| Reason | |||
|---|---|---|---|
| 0602980054728000 | Rp 1,656,937,428 | - | |
| 0927953489704000 | Rp 1,771,540,341 | - | |
| 0022139661724000 | Rp 1,771,550,000 | - | |
| 0011138963822000 | - | - | |
| 0935694406728000 | Rp 1,600,000,000 | tidak menghadiri klarifikasi administrasi, kualifikasi, teknis dan harga | |
| 0969711894803000 | Rp 1,417,248,800 | berdasarkan hasil klarifikasi yang dilakukan kepada penerbit bahwa bukti pembelian concrete mixer sebanyak 2 unit berupa invoice nomor : 18/0101/060624-036 tanggal 6 Juni 2024 dari PT. Mahkota Motorindo Diesel menyatakan tidak ada pembelian concrete mixer pada invoice tersebut | |
| 0818094906728000 | Rp 1,417,248,800 | Berdasarkan hasil klarifikasi yang dilakukan kepada peserta, peserta tidak dapat menjelaskan kapasitas peralatan concrete mixer yang ditawarkan sebanyak 3 unit karena pada daftar isian peralatan yang ditawarkan masih menggunakan range yaitu 0,3 - 0,6 m3 dan pada bukti pembelian berupa nota dari Toko Fajar Sari juga masih menggunakan range, hal ini berdasarkan berita acara penjelasan nomor 5/BAPJ/10022348000/BPBJ/4/2025 angka 2 huruf b. - Daftar isian peralatan penawaran yang disampaikan wajib sudah menetapkan kapasitas peralatan yang diusulkan | |
CV Berkah Tuah Benua | 06*7**3****28**0 | Rp 1,417,248,800 | Berdasarkan hasil klarifikasi yang dilakukan kepada peserta, bahwa peralatan berupa concrete mixer yang ditawarkan sebanyak 3 unit pada daftar isian peralatan yang ditawarkan masih menggunakan range yaitu 0,3 - 0,6 m3 dan pada bukti pembelian berupa nota dari CV. Sinar Jaya tidak mencantumkan kapasitas peralatan tersebut, hal ini berdasarkan berita acara penjelasan nomor 5/BAPJ/10022348000/BPBJ/4/2025 angka 2 huruf b. - Daftar isian peralatan penawaran yang disampaikan wajib sudah menetapkan kapasitas peralatan yang diusulkan |
CV Wolio Raya Jaya | 09*9**2****41**0 | Rp 1,417,248,800 | Personil Manajerial Jabatan Pelaksana sudah ditawarkan dan masih terikat pada paket pekerjaan lain yang sedang berjalan tanggal pengumuman pemenang 7 Mei 2025 dengan jangka waktu pelaksanaan selama 90 hari kalender |
CV Ysa Putri | 06*3**5****28**0 | Rp 1,417,248,800 | berdasarkan hasil klarifikasi yang dilakukan kepada peserta, tidak dapat menjelaskan dan tidak membawa bukti pengalaman personil tahun 2021 bahwa nama PPK yang tercantum dalam Daftar Riwayat Hidup personil berbeda dengan nama PPK yang ada di kontrak |
| 0026300863728000 | - | - | |
CV Pesut Jaya Kencana | 01*8**9****22**0 | - | - |
| 0652261207722000 | - | - | |
| 0032137812831000 | - | - | |
| 0725966949617000 | - | - | |
CV Seroja Nusantara | 09*4**6****28**0 | - | - |
| 0850713470722000 | - | - | |
| 0031260052722000 | - | - | |
| 0537039505728000 | - | - | |
| 0752375386803000 | - | - | |
Khana Sari | 00*5**9****41**0 | - | - |
| 0809093222822000 | - | - | |
| 0020581765525000 | - | - | |
| 0810412205803000 | - | - | |
| 0026616425727000 | - | - | |
| 0723416947524000 | - | - | |
CV Kubu Raya Sejahtera | 00*7**5****01**0 | - | - |
| 0421268723728000 | - | - | |
| 0027561281728000 | - | - |
URAIAN SINGKAT PEKERJAAN
JASA KONTRUKSI TERKAIT Lanjutan Peningkatan Jaringan Irigasi Permukaan RT 18 dan
RT 19 Poktan Panji Makmur Kel. Panji Kec Tenggarong yaitu :
4.1 Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK)
4.1.1. Pendahuluan
Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) bertujuan untuk memastikan bahwa
semua pekerjaan pemeliharaan saluran irigasi RT 18 dan RT 19 Poktan Panji Makmur Kel.
Panji dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Sistem ini mencakup kebijakan, prosedur, dan praktik yang harus diikuti untuk melindungi
tenaga kerja, lingkungan, dan masyarakat sekitar dari potensi bahaya yang mungkin timbul
selama pelaksanaan pekerjaan.
4.1.2. Kebijakan Keselamatan Konstruksi
Komitmen Manajemen : Manajemen proyek berkomitmen untuk mengutamakan
keselamatan dan kesehatan kerja dalam setiap tahap pekerjaan.
Kepatuhan Terhadap Peraturan : Mematuhi semua peraturan perundang-undangan
dan standar yang berlaku terkait K3.
Partisipasi Pekerja : Mendorong partisipasi aktif semua pekerja dalam upaya
keselamatan dan kesehatan kerja.
4.1.3. Ruang Lingkup Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi
Identifikasi dan penilaian risiko K3.
Pengendalian risiko K3.
Pelatihan dan kompetensi K3.
Pemantauan dan evaluasi kinerja K3.
Pelaporan dan dokumentasi K3.
4.1.4. Identifikasi dan Penilaian Risiko K3
Identifikasi Bahaya : Mengidentifikasi semua potensi bahaya yang dapat terjadi
selama pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan saluran irigasi, seperti bahaya fisik, mekanis,
kimia, dan lingkungan.
