METODE PELAKSANAAN
Perkerasan Jalan Dusun VIII menuju Dusun IX Pintu Air
Empat Desa Karang Anyar Kec. Secanggang
PERENCANAAN LAPANGAN.
Perencanaan Lapangan Kerja (Site Planning) dibuat untuk mengatur
penempatan peralatan, stok material dan sarana penunjang lainnya yang
akan digunakan dalam pelaksanaan pembangunan proyek, misalnya :
1. direksi keet,
2. gudang,
3. barak kerja,
4. posisi peralatan, dan fungsi lainnya,
Disamping itu site planning juga mengatur urutan pekerjaan sehingga dalam
pelaksanaan tidak mengganggu pekerjaan lainnya atau pekerjaan
berikutnya. Dalam menempatkan material kebutuhan pelaksanaan di
lapangan akan diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu
kelancaran lalu lintas dan tidak menimbulkan masalah keselamatan kerja.
MANAJEMEN PROYEK.
Pengelolaan pelaksanaan pekerjaan di proyek ini akan ditangani tenaga-
tenaga trampil yang sudah berpengalaman dalam menagani proyek.
Sehingga keberhasilan pelaksanaan pekerjaan akan benar- benar terjamin,
sesuai dengan yang diharapkan semua pihak. Tenaga kerja yang akan diikut
sertakan dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah tenaga kerja yang telah
dibina kemampuan dan produktifitasnya dalam pelaksanaan proyek.
1. Struktur Organisasi.
Pelaksanaan Pekerjaan di lapangan dipimpin General Superintendent
yang dibantu oleh Personil Inti yaitu : Bridge Engineer , Quality Engineer
, Quantity Engineer dan Personil Petugas K3.
2. Koordinasi
Dalam pelaksanaan pekerjaan terjadi interaksi antara perusahaan dengan
pihak lain, antara lain Konsultan Pengawas, Pengawas Lapangan dari
pihak proyek, Supplier dan pihak lain yang berkaitan dengan
pelaksanaan proyek. Dalam interaksi tersebut diperlukan adanya
koordinasi antar pihak dalam menyelesaikan persoalan yang muncul
dalam pelaksanaan pekerjaan. Site Manager akan memimpin semua
kegiatan proyek, baik dibidang administrasi dan teknis pelaksanaan
pekerjaan di lapangan. Secara organisasi perusahaan, Site Manager
bertanggung jawab langsung kepada Direktur Perusahaan dan
mempunyai tanggung jawab serta diberi kewenangan penuh dalam
pengelolaan proyek, dan mempunyai wewenang bertindak atas nama
perusahaan dengan sistem organisasi, maka pelaksanaan proyek akan
berjalan dengan lancar, dan penyelesaian pekerjaan akan dapat
tercapai dalan waktu yang ditentukan dan dengan mutu yang diharapkan.
METODE PENCAPAIAN SASARAN.
1. Sistem Pengendalian Proyek.
Segala sesuatau yang ada hubungannya dengan pengendalian pekerjaan
dipersiapkan dan dituangkan dalam bentuk daftar-daftar isian
pengendalian, yang mengacu jadwal pelaksanaan pekerjaan. Untuk
memandu pelaksanaan pekerjaan pelaksanaan dilapangan, dibuat metode
kerja yang rinciannya dilengkapi dengan gambar pelaksanaan (shop
drawing) yang mudah dibaca dan dimengerti.
2. Pemilihan Alat
Pemilihan peralatan baik jumlah, jenis dan kapasitasnya akan
disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan yang akan dilaksanakan untuk
menjamin tercapainya sasaran pelaksanaan pekerjaan.
3. Material.
Kebutuhan pokok bahan untuk pelaksanaan pekerjaan yang merupakan
material pabrikan adalah aspal, semen, baja tulangan, kawat beton, kayu,
paku, dan bahan lainnya pabrik / distributor. Material lain yang
merupakan bahan dari Quarry seperti pasir, batu, material pilihan dan
yang lainnya diambil dari sumber material terdekat dan memenuhi syarat.
Material batu pecah mesin untuk agregat beton diolah di Stone Crusher,
begitu juga dengan material hotmix AC-WC / AC – BC akan diolah di
Asphalt Mixing Plant. Sebelum material didatangkan diperiksa
kualitasnya dan dilaksanakan pengujian di laboratorium. Material
didatangkan sebelum jadwal pemakaian, sehingga tidak terjadi
keterlambatan pekerjaan.
4. Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang digunakan dalam penanganan
proyek ini terdiri atas :
- Tenaga Inti Proyek / Site Manager
- Tenaga Operasional Lapangan, antara lain Mandor, Surveyor,
Mekanik, Operator, Driver
- Pekerja akan digunakan adalah tenaga kerja yang sudah terampil.
5. Pengendalian Mutu
Untuk menjamin hasil kerja yang baik dan sesuai dengan mutu yang
disyaratkan perlu dlakukan pengendalian mutu (Quality Control), dengan
cara melakukan pemeriksaan secara teratur, baik terhadap bahan yang
akan digunakan maupun cara pelaksanaan pekerjaan. Alat yang
digunakan akan dikalibrasi secara berkala agar selalu berfungsi secar
akurat.
I. PEKERJAAN PENDAHULUAN.
1. Pemondokan Buruh/Gudang
Direksi keet/gudang bahan harus ditempatkan sesuai dengan lokasi
yang telah mendapat persetujuan dari Direksi Teknis. Bangunan
harus tahan cuaca, dan elevasi lantai yang lebih tinggi dari tanah di
sekitarnya sehingga mampu melindungi bahan/material dari
kerusakan
2. Rambu-Rambu Lalu Lintas
Kami bertanggung jawab atas semua akibat lalu lintas yang diizinkan
lewat di atas permukaan kerikil selama pelaksanaan pekerjaan dan
akan membuat rambu-rambu lalu lintas dan tanda-tanda peringatan
melarang lalu lintas tersebut bila mungkin dengan menyediakan
sebuah jalan pengalihan alternatif atau dengan pelaksanaan
pekerjaan separuh lebar jalan. Kami dapat menjamin kelancaran dan
keselamatan lalu-lintas selama pelaksanaan pekerjaan. Untuk
mewujudkan hal ini kami harus memastikan dan berkewajiban untuk
melaksanakan pengelolaan lalu-lintas selama pekerjaan berlangsung.
3. Mobilisasi Alat Berat
Mobilisasi meliputi mobilisasi pekerja dan mobilisasi alat berat dan
juga mencakup demobilisasi setelah penyelesaian pelaksanaan
pekerjaan yang memuaskan.
− Kami akan mengerahkan seorang pimpinan lapangan untuk
mengarahkan dan mengatur pekerjaan kontrak, termasuk
pengorganisasian tenaga dan peralatan kontraktor serta
bertanggung jawab bagi pengadaan bahan-bahan yang sesuai
dangan persyaratan kontrak
− Kami akan mengerahkan seorang pelaksana lapangan
yang mampu dan berpengalaman untuk mengendalikan
pekerjaan lapangan dalam kontrak, termasuk pengawasan
lapangan, kualitas dan kecakapan kerja, sesuai dengan
syarat-syarat kontrak
− Tenaga kerja diusahakan sebanyak mungkin tenaga kerja
setempat untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut dan
bilamana perlu memberikan pelatihan yang memadai.
− Mobilisasi peralatan beret dari dan menuju lokasi
pekerjaan harus dilaksanakan pada waktu lalu lintas sepi,
dan truk-truk angkutan yang bermuatan harus ditutup
dengan terpal.
4. Pemindahan Tiang Listrik
pemindahan tiang listrik PLN di lokasi proyek melibatkan pengajuan permohonan
resmi ke PLN, survei lokasi oleh petugas PLN, penentuan biaya yang dibebankan
kepada pemohon, persiapan lahan baru, serta pelaksanaan pemindahan tiang
dengan pemadaman listrik sementara dan kehadiran pemohon di lokasi.
5. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Dengan maksud mengendalikan sumber bahaya meminimize
kecelakaan kerja bidang konstruksi maka ditetapkan peraturan /
tata tertib yang berlandaskan pada ketentuan Undang-Undang No. 1
thn 1970 tentang Keselamatan Kerja yang dalam konsideransnya
berbunyi : “Setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas
keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan
hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional”,
dimana tujuan dan sasaran dapat diketahui bersama dalam team
work yang antara lain sebagai berikut :
− Menjamin bahwa seluruh aktifitas pekerjaan yang dilakukan
sesuai dengan aspek keselamatan kerja.
− Menjamin bahwa seluruh aktifitas pekerjaan yang dilakukan dgn
peralatan dan tenaga manusia dilakukan oleh orang yang punya
kewenangan melakukan dan menggunakan alat dan peralatan
sesuai dengan keahliannya masing-masing.
