URAIAN PEKERJAAN
Perencanaan Teknis :
I. Kegiatan Persiapan, yang terdiri dari:
1. Penyusunan jadwal pelaksanaan
2. Koordinasi dengan instansi terkait di Dinas Bina Marga, Cipta Karya dan Tata Ruang
II. Kegiatan Survei Lapangan
Selanjutnya, uraian selengkapnya dari masing-masing bagian pekerjaan tersebut di atas
adalah sebagai berikut :
A. Survei Pendahuluan
1) Melaksanakan studi literatur dan mengumpulkan data sekunder laporan pengelolaan
lingkungan
2) Mengidentifikasi kondisi lahan dan area sekitarnya.
B. Survei Penyelidikan
1) Pengujian Daya Dukung Perkerasan Jalan
Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui nilai California Bearing Ratio (CBR)
lapisan tanah dasar badan jalan yang dilakukan pada ruas-ruas jalan yang belum
beraspal, seperti jalan tanah, jalan kerikil atau jalan aspal yang telah rusak hingga
tampak lapisan pondasinya.
Pemeriksaan dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
i. Alat Dynamic Cone Penetrometer (DCP) yang dipakai harus sesuai dengan
ketentuan-ketentuan.
ii. Pemeriksaan dilakukan dengan interval pemeriksaan 100 m.
iii. Pemeriksaan dilakukan pada sumbu jalan dan permukaan lapisan tanah dasar.
iv. Harus dicatat ketebalan dan setiap bahan perkerasan yang ada seperti lapisan
sirtu, lapisan Telford, lapisan pasir dan sebagainya.
v. Pemeriksaan dilakukan hingga kedalaman 90 cm, dari permukaan lapisan tanah
dasar, kecuali bila dijumpai lapisan tanah yang sangat keras (lapis batuan).
vi. Selama pemeriksaan harus dicatat keadaan-keadaan khusus yang perlu
diperhatikan seperti timbunan, kondisi drainase, cuaca, waktu dan sebagainya.
vii. Lokasi awal dan akhir harus dicatat dengan jelas.
viii. Data yang diperoleh dari pemeriksaan ini, dicatat dalam formulir DL.2.2.2.
2) Inventarisasi Geometrik Jalan
Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk mendapatkan data umum mengenai kondisi
perkerasan yang ada dan kondisi geometrik jalan yang bersangkutan.
Pemeriksaan dilakukan dengan metoda yang disederhanakan, yaitu cukup mencatat
kondisi rata-rata setiap 1.0 km.
Data yang diperoleh dari pemeriksaan ini adalah :
i.Lebar perkerasan yang ada dalam meter
ii.Nilai Kekasaran Jalan (Road Condition Index) yang dapat diperoleh dari hasil survai
NAASRA Roughness Meter atau ditentukan secara visual dengan skala sebagai
berikut :
R C I KONDISI VISUAL TYPE PERMUKAAN TIPIKAL
8 – Sangat rata dan Hotmix (AC dan WC) yang baru
10 mulus dibuat/ditingkatkan dengan
beberapa lapisan aspal.
7 – 8 Sangat baik Hotmix setelah dipakai
umumnya rata beberapa tahun atau lapisan
tipis hotmix di atas Penetrasi
Mc Adam.
6 – 7 Baik Hotmix lama, Nacas/Lasbutag
baru.
5 – 6 Cukup, sedikit/tak Penetrasi Mc Adam, Nacas
ada lubang, baru atau Lasbutag berumur
permukaan tidak beberapa tahun.
rata
4 – 5 Jelek, kadang- Penetrasi Mc Adam berumur 2-
kadang berlubang, 3 tahun, Nacas lama, jalan
tidak rata kerikil tak terawat.
3 – 4 Rusak, Penetrasi Mc Adam lama,
bergelombang Nacas lama, jalan kerikil tak
banyak lubang terawat.
