| 0722581741107000 | Rp 1,206,196,076 | |
| 0028891018107000 | - | |
| 0718121312107000 | - | |
| 0028891125107000 | - | |
| 0957458698108000 | - | |
| 0015033970107000 | - | |
CV Karya Sebudi Idolaku | 09*5**0****07**0 | - |
| 0833414154107000 | - | |
| 0725184857105000 | - | |
| 0837342682101000 | - | |
| 0844400135101000 | - | |
| 0816327209104000 | - | |
| 0021018965101000 | - | |
| 0969962547107000 | - | |
| 0931594428107000 | - |
URAIAN PEKERJAAN
PENYELENGGARAAN JALAN KAB UPATEN/KOTA
SUMBER DANA DOKA TAHUN ANGGARAN 2024
REHABILITASI JALAN BIAK MULI – PEDESI –
TERUTUNG PAYUNG
KECAMATAN BAMBEL
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG
KAB UPATEN ACEH TENGGARA
Jl. Cut Nyak Dhien No. 199 Telp. (0629) 21074 Fax. (0629) 21460
Website : https://pupr.acehtenggarakab.go.id
Email : [email protected]
URAIAN SINGKAT PEKERJAAN
Kegiatan : Penyelenggaraan Jalan Kabupaten/Kota
Pekerjaan : Rehabilitasi Jalan Biak Muli – Pedesi – Terutung Payung
Lokasi : Kecamatan Bambel
Sumber Dana : DOKA Tahun Anggaran 2024
DIVISI 1. UMUM
A. Mobilisasi
Setelah dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK), dilakukan tinjauan kelapangan
sebagai survey awal guna mengetahui lokasi pekerjaan, maka langkah selanjutnya adalah
membuat kantor (Direksi Keet) dalam hal ini sewa, barak kerja dan gudang untuk penyimpanan
bahan dan peralatan, selanjutnya memobilisasi peralatan dan tenaga kerja sesuai dengan
jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan dilapangan, adapun bahan dan peralatan yang
dimobilisasi sebagai berikut :
1. Dump Truck, Mobilisasinya dilakukan pada saat pekerjaan drainase, pekerjaan tanah,
pekerjaan perkerasan berbutiran, dan pekerjaan aspal dimulai (galian selokan, galian
biasa, urugan biasa, urugan pilihan, lapis pondasi agregat klas A, lapis pondasi agregat
klas B, dan perkerasan aspal, juga untuk mengangkut keperluan material, bahan lainnya
yang diperlukan dilapangan);
2. Excavator, mobilisasinya dilaksanakan pada saat Pekerjaan Drainase, dan Pekerjaan
Tanah (galian biasa) dimulai.
3. Motor Greder, Mobilisasinya dilakukan pada saat pekerjaan Perkerasan berbutiran dimulai.
4. Wheel Loader, Mobilisasinya dilakukan pada pekerjaan tanah (urugan biasa, dan urugan
pilihan) dan pada saat pekerjaan berbutiran (Lapis pondasi agregat klas A, dan klas B)
dimulai.
5. Vibrator Roller, digunakan untuk pemadatan yang dimobilisasi bersamaan dengan
perkerjaan Perkerasan berbutiran tersebut.
6. Tandem Roller, Mobilisasinya dilakukan pada saat pekerjaan ATB dimulai.
7. Water Tank Truck, Mobilisasinya dilakukan pada saat pekerjaan Perkerasan berbutiran
dilaksanakan.
8. Aspalt Sprayer, di Mobilisasi pada saat pekerjaan Aspal dilaksanakan;
9. Concrete Mixer, Mobilisasinya dilakukan pada saat Pekerjaan gorong-gorong, dan
pekerjaan Beton dimulai.
10. Concrete Vibrator, Mobilisasinya dilakukan pada saat Pekerjaan pekerjaan Beton dimulai.
11. Sedangkan Untuk Stone Cruser akan masih dalam dimobilisasikan dan akan ditempati
pada Quary di Lokasi yang akan kami sewa jangka panjang. Dan apabila memungkinkan
kebutuhan material bisa didatangkan dari darat maka kami tidak akan memobilisasikan
Stone Cruiser tersebut.
Demobilisasi
Semua Peralatan akan di Demobilisasi setelah semua pekerjaan telah selesai dikerjakan.
DIVISI 2. DRAINASE
a. Gorong-Gorong Pipa Beton Bertulang
Pekerjaan gorong-gorong tidak boleh dimulai sampai persetujuan tertulis Direksi Pekerjaan dan
lingkup pekerjaan telah diterbitkan. Karena gorong-gorong harus disele-saikan terlebih dahulu
sebelum pekerjaan timbunan dimulai, terkecuali jika Kontraktor dapat menyediakan drainase
yang memadai dengan membuat pekerjaan sementara yang khusus. pekerjaan persiapan tanah
dasar atau pekerjaan pelapisan ulang, baik pada jalur lalu lintas maupun pada bahu jalan, tidak
boleh dimulai sebelum gorong-gorong, tembok kepala dan struktur minor lainnya yang terletak di
bawah elevasi tanah dasar selesai dikerjakan.
DIVISI 3. PEKERJAAN TANAH
a. Galian Biasa
Pelaksanaan galian untuk pondasi jembatan ini prosedurnya sebagai berikut :
1. Pengukuran dan pemasangan bowplank atau menentukan kedalaman galian.
Pengukuran dilaksanakan dengan menggunakan alat ukur theodolit dengan
mempedomani hasil rekayasa yang telah ditentukan oleh Konsultan dan pihak Proyek.
Pemasangan bowplank dilakukan setalah hasil dari pengukuran disetujui oleh pihak
konsultan dan pihak proyek.
