| Reason | |||
|---|---|---|---|
| 0025093741926000 | Rp 420,500,000 | - | |
| 0316937234922000 | Rp 433,342,669 | - | |
| 0719822488926000 | Rp 399,497,711 | Kapasitas pada Bukti Alat yang disampaikan tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan. | |
| 0027433036922000 | Rp 432,800,110 | Sertifikat kompetensi petugas K3 yang disampaikan tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan | |
CV Catur Karya Jaya | 06*6**7****26**0 | - | - |
| 0029588860926000 | - | - | |
| 0018080457926000 | - | - | |
La Hila Jaya | 06*4**8****22**0 | - | - |
CV Uma Ai | 0021637491922000 | - | - |
| 0018082271926000 | - | - | |
CV Aastar | 00*0**8****26**0 | - | - |
| 0014148241926000 | - | - | |
CV Charisma Adung | 10*0**0****46**2 | - | - |
| 0627551880922000 | - | - | |
PT Istana Putra Gailar | 09*8**2****26**0 | - | - |
| 0019981836922000 | - | - | |
| 0024014631926000 | - | - | |
Milla Dapa Ngaru | 10*1**1****36**5 | - | - |
DOKUMEN
METODE PELAKSANAAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN RUANG KELAS BARU
BESERTA PERABOTNYA SD PARALEL BODOWAGA
DAN SD PARALEL WAIBAKU
PROGRAM : PENGEDENDALIAN PENGELOLAAN PENDIDIKAN
KEGIATAN : PENGEDENDALIAN PENGELOLAAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
PEKERJAAN : PERENCANAAN PEMBANGUNAN RUANG KELAS BARU
BESERTA PERABOTNYA SD PARALEL BODOWAGA DAN SD PARALEL
WAIBAKU
LOKASI : MAMBORO DAN KATIKUTANA
TAHUN : 2025
DESKRIPSI METODE PELAKSANAAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN RUANG
KELAS BARU BESERTA PERABOTNYA SD PARALEL BODOWAGA DAN SD PARALEL
WAIBAKU
I. PENDAHULUAN
Dalam rangka mendukung peningkatan mutu pendidikan dasar, salah satu aspek
penting yang harus dipenuhi adalah tersedianya sarana dan prasarana pendidikan
yang memadai. Ruang kelas sebagai tempat utama berlangsungnya kegiatan belajar
mengajar memiliki peranan vital dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif
dan nyaman bagi peserta didik.
Seiring dengan pertumbuhan jumlah siswa dan kebutuhan akan fasilitas pendidikan
yang layak, maka diperlukan pembangunan ruang kelas baru beserta perabotnya di
SD Paralel Bodowaga dan SD Paralel Waibaku. Pembangunan ini bertujuan untuk
mengurangi rasio siswa per kelas, menciptakan ruang belajar yang aman dan layak,
serta mendukung terciptanya proses pembelajaran yang efektif.
Agar pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan dengan tertib, efisien, dan sesuai standar
teknis, maka disusunlah Metode Pelaksanaan Pekerjaan sebagai acuan dalam
pelaksanaan konstruksi. Dokumen ini memuat tahapan-tahapan pekerjaan, metode
pelaksanaan masing-masing pekerjaan, serta rambu-rambu teknis yang harus
dipatuhi selama proses pembangunan berlangsung.
Dengan adanya metode pelaksanaan ini, diharapkan semua pihak yang terlibat dalam
proyek dapat memahami alur kerja, tanggung jawab masing-masing, dan standar
mutu yang harus dicapai, sehingga pembangunan ruang kelas baru dapat terlaksana
tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya sesuai dengan perencanaan.
II. METODE PELAKSANAAN PERENCANAAN
Perencanaan Pembangunan Ruang Kelas Baru Beserta Perabotnya SD Paralel
Bodowaga dan SD Paralel Waibaku
1. Pekerjaan Persiapan
Mobilisasi dan Demobilisasi:
Mengangkut peralatan, tenaga kerja, dan bahan ke lokasi proyek.