− Menjamin agar keselamatan kerja dilakukan secara konsisten dan
sesuai dengan peraturan serta prosedur kerja yang telah dibuat
dalam proyek.
− Menjamin Produktifitas kerja tidak terganggu dan aman bekerja
secara kontinu. Menuju Kondisi Nol Kecelakaan (Zero Accident).
II. Pekerjaan Perkerasan Badan Jalan
1. Pembentukan Badan Jalan
Pemotongan Bahu jalan yang tinggi dilaksanakan dengan menggunakan
alat berat seperti Beckhoe (Beku), ataupun alat berat lain yang dapat
masuk ke lokasi pekerjaan. Penggunaan tenaga manusia juga diperlukan
disamping penggunaan alat berat. Pelaksanaan pemotongan bahu jalan
dengan alat dimulai apabila persiapan lokasi sudah aman untuk bekerja,
dikarenakan jatuhnya timbunan tanah hasil pemotongan dapat
membahayakan, termasuk pengaturan lalu-lintas kendaraan. Pemotongan
dilaksanakan pada bagian tertinggi lebih dahulu, agar tidak terjadi
longsoran tanah hasil pemotongan tersebut
2. Perbaikan Badan Jalan dengan Sirtu ( Minor )
Pekerjaan leveling/tutup lubang Lapis Pondasi agregrat Kls. C merupakan
lapisan struktur pertama di atas lapis tanah dasar dimana Pembangunan
Lapis Pondasi Agregrat Kls. C terdiri dari pengadaan, pemrosesan,
pengangkutan, penghamparan, penyiraman dengan air, dan pemadatan
agregat batu atau kerikil alami pilihan dalam lapis tanah dasar yang telah
disiapkan
3. Menghampar Badan Jalan dengan Sirtu
Seperti biasanya Kami sebelum melaksanakan pekerjaan membuat
Request kepada Direksi Teknik, Pengawas dan konsultan untuk
mendapatkan izin melaksanakan pekerjaan selanjutnya. Pekerjaan
Penghamparan material menggunakan grader hingga mencapai ketebalan
yang di isyaratkan oleh bestek. Penghamparan Kami lakukan selebar
setengah lebar hamparan yang di tentukan di dalam bestek, agar arus
lalu lintas tetap bisa terus berjalan. Setelah penghamparan dilakukan
dilanjutkan dengan pemadatan dengan menggunakan mesin gilas dengan
beban > 10 ton dan truk air bila diperlukan untuk menjaga atau
mencapai kadar air optimum yang disyaratkan untuk mendapatkan
kepadatan optimum.
Setelah pemadatan, dilakukan test kepadatan setiap 100 m dengan
menggunakan sand cone, dan hasil pengujian diserahkan kepada Direksi
Teknis. Jika tes kepadatan belum memenuhi syarat maka harus
dilakukan pemadatan ulang. Untuk pekerjaan yang belum memenuhi
ketentuan yang di syaratkan. Kami harus perbaiki dengan penggaruan
sedalam setengah tebal lapisan dengan mengurangi atau menambahkan
bahan garuan sebagaimana diperlukan, kemudian dilanjutkan dengan
pembentukan dan pemadatan kembali. Pada permukaan semua Lapis
Pondasi Agregat tidak boleh terdapat ketidakrataan yang dapat
menampung air dan semua punggung (camber) permukaan itu harus
sesuai dengan yang ditunjukkan dalam Gambar.
Agregat harus di hampar di atas lapisan pondasi yang telah di bersihkan
dari kotoran dan setiap bahan lain yang merugikan untuk penghamparan,
penghamparan dilakukan dengan tangan pekerja atau dengan motor
grader sampai merata dengan batas kelembaban optimum. Agregat harus
dihampar dalam lapisan yang tidak melebihi ketebalan 20 cm. Lalu lintas
di atur sebagaimana mungkin agar tidak mengganggu proses
penghamparan. Jika jalan alternatif tidak memungkinkan maka
penghamparan dilakukan dengan setengah badan jalan.
