PEMERINTAH KABUPATEN KONAWE UTARA
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG
Alamat : Kompleks Perkantoran Pemda Kab. Konawe Utara
W A N G G U D U
URAIAN SINGKAT
PEKERJAAN
K/L/D/I : PEMERINTAH KABUPATEN KONAWE UTARA
SKPD : DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG
NAMA KPA/PPK : Ir. ALFIAN,S.ST.,MT
PROGRAM : PEMBANGUNAN JALAN
KEGIATAN : PENINGKATAN JALAN
PEKERJAAN : PEKERJAAN PENINGKATAN RUAS JALAN POLORA
INDAH-PARIAMA
PAGU : RP. 4.919.071.200,00-
(Empat milyar Sembilan ratus Sembilan belas juta tujuh
puluh satu ribu dua ratus ratus rupiah)
LOKASI : KECAMATAN KABUPATEN KONAWE
UTARA
TAHUN ANGGARAN
2023
U R A I A N S I N G K A T P E K E R J A A N
KEGIATAN : PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR JALAN DAN JEBATAN
SUB KEGIATAN : REKONSTRUKSI JALAN
PEKERJAAN : PEKERJAAN PENINGKATAN RUAS JALAN POLORA INDAH-PARIAMA
LOKASI : KECAMATAN LANGGIKIMA
TAHUN ANGGARAN : 2023
A. UMUM
1. PENDAHULUAN
Pada setiap pembangunan proyek kostruksi jalan sebagai Penyedia Jasa diharuskan
memahami secara menyeluruh tentang bagaimana tahapan pelaksanaan proyek yang akan
dilaksanakan. Dimana setiap proyek memiliki kondisi dan kesulitan yang berbeda- beda
sehingga perlu tatacara pelaksanaan yang berbeda pula. Sedangkan dalam kontrak kerja
Penyedia Jasa diberikan batas waktu tertentu untuk menyelesaikan proyek secara tepat
waktu. Disamping itu biaya pelaksanaan dan mutu hasil kerja turut dipertimbangkan agar
tercapai target penyelesaian yang optimal. Oleh karena itu sebagai acuan Penyedia Jasa dalam
melaksanakan pekerjaan perlu memahami tahapan metode pelaksanaan konstruksi yang
tepat dan berkesinambungan dengan mempelajari rincian volume yang terdapat di Daftar
Kuantitas Dan Harga serta Gambar Kerja yang tersedia.
2. RUANG LINGKUP KEGIATAN
Kegiatan Pembangunan Infrastruktur Jalan dan Jembatan ini merupakan kegiatan
yang berada di Lingkup SKPD-PEKERJAAN UMUMM DAN PENATAAN RUANG Kabupaten
Konawe Utara Tahun Anggaran 2023.
3. LINGKUP PEKERJAAN
Secara garis besar lingkup pekerjaan yang dilaksanakan dalam pelaksanaan Pekerjaan
pada Sub Kegiatan Rekonstruksi Jalan terbagi menjadi beberapa sub item pekerjaan.
Berikut dapat dijabarkan item-item pekerjaan adalah sebagai berikut :
1) DIVISI 1 UMUM
1.2 Mobilisasi
1.21 Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Manajemen Mutu
2) DIVISI 2. DRAINASE
Galian untuk Selokan Drainase dan Saluran Air
2.1.(1)
Pasangan Batu dengan Mortar
2.2.(1)
DIVISI 3. PEKERJAAN TANAH DAN GEOSINTETIK
3)
3.2.(1a)
Timbunan Biasa dari sumber galian
3.2.(2a)
Timbunan Pilihan dari sumber galian
3.3.(1)
Penyiapan Badan Jalan
4) DIVISI 5. PERKERASAN BERBUTIR
5.1.(1) Lapis Fondasi Agregat Kelas A
5.1.(2) Lapis Fondasi Agregat Kelas B
5) DIVISI 6. PERKERASAN ASPAL
6.1 (1) Lapis Resap Pengikat - Aspal Cair / Emulsi
6.5.(2) Laston Lapis Antara Asbuton (AC-BC Asb)
6)
DIVISI 7. STRUKTUR
Beton , fc’15 Mpa
10.1.(4)
Pasangan Batu
10.1.(21)
PEKERJAAN PEMELIHARAAN KINERJA
7
10.1.(4)
Perbaikan Lapis Fondasi Agregat Kelas A
10.1.(9)
Perbaikan Campuran Aspal Panas
10.1.(13)
Residu Bitumen untuk Pemeliharaan
10.1.(21)
Pembersihan Drainase
10.1.(22)
B. PELAKSANAAN PEKERJAAN PENINGKATAN JALAN
1. BAGAN ALIR PEKERJAAN
S P M K P E R S I A P A N
1. Job Mix Formula
2. Material dan Penyimpanan
3. Jadwal Pelaksanaan
4. Pengukuran Lapangan (MC-0)
5. Mobilisasi Personil
Tidak Sesuai
6. Mobilisasi Peralatan
7. Mobilisasi Tenaga Kerja
Perhitungan Ulang
Pengecekan Kuantitas dan Gambar
Rencana Justifikasi Teknis
S H O P D R A W I N G Addendum
P E L A K S A N A A N P E K E
R J A A N
1. Pekerjaan Tanah
2. Pekerjaan Perkerasan Berbutir
3. Pekerjaan Perkerasan Aspal
4. Pekerjaan Struktur
D O K U M E N
A D M I N I S T R A S I
1. Back Up Data Quantity
2. Back Up Data Quality
3. Asbuild Drawing
4. Foto Dokumentasi
5. Laporan Harian, Mingguan,
dan Bulanan
6. Dan Dokumen lain yang
dipersyaratkan
P H O Masa Pemeliharaan
Selesai
2. URAIAN PEKERJAAN
a. DIVISI 1. UMUM PENDAHULUAN
Pekerjaan mobilisasi atau persiapan adalah pekerjaan awal yang
meliputi kegiatan kegiatan pendahuluan untuk mendukung permulaan proyek
meliputi antara lain
:
1) Pembuatan Job Mix Formula
Sebelum pekerjaan utama dilaksanakan terlebih dahulu dilaksanakan
pengambilan sampel bahan dari quary yang berdekatan dengan lokasi
pekerjaan dan telah disetujui bersama pihak direksi teknis dan konsultan
pengawas teknis, diantaranya yaitu : batu, pasir, semen dan aspal dibawa ke
laboratorium Job Mix Formula/Job Mix Desain yang akan dipakai sebagai acuan
kerja dalam pelaksanaan proyek.
