METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN
REHABILITASI PAGAR SMP 10 KOTA
I. PEKERJAAN PERSIAPAN
1. Papan Nama Pekerjaan
Papan Nama Proyek akan dibuat dan dipasang pada awal pelaksanaan
kegiatan.Papan Nama Proyek ini dibuat dari spanduk dengan ukuran 100 x 120 cm,
ditopang kayu (5/7) kelas 2 dengan tinggi 250 cm dari permukaan tanah dan dicat dasar
warna yang sesuai dan huruf cetak berwarna hitam yang berisi informasi mengenai
cakupan kegiatan yang akan dilaksanakan, antara lain :
- Nama Kegiatan
- Pekerjaan yang harus dilaksanakan
- Biaya pekerjaan/ nilai kontrak
- Sumber dana
- Jangka waktu
- Nama penyedia jasa
Papan nama proyek dipasang pada lokasi yang mudah dilihat oleh masyarakat,serta
tidak mengganggu lalu lintas.
2. Pembongkaran
a. Pembongkaran Manual.
- Metode ini menggunakan tenaga manusia dan peralatan tangan seperti palu,
linggis, dan gergaji untuk membongkar bangunan sedikit demi sedikit.
- Cocok untuk bangunan kecil atau bagian bangunan yang sulit dijangkau oleh
alat berat.
1
- Pekerjaan pembongkaran manual membutuhkan kehati-hatian dan ketelitian
untuk menghindari kecelakaan kerja.
b. Pembongkaran Mekanis.
- Metode ini menggunakan alat berat seperti ekskavator, buldoser, dan crane
untuk merobohkan dan mengangkat material bangunan.
- Lebih cepat dan efisien dibandingkan pembongkaran manual, terutama untuk
bangunan besar.
- Perlu perencanaan yang matang untuk memastikan keamanan dan menghindari
kerusakan pada bangunan sekitarnya.
- Beberapa metode mekanis yang umum digunakan :
1. Ekskavator dengan lengan panjang digunakan untuk membongkar bangunan
dari atas kebawah.
2. Bola baja besar yang diayunkan oleh crane digunakan untuk merobohkan
bangunan.
3. Metode ini menggunakan bahan peledak untuk meruntuhkan bangunan
dengan cepat dan terkontrol.
II. REHABILITASI PAGAR
2
1. Galian Tanah Manual
a. Persiapan
- Tentukan lokasi, dimensi, dan kedalaman galian sesuai gambar rencana.
- Singkirkan material seperti tumbuhan, puing, atau benda lain yang mengganggu
area galian.
- Buat bouwplank sebagai patokan elevasi dan dimensi galian agar sesuai dengan
rencana.
b. Pelaksanaan Galian
- Gunakan cangkul atau alat manual lainnya untuk menggali tanah sesuai
kedalaman yang direncanakan.
- Pindahkan tanah hasil galian menggunakan pengki, ember, atau alat lain ke area
penumpukan sementara.
- Jika tanah hasil galian tidak diperlukan, buang ke lokasi pembuangan yang telah
ditentukan, bisa dengan dump truck atau cara manual.
- Jaga kemiringan dinding galian agar stabil dan aman.
c. Pengecekan dan Perapihan
- Pastikan dimensi dan elevasi galian sesuai dengan gambar rencana.
- Rapikan dinding dan dasar galian agar sesuai dengan spesifikasi yang
dibutuhkan.
- Jika ada air dalam galian, lakukan penanganan seperti pemompaan atau
pembuatan saluran drainase.
d. Keselamatan Kerja
- Pastikan pekerja menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti helm, sepatu,
dan sarung tangan.
- Pastikan dinding galian stabil untuk mencegah runtuhan.
- Hindari penumpukan tanah di dekat tepi galian yang dapat membahayakan
3
pekerja.
- Hati-hati terhadap utilitas bawah tanah seperti kabel dan pipa.
2. Timbunan Atau Urukan Secara Manual
a. Persiapan.
- Pastikan area yang akan ditimbun bersih dari sampah, puing-puing, dan material
lain yang tidak diinginkan. Lakukan juga pengukuran dan pemasangan
bouwplank untuk menentukan elevasi yang diinginkan.
- Siapkan material timbunan yang sesuai dengan spesifikasi teknis. Material ini
bisa berupa tanah biasa, sirtu (pasir batu), atau material lain yang memenuhi
syarat.
- Lakukan pengecekan terhadap kualitas material timbunan, termasuk kadar air
dan jenis tanah. Pastikan material yang digunakan sesuai dengan persyaratan
teknis yang berlaku.
b. Pelaksanaan.
- Material timbunan dihamparkan secara manual lapis demi lapis dengan
ketebalan tertentu (biasanya tidak lebih dari 10 cm untuk pemadatan manual).
- Pemadatan dilakukan dengan alat pemadat manual seperti penumbuk loncat
mekanis atau timbris (tamper) manual. Pemadatan dilakukan secara merata
pada setiap lapisan untuk mencapai kepadatan yang diinginkan.
- Pada beberapa kasus, terutama untuk timbunan sirtu, pembasahan dilakukan
sebelum dan selama pemadatan untuk membantu pemadatan tanah.
- Setelah setiap lapisan dipadatkan, lakukan pengujian kepadatan untuk
memastikan bahwa kepadatan yang disyaratkan telah tercapai sebelum
melanjutkan ke lapisan berikutnya.
c. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan.
