PEMERINTAH KABUPATEN KONAWE UTARA
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG
Alamat : Kompleks Perkantoran Pemda Kab. Konawe Utara
W A N G G U D U
URAIAN SINGKAT
PEKERJAAN
K/L/D/I : PEMERINTAH KABUPATEN KONAWE UTARA
SKPD : DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG
NAMA KPA/PPK : Ir. ALFIAN,S.ST.,MT
PROGRAM : PEMBANGUNAN JALAN
KEGIATAN : PENINGKATAN JALAN
PEKERJAAN : PENINGKATAN JALAN ASPAL WANGGUDU - LARONANGA
PAGU : RP. 15.490.549.747,00-
(Lima belas milyar empat ratus sembilan puluh juta lima
ratus empat puluh sembilan ribu tujuh ratus empat puluh
tujuh rupiah)
LOKASI : KECAMATAN ASERA
KABUPATEN KONAWE UTARA
TAHUN ANGGARAN
2023
U R A I A N S I N G K A T P E K E R J A A N
KEGIATAN : PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR JALAN DAN JEBATAN
SUB KEGIATAN : REKONSTRUKSI JALAN
PEKERJAAN : PENINGKATAN JALAN ASPAL WANGGUDU-LARONANGA
LOKASI : KECAMATAN ASERA
TAHUN ANGGARAN : 2023
A. UMUM
1. PENDAHULUAN
Pada setiap pembangunan proyek kostruksi jalan sebagai Penyedia Jasa diharuskan
memahami secara menyeluruh tentang bagaimana tahapan pelaksanaan proyek yang akan
dilaksanakan. Dimana setiap proyek memiliki kondisi dan kesulitan yang berbeda- beda
sehingga perlu tatacara pelaksanaan yang berbeda pula. Sedangkan dalam kontrak kerja
Penyedia Jasa diberikan batas waktu tertentu untuk menyelesaikan proyek secara tepat
waktu. Disamping itu biaya pelaksanaan dan mutu hasil kerja turut dipertimbangkan agar
tercapai target penyelesaian yang optimal. Oleh karena itu sebagai acuan Penyedia Jasa dalam
melaksanakan pekerjaan perlu memahami tahapan metode pelaksanaan konstruksi yang
tepat dan berkesinambungan dengan mempelajari rincian volume yang terdapat di Daftar
Kuantitas Dan Harga serta Gambar Kerja yang tersedia.
2. RUANG LINGKUP KEGIATAN
Kegiatan Pembangunan Infrastruktur Jalan dan Jembatan ini merupakan kegiatan
yang berada di Lingkup SKPD-PEKERJAAN UMUMM DAN PENATAAN RUANG Kabupaten
Konawe Utara Tahun Anggaran 2023.
3. LINGKUP PEKERJAAN
Secara garis besar lingkup pekerjaan yang dilaksanakan dalam pelaksanaan Pekerjaan
pada Sub Kegiatan Rekonstruksi Jalan terbagi menjadi beberapa sub item pekerjaan.
Berikut dapat dijabarkan item-item pekerjaan adalah sebagai berikut :
1) DIVISI 1 1. UMUM
Ls Mobilisasi
Ls Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas
Ls Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Ls Manajemen Mutu
2) DIVISI 3. 3. PEKERJAAN TANAH DAN GEOSINTETIK
3.1.(1) Galian Biasa
3.2.(2a) Timbunan Pilihan dari sumber galian (Badan Jalan)
3.3.(1) Penyiapan Badan Jalan
3) DIVISI 5 5. PERKERASAN BERBUTIR
5.1.(1) Lapis Pondasi Agregat Kelas A
5.1.(2) Lapis Pondasi Agregat Kelas B
4) DIVISI 6 6. PEKERJAAN ASPAL
6.1 (1) Lapis Resap Pengikat - Aspal Cair / Emulsi
6.5.(2) Laston Lapis Antara Asbuton (AC-BC Asb)
5) DIVISI 7 7. STRUKTUR
7.1 (10) Beton, fc’10 Mpa
7.1 (7a) Beton, fc’ 20 Mpa
7.3 (1) Baja Tulangan Polos-BjTP 280
7.3 (2) Baja Tulangan Sirip BjTS 280
7.9.(1) Pasangan Batu
B. PELAKSANAAN PEKERJAAN PENINGKATAN JALAN
1. BAGAN ALIR PEKERJAAN
S P M K P E R S I A P A N
1. Job Mix Formula
2. Material dan Penyimpanan
3. Jadwal Pelaksanaan
4. Pengukuran Lapangan (MC-0)
5. Mobilisasi Personil
Tidak Sesuai
6. Mobilisasi Peralatan
7. Mobilisasi Tenaga Kerja
Perhitungan Ulang
Pengecekan Kuantitas dan Gambar
Rencana Justifikasi Teknis
S H O P D R A W I N G Addendum
P E L A K S A N A A N P E K E
R J A A N
1. Pekerjaan Tanah
2. Pekerjaan Perkerasan Berbutir
3. Pekerjaan Perkerasan Aspal
4. Pekerjaan Struktur
D O K U M E N
A D M I N I S T R A S I
1. Back Up Data Quantity
2. Back Up Data Quality
3. Asbuild Drawing
4. Foto Dokumentasi
5. Laporan Harian, Mingguan,
dan Bulanan
6. Dan Dokumen lain yang
dipersyaratkan
P H O Masa Pemeliharaan
Selesai
2. URAIAN PEKERJAAN
a. DIVISI 1. PENDAHULUAN
Pekerjaan mobilisasi atau persiapan adalah pekerjaan awal yang
meliputi kegiatan kegiatan pendahuluan untuk mendukung permulaan proyek
meliputi antara lain
:
1) Pembuatan Job Mix Formula
Sebelum pekerjaan utama dilaksanakan terlebih dahulu dilaksanakan
pengambilan sampel bahan dari quary yang berdekatan dengan lokasi
pekerjaan dan telah disetujui bersama pihak direksi teknis dan konsultan
pengawas teknis, diantaranya yaitu : batu, pasir, semen dan aspal dibawa ke
laboratorium Job Mix Formula/Job Mix Desain yang akan dipakai sebagai acuan
kerja dalam pelaksanaan proyek.
2) Kantor Lapangan dan Fasilitas (Direksi Keet)
Tahap berikutnya menentukan lokasi bascamp, pembuatan kantor lapangan
dan fasilitasnya dilokasi proyek dan kemudian dilanjutkan dengan mobilisasi
perlatan sesua dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan.
3) Pengaturan Arus Transportasi Dan Pemeliharaan Arus Lalu Lintas
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, pengaturan arus lalu lintas transportasi
dilakukan dengan pembuatan tanda-tanda lalu lintas yang memadai disetiap
kegiatan lapangan. Bila diperlukan dapat ditempatkan petugas pemberi isyarat
yang bertugas mengatur arus lalu lintas pada saat pelaksanaan.
4) Rekayasa Lapangan
Dengan petunjuk Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas survey/rekayasa
lapangan dilaksanakan untuk menentukan kondisi fisik dan strucktural dari
pekerjaan dan fasilitas yang ada dilokasi pekerjaan, sehingga diungkinkan untuk
mengadakan peninjauan ulang terhadap rancangan kerja yang telah diberikan
system dan tatacara survey dikordinasikan dengan direksi teknis.
5) Material dan Penyimpanan
Bahan material yang akan digunakan dalam pekerjaan harus menemui spesifikasi
dan standar yang berlaku, baik ukuran, type maupun ketentuan lainnya sesuai
petunjuk Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas. Semua material yang akan
digunakan untuk
proses pembuatan Lapis Pondasi Agregat Kelas A, B dan S, Tanah Timbunan, Semen,
Asphalt, Pasir dan bahan material yang terdapat dalam spesifikasi telah mendapat
persetujuan dari pihak Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas.
