| 0010000503051000 | Rp 90,568,785,000 | |
| 0021449053081000 | - | |
| 0810835702063000 | - | |
PT Oseanland Survei Indonesia | 09*0**0****35**0 | - |
| 0610219800411000 | - | |
PT Rubotori Petrotech Indonesia | 03*2**2****14**0 | - |
| 0017763160411000 | - | |
CV Multi Mitra Integra | 02*0**2****29**0 | - |
PT Nawala Agastya Selaras | 00*8**3****21**0 | - |
| 0016468944019000 | - | |
PT Peppas Karya Bersama | 02*5**6****17**0 | - |
| 0033037854022000 | - | |
Ardana Langgeng Raharjo | 02*3**5****16**0 | - |
URAIAN SINGKAT PEKERJAAN AKUISISI DATA SURVEI UMUM MIGAS FULL
TENSOR/AIRBORNE GRAVITY-GRADIOMETRY DAN MAGNETIK DAERAH
LARIANG DAN ENREKANG
a) A.2 Gambaran Umum
Pada tahun 2024, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah
berhasil mengidentifikasi 128 cekungan sedimen yang berpotensi memiliki keterdapatan
kandungan minyak dan gas bumi. Dari sekian banyak cekungan yang teridentifikasi tersebut, lebih
dari 70 cekungan belum diidentifikasi potensi cekungan sedimennya. Kendala utama pelaksanaan
kegiatan penyelidikan di cekungan ini adalah belum tersedianya data – data geologi dan geofisika
yang cukup untuk menjamin keberhasilan pengindentifikasian potensi cekungan sedimen.
Sesuai dengan salah satu tugas fungsi Badan Geologi dalam upaya mengatasi menurunnya
cadangan dan produksi migas nasional antara lain adalah dengan melakukan survei umum migas
salahsatunya akuisisi data Full Tensor/Airborne Gravity Gradiometry dan Magnetik serta
menyediakan informasi sistem petroleum beserta potensinya bagi kepentingan umum dan daya
tarik investasi. Oleh karena itu pada sejak tahun 2023, Badan Geologi berupaya untuk melakukan
pengumpulan data dan informasi potensi cekungan sedimen melalui akuisisi data permukaan dan
bawah permukaan.
Full Tensor/Airborne Gravity Gradiometry dan Magnetik semakin banyak dilakukan di
berbagai tempat di seluruh dunia. Di Indonesia hal tersebut juga sudah mulai dilakukan terutama
di daerah frontier yang dianggap memiliki prospek khususnya hidrokarbon. Presentasi ini
dimaksudkan untuk memberi gambaran mengenai prinsip dasar dari metode yg relatif baru di
Indonesia. Pengukuran dan pemrosesan data gravitasi yang menghasilkan besaran gradien, baik
secara horizontal maupun vertikal sebenarnya bukan hal yang baru. Namun selama ini pengukuran
gradien masih terbatas pada satu arah, yaitu gradien vertikal dengan cara mengukur percepatan
gravitasi di satu titik pengamatan pada minimal dua ketinggian yang berbeda. Gradien horizontal
diperoleh dari selisih hasil pengukuran pada dua atau lebih titik pengamatan yang pada dasarnya
sudah merupakan fungsi spasial. Besaran gradien diharapkan dapat memperjelas batas-batas benda
anomali dan memudahkan interpretasi data gravitasi. Secara matematik, gradien gravitasi pada
berbagai arah (komponen) dapat dilakukan melalui proses pemfilteran baik dalam domain spasial
maupun dalam domain frekuensi spasial. Namun proses tersebut berakibat pada penguatan
(amplifikasi) anomali gravitasi frekuensi tinggi, termasuk noise sehingga menimbulkan kesulitan
dalam interpretasi hasilnya. Rencana lokasi kegiatan akuisisi data Full Tensor/Airborne Gravity
Gradiometry dan Magnetik pada tahun 2025 dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 1 Peta Lokasi Rencana Akuisisi Data Full Tensor/Airborne Gravity Gradiometry dan
Magnetik daerah Lariang dan Enrekang
Penentuan lokasi area akuisisi data Full Tensor/Airborne Gravity Gradiometry dan Magnetik,
mempertimbangkan aspek – aspek berikut:
1. Keterdapatan rembesan hidrokarbon
2. Sumur produksi pada area dengan kondisi geologi regional yang serupa
3. Komponen petroleum system yang terbukti ada dan bekerja pada area penyelidikan
4. Sudah ada penyelidikan keprospekan pada sebagian area penyelidikan
5. Rekomendasi dari Tim Kepmen KESDM
A. LOKASI PEKERJAAN
Area lokasi akuisisi data Full Tensor/Airborne Gravity Gradiometry dan Magnetik ini akan
dilakukan di daerah :
1. Lariang yang meliputi wilayah Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Mamuju Tengah di
Provinsi Sulawesi Barat yang terletak pada koordinat 1o 21’ 43.2” LS - 2o 28’ 19.2” LS dan
119o 6’ 25.2” BT - 119o 15’ 54” BT (Gambar 2)
2. Enrekang yang meliputi wilayah Kabupaten Mamuju, Kabupaten Majene, Kabupaten Mamasa,
Kabupaten Poliwali Mandar di Provinsi Sulawesi Barat, serta Kabupaten Luwu Utara, Kota
Palopo, Kabupaten Luwu, Kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten
Enrekang, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Sidenreng Rappang, Kota Parepare, Kabupaten
Wajo, Kabupaten Barru, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan yang
terletak pada koordinat 2o 32’2.4” LS - 4o 14’ 24” LS dan 118o 45’3.6” BT - 120o 27’ 39.6”
BT (Gambar 2).
Gambar 2 Rencana lokasi akuisisi Full Tensor/Airborne Gravity Gradiometry dan
Magnetik daerah Lariang dan Enrekang