2) Kantor Lapangan dan Fasilitas (Direksi Keet)
Tahap berikutnya menentukan lokasi bascamp, pembuatan kantor lapangan
dan fasilitasnya dilokasi proyek dan kemudian dilanjutkan dengan mobilisasi
perlatan sesua dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan.
3) Pengaturan Arus Transportasi Dan Pemeliharaan Arus Lalu Lintas
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, pengaturan arus lalu lintas transportasi
dilakukan dengan pembuatan tanda-tanda lalu lintas yang memadai disetiap
kegiatan lapangan. Bila diperlukan dapat ditempatkan petugas pemberi isyarat
yang bertugas mengatur arus lalu lintas pada saat pelaksanaan.
4) Rekayasa Lapangan
Dengan petunjuk Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas survey/rekayasa
lapangan dilaksanakan untuk menentukan kondisi fisik dan strucktural dari
pekerjaan dan fasilitas yang ada dilokasi pekerjaan, sehingga diungkinkan untuk
mengadakan peninjauan ulang terhadap rancangan kerja yang telah diberikan
system dan tatacara survey dikordinasikan dengan direksi teknis.
5) Material dan Penyimpanan
Bahan material yang akan digunakan dalam pekerjaan harus menemui spesifikasi
dan standar yang berlaku, baik ukuran, type maupun ketentuan lainnya sesuai
petunjuk Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas. Semua material yang akan
digunakan untuk
proses pembuatan Lapis Pondasi Agregat Kelas A, B dan S, Tanah Timbunan, Semen,
Asphalt, Pasir dan bahan material yang terdapat dalam spesifikasi telah mendapat
persetujuan dari pihak Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas.
6) Jadwal Pelaksanaan
Jadwal pelaksanaan dibuat pihak kontraktor, diajukan kepada Direksi Teknis untuk
dibahas dan mendapat persetujuan pada saat dilaksanakan rapat pendahuluan (Pre
construction Meeting/PCM).
7) Pelaksanaan Mobilisasi Peralatan
Dalam pelaksanaan proyek ini mobilisasi peralatan utama meliputi :
a) Concrete Mixing Plant
b) Truck Mixer
c) Asphalt Mixing Plant
d) Asphalt finisher
e) Tyre Roller
f) Tandem Roller
8) Papan Nama Pekerjaan
a) Papan Nama ini digunakan sebagai identitas dan informasi mengenai proyek.
b) Papan nama proyek dibuat dengan ukuran atas persetujuan Direksi Pekerjaan.
c) Bahan yang dipakai : kayu kasau, plywood, paku, semen dan lain-lain
d) Papan mana proyek dipasang dipangkal dan ujung lokasi pekerjaan
e) Papan nama dipelihara selama pelaksanaan proyek
9) Mobilisasi Personil
Mobilisasi personil inti pada pelaksanaan pekerjaan ini meliputi penugasan tenaga
ahli maupun tenaga pendukung dan para pekerja dalam melaksanakan pekerjaan
tersebut baik dilokasi sesuai kebutuhan yang disyaratkan dalam kontrak pelaksanaan
pekerjaan
DEVISI 2 DRAINASE
Galian
untuk Selokan Drainase dan Saluran Air Pekerjaan Galian untuk selokan drainase dan saluran air dilakukan
baik pada sisi kanandan kiri jalan sepanjang jalan yang akan dikerjakan. Pelaksanaan galian untuk selokan
drainase dan saluran air meliputi :
1. Penggalian dilakukan dengan menggunakan Excavator
2. Selanjutnya Excavator menuangkan material hasil galian kedalam Dump
Truck
3. Dump Truck membuang material hasil galian keluar lokasi jalan sejauh
4. Sekelompok pekerja akan merapikan hasil galian
Pasangan Batu dengan Mortar
Pekerjaan pasangan pada dasarnya adalah pekerjaan pemasangan batu dengancampuran perekat yang
dilakukan dengan mengikuti acuan yang telah ditentukan oleh pihakpemberi tugas / Direksi, pekerjaan ini
mempunyai maksud untuk membuat pasangan padasisi tepi galian saluran pengairan / drainase di sisi jalan
atau pada lokasi lain yang ditentukanoleh pemberi tugas yang berfungsi sebagai lapisan penahan erosi dan
longsor pada tanahdan atau badan jalan di sisi pinggirnya.Pasangan dilakukan dengan cara manual -
mekanik yaitu dengan menggunakan ConcretteMixer dan dipasang dan dirapikan oleh sekelompok pekerja
yang terdiri dari 1 Mandor 3 Tukang dan 10 Pekerja dengan persetujuan dari direksi.
Tahapan Pelaksanaan
1. Melakukan rapat koordinasi di lokasi kerja untuk membahas Rencana Kerja, baikrencana teknis
maupun non teknis;
2. Rencana Kerja akan mencakup hal-hal tersebut dibawah ini tetapi tidak
terbataspada :
a. Waktu pelaksanaan masing-masing pekerjaan;
b. Syarat-syarat teknis masing-masing pekerjaan;
c. Sistem pelaporan jadwal kemajuan pekerjaan;
3. Mengerjakan Pasangan sesuai petunjuk dan spesifikasi teknis;
a. Batu gunung yang akan dipakai diletakan didekat galian pondasi yang sudahdibuat sebelumnya;
b. Galian pondasi yang telah dikerjakan diukur kembali untuk menentukan profilpasangan batu gunung;
c. Hasil pengukuran kembali untuk menentukan profil pasangan batu gunungdituangkan dalam bentuk
gambar dan diserahkan oleh Project Manajer keKonsultan Pengawas untuk mendapatkan
persetujuan;
d. Profil pasangan batu gunung dipasang dan dihubungkan dengan benang/taliuntuk mendapatkan
kelurusan pasangan;
e. Untuk perekat pasangan batu gunung digunakan campuran semen dan pasiryang dimix
menggunakan molen (concrete mixer) dengan perbandingancampuran sesuai dengan spesifikai
teknis yang telah disyaratkan;
f. Batu gunung yang telah disiapkan di dekat galian pondasi dibersihkan dandibasahi merata sampai
mendekati titik jenuh;
g. Campuran mix semen dan pasir disebar merata diatas dan disamping landasanbatu gunung yang
akan dikerjakan;
h. Segera setelah batu gunung terpasang, campuran mix semen dan pasir
yangmasih baru diratakan kembali, baik pada bagian atas maupun
samping sebelummenjadi kering.