6) Jadwal Pelaksanaan
Jadwal pelaksanaan dibuat pihak kontraktor, diajukan kepada Direksi Teknis untuk
dibahas dan mendapat persetujuan pada saat dilaksanakan rapat pendahuluan (Pre
construction Meeting/PCM).
7) Pelaksanaan Mobilisasi Peralatan
Dalam pelaksanaan proyek ini mobilisasi peralatan utama meliputi :
a) Concrete Mixing Plant
b) Truck Mixer
c) Asphalt Mixing Plant
d) Asphalt finisher
e) Tyre Roller
f) Tandem Roller
8) Papan Nama Pekerjaan
a) Papan Nama ini digunakan sebagai identitas dan informasi mengenai proyek.
b) Papan nama proyek dibuat dengan ukuran atas persetujuan Direksi Pekerjaan.
c) Bahan yang dipakai : kayu kasau, plywood, paku, semen dan lain-lain
d) Papan mana proyek dipasang dipangkal dan ujung lokasi pekerjaan
e) Papan nama dipelihara selama pelaksanaan proyek
9) Mobilisasi Personil
Mobilisasi personil inti pada pelaksanaan pekerjaan ini meliputi penugasan tenaga
ahli maupun tenaga pendukung dan para pekerja dalam melaksanakan pekerjaan
tersebut baik dilokasi sesuai kebutuhan yang disyaratkan dalam kontrak pelaksanaan
pekerjaan
M E T O D E P E L A K S A N A A N P E K E R J A A N
DIVISI 3.
PEKERJAAN TANAH DAN GEOSINTETIK
A. GALIAN BIASA
Pekerjaan ini mencakup penggarukan dan penyiapan permukaan tanah dasar atau permukaan
tanah existing. Pelaksanaan pekerjaan galian biasa ini prosedurnya sebagai berikut :
Asumsi
Menggunakan Alat Berat (Cara Mekanik)
Kapasitas kerja sesuai kapasitas alat yang disyaratkan
Kemiringan sesuai petunjuk Direksi Teknis
Urutan Kerja/ Metode Kerja :
Penggalian dilaksanakan menurut kelandaian, garis, dan elevasi yang ditentukan
dalam Gambar atau ditunjukkan oleh Direksi Pekerjaan dan mencakup
pembuangan semua bahan dalam bentuk apapun yang dijumpai, termasuk tanah,
batu, batu bata, beton, pasangan batu dan bahan perkerasan lama, yang tidak
digunakan untuk pekerjaan permanen.
Pekerjaan galian harus dilaksanakan dengan gangguan yang seminimal mungkin
terhadap bahan di bawah dan di luar batas galian.
Tonjolan-tonjolan batu yang runcing pada permukaan yang terekspos tidak boleh
tertinggal dan semua pecahan batu yang diameternya lebih besar dari 15 cm harus
dibuang. Profil galian yang disyaratkan harus diperoleh dengan cara menimbun
kembali dengan bahan yang disetujui Direksi Pekerjaan dan dipadatkan.
Semua galian terbuka harus diberi rambu peringatan dan penghalang
(barikade) yang cukup untuk mencegah pekerja atau orang lain terjatuh ke
dalamnya, dan setiap galian terbuka pada lokasi jalur lalu lintas maupun
lokasi bahu jalan harus diberi rambu tambahan pada malam hari berupa drum
yang dicat putih (atau yang sejenis).
Peralatan Yang Digunakan
Exavator
Dump Truck
Alat Bantu
B. PENYIAPAN BADAN JALAN
Pekerjaan ini mencakup penggarukan, penyiapan dan pemadatan permukaan tanah dasar
atau permukaan jalan kerikil lama untuk penghamparan Lapis Pondasi Agregat, Lapis Pondasi
Agregat pada galian pelebaran badan jalan. Pelaksanaan pekerjaan penyiapan badan jalan ini
prosedurnya sebagai berikut :
Asumsi
Menggunakan Alat Berat (Cara Mekanik)
Kapasitas kerja sesuai kapasitas alat yang disyaratkan
Kemiringan sesuai petunjuk Direksi Teknis
Urutan Kerja/ Metode Kerja :
Tanah yang sudah digali dan ditimbun dipadatkan lalu dibentuk penampang
jalan sesuai dengan elevasi jalan yang direncanakan
Tanah eksisting sepanjang jalan lokasi pekerjaan diratakan menggunakan alat
motor grader dan dipadatkan menggunakan vibratory roller dibentuk
penampang jalan sesuai dengan elevasi jalan yang direncanakan
Pekerjaan ini dilakukan berulang dengan beberapa lintasan dan overlay blade
diikuti pengecekan elevasi kemiringan dan kerataan badan jalan
Pekerjaan ini dilakukan menggunakan motor grader dan vibro roller. Dilakukan
pemadatan dengan vibro terlebih dahulu kemudian motor grader membentuk
penampang jalan. Setelah itu dipadatkan kembali dengan vibro roller. Begitu
seterusnya hingga terbentuk kemiringan penampang yang direncanakan atau
yang disyaratkan berdsarkan spesifikasi teknis.
Gambar. Pekerjaan Penyiapan Badan Jalan
Peralatan Yang Digunakan
Motor Grader
Tandem / Vibro Roller
Alat Bantu
C. PEKERJAAN TIMBUNAN TANAH
Pekerjaan ini mencakup pengadaan, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan tanah
atau bahan berbutir yang disetujui untuk pembuatan timbunan, untuk penimbunan kembali
galian pipa atau struktur dan untuk timbunan umum yang diperlukan untuk membentuk
dimensi timbunan sesuai dengan garis, kelandaian, dan elevasi penampang melintang yang
disyaratkan atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
a) Pengajuan Kesiapan Kerja
Untuk setiap timbunan yang akan dibayar menurut ketentuan Seksi dari Spesifikasi ini,
Penyedia Jasa harus menyerahkan pengajuan kesiapan di bawah ini kepada Direksi
Pekerjaan sebelum setiap persetujuan untuk memulai pekerjaan disetujui oleh Direksi
Pekerjaan:
Gambar detil penampang melintang yang menunjukkan permukaan yang
telah dipersiapkan untuk penghamparan timbunan
Hasil pengujian kepadatan yang membuktikan bahwa pemadatan pada
permukaan yang telah disiapkan untuk timbunan yang akan dihampar cukup
memadai, bilamana diperlukan menurut Pasal 3.2.3.1).b) di bawah ini.
Penyedia Jasa harus menyerahkan hal-hal berikut ini kepada Direksi Pekerjaan paling
lambat 14 hari sebelum tanggal yang diusulkan untuk penggunaan pertama kalinya
sebagai bahan timbunan:
Dua contoh masing-masing 50 kg untuk setiap jenis bahan, satu contoh harus
disimpan oleh Direksi Pekerjaan untuk rujukan selama Periode Kontrak
Pernyataan tentang asal dan komposisi setiap bahan yang diusulkan untuk
bahan timbunan, bersama-sama dengan hasil pengujian laboratorium yang
menunjukkan bahwa sifat-sifat bahan tersebut memenuhi ketentuan yang
disyaratkan Pasal 3.2.2.
Penyedia Jasa harus menyerahkan hal-hal berikut ini dalam bentuk tertulis kepada
Direksi Pekerjaan segera setelah selesainya setiap ruas pekerjaan, dan sebelum
mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan, tidak diperkenankan menghampar
bahan lain di atas pekerjaan timbunan sebelumnya :
Hasil pengujian kepadatan seperti yang disyaratkan dalam Pasal 3.2.4
Hasil pengukuran permukaan dan data survei yang menunjukkan bahwa
toleransi permukaan yang disyaratkan dalam Pasal 3.2.1.3) dipenuhi
b. Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan
Sebelum pekerjaan dimulai, terlebih dahulu mempersiapkan gambar design dari data-
data awal yang diambil pada saat joint survey dan gambar design lokasi ini diajukan
dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan terlebih dahulu yaitu dengan gambar penampang
melintang yang menunjukkan elevasi permukaan tiap titik.
