| 0950921445722000 | Rp 1,760,570,859 | |
| 0661546473724000 | - | |
| 0020395323724000 | - | |
| 0964240204724000 | - | |
| 0022139661724000 | - | |
| 0019685726724000 | - | |
CV Dafa Rizky Anur | 0032073298728000 | - |
| 0906599485728000 | - | |
CV Bumi Rimba Nusantara | 05*5**9****28**0 | - |
CV Bukit Samboja Nusantara | 06*4**7****28**0 | - |
| 0926257130711000 | - | |
| 0901141309802000 | - | |
| 0536785314728000 | - |
pada kegiatan diatas dinyatakan Batal demi hukum.
RUANG LINGKUP & LOKASI PEKERJAAN
A. Ruang lingkup Kegiatan
Lingkup tugas yang harus dilaksanakan oleh Penyedia Jasa adalah berpedoman pada: Gambar Detail
Desain Konstruksi, Daftar Kuantitas (BOQ), Metode Pelaksanaan, Spesifikasi Teknis untuk pekerjaan
jalan yang dimaksud, Rencana Mutu Kontrak, serta dokumen-dokumen lainnya yang merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Surat Perjanjian Jasa Konstruksi (Kontrak).
Lingkup kegiatan tersebut antara lain meliputi:
1. SPESIFIKASI BAHAN BANGUNAN KONSTRUKSI:
. Mobilisasi dan demobilisasi/persiapan :
A. Persiapan Badan Jalan
Untuk menentukan penyiapan badan jalan maupun lebar badan jalan harus mendapatkan persetujuan dinas
terkait, dan peralatan yang digunakan:
1. Untuk pembersihan dan penyiapan badan jalan menggunakan alat Mini Excavator
2. Untuk proses penghamparan menggunakan Mini Excavator
3. Untuk proses pemadatan menggunakan Vibrator Roller.
Urutan Pelaksanaan Pekerjaannya :
1. Mini Excavator merapikan dan meratakan permukaan eksisting yang sudah rusak sebelum dipadatkan
dengan Vibrator Roller untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
2. Selama pemadatan, sekelompok pekerja akan merapikan tepi jalan dan level permukaan dengan
menggunakan Alat Bantu.
B. Lapis Pondasi Aggregat Klas A
Untuk menentukan penggunaan Lapis Pondasi Agregat Klas A harus mendapatkan persetujuan dinas terkait.
Peralatan yang digunakan:
1. Untuk material Lapis Pondasi Agregat Klas A diangkut sampai kelokasi
2. Untuk proses penghamparan menggunakan Excavator Mini
3. Untuk proses pemadatan menggunakan Vibrator Roller
Urutan Pelaksanaan Pekerjaannya :
1. Selama pemadatan, sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan level permukaan dengan
menggunakan Alat Bantu.
Ilustrasi Perkerasan Berbutir (Untuk Badan Jalan) Lapisan Bawah Pondasi Aggregat Klas A
Setelah pekerjaan penyiapan badan jalan selesai, pekerjaan lapis pondasi aggregat kelas A siap dilaksanakan.
Persiapan
Sebelum dimulai pekerjaan aggregat kelas A, permukaan yang akan digelar harus harus sudah siap baik
existing badan jalan maupun kepadatan tanah dasarnya dan telah mendapat persetujuan dari direksi.
Pengangkutan
Bahan aggregat bahan kelas A yang telah disetujui direksi ( sesuai hasil pengetesan laboratorium yang telah
ditunjuk ) dibawa kelapangan menggunakan dump truck dan ditimbun sesuai dengan lokasi dan jarak
tumpukan sesuai rencana dan kebutuhan lapangan. Penumpukan material diatur sedemikian rupa, tidak terlalu
banyak dan tidak terlalu sedikit dan dilaksanakan merata sehingga mempermudah dalam penghamparan nanti.
Penghamparan
Aggregat kelas A dihampar menggunakan Excavator Mini ditambah dengan menggunakan tenaga manusia
menggunakan alat bantu seperti pengki atau cangkul sesuai dengan ketebalan yang diisyaratkan dalam
spesifikasi sambil dijaga agar tidak terjadi pemisahan antara partikel – partikel aggregat halus dan kasar.
