METODOLOGI PERENCANAAN
Perencanaan Peningkatan Jalan Kecamatan Bengkalis dan Kecamatan Bantan
(Paket Reguler APBD-P)
Metode Pengambilan Data
1. Metode observasi dalam hal ini yang sangat membantu dalam mengetahui
keadaan medan yang akandiencanakan.
2. Metode wawancara dalam menambah data yang didapat melalui
menanyakan langsung kepada pihak - pihak terkait dalam perencanaan proyek
tersebut.
3. Metode kepustakaan dengan menggunakan buku pedoman teknik sipil
maupun buku lain sebagai pendukung untuk menyelesaikan tugas akhir ini.
Data - data yang dikumpulkan untuk suatu perencanaan jalan adalah:
1. Data Primer yaitu data yang diperoleh sendiri berupa lokasi proyek yang akan
ditinjau.
2. Data Sekunder yaitu data yang dipeoleh dari pihak - pihak terkait yang
mencakup:
a. Data tanah.
b. Data lalu lintas.
c. Data curah hujan dari Badan Meteorologi dan Geofisika.
d. Data jumlah kendaraan menurut jenisnya.
3.2. Analisis Data
3.2.1 Data Tanah (untuk menentukan perkerasan dan pondasi jalan)
Data tanah ini merupakan nilai CBR rata - rata pada masing -
masing stationing untuk mencari nilai CBR segmen yang digunakan
sesuai dengan prosedur adalah sebagai berikut:
1. Menentukan nilai CBR yang terendah
2. Menentukan berapa banyak nilai CBR yang sama atau lebih besar
dari masing - masingnilai CBR dankemudian disusun secara tebal
mulai dari CBR terkecil sampai terbesar.
3. Angka terbesar diberi nilai 100%, angka yang lain merupakan
persentase dari 100%
4. Dibuat grafik antara hubungan harga CBR dan persentase jumlah tadi
5. Nilai CBR segmen adalah nilai pada keadaan 90%
Setelah nilai CBR segmen diperoleh, maka untuk menentukan nilai DDT
digunakan grafik korelasi antara nilai CBR dengan DDT (Grafik) dengan cara
menghubungkan nilai CBR segmen dengan garis mendatar kesebelah kiri
maka diperoleh nilai DDT.
3.2.2 Data Curah Hujan (untuk menentukan Dimensi Drainase)
Adapun langkah-langkah perhitungan intensitas curah hujan adalah
sebagai berikut:
a. Menentukan curah hujan untuk masing - masing peiode ulang (tr)
b. Data curah hujan ulang dapat ditabelkan menurut tahun pengamatan
c. Perhitungan curah hujan rata - rata ( x )
d. Menghitung standar deviasi (Sx)
e. Menentukan reduced variate (ytr) yang tergantung dari periode
ulang pada penyusunan data ini untuk periode ulang 10 tahun
f. Menentukan reduced mean (Yn) danMenentukan reduced standard
(Sn) dengan melihat jumlah tahun pengamatan dan digunakan untuk
menentukan besaran.
3.2.3 Data Lalu Lintas (untuk menentukan lebar dan perkerasan jalan)
a. Tentukan nilai koefisien ekivalen dengan tabel 2.3.
b. Tentukan volume lalu lintas rencana (VLLR) dalam satuan
mobil penumpang.
c. Tentukan kelas jalan dengan yang ditentukan berdasarkan
SMP yaitu pengelompokan jalan raya dan penetrapan kelas jalan.
3.2.4 Data Jumlah Kendaraan (untuk menentukan lebar dan tipe jalan yang
harus di pakai)
Tentukan angka pertumbuhan kendaraan/tahun dengan persamaan:
a
i = x - y = a dan .100%
y
Dimana: i = Persentase jumlah kendaraan
x = Jumlah kendaraan tahun sekarang
y = Jumlah kendaraan tahun sebelumnya
a = Selisih jumlah kendaraan antara tahun sebelumnya
dengan tahun sekarang
3.3. Metode Perencanaan Geometrik Jalan
3.3.1. Mentrase Jalan
Mentrase jalan pada Peta Topografi yang bertujuan untuk membuat
lokasi jalan pada peta dari titik awal dengan koordinat ( x, y)
ketitik akhir dengan dihubungkan garis sumbu as jalan.Untuk trase
jalan pada perencanaan ruas jalan ini mengikuti trase jalan yang
sudah ada atau yang sudah direncanakan atau dibuat.
Tujuan dari mentrase jalan adalah:
1. Menentukan Klasifikasi medan pada peta topografi, yang
bertujuan untuk mengetahui apakah medan tersebut termasuk datar,
perbukitan dan pegunungan.
Adapun cara menentukan klasifikasi medan adalah :
a. Melihat nilai garis kontur sebelah kiri dan kanan as jalan.
b. Nilai yang lebih besar dikurangi yang lebih kecil kemudian
dibagi jarak antara kedua garis kontur.
c. Hasil tersebut dikalikan 100% selanjutnya lihat ketentuan
klasifikasi medan.