- Pemadatan manual biasanya dilakukan pada area yang tidak dapat dijangkau
oleh alat berat, seperti area di sekitar bangunan, saluran, atau area dengan
4
kemiringan tertentu.
- Perhatikan kadar air material timbunan. Terlalu kering atau terlalu basah akan
mempengaruhi hasil pemadatan.
- Saat memadatkan, pastikan ada overlap antar jalur pemadatan untuk
memastikan seluruh area tertutup dengan baik.
- Capai kepadatan kering lapangan yang sesuai dengan persyaratan teknis.
- Pastikan pekerja menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai dan
mengikuti prosedur keselamatan kerja yang berlaku.
3. Pemadatan Secara Manual
a. Persiapan Area.
- Bersihkan area dari sampah, akar tanaman, dan material lain yang tidak
diperlukan.
- Pastikan permukaan tanah rata dan siap untuk ditimbun atau dipadatkan.
- Jika diperlukan, lakukan penyiraman air untuk membantu proses pemadatan,
terutama pada tanah yang kering.
b. Penghamparan Material.
- Timbun tanah secara bertahap dengan ketebalan yang sesuai, biasanya sekitar
20 cm per lapisan, untuk memudahkan pemadatan.
- Hamparkan material secara merata menggunakan alat bantu seperti sekop atau
garu.
c. Pemadatan.
- Gunakan stamper atau alat pemadat tangan untuk memadatkan tanah lapis
demi lapis.
- Posisikan alat pemadat di atas tanah dan tekan dengan kuat secara berulang-
ulang hingga mencapai kepadatan yang diinginkan.
- Pastikan seluruh area tertutup pemadatan secara merata.
d. Pemadatan.
5
- Lakukan pengecekan visual untuk memastikan tidak ada bagian yang terlewat.
- Jika diperlukan, lakukan pengujian kepadatan tanah untuk memastikan
memenuhi standar yang berlaku.
4. Pemasangan Anstamping Batu Kosong
a. Persiapan.
- Siapkan alat dan bahan: batu kali, pasir, dan alat bantu seperti cangkul, sekop,
dan waterpass.
- Bersihkan area kerja dari material yang tidak diperlukan.
- Pasang bouwplank sebagai panduan elevasi dan posisi aanstamping.
b. Syarat Teknis
- Susunan batu harus rapat dan tidak ada rongga besar antar batu.
- Pasangan batu harus tegak lurus dan stabil.
- Celah antar batu harus diisi penuh dengan pasir untuk mencegah pergeseran.
- Aanstamping harus memiliki ketinggian yang sesuai dengan perencanaan,
biasanya setinggi 25 cm atau lebih.
- Batu kali yang digunakan harus berkualitas baik dan berukuran sedang, tidak
terlalu kecil atau terlalu besar.
c. Pelaksanaan
- Susun batu kali secara rapat dan saling mengunci pada dasar pondasi (pasir
urug yang telah dipadatkan), tanpa menggunakan adukan.
- Pastikan batu terpasang tegak lurus dan tidak ada celah besar antar batu.
- Isikan pasir pada celah-celah antar batu untuk mengisi rongga dan memadatkan
susunan.
- Siram pasangan batu kosong dengan air untuk membantu pemadatan.
- Periksa kembali ketinggian dan kelurusan aanstamping menggunakan
waterpass.
- Lanjutkan pemasangan aanstamping hingga mencapai elevasi yang diinginkan.
6
- Setelah aanstamping selesai, lakukan pemasangan pondasi batu kali (dengan
adukan) di atasnya.
5. Pondasi Menerus Batu Belah
a. Persiapan
- Bersihkan area kerja dari segala jenis material yang mengganggu seperti puing-
puing, tumbuhan, dan sampah.
- Pasang bouwplank (patok kayu dengan benang) sebagai panduan batas dan
elevasi pondasi.
- Pastikan elevasi dasar galian sesuai dengan gambar rencana menggunakan alat
waterpass.
b. Syarat Teknis.
- Batu belah harus berkualitas baik, keras, tidak mudah pecah, dan memiliki
permukaan yang kasar.
- Batu belah harus bersih dari kotoran dan memiliki ukuran yang beragam, dengan
diameter antara 10 cm hingga 30 cm.
c. Pemasangan Lapisan Dasar.
- Tebarkan lapisan pasir urug setebal 5-10 cm di atas dasar galian yang telah
dipadatkan.
- Pasang lapisan batu belah pertama sebagai dasar pondasi, pastikan batu terikat
dengan adukan.
d. Pemasangan Batu Belah.
- Susun batu belah secara sistematis dengan memperhatikan ukuran dan bentuk
batu agar saling mengunci.
- Isi celah antar batu belah dengan adukan (1 PC : 5 pasir pasang).
- Susun batu belah pada sisi-sisi miring pondasi dengan kemiringan yang sesuai.
- Susun batu belah sedemikian rupa sehingga membentuk tampang trapesium
7
yang kokoh.
6. Penulangan Beton
a. Persiapan.
- Pelajari gambar rencana untuk mengetahui jenis, ukuran, dan posisi tulangan
yang akan dipasang.
- Pastikan area pemasangan tulangan bersih dari kotoran, minyak, karat, dan
bahan lain yang dapat mengurangi daya rekat tulangan.
