URAIAN SINGKAT PEKERJAAN
1. Nama Paket Pekerjaan : Pemeliharaan Daerah Irigasi Diyo, Pemeliharaan Daerah Irigasi Ganten
(Konsolidasi)
2. Nilai Total HPS : Rp. 239.739.699,50 (Dua ratus tiga puluh sembilan juta tujuh ratus tiga
puluh sembilan ribu enam ratus Sembilan puluh sembilan rupiah)
termasuk PPn.
3. Sumber Dana : PAD APBD Kabupaten Malang Tahun Anggaran 2023
4. Lingkup Pekerjaan : Rincian lingkup pekerjaan sebagai berikut :
Pemeliharaan Daerah Irigasi Diyo
V O L U M E
Galian TanahTimbunan tanah Pas. Batu Kali Siaran Pasangan Pasang Beton Beton Bekisting
URAIAN PEKERJAAN Biasa Sedalam / urugan tanah Mortar Tipe N ( 1 : 4 ) Mortar Tipe M Batu Muka Pipa suling Bronjong K - 175 K - 100 PlesteranPembesian Sandbag Multiflex
< 1 m kembali 0 s.d 1m' > 1 s.d 2m' > 2 s.d 3m' > 3 s.d 4m' 1 : 2 ( Weephole )
m3 m3 m3 m3 m3 m3 m2 m2 m' m3 m3 m3 m2 /100kg bh m2
PASANGAN BETON + LANTAI = 10,00m 1,100 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 2,300 0,000 0,000 1,280 0,000 8,000
( T = 0,1 m )
PASANGAN BETON = 175,37m 5,551 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 22,730 0,000 0,000 11,318 0,000 64,301
( T = 0,1 m )
PASANGAN BETON + LANTAI = 2,00m 0,690 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 1,830 0,000 0,000 0,862 0,000 3,300
( T = 0,15 m )
PASANGAN BETON + LANTAI = 6,00m 1,170 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 15,300 0,000 0,000 0,956 0,000 5,700
( T = 0,15 m )
J U M L A H 8,511 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 42,160 0,000 0,000 14,416 0,000 81,301
Pemeliharaan Daerah Irigasi Ganten
V O L U M E
Galian TanahTimbunan tanah Pas. Batu Kali Siaran Pasangan Pasang Beton Beton Bekisting
URAIAN PEKERJAAN Biasa Sedalam / urugan tanah Mortar Tipe N ( 1 : 4 ) Mortar Tipe M Batu Muka Pipa suling Bronjong K - 175 K - 100 PlesteranPembesian Sandbag Multiflex
< 1 m kembali 0 s.d 1m' > 1 s.d 2m' > 2 s.d 3m' > 3 s.d 4m' 1 : 2 ( Weephole )
m3 m3 m3 m3 m3 m3 m2 m2 m' m3 m3 m3 m2 /100kg bh m2
PASANGAN BATU SAYAP = 22,00m 10,780 12,100 0,000 37,400 0,000 0,000 46,200 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 11,000 0,000 0,000 0,000
( T = 2,2 m )
PASANGAN BATU = 15,76m 2,522 0,000 6,934 0,000 0,000 0,000 11,347 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 5,989 0,000 0,000 0,000
( T = 0,8 m )
PASANGAN BATU = 45,00m 12,600 0,000 17,850 0,000 0,000 0,000 23,400 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 17,100 0,000 0,000 0,000
( T = 0,6 m )
PONDASI KANTILEVER ( D - D ) = 0,00m 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000
( T = 0 m )
J U M L A H 25,902 12,100 24,784 37,400 0,000 0,000 80,947 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 34,089 0,000 0,000 0,000
Dalam pelaksanaan pekerjaan sesuai yang tertuang dalam dokumen
kontrak, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum
melaksanakan pekerjaan diantaranya adalah
Rincian lingkup pelaksanaan konstruksi tersebut adalah :
a. Bersama Konsultan MK membantu KPA/PPK dalam proses
pembangunan fisik.
