URAIAN SINGKAT
PAKET PEKERJAAN
PENGENDALIAN BANJIR
SUNGAI WALANAE-CENRANAE KAB. WAJO
(LANJUTAN)
TAHUN ANGGARAN 2024
KERANGKA ACUAN KERJA
I. Informasi Proyek
Lokasi Pekerjaan Pengendalian Banjir Sungai Walanae-Cenranae Kab. Wajo (Lanjutan)
berada di Kec. Sabbangparu, Kab. Wajo Provinsi Sulawesi Selatan.
Peta Administrasi Prov. Sulawesi Selatan Peta Administrasi Kab. Wajo
Kec. Sabbangparu Kab. Wajo
Koordinat :
4°11'16.46"S 120° 0'34.24"E
II. Latar Belakang
Provinsi Sulawesi Selatan yang beribukotakan Makassar berada pada bagian
selatan pulau Sulawesi yang secara geografis terletak antara : 0 ° 12’ - 8 ° Lintang
Selatan dan 116 °48’ - 122 ° 36’ Bujur Timur, dan secara administratif berbatasan :
Sebelah Utara dengan Propinsi Sulawesi Tengah, Sebelah Barat dengan Selat
Makassar, Sebelah Timur dengan Teluk Bone, Sebelah Selatan dengan Laut Flores
dengan luas wilayahnya 62.482,54 km2 (42 % dari luas seluruh pulau Sulawesi dan 4,1
% dari Luas seluruh Indonesia). Berdasarkan data BPS 2010 jumlah penduduk Sul-Sel
sekitar 8 juta jiwa. Posisi yang strategis di Kawasan Timur Indonesia memungkinkan
Sulawesi Selatan dapat berfungsi sebagai pusat pelayanan, baik bagi Kawasan Timur
Indonesia maupun untuk skala internasional. Pelayanan tersebut mencakup
perdagangan, transportasi darat - laut - udara, pendidikan, pendayagunaan tenaga
kerja, pelayanan dan pengembangan kesehatan, penelitian pertanian tanaman pangan,
perkebunan, perikanan laut, air payau tambak, kepariwisataan bahkan potensial untuk
pengembangan lembaga keuangan dan perbankan.
Kabupaten Wajo adalah salah satu Daerah kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan,
Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Sengkang, Kabupaten ini memiliki luas
wilayah 2.056,19 km² dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 400.000 jiwa.
Secara geografis, Kabupaten Wajo terletak pada 3°39' - 4°16' Lintang Selatan dan
119°53' - 120°27' Bujur Timur. Sebagian besar wilayahnya berupa dataran rendah
hingga dataran rendah bergelombang dengan ketinggian wilayah 0-520 Mdpl. Hanya
sebagian kecil yang berupa perbukitan di bagian utara. Bagian timur berupa dataran
rendah dan pesisir Teluk Bone, termasuk pulau-pulau pasir di perairan Teluk Bone.
Sedangkan bagian barat merupakan dataran aluvial Danau Tempe-Danau Sidenreng.
Sejalan dengan laju perkembangan masyarakat terutama yang tinggal dan
melakukan aktivitas di dataran banjir, maka persoalan yang ditimbulkan oleh banjir dari
waktu ke waktu semakin meningkat.
Banjir menjadi masalah ketika muncul kerugian banjir. Mengingat pada umumnya
sungai lebih dahulu menempati ruang alurnya dibanding keberadaan manusia.
Sebetulnya manusialah yang mencari masalah mendatangi dataran banjir. Mengingat
sejarah pembentukan kota-kota umumnya terkait erat dengan keberadaan sungai,
banyak perkotaan terbentuk di dataran banjir, tak terkecuali di Kabupaten Wajo.
Banjir yang terjadi setiap tahun akibat meluapnya Sungai Walanae . Meluapnya air
sungai ini secara garis besar diakibatkan oleh kondisi diantaranya:
a. Kondisi Alam
1. Kapasitas palung sungai yang tidak mampu menampung debit yang lewat.
2. Curah hujan yang tinggi yang mengakibatkan limpasan permukaan yang besar.
3. Letak daerah yang rawan banjir, berada pada daerah yang relatif rendah
4. Kondisi topografi yang berbukit sangat tajam/ terjal dibagian hulu dan relatif rata
di bagian hilir, mengakibatkan aliran yang cepat mengalir kebawah, terkumpul
dan meluap dibagian hilir
5. Tertahannya aliran sungai akibat pengaruh air pasang dari laut di muara sungai.
b. Peristiwa Alam
1. Pembendungan aliran di sungai akibat adanya pendangkalan alur / palung
sungai.
2. Terdapatnya hambatan aliran yang disebabkan oleh kondisi geometri alur
sungai, yaitu mendering dan kemiringan sungai yang landai.
Kerugian yang diakibatkan oleh bencana banjir ini bermacam-macam jenisnya,
misalnya kerugian pada bangunan-bangunan yang penting seperti perkantoran,
perumahan pemukiman dan sebagainya, Disamping itu juga banyak lahan pertanian
yang rusak karena tergenang oleh luapan air banjir.
Kerugian akibat banjir di Sungai Walanae diantaranya:
a. Dampak fisik adalah kerusakan pada sarana-sarana umum, kantor-kantor
pelayanan publik yang disebabkan oleh banjir termasuk kerusakan badan sungai
yang dapat melebar atau berpindah alur.
b. Dampak sosial mencakup kematian, risiko kesehatan, trauma mental,
menurunnya perekonomian, terganggunya kegiatan pendidikan (anak-anak tidak
dapat pergi ke sekolah), terganggunya aktivitas kantor pelayanan publik,
kekurangan makanan, energi, air, dan kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya.
c. Dampak ekonomi mencakup kehilangan materi, gangguan kegiatan ekonomi
(orang tidak dapat pergi kerja, terlambat bekerja, atau transportasi komoditas
terhambat, dan lain-lain).
d. Dampak lingkungan mencakup pencemaran air (oleh bahan pencemar yang
dibawa oleh banjir) atau tumbuhan disekitar sungai yang rusak akibat terbawa
banjir.
Kabupaten Wajo merupakan daerah yang banyak menghadapi persoalan banjir.
Pemilihan metode penanggulangan banjir harus mengetahui dampak yang ditimbulkan
oleh banjir karena apabila tidak ada dampak positifnya maka masyarakat tentu tidak
akan menerima.
III. Maksud Dan Tujuan
Maksud pekerjaan Pekerjaan Pengendalian Banjir Sungai Walanae-Cenranae Kab.
Wajo (Lanjutan) adalah Melindungi Sarana prasarana masyarakat umum yang sering
terkena dampak dari luapan Sungai Walanae .
Tujuan Kegiatan ini adalah untuk menurunkan resiko ancaman terhadap jiwa
manusia dan harta benda akibat banjir sampai ke tingkat toleransi serta meminimumkan
dampak bencana banjir Sungai Walanae Kab. Wajo.