| Reason | |||
|---|---|---|---|
| 0316073048807000 | Rp 5,789,627,489 | - | |
| 0827578899805000 | - | - | |
| 0316900596955000 | - | - | |
| 0822625638803000 | Rp 5,899,000,000 | Daftar Peralatan Utama yang disampaikan tidak sesuai dengan Surat perjanjian sewa Peralatan yang yang dilampirkan | |
| 0733138127809001 | Rp 5,796,013,140 | Surat perjanjian sewa Peralatan yang disampaikan tidak sesuai dengan bukti peralatan yang dilampirkan | |
| 0439363805807000 | Rp 5,614,664,000 | Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK) yang disampaikan tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam dokumen pemilihan | |
| 0028567949815000 | Rp 5,421,964,034 | Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK) yang disampaikan tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam dokumen pemilihan | |
| 0016295362803000 | Rp 5,755,360,700 | Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK) yang disampaikan tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam dokumen pemilihan | |
CV Jagoan Bung Sejahtera | 06*6**7****01**0 | - | - |
Dwi Karya Konstruksi | 06*8**7****03**0 | - | - |
| 0661550251803000 | - | - | |
| 0932139165807000 | - | - | |
| 0028212173805000 | - | - | |
| 0026874032803000 | - | - | |
| 0729115360803000 | - | - | |
| 0808330807805000 | - | - | |
| 0029744034801000 | - | - | |
CV Fawwaz Mulya Abadi | 00*9**5****01**0 | - | - |
| 0028543130807000 | - | - | |
| 0032811168805000 | - | - | |
| 0028101640803000 | - | - | |
| 0317274397804000 | - | - | |
| 0032773327803000 | - | - | |
| 0752375386803000 | - | - |
PEKERJAAN LANJUTAN PEMBANGUNAN GEDUNG PEMUDA
DINAS PARIWISATA, KEPEMUDAAN
DAN OLAHRAGA
KAB.LUWU TIMUR
DATA TEKNIS
NAMA PROYEK : PEMBANGUNAN GEDUNG PEMUDA
JENIS PEKERJAAN :
1. Pekerjaan Pendahuluan
2. Pekerjaan Arsitektur
3. Pekerjaan Mekanikal
4. Pekerjaan Elektrikal
5. Pekerjaan Plumbing
6. Pekerjaan Akhir/Finishing
Lingkup kerja :
Hal – hal yang diperhatikan untuk memperlancar proses pelaksanaan pekerjaan di lapangan :
1. Rencana Metode Pelaksanaan
• Barchart
• Kurva S
2. Rencana Managemen Proyek
• Managemen Proyek
• Struktur Organisasi
• Job Description
3. Rencana Penanganan Peralatan dan Perlengkapan
• Rencana Kebutuhan Peralatan
• Rencana Kebutuhan Perlengkapan
4. Rencana Penanganan Site Management
• Rencana Pengamanan terhadap Site
• Rencana Penempatan direksi keet, gudang material, dan air kerja
• Peta Sirkulasi penempatan material utama dan Pendukung
• Peta Sirkulasi buangan sisa material dan galian
5. Rencana kerja Penanganan Pekerjaan Utama/ Penunjang
6. Rencana Kerja Metode Kendali Mutu
7. Spesifikasi Teknis bahan/ Material/ barang
8. Rencana Pengendalian mutu
Page 2
PENDAHULUAN
Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka diperlukan Manajemen Proyek yang baik dan struktur organisasi
dengan pembuatan pembagian (Job Description ) yang jelas dan penempatan tenaga ahli yang berpengalaman.
Pelaksanaan atau pekerjaan proyek ini harus di mulai dengan penyusunan perencanaan, penyusunan
jadwal (penjadwalan) dan untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan perencanaan diperlukan
pengendalian.
LINGKUP MANAJEMEN PROYEK
Ada tiga garis besar untuk menciptakan berlangsungnya proyek ini bisa berjalan lancar sesuai dengan yang di atur
dalam dokumen penawaran yaitu proyek ini diselesaikan dalam waktu yang sudah ditentukan :
PERENCANAAN
Untuk mencapai tujuan, proyek ini kami rencanakan dengan matang.Yaitu dengan meletakkan dasar tujuan dan
sasaran dari proyek sekaligus menyiapkan segala program teknis dan administrasi agar dapat
diimplementasikan.Tujuannya agar memenuhi persyaratan spesifikasi yang ditentukan dalam batasan waktu, mutu,
biaya dan keselamatan kerja. Perencanaan system manajemen proyek ini untuk memastikan hal-hal yang
berkaitan dengan biaya, waktu, mutu, K3, Manajemen sumber daya manusia, lingkungan, resiko dan system
komunikasi.
Hal – hal yang menjadi rencana metode pelaksanaan untuk menjalankan proyek tersebut diatas adalah sebagai
berikut :
1. Rencana Metode Pelaksanaan
2. Rencana Penanganan Site Manajemen
3. Rencana Manajemen Proyek
4. Rencana Penanganan Peralatan dan Perlengkapan
5. Rencana Pengananan Item Pekerjaan Utama/ Penunjang
6. Rencana Kerja Penanganan Manajemen Mutu
7. Rencana Penanganan Masa Pemeliharaan
Page 3
A. RENCANA METODE PELAKSANAAN
DIAGRAM ALIR TAHAPAN PELAKSANAAN PROYEK
E
START
PEKERJAAN
PERSIAPAN
PAPAN NAMA SURVEY/PENG
GUDANG BAHAN
PROYEK UKURAN
DAN MATERIAL
PEKERJAAN
ARSITEKTUR
PEKERJAAN
PEKERJAAN
MEKANIKAL
ELEKTRIKAL
PEKERJAAN
PLUMBING
FINISH
Page 4
GENERAL BAR CHART :
SPMK Pekerjaan Pelaksanaan Pelaksanaan PHO
Pelaksanaan
MCO
Persiapan Pek. Asitektur
Pek.
Pek. Finishing
START
Mekanikal,
Elektrikal,
Plumbing
KURVA S / TIME SCHEDULE :
Terlampir ......................................................................................
B. RENCANA PENANGANAN SITE MANAGEMENT
Rencana Penanganan Site Management
• Lokasi
• Rencana Pengamanan terhadap Site
• Rencana Penempatan direksi keet, gudang material, dan air kerja
• Peta Sirkulasi penempatan material utama dan Pendukung
• Metode Pelaksanaan Lalu Lintas Aktivitas Proyek dan Jalur sementara Keluar – Masuk
• Sirkulasi buangan sisa material dan galian
Page 5
C. RENCANA MANAGEMEN PROYEK RENCANA
SISTEM MANAJEMEN PROYEK
BAGAN RENCANA PELAKSANAAN PROYEK
Kerangka Project Planning Cycle
1
SPMK ➔ MCO
Managemen Poryek
Menyelesaikan Proyek
2
sesuai waktu, budget
Metode
9
Serah
Persiapan
Metode
Rencana Pelaksanaan Lalu 3
8 PROYEK
Penanganan Masa
Metode Pelaksanaan
Test Commisioning
Kawasan
+ PHO
4
7
Metode
Rencana
Pelaksanaan
5
6 Manajemen Mutu
Bangunan
+ K3
MANAJEMEN PROYEK (MENYELESAIAKAN PROYEK SESUAI WAKTU, BUDGET DAN BERMUTU)
Managemen Proyek Adalah Semua Perencanaan, Pelaksanaan, Pengendalian Dan Koordinasi Suatu Proyek
Dari Awal (Gagasan) Hingga Berakhirnya Proyek Untuk Menjamin Pelaksanaan Proyek Secara Tepat Waktu,
Tepat Biaya Dan Tepat Mutu.
Implikasi Ciri-Ciri Proyek Dalam Praktek Yg Harus Dipahami :
Proyek Harus Dimanajemeni Atas Dasar Per Phase Dari Siklus Hidupnya Dgn Tanggung Jawab Yg Maksimum
Serta Perencanaan Dan Pengendalian Yang Terintegrasi.
Orentasi Pada Proses Dan Produk
Organisasi Proyek Harus Terkait Terus-Menerus Dgn Organisasi U Induknya.
Page 6
Keputusan-Keputusan Pd Phase-Phase Sebelumnya Mempunyai Dampak Yg Luas Dlm Waktu Dan Biaya
Penyelesaian Proyek.
Kebutuhan Akan Manajemen Proyek
Manajemen Proyek Belum Menjamin Sepenuhnya Terlaksana Proyek, Perlu Didukung Pengembangan Teknologi.
Manajemen Proyek Lebih Menekankan Perencanaan Pengendalian Dibanding Dgn Manajemen Dari Departemen
Fungsional, Ditekakkan Pula Kepemimpinan Dan Kerjasama Serta Mendasrkan Pd Faktor Hasil Karya Dan Usaha
Pencapainya.
Page 7
D. RENCANA STRUKTUR ORGANISASI
E. RENCANA PENANGANAN PERALATAN DAN PERLENGKAPAN
RENCANA KEBUTUHAN PERALATAN
KEBUTUHAN PERALATAN
DUMP TRUK 3,5 Ton = 2 UNIT
SCAFHOLDING = 10 SET
Page 8
Theodolite = 1 UNIT
Mesin Las = 2 UNIT
GENSET = 2 UNIT
STAMPER = 1 UNIT
ALAT BOR DINDING = 4 UNIT
KERETEA DORONG = 5 BUAH
Page 9
F. RENCANA KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR, MATERIAL DAN PENDUKUNG
Persiapan Insfrastruktur Proyek
1) Jalan Akses dump truck dan kendaraan pengangkut material
2) Lahan parkir dan maneuver truk
c. Persiapan Material & Water Supply
Digunakan untuk kebutuhan cuci mixer, washing box dan lain – lain. Kesiapan
Peralatan
1. Pompa air : 1 Buah
2. Troli : 5 Buah
3. Perlengkapan tukang batu, tukang kayu, tukang besi Kesiapan
Material
1) Semen, pasir pasang dan pasir beton, split (Chipping)
2) Bahan Bekisting ( Multiplex, Balok kayu kls. III, Papan Kayu Kayu Kls III)
3) Bahan Besi untuk Railing Tangga
G. RENCANA KERJA PENANGANAN PEKERJAAN UTAMA/ PENUNJANG
PEKERJAAN PERSIAPAN
MOBILISASI DAN DEMOBILISASI
Yang dimaksud dengan mobilisasi dan demobilisasi alat bantu adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan
transportasi peralatan yang akan dipergunakan dalam melaksanakan paket pekerjaan. Dengan memperhitungkan
semua biaya yang diperlukan dalam rangkaian kegiatan untuk mendatangkan peralatan dan mengembalikannya
nanti bila pekerjaan telah selesai ke tempat semula.