b. Lingkup pekerjaan Kontraktor Pelaksana dalam kegiatan ini adalah:
1) Memeriksa dan mempelajari dokumen untuk pelaksanaan
konstruksi yang akan dijadikan dasar dalam pekerjaan di
lapangan;
2) Menyusun program kerja yang meliputi jadwal waktu
pelaksanaan, jadwal pengadaan bahan, jadwal penggunaan
tenaga kerja, dan jadwal penggunaan peralatan berat;
3) Melaksanakan persiapan di lapangan sesuai dengan pedoman
pelaksanaan;
4) Melaksanakan pekerjaan konstruksi fisik di lapangan sesuai
dengan dokumen pelaksanaan;
5) Mengoptimalkan pemakaian bahan, peralatan dan metode
pelaksanaan, serta ketepatan waktu dan biaya pekerjaan
konstruksi;
6) Mengoptimalkan pelaksanaan pekerjaan konstruksi dari segi
kualitas, kuantitas, dan laju pencapaian volume/realisasi fisik;
7) Mengumpulkan data dan informasi di lapangan untuk
memecahkan persoalan yang terjadi selama pelaksanaan
konstruksi;
8) Melaksanakan pelaporan pelaksanaan konstruksi fisik, melalui
rapat-rapat lapangan, laporan harian, laporan mingguan,
laporan bulanan, laporan kemajuan pekerjaan, laporan
persoalan yang timbul atau dihadapi, dan surat-menyurat;
9) Menyusun gambar pelaksanaan (shop drawing) untuk
pekerjaan-pekerjaan yang memerlukannya. Shop drawing
diajukan kepada Konsultan MK dan Pejabat Pembuat
Komitmen (PPK);
10) Membuat gambar yang sesuai dengan pelaksanaan di lapangan
(as built drawings) yang selesai sebelum serah terima pertama
11) setelah disetujui oleh penyedia jasa manajemen konstruksi
atau penyedia jasa pengawasan konstruksi dan diketahui oleh
penyedia jasa perencanaan konstruksi;
12) Melakukan perbaikan terhadap cacat/kerusakan pada masa
pemeliharaan, dan menyusun laporan akhir pekerjaan
konstruksi;
13) Menyusun berita acara persetujuan kemajuan pekerjaan,
berita acara pemeliharaan pekerjaan, dan serah terima
pertama dan kedua pelaksanaan konstruksi sebagai
kelengkapan untuk pembayaran angsuran pekerjaan
konstruksi;
14) Bersama-sama penyedia jasa perencanaan dan Manajemen
Konstruksi menyusun petunjuk pemeliharaan saluran;
15) Lingkup pekerjaan :
I. PEKERJAAN PENDAHULUAN
1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
a. Kesehatan
Perlu diperhatikan kesehatan para pekerja khususnya dan
masyarakat lingkungan proyek pada umumnya jangan sampai
timbul adanya penyakit menular dan penyakit-penyakit lainnya
yang sangat berbahaya yang akan menghambat pelaksanaan
proyek.
b. Keselamatan Kerja
Alat-alat Bantu untuk pengaman dan peralatan lainnya perlu
disediakan oleh Kontraktor yang melaksanakan pekerjaan
tersebut. Untuk penanganan awal bila terjadi kecelakan kerja
disediakan pula kotak P3K dan obat-obatan untuk keperluan
penanganan darurat.
2. Pekerjaan Uitzet
Pekerjaan uitzet ini dimaksudkan untuk melakukan pengukuran
awal/acuan selama pelaksanaan pekerjaan. Uitzet ini harus
dihadiri oleh Direksi Pekerjaan, Konsultan pengawas dan atau
Konsultan Perencana pekerjaan. Adapun pekerjaan Uitzet ini
diantaranya adalah
Kontraktor Pelaksana harus menyiapkan tim pengukuran
(Pekerja, Juru Ukur dan Pembantu Juru Ukur) dan
perlengkapan (Theodolite, Waterpass dan GPS) selama
pelaksanaan uitzet ini. Kontraktor Pelaksana pekerjaan harus
membuat titik titik patok ukur hasil pengukuran (Stake Out)
gambar kerja sesuai arahan Direksi Pekerjaan dan Konsultan
Pengawas.