Segera setelah penghamparan dan pembentukan akhir, setiap lapis
dipadatkan menyeluruh dengan alat pemadat yang cocok dan memadai
dan disetujui oleh Direksi Teknis, hingga kepadatan akhir mencapai
paling sedikit 100% dari kepadatan kering maksimum. Pemadatan
menggunakan alat pemadat roda besi berpenggetar. Pelaksanaan
pemadatan memanjang dimulai dari sisi terendah dan bergerak ke sisi
tertinggi bergeser dalam arah melintang demikian juga didaerah
superelevasi. Pemadatan dilakukan dengan tumpang tindih satu lajur
dengan lajur lainnya selebar tebal lapisan.
Pemadatan yang berbatasan dengan kerb, tembok, dan tempat-tempat
yang tak terjangkau mesin gilas akan dipadatkan dengan timbris mekanis
atau alat pemadat roda besi lainnya yang lebih kecil dan disetujui Direksi
Teknis. Tebal minimum Lapis Pondasi Bawah Kelas C tidak boleh
kurang satu sentimeter dari tebal yang disyaratkan.
Lokasi hamparan dengan tebal atau kerataan permukaan yang tidak
memenuhi ketentuan toleransi yang disyaratkan, atau yang
permukaannya menjadi tidak rata baik selama pelaksanaan atau setelah
pelaksanaan, harus diperbaiki dengan membongkar lapis permukaan
tersebut dan membuang atau menambahkan bahan sebagaimana
diperlukan, kemudian dilanjutkan dengan pembentukan dan pemadatan
kembali.
Lapis Pondasi Agregat Kls,C yang terlalu kering untuk pemadatan,
dalam hal rentang kadar air seperti yang disyaratkan atau seperti yang
diperintahkan Direksi Pekerjaan, harus diperbaiki dengan menggaru
bahan tersebut yang dilanjutkan dengan penyemprotan air dalam
kuantitas yang cukup serta mencampurnya sampai rata.
Lapis Pondasi Agregat Kls.C yang terlalu basah untuk pemadatan
seperti yang ditentukan dalam rentang kadar air yang disyaratkan
dalam spesifikasi atau seperti yang diperintahkan Direksi Teknis,
harus diperbaiki dengan menggaru bahan tersebut secara berulang-
ulang pada cuaca kering dengan peralatan yang disetujui disertai waktu
jeda dalam pelaksanaannya.
Alternatif lain, bilamana pengeringan yang memadai tidak dapat diperoleh
dengan cara tersebut di atas, maka Direksi Teknis dan Pengawas
dapat memerintahkan agar bahan tersebut dibuang dan diganti dengan
bahan kering yang memenuhi ketentuan.
Perbaikan atas Lapis Pondasi Agregat Kls.C yang tidak memenuhi
kepadatan atau sifat-sifat bahan yang disyaratkan dalam Spesifikasi ini
harus seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknis,Pengawas dan
konsultan dan dapat meliputi pemadatan tambahan, penggaruan
disertai penyesuaian kadar air dan pemadatan kembali, pembuangan
dan penggantian bahan, atau menambah suatu ketebalan dengan bahan
tersebut.
Seluruh lubang pada pekerjaan yang telah selesai dikerjakan akibat
pengujian kepadatan atau lainnya harus segera ditutup kembali dengan
bahan Lapis Pondasi Agregat kls. c, Pekerjaan dipadatkan sampai
memenuhi kepadatan dan toleransi permukaan. Kami juga mengajak
Direksi Teknis, Pengawas Lapangan juga konsultan Pengawas untuk
sama-sama mlihat pekerjaan dilapangan. untuk memastikan apakah
pekerjaan ini masih ada yang tidak sesuai atau Kami mendapatkan izin
untuk melanjutkan dengan pekerjaan berikutnya.
Pemadatan.
Hamparan yang sudah memenuhi syarat elevasi dan kemiringan,
dipadatkan merata dengan pemadat Tandem dan, setiap lapisan
dipadatkan menyeluruh. Kepadatan/ kering maksimum yang ditentukan
oleh pengujian laboraturium ( Sand Cone ) Operasi penggilasan harus
dimulai sepanjang tepi bergerak sedikit demi sedikit kea rah sumbu jalan,
dalam arah memanjang.
Pengujian
Permukaan yang sudah selesai, diuji kepadatannya dengan menggunakan
Sand Cone setiap jarak maksimum 200 meter berselang seling. Di dakam
pengujian tersebut Kami juga mengajak Direksi Teknis, Pengawas
:apangan juga konsultan Pengawas untuk sama-sama menyaksikan
pengujian dilapangan. kemudian Hasil pengujian akan memastikan
apakah pengilasan masih perlu atau dapat dilanjutkan dengan pekerjaan
berikutnya.