Dilakukan secara bertahap dan terkontrol.
Pembersihan Lokasi (Site Clearing):
Membersihkan area pekerjaan dari semak, batu, dan benda yang
mengganggu pelaksanaan pembangunan.
Pemasangan Direksi Keet dan Pagar Pengaman:
Mendirikan kantor sementara dan pagar pengaman di sekitar area
pekerjaan.
Pengukuran dan Bouwplank:
Menetapkan titik-titik bangunan sesuai gambar kerja dengan alat ukur
(theodolite/waterpass) dan membuat bouwplank sebagai acuan
pelaksanaan.
2. Pekerjaan Tanah
Galian Pondasi:
Menggali tanah sesuai ukuran pondasi (lebar dan kedalaman) yang
telah ditentukan.
Pembuangan Tanah Galian:
Tanah hasil galian dibuang ke tempat yang tidak mengganggu area
kerja atau digunakan kembali sesuai kebutuhan.
Pemadatan Dasar Pondasi:
Dasar pondasi dipadatkan secara manual atau dengan stamper untuk
menjamin kestabilan struktur.
3. Pekerjaan Pondasi
Pemasangan Batu Kali/Gunung:
Pondasi menggunakan batu kali/gunung dengan adukan semen-pasir
(1:5), dikerjakan lapis demi lapis, dan dijaga ketinggian serta
kekuatannya.
Pemasangan Sloof:
Pemasangan bekisting, pembesian, dan pengecoran sloof
menggunakan beton mutu K-175/K-225 sesuai gambar teknis.
4. Pekerjaan Struktur
Kolom dan Balok:
Pemasangan bekisting dan pembesian sesuai perhitungan struktur,
pengecoran menggunakan beton cor K-225.
Dinding Bata Merah/Batako/Batu potong:
Pemasangan dinding dengan pasangan bata merah/batako dengan
adukan 1:4, plesteran dan acian dilakukan setelah pasangan selesai
dan kering.
5. Pekerjaan Atap
Kuda-Kuda dan Rangka Atap:
Menggunakan kayu/baja ringan sesuai gambar kerja, dipasang secara
hati-hati agar simetris dan stabil.
Penutup Atap:
Pemasangan genteng/penutup atap (misal: genteng metal atau asbes
gelombang) secara rapi dan tahan bocor.
Plafon:
Pemasangan rangka plafon dari hollow,kayu dan penutup plafon dari
Tripleks, gypsum atau PVC, finishing sesuai standar.
6. Pekerjaan Finishing
Lantai:
Pemasangan keramik/lantai semen plester halus, pengacian dan
perataan permukaan.
Pengecatan:
Dilakukan setelah dinding kering. Menggunakan cat tembok interior
dan eksterior sesuai spesifikasi.
Pemasangan Pintu dan Jendela:
Kayu atau aluminium, dipasang sesuai ukuran dan finishing (cat atau
politur).
Pemasangan Kaca dan Kunci:
Menggunakan kaca bening dan kunci standar sekolah.
7. Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal
Instalasi Listrik:
Pemasangan instalasi listrik dasar (stop kontak, sakelar, lampu plafon)
sesuai standar PLN.
Pemasangan Ventilasi:
Jalur ventilasi alami disiapkan dan ditambahkan ventilasi roster atau
exhaust fan bila diperlukan.
8. Pekerjaan Perabot
Meja dan Kursi Siswa:
Meja kursi siswa dibuat dari kayu olahan atau besi hollow sesuai
standar ergonomi sekolah dasar.
Meja Guru dan Lemari:
Meja guru dengan laci dan lemari penyimpanan buku, dibuat dari
multipleks atau bahan tahan lama lainnya.
Papan Tulis dan Rak Buku:
Papan tulis whiteboard dipasang permanen di depan kelas, serta rak
buku ditempatkan sesuai tata letak.
9. Pembersihan Akhir dan Serah Terima
Membersihkan seluruh area pekerjaan dari sisa material, sampah, dan
peralatan kerja.
