| Reason | |||
|---|---|---|---|
| 0904977147704000 | Rp 1,012,021,146 | - | |
| 0942884594704000 | Rp 1,090,724,763 | - | |
| 0027122043701000 | - | - | |
| 0025165572701000 | - | - | |
CV Borneo Raya Kontraktor | 06*5**6****01**0 | Rp 883,509,417 | Alat tidak sesuaiPada BAB IV. LEMBAR DATA PEMILIHAN (LDP). Persyaratan Teknis, yaitu Memiliki kemampuan menyediakan peralatan utama untuk pelaksanaan pekerjaan. khususnya pada Peralatan dump truck : Tidak Sesuai dan Tidak Memenuhi (Sesuai dengan dokumen teknis yang dilampirkan bahwa peralatan dump truck yang diajukan tidak sesuai dengan jenis alat yang dipersyaratkan ) |
| 0748417391702000 | Rp 920,001,523 | Berdasarkan Pada BAB III. INSTRUKSI KEPADA PESERTA (IKP), Dalam hal peserta tidak hadir atau tidak memberikan tanggapan atas permintaan klarifikasi/evaluasi kewajaran harga, maka menggugurkan penawaran; dalam hal ini CV. Jas Merah tidak menghadiri Undangan klarfikasi , (dari hasil tersebut maka CV. Merah tidak hadir dalam klarifikasi, maka menggugurkan penawaran) , Tidak memenuhi Persyaratan Sisa Kemampuan Paket (SKP) | |
| 0839928223701000 | - | - | |
| 0615610565701000 | - | - | |
| 0030271944701000 | - | - | |
| 0030273023701000 | - | - | |
| 0764283099701000 | - | - | |
| 0027648187701000 | - | - | |
| 0025167743701000 | - | - | |
| 0922018940705000 | - | - | |
| 0031648249214000 | - | - | |
| 0726610736701000 | - | - | |
CV Heora Istiqomah | 04*1**7****07**0 | - | - |
| 0022607345703000 | - | - | |
| 0404058125702000 | - | - | |
CV Gapura Jaya | 00*6**6****01**0 | - | - |
| 0661414557701000 | - | - | |
| 0014533343701000 | - | - | |
| 0749449393701000 | - | - | |
| 0415748979701000 | - | - | |
| 0020748216702000 | - | - | |
| 0020862850705000 | - | - | |
| 0029428752701000 | - | - | |
| 0952104057703000 | - | - | |
| 0948382957701000 | - | - | |
| 0027647288701000 | - | - | |
| 0851920538701000 | - | - | |
| 0768871964701000 | - | - | |
| 0027125301703000 | - | - | |
| 0629774027704000 | - | - | |
| 0023824840702000 | - | - | |
| 0635502412707000 | - | - | |
Menara Gading | 00*9**5****01**0 | - | - |
| 0026824847701000 | - | - | |
Suryanti | 0029397486706000 | - | - |
| 0017136706431000 | - | - | |
| 0029425444701000 | - | - | |
Chanel | 00*8**4****21**0 | - | - |
| 0017816471701000 | - | - | |
| 0722727484703000 | - | - | |
| 0032784902701000 | - | - | |
| 0027648849701000 | - | - | |
| 0916437528707000 | - | - | |
| 0030622229214000 | - | - | |
| 0922841101704000 | - | - | |
| 0769774944705000 | - | - | |
| 0029043254701000 | - | - | |
| 0837788702702000 | - | - | |
| 0840324446654000 | - | - | |
| 0016676413704000 | - | - | |
Prasandha Saputra | 00*6**1****02**0 | - | - |
Aero Usaha Bersama | 06*5**1****01**0 | - | - |
| 0629604513707000 | - | - | |
| 0904976222704000 | - | - |
Pekerjaan Pendahuluan
a. Pemasangan papan nama.
b. Pemasangan patok-patok, bouwplank, pengukuran dan lain-lain.
c. Kontraktor wajib menyediakan kotak P3K yang berisi obat-obatan yang diperlukan serta untuk
pencegahan penularan virus covid 19 (masker, sanitizer dan lain – lain), rol meter, rambu-rambu
lalu lintas dan lain-lain yang diperlukan demi kelancaran pelaksanaan pekerjaan.
d. Sebelum pekerjaan dimulai, kontraktor dengan diawasi oleh pengawas lapangan yang ditunjuk
untuk melaksanakan pengukuran pada lokasi pekerjaan untuk menentukan batas-batas situasi
wilayah kerja yang ditentukan/sesuai dengan gambar rencana.
