METODE PELAKSANAAN
A. Survey Pendahuluan
a. Umum
Survei pendahuluan adalah untuk mendapatkan gambaran tentang kondisi
lapangan yang dapat digunakan sebagai dasar untuk survei detail selanjutnya. Survei
ini juga mencakup pekerjaan pengumpulan data pendukung dari instansi yang terkait
yang dapat dipergunakan sebagai masukan untuk pekerjaan survei lapangan
selanjutnya maupun pekerjaan perencanaan.
Kegiatan survei pendahuluan ini dilaksanakan oleh tim konsultan yang terdiri
dari Team Leader, Tenaga Ahli dan Teknisi Lapangan.
b. Lingkup Pekerjaan Survey Pendahuluan
Survei pendahuluan ini mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
1. Penyiapan peta-peta dasar antara lain :
• Peta topografi dengan skala 1 : 50.000 atau 1 : 25.000
• Peta tata guna lahan dan Peta Trase
Peta-peta tersebut dapat dipakai untuk menentukan mengetahui lokasi
kegiatan serta kondisi geografis lokasi pekerjaan secara garis besar. Peta-peta
tersebut dapat diperoleh dari instansi yang terkait antara lain: Google Maps,
Bappeda, dan Dinas Kimprasil Provinsi Maluku Utara.
2. Pengumpulan data-data pendukung antara lain :
• Data lokasi sumber material
• Data harga satuan bahan, material dan upah
• Data harga satuan dasar setempat
• Mengamati secara visual kondisi lokasi pekerjaan yang di survey.
• Mengamati secara visual pola aliran air yang terjadi pada daerah proyek
Mementukan titik acuan sebagai elevasi acuan tinggi Tambatan Perahu.
• Melakukan dokumentasi berupa foto-foto lapangan pada lokasi-lokasi
penting untuk semua jenis kegiatan antara lain foto jalan, foto sungai, foto
jembatan dan gorong-gorong, foto awal dan akhir proyek.
• Membuat laporan lengkap dari semua jenis kegiatan survei pendahuluan
memberikan saran-saran yang diperlukan untuk pekerjaan perencanaan
maupun pekerjaan konstruksi.
Selanjutnya koordinasi yang erat selama periode pelaksanaan pekerjaan
dilakukan dengan mengadakan pertemuan berkala secara teratur.
B. Pengukuran Topografi
a. Maksud dan Tujuan
Maksud pekerjaan pengukuran topografi adalah mendapatkan data bentuk
permukaan bumi yang selanjutnya data hasil ukuran tersebut dipresentasikan dalam
bentuk peta dengan menggunakan skala tertentu.
Tujuan pekerjaan pengukuran topografi adalah untuk mendapatkan peta
topografi sepanjang sumbu/as rencana jalan serta daerah-daerah disekitarnya yang
diperlukan dalam pembuatan perencanaan detail jalan dengan ketelitian sesuai
standar yang dileuarkan oleh jawatan topografi.
b. Lingkup Pekerjaan
Maksud pekerjaan pengukuran topografi adalah mendapatkan data bentuk
permukaan bumi yang selanjutnya data hasil ukuran tersebut dipresentasikan dalam
bentuk peta dengan menggunakan
a. Pekerjaan perintisan untuk pengukuran
b. Pekerjaan pengukuran yang terdiri dari:
• Pemasangan patok/titik tetap
• Pengukuran titik kontrol horizontal
• Pengukuran titik kontrol vertical
• Pengukuran situasi dan penampang
• Perhitungan dan penggambaran peta
Adapun tenaga ahli yang terlibat pada pekerjaan ini adalah team leader dan
Surveyor.
c. Metode Pelaksanaan Pekerjaan
a. Pekerjaan perintis untuk pengukuran
• Pekerjaan perintisan adalah merintis atau membuka sebagian daerah yang
akan diukur, sehingga pengukuran dapat dilaksanakan dengan lancar.
• Perintisan dilakukan pada koridor yang telah ditentukan oleh tim survey
pendahuluan, yaitu Team Leader dan didampingi oleh Field Project Officer.
• Peralatan yang digunakan untuk pekerjaan perintisan adalah peralatan
konvensional berupa parang, kampak dan sebagainya.
b. Pekerjaan perintis untuk pengukuran
• Pekerjaan pengukuran topografi dilakukan sepanjang rencana as jalan
(mengikuti koridor rintisan) dengan mengadakan pengukuran-pengukuran
tambahan pada daerah persilangan dengan sungai dan jalan lain yang telah
ada.