Cara Pelaksanaan
a. Penyediaan Peralatan dan Personil
- Kita akan menyediakan peralatan dan personil sesuai dengan kebutuhan seperti yang termuat dalam
kontrak untuk menyelesaikan pekerjaan.
- Sebelum mobilisasi dilaksanakan, maka segera melaporkan kepada direksi untuk mendapatkan
persetujuan, dan bila dipandang perlu, direksi dapat meminta tambahan peralatan maupun personil.
Page 10
b. Program dan Pemberitahuan
- Kita membuat schedule mobilisasi peralatan dan personil yang dilengkapi dengan keterangan akan
jenis dan kapasitas peralatan yang akan didatangkan.
- Semua peralatan yang telah berada di lokasi pekerjaan, bila sudah tidak diperlukan, dapat dipindahkan
dari areal pekerjaan dengan seijin direksi.
PEKERJAAN BARAK KERJA, GUDANG
Gudang Material untuk menunjang kelancaran dan keamanan pekerjaan penyediaan gudang material sangat
diperlukan. Gudang yang akan kami buat adalah untuk kebutuhan semen dan bahan-bahan lainnya serta
peralatan mesin-mesin misalnya peralatan pengukuran, bor listrik dan lain-lain. Bedeng pekerja merupakan sarana
bagi para pekerja untuk beristirahat dan untuk sarana istirahat pekerja apabila jam kerja telah usai.
PEK. PAPAN NAMA PROYEK
Papan Nama Proyek akan dibuat dan dipasang pada awal pelaksanaan kegiatan. Papan Nama Proyek ini dibuat
dari triplek t. 6 mm dengan ukuran 100 x 120 cm, ditopang kayu kaso (5/7) kelas 2 (borneo)dengan tinggi 250 cm
dari permukaan tanah dan dicat dasar warna yang sesuai dan huruf cetak berwarna hitam yang berisi informasi
mengenai cakupan kegiatan yang akan dilaksanakan, antara lain :
Nama Kegiatan
Nama Penyedia Jasa
pekerjaan/ nilai kontrak Sumber dana dan
Jangka waktu Pelaksanaan
ADMINISTRASI, DOKUMENTASI DAN K3
Mempersiapkan format pelaporan progress kemajuan proyek yang disepakati dari Konsultan Supervisi, sehingga
begitu proyek mulai berjalan, bisa dibuat laporan-laporan yang diperlukan selama proyek. Selain itu diperlukan juga
membuat laporan foto-foto perkembangan proyek secara berkala sesuai tahapan pekerjaan di lapangan. Sehingga
semua proses pelaksanaan di lapangan terdokumentasi dengan baik dan lengkap. Untuk kelengkapan laporan
harus dibuat foto-foto dokumentasi ukuran 4 R, dibuat sebelum pekerjaan dimulai (0%), tahap pelaksanaan(5%),
hingga selesai (100%) dan setiap kali akan melakukan
tagihan/termyn, foto dokumentasi harus selalu diambil pada posisi yang sama untuk setiap kemajuan dan setiap
bagian yang penting.
SHOP DRAWING DAN ASBUILT DRAWING
Pekerjaan persiapan dari segi teknis untuk memulai pekerjaan adalah dengan mempelajari shop drawing sebagai
gambar kerja untuk proses pekerjaan. Setelah selesai pekerjaan akan di buat asbuild drawing mengacu pada
kondisi aktual yang terpasang di lapangan.
PENYEDIAAN PERLENGKAPAN K3 ( SAFETY SHOES, HELM, ROMPI, RAMBU-RAMBU DLL)
Page 11
Pada saat memulai proyek, mulai dipasang papan nama proyek dan rambu-rambu proyek seperti Pemberitahuan
Penggunaan Peralatan Safety, bendera K3. Sehingga pada saat aktivitas pekerjaan mulai dari persiapan sudah
dikerjakan dengan Safety First.
PENGURUSAN IJIN-IJIN PELAKSANAAN
Pengurusan ijin-ijin pelaksanaan
Sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai pihak kontraktor harus mengurus semua ijin-ijin yang diperlukan
sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan sampai selesai, serta menerima saran-saran dari instansi yang
berwenang seperti pihak pemilik proyek, Pemda Setempat, Kepolisian dan instansi lainnya.
Pekerjaan administrasi adalah membuat laporan-laporan perkembangan proyek secara berkala, yakni laporan
progres harian dan mingguan ataupun bulanan beserta back up data nya. Untuk kelengkapan laporan harus dibuat
foto-foto dokumentasi ukuran 4 R, dibuat sebelum pekerjaan dimulai (0%), tahap pelaksanaan(5%), hingga selesai
(100%) dan setiap kali akan melakukan penagihan sesuai bobot pekerjaan/lapangan.
PENERANGAN PROYEK DAN AIR BERSIH
Metode Pelaksanaan Penyediaan Listrik Kerja.
Listrik kerja diperlukan untuk membantu pekerjaan fabrikasi bekisting, pemotongan besi, pompa air, penerangan
kerja serta power untuk mengoperasikan alat bantu kerja lainnya. Pengadaan listrik kerja dengan membuat
meteran listrik baru dengan pengajuan ke PLN atau dari Genset tergantung dari efisiensinya terhadap pelaksanaan
pekerjaan.
PENGADAAN AIR KERJA
Metode Pelaksanaan Air Kerja
Air kerja sangat diperlukan dalam menunjang pelaksanaan pekerjaan, dimana air kerja berfungsi untuk pekerjaan
dari awal sampai akhir proses pelaksanaan dilapangan, testing comissioning dan campuran adukan pekerjaan
lainnya. Untuk pengadaan air kerja diperlukan satu buah mesin pompa untuk distribusi air kerja. Pemasangan
pompa air dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan instalasi pipa ke sumber air untuk mendapatkan air kerja,
kemudian dilakukan pemasangan pipa dan kran air. Air untuk keperluan kerja ditampung dalam toren air atau drum
air. Air kerja dapat juga diperoleh dari sumber existing yang ada dengan penyambungan dan membayar sejumlah
biaya yang telah ditentukan.
Page 12
Page 13
PEK. PEMBERSIHAN LAPANGAN
Sebelum Pekerjaan dimulai terlebih dahulu dilakukan pembersihan lokasi dari sampah, puing, dan berbagai hal lain
yang dapat menggangu pelaksanaan pekerjaan. Pembersihan dilakukan dengan menggunakan bantuan alat.
Sampah-sampah yang dihasilkan dari pekerjaan ini dikumpulkan di suatu tempat yang telah disetujui oleh
pengawas.
Setelah pekerjaan pembersihan lapangan selesai dilakukan, barulah dilakukan pengukuran lokasi. Hal ini bertujuan
untuk menentukan letak bangunan, elevasi dan titik ikat (Bench Mark). Dalam pengukuran digunakan alat meteran
dan waterpass serta rambu ukur. Pengukuran ini dilakukan oleh seorang surveyor. Dan juga untuk daerah
permukaan tanah yang tidak rata agar terlebih dahulu melakukan perataan permukaan tanah dengan dengan cara
manual.
Pekerjaan pembersihan lapangan dilakukan sepanjang ada kegiatan di lapangan dari awal sampai akhir pekerjaan.
PEKERJAAN PENGUKURAN DAN PEMASANGAN BOUWPLANK
Untuk pengukuran pembangunan rumah sakit ini, Titik-titik yang menjadi acuan ditandai dengan menggunakan
patok atau marking pada bangunan/dinding eksisting, jika bangunan eksisting terlalu jauh, dibuatkan patok tetap
dari bahan balok 10x10 cm yang ditancapkan kedalam tanah secara vertikal dengan kokoh. Patok-patok marking
elevasi yang lain dapat terbuat dari kaso dengan panjang ± 1m yang ditancapkan kedalam tanah.
Pekerjaan pengkuran untuk Pembangunan Rumah Sakit Atue dilakukan menggunakan waterpass, pengukuran
dilaksanakan sekaligus membuat bouwplank. Bowplank terbuat dari papan yang bagian atasnya dipakukan pada
patok kayu persegi 5/7 cm yang tertanam dalam tanah cukup kuat. Untuk menentukan ketinggian papan
bouwplank secara rata bagian atasnya dari papan bowplank harus di waterpass (horizontal dan siku), sedangkan
untuk mengukur dari titik As ke As antar ruangan digunakan meteran. Setiap titik pengukuran ditandai dengan paku
dan dicat dengan cat merah dan ditulis ukuran pada papan bouwplank agar mudah di cek kembali. Pemasangan
papan bowplank dilaksanakan pada jarak 2,5 m dari As sekeliling bangunan dan dipakukan pada patok – patok
yang terlebih dahulu ditancapkan kedalam tanah.
Elevasi acuan lantai 0+000 sebagai acuan pemasangan keramik ditentukan oleh Pemberi Kerja. Elevasi 0+000
dapat mengacu bangunan eksisting terdekat, muka jalan terdekat atau acuan lain sesuai persetujuan Pemberi
Kerja. Titik atau elevasi acuan untuk penentuan elevasi rencana 0+000 yang telah disetujui Pemberi Kerja
dibuatkan Berita Acara sekaligus denah rencana bangunan 5 RKB.
Setelah titik sudut bangunan dan elevasi rencana ditentukan, marking- marking elevasi dibuat pada patok tetap
dan patok sementara. Patok tetap berarti bahwa tidak akan terganggu sampai selesainya pekerjaan, sedangkan
patok sementara umumnya dekat dengan lokasi kerja yang kemungkinan dibuka dan kalau diperlukan dimarking
kembali.
Papan bouwpank diputus pada bahagian tengah rancana denah agar memudahkan mobilisasi ke lokasi untuk
melangsir material dan pergerakan pekerja. Top elevasi papan bouwpank dibuat setinggi maksimal 50 cm untuk
lahan yang rata atau setinggi 100 cm untuk lahan yang kurang rata. Top elevasi papan bouwplank merupakan
elevasi pinjaman yang angkanya sudah ditentukan relatif terhadap elevasi 0+000 rencana (top elevasi keramik
rencana). Benang yang ditarik dari atas papan bouwplank untuk panduan sisi luar RKB harus siku (benang
memanjang dan melintang harus saling tegak lurus). Dilapangan dapat menggunakan ukuran segitiga siku-siku
sesuai dalil Phytagoras. Ukuran yang umum dipakai
Page 14
untuk menentukan sekaligus mengontrol siku tidaknya benang bouwplank adalah : a. 60 cm, 80 cm dan 100 cm; b.
