| Reason | |||
|---|---|---|---|
CV Karya Musamus Perkasa | 08*2**1****55**0 | Rp 10,106,406,793 | 1. Tidak dapat menunjukkan Bukti Kepemilikan Asli Dumpt Truck (PB 9701 AA, PB 9682 AA, PB 9688 AA) (LDP Nomor 2); 2. Tidak dapat menunjukkan Surat Perjanjian Jual Beli Asli Dumpt Truck (PB 9701 AA, PB 9682 AA, PB 9688 AA) antar PT. Surya Naras dengan PT. Intraco Dharma Ekatama (LDP Nomor 2). |
| 0012271458803000 | Rp 10,179,982,413 | Tidak dapat menunjukkan Bukti Kepemilikan Asli Dump Truck 3 unit (S 9303 UJ, S 9330 UJ, S 9331 UJ) (LDP Nomor 2). | |
| 0028588069951000 | - | - | |
| 0750411241951000 | Rp 10,168,500,000 | 1. Sertifikat Standar belum terverifikasi (LDK Nomor 2); 2. Jenis Komoditas Surat Ijin IUP tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan (LDK Nomor 13b); | |
| 0929122752955000 | - | - | |
CV Raja Ampat Jaya Abadi | 05*6**8****51**0 | Rp 10,407,782,801 | Tidak melampirkan Surat Dukungan dan Surat Ijin IUP (LDK Nomor 13); |
| 0951980416955000 | Rp 10,264,759,976 | 1. Jenis Komoditas Surat Ijin IUP tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan (LDK Nomor 13b); 2. Bukti Kepemilikan Generator Set berbeda dengan Surat Perjanjian (LDP Nomor 2); | |
| 0025656125951000 | - | - | |
| 0944955533955000 | Rp 9,864,636,452 | 1. Jenis Komoditas Surat Ijin IUP tidak sesuai (LDK Nomor 13b); 2. Bukti Kepemilikan Dump Truck (B 9337 TYX) tidak sesuai antara Surat Perjanjian dengan yang tertera pada STNK (LDP Nomor 2). | |
| 0600799654805000 | Rp 9,829,934,057 | 1. SKP tidak memenuhi syarat (LDK Nomor 5); 2. Tidak melampirkan surat ijin IUP (LDK Nomor 13b); 3. Bukti kepemilikan Peralatan Exacavator kurang dari yang dipersyaratkan (LDP Nomor 2). | |
CV Atkomai Permai | 00*8**9****55**1 | - | - |
| 0028212173805000 | Rp 9,989,000,000 | 1. Berdasarkan hasil konfirmasi Sertifikat Standar dengan Nomor 91203019201950010 KBLI 42101 yang diterbitkan tanggal 10 Juni 2024 merupakan Sertifikat Standar KBLI 42201 sehingga Sertifikat Standar tidak sesuai Subklasifikasi yang dipersyaratkan (LDK Nomor 2); 2. Jenis Komoditas Surat Ijin IUP tidak sesuai dengan dipersyaratkan (LDK Nomor 13b); | |
| 0811685460955000 | - | - | |
| 0028273274643000 | - | - | |
Konstruksi Ufuk Timur | 05*0**1****51**0 | - | - |
CV Nafara Karya Consultant | 05*4**7****23**0 | - | - |
| 0812369585401000 | - | - | |
| 0532022944805000 | - | - | |
CV Gaya Baru Utama | 09*5**3****55**0 | - | - |
CV Sain Wijaya | 09*0**5****51**0 | - | - |
| 0839328259955000 | - | - | |
| 0662056571955000 | - | - | |
PT Geo Indogreen Karya | 07*0**9****52**0 | - | - |
| 0853638641955000 | - | - | |
| 0944889815955000 | - | - | |
| 0804227445955000 | - | - | |
| 0030036750101000 | - | - | |
| 0029233566955000 | - | - | |
| 0539912022955000 | - | - | |
| 0806687380951000 | - | - | |
| 0032226516951000 | - | - |
METODE PELAKSANAAN
Satuan Kerja : Dinas Perhubungan Provinsi Papua Barat
Program : Pengelolaan Penerbangan
Nama Pekerjaan : Pemenuhan Standart Runway Strip RW. 35 Bandar Udara Rendani
Lokasi Pekerjaan : Bandar Udara Rendani, Kabupaten Manokwari-Prov. Papua Barat.