Penilaian Risiko : Menilai tingkat risiko dari setiap bahaya yang teridentifikasi untuk
menentukan prioritas pengendalian.
4.1.5. Pengendalian Risiko K3
Pengendalian Administratif : Menyusun dan menerapkan prosedur kerja aman,
jadwal inspeksi rutin, dan program pelatihan K3.
Pengendalian Teknik : Menggunakan peralatan yang sesuai, memastikan alat-alat
dalam kondisi baik, dan melakukan pengawasan teknis.
Alat Pelindung Diri (APD) : Menyediakan dan memastikan penggunaan APD seperti
helm, sepatu bot, sarung tangan, rompi reflektif, masker debu, dan kacamata pelindung.
Pengendalian Lingkungan : Mengelola limbah dan material berbahaya dengan benar
untuk mencegah pencemaran.
4.1.6. Pelatihan dan Kompetensi K3
Pelatihan Dasar K3 : Memberikan pelatihan dasar K3 kepada semua pekerja
sebelum memulai pekerjaan.
Pelatihan Khusus : Menyediakan pelatihan khusus terkait dengan pekerjaan spesifik,
seperti pengoperasian alat berat, penanganan material berbahaya, dan prosedur darurat.
Sertifikasi : Memastikan bahwa pekerja yang menangani tugas-tugas kritis memiliki
sertifikasi yang diperlukan.
4.1.7. Pemantauan dan Evaluasi Kinerja K3
Inspeksi Rutin : Melakukan inspeksi rutin terhadap tempat kerja, peralatan, dan
prosedur untuk memastikan kepatuhan terhadap standar K3.
Audit K3 : Melakukan audit K3 secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas sistem
manajemen keselamatan konstruksi.
Pelaporan Insiden : Menyusun sistem pelaporan insiden, kecelakaan, dan kondisi
tidak aman untuk dianalisis dan diambil tindakan korektif.
4.2. Penggalian 1 m3 tanah biasa
4.2.1. Pendahuluan
Pekerjaan penggalian tanah secara manual merupakan salah satu langkah awal dalam
persiapan pekerjaan konstruksi. Penggalian ini dilakukan untuk mencapai dimensi dan
kedalaman yang diperlukan sesuai dengan rencana proyek. Penggalian manual dipilih untuk
area yang terbatas atau di mana alat berat tidak bisa digunakan secara efisien. Dalam
pekerjaan ini, tanah akan digali dengan kedalaman tergantung pada kebutuhan desain
konstruksi.
Tujuan dari pekerjaan penggalian manual ini adalah untuk menciptakan ruang bagi
pembangunan fondasi, saluran drainase, atau struktur lainnya, dengan tetap
mempertimbangkan efisiensi waktu, biaya, dan keamanan kerja.
4.2.2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Ruang lingkup pekerjaan penggalian manual meliputi:
• Pembersihan area dari material atau vegetasi yang menghalangi.
• Penggalian tanah secara manual dengan kedalaman sesuai kondisi di lapangan.
• Pengumpulan dan penempatan tanah galian di lokasi yang telah ditentukan atau
pembuangan ke tempat yang disetujui.
• Pengamanan area kerja selama proses penggalian untuk mencegah kecelakaan
kerja.
• Pemeriksaan kedalaman dan dimensi hasil galian agar sesuai dengan gambar kerja.
4.2.3. Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan penggalian tanah secara manual terdiri dari:
• Penandaan Area Penggalian : Sebelum penggalian dimulai, area yang akan digali
ditandai sesuai dengan gambar kerja menggunakan patok dan tali.
• Penggalian Manual : Penggalian dilakukan secara manual menggunakan cangkul,
sekop, dan alat-alat tangan lainnya. Tanah digali hingga mencapai kedalaman yang
ditentukan. Pekerjaan dilakukan secara bertahap untuk menjaga stabilitas tanah dan
mencegah longsoran.
• Pengangkutan Tanah Galian : Tanah hasil galian dikumpulkan di tempat sementara
atau langsung diangkut menggunakan gerobak atau alat sederhana lainnya ke lokasi
pembuangan yang telah ditentukan.
• Pemeriksaan dan Pengukuran : Setelah penggalian selesai, dilakukan pengukuran
ulang menggunakan alat ukur sederhana (meteran atau waterpass) untuk memastikan
kedalaman dan dimensi sesuai dengan rencana.
• Pembersihan Area : Setelah penggalian selesai, area kerja dibersihkan dari sisa-sisa
material untuk mempersiapkan pekerjaan selanjutnya.
4.2.4. Spesifikasi Material dan Peralatan
Bahan – Bahan Yang Digunakan :
Tidak ada bahan khusus yang diperlukan dalam pekerjaan penggalian manual ini, hanya
tanah yang akan digali dan dibuang.
Alat – Alat Yang Digunakan :
• Cangkul dan Sekop : Alat utama yang digunakan untuk penggalian tanah secara
manual.
• Gerobak atau ember : Untuk mengangkut tanah galian ke tempat pembuangan atau
penyimpanan sementara.
• Patok dan tali : Digunakan untuk menandai area penggalian sesuai rencana.
• Meteran dan Waterpass : Untuk mengukur kedalaman dan kesesuaian dimensi
galian.
• Peralatan keselamatan : Seperti helm, sarung tangan, dan sepatu boot untuk
melindungi pekerja selama proses penggalian.
4.2.5. Kriteria Kualitas Pekerjaan
Pekerjaan penggalian manual dinyatakan berhasil apabila memenuhi kriteria berikut:
• Kedalaman dan Dimensi Sesuai Rencana : Penggalian harus mencapai kedalaman
dengan dimensi yang sesuai dengan gambar kerja.
• Dinding Galian Stabil dan Aman : Tidak ada keruntuhan atau longsoran pada dinding
galian. Jika kondisi tanah labil, perlu dilakukan pengamanan sementara.