• Titik awal pengukuran ditetapkan pada tempat yang mudah dikenal dan aman,
sesuai yang telah ditentukan oleh tim konsultan dan field project officer. Titik
awal dan akhir proyek hendaknya diikatkan pada titik-titik tetap.
• Jika disekitar titik awal terdapat titik tetap (BM) nasional yang diketahui harga
koordinatnya, maka yang dipakai sebagai referensi adalah koordinat BM
tersebut, dengan catatan hal ini disetujui Field Project Officer.
• Referensi arah utama yang digunakan adalah arah utara Geografis yaitu hasil
dari pengamatan azimut matahari.
Pemasangan patok dan titik tetap
Patok-patok pengukuran dipasang sedemikian rupa sehingga jarak
antara patok dengan lainnya adalah 50 m didaerah lurus (relatif) dan 25 m
di daerah tikungan. Sebagai titik tetap dipasang BM (Bench mark) pada titik
awal, titik akhir dan pada setiap jarak 1 (satu) kilometer sepanjang rencana
jalan, serta pada perpotongan rencana jalan dengan sungai (2 buah
seberang-menyeberang)
Pengukuran titik kontrol horizontal
Pengukuran titik kontrol horizontal dilakukan dalam bentuk poligon
terbuka dengan jarak antar titik poligon maksimal 100 meter. Peralatan-
peralatan yang dipergunakan adalah :
➢ Alat ukur Theodolite/Total Station
➢ Statip
➢ Unting-unting
➢ Pita ukur baja 50 meter
➢ Bak ukur dengan Nivo Bak
Pengukuran sudut dilakukan dengan menggunakan Theodolite dan
unting-unting sebagai targetnya. Sedangkan pengukuran jarak
menggunakan pita ukur baja yang dicek dengan pembacaan optis.
Perhitungan azimuth dari hasil pengukuran poligon aliran dikontrol dengan
azimuth hasil dari pengamatan matahari.
Ketelitian hasil ukuran poligon harus memenuhi ketentuan sebagai
beikut :
− Kesalahan sudut yang diperbolehkan adalah <10” n, dimana
n = jumlah titik poligon.
− Kesalahan azimuth pengontrol tidak lebih 5”
− Kesalahan Liner jarak harus < 1/5.000
Pengukuran titik kontrol vertical
Pengukuran titik-titik kontrol vertikal dilakukan dengan cara
pengukuran sipat datar memanjang, terhadap setiap patok stationing
sepanjang rencana jalan dan patok BM sebagai titik tetapnya.
Metoda pengukuran sipat datar, dilakukan dengan double stand,
yaitu 2 (dua) kali berdiri alat.
Referensi tinggi yang digunakan adalah tinggi dari titik TTG (Titik
Tinggi Geodesi) yang dipasang oleh Bakosurtanal disepanjang jalan. Jika
titik TTG ini letaknya terlalu jauh dari titik awal, akan digunakan tinggi
lokasi hasil interpolasi dari peta topografi yang dicek dengan altimeter
serta disetujui oleh Field Project Officer di lapangan.
Peralatan-peraltan yang dipergunakan dalam pengukuran sipat
datar adalah :
− Alat sipat datar Waterpass orde II, Type otomatis
− Statif
− Rambu ukur, lengkap dengan Nivo Rambu
Sebelum pengukuran, alat waterpass harus dicek/dikoreksi di
lapangan agar alat memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Sumbu tegak ( I ) harus tegak lurus garis arah nivo
b. Garis bidik alat harus sejajar dengan garis arah nivo
Setiap pengukuran beda tinggi diusahakan agar alat ukur
diletakkan di tengah antara 2 (dua) rambu ukur, hal ini untuk menghindari
kesalahan yang disebabkan oleh tidak sejajarnya garis bidik dengan garis
arah nivo.
Salah Penutup Beda Tinggi harus < 10 D mm, dimana D adalah
panjang pengukur dalam KM. Setiap kali pengukuran dilakukan
pembacaan rangkap 3 (tiga) benang dalam satuan milimeter, benang atas
(BA), benang tengah (BT) dan benang bawah (BB). Kontrol pembacaan
2BT=BA+BB.
Pengukuran situasi dan penampang
Pengukuran situasi dan pengukuran penampang melintang
dilakukan pada setiap patok stationing. Pengukuran ini bertujuan untuk
mendapatkan ketinggian dan posisi titik detail pada lokasi yang di survei
sehingga bisa mencakup semua keterangan-keterangan yang ada di
daerah sepanjang rencana tersebut.