e. Pengukuran harus dilaksanakan oleh ahli (sekurang-kurangnya) orang yang dapat mengerti
secara baik pemakaian alat ukur.
f. Pada tiap 50 meter harus dipasang patok-patok kayu dan ditanam kuat sehingga tidak terganggu
selama masa pelaksanaan pekerjaan.
g. Kontraktor wajib memelihara, memperbaiki dan membersihkan kembali jalan/jembatan yang
rusak akibat pelaksanaan pekerjaan ini seperti kondisi sebelumnya.
h. Kontraktor harus melakukan pengaturan lalu lintas dan lain-lain, sehingga lalu lintas tetap lancar.
i. Penempatan peralatan pada waktu istirahat/diluar jam kerja diatur sedemikian rupa sehingga
tidak menganggu kelancaran lalu lintas selama pekerjaan berlangsung kecuali atas izin dari
pejabat yang berwenang.
Peralatan yang digunakan adalah :
⚫ Truck Tronton Bak Crane
⚫ Pile Drop Hammer
⚫ Concrete Mixer
⚫ Tota Station (integrasi EDM lengkap Processor) Tripod
⚫ Dump Truck
Pekerjaan Turap Beton
Pekerjaan turap beton meliputi tahapan pekerjaan sebagai berikut :
a. Pengukuran dan positioning
Langkah – langkah Pengukuran
1) Menentukan titik-titik Koordinat, ini diperlukan untuk menentukan pemasangan Sheet Pile .
2) Membaca gambar dengan melihat bentuk dan ukuran bangunan untuk diaplikasikan
dilapangan.
3) Menentukan elevasi kedalaman galian pondasi dan lantai basement, kesalahan dalam
penentuan elevasi ini dapat menyebabkan pemborosan pekerjaan urugan dan galian tanah.
4) Menentukan as untuk mencari lokasi titik Sheet Pile.
5) Memonitoring saat Pekerjaan Pemancangan terhadap Titik rencana yang sudah
direncanakan.
Pengadaan Turap Sheet Pile
1.1. Kondisi Bahan
1) Didalam Memulai Pekerjaan, Mempersiapkan kebutuhan Material Perlu pengecekan terhadap
kebutuhan volume di lapangan.
2) Sheet Pile Yang digunakan bersertifikasi uji laboratorium dari pabrik.
1.2. Kondisi Peralatan
1) Sebelum memulai pekerjaan pemancangan, kesiapan peralatan beserta kelengkapannya harus
bisa diyakini berfungsi sebagaimana mestinya,dan mendapat persetujuan tertulis Pengawas.
1.3. Identifikasi
1) Sebelum dipindahkan dari tempat penyimpanan/gudang, tiang dalam bentuk pipa dan sheet-pile
harus diberi tanda-tanda/identifikasi. Sebelum dipancang tiang harus diperiksa terlebih dahulu
untuk mendapat persetujuan untuk dipancang.
2) Untuk mengetahui masuknya tiang ke dalam tanah maka setiap tiang harus diberi tanda dengan
cat minimum pada setiap meternya.
Pekerjaan Pemancangan Turap Sheet Pile
Pelaksanaannya akan dijelaskan seperti dibawah ini :
1. Persiapan Lokasi Pemancangan Mempersiapkan lokasi dimana alat pemancang akan diletakan,
tanah haruslah dapat menopang berat alat. Bilamana elevasi akhir kepala tiang pancang berada di
bawah permukaan tanah asli, maka galian harus dilaksanakan terlebih dahulu sebelum
pemancangan. Perhatian khusus harus diberikan agar dasar pondasi tidak terganggu oleh
penggalian diluar batas-batas yang ditunjukan oleh gambar kerja.
2. Persiapan Alat Pemancang Pelaksana harus menyediakan alat untuk memancang tiang yang
sesuai dengan jenis tanah dan jenis tiang pancang sehingga tiang pancang tersebut dapat
menembus masuk pada kedalaman yang telah ditentukan atau mencapai daya dukung yang telah
ditentukan,tanpa kerusakan. Bila diperlukan, pelaksana dapat melakukan penyelidikan tanah
terlebih dahulu. Alat pancang yang digunakan dapat dari jenis crane, diesel atau hidrolik. Berat palu
pada jenis drop hammer sebaiknya tidak kurang dari jumlah berat tiang beserta topi pancangnya.
Sedangkan untuk diesel hammer berat palu tidak boleh kurang dari setengah jumlah berat tiang
total beserta topi pancangnya ditambah 500 kg dan minimum 2,2 ton.