Pemadatan
Segera setelah penghamparan akhir terbentuk maka setiap lapisan harus dipadatkan memakai alat Vibrator
Roller. Pekerjaan pemadatan dimulai dari sepanjang tepi jalan dan dilanjutkan secara lambat menuju sumbu
jalan, dalam arah memenjang dan diusahakan terus berlangsung tanpa berhenti sampai seluruh permukaan
selesai digilas. Pada bagian – bagian yang diberi super elevasi, penggilasan dimulai dari bagian yang paling
rendah dan dilanjutkan kearah bagian sisi yang tinggi. Bila suatu tempat, karena sesuatu hal belum rata maka
segera ditambah material dengan cara ditebar saja dengan pengki sampai permukaan rata sesuai dengan
rencana.
Pengendalian Mutu
Pengendalian mutu terhadap bahan, sudah disebutkan didepan bahwa tiap material harus diperiksa dan
memenuhi persyaratan yang ditentukan menurut spesifikasi dan dilakukan per lapis field test untuk
mengetahui CBR yang dicapai setelah pemadatan, untuk itu perlu pengetesan mutu hamparan Aggregate klas
A mengunakan alat test pit & sand Cond.
C. Pekerjaan Pekerasan Beton Kurus Fc’ 10
Pekerjaan ini meliputi pembuatan Perkerasan Beton Semen (Perkerasan Kaku) dan Lapis Pondasi Bawah
yang dilaksanakan sesuai dengan dengan ketebalan dan bentuk penampang melintang seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
Pengajuan Kesiapan Kerja :
1. Penyedia Jasa harus mengirimkan contoh dari seluruh bahan yang hendak digunakan dengan data
pengujian yang memenuhi seluruh sifat bahan yang disyaratkan dalam pasal 7.1.2 dari spesifikasi.
2. Penyedia Jasa harus mengirimkan rancangan campuran (mix design) untuk masing-masing mutu beton
yang akan digunakan sebelum pekerjaan pengecoran dimulai, lengkap dengan hasil pengujian bahan dan
hasil pengujian percobaan campuran beton di laboratorium berdasarkan kuat tekan beton untuk umur 7
dan 28 hari, kecuali ditentukan untuk umur-umur yang lain oleh direksi pekerjaan. Kecuali ditentukan
lain rancangan campuran harus memiliki standar deviasi rencana (S) antara 2,5 MPa sampai 8,5 MPa.
Proporsi bahan dan berat penakaran hasil perhitungan harus memenuhi criteria teknis utama, kecelakaan
(workability), kekuatan (strength), dan keawetan (durability). Untuk jenis pekerjaan beton yang lain,
sifat-sifat mekanik beton selain kuat tekan juga penting untuk diketahui. Penyedia jasa wajib
menyerahkan data tersebut kepada Direksi Pekerjaan.
3. Campuran Percobaan, Sebelum dilakukan pengecoran, Penyedia Jasa harus membuat campuran
percobaan menggunakan proporsi campuran hasil rancangan campuran serta bahan yang diusulkan,
dengan disaksikan oleh Direksi Pekerjaan, yang menggunakan jenis instalasi dan peralatan yang sama
seperti yang akan digunakan untuk pekerjaan (serta sudah memperhitungkan waktu pengangkutan dll).
Dalam kondisi beton segar, adukan beton harus memenuhi syarat kelecakan (nilai slump) yang telah
ditentukan. Pengujian kuat tekan beton umur 7 hari dari hasil campuran percobaan harus mencapai
kekuatan minimum 90 % dari nilai kuat tekan beton rata-rata yang ditargetkan dalam rancangan
campuran beton (mix design) umur 7 hari. Bilamana hasil pengujian beton berumur 7 hari dari
campuran percobaan tidak menghasilkan kuat tekan beton yang diisyaratkan, maka Penyedia Jasa harus
melakukan penyesuaian campuran dan mencari penyebab ketidak sesuaian tersebut.
4. Penyedia jasa harus mengirim gambar detil untuk seluruh perancah yang akan digunakan, dan harus
memperoleh persetujuan dari direksi Pekerjaan sebelum setiap pekerjaan perancah dimulai.
5. Penyedia Jasa harus memberitahu Direksi Pekerjaan secara tertulis paling sedikit 24 jam, sebelum
tanggal rencana mulai melakukan pencampuran atau pengecoran setiap jenis beton, seperti yang
diisyaratkan.
Penyiapan Tempat Kerja
1. Penyedia Jasa harus membongkar struktur lama yang akan diganti dengan beton yang baru atau yang
harus dibongkar untuk dapat memungkinkan pelaksanaan pekerjaan beton yang baru. Pembongkaran
tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan syarat yang disyaratkan.
