke
Pengawas Lapangan / MK dan dibuatkan Berita Acara Tes Commisioning.
Dokumentasikan hasil uji coba dan serahkan manual penggunaan serta jadwal perawatan lift.
Serta Hasil Perijinan Operasional dari Depnaker.
Jadwal Pekerjaan Lift