2 – 3 Rusak berat, Semua type perkerasan yang
banyak lubang dan sudah lama tidak terpelihara.
seluruh daerah
perkerasan hancur
< 2 Tidak dapat dilalui Jalan tanah dengan drainase
kecuali oleh jeep 4 jelek, semua type permukaan
WD jalan yang diabaikan sama
sekali.
iii. Kondisi daerah samping jalan serta sarana utilitas yang ada seperti saluran samping,
gorong-gorong, bahu, berm, kondisi drainase samping, jarak pagar/bangunan
penduduk/tebing kepinggir perkerasan.
iv. Lokasi awal dan akhir pemeriksaan harus jelas dan sesuai dengan lokasi yang ditentukan untuk
jenis pemeriksaan lainnya.
v. Data yang diperoleh dicatat didalam formulir DL 3.1.
vi. Membuat foto dokumentasi inventarisasi geometrik jalan minimal 1(satu) foto per 100 meter.
vii. Foto ditempel pada formulir DL 3.2. dengan mencatumkan nomor dan nama ruas jalan, arah
pengambilan foto, tanggal pengambilan foto dan tinggi petugas yang memegang nomor station.
3) Pengukuran Topografi
Pekerjaan pengukuran Tofografi adalah kegiatan pengumpulan data permukaan bumi,
penghitungan dan memetakannya dengan skala tertentu serta disajikan pada lembaran
kertas.
Pekerjaan pengukuran topografi terdiri dari :
i. Pekerjaan rintisan.
Pekerjaan ini berupa kegiatan merintis atau membuka sebagian daerah yang akan
diukur sehingga pengukuran dapat berjalan lancar dan tidak terhalang oleh pohon,
semak belukar atau tanaman umumnya. Perintisan ini diusahakan mengikuti jalur
atau koridor yang telah direncanakan sebagai trase yang dipilih atau atas petunjuk
Pemimpin Proyek/Pengawas.
ii. Pekerjaan pengukuran.
Pekerjaan ini terdiri dari :
− Pengukuran titik kontrol horizontal dan vertikal.
− Pengukuran situasi.
− Pengukuran penampang memanjang dan melintang.
− Pengukuran khusus.
− Perhitungan dan penggambaran peta.
Pekerjaan ini diusahakan mengikuti jalur atau koridor rintisan dan mengadakan
pengukuran tambahan pada daerah persilangan dengan sungai dan jalan lain,
sehingga memungkinkan diperoleh sumbu jalan yang sesuai dengan standar yang
ditentukan.
Awal pengukuran dilakukan pada tempat yang mudah dikenali, aman, dan hendaknya
diikatkan pada titik-titik tetap.
Ketentuan dan tata-cara pelaksanaan pengukuran dilapangan dan cara
penggambarannya, adalah sebagai berikut :
− Pemeriksaan dan koreksi alat ukur
Sebelum dilakukan pengukuran, harus dilakukan pemeriksaan dan koreksi
terhadap alat-alat ukur yang akan digunakan. Pemeriksaan harus dilakukan dilokasi
pekerjaan.
Alat ukur theodolit harus memenuhi syarat-syarat :
º Sumbu I vertical (koreksi nivo kotak & nivo tabung)
º Sumbu II tegak lurus sumbu I
º Kesalahan kolimasi horizontal = 0
º Kesalahan index vertikal = 0
Alat ukur waterpass, harus memenuhi syarat-syarat :
º Sumbu I vertical (koreksi nivo kotak & nivo tabung)
º Garis bidik harus sejajar dengan garis arah nivo.
Cara pemeriksaan dan koreksi alat berdasarkan pada standar teori ilmu ukur tanah,
atau buku petunjuk pemakaian alat.
Hasil pemeriksaan dan koreksinya serta hasil akhir setelah dikoreksi harus dicatat
dalam buku ukur sesuai pekerjaannya, dan dilampirkan dalam laporan.