50 cm, 120 cm dan 130 cm. C. 90 cm, 120 cm dan 150 cm atau ukuran-ukuran lain sesuai pengalaman dan
kebiasaan tukang dilapangan. Benang-bebang yang ditarik searah memanjang maupun arah melintang wajib
dikontrol ke-siku-annya, walaupun pengukuran dengan menggunakan waterpass, sekalian untuk cross ceck
akurasi kalibrasi Waterpass. Benang benang yang sudah disiku akan mencadi kontrol kelurusan dan elevasi galian
tanah, pasangan batu belah dan pekeraan sloof. Untuk kontrol pemasangan kolom, harus dibuatkan proyeksi
benang ke arah vertikal dengan tinggi 4 m (dengan menggunakan scaffolding atau steger). Garis as balok (atau
ring balok berimpit atau sejajar dengan sloof).
Gambar Contoh pelaksanaan Pekerjaan Bouplank
2.2 Pekerjaan Pendahuluan
Cakupan pekerjaan ini adalah :
a. Pengukuran dan pemasangan bouwplank dilaksanakan sesuai gambar kerja dan petunjuk pihak direksi atau dalam
hal ini konsultan pengawas.
b. Pembuatan bangsal kerja lengkap dengan kotak P3K dan menyediakan ruangan direksi oleh Penyedia
c. Penyedia Menyediakan Alat Pelindung Diri (ADP) pada para pekerja meliputi :
▪ Helm Pengaman
▪ Kacamata Pelindung
▪ Masker
▪ Sarung Tangan
▪ Sepatu pelindung
▪ Pelindung Telinga
▪ Rompi Safety
▪ Safety Belt
d. Pembuatan papan nama proyek dari papan dengan ukuran 200 x 100 cm. Didirikan di atas kayu 5/7 cm setinggi
240 cm, diletakkan pada tempat yang mudah dilihat umum. Papan nama proyek memuat :
➢ Nama Proyek
➢ Pemilik Proyek
➢ Lokasi Proyek
➢ Jumlah biaya ( kontrak )
➢ Nama konsultan
Page 15
➢ Nama Pelaksana
➢ Proyek dimulai Tanggal, bulan, tahun.
2.3. Pekerjaan Pasangan
1. Mutu dan bahan
a. Semen Portland.
Sement Portland yang digunakan adalah produksi dalam negeri dengan mutu yang baik ( tidak mengeras ) dan
telah ditetapkan pada PBI 1971 ( NI-8 ) seperti Semen tonasa atau Semen Bosowa.
b. Pasir dan kerikil.
Pasir pasangan dan kerikil yang digunakan asal lokal kategori tambang kelas C dan sesuai dengan PBI 1971 (
NI–2 )
d. Batu Bata
Batu bata yang digunakan asal lokal dengan ukuran 5 x 11 x 22 cm, tidak mudah pecah dan berkualitas baik.
e. Besi
Besi yang digunakan U24 Polos.
f. Kayu
Kayu yang digunakan dalam lingkup pekerjaan batu dan beton adalah kayu kelas III
g. Multipleks
Multiplex yang digunakan dalam lingkup pekerjaan ini adalah tripleks 9 mm.
i. Bahan Pendukung lainnya
Bahan pendukung lainnya adalah bendrat ( kawat pengikat tulangan), Paku, dan minyak bekisting yang
semuanya harus dengan mutu yang baik. Dan apabila ada tambahan bahan lain yang tidak mengurangi mutu
pekerjaan tersebut harus melalui persetujuan Direksi terlebih dahulu.
2. Pekerjaaan Beton Bertulang
a. Ketentuan umum
Untuk melaksanakan pekerjaan beton bertulang berlaku ketentuan – ketentuan dan syarat – syarat dalam PBI
1971, SK SNI T-15 1919.03 dan tidak ada satu bagian pekerjaan beton yang dapat di cor tanpa persetujuan
direksi teknis.
b. Bahan
➢ Semen Portland.
Semen Portland yang digunakan adalah semen yang masih berkualitas baik, butirannya halus tidak
membatu.
➢ Pasir dan Kerikil
Pasir pasangan dan kerikil digunakan asal local kategori tambang kelas C dan harus bersih dari bahan
organic. Tanah , lumpur dan tidak mengandung garam.
➢ Besi Beton.
❖ Besi beton yang digunakan adalah jenis baja mutu U24 polos dan memenuhi ketentuan PBI 1971
❖ Ukuran besi beton yang dipakai adalah :
Page 16
✓ Sloof dan Kolom
❖ Tulangan Pokok = Ø12, Ø10 (Zigma)
❖ Tulangan Beugel = Ø 8 dan Ø 6 mm (Zigma)
✓ Balok
❖ Tulangan Pokok = Ø12, Ø10 (Zigma)
❖ Tulangan Beugel = Ø 8 dan Ø 6 mm (Zigma)
✓ Ring Balk
❖ Tulangan Pokok = Ø 12 mm & Ø 10 mm (Zigma)
❖ Tulangan Beugel = Ø 8 dan Ø6 mm (Zigma)
✓ Balok Latei
❖ Tulangan Pokok = Ø 10 mm & Ø 8 mm (Zigma)
❖ Tulangan Beugel = Ø 6 mm (Zigma)
✓ Besar tulangan / Besi beton didasarkan pada ukuran melalui alat pengukur besi ( Zigma ) bukan
berdasar atas informasi pabrik/Toko.
➢ Kayu Maal ( Becasting Beton )
Sloef, Kolom Praktis (KP),Ringbalok & Balok Latei
Dinding maal menggunakan Tripleks 9 mm dan Balok untuk maal beton digunakan jenis kayu
kelas II & III yang telah disetujui oleh Konsultan pengawas.
Page 17
c. Pekerjaan Bekisting Beton.
➢ Bekisting harus dibuat dan direncanakan sedemikian rupa sehingga tidak ada perubahan bentuk sampai
pembongkaran bekisting tersebut dan juga harus cukup rapat untuk menghindarkan keluarnya adukan
campuran beton selama berlangsungnya pengecoran.
➢ Kayu bekisting harus bersih dan disiram air terlebih dahulu sebelum pengecoran.
➢ Tiang penyangga harus diberi jarak antara yang dapat mencegah difleksi bahan-bahan becasting.
➢ Pembongkaran Bekisting Melalui dengan waktu yang disesuaikan SNI yaitu 28 Hari Kalender
d. Pelepasan Bekisting
Tiga hari setelah pengecoran kolom struktur atau kolom praktis, bekesting dibuka secara hati-hati. Penyangga
bekesting ke arah luar bangunan dibiarkan tetap sebagai penyangga kolom sampai dilakukan pemasangan
bata setidaknya sampai setinggi 2 meter. Hal ini perlu dilakukan karena kolom stuktur relatif kurus. Kolom
struktur yang bekestingnya telah dibuka tetap disiram sampai selama 3 hari. Bekesting yang telah dibuka
dibersihkan khususnya sisi dalamnya.
e. Adukan Beton
➢ Adukan tidak boleh terlalu kental atau encer bila dimasukan dalam ember dibalikan dan dicatu maka tinggi
beton minimal 0.75 kali tinggi ember.
➢ Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ke tempat pengecoran harus dilakukan dengan cara
yaitu :
❖ Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan
❖ Tidak terjadi waktu pengikatan yang mencolok antar beton yang sudah dicor, dan nilai slump untuk
berbagai pekerjaan beton harus memenuhi tabel 4.4 SNI T-15. 1919.03.
❖ Beton yang mengeras atau sudah berumur 1,5 jam tidak boleh dimasukkan dalam pengecoran.
e. Pengecoran
➢ Pengecoran beton dilaksanakan setelah terkait siap dan lokasi yang dicor harus bersih dan bebas dari
kotoran/Genangan air. Selama pengecoran berlangsung pekerja dilarang berdiri dan berjalan – jalan
diatas penulangan Untuk dapat sampai ke tempat – tempat yang sulit dicapai harus digunakan papan
berkaki yang tidak membebani tulangan. Papan tersebut harus sudah dapat dicabut pada saat beton dicor.
➢ Apabila pengecoran beton harus dihentikan ( dibalok harizontal ). Maka tempat penghentiannya adalah
ditengah bentang sesuai PBI tahun 1971. Untuk melanjutkan bagian pekerjaan yang putus tersebut,
bagian permukaan yang mengeras harus dibersihkan dan dibuat kasar kemudian diberi aditive yang tidak
boleh dicurahkan dari ketiggian yang lebih tinggi dari 1,5 cm.
➢ Selimut Beton digunakan minimal 2 cm dan diberi tahu-tahu beton dengan ukuran 5x5 cm dan tebal sesuai
dengan selimut beton sebagai penyangga tulangan agar tidak rapat dengan bekisting terutama pada
daerah sisi bawah.
➢ Apabila pengecoran lebih dari 2 m agar menggunakan talang cor dan selama pengecoran tidak boleh
terjadi pergeseran / perubahan bekisting dan tulangan.
➢ Besi Tulangan diatur jaraknya harus lebih besar dari butiran kerikil sehingga tidak keropos.
Page 18
➢ Selama Pengecoran tidak boleh terjadi perubahan posisi tahu beton dan harus selalu diperiksa sehingga
jarak besi ke bekisting tidak berubah.
➢ Selama Pengecoran adukan boleh ditusuk – tusuk dengan tongkat besi sehingga adukan menyebar dan
rata.
f. Perawatan beton
Beton yang sudah dicor harus dijaga agar tidak kehilangan kelembaban untuk paling sedikit 14 ( empat belas )
hari. Untuk keperluan tersebut ditetapkam cara sebagai berikut :
➢ Dipergunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai penutup beton
➢ Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil permukaan tidak mengikuti bentuk yang
diinginkan, munculnya pembesian pada permukaan beton, dan lain-lain yang tidak memenuhi syarat,
harus dibongkar kembali sebagian atau seluruhnya.
g. Pekerjaan pembesian
➢ Perakitan pembesian dilaksanakan sesuai dengan gambar kerja.
➢ Ikatan besi harus kokoh hingga tidak berubah tempat selama pengecoran. Selimut beton harus sesuai
dengan syarat yang ditentukan dalam PBI 1971 dan SNI 1991.
h. Jenis dan mutu beton
➢ Jenis pekerjaan beton bertulang menggunakan adukan 1Pc : 2 Psr : 3 Krk.
➢ Mutu beton yang digunakan adalah sesuai yang diisyaratkan dan disetujui oleh Direksi.