DEVISI 3.
PEKERJAAN TANAH DAN GEOSINTETIK
A. PENYIAPAN BADAN JALAN
Pekerjaan ini mencakup penggarukan, penyiapan dan pemadatan permukaan tanah
dasar atau permukaan jalan kerikil lama untuk penghamparan Lapis Pondasi Agregat, Lapis
Pondasi Agregat pada galian pelebaran badan jalan. Pelaksanaan pekerjaan penyiapan
badan jalan ini prosedurnya sebagai berikut :
a. Asumsi
Menggunakan Alat Berat (Cara Mekanik)
Kapasitas kerja sesuai kapasitas alat yang disyaratkan
Kemiringan sesuai petunjuk Direksi Teknis
b. Urutan Kerja/ Metode Kerja :
Tanah yang sudah digali dan ditimbun dipadatkan lalu dibentuk penampang
jalan sesuai dengan elevasi jalan yang direncanakan
Tanah eksisting sepanjang jalan lokasi pekerjaan diratakan menggunakan alat
motor grader dan dipadatkan menggunakan vibratory roller dibentuk
penampang jalan sesuai dengan elevasi jalan yang direncanakan
Pekerjaan ini dilakukan berulang dengan beberapa lintasan dan overlay blade
diikuti pengecekan elevasi kemiringan dan kerataan badan jalan
Pekerjaan ini dilakukan menggunakan motor grader dan vibro roller. Dilakukan
pemadatan dengan vibro terlebih dahulu kemudian motor grader membentuk
penampang jalan. Setelah itu dipadatkan kembali dengan vibro roller. Begitu
seterusnya hingga terbentuk kemiringan penampang yang direncanakan atau
yang disyaratkan berdsarkan spesifikasi teknis.
Gambar. Pekerjaan Penyiapan Badan Jalan
c. Peralatan Yang Digunakan
Motor Grader
Tandem / Vibro Roller
Alat Bantu
d. Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan
Sebelum pekerjaan dimulai, terlebih dahulu mempersiapkan gambar design dari
data- data awal yang diambil pada saat joint survey dan gambar design lokasi ini
diajukan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan terlebih dahulu yaitu dengan gambar
penampang melintang yang menunjukkan elevasi permukaan tiap titik.
Setelah gambar design penampang melintang disetujui, kemudian dilaksanakan
pemasangan patok-patok elevasi (bowplang).
Sebelum material didatangkan dari quarry yang telah disepakati bersamasama
dengan Direksi, diadakan pengujian sample material selected terlebih dahulu.
Dan setelah pengujian material telah disetujui oleh Direksi dan kemudian
dituangkan ke dalam report hasil investigasi dan menjadi pegangan untuk
pelaksanaan pengiriman material untuk pekerjaan.
Setelah itu, material dari quarry dikirim ke lokasi dengan memakai dump truk,
dan pada lokasi telah tersedia peralatan penghamparan dan pemadatan serta
water tank untuk menjaga pada saat penghamparan material tetap dalam kadar
air yang telah disepakati bersama dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
Material dihampar dengan Motor Grader secara per layer dengan tebal
hampar maksimum 20 cm dan kemudian diikuti dengan pemadatan oleh Vibro
Roller yang juga telah disepakati jumlah lintasan pemadatan dan disetujui oleh
Direksi Pekerjaan. Kemudian, apabila penghamparan dilaksanakan pada saat
terik matahari yang mengakibatkan material menjadi kering dan terburai oleh
hembusan angina maka segera dilakukan penyiraman air dengan water tank.
Kemudian setelah penghamparan telah tercapai 200 m’ maka dilakukan test
kepadatan dengan menggunakan alat Sandcone.
Jika hasil test sudah sesuai lanjutkan pekerjaan lain.
c. Peralatan Yang Digunakan
Motor Grader
Tandem Roller
Alat Bantu
B. Timbunan Biasa
Timbunan biasa, adalah timbunan atau urugan yang digunakan untuk pencapaian elevasi
akhir subgrade yang disyaratkan dalam gambar perencanaan tanpa maksud khusus
lainnya. Timbunan biasa ini juga digunakan untuk penggantian material existing subgrade
yang tidak memenuhi syarat.
Bahan timbunan biasa harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut :
a. Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan biasa harus terdiri dari tanah yang
disetujui oleh Pengawas yang memenuhi syarat untuk digunakan dalam pekerjaan
permanen.
b. Bahan yang dipilih tidak termasuk tanah yang plastisitasnya tinggi, yang diklasifikasi
sebagai A-7-6 dari persyaratan AASHTO M 145 atau sebagai CH dalam sistim
klasifikasi “Unified atau Casagrande”. Sebagai tambahan, urugan ini harus memiliki
CBR yang tak kurang dari 6 %, bila diuji dengan AASHTO T 193.
c. Tanah yang pengembangannya tinggi yang memiliki nilai aktif lebih besar dari 1,25 bila
diuji dengan AASHTO T 258, tidak boleh digunakan sebagai bahan timbunan. Nilai
aktif diukur sebagai perbandingan antara Indeks Plastisitas (PI) – (AASHTO T 90) dan
presentase ukuran lempung (AASHTO T 88).
C. Timbunan Pilihan dari Sumber Galian
Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan pilihan harus terdiri dari bahan tanahatau
batu yang memenuhi semua ketentuan di atas level timbunan biasa dan sebagai tambahan
harus memiliki sifat-sifat tertentu yang tergantung dari maksud penggunaannya, seperti
diperintahkan atau distujui oleh Direksi pekerjaan. Dalam segala hal, seluruh timbunan
pilihan harus, bila di uji sesuai dan memiliki CBR paling sedikit 10% setelah 4 hari perendaman
bila dipadatkan sampai 100% kepadatan kering maksimum.
Pekerjaan Urugan pilihan dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut :
1. Pengangkutan Material
Pengangkutan Material Urugan pilihan kelokasi pekerjaan menggunakan dump truckdan
loadingnya dilakukan dengan menggunakan wheel loader. Pengecekan dan
pencatatan volume material dilakukan pada saat penghamparan agar tidak terjadi kelebihan
material disatu tempat dan kekurangan material ditempat lain.
