URAIAN SINGKAT PEKERJAAN
Dalam pelaksanaan pekerjaan sesuai yang tertuang dalam dokumen kontrak, ada
beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum melaksanakan pekerjaan diantaranya
adalah
a. Melakukan koordinasi dengan direksi pekerjaan antara lain :
• Mempersiapkan gambar kerja (Shop Drawing) yang telah disetujui oleh Direksi dan
Konsultan Pengawas pekerjaan.
• Mempersiapkan jadwal rencana kerja (time Schedule). Jadwal rencana kerja
yang dimaksud adalah jadwal pelaksanaan masing masing item pekerjaan yang
disesuaikan dengan kebutuhan bahan, material, alat dan tenaga kerja. Jadwal
rencana kerja ini harus dibuat sebelum pelaksanaan pekerjaan (selambat-lambatnya
3 hari setelah diterbitkan Kontrak) dan dilaporkan secara detail kepada pihak
Direksi maupun Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
• Mempersiapkan surat menyurat (Administrasi) terkait pemberitahuan pelaksanaan
pekerjaan yang diserahkan kepada Direksi, Konsultan Pengawas, Lurah,
Kecamatan dan instansi lain yang berhubungan dengan rencana pekerjaan.
• Mempersiapkan administrasi terkait sistem pelaporan (Buku Tamu, Laporan
Harian, Laporan Bulanan, Laporan Kemajuan Pekerjaan (MC-0 dan MC-100) dan
Laporan Dokumentasi).
• Koordinasi dengan Direksi dan Konsultan Pengawas terkait rencana kerja
sehingga diharapkan kendala selama pelaksanaan pekerjaan dilapangan dapat
diatasi.
b. Mempersiapkan Mobilisasi/Demobilisasi peralatan dan pekerja untuk mempermudah
pelaksanaan pekerjaan.
c. Mempersiapkan Direksi Keet dan gudang logistik untuk menunjang pelaksanaan
pekerjaan.
d. Mempersiapkan tim pengukuran untuk menunjang pekerjaan konstruksi yang
membutuhkan ketelitian dalam hal penentuan elevasi dan Stake Out pekerjaan,
diantaranya :
• Tenaga pengukuran (Juru Ukur dan tenaga ukur pembantu)
• Peralatan ukur (Theodolite, Waterpass, GPS dan peralatan ukur lainnya)
• Patok ukur sebagai titik acuan dan titik bantu pelaksanaan Pengukuran ini nantinya
dilaksanakan sebelum, selama dan setelah pekerjaan selesai sehingga dicapai
konstruksi yang sesuai dengan desain perencanaan.
e. Pembersihan lokasi pekerjaan, termasuk diantaranya adalah :
• Pembersihan dari umput, tanaman liar dan sampah
• Pembersihan pohon dan akar pohon (sesuai petunjuk Direksi)
• Pembersihan Sedimen dan material sisa bongkaran
f. Mempersiapkan jalan masuk atau menggunakan fasilitas sarana sekitar proyek
guna proses kelancaran keluar-masuk material ke lokasi proyek.
g. Penempatan material /alat-alat pembantu pekerja disesuaikan dengan kebutuhan
dan tidak boleh mengganggu arus lalu lintas masyarakat sekitar.
h. Menyediakan / membuat papan nama proyek sesuai dengan ukuran dan ketentuan
yang disepakati oleh Direksi Pekerjaan. Pemasangan Papan Nama Proyek ini harus
dipasang sebelum pelaksanaan pekerjaan dan ditempatkan di sekitar lokasi
pekerjaan (sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan).
I. PEKERJAAN PENDAHULUAN
1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
a. Kesehatan
Perlu diperhatikan kesehatan para pekerja khususnya dan masyarakat
lingkungan proyek pada umumnya jangan sampai timbul adanya penyakit menular
dan penyakit-penyakit lainnya yang sangat berbahaya yang akan menghambat
pelaksanaan proyek.
b. Keselamatan Kerja
Alat-alat Bantu untuk pengaman dan peralatan lainnya perlu disediakan oleh
Kontraktor yang melaksanakan pekerjaan tersebut. Untuk penanganan awal bila
terjadi kecelakan kerja disediakan pula kotak P3K dan obat-obatan untuk
keperluan penanganan darurat.