2.4. Pekerjaan Dinding bata
Dinding harus dipasang (uitzet dengan peralatan yang memadai) dan didirikan menurut masing-masing ukuran
ketebalan dan ketinggian yang disyaratkan seperti yang ditunjukkan dalam gambar.
a. Sloof, kolom praktis dan ringbalk
Ukuran rangka penguat dinding bata (non struktural) : sloof 15 x 20 cm, kolom praktis 11 x 11 cm atau 10 x 10, ringbalk
15 x 12 dan balok latai 10 x 15 cm. Kolom praktis, balok latai dan ringbalk diplester sekaligus dengan dinding bata
sehingga mencapai tebal 15 cm dan 11 cm untuk bata ringan. Bekisting terbuat dari kayu terentang/kayu hutan lainnya
dengan tebal minimum 2 cm yang rata dan berkualitas papan baik.
Pemasangan bekisting harus rapi dan cukup kuat. Celah-celah papan harus rapat sehingga tidak ada air adukan yang
keluar. Bekisting baru boleh dibongkar setelah beton mengalami proses pengerasan.
Kecuali ditentukan lain pemasangan balok latai dipasang tepat diatas kusen pintu maupun jendela.
b. Pasangan Dinding Bata
Bata yang akan dipasang harus direndam dalam air terlebih dahulu sampai jenuh.
Tidak diperkenankan memasang batu bata :
1. Air bersih untuk keperluan sehari-hari seperti minum, mandi/buang air dan kebutuhan lain para pekerja.
Kualitas air yang disediakan untuk keperluan tersebut harus cukup terjamin.
2. Yang ukurannya kurang dari setengahnya
Page 19
3. Lebih dari 1 (satu) meter tingginya setiap hari di satu bagian pemasangan
4. Pada waktu hujan di tempat yang tidak terlindung atap
5. Setiap luas pasangan dinding bata mencapai 12 m2 harus dipasang beton praktis (kolom, dan ring balk)
Bata dipasang tegak lurus dan berada pada garis-garis yang seharusnya dengan bentang benang yang sipat datar.
Kayu penolong harus cukup kuat dan benar-benar dipasang tegak lurus.
Dinding yang menempel pada kolom beton harus diberi angker besi setiap jarak 40 cm. Permukaan beton harus
dibuat kasar. Pemasangan bata diatas kusen harus dibuat balok lantai 12/12 atau dilengkapi dengan pasangan
rollaag. Pemasangan harus dijaga kerapihannya, baik dalam arah vertikal maupun horizontal. Sela-sela disekitar kusen-
kusen harus diisi dengan aduk.
c. Semua Pasangan Batu bata dipasang rata sampai dengan ringbalk strukturnya sebagai penumpu rangka atap
diplester dan diaci 1 : 5.
d. Dinding yang berada diatas plafon dan dibawah ring balk harus diplester 1 : 5 tanpa acian
e. Kecuali ditentukan lain, bukaan dinding yang tidak terpasang kusen tinggi bukaan dinding adalah 2,15 m dari elevasi
0,00
2.5. Pekerjaan Plsteran
a. Plesteran dinding bata
Sebelum diplester, permukaan dinding bata harus dibersihkan dan dibasahi dengan air, siarnya dikorek sedalam 1 cm. Tebal
plesteran minimum 1,5 cm dan maksimum 2,5 cm. Plesteran diselesaikan dengan papan plesteran dan kayu perata atau
sekop baja. Sudut-sudut dibuat serapi-rapinya dan menyiku. Sambungan dari plesteran- plesteran harus mulus dan lurus.
Dalam mendirikan dinding yang tidak berada dibawah atap, selama waktu hujan harus diberi perlindungan dengan
menutup bagian atas dari tembok dengan bahan pelindung yang cukup sesuai.
Selama proses pengeringan, plesteran harus disiram dengan air selama 7 (tujuh) hari terus menerus.
b. Plesteran Beton
Seluruh permukaan beton yang tampak harus menghasilkan permukaan yang halus dan rata. Bila pelaksanaan pekerjaan
beton tidak dapat menghasilkan permukaan yang halus dan rata, maka permukaan tersebut harus diplester hingga
menghasilkan permukaan seperti yang dimaksud di dalam gambar rancangan pelaksanaan.
Permukaan beton yang akan diplester harus disiapkan dulu dengan pekerjaan pendahuluan dengan urutan sebagai berikut :
Permukaan dibuat kasar dengan betel/pahat beton
Dibasahi dengan air
Disapu air semen (Pc) atau bonding egent
Page 20
Mortar untuk plesteran adalah campuran 1 Pc : 2 Ps yang diaduk secara benar-benar homogen.
Ketebalan plesteran adalah rata-rata 15 mm – 25 mm
Plesteran harus diakhiri dengan acian halus dari adukan air semen (Pc)
Untuk beton bertemu dengan dinding, plesteran harus dilapisi kawat wiremesh minimal 30 cm sepanjang pertemuan,
khususnya apabila permukaan dinding rata dengan permukaan beton.
Semua pasangan dinding bata harus diplester dan diaci kecuali pasangan dinding bata yang tertanam didalam tanah atau
dibawah lantai dasar cukup diplester dengan campuran 1 : 3 tanpa acian.
2.6. Pekerjaan Kusen, Pintu dan Jendela
1. Fabrikasi
Pekerjaan febrikasi atau pemasangan tidak boleh dilaksanakan sebelum Gambar Detail Pelaksanaan yang diserahkan
Kontraktor dan disetujui Pengawas/Konsultan MK.
2. Semua komponen harus difebrikasi dan dirakit secara tepat sesuai bentuk dan ukuran aktual dilokasi serta dipasang
pada lokasi yang telah ditentukan.
3. Pemasangan
Bagian pertama yang terpasang harus disetujui Pengawas/Konsultan MK sebagai acuan dan contoh untuk pemasangan
berikutnya.
4. Kontraktor bertanggung jawab atas kualitas konstruksi komponen-komponen. Bila suatu sambungan tidak digambarkan
dalam Gambar Kerja, swambungan-sambungan tersebut harus ditempatkan dan dibuat sedemikian rupa sehingga
sambungan- sambungan tersebut dappat meneruskan beban dan menahan tekanan yang harus diterimanya.
5. Semua komponen harus sesuai dengan pola yang ditentukan.
6. Bila di pasang langsung ke dinding atau beton, kusen atau bingkai harus dilengkapi dengan angkur pada jarak setiap
500mm.
7. Semua bagian alumunium yang berhubungan dengan semen atau adukan harus dilindungi dengan cat transparan atau
lembaran plastik Lacquer film.
8. Semua bagian alumunium yang berhubungan dengan elemen baja harus dilapisi dengan cat khusus yang
direkomendasikan pabrik pembuat, untuk mencegah kerusakan komposisi alumunium.
9. Berbagai perlengkapan bukan alumunium yang akan dipasang pada bagian alumunium harus trdiri dari bahan yang
tidak menimbulkan reaksi elektronik, seperti baja anti karat, nilon, neoprene dan lainnya.
10. Semua pengencangan harus tidak terlihat, kecuali ditentukan lain.
11. Semua sambungan harus rata pemotongan dan pengeboran yang dikerjakan sebelum pelaksanaan anokdisasi.
Page 21
12. Semua pekerjaan pembuatan dan pemasangan kusen, pintu dan jendela Aluminium harus dilakukan oleh pabrik
penghasil dari bahan yang dipergunakan dengan memperoleh persetujuan Pengawas/Konsultan MK.
13. Semua bahan kusen, daun pintu dan jendela aluminium, boleh dibawa kelapangan/ halaman pekerjaan jikalau
pekerjaan konstruksi benar-benar mencapai tahap pemasangan kusen, pintu dan jendela.
14. Pemasangan sambungan harus tepat tanpa celah sedikitpun.
15. Semua detail pertemuan daun pintu dan jendela harus runcing (adu manis) halus dan rata, serta bersih dari goresan-
goresan serta cacat-cacat yang mempengaruhi permukaan.
16. Detail Pertemuan Kusen Pintu dan Jendela harus lurus dan rata serta bersih dari goresan-goresan serta cacat yang
mempengaruhi permukaan.
17. Pemasangan harus sesuai dengan gambar rancangan pelaksanaan dan brosur serta persyaratan teknis yang benar.
18. Setiap sambungan atau pertemuan dengan dinding atau benda yang berlainan sifatnya harus diberi “sealent”.
19. Pertemuan pengisi rangka daun pintu UPVC baik dengan kaca atau panel harus disealent poliuretant dengan rapi dan
rapat.
20. Penyekrupan harus tidak terlihat dari luar dengan skrup kepala tanam galvanized sedemikian rupa sehingga hair line
dari tiap sambungan harus kedap air.
21. Semua UPVC yang akan dikerjakan maupun selama pengerjaan harus tetap dilindungi dengan “Lacquer Film”.
22. Ketika pelaksanaan pekerjaan plesteran, pengecatan dinding dan bila kosen; UPVC telah terpasang maka kosen
tersebut harus tetap terlindungi oleh Lacquer Film atau plastic tape agar kosen tetap terjamin kebersihannya.
23. Kecuali disebutkan atau ditunjukkan dalam gambar detail, pemasangan kusen UPVC dipasang pada posisi
tengah/center terhadap tebal dinding.
2.7. Pekerjaan Kaca
a. Umum.
1. Ukuran-ukuran kaca dan cermin yang tertera dalam Gambar Kerja adalah ukuran yang mendekati sesungguhnya.
Ukuran kaca yang sebenarnya dan besarnya toleransi harus diukur ditempat oleh Kontraktor berdasarkan ukuran di
tempat kaca atau cermin tersebut akan dipasang, atau menurut petunjuk dari Pengawas/Konsultan MK, bila
dikehendaki lain.
2. Setiap kaca harus tetap ditempeli merek pabrik yang menyatakan tipe kaca, ketebalan kaca dan kualitas kaca.
Merek-merek tersebut baru boleh dilepas setelah mendapatkan persetujuan dari Pengawas/Konsultan MK.
3. Semua bahan harus dipasang dengan rekomendasi dari pabrik.
Pemasangan harus dilakukan oleh tukang-tukang yang ahli dalam bidang pekerjaannya.
b. Pemasangan Kaca.
1. Sela dan Toleransi Pemotongan.
Page 22
Sela dan toleransi pemotongan sesuai ketentuan berikut :
- Sela bagian muka antara kaca dan rangka nominal 3mm.
- Sela bagian tepi antara kaca dan rangka nominal 6mm.
- Kedalaman celah minimal 16mm.
- Toleransi pemotongan maksimal untuk seluruh kaca adalah +3mm atau - 1,5mm.
- Sela untuk Gasket harus ditambahkan sesuai dengan jenis gasket yang digunakan.
b. Persiapan Permukaan.
Sebelum kaca-kaca dipasang, daun pintu, daun jendela, bingkai partisi dan bagian-bagian lain yang akan diberikan
kaca harus diperiksa bahwa mereka dapat bergerak dengan baik.
