| Administrative Score (SA) | Reason | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| 0028351344001000 | Rp 300,271,650 | 77.25 | 81.8 | - | |
CV Royal Perdana | 0015739931034000 | - | 67 | - | Tidak memenuhi nilai ambang batas salah satu unsur teknis |
| 0029579075048000 | - | - | - | Tidak memenuhi nilai ambang batas unsur | |
| 0955221122603000 | - | - | - | Tidak memenuhi Persyaratan Kualifikasi Pengalaman Minimal | |
| 0023142565061000 | - | - | - | Tidak memenuhi Persyaratan Kualifikasi Pengalaman Minimal | |
PT, Ramadhan Ayyubi Perkasa | 06*3**3****76**0 | - | - | - | Tidak memenuhi nilai ambang batas unsur |
CV Idzdihaarlimabelas | 05*1**3****11**0 | - | - | - | - |
| 0837636984201000 | - | - | - | - | |
| 0030475891211000 | - | - | - | - | |
| 0028271005216000 | - | - | - | - |
URAIAN SINGKAT PEKERJAAN
Lingkup kegiatan dan Tugas Konsultan Perencana dalam merencanakan DED ini terdiri dari kriteria
dibawah ini:
A. LINGKUP PEKERJAAN
1. Survey lokasi untuk memperoleh data-data primer sesuai spesifikasi lintas penyeberangan dan
dermaga, yang di butuhkan dalam melakukan perhitungan preliminary design hingga diperoleh ukuran
kapal dan kapasitas angkut yang sesuai dengan kebutuhan. Lokasi yang menjadi objek survey adalah
pada lintas opersional Speedboat Pemda tersebut.
2. Melakukan perhitungan perancangan kapal yang dilengkapi dengan pembuatan desain kapal yang
lengkap (complete design) dengan mengacu pada modern ship design. Adapun perhitungan pradesain
yang dilakukan meliputi sebagai berikut:
a. Penentuan Koefisien bentuk, Ukuran Utama dan Dispacement kapal.
b. Perhitungan awal berat keseluruhan kapal, berat kapal kosong dan bobot mati kapal beserta
rinciannya.
c. Perhitungan stabilitas awal, yaitu perkiraan perhitungan berat dan titik berat kapal (harga VCG dan
LCG), tinggi Meta Centre Awal (MG0), periode oleng (T).
d. Perhitungan daya angkut terutama penggunaan space (ruangan) dan kapasitas tangki-tangki.
e. Perhitungan awal tenaga mesin dan kecepatan kapal.
Pembuatan desain meliputi perhitungan dan gambar-gambar berikut:
Lambung Kapal dan Sistem (Hull Construction):
a. Rencana Umum (General Arrangement);
b. Rencana Garis (Lines Plan);
c. Potongan Melintang (Midship Section Construction);
d. Konstrusi Profil (Profiles Construction);
e. Bukaan Kulit (Shell Expantion);
f. Desain Konstruksi sekat (Transversal & Longitidinal Bulkheads);
g. Desain Konstruksi Ceruk haluan dan buritan (Fore and After Peak Bulkheads);
h. Desain Konstruksi Bangunan Atas (Superstructure Arrangement);
i. Perhitungan Ballans Daya:
j. Diagram Pipa
- Pipa Bilge
- Pipa duga, pipa isi dan pipa hawa
- Pipa bahan bakar.
k. Diagram Jaringan Listrik
- Diagram Jaringan Penerangan.
- Diagram Jaringan Navigasi.
- Diagram Jaringan Komunikasi
Perfomance :
a. Perhitungan Stabilitas dan Trim :
- Diagram Koefisien (Hull Form Coefficient Curve)
- Diagram Hidrostatik (Hydrostatic Curves);
- Perhitungan Damage Stability dengan Metode Statis.
b. Perhitungan Estimasi Kecepatan Kapal dan Tenaga Mesin Induk;
c. Endurance Range
3. Melakukan analisis kualitas hidrodinamis atau olah gerak kapal dengan teknik pendesainan kapal untuk
mendapatkan stabilitas kapal yang baik.
4. Melakukan analisis safety dalam kaitannya dengan peraturan keselamatan pelayaran dari IMO, dalam
hal ini memenuhi peraturan SOALS;
5. Melakukan pembuatan spesifikasi teknis yang akan menjadi dasar dalam pelaksanaan pembangunan
Speedboat Pemda untuk ukuran kapal;
6. Menentukan volume pekerjaan (bill of quantity) dan Engineer Estimate, Jadual pelaksanaan pekerjaan
(Construction’s Schedule) dan tahapannya (Construction’s Stages) serta bobot pekerjaan hingga akhir
pembangunan, untuk tiap-tiap ukuran tiap-tiap kapal.
B. LINGKUP KERJA KONSULTAN PERENCANA
Secara garis besar lingkup kerja Konsultan perencana yang terdiri atas 2 (dua) pokok yaitu: :
1. Lingkup Kegiatan
Lingkup Kegiatan adalah Pengadaan Speedboat Pemda Kabupaten Bengkalis
2. Lingkup Tugas Konsultan
Secara umum lingkup tugas Konsultan Perencana dicapai melalui beberapa tahapan dan Lingkup tugas
yang harus dilaksanakan Konsultan Perencana meliputi tahapan sebagai berikut:
a. Persiapan atau kegiatan perencana, antara lain sebagia berikut:
- Mengumpulkan data dan informasi lapangan
- Membuat interpretasi KAK secara garis besar
- Konsep, Sketsa, Gagasan perencanaan kapal Pusling Kabupaten Bengkalis
b. Penyusunan Program dan Rencana, antara lain sebagai berikut:
- Membuat rencana dasar rancangan, pra rencana pembangunan, laporan perencanaan. -
Pekiraan Biaya, dan lainnya sebagainya
c. Penyusunan pengembangan rencana, antara lain sebagai berikut:
- Rencana Rancangan beserta uraian konsep dan visualisasi yang mudah dimengerti oleh pemberi
tugas
- Rencana Desain Konstruksi, disertai dengan uraian konseptual, alasan yang rasional dan
perhitungan
- Rencana Mekanikal elektrikal termasuk instalasi mesin utama disertai dengan uraian konsep dan
perhitungan
- Perkiraan total biaya pelaksanaannya, disertai dengan analisis harga satuan terbaru dan analisis
spesifikasi teknisnya.
d. Penyusunan Rencana Detail :
- Membuat Gambar Detail dasar, mulai detail line plan, rencana umum, midship section, profile
construction, bukaan kulit, wiring diagram, instalasi electrical dan machenerry, dan analisa-
analisa perhitungan.