2. Pekerjaan Uitzet
Pekerjaan uitzet ini dimaksudkan untuk melakukan pengukuran awal/acuan selama
pelaksanaan pekerjaan. Uitzet ini harus dihadiri oleh Direksi Pekerjaan, Konsultan
pengawas dan atau Konsultan Perencana pekerjaan. Adapun pekerjaan Uitzet ini
diantaranya adalah
• Kontraktor Pelaksana harus menyiapkan tim pengukuran (Pekerja, Juru Ukur
dan Pembantu Juru Ukur) dan perlengkapan (Theodolite, Waterpass dan GPS)
selama pelaksanaan uitzet ini. Kontraktor Pelaksana pekerjaan harus membuat
titik titik patok ukur hasil pengukuran (Stake Out) gambar kerja sesuai arahan
Direksi Pekerjaan dan Konsultan Pengawas.
• Pengukuran dan pemrofilan saluran/bangunan irigasi dilakukan dengan memasang
patok Bouwplank yang ditanam kedalam tanah menggunakan kayu keras ukuran
5/7 cm. Jarak patok dari sisi galian minimal 1,00 m dan jarak patok satu dengan
patok lainnya maksimal 2,00 m. Papan bouwplank menggunakan kayu kelas II
ukuran 2/20 cm dan bidang sebelah atas harus diserut/diketam sampai rata.
Penentuan tinggi bouwplank disesuaikan dengan elevasi rencana dan harus
disetujui oleh Direksi. Pemasangan bouwplank harus siku-siku 90°. Untuk
mendapatkan garis horisontal bouwplank yang maksimal, pemasangan
bouwplank dapat dilakukan dengan menggunakan selang air atau pesawat ukur
seperti waterpass dan theodolite. Untuk pekerjaan pemrofilan tanah bisa
menggunakan jarak minimal 25 meter ataupun menyesuaikan dengan rencana
desain konstruksi yang akan dibangun.
• Foto Dokumentasi selama kegiatan Uitzet ini diambil minimal 3 Foto setiap
memperlihatkan keadaan sebelum mulai pekerjaan, keadaan dalam tahap
pelaksanaan dan keadaan telah selesai. Foto – foto pada tiap patok diambil
searah dengan aliran air dan dalam kondisi latar belakang yang sama. Ketiga
gambar diletakkan dalam album dengan tanggal pengambilan dan disertai
dengan penjelasan. Album diserahkan sejumlah yang ditetapkan oleh direksi.
• Semua hal yang terkait dengan perubahan ataupun tidak adanya perubahan
hasil pekerjaan Uitzet ini harus tertuang dalam dokumen Laporan Pekerjaan
(Laporan MC-0). Laporan MC-0 ini berisikan Laporan Perhitungan Biaya,
Laporan Perhitungan Volume, Gambar Rencana Pelaksanaan Kerja, Foto Pekerjaan
0%, Kurva S, dan lampiran lainnya yang diperlukan di dalam pelaksanaan. Laporan
Pekerjaan (Laporan MC-0) harus segera diserahkan kepada Direksi Pekerjaan
untuk mendapatkan persetujuan sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai.
3. Pekerjaan Dewatering a. Pekerjaan Kistdam
Fungsi dari Kisdam ini adalah untuk mengalihkan aliran air supaya mempermudah
pekerjaan pembuatan Bendung dan Bangunan Air lainnya, tidak mengganggu
kelancaran air irigasi dan untuk menghasilkan mutu/kualitas pekerjaan yang baik.
Berikut ini merupakan beberapa ketentuan teknis dalam pelaksanaan pekerjaan
Kistdam, di antaranya :
• Pekerjaan Kistdam termasuk pekerjaan yang dilaksanakan sebelum
melaksanakan item pekerjaan yang lainnya.