Setelah gambar design penampang melintang disetujui, kemudian dilaksanakan
pemasangan patok-patok elevasi (bowplang).
Sebelum material didatangkan dari quarry yang telah disepakati bersamasama dengan
Direksi, diadakan pengujian sample material selected terlebih dahulu. Dan setelah
pengujian material telah disetujui oleh Direksi dan kemudian dituangkan ke dalam
report hasil investigasi dan menjadi pegangan untuk pelaksanaan pengiriman material
untuk pekerjaan.
Setelah itu, material dari quarry dikirim ke lokasi dengan memakai dump truk, dan
pada lokasi telah tersedia peralatan penghamparan dan pemadatan serta water tank
untuk menjaga pada saat penghamparan material tetap dalam kadar air yang telah
disepakati bersama dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
Material dihampar dengan Motor Grader secara per layer dengan tebal hampar
maksimum 20 cm dan kemudian diikuti dengan pemadatan oleh Vibro Roller yang juga
telah disepakati jumlah lintasan pemadatan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
Kemudian, apabila penghamparan dilaksanakan pada saat terik matahari yang
mengakibatkan material menjadi kering dan terburai oleh hembusan angina maka
segera dilakukan penyiraman air dengan water tank.
Kemudian setelah penghamparan telah tercapai 200 m’ maka dilakukan test
kepadatan dengan menggunakan alat Sandcone.
Jika hasil test sudah sesuai lanjutkan pekerjaan lain.
c. Peralatan Yang Digunakan
Motor Grader
Tandem Roller
Alat Bantu
M E T O D E P E L A K S A N A A N P E K E R J A A N
DIVISI 5.
PEKERJAAN PERKERASAN BERBUTIR
A. LAPIS PONDASI AGREGAT KELAS A
Agregat Base kelas A adalah merupakan campuran agregat halus dan kasar yang dapat
memenuhi gradasi sesuai dengan Spesifikasi.
Proses Pencampuran bahan untuk memenuhi ketentuan yang disyaratkan harus
dikerjakan di lokasi instalasi pemecah batu Quaary yang disetujui, dengan menggunakan
pemasok mekanis yang telah dikalibrasi untuk memperoleh aliran yang menerus dari
komponen-komponen campuran dengan proporsi yang benar dan dalam keadaan
apapun tidak dibenarkan melakukan pencampuran di lapangan. Whell Loader memuat
Agregat klas A ke dalam Dump Truck di Base Camp dan diangkut ke lokasi pekerjaan
dengan Dump Truck lalu dihampar dengan Motor Grader/bulldozer, hamparan agregat
dibasahi dengan Water Tanker sebelum dan sesudah pemadatan dengan Vibro Roller
dan selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan level
permukaan dengan alat bantu kereta dorong, sekop dan garpu.
Dari lokasi Quarry tersebut, dilaksanakan pengambilan contoh material (sampling )
pada beberapa titik untuk dilakukan pengujian di laboratorium. Jenis tes yang
dilaksanakan meliputi dan tidak terbatas pada:
- Batas Cair dengan Alat Casagrande (SNI 03-1967-1990)
- Pengunjian Batas Plastis (SNI 03-1966-1990)
- Keausan Agregat dengan Mesin LA (SNI 03-1966-1990)
- Kepadatan Berat Untuk Tanah (SNI 03-1743 1989)
- Gumpalan Lempung dan Butir-Butir Mudah Pecah dalam Agregat (SK SNI M –01-
1994-03)
- Kepadatan Lapangan dg Konus Pasir (SNI 03-2827-1992)
- Kepadatan Berat Untuk Tanah (SNI 03-1743-1989)
- Pengujian CBR Laboratprium (SNI 03-1744-1989)
Selanjutnya dilakukan pembuatan Job Mix Formula, sehingga didapat komposisi material
yang akan dipergunakan. Berikutnya juga dilakukan Trial Compaction, guna mengetahui
berapa jumlah lintasan masing – masing alat yang akan digunakan, untuk mendapatkan
nilai kepadatan sesuai dengan Spesifikasi.
1) Jenis Peralatan yang digunakan sebagai berikut :
- Wheel Loader/Excavator
- Dump truck
- Motor Grader
- Vibro Roller
- Water Tank
- Alat Bantu
2) Staking Out/ Pengukuran Ulang Lapangan
Staking Out dilapangan untuk menentukan:
- Patok Referensi. (elevasi dan koordinat)
- Patok Centre Line
- Patok Batas Lapis pondasi aggregate Kelas A
3) Penyiapan Tempat Kerja
- Pengendalian lalu lintas sesuai ketentuan agar kegiatan tidak terganggu
- Pembuatan patok sebagai tanda ketinggian atau elevasi sesuai gambar rencana
- Bilamana lapis pondasi agregat akan dihampar pada perkerasan atau bahu
jalan lama, semua kerusakan yang terjadi pada perkerasan atau bahu jalan
diperbaiki terlebih dahulu sampai mendapatkan persetujuan dari Direksi
Pekerjaan
- Bilamana lapis pondasi agregat akan dihampar pada suatu lapisan perkerasan
lama atau tanah dasar baru yang disiapkan, maka lapisan ini diselesaikan
terlebih dahulu hingga mendapatkan persetujuan dari Direksi Pekerjaan
- Bilamana lapis pondasi agregat akan dihampar langsung di atas permukaan
perkerasan aspal lama, maka dilakukan penggarukan atau pengaluran pada
permukaan perkerasan aspal lama agar diperoleh tahanan geser yang lebih baik.
4) Pemeriksaan Kadar Air (Water Content)
Pemeriksaan kadar air material Agregat Base Kelas A dilaksanakan dengan ketentuan:
- Apabila kadar air material berada dalam batas toleransi yang disyaratkan
(biasanya diukur dari kadar air optimum) material dapat langsung dihampar dan
dipadatkan
- Apabila kadar air melebihi batas toleransi yang diijinkan, material dikeringkan
terlebih dulu dengan cara dihampar (diangin-anginkan) sampai kadar air
mencapai toleransi tersebut
- Apabila kadar air material lebih kecil dari batas toleransi yang diijinkan, material
dihampar dan disiram dengan air untuk menaikkan kadar air
5) Approval Material Aggregat A
6) Penghamparan Material Aggregat A
Penghamparan material dilaksanakan dengan menggunakan Motor Grader. Pada
penghamparan material ini yang perlu diperhatikan adalah:
- Kondisi cuaca saat pelaksanaan
- Pengaturan jarak bongkar material agar didapatkan ketebalan yang rata, karena
akan terjadi segregasi material bila terlalu banyak pengaturan untuk
penambahan atau pengurangan sesuai tebal rencana
- Bila penghamparan agregat dilakukan lebih dari satu lapis, maka dibuat
ketebalan yang sama. Tetapi ketebalan ideal dalam penghamparan adalah
sebesar dua kali ukuran maksimum agregat
- Bila terjadi segregasi, maka lakukan segera perbaikan dengan menambah atau
mengganti dengan material yang baru.
