| 0210407326119000 | Rp 853,740,000 | |
CV Wulandari | 0210887825119000 | - |
| 0026262451122000 | - | |
| 0938183845113000 | - | |
CV Abrama Karya | 01*6**0****19**0 | - |
| 0869405357119000 | - | |
| 0763668522124000 | - | |
CV Rancang Cipta Jaya | 00*8**6****19**0 | - |
CV Basado Maszefalina | 07*2**5****28**9 | - |
| 0763876570121000 | - |
Metode Pekerjaan Jembatan
Lanjutan Bangunan Atas Jembatan Dusun PIR ADB Kec. Besitang
Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Langkat
Tahun Anggaran 2024
Daftar Isi
I. Uraian Pekerjaan
a. Divisi I (Umum)
i. Mobilisasi
ii. Manajemen dan Keselamatan Lalu lintas
iii. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
b. Divisi III (Pekerjaan Tanah dan Geosintek)
i. Galian
ii. Galian Struktur
iii. Timbunan Biasa
iv. Timbunan Pilihan
v. Timbunan kembali bahan berbutir
c. Divisi VI (Struktur)
i. Beton Struktur
ii. Baja Tulangan
iii. Sambungan Siar Muai
iv. Pasangan Batu
v. Landasan Elastomer
1. Divisi I (Umum)
Mobilisasi
Kegiatan mobilisasi mencakup pekerjaan, sebagai berikut :
- Pengangkutan peralatan konstruksi sesuai dengan daftar peralatan yang akan digunakan
untuk mengerjakan proyek.
-
Mobilisasi juga meliputi demobilisasi dari tempat kerja oleh kontraktor pada akhir kontrak,
kontraktor harus menyerahkan program mobilisasi kepada konsultan pengawas untuk
diperiksa dan kemudian diajukan ke pemimpin proyek untuk disetujui dan akan dinyatakan
(persetujuannya) sebelum tanggal permulaan berlakunya Kontrak.
A. Sewa Tanah
Sewa tanah pada masyarakat untuk pembuatan base camp, kantor kerja, barak karyawan,
gudang dan lain-lain.
B. Kantor Lapangan dan Fasilitas
1. Papan Proyek
Papan nama proyek digunakan sebagai identitas atau informasi mengenai proyek.
Papan nama dibuat dua buah dan ditempatkan pada awal dan akhir proyek,papan
nama terbuat dari plywood dan kayu kaso dengan pondasi adukan semen, pasir
dan split.
2. Dokumen Kontrak
Pembuatan Dokumen Kontrak yang merupakan gabungan dari beberapa Dokumen
Penetapan Pemenang, Dokumen Perusahaan, Surat Perjanjian Pemborongan dll.
Dijilid menjadi satu dan dirangkap sesuai dengan kebutuhan.
C. Mobilisasi Fasilitas Laboratorium
Ruang Laboratorium (sesuai Gambar)
D. Mobilisasi Personil
Personil Sesuai Struktur Organisasi
E. Manajemen dan Keselamatan lalu lintas
Penyedia jasa harus menyediakan tenaga Koordinator Manajemen dan Keselamatan Lalu
Lintas (KMKL) yang memadai.
KMKL harus secara aktif berparstisipasi dalam semua rapat regular maupun khusus dengan
direksi pekerja. KMKL harus siap dihubungi pada setiap saat (24 jam perhari, 7 hari per
minggu) melalui komunikasi bergerak untuk mengatasi kesulitan –kesulitan, keadaan
darurat dan hal-hal lain terkait lalu lintas dan manajemen keselamatan selama periode
pelaksanaan.
Tugas –tugas KMKL harus mencakup berikut ini:
1.
Memahami persyaratan kontrak tual, termasuk denah, spesifikasi, dan lingkungan
di mana pekerjaan sipil akan dilaksanakan.
2.
Menginspeksi rutin terhadap kondisi dan keefektifan dari pengaturan lalu lintas
yang di gunakan dalam kegiatan dan memastikan bahwa perlengkapan tersebut
berfungsi sebagai mana mestinya, bersih, dapat dilihat dan memenuhi
spesifikasi,denah serta peraturan-peraturan setempat.
3.