- Siapkan alat seperti kawat bendrat, alat pemotong tulangan, alat pengikat, serta
alat bantu lainnya.
- Potong dan bentuk tulangan sesuai dengan gambar rencana.
- Pemeriksaan mutu dan ukuran besi tulangan sesuai dengan gambar kerja.
- Penyimpanan besi tulangan yang benar untuk mencegah karat dan kerusakan.
b. Syarat Teknis.
- Menggunakan besi tulangan dengan mutu yang sesuai (misalnya, BJTS 42,
BJTP 28), dan baja profil yang memenuhi standar.
- Gunakan tulangan baja yang sesuai dengan standar, memiliki mutu dan
diameter yang sesuai dengan gambar rencana.
- Memastikan dimensi tulangan dan struktur baja sesuai dengan gambar rencana.
- Menjaga jarak antar tulangan dan antara tulangan dengan permukaan beton
(selimut beton) sesuai standar.
- Tulangan harus sesuai dengan jenis dan ukuran yang tertera dalam gambar
kerja.
- Tulangan harus memiliki kekuatan tarik yang cukup untuk menahan gaya tarik
dalam struktur beton bertulang.
- Tulangan harus bebas dari cacat, karat, dan bahan lain yang dapat mengurangi
daya rekat.
- Jika diperlukan penyambungan tulangan, panjang overlap harus sesuai dengan
8
standar untuk memastikan kontinuitas transfer gaya.
- Jarak antar tulangan harus sesuai dengan standar yang berlaku untuk
memastikan distribusi gaya yang merata dalam beton.
- Tulangan harus terlindungi oleh selimut beton yang cukup tebal untuk mencegah
korosi dan memberikan perlindungan terhadap api.
c. Pemasangan.
- Tulangan diletakkan pada posisi yang tepat sesuai gambar, memastikan jarak
antara tulangan dan bekisting terpenuhi.
- Tulangan diikat dengan kawat bendrat atau pengikat lainnya agar posisinya tidak
berubah selama pengecoran.
- Jika diperlukan, gunakan penyangga (spacer) untuk menjaga jarak tulangan dari
dasar bekisting dan memastikan selimut beton yang cukup.
- Pasang tulangan utama (memanjang dan melintang) di bagian bawah bekisting,
pastikan jarak antar tulangan sesuai dengan gambar kerja.
- Pasang tulangan utama lapis kedua di atas tulangan utama bawah, pastikan
terikat kuat dengan kawat bendrat.
- Jika ada, kaitkan tulangan plat dengan tulangan balok untuk memperkuat
struktur.
- Gunakan tahu beton untuk menjaga jarak selimut beton antara tulangan dan
bekisting.
7. Pemasangan Bekisting
a. Persiapan.
- Tentukan dimensi dan bentuk bekisting sesuai dengan desain struktur yang akan
dibuat (kolom, balok, plat).
- Pilih bahan bekisting yang sesuai, seperti kayu, multipleks, atau bahan lainnya
yang kuat dan tahan terhadap tekanan beton.
- Siapkan alat-alat yang dibutuhkan, seperti gergaji, palu, paku, meteran,
9
waterpass, dan alat pelindung diri.
b. Syarat Teknis.
- Bekisting harus mampu menahan berat sendiri, berat beton segar, getaran, dan
beban lain yang mungkin timbul selama pengecoran.
- Bekisting harus kaku dan stabil agar tidak berubah bentuk atau bergeser saat
pengecoran, terutama pada bagian tepi dan sudut.
- Bekisting harus aman bagi pekerja dan tidak menimbulkan bahaya selama
proses pemasangan dan pembongkaran.
- Bekisting harus kedap air untuk mencegah hilangnya air semen yang dapat
mempengaruhi kualitas beton.
- Bekisting harus dibuat sesuai dengan ukuran dan bentuk yang telah ditentukan
dalam gambar rencana.
- Permukaan bekisting yang bersentuhan dengan beton harus rata dan halus
untuk menghasilkan permukaan beton yang rapi.
- Penyangga bekisting harus kuat dan kokoh untuk menahan beban dan
mencegah deformasi.
- Lakukan pengecekan secara berkala terhadap kekuatan, kekakuan, dan posisi
bekisting selama proses pengecoran.
- Pemasangan bekisting harus sesuai dengan standar yang berlaku dan mengikuti
petunjuk teknis dari perencana atau kontraktor.
c. Perakitan Bekisting.
- Pemotongan dan Pembentukan: Potong dan bentuk bahan bekisting sesuai
dengan ukuran yang telah ditentukan.
- Rangkai kayu atau bahan lain untuk membentuk kerangka bekisting yang kokoh
dan sesuai dengan bentuk yang diinginkan.
- Pasang penyangga (scaffolding, tiang penyangga) untuk menopang bekisting
dan menahannya agar tidak bergeser atau berubah bentuk.
10
d. Pemasangan Bekisting.
- Tandai posisi bekisting sesuai dengan gambar rencana.
- Susun dan pasang bekisting pada posisi yang telah ditandai, pastikan bekisting
terpasang dengan kuat dan kokoh.
- Lakukan penyetelan dan perataan bekisting untuk memastikan posisi yang benar
dan sesuai dengan desain.