Tahun Anggaran : 2024
Metode Pelaksana pada pekerjaan Pemenuhan Standart Strip Runway RW. 35, antara
lain :
I. Pekerjaan Persiapan
1. Mobilisasi
2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
3. Papan Nama Proyek
4. Pembuatan Laporan, Shop Drawing dan Asbuilt Drawing
II. Pekerjaan Runway Strip RW.35
1. Pengukuran Sebelum dan Sesudah Pekerjaan
2. Timbunan Tanah Materail dari Sumber Galian/Quarry
III. Pekerjaan Penahan Gelombang Pekerjaan Perkuatan Terhadap Gelombang Air Laut
(Area Strip Th 35)
1. Pekerjaan Geotektile Non Woven
2. Pekerjaaan Sand Bag (1 m x 1.5 m x 0.5 m) + Pasir
3. Batu (Berat 80 kg s/d 120 Kg/batu)
4. Batu (Berat 10 kg s/d 15 Kg/batu)
Semua item-item pekerjaan tersebut diatas akan dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis
dan menurut volume pekerjaan yang tersedia dalam Daftar Kuantitas dan Harga.
I. Pekerjaan Persiapan
Pekerjaan Persiapan adalah pekerjaan awal yang meliputi kegiatan-kegiatan
pendahuluan untuk mendukung permulaan proyek meliputi :
1. Mobilisasi
Pekerjaan Persiapan disini adalah meliputi pekerjaan Mobilisasi / Demobilisasi,
relokasi utilitas yang ada, dan penjaminan serta penjagaan mutu pekerjaan yang
merupakan pekerjaan tahap awal untuk pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan
lainnya.
Dalam pelaksanaan pekerjaan ini mobilisasi alat antara lain :
a. Dump Truck Kapasitas 8 Ton – 10 Ton
b. Exchavator Kapasitas 138 Hp -140 Hp
c. Buldozer Kapasitas 215 Hp
d. Vibrator Roller Kapasitas 10 Ton – 12 Ton
e. Truck Tanki Air Kapasitas 5000 Liter
f. Generator set Kapasitas 25 KVa
2. Uji Laboratorium
Sebelum pekerjaan utama dilaksanakan terlebih dahulu dilaksanakan
pengambilan sampel bahan dari quarry yang berada ≤ 5-10 KM, diantaranya :
batu, pasir dan bahan timbunan pilihan. Pengujian Laboratorium digunakan
sebagai pengendalian mutu dalam pelaksanaan proyek atau uji kualitas. Uji
kualitas ini bertujuan untuk membuktikan kesesuaian batas minimum nilai ukur
(parameter) dari bahan yang akan digunakan. Laboratorium pengujian bahan,
meliputi uji kualitas material tanah pilihan. Pelaksana harus melakukan uji
laboratorium sesuai dengan pekerjaan yang ada di kontrak. Semua biaya yang
dikeluarkan dalam uji laboratorium / tes laboratorium sudah termasuk dalam
biaya proyek. Hasil Uji Laboratorium harus dikalibrasi oleh instansi yang
berwenang yang disetujui oleh Pengawas Pekerjaan dengan menunjukkan
sertifikat kalibrasi yang masih berlaku. Selanjutnya hasil uji laboratorium akan
dipakai sebagai acuan kerja dalam pelaksanaan proyek.
3. Kantor Lapangan dan Fasilitasnya
Tahap berikutnya penentuan lokasi basecamp, pembuatan kantor lapangan dan
fasilitas dilokasi proyek dan kemudian dilanjutkan dengan mobilisasi peralatan
yang diperlukan sesuai dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan.
4. Pengaturan Arus Transportasi dan Pemeliharaan Arus Lalu Lintas
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, pengaturan arus lalu lintas transportasi
dilakukan dengan pembuatan tanda-tanda lalu lintas yang memadai disetiap
kegiatan lapangan. Bila diperlukan dapat ditempatkan petugas pemberi isyarat
yang bertugas mengatur arus lalu lintas pada saat pelaksanaan.
5. Rekayasa Lapangan
Dengan petunjuk Direksi Teknis, survey/rekayasa lapangan dilaksanakan untuk
menentukan kondisi fisik dan struktural dari pekerjaan dan fasilitas yang ada
dilokasi pekerjaan, seehingga dimungkinkan untuk mengadakan peninjauan
ulang terhadap rancangan kerja yang telah diberikan sistem dan tatacara survey
dikordinasikan dengan direksi teknis.
6. Jadwal Konstruksi
Jadwal konstruksi dibuat pihak kontraktor, diajukan kepada Direksi Teknis untuk
dibahas dan mendapatkan persetujuan pada saat dilaksanakan rapat
pendahuluan (Pre Construction Meeting/PCM).
7. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Penanganan K3 mencakup penyediaan sarana pencegah kecelakaan kerja dan
perlindungan kesehatan kerja konstruksi maupun penyediaan personil yang
kompeten dan organisasi pengendalian K3 Konstruksi sesuai dengan tingkat
resiko yang ditetapkan oleh Pengawas pekerjaan. Sistem Manajemen K3
Konstruksi Membuat, menerapkan dan memelihara prosedur untuk identifikasi
bahaya, penilaian risiko dan pengendaliannya secara berkesinambungan sesuai
dengan Rencana K3 Kontrak (RK3K) yang telah disetujui oleh Pengawas
Pekerjaan. Adapun Pelaksanaannya sebagai berikut :
a. Rapat Persiapan Keselamatan Kerja
b. Membuat Rencana Manajemen dan keselamatan Kerja (RMKK) berdasarkan
tahapan-tahapan.
c. Penyediaan Alat-alat Pelindung diri (APD) beserta berlengkapan keselamatan
kerja selama
d. periode konstruksi sesuai dengan ketentuan di dalam kontrak
e. Penyediaan personil dan fasilitas serta sarana K3
f. Menyediakan, memasang dan memelihara perlengkapan K3
8. Papan Nama Proyek
Untuk papan nama proyek akan dilakukan pengesetan pada printing grafika dan
akan diprint sebagai spanduk dan dipasangkan pada tiang kayu Penyangga
dengan baik. Papan nama proyek dengan dimensi yang disesuaikan yang memuat
tentang identitas proyek, terlebih dahulu dipasang sebagai tanda dimulainya
pekerjaan. Untuk patok penunjuk arah akan dibuat dari kayu dan diberi tanda
penunjuk arah. Papan nama proyek biasanya berisikan tulisan :
a. Nama Pekerjaan
b. Sumber Dana
c. Nilai Pekerjaan
d. Nama Kontraktor Pelaksana
e. Nama Konsultaan Pengawas
f. Nama Konsultan Perencana
g. Nama Instansi
h. Nama Substansi/Dinas
9. Pembuatan Laporan, Shop Drawing dan Asbuilt Drawing
Pada tahapan ini dilakukan proses administrasi meliputi surat menyurat, arsip file,
pelaporan setiap aspek pekerjaan baik laporan harian, mingguan, dan bulanan dan
juga Pelaporan progres kemajuan pekerjaan dilapangan dan lain lain serta untuk
dokumentasi ialah dilakukan pengambilan foto untuk tahapan setiap pekerjaan
dilapangan pada masa pelakasanaan pekerjaan. Hasil pengukuran dituangkan
dalam bentuk Shop drawing dan membuat hasil pekerjaan dalam bentuk asbuilt
drawing.
II. PEKERJAAN RUNWAY STRIP
1. Pengukuran Sebelum dan Sesudah Pekerjaan
Dalam Tahapan ini sangat penting dilakukan oleh pelaksana sebagai acuan
untuk tahap pekerjaan selanjutnya.
a. Pengukuran
1) Sebelum memulai pekerjaan Pelaksana harus mengadakan pengukuran
kembali dengan teliti elevasi dasar, permukaan tanah, ketinggian jalan
atau elevasi lainnya sesuai permintaan Direksi.
2) Semua pengukuran kembali harus dikaitkan terhadap titik tetap yang
terdekat.
3) Alat-alat ukur yang digunakan harus dalam keadaan berfungsi baik dan
sebelum pekerjaan dimulai semua alat ukur yang akan dipakai harus
mendapat persetujuan Direksi, baik dari jenisnya maupun kondisinya.
4) Cara pengukuran ketepatan hasil pengukuran toleransi salah tutup, dan
pembuatan serta pemasangan patok bantu akan ditentukan oleh Direksi.
5) Apabila terdapat perbedaan antara elevasi yang tercantum dalam gambar
dengan hasil pengukuran ulang maka Direksi akan memutuskan hal itu.
6) Apabila terdapat perbedaan dalam pengukuran kembali, maka
pengukuran ulang menjadi tanggungjawab Pelaksana.
7) Pelaksana bertanggungjawab penuh atas tepatnya pelaksanaan pekerjaan
menurut peil-peil dan ukuran dalam gambar dan uraian/syarat- syarat
pelaksanaan itu.
b. Pematokan
1) Pelaksana mengerjakan pematokan untuk menentukan as dan peil
pasangan sesuai dengan gambar rencana. Pekerjaan ini harus seluruhnya
telah disetujui oleh direksi sebelum memulai pekerjaan selanjutnya.