Meninjau dan mengantisipasi kebutuhan atas pengaturan lalu lintas yang sesuai,
memberi pendapat kepada direksi pekerjaan tentang hal-hal terkait, dan
memastikan bahwa RMKL telah diimplemntasikan untuk pergerakan lalu lintas yang
aman dan efisiensi.
4. Mengkoordinasikan pemeliharaan dari pengoperasian lalu lintas dengan direksi
pekerjaan.
5.
Melakukan rapat keselamatan lalu lintas dengan penyedia jasa sebelum
pelaksanaan dimulai, dan rapat berkala yang dianggap perlu atau sebagaimana
diperintahkan oleh direksi pekerja. Direksi pekerjaan harus diberitahu sebelumnya
untuk menghadiri rapat-rapat ini.
Penyedia jasa menyiapkan perlengkapan keselamatan jalan selama periode konstruksi sesui ketentuan.
Buat rencana kerja manajemen lalu lintas sesui schedule pekerjaan dan di koordinasikan dengan
seluruh personil yang terkait.
Kelompok kerja pengatur lalu lintas selama konstruksi menggunakan tenaga pengatur dan flagman
dengan 3 shiff.
Pengalihan arus lalu lintas harus ijin PPK dan pihak terkait.
Semua rambu lintas harus jelas dan terbaca oleh pengguna jalan.
F. Demobilisasi
Semua alat kerja yang digunakan pada akhir/finishing pelaksanaan pekerjaan segera
dilakukan demobilisasi kembali.Setelah semua Pelaksanaan pekerjaan selesai maka
kontraktor akan melakukan pembersihan akhir dimana barak kerja, kantor direksi dan lain-
lain akan di bongkar dan diangkut ke luar lokasi menurut petunjuk direksi. Pembersihan ini
dikerjakan pada semua lini yang terjadi akibat efek dari pelaksanaan pekerjaan. Pihak
pelaksana bersama-sama konsultan pengawas/Direksi, dan PPK melakukan serah terima
pekerjaan. Dalam jangka waktu masa pemeliharaan selama waktu yang telah ditentukan
segala sesuatu yang terjadi dari hasil pekerjaan tersebut menjadi tanggung jawab
pelaksana dan harus dilakukan perawatan.
2. Divisi III (Pekerjaan Tanah dan Geosintek)
a. Galian Biasa
Galian Biasa harus mencakup seluruh galian yang tidak diklasifikasi sebagai galian batu
lunak, galian batu, galian struktur, galian sumber bahan (borrow excavation), galian
perkerasan beraspal, galian perkerasan berbutir, dan galian perkerasan beton, serta
pembuangan bahan galian biasa yang tidak terpakai seperti yang ditunjukkan dalam
Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Pengawas Pekerjaan.
Alat :
• Excavator
• Dump Truck
• Alat Bantu
Urutan Kerja :
• Tanah yang dipotong umumnya berada disisi jalan
• Penggalian dilakukan dengan menggunakan Excavator
• Menurunkan dari tronton menggunakan Crane dengan biaya atas galian
kedalam Dump Truk
• Dump Truck membuang material hasil galian keluar lokasi jalan
b. Galian Struktur
Galian Struktur terbatas untuk galian lantai beton fondasi jembatan, tembok penahan
tanah beton, dan struktur beton pemikul beban lainnya selain yang disebut dalam
Spesifikasi ini. Pekerjaan galian struktur juga meliputi: penimbunan kembali dengan
bahan yang disetujui oleh Pengawas Pekerjaan; pembuangan bahan galian yang tidak
terpakai; semua keperluan drainase, pemompaan, penimbaan, penurapan, penyokong;
pembuatan tempat kerja atau cofferdam beserta pembongkarannya.
Galian untuk pipa, gorong-gorong atau drainase beton dan galian untuk fondasi
jembatan atau struktur lain, harus cukup ukurannya sehingga memungkinkan
penempatan struktur atau telapak struktur dengan lebar dan panjang sebagaimana
mestinya dan pemasangan bahan dengan benar, pengawasan dan pemadatan
penimbunan kembali di bawah dan di sekeliling pekerjaan.