Pengukuran situasi daerah sepanjang rencana harus mencakup
semua keterangan-keterangan yang ada di daerah sepanjang rencana
tersebut. Alat ukur yang digunakan untuk pengukuran situasi adalah
Theodolite Kompas Wild T-0.
Pengukuran dilakukan dengan metode Tachymetri, peralatan yang
digunakan dalam pengukuran ini adalah :
− Alat ukur Theodolite jenis T0 Wild
− Statip
− Rambu ukur dilengkapi dengan Nivo
d. Perhitungan dan Penggambaran
➢ Hitungan Poligon
Metode hitungan poligon untuk mendapatkan koordinat, digunakan rumus
sebagai berikut:
X2 = X1 + D12. sin 12
Y2 = Y1 + D12. cos 12
Dimana :
1 = Titik 1 ditentukan koordinatnya (X1, Y1)
2 = Titik 2 ditentukan koordinatnya
12 = Azimuth sisi poligon 1-2
D12 = Jarak sisi poligon 1-2
• Perhitungan koordinat poligon utama dilakukan dengan metoda Bowditch
dengan menggunakan referensi pada titik-titik ikat yang dipergunakan.
• Penggambaran titik-titik poligon harus didasarkan pada hasil perhitungan
koordinat. Penggambaran titik-titik poligon tersebut tidak boleh secara
grafis.
➢ Hitungan Beda Tinggi
Untuk mendapatkan tinggi titik-titik poligon dan BM dilakukan pengukuran
Beda Tinggi dengan alat Waterpass otomatis.
Perhitungan untuk mendapatkan tinggi titik kontrol atau titik poligon
digunakan metoda perataan sederhana yaitu dengan merata-ratakan beda tinggi
pengukuran pulang dan pergi. (stand I dan stand II).
➢ Hitungan Situasi
Hitungan tinggi titik detil situasi dilakukan dengan system Tachymetri,
sedangkan posisi titik detail diplot dengan pengikatan terhadap sisi poligon
terdekat.
Rumus untuk perhitungan tinggi sistim Tachymetri adalah sebagai beikut
:
D = 100 x (BA-BB) x (sin Z)2
HB = HA + Ti + D tan (90 – Z) – BT
HA = Tinggi titik A
HB = Tinggi titik B
BA = Benang Atas
BT = Benang Tengah
BB = Benang Bawah
Z = Bacaan sudut vertical T-0
• Ketinggian titik detail harus tercantum dalam gambar ukur begitu pula
semua keterangan-keterangan yang penting.
• Titik ikat atau titik mati serta titik-titik baru harus dimasukkan dalam gambar
dengan diberi tanda khusus. Ketinggian titik tersebut perlu juga
dicantumkan.
• Gambar ukur yang berupa gambar situasi harus digambar pada kertas
millimeter dengan skala 1 : 1.000 dan interval kontur 1 m.
➢ Penggambaran
Penggambaran di lapangan dilakukan diatas kertas millimeter.
Koordinat yang digunakan adalah sistim koordinat kartesain ( X, Z) dengan
referensi koordinat yang digunakan local atau yang telah disetujui oleh Field
Project Officer.
Skala peta yang digunakan 1 : 1000, dengan interval kontur 1 (satu) meter.
Penggambaran cross section :
− Skala Horizontal 1 : 100
− Skala Vertikal 1 : 100 / 1 : 50
C. Survei Hidro-Oseanografi
Survei Hidro-Oseanografi dilakukan untuk memperoleh data sebagai
berikut.
• Data Pasang Surut
• Data Arah dan Kecepatan Arus
• Kondisi Air Laut (kadar suspensi/ siltasi/ TSS)
• Penentuan Arah Gelombang Dominan dan Tinggi Gelombang
Pelaksanaan survei primer dan sekunder untuk mendapatkan data hidro-
oseanografi pada Kawasan Industri Kabil adalah sebagai berikut.
a. Pengamatan Pasang Surut
Dalam melakukan pekerjaan survei dan pengolahan data elevasi
pasang surut, digunakan langkah-langkah pekerjaan yang dapat digambarkan
dalam flowchart sebagai berikut:
Data Pasang surut Data Pasang surut
Hasil Survei Dishidros
Surut
Square
surut
Surut
Probabilitas
Perbandingan Data
Data Pasang Surut Terlampaui
Pasang Surut
Ramalan
Gambar. 4 Flowchart pekerjaan survei pasang surut
Pengamatan pasang surut dilaksanakan selama 30 hari tidak cukup
valid/dipercaya untuk dijadikan bahan meramal guna memperoleh data elevasi acuan,
sehingga perlu diambil data dishidros stasiun terdekat sebagai pembanding yang
kemudian akan diramal. Pengamatan pasut dilaksanakan menggunakan Peilschaal
dengan interval skala 1 (satu) cm. Pembacaan elevasi pasang surut setiap jam
dilakukan dengan menggunakan bantuan tangga (Gambar 3.17). Peilschaal yang
digunakan untuk pengukuran elevasi muka air harus tersedia hingga elevasi terendah
yang mungkin terjadi di lokasi pengukuran.