Pengukuran dan pemrofilan saluran/bangunan irigasi dilakukan
dengan memasang patok Bouwplank yang ditanam kedalam
tanah menggunakan kayu keras ukuran 5/7 cm. Jarak patok
dari sisi galian minimal 1,00 m dan jarak patok satu dengan
patok lainnya maksimal 2,00 m. Papan bouwplank
menggunakan kayu kelas II ukuran 2/20 cm dan bidang sebelah
atas harus diserut/diketam sampai rata. Penentuan tinggi
bouwplank disesuaikan dengan elevasi rencana dan harus
disetujui oleh Direksi. Pemasangan bouwplank harus siku-siku
90°. Untuk mendapatkan garis horisontal bouwplank yang
maksimal, pemasangan bouwplank dapat dilakukan dengan
menggunakan selang air atau pesawat ukur seperti waterpass
dan theodolite. Untuk pekerjaan pemrofilan tanah bisa
menggunakan jarak minimal 25 meter ataupun menyesuaikan
dengan rencana desain konstruksi yang akan dibangun.
Foto Dokumentasi selama kegiatan Uitzet ini diambil minimal 3
Foto setiap memperlihatkan keadaan sebelum mulai
pekerjaan, keadaan dalam tahap pelaksanaan dan keadaan
telah selesai. Foto – foto pada tiap patok diambil searah
dengan aliran air dan dalam kondisi latar belakang yang sama.
Ketiga gambar diletakkan dalam album dengan tanggal
pengambilan dan disertai dengan penjelasan. Album
diserahkan sejumlah yang ditetapkan oleh direksi.
Semua hal yang terkait dengan perubahan ataupun tidak
adanya perubahan hasil pekerjaan Uitzet ini harus tertuang
dalam dokumen Laporan Pekerjaan (Laporan MC-0). Laporan
MC-0 ini berisikan Laporan Perhitungan Biaya, Laporan
Perhitungan Volume, Gambar Rencana Pelaksanaan Kerja, Foto
Pekerjaan 0%, Kurva S, dan lampiran lainnya yang diperlukan di
dalam pelaksanaan. Laporan Pekerjaan (Laporan MC-0) harus
segera diserahkan kepada Direksi Pekerjaan untuk
mendapatkan persetujuan sebelum pelaksanaan pekerjaan
dimulai.
II. PEKERJAAN TANAH
1. Galian tanah biasa
Pada pekerjaan galian dilakukan secara manual yang dikerjakan
oleh beberapa pekerja. Langkah – langkah pengerjaannya adalah :
Membuat profil/acuan (papan ataupun kayu balok) hasil
pengukuran/rencana gambar dibantu dengan peralatan
ukur sesuai dengan hasil pengukuran elevasi/dimensi
konstruksi. Profil/acuan ini nantinya digunakan sebagai
petunjuk untuk galian tanah yang disesuaikan dengan
kebutuhan pelaksanaan konstruksi.
Alat yang digunakan disesuaikan dengan kondisi tanah
galian, dikarenakan sebagian galian terdiri dari lumpur
maka dibuat alat semacam serok yang dilubangi. Ini
dimaksudkan agar air tidak ikut terbawa saat dilakukan
penggalian.
Menggali dengan mengikuti arah aliran sedikit demi sedikit
sampai terkumpul ditempat yang dianggap bebas.
Hasil galian dibuang ke samping letak galian dan diusahakan
tidak mengganggu pekerjaan lainnya atau tidak masuk
kembali ke dalam galian.
Pekerjaan menggali dikerjakan sampai pada ukuran yang
direcanakan.
2. Timbunan Tanah
Untuk pekerjaan dengan volume tanah relatif kecil maka
pekerjaan timbunan dilaksanakan dengan peralatan manual.
Timbunan adalah pekerjaan urugan kembali material yang di gali
sebelumnya. Hasil timbunan dirapikan dengan cangkul dan
dipadatkan dengan alat yang tersedia sesuai dengan gambar.
III. PEKERJAAN PASANGAN
1. Pasangan Batu Dengan Mortar Jenis PC-PP, Mortar tipe N dengan
mutu PP tertentu setara dengan campuran 1 PC:4 PP
(Menggunakan Molen)
Sebagian besar konstruksi bendung/saluran yang direncanakan
merupakan konstruksi yang terbuat dari Pasangan Batu. Untuk
memulai pekerjaan pasangan batu yang dimaksud tersebut maka
ada beberapa hal yang harus dilaksanakan diantarannya adalah
a. Acuan/Profil
Sebelum pekerjaan pasangan batu kali dilaksanakan maka
dibuat dulu acuan/profil saluran/bangunan air yang akan
dibangun. Acuan/profil tersebut berupa kemiringan saluran
dan alur saluran/bangunan air. Pembuatan acuan/profil ini
sebisa mungkin memudahkan selama pelaksanaan.