2. Penggalian dengan Menggunakan Alat Berat
Pekerjaan penggalian dilaksanakan setelah pemasangan bowplank dalam hal ini
penentuan kedalaman galian. Tanah yang digali oleh Excavator langsung dimuat ke
Dump Truck, kemudian diangkut keluar lokasi proyek.
b. Timbunan Biasa
Bahan material timbunan biasa yang digunakan harus memenuhi Spesifikasi Umum dan di
setujui oleh direksi. Pekerjaan timbunan biasa dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut
:
Pengangkutan Material
Sumber dan jenis material yang akan dipakai untuk bahan timbunan harus disetujui terlebih
dahulu oleh direksi.
Pengangkutan Material Timbunan kelokasi pekerjaan dari tempat pembuangan galian
menggunakan dump truck. Pengecekan dan pencatatan volume material dilakukan pada saat
tiba dilokasi pekerjaan sebelum material di stock. Material diturunkan dengan jarak dan
volume tertentu untuk memudahkan pada saat penghamparan agar tidak terjadi kelebihan
material disatu tempat dan kekurangan material ditempat lain.
Penghamparan Material
Penghamparan material dilakukan dengan menggunakan Motor Grader dalam tahap
penghamparan ini harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
- Kondisi cuaca yang memungkinkan.
- Panjang hamparan pada saat setiap section yang dipadatkan sesuai dengan kondisi
lapangan. Lebar penghamparan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan tebal
penghamparan sesuai dengan spesifikasi.
- Material yang tidak dipakai dipisahkan dan ditempatkan pada lokasi yang telah
ditetapkan.
Pemadatan Material
Pemadatan dilakukan dengan menggunakan Vibro Roller, dimulai dari bagian tepi ke bagian
tengah. Setelah pemadatan selesai alat pemadat dipindahkan kejalur sebelahnya dengan
over leving 1/8 panjang drum dan seterusnya hingga mencapai areal pemadatan. Pemadatan
dilakukan dengan jumlah passing sesuai dengan hasil trial compaction. Hal-hal yang perlu
diperhatikan pada tahap ini adalah :
- Timbunan yang paling atas diselesaikan dimana tiap section pemadatan harus dibuat
sedemikian rupa sehingga memiliki kemiringan sesuai spesifikasi. Hal ini dimaksudkan
agar air hujan dapat dialirkan keluar areal timbunan.
- Apabila air kurang dari batas toleransi, maka harus ditambahkan air dengan cara
menyemprotkan air dari water tank. Banyaknya air yang disemprot harus diperhitungkan
sehingga tidak berlebihan. Penyemprotan air dilakukan pada saat jumlah passing
mencapai 2/3 dari yang direncanakan hal ini dimaksudkan agar ikatan antara material
tidak lepas sehingga kepadatan dapat dicapai.
- Patok referensi elevasinol urugan, batas-batas urugan dan patok kemiringan harus dibuat
dengan jelas.
- Pada kondisi dimana pemadatan harus dihentikan sebelum pemadatan itu sendiri selesai
akibat cuaca, maka area pemadatan harus diproteksi.
- Pada lokasi timbunan harus dibuatkan Temprory Rain sedemikian rupa sehingga setiap
saluran tersebut dapat menampung air dan berfungsi dengan baik, tidak mengakibatkan
Urutan Kerja/Metode Kerja :
Material urugan biasa dimuat ke Dump Truck, pengangkutan material timbunan dilakukan
dengan Dump Truck dari tempat pembuangan galian ke lokasi pekerjaan, Material
timbunan biasa dihampar dengan menggunakan Motor Grader, Hamparan material di
sirami air dengan Water Tank Truck (sebelum pelaksanaan pemadatan) dan dipadatkan
dengan menggunakan Vibro Roller.
Selama pemadatan sekelompok pekerjaan akan merapikan tepi hamparan dan level
permukaan dengan menggunakan alat bantu.
c. Timbunan Pilihan
Bahan material timbunan pilihan yang digunakan harus memenuhi Spesifikasi Umum dan di
setujui oleh direksi. Pekerjaan timbunan pilihan dilaksanakan dengan prosedur sebagai
berikut :
Pengangkutan Material
Sumber dan jenis material yang akan di pakai untuk bahan timbunan harus di setujui terlebih
dahulu oleh direksi. Pengangkutan Material Timbunan kelokasi pekerjaan dari quarry
menggunakan dump truck dan loadingnya dilakukan dengan menggunakan wheel loader.
Pengecekan dan pencatatan volume material dilakukan pada saat tiba dilokasi pekerjaan
sebelum material di stock. Material diturunkan dengan jarak dan volume tertentu untuk
memudahkan pada saat penghamparan agar tidak terjadi kelebihan material disatu tempat
dan kekurangan material ditempat lain.
Penghamparan Material
Penghamparan material dilakukan dengan menggunakan Motor Grader dalam tahap
penghamparan ini harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
- Kondisi cuaca yang memungkinkan.
- Panjang hamparan pada saat setiap section yang dipadatkan sesuai dengan kondisi
lapangan. Lebar penghamparan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan tebal
penghamparan sesuai dengan spesifikasi.
- Material yang tidak dipakai dipisahkan dan ditempatkan pada lokasi yang telah
ditetapkan.
Pemadatan Material
Pemadatan dilakukan dengan menggunakan Vibro Roller, dimulai dari bagian tepi ke bagian
tengah. Setelah pemadatan selesai alat pemadat dipindahkan kejalur sebelahnya dengan
over leving 1/8 panjang drum dan seterusnya hingga mencapai areal pemadatan. Pemadatan
dilakukan dengan jumlah passing sesuai dengan hasil trial compaction. Hal-hal yang perlu
diperhatikan pada tahap ini adalah :
- Timbunan yang paling atas diselesaikan dimana tiap section pemadatan harus dibuat
sedemikian rupa sehingga memiliki kemiringan sesuai spesifikasi. Hal ini dimaksudkan
agar air hujan dapat dialirkan keluar areal timbunan.