• Pekerjaan Kistdam ini harus mengupayakan kondisi daerah pelaksanaan
pekerjaan tidak tergenang air yang dapat mengurangi mutu pekerjaan.
• Kistdam dibuat dari material Karung plastik / Bagor 25 kg yang diisi pasir pasang
di dalamnya serta di ikat di ujung karung. Kisdam ini dipasang mulai bagian hulu
sampai hilir bendung dengan membagi bentang lebar bendung menjadi 2 tahap
pelaksanaan konstruksi (sisi kiri dan sisi kanan bendung). Pemasangan Kisdam
ini diperkuat dengan pemancangan kayu balok/bambu dengan jarak setiap 30 cm
untuk menjaga stabilitas kisdam.
• Untuk pembuatan kisdam saluran harus mengacu pada elevasi muka dengan
menggunakan terpal plastik yang sebelumnya telah dipasang sesek bambu.
• Setelah dilakukan pengukuran maka tiang bambu ditancapkan berjarak 1 meter dari
galian paling tepi (galian pondasi). Bambu ditancapkan dengan jarak yang telah
disesuaikan dengan lebar sesek bambu.
• Pada bagian luar sesek ditutup dengan terpal plastik yang diikatkan dengan sesek
bambu, ini dimaksudkan untuk menahan rembesan air yang dapat mengakibatkan
terganggunya pekerjaan galian dan seterusnya.
• Pada bagian bawah terpal plastik ditimbun dengan tanah untuk mengurangi
rembesan dari bawah.
• Untuk memperkuat pada bagian batang bambu diberi sekur untuk menahan dari arus
air ataupun tekanan air.
• Pekerjaan Kistdam harus mempertimbangkan kebutuhan air irigasi, sehingga
jaringan irigasi masih bisa digunakan untuk mengalirkan air irigasi. Apabila dalam
hal pelaksanaan pekerjaan Kistdam ini nantinya akan mengganggu aliran air yang
masuk ke dalam jaringan irigasi, maka sebelum pelaksanaan pekerjaan harus
berkoordinasi dengan Direksi dan Pengawas Konsultan.
• Apabila air masih menggenang dalam kisdam yang telah dibuat maka harus
dlakukan pemompaan air keluar (dewatering).
• Apabila pekerjaan kistdam telah selesai, maka kondisi aliran air harus dikembalikan
sebagaimana mestinya (dilakukan pembersihan) atau sesuai petunjuk Direksi.
Pembongkaran kisdam segera dilakukan jika telah dianggap selesai dan tidak
menggangu pekerjaan. Pada akhir pekerjaan kisdam dapat dibongkar atau
diratakan agar tidak menggangu kelancaran air.
• Rencana pelaksanaan Kistdam harus mendapat persetujuan dari pihak Direksi dan
Pengawas Pekerjaan.
4. Langsir Material ke Lokasi Pekerjaan
Adapun untuk melangsir material bahan menggunakan arco, gerobak atau pun
sepeda motor tergantung kondisi / medan jalan yang dilalui dari stok material ketitik lokasi
pekerjaan.
II. PEKERJAAN TANAH
1. Galian tanah biasa
Pada pekerjaan galian dilakukan secara manual yang dikerjakan oleh beberapa
pekerja. Langkah – langkah pengerjaannya adalah :
• Membuat profil/acuan (papan ataupun kayu balok) hasil pengukuran/rencana
gambar dibantu dengan peralatan ukur sesuai dengan hasil pengukuran
elevasi/dimensi konstruksi. Profil/acuan ini nantinya digunakan sebagai petunjuk
untuk galian tanah yang disesuaikan dengan kebutuhan pelaksanaan konstruksi.
• Alat yang digunakan disesuaikan dengan kondisi tanah galian, dikarenakan
sebagian galian terdiri dari lumpur maka dibuat alat semacam serok yang
dilubangi. Ini dimaksudkan agar air tidak ikut terbawa saat dilakukan penggalian.
• Menggali dengan mengikuti arah aliran sedikit demi sedikit sampai terkumpul
ditempat yang dianggap bebas.
