| Reason | |||
|---|---|---|---|
| 0862979481803000 | Rp 387,300,924 | - | |
| 0813029485803000 | Rp 374,014,708 | Pakta Komitmen tidak sesuai Dokumen Pemilihan | |
| 0661550251803000 | - | - | |
| 0810474437803000 | - | - | |
| 0025124587803000 | Rp 374,014,700 | Identifikasi Bahaya dalam RKK tidak sesuai Dokumen Pemilihan | |
| 0028106037803000 | Rp 409,039,488 | umlah Concrete Mixer dalam Daftar Peralatan yang ditawarakan hanya 1 unit sementara yang dipersyaratkan dalam Dokumen Pemilihan sebanyak 2 unit, Riwayat Personil ditanda tangani oleh Perusahaan lain. | |
| 0954946372803000 | Rp 374,014,699 | Daftar peralatan dan Surat perjanjian sewa khususnya Excavator tidak sesuai dengan bukti peralatan yang dilampirkan. | |
| 0753718659803000 | - | - | |
| 0903002889803000 | - | - | |
| 0762603264803000 | - | - | |
| 0652240474803000 | - | - | |
| 0733261325803000 | - | - | |
| 0749663381803000 | - | - | |
| 0633034400803000 | - | - | |
| 0028099257803000 | - | - | |
CV Rekadaya Feza | 06*4**9****03**0 | - | - |
| 0912936721803000 | - | - | |
| 0032773137803000 | - | - | |
| 0812014439803000 | - | - | |
| 0729115360803000 | - | - | |
| 0019302017803000 | - | - | |
| 0802007773803000 | - | - | |
| 0820755080803000 | - | - | |
| 0026874032803000 | - | - | |
| 0028098655803000 | - | - | |
| 0835635228803000 | - | - | |
| 0023510977803000 | - | - | |
| 0810412205803000 | - | - | |
| 0932385602803000 | - | - | |
| 0845791904803000 | - | - | |
| 0940434533803000 | - | - | |
| 0018161158803000 | - | - | |
| 0028470235803000 | - | - | |
| 0759781917803000 | - | - | |
| 0822677381803000 | - | - | |
| 0749407094803000 | - | - | |
| 0722567674802000 | - | - | |
CV Aidan Ariendra Huthami | 09*6**1****03**0 | - | - |
| 0416756377803000 | - | - | |
| 0032773285803000 | - | - | |
| 0020561676806000 | - | - | |
| 0316874148803000 | - | - | |
| 0028101640803000 | - | - | |
| 0868958182955000 | - | - | |
| 0030517684801000 | - | - | |
| 0032773327803000 | - | - | |
| 0953194420803000 | - | - |
URAIAN SINGKAT PEKERJAAN
PEKERJAAN : Pembangunan Jaringan Irigasi Desa Kalpataru
TAHUN ANGGARAN : 2023
I. PEKERJAAN PERSIAPAN
A. Mobilisasi dan Demobilisasi
Mendatangkan personil-personil dan alat-alat kerja beserta bahan yang akan
digunakan dalam pekerjaan.
1. Mobilisasi personil
Tenaga kerja harus dipersiapkan lebih awal sebelum pekerjaan dimulai.
Personil yang akan digunakan dalam proyek ini antara lain:
1. Site Manager : 1 orang
2. Pelaksana : 1 orang
3. Mandor : 1 orang
4. Labtek : 1 orang
5. Juru Ukur : 1 orang
6. Administrasi : 1 orang
2. Mobilisasi alat
Peralatan yang akan digunakan di lapangan harus dipersispkan paling
lambat 3 hari sebelum pekerjaan dimulai. Peralatan yang akan digunakan
dalam proyek ini antara lain:
1. Concrete Mixer : 2 unit
2. Bak Adukan : 4 unit
3. Pompa Air : 2 unit
4. Dump Truck : 1 unit
5. Pick Up : 1 unit
Semua peralatan utama merupakan milik sendiri. Mobilisasi peralatan dapat
dilakukan pada awal pekerjaan dan demobilisasi dilakukan pada mingggu
akhir pekerjan setelah pekerjaan selesai.
3. Mobilisasi bahan
Bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini seperti semen, pasir, krikil, batu
kali, baja tulangan, kawat beton, paku dan yang lainnya diangkut ke tempat
penyimpanan sesuai jadwal yang akan dipersiapkan.
B. Shop Drawing
Sebelum mengerjakan pekerjaan, terlebih dahulu membuat Gambar-gambar
kerja (shop drawing) yang acuannya dari Gambar Rencana yang terakhir. Jika
terdapat perbedaan antara gambar kerja dengan keadaan sebenarnya di
lapangan, maka yang dilaksanakan adalah keputusan yang diberikan oleh Direksi.
Selanjutnya melakukan penggambaran kembali tapak proyek sesuai dengan
keadaan sebenarnya di lapangan. Pada keadaan dimana ada penyimpangan dari
gambar rencana, akan mengajukan 3 (tiga) lembar gambar penampang dari
daerah yang dipatok. Direksi akan membubuhkan tanda tangan persetujuan atau
pendapat / revisi pada satu lembar gambar tersebut dan mengembalikannya
kepada kontraktor. Setelah diperbaiki, diajukan kembali gambar yang Direksi
diminta untuk direvisi. Gambar tersebut akan digambar kembali diatas kertas A3
dan setelah disetujui oleh Direksi, mka diserahkan kepada Direksi gambar asli
dan 3 (tiga) lembar hasil rekamannya.
C. Penyediaan Lokasi Hasil Galian
Lokasi Hasil Galian akan dipersiapkan sebelum melaksanakan pekerjaan galian
dengan persetujuan Direksi/Pengawas.