- Apabila air kurang dari batas toleransi, maka harus ditambahkan air dengan cara
menyemprotkan air dari water tank. Banyaknya air yang disemprot harus diperhitungkan
sehingga tidak berlebihan. Penyemprotan air dilakukan pada saat jumlah passing
mencapai 2/3 dari yang direncanakan hal ini dimaksudkan agar ikatan antara material
tidak lepas sehingga kepadatan dapat dicapai.
- Patok referensi elevasinol urugan pilihan, batas-batas urugan dan patok kemiringan harus
dibuat dengan jelas.
- Pada kondisi dimana pemadatan harus dihentikan sebelum pemadatan itu sendiri selesai
akibat cuaca, maka area pemadatan harus diproteksi.
- Pada lokasi timbunan harus dibuatkan Temprory Rain sedemikian rupa sehingga setiap
saluran tersebut dapat menampung air dan berfungsi dengan baik, tidak mengakibatkan
Urutan Kerja/Metode Kerja :
- Material urugan pilihan dimuat ke Dump Truck dengan menggunakan whell loader,
Pengangkutan material timbunan dilakukan dengan Dump Truck dari quarry/borrow pit ke
lokasi pekerjaan, Material timbunan pilihan dihampar dengan menggunakan Motor
Grader, Hamparan material di sirami air dengan Water Tank Truck (sebelum pelaksanaan
pemadatan) dan dipadatkan dengan menggunakan Vibro Roller. Selama pemadatan
sekelompok pekerjaan akan merapikan tepi hamparan dan level permukaan dengan
menggunakan alat bantu.
d. Penyiapan Badan Jalan
Pekerjaan ini mencakup penyiapan, penggaruan dan pemadatan permukaan tanah dasar atau
permukaan jalan kerikil lama atau lapis perkerasan lama yang rusak berat, untuk
penghamparan Lapis Pondasi Agregat, Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal, Lapis
Pondasi Semen Tanah atau Lapis Pondasi Beraspal di daerah jalur lalu-lintas (termasuk jalur
tempat pemberhentian dan persimpangan). Untuk jalan kerikil, pekerjaan dapat juga mencakup
perataan berat dengan motor grader untuk perbaikan bentuk dengan atau tanpa penggaruan
dan tanpa penambahan bahan baru. Pekerjaan ini meliputi galian minor atau penggaruan serta
pekerjaan timbunan minor yang diikuti dengan pembentukan, pemadatan, pengujian tanah
atau bahan berbutir, dan pemeliharaan permukaan yang disiapkan sampai bahan perkerasan
ditempatkan diatasnya.
DIVISI 5. PERKERASAN BERBUTIR
a. Lapis Pondasi Agregat Kelas A
Untuk pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi aggregat kelas A ini dilaksanakan untuk membuat
pondasi bahu jalan dan pondasi badan jalan pekerjaan ini. Pekerjaan Lapis Pondasi Aggregat
Kelas A dengan prosedur sebagai berikut :
Bahan Material dan Pencampuran Bahan Agregat Kelas A
Fraksi bahan terdiri dari agregat halus dan agregat kasar, pencampuran bahan untuk
memenuhi ketentuan yang disyaratkan harus dikerjakan di lokasi instalasi pemecah batu atau
pencampur yang disetujui, dengan menggunakan pemasok mekanis (mechanical feeder) yang
telah dikalibrasi untuk memperoleh aliran yang menerus dari komponen-komponen campuran
dengan proporsi yang benar.
Pengangkutan Material
Pengangkutan Material Base kelokasi pekerjaan menggunakan dump truck dan loadingnya
dilakukan dengan menggunakan wheel loader. Pengecekan dan pencatatan volume material
dilakukan pada saat tiba dilokasi pekerjaan sebelum material di stock.Material diturunkan
dengan jarak dan volume tertentu untuk memudahkan pada saat penghamparan agar tidak
terjadi kelebihan material disatu tempat dan kekurangan material ditempat lain.
Penghamparan Material
Penghamparan material dilakukan dengan menggunakan Motor Grader dalam tahap
penghamparan ini harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
- Kondisi cuaca yang memungkinkan.
- Panjang hamparan pada saat setiap section yang dipadatkan sesuai dengan kondisi
lapangan. Lebar penghamparan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan tebal
penghamparan sesuai dengan spesifikasi.
- Material yang tidak dipakai dipisahkan dan ditempatkan pada lokasi yang telah
ditetapkan.
Pemadatan Material
Pemadatan dilakukan dengan menggunakan Tandem Roller dan PTR, dimulai dari bagian tepi
ke bagian tengah. Setelah pemadatan selesaialat pemadat dipindahkan kejalur sebelahnya
dengan over leving 1/8 panjang drum dan seterusnya hingga mencapai areal pemadatan.
Pemadatan dilakukan dengan jumlah passing sesuai dengan hasil trial compaction. Hal-hal
yang perlu diperhatikan pada tahap ini adalah :
- Lapis pondasi aggregat kelas A yang paling atas diselesaikan dimana tiap section
pemadatan harus dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki kemiringan sesuai
spesifikasi. Hal ini dimaksudkan agar air hujan dapat dialirkan keluar areal timbunan.