- Menyusun Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)
- Rincian Jenis dan Volume Pelaksanaan Pekerjaan (Bill Of Quantity/BQ)
- Rencana Anggaran Biaya Pekerjaan Pembangunan Speedboat Pemda (Engineering
Estimate EE)
- Analisa Harga Satuan
- Menyusun Laporan Akhir Perencanaan
e. Persiapan Pelelangan Pekerjaan
Membantu PPK dan Panitia Lelang menyusun Dokumen yang meliputi Dokumen Gambar Kerja
(DED), Rencana Kerja dan Syarat-Syarat serta perhitungan biaya (RAB/BQ)
PENDEKATAN DAN METODOLOGI
KONSULTAN PERENCANAAN PENGADAAN SPEED BOAT PEMKAB BENGKALIS
A. Pola Pikir
Pola pikir kegiatan Studi Desain speed boat dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
PP ekerjaan ersiap an
P e n y u
S am
s u n
D I A G R A
P e m b a h a s a n /
D is k u s i/P re s e n ta s i
L a p o ra n
P e n d a h u lu a n
K onsolidasi T im
P enyusunan
M etode dan
P endekatan P engum pulan P elaksanaan D ata & S urvey P ekerjaan Lapangan
P enyiapan
S urvei Lapangan
pai D en gan M in ggu ke 1
a n L a p o ra n P e n d a h u lu a n
M A
S
L I R P
D ata
P rim er
D ata
ekunder
E N D E K A T A N T E K N I S &
-Kondisi kapal MV Silver Sea 2
-Pengukuran Dimensi Utama Kapal
MV Silver sea 2 secara keseluruhan
-Pengukuran gading-gading
melintang dan memanjang kapal MV
Silver Sea 2
-Pengukuran ketebalan Plat Bottom
side shell, Main deck sampai
Navigasion Deck
-Pengukuran bentuk Lambung kapal
untuk mementukan Coefesien2 kapal
MV Silver Sea, (CB, CP, CM dll
Studi Literatur : --M elakukan verifikasi kondisi aktual kapal dengan gam bar kapal sebelum nya -Kajian Teknis Survey
Kondisi Kapal M V . Silver
Sea 2 -Repair List dan
Engineering Estim ate Kapal
M V Silver Sea 2
-U ndang-undang N om or 17 tahun 2008 tentang Pelayaran
-Peraturan Pem erintah N om or
51 tahun 2002 tentang
Perkapalan -Peraturan M enteri
Perhubungan N om or PM 39
Tahun 2017 tentang
Pendaftaran dan Kebangsaan
Kapal.
S am pai den gan M in ggu K e 3
P e n y u s u n a n L a p o ra n A
M E T O D
LA P O R A N
P E N D A H U LU
A N
M etodelogi Kerja, Pem bagian Personil, dan Jadw al kerja
n ta ra
O L O G I G A M B A R S P E E D B O A T
P e m b a h a s
a n /
D is k u s i/P re
S U R V E Y U N T U K
F IN A LIS A S I G A M B A R
L A P O R A N U T A M A ( K E Y
A N T A R A D R A W IN G )
- L a p o ra n
M elaku kan verifikasi P e la k s a n a a n terh ad ap ko n d isi S u rv e y aktu al kap al d en gan - D ra ft G a m b a r gam b ar kap al yan g k e y U ta m a ( telah d ib u at. d ra w in g )
-R e n c a n a S u rv e y
u n tu k fin a lis a s i
g a m b a r u ta m a
-K e s im p u la n d a n
s a ra n
S am pai den gan m in ggu K e 4
L a p
P e m b a h a s a n /
D is k u s i/P re s e n ta s i
la p o ra n A k h ir
L A P O R A N A K H IR
k e y d ra w in g ) s o ftc o p y -G a m b a r u ta m a ( fin a l d a la m b e n tu k
file a u to C A D ;
k e y d ra w in g ) s o ftc o p y - G a m b a r u ta m a ( fin a l d a la m b e n tu k file P D F ; k e y d ra w in g ) h a rd c o p y - G a m b a r u ta m a ( fin a l d a la m b e n tu k file s e b a n y a k 5 ra n g k a p (m in im a l u k u ra n k e rta s A 2 ); d a n - k e y d ra w in g ) G a m b a r u ta m a ( fin a l R e p u b lik In d o n e s ia .
S am pai den gan M in ggu K e 6
o ra n A k h ir
Gambar 1. Pola pikir pekerjaan.
Sedangkan tahapan pelaksanaan pekerjaan agar pekerjaan dapat terlaksanakan
dengan baik adalah sebagai berikut:
a. Kegiatan penelitian dilakukan secara kontraktual.
b. Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui survei kepustakaan, meliputi
dasar-dasar teori, referensi-referensi, serta peraturan perundang-undangan,
yang terkait dan relevan dengan studi ini. sebelumnya.
Ruang lingkup kegiatan pengumpulan data mencakup:
a. Identifikasi tugas dan fungsi Pemda dalam bidang operasional di bidang
pelayaran kenderaan air.
b. Analisis stakeholder
c. Inventarisasi dan identifikasi jumlah dan spesifikasi speed boat dan prasarana
yang dimiliki oleh Pemkab Kabupaten bengkalis, Instansi Pemerintah dan Swasta
lainnya.
d. Analisis kebutuhan tipe dan spesifikasi teknis speed boat dan peralatan untuk
operasional yang dibutuhkan Pemkab Bengkalis sesuai dengan tipe dan klasifikasi
di perairan dan pelabuhan di Bengkalis.
e. Melakukan analisis dan perancangan konstruksi speed boat secara keseluruhan
meliputi: tipe speed boat dan perlengkapan speed boat
f. Melakukan analisis pemilihan tipe speed boat yang sesuai dengan kondisi di
setiap pelabuhan dan Unit Pelaksana Teknis Pemkab Bengkalis.
g. Menyusun spesfikasi teknis (standard) speed boat speed boat, dilihat dari
karakteristik speed boat meliputi: material, kapasitas angkut, dimensi dan
konstruksi speed boat (lambung dan super structure), system dalam speed boat
(mesin, listrik, bahan bakar, air, ventilasi, pompa, navigasi dan komunikasi),
perlengkapan speed boat sesuai dengan klasifikasi speed boat di wilayah perairan
dan pelabuhan.
h. Memilih dan membuat desain tipe speed boat yang sangat dibutuhkan (urgent)
Pemkap Bengkalis dalam meningkatkan opersional kenderaan air dengan output
sebagai berikut:
1. Analisis dan penggambaran desain teknis speed boat (basic design) dan
peralatan dengan rincian terlampirkan sebagaimana ketentuan yang
disyaratkan oleh Biro Klasifikasi dengan menggunakan software kapal.
2. Analisis dan penggambaran desain teknis speed boat (key plan) dengan rincian
terlampirkan sebagaimana ketentuan yang disyaratkan oleh Biro Klasifikasi
3. Analisis dan menyusun rencana anggaran biaya pembangunan dan rencana
kerja pembangunan speed boat (master schedule)
Secara umum, terhadap strategi pencapaian keluaran yang disampaikan pada KAK
tersebut telah sepenuhnya merefleksikan kebutuhan respon atas isu-isu pokok yang
disampaikan pada bagian latar belakang, secara khusus apresiasi dialamatkan pada
lingkup kegiatan standar pelayanan minimum untuk kegiatan desain speed boat di
perairan Bengkalis.
