LAPORAN PERENCANAAN PEKERJAAN
PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN KANTOR
PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PALANGKA RAYA
TAHUN ANGGARAN
2024
www.Basarnas.go.id (0536)421357 (0536)421357
[email protected] jl. Adonis Samad Kel. Panarung
Kec.Pahandut, Palangka Raya
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PERENCANAAN
Saya selaku konsultan perencana telah menyusun Laporan Perencanaan Kegiatan Perencanaan
Pembangunan Shelter Kendaraan, sesuai dengan jadwal dan output yang telah diperiksa dan disetujui
Pemberi Pekerjaan yaitu Kantor Pencarian dan Pertolongan Palangka Raya
Palangka Raya, 04 Februari 2024
Disetujui oleh. Konsultan Perencana
PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN
KANTOR PENCARIAN DAN PERTOLONGAN
PALANGKA RAYA
KHRISNA BAYU PRASIDHA
MUHAMMAD AULIA RACHMAN,S.E.
NIP. 198702192007121001
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
KATA PENGANTAR
Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, dalam proses pelaksanaan pekerjaan “Perencanaan
Pembangunan Shelter Kendaraan”, akhirnya saya bersama tim teknis kantor Pencarian dan Pertolongan
(BASARNAS) dapat menyelesaikan penyusunan “Laporan Perencanaan”.
Secara garis besar Laporan Perencanaan ini berisi uraian sebagai berikut :
1. Pendahuluan
2. Rona Awal Lokasi Perencanaan
3. Pendekatan Masalah dan Metodologi
4. Rencana kerja
5. Organisasi Pelaksanaan
6. Implementasi Perencanaan
7. Estimasi Rencana Anggaran Biaya
Demikian Laporan Perencanaan ini disusun sebagai bentuk laporan progress dalam pelaksanaan
perencanaan ini. Akhir saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan
kontribusi di dalam penyusunan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang
membutuhkan.
Palangka Raya, 04 Februari 2024
KONSULTAN PERENCANA
KHRISNA BAYU PRASIDHA
LAPORAN PERENCANAAN I
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
BBAABB..II.. PPEENNDDAAHHUULLUUAANN
I.1. Umum
Nama Pekerjaan : Perencanaan Pembangunan Shelter Kendaraan
Lokasi Pekerjaan : Kota Palangka Raya
Pemilik Pekerjaan : Kantor Pencarian dan Pertolongan Palangka Raya
Tahun Anggaran : 2024
I.2. Latar Belakang Pekerjaan
Peran penting SAR dalam aspek kehidupan masyarakat terutama dalam hal kegiatan
pencarian dan penyelamatan menjadikan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas)
sebagai perangkat starategis yang selalu siaga dan tersedia di seluruh wilayah Indonesia. Badan
Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) merupakan perangkat negara yang disiapkan untuk
mengantisipasi segala bentuk keadaan dan situasi yang urgensi, berbahaya, darurat berikut
penanganannya.
Mengingat peran dan tugas penting Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas)
maka perlu adanya kesiapan dan kesiagaan semua perangkat pendukunnya. Kesiapan perangkat
tersebut tidak hanya dalam aspek personil dan anggota namun juga ditunjang oleh sarana dan
prasarana perlengkapan dan kelengkapan yang merupakan penunjang utama dalam kegiatan
operasional SAR serta sebaran pos-pos SAR yang menjangkau seluruh daerah operasional.
Dalam rangka meningkatkan sarana dan prasarana khususnya sebagai penunjang kegiatan
operasional khususnya dalam lingkup lingkungan Kantor Pencarian dan Pertolongan ( KPP )
Palangka Raya, maka pada tahun anggaran 2024 ini Kantor Pencarian dan Pertolongan Palangka
Raya bermaksud untuk melaksanakan pekerjaan fisik, dengan demikian Perencanaan RAB dan
Gambar yang baik sangat dibutuhkan dalam mempersiapkan Kegiatan Pembangunan Fisik tersebut
sehingga Kantor Pencarian dan Pertolongan Palangka Raya melaksanakan Kegiatan Pekerjaan
Perencanaan Pembangunan Shelter Kendaraan.
I.3. Maksud dan Tujuan
a) Laporan Perencanaan ini merupakan petunjuk bagi pelaksanaan pekerjaan yang memuat masukan,
azas, kriteria, keluaran dan proses yang harus dipenuhi dan diperhatikan serta diintegrasikan ke
dalam pelaksanaan tugas pekerjaan.
b) Dengan laporan ini diharapkan pelaksanaan nantinya dapat memiliki tanggung jawab dengan baik
untuk menghasilkan keluaran yang memadai sesuai perencanaan.
I.4. Sasaran Kegiatan
Kegiatan yang dilaksanakan adalah Perencanaan Shelter Kendaraan Kantor Pencarian dan Pertolongan
Palangka Raya, agar tersedianya perencanaan teknis yang baik (efisien, efektif, dan dapat
dipertanggungjawabkan), baik secara administrasi maupun teknis, sebagai acuan saat Pelaksanaan
Pembangunan Shelter Kendaraan dimana hasil dari produk perencanaannya sesuai dengan kaidah,
norma serta tata laku peraturan yang berlaku.
LAPORAN PERENCANAAN 1
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
I.5. Lokasi Kegiatan
Lokasi kegiatan perencanaan ini berada di area Kantor Pencarian dan Pertolongan, alamat Jl. Adonis
Samad Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah.
I.6. Studi terdahulu
Referensi dari studi terdahulu yang berkaitan dengan pekerjaan, sebagai informasi kepada penyedia jasa
terkait pelaksanaan pekerjaan jasa konsultansi ini ( bila ada, akan menjadi bagian pelengkap penyusunan
perencanaan).
I.7. Data Penunjang
1. Data Dasar :
A. Undang-Undang No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.
B. Undang-Undang No.2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi.
C. Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-
Undang No.28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.
D. Peraturan Presiden No. 73 tahun 2011 tentang Pembangunan Bangunan Gedung
Negara
E. Peraturan Presiden no. 12 th, 2021 tentang perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 16
Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
2. Standar Teknis :
A. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor : 22/PRT/M/2018
Pedoman Teknis Bangunan Gedung Negara.
B. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor: 14/PRT/M/2017
tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung
C. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor: 22/PRT/M/2018
tentang Pembangunan Bangunan Gedung Negara.
D. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor: 26/PRT/M/2008
tanggal 30 Desember 2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran
Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.
E. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 10 th. 2021 tentang
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi.
F. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No.2 PRT/M/2015 tentang
Bangunan Gedung Hijau.
LAPORAN PERENCANAAN 2
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
G. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No.11/PRT/M/2014
tentang Pengelolaan Air Hujan pada Bangunan Gedung dan Persilnya.
H. Permenpupr no. 1 th. 2022 tentang Pedoman Penyusunan Perkiraan Biaya Pekerjaan
Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
I. Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 2019 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Palangka Raya
J. Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2017 tentang Bangunan Gedung Kota Palangka Raya .