D. Penyediaan Air Bersih
Untuk pengadaan air bersih diperlukan satu buah mesin pompa untuk distribusi
air bersih. Pemasangan pompa air dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan
pemantekan untuk mendapatkan sumber air, kemudian dilakukan pemasangan
pipa dan kran air. Air bersih ditampung dalam toren air . Air bersih dapat juga
diperoleh dari sumber existing yang ada dengan penyambungan dan membayar
sejumlah biaya yang telah ditentukan.
E. Pemasangan Bowplank
1. Pada setiap pembuatan bangunan dan bangunan, dipasang bouwplank/profil
dan mencantumkan elevasi serta nama bangunannya. Pemasangan
bouwplank/ profil berdasarkan peil elevasi ketinggian dari patok hasil
pengukuran Uitzet dan pemasangannya dapat dilaksanakan apabila
pengukuran dinyatakan selesai dan benar serta mendapat persetujuan dari
Direksi.
2. Bouwplank dibuat dari papan kayu kelas III yang lurus dan rata, untuk
membimbing pelaksanaan dilapangan digunakan tarikan benang dan kapur
bangunan agar terlihat bentuk tanah yang akan digali ataupun bangunan yang
akan dipasang, untuk pekerjaan tanah profil dipasang setiap jarak 25 m
ataupun lebih rapat bila diperlukan sehingga terlihat penampang yang harus
digali ataupun yang harus ditimbun.
F. Pembersihan Lahan dan Pembuangannya
Membersihkan lokasi / lapangan kerja bangunan dan bangunan yang akan
dikerjakan dari kotoran-kotoran, rerumputan, semak belukar, pepohonan,
tonggak-tonggak (sampai dengan kedalaman 1 m dari permukaan tanah), dan
semua rintangan permukaan kecuali bangunan-bangunan sampai permukaan
tanahnya kelihatan.
Hasil-hasil dari pembersihan (rerumputan, semak belukar, pepohonan, tonggak-
tonggak dan sampah lainnya) akan dibakar sampai habis pada lokasi yang aman,
dijaga dan tidak membahayakan/merugikan lingkungan sekitarnya. Sisa
pembakaran yang dipastikan tidak ada lagi api yang menyala/membara ditanam
dan diurug kembali secara rapi.
G. Pemasangan Papan Nama Proyek
1. Menyiapkan papan nama dari papan playwood 5 mm dicat warna dasar putih
dengan redaksi dan ukuran 1,50 m x 1,00 m
2. Menulis pada papan dengan tulisan warna hitam, teks sesuai petunjuk Direksi.
3. Pemasangan papan-papan nama dilengkapi tiang-tiang penyangga dan
pondasi yang cukup stabil dan dipasang di lokasi yang disetujui direksi.
H. Penyediaan Kantor Direksi
Merundingkan terlebih dahulu dengan Direksi mengenai pembagian halaman
untuk bangunan sementara. Selanjutnya membuat bangunan sementara yang
terdiri dari tempat penimbunan barang- barang, gudang, ruang Direksi, ruang
Kontraktor, kamar mandi/WC dan ruang- ruang lain yang dianggap perlu.
Menyediakan sebuah bangunan untuk direksikeet minimal 20 m2 dan dilengkapi
panil-panil untuk menempel gambar-gambar.
Ruang Direksi dilengkapi minimal dengan:
- set meja kerja dan kursi
- 1 set meja rapat dan kursi, kapasitas minimal untuk 12 orang
- 1 set meja dan kursi tamu
- 1 white board
Menyediakan kantor lapangan, akomodasi kantor yang cocok dan fasilitas yang
memenuhi kebutuhan proyek di tempat-tempat pekerjaan penting. Memelihara
bangunan sementara yang telah ada di lapangan dan memperbaiki/mengganti
kerusakan yang terjadi selama masa pelaksanaan. Bangunan-bangunan seperti
ruang Direksi, los kerja dan bangunan sementara akan dibongkar setelah
mendapat persetujuan Direksi.
I Pembersihan Sisa Material dan Fasilitas Sementara
Selama periode pelaksanaan pekerjaan, memelihara pekerjaan bebas dari
akumulasi sisa bahan bangunan, kotoran dan sampah, yang diakibatkan oleh
operasi pelaksanaan. Pada saat selesainya pekerjaan, semua sisa bahan
bangunan dan bahan-bahan tak terpakai, sampah, perlengkapan, peralatan dan
mesin-mesin disingkirkan, seluruh permukaan terekspos yang nampak
dibersihkan, termasuk juga semua fasilitas sementara seperti gudang, kantor
lapangan dan jembatan sementara, sehingga proyek ditinggal dalam kondisi siap
pakai dan diterima oleh direksi pekerjaan.
Sebelum pekerjaan pengukuran dimulai, tapak proyek dibersihkan dari rumput,
semak-semak, lumpur, akan pohon, tanah humus, puing-puing dan segala
sesuatu yang tidak diperlukan atau dapat menggangu jalannya pekerjaan.
Penebangan pohon-pohon sesuai dengan petunjuk Direksi.
Semua barang bekas bongkaran harus dikeluarkan dari lokasi, selambat-
lambatnya sebelum pekerjaan galian tanah dimulai.
.
Pembersihan Selama Pelaksanaan
1. Melakukan pembersihan secara teratur untuk menjamin bahwa tempat
kerja, struktur, kantor sementara, tempat hunian dipelihara bebas dari
akumulasi sisa bahan bangunan, sampah dan kotoran lainnya yang
diakibatkan oleh operasi-operasi di tempat kerja dan memelihara tempat
kerja dalam kondisi rapi dan bersih setiap saat.
2. Bilamana dianggap perlu, menyemprot bahan dan sampah yang kering
dengan air untuk mencegah debu atau pasir yang beterbangan.
3. Menyediakan drum di lapangan untuk menampung sisa bahan bangunan,
kotoran dan sampah sebelum dibuang.
4. Membuang sisa bahan bangunan, kotoran dan sampah ditempat yang telah
ditentukan sesuai dengan Peraturan Pusat dan Daerah dan Undang-undang
Pencemaran Lingkungan yang berlaku.