• Penyimpanan atau Pembuangan Tanah Galian : Tanah galian harus ditempatkan di
area yang telah ditentukan tanpa mengganggu jalannya pekerjaan lainnya.
• Keamanan dan Keselamatan Terjaga : Selama pelaksanaan, area kerja harus dijaga
agar aman dari risiko kecelakaan, dan langkah-langkah keselamatan harus diterapkan.
• Permukaan Galian Siap untuk Pekerjaan Selanjutnya : Setelah penggalian selesai,
permukaan galian harus siap untuk pekerjaan berikutnya, seperti pemasangan fondasi atau
infrastruktur lainnya.
4.2.6. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
• Semua pekerja harus menggunakan alat pelindung diri (APD) selama bekerja.
• Pekerjaan dilakukan sesuai dengan prosedur keselamatan kerja untuk mencegah
kecelakaan.
• Lokasi pekerjaan harus dilengkapi dengan tanda peringatan dan pengamanan untuk
melindungi pekerja dan masyarakat sekitar.
4.2.7. Pelaporan dan Dokumentasi
• Laporan harian mengenai kemajuan pekerjaan harus disusun dan diserahkan
kepada pengawas proyek.
• Dokumentasi foto sebelum, selama, dan setelah pekerjaan harus dibuat untuk
evaluasi hasil kerja.
4.3. Per-m' Penetrasi Cerucuk Dolken (Kayu Galam) ø 6-8 cm
4.3.1. Pendahuluan
Pekerjaan penetrasi cerucuk dolken menggunakan kayu galam ø 6-8 cm merupakan metode
perkuatan tanah yang sering digunakan pada proyek konstruksi di area yang memiliki
kondisi tanah lunak atau berawa. Kayu galam digunakan sebagai material perkuatan karena
karakteristiknya yang kuat, tahan air, dan mudah diolah. Penetrasi cerucuk dolken berfungsi
untuk meningkatkan daya dukung tanah sehingga mampu menahan beban struktur di
atasnya. Dalam pekerjaan ini, cerucuk dolken akan ditanam ke dalam tanah hingga
kedalaman tertentu secara berurutan per meter untuk memastikan kestabilan area kerja.
Tujuan utama dari pekerjaan ini adalah meningkatkan daya dukung tanah dengan
memasang cerucuk kayu galam secara efisien dan efektif sesuai dengan spesifikasi teknis
yang ditentukan.
4.3.2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Ruang lingkup pekerjaan penetrasi cerucuk dolken meliputi:
• Penyiapan area kerja yang meliputi pembersihan lahan dan penentuan titik-titik
penetrasi.
• Pemasangan cerucuk dolken (kayu galam ø 6-8 cm) per meter sesuai dengan
kedalaman yang ditentukan dalam gambar kerja.
• Pemadatan dan perkuatan area setelah penetrasi cerucuk untuk meningkatkan daya
dukung tanah.
• Pengangkutan dan penyediaan kayu galam yang memenuhi spesifikasi ke lokasi
kerja.
• Pengendalian mutu dan pemeriksaan akhir hasil pekerjaan untuk memastikan
cerucuk terpasang sesuai dengan standar yang ditetapkan.
4.3.3. Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan pekerjaan penetrasi cerucuk dolken meliputi :
• Penyiapan dan Penentuan Titik Penetrasi : Area yang akan dipasang cerucuk dolken
ditentukan dan ditandai dengan menggunakan patok dan tali ukur berdasarkan gambar
kerja. Jarak antar cerucuk disesuaikan dengan perhitungan teknis yang sudah ditetapkan.
• Penggalian Awal (Jika Diperlukan) : Apabila tanah terlalu keras atau tidak
memungkinkan penetrasi langsung, dilakukan penggalian awal untuk memudahkan
pemasangan cerucuk dolken.
• Pemasangan Cerucuk Dolken : Kayu galam ø 6-8 cm diposisikan tegak lurus dan
dimasukkan ke dalam tanah menggunakan tenaga manual atau bantuan alat pemukul
sederhana seperti palu besar atau alat mekanis jika diperlukan. Cerucuk dipukul hingga
mencapai kedalaman yang ditentukan dalam gambar rencana.
• Pemadatan Tanah di Sekitar Cerucuk : Setelah cerucuk dipasang, tanah di sekitar
cerucuk dipadatkan untuk meningkatkan kekuatan struktur tanah dan menstabilkan posisi
cerucuk.
• Pemeriksaan Kedalaman dan Posisi : Setelah pemasangan selesai, dilakukan
pengukuran untuk memastikan cerucuk terpasang sesuai dengan kedalaman dan posisi
yang telah ditentukan.
• Pembersihan dan Penyelesaian Area Kerja : Area kerja dibersihkan setelah
pemasangan cerucuk selesai, dan lahan siap untuk pekerjaan selanjutnya.
4.3.4. Spesifikasi Material dan Peralatan
Bahan – Bahan Yang Digunakan :
• Kayu Galam ø 6-8 cm : Cerucuk dolken menggunakan kayu galam berdiameter 6-8
cm dengan panjang sesuai kebutuhan (umumnya 2-4 meter). Kayu harus dalam kondisi
kering, lurus, dan tidak cacat agar memiliki kekuatan yang baik.
Alat – Alat Yang Digunakan :
• Palu besar atau Alat Pemukul Manual/Mekanis : Digunakan untuk memasukkan
cerucuk dolken ke dalam tanah dengan cara dipukul hingga mencapai kedalaman yang
diinginkan.
• Meteran dan Waterpass : Digunakan untuk mengukur kedalaman dan posisi cerucuk
setelah pemasangan.
• Patok dan tali ukur : Untuk menandai titik-titik pemasangan cerucuk dolken sesuai
dengan gambar kerja.
• Alat keselamatan kerja : Helm, sarung tangan, sepatu boot, dan rompi keselamatan
untuk melindungi pekerja selama proses pemasangan.