K. Norma Teknis yang Berlaku (SNI, SKSNI, SKBI, dll),
I.8. Lingkup Kegiatan
Penyedia jasa perencanaan berfungsi melaksanakan pengadaan dokumen perencanaan, dokumen
lelang, dokumen untuk pelaksanaan konstruksi, memberikan penjelasan pekerjaan pada waktu
pelelangan, dan memberikan penjelasan serta saran penyelesaian terhadap persoalan perencanaan yang
timbul selama tahap konstruksi. Penyedia jasa perencanaan konstruksi mulai bertugas sejak ditetapkan
berdasarkan SPMK mulai dari tahap perencanaan sampai dengan serah terima pertama pekerjaan oleh
penyedia jasa pelaksanaan konstruksi. Kegiatan perencanaan teknis terdiri atas:
A. Persiapan perencanaan seperti mengumpulkan data dan informasi lapangan.
B. Penyusunan Perencanaan seperti rencana tapak, pra–rencana bangunan termasuk program dan
konsep ruang, perkiraan biaya.
C. Penyusunan Pengembangan Rencana, antara lain membuat :
1. Rencana arsitektur, beserta konsep dan visualisasi yang mudah dimengerti oleh
pemberi tugas.
2. Rencana Struktur, yang mudah dimengerti oleh pemberi tugas.
3. Rencana utilitas dan tata hijau/landscape, yang mudah dimengerti oleh pemberi tugas.
4. Penyusunan Rencana Detail, antara lain :
Detail Engenering Desain (DED)
Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)
Rincian volume pelaksanaan pekerjaan, Rencana Anggaran Biaya
Perkerjaan Konstruksi (RAB)
Laporan – laporan perencanaan
D. Mengadakan persiapan pemilihan penyedia jasa, seperti membantu Pejabat Pembuat
Komitmen (PPK) di dalam menyusun Dokumen Persiapan Pengadaan dan membantu
Pokja Pemilihan atau Pejabat Pengadaan menyusun program dan pelaksanaan pelelangan.
E. Membuat program perencanaan dan perancangan yang merupakan batasan sasaran atau
tujuan pembangunan dan ketentuan atau persyaratan pembangunan hasil analisis data dan
informasi dari pengguna jasa maupun pihak lain. Program perencanaan perancangan berupa
laporan yang mencakup:
1. Program rencana kerja, menjelaskan rencana penanganan pekerjaan perencanaan
perancangan.
LAPORAN PERENCANAAN 3
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
2. Program ruang, menjelaskan susunan kebutuhan, besaran dan jenis ruang serta analisa
hubungan fungsi ruang.
F. Membuat gagasan dan interpretasi terhadap program perencanaan dan perancangan sebagai
landasan perencanaan dan perancangan diwujudkan dalam uraian tertulis, diagram-diagram
dan/atau gambar.
G. Penyusunan pendahuluan meliputi :
1. Membuat gambar rencana massa bangunan gedung yang menunjukan posisi massa
bangunan di dalam tapak dan terhadap lingkungan sekitar berikut kontur tanah.
2. Membuat gambar Rencana Tapak yang menunjukan hubungan denah antar
bangunan dan Tata Ruang Luar atau Penghijauan di dalam kawasan tapak.
3. Membuat gambar denah yang menggambarkan susunan tata ruang dan hubungan
antar ruang dalam bangunan pada setiap lantai dan menerangkan peil atau
ketinggian lantai.
4. Membuat gambar tampak bangunan yang menunjukan pandangan ke empat sisi
atau arah bangunan.
5. Membuat gambar potongan bangunan secara melintang dan memanjang untuk
menunjukan secara garis besar penampang dan sistem struktur dan utilitas
bangunan.
6. Membuat gambar visualisasi tiga dimensi dalam bentuk gambar.
7. Membuat gambar tersebut di atas dalam skala 1:500 (satu banding lima ratus),
1:200 (satu banding dua ratus), 1:100 (satu banding seratus) dan atau yang
memadai beserta ukuran untuk kejelasan informasi yang ingin dicapai.
8. Membuat laporan teknis dalam bentuk uraian dan gambar tentang perkiraan luas
lantai, informasi penggunaan bahan atau material, pemilihan sistem struktur
bangunan, pemilihan sistem utilitas bangunan, pemilihan konsep tata lingkungan
serta perkiraan biaya dan waktu konstruksi.
H. Penyusunan pengembangan rancangan meliputi :
1. Membuat pengembangan arsitektur bangunan gedung berupa gambar rencana
arsitektur yang menunjukan hubungan antara lantai bangunan dan tata ruang luar
terhadap garis sempadan bangunan.
2. Membuat denah yang menunjukan lantai-lantai dalam bangunan, susunan tata
ruang dalam, koordinat bangunan, peil lantai, dan ukuran-ukuran elemen bangunan
serta jenis bahan yang digunakan.
3. Membuat tampak bangunan, yang menujukan pandangan ke empat arah bangunan
dan bahan bangunan yang digunakan secara jelas beserta uraian konsep dan
visualisasi desain dua dimensi dan desain tiga dimensi bila diperlukan.
4. Membuat pengembangan sistem struktur, berupa gambar potongan bangunan,
secara melintang dan memanjang yang menjelaskan sistem struktur, ukuran dan
peil elemen bangunan secara menyeluruh beserta uraian konsep dan
perhitungannya.
5. Membuat pengembangan sistem mekanikal elektrikal, berupa gambar detail
mekanikal elektrikal, beserta uraian konsep dan perhitungannya.
6. Membuat gambar tersebut di atas dalam skala 1:500 (satu banding lima ratus),
1:200 (satu banding dua ratus), 1:100 (satu banding seratus), 1:50 (satu banding
lima puluh) dan/atau yang memadai beserta ukuran untuk kejelasan informasi yang
ingin dicapai.
7. Membuat garis besar spesifikasi teknis (outline specifications);
LAPORAN PERENCANAAN 4
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
8. Menyusun perkiraan biaya konstruksi.
I.9. Keluaran
A. Pengumpulan Produk
i. Hardcopy - Laporan Perencanaan, ukuran A4 sebanyak 3 (Tiga) Eks.
ii. Hardcopy - Dokumen Gambar Rencana, ukuran kertas A3 sebanyak 3 (Tiga) Eks.
iii. Hardcopy - Dokumen Bill of Quantity (BoQ), ukuran kertas A4 sebanyak 3 (Tiga) Eks.
iv. Hardcopy - Dokumen Spesifikasi Teknis, ukuran kertas A4 sebanyak 3 (Tiga) Eks.
B. Tahap Pelelangan dan Pasca Pelaksanaan Perencanaan
i. Dokumen tambahan hasil penjelasan pekerjaan
ii. Membantu menyusun dokumen pelelangan dan membantu Menyusun program dan pelaksanaan
pelelangan.
iii. Membantu menyusun Berita Acara Penjelasan Pekerjaan, membantu dalam melaksanakan
evaluasi penawaran, menyusun kembali dokumen pelelangan, dan melaksanakan tugas-tugas
yang sama apabila terjadi lelang ulang.
iv. Melakukan pengawasan berkala dan menyusun laporan akhir jika ada perubahan selama
pelaksanaan.
I.10. Lingkup Kewenangan Penyedia Jasa
a) Membuat desain perencanaan dengan aturan dan standar teknis sebagai bentuk pengembangan
sumber daya manusia;
b) Mendapat informasi dan konsultansi teknis dari pengguna jasa;
c) Menerima pembayaran;
I.11. Jangka Waktu Penyelesaian Pekerjaan
Jangka waktu pelaksanaan kegiatan perencanaan ini selama 3 (Tiga) Hari Kalender.