Keluaran yang diharapkan dari Studi Terkait Desain Speed boat beserta lampirannya
terdiri dari:
a. Desain teknis speed boat (basic design) dengan rincian dalam lampiran
sebagaimana ketentuan yang disyaratkan oleh Biro Klasifikasi Indonesia.
b. Key Plan dengan rincian dalam lampiran sebagaimana ketentuan yang
disyaratkan oleh Biro Klasifikasi.
c. Rencana anggaran biaya pembangunan dan rencana kerja pembangunan speed
boat (master schedule)
B. Pengumpulan data dan informasi
Kegiatan ini, merupakan penelitian survei (survey reseacrh), yaitu suatu investigasi
yang dilakukan untuk mendapatkan fakta-fakta dari fenomena yang ada dan
mencari informasi secara faktual untuk mendapatkan kebenaran (Sukaria, 2011,
dalam Muthia, et. Al., 2013). Obyek yang dijadikan responden adalah pengelola
pelabuhan laut, serta pengguna jasa yang menggunakan fasilitas pelabuhan, seperti
perusahaan pelayaran dan operator speed boat. Pengumpulan data dalam penelitian
ini dilakukan dengan metode:
1. Pengumpulan Data Sekunder, dilakukan untuk mendapatkan data terpercaya dari
jurnal, buku literatur, dan instansi atau dinas terkait;
2. Observasi, dilakukan untuk mendapatkan informasi dan fakta primer atau
langsung tentang kondisi fisik obyek penelitian yang merupakan hasil investigasi
dan pengamatan lapangan secara visual;
3. Survei, dilakukan untuk mendapatkan gambaran primer dari pengguna jasa,
regulator, dan operator dari pelabuhan terhadap kondisi sarana dan prasarana
speed boat.
Pengambilan sampel dalam survei menggunakan pendekatan non probalility
sampling, dengan metoda pengambilan sampel convinience sampling dan teknik
penentuan sampel berdasarkan faktor kebetulan, yaitu siapa saja stake holder yang
secara kebetulan ditemui sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, dapat
diperankan sebagai responden (Sukaria, 2011, dalam Muthia, et. Al., 2013).
C. Proses Desain Speed boat
Secara umum desain speed boat terbagi dalam 4 (empat) fase yaitu :
▪ Concept Design
▪ Preliminary Design
▪ Contract Design (Basic & Key Plan)
▪ Detailed Design (Yard Plan, Production Drawing, & Final Drawing)
Perbedaan antara fase-fase tersebut terletak pada output dokumen yang dikeluarkan,
tingkat kebutuhan design, kecepatan pengerjaan (man hour), ketelitian input data,
proses pengerjaan, proses iterasi, fasilitas pendukung, dan lain-lain.
Masing-masing fase tersebut memiliki item pokok yang harus dilalui
(dihitung/diperiksa) tergantung tingkatan fasenya. Item-item pokok tersebut ialah;
▪ Design Conditions / Owner Requirement / Tor
▪ Principal Particulars
▪ Lines Plan
▪ Form Calculations
▪ Powering
▪ Arrangements
▪ Structure And Strength
▪ Lightweight & Deadweight
▪ Capacity & Tonnage
▪ Trim & Stability (Intact & Damage)
▪ Main Equipments & Cost Estimation
Proses Pemeriksaan item-item pokok ini dapat dilakukan dengan menggunakan
proses spiral design seperti diagram di bawah ini. Selain dengan cara spiral design,
dapat pula dilakukan dengan flow chart Decision (Yes/No) maupun interkoneksi &
keterkaitan antara satu item dengan item yang lainnya. Penentuan keterkaitan
design sangat dipengaruhi oleh ketersediaan data yang valid, kemampuan &
pengalaman desainer.
Gambar 2. Spiral Design
Gambar 3. Alur Disain Speed boat
Berikut ini akan diuraikan item-item pokok pembuatan desain speed boat :
1. DESIGN CONDITIONS / OWNER REQUIREMENTS
Yang dimaksud adalah patokan atau spesifikasi utama yang akan dipakai sebagai
pedoman awal design speed boat dan sekaligus sebagai acuan seberapa “suksesnya”
desain yang dibuat. Karena menyangkut juga faktor ekonomis maka beberapa design
conditions juga dipakai sebagai acuan kontrak antara owner dan yard dimana
didalamnya terkandung denda maupun penolakan (reject) jika tidak tercapainya
design conditions tersebut. Design condition ini adalah hasil dari kajian baik faktor
biaya, teknis, regulasi, dan lingkungan sehingga merupakan perwujudan dari speed
boat yang diinginkan oleh owner.
Beberapa design conditions pokok adalah sebagai berikut : Deadweight & capacity,
ship speed, cargo type & handling, range, keel laying & delivery time, dan lain-lain.
Bentuk dari design conditions ini bermacam-macam tergantung dari fasenya.
Terkadang berbentuk owner requirements secara singkat, short specification,
maupun berbentuk secara detail seperti Term Of Reference (TOR) atau Technical
Specification. Pada fase CONTRACT maka disusun design conditions ini dalam suatu
kesepakatan antara pihak owner dengan builder dalam bentuk Building
Specification dan Building Contract.
2. PRINCIPAL PARTICULARS
Dari design conditions maka dapat diperkirakan preliminary principal particulars
termasuk main dimension. Secara garis besar penentuan principal particulars dapat
diperoleh dengan cara sbb.
▪ Menggunakan formula pendekatan
▪ Menggunakan speed boat pembanding
▪ Pembatasan dimensi berdasarkan beberapa faktor antara lain tempat operasional,
regulasi, tempat pembangunan, maupun operational cost.
▪ Hasil proses perhitungan dari masing-masing item pendukung
Penentuan Principal Particulars ini melalui proses iterasi pada tiap fase-fasenya
sehingga menghasilkan vessel particulars yang optimal & efisien baik dari sisi
Owner maupun Builder. Berikut ini adalah Principal Particulars yang akan dijadikan
acuan dalam perhitungan-perhitungan selanjutnya :
▪ Type of ship
▪ Main Dimension yaitu LOA, LPP, LWL, Breadth, Depth, Draft (design/scantling)
▪ Finess Coefficient yaitu CB, CM, CW, & CP
▪ Ship speed
▪ Structure yaitu bahan konstruksi, jumlah deck, jumlah sekat, dll.
▪ Lightweight & Deadweight
▪ Capacity (Tank & Hold)
▪ Cargo type & handling
▪ Range (Endurance)
▪ Complements (Crew, Passenger, Guest)
▪ Main Equipment yaitu Main Engine, Diesel Generator.
Pada fase Concept design principal particulars ini ditentukan dengan formula
pendekatan maupun speed boat pembanding yang sesuai. Di fase-fase berikutnya
penentuan banyak ditentukan oleh faktor hasil perhitungan dan hasil proses iterasi
maupun optimasi dari beberapa item. Selain itu faktor pembatasan dimensi dan
penunjukan main equipment dari Owner, Regulasi, maupun builder adalah faktor
yang sangat menentukan.
Disini pula dapat diketahui apakah owner requirements dapat dipenuhi. Terkadang
owner requirements lebih dari batas kelayakan suatu speed boat. Sebagai contoh
owner meminta desain speed boat dengan panjang tidak lebih dari 20 m.
3. LINES PLAN
Pada fase concept design pembuatan Rough Lines / Body Plan berdasarkan
preliminary principal particulars yang ada. Bentuk boundary data (Stem profile,
Stern profile Flat of bottom, Flat of Side, & Main Section) diperkirakan melalui proses
transformasi atau mengunakan pendekatan software yang ada.
Pada fase berikutnya faktor kesulitan produksi dan hasil model test juga menentukan
pembuatan Lines Plan disamping juga menjaga harga Full Displacement & LCB tetap
pada pedoman yang ditentukan.