− Pemasangan Patok-patok
Patok-patok beton dibuat dengan ukuran 10 x 10 x 75 Cm atau 10 x 75 cm dipasang
pada tempat yang cukup aman dengan jarak setiap 100 M dan pada perpotongan
rencana jalan dengan sungai (2 buah seberang menyeberang). Patok-patok beton
tersebut harus ditanam kuat-kuat kedalam tanah sepanjang kurang lebih 65 Cm (sisa
di atas ± 10 Cm).
Patok-patok kayu yang digunakan untuk pengukuran poligon, sipat datar dan detail-
detail situasi, harus dipilih kayu yang cukup keras, lurus dengan diameter sekitar 5
Cm, panjang 50 Cm, bagian bawahnya diruncingkan, bagian atas dan bagian
tengahnya diratakan untuk penulisan nomor patok. Patok harus ditanam cukup kuat
sedalam lebih kurang 30 Cm.
Baik patok-patok beton (BM) maupun patok-patok kayu diberi tanda cat kuning, dan
diberi nomor urut dengan tulisan hitam yang diletakkan pada lokasi yang diperkirakan
aman dari kegiatan konstruksi dikemudian hari.
Untuk memudahkan pencarian patok-patok sebaiknya pada pohon-pohon disekitar
patok diberi cat atau pita atau tanda-tanda tertentu yang dapat terlihat dengan jelas.
Khusus untuk profil memanjang yang titik-titiknya terletak disumbu jalan, diberi paku
dengan dilingkari cat kuning sebagai tanda dan nomor urut/STA (bila badan jalannya
sudah beraspal).
iii. Pengukuran titik kontrol horizontal.
Pengukuran titik kontrol horizontal dilakukan dalam bentuk polygon. Jarak antar titik
poligon maksimal 100 meter dan jarak ini diukur dengan menggunakan meteran.
Patok-patok untuk titik-titik poligon ini terbuat dari kayu dan patok-patok untuk titik
ikatnya terbuat dari beton. Sudut-sudut poligon diukur menggunakan alat ukur
theodolit dengan ketelitian dalam detik terbaca.
Tingkat ketelitian pengukuran poligon tersebut adalah :
o Kesalahan sudut horizontal yang diijinkan adalah 10 detik kali akar jumlah titik
poligon.
o Batas kesalahan azimuth adalah tidak lebih dari 5 detik.
o Pengamatan matahari dilakukan pada titik awal dan akhir proyek serta pada setiap
jarak 5 km jalur pengukuran. Setiap pengamatan matahari dilakukan dalam 4 seri
rangkap (4 biasa dan 4 luar biasa).
iv. Pengukuran titik kontrol vertikal.
Pekerjaan pengukuran titik kontrol vertikal menggunakan alat pengukur ketinggian
(waterpas) orde II dengan rambu ukur yang baik kondisinya.
Pelaksanaan pengukurannya dilakukan dengan cara dua kali mendirikan alat. Batas
ketelitian yang dicapai tidak lebih besar dari 10 kali akar D (milimeter). D adalah
panjang pengukuran (km) dalam 1 (satu) hari. Setiap kali pembacaan, dicatat bacaan
Benang Atas (BA), Benang Tengah (BT) dan Benang Bawah (BB) dalam satuan
milimeter
v. Pengukuran Situasi.
Pengukuran situasi dilakukan dengan cara Tachymetri dengan ketelitian alat yang
digunakan adalah 30 detik terbaca. Pengukuran mencakup semua keterangan yang
ada di daerah sepanjang rencana jalan tersebut. Pada tempat-tempat yang
merupakan perpotongan dengan sungai atau dengan jalan lain, pengukurannya
diperluas. Tempat-tempat yang merupakan sumber material jalan yang terdapat di
sekitar jalur pengukuran, dilakukan pengukurannya dan dicatat untuk dipetakan serta
di foto.
vi. Pengukuran Penampang Memanjang dan Melintang
Tujuan pengukuran ini adalah untuk menentukan volume galian dan timbunan.