LAPORAN PERENCANAAN 5
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
BBAABB..IIII.. RROONNAA AAWWAALL LLOOKKAASSII PPEERREENNCCAANNAAAANN
II.1. Sekilas Tentang Kantor Pencarian dan Pertolongan
Kantor Pencarian dan pertolongan (BASARNAS) memiliki posisi strategis karena berdiri di
Palangka Raya yang merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Tengah dengan luas satu setengah kali
pulau Jawa. Sebagai lembaga yang bertanggung jawab untuk mengantisipasi segala bentuk keadaaan
dan situasi yang urgensi, berbahaya darurat berikut penangannannya.
Mengingat peran dan tugas penting Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) maka
perlu adanya kesiapan dan kesiagaan segala perangkat pendukungnya. Kesiapan tersebut tidak hanya
dari aspek personil anggota itu sendiri, tetapi juga di tunjang oleh sarana dan prasarana yang memadai
sebagai penunjang utama dalam kegiatan operasional SAR serta sebaran pos-pos SAR yang menjangkau
seluruh daerah operasional.
BASARNAS dalam melaksanakan tugas dan kewajiban sebagaimana dimaksud di atas, memiliki
visi dan misi antara lain:
VISI BASARNAS
Terwujudnya pencarian dan pertolongan yang andal dan efektif dalam mendukung pencapaian visi dan
misi presiden dan wakil presiden: “indonesia yang maju, berdaulat, mandiri dan berkepribadian
berlandaskan gotong-royong".
MISI BASARNAS
1. Menyelenggarakan operasi pencarian dan pertolongan yang efektif, terintegrasi dan berstandar
internasional dalam rangka memberikan rasa aman bagi seluruh warga dalam bertransportasi
maupun dalam menghadapi kejadian yang membahayakan manusia.
2. Menguatkan sistem penyelenggaraan pencarian dan pertolongan melalui pemenuhan kebutuhan
sumber daya manusia, sarana dan prasarana serta sistem komunikasi, pengintegrasian seluruh
potensi pencarian dan pertolongan, serta penguatan kerangka regulasi dan kelembagaan.
Maka dari itu, dalam rangka meningkatkan sarana dan prasarana khuusnya sebagai penunjang
kegiatan operasional khusunya dalam lingkup kantor, maka ada tahun anggaran 2024 ini Kantor
Pencarian dan Pertolongan Palangka Raya bermaksud bermaksud untuk melaksanakan pekerjaan fisik,
dengan demikian Perencanaan RAB dan Gambar yang baik sangat dibutuhkan dalam mempersiapkan
Kegiatan Pembangunan Fisik tersebut sehingga Kantor Pencarian dan Pertolongan Palangka Raya
melaksanakan Kegiatan Pekerjaan perencanaan Pembangunan Shelter Kendaraan.
II.2. Lokasi Perencanaan Pembangunan Shelter kendaraan
Secara administratif, lokasi perencanaan berada di daerah jalan Adonis Samad Palangka Raya. Tepatnya
berada pada 2°15”11” Lintang Selatan, dan 113°56'6" Bujur Timur.
LAPORAN PERENCANAAN 6
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
Gambar 2.1 Lokasi Perencanaan Pembangunan Shelter
Kendaraan
II.3. Kondisi Awal Perencanaan
Gambaran Umum keadaan eksisting adalah sebagai berikut :
Rencana Shelter Mobil
Ukuran (8x5) meter
Rencana Shelter Motor Rencana Shelter Motor
Ukuran (9x2) meter Ukuran (9x2) meter
LAPORAN PERENCANAAN 7
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
BBAABB..IIIIII.. PPEENNDDEEKKAATTAANN MMAASSAALLAAHH DDAANN MMEETTOODDOOLLOOGGII
Pada bagian ini, konsultan akan memaparkan konsep pendekatan terhadap pekerjaaan yang akan
dilakukan, berupa pendekatan terhadap lingkup pekerjaan yang akan menjadi dasar perencanaan,
dengan tidak menyimpang dari ketentuan yang ada pada KAK, dan dijabarkan dalam suatu
metodologi kerja yang akan menjadi panduan dalam pelaksanaan pekerjaan ini.
III.1. Inovasi
III.1.1 Dasar Pendekatan
Metode pendekatan ditujukan sebagai acuan dalam penyusunan Perencanaan Shelter Kendaraan
Dengan metode ini diharapkan mencapai hasil yang optimal dalam memenuhi fungsi, persyaratan
secara keseluruhan. Dasar-dasar pendekatan meliputi pendekatan fungsional. Dasar pendekatan ini
bertumpu pada fungsi bangunan.
III.1.2 Merencanakan Bangunan Berdasarkan Aspek Utama
Langkah selanjutnya setelah memahami berbagai aspek bangunan adalah menggunakannya pada
bangunan. Proses penerapan ini berbentuk analisa pada tiap-tiap bagian bangunan yang dipikirkan
terhadap aspek lain. Hasil pembahasan berupa solusi dan alternatifnya disebut sebagai konsep dasar
perancangan. Proses pencapaian ide, gagasan dan konsep-konsep bangunan itu pada dasarnya adalah
rumit dan berbelit, karena permasalahan satu aspek pada satu bentukan akan mempengaruhi aspek
dan bentukan lain pada bangunan
III.2. Metodologi
Tahapan Survey Pendahuluan
Konsultan akan melakukan survey pendahuluan (Reconnaissance Survey) untuk
mengumpulkan data untuk analisa kemungkinan pelaksanaan suatu pembangunan
dan untuk menyusun program untuk survey lanjutan jika dibutuhkan. Pada survey
pendahuluan ini hanya dilakukan pengamatan dengan mata dan pengumpulan data
secara interview kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Sehingga pada survey
pendahuluan ini belum menggunakan peralatan survey dan test sehingga data yang
diperoleh harus diverifikasi lebih lanjut. Pada survey pendahuluan ini dilakukan
pengumpulan data mengenai:
Keadaan eksisting (Awal perencanaan)
Keadaan kondisi bangunan dan material-material pendukung
Keadaan fungsi bangunan-bangunan yang akan dibangun
Alur jalan kendaraan kantor
Dan data-data pendukung lainnya
Konsultan akan menganalisa data yang diperoleh dari survey pendahuluan ini, lalu memberikan laporan
kepada Pemberi Tugas.
Tahapan Survey Lanjutan
Gambar 3.1
Konsultan melakukan penelitian yang lebih mendalam untuk
Tahap Survey Pendahuluan
mendapatkan data antara lain sebagai berikut:
Ketersediaan lahan
LAPORAN PERENCANAAN 8
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
Kebutuhan tata sirkulasi
Kondisi artistik estetika bangunan
Berdasarkan survey pendahuluan, Konsultan akan menyusun program dan spesifikasi untuk penelitian
lanjutan yang lebih spesifik dan lebih mendalam untuk mendapatkan data-data yang dibutuhkan untuk
tahapan perencanaan. Konsultan akan menganalisa seluruh laporan survey/test dan akan memberikan
rangkuman laporan yang menyeluruh kepada Pemberi Tugas.