2. Penyedia Jasa harus menggali atau menimbun kembali pondasi atau formasi untuk pekerjaan beton
sesuai dengan garis yang ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan sesuai dengan ketentuan, dan agar membersihkan dan menggaru tempat di sekeliling
pekerjaan beton yang cukup luas sehingga dapat menjamin dicapainya seluruh sudut pekerjaan. Jalan
kerja yang stabil juga harus disediakan jika diperlukan untuk menjamin bahwa seluruh sudut pekerjaan
dapat diperiksa dengan mudah dan aman.
3. Sebelum pengecoran beton dimulai, seluruh acuan, tulangan dan benda lain yang harus dimasukkan ke
dalam beton harus sudah dipasang dan diikat kuat sehingga tidak bergeser pada saat pengecoran.
Acuan (Bekesting)
Persyaratan
Acuan (bekisting / form) yang digunakan harus cukup kuat untuk menahan beban-beban selama
pelaksanaan. Kekuatan acuan yang terbuat dari baja lurus, harus diuji, dan harus memenuhi persyaratan
bahwa acuan harus tidak melendut lebih besar dari 6,4 mm (1/4 inch) bila diuji sebagai balok biasa
dengan bentang 3 m (10 ft) dan beban yang sama dengan berat mesin penghampar atau peralatan
pelaksanaan lainnya yang mungkin akan bergerak di atasnya. Tebal baja yang biasanya digunakan
adalah 6,4 mm (1/4 inch) dan 8 mm (5/16 inch). Bila acuan harus mendukung alat penghampar beton
yang berat, ketebalannya tidak boleh kurang dari 8 mm (5/16 inch). Dianjurkan agar acuan mempunyai
tinggi yang sama dengan tebal rencana pelat beton dan lebar dasar acuan sama dengan 0,75 kali tebal
pelat beton tapi kurang dari 200 mm (8 inch). Acuan harus dipasang sedemikian rupa sehingga cukup
kokoh, tidak melentur atau turun akibat tumbukan dan getaran alat penghampar dan alat pemadat.
Lebar flens penguat yang dipasang pada dasar acuan harus menonjol keluar dari acuan tidak kurang dari
2/3 tinggi acuan. Dalam pemeriksaan kelurusan dan kerataan acuan variasi kerataan bidang atas acuan
tidak boleh lebih dari 0,32 cm (1/8 inch) untuk setiap 3 m (10 ft) panjang dan kerataan bidang dalam
acuan tidak boleh lebih dari 0,64 cm (1/4 inch) untuk setiap 3 m (10 ft) panjang. Ujung-ujung acuan
yang berdampingan harus mempunyai sistem penguncian untuk menyambung dan mengikat erat acuan-
acuan tersebut. Pada lengkungan dengan jari-jari kecil dianjurkan untuk menggunakan acuan yang dapat
dibengkokkan (flexible form) atau acuan melengkung. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang relatif kecil,
yang bersifat padat karya, maka acuan dari kayu dapat digunakan, untuk alat perata dapat menggunakan
vibrator perata biasa (besi profil yang dilengkapi mesin penggetar dan ditarik tenaga manusia). Kayu
untuk keperluan ini dibuat dari kayu yang cukup kuat dengan baja siku dipasang di atasnya, dengan
angkur pemegang setiap 0,5 meter.
Pemasangan Acuan
Pemasangan acuan baja maupun kayu pada prinsipnya harus mengikuti ketentuan-ketentuan di bawah
ini. Pondasi acuan harus dipadatkan dan dibentuk sesuai dengan alinyemen dan ketinggian jalan yang
bersangkutan sehingga acuan yang dipasang dapat disangga secara seragam pada seluruh panjangnya
dan terletak pada elevasi yang benar. Pembuatan galian untuk meletakkan acuan pada ketinggian yang
tepat, sebaiknva dilakukan, dengan cara mengupas / mengeruk. Bekas galian di kiri dan kanan pondasi
acuan, harus diisi dan dipadatkan kembali. Alinyemen acuan baru harus diperiksa dan bila perlu
diperbaiki memanjang penghamparan beton. Bila terdapat acuan yang rusak atau sesudah perbaikan
pondasi yang tidak stabil, acuan harus disetel kembali. Acuan harus dipasang cukup jauh di depan
tempat penghamparan beton sehingga memungkinkan pemeriksaan dan perbaikan acuan tanpa
mengganggu kelancaran penghamparan beton. Acuan dipasang pada posisi yang benar, dan tanah dasar
atau lapis pondasi bawah pada kedua sisi luar dan dalam harus dipadatkan dengan baik menggunakan
alat pemadat mesin atau manual. Acuan harus disangga pada tempatnya, paling sedikit setiap 3 m (10
ft).
