| Reason | |||
|---|---|---|---|
CV Victoriakonstruksi | 64*3**6****10**1 | Rp 462,755,844 | - |
Ria Berkah Abadi | 04*0**1****23**0 | Rp 463,824,841 | - Tidak melampirkan bukti kepemilikan/sewa peralatan utama sesuai dengan persyaratan dokumen pemilihan. - Tidak melampirkan sertifikat keahlian, ijazah, dan daftar riwayat hidup tenaga ahli sebagaimana dipersyaratkan. - Tidak melampirkan Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK) sesuai ketentuan Peraturan Perundang-undangan. |
METODE PELAKSANAAN
PEMELIHARAAN BERKALA JALAN
P. NIAS
KOTA TARAKAN
METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN
Untuk mempermudah cara kerja pelaksana di lapangan dalam rangka mendapatkan
hasil sesuai yang dipersyaratkan dalam spesifikasi dan gambar serta berdasarkan
lingkup pekerjaan yang akan diselesaikan dengan ini kami mengusulkan beberapa
Metoda Pelaksanaan untuk Pekerjaan-pekerjaan utama atau Mayor Item dan
Pekerjaan-pekerjaan pendukung atau Minor Item yang sangat mempengaruhi mutu
hasil pekerjaan secara keseluruhan, antara lain sebagai berikut :
LINGKUP PEKERJAAN
1. DIVISI 1 UMUM
2. DIVISI 5 PERKERASAN BERBUTIR DAN PERKERASAN BETON SEMEN
3. DIVISI 6 PEKERASAN ASPAL
4. DIVISI 9 PEKERJAAN HARIAN DAN PEKERJAAN LAIN-LAIN
Semua item-item pekerjaan tersebut diatas akan dilaksanakan sesuai spesifikasi
teknis dan menurut volume pekerjaan yang tersedia dalam daftar kuantitas dan
harga.
1. DIVISI I (UMUM
a. PEKERJAAN MOBILISASI
a) Pekerjaan Persiapan
Pekerjaan Persiapan adalah pekerjaan awal yang meliputi kegiatan-kegiatan
pendahuluan untuk mendukung permulaan proyek meliputi :
Pembuatan Job Mix Design
Sebelum pekerjaan utama dilaksakan terlebih dahulu dilaksakan
pengambilan sampel bahan dari quary di Sungai yang berada di lokasi
setempat atau yang berdekatan dengan lokasi tersebut, diantanya: batu,
pasir dan aspal selanjutnya dibawa ke laboratorium job Mix Formula/Job
Mix Design yang akan dipakai sebagai acuan kerja dalam pelaksanaan
proyek.
Kantor Lapangan dan Fasilitasnya Tahap berikutnya penentuan lokasi
basecamp,pembuatan kantor Lapangan dan fasilitasnya dilokasi proyek
dan kemudian dilanjutkan dengan mobilisasi peralatan yang diperlukan
sesuai dengan tahapan pelaksaan pekerjaan.
Pengaturan Arus Transportasi dan Pemeliharaan Terhadap Arus Lalu
Lintas Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, penganturan arus lalu
lintas transportasi dilakukan dengan pembuatan tanda-tanda lalu lintas
yang memadai disetiap kegiatan lapangan.Bila diperlukan dapat
ditempatkan petugas pemberi isyarat yang bertugas mengatur arus lalu
lintas pada saat pelaksanaan.
Rekayasa Lapangan Dengan petunjuk Direksi Teknis survey/rekayasa
lapangan dilaksanakan untuk menentukan kondisi fisik dan strucktural dari
pekerjaan dan fasilitas yang ada dilokasi pekrjaan, sehingga dimungkinkan
untuk mengadakan peninjauan ulang terhadap rancangan kerja yang telah
diberikan sytem dan tatacara survey dikordinasikan dengan direksi teknis.
Material dan Penyimpanan Bahan yang akan digunakan didalam
pekerjaan harus menemui spesifikasi dan standard yang berlaku, baik
ukuran,type maupun ketentuan lainnya sesuai petunjuk Direksi Teknis.