3. Pemacangan Sheet Pile harus dilindungi dengan bantalan topi atau mandrel. Tiang pancang Sheet
Pile diikatkan pada sling yang terdapat pada alat, lalu ditarik sehingga tiang pancang masuk pada
bagian alat.
Pemancangan Sheet Pile harus dipancang sampai penetrasi maksimum atau penetrasi tertentu
sesuai dengan perencana atau Direksi Pekerjaan. Selanjutnya dilakukan pemancangan di titik
berikutnya dengan langkah yang samak sehingga tiang pancang masuk pada bagian alat.
Pekerjaan Pemotongan Top Level
a. Pemotongan Tiang Pancang Sheet Pile
1. Untuk pemotongan tiang pancang digunakan tenaga manual, dan hasil potongan dikumpulkan serta
dibuang ke area yang telah ditentukan.
2. Untuk ikatan antara Tiang pancang dengan Lantai Konstruksi ditambahkan besi pada tiang pancang.
b. Pelaksanaan test yang dilakukan adalah:
– PDA Test
– Loading Test
– Tensioned Load Test
c. Pemasangan Angkur Pemasangan angkur ini bertujuan sebagai tempat perletakan guide beam
agar berdiri sejajar dengan garis titik kelurusan yang sudah ditentukan oleh para surveyor.
d. Pemasangan Guide beam Guide beam mi adalah tempat pancang berdiri tegak yang sengaja di
desain dan digunakan untuk membantu menegakkan pancang CCSP agar mempermudah proses
pernancangan ketika akan dipukul menggunakan hammer atau vibro.
e. Proses Pengangkatan Tiang Pancang CCSP Pengambilan tiang pancang CCSP untuk dipasang
pada posisi pemancangan harus diperhitungkan terhadap momen karena berat sendiri.
f. Untuk tiang pancang CCSP yang panjang perlu diambil dengan beberapa titik, untuk mengurangi
pan jang tiang yang tidak terdukung. Pengangkatan tiang pancang CCSP menggunakan Crawler
Crane HP55 dengan posisi titik angkat sesuai dengan perhitungan sehingga tidak terjadi patah pada
saat pengangkatan.
g. Pemancangan
1) Menggunakan Pile Drop Hammer
2) Menggunakan Vibratory Hammer
h. Proses Pelepasan Guide Beam
Setelah proses pemancangan berada pada ketinggian yang sesuai dengan tinggi guide beam, unttik
memperlancar proses pemancangan sampai pada tanah keras, maka terjadi pelepasan guide beam.
Karena guide beam itu sendiri hanya berfungsi sebagai frame atau penyanggah agar letak pancang
tetap stabil pada saat pemukulan hal itu dikarenakan pancang terlalu panjang, sehingga perlu bantuan
untuk menyanggah agar pancang tetap tegak lurus.
g. Proses Pengukuran Kembali Terhadap Kelurusan
Setelah pelepasan guide beam dan pancang CCSP benar-benar berada pada posisi tegak lurus, hal itu
tidak membuat para surveyor diam saja. Maka para Surveyor melakukan pengukuran atau membidik
kembali titik-titik yang sudah ditentukan di awal pekerjaan apakah letak pancang benar
benar lurus dan tegak,sehingga tidak akan mengalami sleding yang ditimbulkan karena struktur
tanah dan mengakibatkan pancang sewaktu-waktu bergeser karena tanah yang berhubungan dekat
dengan air. Batas toleransi elevasi pergeseran pancang adalah + 10 cm.
h. Proses Pemukulan Kembali Setelah pelepasan Guide Beam
Setelah proses pelepasan guide beam dan pengukuran terhadap kelurusan pancang maka langkah
selanjutnya adalah melanjutkan pemukulan pancang CCSP dengan menggunakan alat pancang yan
sesuai kebutuhan untuk mencapai tanah keras. Pancang CCSP mi didesain dengan panjang 10 meter
dan direncanakan untuk proses pembuatan Capping beam dengan sisa pancang + 3.5 meter.
Sedangkan kedalaman tanah mencapai tanah keras ± 6.5 meter. O!eh karena itu
CCSP didesain dengan panjang 10 meter agar menghasilkan sisa pancang yang seragam.