Pengecekan bersama pihak sekolah dan Dinas terkait terhadap hasil
akhir pekerjaan.
Serah terima pekerjaan dilakukan dalam bentuk berita acara.
III. PENYUSUNAN PROGRAM RUANG
1. Tujuan
Penyusunan program ruang ini bertujuan untuk merumuskan kebutuhan ruang dan
fasilitas dalam rangka perencanaan pembangunan ruang kelas baru yang layak,
fungsional, dan sesuai standar pendidikan nasional, guna menunjang proses belajar
mengajar di SD Paralel Bodowaga dan SD Paralel Waibaku.
2. Program Ruang
Program ruang disusun berdasarkan kebutuhan minimum ruang kelas sekolah dasar
serta penambahan perabot penunjang yang diperlukan.
No Nama Ruang Luas (m²) Fungsi Utama Keterangan
1 Ruang Kelas ± 56 m² Tempat Ukuran ideal:
Baru pembelajaran 7 m x 8 m
siswa
2 Teras Depan ± 7 m² Sirkulasi & Dengan atap
pelindung pelindung
akses masuk (kanopi)
Catatan:
Kebutuhan jumlah ruang disesuaikan dengan jumlah siswa dan rasio siswa per kelas
(ideal: 28–32 siswa per kelas).
3. Program Perabot
( Setiap ruang kelas direncanakan memiliki kelengkapan seperti yang tertera dalam
RAB):
4. Syarat dan Ketentuan Teknis
Pembangunan dan perabotan ruang kelas wajib mengikuti ketentuan teknis berikut:
Standar Ukuran Ruang Kelas: Minimal 56 m² (7x8 m) dengan tinggi ruang
minimum 3 meter.
Pencahayaan: Minimal 20% dari luas lantai melalui bukaan (jendela atau
ventilasi).
Sirkulasi Udara: Harus memiliki ventilasi silang dan jendela yang bisa
dibuka.
Keamanan: Pintu keluar minimal satu buah, mudah dibuka, dan tidak
menghalangi evakuasi.
Bahan Bangunan: Harus kuat, tahan lama, dan ramah lingkungan. Tidak
menggunakan bahan beracun/asbes.
Perabot: Disesuaikan dengan ukuran ergonomis anak SD dan tidak memiliki
sudut tajam.
5. Referensi Aturan dan Standar
Penyusunan program ruang dan perabot ini mengacu pada:
1. Permendiknas No. 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana
untuk SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA
2. SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Bangunan Gedung Sekolah
Dasar
3. SNI 03-6572-2001 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Pencahayaan Alami
pada Bangunan Gedung
4. Keputusan Menteri PUPR No. 403/KPTS/M/2022 tentang Pedoman Teknis
Pembangunan dan Rehabilitasi Gedung Sekolah Dasar
5. Panduan Direktorat Sarana dan Prasarana Kemdikbudristek mengenai
pembangunan ruang kelas dan perabot sekolah dasar (terbaru)
Pembuatan Desain Arsitektur dan Teknik
6. Penyusunan gambar perencanaan (site plan, denah, tampak, potongan) dengan
mempertimbangkan fungsionalitas, sirkulasi, pencahayaan, dan ventilasi alami.
7. Penyusunan perencanaan struktur, sanitasi, elektrikal, dan sistem air bersih/limbah
berdasarkan kondisi teknis di lapangan.
8. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB)
1) Penyusunan RAB dilakukan berdasarkan gambar teknis dan analisa harga
satuan (AHSP) sesuai standar daerah/SNI.
2) Rincian meliputi pekerjaan persiapan, struktur, arsitektur, instalasi, dan
utilitas.
9. Dokumentasi DED
Penggabungan seluruh hasil perencanaan dalam satu dokumen Detail Engineering
Design (DED) yang mencakup:
Latar belakang dan tujuan
Desain teknis dan gambar kerja
Spesifikasi teknis
RAB dan Time Schedule
Metode pelaksanaan pekerjaan
IV. PENDEKATAN PARTISIPATIF DAN BERKELANJUTAN
Dalam proses perencanaan, digunakan pendekatan partisipatif dengan melibatkan
masyarakat lokal dan perangkat desa untuk memastikan hasil perencanaan sesuai
kebutuhan serta dapat dipelihara secara berkelanjutan.