Direksi dapat melakukan revisi pemasangan patok.
2) Wajib disediakan alat-alat ukur dan perlengkapannya, juru ukur dan
pekerja yang diperlukan oleh Direksi untuk melakukan
pengawasan/pengujian hasil pematokan atau pekerjaan lain yang serupa.
3) Pembuatan dan pemasangan patok sebagai dasar pelaksanaan termasuk
pekerjaan Pelaksana dan harus dibuat dari kayu jenis kelas III yang tidak
berubah oleh cuaca.
Setelah pengukuran dan pematokan, pelaksana diwajibkan membuat gambar
shop drawing atau gambar kerja yang merupakan acuan bagi pelaksanaan
pekerjaan dilapangan. Dengan adanya gambar kerja, maka pekerjaan lapangan
menjadi mudah dilaksanakan dan terkendali secara teknis, baik dari segi waktu
maupun mutu kerja. Gambar kerja, harus sudah disiapkan dalam tahap awal
proyek dan mendapatkan pengesahan dari pihak Pengawas atau Konsultan
Perencana, sebelum dilaksanakan di lapangan. Shop drawing, disiapkan oleh
Bagian Engineering berpedoman pada desain bangunan dari Konsultan.
Pembuatan shop drawing, dilakukan dengan komputer menggunakan software
Autocad, sehingga dapat mempercepat waktu pembuatannya.
2. Timbunan Tanah Materail dari Sumber Galian/Quarry
Lapisan Pemadatan diload sesuai dengan gambar rencana/gambar kerja, dengan
menggunakan bahan-bahan yang lolos uji laboratorium yaitu uji kepadatan, uji
berat jenis dan Uji CBR dimana hasil uji tersebut telah mendapat persetujuan
direksi. Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan pilihan harus terdiri
dari bahan tanah atau batu yang memenuhi semua ketentuan di atas level
timbunan biasa dan sabagai tambahan harus memiliki sifat-sifat tertentu yang
tergantung dari maksud penggunaannya, seperti diperintahkan atau disetujui
oleh Direksi pekerjaan. Dalam segala hal, seluruh timbunan pilihan haruss diuji
dan memiliki CBR paling sedikit 10 % setelah 4 hari perendaman dan bila
dipadatkan sampai 100% kepadatan kering maksimum.
Adapun metode kerjanya sebagai berikut :
a. Mengangkut material (Tanah Timbunan Pilihan) dari dari sumber galian
menuju lokasi dengan menggunakan Dump Truck ke lokasi penimbunan.
b. Timbunan pilihan di sumber galian digali dengan menggunakan alat berat
exchavator dan menuangkan kedalam dump truck.
c. Dump Truck menumpahkan material pada lokasi tempat dimana akan
dilaksanakan pekerjaan penimbunan.
d. Penghamparan Timbunan pilihan menggunakan Alat Berat Buldozer secara
merata sampai ketebalan yang direncanakan.
e. Lebar dan tebal penghamparan harus sesuai dengan Spesifikasi dan atau
petunjuk dari Direksi pekerjaan.
f. Pelaksanaan harus mengusahakan agar tidak terjadi genangan air waktu
pelaksanaan pemadatan, termasuk pada bagian yang telah dipadatkan dan
telah disetujui oleh direksi, untuk menghindari swelling yang mengurangi
kepadatan.
g. Pemadatan dilakukan dengan menggunakan vibro roller, dimulai dari bagian
tepi ke bagian tengah. Pemadatan dilakukan berulang jika dimungkinkan
untuk mendapat hasil yang maksimal dapat digunakan alat water tank untuk
membasahi material timbunan biasa dari sumber galian dan diselingi dengan
pemadatan dengan menggunakan vibro roller. Timbunan Pilihan dipadatkan
mulai dari tepi luar dengan bergerak menuju ke arah sumbu jalan sedemikian
rupa. Bila mana memungkinkan, lalu lintas alat-alat konstruksi harus terus
menerus divariasi agar dapat menyebarkan pengaruh usaha pemadatan
tersebut.
h. Tinggi Penimbunan yang harus dicapai sesuai yang tertera dalam gambar
rencana/gambar kerja atau diperintahkan lain oleh direksi/konsultan
supervisi.
i. semua tahapan pekerjaan ini berdasarkan Spesifikasi, Gambar Kerja dan
petunjuk Direksi Pekerjaan.