8. Pembongkaran Bekisting
a. Pembongkaran bekisting tidak boleh dilakukan sebelum beton mencapai kekuatan
yang disyaratkan sesuai dengan standar yang berlaku (misalnya, PBI 1971). Waktu
pembongkaran juga harus mempertimbangkan jenis elemen struktur (kolom, balok,
pelat) dan kondisi lingkungan.
b. Siapkan peralatan yang dibutuhkan untuk pembongkaran, seperti kunci pas, linggis,
palu, alat pelindung diri (APD) seperti helm, sarung tangan, dan sepatu keselamatan,
serta alat bantu angkut jika diperlukan.
c. Pembongkaran bekisting kolom umumnya dilakukan setelah beton berumur 7-8 jam.
Mulai dengan melepaskan pengikat (baut, tie rod, dll.) dan penyangga (push pull
prop, kickers brace), kemudian lepaskan bekisting dari permukaan beton secara
bertahap.
d. Pembongkaran bekisting balok dan pelat lantai biasanya dilakukan setelah beton
berumur 14-28 hari, atau bahkan lebih awal jika menggunakan sistem repropping
yang lebih cepat. Lepaskan penyangga (support) balok dan pelat lantai, kemudian
lepaskan bekisting samping dan bawah secara hati-hati.
e. Setelah bekisting dilepas, bersihkan sisa-sisa beton dan material lainnya dari area
pekerjaan.
f. Lakukan perawatan beton setelah pembongkaran bekisting, seperti pemeliharaan
kelembaban (curing) untuk mencegah retak dan pengerasan yang tidak merata.
g. Material bekisting yang sudah dilepas harus diangkut dan disimpan dengan rapi di
11
tempat yang telah disediakan.
h. Pastikan seluruh proses pembongkaran dilakukan dengan memperhatikan
keselamatan kerja, termasuk penggunaan APD, pemasangan safety screen, dan
pengaturan lalu lintas jika diperlukan.
i. Pembongkaran bekisting hanya boleh dilakukan setelah beton mencapai kekuatan
yang cukup, yang biasanya ditentukan berdasarkan umur beton dan jenis struktur.
j. Pastikan pembongkaran bekisting tidak menyebabkan penurunan atau pergeseran
pada struktur yang sedang dibangun.
k. Pelaksanaan pembongkaran bekisting harus sesuai dengan peraturan dan standar
yang berlaku, seperti PBI 1971 atau standar lain yang relevan.
l. Pembongkaran bekisting harus diawasi oleh pihak yang berkompeten (misalnya,
direksi proyek) untuk memastikan bahwa seluruh proses dilakukan dengan benar
dan aman.
m. Kontraktor wajib memberitahukan kepada direksi proyek sebelum melakukan
pembongkaran bekisting bagian-bagian penting dari pekerjaan beton dan
mendapatkan persetujuannya.
9. Pengecoran Campuran Beton Secara Semi Mekanis
a. Syarat Teknis
- Bahan-bahan penyusun beton harus memenuhi standar kualitas yang
dipersyaratkan, terutama agregat yang bersih dari lumpur dan bahan organik.
- Perbandingan campuran beton harus sesuai dengan desain yang telah ditentukan
(mix design) untuk mencapai kekuatan yang diharapkan.
- Suhu lingkungan saat pengecoran perlu diperhatikan, terutama jika di atas 25
derajat Celsius, karena dapat mempengaruhi kualitas beton.
- Pengadukan beton harus dilakukan secara merata dengan waktu yang cukup
agar menghasilkan campuran yang homogen.
- Pemadatan beton harus dilakukan secara menyeluruh untuk menghilangkan
12
rongga udara dan mencapai kepadatan yang optimal.
- ermukaan beton harus diratakan dengan baik untuk mendapatkan hasil yang rata
dan sesuai dengan yang diinginkan.
- Perawatan beton harus dilakukan dengan baik untuk menjaga kelembaban dan
mencegah retak akibat penguapan air yang terlalu cepat.
b. Pelaksanaan
- Membersihkan dan meratakan area pengecoran, memasang bekisting (jika
diperlukan), dan memastikan adanya akses yang memadai untuk pengangkutan
material dan beton.
- Menyiapkan semua bahan penyusun beton (semen, pasir, kerikil, air) dan
memastikan ketersediaan molen beton, alat penggetar (vibrator), alat perata
(mistar, jidar), dan peralatan pendukung lainnya.
- Mencampur bahan-bahan beton dalam molen sesuai dengan proporsi yang telah
ditentukan. Pengadukan harus merata hingga warna dan kekentalannya seragam.
- Memindahkan adukan beton dari molen ke area pengecoran, baik dengan
gerobak dorong, alat pengangkut lainnya, atau menggunakan pompa beton jika
diperlukan. Pengecoran dilakukan lapis demi lapis dengan ketebalan yang sesuai.
- Setelah pengecoran, beton harus dipadatkan untuk menghilangkan rongga udara
dan memastikan kekompakan. Pemadatan dapat dilakukan dengan vibrator
beton.
- Permukaan beton diratakan dan dihaluskan menggunakan alat perata (mistar,
jidar) untuk mendapatkan permukaan yang rata dan sesuai dengan yang
diinginkan.
- Setelah pengecoran, beton perlu dirawat agar kekuatannya optimal. Perawatan
dapat dilakukan dengan menjaga kelembaban beton, misalnya dengan
menutupinya dengan karung basah.