- Apabila air kurang dari batas toleransi, maka harus ditambahkan air dengan cara
menyemprotkan air dari water tank. Banyaknya air yang disemprot harus diperhitungkan
sehingga tidak berlebihan. Penyemprotan air dilakukan pada saat jumlah passing
mencapai 2/3 dari yang direncanakan hal ini dimaksudkan agar ikatan antara material
tidak lepas sehingga kepadatan dapat dicapai.
- Patok referensi elevasinol aggregat kelas A, batas-batas urugan dan patok kemiringan
harus dibuat dengan jelas.
- Pekerjaan aggregat kelas A yang telah selesai pada hari yang bersangkutan harus
diamankan dari pengaruh cuaca.
- Pada kondisi dimana pemadatan harus dihentikan sebelum pemadatan itu sendiri selesai
akibat cuaca, maka area pemadatan harus diproteksi. Pada lokasi aggregat kelas A harus
dibuatkan Temprory Rain sedemikian rupa sehingga setiap saluran tersebut dapat
menampung air dan berfungsi dengan baik, tidak mengakibatkan genangan air.
Prosedur Pelaksanaan
- Pencampuran aggregat kelas A dicampur di Base Camp dengan menggunakan alat
Wheel Loader dan Excavator.
- Pengisian aggregat kelas A ke Dump Truck dilaksanakan dengan memakai alat Wheel
Loader.
- Pengangkutan material aggregat kelas A dilaksanakan dengan Dump Truck.
- Penghamparan material aggregat kelas A dengan menggunakan alat Motor Grader
- Hamparan aggregat dibasahi dengan Water Tank Truck sebelum dipadatkan dengan
Tandem Roller dan Pneumatic Tire Roller Selama pemadatan, sekelompok pekerjaan
akan merapikan tepi hamparan dan level permukaan dengan menggunakan alat bantu.
b. Lapis Pondasi Agregat Kelas B
Untuk pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi aggregat kelas B ini dilaksanakan untuk membuat
pondasi bahu jalan dan pondasi badan jalan pekerjaan ini. Pekerjaan Lapis Pondasi Aggregat
Kelas B dengan prosedur sebagai berikut :
Bahan Material dan Pencampuran Bahan Agregat Kelas B
Fraksi bahan terdiri dari agregat halus dan agregat kasar, pencampuran bahan untuk
memenuhi ketentuan yang disyaratkan harus dikerjakan di lokasi instalasi pemecah batu atau
pencampur yang disetujui, dengan menggunakan pemasok mekanis (mechanical feeder) yang
telah dikalibrasi untuk memperoleh aliran yang menerus dari komponen-komponen campuran
dengan proporsi yang benar.
Pengangkutan Material
Pengangkutan Material Base kelokasi pekerjaan menggunakan dump truck dan loadingnya
dilakukan dengan menggunakan wheel loader. Pengecekan dan pencatatan volume material
dilakukan pada saat tiba dilokasi pekerjaan sebelum material di stock.Material diturunkan
dengan jarak dan volume tertentu untuk memudahkan pada saat penghamparan agar tidak
terjadi kelebihan material disatu tempat dan kekurangan material ditempat lain.
Penghamparan Material
Penghamparan material dilakukan dengan menggunakan Motor Grader dalam tahap
penghamparan ini harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
- Kondisi cuaca yang memungkinkan.
- Panjang hamparan pada saat setiap section yang dipadatkan sesuai dengan kondisi
lapangan. Lebar penghamparan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan tebal
penghamparan sesuai dengan spesifikasi.
- Material yang tidak dipakai dipisahkan dan ditempatkan pada lokasi yang telah
ditetapkan.
Pemadatan Material
Pemadatan dilakukan dengan menggunakan Tandem Roller dan PTR, dimulai dari bagian tepi
ke bagian tengah. Setelah pemadatan selesaialat pemadat dipindahkan kejalur sebelahnya
dengan over leving 1/8 panjang drum dan seterusnya hingga mencapai areal pemadatan.
Pemadatan dilakukan dengan jumlah passing sesuai dengan hasil trial compaction. Hal-hal
yang perlu diperhatikan pada tahap ini adalah :
- Lapis pondasi aggregat kelas B yang paling atas diselesaikan dimana tiap section
pemadatan harus dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki kemiringan sesuai
spesifikasi. Hal ini dimaksudkan agar air hujan dapat dialirkan keluar areal timbunan.
- Apabila air kurang dari batas toleransi, maka harus ditambahkan air dengan cara
menyemprotkan air dari water tank. Banyaknya air yang disemprot harus diperhitungkan
sehingga tidak berlebihan. Penyemprotan air dilakukan pada saat jumlah passing
mencapai 2/3 dari yang direncanakan hal ini dimaksudkan agar ikatan antara material
tidak lepas sehingga kepadatan dapat dicapai.
- Patok referensi elevasinol aggregat kelas B, batas-batas urugan dan patok kemiringan
harus dibuat dengan jelas.
- Pekerjaan aggregat kelas A yang telah selesai pada hari yang bersangkutan harus
diamankan dari pengaruh cuaca.
- Pada kondisi dimana pemadatan harus dihentikan sebelum pemadatan itu sendiri selesai
akibat cuaca, maka area pemadatan harus diproteksi. Pada lokasi aggregat kelas B harus
dibuatkan Temprory Rain sedemikian rupa sehingga setiap saluran tersebut dapat
menampung air dan berfungsi dengan baik, tidak mengakibatkan genangan air.
Prosedur Pelaksanaan
- Pencampuran aggregat kelas B dicampur di Base Camp dengan menggunakan alat
Wheel Loader dan Excavator.
- Pengisian aggregat kelas B ke Dump Truck dilaksanakan dengan memakai alat Wheel
Loader.