Semua material yang akan digunakan untuk proses pembuatan Asphalt
Concrete diambil dari Quary Sungai yang berada di lokasi setempat, diolah
dan dipoolkan di stone crusher/AMP pihak Direksi Teknis sewaktu-waktu
dapat mengadakan pemeriksaan terhadap lokasi stone crusher dan AMP
dimaksud guna mengetahui kondisi yang ada.
Jadwal Konstruksi Jadwal kontruksi dibuat pihak kontraktor, diajukan
kepada Direksi Teknis untuk dibahas dan mendapatkan persetujuan pada
saat dilaksanakan rapat pendahuluan (Pre Construction Meeting/PCM).
Papan Nama Proyek
- Papan Nama ini digunakan sebagai identitas dan informasi mengenai
proyek.
- Papan nama proyek dibuat dengan ukuran atas persetujuan Direksi
pekerjaan
- Bahan yang dipakai : kayu kaso, plywood, amplas, cat kayu, paku,
split, cat minyak, semen, dan lain-lain.
- Papan nama Proyek dipasang dipangkal dan ujung lokasi pekerjaan.
- Papan nama dipelihara selama pelaksanaan proyek.
b. SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI (SMKK)
Dalam melaksanakan pekerjaan pembangunan atau peningkatan jalan setiap
tahapan pekerjaan yang akan dilaksanakan mulai dari awal sampai dengan
akhir kegiatan di lapangan diusahakan agar pekerja dan pengguna jalan aman.
Ada beberapa hal yang perlu di siapkan untuk keselamatan dan kesehatan kerja
ddiantaranya :
Penyiapan dokumen penerapan SMKK Rencana keselamatan kerja di
tuangkan dalam dokumen rencana keselamatan kerja, selanjutnya
pembuatan prosedur dan instruksi kerja serta ppenyiapan formulir K3.
Sosialisasi, Promosi dan Pelatihan Induksi Keselamatan Konstruksi (Safety
Induction), Pengarahan Keselamatan Konstruksi (Safety Briefing), Simulasi
Keselamatan Konstruksi, Spanduk (Banner) dan Papan Informasi
Keselamatan Konstruksi.
Alat Pelindung Kerja dan Alat Pelindung Diri:
- Topi pelindung (Safety Helmet)
- Sarung tangan (Safety Gloves)
- Sepatu keselamatan (Safety Shoes, rubber safety shoes and toe cap)
- Rompi keselamatan (Safety Vest)
Asuransi dan Perizinan terkait Keselamatan Konstruksi - Asuransi
(Construction All Risk/CAR)
Fasilitas, Sarana dan Prasarana dan Alat KesehatanPeralatan P3K
Rambu dan Perlengkapan lalu lintas yang diperlukan atau manajemen lalu
lintas Rambu yang di buat diantaranya, rambu petunjuk, rambu larangan,
rambu peringatan dan rambu kewajiban.
2. DIVISI 5 PERKERASAN BERBUTIR DAN PERKERASAN BETON
Pekerjaan ini harus meliputi pemasokan, pengangkuatan, Penghamparan dan
pemadatan bahan untuk pelaksanaan lapis pondasi jalan Tanpa penutup aspal dan
suatu lapis permukaan sementara pada permukaan tanah dasar atau lapis pondasi
bawah yang telah disiapkan.Pemasokan bahan akan mencakup , jika perlu,
pemecahan, pengayakan, pencampuran dan operasi- operasi lainnya yang
diperlukan, untuk memperoleh bahan yang memenuhi ketentuan dari spesifikasi
ini.