Alat :
• Excavator
• Dump Truck
• Alat Bantu
Urutan Kerja :
• Tanah yang dipotong umumnya berada disisi jalan
• Penggalian dilakukan dengan menggunakan Excavator
• Menurunkan dari tronton menggunakan Crane dengan biaya atas galian
kedalam Dump Truk
• Dump Truck membuang material hasil galian keluar lokasi jalan
c. Timbunan Biasa
Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan biasa harus terdiri dari bahan galian
tanah atau bahan galian batu yang disetujui oleh Pengawas Pekerjaan sebagai bahan
yang memenuhi syarat untuk digunakan dalam pekerjaan permanen
Bahan untuk timbunan biasa tidak boleh dari bahan galian tanah yang mempunyai sifat-
sifat sebagai berikut:
Tanah yang mengadung organik seperti jenis tanah OL, OH dan Pt dalam sistem USCS
serta tanah yang mengandung daun - daunan, rumput- rumputan, akar, dan sampah.
i. Tanah dengan kadar air alamiah sangat tinggi yang tidak praktis dikeringkan
untuk memenuhi toleransi kadar air pada pemadatan (melampaui Kadar Air
Optimum + 1%).
ii. Tanah ekspansif yang mempunyai sifat kembang susut tinggi dan sangat tinggi
dalam klasifikasi Van Der Merwe (Lampiran 3.2.A) dengan ciri-ciri adanya retak
memanjang sejajar tepi perkerasan jalan.
Bahan :
• Bahan timbunan
Alat :
• Excavator
• Dump Truk
• Tandem Roller
• Alat Bantu
Urutan Kerja :
• Excavator menggali dan memuat ke dalam dump truk
• Dump Truck mengangkut ke lapangan dengan jarak dari sumber galian ke
lapangan
• Material diratakan dengan menggunakan Motor Grader
• Material dipadatkan menggunakan Tandem Roller
• Selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan
level permukaan dengan menggunakan alat bantu
d. Timbunan Pilihan
Timbunan Pilihan harus digunakan untuk meningkatkan kapasitas daya dukung tanah
dasar pada lapisan penopang (capping layer) dan jika diperlukan di daerah galian.
Timbunan pilihan dapat juga digunakan untuk stabilisasi lereng atau pekerjaan pelebaran
timbunan jika diperlukan lereng yang lebih curam karena keterbatasan ruangan, dan
untuk pekerjaan timbunan lainnya di mana kekuatan timbunan adalah faktor yang kritis
Timbunan Pilihan harus digunakan sebagai lapisan penopang (capping layer) pada tanah
lunak yang mempunyai CBR lapangan kurang 2,5% yang tidak dapat ditingkatkan dengan
pemadatan atau stabilisasi
Timbunan Pilihan Berbutir harus digunakan di atas tanah rawa, daerah berair dan lokasi-
lokasi serupa di mana bahan Timbunan Pilihan dan Biasa tidak dapat dipadatkan dengan
memuaskan.
Bahan :
• Bahan pilihan
Alat :
• Excavator
• Dump Truck
• Tandem Roller
• Alat Bantu
Urutan Kerja :
• Excavator menggali dan memuat ke dalam dump truk
• Dump Truck mengangkut ke lapangan dengan jarak dari sumber galian ke
lapangan
• Material diratakan dengan menggunakan Motor Grader
• Material dipadatkan menggunakan Tandem Roller
• Selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan
level permukaan dengan menggunakan alat bantu
e. Timbunan kembali bahan berbutir
Penimbunan Kembali Berbutir (Granular Backfill) harus digunakan untuk penimbunan
kembali di daerah pengaruh dari struktur seperti abutmen dan dinding penahan tanah
serta daerah kritis lainnya yang memiliki jangkauan terbatas untuk pemadatan dengan
alat sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar.