2. Menentukan sudut tangen pada titik perpotongan dan menentukan
jarak stasioning.
3.3.2 Perencanaan Alinyemen Horizontal
Dalam menentukan alinemen hirizontal yaitu dengan cara :
a. Menentukan bentuk tikungan pada titik perpotongan
Berdasarkan sudut tangen yang sudah didapat pada titik perpotongan
maka bentuk tikungan dicoba sesuai dengan syarat sudut yaitu :
1. Sudut circel, sudut tangen 0° ~ 4°
2. Sudut spiral - circel - spiral, suduttangen 4° < A < 90°
3. Sudut spiral - spiral, suduttangen> 90°
b. Menghitung jari - jari ( R ) tikungan, dengan ketentuan pada daftar
tabel 2.1 Standar Perencanaan Geometrik didapat R minimum dan
pada daftar 2.2 standar perencanaan alinemen dimana batas jari - jari
lengkung tikungan menggunakan busur peralihan didapat R
maksimum, sehingga batasan untuk jari - jari adalah R min < R < R
Max.
Menghitung Jari - jari dengan rumus :
V 2
R
( )
127e + fm
Dimana :
V = kecepatan rencana
e = miring tikungan
fm = koefisien gesekan tikungan
c. Menghitung panjang lengkung busur lingkaran pada tikungan circle,
tikungan spiral - circle - spiral, tikungan spiral - spiral.
d. Perhitungan pelebaran pada perkerasan pada tikungan
e. Perhitungan kebebasan samping
f. Membuat digram superelevasi.
3.3.3 Membuat penampang memanjang (untuk menghitung galian dan
Timbunan).
Dalam pembuatan penampang memanjang ada 2 yaitu :
a. Membuat penampang memanjang adalah berupa garis potong
yang dibentuk oleh bidang vertikal melalui sumbu jalan, garis
potong vertikal ini digambar dalam bidang kertas gambar dimana
ditunjukan ketinggian dari setiap titik - titik yang dilalui oleh sumbu
jalan.
b. Membuat rencana jalan untuk mengetahui penggalian dan
peninggian terhadap tanah dasar, dan juga mengetahui kelandaian
jalan.
3.3.4 Menghitung Alinemen Vertikal
Dalam menghitung alinemen vertikal ini dipengaruhi jarak pandang
dan tingginya penghalang. Menghitung penyimpangan dari titik pusat
perpotongan vertikal ke lengkung vertikal yaitu dengan cara sebagai
berikut :
a Membuat potongan vertikal pada sumbu jalan yang terdapat
lengkung vertikal cekung maupun lengkung vertikal cembung.
b. Membuat lengkung parabola sederhana pada potongan
vertikal tersebut.
c. Menghitung besarnya pergeseran dari titik pusat perpotongan
vertikal kelengkungan vertikal ( Ev).
d. Menghitung panjang lengkung vertikal (Lv)
e. Menghitung perbedaan kelandaian A = g2 - g1
f. Menghitung panjang lengkung vertikal berdasarkan jarak
pandang (S), berdasarkan penyinaran lampu kendaraan ,
berdasarkan rasa tidak nyaman kepada pengemudi.
❖ Penomoran panjang jalan ( stationing)
Penomoran panjang jalan adalah memberikan nomor pada interval -
interval tertentu dari awal pekerjaan. Nomor jalan (Stajalan)
dibutuhkan sebagai saran komunikasi untuk dengan cepat mengenal
lokasi yang sedang dibicarakan. Di samping itu dari penomoran jalan
tersebut diperoleh informasi tentang panjang jalan secara keseluruhan.
Setiap Sta jalan dilengkapi dengan gambar potongan melintang.
Cara penomoran Sta jalan dimulai 0 + 000 m yang berarti 0 km dan 0
m dari awal pekerjaan. Sta 10 + 250 berarti lokasi jalan terletak pada
jarak 10 km dan 250 meter dari awal pekerjaan. Jika pada tikungan
penomoran dilakukan pada setiap titik penting, jadi terdapat Sta titik TC,
Sta titik CT pada jenis tikungan circel : Sta titik TS, Sta titik SC, Sta
titik CS dan Sta titik ST pad tikungan jenis spiral - circel - spiral dan
juga penomoran pada tikungan spiral - spiral.
❖ Menggambar perencanaan geometrik jalan yang dibuat
berdasarkan perhitungan - perhitungan yang telah dilakukan.
3.4 Metode Perencanaan Galian dan Timbunan
Menghitung volume galian dan timbunan didasarkan atas potongan
memanjang dan potongan melintang dengan langkah - langkah:
1. Menghitung luas galian dan timbunan
2. Menghitung jarak dari potongan memanjang
3. Menghitung volume (luas kali jarak)
3.5. Metode Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur
Metode perencanaan tebal perkerasan lentur ini menggunakan metode
Bina Marga yang dikeluarkan tahun 1987 yaitu buku " Petunjuk
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan metode Analisa
Komponen, SKBI 2326.1987 UDC : 625.73 ". Adapun proses perhitungan
adalah sebagai berikut:
1. Menentukan Jumlah Jalur,
Yang dapat ditentukan dengan tabel 2.26 berdasarkan lebar perkerasan
yang direncanakan.