Daun pintu dan daun jendela harus diamankan atau dalam keadaan terkunci atau tertutup sampai pekerjaan
pemolesan dan pemasangan kaca selesai.
Permukaan semua celah harus bersih dan kering dan dikerjakan sesuai petunjuk pabrik.
Sebelum pelaksanaan, permukaan kaca harus bebas dari debu, lembab dan lapisan bahan kimia yang berasal dari
pabrik.
d. Neoprene/Gasket dan Seal.
Setiap pemasangan kaca pada daun pintu dan jendela harus dilengkapi dengan Neoprene/Gasket yang sesuai.
Neoprene/Gasket dipasang pada bilang antar kusen dengan daun pintu dan jendela, kusen dengan dinding yang
berfungsi sebagai seal pada ruang yang dikondisikan.
e. Pemasangan Cermin.
Cermin harus dipasang lengkap dengan sekrup-sekrup kaca yang memiliki dop penutup stainless steel.
Penempatan sekrup-sekrup harus sedemikian rupa sehingga cermin terpasang rata dan kokoh pada tempatnya seperti
ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
f. Penggantian dan Pembersihan.
Pada waktu penyerahan pekerjaan, semua kaca harus sudah dalam keadaan bersih, tidak ada lagi merek perusahaan,
kotoran-kotoran dalam bentuk apapun.
Semua kaca yang retak, pecah atau kurang baik harus diganti oleh Kontraktor tanpa tambahan biaya dari Pemilik
Proyek.
2.8. Pekerjaan Alat Penggantung dan Pengunci
a. Umum.
Pemasangan semua alat penggantung dan pengunci harus sesuai dengan persyaratan serta sesuai dengan petunjuk
dari pabrik pembuatnya.
• Semua peralatan tersebut harus terpasang dengan kokoh dan rapih pada
Page 23
tempatnya, untuk menjamin kekuatan serta kesempurnaan fungsinya.
Setiap daun jendela dipasangkan ke kusen dengan menggunakan 2 (dua) buah engsel type friction stay dan harus
dilengkapi dengan 1 (satu) buah alat pengunci/window lock yang memiliki pegangan.
Semua pintu dipasangkan ke kusen dengan menggunakan 3 (tiga) buah engsel, Untuk pemasangan engsel ke kusen
Alumunium harus diberi closer dari kayu tebal min 3 cm x panjang kusen yang kuat dan dari kayu bermutu baik (Kamper
atau Jati) yang dipasang di balik atau di dalam kusen Alumunium.
Semua pintu memakai kunci pintu lengkap dengan badan kunci, silinder,
handle/pelat.
Engsel bagian atas untuk pintu kaca menggunakan pin yang bersatu dengan bingkai bawah pemegang pintu kaca.
Lubang untuk pemasangan kunci dan engsel harus dibuat persis dan tidak boleh longgar. Semua alat kunci harus
dipasang dengan sekrup secara lengkap
b. Pemasangan Pintu.
Kunci pintu dipasang pada ketinggian 1000 mm dari lantai.
Pemasangan engsel atas berjarak maksimal 120mm dari tepi atas daun pintu dan engsel bawah berjarak maksimal
250mm dari tepi bawah daun pintu, sedang engsel tengah dipasang diantar kedua engsel tersebut.
Semua pintu memakai kunci tanam lengkap dengan pegangan (handle), pelat penutup muka dan pelat kunci.
Pada pintu yang terdiri dari dua daun pintu, salah satunya harus dipasang slot tanam sebagaimana mestinya, kecuali
bila ditentukan lain dalam Gambar Kerja.
c. Pemasangan Jendela.
Daun jendela dengan engsel tipe kupu-kupu dipasangkan ke kusen dengan menggunakan engsel dan dilengkapi hak
angin, dengan cara pemasangan sesuai petunjuk dari pabrik pembuatnya dalam Gambar Kerja.
Daun jendela tidak berengsel dipasangkan ke kusen dengan menggunakan friction stay yang merangkap sebagai hak
angin, dengan cara pemasangan sesuai petunjuk dari pabrik pembuatnya.
Penempatan engsel harus sesuai dengan arah buakaan jendela yang diinginkan seperti ditunjukkan dalam Gambar
Kerja, dan setiap jendela harus dilengkapi dengan sebuah pengunci.
d. Perlengkapan lain
1. Door closer : eks Cisa, Dekson atau Wilka
2. Floor Hing : eks Cisa, Dekson atau Wilka
Page 24
3. Gasket
Ketentuan pemasangan gasket pada pintu adalah sebagai berikut :
Airtight
Fireproof
Smokeproof
Soundproof
Weatherproof
4. Dust Strike
Tipe Dust Strike yang digunakan adalah :
Type lantai/threshold - Glynn Johnson DP2
Untuk lantai marmer - Modrtz
Semua perlengkapan yang akan dipakai harus diberikan contohnya terlebih dahulu kepada Pengawas/Konsultan MK untuk
disetujui bersama dengan Konsultan Perencana.
2.9. Pekerjaan Langit – langit
a. Rangka penggantung dipasang berjarak maksimum 120 cm sesuai gambar rancangan sedangkan untuk rangka
pembagi berjarak 40 cm untuk papan calsiboard 9 mm dan pemasangan sesuai persyaratan teknis dari pabrik dan
gambar rancangan pelaksanaan
b. Pemasangan paku atau sekrup harus diberi jarak 10 mm (minimal) dan maksimal
16 mm dari pinggir bahan penutup. Jarak antara paku sekrup pada bagian tepi gypsum berjarak 20 cm sedangkan pada
bagian tengah penutup langit-langit jarak antara paku sekrup adalah 30 cm.
c. Sambungan pada pemasangan penutup langit-langit antara satu dengan lainnya adalah serapat mungkin tanpa jarak
yang pemasangannya dilakukan zig zag.
d. Untuk mendapatkan hasil permukaan yang benar-benar rata pada setiap sambungan harus dilapisi dengan base bond
dan paper tape dari produk yang sama dengan papan penutup langit-langit dengan lubang dan garis tengah
pelaksanaan sesuai brosur petunjuk.
e. Untuk pekerjaan plafond dengan menggunakan calsiboard datar tanpa nat, tebal minimal 9 mm produksi Jaya Board
atau setara.
f. Pemasangan penutup langit-langit harus ditimbang rata air agar mendapatkan permukaan yang benar rata.
g. Langit-langit tanpa penutup/exposed beton di ruang-ruang yang tidak tertutup harus dirapikan.
h. Pemasangan Calsiboard
Page 25
Langit – langit Calsiboard dipaku atau disekrup pada rangka plafond dengan hati – hati, menggunakan paku baut eternit
yang cukup jumlahnya. Letak paku – paku tersebut harus diatur dan beraturan jaraknya. Permukaan seluruh bidang
langit – langit Calsiboard harus datar air / waterpass tanpa nat. Pertemuan langit – langit dengan dinding tidak bercelah.
Langit – langit Calsiboard dicat emultion dengan warna yang ditetapkan oleh Konsultan Perencana.
Pekerjaan ini mencakup pembuatan dan pemasangan langit-langit dengan berbagai bahan penutup langit-langit sesuai
dengan gambar dan RKS, meliputi penyediaan alat, bahan dan tenaga untuk keperluan pekerjaan ini.
2.10. Pekerjaan Penutup Lantai
a. Pemasangan lantai keramik dan homogeneus tile
Pemasangan keramik lantai sebaiknya pada tahap akhir, untuk menghindari kerusakan akibat pekerjaan yang belum
selesai. Permukaan lantai yang akan dipasang keramik maupun Homogeneous Tile harus bersih, cukup kering dan rata
air. Tentukan tulangan/kepalaan dengan mempertimbangkan tata letak ruangan / lantai yang ada. Pemasangan keramik
lantai dimulai dari tulangan ini. Sebelum dipasang, keramik lantai agar direndam dalam air terlebih dahulu. Setiap jalur
pemasangan sebaiknya ditarik benang dan rata air. Adukan semen untuk pemasangan keramik harus penuh, baik
permukaan dasar maupun di badan belakang keramik lantai yang terpasang. Perbandingan adukan dan ketebalan
rata – rata yang dianjurkan adalah Semen : Pasir = 1 : 4, dengan ketebalan rata – rata 2 - 4 cm. Lebar nat yang
dianjurkan untuk lantai adalah 2 - 3 mm kecuali untuk keramik type cuting dan homogeneus tile lebar nat maximum
adalah 1,5 mm, dengan campuran pengisi nat (Grout) bahan khusus AM 50 dengan warna sama dengan penutup
lantaiyang dipasang. Bagi area yang luas dianjurkan untuk diberi expansion joint. Bersihkan segera bekas adukan dari
permukaan keramik, dapat digunakan bahan pembersih yang ada di pasar dengan kadar asam tidak lebih dari 5 %,
setelah itu segera bersihkan dengan air bersih. Karena sifat alamiah dari produk keramik, yang disebabkan proses
pembakaran pada temperatur tinggi, dapat terjadi perbedaan warna dan ukuran, untuk ini periksa dan pastikan keramik
lantai yang akan dipasang mempunyai seri dan golongan ukuran yang sama.
b. Pemasangan
Pekerjaan ini harus dilakukan dengan serapi-rapinya oleh tukang yang benar- benar ahli dan berpengalaman, sesuai
dengan petunjuk pabrik bahan yang bersangkutan.
2.11. Pekerjaan Pengecatan
a. Pelaksanaan Pekerjaan
Pembersihan, Persiapan dan Perawatan Awal Permukaan.
1. Umum.
- Semua peralatan gantung dan kunci serta perlengkapan lainnya, permukaan polesan mesin, pelat, instalasi lampu dan
benda-benda sejenisnya yang berhubungan langsung dengan permukaan yang akan dicat, harus dilepas, ditutupi atau
dilindungi, sebelum persiapan permukaan dan pengecatan dimulai.
- Pekerjaan harus dilakukan oleh orang-orang yang memang ahli dalam bidang tersebut.
Page 26
- Permukaan yang akan dicat harus bersih sebelum dilakukan persiapan permukaan atau pelaksanaan pengecatan.
Minyak dan lemak harus dihilangkan dengan memakai kain bersih dan zat pelarut/pembersih yang berkadar racun
rendah dan mempunyai titik nyala diatas 38oC.
- Pekerjaan pembersihan dan pengecatan harus diatur sedemikian rupa sehingga debu dan pecemar lain yang berasal
dari proses pembersihan tersebut tidak jauh diatas permukaan cat yang baru dan basah.