Bahan timbunan berbutir daerah oprit harus terdiri dari kerikil pecah, batu, timbunan
batu atau pasir alam atau campuran yang baik dari kombinasi bahan-bahan ini dengan
bergradasi bukan menerus dan mempunyai Indeks Plastisitas maksimum 10%. Gradasi
timbunan berbutir daerah oprit haruslah sebagaimana yang ditunjukkan Tabel 3.2.2.1)
berikut :
Tabel 3.2.2.1) Gradasi Penimbunan Kembali Berbutir
Ukuran Ayakan Persen Berat Yang Lolos
ASTM (mm)
4” 100 100
No.4 4,75 25 - 90
No.200 0,075 0 - 10
Bahan :
• Bahan timbunan kembali
Alat :
• Excavator
• Dump Truck
• Tandem Roller
• Alat Bantu
Urutan Kerja :
• Excavator menggali dan memuat ke dalam dump truk
• Dump Truck mengangkut ke lapangan dengan jarak dari sumber galian ke
lapangan
• Hamparan material disiram air dengan watertank truck
• Selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan
level permukaan dengan menggunakan alat bantu
3. Divisi VI (Struktur)
a. Beton Struktur
Beton adalah campuran antara semen portland atau semen hidraulik yang setara,
agregat halus, agregat kasar, dan air dengan atau tanpa bahan tambah membentuk
massa padat
Mutu Beton dan Penggunaan
Jenis fc’ Uraian
Beton (MPa)
Mutu fc’ > 45 Umumnya digunakan untuk
tinggi beton pratekan seperti tiang
pancang beton pratekan,
gelagar beton pratekan,
pelat beton pratekan,
diafragma pratekan, dan
sejenisnya.
Mutu 20 < fc’ < 45 Umumnya digunakan untuk
sedang beton bertulang seperti
pelat lantai jembatan,
gelagar beton bertulang,
diafragma non pratekan,
kereb beton pracetak,
gorong-gorong beton
bertulang, bangunan bawah
jembatan, perkerasan beton
semen.
Mutu 15 < fc’ < 20 Umumya digunakan untuk
rendah struktur beton tanpa
tulangan seperti beton
siklop, dan trotoar
fc’ < 15 Digunakan sebagai lantai kerja, penimbunan
kembali dengan beton.
i. Semen
a) Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton harus jenis semen
Portland tipe I, II, III, IV, dan V yang memenuhi SNI 2049:2015
tentang Semen Portland atau PPC (Portland Pozzolan Cement) yang
memenuhi ketentuan SNI 0302:2014 dapat digunakan apabila
diizinkan tertulis oleh Pengawas Pekerjaan.
b) Di dalam satu kegiatan harus menggunakan satu tipe dan satu
merek semen, kecuali jika diizinkan oleh Pengawas Pekerjaan.
Apabila hal tersebut diizinkan, maka Penyedia Jasa harus
mengajukan kembali rancangan campuran beton sesuai dengan tipe
dan merek semen yang digunakan.
ii. Air
Air yang digunakan untuk campuran beton, harus bersih, dan bebas dari
bahan yang merugikan seperti minyak, garam, asam, basa, gula atau
organik. Air harus diuji sesuai dengan; dan harus memenuhi ketentuan
dalam SNI 7974:2016. Apabila timbul keragu- raguan atas mutu air yang
diusulkan dan karena sesuatu sebab pengujian air seperti di atas tidak dapat
dilakukan, maka harus diadakan perbandingan pengujian kuat tekan mortar
semen dan pasir standar dengan memakai air yang diusulkan dan dengan
memakai air murni hasil sulingan. Air yang diusulkan dapat digunakan
apabila kuat tekan mortar dengan air tersebut pada umur 7 (tujuh) hari dan
28 (dua puluh delapan) hari mempunyai kuat tekan minimum 90% dari kuat
tekan mortar dengan air suling untuk periode umur yang sama. Air yang
diketahui dapat diminum dapat digunakan.
iii. Agregat
a) Ketentuan Gradasi Agregat
a. Gradasi agregat kasar dan halus harus memenuhi ketentuan
yang diberikan dalam Tabel 7.1.2.1), tetapi atas persetujuan
Pengawas Pekerjaan, bahan yang tidak memenuhi
ketentuan gradasi tersebut masih dapat digunakan apabila
memenuhi sifat-sifat campuran yang disyaratkan dalam
Pasal 7.1.1.7) dan 7.1.3.1) yang dibuktikan oleh hasil
campuran percobaan.