10. Pemadatan Beton
13
a. Syarat Teknis.
- Batang vibrator harus dimasukkan hingga dasar adukan beton, tetapi jangan
sampai mengenai tulangan atau bekisting untuk menghindari retakan.
- Jarak antar titik pemadatan harus cukup dekat (misalnya, 60 cm) untuk
memastikan pemadatan yang merata.
- Pemadatan pada satu titik dilakukan selama 30-120 detik, atau hingga permukaan
beton mengkilap dan tidak ada gelembung udara yang keluar.
- Pemadatan yang terlalu lama atau di tempat tertentu dapat menyebabkan
segregasi dan hilangnya cairan.
- Hentikan pemadatan jika ada gelembung udara yang keluar, suara mesin vibrator
berubah, atau getaran terasa tidak normal.
- Pada permukaan miring, pemadatan dilakukan dengan mendorong vibrator ke
depan searah kemiringan untuk memastikan pemadatan yang baik.
b. Pemadatan Manual.
- Menggunakan batang atau alat lain untuk menusuk-nusuk adukan beton secara
manual untuk menghilangkan udara.
- Perhatikan kedalaman tusukan dan jarak antar tusukan yang teratur..
c. Pemadatan Mekanis (Vibrator).
- Kepala vibrator dimasukkan ke dalam adukan beton untuk menghasilkan getaran
yang memadatkan beton.
- Dipasang pada formwork untuk memadatkan beton dari luar.
- Digunakan untuk memadatkan permukaan beton setelah pengecoran.
11. Pekerjaan Dinding Bata
a. Persiapan.
- Bersihkan area kerja dari kotoran dan puing-puing.
- Ukur dan tandai area dinding yang akan dibangun.
- Rendam bata merah dalam air hingga gelembung udara hilang. Hal ini untuk
14
mengurangi penyerapan air berlebih saat pemasangan.
b. Syarat Teknis.
- Bata merah yang digunakan harus berkualitas baik, utuh, dan memenuhi standar
yang berlaku. Hindari penggunaan bata yang retak, pecah, atau memiliki cacat
lainnya.
- Campuran mortar harus sesuai dengan proporsi yang ditentukan (misalnya, 1PC :
5PP) dan memiliki konsistensi yang baik. Mortar yang terlalu encer atau terlalu
kental dapat mempengaruhi kekuatan dan kekedapan dinding.
- Pemasangan bata harus dilakukan dengan rapi, tegak lurus, dan rata. Periksa
kelurusan dan kerataan secara berkala menggunakan alat ukur yang tepat.
- Sambungan antar bata harus diisi penuh dengan mortar untuk menghindari
kebocoran dan retakan. Hindari memasang bata dengan sambungan yang sejajar
(satu garis lurus) untuk menghindari keretakan.
- Ketebalan dinding bata merah harus sesuai dengan perencanaan, misalnya 15
cm untuk dinding setengah bata dan 25 cm untuk dinding satu bata, setelah
diplester dan diaci.
- Dinding bata merah harus memiliki kekuatan yang cukup untuk menahan beban
struktural dan tekanan lingkungan. Gunakan angkur besi beton pada sambungan
dengan kolom dan sloof untuk memperkuat ikatan.
- Permukaan dinding harus rata, halus, dan siap untuk di cat atau dilapisi dengan
bahan finishing lainnya.
c. Pemasangan.
- Buat adukan mortar dengan komposisi yang sesuai (misalnya, 1PC : 5PP atau
sesuai spesifikasi).
- Oleskan adukan mortar pada bata dan pada permukaan dinding yang akan
dipasangi.
- Pasang bata merah lapis demi lapis, mengikuti jalur yang telah ditandai, dan
15
gunakan benang sebagai acuan untuk memastikan kerataan dan kelurusan.
- Pukul bata secara perlahan dengan palu karet untuk memastikan pemasangan
yang rata dan padat.
- Periksa kelurusan dan kerataan dinding secara berkala menggunakan waterpass.
- Batasi ketinggian pemasangan bata dalam satu hari kerja (misalnya, tidak lebih
dari 1 meter) untuk menghindari kelengkungan atau pergeseran.
- Setelah pemasangan bata selesai, lakukan pekerjaan kolom praktis (jika ada)
dengan mengecor beton pada kolom sesuai dengan desain.
- Kerok naad/siar-siar bata sedalam 1 cm dan bersihkan dengan sapu lidi.
- Siram permukaan pasangan bata dengan air setelah kering untuk menjaga
kelembaban.
- Lakukan plesteran dan acian pada dinding menggunakan mortar yang sesuai.
- Lakukan finishing (misalnya, plamur dan pengampelasan) untuk mendapatkan
permukaan dinding yang halus.
12. Pekerjaan Plesteran Dan Acian
a. Syarat Teknis.
- Ketebalan plesteran umumnya 1,5 cm, namun bisa bervariasi tergantung pada
jenis dinding dan kebutuhan.
- Plesteran harus rata, tegak lurus, dan tidak bergelombang.
- Plesteran harus kuat dan tidak mudah retak.
- Plesteran harus padat dan tidak berongga.
- Sudut-sudut dinding harus siku dan tepi-tepi plesteran harus rapi.
- Ketebalan acian umumnya tipis, sekitar 2-3 mm.