Acuan/profil ini dibuat paling tidak setiap jarak 5 meter. Selain
itu untuk mempermudah pekerjaan maka setiap titik
acuan/profil ditarik benang (lot) agar saluran/bangunan air
mempunyai permukaan yang lurus.
b. Bahan Material
Untuk melaksanakan pekerjaan pasangan batu dengan
campuran 1 PC:4 PP, maka bahan bahan yang harus disiapkan
diantaranya adalah batu kali, semen (portland cement), pasir
pasang dan air.
Standart material dan tata cara pelaksanaannya harus
mengikuti Aturan Standart Nasional Indonesia (SNI) atau yang
tertuang dalam Dokumen Spesifikasi Teknis. Bahan bahan
campuran (Batu kali, Semen, Pasir pasang dan Air) harus
diletakkan sedekat mungkin (yang memungkinkan) dengan
lokasi pelaksanaan pekerjaan
c. Campuran
Untuk melaksanakan pekerjaan pasangan batu (1 m3) dengan
campuran 1 PC : 4 PP dengan menggunakan Concrete Mixer,
maka harus dibuat mortar campuran sesuai dengan komposisi
sebagai berikut:
Pasir Pasang
Kebutuhan Pasir Pasang untuk tiap (1 m3) pasangan batu
kali adalah 0,52 m3.
Portland Cemen (PC)
Kebutuhan Portland Cemen untuk tiap (1 m3) pasangan
batu kali adalah 163 Kg (4,075 Zak).
Air
Kebutuhan air dalam campuran ini sesuai yang disyaratkan
oleh Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton
Normal (SNI-03-2834-2000) yaitu berkisar antara 0,4 – 0,6
dengan melihat kondisi material pasir pasang.
d. Konstruksi
Sebelum pemasangan batu kali, maka perlu diperhatikan
penempatan batu kali. Penempatan batu kali yang tepat, akan
mengurangi langsiran batu kali yang berulang. Maka setiap
pelaksana lapangan harus memberi sketsa penempatan batu
kali. Pembongkaran batu kali dari truk tidak harus dibongkar di
satu tempat, tetapi bisa bisa beberapa tempat, tergantung sket
penempatan batu kali. Penempatan pembongkaran batu kali
yang tepat adalah tugas logistik lapangan, dengan berdasar
sketsa dari pelaksana.
Batuan untuk konstruksi pasangan batu kali harus berbentuk
seragam dengan dimensi batu pecah 0,2 x 0,2 x 0,25 cm, atau
dengan berat maksimum 25 Kg. Batuan harus kondisi pecah,
hal ini bertujuan untuk memperluas permukaan sentuh antar
batu kali, dan lekatan antara spesi dengan permukaan batu
pecah menjadi kuat dan stabil. Batu belah harus bebas dari
kotoran tanah, dan jangan batu yang porous atau secara visual
kelihatan berongga.
Penataan batu diusahakan saling menutup sisi batu dengan
jarak antar batu 2 - 3 cm. Penataan batu ini harus rapi dan diisi
dengan campuran mortar 1 PC : 4 PP. Pengisian mortar harus
padat dan tidak boleh ada rongga antar batu yang tidak terisi
mortar. Apabila ada rongga antar batu yang dirasa terlalu besar
maka disarankan diisi dengan pecahan batu kecil dan diperkuat
dengan mortar. Harapannya agar konstruksi batu kali ini padat
dan saling terjadi ikatan antar batu.
2. Siaran dengan mortar jenis PC-PP tipe M, fc'=17,2 MP ( setara 1 PC
: 2 PP )
Semua pekerjaan batu muka yang kelihatan harus disiar, adukan
untuk siaran 1 Pc : 2 Psr, kecuali ditentukan lain oleh Direksi.