• Hasil galian dibuang ke samping letak galian dan diusahakan tidak mengganggu
pekerjaan lainnya atau tidak masuk kembali ke dalam galian.
• Pekerjaan menggali dikerjakan sampai pada ukuran yang direcanakan.
2. Timbunan Tanah
Untuk pekerjaan dengan volume tanah relatif kecil maka pekerjaan timbunan
dilaksanakan dengan peralatan manual. Timbunan adalah pekerjaan urugan kembali
material yang di gali sebelumnya. Hasil timbunan dirapikan dengan cangkul dan
dipadatkan dengan alat yang tersedia sesuai dengan gambar.
III. PEKERJAAN PASANGAN
1. Pasangan Batu Dengan Mortar Jenis PC-PP, Mortar tipe N dengan mutu PP tertentu
setara dengan campuran 1 PC: 4 PP (Menggunakan Molen)
Sebagian besar konstruksi bendung/saluran yang direncanakan merupakan konstruksi
yang terbuat dari Pasangan Batu. Untuk memulai pekerjaan pasangan batu yang
dimaksud tersebut maka ada beberapa hal yang harus dilaksanakan diantarannya
adalah
a. Acuan/Profil
Sebelum pekerjaan pasangan batu kali dilaksanakan maka dibuat dulu
acuan/profil saluran/bangunan air yang akan dibangun. Acuan/profil tersebut
berupa kemiringan saluran dan alur saluran/bangunan air. Pembuatan acuan/profil
ini sebisa mungkin memudahkan selama pelaksanaan. Acuan/profil ini dibuat paling
tidak setiap jarak 5 meter. Selain itu untuk mempermudah pekerjaan maka
setiap titik acuan/profil ditarik benang (lot) agar saluran/bangunan air mempunyai
permukaan yang lurus.
b. Bahan Material
Untuk melaksanakan pekerjaan pasangan batu dengan campuran 1 PC:4 PP, maka
bahan bahan yang harus disiapkan diantaranya adalah batu kali, semen (Portland
cement), pasir pasang dan air. Standart material dan tata cara pelaksanaannya
harus mengikuti Aturan Standart Nasional Indonesia (SNI) atau yang tertuang dalam
Dokumen Spesifikasi Teknis. Bahan bahan campuran (Batu kali, Semen, Pasir
pasang dan Air) harus diletakkan sedekat mungkin (yang memungkinkan) dengan
lokasi pelaksanaan pekerjaan
c. Campuran
Untuk melaksanakan pekerjaan pasangan batu (1 m3) dengan campuran 1 PC : 4
PP dengan menggunakan Concrete Mixer, maka harus dibuat mortar campuran
sesuai dengan komposisi sebagai berikut:
• Pasir Pasang
Kebutuhan Pasir Pasang untuk tiap (1 m3) pasangan batu kali adalah 0,52 m3.
• Portland Cemen (PC)
Kebutuhan Portland Cemen untuk tiap (1 m3) pasangan batu kali adalah
163 Kg (4,075 Zak).
• Air
Kebutuhan air dalam campuran ini sesuai yang disyaratkan oleh Tata Cara
Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal (SNI-03-2834-2000) yaitu
berkisar antara 0,4 – 0,6 dengan melihat kondisi material pasir pasang.
d. Konstruksi
Sebelum pemasangan batu kali, maka perlu diperhatikan penempatan batu kali.
Penempatan batu kali yang tepat, akan mengurangi langsiran batu kali yang
berulang. Maka setiap pelaksana lapangan harus memberi sketsa penempatan
batu kali. Pembongkaran batu kali dari truk tidak harus dibongkar di satu tempat, tetapi
bisa bisa beberapa tempat, tergantung sket penempatan batu kali. Penempatan
pembongkaran batu kali yang tepat adalah tugas logistik lapangan, dengan
berdasar sketsa dari pelaksana.
Batuan untuk konstruksi pasangan batu kali harus berbentuk seragam dengan
dimensi batu pecah 0,2 x 0,2 x 0,25 cm, atau dengan berat maksimum 25 Kg.