4. FORM CALCULATION
Dari Lines Body Plan dapat dihitung Form Calculation yang akan dipakai dalam
perhitungan selanjutnya. Form Calculation tersebut terdiri dari :
▪ Bonjean Table / CSA yaitu meliputi data sectional area, sectional moment pada
tiap-tiap draft dan tiap section/frame
▪ Hydrostatic Properties yaitu meliputi data volume, displacement, LCB, LCF, KB,
TPC, MTC, BMT, BML, KMT, KML, WSA, CB, CM, CW, CP, pada tiap-tiap draft.
Disinilah diadakan pengecekan apakah Displacement & LCB dari Lines plan ini
mendekati perkiraan.
▪ Cross Curves of Stability yaitu data lengan penegak (righting lever) pada tiap-tiap
kemiringan dan tiap-tiap draft/displacement yang ditentukan.
5. LIGHTWEIGHT & DEADWEIGHT
Perhitungan Lightweight (Berat speed boat kosong) sangatlah vital dalam desain
suatu speed boat. Pada fase concept Lightweight akan mempengaruhi berapa
displacement yang dibutuhkan maupun dimensi yang sesuai. Pada Tahap
preliminary design Lightweight akan mempengaruhi trim & stability, dan daya saing
cost speed boat tersebut. Pada fase Contract & detail desain, kontrol terhadap
Lightweight harus dilakukan agar pada saat Inclining Test Lightweight tetap pada
range yang direncanakan. Akibat dari over weight, akan timbul denda (finalty)
maupun penolakan (reject) dari owner yang menimbulkan kerugian besar bagi
builder maupun desainer itu sendiri. Titik berat speed boat kosong juga harus
diperhatikan karena mempengaruhi trim & stabilitas speed boat terutama sekali
terhadap speed boat yang sensitif terhadap angka GM (kestabilan speed boat).
Gambar 4. Light Weight and Dead Weight
D. CAPACITY & TONNAGE
Sebagai salah satu item penting yang mempresentasikan dimensi volume maka
perhitungan capacity dari tiap tangki dan hold harus diperhatikan. Kapasitas tangki
dibuat dengan pedoman owner requirements, spesifikasi, & kebutuhannya menurut
Deadweight calculation. Sedangkan susunan tata letaknya mempertimbangkan
faktor trim, stabilitas, sistem, & arsitekturnya.
Untuk perhitungan Tonnage (Net & Gross) dipakai sebagai acuan untuk perhitungan
selanjutnya dan sebagai acuan penarikan pajak. Speed boat dalam fungsinya sebagai
alat angkut yang dipergunakan dalam kegiatan ekonomi, maka speed boat tersebut
tentulah dikenakan pajak-pajak serta memerlukan biaya sehubungan dengan
kegiatannya itu. Dapat dimaklumi, bahwa makin besar sebuah speed boat, maka
akan makin besar pula pajak serta ongkos-ongkos yang harus dikeluarkannya.
Sebagaimana diketahui, pertambahan besar speed boat itu sangat bervariasi baik
terhadap panjang, lebar maupun tingginya. Besarnya panjang speed boat atau
bahkan panjang dan lebar sekalipun, belum dapat dipakai sebagai pedoman untuk
menunjukkan besarnya speed boat. Sebab ukuran besarnya speed boat adalah
persoalan kapasitas muat (carrying capacity). Oleh karena itu dalam menentukan
pajak, berlaku pedoman bahwa besarnya pajak yang dikenakan pada sebuah speed
boat haruslah sebanding dengan kemampuan speed boat tersebut untuk
memberikan penghasilan (potensial earning capacity). Atas dasar pemikiran ini,
karena tonnage speed boat dianggap dapat menggambarkan potensial earning
capacity sebuah speed boat, maka besar pajak-pajak yang dikenakan pada suatu
speed boat dapat didasarkan atas besarnya tonnage nya. Dapat disimpulkan guna
tonnage adalah :
a. Untuk menunjukkan ukuran besarnya speed boat, yaitu kapasitas muatnya.
b. Bagi pemerintah adalah untuk dasar pegangan dalam memungut pajak
diantaranya adalah pajak pelabuhan sebagai imbalan atas pelayanan yang telah
diterima oleh speed boat itu.
c. Bagi pemilik speed boat adalah untuk memperkirakan pendapatan maupun
pengeluaran (pajak-pajak dan ongkos-ongkos) yang harus dikeluarkan pada kala
waktu tertentu.
d. Tonnage dipergunakan pula sebagai batasan-batasan terhadap berlakunya
syarat-syarat keselamatan speed boat ataupun beberapa syarat lainnya.
e. Di galangan kapal, tonnage banyak digunakan sebagai pedoman dalam
menetapkan tarip docking dan reparasi speed boat.
Untuk pengukuran tonnage dipakai register tonnage. Ada 2 macam pengukuran
register tonnage yang dikenal, yaitu :
1. GRT (Gross Register Tonnage) atau BRT (Bruto Register Tonnage)
2. NRT (Netto Register Tonnage). Tonnage adalah suatu besaran volume,
karena itu satuannya adalah satuan volume dimana 1 RT (satuan register)
menunjukkan suatu ruangan sebesar 100 Cubic feet atau sama dengan 2,8328 m3.
Untuk menghitung besarnya Gross Register Tonnage dan Netto Register Tonnage
speed boat dipakai peraturan internasional Convention On Tonnage Measurement
Of Ship 1969, dimana Gross Tonnage (BRT) dari sebuah speed boat ditentukan
dengan rumus sebagai berikut :
G = K1 x V
Dimana :
V = Volume total semua ruangan tertutup dalam speed boat (m3)
K1 = 0,2 + 0,02 Log V
Sedangkan Net Tonnage dari sebuah speed boat ditentukan dengan rumus sebagai
berikut;
NT = K x Vc x (4T/5H)2
2
Dimana :
Vc = Volume total dari ruang muat dalam m3
K2 = 0,2 + 0,02 Log Vc
H = Tinggi speed boat (m)
T = Sarat air (m).
Perhitungan Gross Tonnage Ruangan-ruangan yang termasuk dalam perhitungan
muatan untuk mendapatkan volume Gross Tonnage adalah :
• Ruangan-ruangan di bawah tonnage deck
• Ruangan-ruangan yang berada diantara poop deck dan tonnage deck.
• Ruangan-ruangan pada upper deck yang mempunyai cara penutupan yang
permanen yang dapat dipergunakan untuk muatan, gudang, akomodasi
penumpang atau awak speed boat
E. Hambatan dan Propulsi Speed boat
Perhitungan Powering (Speed Power Prediction) adalah untuk menentukan minimal
power yang dibutuhkan untuk mencapai kecepatan sesuai owner requirements.
Pada fase Concept Design perhitungan dengan korelasi Koefisien Admiralty dapat
digunakan sebagai acuan awal. Selanjutnya dapat menggunakan perhitungan
manual atau software. Untuk fase Contract design perhitungan Speed power harus
berdasarkan hasil dari model test. Matching antara propeller, main engine, &
kecepatan speed boat juga perlu diperhatikan. Sesuai permintaan owner, konsultan
akan merekomendasikan penggunaan main engine tunggal atau ganda beserta
pertimbangan-pertimbangan pemiliknya.
