PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG
Jalan Sutan Syahrir Nomor 5 Telp. (0532) 21034, 22283
PANGKALAN BUN 74112
URAIAN SINGKAT
PEKERJAAN
K/L/D/I : Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat
SKPD : Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
Kabupaten Kotawaringin Barat
Nama PA : Dr. Ir. M. Hasyim Muallim, MT
Nama PPK : Herto, ST
Sub Kegiatan : Rekonstruksi Jalan
Pekerjaan : Jalan Seroja (Rumah Tahfizh Qur'an)
Nilai Pagu : Rp. 930.233.000.00,-
Nilai HPS : Rp. 930.233.000.00,-
Tahun Anggaran
2023
Metode Pelaksanaan
URAIAN SINGKAT PEKERJAAN
Sub Kegiatan : Rekonstruksi Jalan
Pekerjaan : Jalan Seroja (Rumah Tahfizh Qur'an)
Lokasi : Kecamatan Arut Selatan
Tahun Aggaran : 2023
A. UMUM
1. Pendahuluan
Pada setiap pembangunan proyek kostruksi jalan sebagai Penyedia Jasa
diharuskan memahami secara menyeluruh tentang bagaimana tahapan pelaksanaan
proyek yang akan dilaksanakan. Dimana setiap proyek memiliki kondisi dan kesulitan
yang berbeda-beda sehingga perlu tatacara pelaksanaan yang berbeda pula.
Sedangkan dalam kontrak kerja Penyedia Jasa diberikan batas waktu tertentu untuk
menyelesaikan proyek secara tepat waktu. Disamping itu biaya pelaksanaan dan mutu
hasil kerja turut dipertimbangkan agar tercapai target penyelesaian yang optimal. Oleh
karena itu sebagai acuan Penyedia Jasa dalam melaksanakan pekerjaan perlu
memahami tahapan metode pelaksanaan konstruksi yang tepat dan berkesinambungan
dengan mempelajari rincian volume yang terdapat di Daftar Kuantitas Dan Harga serta
Gambar Kerja yang tersedia.
2. Ruang Lingkup Kegiatan
Kegiatan Penyelenggaraan Jalan Kabupaten/Kota ini merupakan kegiatan yang
berada di Lingkup SKPD-DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG
Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun Anggaran 2023.
3. Lingkup Pekerjaan
Secara garis besar lingkup pekerjaan yang dilaksanakan dalam pelaksanaan
Pekerjaan pada Sub Kegiatan Rekonstruksi terbagi menjadi beberapa sub item
pekerjaan. Berikut dapat dijabarkan item-item pekerjaan adalah sebagai berikut :
1) DIVISI 1. UMUM
1.2. Mobilisasi
Ls Papan Nama Kegiatan
Ls Pelaksanaan Sistem Manjemen Keselamatan Kontruksi (SMKK )
2) DIVISI 3 PEKERJAAN TANAH
3.1.(1a) Galian Biasa
3.3.(1) Penyiapan Badan Jalan
3) DIVISI 5 PERKERASAN BERBUTIR
5.1.(1) Lapis Pondasi Agregat Kelas A
5.1.(3) Lapis Pondasi Agregat Kelas B
4) DIVISI 6 PERKERASAN ASPAL
6.1 (2a) Lapis Resap Pengikat - Aspal Cair
6.3(3) Lataston Lapis Fondasi (HRS-Base)
Metode Pelaksanaan
5) DIVISI 7 STRUKTUR
7.1 (10) Beton struktur, fc’10 Mpa
7.1 (7a) Beton struktur, fc’20 Mpa
7.3 (1) Baja tulangan U 24 polos
B. PELASKANAAN PEKERJAAN PENINGKATAN JALAN
1. BAGAN ALIR PEKERJAAN
PERSIAPAN
SPMK
1. Job Mix Formula
2. Material dan Penyimpanan
3. Jadwal Pelaksanaan
4. Pengukuran Lapangan (MC-0)
5. Mobilisasi Personil
6. Mobilisasi Peralatan
7. Mobilisasi Tenaga Kerja
Tidak Sesuai
Perhitungan Ulang
Pengecekan Kuantitas dan
Gambar Rencana
Addendum
Shoop Drawing
PELAKSANAAN PEKERJAAN
1. Penyiapan Badan Jalan
2. Lapis Pondasi Agregat Kelas B
3. Lapis Pondasi Agregat Kelas A
4. Lapis Perekat - Aspal Cair
5. Lataston Lapis Fondasi (HRS-Base)
6. Beton struktur, fc’30 MPa
DOKUMEN ADMINISTRASI
1. Back Up Data Quantity
2. Back Up Data Quality
3. Asbuild Drawing
4. Foto Dokumentasi
5. Laporan Harian, Mingguan
dan Bulanan
6. Dan dokumen lain yang
dipersyaratkan
PHO Masa Pemeliharaan
Selesai
Metode Pelaksanaan
2. URAIAN PEKERJAAN
a. DIVISI 1. PENDAHULUAN
Pekerjaan mobilisasi atau persiapan adalah pekerjaan awal yang meliputi kegiatan-
kegiatan pendahuluan untuk mendukung permulaan proyek meliputi antara lain :
1) Pembuatan Job Mix Formula
Sebelum pekerjaan utama dilaksanakan terlebih dahulu dilaksanakan
pengambilan sampel bahan dari quary yang berdekatan dengan lokasi pekerjaan
dan telah disetujui bersama pihak direksi teknis dan konsultan pengawas teknis,
diantaranya yaitu : batu, pasir, semen dan aspal dibawa ke laboratorium Job Mix
Formula/Job Mix Desain yang akan dipakai sebagai acuan kerja dalam
pelaksanaan proyek.