2. Permukaan Pelesteran dan Beton.
Permukaan pelesteran umumnya hanya boleh dicat sesudah sedikitnya selang waktu 4 (empat) minggu untuk
mengering di udara terbuka. Semua pekerjaan pelesteran atau semen yang cacat harus dipotong dengan tepi- tepinya
dan ditambal dengan pelesteran baru hingga tepi-tepinya bersambung menjadi rata dengan pelesteran sekelilingnya.
Permukaan pelesteran yang akan dicat harus dipersiapkan dengan menghilangkan bunga garam kering, bubuk besi,
kapur, debu, lumpur, lemak, minyak, aspal, adukan yang berlebihan dan tetesan-tetesan adukan.
Sesaat sebelum pelapisan cat dasar dilakukan, permukaan pelesteran dibasahi secara menyeluruh dan seragam
dengan tidak meninggalkan genangan air. Hal ini dapat dicapai dengan menyemprotkan air dalam bentuk kabut dengan
memberikan selang waktu dari saat penyemprotan hingga air dapat diserap.
3. Permukaan calsiboard.
Permukaan gipsum harus kering, bebas dari debu, oli atau gemuk dan permukaan yang cacat telah diperbaiki sebelum
pengecatan dimulai.
Kemudian permukaan calsiboard gipsum tersebut harus dilapisi dengan cat dasar khusus untuk calsiboard, untuk
menutup permukaan yang berpori.
Setelah cat dasar ini mengering dilanjutkan dengan pengecatan sesuai ketentuan Spesifikasi ini.
4. Permukaan Kayu.
Permukaan kayu harus bersih dari minyak, lemak dan serbuk kayu gergajian, sisa pengamplasan serta kotoran lainnya,
sebelum pelapisan cat dimulai.
5. Permukaan Barang Besi /Baja.
Besi/Baja Baru.
Permukaan besi/baja yang terkena karat lepas dan benda-benda asing lainnya harus dibersihkan secara mekanis
dengan sikat kawat atau penyemprtan pasir/sand blasting sesuai standar Sa21/2.
Page 27
Semua debu, kotoran, minyak, gemuk dan sebagainya harus dibersihkan dengan zat pelarut yang sesuai dan kemudian
dilap dengan kain bersih. Sesudah pembersihan selesai, pelapisan cat dasar pada semua permukaan barang besi/baja
dapat dilakukan sampai mencapai ketebalan yang disyaratkan.
Besi/Baja Dilapis Dasar di Pabrik/Bengkel.
Bahan dasar yang diaplikasikan di pabrik/bengkel harus dari merek yang sama dengan cat akhir yang akan
diaplikasikan dilokasi proyek dan memenuhi ketentuan dalam butir 4.2. dari Spesifikasi Teknis ini.
Barang besi/baja yang telah dilapis dasar di pabrik/bengkel harus dilindungi terhadap karat, baik sebelum atau
sesudah pemasangan dengan cara segera merawat permukaan karat yang terdeteksi.
Permukaan harus dibersihkan dengan zat pelarut untuk menghilangkan debu, kotoran, minyak, gemuk.
Bagian-bagian yang tergores atau berkarat harus dibersihkan dengan sikat kawat sampai bersih, sesuai standar St
2/SP-2, dan kemudian dicat kembali (touch-up) dengan bahan cat yang sama dengan yang telah disetujui, sampai
mencapai ketebalan yang disyaratkan.
Besi/Baja Lapis Seng/Galvanized.
Permukaan besi/baja berlapis seng/galvanized yang akan dilapisi cat warna harus dikasarkan terlebih dahulu dengan
bahan kimia khsus yang diproduksi untuk maksud tersebut, atau disikat dengan sikat kawat. Bersihkan permukaan dari
kotoran-kotoran, debu dan sisa-sisa pengasaran, sebelum pengaplikasian cat dasar.
b. Selang Waktu Antara Persiapan Permukaan dan Pengecatan.
Permukaan yang sudah dibersihkan, dirawat dan/atau disiapkan untuk dicat harus mendapatkan lapisan pertama atau
cat dasar seperti yang disayaratkan, secepat mungkin setelah persiapan-persiapan di atas selesai. Harus diperhatikan
bahwa hal ini harus dilakukan sebelum terjadi kerusakan pada permukaan yang sudah disiapkan di atas.
c. Pelaksanaan Pengecatan. Umum.
- Permukaan yang sudah dirapikan harus bebas dari aliran punggung cat, tetesan cat, penonjolan, pelombang, bekas
olesan kuas, perbedaan warna dan tekstur.
- Usaha untuk menutupi semua kekurangan tersebut harus sudah sempurna dan semua lapisan harus diusahakan
membentuk lapisan dengan ketebalan yang sama.
- Perhatian khusus harus diberikan pada keseluruhan permukaan, termasuk bagian tepi, sudut dan ceruk/lekukan, agar
bisa memperoleh ketebalan lapisan yang sama dengan permukaan-permukaan di sekitarnya.
Page 28
- Permukaan besi/baja atau kayu yang terletak bersebelahan dengan permukaan yang akan menerima cat dengan
bahan dasar air, harus telah diberi lapisan cat dasar terlebih dahulu.
Proses Pengecatan.
- Harus diberi selang waktu yang cukup di antara pengecatan berikutnya untuk memberikan kesempatan pengeringan
yang sempurna, disesuaikan dengan kedaan cuaca dan ketentuan dari pabrik pembuat cat dimaksud.
Penecatan harus dilakukan dengan ketebalan minimal (dalam keadaan cat kering), sesuai ketentuan berikut.
a. Permukaan Interior Pelesteran, Beton, Gipsum.
Cat Dasar : 1 (satu) lapis water-based sealer. Cat Akhir : 2 (dua) lapisan emulsion.
b. Permukaan Eksterior Pelesteran, Beton.
Cat Dasar : 1 (satu) lapis water-based sealer.
Cat Akhir : 2 (dua) lapisan emulsion khusus eksterior
/Weathersield.
c. Permukaan Interior dan Eksterior Pelesteran dengan Cat Akhir Berbahan Dasar Minyak.
Cat Dasar : 1 (satu) lapis masonry sealer.
Cat Akhir : 2 (dua) lapisan high quality solvent-based high
quality gloss finish.
d. Permukaan Kayu
Cat Dasar : 1 (satu) lapis wood primer sealer.
Cat Akhir : 2 (dua) lapisan high quality solvent-based high
quality gloss finish.
e. Permukaan Besi/Baja.
Cat Dasar : 1 (satu) lapis solvent-based anti-corrosive zinc
chromate primer.
Undercoat : 1 (satu) lapis undercoat.
Cat Akhir : 2 (dua) lapisan high quality solvent-based high
quality gloss finish. Penyimpanan, Pencampuran dan Pengenceran.
- Pada saat pengerjaan, cat tidak boleh menunjukkan tanda-tanda mengeras, membentuk selaput yang berlebihan dan
tanda-tanda kerusakan lainnya.
Page 29
- Cat harus diaduk, disaring secara menyeluruh dan juga agar seragam konsistensinya selama pengecatan.
- Bila disyaratkan oleh kedaan permukaan, suhu, cuaca dan metoda pengecatan, maka cat boleh diencerkan sesaat
sebelum dilakukan pengecatan dengan mentaati petunjuk yang diberikan pembuat cat dan tidak melebihi jumlah 0,5
liter zat pengencer yang baik untuk 4 liter cat.
- Pemakaian zat pengencer tidak berarti lepasnya tanggung jawab kontraktor untuk memperoleh daya tahan cat yang
tinggi (mampu menutup warna lapis di bawahnya).
Metode Pengecatan.
- Cat dasar untuk permuakaan beton, plesteran, gypsum board diberikan dengan kuas dan lapisan berikutnya boleh
dengan kuas atau rol.
- Cat dasar untuk permukaan papan gipsum deberikan dengan kuas dan dan lapisan berikutnya boleh dengan kuas atau
rol.
- Cat dasar untuk permukaan kayu harus diaplikasikan dengan kuas dan lapisan berikutnya boleh dengan kuas, rol atau
semprotan.
- Cat dasar untuk permukaan besi/baja diberikan dengan kuas atau disemprotkan dan lapisan berikutnya boleh
menggunakan semprotan.
d. Pemasangan Kembali Barang-barang yang dilepas.
Sesudah selesainya pekerjaan pengecatan, maka barang-barang yang dilepas harus dipasang kembali oleh pekerja
yang ahli dalam bidangnya.
e. Pengerjaan melamin
Permukaan kayu yang dipertahankan corak naturalnya seperti yang dijelaskan dalam gambar atau keterangan lainnya
(daun pintu, Clading Teakwood, Nurse station counter, dll sesuai gambar rencana) dimelamin dengan bahan dari
produk yang baik.
Pekerjaan harus dilakukan oleh tukang yang ahli dan berpengalaman. Bagian yang akan dimelamin harus
benar-benar bersih dan kering. Bagian yang retak harus ditutup dulu dengan dempul yang khusus untuk melamin.
Sebelum pengecatan dimulai kayu harus digosok dulu dengan batu kambang sampai rata kemudian dihaluskan dengan
ampelas.
Pengecatan dilakukan setelah permukaan kayu benar-benar telah bersih dan kering.
Tingkat lapisan melamin yang dikehendaki adalah dof.
Page 30
f. Pekerjaan Epoxy untuk Pengecatan Dinding
Sebelum dilakukan pekerjaan finishing dinding dengan cat Epoxy prosedur dan persiapan yang harus dilakukan adalah
permukaan dinding. Untuk mendapatkan permukaan yang benar-benar rata permukaan dinding harus dempul yang
khusus untuk epoxy. Pekerjaan ini harus dilakukan berulangkali untuk mendapatkan permukaan yang benar-benar rata
dan mendapatkan persetujuan Pengawas/Konsultan MK. Setelah permukaan benar-benar rata dan kering barulah
pekerjaan pelapisan dengan Epoxy bisa dimulai setelah mendapatkan persetujuan pengawas. Pengecatan dilakukan
sesuai prosedur produk yang dipakai sampai memperoleh ketebalan 150 mikron. Pertemuan plafon dengan dinding
harus melengkung dengan R. Minimal 10 cm dan permukaan tidak boleh ada celah atau pemutusan permukaan.
Pelaksanaan pekerjaan ini harus dilakukan oleh tukang yang berpengalaman dan yang telah direkomendasi oleh
pabrik.
2.12. Pekerjaan Alat – alat Sanitair
Pemasangan semua peralatan/perlengkapan saniter harus dilakukan oleh ahli pemasangan barang sanitair yang
berpengalaman. Pengerjaan harus dilakukan dengan hati-hati dan sangat rapi.
a. Semua sambungan harus kedap air dan udara. Bahan penutup sambungan tidak diijinkan.