Tabel 7.1.2.1) Ketentuan Gradasi Agregat
Ukuran Saringan Persen Berat Yang Lolos Untuk Agregat
ASTM (mm) Halus*) Kasar
Ukuran nominal Ukuran nominal Ukuran nominal Ukuran nominal Ukuran nominal
maksimum 37,5 mm maksimum 25 mm maksimum 19 mm maksimum 12,5 mm maksimum 9,5 mm
2” 50,8 - 100 - - - -
1/” 38,1 - 90 -100 100 - - -
1” 25,4 - - 95 -100 100 -
%” 19 - 35 - 70 - 90 - 100 100
/” 12,7 - - 25 - 60 - 90 - 100
%” 9,5 100 10 - 30 - 30 - 65 40 - 75 90 - 100
No.4 4,75 95 - 100 0 - 5 0 - 10 5 - 25 5 - 25 20 - 55
No.8 2,36 80 - 100 - 0 - 5 0 - 10 0 - 10 5 - 30
No.16 1,18 50 - 85 - - 0 - 5 0 - 5 0 - 10
No.50 0,300 10 - 30 - - - - 0 - 5
No.100 0,150 2 - 10 - - - - -
b. Agregat kasar harus dipilih sedemikian rupa sehingga ukuran
agregat terbesar tidak lebih dari % jarak bersih minimum
antara baja tulangan atau antara baja tulangan dengan
acuan, atau celah-celah lainnya di mana beton harus dicor.
b) Sifat-sifat Agregat
a. Agregat yang digunakan harus bersih, keras, kuat yang
diperoleh dari pemecahan batu atau koral, atau dari
penyaringan dan pencucian (jika perlu) kerikil dan pasir
sungai
Tabel 7.1.2.2) Ketentuan Mutu Agregat
Bahan :
• Semen Portland
• Pasir Beton
• Agregat Kasar
• Kayu Perancah/bekisting
• Paku
• Air
• plasticizer
Alat :
• CMP
• Truk Mixer Agitator
• Concrete Vibrator
• Water Tank Truck
Urutan Kerja :
• Semen, pasir, batu kerikil dan air dicampur dan diaduk menjadi beton
dengan menggunakan Concrete Mixing Plant
• Beton di-cor ke dalam bekisting yang telah disiapkan
• Penyelesaian dan perapihan setelah pemasangan
b. Baja Tulangan
Baja tulangan harus baja polos atau sirip dengan mutu yang sesuai dengan Gambar
dan memenuhi Tabel 7.3.2.1) berikut ini :
i. Pembengkokan
a) Terkecuali ditentukan lain oleh Pengawas Pekerjaan, seluruh baja
tulangan harus dibengkokkan secara dingin dan sesuai dengan
prosedur SNI 03-6816-2002, menggunakan batang yang pada
awalnya lurus dan bebas dari lekukan-lekukan, bengkokan-
bengkokan atau kerusakan. Bila pembengkokan secara panas di
lapangan disetujui oleh Pengawas Pekerjaan, tindakan pengamanan
harus diambil untuk menjamin bahwa sifat-sifat fisik baja tidak
terlalu berubah banyak.
b) Batang tulangan dengan diameter 2 cm dan yang lebih besar hams
dibengkok-kan dengan mesin pembengkok.
ii. Penempatan dan Pengikatan
a) Tulangan harus dibersihkan sesaat sebelum pemasangan untuk
menghilangkan kotoran, lumpur, oli, cat, karat dan kerak, percikan
adukan atau lapisan lain yang dapat mengurangi atau merusak
pelekatan dengan beton.
b) Tulangan harus ditempatkan akurat sesuai dengan Gambar dan
dengan kebu-tuhan selimut beton minimum yang disyaratkan dalam
Pasal 7.3.1.5) di atas, atau seperti yang diperintahkan oleh
Pengawas Pekerjaan.
c) Batang tulangan harus diikat kencang dengan menggunakan kawat
pengikat sehingga tidak tergeser pada saat pengecoran. Pengelasan
tulangan pembagi atau pengikat (stirrup) terhadap tulangan baja
tarik utama tidak diperkenankan.
d) Seluruh tulangan harus disediakan sesuai dengan panjang total yang
ditunjukkan pada Gambar. Penyambungan (splicing) batang
tulangan, terkecuali ditunjukkan pada Gambar, tidak akan diizinkan
tanpa persetujuan tertulis dari Pengawas Pekerjaan. Setiap
penyambungan yang dapat disetujui harus dibuat sedemikian hingga
penyambungan setiap batang tidak tejdi pada penampang beton
yang sama dan harus diletakkan pada titik dengan tegangan tarik
minimum.
e) Bilamana penyambungan dengan tumpang tindih disetujui, maka
panjang tumpang tindih minimum haruslah 40 diameter batang dan
batang tersebut harus diberikan kait pada ujungnya.