Pembersihan Akhir
Pada saat penyelesaian pekerjaan, tempat kerja ditinggal dalam keadaan bersih
dan siap untuk dipakai dan mengembalikan bagian-bagian dari tempat kerja yang
tidak diperuntukkan dalam dokumen kontrak ke kondisi semula, membongkar
bangunan-bangunan atau fasilitas penunjang sementara yang dibangun.
J. Penerangan dan Keselamatan Kerja
1. Mengutamakan keselamatan kerja dengan menyediakan sarana
pengamanan kerja baik itu berupa helm, sepatu, pakaian pelindung dan
pengaman lain yang diperlukan.
2. Menyelenggarakan, membangun tanda-tanda bahaya dan isyarat-isyarat
yang sesuai dan cukup serta mengambil tindakan pencegahan yang perlu
untuk perlindungan pekerjaan dan keselamatan umum. Jalan-jalan yang
tertutup bagi lalulintas harus dilindungi dengan perintang yang cukup,
perintang tersebut diberi penerangan atau lampu dan dinyalakan mulai
sejak matahari terbenam hingga matahari terbit.
3. Berkoordinasi dengan pihak keamanan setempat untuk menghindari hal –
hal yang tidak diinginkan.
4. Menjaga kebersihan agar menjamin kesehatan lingkungan.
5. Menyediakan kotak obat lengkap dengan obat-obatan untuk memberi
pertolongan darurat bila ada petugas/pekerja yang sakit.
6. Mengasuransikan tenaga kerja.
7. Penginapan untuk petugas/pekerja layak dan memenuhi syarat kesehatan.
8. Menyediakan fasilitas sebagai berikut;
- Listrik dan penerangan untuk kebutuhan pelaksanaan pekerjaan dan
keamanan.
- Air minum atau air bersih yang dapat diminum untuk semua keperluan
selama pelaksanaan pekerjaan dan semua petugas yang ada diproyek.
- Alat-alat pemadam kebakaran.
- Alat-alat P3K.
- Kamar mandi dan WC untuk pekerjaan lapangan termasuk septictank
sementara.
- Alat Komunikasi.
- Alat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
- Alat pengendalian dan pengamanan lalu lintas.
II. UTILIZAT/PENGUKURAN
A. Pengecekan Patok BM dan pemasangan patok CP
1. Memastikan bahwa patok batas lahan, pada tiap sudut perimeter lahan
sesuai dengan data Badan Pertanahan Nasional
2. Jika patok yang ada belum permanen (tidak dicor) atau tidak terlindungi
dengan baik, dibuat patok beton dengan cor dan memasang titik batas
dengan tanda paku tertanam di tiap patok dan melindungi patok-patok
tersebut dengan perimeter yang baik dan mudah dipantau (dari bambu atau
kaso dan diberi tanda warna atau bendera atau tanda lain yang mudah
dilihat)
3. Setelah dipastikan seluruh patok perimeter sesuai, Berita Acara Joint Survey
yang sudah disahkan bersama instansi terkait dan Konsultan Pengawas
disimpan dan menjadi dasar acuan seluruh pengukuran berikutnya
4. Titik batas lahan dan garis perimeternya diplot ke gambar dan dilakukan
cross check apakah sesuai dengan batas yang diberikan dalam gambar
desain atau gambar konstruksi —jika terjadi perbedaan maka akan
dilaporkan kepada Konsultan untuk dilakukan penyesuaian gambar desain.
5. Memastikan patok-patok benchmark utama (BM) yang terhubung dengan
seluruh titik sudut perimeter lahan di lokasi yang tidak terganggu selama
pelaksanaan proyek dan diplotkan pada gambar pelaksanaan, serta menjadi
acuan awal pelaksanaan pematokan (stacking out) pada bangunan-
bangunan yang akan dilaksanakan
6. Membuat patok-patok Control Point (CP) untuk mempermudah pelaksanaan
pengukuran dan pematokan berikutnya
B. Pengukuran Poligon
Langkah Kerja
1. Menyiapkan catatan, daftar pengukuran dan membuat sket lokasi areal
yang akan diukur.
2. Menententukan dan tancapkan patok pada titik-titik yang akan dibidik.
3. Mendirikan pesawat di atas titik P1 dan melakukan penyetelan alat sampai
didapat kedataran.
4. Mengarahkan pesawat ke arah utara dan menolkan piringan sudut
horizontal dan kunci kembali dengan memutar sekrup piringan bawah.
5. Putar teropong dan arahkan teropong pesawat ke titik P2, baca dan catat
sudut horizontalnya yang sekaligus sebagai sudut azimuth. Bacaan ini
merupakan bacaan biasa untuk bacaan muka.
6. Dengan posisi pesawat tetap di titik P1, putar pesawat 180º searah jarum
jam, kemudian putar teropong 180º arah vertikal dan arahkan teropong ke
titik P2.
7. Melakukan pembacaan sudut horizontal. Bacaan ini merupakan bacaan luar
biasa untuk bacaan muka.
8. Putar teropong pesawat dan arahkan di titik P akhir dan lakukan pembacaan
sudut horizontal pada bacaan biasa dan luar biasa. Bacaan ini merupakan
bacaan belakang.
9. Dengan cara yang sama, dilakukan pada titik-titik poligon berikutnya hingga
kembali lagi ke titik P1.
10. Melakukan pengukuran jarak antar titik dengan meteran.
11. Melakukan perhitungan sudut pengambilan, sudut azimuth dan koordinat
masing-masing titik.