Gambar 5. Kecepatan dan Daya Speed boat
Speed boat yang berlayar di ibaratkan seperti sebuah benda yang bergerak melalui
media air dan udara, ini berarti bahwa benda itu akan mengalami gaya hambat
(resistance force) dari media yang dilaluinya. Hambatan-hambatan yang dialami
sebuah speed boat yang bergerak melalui air dan udara itu dapat diuraikan atas :
• Hambatan Gesek (Frictional Resistance) = RF
• Hambatan Gelombang (Wave Making Resistance) = Rw
• Hambatan Bentuk (Eddy Making Resistance) = Rp
• Hambatan Udara (Air Resistance) = RA
• Hambatan Tambahan (Appendage Resistance) = RAA
a. Hambatan Gesek (Frictional Resistance) = RF
Hambatan gesek ini terjadi karena adanya suatu lapisan atau volume air yang
melekat pada bagian speed boat yang terbentuk pada permukaan bidang basah
speed boat yang sedang bergerak dan biasa disebut lapisan atas (boundary layer).
Di dalam daerah lapisan batas tersebut kecepatan gerak dari partikel-partikel zat
cair dalam hal ini air laut, bervariasi dari 0 (nol) pada permukaan kulit speed
boat menjadi maksimum sama dengan besarnya kecepatan gerak aliran zat cair
pada tepi dari lapisan batas tersebut. Perubahan atau variasi kecepatan partikel-
partikel zat cair inilah yang mencerminkan adanya pengaruh insentif gaya-gaya
viskositas pada lapisan batas yang menyebabkan timbulnya tahanan gesek pada
speed boat tersebut.
b. Hambatan Gelombang (Wave Making Resistance) = Rw
Speed boat yang bergerak dalam air akan mengalami hambatan sehingga
menimbulkan gelombang yang terbentuk akibat terjadinya variasi tekanan air
terhadap lambung speed boat pada saat speed boat bergerak dengan suatu
kecepatan tertentu. Ada tiga jenis gelombang yang biasanya terbentuk pada saat
speed boat bergerak, yaitu : gelombang haluan, gelombang melintang pada kiri
dan kanan lambung speed boat serta gelombang buritan.
c. Hambatan Bentuk (Pressure Resistance/Eddy Making Resistance) = Rp
Partikel-partikel air yang bergerak melintasi lambung speed boat akan terpecah
dan membentuk volume air tertentu dimana partikel-partikel air tadi bergerak
dalam satuan pusaran. Karena terjadinya pusaran ini, maka tekanan air pada
buritan speed boat akan berkurang dan timbulah satu gaya yang melawan arah
gerak maju dari speed boat. Gaya hambatan inilah yang merupakan tahanan
bentuk yang dialami oleh speed boat yang bergerak maju.
d. Hambatan Udara (Air Resistance) = RA
Speed boat yang berlayar, bagian atasnya (sebagian lambung dan bangunan
atasnya) akan mengalami gaya hambatan dari udara. Hambatan udara ini juga
terdiri dari komponen-komponen gesek dan komponen bentuk. Tekanan udara
yang dialami speed boat berkisar antara 2 s/d 4 % dari tahanan total yang
dialaminya. Untuk menghitung besarnya hambatan-hambatan speed boat
tersebut, dapat dipergunakan berbagai cara misalnya dengan percobaan memakai
model towing tank atau dengan cara pendekatan. Yang dimaksud dengan cara
pendekatan adalah cara perhitungan dengan menggunakan rumus pendekatan.
Dalam Studi Desain Speed boat Speed boat Perairan Pelabuhan menggunakan
Metode Holtrop untuk menentukan powering speed boat tersebut, adapun langkah
dan cara perhitungan adalah sebagai berikut:
Daya tahan total speed boat telah terbagi menjadi:
𝑅 = 𝑅 (1 + 𝑘 ) + 𝑅 + 𝑅 + 𝑅 + 𝑅 + 𝑅
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐹 1 𝐴𝑃𝑃 𝑊 𝐵 𝑇𝑅 𝐴
Dimana :
𝑅 = Tahanan Gesek Menurut formula ITTC 1957
𝐹
1 + 𝑘 = Faktor Lambung
1
𝑅 = Tahanan Tambahan
𝐴𝑃𝑃
𝑅 = Hambatan Gelombang
𝑊
𝑅 = Tambahan tekanan dari Bulbous
𝐵
𝑅 = Tahanan tambahan dari transom stren
𝑇𝑅
𝑅 = Korelasi tahanan model-speed boat sebenarnya
𝐴
Untuk prediksi formula lambung :
0.92479
𝐵 −0.521448
1 + 𝑘 = 𝑐 {0.93 + 𝑐 ( ) (0.95 − 𝐶 ) (1 − 𝐶 +
1 13 12 𝑝 𝑝
𝐿
𝑅
0.6906
0.0225 𝑙𝑐𝑏) }
𝐿
𝑅 = 1 − 𝐶 + 0.06 𝐶 𝑙𝑐𝑏/(4𝐶 − 1)
𝑝 𝑝 𝑝
𝐿
Koefisien c didefinisikan sebagai:
12
𝐶 = (𝑇/𝐿)0.2228466 jika T/L > 0.05
12
𝐶 = 48.20(𝑇/𝐿 − 0.02)2.078 + 0.479948 Jika 0.02 < T/L < 0.05
12
𝐶 = 0.479948 Jika T/L <0.02
12
Untuk koefisien C mengikuti yang telah diberikan :
Stren
After form C
Stren
V- Shaped section -10
Normal section Shape 0
U-Shaped section with + 10
Hogner Stren
Permukaan Basah Lambung bisa dihitung dengan :
𝐵
𝑆 = 𝐿(2𝑇 + 𝐵)√𝐶 (0.453 + 0.4425 𝐶 + −0.2862 𝐶 − 0.003467
𝑀 𝐵 𝑀
𝑇
+ 0.3696 𝐶 ) + 2.38 𝐴 /𝐶
𝑊𝑃 𝐵𝑇 𝐵
Tahanan tambahan bisa di kerjakan dengan :
𝑅 = 0.5 𝜌𝑉2𝑆 (1 + 𝑘 ) 𝐶
𝐴𝑃𝑃 𝐴𝑃𝑃 2 𝑒𝑞 𝐹
Approximate 1 + k values
2
Rudder behind skeg 1.5 – 2.0
Rudder behind stren 1.3 – 1.5
Twin-screw balance rudders 2.8
Shaft bracket 3.0
Skeg 1.5 – 2.0
Strut bossings 3.0
Hull bossings 2.0
Shafts 2.0 – 4.0
Stabilizer 2.8
dome 2.7
Bilge keels 1.4
Persamaan nilai 1 + k untuk kombinasi tambahan dirumuskan dalam :
2
∑(1 + 𝑘 ) 𝑆
2 𝐴𝑃𝑃
(1 + 𝑘 ) =
2 𝑒𝑞
∑ 𝑆
𝐴𝑃𝑃
Tahanan gelombang di rumuskan sebagai berikut :
𝑅 = 𝑐 𝑐 𝑐 ∇𝜌g exp {𝑚 𝐹𝑑 + 𝑚 cos(𝛼𝐹−2)}
𝑊 1 2 5 1 𝑛 2 𝑛
Dengan :
𝑐 = 223105 𝑐3.78613(𝑇/𝐵)1.07961(90 − 𝑖 )−1.37565
1 7 𝐸
𝑐 = 0.229577(𝐵⁄𝐿)0.33333 Jika B/L < 0.11
7
𝑐 = 𝐵/𝐿 Jika B/L < 0.11 B/L <0.25
7
𝑐 = 0.5 − 0.0625 𝐵/𝐿 Jika B/L <0.25
7
𝑐 = 𝑒𝑥𝑝(−1.89√𝑐 )
2 3
𝑐 = 1 − 0.8𝐴 /(𝐵𝑇𝐶 )
5 𝑇 𝑀
Dalam rumus untuk resistansi gelombang, Fn adalah bilangan Froude berdasarkan
panjang garis air L. Parameter lainnya dapat ditentukan dari:
𝜆 = 1.446𝐶 − 0.03 𝐿/𝐵 Jika L/B < 12
𝑝
1
𝜆 = 0.0140407 𝐿⁄𝑇 − 1.75254 ∇3/𝐿 + −4.79323 𝐵⁄𝐿 − 𝐶
16
𝐶 = 8.07981 𝐶 − 13.8673𝐶2 + 6.984388𝐶3 Jika C < 0.80
16 𝑝 𝑃 𝑃 P
𝐶 = 1.73014 − 0.7067𝐶 Jika C > 0.80
16 𝑝 P
𝑚 = 𝑐 𝐶2𝑒𝑥𝑝(−0.1𝐹−2)
2 15 𝑃 𝑛
Persamaan 𝑐 sama dengan -1.69385 untuk 𝐿3⁄∇ < 512 dimana 𝑐 = 0.0 untuk
15 15
𝐿3⁄∇ > 1727.