- Acian harus rata, halus, dan tidak retak.
- Acian harus kuat dan melekat dengan baik pada plesteran.
- Acian harus padat dan tidak berongga.
- Permukaan plesteran harus kering dan bersih sebelum diaci.
16
b. Pelaksanaan.
- Bersihkan permukaan dinding dari kotoran, debu, dan material lepas. Basahi
permukaan dinding dengan air untuk membantu daya rekat plesteran.
- Buat kepalaan plesteran sebagai acuan dengan jarak sekitar 1 meter dan lebar 5
cm. Gunakan unting-unting, waterpass, dan jidar aluminium untuk memastikan
kepalaan rata dan tegak lurus.
- Buat adukan plesteran dengan komposisi yang sesuai (misalnya, 1 bagian semen
: 3-5 bagian pasir). Aduk hingga rata dan homogen.
- Lekatkan adukan plesteran pada permukaan dinding dengan menggunakan
sendok semen. Ratakan menggunakan jidar dan raskam, mengikuti kepalaan
yang telah dibuat.
- Setelah adukan mengeras, ratakan permukaan plesteran menggunakan raskam
dan jidar. Lakukan penghalusan jika diperlukan untuk mendapatkan permukaan
yang rata dan halus.
- Setelah plesteran kering, lakukan penyiraman secara teratur untuk mencegah
retak rambut dan memastikan plesteran mengeras dengan baik.
- Pastikan permukaan plesteran sudah kering dan bersih. Jika ada bagian yang
retak atau tidak rata, perbaiki terlebih dahulu.
- Buat adukan acian dengan komposisi yang tepat (biasanya 1 bagian semen : 2-3
bagian pasir halus). Aduk hingga rata dan homogen.
- Aplikasikan adukan acian pada permukaan plesteran menggunakan sendok
semen. Ratakan dengan raskam dan jidar.
- Setelah acian mengering, ratakan permukaan dengan raskam dan jidar. Lakukan
penggosokan dengan kertas gosok untuk menghasilkan permukaan yang halus.
- Lakukan penyiraman secara teratur untuk mencegah retak rambut dan
memastikan acian mengeras dengan baik.
13. Pekerjaan Pengecatan
17
a. Syarat Teknis.
- Suhu dan kelembapan udara harus sesuai dengan rekomendasi produk cat.
- Gunakan cat berkualitas baik dan sesuai dengan spesifikasi proyek.
- Gunakan peralatan yang sesuai dan dalam kondisi baik.
- Gunakan alat pelindung diri (masker, sarung tangan, dll.) dan perhatikan
keselamatan kerja.
- Pastikan hasil akhir pengecatan rapi, merata, dan sesuai dengan standar yang
ditetapkan.
- Dokumentasikan setiap tahap pekerjaan untuk keperluan kontrol kualitas dan
pelaporan.
b. Pelaksanaan.
- Permukaan harus bersih dari kotoran, debu, minyak, dan jamur.
- Perbaiki retakan, lubang, atau ketidakrataan pada permukaan dengan bahan
plamir atau kompon.
- Haluskan permukaan yang diperbaiki dan permukaannya secara keseluruhan
untuk memastikan daya rekat cat yang baik.
- Pilih cat yang aman untuk kesehatan, memiliki daya tutup yang baik, dan
memberikan tampilan estetis.
- Pilih cat yang tahan terhadap cuaca ekstrem, sinar UV, dan perubahan suhu.
- Peralatan: Gunakan kuas, roller, atau spray sesuai kebutuhan dan jenis
permukaan. Pastikan alat dalam kondisi baik dan bersih.
- Mulai dengan mengecat tepi dan sudut, lalu gunakan sapuan panjang dan
tumpang tindih untuk area yang lebih luas.
- Aplikasikan cat dengan gerakan vertikal dan horizontal, lalu ratakan dengan
gerakan vertikal.
- Pastikan jarak dan sudut semprotan yang tepat untuk hasil yang merata.
- Aplikasikan beberapa lapisan cat, biarkan setiap lapisan kering sempurna
18
sebelum lapisan berikutnya diaplikasikan.
- Perhatikan waktu pengeringan cat sesuai dengan instruksi produk.
14. Pekerjaan Instalasi Pencahayaan
a. Syarat Teknis.
- Memilih kabel dengan ukuran yang sesuai dengan kebutuhan daya dan jenis
instalasi (NYM, NYY, dll.).
- Memilih saklar dan stop kontak yang berkualitas baik dan sesuai dengan standar.
- Memilih lampu dan armatur yang sesuai dengan fungsi ruangan dan memiliki
daya tahan yang baik.
- Memilih peralatan pengaman seperti MCB (Miniature Circuit Breaker) dan ELCB
(Earth Leakage Circuit Breaker) yang sesuai dengan standar.
- Menghitung total daya yang dibutuhkan untuk semua lampu dan peralatan listrik.
- Memilih MCB yang sesuai dengan daya total yang dibutuhkan.
- Memasang kabel sesuai dengan standar yang berlaku, seperti jarak antar kabel,
cara penyambungan, dan pelindung kabel.
- Memasang kotak kontak dan saklar pada ketinggian yang sesuai dan dengan
posisi yang benar.
- Memasang lampu dan armatur dengan kuat dan aman, serta memastikan tidak
ada risiko terjatuh.