Operasi penghamparan harus dimulai dari sepanjang tepi dan bergerak sedikit
demi sedikit ke arah sumbu jalan, dalan arah memanjang. Pada bagian yang
ber”superelevasi”, penggilasan harus dimulai dari bagian yang rendah dan
bergerak sedikit demi sedikit ke bagian yang lebih tinggi. Operasi penggilasan
harus dilanjutkan sampai seluruh bekas roda mesin gilas hilang dan lapis
tersebut terpadatkan secara merata. Tebal padat minimum untuk pelaksanakan
setiap lapisan harus dua kali ukuran terbesar agregat lapis pondasi. Tebal padat
maksimum tidak boleh melebihi 15 cm, kecuali diperintahkan lain oleh Direksi
Pekerjaan.
7) Pemadatan
Pemadatan (compaction ) dilaksanakan dengan menggunakan Vibro Roller/Smooth
drum , dimulai dari bagian tepi ke bagian tengah. Setelah pemadatan satu pas
selesai, alat pemadat dipindahkan ke sebelahnya dengan overlapping 1/8 lebar
drum dan seterusnya hingga mencakup seluruh area pemadatan. Langkah
tersebut diulang kembali hingga jumlah passing pemadatan setiap lintasan
mencapai jumlah passing tertentu (Sesuai hasil Trial).
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada tahap ini adalah:
- Lapis pondasi agregate paling atas yang diselesaikan setiap section
pemadatan harus dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki kemiringan sesuai
spesifikasi. Hal ini dimaksudkan agar air hujan cepat terbuang keluar area
timbunan pilihan dan tidak meninggalkan genangan yang dapat mengganggu
pekerjaan pada lapis diatasnya
- Apabila kadar air material kurang maka ditambahkan air dengan cara
menyemprotkan air dari truck tangki air, Banyaknya air yang disemprotkan
harus diperhitungkan agar tidak berlebihan
- Patok referensi elevasi lapis pondasi agregate, centre line , batas-batas lapis
pondasi agregate dan patok kemiringan agar dibuat dengan jelas, diupdate
sesuai dengan elevasi lapis pondasi agregate yang telah diselesaikan dan dijaga
keberadaannya untuk memudahkan pemeriksaan dan pengontrolan pekerjaan
- Untuk lokasi lapis pondasi agregate yang tidak dapat dijangkau dengan Vibro
Roller/Smooth drum , digunakan Baby Roller atau Stamper disesuaikan dengan
kondisi lapangan, misalnya pada pertemuan timbunan dengan struktur
jembatan, box culvert, dan lain-lain.
Pada lokasi lapis pondasi agregate harus dibuatkan temporary drain sedemikian
rupa sehingga setiap terjadi hujan saluran tersebut dapat menampung air dan
berfungsi dengan baik sehingga tidak mengakibatkan genangan atau kelongsoran
yang dapat menghambat pelaksanaan pekerjaan.
8) Pengujian
Suatu program pengujian rutin pengendalian mutu bahan dilaksanakan untuk
mengendalikan ketidakseragaman bahan yang dibawa ke lokasi pekerjaan.
Pengujian yang dilakukan meliputi :
- Pengujian kadar air agregat untuk kontrol penghamparan
- Pengujian indeks plastisitas 5 pengujian /1000 m3
- Pengujian gradasi partikel 5 pengujian /1000 m3
- Pengujian Kepadatan Lapangan dengan alat Konus Pasir < 200 m
B. LAPIS PONDASI AGREGAT KELAS B
Agregat Base kelas B adalah merupakan campuran agregat halus dan kasar yang dapat
memenuhi gradasi sesuai dengan Spesifikasi.
Proses Pencampuran bahan untuk memenuhi ketentuan yang disyaratkan harus
dikerjakan di lokasi instalasi pemecah batu Quaary yang disetujui, dengan menggunakan
pemasok mekanis yang telah dikalibrasi untuk memperoleh aliran yang menerus dari
komponen-komponen campuran dengan proporsi yang benar dan dalam keadaan
apapun tidak dibenarkan melakukan pencampuran di lapangan. Whell Loader memuat
Agregat klas B ke dalam Dump Truck di Base Camp dan diangkut ke lokasi pekerjaan
dengan Dump Truck lalu dihampar dengan Motor Grader/bulldozer, hamparan agregat
dibasahi dengan Water Tanker sebelum dan sesudah pemadatan dengan Vibro Roller
dan selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan level
permukaan dengan alat bantu kereta dorong, sekop dan garpu.
Dari lokasi Quarry tersebut, dilaksanakan pengambilan contoh material (sampling )
pada beberapa titik untuk dilakukan pengujian di laboratorium. Jenis tes yang
dilaksanakan meliputi dan tidak terbatas pada:
- Batas Cair dengan Alat Casagrande (SNI 03-1967-1990)
- Pengunjian Batas Plastis (SNI 03-1966-1990)
- Keausan Agregat dengan Mesin LA (SNI 03-1966-1990)
- Kepadatan Berat Untuk Tanah (SNI 03-1743 1989)
- Gumpalan Lempung dan Butir-Butir Mudah Pecah dalam Agregat (SK SNI M –01-
1994-03)
- Kepadatan Lapangan dg Konus Pasir (SNI 03-2827-1992)
- Kepadatan Berat Untuk Tanah (SNI 03-1743-1989)
- Pengujian CBR Laboratprium (SNI 03-1744-1989)
Selanjutnya dilakukan pembuatan Job Mix Formula, sehingga didapat komposisi material
yang akan dipergunakan. Berikutnya juga dilakukan Trial Compaction, guna mengetahui
berapa jumlah lintasan masing – masing alat yang akan digunakan, untuk mendapatkan
nilai kepadatan sesuai dengan Spesifikasi.
9) Jenis Peralatan yang digunakan sebagai berikut :
- Wheel Loader/Excavator
- Dump truck
- Motor Grader
- Vibro Roller
- Water Tank
- Alat Bantu
10) Staking Out/ Pengukuran Ulang Lapangan
Staking Out dilapangan untuk menentukan:
- Patok Referensi. (elevasi dan koordinat)
- Patok Centre Line
- Patok Batas Lapis pondasi aggregate Kelas B
11) Penyiapan Tempat Kerja
- Pengendalian lalu lintas sesuai ketentuan agar kegiatan tidak terganggu
- Pembuatan patok sebagai tanda ketinggian atau elevasi sesuai gambar rencana
- Bilamana lapis pondasi agregat akan dihampar pada perkerasan atau bahu
jalan lama, semua kerusakan yang terjadi pada perkerasan atau bahu jalan
diperbaiki terlebih dahulu sampai mendapatkan persetujuan dari Direksi
Pekerjaan
- Bilamana lapis pondasi agregat akan dihampar pada suatu lapisan perkerasan
lama atau tanah dasar baru yang disiapkan, maka lapisan ini diselesaikan
terlebih dahulu hingga mendapatkan persetujuan dari Direksi Pekerjaan
- Bilamana lapis pondasi agregat akan dihampar langsung di atas permukaan
perkerasan aspal lama, maka dilakukan penggarukan atau pengaluran pada
permukaan perkerasan aspal lama agar diperoleh tahanan geser yang lebih baik.
12) Pemeriksaan Kadar Air (Water Content)
Pemeriksaan kadar air material Agregat Base Kelas A dilaksanakan dengan ketentuan:
- Apabila kadar air material berada dalam batas toleransi yang disyaratkan
(biasanya diukur dari kadar air optimum) material dapat langsung dihampar dan
dipadatkan
- Apabila kadar air melebihi batas toleransi yang diijinkan, material dikeringkan
terlebih dulu dengan cara dihampar (diangin-anginkan) sampai kadar air
mencapai toleransi tersebut
- Apabila kadar air material lebih kecil dari batas toleransi yang diijinkan, material
dihampar dan disiram dengan air untuk menaikkan kadar air
13) Approval Material Aggregat B
14) Penghamparan Material Aggregat B
Penghamparan material dilaksanakan dengan menggunakan Motor Grader. Pada
penghamparan material ini yang perlu diperhatikan adalah:
- Kondisi cuaca saat pelaksanaan
- Pengaturan jarak bongkar material agar didapatkan ketebalan yang rata, karena
akan terjadi segregasi material bila terlalu banyak pengaturan untuk
penambahan atau pengurangan sesuai tebal rencana
- Bila penghamparan agregat dilakukan lebih dari satu lapis, maka dibuat
ketebalan yang sama. Tetapi ketebalan ideal dalam penghamparan adalah
sebesar dua kali ukuran maksimum agregat
- Bila terjadi segregasi, maka lakukan segera perbaikan dengan menambah atau
mengganti dengan material yang baru.