2. Penghampara Material
Penghamparan material dilakukan dengan menggunakan motor grader dalam
tahappenghamparan ini harus diperhatikan hal-hal berikut :
a. Kondisi cuaca yang memungkinkan
b. Panjang hamparan pada saat setiap section yang didapatkan sesuai dengan
kondisilapangan. Lebar penghamparan disesuaikan dengan kondisi lapangan
dan tebalpenghamparan sesuai dengan spesifikasi, semua tahapan pekerjaan hamparan
dantebal hamparan berdasarkan petunjuk dan persetujuan dari Direksi Pekerjaan.
c. Material yang tidak dipakai dipisahkan dan ditempatkan pada lokasi yang ditetapkan.
3. Pemadatan Material
Pemadatan dilakukan dengan menggunakan Vibro Roller, dimulai dari bagian tepi kebagian
tengah. Pemadatan dilakukan berulang jika dimungkinkan untuk mendapat hasil yang
maksimal dengan dibantu alat water tank untuk membasahi material timbunan pilihan dan
diselingi dengan pemadatan dengan menggunakan Vibro Roller. Timbunan pilihan
dipadatkan mulai dari tepi luar dan bergerak menuju ke arah sumbu jalan sedemikian rupa
yang sama. Bilamana memungkinkan, lalu lintas alat-alat konstruksi harus terus menerus
divariasi agar dapat menyebarkan pengaruh usaha pemadatandari lalu lintas tersebut.
Dasar perhitungan analisis adalah :
- Asumsi :
1. Pekerjaan dilakukan secara mekanis
2. lokasi pekerjaan sepanjang jalan yang dikerjakan
- Urutan Kerja/Metode kerja :
1. Material urungan biasanya dimuat ke Dump Truck dengan menggunakan whell Loader
2. Pengankutan material urungan biasanya dilakukan dengan Dump Truck dari quarry
/borrowpit dengan jarak quarry kelapangan pekerjaan 6 km
3. Material urungan biasa dihampar dengan menggunakan Motor Grader
4. Hamparan material disisram air dengan Water Tank truck (sebelum pelaksanaan
pemadatan)dan dipadatkan dengan menggunakan Vibro Roller.
DIVISI 5.
PEKERJAAN PERKERASAN BERBUTIR
A. LAPIS PONDASI AGREGAT KELAS A
Agregat Base kelas A adalah merupakan campuran agregat halus dan kasar yang dapat
memenuhi gradasi sesuai dengan Spesifikasi.
Proses Pencampuran bahan untuk memenuhi ketentuan yang disyaratkan harus
dikerjakan di lokasi instalasi pemecah batu Quaary yang disetujui, dengan menggunakan
pemasok mekanis yang telah dikalibrasi untuk memperoleh aliran yang menerus dari
komponen-komponen campuran dengan proporsi yang benar dan dalam keadaan
apapun tidak dibenarkan melakukan pencampuran di lapangan. Whell Loader memuat
Agregat klas A ke dalam Dump Truck di Base Camp dan diangkut ke lokasi pekerjaan
dengan Dump Truck lalu dihampar dengan Motor Grader/bulldozer, hamparan agregat
dibasahi dengan Water Tanker sebelum dan sesudah pemadatan dengan Vibro Roller
dan selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan level
permukaan dengan alat bantu kereta dorong, sekop dan garpu.
Dari lokasi Quarry tersebut, dilaksanakan pengambilan contoh material (sampling )
pada beberapa titik untuk dilakukan pengujian di laboratorium. Jenis tes yang
dilaksanakan meliputi dan tidak terbatas pada:
- Batas Cair dengan Alat Casagrande (SNI 03-1967-1990)
- Pengunjian Batas Plastis (SNI 03-1966-1990)
- Keausan Agregat dengan Mesin LA (SNI 03-1966-1990)
- Kepadatan Berat Untuk Tanah (SNI 03-1743 1989)
- Gumpalan Lempung dan Butir-Butir Mudah Pecah dalam Agregat (SK SNI M –01-
1994-03)
- Kepadatan Lapangan dg Konus Pasir (SNI 03-2827-1992)
- Kepadatan Berat Untuk Tanah (SNI 03-1743-1989)
- Pengujian CBR Laboratprium (SNI 03-1744-1989)
Selanjutnya dilakukan pembuatan Job Mix Formula, sehingga didapat komposisi material
yang akan dipergunakan. Berikutnya juga dilakukan Trial Compaction, guna mengetahui
berapa jumlah lintasan masing – masing alat yang akan digunakan, untuk mendapatkan
nilai kepadatan sesuai dengan Spesifikasi.
1) Jenis Peralatan yang digunakan sebagai berikut :
- Wheel Loader/Excavator
- Dump truck
- Motor Grader
- Vibro Roller
- Water Tank
- Alat Bantu
2) Staking Out/ Pengukuran Ulang Lapangan
Staking Out dilapangan untuk menentukan:
- Patok Referensi. (elevasi dan koordinat)
- Patok Centre Line
- Patok Batas Lapis pondasi aggregate Kelas A
3) Penyiapan Tempat Kerja
- Pengendalian lalu lintas sesuai ketentuan agar kegiatan tidak terganggu
- Pembuatan patok sebagai tanda ketinggian atau elevasi sesuai gambar rencana
- Bilamana lapis pondasi agregat akan dihampar pada perkerasan atau bahu
jalan lama, semua kerusakan yang terjadi pada perkerasan atau bahu jalan
diperbaiki terlebih dahulu sampai mendapatkan persetujuan dari Direksi
Pekerjaan
- Bilamana lapis pondasi agregat akan dihampar pada suatu lapisan perkerasan
lama atau tanah dasar baru yang disiapkan, maka lapisan ini diselesaikan
terlebih dahulu hingga mendapatkan persetujuan dari Direksi Pekerjaan
- Bilamana lapis pondasi agregat akan dihampar langsung di atas permukaan
perkerasan aspal lama, maka dilakukan penggarukan atau pengaluran pada
permukaan perkerasan aspal lama agar diperoleh tahanan geser yang lebih baik.