Batuan harus kondisi pecah, hal ini bertujuan untuk memperluas permukaan sentuh
antar batu kali, dan lekatan antara spesi dengan permukaan batu pecah menjadi
kuat dan stabil. Batu belah harus bebas dari kotoran tanah, dan jangan batu yang
porous atau secara visual kelihatan berongga.
Penataan batu diusahakan saling menutup sisi batu dengan jarak antar batu 2 -
3 cm. Penataan batu ini harus rapi dan diisi dengan campuran mortar 1 PC : 4 PP.
Pengisian mortar harus padat dan tidak boleh ada rongga antar batu yang tidak
terisi mortar. Apabila ada rongga antar batu yang dirasa terlalu besar maka
disarankan diisi dengan pecahan batu kecil dan diperkuat dengan mortar.
Harapannya agar konstruksi batu kali ini padat dan saling terjadi ikatan antar batu.
2. Siaran dengan mortar jenis PC-PP tipe M, fc'=17,2 MP ( setara 1 PC : 2 PP ) Semua
pekerjaan batu muka yang kelihatan harus disiar, adukan untuk siaran 1 Pc : 2 Psr,
kecuali ditentukan lain oleh Direksi. Sebelum pekerjaan siaran dimulai semua bidang
sambungan di antara batu muka harus dikorek sebelum adukan mengeras (atau dibetel
untuk pasangan lama). Pekerjaan siaran dapat dibagi atas :
a. Siaran tenggelam (masuk ke dalam ± 1 cm dari permukaan batu)
b. Siaran rata (rata dengan permukaan batu)
c. Siaran timbul (timbul 1 cm, lebar tidak kurang 2 cm) Kecuali ditentukan lain semua
pekerjaan siar harus siar tenggelam. Tahapan pelaksanaan pekerjaan siaran
adalah sebagai berikut :
a. Penyiapan material dan peralatan diusahakan dekat dengan lokasi pekerjaan.
b. Material yang dipakai adalah : pasir, semen, dan air. Pasir dibersihkan dari
semua kotoran yang bersifat organic dan dengan kandungan lumpur tanah
tidak melebihi persyaratan, air yang dipakai adalah air yang bersih dan tidak
mengandung lumpur.
c. Pekerja menyiapkan spesi dengan perbandingan 1 semen : 2 pasir, spesi
diaduk dengan molen/kotak adukan untuk mendapatkan hasil yang homogen.
d. Pasir dimasukkan ke dalam molen/kotak adukan terlebih dahulu kemudian
semen dengan perbandingan tersebut di atas dan diaduk sampai pasir dan
semen bercampur. Setelah dirasa sudah campur baru diberi air bersih
secukupnya sesuai kebutuhan spesi dengan posisi molen masih mengaduk.
Setelah spesi sudah matang/ campuran semen, pasir dan air merata, adukan
spesi dituang ke kotak tempat spesi.
e. Spesi dibawa ke tempat pasang siaran dimana tukang dan pembantu tukang
sudah siap ditempat.
f. Sebelum spesi dipasang terlebih dahulu semua bidang sambungan diantara
batu muka harus dikorek. Apabila bidang yang dikorek terlalu kering maka
terlebih dahulu permukaan dibasahi menggunakan air bersih untuk mendapatkan
ikatan yang kuat antara spesi lama dengan spesi baru
g. Siaran dibentuk sesuai lekukan sambungan dan dirapikan sehingga terlihat
indah.
h. Semua spesi yang jatuh atau tidak menempel dibersihkan dan dibuang.
i. Setelah pekerjaan pekerjaan selesai, Penyedia Jasa
memberitahukan kepada Direksi dan Konsultan Pengawas untuk diadakan
pengukuran pekerjaan tersebut apakah sesuai dengan rencana kerja,
spesifikasi dan RAB.
j. Apabila Direksi menyatakan sudah sesuai dengan rencana kerja, spesifikasi
dan RAB, maka kami melanjutkan pekerjaan ke tahap selanjutnya.