12. Menggambar hasil pengukuran dan perhitungan.
C. Pengukuran Water Pass
Langkah Kerja;
1. Menyiapkan alat ukur waterpass di atas kaki tiga, dan siapkan pula alat tulis
untuk mencatat hasil pengukuran
2. Buka kaki tiga dari pengunci
3. Berdirikan dan dalam keadaan tidak terkunci tinggikan sampai kira-kira
sebatas dada, kemudian kuncikan kembali
4. Renggangkan ketiga kakinya membentuk segitiga sama sisi dengan jarak
antar kaki sekitar 60 cm dan kepala kaki tiga dalam keadaan mendatar
5. Keluarkan alat ukur dari tempatnya, kemudian pasang di atas kepala kaki tiga
yang sudah disiapkan tadi, pasang skrup yang ada di kepada kaki tifa pada
lubang yang ada di bagian bawah alat ukur cukup kuat agar antara kaki tiga
dan alat betul-betul menjadi satu kesatuan. Lalu injak alat injakan yang ada
di kaki tiga
6. Mengatur teropong sejajar dengan dua buah skrup pendatar
7. Putar kedua skup pendatar ke atas atau kebawah secara bersamaan dan
skrup ketiga sebagai pengatur sampingan, sampai gelembung nivo tepat
ditengah kotak
8. Untuk memenuhi syarat garis bidik sejajar garis nivo, atur gelembung nivo
tabungnya agar tepat ada ditengah dengan menggunakan skrup pengatur
nivo tabung
9. Arahkan tropong ke sasaran, berupa rambu ukur yang didirikan tegak diatas
titik pengukuran
10. Cek benang diafragma terlihat atau tidak. Bila tidak terlihat putar-putar skrup
pemokus difragma sampai benang diafragma tersebut terlihat jelas
11. Menentukan dua titik A dan B
12. Membagi panjang PQ dalam beberapa slag
13. Membaca benang tengah di tiap slag, dengan menganggap bacaan bt yang
berlawanan dengan arah pengukuran menjadi arah belakang (b), yang
searah menjadi arah muka (m) dan catat pada lembar kerja. Hitung beda
tinggi tiap-tiap slag.
D. Pengukuran Situasi, Potongan Memanjang dan Melintang
- Pengukuran situasi
Pengukuran situasi dilakukan dengan menggunakan electronic total station
(ets) atau dengan alat ukur teodolit dengan ketelitian bacaan ≤ 20”. Data
yang diukur mencakup semua obyek bentukan alam dan buatan manusia
yang ada disekitar bangunan rencana .
Pada pengukuran situasi tersebut, pengambilan titik ukur detail / rapat. Hal
ini karena pada lokasi disekitar rencana jembatan akan dilapangkan.
- Profil Memanjang
Pengukuran penampang memanjang dalam pelaksanaanya di lakukan
bersamaan dengan pengukuran sifat datar atau pengukuran penampang
melintang .
Pengambilan data penampang memanjang dilakukan dengan setiap
perubahan muka tanah dan sesuai dengan kerapatan detail yang ada
sepanjang trase. Pembacaan rambu harus di lakukan pada pada tiga benang
yaitu : benang atas, benang bawah, benang tengah
- Penampang Melintang
Pengukuran penampang melintang saluran di lakukan alat sipat datar pada
daerah datar dan terbuka, tetapi pada daerah dengan topografi
bergelombang dilakukan dengan menggunakan teodolit kompas dengan
ketelitian bacaan 20”.
Pengukuran penampang melintang saluran dilakukan tegak lurus dengan
ruas jalan. Pengambilan data dilakukan pada tiap perubahan muka tanah dan
sesuai dengan kerapatan detail yang ada dengan mempertimbangkan factor
skala peta yang dihasilkan dan tingkat kepentingan data yang akan
ditonjolkan,
Sketsa penampang melintang tidak boleh terbalik antara sisi kanan dengan
sisi kiri. Untuk mempermudah pengecekan, pada masing masing sisi koridor
di beri notasi yang berbeda, misalnya koridor sebelah kiri dari center line jalan
diberi notasi alphabetic dan untuk koridor sebelah kanan di beri notasi
numbers.
Pengukuran penampang melintang dilakukan dengan persyaratan : Kondisi
datar, landai dan lurus dilakukan pada interval tiap 50 m dengan lebar koridor
75 m ke kiri dan 75 m ke kanan AS trase jalan.
III. SOSIALISASI
- Persiapan.
1. Koordinasi,
Melakukan koordinasi dengan Camat, Lurah/Kepala Desa, Kadus, Kaling,
Bendesa adat dan Pekaseh di lingkungan setempat.
2. Penyiapan Tempat.
Lokasi tempat rapat disiapkan sesuai kesepakatan dengan pihak-pihak terkait
pada saat koordinasi.
3. Penyiapan Tenaga Ahli.
Menyiapkan tenaga ahli yang memiliki SKK dan minimal berpengalaman
selama 1 Tahun dibidang sumber daya air
-Materi Sosialisasi.
Materi sosialisasi mencakup: Tata cara memulai pekerjaan, Tatacara Pelaksanaan
Pekerjaan, Tatacara penanganan Bangunan-bangunan Suci, dan Tatacara
mengakhiri pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Materi sosialisasi dibuat sehingga
masyarakat setempat dapat memahami pentingnya kegiatan ini bagi dirinya dan
orang lain. Masyarakat harus diberi pemahaman tentang tata cara pelaksanaan
pekerjaan, gangguan yang akan timbul dan cara mengatasi permasalahan
darurat. Untuk itu materi sosialisasi adalah berupa makalah, leaflet, animasi, atau
hal-hal lain sesuai dengan permintaan tokoh masyarakat setempat.