4) Pemeriksaan Kadar Air (Water Content)
Pemeriksaan kadar air material Agregat Base Kelas A dilaksanakan dengan ketentuan:
- Apabila kadar air material berada dalam batas toleransi yang disyaratkan
(biasanya diukur dari kadar air optimum) material dapat langsung dihampar dan
dipadatkan
- Apabila kadar air melebihi batas toleransi yang diijinkan, material dikeringkan
terlebih dulu dengan cara dihampar (diangin-anginkan) sampai kadar air
mencapai toleransi tersebut
- Apabila kadar air material lebih kecil dari batas toleransi yang diijinkan, material
dihampar dan disiram dengan air untuk menaikkan kadar air
5) Approval Material Aggregat A
6) Penghamparan Material Aggregat A
Penghamparan material dilaksanakan dengan menggunakan Motor Grader. Pada
penghamparan material ini yang perlu diperhatikan adalah:
- Kondisi cuaca saat pelaksanaan
- Pengaturan jarak bongkar material agar didapatkan ketebalan yang rata, karena
akan terjadi segregasi material bila terlalu banyak pengaturan untuk
penambahan atau pengurangan sesuai tebal rencana
- Bila penghamparan agregat dilakukan lebih dari satu lapis, maka dibuat
ketebalan yang sama. Tetapi ketebalan ideal dalam penghamparan adalah
sebesar dua kali ukuran maksimum agregat
- Bila terjadi segregasi, maka lakukan segera perbaikan dengan menambah atau
mengganti dengan material yang baru.
Operasi penghamparan harus dimulai dari sepanjang tepi dan bergerak sedikit
demi sedikit ke arah sumbu jalan, dalan arah memanjang. Pada bagian yang
ber”superelevasi”, penggilasan harus dimulai dari bagian yang rendah dan
bergerak sedikit demi sedikit ke bagian yang lebih tinggi. Operasi penggilasan
harus dilanjutkan sampai seluruh bekas roda mesin gilas hilang dan lapis
tersebut terpadatkan secara merata. Tebal padat minimum untuk pelaksanakan
setiap lapisan harus dua kali ukuran terbesar agregat lapis pondasi. Tebal padat
maksimum tidak boleh melebihi 15 cm, kecuali diperintahkan lain oleh Direksi
Pekerjaan.
7) Pemadatan
Pemadatan (compaction ) dilaksanakan dengan menggunakan Vibro Roller/Smooth
drum , dimulai dari bagian tepi ke bagian tengah. Setelah pemadatan satu pas
selesai, alat pemadat dipindahkan ke sebelahnya dengan overlapping 1/8 lebar
drum dan seterusnya hingga mencakup seluruh area pemadatan. Langkah
tersebut diulang kembali hingga jumlah passing pemadatan setiap lintasan
mencapai jumlah passing tertentu (Sesuai hasil Trial).
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada tahap ini adalah:
- Lapis pondasi agregate paling atas yang diselesaikan setiap section
pemadatan harus dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki kemiringan sesuai
spesifikasi. Hal ini dimaksudkan agar air hujan cepat terbuang keluar area
timbunan pilihan dan tidak meninggalkan genangan yang dapat mengganggu
pekerjaan pada lapis diatasnya
- Apabila kadar air material kurang maka ditambahkan air dengan cara
menyemprotkan air dari truck tangki air, Banyaknya air yang disemprotkan harus
diperhitungkan agar tidak berlebihan
- Patok referensi elevasi lapis pondasi agregate, centre line , batas-batas lapis
pondasi agregate dan patok kemiringan agar dibuat dengan jelas, diupdate sesuai
dengan elevasi lapis pondasi agregate yang telah diselesaikan dan dijaga
keberadaannya untuk memudahkan pemeriksaan dan pengontrolan pekerjaan
- Untuk lokasi lapis pondasi agregate yang tidak dapat dijangkau dengan Vibro
Roller/Smooth drum , digunakan Baby Roller atau Stamper disesuaikan dengan
kondisi lapangan, misalnya pada pertemuan timbunan dengan struktur
jembatan, box culvert, dan lain-lain.
Pada lokasi lapis pondasi agregate harus dibuatkan temporary drain sedemikian rupa
sehingga setiap terjadi hujan saluran tersebut dapat menampung air dan berfungsi
dengan baik sehingga tidak mengakibatkan genangan atau kelongsoran yang dapat
menghambat pelaksanaan pekerjaan.
8) Pengujian
Suatu program pengujian rutin pengendalian mutu bahan dilaksanakan untuk
mengendalikan ketidakseragaman bahan yang dibawa ke lokasi pekerjaan.
Pengujian yang dilakukan meliputi :
- Pengujian kadar air agregat untuk kontrol penghamparan
- Pengujian indeks plastisitas 5 pengujian /1000 m3
- Pengujian gradasi partikel 5 pengujian /1000 m3
- Pengujian Kepadatan Lapangan dengan alat Konus Pasir < 200 m
B. LAPIS PONDASI AGREGAT KELAS B
Agregat Base kelas B adalah merupakan campuran agregat halus dan kasar yang dapat
memenuhi gradasi sesuai dengan Spesifikasi.
Proses Pencampuran bahan untuk memenuhi ketentuan yang disyaratkan harus
dikerjakan di lokasi instalasi pemecah batu Quaary yang disetujui, dengan menggunakan
pemasok mekanis yang telah dikalibrasi untuk memperoleh aliran yang menerus dari
komponen-komponen campuran dengan proporsi yang benar dan dalam keadaan
apapun tidak dibenarkan melakukan pencampuran di lapangan. Whell Loader memuat
Agregat klas B ke dalam Dump Truck di Base Camp dan diangkut ke lokasi pekerjaan
dengan Dump Truck lalu dihampar dengan Motor Grader/bulldozer, hamparan agregat
dibasahi dengan Water Tanker sebelum dan sesudah pemadatan dengan Vibro Roller
dan selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan level
permukaan dengan alat bantu kereta dorong, sekop dan garpu.
Dari lokasi Quarry tersebut, dilaksanakan pengambilan contoh material (sampling )
pada beberapa titik untuk dilakukan pengujian di laboratorium. Jenis tes yang
dilaksanakan meliputi dan tidak terbatas pada:
- Batas Cair dengan Alat Casagrande (SNI 03-1967-1990)
- Pengunjian Batas Plastis (SNI 03-1966-1990)
- Keausan Agregat dengan Mesin LA (SNI 03-1966-1990)
- Kepadatan Berat Untuk Tanah (SNI 03-1743 1989)
- Gumpalan Lempung dan Butir-Butir Mudah Pecah dalam Agregat (SK SNI M –01-
1994-03)
- Kepadatan Lapangan dg Konus Pasir (SNI 03-2827-1992)
- Kepadatan Berat Untuk Tanah (SNI 03-1743-1989)
- Pengujian CBR Laboratprium (SNI 03-1744-1989)
Selanjutnya dilakukan pembuatan Job Mix Formula, sehingga didapat komposisi material
yang akan dipergunakan. Berikutnya juga dilakukan Trial Compaction, guna mengetahui
berapa jumlah lintasan masing – masing alat yang akan digunakan, untuk mendapatkan
nilai kepadatan sesuai dengan Spesifikasi.