V. METODE PELAKSANAAN ITEM PEKERJAAN:
I. PEKERJAAN PERSIAPAN
1) Papan nama proyek
a) Tujuan
Memberikan informasi kepada publik dan pihak terkait mengenai proyek
yang sedang berlangsung, termasuk nama proyek, lokasi, instansi
pelaksana, kontraktor, konsultan, nilai kontrak, waktu pelaksanaan, dan
sumber dana.
b) Persiapan
Menyusun desain papan nama proyek sesuai ketentuan dari instansi
pemilik pekerjaan (biasanya berdasarkan standar Permen PUPR atau
aturan lokal).
Menyiapkan bahan dan peralatan yang dibutuhkan:
o Plat seng atau tripleks tebal sebagai media papan.
o Tiang penyangga dari besi siku, kayu, atau pipa galvanis.
o Cat tahan cuaca untuk tulisan dan latar belakang.
o Peralatan kerja seperti bor, cat, kuas/roller, tang, paku, palu,
dan lain-lain.
c) Proses Pelaksanaan
a. Pembuatan Papan
Papan dibuat dengan ukuran sesuai ketentuan (umumnya 1,2 m
x 2,4 m).
Tulisan dicetak atau dicat dengan huruf yang jelas dan mudah
dibaca, berisi:
Nama proyek
Lokasi proyek
Nomor kontrak
Nilai kontrak
Waktu pelaksanaan
Sumber dana
Nama dan alamat instansi, penyedia jasa, konsultan, dan
pelaksana.
b. Pemasangan
Memasang tiang penyangga dengan ketinggian dan penempatan
yang aman dan mudah terlihat dari jalan umum.
Papan nama dipasang secara kokoh agar tidak mudah roboh oleh
angin atau gangguan lainnya.
Posisi papan tegak lurus dan rapi.
c. Pengecekan dan Pemeliharaan
Papan nama proyek harus tetap dalam kondisi baik selama masa
pelaksanaan proyek.
Jika rusak, wajib segera diperbaiki atau diganti.
d. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Gunakan APD (helm, rompi, sarung tangan) saat pemasangan.
Pastikan lokasi pemasangan aman dari lalu lintas kendaraan.
Jangan menghalangi jalur pejalan kaki atau kendaraan.
e. Dokumentasi
Ambil dokumentasi foto sebelum dan sesudah pemasangan
papan nama proyek.
Simpan salinan desain papan dan bukti pelaksanaan untuk
laporan pengawasan.
2) Mobilisasi dan demobilisasi
1. Tujuan
Melaksanakan pengangkutan peralatan, perlengkapan, dan personel ke
lokasi proyek (mobilisasi) dan memindahkan kembali setelah pekerjaan
selesai (demobilisasi), secara aman, tepat waktu, dan efisien.
2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Mobilisasi:
Pengangkutan alat berat, peralatan kerja, perlengkapan kantor
lapangan, dan material awal ke lokasi proyek.
Pendirian fasilitas sementara seperti direksi keet, gudang, WC
pekerja, dan papan proyek.
Penempatan tenaga kerja inti di lokasi proyek.
Demobilisasi:
Pembongkaran fasilitas sementara.
Pembersihan lokasi dari sisa material, sampah, dan alat.
Pengangkutan kembali alat/peralatan ke luar lokasi proyek.
Pemulihan lahan ke kondisi semula (jika disyaratkan).
3. Persiapan
Koordinasi dengan pemilik lahan dan pihak terkait (desa, pengawas
proyek, dll).
Menentukan rute pengiriman alat dan barang.
Menyusun daftar peralatan dan tenaga kerja yang akan dimobilisasi.
Menyiapkan perizinan transportasi alat berat jika diperlukan.