Pekerjaan Tie Rod & pemasangan kanal UNP
Pemasangan Wale Steel CNP dan Tie rod
Setelah proses pemancangan selesai, maka langkah selanjutnya adalah memasang Wale Steel CNP dan
Tie rod agar pancang tidak lari atau bergeser karena sifat tanah jika terkena air maka akan berubah
sewaktu-waktu. Untuk menghindari kejadian tersebut maka dilakukan pemasangan Wale Steel CNP yang
panjangnya sekitar ± 6 meter karena hanya per segmen saja yaitu berisi 6 buah pancang. Letaknya di
belakang pancang, serta dilakukan bersamaan dengan pemasangan Tie rod yang letaknya didepan
pancang, berfungsi mengunci pancang yang saling berhadapan.
j. Pekerjaan Pemotongan Sisa Pancang CCSP
Setelah proses pemancangan CCSP, pasti ada tiang pancang yang tersisa diatas elevasi rencana, ha]
mi karena karakteristik tanah setiap titik berbeda-beda, sehingga pencapaian tiang pancang ke dalam
tanah keras ikut berbeda juga. Untuk menyetarakan tiang pancang tersebut dengan gambar bestek, maka
satu-satunya cara adalah dengan cara penghancuran tiang pancang menggunakan palu (hammer).
Pekerjaan Balok penutup
Pekerjaan balok penutup meliputi tahapan pekerjaan sebagai berikut :
a. Pekerjaan Pemasangan Bekisting
1) Pekerjaan bekesting dilakukan setelah pekerjaan urugan sirtu dan pasir dianggap padat dan
rata.
2) Bekesting menggunakan kayu kelas IV berbentuk papan dengan permukaan yang rata dan
lurus, dengan ukuran tinggi 16 cm dan tebal 1,8 cm dengan panjang sesuai dengan panjang
yang direncanakan.
3) Bekesting dipasang pada bagian sisi kanan dan kiri kemudian dipasang penyangga (stut)
pada setiap beberapa meter agar bekesting dapat berdiri tegak dan lurus, diusahakan agar
tidak terdapat celah/lubang yang akan membuat campuran dapat keluar.
4) Setelah pekerjaan bekesting dan urugan pasir selesai dikerjakan selanjutnya urugan pasir
tersebut dilapisi dengan plastik beton dengan ukuran sesuai petunjuk gambar kerja dan
lebarnya menutupi galian kanstin yang berfungsi untuk mencegah timbulnya air tanah
terhadap pengaruh mutu beton.
b. Pekerjaan Beton.
1. Untuk pekerjaan beton digunakan campuran beton setara K-225 (fc=18,68 Mpa) yang
digunakan untuk pengecoran dengan ukuran disesuaikan dengan gambar rencana.
Pengadukan campuran menggunakan alat mekanis (beton molen).
2. Semua material yang dibutuhkan untuk menghasilkan beton dengan mutu yang ditentukan
harus mengikuti syarat-syarat dibawah ini :
a. Semen
Semua semen portland standar harus memenuhi persyaratan kimia dan fisik
sebagaimana tercantum SK SNI S-04-1989-F.
b. Agregat Halus (Pasir)
Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami
dari batu-batuan atau berupa pasir batuan yang dihasilkan oleh alat pemecah batu.
Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% (ditentukan terhadap
berat kering). Pasir laut tidak boleh dipakai sebagai agregat untuk semua mutu beton.
c. Agregat Kasar (Kerikil Tersaring)
Agregat kasar untuk beton dapat berupa kerikil sebagai hasil desintegrasi alami dan
batu-batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu.. Agregat
harus terdiri dari butiran-butiran yang keras tidak berpori. Agregat yang mengandung
butir-butir pipih hanya dapat dipakai apabila jumlah butirannya tidak melampaui dari
berat agregat seluruhnya. Butiran-butiran agregat kasar harus bersifat kekal. Artinya
tidak pecah ataupun hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca seperti air hujan dan terik
matahari. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% (ditentukan
terhadap berat kering. Agregat kasar harus tidak boleh mengandung zat-zat yang
dapat merusak beton seperti zat-zat reaktif alkali. Besar butir agregat kasar untuk
campuran beton adalah 1-2
cm.
d. Air
Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak asam,
alkalin, garam bahan-bahan organik atau bahan-bahan lain yang merusak dan atau
baja tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum.
3. Pelaksanaan
a. Pengadukan beton.
Syarat pelaksanaan pekerjaan beton dari mengaduk sampai perawatan hendaknya
sesuai dengan yang diisyaratkan PBI 1971-bab 6 dengan syarat-syarat dibawah ini :
Pengadukan, pengangkutan dan pengecoran beton sebaiknya dilaksanakan pada
cuaca yang baik.