a. LAPIS PONDASI AGREGAT KELAS A
Untuk pelaksanaan pekerjaan rapis pondasi aggregal kelas A ini dilaksanakan
sesudah pelaksanaan lapis pondasi aggregat kelas B. Lapis pondasi Agregat
Kelas A adalah mutu Lapis pondasi Atas untuk lapisan di bawah lapisan
beraspal. Lapis pondasi Agregat Kelas A mempunyai 100 % berat agregat
kasar dengan angularitas 95/90* Pekerjaan Lapis pondasi Aggregat Keras A
dengan prosedur sebagai berikut:
a) Pengangkutan Material Pengangkutan Material Base A kelokasi pekerjaan
menggunakan Dump truck dan loadingnya dilakukan dengan menggunakan
wheel loader. Pengecekan dan pencatatan volume material dilakukan pada
saat tiap dilokasi pekerjaan sebelum material di stack. Material diturunkan
dengan jarak dan volume tertentu untuk memudahkan pada saat
penghamparan agar tidak terjadi kelebihan material disatu tempat dan
kekurangan material ditempat lain.
b) Penghamparan Material Penghamparan material dilakukan dengan
menggunakan Motor Grader dalam tahap penghamparan ini harus
diperhatikan hal-hal sebagai berikui :
Kondisi cuaca yang memungkinkan
Panjang hamparan pada saat setiap section yang dipadatkan sesuai
dengan kondisi lapangan. Lebar penghamparan disesuaikan dengan
kondisi lapangan dan tebal penghamparan sesuai dengan spesifikasi
Material yang tidak dipakai dipisahkan dan ditempatkan pada lokasi yang
telah ditetapkan'.
Pemadatan Material Pemadatan dilakukan dengan menggunakan
vibrator Roller, dimulai dari bagian tepi ke bagian tengah. Dasar
Perhitungan Untuk Analisa Harga Satuan.
Asumsi :
- Pelaksanaan ini menggunakan alat berat {secara mekanik)
- Lokasi pekerjaan sepanjang jalan
- Material aggregat kelas A dicampur di Lokasi Pengambilan Material
Prosedur Pelaksanaan:
- Pencampuran aggregat kelas A dicampur di Base Camp dengan
menggunakan alat Wheel Loader
- pengisian aggregat kelas A ke Dump Truck dilaksanakan dengan
memakai alat Wheel Loader
- Pengangkutan material aggregat kelas A dilaksanakan dengan Dump
Truck
- Penghamparan material aggregat kelas A dengan menggunakan alat
Motor Grader
- Hamparan aggregat dibasahi dengan water Tank Truck sebelum
dipadatkan dengan Tandem Roller
- Operasi penggilasan harus dimulai dari sepanjang tepi dan bergerak
sedikit demi sedikit ke arah sumbu jalan dalam arah memanjang.
Pada bagian yang ber”superelevasi”, penggilas harus dimulai dari
bagian yang rendah dan bergerak sedikit demi sedikit demi sedikit ke
bagian yang lebih tinggi. Operasi penggilasan harus dilanjutkan
sampai seluruh bekas roda mesin gilas hilang dan lapis tersebut
terpadatkan secara merata.
- Selama pemadatan, sekelompok pekerjaan akan merapikan tepi
hamparan dan level permukaan dengan menggunakan alat bantu.
3. DIVISI 6. PERKERASAN ASPAL
a. LAPIS RESAP PENGIKAT (PRIME COAT)
Aspal Cair/Emulsi Maksud dan Tujuan Pekerjaan prime coat adalah pekerjaan
pelaburan permukaan perkerasan agregat yang akan dilapisi perkerasan aspal
baru dengan bahan perekat (prime coat), dengan tujuan agar terjadi ikatan
antara permukaan lapis pondasi agregat dengan lapis hotmix baru.
Pelaksanaan:
a) Sebelum penyemprotan dimulai, debu dan bahan kotoran disingkirkan
terlebih dahulu dari permukaan dengan memakai sikat mekanis atau
semprotan angin (air compressor) atau kombinasi kedua-duanya, jika belum
bersih harus dibersihkan lagi dengan sapu baja.
b) Penyemprotan dilakukan dengan cara sedemikian rupa agar tidak
menganggu lalu lintas dan memungkinkan lalu lintas satu arah tanpa
merusak hasil pekerjaan.
c) Pembersihan dilanjutkan/melewati 20 cm dari tepi bidang yang akan
disemprot. Jika ada tonjolan benda asing atau lainnya harus segera
disingkirkan dari permukaan dengan memakai penggaruk baja atau cara
lainnya yang disetujui pengawas.