1) Jenis Peralatan yang digunakan sebagai berikut :
- Wheel Loader/Excavator
- Dump truck
- Motor Grader
- Vibro Roller
- Water Tank
- Alat Bantu
2) Staking Out/ Pengukuran Ulang Lapangan
Staking Out dilapangan untuk menentukan:
- Patok Referensi. (elevasi dan koordinat)
- Patok Centre Line
- Patok Batas Lapis pondasi aggregate Kelas B
3) Penyiapan Tempat Kerja
- Pengendalian lalu lintas sesuai ketentuan agar kegiatan tidak terganggu
- Pembuatan patok sebagai tanda ketinggian atau elevasi sesuai gambar rencana
- Bilamana lapis pondasi agregat akan dihampar pada perkerasan atau bahu
jalan lama, semua kerusakan yang terjadi pada perkerasan atau bahu jalan
diperbaiki terlebih dahulu sampai mendapatkan persetujuan dari Direksi
Pekerjaan
- Bilamana lapis pondasi agregat akan dihampar pada suatu lapisan perkerasan
lama atau tanah dasar baru yang disiapkan, maka lapisan ini diselesaikan
terlebih dahulu hingga mendapatkan persetujuan dari Direksi Pekerjaan
- Bilamana lapis pondasi agregat akan dihampar langsung di atas permukaan
perkerasan aspal lama, maka dilakukan penggarukan atau pengaluran pada
permukaan perkerasan aspal lama agar diperoleh tahanan geser yang lebih baik.
4) Pemeriksaan Kadar Air (Water Content)
Pemeriksaan kadar air material Agregat Base Kelas A dilaksanakan dengan ketentuan:
- Apabila kadar air material berada dalam batas toleransi yang disyaratkan
(biasanya diukur dari kadar air optimum) material dapat langsung dihampar dan
dipadatkan
- Apabila kadar air melebihi batas toleransi yang diijinkan, material dikeringkan
terlebih dulu dengan cara dihampar (diangin-anginkan) sampai kadar air
mencapai toleransi tersebut
- Apabila kadar air material lebih kecil dari batas toleransi yang diijinkan, material
dihampar dan disiram dengan air untuk menaikkan kadar air
5) Approval Material Aggregat B
6) Penghamparan Material Aggregat B
Penghamparan material dilaksanakan dengan menggunakan Motor Grader. Pada
penghamparan material ini yang perlu diperhatikan adalah:
- Kondisi cuaca saat pelaksanaan
- Pengaturan jarak bongkar material agar didapatkan ketebalan yang rata, karena
akan terjadi segregasi material bila terlalu banyak pengaturan untuk
penambahan atau pengurangan sesuai tebal rencana
- Bila penghamparan agregat dilakukan lebih dari satu lapis, maka dibuat
ketebalan yang sama. Tetapi ketebalan ideal dalam penghamparan adalah
sebesar dua kali ukuran maksimum agregat
- Bila terjadi segregasi, maka lakukan segera perbaikan dengan menambah atau
mengganti dengan material yang baru.
Operasi penghamparan harus dimulai dari sepanjang tepi dan bergerak sedikit
demi sedikit ke arah sumbu jalan, dalan arah memanjang. Pada bagian yang
ber”superelevasi”, penggilasan harus dimulai dari bagian yang rendah dan
bergerak sedikit demi sedikit ke bagian yang lebih tinggi. Operasi penggilasan
harus dilanjutkan sampai seluruh bekas roda mesin gilas hilang dan lapis
tersebut terpadatkan secara merata. Tebal padat minimum untuk pelaksanakan
setiap lapisan harus dua kali ukuran terbesar agregat lapis pondasi. Tebal padat
maksimum tidak boleh melebihi 15 cm, kecuali diperintahkan lain oleh Direksi
Pekerjaan.
7) Pemadatan
Pemadatan (compaction ) dilaksanakan dengan menggunakan Vibro Roller/Smooth
drum , dimulai dari bagian tepi ke bagian tengah. Setelah pemadatan satu pas
selesai, alat pemadat dipindahkan ke sebelahnya dengan overlapping 1/8 lebar
drum dan seterusnya hingga mencakup seluruh area pemadatan. Langkah
tersebut diulang kembali hingga jumlah passing pemadatan setiap lintasan
mencapai jumlah passing tertentu (Sesuai hasil Trial).
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada tahap ini adalah:
- Lapis pondasi agregate paling atas yang diselesaikan setiap section
pemadatan harus dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki kemiringan sesuai
spesifikasi. Hal ini dimaksudkan agar air hujan cepat terbuang keluar area
timbunan pilihan dan tidak meninggalkan genangan yang dapat mengganggu
pekerjaan pada lapis diatasnya
- Apabila kadar air material kurang maka ditambahkan air dengan cara
menyemprotkan air dari truck tangki air, Banyaknya air yang disemprotkan
harus diperhitungkan agar tidak berlebihan
- Patok referensi elevasi lapis pondasi agregate, centre line , batas-batas lapis
pondasi agregate dan patok kemiringan agar dibuat dengan jelas, diupdate
sesuai dengan elevasi lapis pondasi agregate yang telah diselesaikan dan dijaga
keberadaannya untuk memudahkan pemeriksaan dan pengontrolan pekerjaan
- Untuk lokasi lapis pondasi agregate yang tidak dapat dijangkau dengan Vibro
Roller/Smooth drum , digunakan Baby Roller atau Stamper disesuaikan dengan
kondisi lapangan, misalnya pada pertemuan timbunan dengan struktur
jembatan, box culvert, dan lain-lain.
Pada lokasi lapis pondasi agregate harus dibuatkan temporary drain sedemikian
rupa sehingga setiap terjadi hujan saluran tersebut dapat menampung air dan
berfungsi dengan baik sehingga tidak mengakibatkan genangan atau kelongsoran
yang dapat menghambat pelaksanaan pekerjaan.
8) Pengujian
Suatu program pengujian rutin pengendalian mutu bahan dilaksanakan untuk
mengendalikan ketidakseragaman bahan yang dibawa ke lokasi pekerjaan.
Pengujian yang dilakukan meliputi :
- Pengujian kadar air agregat untuk kontrol penghamparan
- Pengujian indeks plastisitas 5 pengujian /1000 m3
- Pengujian gradasi partikel 5 pengujian /1000 m3
- Pengujian Kepadatan Lapangan dengan alat Konus Pasir < 200 m
M E T O D E P E L A K S A N A A N P E K E R J A A N
DIVISI 6.