Materi sosialisasi sekuraung-kurangnya memuat:
1. Rencana dan Kegiatan Secara umum.
2. Waktu Pelaksanaan.
3. Metode Pelaksanaan Pekerjaan.
4. Gangguan dan hambatan yang akan timbul.
IV. PEKERJAAN TANAH
A. Pekerjaan Galian Tanah Biasa
1. Tahapan Pekerjaan:
a. Melakukan penandaan pada lokasi yang diperlukan, panjang, arah aliran
dan kelandaian , sesuai gambar atau sesuai perintah Direksi Pekerjaan.
b. Penggalian secara manual dengan ukuran dan kelandaian galian sesuai
ambar, hasil galian dipindahkan dengan dump truck ke lokasi yang tepat
dan diratakan sehingga dapat mencegah dampak lingkungan yang
mungkin terjadi.
c. Sekelompok pekerja akan merapikan hasil galian.
d. Selama proses pengerjaan, petugas lalu lintas memasang rambu
peringatan adanya pekerjaan jalan sekaligus mengatur arus lalu lintas.
e. Bersama direksi melakukan pemeriksaan akhir terhadap pelaksanaan
pekerjaan.
f. Mendokumentasi hasil pekerjaan sebagai bahan laporan.
B. Pekerjan Timbunan dan Pemadatan
1. Tahapan Pekerjaan:
a. Bersama direksi melakukan pemeriksaan terhadap titk-titik timbunan.
b. Sebelum mulai menimbun permukaan tanah digaruk sampai kedalaman
yang lebih besar dari retak-retak tanah yang ada dan paling tidak sampai
kedalaman 0,15 m, dan kadar air dari tanah yang digaruk selalu dijaga
secara baik.
c. Penimbunan lapis demi lapis dengan ketebalan maksimum hamparan
material sebelum dipadatkan 30 cm. Penghamparan dan pemadatan
material pada sisi kemiringan luar atau dalam dilebihkan minimal 30 cm
dari garis rencana agar pada saat setelah perapian didapat kepadatan
yang sama diseluruh bidang rencana dan pemadatan menggunankan alat
pemadat/stamper.
d. Sekelompok pekerja akan merapikan hasil timbunan.
e. Selama proses pengerjaan, petugas lalu lintas memasang rambu
peringatan adanya pekerjaan jalan sekaligus mengatur arus lalu lintas.
f. Bersama direksi melakukan pemeriksaan akhir terhadap pelaksanaan
pekerjaan.
g. Mendokumentasi hasil pekerjaan sebagai bahan laporan.
V. PEKERJAAN DEWATERING
A. Pekerjaan Kistdam
Kisdam dibuat dari tanggul (timbunan tanah yang dipadatkan) atau dari turap
dari baja (sheet pile) yang diisi tanah timbunan untuk mencegah agar air tidak
masuk atau untuk mengalihkan aliran air dari daerah yang ada di dalam kisdam
yang akan merupakan daerah kerja. Biasanya di dalam kisdam kemungkinan
masih ada / banyak air. Sehingga air tersebut perlu dikeluarkan agar daerah
kerja tersebut tetap kering, dengan menggunakan pompa. Pekerjaan kisdam
diikuti oleh pekerjaan pengeringan.
VI. PEKERJAAN PASANGAN
A. Pasangan Batu Kali
Tahapan Pekerjaan:
a. Semen, pasir dan air dicampur dengan perbandingan 1 PC : 4 Ps (5,2
Mpa) dan diaduk menjadi mortar dengan menggunakan Concrete Mixer.
b. Batu dibersihkan dan dibasahi seluruh permukaannya sebelum dipasang.
c. Pembuatan profil tiap jarak 10 m kecuali pada tempat-tempat tertentu sesuai
petunjuk Direksi.
d. Penyelesaian dan perapihan setelah pemasangan.
e. Selama proses pengerjaan, bahan di tempatkan pada tempat yang tidak
mengganggu lalulintas kendaraan. Petugas lalu lintas memasang rambu
peringatan adanya pekerjaan jalan sekaligus mengatur arus lalu lintas.
f. Mendokumentasi hasil pekerjaan sebagai bahan laporan
B. Pekerjaan Plesteran
Tahapan Pekerjaan:
a. Semen, pasir dan air dicampur dengan perbandingan 1 PC : 3 PP (12,5
Mpa) dan diaduk menjadi mortar dengan menggunakan Concrete Mixer.
b. Sebelum plesteran dimulai, permukaan pasangan dibersihkan dan dibasahi
dulu dengan air.
c. Pemelesteran dengan ketebalan rata-rata 1,5 cm
d. Penyelesaian dan perapihan setelah pelesteran.
e. Selama proses pengerjaan, bahan di tempatkan pada tempat yang tidak
mengganggu lalulintas kendaraan. Petugas lalu lintas memasang rambu
peringatan adanya pekerjaan jalan sekaligus mengatur arus lalu lintas.
f. Mendokumentasi hasil pekerjaan sebagai bahan laporan
C. Pekerjaan Siaran
Tahapan Pekerjaan:
a. Semen, pasir dan air dicampur dengan perbandingan 1 PC : 2 PP (17,2
Mpa) dan diaduk menjadi mortar dengan menggunakan Concrete Mixer.
b. Sebelum disiar bidang muka pasangan dibasahi dulu dan dibersihkan dari
kotoran yang melekat pada pasangan.
c. Pekerjaan siaran dengan ketentuan siar tenggelam (masuk ke dalam 1 cm),
siar rata (rata dengan muka batu), dan siar timbul (timbul dengan tebal 1
cm, lebar 2 cm)
d. Penyelesaian dan perapihan setelah siaran selesai.
e. Selama proses pengerjaan, bahan di tempatkan pada tempat yang tidak
mengganggu lalulintas kendaraan. Petugas lalu lintas memasang rambu
peringatan adanya pekerjaan jalan sekaligus mengatur arus lalu lintas.
f. Mendokumentasi hasil pekerjaan sebagai bahan laporan
D. Pekerjaan Lantai Rabat Beton K.125 tebal 5 Cm
Tahap Pekerjaan :
1. Bahan-bahan untuk campuran beton (semen, pasir, aggregat kasar dan air)
2. Material (pasir, semen, aggregat kasar) pencampuran dilakukan
menggunakan concerete pan mixer.
3. Bersihkan lantai kerja,
4. Adukan beton menggunakan concerete mixer dan dituang ke dalam lantai saluran
irigasi
5. Permukaan beton dibentuk dan diratakan perlahan-lahan menggunakan
Towel dan dilanjutkan menggunakan mistar lurus sampai permukaan
menjadi rata dan halus.