Sebelum pekerjaan siaran dimulai semua bidang sambungan di
antara batu muka harus dikorek sebelum adukan mengeras (atau
dibetel untuk pasangan lama). Pekerjaan siaran dapat dibagi atas :
a. Siaran tenggelam (masuk ke dalam ± 1 cm dari permukaan
batu)
b. Siaran rata (rata dengan permukaan batu)
c. Siaran timbul (timbul 1 cm, lebar tidak kurang 2 cm)
Kecuali ditentukan lain semua pekerjaan siar harus siar
tenggelam. Tahapan pelaksanaan pekerjaan siaran adalah
sebagai berikut :
a. Penyiapan material dan peralatan diusahakan dekat dengan
lokasi pekerjaan.
b. Material yang dipakai adalah : pasir, semen, dan air. Pasir
dibersihkan dari semua kotoran yang bersifat organic dan
dengan kandungan lumpur tanah tidak melebihi
persyaratan, air yang dipakai adalah air yang bersih dan
tidak mengandung lumpur.
c. Pekerja menyiapkan spesi dengan perbandingan 1 semen :
2 pasir, spesi diaduk dengan molen/kotak adukan untuk
mendapatkan hasil yang homogen.
d. Pasir dimasukkan ke dalam molen/kotak adukan terlebih
dahulu kemudian semen dengan perbandingan tersebut di
atas dan diaduk sampai pasir dan semen bercampur.
Setelah dirasa sudah campur baru diberi air bersih
secukupnya sesuai kebutuhan spesi dengan posisi molen
masih mengaduk. Setelah spesi sudah matang/ campuran
semen, pasir dan air merata, adukan spesi dituang ke kotak
tempat spesi.
e. Spesi dibawa ke tempat pasang siaran dimana tukang dan
pembantu tukang sudah siap ditempat.
f. Sebelum spesi dipasang terlebih dahulu semua bidang
sambungan diantara batu muka harus dikorek. Apabila
bidang yang dikorek terlalu kering maka terlebih dahulu
permukaan dibasahi menggunakan air bersih untuk
mendapatkan ikatan yang kuat antara spesi lama dengan
spesi baru.
g. Siaran dibentuk sesuai lekukan sambungan dan dirapikan
sehingga terlihat indah.
h. Semua spesi yang jatuh atau tidak menempel dibersihkan
dan dibuang.
i. Setelah pekerjaan pekerjaan selesai, Penyedia Jasa
memberitahukan kepada Direksi dan Konsultan Pengawas
untuk diadakan pengukuran pekerjaan tersebut apakah
sesuai dengan rencana kerja, spesifikasi dan RAB.
j. Apabila Direksi menyatakan sudah sesuai dengan rencana
kerja, spesifikasi dan RAB, maka kami melanjutkan
pekerjaan ke tahap selanjutnya.
3. Plesteran tebal 1,5 cm, dengan mortar tipe S, fc' = 12,5 Mpa (
setara 1 PC : 3 PP )
Plesteran 1 : 3 ; Tebal 15 mm Pekerjaan plesteran akan
dilaksanakan setelah pasangan batu selesai dan atau sedang
berlangsung dimana telah memasuki pertengahan atau akhir dari
pekerjaan pasangan batu, adukan yang digunakan adalah
campuran 1 : 3 dimana terdiri dari komposisi 1 semen dan 3 pasir
pasangan, sebelum pelaksanaan dimulai maka permukaan yang
akan diplester dibersihkan terlebih dahulu baik dari kotoran
lumpur maupun kotoran non organik lainnya karena bila dikotori
oleh kotoran maka akan mengurangi daya rekat dari pasangan
plesteran tersebut. Pekerjaan ini akan dikerjakan oleh tukang-
tukang yang telah berpengalaman dan akan dikerjakan sesuai
dengan gambar rencana. Plesteran ini berfungsi agar air tidak
merembes atau meresap kepasangan batu gunung.
IV. PEKERJAAN BETON
1. Beton mutu, f’c = 14,5 MPa (K175), slump (12±2) cm, w/c = 0,66
(Menggunakan Molen)
Untuk melaksanakan pekerjaan Beton Mutu K-175 maka ada
beberapa hal yang harus dilaksanakan diantarannya adalah
a. Acuan/Profil
Sebelum pekerjaan Beton Mutu K-175 maka dibuat dulu
acuan/profil saluran/bangunan air yang akan dibangun.
Acuan/profil tersebut digunakan untuk menentukan
dimensi/ukuran yang akan menggunakan campuran Beton
Mutu K-175. Pembuatan acuan/profil ini sebisa mungkin
memudahkan selama pelaksanaan. Acuan/profil ini dibuat
paling tidak setiap jarak 5 meter. Selain itu untuk
mempermudah pekerjaan maka setiap titik acuan/profil ditarik
benang (lot) agar saluran/bangunan air mempunyai
permukaan yang lurus.