Gambar. 5 Pengukuran pasang surut
Ketinggian rambu pasut harus diikatkan pada titik tetap (BM). Dari hasil
pengukuran pasut kemudian dilakukan perhitungan untuk menentukan tinggi
permukaan laut rata-rata (MSL), sehingga dapat ditentukan harga tinggi BM.
Pengamatan pasang surut (pasut) bertujuan mendapatkan tinggi muka air laut
rata-rata dalam periode pengamatan tertentu. Hasil pengamatan pada Peilschaal
dicatat pada formulir pencatatan elevasi air pasang surut yang telah disediakan.
Kemudian diikatkan (levelling) ke patok pengukuran topografi terdekat pada salah satu
patok seperti Gambar 4.5, untuk mengetahui elevasi nol Peilschaal dengan
menggunakan Zeiss Ni-2 Waterpass. Sehingga pengukuran topografi, batimetri, dan
pasang surut mempunyai datum (bidang referensi) yang sama.
Elevasi Nol Peilschaal = T.P + BT.1 – BT.2
dimana:
T.P = Tinggi titik patok terdekat dengan Peilschaal
BT.1 = Bacaan benang tengah di patok
BT.1 = Bacaan benang tengah di Peilschaal
Gambar. 6 Pengikatan (levelling) Peilschaal
b. Pengamatan Pasang Surut
Pengukuran arus dilakukan untuk mendapatkan besaran kecepatan dan arah
arus yang akan berguna dalam penentuan sifat dinamika perairan lokal. Metoda
pelaksanaan pengukuran ini dijelaskan sebagai berikut:
• Pengukuran arus dilakukan pada beberapa lokasi dimana arus mempunyai
pengaruh penting. Penempatan titik pengamatan ini disesuaikan dengan
kondisi Hidro-Oseanografi lokal dan ditentukan hasil studi pengamatan/survei
pendahuluan (reconnaissance Survei). Pada survei ini dilakukan: pengukuran
distribusi kecepatan, dalam hal ini pengukuran dilakukan di 3 (tiga) kedalaman
dalam satu penampang. Berdasarkan teori yang ada, kecepatan arus rata- rata
pada suatu penampang adalah:
V = 0.25 ( v0.2d + 2v0.6d + v0.8d)
dimana :
vxd = kecepatan arus pada kedalaman xd (x = 0,2; 0,6; 0,8) d
= kedalaman lokasi pengamatan arus
− Pengamatan kecepatan arus dilakukan pada kedalaman 0.2d, 0.6d, 0.8d
seperti yang ditampilkan pada Gambar 3.19.
− Pengukuran arus dilakukan di 1(satu) lokasi dengan menggunakan 1
(satu) current meter. Pengukuran dilakukan satu kali sehari selama 30
hari pada siang hari selama 2 (dua) jam.
− Di samping mengukur kecepatan, arah arus juga diamati.
Gambar. 7 Metode pengukuran arus
Peralatan yang digunakan untuk melakukan dalam survei pengukuran arus
adalah sebagai berikut:
Peralatan teknis:
− Perahu bermotor
− Current meter Aanderaa RCM-9 (Gambar 3.20) beserta peralatan
pelengkapnya (tali dengan tanda tiap 1 meter, tali pengaman dll).
− GPS, untuk navigasi perahu menuju titik yang diinginkan.
− Komputer (laptop), berfungsi untuk men-download data dari current
meter.
Peralatan keselamatan kerja:
− Pelampung (life vest)
− Sarung tangan (gloves)
Gambar. 8 Current Meter Aanderaa RCM-9.
c. Penentuan Arah Dominan dan Tinggi Gelombang
Penentuan arah gelombang dominan serta tinggi gelombang untuk
perencanaan menggunakan data sekunder dari stasiun meteorologi terdekat.