Operasi penghamparan harus dimulai dari sepanjang tepi dan bergerak sedikit
demi sedikit ke arah sumbu jalan, dalan arah memanjang. Pada bagian yang
ber”superelevasi”, penggilasan harus dimulai dari bagian yang rendah dan
bergerak sedikit demi sedikit ke bagian yang lebih tinggi. Operasi penggilasan
harus dilanjutkan sampai seluruh bekas roda mesin gilas hilang dan lapis
tersebut terpadatkan secara merata. Tebal padat minimum untuk pelaksanakan
setiap lapisan harus dua kali ukuran terbesar agregat lapis pondasi. Tebal padat
maksimum tidak boleh melebihi 15 cm, kecuali diperintahkan lain oleh Direksi
Pekerjaan.
15) Pemadatan
Pemadatan (compaction ) dilaksanakan dengan menggunakan Vibro Roller/Smooth
drum , dimulai dari bagian tepi ke bagian tengah. Setelah pemadatan satu pas
selesai, alat pemadat dipindahkan ke sebelahnya dengan overlapping 1/8 lebar
drum dan seterusnya hingga mencakup seluruh area pemadatan. Langkah
tersebut diulang kembali hingga jumlah passing pemadatan setiap lintasan
mencapai jumlah passing tertentu (Sesuai hasil Trial).
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada tahap ini adalah:
- Lapis pondasi agregate paling atas yang diselesaikan setiap section
pemadatan harus dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki kemiringan sesuai
spesifikasi. Hal ini dimaksudkan agar air hujan cepat terbuang keluar area
timbunan pilihan dan tidak meninggalkan genangan yang dapat mengganggu
pekerjaan pada lapis diatasnya
- Apabila kadar air material kurang maka ditambahkan air dengan cara
menyemprotkan air dari truck tangki air, Banyaknya air yang disemprotkan
harus diperhitungkan agar tidak berlebihan
- Patok referensi elevasi lapis pondasi agregate, centre line , batas-batas lapis
pondasi agregate dan patok kemiringan agar dibuat dengan jelas, diupdate
sesuai dengan elevasi lapis pondasi agregate yang telah diselesaikan dan dijaga
keberadaannya untuk memudahkan pemeriksaan dan pengontrolan pekerjaan
- Untuk lokasi lapis pondasi agregate yang tidak dapat dijangkau dengan Vibro
Roller/Smooth drum , digunakan Baby Roller atau Stamper disesuaikan dengan
kondisi lapangan, misalnya pada pertemuan timbunan dengan struktur
jembatan, box culvert, dan lain-lain.
Pada lokasi lapis pondasi agregate harus dibuatkan temporary drain sedemikian
rupa sehingga setiap terjadi hujan saluran tersebut dapat menampung air dan
berfungsi dengan baik sehingga tidak mengakibatkan genangan atau kelongsoran
yang dapat menghambat pelaksanaan pekerjaan.
16) Pengujian
Suatu program pengujian rutin pengendalian mutu bahan dilaksanakan untuk
mengendalikan ketidakseragaman bahan yang dibawa ke lokasi pekerjaan.
Pengujian yang dilakukan meliputi :
- Pengujian kadar air agregat untuk kontrol penghamparan
- Pengujian indeks plastisitas 5 pengujian /1000 m3
- Pengujian gradasi partikel 5 pengujian /1000 m3
- Pengujian Kepadatan Lapangan dengan alat Konus Pasir < 200 m
M E T O D E P E L A K S A N A A N P E K E R J A A N
DIVISI 6.
PEKERJAAN PERKERASAN ASPAL
A. LAPIS RESAP PENGIKAT - ASPAL CAIR/EMULSI & LAPIS PEREKAT - ASPAL CAIR/EMULSI
Pekerjaan ini digunakan sebagai Lapis Perekat atas perkerasan Agregat dan Lapis Resap
Pengikat di atas pemukaan agregat dengan konstruksi diatasnya, sebelum dilakukan
penyemprotan aspal dipanaskan pada tangki Aspal Sprayer sesuai spesifikasi setelah itu aspal
Lapis Resap Pengikat disemprotkan ke Lapis Pondasi Agregat Klas A dengan ketebalan 0,15
liter / meter persegi.
Dikerjakan secara mekanik dengan urutan kerja sebagai berikut Aspal dicampur dan
dipanaskan sehingga menjadi campuran aspal cair Permukaan yang akan dilapis dibersihkan
dari debu dan kotoran dengan Air Compresor. Di semprotkan dengan merata dengan asphal
sprayer pada badan jalan yang akan dipasang Lapisan Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base).
Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal pada permukaan
yang telah disiapkan sebelumnya untuk pemasangan lapisan beraspal berikutnya. Dan
dihampar diatas permukaan yang beraspal.
Tahap dan Cara Pelaksanaan
MULAI
PEMBERSIHAN LOKASI
PENCAMPURAN ASPAL & KEROSIN
MENGGUNAKAN AIR COMPRESOR
PENYEMPROTAN CAMPURAN ASPAL
CAIR/ SPRAYER
SELESAI
Gambar. Pelaksanaan Pekerjaan Lapis Perekat – Aspal Cair/ Emulsi
Analisa Pengerahan Alat & Material
a) Alat yang digunakan
Asphalt Sprayer
Air Compresor
Asphalt Distributor
Dump Truck
Alat bantu
b) Material yang digunakan
Aspal Emulsi CSS-1 atau SS-1 / RS-1
Analisa Pengerahan Personil & K3
a) Mutu yang diharapkan :
Lapisan yang telah terhampar sesuai dengan rencana
b) Pengendalian Mutu:
Tiap 200 m ada 5 penampang, masing 1 penampang ada 3 kertas uji
B. LATASTON LAPIS PONDASI (AC-BC asb)
Pencampuran dilakukan dengan Asphal Mixing Plant, diangkut dengan dump truck dan
dihampar dengan asphal finisher, dipadatkan dengan tandem Roller dan Pneumatic Tyre
Roller. serta dirapikan oleh pekerja dengan alat bantu. Dilaksanakan sesuai dengan rencana
dan atas persetujuan pihak Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas.
Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup pengadaan lapisan padat yang awet untuk lapis perata, lapis
pondasi atau lapis campuran aspal yang terdiri dari agregat dan bahan aspal yang
dicampur di AMP, serta menghampar dan memadatkan campuran tersebut diatas
pondasi atau permukaan jalan yang telah disiapkan.