VII. MANAJEMEN PROYEK
1. Struktur Organisasi
Proyek ini akan dikerjakan oleh Tim Kerja yang dikendalikan oleh
seorang Site Manager yang memiliki Sertifikat Ahli Sumber Daya Air dengan
dibantu oleh Administrator, Logistic dan Pelaksanan. Pelaksana di bantu oleh
Mandor dan Juru Ukur. Personil
inti lebih diprioritaskan yang mempunyai sertifikat irigasi dan pengalam
an pekerjaan sejenis. Berikut bentuk struktur organisasi dalam Pembangunan
Jaringan Irigasi Desa Kalpataru.
2. Komunikasi
Pengelolaan komunikasi di lapangan antara lain terdiri dari;
· Komunikasi antar personil inti.
· Komunikasi antara anggota tim proyek dengan berbagai agen perusahaan
pemasok, penyewaan, dan sebagainya.
· antara kantor pusat dan lapangan
· Antara proyek dengan pemerintah atau masyarakat umum setempat.
Penyelenggaraan komunikasi yang lancar tentu akan menghasilkan kinerja
yang baik bagi konstruksi.
VIII. METODE PELAKSANAAN MANAJEMEN
1. Tenaga Kerja
Dalam manajemen tenaga kerja terdapat proses pengambilan keputusan yang
berhubungan dengan:
1. Penentuan ukuran dan jumlah tenaga kerja.
2. Recruitment dan pembagian tenaga kerja kedalam kelompok kerja.
3. Komposisi tenaga kerja untuk setiap jenis pekerjaan.
4. Pengendalian jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan selama proyek
berlangsung.
5. Perencanaan, penjadualan, pengarahan dan pengawasan kegiatan tenaga
kerja.
2. Pemilihan Alat
1. Memastikan alat dirawat sesuai prosedur
2. Mengganti alat yang tidak sesuai atau tidak cocok.
3. Memastikan tersedianya suku cadang di proyek terutama pada elemen alat
yang bersifat aus
4. Bila perlu menambah jumlah alat sehingga mencukupi kebutuhan
pelaksanaan
5. Mengganti alat yang memiliki kapasitas yang lebih besar
6. Membuat sumber tenaga listrik cadangan. Kerusakan genset akan
menghentikan hampir seluruh pekerjaan.
3. Bahan/Material
a) Pemilihan Material
Untuk pemilihan material permanen pada suatu proyek konstruksi, harus
sesuaidengan ketentuan yang tertera dalam gambar kerja dan spesifikasi
yang terdapatdalam kontrak
b) Pemilihan Pemasok Material
Pemilihan pemasok material pada dasarnya ditentukan pada penawaran
harga terendah, namun ada beberapa faktor lain yang dipertimbangkan
sebelum memutuskan, yaitu :
- Kehandalan pemasok
- Ukuran pemasok
- Layanan purna jual yang ditawarkan pemasok
- Syarat pembayaran yang diminta oleh pemasok
- Kualitas material yang dipasok
- Kemampuan pemasok untuk menyediakan material dalam keadaan
tidak terjadwal
c) Pembelian Material
Pengendalian pembelian dilakukan oleh petugas pembelian dengan
menggunakan buku pesanan pembelian yang dibuat dalam beberapa
rangkap. Masing-masing rangkap diserahkan kepada pihak-pihak yang
terkait untuk kelengkapan administrasi proyek. Rincian yang harus
dimasukkan dalam buku pesanan pembelian adalah :
- Nama dan alamat pemasok
- Nama orang yang memesan material
- Rincian material yang dibutuhkan
- Perintah penyerahan material
- Harga material yang dipesan
- Nama petugas yang bertanggung jawab terhadap pembelian material.
- Rincian untuk administrasi akutansi biaya pembelian material
d) Pengiriman Material
Pengiriman material berdasarkan surat permintaan pembelian material
yang telah disetujui dengan jaminan bahwa material yang akan dikirim
pemasok sesuai dengan spesifikasi dan dikirim ke lokasi yang tepat dan
waktu yang diminta. Bagian pengiriman material juga harus mengatur
persetujuan bea Cukai, pembayaran tarif impor, mendapatkan izin impor
dan lain-lain. Bila pemasok tidak bisa menyanggupi pengadaan material
yang dibutuhkan pada waktu dantempat yang telah ditetapkan, maka
bagian pengirirman material mengambil langkah-langkah untuk
menyelesaikan masalah tersebut, langkah-langkah yang mungkin
dilakukan adalah :
- Mengubah material yang diminta "misalnya merk atau ukuran# yang
telahmendapat persetujuan lebih dahulu dari pihak yang berwenang.
- Mengatur dan melakukan uji coba pada material yang tidak standar
untuk memgetahui kinerja dari material tersebut.
- Membatalkan pesanan dan memesan pada pemasok lain.
e) Penerimaan Material
Material-material yang dipasok merupakan suatu hasil dari surat
permintaan pembelian yang wajib diperiksa pada saat penyerahan oleh
bagian logistik. Sebelum material dibongkar, petugas logistik memeriksa
terlebih dahulu bahwa material-material yang diserahkan benar-benar
material pesanan yang merupakan bagian dari pelaksanaan proyek. Hal-
hal yang perludi periksa oleh petugas logistik adalah :
- Material yang diserahkan telah diuji coba dan disetujui sesuai dengan
spesifikasi.
- Kuantitas material pada saat diserahkan harus sama dengan
permintaan.
- Kualitas material merk harus sama dengan catatan penyerahan.
- Material-material yang diserahkan harus dalam susunan yang baik.