3. Plesteran tebal 1,5 cm, dengan mortar tipe S, fc' = 12,5 Mpa ( setara 1 PC : 3 PP )
Plesteran 1 : 3 ; Tebal 15 mm Pekerjaan plesteran akan dilaksanakan setelah
pasangan batu selesai dan atau sedang berlangsung dimana telah memasuki
pertengahan atau akhir dari pekerjaan pasangan batu, adukan yang digunakan
adalah campuran 1 : 3 dimana terdiri dari komposisi 1 semen dan 3 pasir pasangan,
sebelum pelaksanaan dimulai maka permukaan yang akan diplester dibersihkan
terlebih dahulu baik dari kotoran lumpur maupun kotoran non organik lainnya karena
bila dikotori oleh kotoran maka akan mengurangi daya rekat dari pasangan plesteran
tersebut. Pekerjaan ini akan dikerjakan oleh tukang-tukang yang telah
berpengalaman dan akan dikerjakan sesuai dengan gambar rencana. Plesteran ini
berfungsi agar air tidak merembes atau meresap kepasangan batu gunung.
4. Bronjong Kawat pabrikasi
Ukuran-ukuran bronjong disesuaikan dengan kondisi lapangan dan harus mendapat
petunjuk dan persetujuan pihak Direksi. Batu untuk pengisi bronjong harus batu yang
keras dan tahan lama dengan ukuran 20 cm – 30 cm dapat berupa batu kali atau
batu gunung, dimana batu pipih dan panjang tidak boleh dipakai.
a. Pelaksanaan Pemasangan bronjong harus hati-hati untuk mencegah kerusakan
lapisan saringan. Sebelum batu diisikan, bronjong ditegangkan sampai bentuk yang
diinginkan.
b. Pengisian mulai dari bagian bawah, krat-krat supaya diletakkan dalam keadaan
kosong, diisi dengan batu sampai penuh dan kemudian ditutup.
c. Sambungan-sambungan antara bronjong maupun sekat-sekatnya harus
diikat dengan kawat dengan mutu yang sama. Bronjong ditempatkan diatas filter
yang terbuat dari ijuk sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar apabila
diperlukan dilapangan.
d. Batu isian dipergunakan batu yang keras, tahan lama, tidak rusak dan pecah oleh
air. Ukuran batu minimum tidak boleh lebih kecil dari 16 cm atau persetujuan direksi,
dengan ukuran batu rata-rata berbentuk sama yang dapat ditahan oleh saringan
kawat bronjong.
e. Semua bagian tepi dari bronjong dan panel, harus terikat rapat pada kawat sisi
panel dan terikat secara mekanikal atau petunjuk Direksi, hal untuk menjaga
terlepasnya anyaman, diameter kawat pengikat yang menghubungkan antara sisi
panel untuk perakitan, pemasangan, berdiameter minimal 2 mm.
f. Setiap bronjong harus dihubungkan dengan ikatan yang didekatnya.
g. Sambungan-sambungan vertikal antara bronjong-bronjong yang ditempatkan
pada setiap 2 (dua) lapisan akan disusun bergiliran seperti yang ditunjukkan
dalam gambar atau petunjuk Direksi.
IV. PEKERJAAN BETON
1. Beton mutu f’c = 10 MPa (Menggunakan Molen)
Untuk melaksanakan pekerjaan Beton Mutu f’c = 10 MPa maka ada beberapa
hal yang harus dilaksanakan diantarannya adalah
a. Acuan/Profil
Sebelum pekerjaan Beton Mutu f’c = 10 MPa maka dibuat dulu acuan/profil
saluran/bangunan air yang akan dibangun. Acuan/profil tersebut digunakan
untuk menentukan dimensi/ukuran yang akan menggunakan campuran Beton
Mutu f’c = 10 MPa. Pembuatan acuan/profil ini sebisa mungkin memudahkan
selama pelaksanaan. Acuan/profil ini dibuat paling tidak setiap jarak 5 meter.