Mutu beton dan metode pelaksanaan harus disetujui oleh konsultan pengawas.
Beton harus diaduk di lapangan dengan mengunakan concrete mixer dimana akan
didapatkan hasil adukan yang homogen. Dimana semen ditakar dengan jumlah sesuai
speksifikasi yang ditentukan, maka harus diusahakan sedemikian agar campuran
terdiri dari jumlah semen bulat dalam zak.
Pengadukan kembali beton-beton yang sudah mulai mengeras tidak diperbolehkan.
b. Pengecoran
Pengecoran tidak boleh dilakukan sebelum pekerjaan perancah acuan dan pekerjaan
persiapan yang disebutkan pada spesifikasi ini telah sempurna dikerjakan.
Sebelum pengecoran dimulai semua alat-alat material dan pekerjaan harus sudah
berada ditempat dimana seharusnya dan alat-alat dalam keadaan bersih serta siap
untuk dipakai.
Permukaan sebelah dalam dari bekesting harus sudah dibersihkan dari bahan-
bahan lepas, kotoran-kotoran maupun sampah.
Bekesting yang terbuat dari kayu dan dimana dikuatirkan adanya pengisapan air
kayu, harus terlebih dahulu dibasahi dengan air hingga jenuh.
Pengecoran sebaiknya dilakukan segera setelah selesai pengadukan dan sebelum
beton mulai mengeras. Penundaan pengecoran dalam hal ini masih diizinkan dalam
batas dimana beton masih dapat dikerjakan tanpa penambahan air.
Pengecoran dan pengerjaan beton harus diselesaikan dalam waktu 20 menit
sesudah keluar dari mixer, kecuali bilah diberikan bahan-bahan pembantu dengan
maksud untuk melambatkan proses pengerasan beton.
Cara pengerjaan hendaknya dikerjakan sedemikian sehingga tidak terjadi
pemisahan bahan (segregasi) dan pengerjaan kembali beton yang telah selesai
dicor itu.
Adukan tidak boleh dijatuhkan melebihi tinggi 1 ½ meter dan tidak diperkenankan
menimbun beton dalam jumlah banyak disuatu tempat dengan maksud untuk
kemudian meratakannya sepanjang acuan.
Pada setiap jarak 2 meter pekerjaan rabat beton dibuat dilatasi dengan
menggunakan papan mal berukuran tebal 1,8 cm dan tinggi 5 cm yang dipasang
sesuai dengan petunjuk gambar kerja dan persetujuan direksi teknis.
Lubang-lubang untuk pengaliran air, atau keperluan lainnya, dapat dibuat dari
bambu-bambu atau batang-batang pisang dengan maksud untuk memudahkan
pengambilanya pada waktu pembongkaran acuan.
c. Pemadatan
Selama pengocoran, beton harus dipadatkan dengan alat-alat pemadat, dapat
secara mekanis atau cara pemadatan dengan tenaga manusia.
Cara pemadatan dengan tenaga manusia terdiri dari memukul-memukul dari
sebelah luar, merocok dan menusuk-nusuk adukan beton secara kontinyu.
Ketelitian dalam hal ini sangat perlu untuk diperhatikan agar semua sudut-sudut
terisi, sela-sela diantara dan disekeliling terpenuhi tanpa mengeser menjadi rata
dan halus, mengeluarkan gelembung-gelembung udara dan mengisi semua
rongga.
Tenaga yang mengerjakan pekerjaan ini harus telah memiliki pengalaman.
d. Permukaan Beton Jadi
Semua permukaan jadi dari semua pekerjaan beton harus rata, lurus tidak nampak
bagian-bagian yang keropos atau bagian-bagian yang membekas pada permukaan
ujung-ujung atau sudut-sudut harus dibentuk penuh dan tajam. Setelah
pembongkaran bekesting, bagian-bagian yang rapuh, kasar lubang-lubang dan
bagian-bagian yang tidak memenuhi syarat-syarat harus segera diperbaiki dengan
cara pemahatan dan mengisi kembali dengan adukan semen yang sesuai baik
kekuatan maupun warnanya, untuk kemudian diratakan dengan kayu perata.
Pekerjaan-pekerjaan itu sebaiknya diselesaikan secepat mungkin dan tidak lebih
dari maksimum 2 hari setelah pembongkaran acuan.
e. Perawatan Beton
Pada umumnya beton baru selesai di cor harus dilindungi terhadap hujan dan panas matahari serta
kerusakan-kerusakan lainnya yang disebabkan oleh gaya-gaya sentuhan sampai beton telah menjadi keras.