d) Panjang permukaan yang akan disemprot oleh setiap lintasan penyemprot
harus diukur dan ditandai.
e) Permukaan yang akan disemprot harus benar-benar kering.
f) Asphalt sprayer harus mulai bergerak tak boleh kurang 5 meter di muka
daerah yang disemprot dengan demikian kecepatan jelajahnya tepat sesuai
ketentuan bila batang semprot mencapai lembaran kertas, dan kecepatan
ini harus tetap dipertahankan sampai melalui titik akhir dari pemakaian
bahan pengikat dan sisa prime coat dalam tangki tidak boleh kurang dari 10
% dari kapasitas tangki.
g) Ketentuan jumlah penyemprotan prime coat dan komposisi material yang
dipergunakan harus mengikuti Spesifikasi.
b. LASTON LAPIS PONDASI (AC-BASE)
Pekerjaan Aspal untuk overlay ataupun pelebaran terdiri atas lapisan :
a) Pembuatan dan Produksi Campuran Aspal
Penyiapan Aspal , bahan aspal dipanaskan dengan temperatur sesuai
ketentuandidalam suatu tangki , dilakukan selama 3 – 4 jam sebelum
memulai produksi.
Penyiapan Agregat
- Setiap fraksi agregat harus disalurkan ke instalasi pencampur aspal
memalui pemasok penampung dingin yang terpisah.
- Agregat dikeringkan dan dipanaskan pada alat pengering.
Temperatur agregat sesuai ketentuan.
- Bila diperlukan bahan pengisi (filler) untuk memenuhi gradasi yang
disyaratkan maka bahan pengisi ditakar terpisah.
Penyiapan Campuran
- Berat setiap fraksi agregat harus sesuai dengan Job Mix Formula.
- Seluruh agregat kering dicampur terlebih dahulu kemudian baru
sejumlah aspal yang tepat ditambahkan ke dalam agregat.
- Waktu pencampuran sesuai ketentuan.
- Temperatur campuran saat keluar dari alat pencampur sesuai
ketentuan.
b) Pengangkutan ke Lokasi Pekerjaan
Campuran aspal panas diangkut ke lokasi pekerjaan dengan menggunakan
Dump Truck.
Temperatur campuran aspal panas saat dituang ke Dump Truck sesuai
ketentuan.
Setiap truck yang telah dimuat harus ditmbang, dicatat berat kotor, berat
kosongdan berat bersih.
c) Penghamparan Campuran
Permukaan yang akan dilapisi harus sudah dibersihkan dari material
lepas atau tanah.
Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat harus diterapkan sesuai
dengan persyarat yang ditentukan.
Temperatur pemasokan di alat penghampar sesuai ketentuan.
Sebelum memulai penghamparan, sepatu (screed) alat penghampar
harusdipasangkan.
Campuran aspal harus dihampar dan diratakan sesuai dengan
kelandaian, elevasi,serta betuk penampang melintang yang disyaratkan.
Penampungan alat penghampar tidak boleh dikosongkan, tetapi
temperatur sisacampuran aspal harus dijaga.
Kecepatan penghamparan hasur sesuai dengan pengujian lapangan dan
disetujuioleh Direksi.
d) Pemadatan Campuran Aspal Pemadatan dilakukan dengan cara
penggilasan yang terdiri dari 3 tahap yang berbeda, yaitu :
Penggilasan Awal, bertujuan untuk mengatur atau mengarahkan butiran-
butiran bahan yang dipadatkan pada posisi yang cukup baik dan
membentuk permukaan lapisan sesuai dengan yang disyaratkan.
Penggilasan Kedua, bertujuan untuk meningkatkan kepadatan yang telah
dicapai pada penggilasan awal dan memperkokoh bentuk permukaan
lapisan yang dipadatkan.
Penggilasan Akhir, bertujuan untuk mendapatkan bentuk permukaan
lapisan yang di padatkan.