PEKERJAAN PERKERASAN ASPAL
A. LAPIS RESAP PENGIKAT - ASPAL CAIR/EMULSI & LAPIS PEREKAT - ASPAL CAIR/EMULSI
Pekerjaan ini digunakan sebagai Lapis Perekat atas perkerasan Agregat dan Lapis Resap
Pengikat di atas pemukaan agregat dengan konstruksi diatasnya, sebelum dilakukan
penyemprotan aspal dipanaskan pada tangki Aspal Sprayer sesuai spesifikasi setelah itu aspal
Lapis Resap Pengikat disemprotkan ke Lapis Pondasi Agregat Klas A dengan ketebalan 0,15
liter / meter persegi.
Dikerjakan secara mekanik dengan urutan kerja sebagai berikut Aspal dicampur dan
dipanaskan sehingga menjadi campuran aspal cair Permukaan yang akan dilapis dibersihkan
dari debu dan kotoran dengan Air Compresor. Di semprotkan dengan merata dengan asphal
sprayer pada badan jalan yang akan dipasang Lapisan Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base).
Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal pada permukaan
yang telah disiapkan sebelumnya untuk pemasangan lapisan beraspal berikutnya. Dan
dihampar diatas permukaan yang beraspal.
Tahap dan Cara Pelaksanaan
MULAI
PEMBERSIHAN LOKASI
PENCAMPURAN ASPAL & KEROSIN
MENGGUNAKAN AIR COMPRESOR
PENYEMPROTAN CAMPURAN ASPAL
CAIR/ SPRAYER
SELESAI
Gambar. Pelaksanaan Pekerjaan Lapis Perekat – Aspal Cair/ Emulsi
Analisa Pengerahan Alat & Material a) Alat
yang digunakan
Asphalt Sprayer
Air Compresor
Asphalt Distributor
Dump Truck
Alat bantu
b) Material yang digunakan
Aspal Emulsi CSS-1 atau SS-1 / RS-1
Analisa Pengerahan Personil & K3
a) Mutu yang diharapkan :
Lapisan yang telah terhampar sesuai dengan rencana b)
Pengendalian Mutu:
Tiap 200 m ada 5 penampang, masing 1 penampang ada 3 kertas uji
B. LATASTON LAPIS PONDASI (AC-BC asb)
Pencampuran dilakukan dengan Asphal Mixing Plant, diangkut dengan dump truck dan
dihampar dengan asphal finisher, dipadatkan dengan tandem Roller dan Pneumatic Tyre
Roller. serta dirapikan oleh pekerja dengan alat bantu. Dilaksanakan sesuai dengan rencana
dan atas persetujuan pihak Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup pengadaan lapisan padat yang awet untuk lapis perata, lapis pondasi
atau lapis campuran aspal yang terdiri dari agregat dan bahan aspal yang dicampur di AMP,
serta menghampar dan memadatkan campuran tersebut diatas pondasi atau permukaan
jalan yang telah disiapkan.
Tahap dan Cara Pelaksanaan
MULAI
PERSIAPAN ALAT DAN MATERIAL
PENCAMPURAN
ASPHALT+AGREGAT+FILLER+ADITIF
(PROSES DI AMP)
PENGANGKUTAN ASPAL KELOKASI
PEKERJAAN
PENGHAMPARAN
PEMADATAN
SELESAI
Gambar. Pekerjaan Laston Lapis Antara (AC-BC Asb)
Analisa Pengerahan Alat & Material
a) Alat yang Digunakan
AMP+Laboratorium
Wheel Loader
Dump Truck
Asphalt Finisher
Tandem Roller
Pneumatic Tire Roller
Alat Bantu
b) Material yang digunakan
Asphalt
Agregat Kasar
Agregat Halus
Filler
Kerosin/Minyak Tanah
Analisa Pengerahan Personil & K3
a) Personil yang dikerahkan
Pelaksana
Petugas K3L
Tenaga Kerja
b) Aspek K3
Memasang Rambu Peringatan
c) Menggukana alat pelindung (APD)
Sarung Tangan
Helm
Sepatu Safety
Pengendalian Mutu
a) Mutu yang diharapkan :
Permukaan yang rata sesuai spesifikasi yang disyaratkan
Elevasi sesuai dengan yang direncanakan
Campuran aspal sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan
b) Pengendalian Mutu
DEVISI 7.
PEKERJAAN STRUKTUR
Pekerjaan struktur meliputi Pekerjaan pemasangan bekisting, pencampuran,pengadukan, penuangan, dan pekerjaan
cor sesuai gambar kerja dan spesifikasi teknispekerjaan.Pengecoran beton bertulang dilaksanakan di tempat dengan
komposisi campuran sesuai petunjuk pelaksanaan teknis dari hasil uji job Mix
a. Beton mutu rendah fc’= 15 MPa
Beton mutu sedang f’c 15 Mpa digunakan pada dinding dan trotoar jembatan. Sebelum melaksanakan pekerjaan
ini, penyedia jasa harus menyerahkan JMF dan JMD campuran beton kepada Konsultan Pengawas atau Direksi
Lapangan.Agregat beton fc’15 MPa dicampur sesuai dengan komposisinya agregat kasar, pasir beton, semen
dicampur sesuai komposisi mix design yang disetujui oleh direksi lapangan dan konsultan, kemudian dicampur
dengan air secukupnya. Campuran beton mutu sedang fc’ 15 MPa. Sebelum pengecoran dimulai bekisting sudah
terpasang dengan baik sesuai gambar dokumen kontrak. Selama pengecoran sekelompok pekerja membantu
merapikan dan memadatkan dengan concrete vibrator.
b. Pasangan Batu
Pekerjaan pasangan batu adalah pekerjaan pasangan batu kali / gunung dengan menggunakan campuran semen
pasir yang dibentuk sesuai dengan gambar dan spesifikasi teknis.
Cara Pelaksanannya :
Siapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan
Pasang benang pada sisi luar profil untuk setiap beda tinggi 25 cm dari permukaan urugan pasir.
Siapkan adukan semen 1Pc : 4Psr untuk melekatkan batu-batu tersebut
Susun batu-batu diatas lapisan pasir urug tanpa adukan (aanstamping) dengan tinggi 25cm dan isikan pasir dalam
celah-celah batu tersebut sehingga tak ada rongga antar batu kemudian siramlah pasangan batu kosong tersebut
dengan air.Naikkan benang pada 25 cm berikutnya dan pasang batu kali dengan adukan, sesuai ketinggian benang.