III . Pekerjaan Pembuatan Drainase
III.1 . Galian tanah untuk Kontruksi
Galian tanah untuk pondasi dikerjakan setelah patok fail yang di
tentukan telah dibuat dan di setujui oleh PPK, direksi atau pengawas
untuk mendapatkan bentuk stuktur dibuat bouplank sebagai acuaan
dalam megerjakan galian dan menentukan kedalaman galian diberi
pananda dasar gaian dibentu dan dirapikan , apabila pada lobang
galian digenangi aiar akan di lakukan pembuangan ( Dewatring ) , hasil
galaian ditempatkan pada tempat yang tidak ber pegaruh terhadap
galian dan pekerjaan lainnya pekerjaan ini dikerjakan dengan cara
manual menggunakan alat bantu.
III. 2. Acuan Beton Struktur
Bekistng papan cetakan dibuat Untuk mendapatkan bentuk bangun
kontruksi beton yang direncanakan, bekistng atau papan cetakan
dibuat mengunakan bahan material multiplek tbl 12mm untuk
permukaan beton, kayu broti sebagai tulangan mal dan paku untuk
menyatukan, mal atau bekisting dibuat sesuai dengan rencana bangun
beton yang direncanakan untuk mendapatkan selimut pada beton
bertulang, pada posisi tertentu dipasang beton beton tahu berukuran
3cmx4cm tebal 3cm , beton tahu di ikat antara besi dan bekist ng atau
mal. pekerjaan ini dikerjakan dengan cara manual menggunakan alat
bantu.
III. 3. Pembesian balok tumpuan dan lantai atas
Pembesian / tulangan digunakan untuk gelagar lantai difrahma dan
sandaran sesuai gambar rencana kerja. Bahan yang digunakan Baja
Tulangan U32 dan Kawat beton . Pekerjaan dilakukan secara manual,
Besi tulangan dipotong dan dibeng kokkan sesuai dengan yang
diperlukan . Batang tulangan yang telah dibentuk dipasang / disusun
sesuai dengan Gambar Pelaksanaan dan pada persilangan diikat kawat
beton.
III. 4. Beton cor K125 untuk pondasi, abutmen dan Gelagar
Setelah papan cetakan atau bekisting selesai dikerjakan dan telah
Disetujui oleh PPK,diresi atau pengawas tahapan pekerjan dilanjutkan.
Tahapan pengecoran beton cor pondasi dikerjakan dengan cara manual
menggunakan alat bantu. bahan material yang diguanakan untuk
beton adalah campran semen, pasir dan agregat kasar . pencampuran
adukan menggunakan alat pengduk beton Concrete Mixer (Molen)
dengan perbandingan agregat Adukan 1PC : 2 PS : 3 agregat kasar.
Adukan dituang kedalam bekisting atau cetakan menggunakan alat
bantu melalui talang yang sudah dipersiapkan terleih dahulu untuk
menghindari rongga – rongga pada beton, coran dipadatkan
mengunakan alat pengetar beton ( Concrete Vibrator ). Penyelesaian
dan perapihan beton setelah pengecoran dan pembongkaran
III. 5. Beton cor K.225 untuk balok tumpuan dan lantai atas
Balok perletakan dan gelegar menggunakan beton K225 dengan
perbandingan campuaran 1PC : 2 PS : 3 agregat kasar . pengadukan
Semen, pasir, batu kerikil dan air menjadi beton diaduk dengan
menggunakan Concrete Mixer Beton (Molen). Beton di-cor ke dalam
bekisting yang telah disiapkan Penyelesaian dan perapihan beton
dikerjakan setelah pengecoran
III.6. Plesteran bahagian yang tampak
Untuk merapikan bidang bidang yang kelihatan dipelester, pekerjaan
ini dikerjakan dengan cara manual menggunakan alat bantu, adukan
material semen dan pasir yang melalui ayakan, dibuat dengan
perbandingan campuran 1 sp : 2 psr, permukaan bidang beton yang
terlihat dilapisi dengan adonan semen dan pasir diratakan dan di
haluskan.
III.7. Stut / penyanggah perancah
Untuk penyangga bekisting dibuat Perancah dari kayu bulat
berdiameter lebih dari 20 - 30cm, perancah perancah di hubungkan
dengan kuyu segi atau bulat untuk meyatukan hubungan satu dengan
yang lainnya menggunakan paku dan kawat. untuk membuat perataan
yang akan digunakan sebagai tempat dudukan mal di pasang stut stut
penyanggah.