4. DIVISI 9. PEKERJAAN HARIAN & PEKERJAAN LAIN-LAIN
a. Pengecatan Marka Jalan
a) Penyiapan Permukaan Perkerasan Sebelum penandaan marka jalan atau
pengecatan dilaksanakan, Penyedia Jasa harus menjamin bahwa
permukaan perkerasan jalan yang akan diberi marka jalan harus bersih,
kering dan bebas dari bahan yang bergemuk dan debu. Penyedia Jasa
harus menghilangkan dengan grit blasting (pengausan dengan bahan
berbutir halus) setiap marka jalan lama baik termoplastis maupun bukan,
yang akan menghalangi kelekatan lapisan cat baru.
b) Pelaksanaan Pengecatan Marka Jalan
Semua bahan cat yang digunakan tanpa pemanasan (bukan
termoplastik) harus dicampur terlebih dahulu menurut petunjuk pabrik
pembuatnya sebelum digunakan agar suspensi pigmen merata di dalam
cat.
Pengecatan tidak boleh dilaksanakan pada suatu permukaan yang baru
diaspal kurang dari 1 bulan setelah pelaksanaan lapis permukaan,
kecuali diperintahkan lain oleh Pengawas Pekerjaan. Selama masa
tunggu yang disebutkan di atas, pengecatan m arka jalan sementara
(pre-marking) pada permukaan beraspal harus dilaksanakan segera
setelah pelapisan.
Penyedia Jasa harus mengatur dan menandai semua marka j alan pada
per- mukaan perkerasan dengan dimensi dan penempatan yang presisi
sebelum pelaksanaan pengecatan marka jalan.
Pengecatan marka jalan dilaksanakan pada garis sumbu, garis lajur,
garis tepi dan zebra cross dengan bantuan sebuah mesin mekanis yang
disetujui, bergerak dengan mesin sendiri, jenis penyemprotan atau
penghamparan otomatis dengan katup mekanis yang mampu membuat
garis putus-putus dalam pengoperasian yang menerus (tanpa berhenti
dan mulai berjalan lagi) dengan hasil yang dapat diterima Pengawas
Pekerjaan. Mesin yang digunakan tersebut harus menghasilkan suatu
lapisan yang rata dan seragam dengan tebal basah minimum 0,38
milimeter untuk “cat bukan termoplastik” dan tebal minimum 1,50 mm
untuk “cat termoplastik” belum termasuk butiran kaca (glass bead) yang
ju ga ditaburkan secara mekanis, dengan garis tepi yang bersih (tidak
bergerigi) pada lebar ran-cangan yang sesuai. Bilamana tidak
disyaratkan oleh pabrik pembuatnya, maka cat termoplastik harus
dilaksanakan pada temperatur 204 - 218 °C.
Bilamana penggunaan mesin tak memungkinkan, maka Pengawas
Pekerjaan dapat mengizinkan pengecatan marka jalan dengan cara
manual, dikuas, disemprot dan dicetak dengan sesuai dengan
konfigurasi marka jalan dan jenis cat yang disetujui untuk
penggunaannya.
Butiran kaca (glass bead) harus ditaburkan di atas permukaan cat segera
setelah pelaksanaan penyemprotan atau penghamparan cat. Butiran
kaca (glass bead) harus ditaburkan dengan kadar 450 gram/m2 untuk
semua jenis cat, baik untuk “bukan termoplastik” maupun “termoplastik”.
Semua marka jalan harus dilindungi dari lalu lintas sampai marka jalan
ini dapat dilalui oleh lalu lintas tanpa adanya bintik-bintik atau bekas jejak
roda serta kerusakannya lainnya.
Semua marka jalan yang tidak menampilkan hasil yang merata dan
memenuhi ketentuan baik siang maupun malam hari harus diperbaiki
oleh Penyedia Jasa atas biayanya sendiri.
Ketentuan dari Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas harus diikuti
sedemikian sehingga rupa harus menjamin keamanan umum ketika
pengecatan marka jalan sedang dilaksanakan.
Semua pemakaian cat secara dingin harus diaduk di lapangan menurut
ketentuan pabrik pembuat sesaat sebelum dipakai agar menjaga bahan
pewarna tercampur merata di dalam suspensi.