Tahapan Desain
Konsultan melakukan desain sipil yang terpadu dan menyeluruh. Tahapan desain ini disesuikan dengan
standar A.I.A, 1994. Desain dilakukan sesuai dengan peraturan-peraturan teknis yang berlaku di
Indonesia/Internasional dan dengan memperhatikan kondisi lokasi proyek berdasarkan data-data survey
yang telah dilakukan sebelumnya sehingga faktor kekuatan dan keamanan sangat konsultan perhatikan.
Disamping itu konsultan tetap mempertimbangkan faktor lain dalam perencanaan, misalnya: faktor
estetika, faktor biaya, faktor ketersediaan waktu pelaksanaan, serta faktor kemudahan pelaksanaan.
Tahapan Tender
Konsultan mempersiapkan seluruh dokumen tender yang dibutuhkan, antara lain: gambar tender,
spesifikasi umum dan spesifikasi teknik/khusus, Bill of Item dan Bill of Quantity.
III.2.1 Lingkup Pekerjaan Desain
Konsultan menjabarkan Lingkup Pekerjaan Desain pada pekerjaan ini dalam gambar sebagai berikut:
Gambar 3.2 Lingkup Pekerjaan Desain
Berdasarkan diagram tersebut, Konsultan menyusun tahapan pelaksanaan desain secara detail.
III.2.2 Tahapan Desain
Pedoman Tahapan Desain yang selalu menjadi acuan Konsultan dalam bekerja adalah Tahap Proses
Desain dari A.I.A, 1994 yang kami jabarkan seperti diagram di bawah ini :
LAPORAN PERENCANAAN 9
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
Gambar 3.3 Tahap Desain
a. Konsepsi desain/desain skematik/Design Concept
* KEGIATAN
* KELUARAN
1. Mengumpulkan Data Lapangan
2. Mengukur Topografi
1. Laporan Konsepsi Desain
3. Menyelidiki Tanah (Test Lab/lap)
- Hasil survey Lap
4. Menginterprestasi KAK/TOR
- Konsep desain
5. Menyusun Renc. Kerja
- Gambar konsep/gagasan
6. Melakukan konsultasi ke Pemda
- Blok plan
(peraturan, perijinan, dll)
- Perspektif
7. Melakukan Analisa Desain
2. Laporan Topo & Penyelidikan Tanah
8. Menyusun Konsep Desain
(Draft)
9. Membuat gambar/sketsa gagasan
10. Menyusun Laporan Konsepsi
3. Gambar/photo image
11. Contoh/image suasana
4. 3D Animasi Awal
12. 3D Modelling
5. Laporan rapat koordinasi
13. Rapat koordinasi
6. Laporan studi literatur/banding
14. Koordinasi internal dalam rangka
workshop pemahaman konsep-
konsep
15. Studi Literatur/Banding
16. Gambar untuk FS
Gambar 3.4 Konsep Desain / Desain Skematik/ Desain Concept
LAPORAN PERENCANAAN 10
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
b. Pra Desain / Desain Prelim / Preliminary Design
Gambar 3.5 Pra Desain / Desain Prelim / Preliminary Design
c. Pengembangan Desain/ Development Design / DD
Gambar 3.6 Pengembangan Desain / Development Design / DD
LAPORAN PERENCANAAN 11
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
d. Detail Egineering Design / DED / Detail Desain
Gambar 3.7 Detail Egineering Design / DED / Detail Desain
Demikian metodologi ini disusun dengn memperlihatkan secara garis besar dalam secara global
penyusunan metodologi pelaksanaan perencanaan. Dimana metodologi ini akan disesuaikan dengan
kebutuhan bangunan yang akan direncanakan, sesuai dengan fungsinya. Kegiatan metodologi ini tentu
disesuaikan dengan KAK yang tersedia, juga dikaitkan dengan realitas keadaan pelaksanaan
Perencanaan Pembangunan Shelter Kendaraann berkaitan dengan preferensi yang diinginkan pihak
Kantor Pencarian dan Pertolongan ( BASARNAS).
LAPORAN PERENCANAAN 12
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
BBAABB..IIVV.. RREENNCCAANNAA KKEERRJJAA
IV.1. Pola Kerja
Dalam pelaksanaan sebuah kegiatan, baik besar maupun kecil, selalu diinginkan hasil dengan kualitas
yang baik, yaitu:
1. Memenuhi kualitas yang diinginkan
2. Selesai tepat pada waktunya
3. Biaya yang serendah-rendahnya
4. Tercapainya tujuan-tujuan yang diharapkan
Adapun salah satu cara untuk mendapatkan hasil seperti tersebut di atas adalah dengan sistem kendali
mutu secara total (Total Quality Control) terhadap pelaksanaan pekerjaan. Pengendalian mutu, kami
definisikan sebagai upaya pengawasan / pengendalian dan tindak turun tangan terhadap pelaksanaan
pekerjaan perencanaan agar memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan di dalam Dokumen
Kontrak.
Terdapat tiga jenis pengendalian yang harus dilakukan, yaitu :
pengendalian mutu bahan dasar (seperti : data lapangan/survey, penentuan literature, konsep
awal, dan lain-lain)
pengendalian mutu bahan olahan (seperti : draft gambar kerja, RAB, RKS, dan lain-lain)
pengendalian mutu hasil pekerjaan / produk
Hal ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. PLAN : Perencanaan yang baik tentang pelaksanaan pekerjaan, human resources dan
metode kerja yang akan diterapkan.
2. DO : Pelaksanaan pekerjaan yang terperinci dan sesuai dengan persyaratan teknis
yang telah direncanakan.
3. CHECK : Pemeriksaan hasil yang didapat. Apakah sesuai dengan yang direncanakan?
Apakah hasil yang didapat sesuai dengan yang diharapkan?
Gambar 4.1. Konsep Pengendalian Kualitas Berdasarkan Siklus P-D-C-A
LAPORAN PERENCANAAN 13
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
Skema tersebut dapat dijabarkan dalam suatu siklus di bawah ini, dimana didapati bahwa dalam setiap
proses pekerjaan akan selalu diperiksa dan dikoreksi, diulang/diperbaiki kembali sampai didapatkan
hasil akhir berupa sebuah pekerjaan yang optimal, bermutu dan berkualitas tinggi.
Gambar 4.2 Konsep Pengendalian Kualitas Berdasarkan Siklus P-D-C-A
Berdasarkan hal tersebut diataslah maka kami menyusun pola kerja berikut ini dengan harapan dapat
memenuhi semua kriteria dan spesifikasi yang diharapkan oleh semua pihak.
IV.2. Program Kerja
Setelah kami membahas pendekatan-pendekatan yang dilakukan terhadap pekerjaan yang akan
dilaksanakan, pada bagian ini akan diuraikan metode kerja dalam melaksanakan pekerjaan perencanaan
ini, yaitu:
1. Menyusun Program Pelaksanaan pekerjaan perencanaan dan alokasi tenaga.
2. Persiapan perencanaan, seperti mengumpulkan data kondisi/kehandalan bangunan dan
informasi lapangan secara teliti terutama dalam kaitannya terhadap titik duga (peil) bangunan
dan penataan tanah/ruang, membuat interpretasi secara garis besar terhadap KAK.