Selain itu untuk mempermudah pekerjaan maka setiap titik acuan/profil ditarik
benang (lot) agar saluran/bangunan air mempunyai permukaan yang lurus.Untuk
mempermudah dalam pelaksanaan pekerjaaannya disarankan menggunakan
Begisting dari papan dan kayu. Begisting dipasang berdasarkan acuan/profil
yang sudah ditentukan sebelumnya dengan melakukan pengecekan posisi dan
elevasi dasar lahan dengan menggunakan waterpass dan theodolith, tarik benang
antar patok untuk menentukan as dan batas lantai kerja. Pemasangan Begisting
harus diperkuat dengan Skoor dari kayu/papan. Pembongkaran bekisting
dilakukan setelah beton cukup keras dan kuat menahan beban sendiri minimal umur
beton 2 hari (beton nonstruktur) dan 27 hari (beton struktural).
b. Bahan Material
Untuk melaksanakan pekerjaan Beton Mutu 10 MPA, maka bahan bahan
yang harus disiapkan diantaranya adalah
• Semen (Porland Cement) Pasir Cor
• Kerikil
• Air
Standart material dan tata cara pelaksanaannya harus mengikuti Aturan
Standart Nasional Indonesia (SNI) atau yang tertuang dalam Dokumen Spesifikasi
Teknis. Bahan bahan campuran (Semen, Pasir Cor, Kerikil dan Air) harus
diletakkan sedekat mungkin (yang memungkinkan) dengan lokasi pelaksanaan
pekerjaan
c. Campuran
Untuk melaksanakan pekerjaan Beton Mutu 10 MPA (1 m3), maka harus dibuat
mortar campuran sesuai dengan komposisi sebagai berikut :
• Portland Cemen (PC)
• Pasir Cor
• Kerikil
• Air
Proses pencampuran adalah dengan menyiapkan Pasir Cor, Kerikil, Semen dan
Air sesuai dengan volume (takaran) yang disyaratkan dengan cara manual. Pasir
Cor dihampar dalam kotak adukan, kemudian Kerikil dan Portland Cement dihampar
diatas Pasir Pasang tadi. Setelah proses penghamparan selesai kemudian dilakukan
pengadukan secara merata mulai dari atas sampai bawah campuran. Apabila
dirasa sudah tercampur secara merata antara campuran tadi, maka ditambahkan
air sesuai dengan kebutuhan yang disyaratkan. Apabila mortar Beton f’c = 10
MPa sudah dirasakan tercampur merata (monolit), maka mortar Beton f’c = 10
MPa tadi siap untuk digunakan.
d. Konstruksi
Hal yang perlu diperiksa dengan Direksi dan Konsultan Pengawas sebelum
Mortar Beton f’c = 10 MPa dituangkan (dicor) adalah sebagai berikut :
• Bentuk dan ukuran bekisting yang disesuaikan dengan gambar kerja
• Bekisting yang dibuat sudah kuat, tidak goyang dan tidak bocor
• Semua perkuatan ( perancah / sekur ) sudah sesuai dengan shop drawing
• Pembesian sudah sesuai gambar kerja
• Permukaan bekisting telah diberi minyak
• Beton decking telah terpasang dan cukup
• Permukaan bekisting telah dibersihkan dari segala kotoran ( kayu, potongan besi,
bendrat, paku dll )
• Semua perlengkapan cor sudah siap dan dalam kondisi baik ( concrete vibrator,
alat bantu )
• Terpal, payung dan jas hujan dipersiapkan untuk mengantisipasi
hujan
• Semua pekerja harus memakai pelindung diri ( helm, sarung tangan, sepatu )
Pengambilan benda uji untuk test beton perlu dipersiapkan Pada proses
pelaksanaan pekerjaan, bagian pekerjaan yang terdapat konstruksi Beton Mutu f’c
= 10 MPa harus dipastikan sesuai dengan gambar bestek/gambar kerja Untuk
menghindari kesalahan dalam pelaksanaan konstruksi, diperlukan koordinasi dengan
Direksi dan Konsultan Pengawas terkait rencana pekerjaan Beton Mutu f’c =
10 MPa. Selain itu selama pelaksanaan konstruksi Beton Mutu 10 MPa maka
pelaksana harus bertanggung jawab dalam perawatan beton (curing) selama
minimal 10 hari dengan menggunakan penutup karung goni dan dibasahi terus
menerus.