Menyiapkan area parkir dan penyimpanan sementara di lokasi
proyek.
4. Proses Pelaksanaan
A. Mobilisasi
1. Pengangkutan alat dan material:
Menggunakan truk trailer, pick-up, atau kendaraan lain
sesuai ukuran alat.
Pengangkutan dilakukan secara bertahap dan terjadwal.
Peralatan diturunkan di lokasi yang aman dan strategis.
2. Pemasangan fasilitas pendukung:
Mendirikan direksi keet, gudang material, WC lapangan,
dan papan proyek.
Menyediakan sambungan listrik sementara dan air bersih
jika diperlukan.
3. Pemasukan tenaga kerja inti:
Menempatkan mandor, tukang, dan operator sesuai
kebutuhan awal proyek.
B. Demobilisasi
1. Pembersihan lokasi proyek:
Mengangkat semua peralatan, material sisa, dan limbah
konstruksi.
Merapikan dan mengembalikan lahan sesuai perjanjian
(jika lahan sewa).
2. Pembongkaran fasilitas sementara:
Direksi keet, gudang, dan struktur sementara lainnya
dibongkar dan dibawa keluar lokasi.
3. Pengangkutan kembali alat dan perlengkapan:
Alat berat dan perlengkapan dibersihkan sebelum dikirim
ke gudang/perusahaan.
5. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Semua pekerja wajib menggunakan APD.
Pastikan alat berat diangkut sesuai standar keselamatan
transportasi.
Area kerja dibatasi dan diberi rambu pengaman saat alat berat
keluar masuk.
6. Dokumentasi
Foto alat/peralatan saat masuk dan keluar lokasi proyek.
Catatan daftar alat yang dimobilisasi dan demobilisasi.
Berita acara mobilisasi dan demobilisasi.
3) Pengadaan air dan listrik kerja
1. Tujuan
Menjamin ketersediaan sumber daya air bersih dan listrik yang cukup
dan aman untuk mendukung seluruh kegiatan selama masa pelaksanaan
proyek konstruksi.
2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Pengadaan dan pemasangan sarana air bersih sementara untuk
kebutuhan pekerja dan pekerjaan konstruksi.
Pengadaan dan pemasangan instalasi listrik sementara, baik untuk
penerangan maupun kebutuhan alat-alat listrik di lapangan.
3. Persiapan
Survei lokasi untuk menentukan titik pengambilan air dan sumber
listrik terdekat (PLN atau genset).
Mengurus izin/persetujuan dari pemilik lahan, PLN, atau
PDAM/penyedia air lokal jika diperlukan.
Menentukan kapasitas daya listrik dan volume air yang dibutuhkan.
Menyiapkan peralatan dan perlengkapan:
Air: tandon air (toren), pipa TRIPLEKS 6 MM, pompa air (jika
diperlukan).
Listrik: kabel NYA/NYM, MCB box, saklar, lampu, stopkontak,
grounding, serta genset cadangan jika diperlukan.
4. Proses Pelaksanaan
A. Pengadaan Air:
1. Sumber Air:
Diperoleh dari PDAM, sumur bor, atau sumber air
setempat yang layak pakai.
Jika tidak tersedia, dilakukan pengadaan air menggunakan
mobil tangki secara periodik.
2. Distribusi Air:
Air dialirkan melalui jaringan pipa ke titik-titik yang
diperlukan (toilet, tempat cuci alat, pengecoran, dll).
Menyediakan tandon air (500–1000 liter) di lokasi
strategis.
3. Pemeliharaan:
Menjaga kebersihan air dan kelancaran aliran.
Pemeriksaan rutin terhadap sambungan pipa dan
kebocoran.
B. Pengadaan Listrik:
1. Sumber Listrik:
Disambungkan dari jaringan listrik PLN terdekat.
Jika belum tersedia, digunakan genset sebagai sumber
sementara.
2. Instalasi Listrik:
Instalasi kabel menggunakan kabel standar (NYA/NYM)
dilindungi pipa conduit.