2) Kantor lapangan dan fasilitasnya
Tahap berikutnya menentukan lokasi bascamp, pembuatan kantor lapangan dan
fasilitasnya dilokasi proyek dan kemudian dilanjutkan dengan mobilisasi perlatan
sesua dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan.
3) Pengaturan arus transportasi dan pemeliharaan terhadap arus lalu lintas
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, pengaturan arus lalu lintas transportasi
dilakukan dengan pembuatan tanda-tanda lalu lintas yang memadai disetiap
kegiatan lapangan. Bila diperlukan dapat ditempatkan petugas pemberi isyarat
yang bertugas mengatur arus lalu lintas pada saat pelaksanaan.
4) Rekayasa lapangan
Dengan petunjuk Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas survey/rekayasa
lapangan dilaksanakan untuk menentukan kondisi fisik dan strucktural dari
pekerjaan dan fasilitas yang ada dilokasi pekerjaan, sehingga diungkinkan untuk
mengadakan peninjauan ulang terhadap rancangan kerja yang telah diberikan
system dan tatacara survey dikordinasikan dengan direksi teknis.
5) Material dan penyimpanan
Bahan material yang akan digunakan dalam pekerjaan harus menemui spesifikasi
dan standar yang berlaku, baik ukuran, type maupun ketentuan lainnya sesuai
petunjuk Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas. Semua material yang akan
digunakan untuk proses pembuatan Lapis Pondasi Agregat Kelas A, B dan S,
Tanah Timbunan, Semen, Asphalt, Pasir dan bahan material yang terdapat dalam
spesifikasi telah mendapat persetujuan dari pihak Direksi Teknis dan Konsultan
Pengawas.
Metode Pelaksanaan
6) Jadwal Pelaksanaan
Jadwal pelaksanaan dibuat pihak kontraktor, diajukan kepada Direksi Teknis
untuk dibahas dan mendapat persetujuan pada saat dilaksanakan rapat
pendahuluan (Pre construction Meeting/PCM).
7) Pelaksanaan Mobilisasi Peralatan
Dalam pelaksanaan proyek ini mobilisasi peralatan utama meliputi :
a) Alat Bantu
b) Concrete Pan Mixer
c) Truck Mixer
d) Asphalt finisher
e) Tyre Roller
f) Tandem Roller
g) Vibratory Roller
h) Motor Grader
8) Papan Nama Pekerjaan
a) Papan Nama ini digunakan sebagai identitas dan informasi mengenai proyek.
b) Papan nama proyek dibuat dengan ukuran atas persetujuan Direksi
Pekerjaan.
c) Bahan yang dipakai : kayu kasau, plywood, paku, semen dan lain-lain.
d) Papan mana proyek dipasang dipangkal dan ujung lokasi pekerjaan.
e) Papan nama dipelihara selama pelaksanaan proyek.
9) Mobilisasi Personil
Mobilisasi personil inti pada pelaksanaan pekerjaan ini meliputi penugasan
tenaga ahli maupun tenaga pendukung dan para pekerja dalam melaksanakan
pekerjaan tersebut baik dilokasi sesuai kebutuhan yang disyaratkan dalam
kontrak pelaksanaan pekerjaan.
METODE PELAKSANAAN
DIVISI 3.
PEKERJAAN TANAH
A. Pekerjaan Galian Biasa
Pekerjaan galian biasa harus mencakup seluruh galian yang tidak diklasifikasikan
sebabagai galian batu, galian struktur, galian sumber bahan (borrow excavation), galian
perkerasan beraspal, galian perkerasan berbutir dan galian beton.
Pelaksanaan galian biasa ini prosedurnya sebagai berikut :
a) Pengukuran dan pemasangan bowplank atau penentuan kedalaman galian.
Pengukuran dilaksanakan dengan menggunakan alat ukur theodolit dengan
mempedomani hasil rekayasa yang ttelah ditentukan oleh pihak Direksi Teknis dan
Konsultan Pengawas. Pemasangan bowplank dilakukan setelah hasil dari
pengukuran disetujui ileh pihak Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas.
b) Penggalian dengan menggunakan Alat Berat
Pekerjaan penggalian dilaksanakan setelah pemasangan bowplank dalam hal ini
penentuan kedalaman galian. Tanah yang digali oleh Excavator langsung dimuat
ke Dump Truck, kemudian diangkut keluar lokasi proyek.
c) Dasar untuk perhitungan analisa dari pekerjaan ini :
Asumsi :
Menggunakan alat berat (cara mekanik)
Kapasitas kerja sesuai kapasitas alat yang disyaratkan
Kedalaman sesuai petunjuk Direksi Teknis.
Urutan kerja/Metode kerja :
Penggalian tanah dilakukan di sisi kiri dan kanan aspal eksisting guna
memasukan Lapis Pondasi Agregat Kelas B dan Lapis Pondasi Agregat
Kelas A
Tanah yang digali dikumpulkan umumnya berada disisi jalan (kiri/kanan
jalan)
Penggalian menggunakan alat berat (Excavator)
Selanjutnya material hasil galian dimasukan kedalam Dump Truck
Dump Truck membuang material hasil galian keluar lokasi proyek sejauh 1
(satu) km atau atas petunjuk Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas.
Gambar 1. Galian Pelebaran Jalan Gambar 2. Metode Galian Tanah
METODE PELAKSANAAN
DIVISI 3.
PEKERJAAN TANAH
A. Penyiapan Badan Jalan
Pekerjaan ini mencakup penggarukan, penyiapan dan pemadatan permukaan tanah
dasar atau permukaan jalan kerikil lama untuk penghamparan Lapis Pondasi Agregat,
Lapis Pondasi Agregat pada galian pelebaran badan jalan. Pelaksanaan pekerjaan
penyiapan badan jalan ini prosedurnya sebagai berikut :
Asumsi
Menggunakan alat berat (cara mekanik)
Kapasitas kerja sesuai kapasitas alat yang disyaratkan
Kemiringan sesuai petunjuk Direksi Teknis.