Membentuk Tepian
Segera setelah beton dibentuk dan dipadatkan, tepi perkerasan beton di sepanjang acuan dan pada
sambungan harus diselesaikan dengan perkakas (edging tool) untuk membentuk pennukaan seperempat
lingkaran yang halus dengan radius tertentu, bilamana tidak ditentukan Iain pada Gambar, adalah 12
mm
Penyelesaian Permukaan
Setelah sambungan dan tepian selesai dikerjakan, dan sebelum bahan perawatan pada permukaan
perkerasan beton digunakan, permukaan beton harus dikasarkan dengan disikat tegak lumsdengan garis
sumbu (centreline) jalan
Pengkasaran ini dilakukan dengan menggunakan sikat kawat dengan lebar tidak kurang dari 450 mm.
Sikat tersebut harus terdiri dan dua baris kawat dengan panjang kawat 100 mm dan ukuran kawat per 32
gauge serta jarak kawat dari as ke as adalah 25 mm. Kedua baris kawat harus mempunyai susunan
berselang-seling (zig-zag) sehinggajarak kawat pada baris kedua dengan kawat pada baris pertama
adalah 12,5 mm. Masingmasing baris harus mempunyai 14 kawat dan hams diganti bila panjang kawat
terpendek telah mencapai 90 mm. Kedalaman tekstur rata-rata tidak boleh kurang dari 3 mm.
Survei Elevasi Permukaan
Dalam 24 jam setelah pengecoran, Pen) edia Jasa harus melakukan survei elevasi permukaan dari lapis
pennukaan dan tebal lapisan Elevasi setiap titik dari lapis pemukaan Lapis Fondasi Bawah Beton Kums
tidak boleh berbeda lebih dari 10 mm di bawah atau 10 mm di atas elevasi rancangan (-10, +10 mm)
dan untuk Perkerasan Beton Semen juga tidak boleh berbeda lebih dari 10 mm di bawah atau 10 mm di
atas elevasi rancangan (-10; + 10 mm).
Lapis Pondai Bawah Beton Kurus harus mempunyal lereng melintang sama dengan lereng melintang
rancangan dengan toleransi ± 0,3
Menguji Permukaan
Begitu beton mengeras, pennukaan Lapis Fondasi Bawah Beton Kurus atau Perkerasan Beton Semen
harus diuji dengan memakai mistar lurus (straight-edges) sepanjang 3,0 m. Lokasi yang menunjukan
ketinggian lebih dari 3 mm tapi tidak lebih dari 12,5 mm sepanjang 3,0 m, itu hatus ditandai dan segera
dielevasinya dengan gurinda yang telah disetujui, sampai elevasinya tidak melampaui 3 mm bilamana
diuji ulang dengan mistar lurus sepanjang 3.0 m. bilamana penyimpangan penampang melintang
terhadap yang semestinya malampaui 12,5 mm, perkerasan beton harus dibongkar dan diganti oleh
Penyedia Jasa atas biaya sendiri.Setiap lokasi atau ruas yang dibongkar tidak boleh kurang dari 3,0 m
panjangnya atau tidak boleh kurang dari lebar lajur yang terkena pembongkaran Bilamana diperlukan
dalam membongkar dan
mengganti suatu bagian perkerasan, setiap bagian yang tersisa dari pembongkaran perkerasan beton
dekat sambungan yang panjangnya kurang dari 3,0 m, harus ikut dibongkar dan diganti.
Perawatan (Curing)
Pennukaan Perkerasan Beton Semen yang terekspos harus segera dirawat dengan penyemprotan bahan
perawatan yang disetujui, sesual dengan Pasal 5.3.28) dari Spesiflkasi ini, disemprot segera setelah
pennukaan tersebut selesai dikasarkan dengan sikat sesuai dengan kondisi berikut ini
Bahan perawatan harus dalam bentuk lapisan yang menerus dan tak terputus, dan disemprotkan dengan
merata dalam 2 kali penyemprotan
Pertama-tama dalam waktu 15 menit setelah kondisi air permukaan tidak begitu mengkilap", dan Yang
kedua 10 sampai 30 menit setelah itu atau sebagaimana disarankan pabrik pembuatnya.