Wawancara
Metode wawancara merupakan salah satu teknik untuk mengumpulkan data
dan informasi langsung dari pelaku yang mengalami secara langsung kejadian-
kejadian yang terkait dengan perkembangan suatu obyek atau ruang. Kegiatan ini
dipilih untuk dilakukan dengan dua alasan, yaitu :
• Pewawancara dapat menggali tidak saja apa yang diketahui dan dialami subjek
yang diteliti, tetapi juga apa yang tersembunyi jauh di dalam diri subjek
penelitian.
• Apa yang ditanyakan kepada informan bisa mencakup hal-hal yang bersifat
lintas waktu, yang berkaitan dengan masa lampau, masa sekarang, dan juga
masa mendatang.
Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur. Artinya
pelaksana kegiatan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara lebih bebas dan
leluasa, tanpa terikat oleh suatu susunan pertanyaan yang telah dipersiapkan
sebelumnya. Tetapi untuk lebih mengarahkannya, sudah disiapkan guideline
pertanyaan inti untuk lebih lajut dikembangkan secara spontan sesuai dengan
perkembangan situasi wawancara itu sendiri.
JADWAL PELAKSANAAN
Jadual pelaksanaan adalah merupakan estimasi waktu yang diperlukan dalam
menyelesaikan suatu kegiatan / pekerjaan dengan memperhitungkan kapasitas kerja dan
waktu kontrak yang telah dibatasi. Dengan menyusun jadual pelaksanaan dapat memberikan
kontrol terhadap waktu penyelesaian pekerjaan. Untuk melaksanakan Pekerjaan tersebut
diatas diperlukan estimasi waktu minimal 1 bulan. Adapun jadwal pelaksanaan kegiatan
tersebut meliputi:
Gambar. 11 Jadwal Pelaksana
NO KEGIATAN WAKTU KETERANGAN
1 Pekerjaan Persiapan 3 Hari Pengumpulan Data
2 Pekerjaan Survey Lapangan 2 Hari Survey Lokasi
3 Pekerjaan Analisa 7 Hari Setelah Survey
4 Pekerjaan Pembuatan Laporan 28 hari Pada Waktu Analisa
5 Pembuatan Gambar 28 Hari Setelah Survey
6 Dokumentasi 2 Hari Pada Waktu Survey
Gambar. 12 Rencana Kegiatan
MINGGU KET
NO KEGIATAN
1 2 3 4
1 Pekerjaan Persiapan
2 Pekerjaan Survey
Lapangan
3 Pekerjaan Analisa
4 Pekerjaan Pembuatan
Laporan
5 Pembuatan Gambar
6 Dokumentasi
HASIL RANCANGAN
MASTER PLAN
1.
BAB VIII
PENUTUP
Pelaksanaan Pekerjaan Perencanaan Pembanunan Dermaga PPP Tobelo dapat di
simpulkan sebagai berikut ;
1. Terwujudnya Perencanaan Pembanunan Dermaga PPP Tobelo yang
representative dan sesuai dengan standar prosedur NSPM (Norma, Standar,
Prosedur dan Manual) yang berlaku guna tercapainya mutu pekerjaan
perencanaan yang baik.
2. Kegiatan Perencanaan Pembanunan Dermaga PPP Tobelo Di Dinas Kelautan
dan Perikanan Provinsi Maluku Utara merupakan sebuah upaya peningkatan
kualitas sarana dan prasarana dengan tujuan terwujudnya Perencanaan
Pembangunan Prasarana Dermaga PPP Tobelo yang memenuhi standar
Perencanaan.
3. Berdasarkan uraian tugas yang terangkum dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK)
pihak tim perencanaan berkewajiban untuk melakukan DED Pembangunan
Prasarana Dermaga PPP Tobelo.
Hasil akhir dari pelaksanaan Perencanaan Pembangunan Sarana dan Prasarana
Sentra KP Kab. Kepulauan Sula termuat dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK).
Tim perencanaan teknis telah menyelesaikan laporan-laporan diantaranya :
1. Laporan pendahuluan yang memuat tentang rencana kerja tim perencanaan
teknis secara menyeluruh serta mobilisasi tenaga ahli dan tenaga pendukung
lainnya dan Jadwal kegiatan.
2. Laporan akhir yang memuat gambar detail rencana, spesifikasi teknis, volume dan
jenis pekerjaan, rencana anggaran biaya (engineering estimate), analisa harga
satuan, serta perhitungan-perhitungan teknis.
Ternate, April 2023
CV. TUANANE ENGINEERING
RIVALDY T. RAJAK
Direktur