Untuk nilai dari 512 <𝐿3⁄∇ < 1727, 𝑐 dirumuskan :
15
𝑐 = −1.69358 + (𝐿3⁄∇ − 8.0)/2.36
15
d = -0,9
𝑖 = 1 + 89 exp{−(𝐿⁄𝐵)0.80856(1 − 𝐶 )0.30484(1 − 𝐶
𝐸 𝑊𝑃 𝑃
− 0.0225𝑙𝑐𝑏)0.6367(𝐿 ⁄𝐵)0.34574(100∇⁄𝐿3)0.16302}
𝑅
𝑐 = 0.56𝐴1.5/{𝐵𝑇(0.31√𝐴 + 𝑇 − ℎ )}
3 𝐵𝑇 𝐵𝑇 𝐹 𝐵
Tahanan tambahan akibat adanya bulbous bow dirumuskan sebagai berikut:
𝑅 = 0.11 𝑒𝑥𝑝(−3𝑃−2)𝐹3 𝐴 1/5 ρg/(1 + 𝐹2 )
𝐵 𝐵 𝑛𝑡 𝐵𝑇 𝑛𝑡
𝑃 = 0,56√𝐴 /(𝑇 − 1.5 ℎ )
𝐵 𝐵𝑇 𝐹 𝐵
Dan
𝐹 = 𝑉/√g(𝑇 − ℎ − 0.25√𝐴 + 0.15𝑉2
𝑛𝑡 𝐹 𝐵 𝐵𝑇)
Dengan cara yang sama, resistansi tekanan tambahan karena transom yang
terendam dapat ditentukan:
𝑅 = 0.5𝜌𝑉2𝐴 𝑐
𝑇𝑅 𝑇 6
Koefisien 𝑐 mempunyai hubunfan dengan froide number yaitu :
6
𝑐 = 0.21(1 − 0,2𝐹 ) Jika 𝐹 < 5
6 𝑛𝑡 𝑛𝑡
Atau
𝑐 = 0 Jika 𝐹 ≥ 5
6 𝑛𝑡
𝐹 telah dirumuskan sebagai :
𝑛𝑡
𝐹 = 𝑉/√2g𝐴 /(𝐵 + 𝐵𝐶 )
𝑛𝑡 𝑇 𝑊𝑃
Cwp adalah water area cofficient
Korelasi tahan Model-Ship 𝑅 dengan
𝐴
𝑅 = 1⁄2𝜌𝑉2𝑆𝐶
𝐴 𝐴
𝐶 = 0.006(𝐿 + 100)−16 − 0.00205 + 0.003√𝐿⁄7.5𝐶4𝐶 (0.04 − 𝐶 )
𝐴 𝐵 2 4
Dengan
𝐶 = 𝑇 ⁄𝐿 Jika 𝑇 ⁄𝐿 ≤ 4
𝐴 𝐹 𝐹
Atau
𝐶 = 𝑇 ⁄𝐿 Jika 𝑇 ⁄𝐿 > 4
𝐴 𝐹 𝐹
F. Rencana Umum
Dalam merencanakan atau mendesain speed boat, banyak hal yang perlu
dilaksanakan dalam perancangannya. Setelah sebelumnya telah melaksanakan tahap
merancang yang berupa rencana awal, rencana garis, menghitung hambatan dan
propulsi untuk tahapan selanjutnya adalah tahapan pembuatan rencana umum dan
kontruksi. Pembuatan rencana umum dan kontruksi pada speed boat adalah sebagai
syarat mutlak yang harus dikerjakan dalam merancang karena tahapan-tahapan
tersebut adalah salah satu bagian yang sama-sama penting dalam merancang speed
boat. Rencana umum dibuat bertujuan sebagai tata penempatan bagian-bagian yang
penting yang harus ada di speed boat, yang tentunya mempertimbangkan
perhitungan stabilitas speed boat dan nilai efisiensi speed boat yang akan dirancang.
Pada fase concept design, Rough General Arrangement sudah cukup mewakili
gambaran design. Untuk fase berikutnya General Arrangement, Engine Room
Layout, & Diagram dari sistem speed boat perlu dibuat. Pada Tahap Contract semua
arrangement yang berkaitan dengan proses approval ke Classification Society
disiapkan dengan tetap berpedoman pada principal particulars maupun design
conditions yang ditentukan.
Pada tahap ini beberapa kondisi dan persyaratan yang ditetapkan oleh badan yang
berwenang diimplementasikan, antara lain:
a. International Maritime Organization (IMO), Safety of Life at Sea (SOLAS) 1974
sebagai acuan utama peralatan dan perlengkapan keselamatan di speed boat;
b. International Maritime Organization (IMO), Life Saving Appliances (LSA), Safety
of Life at Sea (SOLAS)., 2013;
c. International Maritime Organization (IMO), Maritime Pollution (MARPOL) 1974
sebagai acuan utama peralatan dan perlengkapan pencemaran di speed boat;
d. International Labour Organization (ILO), Maritime Labour Convention (MLC)
2006;
e. Rules For Classification. And Surveys. Consolidated Edition 2017, Biro Klasifikasi
Indonesia.
f. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2002 tentang
Perspeed boatan;
g. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2006 tentang
Penanggulangan Tumpahan Minyak di Laut;
h. Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2006 entang Penanggulangan Keadaan
Darurat Tumpahan Minyak di Laut;
i. Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 25 Tahun 2015
Tentang Standar Keselamatan Transportasi Sungai, Danau, dan Penyeberangan;
j. Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor KM 65 Tahun 2009
Tentang Standar Speed boat Non Konvensi;
G. Stabilitas dan Trim Speed boat
Perhitungan trim & stabilitas diperlukan sebagai persyaratan regulasi yang berlaku.