Cat, vernis, dempul dan lainnya tidak diijinkan dipasang pada bidang-bidang pertemuan sambungan sampai semua
sambungan dipasang kuat dan diuji.
Semua saluran ekspos ke perlengkapan sanitasi harus diselesaikan sedemikian rupa sehingga tampak bersih dan rapih
dan sesuai ketentuan Gambar Kerja dan petunjuk pemasangan dari pabrik pembuat.
b. Pemipaan dari perlengkapan sanitasi ke pipa distribusi utama harus dilaksanakan sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis.
c. Bak cuci tangan tipe dinding ahrus dipasang sedemikian rupa sehingga puncak bagian luar alat-alat tersebut berada
800mm di atas lantai, kecuali bila ditunjukkan lain dalam Gambar Kerja.
Bak cuci tangan tipe pemasangan di meja harus dipasang pada ketinggian sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.
d. Bak cuci dari bahan stainless steel harus dipasang sedemikian rupa pada meja/kabinter seperti ditunjukkan dalam
Gambar Kerja.
e. Urinoir harus dipasang sedemikian rupa sehingga puncak tepi bagian depan alat ini berada 530mm diatas lantai untuk
orang dewasa dan 330mm untuk anak- anak, atau sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.
f. Sistem penumpu dan penopang harus sesuai dengan rekomendasi dari pabrik pembuat perlengkaan sanitasi atau
sesuai persetujuan Pengawasan Lapangan.
g. Pemanas air dengan tenaga listrik harus dipasang sesuai petunjuk pemasangan dari pabrik pembuatnya, pada tempat-
empat seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja, dan pekerjaan elektrikal harus dilaksanakan sesuai ketentuan
Spesifikasi Teknis.
h. Pemasangan alat-alat sanitair lain
Page 31
Kaca cermin dan tempat alat-alat pada wastafel harus dipasang sipat datar dan diskrupkan pada dinding. Barang-
barang yang akan dipakai harus tidak bercacat sedikitpun. Floor drain harus dipasang dengan saringannya, dan
dipasang rapih. Semua sela-sela antara floor drain dengan lantai, harus diisi dengan adukan 1 Pc : 2 Ps. Pasangan
harus sedemikian sehingga bidang atas floor drain rata dan sebidang dengan bidang lantai.
Paper holder hanya dipasang pada toilet yang closetnya duduk. Tempat sabun hanya dipasang pada toilet yang ada
bak airnya saja. Tinggi pemasangan pada dinding 100 cm di atas lantai.
2.13. Pekerjaan Kedap Air/Waterproofing dan Floor Hardener
a. Persiapan permukaan yang dilapis waterproofing lantai beton harus bebas dari kotoran yang melekat seperti
bitumen, oli, bercak-bercak cat, lemak dan lain-lain.
b. Lapisan dasar primer untuk meratakan permukaan lantai beton dan membuat kemiringan dengan screeding beton
campuran 1 : 2 ditambahkan 0,5 kg/m2 dengan semen slurry bonding agent lain yang setara. Kemiringan
screeding beton sekurang-kurangnya 2%, selanjutnya Kontraktor melapor Pengawas Lapangan untuk mendapat
persetujuan.
c. Seluruh lapisan waterproofing, jika tidak ditentukan lain harus pula menutupi kaki- kaki bidang-bidang tegak sampai
ketinggian permukaan air (minimal 30 cm). Pertemuan bidang horizontal dan vertikal harus dipasang polyster mesh.
Disekeliling pipa-pipa pembuang harus dibobok untuk kemudian diisi dengan semen non shrink.
d. Aplikasi pemasangan oleh tenaga ahli dan persyaratan dari produsen :
Campuran waterproofing adalah semen slurry 3 kg/m2 dicampur dengan bonding agent (additive) sehingga
mencapai ketebalan minimum 3 mm.
e. Pada pekerjaan beton yang bersinggungan dengan air dan digunakan untuk lalu lintas manusia, water proofing
yang digunakan harus memiliki campuran butiran berbatu keras.
f. Untuk semua waterproofing yang terpasang harus diadakan uji coba terhadap kebocoran selama 24 jam atau
hingga dapat dipastikan tidak terdapat bukti adanya kebocoran.
g. Pekerjaan waterproofing harus mendapat sertifikat pemeliharaan cuma-cuma selama 2 (dua) tahun.
h. Pelaksanaan pemasangan harus dikerjakan oleh ahli yang berpengalaman dan sesuai dengan "metode
pelaksanaan" berdasarkan spesifikasi pabrik.
i. Khusus untuk bahan water proofing yang dipasang di tempat yang berhubungan langsung dengan matahari tetapi
tidak mempunyai lapis pelindung terhadap ultra violet maka di atasnya harus diberi lapisan pelindung sesuai
gambar pelaksanaan, atau petunjuk pengawas, dimana lapisan ini dapat berupa screed maupun material finishing
lainnya.
1. Bahan
Bahan waterproofing yang digunakan harus memenuhi persyaratan dan kualitas, antara lain yang direkomendasi
produk BASF, Pentens, SIKA, FOSROC, DEGUSSA atau LEMKRA atau setara.
Page 32
2.14. Pekerjaan Pembersihan dan Finishing
Setelah Pekerjaan dinyatakan telah selesai maka sisa – sisa material harus dibersihkan dari lokasi Proyek.
a. Pekerjaan Pembersihan
➢ Semua sisa bahan – bahan, setelah pekerjaan selesai harus diangkut keluar lokasi.
➢ Setelah pekerjaan dianggap selesai maka semua bangunan yang masih kotor harus dibersihkan / dicuci.
➢ Semua macam pekerjaan telah diselesaikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
b. Pekerjaan Selesai.
Pekerjaan dianggap selesai Jika :
➢ Pembersihan bangunan halaman telah selesai dikerjakan.
➢ Pekerjaan telah diperiksa secara bersama oleh direksi pekerjaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2.15 Pembersihan Lokasi
Seperti telah diuraikan sebelumnya, pembersihan lokasi umumnya dilakukan sepanjang pekerjaan
berlangsung. Khusus pembersihan lokasi diakhir pekerjaan, semua sisa bahan, alat atau bahan bantu yang
tidak dibutuhkan lagi dibawa keluar lokasi pekerjaan. Demikian juga Direksi Keet dan Gudang Kerja dibongkar
setelah persetujuan Pemberi Kerja.
H. RENCANA KERJA METODE KENDALI MUTU
RENCANA PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN
Pengawasan dan Pengendalian Mutu
Pengawasan dan Pengendalian mutu dalam suatu proyek merupakan hal yang penting, sebab akan menentukan
kualitas dari hasil pelaksanaan apakah telah sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Tinjauan pengendalian
dalam proyek yang harus diperhatikan adalah: pengendalian mutu bahan dan peralatan, pengendalian tenaga kerja,
pengendalian waktu, teknis, biaya serta pengendalian kesehatan keselamatan kerja (K3).
1. Pengendalian Mutu Bahan
Kualitas bahan dalam pekerjaan sangat menentukan untuk bisa mencapai ketentuan dalam spesifikasi yang
telah direncanakan, sehingga pengendalian mutu bahan sangatlah penting akan keberhasilan pembangunan
dalam suatu proyek. Pelaksanaan harus sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah dipersyaratkan.
Page 33
QUALITY CONTROL PENGADAAN MATERIAL
2. Pengendalian Mutu Peralatan
Perawatan akan peralatan merupakan hal yang penting untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan. Peran mekanik
akan sangat berguna untuk mencegah tertundanya pekerjaan akibat dari kerusakan peralatan. Akan tetapi jika
kerusakan sudah tidak dapat ditangani oleh para mekanik, maka peralatan tersebut akan dikirim ke bengkel pusat.
Untuk menghindari penundaan waktu maka pelaksana harus mempunyai cadangan yang dapat digunakan secara
cepat seperti ketika pengecoran dilaksanakan, concrete pump yang digunakan sebanyak 2 buah.
3. Pengendalian TENAGA KERJA
Tenaga kerja dalam suatu proyek merupakan hal yang mutlak. Penempatan tenaga kerja yang sesuai dengan
jumlah dan kemampuannya dapat menunjang tercapainya efisiensi dalam suatu pekerjaan proyek, oleh karena itu
diperlukan suatu pengendalian mutu tenaga kerja. Pemilihan mandor untuk melaksanakan pekerjaan secara
borongan haruslah tepat. Maka tim pelaksana harus hati-hati dalam pemilihan mandor, sebab akan menentukan
mutu sekaligus ketepatan waktu selesai proyek.
Setiap tenaga kerja yang dibawa oleh para mandor haruslah sudah mempunyai pengalaman yang sesuai dengan
keahliannya, seperti pembesian, pembobokan, bekisting hingga pengecoran.
Page 34
4. Pengendalian WAKTU
Untuk menghindari adanya keterlambatan pelaksanaan maka perlunya pengendalian waktu yang berdasarkan
pada time schedule pekerjaan. Keterlambatan pekerjaan pada suatu proyek akan berpengaruh pada cost. Maka
untuk mempermudah pelaksaan dilapangan, manager sebaiknya membuat schedule yang lebih sederhana
akan tetapi tetap mengacu pada time schedule yang dikeluarkan oleh engineering sebab tidak semua paham akan
pembacaan master schedule. Agar dapat berlangsung tepat waktu, maka time schedule digunakan sebagai
kontrol untuk mengatur tingkat prestasi pekerjaan dengan lamanya pelaksanaannya. Sehingga pekerjaan apa yang
harus dikerjakan lebih dahulu dan kapan harus dimulai dapat terjadwal dengan baik, sehingga kemungkinan
keterlambatan dapat diperkecil.
Manfaat dari time schedule antara lain :
Sebagai pedoman kerja bagi pelaksana terutama menyangkut batasan waktu dan pelaksanaan tiap pekerjaan
yang dilaksanakan.
Sebagai koordinasi bagi pimpinan proyek terhadap semua pelaksanaan pekerjaan.
Sebagai tolak ukur kemajuan pekerjaan di setiap harinya, sehingga progress report setiap waktu dapat dilihat.
Sebagai evaluasi tahap akhir dari setiap pelaksanaan pekerjaan.
Setiap item pekerjaan pada time schedule mempunyai prosentase bobot sendiri-sendiri sedangkan Time schedule
menyatakan pembagian waktu terperinci untuk setiap jenis pekerjaan, mulai dari permulaan sampai akhir
pekerjaan sehingga kumulatif prosentase bobot pekerjaan ini akan membentuk kurve S. Untuk kurva S terdiri dari
kurva S rencana dan kurva S realisasi. Fungsi kurva S adalah :
Menentukan waktu penyelesaian tiap bagian pekerjaan proyek. Menentukan
besarnya biaya pelaksanaan proyek.