Urutan kerja/Metode kerja :
Tanah yang sudah digali dan ditimbun dipadatkan lalu dibentuk penampang
jalan sesuai dengan elevasi jalan yang direncanakan.
Tanah eksisting sepanjang jalan lokasi pekerjaan diratakan menggunakan alat
motor grader dan dipadatkan menggunakan vibratory roller dibentuk penampang
jalan sesuai dengan elevasi jalan yang direncanakan
Pekerjaan ini dilakukan berulang dengan beberapa lintasan dan overlay
blade diikuti pengecekan elevasi kemiringan dan kerataan badan jalan.
Pekerjaan ini dilakukan menggunakan motor grader dan vibro roller.
Dilakukan pemadatan dengan vibro terlebih dahulu kemudian motor grader
membentuk penampang jalan. Setelah itu dipadatkan kembali dengan vibro
roller. Begitu seterusnya hingga terbentuk kemiringan penampang yang
direncanakan atau yang disyaratkan berdsarkan spesifikasi teknis.
Gambar. Penyiapan Badan Jalan
METODE PELAKSANAAN
DIVISI 5.
PEKERJAAN PERKERASAN BERBUTIR
Lapis Pondasi Agregat Kelas B
A. Pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Kelas B
Untuk pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi agregat kelas B ini dilaksanakan sesudah
pekerjaan penyiapan badan jalan selesai dan disetujui oleh pihak Direksi Teknis dan
Konsultan Pengawas. Lapis pondasi agregat kelas B adalah lapis pondasi bawah.
Lapis pondasi agregat kelas B yang berasal dari kerikil mempunyai 60% berat agregat
kasar dengan agnularitas 95/90*.
Pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Kelas B dengan prosedur sebagai berikut :
a) Pengajuan kesiapan kerja
Penyedia Jasa harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan berikut di
bawah ini paling sedikit 21 hari sebelum tanggal yang diusulkan dalam
penggunaan setiap bahan untuk pertama kalinya sebagai Lapis Pondasi
Agregat:
Dua contoh masing-masing 50 kg bahan, satu disimpan oleh Direksi
Pekerjaan sebagai rujukan selama Waktu untuk Penyelesaian.
Pernyataan perihal asal dan komposisi setiap bahan yang diusulkan untuk
Lapis Pondasi Agregat, bersama dengan hasil pengujian laboratorium yang
membuktikan bahwa sifat-sifat bahan yang ditentukan dalam spesifikasi
teknis yang disyaratkan.
Penyedia Jasa harus mengirim berikut di bawah ini dalam bentuk tertulis
kepada Direksi Pekerjaan segera setelah selesainya setiap ruas pekerjaan
dan sebelum persetujuan diberikan untuk penghamparan bahan lain di
atas Lapis Pondasi Agregat :
Hasil pengujian kepadatan dan kadar air seperti yang disyaratkan dalam
spesifikasi teknis yang disyaratkan.
Hasil pengujian pengukuran permukaan dan data hasil survei pemeriksaan
yang menyatakan bahwa toleransi yang disyaratkan dalam spesifikasi
teknis yang disyaratkan terpenuhi.
b) Pengangkutan material
Pengangukatan material Base B kelokasi pekerjaan menggunakan dump truck dan
loadingnya dilakukan dengan mengunakan wheel loader. Pengecekan dan
pencatatan volume material dilakukan pada saat penghamparan agar tidak terjadi
kelebihan disatu tempat dan kekurangan material di tempat yang lain.
c) Penghamparan material
Penghamparan material dilakukan dengan menggunakan motor grader dalam
tahap penghamparan ini harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Kondisi cuaca yang memungkinkan
Panjang hamparan pada saat setiap section yang dipadatkan sesuai dengan
kondisi lapangan. Lebar penghamparan disesuaikan dengan kondisi lapangan
dan tebal penghamparan sesuai dengan spesifikasi teknis yang disyaratkan.
Material yang tidak dipakai dipisahkan dan ditempatkan pada lokasi yang telah
ditetapkan.
d) Pemadatan material
Pemadatan dilakukan dengan menggunakan Vibro Roller dimulai dari bagian tepi
ke bagian tengah. Setelah pemadatan selesai alat pemadat dipindahkan ke jalur
sebelahnya dengan over leving 1/8 panjang dru dan seterusnya hingga mencapai
areal pemadatan, pemadatan dilakukan dengan jumlah passing sesuai dengan
hasil trial compactiaon.
e) Dasar perhitungan untuk analisa dari pekerjaan ini :
Asumsi
Pelaksanaan ini menggunakan alat berat (secara mekanik)
Lokasi pekerjaan sepanjang jalan
Material agregat kelas B dicampur di base camp
Proseedur pelaksanaan :
Sebelum pekerjana dimulai, terlebih dahulu mempersiapkan gambar design
dari data-data awal yang diambil pada saat survey dan gambar design lokasi
in diajukan dan disetujui direksi pekerjaan terlebih dahulu yaitu dengan
gambar penampang melintang yang menunjukkan elevasi permukaan tiap
titik.
Setelah gambar penampang melintang disetujui, kemudian dilaksanakan
pemasangan patok-patok elevasi.
disamping persiapan dilokasi pekerjaan, persiapan materila dipersiapkan
dengan dimulai dari pengajuan pembuatan JMD dari balai pengujian dan
pengendalian dinas dengan mengirim rencana agregat hasil pengolahan
Stone Cruiser yang ada di base camp.
Kemudian dari hasil JMD yang telah disetujui oleh balai pengujian
dilanjutkan dengan pembuatan JMF dilaboraturium, setelah diperoleh hasil
komposisi dari agregat campuran dari material, dilaksanakan trial mix dan
kemudian hasil dari trial mix diuji dengan mengacu kepada JMD. setelah
selesai semua hasil dibuat report dan ditandatangani bersama-sama,
kemudian dilakukan pengolahan materila untuk pengiriman kelokasi
pekerjaan.