- Pengangkutan material aggregat kelas B dilaksanakan dengan Dump Truck.
- Penghamparan material aggregat kelas B dengan menggunakan alat Motor Grader
- Hamparan aggregat dibasahi dengan Water Tank Truck sebelum dipadatkan dengan
Tandem Roller dan Pneumatic Tire Roller Selama pemadatan, sekelompok pekerjaan
akan merapikan tepi hamparan dan level permukaan dengan menggunakan alat bantu.
DIVISI 6. PERKERASAN ASPAL
a. Lapis Resap Pengikat - Aspal Cair/Emulsi
Pekerjaan Lapis Resap Pengikat dilakukan di atas permukaan Agregat Klas A yang telah
dipadatkan dan telah dilakukan pengujian kepadatan. Lapisan Resap Pengikat harus disemprot
hanya pada permukaan yang kering atau mendekati kering, dan Lapis Perekat harus disemprot
hanya pada permukaan yang benar-benar kering. Penyemprotan Lapis Resap Pengikat tidak
boleh dilaksanakan waktu angin kencang, hujan atau akan turun hujan.
b. Laston Lapis Antara (AC-BC)
1. Ruang Lingkup
a. Penyiapan material untuk campuran AC-BC
b. Penyiapan lokasi penghamparan AC-BC
c. Penghamparan dan pemadatan sesuai dengan ketebalan dan elevasi yang diminta
2. Alat yang dipakai
a. Stone crusher
b. Wheel loader
c. Dump truck
d. AMP
e. Asphalt Finisher
f. Tandem Roller
g. PTR
h. Air Compressor
i. Asphalt Sprayer
3. Bahan yang diperlukan
a. Batu pecah/split
b. Pasir
c. Aspal
d. Filler
e. Kerosene
4. Prosedur Pelaksanaan dilapangan
a. Penentuan lokasi dan elevasi dari AC-BC yang akan dipasang di lapangan pada shop
drawing.
b. Drum truck mengangkut material batu dari quarry dan membawa ke stock pile raw
material di base camp.
c. Wheel loader menuang material batu dari stock pile ke hopper, untuk selanjutnya
dilakukan proses pemecahan dan screening menurut diameternya (pasir, abu batu 0-5
mm, split 5-12 mm, split 12-20 mm) oleh stone crusher.
d. Pembuatan job mix design dari material hasil crushing dari stone crusher dan material
lainnya harus sesuai dengan spesifikasi teknis dalam hal sbb:
Tabel Nominal Rancangan Campuran Aspal
Tebal Nominal
Jenis Campuran Simbol
Minimum (cm)
Latasir Kelas A SS-A 1,5
Latasir Kelas B SS-B 2,0
Lapis Aus HRS-WC 3,0
Lataston
Lapis Pondasi HRS-Base 3,5
Lapis Aus AC-WC 4,0
Laston
Lapis Pengikat AC-BC 5,0
Lapis Pondasi AC-Base 6,0
Tabel Ketentuan Agregat Kasar
Pengujian Standar Nilai
Kekekalan bentuk agregat terhadap
SNI 03-3407-1994 Maks.12 %
larutan natrium dan magnesium sulfat
Abrasi dengan mesin Los Angeles SNI 03-2417-1991 Maks. 40 %
Kelekatan agregat terhadap aspal SNI 03-2439-1991 Min. 95 %
Angularitas (ke Lalu Lintas < 1 juta
85/80
dalaman ESA
dari permukaan < Lalu Lintas > 1 juta DoT’s
95/90
10 cm) ESA Pennsylvania
Angularitas (ke Lalu Lintas < 1 juta Test Method,
60/50
dalaman ESA PTM No.621
dari permukaan > Lalu Lintas > I juta
80/75
10 cm) ESA
Partikel Pipih dan Lonjong ASTM D-4791 Maks. 10 %
Tabel Angularitas Agregat Halus
Lalu
Pengujian Standar Nilai
Lintas
Angularitas (ke < 1 juta
Min. 40 %
dalaman ESA
dari permukaan > 1 juta
Min. 45 %
< 10 cm) ESA
AASHTO
Angularitas (ke < 1 juta
TP-33 Min. 40 %
dalaman ESA
dari permukaan > 1 juta
Min. 40 %
> 10 cm) ESA
Tebal nominal rancangan Campuran Aspal
Tebal Nominal
Jenis Campuran Simbol
Minimum (cm)
Latasir Kelas A SS-A 1,5
Latasir Kelas B SS-B 2,0
Lapis Aus HRS-WC 3,0
Lataston
Lapis Pondasi HRS-Base 3,5
Lapis Aus AC-WC 4,0
Laston Lapis Pengikat AC-BC 5,0
Lapis Pondasi AC-Base 6,0
Tabel Ketentuan Agregat Kasar
Pengujian Standar Nilai
Kekekalan bentuk agregat
SNI 03-3407-
terhadap larutan natrium dan Maks.12 %
1994
magnesium sulfat
Abrasi dengan mesin Los SNI 03-2417-
Maks. 40 %
Angeles 1991
Kelekatan agregat terhadap SNI 03-2439-
Min. 95 %
aspal 1991
Angularitas Lalu Lintas < 1
85/80
(ke juta ESA
dalaman
dari Lalu Lintas > 1
95/90
permukaan juta ESA DoT’s
< 10 cm) Pennsylvania