Secara umum terbagi atas 2 (dua) macam yaitu Intact Stability (kondisi Kedap) dan
Damage Stability (kondisi bocor).
Intact Stability juga bermacam-macam cara pengerjaannya tergantung jenis speed
boat dan regulasi yang dipakai. Contoh regulasi untuk Intact Stability antara lain
IMO A.169, IMO A.562, IMO A.749, Grain Code, MARPOL, IS Code, SPS Code, dll.
Model pemuatannya berdasarkan tipe muatan, spesifikasi, dan standar menurut
regulasi yang digunakan. Perhitungan ini berisi pemuatan dan isi dari tiap-tiap
tangki, draft, trim, GM, propeller immersion, stability curve, stability assessment
menurut stability criteria yang digunakan, dan longitudinal strength calculation
(bending moment & shearing force). Pada speed boat-speed boat besar perhitungan
desain konstruksi berhubungan erat dengan longitudinal strength.
Sedangkan Damage stability adalah perhitungan stabilitas pada saat bocor. Ada 2
metode yang dipakai Deterministic dan probabilistic sesuai tipe dan regulasi yang
digunakan. Penentuan compartment yang bocor dan evaluasi stabilitas berdasarkan
regulasi yang digunakan. Berbagai regulasi untuk perhitungan damage stability
antara lain SOLAS, MARPOL, IBC Code, IGC Code, Loadline, IMO A.320.
Gambar 6. Stabilitas Speed boat
Metode A.N-Krylov dalam perencanaan stabilitas yang dilakukan pada tahap desain
speed boat. Pada speed boat, apakah dalam posisi tegak atau miring ke sudut φ , dua
gaya bertindak: Berat speed boat (W) dan gaya apung (fb) yang sama tapi beraksi
berlawanan arah. Bobot speed boat adalah gaya gravitasi yang diukur dalam
Newton, gaya apung yang juga diukur dalam Newton disebut juga displacement
(force). Untuk displacement (massa) speed boat, diukur dalam ton simbol Δ yang
digunakan. Untuk volume di bawah air dari lambung, disebut volumetric
displacement, simbol ∇ yang digunakan. (A.N-Krylov)
𝐹 = g∆= ρg∇ (1.1)
𝐵
Tinggi metasentrik awal sama dengan perbedaan antara jari-jari metasentrik dan
jarak antara pusat daya (B) apung dan gravitasi G.
𝐺𝑀 = 𝐵𝑀 − 𝐺𝐵 (1.2)
0 0
Radius metasenter melintang pada setiap inklinasi juga disebut perbedaan
metasenter.
𝑑𝐼
𝑟 = 𝐵 𝑀 = 𝑊𝐿 (1.3)
𝜑 𝜑 𝜑
𝑑∇
Radius metasentri melintang untuk posisi tegak yaitu :
𝐼
𝑟 = 𝐵𝑀 = 𝑊𝐿 (1.4)
0 0
∇
Dimana : Iwl = momen inersia dari waterplane.
Hubungan antara kedua persamaan tersebut adalah :
𝑑𝑟
𝑟 = 𝑟 + ∇ 0 (1.5)
𝜑 0
𝑑∇
Lengan stabilitas statis dapat dihitung menggunakan persamaan berikut :
𝐺𝑍 = 𝑦 cos 𝜑 + (𝑧 − 𝑍 )𝑠𝑖𝑛𝜑 − 𝐺𝐵𝑠𝑖𝑛𝜑 (1.6)
𝐵𝜑 𝐵𝜑 𝐵
Dimana : 𝑦 𝑧 adalah koordinat dari pusat daya apung.
𝐵𝜑, 𝐵𝜑
Persamaan BN = 𝑦 cos 𝜑 + (𝑧 − 𝑍 )𝑠𝑖𝑛𝜑 disebut righting arm of form dan
𝐵𝜑 𝐵𝜑 𝐵
BC = BG sinφ disebut righting arm of weight. GZ juga bisa dihitung dengan rumus:
𝐺𝑍 = 𝑦 cos 𝜑 + 𝑍 − 𝐾𝐺𝑠𝑖𝑛𝜑 (1.7)
𝐵𝜑 𝐵𝜑
Untuk sudut inklinasi yang kecil, hubungan antara GZ dan sudut miring
diasumsikan berbanding lurus, kemudian momen penegak dapat dihitung dengan :
𝑀 = g∆ 𝐺𝑀 𝜑 (1.8)
𝑅 0
Formula diatas disebut formula metasenter dari stabilitas.
Untuk semua sudut kemiringan, momen penegak dapat dihitung dengan :
𝑀 = g∆ GZ (1.9)
𝑅
Kurva lengan penegak harus sesuai dengan karakteristik yang sesuai. Contoh dari
nilai GZ di sudut kemiringan GZ200,GZ300,GZ400,GZ 0m, dari sudut kemiringan
φm harus sesuai.
Perbedaan dari lengan penegak dengan sudut inklinasi disebut generalisasi tinggi
metasenter :
𝑑(𝐺𝑍)
ℎ = = 𝐵 𝑀 − 𝑦 𝑠𝑖𝑛𝜑 + 𝑍 𝑐𝑜𝑠𝜑 − 𝐾𝐺𝑐𝑜𝑠𝜑 (1.10)
𝜑 𝜑 𝐵𝜑 𝐵𝜑
𝑑𝜑
Secara geometris, ini sama dengan jarak antara metasenter M dengan proyeksi dari
G di arah gaya apung,Z
𝜑 𝜑
H. 𝐸 = ∫ 𝑀 𝑑𝜑 = g∆ ∫ 𝐺𝑍𝑑𝜑 (1.11)
𝑅 𝑅
0 0
Sumber : A.N Krylov
Gambar 7. Lengan Stabilitas dan Tinggi Metasenter
H. Freeboard and Subdivision
Untuk memeriksa apakah draft telah memenuhi regulasi adalah dengan
menggunakan perhitungan freeboard. Sedangkan pembagian kompartemen
tergantung pada permintaan owner maupun pemenuhan tuntutan kebutuhan sesuai
regulasi yaitu dengan cara perhitungan subdivsion (floodable length, Hyphothetical
Outflow, Damage Stability dll.) Penentuan draft & pembagian kompartmen ini
sangat menentukan untuk pedoman perhitungan selanjutnya. Kebutuhan spare
room untuk cadet, sesuai dengan kebutuhan saat ini harus difasilitasi.
Freeboard (Lambung Timbul) Lambung timbul adalah jarak vertikal yang diukur
pada tengah speed boat kearah bawah dari sisi atas geladak lambung timbul hingga
sisi atas garis muat. Perhitungan lambung timbul menurut Konvensi Lambung
Timbul 1966 (International On Load Line Convention (ILLC 1966)) ini berlaku
untuk speed boat niaga yang berlayar di perairan internasional baik di laut maupun
perairan samudera, kecuali untuk speed boat-speed boat yang tersebut dibawah ini :
1. Speed boat perang
2. Speed boat yang panjangnya L < 24 m
3. Speed boat yang kurang dari 150 Gross Ton
4. Speed boat pesiar (yachts)
5. Speed boat penangkap ikan
6. Speed boat penyusur pantai untuk jarak dekat
7. Speed boat yang berlayar di danau-danau dan sungai-sungai. International On
Load Line Convention 1966, membedakan 2 (dua) tipe speed boat :
▪ Speed boat tipe A Yaitu speed boat-speed boat tangki minyak yang memiliki
muatan dengan lubang masuk yang kecil dan kedap air dengan penutup baja
atau material yang aquivalent. Sifat-sifat khas dari speed boat tipe A adalah :
- Geladak cuaca yang sangat aman
- Speed boat mempunyai keselamatan yang tinggi terhadap kebocoran,
karena permeability dari ruang muatan pada waktu penuh adalah kecil.