Material yang telah diolah dibase camp kemudian dikirim kelokasi pekerjaan
dengan menggunakan Dump Truck yang telah disediakan.
Stelah materila sampai dilokasi, dilanjutkan penghamparan dengan
menggunakan motor grader yang dihampar secara layer perlayer dengan
tebal hamparan maximum 20 cm. kemudian hasil hamparan dipadatkan
langsung dengan mengggunakan alat pemadat Vibro Roller dengan jumlah
lintasan yang telah disepakati dan dilanjutkan dengan menggunakan alat
pemadat PTR agar diperoleh hasil hamparan yang butirannya tidak lepas.
pada saat proses pemadatan ini diikuti penyiraman dengan menggunakan
Water Tank. Pemadatan berlangsung sampai dengan elevasi dan panjang
hamparan yang telah ditentukan oleh direksi pekerjaan.
Selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan
level permukaan dengan menggunakan alat bantu.
Setelah pencapaian sesuai dengan elevasi pada gambar design,
pengecekan elevasi yang dilaksanakan bersama, setelah hasil pengecekan
elevasi dilanjutkan dengan melakukan pengujian kepadatan Base kelas B
lapis pertama sampai dipadatkan dengan CBR minimal 60%. dan setiap
jarak 100m, pengujian CBR dilakukan sampai panjang yang diinginkan
selesai.
Setelah Pengujian Hasil Pekerjaan selesai dan sesuai dengan spesifikasi
maka dibuat report dan kemudian ditandatangani bersama kemudian
progres pekerjaan dapat diprestasikan.
Peralatan yang digunakan :
Motor Grader
Vobro Roller
Dump Truck
Water Tanker.
Gambar 26. Penghamparan Agregat B
f) Pengendalian mutu Lapis Pondasi Agregat Kelas B
Jenis Metode Banyaknya Spesifikasi Satuan
No Keterangan
Pengujian Pengujian Pengujian Pengujian
Job Mix
1 1
Formula
tiap 1.000
Indeks SNI 1966 : %
2 5 m3 ada 5 0-10
Palstisitas 2008
pengujian
tiap 1.000
Gradasi
3 5 m3 ada 5
Partikel
pengujian
Kepadatan tiap 1.000
SNI 1743 :
4 Kering 2 m3 ada 1
2008
Maksimum pengujian
minimal
Kepadatan tidak lebih
%
5 dan Kadar Air jarak 200 m 100
(Sand Cone) ada 1 tes
sand cone
METODE PELAKSANAAN
DIVISI 5.
PEKERJAAN PERKERASAN BERBUTIR
Lapis Pondasi Agregat Kelas A
B. Pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Kelas A
Untuk pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi agregat kelas A ini dilaksanakan sesudah
pelaksanaan lapis pondasi agregat kelas B selesai dan disetujui oleh pihak Direksi
Teknis dan Konsultan Pengawas. Lapis pondasi agregat kelas A adalah mutu lapis
pondasi atas pada perkerasan Fleksibel Pavement. Lapis Pondasi Agregar Kelas A
mempunyai 100% berat agregat kasar dengan agnularitas 95/90*.
Pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Kelas A dengan prosedur sebagai berikut :
a) Pengajuan kesiapan kerja
Penyedia Jasa harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan berikut di
bawah ini paling sedikit 21 hari sebelum tanggal yang diusulkan dalam
penggunaan setiap bahan untuk pertama kalinya sebagai Lapis Pondasi Agregat
:
Dua contoh masing-masing 50 kg bahan, satu disimpan oleh Direksi
Pekerjaan sebagai rujukan selama Waktu untuk Penyelesaian.
Pernyataan perihal asal dan komposisi setiap bahan yang diusulkan untuk
Lapis Pondasi Agregat, bersama dengan hasil pengujian laboratorium yang
membuktikan bahwa sifat-sifat bahan yang ditentukan dalam spesifikasi
teknis yang disyaratkan.
Penyedia Jasa harus mengirim berikut di bawah ini dalam bentuk tertulis
kepada Direksi Pekerjaan segera setelah selesainya setiap ruas pekerjaan
dan sebelum persetujuan diberikan untuk penghamparan bahan lain di
atas Lapis Pondasi Agregat :
Hasil pengujian kepadatan dan kadar air seperti yang disyaratkan dalam
spesifikasi teknis yang disyaratkan.
Hasil pengujian pengukuran permukaan dan data hasil survei pemeriksaan
yang menyatakan bahwa toleransi yang disyaratkan dalam spesifikasi
teknis yang disyaratkan terpenuhi.
b) Pengangkutan material
Pengangukatan material Base A kelokasi pekerjaan menggunakan dump truck dan
loadingnya dilakukan dengan mengunakan wheel loader. Pengecekan dan
pencatatan volume material dilakukan pada saat tiba dilokasi pekerjaan sebelum
material di stack.
Material diturunkan dengan jarak volume tertentu untuk memeudahkan pada saat
penghamparan agar tidak terjadi kelebihan material disatu tempat dan kekurangan
material ditempat yang lain.
c) Penghamparan material
Penghamparan material dilakukan dengan menggunakan motor grader dalam
tahap penghamparan ini harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Kondisi cuaca yang memungkinkan
Panjang hamparan pada saat setiap section yang dipadatkan sesuai dengan
kondisi lapangan. Lebar penghamparan disesuaikan dengan kondisi lapangan
dan tebal penghamparan sesuai dengan spesifikasi teknis yang disyaratkan.