- Memasang sistem grounding untuk mencegah sengatan listrik.
- Menggunakan MCB dan ELCB untuk melindungi instalasi dari arus pendek dan
kebocoran arus.
- Memastikan semua pekerja menggunakan alat pelindung diri (APD) dan mengikuti
prosedur keselamatan.
b. Persiapan.
- Membeli semua material yang dibutuhkan sesuai dengan gambar kerja dan RAB.
- Memastikan tenaga kerja yang terlatih dan memiliki sertifikasi untuk pekerjaan
19
instalasi listrik.
- Menyiapkan alat-alat yang diperlukan, seperti bor, obeng, tang, multimeter, dll.
- Membersihkan area kerja dari segala hal yang dapat menghalangi proses
instalasi.
c. Pemasangan.
- Memasang kabel sesuai dengan jalur yang telah ditentukan pada gambar
instalasi.
- Memasang kotak kontak dan saklar pada posisi yang telah direncanakan.
- Memasang lampu dan armatur pada titik-titik yang telah ditentukan.
- Menyambung kabel dengan benar dan aman, menggunakan konektor yang
sesuai.
- Memasang sistem grounding untuk keselamatan.
- Memastikan semua kabel terhubung dengan baik dan tidak ada yang putus.
- Mengukur tegangan pada setiap titik untuk memastikan sesuai dengan standar.
- Menguji fungsi semua lampu dan saklar.
- Memastikan tidak ada kebocoran arus yang dapat membahayakan.
15. Pekerjaan Distribusi Jaringan Listrik
a. Syarat Teknis.
- Jaringan distribusi menggunakan standar tegangan menengah 20 kV atau
tegangan rendah sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
- Material yang digunakan harus memenuhi standar mutu dan keamanan yang
berlaku, seperti SNI (Standar Nasional Indonesia) atau standar internasional yang
diakui.
- Konstruksi jaringan distribusi harus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku,
seperti jarak aman, kekuatan tiang, dan penempatan trafo.
- Konstruksi jaringan distribusi harus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku,
seperti jarak aman, kekuatan tiang, dan penempatan trafo.
20
- Pemasangan dan pemeliharaan jaringan distribusi harus memperhatikan aspek
keselamatan kerja untuk mencegah kecelakaan.
- Jaringan distribusi harus memiliki kualitas yang baik agar dapat beroperasi secara
handal dan efisien dalam jangka waktu yang lama.
- Jaringan distribusi harus dirancang dan dipasang dengan mempertimbangkan
keandalan sistem, sehingga dapat meminimalkan gangguan dan pemadaman
listrik.
- Pemasangan dan pemeliharaan jaringan distribusi harus mempertimbangkan
dampak lingkungan, seperti penggunaan lahan dan polusi suara.
b. Persiapan.
- Memastikan ketersediaan material sesuai spesifikasi teknis dan jadwal
pelaksanaan.
- Memverifikasi kondisi lapangan sesuai dengan desain dan melakukan
penyesuaian jika diperlukan.
- Mengurus izin pelaksanaan pekerjaan dari instansi terkait.
c. Pemasangan.
- Memasang kabel distribusi pada jalur yang telah ditentukan, dengan
memperhatikan jarak aman dan tegangan yang sesuai.
- Mendirikan tiang sesuai standar dan memasang trafo distribusi pada lokasi yang
telah ditentukan.
- Menyambungkan kabel ke trafo, panel hubung bagi, dan instalasi pelanggan,
dengan memperhatikan standar keselamatan dan keandalan.
- Memeriksa seluruh komponen instalasi secara visual untuk memastikan tidak ada
kerusakan atau cacat.
- Mengukur tahanan isolasi kabel dan peralatan untuk memastikan tidak ada
kebocoran arus.
- Menguji kinerja instalasi dengan memberikan beban sesuai dengan kapasitasnya
21
untuk memastikan sistem bekerja dengan baik.
- Melakukan pemeriksaan berkala terhadap seluruh komponen jaringan untuk
mendeteksi potensi kerusakan atau gangguan.
- Melakukan perbaikan terhadap kerusakan yang ditemukan pada jaringan
distribusi.
- Mengganti komponen yang aus atau rusak dengan yang baru sesuai standar.
16. Pekerjaan Pemasangan Pagar Besi Hollow
a. Persiapan.
- Bersihkan area pemasangan dari segala jenis halangan dan sampah.
- Ukur lebar dan tinggi area pagar yang akan dipasang.
- Pastikan area kerja aman dan bebas dari risiko kecelakaan.
b. Syarat Teknis.
- Pilih besi hollow dengan ukuran dan jenis yang sesuai dengan kebutuhan.
- Pastikan besi hollow yang digunakan berkualitas baik dan tahan karat.
- Ukuran besi hollow yang umum digunakan adalah panjang 6 meter, namun
sesuaikan dengan kebutuhan.
- Gunakan teknik pengelasan yang tepat dan pastikan semua sambungan
terhubung dengan baik.
- Pastikan kualitas pengelasan kuat dan tahan lama.
- Periksa kembali hasil pengelasan sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya.
- Gunakan cat yang berkualitas baik dan tahan terhadap cuaca.
c. Pelaksanaan.
- Potong besi hollow sesuai dengan ukuran dan desain yang telah ditentukan.