4.3.5. Kriteria Kualitas Pekerjaan
Pekerjaan penetrasi cerucuk dolken dinyatakan selesai dan sesuai apabila memenuhi
kriteria berikut :
• Kedalaman dan Posisi Cerucuk Sesuai Rencana : Cerucuk dolken harus terpasang
dengan kedalaman sesuai spesifikasi teknis (biasanya 1-2 meter atau lebih tergantung
kondisi tanah) dan pada posisi yang tepat sesuai dengan gambar kerja.
• Cerucuk Terpasang Tegak Lurus : Kayu galam harus terpasang tegak lurus tanpa
ada kemiringan yang signifikan untuk menjaga kekuatan perkuatan tanah.
• Kestabilan dan Daya Dukung Tanah Meningkat : Setelah pemasangan cerucuk,
tanah di sekitar area harus memiliki stabilitas yang lebih baik, dan dapat menahan beban
struktur yang akan dibangun di atasnya.
• Tanah Sekitar Cerucuk Dipadatkan dengan Baik : Tanah di sekitar cerucuk harus
dipadatkan dengan baik untuk memastikan tidak ada rongga yang dapat mengurangi
kekuatan penahan beban.
• Keamanan dan Keselamatan Terjaga : Selama proses pemasangan cerucuk,
prosedur keselamatan kerja harus dijalankan untuk mencegah kecelakaan atau kerusakan
di area kerja.
4.3.6. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
• Semua pekerja harus menggunakan alat pelindung diri (APD) selama bekerja.
• Pekerjaan dilakukan sesuai dengan prosedur keselamatan kerja untuk mencegah
kecelakaan.
• Lokasi pekerjaan harus dilengkapi dengan tanda peringatan dan pengamanan untuk
melindungi pekerja dan masyarakat sekitar.
4.3.7. Pelaporan dan Dokumentasi
• Laporan harian mengenai kemajuan pekerjaan harus disusun dan diserahkan
kepada pengawas proyek.
• Dokumentasi foto sebelum, selama, dan setelah pekerjaan harus dibuat untuk
evaluasi hasil kerja.
4.4. Penulangan Saluran BjTP
4.4.1. Pendahuluan
Pekerjaan penulangan saluran menggunakan baja tulangan polos (BjTP) merupakan salah
satu komponen penting dalam konstruksi saluran air atau drainase. Penulangan ini berfungsi
untuk memperkuat struktur beton saluran sehingga mampu menahan beban yang diterima,
baik dari aliran air maupun beban eksternal seperti lalu lintas di atasnya. Baja tulangan
dipilih berdasarkan perhitungan teknis yang sesuai dengan kapasitas beban yang akan
ditanggung oleh struktur.
Tujuan dari pekerjaan ini adalah memastikan bahwa saluran beton memiliki kekuatan yang
cukup untuk menahan tekanan, beban, serta memperpanjang umur pemakaian saluran.
4.4.2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Ruang lingkup pekerjaan penulangan saluran BjTP meliputi:
• Penyediaan dan pengangkutan baja tulangan polos ke lokasi proyek.
• Pemotongan dan pembengkokan baja tulangan sesuai dengan gambar kerja dan
spesifikasi teknis.
• Pemasangan tulangan sesuai dengan diameter, jarak, dan konfigurasi yang
ditentukan dalam gambar perencanaan struktur saluran.
• Pengikatan tulangan menggunakan kawat baja pada titik sambungan untuk
memastikan stabilitas posisi tulangan.
• Pemeriksaan dan pengendalian kualitas pemasangan tulangan sebelum pengecoran
dilakukan.
4.4.3. Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan pekerjaan penulangan saluran BjTP meliputi:
• Penyiapan Material Baja Tulangan : Baja tulangan polos dipotong sesuai dengan
ukuran yang ditentukan dalam gambar kerja menggunakan alat potong khusus baja. Selain
itu, dilakukan pembengkokan baja pada beberapa bagian jika diperlukan untuk memenuhi
desain struktur.
• Pemasangan Tulangan : Baja tulangan dipasang sesuai dengan jarak dan pola yang
ditentukan dalam gambar perencanaan (misalnya jarak antar tulangan longitudinal dan
transversal). Tulangan ditempatkan di dalam cetakan (bekisting) yang sudah dipersiapkan
untuk memastikan posisi yang tepat sebelum pengecoran.
• Pengikatan Tulangan : Setiap pertemuan tulangan diikat dengan menggunakan
kawat baja (wire tie) agar tulangan tetap stabil dan tidak bergeser saat pengecoran beton
dilakukan. Pastikan setiap ikatan cukup kuat dan terdistribusi secara merata.
• Pemasangan Spacer dan Penjaga Jarak : Spacer atau penahan dipasang untuk
menjaga jarak antara tulangan dengan permukaan bekisting agar ketebalan selimut beton
dapat dipertahankan sesuai standar.
• Pemeriksaan dan Pengendalian Kualitas : Sebelum pengecoran dilakukan, dilakukan
pemeriksaan ulang terhadap pemasangan tulangan, termasuk jarak antar tulangan,
kekuatan ikatan kawat, dan posisi tulangan dalam bekisting. Semua harus sesuai dengan
spesifikasi yang ditentukan.
4.4.4. Spesifikasi Material dan Peralatan
Bahan – Bahan Yang Digunakan :
• Baja Tulangan Polos (BjTP): Baja tulangan polos harus memenuhi standar kualitas
dan kekuatan yang ditetapkan dalam SNI. Baja harus bebas dari karat, minyak, dan kotoran
sebelum digunakan.
• Bendrat (Wire Tie) : Digunakan untuk mengikat persilangan tulangan agar tetap
stabil selama pengecoran.
Alat – Alat Yang Digunakan :
• Gunting Baja atau Bar Cutter : Digunakan untuk memotong baja tulangan sesuai
dengan panjang yang diinginkan.
