Berdasarkan Permen PUPR Nomor 4/PRT/M/2025 tengan Kriteria dan Penetapan
Wilayah Sungai, bahwa Pengelolaan Sumber Daya Air berdasarkan Wilayah Sungai.
Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih
daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan
2.000 km2. Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan
dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan
mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas
di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang
masih terpengaruh aktivitas daratan.
Seiring berjalannya waktu, fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) mulai menurun.
Penurunan fungsi tersebut disebabkan oleh beberapa hal, antara lain kegiatan deforestasi,
penebangan hutan secara liar, sistem pertanian yang tidak ramah lingkungan, dan
sebagainya.
Alih fungsi tidak terkendali akan mempengaruhi keseimbangan lingkungan termasuk
proses-proses hidrologis di dalam wilayah DAS. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan
neraca air, sedimen, unsur hara dan rusaknya habitat keanekaragaman hayati.
Penurunan fungsi DAS tidak boleh terus dibiarkan, mengingat fungsi DAS sangat
berguna bagi kehidupan manusia atau masyarakat. Adanya penurunan fungsi dan
pemanfaatan yang kurang memperhatikan kaidah konservasi lahan dapat mengakibatkan
degradasi kondisi DAS di daerah hulu.
DAS berperan penting dalam menjaga lingkungan dan menyediakan kebutuhan air
bagi masyarakat. Aktivitas pemanfaatan sumber daya alam suatu hal yang krusial dilakukan
untuk pemenuhan kebutuhan pokok dan juga kebutuhan ekonomi masyarakat.
Dengan banyaknya kejadian banjir yang membawa material dari perbukitan yang
diakibatkan alih fungsi lahan, maka UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai
Bondoyudo Baru di Lumajang merasa perlu melakukan upaya-upaya pemeliharaan DAS
kritis untuk pelestarian lingkungan yang didasari pada peran dan fungsi setiap wilayah dalam
DAS dan mencakup aspek perlindungan, pemeliharaan dan pemanfaatan ekosistem secara
berkelanjutan.
Beberapa upaya pemeliharaan DAS kritis yang akan dilakukan UPT Pengelolaan
Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bondoyudo Baru di Lumajang yaitu :
1. Pembuatan terasiring Geobag - DAS Bondoyudo
Kegiatan ini merupakan pemberdayaan masyarakat sekitar DAS yang merupakan
komponen penting dalam upaya konservasi DAS. Sebab mereka merupakan aktor utama
yang memanfaatkan sumber daya alam di sekitar DAS. Hal ini perlu dilakukan untuk
meningkatkan kesadaran dan komitmen penduduk terkait perlunya perlindungan dan
pelestarian terhadap sumber daya alam dan DAS.
Perlu diketahui bahwa sebagian besar perbukitan yang mengelilingi Ranu Pani
sudah dimanfaatkan untuk lahan pertanian, dimana tanaman sayuran menjadi budidaya
yang paling menguntungkan dalam menunjang perekonomian masyarakat setempat
terutama kentang, namun dalam masa pertumbuhannya tanaman jenis ini memerlukan
sinar matahari secara langsung, hal ini yang mendorong petani melakukan pembukaan
lahan secara besar-besaran dengan memotong pohon-pohon yang dianggap berpotensi
menaungi tanaman kentang dan kurangnya kesadaran masyarakat terkait pengelolaan
tanah pada kemiringan tinggi tidak menggunakan sistem terasering, sehingga jika terjadi
curah hujan tinggi di sekitar kawasan perbukitan, maka tanah lapisan atas yang sudah
digemburkan mengalir bersama air hujan membawa lumpur menuju tampungan Ranu
Pane melewati jalan desa setempat. Kejadian tersebut terjadi bertahun-tahun sehingga
perlu upaya pengendalian erosi tanah lapisan atas.
2. Pembuatan terasiring bangku dan penanaman pohon - DAS Bedadung
Kegiatan konservasi tanah ini merupakan tindakan pengendalian untuk
meminimalisir laju degradasi DAS berupa pengendalian lahan dengan mengupayakan
membuat terasiring bangku yang diperkuat dengan penanam rumput vertiver dan
penanaman pohon. Rumput Vertiver ini dapat memperbaiki serta menyeimbangkan
keadaan tanah yang ditumbuhinya. Sedangkan penanaman pohon merupakan
pengelolaan sumber daya air dengan melakukan penanaman tumbuhan yang mampu
melindungi permukaan tanah dari curah hujan yang tinggi, sehingga dapat membantu air
hujan terserap ke dalam tanah dan mengalir secara perlahan ke sungai.
3. Pemasangan Gullyplug - DAS Mayang
Salah satu upaya untuk melindungi dari ancaman longsor adalah dengan membuat
Gully Plug. Gully plug adalah bangunan konservasi berupa susunan batu dalam kawat
brojong yang terletak melintang alur anak sungai / parit untuk menahan endapan lumpur
sehingga tebing parit akan lebih rendah atau tidak terlalu dalam sehingga bahaya tanah
longsor dapat dihindarkan. Hal ini diupayakan untuk mengendalikan degradasi dasar
sungai dari perbukitan yang mengalir melintang di bawah saluran pada Jaringan Irigasi
Mrawan sehingga erosi dan proses sedimentasinya terkendali