Pada pennukaan dengan acuan tetap, penyemprotan pertama hanlslah dalam 30 menit setelah
penggarukan dan yang kedua haruslah 15 sampai 45 menit sesudahnya.
Alat penyemprot yang dapat berjalan penuh merupakan prasyarat untuk penghamparan perkerasan.
Masing-masing penyemprotan harus dengan kadar yang sesuai dengan sertifikat pengujian untuk
perawatan yang efisien, harus memenuhi nilai minimum 0,20 Itr/m2 , kecuali bahwa:
Untuk lokasi yang disemprot selain dengan alat penyemprot mekanik, kadar penyemprotan harus lebih
tinggi 25% dari kadar yang disebutkan dalam sertifikat pengujian untuk perawatan yang efisien, harus
memenuhi nilai minimum 0,20 Itr/m2 Lokasi ini termasuk permukaan untuk sambungan dan luas-ruas
dengan tepiacuan bergerak yang ditunj ang oleh acuan sementara pada saat penyemprotan awal.
Setiap ruas yang penyemprotannya tidak memenuhi syarat harus disemprot ulang dalam waktu 6 (enam)
jam dengan kadar penyemprotan yang telah diuji tidak kurang dari kekurangan dua kali penyemprotan
semula, Lapisan perawatan harus dipertahankan utuh dalam bentuk selaput (membrane) yang menerus
dan tidak patah sampai kekuatan lapangan mencapai 70% kekuatan rancangan. Setiap kerusakan selaput
perawatan (curing membrane) harus diperbaiki dengan penyemprotan manual pada lokasi yang cacat.
Sebagai tambahan, apabila melakukan penghamparan pada segmen baru baik arah melintang atau arah
memanjang, maka pada perkerasan beton yang telah dicor sebelumnya dengan umur kurang dari 7 hari
harus dilakukan penyemprotan ulang minimum 2 m pada sisi yang bersebelahan baik melintang atau
memanjang dan dapat di perluas pada lokasi yang sering dilalui orang selama pengecoran pada
sambungan konstnlksi
Untuk perkerasan beton semenfast track, setelah permukaan beton cukup keras, bila diperlukan
pennukaan dapat ditutup dengan lembaran penutup insulasi dalam Tabel
5.3.5.1) di bawah ini.
Tabel 5.3.5. l) Penggunaan Penutup Insulasi
Waktu Pem bukaan Terhadap Lalu Lintas (jam)
Temperatur CC)
8 24
10 – 18
18- 27 Tidak
27 Tidak Tidak
Lapis Fondasi Bawah Beton Kurus yang saat selesai dikerjakan harus segera dirawat paling tidak
sampai 70% kekuatan yang disyaratkan tercapai. Perawatan permukaan harus dilaksanakan dengan
salah satu metoda berikut:
Penutupan dengan lembaran plastik yang kedap sampai lapis perkerasan berikutnya dihampar,
tertambat kokoh terhadap tiupan pada permukaan dan mempunyai sambungan tumpang tindih sekurang-
kurangnya 300 mm dan dipasang sedemikian hingga kadar air di bawahnya tidak menguap keluar.
Seluruh pemukaan disemprot dengan merata dengan bahan perawatan berpigmen putih. Pengabutan
yang berkesinambungan menutup seluruh permukaan dan mempertahankan kondisi kadar air yang
permanen selama seluruh durasi perioda perawatan. Perawatan dengan pembasahan yang sebentar-
sebentar tidak dapat diterima
Pembongkaran Acuan
Acuan harus tetap dipasang selama paling sedikit 8 jam setelah penghamparan beton. Setelah acuan
dibongkar, permukaan beton yang terbuka harus segera dirawat.
D. Pekerasan Beton Semen Fs’ 3,8 Mpa
Pekerjaan ini meliputi pembuatan Perkerasan Beton Semen (Perkerasan Kaku) yang dilaksanakan sesuai
dengan dengan ketebalan dan bentuk penampang melintang seperti yang ditunjukkan dalam Gambar atau
sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi
Ini
a. Ketentuan yang disyaratkan dałam Pasał 5.3.5.12) harus digunakan
b. Ketentuan yang disyaratkan dałam Pasał 5.3.9 harus digunakan.
c. Standar Rujukan
Ketentuan yang disyaratkan dałam Pasał 7.1 . I .6) dari Spesifikasi ini harus digunakan dengan tambahan
berikut: Standar Nasional Indonesia (SNI)
SNI 03-4814-1998 Spesifikasi bahan penutup sambungan beton tipe elastis tuang panas.