• Bar Bender : Digunakan untuk membengkokkan baja tulangan sesuai dengan
kebutuhan desain.
• Tang Pengikat : Digunakan untuk mengikat kawat baja pada titik-titik persilangan
tulangan.
• Spacer atau Penahan : Digunakan untuk menjaga jarak antara tulangan dengan
cetakan agar selimut beton sesuai spesifikasi.
• Pengukur Jarak (Meteran) : Untuk memastikan jarak antar tulangan dan posisi
pemasangan sesuai dengan spesifikasi yang ada dalam gambar kerja.
4.4.5. Kriteria Kualitas Pekerjaan
Pekerjaan penulangan saluran menggunakan BjTP dinyatakan berhasil dan sesuai apabila
memenuhi kriteria berikut:
• Konfigurasi Tulangan Sesuai Gambar Kerja : Tulangan harus terpasang sesuai
dengan diameter, pola, jarak, dan posisi yang ditentukan dalam gambar perencanaan.
Setiap tulangan harus berada pada posisi yang tepat agar dapat mendistribusikan beban
secara merata pada struktur beton.
• Pengikatan Kuat dan Stabil : Setiap persilangan tulangan harus terikat kuat dengan
kawat baja, dan tidak boleh ada tulangan yang bergeser selama pengecoran berlangsung.
• Kesesuaian Jarak Tulangan dan Ketebalan Selimut Beton : Jarak antar tulangan
harus sesuai dengan spesifikasi teknis, dan jarak antara tulangan dengan permukaan
bekisting harus sesuai dengan ketebalan selimut beton yang telah ditentukan.
• Baja Tulangan Bebas dari Cacat dan Karat : Baja tulangan yang digunakan harus
bersih dan bebas dari karat atau cacat lain yang dapat mengurangi kekuatan struktur.
• Pemeriksaan Akhir Sebelum Pengecoran : Sebelum pengecoran dilakukan, seluruh
pemasangan tulangan harus diperiksa ulang oleh pengawas untuk memastikan semua
pemasangan sudah sesuai dengan standar dan tidak ada kesalahan atau penyimpangan.
4.4.6. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
• Semua pekerja harus menggunakan alat pelindung diri (APD) selama bekerja.
• Pekerjaan dilakukan sesuai dengan prosedur keselamatan kerja untuk mencegah
kecelakaan.
• Lokasi pekerjaan harus dilengkapi dengan tanda peringatan dan pengamanan untuk
melindungi pekerja dan masyarakat sekitar.
4.4.7. Pelaporan dan Dokumentasi
• Laporan harian mengenai kemajuan pekerjaan harus disusun dan diserahkan
kepada pengawas proyek.
• Dokumentasi foto sebelum, selama, dan setelah pekerjaan harus dibuat untuk
evaluasi hasil kerja.
4.5. Bekisting, Pembongkaran, dan Pembersihan Puing-Puing
4.5.1. Pendahuluan
Bekisting adalah cetakan sementara yang digunakan untuk menahan dan membentuk beton
basah agar sesuai dengan desain konstruksi sebelum beton mengeras. Bekisting harus
dipasang dengan tepat dan kokoh untuk menjaga dimensi dan kualitas permukaan beton
yang diinginkan. Setelah beton mencapai kekuatan yang cukup, bekisting perlu dibongkar
secara hati-hati untuk mencegah kerusakan pada struktur beton. Pembersihan bekisting
dilakukan agar material tersebut dapat digunakan kembali untuk pekerjaan lain, sehingga
meminimalisir biaya dan efisiensi penggunaan material.
4.5.2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Ruang lingkup pekerjaan bekisting dan pembongkarannya meliputi:
• Penyediaan dan Pemasangan Bekisting : Bekisting dipasang sesuai dengan gambar
kerja untuk membentuk struktur beton yang diinginkan.
• Pemeriksaan dan Penguatan : Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan bahwa
bekisting terpasang dengan benar dan kuat. Penguatan tambahan akan dipasang jika
diperlukan.
• Pembongkaran Bekisting : Bekisting dibongkar setelah beton mencapai kekuatan
yang memadai. Proses pembongkaran dilakukan secara hati-hati untuk mencegah
kerusakan pada beton.
• Pembersihan Bekisting : Bekisting dibersihkan dari sisa-sisa beton agar dapat
digunakan kembali untuk pekerjaan lain.
• Pengangkutan Bekisting : Material bekisting yang sudah dibersihkan dikumpulkan
dan disimpan di tempat yang aman untuk keperluan selanjutnya.
4.5.3. Metode Pelaksanaan
• •Persiapan Material Bekisting : Material bekisting disiapkan dan diperiksa sebelum
dipasang. Material yang digunakan bisa berupa kayu, baja, atau material khusus bekisting
lainnya yang sesuai dengan spesifikasi proyek.
• •Pemasangan Bekisting : Bekisting dipasang sesuai dengan desain konstruksi yang
sudah ditentukan pada gambar kerja. Penggunaan waterpass dan alat pengukur lainnya
diperlukan untuk memastikan bekisting terpasang dengan tepat sesuai dimensi yang
diinginkan. Setelah pemasangan, bekisting diperiksa kekuatannya untuk memastikan tidak
ada pergeseran selama pengecoran.
• •Pengecoran dan Penyanggaan : Setelah pengecoran, bekisting ditopang oleh
penyangga atau perancah agar tidak bergeser atau berubah bentuk akibat tekanan beton
basah.
• •Pembongkaran Bekisting : Bekisting dibongkar setelah beton mencapai kekuatan
yang cukup, sesuai dengan jadwal pembongkaran dalam spesifikasi teknis. Pembongkaran
dimulai dari bagian yang lebih mudah, seperti sisi-sisi bekisting, lalu dilanjutkan ke bagian
utama.