3. Penyusunan pra rencana / pra rancangan, antara lain membuat :
Gambar tampak yang menunjukan pandangan ke empat sisi atau arah bangunan.
LAPORAN PERENCANAAN 14
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
Gambar potongan bangunan secara melintang dan memanjang untuk menunjukan secara
garis besar penampang, sistem struktur dan utilitas bangunan.
Membuat gambar tersebut di atas dalam skala 1:500 (satu banding lima ratus), 1:200 (satu
banding dua ratus), 1:100 (satu banding seratus) dan atau ukuran skala yang memadai
beserta ukuran untuk kejelasan informasi yang ingin dicapai.
Membuat laporan teknis dalam bentuk uraian dan gambar tentang penggunaan bahan atau
material, dan draft perkiraan biaya pembangunan.
4. Penyusunan pengembangan rencana, antara lain membuat:
a. Pengembangan dari pra rancangan
b. Rencana Struktur, beserta uraian konsep dan perhitungannya.
c. Perkiraan biaya.
5. Penyusunan rencana detail, antara lain membuat:
a. Gambar – gambar detail rencana yang telah disetujui.
b. Rencana Kerja dan Syarat – Syarat (RKS).
c. Rincian volume pelaksanaan pekerjaan dilampiri uraian perhitungannya, rencana anggaran
biaya pekerjaan konstruksi.
d. Jadwal/schedule pelaksanaan konstruksi fisik.
e. Laporan akhir perencanaan.
Berdasarkan lingkup kegiatan perencanaan, dibuat diagram/flow chart yang merupakan runtutan
pekerjaan perencanaan, dimana diagram ini juga akan menjadi panduan dalam pelaksanaan
pekerjaaan ini. Diagram ini terbagi menjadi 5 tahapan, yang menjabarkan tahapan-tahapan sebagai
berikut:
I) Tahapan Persiapan
Adalah tahap mengatur pengorganisasian team kerja, baik konsep, jumlah dan kualifikasi,
metoda, maupun tanggung jawab masing-masing personel dalam pelaksanaan pekerjaan ini.
Konsultan juga akan mulai mempersiapkan alat-alat pendukung yang akan dibutuhkan dalam
penyelesaian proses pekerjaan. Diskusi awal mengenai pekerjaan dan rencana kerja dengan
pengguna jasa juga akan dilakukan. Metode Tahapan Persiapan ini diwujudkan dalam diagram
berikut ini :
LAPORAN PERENCANAAN 15
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
Gambar 4.3 Diagram Tahap I: Tahapan Persiapan
Pada tahap ini, rincian cakupan pekerjaan adalah sebagai berikut:
a. Mobilisasi dan Persiapan Kantor
Adalah tahap mengatur pengorganisasian team kerja, baik konsep, jumlah dan kualifikasi,
metoda, maupun tanggung jawab masing-masing personel dalam pelaksanaan pekerjaan
ini. Juga akan mulai mempersiapkan peralatan kantor, dan alat-alat pendukung yang akan
dibutuhkan dalam penyelesaian proses pekerjaan. Tahap ini juga termasuk:
1) Pengumpulan literatur dan data proyek
Semua data yang dibutuhkan, baik literatur maupun peraturan yang berlaku, dan juga
semua data-data yang berkaitan dengan pekerjaan.
2) Pendataan
Semua data yang didapatkan dikumpulkan dan disusun sehingga memudahkan untuk
pelaksanaan tahap berikutnya.
b. Rapat Koodinasi Internal
Adalah tahap dimana seluruh personil yang terlibat, mulai dari Team Leader, Tenaga Ahli,
Assisten, dan Tenaga Pendukung. Di sini, seluruh tim melakukan rapat internal untuk
membahas program dan rencana kerja yang akan dilakukan, mapping personil, sistematika
pelaksanaan dan pelaporan, sistem koordinasi dengan pengguna jasa, dan lain sebagainya.
c. Rencana Kerja Rinci
Adalah hasil dari tahap sebelumnya, yang merupakan risalah rapat koordinasi, yang akan
menjadi acuan dasar dalam pelaksanaan pekerjaan nantinya.
II) Tahap Survey dan Pengumpulan Data
Tahapan survey ini meliputi persiapan survey, seperti persiapan alat alokasi tenaga, pengurusan
ijin-ijin pendahuluan, sampai pada pelaksanaan survey yang meliputi survey fisik dan survey
non fisik. Data survey ini kemudian disusun untuk memudahkan dalam pelaksanaan tahap
LAPORAN PERENCANAAN 16
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
berikutnya pada analisa data. Tahap Survey dan Pengumpulan Data ini disusun dalam diagram
berikut ini:
Pada tahap ini, rincian cakupan pekerjaan adalah sebagai berikut:
1. Survey Non Fisik
User Demand
Tentu saja keinginan dari user juga akan disurvey, baik mengenai kebutuhan ruang,
maupun rencana perkembangan dari bangunan ini. User-user terkait akan
diinterview untuk mendapatkan data pada bagian ini.
Literatur
Kelengkapan literature, seperti ketentuan hukum, standarisasi bangunan, ruangan,
maupun ketentuan khusus lainnya yang terkait dengan perencanaan bangunan ini
akan dicari dan kumpulkan, baik melalui media buku maupun fasilitas internet,
sebagai referensi dalam pekerjaan perencanaan ini.
Administrasi Proyek
Kelengkapan data administrasi proyek, seperti nama kegiatan, pekerjaan, dan lain-
lainnya, dikumpulkan untuk dapat melengkapi produk perencanaan kami.
2. Survey Fisik
Pengukuran.
Pengukuran dilakukan untuk mendapatkan data-data yang lebih spesifik. Seperti
panjang, lebar, dan tinggi item-item bangunan akan direhabilitasi. Juga melakukan
survey terhadap kondisi material-material keseluruhan yang ada disekitar
bangunannya.
III) Tahap Konsep Rencana Teknis dan Penyusunan Pra Rencana Teknis
Adalah tahap dimana perencana menentukan konsep dasar perencanaan dan pra rencana
teknisnya. Tahap ini akan menghasilkan Laporan Pendahuluan, yang kemudian dipresentasikan
kepada pengguna jasa untuk mendapatkan persetujuan.
Gambar 4.4 Diagram Tahap III:
LAPORAN PERENCANAAN 17
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
Tahapan Konsep Rencana Teknis dan Penyusunan Pra Rencana Teknis
Pada tahap ini, rincian cakupan pekerjaan adalah sebagai berikut:
a. Penentuan Konsep Dasar Perancangan
Yaitu konsep kerja perencanaan yang didapatkan melalui analisa dan kesimpulan pada hasil
pendataan pada Tahap 2, dimana konsep tersebut dituangkan dalam:
1. Penyusunan konsep-konsep
Pada bagian ini, akan disusun konsep berdasarkan hasil olah data dari tahap survey
fisik maupun non fisik, beserta studi litarture yang telah didapatkan. Konsep ini berupa
konsep desain, konsep rencana teknis, konsep skematik, maupun konsep terkait
rencana perancangan lainnya.