Material yang tidak dipakai dipisahkan dan ditempatkan pada lokasi yang telah
ditetapkan.
d) Pemadatan material
Pemadatan dilakukan dengan menggunakan Vibro Roller dimulai dari bagian tepi
ke bagian tengah. Setelah pemadatan selesai alat pemadat dipindahkan ke jalur
sebelahnya dengan over leving 1/8 panjang dru dan seterusnya hingga mencapai
areal pemadatan, pemadatan dilakukan dengan jumlah passing sesuai dengan
hasil trial compactiaon.
e) Dasar perhitungan untuk analisa dari pekerjaan ini :
Asumsi
Pelaksanaan ini menggunakan alat berat (secara mekanik)
Lokasi pekerjaan sepanjang jalan
Material agregat kelas A dicampur di base camp
Prosedur pelaksanaan :
Sebelum pekerjana dimulai, terlebih dahulu mempersiapkan gambar design
dari data-data awal yang diambil pada saat survey dan gambar design lokasi
in diajukan dan disetujui direksi pekerjaan terlebih dahulu yaitu dengan
gambar penampang melintang yang menunjukkan elevasi permukaan tiap
titik.
Setelah gambar penampang melintang disetujui, kemudian dilaksanakan
pemasangan patok-patok elevasi.
disamping persiapan dilokasi pekerjaan, persiapan materila dipersiapkan
dengan dimulai dari pengajuan pembuatan JMD dari balai pengujian dan
pengendalian dinas dengan mengirim rencana agregat hasil pengolahan
Stone Cruiser yang ada di base camp.
Kemudian dari hasil JMD yang telah disetujui oleh balai pengujian
dilanjutkan dengan pembuatan JMF dilaboraturium, setelah diperoleh hasil
komposisi dari agregat campuran dari material, dilaksanakan trial mix dan
kemudian hasil dari trial mix diuji dengan mengacu kepada JMD. setelah
selesai semua hasil dibuat report dan ditandatangani bersama-sama,
kemudian dilakukan pengolahan materila untuk pengiriman kelokasi
pekerjaan.
Material yang telah diolah dibase camp kemudian dikirim kelokasi pekerjaan
dengan menggunakan Dump Truck yang telah disediakan.
Stelah materila sampai dilokasi, dilanjutkan penghamparan dengan
menggunakan motor grader yang dihampar secara layer perlayer dengan
tebal hamparan maximum 15 cm. kemudian hasil hamparan dipadatkan
langsung dengan mengggunakan alat pemadat Vibro Roller dengan jumlah
lintasan yang telah disepakati dan dilanjutkan dengan menggunakan alat
pemadat PTR agar diperoleh hasil hamparan yang butirannya tidak lepas.
pada saat proses pemadatan ini diikuti penyiraman dengan menggunakan
Water Tank. Pemadatan berlangsung sampai dengan elevasi dan panjang
hamparan yang telah ditentukan oleh direksi pekerjaan.
Selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan
level permukaan dengan menggunakan alat bantu.
Setelah pencapaian sesuai dengan elevasi pada gambar design,
pengecekan elevasi yang dilaksanakan bersama, setelah hasil pengecekan
elevasi dilanjutkan dengan melakukan pengujian kepadatan Base kelas B
lapis pertama sampai dipadatkan dengan CBR minimal 60%. dan setiap
jarak 100m, pengujian CBR dilakukan sampai panjang yang diinginkan
selesai.
Setelah Pengujian Hasil Pekerjaan selesai dan sesuai dengan spesifikasi
maka dibuat report dan kemudian ditandatangani bersama kemudian
progres pekerjaan dapat diprestasikan.
Peralatan yang digunakan :
Motor Grader
Vobro Roller
Dump Truck
Water Tanker
Gambar 27. Pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Kelas A
f) Pengendalian mutu Lapis Pondasi Agregat Kelas A
Jenis Metode Banyaknya Spesifikasi Satuan
No Keterangan
Pengujian Pengujian Pengujian Pengujian
Job Mix
1 1
Formula
tiap 1.000
Indeks SNI 1966 : %
2 5 m3 ada 5 0-6
Palstisitas 2008
pengujian
tiap 1.000
Gradasi
3 5 m3 ada 5
Partikel
pengujian
Kepadatan tiap 1.000
SNI 1743 :
4 Kering 2 m3 ada 1
2008
Maksimum pengujian
minimal
Kepadatan tidak lebih
%
5 dan Kadar Air jarak 200 m 100
(Sand Cone) ada 1 tes
sand cone
METODE PELAKSANAAN
DIVISI 6.
PERKERASAN ASPAL
A. Pekerjaan Laspis Perekat – Aspal Cair
Pekerjaan ini digunakan sebagai Lapis Perekat antara perkerasan beton fc’ 30 MPa
dengan konstruksi diatasnya, sebelum dilakukan penyemprotan aspal dipanaskan
pada tangki Aspal Sprayer dan dicampur dengan Karosin setelah aspal mencapai suhu
yang telah ditetapkan sesuai spesifikasi setelah itu aspal Lapis Resap Pengikat
disemprotkan ke Lapis Pondasi Agregat Klas A dengan ketebalan 0,15 liter / meter
persegi.
Dikerjakan secara mekanik dengan urutan kerja sebagai berikut Aspal dan minyak Flux
dicampur dan dipanaskan sehingga menjadi campuran aspal cair Permukaan yang
akan dilapis dibersihkan dari debu dan kotoran dengan Air Compresor. Di semprotkan
dengan merata dengan asphal sprayer pada badan jalan yang akan dipasang Lapisan
Lataston Lapis Aus (HRS-WC) 3,0 cm (gradasi senjang/semi senjang).
Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal pada
permukaan yang telah disiapkan sebelumnya untuk pemasangan lapisan beraspal
berikutnya. Dan dihampar diatas permukaan yang beraspal.