• •Pembersihan dan Pengangkutan Bekisting : Bekisting dibersihkan dari sisa-sisa
beton yang menempel dengan menggunakan alat pembersih seperti sikat kawat. Material
bekisting yang masih dalam kondisi baik dikumpulkan dan disimpan untuk digunakan
kembali.
4.5.4. Spesifikasi Material dan Peralatan
Bahan – Bahan Yang Digunakan :
• Bekisting (Kayu / Multipleks) : Material bekisting yang digunakan harus kuat dan
tahan terhadap tekanan beton, serta mampu menjaga bentuk struktur sesuai desain.
• Minyak Pemisah (Release Agent) : Digunakan untuk melapisi bekisting agar beton
tidak menempel dan memudahkan pembongkaran.
• Paku (Penyambung) : Untuk merangkai bekisting agar menjadi satu-kesatuan.
Alat – Alat Yang Digunakan :
• Alat Ukur (Waterpass, Meteran): Untuk memastikan bekisting terpasang dengan
presisi.
• Palu dan Pahat: Untuk membongkar bekisting.
4.5.5. Kriteria Kualitas Pekerjaan
Pekerjaan bekisting dan pembongkaran dianggap berhasil apabila memenuhi kriteria
berikut:
• Pemasangan Bekisting yang Presisi : Bekisting harus dipasang dengan akurasi tinggi
sesuai dengan gambar kerja dan tidak mengalami deformasi selama pengecoran.
• Bekisting Kuat dan Stabil : Bekisting harus mampu menahan tekanan beton segar
tanpa ada pergeseran atau deformasi yang dapat mempengaruhi bentuk akhir beton.
• Pembongkaran Dilakukan dengan Aman : Proses pembongkaran tidak
menyebabkan kerusakan pada beton yang sudah mengeras dan permukaan beton tetap
mulus serta sesuai dengan spesifikasi.
• Pembersihan Bekisting : Puing-Puing Material bekisting setelah dibongkar harus
dibersihkan dengan baik agar tidak mengotori area sekitarnya yang berada di persawahan
warga dan tidak membahayakan warga sekitar.
• Keselamatan Kerja Terjamin : Selama pemasangan dan pembongkaran bekisting,
keselamatan kerja harus diprioritaskan sesuai dengan standar keselamatan yang berlaku.
4.5.6. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
• Semua pekerja harus menggunakan alat pelindung diri (APD) selama bekerja.
• Pekerjaan dilakukan sesuai dengan prosedur keselamatan kerja untuk mencegah
kecelakaan.
• Lokasi pekerjaan harus dilengkapi dengan tanda peringatan dan pengamanan untuk
melindungi pekerja dan masyarakat sekitar.
4.5.7. Pelaporan dan Dokumentasi
• Laporan harian mengenai kemajuan pekerjaan harus disusun dan diserahkan
kepada pengawas proyek.
• Dokumentasi foto sebelum, selama, dan setelah pekerjaan harus dibuat untuk
evaluasi hasil kerja.
4.6. Membuat Pengecoran 1 m3 Beton
4.6.1. Pendahuluan
Pengecoran beton pada saluran irigasi merupakan pekerjaan penting untuk membentuk
saluran yang kuat dan tahan lama, sehingga dapat mengalirkan air secara efektif dan
efisien. Penggunaan beton sebagai material utama pada saluran irigasi memberikan
kekuatan struktural yang dapat menahan tekanan air serta kondisi lingkungan sekitar.
Pengecoran dilakukan dengan concrete mixer (molen) untuk mengaduk beton dan gerobak
sorong untuk mengangkut beton segar ke lokasi pengecoran. Proses ini memerlukan
metode yang tepat untuk memastikan beton yang dicor memiliki kualitas yang baik serta
memenuhi standar teknis yang telah ditentukan.
4.6.2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Ruang lingkup pekerjaan pengecoran 1 m³ beton saluran irigasi meliputi:
• Persiapan lokasi dan pembersihan saluran yang akan dicor.
• Pengadaan material beton dengan mutu yang ditentukan (Lantai Kerja K-125 dan
Struktur Saluran K-250).
• Pengadukan beton menggunakan concrete mixer (molen).
• Pengangkutan beton segar menggunakan gerobak sorong ke lokasi pengecoran.
• Pengecoran beton pada dasar dan dinding saluran sesuai desain.
• Pemadatan beton menggunakan rojokan untuk menghindari rongga udara.
• Finishing permukaan beton agar rata dan sesuai dengan spesifikasi.
• Perawatan (curing) beton setelah pengecoran untuk menjaga kualitasnya.
4.6.3. Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan pengecoran 1 m³ beton pada saluran irigasi meliputi langkah-langkah
berikut :
• Persiapan Lokasi : Saluran yang akan dicor harus dibersihkan dari kotoran, lumpur,
atau material yang mengganggu. Jika terdapat air mengalir, aliran harus dialihkan
sementara agar lokasi pengecoran tetap kering.
• Pengadukan Beton : Beton dengan mutu yang telah ditentukan (Lantai Kerja K-125
dan Struktur Saluran K-250) diaduk menggunakan concrete mixer (molen). Proporsi material
seperti semen, pasir, kerikil, dan air harus sesuai dengan job mix design yang telah dibuat.
Campuran beton diaduk hingga homogen dalam waktu 5 menit sebelum diangkut ke lokasi
pengecoran.
• Pengangkutan Beton : Beton yang telah diaduk dipindahkan ke dalam gerobak
sorong untuk diangkut menuju titik pengecoran pada saluran irigasi. Pengangkutan harus
dilakukan segera setelah pengadukan selesai untuk menghindari pengeringan dini.
• Pengecoran Beton : Beton dituangkan secara bertahap ke dalam bekisting yang
telah dipasang pada dasar dan dinding saluran. Pengecoran dilakukan secara merata untuk
mencegah pembentukan lapisan-lapisan (cold joint). Beton dituangkan dengan hati-hati
untuk menjaga ketebalan lapisan sesuai spesifikasi.