2. Perancangan Gambar Usulan Rencana
Pada bagian ini, konsep akan diterapkan dalam sebuah gambar rencana, berupa gambar
site existing dan gambar rencana tampak perencanaan, yang juga dapat disertai dengan
Gambar 3 dimensi sebagai tambahan untuk memudahkan pemahaman bentuk dari
rencana tersebut. Gambar ini dibuat pada Software Komputer “Autocad” untuk
gambar dua mata.
3. Estimasi Biaya
Pada bagian ini akan melakukan perkiraan biaya fisik dari bangunan yang
direncanakan, dengan perhitungan analisis berdasarkan rencana tampak yang dibuat.
Akan digunakan Software Komputer “Microsoft Office Excel” untuk bagian ini.
Garis besar lingkup kegiatan ini adalah sebagai berikut:
Penyusunan konsep desain mengembangkan rancangan rancang bangunan
Konsep penyiapan rencana teknis, termasuk konsep organisasi, jumlah dan
kualifikasi tim perencana, metode pelaksanaan, dan tanggung jawab waktu
pelaksanaan, Konsep skematik rencana teknis, termasuk program ruang, organisasi
hubungan ruang, dan lain-lain, Konsep perkiraan umur teknis bangunan yang
didukung oleh konsep arsitektur, mekanikal elektrikal, utilitas bangunan dan syarat-
syarat teknis material sesuai SNI.
Gambar-gambar rencana ruang dan tat ruang bangunan, Gambar-gambar pra rencana
ruang bangunan, Perkiraan biaya pembangunan, Garis besar rencana kerja dan
syarat-syarat, Gambar perspektif
IV) Tahap Pengembangan Rencana
Tahap ini akan menghasilkan gambar-gambar perencanaan dan perhitungan biaya konstruksi,
dapat dibuat dalam beberapa alternatif untuk dipresentasikan kepada pengguna jasa sehingga
dapat memilih dan menentukan desain perencanaan untuk Tahap V, yaitu tahap Rencana Detail.
LAPORAN PERENCANAAN 18
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
Gambar 4.5 Diagram Tahap IV: Tahapan Penyusunan dan Perumusan Konsep Pra-Rencana
Pada tahap ini, rincian cakupan pekerjaan adalah sebagai berikut:
a. Pembuatan Desain Alternatif
Setelah konsep didapatkan dan gambar/data existing disusun, selanjutnya dibuat desain perencanaan,
yang kemungkinan akan dibuat lebih dari satu desain sebagai alternatif, dimana desain ini akan
berisikan hal-hal berikut:
1. Denah
Berupa gambar Autocad, berisikan denah rencana bangunan yang direncanakan.
2. Tampak
Berupa gambar Autocad, berisikan gambar tampak dari beberapa sisi rencana bangunan yang
direncanakan.
3. Potongan
Berupa gambar Autocad, berisikan gambar potongan-potongan pada bangunan rencana.
4. Draft Rincian Anggaran Biaya (RAB)
Berisikan estimasi rincian biaya fisik bangunan yang direncanakan, dengan uraian analisa
mengikuti stándar analisa dan harga yang berlaku. Draft ini dibuat dalam Microsoft Office Excel.
5. Draft Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
Berisikan draft RKS bangunan yang direncanakan, dengan sistem penulisan mengacu pada
ketentuan penulisan RKS yang berlaku. Draft ini dibuat dalam Software Komputer “Microsoft
Office Word”.
V) Tahap Rencana Detail
Adalah tahap terakhir dari pekerjaan perencanaan, dimulai dari penyusunan produk akhir
perencanaan/ DED, presentasi akhir, sampai pada persiapan dan pelaksanaan aanwijzing dan
aanvoeling.
Pada tahap ini, rincian cakupan pekerjaan adalah sebagai berikut :
a. Finalisasi Rencana Detail
Adalah proses pematangan penyusunan rencana detail yang meliputi:
LAPORAN PERENCANAAN 19
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
Gambar Kerja dari segi arsitektural, yang meliputi:
A. Detail Arsitektur
B. Detail bahan arsitektur bangunan yang digunakan
Gambar kerja dari segi mekanikal elektrikal, yang meliputi:
A. Titik Lampu
B. Dll
Rincian Anggaran Biaya (RAB), yang meliputi:
A. Rekapitulasi Anggaran Biaya
B. Rincian Anggaran Biaya
C. Analisa
D. Daftar Harga Bahan Dan Upah
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS), yang meliputi:
Gambar 4.6 Diagram Sistematika Penyusunan RKS
Sistematika pembuatan dan penulisan masing-masing bagian dari rencana detail di atas sama
seperti pada tahap sebelumnya.
b. Penyusunan Laporan Perencanaan
Penyusunan pengembangan rencana yang telah dikerjakan dan dihasilkan, akan disusun dalam
Laporan Perencanaan, yang memuat hasil keseluruhan dari Tahapan I sampai dengan Tahapan
V.
c. Presentasi Akhir
Perencanaan final yang telah dihasilkan, akan dipresentasikan kepada pengguna jasa untuk
mendapatkan persetujuan atas hasil pekerjaan perencanaan.
VI) Diagram rencana kerja/workplan
LAPORAN PERENCANAAN 20
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
30 HARI KALENDER
Gambar 4.7 Diagram Workplan Perencanaan
LAPORAN PERENCANAAN 21
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
BBAABB..VV.. OORRGGAANNIISSAASSII PPEELLAAKKSSAANNAAAANN
V.1. Umum
Pada dasarnya organisasi kerja yang dibentuk mempunyai tujuan:
1. Mempelajari fungsi tugas masing-masing personil yang ditempatkan dan untuk memudahkan
koordinasi dan komunikasi antara Konsultan sendiri, maupun antara Konsultan dengan Pemberi
Tugas.
2. Membentuk koordinasi dan komunikasi yang baik antara semua personil konsultan perencana yang
terlibat dalam penanganan pekerjaan ini untuk menjamin tercapainya semua persyaratan pekerjaan
yang dimintakan.
3. Mengatur pembagian kerja.
4. Wewenang dan tanggung jawab personil.
5. Kesatuan arah dan kesatuan perintah dalam melaksanakan pekerjaan.
V.2. Organisasi
Organisasi team kerja yang disusun sesuai dengan kriteria pada KAK, meliputi struktur organisasi,
distribusi tugas, komposisi personil dan pola kerja dirancang untuk dapat bekerja dengan efektif.
1. Struktur organisasi.
Penyusunan struktur organisasi yang ramping didasarkan pada pemikiran kecepatan gerak,
pemangkasan jalur birokrasi dan mempermudah koordinasi.
2. Distribusi tugas
Distribusi tugas yang terurai dengan jelas dan terbagi secara proporsional disusun sedemikian
rupa sehingga beban kerja akan terbagi secara merata baik tim ahli maupun tenaga-tenaga
pendukungnya.
3. Komposisi personil
Komposisi personil yang ditempatkan pada struktur organisasi merupakan personil yang
mampu untuk menjalankan tugasnya serta telah terbiasa bekerja secara tim.
4. Pola kerja
Pola kerja disusun berdasarkan struktur organisasi yang terkontrol, sehingga setiap program
kerja dapat terlaksana dengan jelas dan terpantau dengan mudah.