Tahapan dan Cara Pelaksanaan
Mulai
Pencampuran Aspal & Kerosin Pembersihan Lokasi Menggunakan
Air Compresor
Penyemprotas Campuran
Aspal Cair/Sprayer
Selesai
Gambar 23. Pelaksanaan Pekerjaan Lapis Perekat – Aspal Cair
Analisa Pengerahan Alat & Material
Alat yang dikerahkan Material yang dikerahkan
Asphalt Sprayer Asphalt
Air Compresor Kerosin/Minyak Tanah
Asphalt Distributor Bahan Lainnya
Dump Truck
Alat bantu
Analisa Pengerahan Personil & K3
Personil yang dikerahkan Aspek K3
Pelaksana Memasang Rambu Peringatan :
Petugas K3L Rambu Peringatan :
Tenaga Kerja “HATI-HATI ADA PEKERJAAN
PENGASPALAN”
Menggukana alat pelindung diri
(APD)
- Sarung Tangan
- Helm
- Sepatu Safety
Pengendalian Mutu
Mutu yang diharapkan :
Lapisan yang telah terhampar sesuai dengan rencana
Pengendalian Mutu :
Tiap 200 m ada 5 penampang, masing 1 penampang ada 3 kertas uji
METODE PELAKSANAAN
DIVISI 6.
PERKERASAN ASPAL
A. Pekerjaan Lataston Lapis Fondasi (HRS-Base)(gradasi senjang/semi senjang)
Pencampuran dilakukan dengan Asphal Mixing Plant, diangkut dengan dump truck
dan dihampar dengan asphal finisher, dipadatkan dengan tandem Roller dan
Pneumatic Tyre Roller. serta dirapikan oleh pekerja dengan alat bantu.
Dilaksanakan sesuai dengan rencana dan atas persetujuan pihak Direksi Teknis dan
Konsultan Pengawas.
Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup pengadaan lapisan padat yang awet untuk lapis
perata, lapis pondasi atau lapis campuran aspal yang terdiri dari agregat dan bahan
aspal yang dicampur di AMP, serta menghampar dan memadatkan campuran
tersebut diatas pondasi atau permukaan jalan yang telah disiapkan.
Tahapan dan Cara Pelaksanaan
Mulai
Persiapan Alat dan Material
Pencampuran Asphalt+Agregat+Filler+Aditif (Proses di AMP)
Pengangkuta Aspal Kelokasi Pekerjaan
Penghamparan
Pemadatan
Selesai
Gambar 24. Pelaksanaan Pekerjaan HRS-WC
Analisa Pengerahan Alat & Material
Alat yang dikerahkan Material yang dikerahkan
AMP+Laboratorium Asphalt
Wheel Loader Agregat Kasar
Dump Truck Agregat Halus
Asphalt Finisher Filler
Tandem Roller Kerosin/Minyak Tanah
Pneumatic Tire Roller
Alat Bantu
Analisa Pengerahan Personil & K3
Personil yang dikerahkan Aspek K3
Pelaksana Memasang Rambu Peringatan :
Petugas K3L Rambu Peringatan :
Tenaga Kerja “HATI-HATI ADA PEKERJAAN
PENGASPALAN”
Menggukana alat pelindung diri
(APD)
- Sarung Tangan
- Helm
- Sepatu Safety
Pengendalian Mutu
Mutu yang diharapkan :
- Permukaan yang rata sesuai spesifikasi yang disyaratkan
- Elevasi sesuai dengan yang direncanakan
- Campuran aspal sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan
Pengendalian Mutu :
Jenis Metode Banyaknya Spesifikasi Satuan
No Keterangan
Pengujian Pengujian Pengujian Pengujian
Job Mix
1 1
Formula
tiap 250 m3 ada
2 Hot Bin Sleve -
2 pengujian
Extraksi dan tiap 250 m3 ada
3 -
Gradasi 2 pengujian
SNI 06- tiap 200 m3 ada
4 Marshall Test -
2489-1991 2 pengujian
tiap 100 m
%
5 Core Drill Minimal ada 2 > 98
benda uji
METODE PELAKSANAAN
DIVISI 7
PEKERJAAN STRUKTUR
1. PENDAHULUAN
Pekerjaan Struktur ini akan meliputi semua pengadaan material dan tenaga kerja untuk
produksi serta pelaksanaan pekerjaan beton dan beton bertulang, termasuk uji
kekuatan dan perawatannya, yang akan meliputi antara lain :
a. Material pembentukan beton
b. Pengadaan beton
c. Baja tulangan
d. Pekerjaan beton bertulang
e. Perawatan beton
f. Uji kelayakan dan kekuatan beton
2. BETON MUTU SEDANG F’c 20 Mpa (K-250)
Minimal dengan kuat tekan silinder fc' = 20 MPa, artinya mempunyai kuat tekan hancur
karakteristik sebesar 20 MPa pada benda uji silinder dengan diameter 150 mm dan tinggi
300 mm, saat umur beton 28 hari. Kuat tekan tersebut di atas adalah lebih kurang setara
dengan mutu beton K-250 pada NI-2, yaitu kuat tekan hancur karakteristik sebesar 250
kg/cm2 pada benda uji kubus dengan sisi 150 mm, saat umur beton 28 hari. Kuat tekan
karakteristik adalah kuat tekan beton yang sudah memperhitungkan adanya deviasi
secara statistik pada sejumlah benda uji beton, baik itu silinder maupun kubus, sesuai
dengan SKSNI-T15-1991, atau NI-2-1971 dalam hal benda uji kubus.
Untuk mutu beton fc’ > 20 Mpa atau K250 seluruh komponen bahan beton harus ditakar
menurut berat. Untuk mutu beton fc’ < 20 MPa atau K250 diizinkan ditakar menurut
volume sesuai SNI 03-3976-1995. Bila digunakan semen kemasan dalam zak,
kuantitas penakaran harus sedemikian sehingga kuantitas semen yang digunakan
adalah setara dengan satu satuan atau kebulatan dari jumlah zak semen. Agregat
harus ditimbang beratnya secara terpisah. Ukuran setiap penakaran tidak boleh
melebihi kapasitas alat pencampur.