III. 8. Pipa Peresapan PVC 2’’
Pipa yang akan dipasang terlebih dahulu diperiksa, harus bersih dari
segala kotoran dan minyak. Pemasangan dilakukan sedemikian rupa,
disesuaikan dengan yang di mintakan dalam perencanaan. Selama
proses pemasangan dipergunakan peralatan yang sesuai dengan
kebutuhan, sehingga proses pamasangan berjalan lancer dan
berlangsung dengan baik.
III .9. Timbunan Oprit Plat Beton
Setelah selesai dilakukan pengecoran, dan umur beton telah mencapai
waktu, dan kekuwaan yang direncanakan, selanjutnya akan dilakukan
pelepasan perancah.
Dilakukan penimbunan setelah pekerjaan dilakukan pelapisan
perancah, selanjutnya akan dilakukan penimbunan kembali pada sisa
galian tersebut.
Selanjutnya timbunan tersebut akan dipadatkan.
III. Pekerjaan Lain-Lain
1. Photo Dokumentasi + Back Up Data + Laporan
Selama pelaksanaan pekerjaan, kami akan membuat
laporan, back up dan photo dokumentasi terkait pelaksanaan
pekerjaan, pelaporan ini terdiri dari :
a) Laporan Harian, adalah mencatat segala sesuatu yang terjadi di
lapangan pada setiap harinya, laporan ini diperiksa oleh Direksi
Teknis. Laporan harian ini terdiri dari:
Jenis dan kuantitas pekerjaan yang dilaksanakan di lapangan,
Jumlah tenaga kerja di lapangan pada saat pekerjaan,
Jenis dan kuantitas bahan yang dipakai di lapangan, Jenis,
jumlah dan kondisi peralatan yang ada di lapangan.
Cuaca dan peristiwa alam lainnya yang mempengaruhi
pelaksanaan pekerjaan,
Catatan lain yang dianggap perlu.
b) Laporan Mingguan, adalah rangkuman laporan harian yang
berisi hasil kemajuan fisik pekerjaan perminggunya serta
catatan-catatan yang dianggap perlu untuk dilaporkan.
c) Laporan Bulanan, adalah rangkuman laporan mingguan
yang berisi hasil kemajuan fisik pekerjaan perbulannya serta
catatan-catatan yang dianggap perlu untuk dilaporkan.
d) Foto-foto dokumentasi selama pelaksanaan pekerjaan di
lapangan, mulai dari sebelum dikerjakan, sedang dikerjakan dan
selesai dikerjakan.
e) Gambar pelaksanaan pekerjaan (as built drawing).
2. Pemasangan Papan Proyek
Papan proyek untuk memberikan informasi tentang kegiatan
proyek secara jelas dan lengkap. Informasi yang akan dimuat
dalam papan proyek ini adalah :
− Pemilik Proyek,
− Nama pekerjaan
− Sumber dana pekerjaan
− Nilai kontrak
− Nama Pelaksana Pekerjaan
Ukuran dan warna dan lokasi pemasangan papan proyek ini
berdasarkan petunjuk Direksi Teknis.
3. Dokumen
Mengumpulkan dokumen penetapan pemenang perusahaan yang
dikeluarkan oleh pokja/panitia pengadaan barang/jasa, dokumen
perjanjian pemborongan yang disetujui oleh kedua belah pihak dan
dokumen pendukung untuk di jilid menjadi satu dokumen (Kontrak).
Penutup.
Demikian Metode Pelaksanaan ini secara garis besar yang dapat kami
sampaikan sebagai usulan tentang pekerjaan-pekerjaan yang terlingkup
dalam Pekerjaan. Methode pelaksanaan yang lebih detail akan dibuat pada
saat pelaksanaan nanti. Tentu saja didalam pelaksanaannya nanti dapat
timbul ide-ide baru, yang disesuaikan dengan dokumen dan gambar-gambar
dalam tender. Hal-hal yang lebih terinci lagi akan dibuat lebih lanjut sebelum
dan selama pelaksanaan pekerjaan nanti.
Mudah-mudahan uraian ini dapat memberikan gambaran yang cukup jelas
tentang langkah-langkah yang akan dilakukan dalam pelaksanaan. dan juga
sebagai pendukung untuk penawaran yang kami ajukan.