Angularitas Lalu Lintas < 1 Test Method,
60/50
(ke juta ESA PTM No.621
dalaman
dari Lalu Lintas > I
80/75
permukaan juta ESA
> 10 cm)
ASTM D-
Partikel Pipih dan Lonjong Maks. 10 %
4791
Tabel Gradasi Agregat Untuk Campuran Aspal
Ukuran % Berat Yang Lolos
ayakan Latasir (SS) Lataston (HRS) LASTON (AC)
Kelas Kelas
ASTM (mm) WC Base WC BC Base
A B
1½” 37,5 100
1” 25 100 90 - 100
¾” 19 100 100 100 100 100 90 - 100 Maks.90
90 -
½” 12,5 90 - 100 90 - 100 Maks.90
100
90 - 65 -
3/8” 9,5 75 - 85 Maks.90
100 100
75 - 35 -
No.8 2,36 50 - 721 28 - 58 23 - 39 19 - 45
100 551
No.16 1,18
No.30 0,600 35 - 60 15 - 35
10 -
No.200 0,075 8 - 13 6 - 12 2 - 9 4 - 10 4 - 8 3 - 7
15
DAERAH LARANGAN
No.4 4,75 - - 39,5
26,8 -
No.8 2,36 39,1 34,6
30,8
25,6 - 22,3 - 18,1 -
No.16 1,18
31,6 28,3 24,1
19,1 - 16,7 - 13,6 -
No.30 0,600
23,1 20,7 17,6
No.50 0,300 15,5 13,7 11,4
Tabel Toleransi Komposisi Campuran
Agregat Gabungan Lolos Ayakan Toleransi Komposisi Campuran
Sama atau lebih besar dari 2,36 mm ± 5 % berat total agregat
2,36 mm sampai No.50 ± 3 % berat total agregat
No.100 dan tertahan No.200 ± 2 % berat total agregat
No.200 ± 1 % berat total agregat
Kadar aspal Toleransi
Kadar aspal ± 0,3 % berat total campuran
Tabel Ketentuan Sifat-sifat Campuran
Latasir Lataston Laston
Sifat-sifat Campuran Kelas A
WC Base WC BC Base
& B
1,2 untuk Lalu Lintas > 1.000.000 ESA
Penyerapan kadar aspal Maks. 2,0
1,7 untuk Lalu Lintas < 1.000.000 ESA
Jumlah tumbukan per bidang 50 75 112 (1)
Lalu Lintas (LL) Min. Tidak - 4.9
> 1 juta ESA Maks. digunakan - 5.9
Rongga > 0,5 juta ESA & Min. untuk LL 4.0 3.9
dalam < 1 juta ESA Maks. berat 6.0 4.9
campuran Lalu Lintas (LL) Min. 3.0 3.0
(%) (4) < 0,5 juta ESA Maks. 6.0 5.0
Rongga dalam Agregat (VMA)
Min. 20 18 17 15 14 13
(%)
Lalu Lintas (LL) Min. Tidak 65 60
65 63
> 1 juta ESA digunakan
Rongga > 0,5 juta ESA & Min. untuk LL
68
terisi aspal < 1 juta ESA berat
(%)
Lalu Lintas (LL) Min.
75 73
< 0,5 juta ESA
Min. 200 800 800 (1)
Stabilitas Marshall (kg)
Maks. 850 - -
Min. 2 2 2 (1)
Kelelehan (mm)
Maks, 3 - -
Marshall Quotient (kg/mm) Min. 80 200 200
Stabilitas Marshall Sisa setelah
85 untuk Lalu Lintas > 1.000.000 ESA
pe-endaman selama 24 jam, 60 Min.
80 untuk Lalu Lintas < 1.000.000 ESA
ºC (5)
Rongga Lalu Lintas (LL) Min. Tidak
- 2,5
dlm > 1 juta ESA Maks. digunakan
campuran > 0,5 juta ESA & Min. untuk LL
2
(%) pada < 1 juta ESA Maks. berat
(2,3)
Kepadatan Lalu Lintas (LL) Min.
1
membal < 0,5 juta ESA Maks.
(refusal)
Tabel Ketentuan Viskositas Aspal dan Suhu Campuran Aspal
SUHU
VISKOSITAS
CAMPURAN
No. PROSEDUR PELAKSANAAN ASPAL
ASPAL (ºC)
(PA.S)
Pen.60/70
1 Pencampuran benda uji Marshall 0,2 155 ± 1
2 Pemadatan benda uji Marshall 0,4 145 ± 1
tidak
3 Suhu pencampuran maks. di AMP 165
diperlukan
4 Pencampuran, rentang temperatur sasaran 0,2 - 0,5 145 - 155
Menuangkan campuran aspal dari alat
5 0,5 - 1,0 135 - 150
pencampur ke dalam truk
6 Pemasokan ke Alat Penghampar 0,5 - 1,0 130 - 150
7 Penggilasan Awal (roda baja) 1 - 2 125 - 145
8 Penggilaan Kedua (roda karet) 2 - 20 100 - 125
9 Penggilasan Akhir (roda baja) < 20 > 95
e. Lokasi yang akan dihampar AC-BC ditandai, baik batas batas dan elevasinya serta
disemprot dengan Prime Coat (lihat metode kerja Prime Coat)
f. Mobilisasi alat-alat hotmix (Asphalt Finisher, Tandem Roller,Pneumatic Tyre Roller dan
alat-alat bantu lainnya ke lokasi
g. Pencampuran material dengan alat AMP sesuai dengan job mix design
h. Sepatu (screed) tepi dari Asphalt Finisher di pasang sesuai garis ketinggian yang
diperlukan pada tepi dari tempat dimana AC-BC akan dihampar
i. Dump truck membawa campuran aspal panas (AC-BC) dari AMP dan menuang ke
Asphalt Finisher. Pada saat hauling ini suhu sampuran AC-BC harus dijaga dengan
menutupnya dengan terpal.