Usahakan bidang luar pasangan tersebut rata.Batu kali disusun sedemikian rupa sehingga pasangan batu kali tidak
mudah retak/patah dan berongga besar.Cek elevasi pekerjaan pasangan batu kali apakah sudah sesuai rencana.
Pekerjaan akhir adalah finish pasangan batu kali dengan plesteran .
DEVISI 10
PEMELIHARAAN KINERJA JALAN
Pemeliharaan Jalan merupakan kegiatan yang berkaitan dengan perawatan dan perbaikan
jalan yang diperlukan dan direncanakan untuk mempertahankan kondisi jalan agar tetap
berfungsi secara optimal melayani lalu lintas selama umur rencana jalan yang ditetapkan.
Pekerjaan pemeliharaan konstruksi jalan merupakan pekerjaan yang penting untuk
dilaksanakan karena konstruksi jalan merupakan investasi modal yang besar sehingga
apabila pelaksanaaannya diabaikan akan membutuhkan biaya rekonstruksi yang sangat
mahal untuk bisa mempertahankan performance standard (perbaikan ke standar kondisi
yang layak).
Para pengguna jalan menuntut agar jalan yang dilewatinya selalu memberi kenyamanan
dan keselamatan. Namun demikian perkerasan jalan akan mengalami penurunan kondisi
seiring dengan berkurangnya umur pelayanan karena perkerasan secara terus menerus
mengalami tegangan tegangan akibat beban lalu lintas yang dapat mengakibatkan
terjadinya kerusakan minor pada perkerasan. Selain beban lalu lintas juga terdapat
pengaruh air, iklim, cuaca, kelembaban, dan lingkungan yang dapat menurunkan kondisi
pelayanan jalan.
Karena karakteristiknya yang selalu mengalami penurunan kondisi, maka untuk
memperlambat laju kecepatan penurunan kondisi dan untuk mempertahankan kondisi
jalan pada tingkat yang layak (performance standard), maka jalan perlu dipelihara secara
terus menerus.
Untuk mewujudkan pemeliharaan jalan yang hasilnya dapat memenuhi tuntutan para
pengguna jalan bukanlah pekerjaan yang mudah karena diperlukan deteksi dan perbaikan
sedini mungkin terhadap perkerasan guna mencegah kerusakan minor berkembang
menjadi kegagalan konstruksi perkerasan.
1. Tujuan Pemeliharaan Jalan
Secara umum pemeliharaan jalan dimaksudkan untuk :
a. Mempertahankan kondisi jalan agar tetap berfungsi dalam melayani lalu lintas
sehingga keselamatan lalu lintas terjamin dan pelayanan jalan meningkat. Artinya
kecelakaan yang diakibatkan oleh konsidi jalan yang buruk dapat ditekan seminimal
mungkin dan karena kondisi jalan yang baik para pengguna jalan akan menikmati
kenyamanan selama perjalanannya.
b. Memperkecil biaya operasi kendaraan.
Besarnya biaya operasi kendaraan tergantung pada jenis kendaraan , geometric dan
kondisi jalan. Apabila jalan dalam kondisi baik maka Biaya Operasi Kendaraan (BOK)
tidak meningkat, sedangkan yang sangat berkepentingan dengan BOK adalah para
pengguna jalan.
c. Memperlambat atau mengurangi laju kerusakan (rate of deterioration) sehingga
diharapkan dapat memperpanjang umur jalan. Ditinjau dari segi teknis kegiatan
pemeliharaan jalan merupakan upaya upaya yang dilakukan untuk mencegah
masuknya air kelapisan perkerasan yang mengalami retak karena terjadinya
pelapukan dan upaya menangani akibat dari gerakan roda dan beban lalu lintas yang
menyebabkan pengikisan dan tekanan terhadap permukaan perkerasan yang akhirnya
terjadi kelelahan (fatig) pada struktur jalan.
2. Klasifikasi Kegiatan Pemeliharaan Jalan Berdasarkan Frekuensi Pelaksanaannya.
a. Pemeliharaan Rutin (Routine Maintenance)
Merupakan Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan secara terus menerus sepanjang
tahun. Kegiatan ini meliputi : perawatan permukaan jalan meliputi : perbaikan
kerusakan kecil, penambalan lubang, pemburasan, perbaikan kerusakan tepi
perkerasan, perawatan trotoar, saluran samping dan drainase bangunan pelengkap
jalan dan perlengkapan jalan dan perawatan bahu jalan.
b. Pemeliharaan Berkala (Periodic Maintenance)
Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan hanya pada interval waktu tertentu karena
kondisi jalan sudah mulai menurun.
Kegiatan ini meliputi perbaikan, levelling, resealing maupun overlay (pelapisan ulang)
pada jalan beraspal atau regrooving (pengaluran/pengkasaran permukaan) maupun
overlay pada jalan beton semen.
c. Rehabilitasi (Urgent Maintenance)
Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan untuk hal-hal yang sifatnya mendadak
/mendesak/ darurat akibat terjadi kerusakan setempat yang cukup berat misalnya
jalan putus akibat banjir, longsor, gempa, dll
Kegiatan rehabilitasi ini meliputi semua kegiatan pengembalian kondisi jalan ke kondisi
semula yang harus dilakukan secepatnya agar lalu lintas tetap berjalan dengan lancar.
PENUTUP
Untuk melaksanakan pekerjaan dalam butir tersebut diatas, berlaku dan mengikat pula :
1. Gambar bestek yang dibuat Konsultan Perencana yang sudah disahkan oleh Pemberi
Tugas termasuk juga gambar – gambar detail yang diselesaikan oleh Kontraktor dan sudah
disahkan/disetujui oleh pengawas.
2. Rencana Kerja dan Syarat – Syarat ( RKS ).
3. Surat Perintah Kerja ( SPK ).
4. Surat Penawaran beserta lampiran – lampirannya.
5. Jadwal Pelaksanaan ( Tentative Time Schedule ).
6. Kontrak / Surat Perjanjian Pemborongan.
7. Instruksi – instruksi Direksi dan Pengawas.
Wanggudu. 20 Agustus 2023
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
Kabupaten Konawe Utara
Ir. ALFIAN,S.ST.,MT
Pembina, (IV/a)
NIP. 19751015 201001 1 012