Tahap dan Cara Pelaksanaan
MULAI
PERSIAPAN ALAT DAN MATERIAL
PENCAMPURAN
ASPHALT+AGREGAT+FILLER+ADITIF
(PROSES DI AMP)
PENGANGKUTAN ASPAL KELOKASI
PEKERJAAN
PENGHAMPARAN
PEMADATAN
SELESAI
Gambar. Pekerjaan Laston Lapis Antara (AC-BC Asb)
Analisa Pengerahan Alat & Material
a) Alat yang Digunakan
AMP+Laboratorium
Wheel Loader
Dump Truck
Asphalt Finisher
Tandem Roller
Pneumatic Tire Roller
Alat Bantu
b) Material yang digunakan
Asphalt
Agregat Kasar
Agregat Halus
Filler
Kerosin/Minyak Tanah
Analisa Pengerahan Personil & K3
a) Personil yang dikerahkan
Pelaksana
Petugas K3L
Tenaga Kerja
b) Aspek K3
Memasang Rambu Peringatan
c) Menggukana alat pelindung (APD)
Sarung Tangan
Helm
Sepatu Safety
Pengendalian Mutu
a) Mutu yang diharapkan :
Permukaan yang rata sesuai spesifikasi yang disyaratkan
Elevasi sesuai dengan yang direncanakan
Campuran aspal sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan
b) Pengendalian Mutu
M E T O D E P E L A K S A N A A N P E K E R J A A N
DIVISI 7. PEKERJAAN
STRUKTUR
A. BETON STRUKTUR, FC’10 MPA
Pekerjaan Struktur ini akan meliputi semua pengadaan material dan tenaga kerja untuk
produksi serta pelaksanaan pekerjaan beton dan beton bertulang, termasuk uji kekuatan
dan perawatannya, yang akan meliputi antara lain :
1. Material pembentukan beton
2. Pengadaan beton
3. Baja tulangan
4. Pekerjaan beton bertulang
5. Perawatan beton
6. Uji kelayakan dan kekuatan beton
Minimal dengan kuat tekan silinder fc' = 10 MPa, artinya mempunyai kuat tekan hancur
karakteristik sebesar 10 MPa pada benda uji silinder dengan diameter 150 mm dan tinggi 300
mm, saat umur beton 28 hari. Kuat tekan tersebut di atas adalah lebih kurang setara dengan
mutu beton K-150 pada NI-2, yaitu kuat tekan hancur karakteristik sebesar 150 kg/cm2 pada
benda uji kubus dengan sisi 150 mm, saat umur beton 28 hari. Kuat tekan karakteristik adalah
kuat tekan beton yang sudah memperhitungkan adanya deviasi secara statistik pada sejumlah
benda uji beton, baik itu silinder maupun kubus, sesuai dengan SKSNI-T15-1991, atau NI-2-
1971 dalam hal benda uji kubus.
Untuk mutu beton fc’ > 10 Mpa atau K150 seluruh komponen bahan beton harus ditakar
menurut berat. Untuk mutu beton fc’ < 10 MPa atau K150 diizinkan ditakar menurut volume
sesuai SNI 03-3976-1995. Bila digunakan semen kemasan dalam zak, kuantitas penakaran
harus sedemikian sehingga kuantitas semen yang digunakan adalah setara dengan satu satuan
atau kebulatan dari jumlah zak semen. Agregat harus ditimbang beratnya secara terpisah.
Ukuran setiap penakaran tidak boleh melebihi kapasitas alat pencampur.
Pihak Kami sekurang-kurangnya dua minggu sebelum memulai pekerjaan beton membuat
adukan percobaan (trial mixes) dengan menggunakan contoh bahan-bahan beton (semen,
agregat, air dan bahan tambahan) yang akan digunakan nantinya untuk menunjukkan bahwa
campuran tersebut memenuhi kriteria untuk mencaai mutu kerja kinerja beton yang
diisyaratkan.
Urutan pelaksanaan pekerjaan Beton F’c 10 Mpa (K-150) adalah sebagai berikut :
Pengajuan Job Mix Design
Trial campuran beton sesuai dengan Job Mix Design
1. Beton secepat mungkin dicorkan setelah pengadukan, dan dilakukan sedemikian
rupa sehingga tidak terjadi pengendapan agregat maupun bergesernya posisi
tulangan atau acuan. Pengecoran dilaksanakan secarakontinyu dalam satu elemen
struktur atau diantara siar pelaksanaan (construction joint) yang telah disetujui.
2. Pengecoran beton tidak dibenarkan untuk dimulai sebelum acuan/bekisting dan
pemasangan baja tulangan selesai diperiksa dan mendapat persetujuan Manajemen
konstruksi. Sebelum pengecoran dimulai, maka tempat yang akan dicor terlebih
dahulu dibersihkan dari segala kotoran (potongan kayu, batu, tanah dan lainlain) dan
dibasahi dengan air semen
3. Pengecoran dilakukan secara berlapis dan kontinyu, atau dengan metode
pengecoran yang diusulkan Pihak Kami dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi ,
dengan memperhatikan cara atau urutan pengecoran terutama untuk volume
pengecoran yang besar (beton massa), agar tidak terjadi cold joint dan juga
menghindari kemungkinan degradasi atau kerusakan beton akibat panas hindrasi
yang ditimbulkan. Untuk itu, sebelum pengecoran dilaksanakan, Pihak Kami
menyampaikan usaha prosedur pengecoran yang optimum kepada Manajemen
Konstruksi, untuk mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi.
4. Selama proses pengecoran, perlu dilakukan uji slump dan pengambilan contoh benda
uji, dengan disaksikan persetujuan dari Manajemen Konstruksi. Prosedur uji slump,
jumlah dan cara pengambilan contoh benda uji dan contoh cetakannya sesuai
dengan SKSNl, dan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Manajemen.
5. Untuk pengecoran dengan mutu beton yang sama, yang diambil minimal 1 buah
benda uji setiap 5 m3 pengecoran beton untuk volume pengecoran yang kurang dari
300 m3, atau minimal 1 buah setiap 10 m3 pengecoran beton untuk volume
pengecoran yang lebih dari 300 m3, dalam bentuk silinder berdiameter 150 mm dan
tinggi 300 mm.
6. Selama pengecoran berlangsung, beton dipadatkan dengan memakai vibrator, yang
dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak merusak acuan maupun posisi ulangan.
Pihak Kami menyediakan vibrator dalam jumlah yang cukup untuk menjamin efisiensi
pekerjaan tanpa adanya penundaan. Pemadatan beton secara berlebihan sehingga
menyebabkan pengendapan agregat, kebocoran acuan dan lain sebagainya,
dihindarkan.
7. Beton pada umumnya dicor secara berlapis. Lapisan-lapisan ini masing - masing
dipadatkan, dan dijaga sedemikian rupa supaya mempunyai ikatanyang baik satu
sama lain.
8. Beton dirawat (curing) dan dilindungi selama berlangsungnya proses pengerasan
terhadap panas matahari, angin, hujan atau aliran air dan pengeringan sebelum
waktunya.
9. Semua permukaan beton yang terbuka dijaga tetap basah selama minimal 14 hari,
dengan cara menyemprotkan air atau menggenangkan air pada permukaan beton
tersebut, atau dengan cara lain yang diusulkan Pihak Kami. Metode curing lebih
dahulu diusulkan dan mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi, sebelum
proses pengerasan beton.
10. Untuk pengecoran beton pada waktu cuaca panas, curing dan perlindungan atas
beton diperhatikan. Pihak Kami bertanggung jawab atas retaknya beton karena
kelalaian dalam melaksanakan pekerjaan curing ini.