III. PEKERJAAN PENAHAN GELOMBANG PEKERJAAN PERKUATAN TERHADAP
GELOMBANG AIR LAUT (AREA STRIP TH 35)
1. Pekerjaan Geotekstile Non Woven
Non-woven geotextile adalah jenis geotextile tidak dianyam yang dibuat melalui
proses termal, kimia, dan mekanis. Adapun metoda pemasangan geotekstil non-
woven sebagai berikut :
a. Pembersihan lahan, Area yang akan di pasangi lapisan geotekstil harus
dibersihkan dari benda tajam, ranting dan batuan yang bersudut tajam
ataupun benda lainnya yang dapat merobek geotekstil.
b. Pemotongan Geotekstil, Geotekstil dipotong menjadi beberapa bagian.
Ukuran pemotongan disesuaikan hasil desain.
c. Penyambungan dan overlapping geotekstil, Sebelum dilakukan
penyambungan, terlebih dahulu geotekstil yang akan disatukan di overlap.
Besarnyaoverlap tergantung pada nilai CBR tanah dasar. Tabel korelasi antara
panjang overlap dan CBR tanahdasar adalah sebagai berikut :
CBR Tanah Dasar Minimum Overlap
Lebih Besar dari 3.0 0.3 – 0.4 m
1.0 – 3.0 0.6 – 1.0 m
0.5 – 1.0 1.0 m atau dijahit
< 0.5 dijahit
Untuk melakukan penjahitan geotekstil, terdapat tiga tipe yang sering
digunakan, yaitu :
- Flat / prayer seam
- J-seam
- Butterfly seam
Penjahitan di lapangan, menggunakan mesin jahit khusus yang supply listriknya
diambil dari generator. Untuk memudahkan bisa saja penjahitan lembaran
geotekstil dilakukan sebelum dipasang di lapangan.
Demikian Metode Pelaksanaan ini dibuat untuk dapat diperhatikan.
d. Penggelaran geotekstil, Geotekstil diletakkan tegak lurus (melintang) dengan
arah jalur lalu lintas orang dan barang. Penggelaran geotekstil minimal
dilakukan orang 2 orang tenaga kerja.
2. Pekerjaaan Sand Bag (1 m x 1.5 m x 0.5 m) + Pasir
Sandbag atau Geobag adalah kantong geotekstil kekuatan tinggi yang diisi pasir
yang tersedia dalam berbagai ukuran dan digunakan di tepian sungai,
perlindungan pantai, dan pemecah gelombang lepas pantai. Sandbag atau
geobag juga disebut sebagai Geotextile Sand Containers (GSC) yang merupakan
solusi berbiaya rendah, lunak dan dapat dibalik untuk struktur pelindung pantai
dan untuk memperkuat hambatan dan struktur pantai Karena jumlah
keuntungan mereka, GSC menjadi semakin populer sebagai alternatif dari
struktur keras konvensional. Namun demikian, GSC masih merupakan teknologi
yang muncul dan belum ada pedoman yang tepat untuk desain struktur GSC.
Adapun metode pelaksanaan sebagai berikut :
a. Persiapan Lokasi
Lokasi harus disiapkan dan dinilai sesuai persyaratan perencana. Tanah yang
tidak cocok harus dibersihkan dari lereng dan benda tajam yaitu akar, batu
besar atau bahan konstruksi yang dapat menusuk geotextile, harus
dikeluarkan dari area. Lubang-lubang jika ada di area itu harus ditimbun/
ditutup untuk menghindari bentangan geotextile yang mungkin bisa
menyebabkan robek ketika sandbag/GeoBag ditempatkan.
b. Pra-pabrikasi GeoBag
Geotextile harus dibuat menggunakan “J” SSn-2 jahitan. Peralatan menjahit
yang tepat harus digunakan baik mesin jahit genggam atau mesin jahit tusuk
jarum ganda. Pabrikan harus menyediakan jenis benang, detail tentang
metode menjahit dan diperlukan tumpang tindih yang memenuhi minimum
properti fisik. Jahit harus dipantau oleh Engineer di lokasi.
c. Pengisian Sandbag/geobag
Material sandbag/geobag diisi bahan material pasir dan bagian atas penutup
harus dijahit untuk menutup lubang.
d. Penempatan Sandbag/Geobag
Sandbag/Geobag akan ditampatkan, diposisikan dan diamankan dalam
posisi yang tepat tanpa menyebabkan apapun kerusakan pada
sandbag/geobag.
e. Penyelesaian dan pengisian ulang
Setelah menyelesaikan instalasi sandbag/Geobag, area tersebut akan
ditimbun kembali dan dipadatkan sesuai spesifikasi yang diperlukan.