2. Menentukan Koefisien Distribusi Kendaraan (C),
Untuk kendaraan ringan atau kendaraan berat yang lewat pad jalur
rencana ditentukan menurut tabel 2.27.
3. Tentukan Daya Dukung Tanah Dasar (DDT),
Dengan mempergunakan nilai CBR segmen dengan grafik korelasi
(Nomogram Korelasi).
4. Tentukan Faktor Regional (FR),
Faktor regional hanya dipengaruhi oleh bentuk alinyement (kelandaian dan
tikungan), prosentase kendaraan berat, serta iklim (curah hujan). Dalam
menentukan FR menggunakan tabel 2.29.
5. Menghitung Lalu lintas Harian Rata - rata (LHR) selama umur rencana
dengan rumus : ( 1 + 1 )UR
Dimana :
i = Faktor pertumbuhan lalulintas pertahun
UR = Umur rencana
6. Menghitung Angka Ekivalen ( E ),
Untuk masing - masing golongan beban sumbu setiap kendaraan dengan
tabel 2.28 adapun konfigurasi sumbu kendaraan adalah sebagai berikut :
a. Mobil penumpang, mobil hantaran, pick up (kendaraan ringan 2 ton) =
(1000 kg + 1000 Kg)
b. Bus berat total 8 ton = (3000 Kg + 5000 Kg)
c. Truk 2 as berat total 10 ton = (4000 Kg + 6000 Kg)
d. Truk 3 as berat total 20 ton = (6000 Kg + 7000 Kg + 7000 Kg)
7. Meghitung Lintas Ekivalen Pemulaan ( LEP ) dengan rumus :
LEP = 2 LHRjxCjxEj
8. Menghitung Lintas Ekivalen Akhir ( LEA) dengan rumus :
LEA = 2 LHRj ( 1 + i ) xCjxEj
9. Menghitung Lintas Ekivalen Tengah (LET) = ½ ( LEP + LEA )
10. Menghitung Lintas Ekivalen Rencana ( LER ) = LET + FP
11. Menentukan Indeks Tebal Perkerasan ( ITP ),
Dengan Nomogram 1-9 yaitu dengan cara sebagai berikut :
a. Tentukan Indeks Pemulaan Awal (IP o) dari perkerasan rencana
dengan mempergunakan tabel 2.32.
b. Tentukan Indeks Permukaan Akhir ( Ipt ) dengan mempergunakan
tabel 2.34 yang ditentukan sesuai dengan jenis lapis perkerasan yang
digunakan.
c. Dari IPo dan IPt dapat ditentukan Nomogram 1 - 9 yang dipakai.
d. CBR diketahui terus didapat DDT, dari DDT dihubungkan garis
lurus melalui LER sampai pad ITP.
12. Menentukan Tebal Perkerasan dengan rumus :
ITP = a1D1 + a2D2 + a3D3
Untuk menentukan tebal perkerasan adapun sebelumnya harus
ditentukan sebagai berikut :
a. Sebelumnya tentukan koefisien kekuatan relative (a) dari setiap
jenis lapis perkerasan yang dipilih. Besarnya koefisien kekuatan
relative dapat dilihat pada tabel 2.33.
b. Perkiraan besarnya ketebalan masing - masing jenis lapisan
perkerasan tergantung dari nilai minimum Bina Marga.
3.6 Metode perencanaan Drainase Jalan
Metode perencanaan Drainase jalan raya di dasarkan pada perencanaan
Geometrik jalan ray, rata-rata urah hujan dan kemiringan jalan raya dengan
mengunakan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Menghitung Dimensi saluran yang tergantung pada debit air hujan dan air
di alirkan dari perkerasan ke saluran yang di tentukan atau di hitung
dengan rumus
…………………………………………………….(4.2)
2) Menghitung kemiringan saluran perlu mempertimbangkan besarnya
kemiringan alyniamen vertical jalan yang berupa tanjakan dan penurunan,
agra supaya aliran air seepatnya bias mengalir ke saluran samping. Untuk
itu maka kemiringan melintang perkerasan jalan di sarankan agar
mengunakan nilai-nilai maksimum dari tabel 2.9
3) Menghitung keepatan atau debit pada saluran di tentukan dengan tabel 2.10
dan di hitung dengan rumus
………………………………………(4.1
Zzzzzzzzzz Bengkalis, 16 Oktober 2025
KUASA PENGGUNA ANGGARAN
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG
KABUPATEN BENGKALIS
IRJAUZI SYAUKANI, ST., M.IP
NIP. 19710316 200007 1 001