- Rangkai besi hollow yang telah dipotong menjadi rangkaian pagar.
- Pastikan rangkaian pagar sesuai dengan gambar rencana.
- Lakukan pengelasan pada setiap sambungan besi hollow.
- Gunakan alat las yang sesuai dan pastikan pengelasan kuat dan rapi.
22
- Periksa kembali kualitas pengelasan untuk memastikan kekuatan pagar.
- Buat lubang tanam untuk tiang pagar dengan kedalaman yang sesuai.
- Pasang tiang pagar pada lubang tanam dan pastikan tegak lurus.
- Bersihkan sisa-sisa pengelasan dan percikan api.
- Lakukan pengecatan pada seluruh bagian pagar untuk mencegah karat.
- Pastikan cat yang digunakan berkualitas baik dan tahan terhadap cuaca.
17. Pemasangan Logo & Huruf Acrylic
a. Persiapan.
- Siapkan semua bahan dan peralatan yang dibutuhkan di lokasi pekerjaan.
- Pastikan media pemasangan (dinding, papan, dll.) bersih dari debu, kotoran, dan
dalam keadaan kering. Debu dan kotoran dapat mengurangi daya rekat lem.
b. Syarat Teknis.
- Pilih akrilik berkualitas tinggi yang tahan terhadap cuaca dan paparan sinar
matahari. Pastikan ketebalan akrilik sesuai dengan ukuran dan desain huruf/logo.
- Gunakan lem yang dirancang khusus untuk akrilik dan memiliki daya rekat yang
kuat. Pastikan lem tersebut cocok untuk media pemasangan (dinding, papan, dll.).
- Siapkan peralatan yang dibutuhkan seperti jigsaw, bor, elemen pemanas (untuk
bending), dan alat ukur. Pastikan peralatan dalam kondisi baik dan berfungsi
dengan benar.
- Perhatikan kerapihan hasil potongan, pembentukan, dan penyambungan
komponen. Pastikan tidak ada cacat atau kerusakan pada akrilik.
- Pastikan huruf/logo terpasang dengan rapi, presisi, dan kokoh. Perhatikan jarak
antar huruf/logo dan kesejajarannya.
c. Pelaksanaan.
- Buat pola huruf atau logo sesuai dengan desain yang telah disetujui.
- Potong akrilik sesuai dengan pola yang telah dibuat. Jika diperlukan, gunakan
jigsaw atau alat pemotong lainnya.
23
- Jika diperlukan, panaskan akrilik untuk memudahkan pembentukan (bending)
sesuai dengan desain.
- Bentuk akrilik sesuai dengan pola yang telah dibuat.
- Satukan semua komponen huruf atau logo dengan menggunakan lem akrilik yang
sesuai.
- Pastikan lem diaplikasikan secara merata pada bagian belakang huruf/logo.
- Lepaskan lapisan pelindung yang menempel pada akrilik.
- Pasang huruf atau logo pada media yang telah disiapkan. Pastikan posisi dan
jarak antar huruf/logo sesuai dengan desain.
- Periksa kembali hasil pemasangan untuk memastikan semuanya terpasang
dengan baik dan rapi.
III. PEKERJAAN LAIN – LAIN
24
1. Pembersihan Akhir
1. Pekerjaan akhir yang berupa pembersihan akhir, dilaksanakan setelah seluruh
pelaksanaan pekerjaan konstruksi fisik selesai.
2. Kontraktor diwajibkan membuang semua sisa-sisa bahan bangunan yang tidak
terpakai dari lokasi proyek, yang diakibatkan oleh adanya pelaksanaan konstruksi
fisik. Pelaksanaan pembersihan meliputi seluruh bangunan serta halamannya sejauh
lebih kurang 5 m dari masing-masing bangunan.
2. Administrasi Dan Dokumentasi
1. Pelaksana diwajibkan membuat catatan-catatan berupa laporan harian yang
memberikan gambaran dan catatan yang singkat dan jelas:
a. Paraf berlangsungnya pekerjaan.
b. Pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan oleh pemborong bawahan.
c. Catatan dan perintah pemberi tugas dan pengawasan lapangan yang telah
disampaikan, tertulis maupun lisan.
d. Hal ikhwal mengenai bahan-bahan (yang masuk, yang dipakai dan yang ditolak)
e. Keadaan cuaca.
f. Hal ikhwal mengenai pekerjaan.
g. Pekerjaan tambah atau kurang.
h. Lain-lain dianggap perlu.
2. Berdasarkan laporan harian tersebut maka setiap minggu oleh pemborong dibuat
laporan mingguan yang disampaikan langsung kepada pengawas.
3. Bila mana ditemukan hal-hal yang tidak sesuai dan tidak serasi didalam pelaksanaan
pekerjaan, pemborong harus melaporkan dan memberi saran secara tertulis kepada
pengawas atau pemberi tugas.
25
4. Dokumentasi.
a. Sebelum pekerjaan dimulai, keadaan lapangan atau tempat pekerjaan masih 0%
harus diadakan pemotretan ditempat-tempat yang dianggap penting menurut
pertimbangan pemberi tugas dan pengawasan lapangan.
b. Setiap permintaan pembayaran atau termin (angsuran) dan penyerahan pertama
harus diadakan pemotretan yang menunjukan prestasi pekerjaan (min. 5 Arah).