Memasang MCB box, saklar, dan titik-titik stopkontak
sesuai kebutuhan.
Menyediakan penerangan area kerja, direksi keet, dan
akses umum (jalan kerja, toilet, dll).
3. Keamanan dan Grounding:
Semua instalasi dilengkapi sistem grounding untuk
keamanan.
MCB dan ELCB dipasang untuk menghindari korsleting
dan kejutan listrik.
Tidak diperbolehkan kabel menggantung liar atau terbuka
tanpa pelindung.
5. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Instalasi listrik hanya dikerjakan oleh teknisi bersertifikat.
Pekerja dilarang mengutak-atik jaringan tanpa izin teknisi.
Sumber listrik dan air diberi tanda/papan informasi dan akses aman.
Selalu tersedia alat pemadam api ringan (APAR) di dekat panel
listrik.
6. Dokumentasi
Gambar instalasi air dan listrik sementara.
Foto pelaksanaan instalasi.
Berita acara pemasangan dan uji coba instal
4) Administrasi (dokumentasi dan pelaporan)
1. Tujuan
Menjamin kelancaran dan keteraturan proses administrasi proyek
melalui dokumentasi kegiatan serta penyusunan laporan secara
sistematis, akurat, dan tepat waktu sebagai dasar pengawasan, evaluasi,
dan pertanggungjawaban proyek.
2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Administrasi surat-menyurat dan dokumen kontrak.
Dokumentasi teknis berupa foto kegiatan harian dan progres
pekerjaan.
Penyusunan laporan harian, mingguan, bulanan, dan laporan akhir
proyek.
Administrasi kegiatan rapat, notulen, dan berita acara.
Pengarsipan data dan dokumen proyek.
3. Persiapan
Menyiapkan personel administrasi (admin proyek atau staf
dokumentasi).
Menyusun format dokumen pelaporan sesuai standar instansi
(PUPR, dinas terkait, dll).
Menyiapkan perangkat penunjang: komputer/laptop, kamera,
printer, alat tulis, serta media penyimpanan digital (flashdisk,
harddisk, cloud storage).
4. Proses Pelaksanaan
A. Dokumentasi Proyek:
1. Foto Kegiatan Lapangan:
Dokumentasi dilakukan setiap hari terhadap kegiatan
utama (penggalian, pembesian, pengecoran, dsb).
Foto diambil dari berbagai sudut dan diberi label waktu
serta deskripsi pekerjaan.
2. Dokumen Pendukung:
Salinan gambar kerja, RAB, time schedule, dan shop
drawing disimpan rapi dan diperbarui jika ada revisi.
Berita acara pemasangan, uji coba, serah terima, dan
lainnya didokumentasikan.
B. Pelaporan:
1. Laporan Harian:
Berisi cuaca, jumlah tenaga kerja, peralatan yang
bekerja, jenis pekerjaan yang dilakukan, serta kendala
lapangan.
2. Laporan Mingguan:
Rekap progres mingguan, grafik deviasi progres
rencana vs realisasi, dan foto pendukung.
3. Laporan Bulanan:
Berisi rekap progres fisik dan keuangan, laporan
deviasi dan analisis, serta usulan tindak lanjut.
4. Laporan Akhir:
Merangkum seluruh kegiatan proyek sejak awal hingga
selesai, termasuk hasil pekerjaan, evaluasi, serta
dokumentasi lengkap (foto, gambar revisi, dan lain-
lain).
5. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Area kerja admin harus rapi dan bebas dari risiko kebakaran
(hindari tumpukan kertas dekat sumber panas).
Data elektronik sebaiknya disimpan secara berlapis (backup di
flashdisk dan cloud).
Hindari penggunaan perangkat elektronik tanpa grounding atau
instalasi listrik yang aman.
6. Dokumentasi dan Arsip
Semua dokumen disimpan secara fisik (hardcopy) dan digital
(softcopy).
Arsip dibuat berurutan sesuai tanggal atau jenis dokumen.