Setelah petugas gudang selesai memeriksa penyerahan material dan
hasilnya baik, maka catatan penyerahan yang terdiri dari 2 rangkap
sebagai bukti tanda terima
harus ditandatangani. (angkap pertama dikembalikan kepada petugas
yang menyerahkan sedangkan rangkap kedua disimpan sebagai arsip yang
digabungkan dalam satu gandaan surat permintaan pembelian sebagai
laporan untuk kelengkapan administrasi. Laporan-laporan ini akan
dijadikan dokumen yang akan diserahkan pada pemegang pembukuan
sebagai informasi perihal penerimaan material yang dipesan, sehingga
dapat mempersiapkan pembayaran kepada pemasok ketika mengajukan
penagihannya.
f) Penyimpanan Material
Penyerahan material yang sudah sesuai dan dapat diterima harus disimpan
dengan baik oleh petugas logistik. Petugas logistik ini bertanggung jawab
dalam menjaga dan menyimpan meterial-material yang diserahkan antara
waktu penyerahan sampai dengan material tersebut dikeluarkan dari
logistik yang akan digunakan dalam pelaksanaan proyek konstruksi. spek
utama manajemen material adalah aspek keamanan fisik dan selalu siap
(availibility). Pemeriksaan secara periodik terhadap material-material yang
disimpan harus diadakan untuk memperkuat catatan petugas logistik agar
tidak terjadi perbedaan jumlah material yang disimpan dengan catatan
yang ada.
g) Pengeluaran Material
Semua material yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pembangunan
proyek konstruksi tercatat dan tersimpan di dalam gudang. Sehingga untuk
penggunaan material tersebut harus dikeluarkan dari gudang
penyimpanan dengan melengkapi
berita acara pengeluaran material yang dikeluarkan dari gudang
penyimpanan dengan melengkapi berita acara pengeluaran material yang
dikeluarkan oleh petugas gudang. Berita acara ini berisi informasi tentang
jumlah dan jenis material yang diambil, maksud penggunaan material dan
informasi-informasi lainnya yang terkait dengan material yang
dibutuhkan. Petugas gudang harus dapat menjamin bahwa material yang
keluar dari gudang benar-benar untuk kepentingan pelaksanaan
pembangunan proyek dan sesuai dengan daftar rincian dalam berita
acara. Berita acara pengeluaran dari gudang harus diperiksa oleh yang
bertanggung jawab untuk menjamin :
- Material yang dikeluarkan dari gudang dibutuhkan dan benar-benar
digunakandalam pelaksanaan pembangunan proyek.
- nformasi yang terdapat dalam berita acara pengeluaran adalah benar
yangdiperlukan untuk proyek.
Bahan permanen dan bahan sementara yang dikeluarkan dari gudang akan
digunakan dalam pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi,
selanjutnya petugas gudang tidak mempunyai kepentingan lagi terhadap
material-material tersebut. Untuk bahan sementara bila sudah tidak
digunakan, akan dikembalikanlagi ke gudang penyimpanan yang akan
digunakan pada pelaksanaan pembangunan proyek lainnya (sebagai
contoh : cetakan, pompa, molen, dan lain-lain).
Tanggung jawab atas keamanan bahan konstruksi yang harus
dikembalikan harus tetap atas nama orang yang bertanggung jawab atas
dikeluarkannya barang tersebut. Petugas gudang juga harus dapat
menjamin bahwa semua barang yang dipulangkan telah dibersihkan dan
dapat beroperasi penuh. Bila dibutuhkan perbaikan, petugas gudang harus
memperbaiki secepatnya, sehingga barang tersebut siap pakai bila tiba-
tiba dibutuhkan.
4. Pengamanan ( Security )
Untuk pengawasan dan pengamanan proyek, CV. Sarana Bali akan
menyediakan tenaga keamanan sesuai dengan kebutuhan, yang bertugas
dalam hal :
- Pengamanan terhadap proyek pada umumnya
- Pengamanan terhadap bahan-bahan dan peralatan untuk pencegahan dari
pencurian
- Pengamanan dan Pengaturan lalu lintas/lingkungan sekitar pada saat
pelaksanaan proyek
- Menjaga dan membina hubungan baik dengan masyarakat sekitar lokasi
proyek, agar pelaksanaan proyek mendapat dukungan dari lingkungan
setempat sehingga tidak mendapat kendala dari lingkungan/masyarakat
sekitar.
5. Program K3
Pelaksanaan K3 dilakukan sesuai dengan Rencana Usulan Keslamatan dan
Kesehatan Kerja. Pelaksanaan K3 meliputi:
a. Menyusun instruksi kerja.
b. Menyediakan peralatan keselamatan kerja seperti helm, sarung tangan,
sepatu keselamatan.
c. Membuat rambu-rambu keselamatan.
d. Menyediakan perlengkapan P3K.
e. Melakukan pelatihan kepada pekerja tentang keselamatan dan kesehatan
kerja.
6. Metode Pengendalian Proyek
Pengendalian proyek bertujuan sebagai instrumen pengontrol progress
pelaksanaan pekerjaan dilapangan. Apabila terjadi permasalahan teknis
maupun non teknis pada saat pelaksanaan proyek atau indikasi-indikasi
permasalahan yang muncul, maka sesegera mungkin dicari jalan
penyelesaiannya. Hal tersebut dimaksudkan agar keterlambatan yang terjadi
diproyek dapat diantisipasi atau dikejar di masa yang akan datang dan tidak
terlalu berdampak buruk pada pekerjaan-pekerjaan berikutnya. Hal-hal yang
menjadi fokus pengendalian proyek, adalah:
- Waktu yang telah digunakan terhadap rencana
- Besar progress kemajuan proyek
- Mutu konstruksi yang telah dilaksanakan
- Biaya yang telah digunakan terhadap rencana
- Jumlah tenaga kerja yang digunakan
- Jumlah dan mutu material yang akan digunakan/dipasang
7. Jadwal Pekerjaan
Jadwal Pekerjaan akan dijabarkan lebih detail (bulanan dan mingguan) dan
akan dimonitor secara cermat menggunakan laporan harian dan mingguan.