2. Pembesian 100 kg dengan besi polos atau ulir
Pekerjaan pembesian memegang peran penting dari aspek kualitas pelaksanaan
mengingat fungsi besi tulangan yang penting dalam kekuatan struktur bangunan/saluran.
a. Penyimpanan Besi
• Penyimpanan besi harus pada ruang tertutup dan tidak lembab agar besi
tidak mudah berkarat. Apabila disimpan ditempat terbuka harus dilindungi
dengan terpal atau plastik.
• Tumpukan besi jangan sampai bersentuhan dengan tanah, Oleh karena itu
harus diganjal dengan balok beton/kayu dengan ketinggian minimal 20 cm
• Penyimpanan besi harus dihindarkan dari air, kotoran, minyak dan zat yang
bersifat asam.
b. Perakitan tulangan
Untuk perakitan tulangan yang dilakukan di luar tempat pengecoran di lokasi
proyek agar setelah dirakit dapat langsung dipasang dan proses pengecoran
sesegera mungkin dilakukan. Cara perakitan tulangan :
• Mengukur panjang untuk masing-masing tipe tulangan yang dapat diketahui dari
gambar detail desain
• Mendesign bentuk atau dimensi dari tulangan, dengan memperhitungkan
bentuk-bentuk tipe tulangan yang ada pada desain konstruksi yang akan dibuat.
• Merakit satu per satu bentuk dari tipe tulangan sesuai dengan gambar bestek
dengan kawat pengikat agar kokoh dan tulangan tidak terlepas.
• Besi beton dipotong sesuai dengan spesifikasi yang telah disetujui Direksi/
Engineer.
• Besi beton dipasang setelah bekisting bagian sampingnya dan lantai kerja
mongering.
• Pengikatan besi beton menggunakan kawat baja (bendrat) di setiap
persimpangan tulangan.
• Beton decking / beton tahu dipasang di beberapa tempat untuk menjamin tebal
selimut beton.
• Pengecekan posisi, dimensi, jumlah dan tipe tulangan harus dilakukan beserta
begisting yang sudah dipasang secara kuat.
c. Pemasangan Tulangan
Setelah merakit tulangan maka untuk pemasangan tulangan dilakukan dengan cara
manual. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemasangan tulangan:
• Hasil rakitan tulangan dapat dipasang dan diletakkan secara manual dilokasi struktur
yang dimaksud.
• Rakitan tulangan ditempatkan tidak langsung bersentuhan dengan dasar struktur
yang akan dicor. Hal ini bisa menggunakan beton tahu ataupun beton decking.
Untuk lokasi yang pengecoran yang tidak dimungkinkan menggunakan beton
tahu/beton decking maka sebaiknya menggunakan batu disetiap ujung tulangan,
agar tulangan tidak mengalami karat.
• Setelah dipastikan rakitan tulangan benar-benar stabil, maka dapat langsung
melakukan pengecoran.
3. Bekisting lantai beton biasa dengan multiflex 12 mm atau 18 mm (TP)
Bekisting adalah suatu konstruksi bantu yang bersifat sementara yang digunakan
untuk mencetak beton yang akan di cor, di dalamnya atau diatasnya.
Tahap-tahap pekerjaan bekisting:
• Supaya hasil cetakan beton menjadi kuat dan presisi maka perlu diperkuat
dengan kayu balok agar nantinya tidak mengalami lendutan
• Papan cetakan disusun secara rapih berdasarkan bentuk beton yang akan di cor.
• Papan cetakan dibentuk dengan baik dan ditunjang dengan tiang agar tegak
lurus tidak miring dengan bantuan alat waterpass.
• Papan cetakan tidak boleh bocor
• Papan-papan disambung dengan klem / penguat / penjepit
• Paku diantara papan secara berselang-seling dan tidak segaris agar tidak terjadi
retak.
• Kayu kaso/balok digunakan untuk memperkuat papan multiplex agar tidak
mengalami keretakan.