j. Penghamparan AC-BC dilakukan dengan cara menuang material AC-BC dari Dump
Truck ke Asphalth Finisher selajuntnya Asphalt Finisher yang akan menghampar dan
membentuk lapisan AC-BC
1) Screed dari Asphalt Finisher sudah dipanaskan
2) Campuran hotmix dihampar dan diratakan sesuai dengan kelandaian, elevasi serta
bentuk melintang yang disyaratkan
3) Kecepatan penghamparan harus diperhatikan agar tidak terjadi retak permukaan,
belahan atau bentuk ketidakteraturan lainnya pada permukaan
4) Tempat-tempat yang kasar atau terjadi agregasi harus segera diperbaiki dengan
bahan yang halus dan perlahan-lahan diratakan
5) Campuran tidak boleh berkumpul dan mendingin pada tepi-tepi penadah atau
tempat lainnya di mesin
a. Pemadatan
a. Pemadatan awal (break down Rolling) dilakukan dengan tandem roller 0-10 menit
setelah penghamparan pada suhu 125-110 C Pengecekan elevasi dilakukan segera
setelah break down rolling dan kesalahan yang terjadi segera diperbaiki.
b. Pemadatan sekunder (intermediate rolling) dilakukan dengan Pneumatic Tyre Roller
10 - 20 menit setelah penghamparan pada suhu 110 - 95 C
c. Pemadatan akhir (finish rolling) dilakukan dengan tandem roller 20 - 45 menit setelah
penghamparan pada suhu 95 - 80C dan dilakukan sampai bekas bekas roda pemadat
hilang
d. Banyak lintasan pada saat pemdatan sesuai dengan hasil dari trial compaction
e. Pemadatan dilakukan dari bagian luar menuju ke as jalan (pada jalan lurus) atau dari
bagian rendah ke bagian yang lebih tinggi (pada daerah super elevasi)
f. Lintasan yang berurutan harus saling menutupi dengan paling sedikit setengah dari
lebar roda
g. Untuk mencegah pelekatan campuran aspal ke roda pemadat, roda-roda pemadat
dapat dibasahi dengan air secara menerus, namun tidak boleh berlebihan.
DIVISI 7. STRUKTUR
Lingkup Pekerjaan
a. Beton Struktur fc’ 20 Mpa
b. Beton Struktur fc’ 15 Mpa
c. Beton Siklop fc’15 Mpa
Prosedur ini meliputi pemyediaan bahan, pembuatan, penyediaan tempat kerja, pelaksanaan
dan pemeliharaan beton sesuai dengan spesifikasi dan gambar kerja atau sebagaimana yang
disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Beton yang dimaksud dalam uraian ini adalah beton mutu
sedang (fc’ 20 MPa), beton mutu rendah (fc’ 15 MPa) dan beton mutu rendah (fc’ 10 MPa).
Persiapan :
- Pengujian semua bahan yang digunakan beserta data pengujian bahan dari laboratorium;
- Mempersiapkan rancangan campuran untuk masing-masing mutu beton yang akan
digunakan minimal 30 hari sebelum pekerjaan pengecoran beton dimulai lengkap dengan
hasil pengujian bahan dan hasil pengujian percobaan campuran beton di laboratorium
berdasarkan kuat tekan beton untuk umur 7 dan 28 hari;
- Membuat campuran percobaan menggunakan proporsi campuran hasil rancangan
campuran serta bahan yang diusulkan;
- Mempersiapkan Gambar detil untuk seluruh perancah yang akan digunakan;
- Persetujuan Direksi lapangan hasil percobaan campuran;
- Pengajuan kerja kepada Direksi Lapangan 2 hari sebelum pelaksanaan pencampuran
dan pengecoran dilapangan.
- Pemeriksaan kondisi cuaca, kesiapan lokasi kerja, bahan, alat dan tenaga kerja
Pengendalian terhadap resiko K3 :
Resiko kerja dalam pekerjaan ini adalah terkena peralatan kerja yang dapat mengakibatkan
luka ringan, luka berat dan kematian terhadap tenaga kerja, gangguan kesehatan akibat debu
dan semendan kecelakaan akibat pembersihan dan kerusakaan peralatan kerja. Untuk itu
kami akan melakukan pengendalian resiko seperti pengecekan safety dan perbaikan alat
kerja agar selalu dalam keadaan baik sebelum pekerjaan dilakukan, selalu melakukan
pengecekan alat kerja pada saat pengangkatan alat ke lokasi yang telah ditentukan agar tidak
terjadi kecelakaan yang mengakibatkan luka ringan, berat ataupun kematian, selalu
melakukan pengecekan sebelum dan saat pembersihan tabung pengaduk agar tidak terjadi
kecelakaan yang mengakibatkan luka ringan, berat ataupun kematian, pengadaan rambu dan
pagar pengaman dan pengadaan alat pelindung diri (APD) yang telah ditentukan untuk
pekerjaan konstruksi.
d. Baja Tulangan Polos BjTP 280
Pekerjaan ini mencangkup pengadaan dan pemasangan baja tulangan pada struktur beton
bertulang dan pekerjaan beton lainnya.
Tahapan Pekerjaan :
- Sebelum melakukan pekerjaan harus dibuat dahulu request dan diserahkan kepada
direksi untuk disetujui.
- Baja tulangan dipotong dengan alat berbanding set dan dirangkai sesuai gambar rencana.
- Baja Tulangan harus dipasang sedemikian rupa sehingga beton yang menutupi bagian
luar baja tidak terekspos langsung dengan udara atau terhadap air tanah atau yang
lainnya.