Untuk mempermudah dalam pelaksanaan pekerjaaannya
disarankan menggunakan Begisting dari papan dan kayu.
Begisting dipasang berdasarkan acuan/profil yang sudah
ditentukan sebelumnya dengan melakukan pengecekan posisi
dan elevasi dasar lahan dengan menggunakan waterpass dan
theodolith, tarik benang antar patok untuk menentukan as dan
batas lantai kerja. Pemasangan Begisting harus diperkuat
dengan Skoor dari kayu/papan. Pembongkaran bekisting
dilakukan setelah beton cukup keras dan kuat menahan beban
sendiri minimal umur beton 2 hari (beton nonstruktur) dan 27
hari (beton struktural).
b. Bahan Material
Untuk melaksanakan pekerjaan Beton Mutu K-175, maka
bahan bahan yang harus disiapkan diantaranya adalah
Semen (Porland Cement)
Pasir Cor
Kerikil
Air
Standart material dan tata cara pelaksanaannya harus
mengikuti Aturan Standart Nasional Indonesia (SNI) atau yang
tertuang dalam Dokumen Spesifikasi Teknis. Bahan bahan
campuran (Semen, Pasir Cor, Kerikil dan Air) harus diletakkan
sedekat mungkin (yang memungkinkan) dengan lokasi
pelaksanaan pekerjaan
c. Campuran
Untuk melaksanakan pekerjaan Beton Mutu K-175 (1 m3),
maka harus dibuat mortar campuran sesuai dengan komposisi
sebagai berikut :
Portland Cemen (PC)
Kebutuhan Portland Cemen untuk tiap (1 m3) Beton Mutu
K-175 adalah 326 Kg (8,15 Zak).
Pasir Cor
Kebutuhan Pasir Cor untuk tiap (1 m3) Beton Mutu K-175
adalah 760 Kg.
Kerikil
Kebutuhan Kerikil untuk tiap (1 m3) Beton Mutu K-175
adalah 1029 Kg.
Air
Kebutuhan air untuk tiap (1 m3) Beton Mutu K-175 adalah
215 Liter.
Proses pencampuran adalah dengan menyiapkan Pasir Cor,
Kerikil, Semen dan Air sesuai dengan volume (takaran) yang
disyaratkan dengan cara manual. Pasir Cor dihampar dalam
kotak adukan, kemudian Kerikil dan Portland Cement dihampar
diatas Pasir Pasang tadi. Setelah proses penghamparan selesai
kemudian dilakukan pengadukan secara merata mulai dari atas
sampai bawah campuran. Apabila dirasa sudah tercampur
secara merata antara campuran tadi, maka ditambahkan air
sesuai dengan kebutuhan yang disyaratkan. Apabila mortar
Beton K-175 sudah dirasakan tercampur merata (monolit),
maka mortar Beton K-175 tadi siap untuk digunakan.
d. Konstruksi
Hal yang perlu diperiksa dengan Direksi dan Konsultan
Pengawas sebelum Mortar Beton K-175 dituangkan (dicor)
adalah sebagai berikut :
Bentuk dan ukuran bekisting yang disesuaikan dengan
gambar kerja
Bekisting yang dibuat sudah kuat, tidak goyang dan tidak
bocor
Semua perkuatan ( perancah / sekur ) sudah sesuai dengan
shop drawing
Pembesian sudah sesuai gambar kerja
Permukaan bekisting telah diberi minyak
Beton decking telah terpasang dan cukup
Permukaan bekisting telah dibersihkan dari segala kotoran (
kayu, potongan besi, bendrat, paku dll )
Semua perlengkapan cor sudah siap dan dalam kondisi baik
( concrete vibrator, alat bantu )
Terpal, payung dan jas hujan dipersiapkan untuk
mengantisipasi hujan
Semua pekerja harus memakai pelindung diri ( helm, sarung
tangan, sepatu )
Pengambilan benda uji untuk test beton perlu dipersiapkan
Pada proses pelaksanaan pekerjaan, bagian pekerjaan yang
terdapat konstruksi Beton Mutu K-175 harus dipastikan sesuai
dengan gambar bestek/gambar kerja. Untuk menghindari
kesalahan dalam pelaksanaan konstruksi, diperlukan koordinasi
dengan Direksi dan Konsultan Pengawas terkait rencana
pekerjaan Beton Mutu K-175. Selain itu selama pelaksanaan
konstruksi Beton Mutu K-175 maka pelaksana harus
bertanggung jawab dalam perawatan beton (curing) selama
minimal 10 hari dengan menggunakan penutup karung goni
dan dibasahi terus menerus.