− Pengukuran Penampang Memanjang
Pengukuran ini dilakukan sepanjang sumbu rencana jalan. Peralatan yang
digunakan sama dengan peralatan yang digunakan pada pengukuran situasi.
− Pengukuran Penampang Melintang.
Pengukuran ini dilakukan setiap 25 meter baik pada jalur lurus maupun pada jalur
menikung atau pegunungan. Rentang atau lebar pengukuran penampang
melintang 15 meter ke kiri dan ke kanan dari sumbu rencana atau sampai batas
daerah milik jalan. Peralatan yang digunakan sama dengan peralatan yang
digunakan pada pengukuran situasi.
4) Pemeriksaan Lokasi Sumber Material
Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui informasi mengenai bahan-bahan
perkerasan yang dapat dipakai untuk pelaksanaan pekerjaan konstuksi pada ruas jalan
yang akan dikerjakan. Informasi yang diperoleh dari pemeriksaan ini adalah :
i. Jenis bahan untuk perkerasan yang ada, misalnya pasir, kerikil, tanah timbunan,
batu.
ii. Lokasi quarry setiap jenis bahan perkerasan berikut perkiraan jumlah yang ada.
iii. Perkiraan harga satuan tiap jenis perkerasan.
iv. Perkiraan jarak pengangkutan bahan dari quarry ke base camp proyek.
v. Peta lokasi quarry berikut keterangan lokasinya (Km, Sta).
vi. Data yang diperoleh dicatat dalam formulir DL 4.
5) Penelitian Hidrologi
Penelitian Hidrologi dilaksanakan dengan tujuan untuk mengumpulkan data yang
diperlukan dalam analisa Hidrologi dan selanjutnya dapat dipakai untuk perencanaan
drainase sepanjang jalan. Sedangkan perencanaan drainase sangat diperlukan untuk
penentuan jenis dan dimensi dari bangunan-bangunan saluran samping, serta bentuk
potongan jalan yang direncanakan.
Penelitian dilakukan dengan bantuan data statistik yang ada didaerah setempat serta
mengindentifikasi curah hujan yang paling berpengaruh terhadap daerah tangkapan
sehingga akan mendapatkan data yang paling optimal.
Penelitian Hidrologi ini meliputi:
i. Mengambil peta topografi pada daerah sekitar ruas jalan yang ada dengan skala 1
: 250.000 serta peta situasi skala 1 : 1000.
ii. Mengambil data curah hujan dan banjir tahunan dari sumber-sumber yang
bersangkutan (data dalam 10 tahun terakhir).
iii. Menginventarisir gorong-gorong dan saluran samping existing (bila ada), meliputi :
− STA / KM
− Dimensi gorong-gorong
− Kondisi gorong-gorong
iv. Menginventarisir konstruksi jembatan bentang <10 meter (bila ada), meliputi :
− STA / KM
− Dimensi
− Kondisi jembatan/pola aliran sungai
v. Memprediksi kemungkinan terjadinya curah hujan yang paling besar agar dapat
memperkirakan besarnya intensitas curah hujan dan banjir rencana dengan
metoda-metoda yang ada.
vi. Dari data lapangan dan hasil perhitungan tersebut di atas, selanjutnya menentukan
:
− Jenis dan dimensi bangunan drainase yang diperlukan, seperti saluran samping
dan sejenisnya.
− Jenis dan dimensi gorong-gorong tambahan yang diperlukan serta lokasinya.
vii. Membuat laporan lengkap mengenai perihal tersebut di atas, yang meliputi :
− Perencanaan saluran dan gorong-gorong, box culvert (jika diperlukan) lengkap
dengan kapasitas, STA, dan dimensi, gambar-gambar potongan dan saran-saran
yang diperlukan (dalam bentuk tabel).