Resiko kerja dalam pekerjaan ini adalah terluka akibat pelaksanaan penulangan tidak
dilakukan oleh tenaga yang berpengalaman dan ahli dibidangnya, seperti : terjepit,
terluka/tergores saat pemasangan/pemotongan besi tulangan. Untuk itu kami akan
melakukan pengendalian resiko seperti para pekerja yang mengerjakan pemasangan besi
tulangan harus memakai sarung tangan, helm, sepatu boot yang sesuai standar, Besi
tulangan yang menjorok ke luar dari lantai atau dinding harus diberi pelindung, Pabrikasi
besi tulangan harus dilakukan oleh pekerja yang sudah berpengalaman dibidangnya, dan
Besi tulangan tidak boleh disimpan pada perancah atau papan acuan yang dapat
membahayakan kestabilannya.
e. Bronjong dengan kawat yang dilapisi galvanis
Pekerjaan pemasangan bronjong ini bertujuan agar tanah disekitar lereng jalan tidak tergerus
oleh arus / aliran air. Keranjang bronjong dibentangkan dengan kuat sehingga bentuk serta
posisi yang benar dengan menggunakan batang penarik atau ulir penarik kecil sebelum
pengisian batu ke dalam kawat bronjong. Batu dimasukkan satu demi satu sehingga diperoleh
kepadatan maksimum dan rongga seminimal mungkin. Bilamana tiap bronjong telah diisi
setengah dari tingginya, dua kawat pengaku horinsontal dari muka ke belakang akan dipasang.
Pengendalian terhadap resiko K3 :
Resiko kerja dalam pekerjaan ini adalah luka karena tertimpa batu dan terjatuh/terpeleset saat
pemasangan batu. Untuk itu kami akan melakukan pengendalian resiko seperti memakai alat
pelindung diri (APD) seperti helm, sepatu bot, sarung tangan, kacamata safety dan masker,
pelaksanaan pekerjaan akan dilakukan oleh tenaga profesional atau operator alat berat yang
telah berpengalaman dibidangnya.
DIVISI 9. PEKERJAAN HARIAN & PEKERJAAN LAIN-LAIN
a. Marka Jalan Termoplastik
Pekerjaan ini dilaksanakan pada akhir seluruh pekerjaan dari paket ini berupa pengecatan
Marka Jalan dengan Termoplastik. Pekerjaan ini dilaksanakan diatas permukaan jalan AC-WC
Leveling yang telah selesai dilaksanakan. Metoda kerja dari pekerjaan ini adalah sebagai
berikut :
- Sebelum melakukan pekerjaan harus dibuat request dan diserahkan kepada direksi untuk
disetujui.
- Permukaan jalan dibersihkan dari debu/kotoran.
- Cat disemprotkan dengan Compressor diatas permukaan perkerasan jalan.
- Peralatan beserta bahan dibawa oleh Dump Truck.
- Glass Bit diberikan / ditebarkan dengan tenaga manusia segera setelah cat marka di
semprotkan.
- Penyelesaian dan perapihan setelah pemasangan.
Pengendalian terhadap resiko K3 :
Resiko kerja dalam pekerjaan ini adalah luka bakar dan terjadi kecelakaan lalu lintas. Untuk
itu kami akan melakukan pengendalian resiko seperti memakai alat pelindung diri (APD)
seperti helm, sepatu bot, sarung tangan, kacamata safety dan masker, pelaksanaan
pekerjaan akan dilakukan oleh tenaga profesional atau operator alat berat yang telah
berpengalaman dibidangnya, pengadaan rambu dan pagar pengaman dan pengadaan alat
pelindung diri (APD) yang telah ditentukan untuk pekerjaan konstruksi.
PEKERJAAN PENUNJANG
Pekerjaan penunjang berupa pengaturan lalu lintas jalan, pengalihan jalan sementara serta
komunikasi lapangan dan basecamp untuk menghindari kerugian akibat cuaca.
Untuk pengaturan lalu lintas di laksanakan sejak dimulainya pekerjaan di lokasi yang pastinya
akan mempengaruhi kelancaran lalu lintas di sekitar lokasi kerja di akibatkan antara lain karena
badan jalan yang direkonstruksi, posisi alat berat di badan jalan serta penumpukan material di
lokasi pekerjaan. Untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan arus lalu lintas maka kami akan
menempatkan tenaga yang khusus mengawasi dan bertanggung jawab terhadap kelancaran
arus lalu lintas. Untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan oleh
lubang galian, tumpukan material serta alat berat yang sedang bekerja, kami akan memasang
rambu-rambu berupa famplet atau spanduk peringatan kepada pengamudi agar berhati- hati
pada waktu melintas lokasi pekerjaan, dan untuk lubang serta tumpukan material dipasangkan
pita-pita penanda dengan warna mencolok agar dapat terlihat oleh pengendara.
PENERAPAN K3
Untuk mengawasi dan mengkoordinir penerapan rencana keselamatan dan kesehatan kerja
petugas K3 yang ditugaskan harus selalu mengikuti dan mengawasi setiap pelaksanaan item
pekerjaan bersama tim yang di tugaskan agar program dan sasaran K3 tercapai 100%.
PEMBERSIHAN AKHIR
Sebelum pekerjaan diserah terimakan, kami akan membongkar gudang, bangsal-bangsal
kerja, membersihkan bahan-bahan bangunan dan kotoran-kotoran bekas yang ada dalam
lokasi bangunan, sehingga pada saat serah terima dilaksanakan, bangunan dalam keadaan
bersih dan rapi.
Demikianlah Uraian Pekerjaan ini dibuat, untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Kutacane, Agustus 2024
Pengguna Anggaran (PA)
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
Kabupaten Aceh Tenggara
SADLI, ST
Pembina TK.I (IV/b)
Nip. 19770125 200212 1 002