Dokumen penting dilengkapi tanda tangan dan cap resmi sesuai
prosedur administrasi.
5) Pemasangan bouwplank
1. Tujuan
Pekerjaan bouwplank bertujuan untuk menandai batas dan posisi
bangunan secara horizontal dan vertikal, serta sebagai acuan dalam
pelaksanaan pekerjaan galian pondasi dan struktur selanjutnya agar
sesuai dengan gambar rencana.
2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Penentuan titik-titik as bangunan.
Pemasangan patok dan benang bouwplank.
Pemeriksaan kelurusan dan kesikuan titik-titik sudut bangunan.
3. Persiapan
1. Data Acuan:
Gambar rencana pondasi dan denah bangunan.
Titik koordinat dari juru ukur (bila menggunakan
GPS/tachymeter).
2. Alat dan Bahan:
Kayu kaso / papan (ukuran ± 5/7 cm atau 5/10 cm).
Patok kayu / bambu.
Paku, benang ukur (tali nylon), waterpass, selang waterpass /
theodolite.
Palu, meteran, alat ukur sudut (siku).
3. Personel:
Tukang bangunan berpengalaman dan satu orang juru ukur
(surveyor lapangan).
4. Proses Pelaksanaan
A. Pengukuran dan Penentuan Titik As:
1. Menentukan titik awal pengukuran (patok nol) berdasarkan
data koordinat/gambar.
2. Menggunakan meteran dan benang untuk menarik garis as
bangunan (sumbu X dan Y).
3. Memastikan sudut bangunan siku 90° dengan metode
segitiga 3-4-5 atau alat bantu theodolite.
B. Pemasangan Bouwplank:
1. Menanam patok kayu di luar batas galian pondasi, dengan
jarak aman ± 1 meter.
2. Memasang papan melintang secara horizontal di atas patok
dengan ketinggian tetap (±50–100 cm dari tanah).
3. Papan disambung membentuk segi empat sesuai denah
bangunan.
4. Menandai titik as bangunan di papan dengan paku dan
menarik benang melintang di atasnya.
C. Pemeriksaan dan Finalisasi:
1. Mengecek kembali:
Ukuran antar as
Kesikuan sudut
Ketinggian papan (menggunakan selang waterpass atau
waterpass laser)
2. Menegaskan kembali garis as dengan benang silang pada
titik-titik as struktur utama.
5. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Gunakan sepatu safety dan sarung tangan saat
membawa/memotong kayu.
Area bouwplank diberi batas agar tidak terganggu oleh lalu
lintas alat berat atau pekerja.
Pastikan alat ukur digunakan dengan benar dan aman (hindari
penggunaan alat ukur listrik saat hujan).
6. Dokumentasi
Foto kondisi bouwplank setelah pemasangan.
Gambar/sketsa as bangunan dan jarak antar titik.
Berita acara pengecekan as bangunan oleh konsultan
pengawas (jika ada).
II. PEKERJAAN TANAH / URUGAN
1. Galian tanah pondasi
1. Tujuan
Melaksanakan penggalian tanah sesuai dengan ukuran, kedalaman, dan
bentuk yang ditentukan dalam gambar kerja, untuk keperluan pekerjaan
pondasi bangunan.
2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Penggalian tanah untuk pondasi batu kali/pondasi beton bertulang.
Penggalian manual atau menggunakan alat berat sesuai kondisi
lapangan.
Pengamanan hasil galian dari longsoran atau genangan air.
Pembuangan tanah galian ke tempat yang ditentukan.
3. Persiapan
Gambar kerja dan bouwplank sudah terpasang dan dicek
kebenarannya.
Pemeriksaan tanah: memastikan bahwa permukaan tanah sudah
dibersihkan dari sampah, akar, atau bahan organik.
Peralatan yang digunakan:
Manual: cangkul, sekop, arit, meteran, tali, waterpass/selang
level.
Mekanis: excavator (jika diperlukan dan memungkinkan).
Penyiapan tenaga kerja dan pengawasan teknis.