V.3. Strategi Manajemen Organisasi
Keberhasilan team kerja tergantung pada strategi manajemen yang dipakai, dimana untuk pekerjaan ini
dipergunakan:
1. Strategi manajemen komunikasi, dipakai strategi komunikasi terbuka terbatas artinya segala
permasalahan penting didiskusikan lebih dahulu sebelum diambil keputusan.
2. Strategi manajemen organisasi, dipakai sistem terpusat dengan perwakilan sub bidang
pekerjaan artinya dimasing-masing bidang pekerjaan perlu adanya personil-personil ahli yang
sesuai bidangnya, bertugas dan bertanggung jawab pada Ketua Tim/Team Leader.
3. Strategi manajemen keuangan, dipakai sistem terbuka terbatas, artinya administrasi dan
keuangan dapat dipantau dan diketahui setiap waktu oleh anggota tertentu sesuai
wewenangnya dan penyelesaian semua administrasi maupun keuangan bertanggung jawab
kepada Pemimpin Kegiatan dan Direktur Perusahaan.
LAPORAN PERENCANAAN 22
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
V.4. Kordinasi Kerja
Koordinasi kerja dikategorikan dalam koordinasi ekstern dan koordinasi intern, dimana koordinasi
ekstern adalah hubungan konsultan dengan pihak-pihak luar yang berkaitan dengan pelaksanaan
pekerjaan, sedangkan koordinasi kerja intern merupakan koordinasi kerja di dalam struktur organisasi
konsultan.
1. Koordinasi Kerja Intern
Adalah koordinasi antara bagian-bagian dalam perusahaan yang menangani pekerjaan
penyusunan, dimana mempunyai keterkaitan satu sama lain. Hal ini akan memudahkan
pelaksanaan pekerjaan karena antar bagian mengetahui tugasnya masing – masing.
2. Koordinasi Kerja Ekstern
Adalah koordinasi antara konsultan dengan unsur - unsur eksternal yang terlibat dalam proses
pekerjaan ini antara lain pihak pemberi tugas. Koordinasi kerja ini dimaksudkan agar semua
permasalahan yang bersifat teknis maupun administratif dapat segera diatasi, sehingga tidak
mengganggu jalannya pekerjaan. Hal ini disebabkan semua unsur-unsur yang tersebut di atas
masing-masing saling terkait satu sama lain.
V.5. Bagan Alir Mekanisme Kerja
Bagan alir mekanisme kerja team selama pelaksanaan pekerjaan ini adalah sebagai berikut:
PEMBERI TUGAS Kantor
Pencarian dan Pertolongan
(BASARNAS)
KONSULTAN
PERORANGAN
V.6. Jadwal Penugasan Personil Gambar 5.1 Bagan Alir Mekanisme Kerja
Jadwal penugasan personil diperlukan untuk mengakomodir pelaksanaan proses pelaksanaan
perencanaan pekerjaan ini. Dimana, dalam penjadwalan personil memiliki bobot masing-masing tiap
fungsinya.
V.7. Jadwal Peralatan
Jadwal peralatan diperlukan konsultan untuk pelaksanaan proses identifikasi, survey, pengolahan data,
analisa, dan sampai tahap perancangan matang dalam perencanaan ini. Konsultan memerlukan
penjadwalan peralatan sebagai pemenuhan kebutuhan akan perancangan perencanaan dan syarat
adminstratif dalam pengadaan peralatan kerjanya.
V.8. Jadwal Pengumpulan Produk
Jadwal pengumpulan diperlukan konsultan untuk pelaksanaan proses pemenuhan kewajiban dokumen
pelaksanaan kegiatan perencanaan. Produk-produk yang dikumpulkan adalah hasil dari pelaksanaan
pekerjaan sesuai dengan isi laporan produk yang telah dirumuskan dan disesuaikan dengan KAK.
LAPORAN PERENCANAAN 23
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
BBAABB..VVII.. IIMMPPLLEEMMEENNTTAASSII PPEERREENNCCAANNAAAANN
VI.1 Konsep Bangunan
Bangunan adalah sesuatu yang didirikan atau yang dibangun, seperti rumah, gedung, taman
maupun fasilitas publik lainnya, Sedangkan arsitektur menurut KBBI adalah Sesuatu yang dihadirkan
dengan berolah Seni dan Ilmu Merancang serta membuat konstruksi bangunan atau metode dan gaya
rancangan suatu konstruksi bangunan. Bangunan adalah Lingkungan binaan dengan perhatian pada aspek
kuantitatif dan sains, seperti misalnya: taksiran ekonomi dan topografi penalaran ilmiah matematikal,
kehandalan kekuatan konstruksi, keamanan dan keselamatan nyawa penghuni, kenyamanan hayati dan
ragawi, ataupun dayaguna / volume ruang. Sedangkan arsitektur adalah Lingkungan binaan dengan
perhatian pada aspek ‘kualitatif dan seni’ serta humaniora, seperti misal: kesan dan suasana, nilai dan
makna, kejiwaan kebatinan dan adat religiositas dan kesosialan, artistika dan estetika. Bangunan terbebas
dari kemungkinan adanya berbagai penafsiran (tafsir tunggal), sedangkan arsitektur itafsir dalam berbagai
cara, bentuk ataupun corak penafsiran. Jika Bangunan penilaian sangat mutlak yaitu ‘salah’ dan ‘benar’
sedangkan arsitektur menuntut pula adanya penilaian indah dan jelek, maupun baik dan buruk, serta benar
dan keliru.
Bangunan memiliki citra dan tiga arahan yang digunakan dalam penentuan citra bangunan, yaitu:
Memahami arti yang diinginkan dari bangunan dan bentuk-bentuk atau citra yang ada kaitannya
dengan arti itu.
Memahami kepentingan relatif dari arti (meanings) itu yang harus diungkapkan di dalam
bangunan.
Menentukan urut-urutan yang logis dari konstrusi bangunan (dalam pengertian komponen dan
elemen bangunan) yang akan mengembangkan citra (image) visual tersebut dan
menyelesaikannya.
Konsep adalah antitesis dari wawasan-wawasan yang sama sekali belum dianggap tepat. Suatu konsep
harus mengandung kelayakan; yang mungkin menunjang maksud-maksud daru cita-cita pokok suatu
proyek dengan memperhatikan karakteristik-karakterisitik dan keterbatasan-keterbatasan yang khas dari
tiap proyek.
Berikut beberapa faktor yang harus di perhatikan:
Tata Ruang Bangunan
a. Rancangan tata ruang/bangunan agar memperhatikan fungsi sebagai fasilitas pelayanan
Sosial.
b. Bangunan harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota dan/Rencana Tata Bangunan
dan Lingkungan (RTBL) yang bersangkutan.
c. Tata ruang mengikuti Peraturan Tata Ruang Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 2019
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Palangka Raya
Daerah
1) Ditetapkan nilai Koefisien Dasar Bangunan (KDB) maksimal adalah 60%.
2) Ditetapkan nilai Koefisien Lantai Bangunan (KLB) maksimal untuk Pendidikan adalah 2,4.
3) Ditetapkan nilai Koefisien Daerah Hijau (KDH) minimal untuk Pendidikan adalah 20%.
4) Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan Garis Sempadan Pagar (GSP).