• Pemadatan Beton : Setelah beton dituangkan, dilakukan pemadatan dengan
menggunakan concrete vibrator untuk mengeluarkan udara yang terperangkap di dalam
beton, menghindari rongga-rongga yang dapat mengurangi kekuatan beton.
• Finishing dan Perataan : Permukaan beton diratakan menggunakan trowel atau alat
perata lainnya. Pastikan permukaan beton halus dan sesuai dengan kemiringan serta
dimensi yang telah ditentukan untuk memastikan kelancaran aliran air.
• Curing Beton : Setelah proses pengecoran selesai, dilakukan curing atau perawatan
beton untuk menjaga kelembaban. Curing bisa dilakukan dengan menutup beton
menggunakan karung basah, plastik, atau menyemprotkan air secara berkala selama
minimal 7 hari.
4.6.4. Spesifikasi Material dan Peralatan
Bahan – Bahan Yang Digunakan :
• Beton Mutu (Lantai Kerja K-125 dan Struktur Saluran K-250) : Campuran beton
terdiri dari semen, agregat kasar (kerikil), agregat halus (pasir), air, dan aditif (jika
diperlukan) sesuai dengan proporsi yang ditentukan dalam job mix design yang dibuat oleh
kontraktor dari instansi terpercaya berdasarkan material yang digunakan.
• Air Bersih : Air yang digunakan harus bersih, bebas dari kotoran, lumpur, atau zat
kimia yang dapat mempengaruhi kualitas beton.
• Bahan Pemisah (Release Agent) : Digunakan untuk melapisi permukaan bekisting
agar beton tidak menempel, sehingga memudahkan proses pembongkaran bekisting setelah
beton mengeras.
Alat – Alat Yang Digunakan :
• Concrete Mixer (Molen) : Alat ini digunakan untuk mengaduk material beton agar
campurannya homogen sebelum pengecoran.
• Gerobak Sorong : Alat ini digunakan untuk mengangkut beton segar dari tempat
pengadukan (molen) ke lokasi pengecoran.
• Rojokan : Digunakan untuk memadatkan beton saat pengecoran, sehingga tidak ada
rongga udara di dalam beton.
• Trowel (Alat Perata) : Digunakan untuk meratakan permukaan beton yang dicor agar
permukaan saluran halus dan sesuai dengan spesifikasi teknis.
• Alat Ukur (Waterpass, Meteran) : Digunakan untuk memastikan dimensi dan
kemiringan saluran sesuai dengan rencana desain.
4.6.5. Kriteria Kualitas Pekerjaan
Pekerjaan pengecoran 1 m³ beton saluran irigasi dianggap berhasil apabila memenuhi
kriteria berikut:
• Kualitas Beton Sesuai Spesifikasi : Beton yang dicor harus memenuhi kekuatan dan
mutu sesuai spesifikasi yang ditentukan (Lantai Kerja K-125 dan Struktur Saluran K-250).
• Permukaan Beton Rata dan Halus : Hasil finishing pengecoran harus rapi dan
permukaan beton harus halus serta rata sesuai dengan desain dan kemiringan yang
ditentukan untuk memastikan kelancaran aliran air.
• Pemadatan Beton yang Optimal : Beton yang telah dicor harus dipadatkan dengan
baik menggunakan vibrator, sehingga tidak ada rongga udara yang terperangkap di dalam
beton.
• Curing Dilakukan dengan Benar : Proses curing harus dilakukan untuk menjaga
kelembaban beton selama masa pengerasan, sehingga menghindari keretakan dan
memastikan beton mencapai kekuatan maksimalnya.
• Dimensi dan Kemiringan Saluran Sesuai Gambar Kerja : Beton yang dicor harus
membentuk saluran dengan dimensi dan kemiringan sesuai dengan gambar kerja, untuk
memastikan fungsi irigasi berjalan optimal.
• Kekuatan Beton Sesuai Uji Laboratorium : Setelah periode curing, kekuatan beton
harus diuji sesuai standar pengujian laboratorium, untuk memastikan kekuatan struktur
saluran.
4.6.6. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
• Semua pekerja harus menggunakan alat pelindung diri (APD) selama bekerja.
• Pekerjaan dilakukan sesuai dengan prosedur keselamatan kerja untuk mencegah
kecelakaan.
• Lokasi pekerjaan harus dilengkapi dengan tanda peringatan dan pengamanan untuk
melindungi pekerja dan masyarakat sekitar.
4.6.7. Pelaporan dan Dokumentasi
• Laporan harian mengenai kemajuan pekerjaan harus disusun dan diserahkan
kepada pengawas proyek.
• Dokumentasi foto sebelum, selama, dan setelah pekerjaan harus dibuat untuk
evaluasi hasil kerja.
4.6. Pekerjaan Penetrasi Ulin 10/10/200 + Kalang Sunduk
4.6.1. Pendahuluan
Pekerjaan Penetrasi Ulin 10/10/200 + Kalang Sunduk – Kualitas Nomor 1 (Satu) merupakan
bagian dari pekerjaan struktur yang bertujuan untuk memberikan kestabilan pada konstruksi
dengan menggunakan kayu ulin sebagai elemen utama. Kayu ulin dikenal sebagai material
yang memiliki ketahanan tinggi terhadap kondisi lingkungan, sehingga sangat cocok
digunakan untuk konstruksi yang memerlukan kekuatan dan daya tahan yang lama.
Pekerjaan ini harus dilakukan sesuai dengan standar teknis yang telah ditetapkan agar
hasilnya optimal dan memenuhi spesifikasi perencanaan. Oleh karena itu, metode
pelaksanaan, spesifikasi material, serta peralatan yang digunakan harus mengikuti
ketentuan yang telah ditetapkan dalam dokumen ini.