B. BETON STRUKTUR, FC’20
MPA
Pekerjaan Struktur ini akan meliputi semua pengadaan material dan tenaga kerja untuk
produksi serta pelaksanaan pekerjaan beton dan beton bertulang, termasuk uji
kekuatan dan perawatannya, yang akan meliputi antara lain :
1. Material pembentukan beton
2. Pengadaan beton
3. Baja tulangan
4. Pekerjaan beton bertulang
5. Perawatan beton
6. Uji kelayakan dan kekuatan beton
Minimal dengan kuat tekan silinder fc' = 20 MPa, artinya mempunyai kuat tekan hancur
karakteristik sebesar 20 MPa pada benda uji silinder dengan diameter 150 mm dan tinggi 300
mm, saat umur beton 28 hari. Kuat tekan tersebut di atas adalah lebih kurang setara dengan
mutu beton K-250 pada NI-2, yaitu kuat tekan hancur karakteristik sebesar 150 kg/cm2 pada
benda uji kubus dengan sisi 150 mm, saat umur beton 28 hari. Kuat tekan karakteristik adalah
kuat tekan beton yang sudah memperhitungkan adanya deviasi secara statistik pada sejumlah
benda uji beton, baik itu silinder maupun kubus, sesuai dengan SKSNI-T15-1991, atau NI-2-
1971 dalam hal benda uji kubus.
Untuk mutu beton fc’ > 20 Mpa atau K-250 seluruh komponen bahan beton harus ditakar
menurut berat. Untuk mutu beton fc’ < 20 MPa atau K-250 diizinkan ditakar menurut volume
sesuai SNI 03-3976-1995. Bila digunakan semen kemasan dalam zak, kuantitas penakaran
harus sedemikian sehingga kuantitas semen yang digunakan adalah setara dengan satu satuan
atau kebulatan dari jumlah zak semen. Agregat harus ditimbang beratnya secara terpisah.
Ukuran setiap penakaran tidak boleh melebihi kapasitas alat pencampur.
Pihak Kami sekurang-kurangnya dua minggu sebelum memulai pekerjaan beton membuat
adukan percobaan (trial mixes) dengan menggunakan contoh bahan-bahan beton
(semen,gregat, air dan bahan tambahan) yang akan digunakan nantinya untuk menunjukkan
bahwa campuran tersebut memenuhi kriteria untuk mencaai mutu kerja kinerja beton yang
diisyaratkan.
Urutan pelaksanaan pekerjaan Beton F’c 20 Mpa (K-250) adalah sebagai berikut :
Pengajuan Job Mix Design
Trial campuran beton sesuai dengan Job Mix Design
1. Beton secepat mungkin dicorkan setelah pengadukan, dan dilakukan sedemikian rupa
sehingga tidak terjadi pengendapan agregat maupun bergesernya posisi tulangan
atau acuan. Pengecoran dilaksanakan secarakontinyu dalam satu elemen struktur atau
diantara siar pelaksanaan (construction joint) yang telah disetujui.
2. Pengecoran beton tidak dibenarkan untuk dimulai sebelum acuan/bekisting dan
pemasangan baja tulangan selesai diperiksa dan mendapat persetujuan Manajemen
konstruksi. Sebelum pengecoran dimulai, maka tempat yang akan dicor terlebih dahulu
dibersihkan dari segala kotoran (potongan kayu, batu, tanah dan lainlain) dan dibasahi
dengan air semen
3. Pengecoran dilakukan secara berlapis dan kontinyu, atau dengan metode
pengecoran yang diusulkan Pihak Kami dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi ,
dengan memperhatikan cara atau urutan pengecoran terutama untuk volume
pengecoran yang besar (beton massa), agar tidak terjadi cold joint dan juga menghindari
kemungkinan degradasi atau kerusakan beton akibat panas hindrasi yang ditimbulkan.
Untuk itu, sebelum pengecoran dilaksanakan, Pihak Kami menyampaikan usaha
prosedur pengecoran yang optimum kepada Manajemen Konstruksi, untuk
mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi.
4. Selama proses pengecoran, perlu dilakukan uji slump dan pengambilan contoh benda uji,
dengan disaksikan persetujuan dari Manajemen Konstruksi. Prosedur uji slump, jumlah
dan cara pengambilan contoh benda uji dan contoh cetakannya sesuai dengan
SKSNl, dan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Manajemen.
5. Untuk pengecoran dengan mutu beton yang sama, yang diambil minimal 1 buah
benda uji setiap 5 m3 pengecoran beton untuk volume pengecoran yang kurang dari
300 m3, atau minimal 1 buah setiap 10 m3 pengecoran beton untuk volume pengecoran
yang lebih dari 300 m3, dalam bentuk silinder berdiameter 150 mm dan tinggi 300 mm.
6. Selama pengecoran berlangsung, beton dipadatkan dengan memakai vibrator, yang
dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak merusak acuan maupun posisi ulangan. Pihak
Kami menyediakan vibrator dalam jumlah yang cukup untuk menjamin efisiensi pekerjaan
tanpa adanya penundaan. Pemadatan beton secara berlebihan sehingga menyebabkan
pengendapan agregat, kebocoran acuan dan lain sebagainya, dihindarkan.
7. Beton pada umumnya dicor secara berlapis. Lapisan-lapisan ini masing - masing
dipadatkan, dan dijaga sedemikian rupa supaya mempunyai ikatanyang baik satu sama
lain.
8. Beton dirawat (curing) dan dilindungi selama berlangsungnya proses pengerasan
terhadap panas matahari, angin, hujan atau aliran air dan pengeringan sebelum
waktunya.
9. Semua permukaan beton yang terbuka dijaga tetap basah selama minimal 14 hari,
dengan cara menyemprotkan air atau menggenangkan air pada permukaan beton
tersebut, atau dengan cara lain yang diusulkan Pihak Kami. Metode curing lebih
dahulu diusulkan dan mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi, sebelum
proses pengerasan beton.
10. Untuk pengecoran beton pada waktu cuaca panas, curing dan perlindungan atas beton
diperhatikan. Pihak Kami bertanggung jawab atas retaknya beton karena kelalaian
dalam melaksanakan pekerjaan curing ini.
B. PEKERJAAN BAJA TULANGAN POLOS-BJTP 280
Pekerjaan ini harus mencakup pengadaan dan pemasangan baja tulangan sesuai
dengan Spesifikasi dan Gambar, atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan. Adapun prosedur pelaksanaan pekerjaan Baja Tulangan Polos-BJTP 280:
1. Sebelum penyetelan dan pemasangan baja tulangan dimulai, Pihak Kami membuat
rencana kerja pemotongan dan pembengkokan baja tulangan (barbending schedule),
yang sebelumnya diserahkan kepada Manajemen Konstruksi untuk mendapatkan
persetujuan.
2. Tulangan bebas dari kotoran-kotoran seperti lemak, karet lepas, tanah, serta bahan-
bahan atau kotoran yang bisa mengurangi daya letaknya.
3. Pembengkokan baja tulangan dilakukan secara hati-hati dan teliti, sesuai dengan
aturan dalam SKSNI. Pembengkokan tersebut dilakukan oleh tenaga yang ahli,
dengan menggunakan alat- Alat sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan cacat,
patah dan retak-retak pada batang baja.
4. Pemasangan dan penyetalan tulangan berdasarkan peil-peil yang sesuai dengan
gambar, dan sudah diperhitungkan mengenai toleransi penurunannya. Pemasangan
dilakukan dengan menggunakan pengganjal jarak selimut beton (beton decking) untuk
mendapatkan tebal selimut yang sesuai dengan gambar. Apabila hal tersebut tidak
tercantum di dalam gambar atau dalam spesifikasi, maka dapat dipakai ketentuan dalam
peraturan yang berlaku. Yang dimaksud dengan selimut beton adalah jarak minimum
yang terdapat antara permukaan dari setiap besi beton termasuk begel terhadap
permukaan beton yang terkecil atau terdekat untuk setiap bagian dari masing-masing
pekerjaan beton.
Adapun ketebalan selimut beton minimum yang disyaratkan adalah :
5. Tulangan dipasang sedemikian rupa sehingga sebelum dan selama pengecoran tidak akan
berubah tempatnya.