LAPORAN PERENCANAAN 24
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
Desain
a. Tata letak ruang pelayanan pada bangunan Pendidikan harus diatur dengan memperhatikan
zona pendidikan sebagai bangunan fasilitas pelayanan pendidikan.
b. kegiatan yang diperbolehkan pada kawasan pendidikan meliputi pembangunan gedung
pendidikan, pembangunan prasarana dan sarana penunjang kawasan pendidikan mulai dari
sekolah dasar, sekolah lanjutan pertama, sekolah lanjutan atas dan pendidikan tinggi dan
penghijauan;
IV.2 Konsep Portal Penahan Momen
Portal penahan momen (moment resisting frame) sebagaimana namanya, dirancang hanya agar
untuk menahan momen. Kemudian dikembangkanlah sistem rangka breising konsentrik dengan
tujuan memperoleh kekakuan yang baik dan memiliki kemampuan menahan gaya lateral. Terdapat
dua jenis sistem rangka breising konsentrik, antara lain
1. Sistem Rangka Breising Konsentrik Biasa Sistem ini didesain agar ketika struktur
mengalami gaya yang berasal dari gaya gempa, struktur memiliki kapasitas dalam
menahan deformasi inelastic yang terbatas.
2. Sistem Rangka Breising Konsentrik Khusus
Sistem ini didesain memiliki daktilitas yang lebih besar daripada sistem rangka breising
konsentrik biasa dan memiliki kekakuan aksial kolom dan kekakuan aksial breising.
Dengan begitu, breising yang didesain mengalami tekan, juga mampu mengalami tekuk
untuk mengantisipasi pergerakan gaya gempa yang bolak-balik.
VI.3. Konsep Atap
Pengertian struktur atap adalah bagian bangunan yang menahan /mengalirkan beban-beban dari
atap. Struktur atap terbagi menjadi rangka atap dan penopang rangka atap. Rangka atap
berfungsi menahan beban dari bahan penutup atap sehingga umumnya berupa susunan balok –
balok (dari kayu/bambu/baja) secara vertikal dan horizontal –kecuali pada struktur atap dak
beton. Berdasarkan posisi inilah maka muncul istilah gording, kasau dan reng. Susunan rangka
atap dapat menghasilkan lekukan pada atap (jurai dalam/luar) dan menciptakan bentuk atap
tertentu. Penompang rangka atap adalah balok kayu yang disusun membentuk segitiga, disebut
dengan istilah kuda-kuda. Kuda-kuda berada dibawah rangka atap, fungsinya untuk menyangga
rangka atap. Sebagai pengaku, bagian atas kuda-kuda disangkutkan pada balok bubungan,
sementara kedua kakinya dihubungkan dengan kolom struktur untuk mengalirakan beban ke
tanah.
LAPORAN PERENCANAAN 25
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
Secara umum dikenal 4 jenis struktur atap yaitu:
1. Struktur dinding (sopi-sopi)
2. Rangka kayu
3. Kuda-kuda dan rangka kayu
4. Struktur baja konvensional, struktur baja ringan.
Diluar itu ada pula struktur dak beton yang biasa digunakan untuk atap datar.
VI.4. Sambungan
Sambungan merupakan bagian yang sangat penting pada perencanaan dengan struktur baja.
Kegagalan struktur secara keseluruhan akan terjadi apabila kegagalan pada sambungan terjadi.
Diperlukan adanya sambungan apabila:
1. Panjang batang tidak cukup
2. Menyalurkan gaya antar bagian, misalnya antara kolom dan balok
3. Diperlukan pelat simpul pada struktur rangka batang sebagai media penyambung
4. Diperlukan untuk membentuk sendi gerber
5. Digunakan untuk membentuk batang tersusun
6. Terdapat perubahan dimensi penampang
Apabila didasarkan pada kemampuan batang-batang sambungan untuk berotasi, sambungan
dibagi menjadi tiga jenis yaitu:
1. Sambungan Sederhana
Sambungan sederhana bekerja untuk memindahkan gaya lintang/geser ke batang lain,
sebagai contoh dari balok ke kolom. Rotasi yang terjadi pada ujung batang relatif besar
karena derajat pengekangan ujung batang kurang dari 20%
terhadap kapasitas pencegahan perubahan sudut. Pada perhitungan, sambungan sederhana
dianggap sebagai tumpuan sendi.
2. Sambungan Kaku
Sudut antara batang yang disambung pada sambungan kaku relatif tidak akan berubah pada
saat diberi beban. Pengekangan rotasi lebih dari 90% terhadap kapasitas pencegahan
perubahan sudut dan dapat dikatakan relatif besar.
3. Sambungan Semi Kaku
Sambungan semi kaku memiliki derajat pengekangan rotasi antara 20% hingga 90%
terhadap kapasitas pencegahan perubahan sudut. Akan tetapi, derajat pengekangan rotasi
ini nilainya tidak mudah ditentukan. Oleh karena itu, metode ini jarang digunakan.
LAPORAN PERENCANAAN 26
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
VI.5. Denah Awal Perencanaan Shelter Kendaraan Model 1
Setelah melalui pelaksanaan survey dan identifikasi lokasi, didapatkan denah situasi eksisting secara
menyeluruh, yang memiliki keterkaitan antar bangunan didalamnya. Berikut adalah denah dari hasil
pengukuran dilapangan :
Gambar 6.1 Denah Rencana Pembangunan Shelter Kendaraan Mobil
Gambar 6.2 Denah Rencana Pembangunan Shelter Kendaraan Motor
LAPORAN PERENCANAAN 27
LAPORAN PERENCANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN SHELTER KENDARAAN
VI.6. Rencana Arsitektur
Shelter kendaraan merupakan wadah atau saranana parkiran kendaraan yang di gunakan oleh
personil dan anggota Kantor Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS) yang di gunakan untuk
memarkirkan kendaraan bermotor (Kendaraan Operasional) yang digunakan untuk menunjang aktivitas
dalam pelayan kantor kepada masyrakat. Berkaitan dengan itu, maka dirasa perlu untuk memberi
visualisasi yang menarik agar dapat mempercantik Kantor Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS). Hal
ini dalam Desain pola kremona rangka baja.
Pola kremona yang sederhana dan kompleks dapat dimanfaatkan untuk menciptakan peningkatan
minat visual dalam suatu bangunan rangka baja. Dan juga sebagai perkuatan pada truktur rangka baja yang
akan di bangun, sehingga tidak hanya menghasilkan bangunan yang indah namun juga menghasilkan
bangunan yang kuat dan kokoh pada struktur.
VI.7. Rencana Penggunaan Material
a. IWF 150
Besi IWF 150 digunakan sebagai tiang kolom pada pembangunan shelter sebagai penunjang
kekokohan bangunan dengan ukuran yang sudah di tentukan pada gambar rencana.
b. Kanal C 100’
Kanal C digunakan sebagai reng pada Pembangunan shelter Kendaraan dengan ukuran yang sudah
di tentukan pada gambar rencana.
c. Penutup Atap Spandek
Penutup atap yang digunakan pada Pembangunan Shelter kendaraan menggunakan Spandek
dengan ukuran yang sudah ditentukan pada gambar rencana.
LAPORAN PERENCANAAN 28