2. Pembesian 100 kg dengan besi polos atau ulir
Pekerjaan pembesian memegang peran penting dari aspek
kualitas pelaksanaan mengingat fungsi besi tulangan yang penting
dalam kekuatan struktur bangunan/saluran.
a. Penyimpanan Besi
Penyimpanan besi harus pada ruang tertutup dan tidak
lembab agar besi tidak mudah berkarat. Apabila disimpan
ditempat terbuka harus dilindungi dengan terpal atau
plastik.
Tumpukan besi jangan sampai bersentuhan dengan tanah,
Oleh karena itu harus diganjal dengan balok beton/kayu
dengan ketinggian minimal 20 cm.
Penyimpanan besi harus dihindarkan dari air, kotoran,
minyak dan zat yang bersifat asam.
b. Perakitan tulangan
Untuk perakitan tulangan yang dilakukan di luar tempat
pengecoran di lokasi proyek agar setelah dirakit dapat
langsung dipasang dan proses pengecoran sesegera mungkin
dilakukan.
Cara perakitan tulangan :
Mengukur panjang untuk masing-masing tipe tulangan yang
dapat diketahui dari gambar detail desain.
Mendesign bentuk atau dimensi dari tulangan, dengan
memperhitungkan bentuk-bentuk tipe tulangan yang ada
pada desain konstruksi yang akan dibuat.
Merakit satu per satu bentuk dari tipe tulangan sesuai
dengan gambar bestek dengan kawat pengikat agar kokoh
dan tulangan tidak terlepas.
Besi beton dipotong sesuai dengan spesifikasi yang telah
disetujui Direksi/ Engineer.
Besi beton dipasang setelah bekisting bagian sampingnya
dan lantai kerja mongering.
Pengikatan besi beton menggunakan kawat baja (bendrat)
di setiap persimpangan tulangan.
Beton decking / beton tahu dipasang di beberapa tempat
untuk menjamin tebal selimut beton.
Pengecekan posisi, dimensi, jumlah dan tipe tulangan harus
dilakukan beserta begisting yang sudah dipasang secara
kuat.
c. Pemasangan Tulangan
Setelah merakit tulangan maka untuk pemasangan tulangan
dilakukan dengan cara manual. Hal-hal yang harus diperhatikan
dalam pemasangan tulangan:
Hasil rakitan tulangan dapat dipasang dan diletakkan secara
manual dilokasi struktur yang dimaksud.
Rakitan tulangan ditempatkan tidak langsung bersentuhan
dengan dasar struktur yang akan dicor. Hal ini bisa
menggunakan beton tahu ataupun beton decking. Untuk
lokasi yang pengecoran yang tidak dimungkinkan
menggunakan beton tahu/beton decking maka sebaiknya
menggunakan batu disetiap ujung tulangan, agar tulangan
tidak mengalami karat.
Setelah dipastikan rakitan tulangan benar-benar stabil,
maka dapat langsung melakukan pengecoran.
3. Bekisting lantai beton biasa dengan multiflex 12 mm atau 18 mm
(TP)
Bekisting adalah suatu konstruksi bantu yang bersifat sementara
yang digunakan untuk mencetak beton yang akan di cor, di
dalamnya atau diatasnya.
Tahap-tahap pekerjaan bekisting:
Supaya hasil cetakan beton menjadi kuat dan presisi maka
perlu diperkuat dengan kayu balok agar nantinya tidak
mengalami lendutan
Papan cetakan disusun secara rapih berdasarkan bentuk beton
yang akan di cor.
Papan cetakan dibentuk dengan baik dan ditunjang dengan
tiang agar tegak lurus tidak miring dengan bantuan alat
waterpass.
Papan cetakan tidak boleh bocor
Papan-papan disambung dengan klem / penguat / penjepit
Paku diantara papan secara berselang-seling dan tidak segaris
agar tidak terjadi retak.
Kayu kaso/balok digunakan untuk memperkuat papan
multiplex agar tidak mengalami keretakan.