▪ Speed boat tipe B Yaitu speed boat-speed boat yang memiliki bukaan yang
relative besar pada deck cuaca/deck kekuatan di speed boat. Khusus untuk
speed boat-speed boat tipe B, konvensi memberikan variasi-variasi yang
tergantung dari konstruksi penutup palkah (portable dari kayu atau baja,
kekedapan airnya dengan terpal dan batten atau dengan gasket dan plat
penjepit), perlindungan awak speed boat dan freeing ports.
1. Ukuran yang dipakai Panjang Speed boat (Length) Untuk ukuran panjang speed
boat dalam perhitungan lambung timbul (Minimum Summer Freeboard)
menurut buku ILLC 1996 adalah diambil sama dengan 96 % dari panjang total,
diukur pada garis air dengan sarat 85 % dari tinggi geladak. Pada speed boat
yang direncanakan dengan lunas yang miring, maka garis air dimana panjang ini
diukur adalah sejajar dengan garis air perencanaan (Design Water Line).
L = 96% x LOA
2. Lebar Speed boat (Breadth) Lebar speed boat (B) adalah lebar maksimum diukur
ditengah speed boat sisi-sisi luar gading.
3. Tinggi Speed boat (Depth) Untuk tinggi speed boat (H) diukur secara vertikal dari
sisi atas permukaan pelat lunas hingga sisi atas balok geladak lambung timbul
pada sisi speed boat.
4. Sarat Air Speed boat (Draft) Sarat air (T) untuk perhitungan lambung timbul
adalah pada 0,85 . H.
Subdivision
Keselamatan pada speed boat merupakan hal yang harus benar-benar
diperhitungkan dalam merancang speed boat. Mengingat bawha banyak faktor yang
nantinya akan mengakibatkan terjadinya gamgguan terhadap keselamatan speed
boat tersebut, salah satunya adalah menentukan pembagian sekat kedap air di
bawah geladak. Dalam peraturan SOLAS disebutkan dalam pembagian sekat kedap
air, yaitu setiap speed boat yang mengangkut 12 (dua belas) penumpang atau lebih
harus dipasang sekat kedap air (Watertight Bulkhead). Bila terjadi kebocoran speed
boat pada satu atau lebih pada ruangan yang berurutan speed boat tidak tenggelam
melampaui batas benam (Margin Line). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
perhitungan subdivision :
1. Lengkung Sekat Kedap Air (Floodable Length) .
Lengkungan sekat kedap air (Floodable Length) adalah grafik dari panjang maksimal
ruangan, dengan letak sekat melintang dari panjang speed boat bila ruangan
tersebut tergenang air sarat airnya akan tepat menyinggung garis batas tenggelam
(Margin Line), dimana speed boat masih tepat dapat terapung atau pada saat speed
boat akan tenggelam.
2. Koefisien Permeabilitas (µ)
Adalah jumlah (%) dari air yang dapat masuk atau menggenangi ruangan tersebut
µ = volume air yang masuk (%)
volume ruangan
Volume air yang menggenangi ruangan selalu lebih kecil dari volume ruangan yang
sebenarnya, hal ini dapat dijelaskan, karena dalam ruangan-ruangan tersebut selalu
ada barang yang mengurangi volume air yang masuk misalnya ; muatan, mesin-
mesin perlengkapan, bahkan adanya gading-gading dalam ruangan yang kosong.
3. Faktor Pembagi Sekat
Adalah koefisien bervariasi antara 0,3 ~ 1 yang mana digunakan untuk
menentukan panjang ruangan yang diperbolehkan.
Konstruksi dan Kekuatan Speed boat
Desain untuk structure adalah bagaimana membuat suatu konstruksi yang dapat
memenuhi regulasi dan fungsi speed boat. Pada fase concept design, Rough Midship
section dapat dijadikan gambaran awal untuk pembuatan desain selanjutnya.
Konstruksi speed boat secara umum berarti komponen-komponen suatu bangunan
yang mendukung suatu bangunan yang mendukung suatu desain. Dalam bidang
perspeed boatan, konstruksi speed boat merupakan susunan komponen-komponen
pada bangunan speed boat yang mana terdiri dari badan speed boat beserta
bangunan atas (super structure). Pada dasarnya speed boat terdiri dari komponen-
komponen konstruksi yang letak arahnya melintang dan memanjang. Dalam
menyusun komponen-komponen di atas menjadi konstruksi badan speed boat secara
keseluruhan, dikenal beberapa cara yang bisa dipakai dalam penggunaan konstruksi
speed boat antara lain:
1. Sistem Rangka Konstruksi Melintang.
2. Sistem Rangka Konstruksi Memanjang.
3. Sistem rangka konstruksi speed boat kombinasi.
Pada Studi Desain Speed boat menggunakan perhitungan konstruksi dan kekuatan
speed boat berdasarkan peraturan Rules For Classification. And Surveys.
Consolidated Edition 2017, Biro Klasifikasi Indonesia sesuai dengan yang dimaksud
dalam KAK.
I. SEAKEEPING & MANOUEVRING
Perhitungan sea keeping & manouevring diperlukan untuk speed boat-speed boat
yang memerlukan kenyamanan & olah gerak yang lincah sesuai fungsi speed boat
tersebut. Speed boat penumpang, speed boat riset, speed boat pesiar & speed boat
patroli adalah jenis-jenis speed boat yang memerlukan kajian mendalam untuk item
ini.
Gambar 8. Olah Gerak Kapal
J. MAIN EQUIPMENTS & COST ESTIMATION
Pada fase concept design, main equipments yang pertama ditentukan adalah main
engine. Hal ini dikarenakan main engine adalah komponen utama dalam hal
operasional yang menyangkut masalah kecepatan, sistem, dan biaya. Pada fase
selanjutnya perhitungan-perhitungan yang mendukung untuk penentuan main
equipment antara lain speed power calculation, power balance calculation,
equipment number, mooring calculation, rudder calculation, dll. perlu mendapat
perhatian karena akan menentukan sistem speed boat maupun cost.
• Main equipments ini juga banyak ditentukan oleh owner karena menyangkut
berbagai kepentingan. Semakin awal main equipments ditentukan maka akan
semakin baik cara & hasil desain.
• Perhitungan biaya juga memiliki andil mempengaruhi desain speed boat.
Karakteristik owner yang menyesuaikan antara kebutuhan, penunjukan
equipment, cost menentukan design conditions yang diminta oleh owner.
Bengkalis, Mei 2023
Pejabat Pembuat Komitmen,
KEVIN RAFIZARIANDI, S.STP, M.AP
NIP. 19870530 200602 1 001