4.6.2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Ruang lingkup pekerjaan ini mencakup beberapa tahapan utama, yaitu:
• Persiapan Pekerjaan dengan melakukan pengukuran dan marking lokasi
pemasangan serta menyediakan material dan peralatan kerja.
• Pemasangan Penetrasi Ulin 10/10/200 sesuai desain dan gambar kerja.
• Pemasangan Kalang Sunduk sebagai pengikat antar-kayu ulin.
• Finishing dan Pemeriksaan dengan Memastikan semua kayu terpasang dengan
kokoh sesuai dengan gambar kerja serta membersihkan area kerja dan melakukan serah
terima kepada pengawas proyek.
4.6.3. Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan Pekerjaan Penetrasi Ulin 10/10/200 + Kalang Sunduk pada saluran
gorong-gorong meliputi langkah-langkah berikut :
a) Persiapan
• Melakukan pengukuran dan marking untuk menentukan posisi pemasangan kayu
ulin.
• Menyediakan kayu ulin dengan dimensi yang sesuai spesifikasi dan memastikan
kualitasnya.
b) Pemasangan Penetrasi Ulin
• Menanam kayu ulin ke dalam tanah dengan kedalaman yang telah ditentukan dalam
gambar kerja.
• Menggunakan alat bantu untuk memastikan kayu tertanam dengan kokoh dan tegak
lurus.
• Memeriksa kembali posisi dan kekuatan kayu sebelum pemasangan elemen
berikutnya.
c) Pemasangan Kalang Sunduk
• Memasang kalang sunduk secara horizontal untuk menghubungkan kayu ulin yang
telah tertanam.
• Penyambungan antara sunduk dan pancang ulin menggunakan metode pelubangan
pada tengah tiang pancang ulin, bukan dipahat samping.
• Menggunakan paku atau baut galvanis untuk pengikatan yang kuat dan tahan lama.
• Memastikan pemasangan kalang sunduk sesuai dengan perencanaan.
d) Finishing dan Pemeriksaan Akhir
• Memeriksa kembali keseluruhan struktur untuk memastikan pemasangan sudah
sesuai standar.
• Melakukan penyempurnaan atau perbaikan jika ditemukan ketidaksesuaian.
• Membersihkan area kerja dan menyiapkan laporan pekerjaan untuk serah terima
kepada pengawas proyek.
4.6.4. Spesifikasi Material dan Peralatan
Bahan – Bahan Yang Digunakan :
• Balok Ulin Dimensi 10x10 Panjang 2 meter Kualitas Nomor 1 (Satu) Dengan
Toleransi Ukuran ± 1 cm
• Balok Ulin Dimensi 5x10 - Kualitas Nomor 1 (Satu)
• Papan Ulin Dimensi 2x18 - Kualitas Nomor 1 (Satu)
• Paku Sesuai Kebutuhan
Alat – Alat Yang Digunakan :
• Manual Hammer : Untuk menanam tiang ulin ke dalam tanah.
• Mesin Bor : Untuk melubangi kayu.
• Gergaji : Untuk memotong kayu sesuai ukuran yang dibutuhkan dalam gambar.
• Palu : Untuk memaku kayu apabila dibutuhkan.
• Benang Tukang dan Waterpass : Untuk marking titik pancang ulin.
4.6.5. Kriteria Kualitas Pekerjaan
Pekerjaan Penetrasi Ulin 10/10/200 + Kalang Sunduk dianggap berhasil apabila memenuhi
kriteria berikut :
• Setiap bahan ulin yang digunakan kualitas nomor 1 (satu) tanpa retak, bebas dari
cacat struktural, dan memiliki kepadatan tinggi.
• Bahan ulin yang terpasang bebas dari hama kayu, dan tidak lapuk.
4.6.6. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
• Semua pekerja harus menggunakan alat pelindung diri (APD) selama bekerja.
• Pekerjaan dilakukan sesuai dengan prosedur keselamatan kerja untuk mencegah
kecelakaan.
• Lokasi pekerjaan harus dilengkapi dengan tanda peringatan dan pengamanan untuk
melindungi pekerja dan masyarakat sekitar.
4.6.7. Pelaporan dan Dokumentasi
• Laporan harian mengenai kemajuan pekerjaan harus disusun dan diserahkan
kepada pengawas proyek.
• Dokumentasi foto sebelum, selama, dan setelah pekerjaan harus dibuat untuk
evaluasi hasil kerja.| Authority | |||
|---|---|---|---|
| 26 April 2025 | Pengaspalan Jalan Gang Di Kelurahan Handil Baru Kec. Samboja Dan Pengaspalan Di Beberapa Gang Kelurahan Sanipah (Gg. Bone, Gg. Tapeng, Gg. Sariwangi) Kelurahan Sanipah Kec. Samboja | Kab. Kutai Kartanegara | Rp 760,951,620 |
| 12 October 2024 | Peningkatan Jaringan Irigasi Permukaan RT 18 Dan RT 19 Poktan Panji Makmur Kel. Panji Kec. Tenggarong | Kab. Kutai Kartanegara | Rp 717,923,000 |
| 28 May 2024 | Pembangunan Dan Peningkatan Jalan Lingkungan Perumahan Dan Pemukiman Jl. Masjudin Kel. Jawa Kec. Sangasanga, Kab. Kutai Kartanegara | Kab. Kutai Kartanegara | Rp 598,511,888 |
| 4 April 2024 | Rehabilitasi Jaringan Irigasi Permukaan D.I. Trans Sp. IV Kecamatan Kota Bangun | Kab. Kutai Kartanegara | Rp 576,542,000 |
| 30 October 2023 | Peningkatan Jalan Pesut Gg. Pamenang Kel. Timbau Kec.Tenggarong | Kab. Kutai Kartanegara | Rp 534,095,869 |
| 1 July 2024 | Pembangunan Chek Dam Sp 1 Desa Jaya Sebulu | Kab. Kutai Kartanegara | Rp 336,688,000 |