SN103-4815-1998 Spesifikasi pengisi siar mual siap pakai untuk perkerasan dan bangunan beton
SNI 03-6820-2002 Spesifikasi agregat halus untuk pekerjaan adukan dan plesteran dengan bahan dasar
semen
SNI 03-6827-2002 Metode pengujian waktu ikat awal semen portland dengan menggunakan alat vicat
untuk pekerjaan sipil
SNI 03-6969-2003 Metode pengujian untuk pengukuran panjang beton inti hasil pengeboran
AASHTO M33-99(2012) Preformed Expansion Joint Filler for Concrete (Bituminous Type).
AASHTO M80-13 Coarse Aggregate for Portland Cement Concrete.
AASHTO Ml 94M/M194-13 Chemical Admixtures for Concrete.
ASTM 609-11 Standard Specification for Liquid MembraneForming Compounds for Curing
Concrete.
ASTM -9 Standard Specification for Preformed Polychloroprene Elastomeric Joint Seals for
Concrete Pavements.
ASTMD4791-10 Standard Test Method for Flat Particles, Elongated Particles, or Flat and Elongated
Particles in Coarse Aggregate.
Pengajuan Kesiapan Kerja :
1. Penyedia Jasa harus mengirimkan rancangan campuran (mix design) untuk masing-masing mutu beton
yang akan digunakan sebelum pekerjaan pengecoran dimulai, lengkap dengan hasil pengujian bahan
dan hasil pengujian percobaan campuran beton di laboratorium berdasarkan kuat tekan beton untuk
umur 7 dan 28 hari, kecuali ditentukan untuk umur-umur yang lain oleh direksi pekerjaan. Kecuali
ditentukan lain rancangan campuran harus memiliki standar perkerasan beton semen harus sesuai
dengan ketentuan Seksi 7.1 dari Spesifikasi ini, kecuali jika disebutkan lain dalam Seksi ini
2. Agregat halus hams memenuhi SNI 03-6820-2002 dan Pasal 7.1.2.3) dari Spesifikasi selain yang
disebutkan di bawah ini. Agregat halus harus terdiri dari bahan yang bersih, keras, butiran yang tak
dilapisi apapun dengan mutu yang seragam, dan harus
a. Mempunyai ukuran yang lebih kecil dari ayakan ASTM No. 4 (4,75mm)
b. Sekurang-kurangnya terdiri dan 50% (terhadap berat) pasir alam.
c. Jika dua jenis agregat halus atau lebih dicampur, maka setiap sumber hams memenuhi ketentuan-
ketentuan dalam Seksi ini.
d. Setiap fraksi agregat halus buatan harus terdiri darl batu pecah yang memenuhi Pasal 5.3.2.3) dan
haruslah bahan yang non-plastis jika diuji sesuai SNI 1966: 2008.
Tabel 5.3.2. l) Sifat-sifat Agregat Halus
Sifat Metoda Pengujian Ketentuan
Berat Isi Lepas SNI 03-4804-1998 minimum 1.200 kg/m3
Peneraan oleh Air SNI 19692016 maksimum 5%
Agregat Kasar untuk Perkerasan Beton Semen
Agregat kasar harus memenuhi AASHTO M80-13 dan Pasal 7.1.2.3) dari Spesifikasi selain dari yang
disebutkan di bawah ini. Terak besi dari tanur tinggi (air cooled blast furnace slag) yang didinginkan dengan
udara dapat digunakan tetapi terak besi dari proses pemurnian baja (steel-plant slag) tidak dapat digunakan.
Tabel 5.3.2.2) Sifat — Sifat Agregat Kasar
Sifat-sifat Metoda Pengujian Ketentuan
Kehilangan akibat Abrasi Los Angeles SNI 2417:2008 tidak melampaui 40% untuk 500 putaran
Berat Isi Lepas SNI 03-4804-1998 minimum1200 kg/m3
Berat Jenis SNI 1970:2016 minimum 2,1
Penyerapan oleh Air SNI 1970:2016 air cooled blastfurnace slag: maks. 6%
lainnva: maks. 2,5%
Bentuk partikel pipih dan Ion on
ASTM 1)4791-10 maksimum 25%
denan rasio
Bidang Pecah, tertahan ayakan No .4
SNI 7619:2012 minimum 95/90 1 )
Catatan :