− Grafik-grafik dan tabel intensitas curah hujan pada sekitar ruas jalan yang
bersangkutan.
− Pemilihan type sarana Drainase Standar berdasarkan kelas jalan
III. Proses dan Hasil Analisis Data
1) Standar Perencanaan Geometrik
Dalam merencanakan geometrik jalan, sejauh mungkin berpegang pada buku
peraturan Standar Spesifikasi Teknik Perencanaan Geometrik Jalan Raya Tahun 2018
Dirjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum.
2) Perencanaan Perkerasan Jalan
Berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan, konsultan harus mengadakan analisa
data dan perencanaan perkerasan jalan dengan mengikuti ketentuan-ketentuan
sebagai berikut :
i. Analisa lendutan balik atau CBR rencana
Lendutan balik rencana atau CBR rencana, ditentukan dengan menggunakan
program komputer yang tersedia, dimana untuk Lendutan balik (D) ditentukan
berdasarkan formula :
D = x + 1.0 s
D = lendutan balik rencana pada section tertentu
x = lendutan balik rata-rata pada section tertentu
s = standar deviasi pada section tertentu
Nilai CBR rencana ditentukan dengan formula :
CBR (disain) = CBR (rata-rata) – 1 Standar Deviasi
ii. Analisa data lalu lintas, untuk menghitung besarnya beban gandar kumulatif
selama umur rencana dan menghitung besarnya ADT pada pertengahan umur
rencana.
iii. Penentuan unique section, yaitu suatu seksi jalan yang mempunyai karakteristik
kurang lebih seragam dalam beberapa variabel desain seperti :
- lebar perkerasan yang ada
- lendutan balik rencana/nilai CBR rencana
- nilai beban lalu lintas
- perubahan camber/kemiringan melintang
iv. Mempelajari kemungkinan pemakaian tipe bahan perkerasan yang sesuai untuk suatu daerah
tertentu. Type perkerasan yang diijinkan dalam pekerjaan ini adalah type yang sekarang
dipakai Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah.
v. Melakukan disain tebal perkerasan tambahan menurut metode Road Design System yaitu
program komputer yang dikembangkan oleh Ditjen Prasarana Wilayah (dahulu Ditjen Bina
Marga) dengan menggunakan umur rencana 10 (sepuluh) tahun.
vi. Menyiapkan gambar-gambar khusus yang diperlukan untuk setiap ruas jalan tertentu/setiap
paket, yaitu :
a. Gambar 1.01 : Alignment dan Cakupan Kontrak
b. Gambar 1.04 : Jadwal/Daftar Kuantitas
c. Gambar 1.06 : Sumber Material
d. Gambar 2.01 : Ukuran Perkerasan
3) Konsep Detail Perencanaan
Konsultan wajib membuat konsep perencanaan teknis (Draft Design) dari setiap detail
perencanaan kemudian melaporkannya kepada Koordinator Pengawas untuk
dimintakan persetujuannya. Konsep perencanaan tersebut digambar di atas kertas
milimeter atau langsung di atas kertas standard sheet yang telah ditetapkan oleh
Pemberi Tugas.
Detail perencanaan teknis yang perlu dibuatkan konsep perencanaannya, antara lain :
i. Plan (alinyemen horizontal) digambar di atas peta situasi skala 1:1000 dengan
interval garis tinggi 1 (satu) meter dan dilengkapi dengan index, antara lain :
− Lokasi (STA) dan nomor-nomor titik kontrol horizontal/vertikal.
− Lokasi dari semua data topografis yang penting seperti batas rawa, kebun,
hutan lindung, rumah, sungai dan lain-lain.
− Elemen-elemen lengkung horizontal (curva data) yang direncanakan dengan
bentuk tikungan full circle atau lengkung peralihan untuk sudut lengkung > 20º
− Lokasi dari gorong-gorong dan jembatan.