Pihak Kami sekurang-kurangnya dua minggu sebelum memulai pekerjaan beton
membuat adukan percobaan (trial mixes) dengan menggunakan contoh bahan-bahan
beton (semen, agregat, air dan bahan tambahan) yang akan digunakan nantinya, untuk
menunjukkan bahwa campuran tersebut memenuhi kriteria untuk mencaai mutu kerja
kinerja beton yang diisyaratkan.
Urutan pelaksanaan pekerjaan Beton F’c 20 Mpa (K-250) adalah sebagai berikut :
1. Pengajuan Job Mix Design
2. Trial campuran beton sesuai dengan Job Mix Design
3. Beton secepat mungkin dicorkan setelah pengadukan, dan dilakukan sedemikian
rupa sehingga tidak terjadi pengendapan agregat maupun bergesernya posisi
tulangan atau acuan. Pengecoran dilaksanakan secara kontinyu dalam satu
elemen struktur atau diantara siar pelaksanaan (construction joint) yang telah
disetujui.
4. Pengecoran beton tidak dibenarkan untuk dimulai sebelum acuan/bekisting dan
pemasangan baja tulangan selesai diperiksa dan mendapat persetujuan
Manajemen konstruksi. Sebelum pengecoran dimulai, maka tempat yang akan
dicor terlebih dahulu dibersihkan dari segala kotoran (potongan kayu, batu,
tanah dan lainlain) dan dibasahi dengan air semen.
5. Pengecoran dilakukan secara berlapis dan kontinyu, atau dengan metode
pengecoran yang diusulkan Pihak Kami dan disetujui oleh Manajemen
Konstruksi , dengan memperhatikan cara atau urutan pengecoran terutama
untuk volume pengecoran yang besar (beton massa), agar tidak terjadi cold
joint dan juga menghindari kemungkinan degradasi atau kerusakan beton akibat
panas hindrasi yang ditimbulkan. Untuk itu, sebelum pengecoran dilaksanakan,
Pihak Kami menyampaikan usaha prosedur pengecoran yang optimum kepada
Manajemen Konstruksi, untuk mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi .
6. Selama proses pengecoran, perlu dilakukan uji slump dan pengambilan contoh
benda uji, dengan disaksikan persetujuan dari Manajemen Konstruksi. Prosedur
uji slump, jumlah dan cara pengambilan contoh benda uji dan contoh cetakannya
sesuai dengan SKSNl, dan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari
Manajemen
7. untuk pengecoran dengan mutu beton yang sama, yang diambil minimal 1 buah
benda uji setiap 5 m3 pengecoran beton untuk volume pengecoran yang kurang
dari 300 m3, atau minimal 1 buah setiap 10 m3 pengecoran beton untuk volume
pengecoran yang lebih dari 300 m3, dalam bentuk silinder berdiameter 150 mm
dan tinggi 300 mm.
8. Selama pengecoran berlangsung, beton dipadatkan dengan memakai vibrator,
yang dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak merusak acuan maupun posisi
tulangan. Pihak Kami menyediakan vibrator dalam jumlah yang cukup untuk
menjamin efisiensi pekerjaan tanpa adanya penundaan. Pemadatan beton
secara berlebihan sehingga menyebabkan pengendapan agregat, kebocoran
acuan dan lain sebagainya, dihindarkan.
9. Beton pada umumnya dicor secara berlapis. Lapisan-lapisan ini masing - masing
dipadatkan, dan dijaga sedemikian rupa supaya mempunyai ikatan yang baik
satu sama lain.
10. Beton dirawat (curing) dan dilindungi selama berlangsungnya proses pengerasan
terhadap panas matahari, angin, hujan atau aliran air dan pengeringan sebelum
waktunya.
11. Semua permukaan beton yang terbuka dijaga tetap basah selama minimal
14 hari, dengan cara menyemprotkan air atau menggenangkan air pada
permukaan beton tersebut, atau dengan cara lain yang diusulkan Pihak Kami.
Metode curing lebih dahulu diusulkan dan mendapatkan persetujuan
Manajemen Konstruksi, sebelum proses pengerasan beton.
12. Untuk pengecoran beton pada waktu cuaca panas, curing dan perlindungan
atas beton diperhatikan. Pihak Kami bertanggung jawab atas retaknya beton
karena kelalaian dalam melaksanakan pekerjaan curing ini.
3. PEKERJAAN BETON MUTU RENDAH F’c 10 Mpa (K-125)
Urutan pelaksanaan pekerjaan Beton F’c 10 Mpa (K-125) adalah sebagai berikut :
1. Beton secepat mungkin dicorkan setelah pengadukan, dan dilakukan sedemikian
rupa sehingga tidak terjadi pengendapan agregat maupun bergesernya posisi
tulangan atau acuan. Pengecoran dilaksanakan secara kontinyu dalam satu
elemen struktur atau diantara siar pelaksanaan (construction joint) yang telah
disetujui.
2. Pengecoran beton tidak dibenarkan untuk dimulai sebelum acuan/bekisting dan
pemasangan baja tulangan selesai diperiksa dan mendapat persetujuan
Manajemen konstruksi. Sebelum pengecoran dimulai, maka tempat yang akan
dicor terlebih dahulu dibersihkan dari segala kotoran (potongan kayu, batu,
tanah dan lainlain) dan dibasahi dengan air semen.