f) Pengelasan pada baja tulangan tidak diperkenankan, terkecuali
terinci dalam Gambar atau secara khusus diizinkan oleh Pengawas
Pekerjaan secara tertulis. Bilamana Pengawas Pekerjaan menyetujui
pengelasan untuk sambungan, maka sambungan dalam hal ini
adalah sambungan dengan panjang penyaluran penuh yang
memenuhi ketentuan dari AWS D1.4/D1.4M:2011. Pendinginan
terhadap pengelasan dengan air tidak diperkenankan.
g) Simpul dari kawat pengikat harus diarahkan membelakangi
permukaan beton sehingga tidak akan terekspos.
h) Anyaman baja tulangan yang dilas harus dipasang sepanjang
mungkin, dengan bagian tumpang tindih dalam sambungan paling
sedikit satu kali jarak anyaman. Anyaman harus dipotong untuk
mengikuti bentuk pada kerb dan bukaan, dan harus dihentikan pada
sambungan antara pelat.
i) Bilamana baja tulangan tetap dibiarkan terekspos untuk suatu waktu
yang cukup lama, maka seluruh baja tulangan harus dibersihkan dan
diolesi dengan pasta semen (semen dan air saja).
j) Tidak boleh ada bagian baja tulangan yang telah dipasang boleh
digunakan untuk memikul perlengkapan pemasok beton, jalan kerja,
lantai untuk kegiatan bekerja atau beban konstruksi lainnya.
Bahan :
• Baja tulangan
• Kawat beton
Alat :
• Alat Bantu
Urutan Kerja :
• Besi tulangan dipotong dan dibengkokkan sesuai dengan yang diperlukan
• Batang tulangan dipasang / disusun sesuai dengan Gambar Pelaksanaan dan
persilangannya diikat kawat
c. Sambungan Siar Muai
Bahan :
• Sambungan Siar Muai Tipe Finger Plate
• Beton Fast Track
Alat :
• Asphalt Cutter
• Jack Hammer + Compression
• Generator Set
Urutan Kerja :
• Buat tanda dan potong perkerasan 20 cm ke kanan dan kiri celah
• Pasang sambungan siar muai, beserta dengan karet pengisi celah sambungan
• Cor sambungan dengan menggunakan beton fast track
• Lakukan perawatan beton
d. Pasangan Batu
Umumnya, pasangan batu harus digunakan hanya untuk struktur seperti dinding
penahan tanah, talud, gorong-gorong pelat, dan tembok kepala gorong-gorong besar
dari pasangan batu yang digunakan untuk menahan beban luar yang cukup besar.
Bahan :
• Batu
o Batu harus bersih, keras, tanpa bagian yang tipis atau retak dan
harus dari jenis yang diketahui awet. Bila perlu, batu harus dibentuk
untuk menghilangkan bagian yang tipis atau lemah. Batu yang terdiri
dari bahan yang porous atau batu kulit harus ditolak.
o Batu harus lancip atau lonjong bentuknya dan dapat ditempatkan
saling mengunci bila dipasang bersama-sama.
o Ukuran batu dalam arah manapun tidak boleh kurang dari 15
cm.Beton Fast Track
• Adukan Mortar Semen
Adukan mortar semen haruslah adukan mortar semen yang memenuhi
kebutuhan dari Seksi 7.8 dari Spesifikasi ini.
• Drainase Porous
Bahan untuk membentuk landasan, lubang sulingan atau kantung penyaring
untuk pekerjaan pasangan batu harus memenuhi kebutuhan dari Seksi 2.4
dari Spesifikasi ini.
Alat :
• Asphalt Cutter
• Jack Hammer + Compression
• Generator Set
Urutan Kerja :
• Buat tanda dan potong perkerasan 20 cm ke kanan dan kiri celah
• Pasang sambungan siar muai, beserta dengan karet pengisi celah sambungan
• Cor sambungan dengan menggunakan beton fast track
• Lakukan perawatan beton
1. Pemasangan Batu
i. Landasan dari adukan mortar semen barn paling sedikit 3 cm tebalnya
harus dipasang pada fondasi yang disiapkan sesaat sebelum
penempatan masing-masing batu pada lapisan pertama. Batu besar
pilihan harus digunakan untuk lapis dasar dan pada sudut-sudut.