Setelah disetujui Koordinator Pengawas maka draft desain tersebut dapat
langsung dipindahkan ke kertas standard sheet.
ii. Profil (alinyemen vertikal)
Konsep alinyemen vertikal dapat langsung digambar (dengan pensil) di atas
standard sheet dibagian bawah dari gambar alinyemen horizontal. Alinyemen
vertikal digambar dengan skala horizontal 1:1000 dan skala vertikal 1:100 yang
mencakup hal-hal berikut :
− Tinggi elevasi sumbu jalan dan tinggi nomor potongan melintang
− Kondisi dan rencana kemiringan maksimum dari lengkung horizontal (diagram
superelevasi).
− Elemen-elemen/data-data lengkung vertikal.
iii. Potongan melintang (Cross Section)
Gambar potongan melintang dibuat menurut peta topografi sesuai keadaan pada
lokasi yang ditentukan di atas kertas standard sheet dengan skala horisontal 1:100
dan skala vertikal 1:50. Stationing dilakukan setiap interval 25-50 meter.
iv. Bangunan Standar Pelengkap dan Drainase (Skala 1:10)
Gambar ini mencakup semua detail bangunan-bangunan lengkap dengan
bangunan-bangunan Drainase seperti turap pelindung talud, gorong-gorong,
saluran pasangan batu dan lain-lain.
4) Gambar Perencanaan Akhir (Final Design)
Pembuatan gambar trase jalan selengkapnya, dilakukan setelah Draft Design
mendapat persetujuan dari Pemberi Tugas dengan mencantumkan koreksi-koreksi dan
saran-saran yang diberikan oleh Pemberi Tugas, berikut posisi alternatif trase yang
pernah diteliti. Final Design digambar di atas kertas standard sheet.
Gambar perencanaan akhir tersebut selengkapnya terdiri dari :
i. Sampul luar (cover) dan sampul dalam.
ii. Lembar judul yang memuat lay-out jalan skala 1:50.000
iii. Lembar simbol dan singkatan
iv. Gambar center line jalan skala 1:5000 dilengkapi dengan jalur polygon serta
koordinat dari semua patok pengukuran.
v. Lembar daftar volume pekerjaan.
vi. Typical cross section skala 1:100 dilengkapi dengan detail konstruksi perkerasan
dan saluran samping.
vii. Plan dan Profil
• Skala horizontal 1 : 1000, skala vertikal 1:100
• Dilengkapi dengan detail situasi yang ada, letak dan tanda patok kayu dan beton,
letak dan ukuran jembatan/gorong-gorong, tanda-tanda lalu-lintas dan
sebagainya.
viii. Potongan Melintang (Cross Section) :
• Skala horisontal 1:100, skala vertikal 1:50
• Dibuat setiap jarak 25 m
ix. Lembar daftar jembatan dan gorong-gorong
x. Lembar gambar bangunan pelengkap lainnya (jika diperlukan).
Gambar rencana jalan ini sebelum digandakan, agar dimintakan persetujuan dari
Pemberi Tugas (1 set cetak biru/blue print diserahkan kepada Pemberi Tugas). Jika
telah disetujui maka disebut Dokumen DED (Detailed Engineering Design) beserta
RKS dan EE.
5) Perhitungan Volume Pekerjaan Fisik
Daftar volume pekerjaan disusun menurut mata pembayaran didalam Dokumen
Kontrak. Volume pekerjaan tanah dihitung dari gambar cross section.
6) Perhitungan Biaya Pelaksanaan Fisik
− Perhitungan Harga Satuan untuk setiap mata pembayaran
− Perkiraan biaya untuk setiap segmen jalan
− Daftar Harga Satuan Bahan dan Upah dilampirkan
7) Kegiatan Pendukung
− Kegiatan Operasional kantor dan lapangan
− Dokumentasi foto
− Pembuatan laporan-laporan sesuai KAK