Mengetahui progress pekerjaan yang dihasilkan dilapangan dengan perencanaan, sehingga dapat menjadi
bahan evaluasi.
5. Pengendalian TEKNIS PEKERJAAN
Pada pelaksanaan dilapangan biasanya akan mengalami problem pada item pekerjaaan tertentu. Pengendalian
Teknis Pekerjaan menunjukkan tahap untuk pengawasan dan kontrol terhadap kualitas pekerjaan. Hal ini
memerlukan suatu menajemen kualitas agar hasil pekerjaan dapat tercapai mutu sesuai rencana proyek. Jika
permasalahan yang dihadapi memerlukan perhitungan teknis maka pihak engineering akan membuat metode
repair yang kemudian akan diajukan terlebih dahulu kepada konsultan perencana . Namun apabilaproblem yang
dihadapi tidak memerlukan perhitungan teknis seperti melendutnya bekisting, biasanya dari pihak pelaksana dan
dibantu oleh konsultan pengawas akan segera mencari pemecahannya.Dalam pengendalian mutu ini peran QC
(Quality Control) akan sangat berperan, QC akan mendampingi supervisor dalam pelaksanaan dilapangan.
Page 35
Untuk pengendalian teknis memerlukan analisis permasalahan yang timbul dilapangan sesuai yang diamati, begitu
juga langkah yang akan diambil sebagai penyelesaian dari problem yang ada.
Beberapa pengujian hasil pekerjaan di lapangan untuk memastikan hasil pelaksanaan memenuhi persyaratan
spesifikasi mutu yang di persyaratkan Uji Mutu/ Teknis/ Fungsi yaitu :
Bahan Konstruksi permanen :
• Test Slump pada Beton Sitemix
• Test Operasi peralatan Lift
• Test Operasi Tata Udara
• Test operasi Instalasi gas medis
• Test Nyala pada Listrik untuk Panel
Ilustrasi slump test
Page 36
Test nyala pada panel
6. PROGRESS REPORT
Pengendalian hasil pekerjaan di lapangan dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan dan permasalahan di
proyek melalui laporan kemajuan dan koordinasi proyek. Laporan kemajuan proyek dikerjakan secara berkala
untuk mengetahui sejauh mana kemajuan dari proyek itu.
a. Laporan Harian
Laporan harian dibuat setiap hari secara tertulis oleh pihak pelaksana proyek dalam melakukan tugasnya dan
dalam mempertanggungjawabkan terhadap apa yang telah dilaksanakan serta untuk mengetahui hasil kemajuan
pekerjaannya apakah sesuai dengan rencana atau tidak. Laporan ini dibuat untuk memberikan informasi bagi
pengendali proyek dan pemberi tugas melalui direksi tentang perkembangan proyek. Dengan adanya laporan
harian ini, maka segala kegiatan proyek yang dilakukan tiap hari dapat dipantau.
Laporan harian berisikan data – data antara lain :
1) Waktu dan jam kerja
2) Pekerjaan yang telah dilaksanakan maupun yang belum
3) Keadaan cuaca
4) Bahan – bahan yang masuk ke lapangan
5) Peralatan yang tersedia di lapangan
6) Jumlah tenaga kerja di lapangan
7) Hal – hal yang terjadi di lapangan
b. Laporan Mingguan
Laporan mingguan bertujuan untuk memperolah gambaran kemajuan pekerjaan yang telah dicapai dalam satu
minggu yang bersangkutan, disusun berdasarkan laporan harian selama satu minggu tersebut. Laporan mingguan
berisikan antara lain :
1) Jenis pekerjaan yang telah diselesaikan.
Page 37
2) Volume dan prosentase pekerjaan dalam satu minggu itu.
3) Catatan – catatan lain yang diperlukan.
Prosentase pekerjaan yang telah dicapai sampai dengan minggu tersebut dapat diketahui dengan
memperhitungkan semua laporan mingguan yang telah dibuat, ditambah dengan bobot prestasi pekerjaan yang
telah diselesaikan pada minggu itu. Dari prosentase pekerjaan yang telah dicapai pada minggu ini kemudian
dibandingkan dengan prosentase pekerjaan yang telah dicapai pada minggu yang bersangkutan, maka akan
diketahui prosentase keterlambatan atau kemajuan yang telah diperoleh. Laporan mingguan tidak dapat
dipisahkan dengan time schedule pelaksanaan pekerjaan yang telah disusun oleh pihak Kontraktor dengan
persetujuan Project Manager.
c. Laporan Bulanan
Laporan bulanan pada prinsipnya sama dengan laporan mingguan, yaitu untuk memberikan gambaran tentang
kemajuan proyek. Untuk tujuan itu dibuatlah rekapitulasi laporan mingguan maupun laporan harian dengan
dilengkapi foto – foto pelaksanaan pekerjaan selama bulan yang bersangkutan. Laporan bulanan dilaporkan
kepada Pemilik Proyek (Owner).
d. Rapat Koordinasi Bulanan
Rapat koordinasi bulanan diadakan dengan dihadiri oleh Owner, Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas dan
Kontraktor Utama. Dalam rapat ini dibahas hal – hal yang berhubungan dengan pelaksanaan serta masalah –
masalah teknis yang timbul di lokasi proyek dan perkembangan proyek yang sedang berjalan serta koordinasi
masing – masing unsur proyek yang terlibat langsung.
7. Pengendalian BIAYA
Perlunya pengendalian biaya adalah untuk dapat mengetahui jumlah biaya dengan realisasi pekerjaan. Fungsi dari
pengendalian biaya agar dari Rencana Anggaran Biaya (RAB) tidak membengkak dalam pelaksanaannya. Jikapun
adanya pembengkakan maka perlunya evaluasi biaya.
8. Pengendalian K3
Jaminan keselamatan dan kesehatan kerja sangat diperlukan untuk melindungi para pekerja dari segala
kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Perlindungan tenaga kerja dalam suatu proyek dimaksudkan agar
tenaga kerja dapat bekerja dengan aman dalam melakukan pekerjaannya. Target K3 sendiri adalah ‘zero accident’
selama pelakasanaan di lapangan sehingga perlunya penyusunan:
Page 38
a. Safety Plan
Identifikasi bahaya kerja, dan penanggulangannya, rencana penempatan alat-alat pengamanan seperti pagar
pengaman, rambu-rambu K3 serta rencana penempatan alat-alat kebakaran (tabung pemadam api), dan lain-lain.
b. Security Plan
Prosedur keluar masuk bahan proyek, prosedur penerimaan tamu, identifikasi daerah rawan di wilayah sekitar
proyek, dan prosedur komunikasi di proyek.
c. House Keeping
lokasi penempatan dan tempat sementara penimbunan material bekas, pengaturan kantor, jalan sementara,
gudang, barak pekerja dan lain-lain.
RENCANA PENANGANAN MASA PEMELIHARAAN
Setelah pekerjaan selesai dilaksanakan semua (100%) akan diajukan permohonan untuk diadakan pemeriksaan
terhadap pekerjaan, setelah dinyatakan pekerjaan yang dilakukan bagus dan cukup akan dilakukan permohonan
serah terima pertama (I). Setelah diadakan serah terima pertama barulah masa pemeliharaan dapat dilaksanakan.
Selama masa pemeliharaan pekerjaan jika terdapat kerusakan pada bangunan maka akan dipertanggung
jawabkan.
Kegiatan dalam masa pemeliharaan proyek :
Pemeliharaan konstruksi adalah tahap uji coba dan pemeriksaan atas hasil pelaksanaan konstruksi fisik. Di dalam
masa pemeliharaan ini akan melakukan perbaikan segala cacat atau kerusakan dan kekurangan yang terjadi
selama masa konstruksi.
Dalam masa pemeliharaan semua peralatan yang dipasang di dalam dan di luar gedung, harus diuji coba sesuai
fungsinya. Apabila terjadi kekurangan atau kerusakan yang menyebabkan peralatan tidak berfungsi, maka akan
diperbaiki sampai berfungsi dengan sempurna.
Hasil kerja yang masih kurang sempurna akan dilakukan perbaikan sampai memenuhi spesifikasi untuk diterima
oeh pihak owner.
Masa pemeliharaan konstruksi akan mengikuti aturan yang ada dalam kontrak terhitung sejak serah terima
pertama pekerjaan konstruksi.
Jika ada hasil pekerjaan yang kurang bagus, pada masa perawatan adalah saat bagi kontraktor untuk
memperbaikinya sehingga dapat memberikan produk dengan kualitas terbaik.
Page 39
Melakukan perbaikan jika ada pekerjaan yang tidak baik atau ME tidak berfungsi, misalnya pada atap yang
pekerjaan maka harus diperbaiki agar air hujan tidak merusak bagian interior bangunan.
Waktu bagi kontraktor untuk menyelesaikan administrasi kontrak seperti laporan pelaksanaan, gambar asbuilt
drawing, foto proyek, tagihan pembayaran dan sejenisnya.
Pekerjaan bongkar fasilitas proyek seperti barak pekerja, direksi keet dan macam-macam perlengkapan
pembangunan lainya.
Demikian beberapa tentang masa pemeliharaan proyek.
Demikian Metode Pelaksanaan ini kami susun sebagai gambaran bahwa kami mengerti dan bisa melaksanakan
pekerjaan ini dan dokumen ini sebagai persyaratan dalam penawaran. Terima Kasih
Page 40| Authority | |||
|---|---|---|---|
| 4 April 2024 | Bangunan Gedung Tempat Pendidikan Pembangunan 6 Rkb Sdn239 Saluminanga Kec. Malili; | Kab. Luwu Timur | Rp 1,638,000,000 |
| 3 April 2023 | Pembangunan Rkb (Bertingkat Suntik) Sdn 271 Apundi | Kab. Luwu Timur | Rp 1,500,000,000 |
| 16 April 2020 | Lanjutan Tribun Mini Wasuponda | Kab. Luwu Timur | Rp 768,000,000 |
| 10 April 2023 | Persediaan Untuk Dijual/Diserahkan Kepada Masyarakat, Pembangunan Gedung Asrama Pondok Pesantren Al Ittihad Al Ummah | Kab. Luwu Timur | Rp 700,000,000 |
| 10 April 2023 | Rehabilitasi Sedang/Berat 7 Rkb Sdn 247 Sorowako | Kab. Luwu Timur | Rp 420,000,000 |
| 10 June 2024 | Pembangunan Rkb Tk Al-Ikhwan (Dak) Kec. Nuha | Kab. Luwu Timur | Rp 237,000,000 |