6. Ketebalan selimut beton dibuat dengan pengganjal yang umum dipakai dalam
praktek, seperti terbuat dari beton (dengan mutu paling sedikit sama dengan mutu
beton yang akan dicor), dengan jumlah minimum 4 buah setiap m2 cetakan atau
lantai kerja, atau seperti yang diinstruksikan oleh Manajemen Konstruksi, dan tersebar
merata.
C. PASANGAN BATU
1). Uraian
Pekerjaan ini harus mencakup pembuatan struktur yang ditunjukkan dalam Gambar atau
seperti yang diperintahkan Pengawas Pekerjaan, yang dibuat dari Pasangan Batu. Pekerjaan
harus meliputi pemasokan semua bahan, penyiapan seluruh formasi atau fondasi termasuk
galian dan seluruh pekerjaan yang diperlukan untuk menyelesaikan struktur sesuai dengan
Spesifikasi ini dan memenuhi garis, ketinggian, potongan dan dimensi seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan secara tertulis oleh
Pengawas Pekerjaan.
Umumnya, pasangan batu harus digunakan hanya untuk struktur seperti dinding penahan
tanah, talud, gorong-gorong pelat, dan tembok kepala gorong-gorong besar dari pasangan
batu yang digunakan untuk menahan beban luar yang cukup besar. Bilamana fungsi utama
suatu pekerjaan sebagai penahan gerusan, bukan sebagai penahan beban, seperti lapisan
selokan, lubang penangkap, lantai goronggorong (spillway apron) atau pekerjaan pelindung
lainnya pada lereng atau di sekitar ujung gorong-gorong, maka Pasangan Batu dengan
Mortar (Mortared Stonework) atau pasangan batu kosong yang diisi (grouted rip rap) seperti
yang disyaratkan masing-masing dalam Seksi 2.2 dan 7.10, akan digunakan untuk pekerjaan
ini.
2) Gambar Kerja
Sebelum memulai pekerjaan, Penyedia Jasa harus menyiapkan dan menyerahkan Gambar
Kerja detail pelaksanaan pasangan batu untuk mendapat persetujuan dari Pengawas
Pekerjaan
3) Bahan
1) Batu
a) Batu harus bersih, keras, tanpa bagian yang tipis atau retak dan harus dari jenis yang
diketahui awet. Bila perlu, batu harus dibentuk untuk menghilangkan bagian yang
tipis atau lemah. Batu yang terdiri dari bahan yang porous atau batu kulit harus
ditolak.
b) Batu harus lancip atau lonjong bentuknya dan dapat ditempatkan saling mengunci bila
dipasang bersama-sama.
c) Ukuran batu dalam arah manapun tidak boleh kurang dari 15 cm
PELAKSANAAN PASANGAN BATU
1) Persiapan Fondasi
a) Fondasi untuk struktur pasangan batu harus disiapkan sesuai dengan syarat untuk Seksi
3.1, Galian.
b) Terkecuali disyaratkan lain atau ditunjukkan pada Gambar, dasar fondasi untuk struktur
dinding penahan harus tegak lurus, atau bertangga yang juga tegak lurus terhadap muka
dari dinding. Untuk struktur lain, dasar fondasi harus mendatar atau bertangga yang juga
horisontal.
c) Lapis landasan yang rembes air (permeable) dan kantung penyaring harus disediakan
bilamana disyaratkan sesuai dengan ketentuan dalam Seksi 2.4,
d) Bilamana ditunjukkan dalam Gambar, atau yang diminta lain oleh Pengawas Pekerjaan,
suatu fondasi beton mungkin diperlukan. Beton yang digunakan harus memenuhi
ketentuan dari Seksi 7.1 dari Spesifikasi.
2) Pemasangan Batu
a) Landasan dari adukan mortar semen baru paling sedikit 3 cm tebalnya harus dipasang pada
fondasi yang disiapkan sesaat sebelum penempatan masing-masing batu pada lapisan
pertama. Batu besar pilihan harus digunakan untuk lapis dasar dan pada sudut-sudut.
Perhatian harus diberikan untuk menghindarkan pengelompokkan batu yang berukuran
sama.
b) Batu harus dipasang dengan muka yang terpanjang mendatar dan muka yang tampak harus
dipasang sejajar dengan muka dinding dari batu yang terpasang.
c) Batu harus ditangani sedemikian hingga tidak menggeser atau memindahkan batu yang
telah terpasang. Peralatan yang cocok harus disediakan untuk mema-sang batu yang lebih
besar dari ukuran yang dapat ditangani oleh dua orang.
Menggelindingkan atau menggulingkan batu pada pekejaan yang baru dipasang tidak
diperkenankan.
5) Pekerjaan Akhir Pasangan Batu
a) Sambungan antar batu pada permukaan harus dikerjakan hampir rata dengan permukaan
pekerjaan, tetapi tidak sampai menutup batu, sebagaimana pekerjaan dilaksanakan.
b) Terkecuali disyaratkan lain, permukaan horisontal dari seluruh pasangan batu harus
dikerjakan dengan tambahan adukan mortar semen tahan cuaca setebal 2 cm, dan
dikerjakan sampai permukaan tersebut rata, mempunyai lereng melintang yang dapat
menjamin pengaliran air hujan, dan sudut yang dibulatkan. Lapisan tahan cuaca tersebut
harus dimasukkan ke dalam dimensi struktur yang disyaratkan.
c) Segera setelah batu ditempatkan, dan sewaktu adukan mortar semen masih baru, seluruh
permukaan batu harus dibersihkan dari bekas adukan.
d) Permukaan yang telah selesai harus dirawat seperti yang disyaratkan untuk Pekerjaan
Beton dalam Pasal 7.1.5.4) dari Spesifikasi ini.
e) Bilamana pekerjaan pasangan batu yang dihasilkan cukup kuat, dan dalam waktu yang
tidak lebih dini dari 14 hari setelah pekerjaan pasangan selesai dikerjakan, penimbunan
kembali harus dilaksanakan seperti disyaratkan, atau seperti diperintahkan oleh Pengawas
Pekerjaan, sesuai dengan ketentuan yang berkaitan dengan Seksi 3.2, Timbunan, atau
Seksi 2.4, Drainase Porous.
f) Lereng yang bersebelahan dengan bahu jalan harus dipangkas dan untuk memperoleh
bidang antar muka rapat dan halus dengan pasangan batu sehingga akan memberikan
drainase yang lancar dan mencegah gerusan pada tepi pekerjaan pasangan batu.
Peralatan
1. Satu Set Palu Tripot/Excavator
2. Alat Pertukangan
3. Alat bantu lainnya
Tenaga Kerja
1. Pekerja
2. Tukang
3. Mandor
4. Petugas K3
5. Operator Alat
Aspek K3
1. Rambu peringatan
2. Alat Pelindung diri (Sarung tangan,baju safety, masker,helm,sepatu safety
E. PENUTUP
Untuk melaksanakan pekerjaan dalam butir tersebut diatas, berlaku dan mengikat pula :
1. Gambar bestek yang dibuat Konsultan Perencana yang sudah disahkan oleh Pemberi
Tugas termasuk juga gambar – gambar detail yang diselesaikan oleh Kontraktor dan
sudah disahkan/disetujui oleh pengawas.
2. Rencana Kerja dan Syarat – Syarat ( RKS ).
3. Surat Perintah Kerja ( SPK ).
4. Surat Penawaran beserta lampiran – lampirannya.
5. Jadwal Pelaksanaan ( Tentative Time Schedule ).
6. Kontrak / Surat Perjanjian Pemborongan.
7. Instruksi – instruksi Direksi dan Pengawas.
Wanggudu. 20 Februari 2023
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
Kabupaten Konawe Utara
Ir. ALFIAN,S.ST.,MT
Pembina, (IV/a)
NIP. 19751015 201001 1 012