3. Pengecoran dilakukan secara berlapis dan kontinyu, atau dengan metode
pengecoran yang diusulkan Pihak Kami dan disetujui oleh Manajemen
Konstruksi , dengan memperhatikan cara atau urutan pengecoran terutama
untuk volume pengecoran yang besar (beton massa), agar tidak terjadi cold
joint dan juga menghindari kemungkinan degradasi atau kerusakan beton akibat
panas hindrasi yang ditimbulkan. Untuk itu, sebelum pengecoran dilaksanakan,
Pihak Kami menyampaikan usaha prosedur pengecoran yang optimum kepada
Manajemen Konstruksi, untuk mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi .
4. Selama proses pengecoran, perlu dilakukan uji slump dan pengambilan contoh
benda uji, dengan disaksikan persetujuan dari Manajemen Konstruksi. Prosedur
uji slump, jumlah dan cara pengambilan contoh benda uji dan contoh cetakannya
sesuai dengan SKSNl, dan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari
Manajemen
5. Selama pengecoran berlangsung, beton dipadatkan dengan memakai vibrator,
yang dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak merusak acuan maupun posisi
tulangan. Pihak Kami menyediakan vibrator dalam jumlah yang cukup untuk
menjamin efisiensi pekerjaan tanpa adanya penundaan. Pemadatan beton
secara berlebihan sehingga menyebabkan pengendapan agregat, kebocoran
acuan dan lain sebagainya, dihindarkan.
6. Beton pada umumnya dicor secara berlapis. Lapisan-lapisan ini masing - masing
dipadatkan, dan dijaga sedemikian rupa supaya mempunyai ikatan yang baik
satu sama lain.
7. Beton dirawat (curing) dan dilindungi selama berlangsungnya proses pengerasan
terhadap panas matahari, angin, hujan atau aliran air dan pengeringan sebelum
waktunya.
8. Semua permukaan beton yang terbuka dijaga tetap basah selama minimal
14 hari, dengan cara menyemprotkan air atau menggenangkan air pada
permukaan beton tersebut, atau dengan cara lain yang diusulkan Pihak Kami.
Metode curing lebih dahulu diusulkan dan mendapatkan persetujuan
Manajemen Konstruksi, sebelum proses pengerasan beton.
9. Untuk pengecoran beton pada waktu cuaca panas, curing dan perlindungan
atas beton diperhatikan. Pihak Kami bertanggung jawab atas retaknya beton
karena kelalaian dalam melaksanakan pekerjaan curing ini.
4. PEKERJAAN BAJA TULANGAN BJ U24
Pekerjaan ini harus mencakup pengadaan dan pemasangan baja tulangan sesuai
dengan Spesifikasi dan Gambar, atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan.
Adapun prosedur pelaksanaan pekerjaan Baja Tulangan BJ U24 :
1. Sebelum penyetelan dan pemasangan baja tulangan dimulai, Pihak Kami
membuat rencana kerja pemotongan dan pembengkokan baja tulangan (bar
bending schedule), yang sebelumnya diserahkan kepada Manajemen
Konstruksi untuk mendapatkan persetujuan.
2. Tulangan bebas dari kotoran-kotoran seperti lemak, karet lepas, tanah, serta
bahan-bahan atau kotoran yang bisa mengurangi daya letaknya.
3. Pembengkokan baja tulangan dilakukan secara hati-hati dan teliti, sesuai
dengan aturan dalam SKSNI. Pembengkokan tersebut dilakukan oleh tenaga
yang ahli, dengan menggunakan alat-alat sedemikian rupa sehingga tidak
menimbulkan cacat, patah dan retak-retak pada batang baja.
4. Pemasangan dan penyetalan tulangan berdasarkan peil-peil yang sesuai
dengan gambar, dan sudah diperhitungkan mengenai toleransi penurunannya.
Pemasangan dilakukan dengan menggunakan pengganjal jarak selimut beton
(beton decking) untuk mendapatkan tebal selimut yang sesuai dengan gambar.
Apabila hal tersebut tidak tercantum di dalam gambar atau dalam spesifikasi,
maka dapat dipakai ketentuan dalam peraturan yang berlaku. Yang dimaksud
dengan selimut beton adalah jarak minimum yang terdapat antara permukaan
dari setiap besi beton termasuk begel terhadap permukaan beton yang terkecil
atau terdekat untuk setiap bagian dari masing-masing pekerjaan beton.
Adapun ketebalan selimut beton minimum yang disyaratkan adalah :
KONDISI Minimum
(mm)
A Seluruh beton yang 75
di cor
B Balok pondasi, pelat pondasi, 50
poer pondasi,
C Balok, kolom yang 50
berhubungan atau terkena
D Balok, kolom yang tidak 40
berhubungan atau
E Pelat, dinding beton yang 40
berhubungan/
F Pelat, dinding beton yang tidak 25
berhubungan
5. Tulangan dipasang sedemikian rupa sehingga sebelum dan selama
pengecoran tidak akan berubah tempatnya.
6. Ketebalan selimut beton dibuat dengan pengganjal yang umum dipakai dalam
praktek, seperti terbuat dari beton (dengan mutu paling sedikit sama dengan
mutu beton yang akan dicor), dengan jumlah minimum 4 buah setiap m2 cetakan
atau lantai kerja, atau seperti yang diinstruksikan oleh Manajemen Konstruksi,
dan tersebar merata.
A. PENUTUP
Untuk melaksanakan pekerjaan dalam butir tersebut diatas, berlaku dan mengikat pula :
1. Gambar bestek yang dibuat Konsultan Perencana yang sudah disahkan oleh
Pemberi Tugas termasuk juga gambar – gambar detail yang diselesaikan oleh
Kontraktor dan sudah disahkan/disetujui oleh pengawas.
2. Rencana Kerja dan Syarat – Syarat ( RKS ).
3. Surat Perintah Kerja ( SPK ).
4. Surat Penawaran beserta lampiran – lampirannya.
5. Jadwal Pelaksanaan ( Tentative Time Schedule ).
6. Kontrak / Surat Perjanjian Pemborongan.
7. Instruksi – instruksi Direksi dan Pengawas.