Perhatian harus diberikan untuk menghindarkan pengelompokkan
batu yang berukuran sama.
ii. Batu harus dipasang dengan muka yang terpanjang mendatar dan
muka yang tampak harus dipasang sejajar dengan muka dinding dari
batu yang terpasang.
iii. Batu harus ditangani sedemikian hingga tidak menggeser atau
memindahkan batu yang telah terpasang. Peralatan yang cocok harus
disediakan untuk mema-sang batu yang lebih besar dari ukuran yang
dapat ditangani oleh dua orang. Menggelindingkan atau
menggulingkan batu pada pekejaan yang baru dipasang tidak
diperkenankan.
2. Penempatan Adukan Mortar Semen
i. Sebelum pemasangan, batu harus dibersihkan dan dibasahi sampai
merata dan dalam waktu yang cukup untuk memungkinkan
penyerapan air mendekati titik jenuh. Landasan yang akan menerima
setiap batu juga harus dibasahi dan selanjutnya landasan dari adukan
harus disebar pada sisi batu yang bersebelahan dengan batu yang
akan dipasang.
ii. Tebal dari landasan adukan mortar semen harus pada rentang antara
2 cm sampai 5 cm dan merupakan kebutuhan minimum untuk
menjamin bahwa seluruh rongga antara batu yang dipasang terisi
penuh.
iii. Banyaknya adukan mortar semen untuk landasan yang ditempatkan
pada suatu waktu haruslah dibatasi sehingga batu hanya dipasang
pada adukan mortar semen baru yang belum mengeras. Bilamana
batu menjadi longgar atau lepas setelah adukan mortar semen
mencapai pengerasan awal, maka batu tersebut harus dibongkar, dan
adukannya dibersihkan dan batu tersebut dipasang lagi dengan
adukan mortar semen yang baru.
3. Ketentuan Lubang Sulingan dan Delatasi
i. Dinding dari pasangan batu harus dilengkapi dengan lubang sulingan.
Kecuali ditunjukkan lain pada Gambar atau diperintahkan oleh
Pengawas Pekerjaan, lubang sulingan harus ditempatkan dengan jarak
antara tidak lebih dari 2 m dari sumbu satu ke sumbu lainnya dan
harus berdiameter 50 mm.
ii. Pada struktur panjang yang menerus seperti dinding penahan tanah,
maka delatasi harus dibentuk untuk panjang struktur tidak lebih dari
20 m. Delatasi harus 30 mm lebarnya dan harus diteruskan sampai
seluruh tinggi dinding. Batu yang digunakan untuk pembentukan
sambungan harus dipilih sedemikian rupa sehingga membentuk
sambungan tegak yang bersih dengan dimensi yang disyaratkan di
atas.
iii. Timbunan di belakang delatasi haruslah dari bahan Drainase Porous
berbutir kasar dengan gradasi menerus yang dipilih sedemikian hingga
tanah yang ditahan tidak dapat hanyut jika melewatinya, juga bahan
Drainase Porous tidak hanyut melewati sambungan.
4. Pekerjaan Akhir Pasangan Batu
i. Sambungan antar batu pada permukaan harus dikerjakan hampir rata
dengan permukaan pekerjaan, tetapi tidak sampai menutup batu,
sebagaimana pekerjaan dilaksanakan.
ii. Terkecuali disyaratkan lain, permukaan horisontal dari seluruh
pasangan batu harus dikerjakan dengan tambahan adukan mortar
semen tahan cuaca setebal 2 cm, dan dikerjakan sampai permukaan
tersebut rata, mempunyai lereng melintang yang dapat menjamin
pengaliran air hujan, dan sudut yang dibulatkan. Lapisan tahan cuaca
tersebut harus dimasukkan ke dalam dimensi struktur yang
disyaratkan.
iii. Segera setelah batu ditempatkan, dan sewaktu adukan mortar semen
masih baru, seluruh permukaan batu harus dibersihkan dari bekas
adukan.
Bahan :
• Batu
• Semen Portland
• Pasir
Alat :
• Concrete Mixer
• Water Tank Truck
• Alat Bantu
Urutan Kerja :
• Semen, pasir dan air dicampur dan diaduk menjadi mortar dengan
menggunakan Concrete Mixer (Beton Molen)
• Batu dibersihkan dan dibasahi seluruh permukaannya sebelum dipasang
• Penyelesaian dan perapihan setelah pemasangan