Pengontrolan secara keseluruhan akan dituangkan dalam bentuk Bar Chart.
Aktivitas yang ditunjukkan pada Bar Chart terdiri dari waktu untuk persiapan
dan persetujuan gambar-gambar dan contoh-contoh, pengadaan bahan, dan
peralatan. Kemajuan pekerjaan selanjutnya akan diplot dalam kurva-S yang
menunjukkan perbandingan antara kemajuan pekerjaan dengan jadwal yang
direncanakan. Berikut Bar Chart dan Kurva S pada proyek Pembangunan
Jaringan Irigasi Desa Kalpataru
8. Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
Pengelolaan dan Pemantauan terhadap lingkungan di sekitar pekerjaan antara
lain;
a. Pengumpulan hasil galian dan perlindungan saat hujan.
Tanah galian langsung diangkut deng Dump Trruck ketempat
pembuangan sementara untuk yang akan digunakan kembali. Temapat
pembuangan sementara dipastikan aman saat terjadi hujan.
b. Pembuangan tanah secara periodik
Pembuangan tanah dilakukan secara periodik untuk menghidari longsor
dan dampak lingkungan lainnya
c. Pemberian MCK yang layak atas petunjuk Direksi
Tempat MCK yang layak perlu disedikan untuk menjaga kebersihan dan
mencegah terjadinya pencemaran lingkungan
IX. KOORDINASI ANTAR DISIPLIN
Untuk koordinasi dalam pelaksanaan proyek, maka rapat-rapat akan dilaksanakan
secara rutin antara pihak Kontraktor, Konsultan Pengawas, dan Direksi Pekerjaan
sebagaimana dituang dalam kontrak. Demikian juga rapat internal antar bagian
dalam organisasi kontraktor akan dilaksanakan minimal 1 (satu) kali dalam 1 (satu)
minggu dan berfungsi membahas dan koordinasi pelaksanaan pekerjaan,
permasalahan dan penyelesaiannya serta program pelaksanaan di lapangan. Hal
tersebut bertujuan agar tercipta suasana komunikasi kerja yang harmonis sehingga
mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan. Disamping itu kontraktor pelaksana
juga menerapkan sistem koordinasi yang sinergis antara semua pihak yang terkait
dalam kegiatan ini. Dalam pelaksanaan sistem koordinasi tersebut terdapat garis
instruksi, garis koordinasi, dan garis konsultasi antara beberapa pihak tertentu.
Garis instruksi merupakan garis/hubungan pemberian instruksi/tugas pelaksanaan
pekerjaan dari hirarki yang lebih tinggi (dalam hal ini pemberi tugas) ke pihak
pelaksana (kontraktor dan konsultan). Garis koordinasi adalah garis/hubungan
pertanggungjawaban pelaksanaan pekerjaan dan hubungan koordinatif dari pihak
pelaksana (kontraktor dan konsultan) ke hirarkhi yang lebih tinggi (pemberi tugas),
sementara garis konsultasiadalah hubungan/garis dari dua belah pihak (kontraktor
dan konsultan) yang sejajar kedudukannya yang bersifat konsultatif. Adapun
hubungan antara pemberi tugas, direksi lapangan, konsultan perencana, konsultan
pengawas, dan kontraktor di gambarkan seperti bagan dibawah ini :
Gambar Diagram Koordinasi
XI. QUALITY CONTROL
Untuk menjamin agar diperoleh hasil kerja yang baik sesuai dengan mutu yang
disyaratkan, perlu dilakukan pengendalian proses dan pengawasan mutu (Quality
Control ) terhadap pelaksanaan pekerjaan yang antara lain, adalah:
- Seluruh material yang digunakan
- Pemilihan tenaga kerja
- Perawatan alat
- Test material di laboratorium dan lapangan
Melakukan pemeriksaan secara teratur, baik terhadap bahan-bahan yang
digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan, maupun terhadap cara pelaksanaan
pekerjaan sendiri. Meskipun untuk hal-hal tersebut di atas sudah ada
penanggungjawabnya langsung, kiranya perlu ditunjuk petugas khusus quality
control yang dikoordinasikan oleh bagian teknik dan melakukan proses Quality
Control dan prosedurnya yang telah berlaku diproyek yang dilaksanakan oleh
Konsultan Supervisi maupun kontraktor pelaksana
Manajemen mutu di proyek akan melaksanakan semua kegiatan sistematik dan
terencana yang diterapkan sebagai bagian dari sistem mutu perusahaan untuk
menjamin bahwa proses pelaksanaan di proyek secara terkendali dan konsisten
dapat mencapai semua sasaran dan persyaratan mutu yang diminta dalam
gambar-gambar pelaksanaan dan spesifikasi pekerjaan pengendalian mutu di
pelaksanaan akan dapat dijalankan dengan baik dengan adanya:
- Sasaran mutu yang jelas
- Sumber daya manusia yang profesional dan tanggung jawab yang jelas
- Organisasi proyek yang handal
- Sistem dan prosedur mutu yang baku
- Penerapan manajemen mutu yang konsisten
X. PENUTUP
Demikian secara singkat metode pelaksaan yang akan kami laksanakan
di lapangan apabila kami ditunjuk untuk melaksanakan pekerjaan dan uraian
langkah-langkah kerja secara detail akan kami konsultasikan dengan direksi
lapangan maupun dengan pihak proyek.| Authority | |||
|---|---|---|---|
| 11 July 2021 | Pembangunan Rkb Sdn Kelas Jauh 172 Tomoni Kec. Tomoni | Kab. Luwu Timur | Rp 678,000,000 |
| 6 August 2021 | Lanjutan Pembangunan Bronjong Desa Ussu | Kab. Luwu Timur | Rp 300,000,163 |
| 12 February 2024 | Pembangunan Jaringan Irigasi Tersier Desa Kalpataru | Kab. Luwu Timur | Rp 281,192,588 |