4. Proses Pelaksanaan
A. Penandaan Area Galian
Menggunakan bouwplank dan benang untuk menandai batas
luar dan dalam galian pondasi
Penandaan kedalaman galian dengan patok ukur.
B. Pelaksanaan Galian
1. Metode Manual:
Galian dilakukan dengan cangkul dan sekop.
Lebar dan kedalaman mengikuti ukuran gambar (misalnya
lebar bawah pondasi 60 cm, kedalaman 80 cm, dll).
Tanah hasil galian ditumpuk rapi di sisi luar area kerja atau
langsung diangkut keluar.
2. Metode Mekanis:
Menggunakan excavator mini apabila medan dan ruang kerja
memungkinkan.
Dilanjutkan dengan perapian secara manual agar presisi
dimensi tercapai.
C. Pemeriksaan Galian
Kedalaman, lebar, dan elevasi dasar galian dicek dengan
waterpass/selang level.
Posisi galian dicek terhadap garis as bouwplank.
D. Pengamanan Galian
Jika tanah labil atau dalam kondisi hujan, dipasang penahan
longsoran (siku kayu atau terpal).
Saluran air dibuat sementara agar tidak menggenangi area galian.
E. Pembuangan Tanah Galian
Tanah sisa diangkut ke lokasi timbunan atau dibuang ke tempat
yang telah disetujui (koordinasi dengan pengawas/lurah
setempat).
5. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Gunakan APD lengkap (sepatu boot, helm, sarung tangan).
Area galian diberi rambu atau tali pengaman agar tidak terperosok.
Penggalian dalam (>1,5 m) harus disertai dengan pengaman dinding
atau metode stepped excavation.
Jangan bekerja dalam galian saat hujan deras atau jika ada potensi
longsoran.
6. Dokumentasi
Foto kegiatan galian.
Catatan volume galian dan lokasi pembuangan tanah.
Berita acara pemeriksaan elevasi dasar pondasi oleh pengawas.
2. Urugan tanah bekas galian
1. Tujuan
Menangani tanah bekas galian secara tertib dan efisien agar tidak
mengganggu jalannya proyek serta memanfaatkan atau membuangnya
sesuai ketentuan teknis dan lingkungan.
2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Penanganan tanah sisa dari pekerjaan galian pondasi.
Pemanfaatan ulang (re-use) untuk urugan kembali atau timbunan.
Pengangkutan tanah keluar lokasi proyek jika tidak terpakai.
Penempatan sementara tanah di lokasi penampungan.
3. Persiapan
Mengidentifikasi volume tanah bekas galian.
Menentukan lokasi penampungan sementara di area proyek (jika
diperlukan).
Menentukan lokasi akhir pembuangan tanah yang disetujui oleh
pemilik proyek atau instansi terkait (lurah/kecamatan/DLH).
Menyediakan peralatan:
Manual: sekop, gerobak dorong.
Mekanis: dump truck, wheel loader (jika volume besar).
4. Proses Pelaksanaan
A. Klasifikasi Tanah Bekas Galian
1. Tanah layak pakai kembali (reuse):
Untuk urugan kembali (backfilling) setelah pekerjaan pondasi
atau lantai kerja.
Dipilah dan disimpan terpisah dari tanah tidak layak.
Harus bebas dari akar, batu besar, atau sampah.
2. Tanah tidak digunakan (dibuang):
Tanah yang mengandung lumpur, organik, atau material tak
stabil.
Segera diangkut ke lokasi pembuangan.
B. Penanganan dan Pemanfaatan
1. Penyimpanan sementara:
Tanah disimpan di lokasi yang tidak mengganggu akses kerja.
Diberi tanggul/talud sementara untuk mencegah erosi atau
pencemaran.
2. Pemanfaatan untuk urugan:
Tanah digunakan untuk urugan kembali setelah pekerjaan
struktur bawah selesai.
Pengurugan dilakukan lapis demi lapis (maks 20 cm/lapis),
dipadatkan manual atau dengan stamper.
3. Pembuangan keluar lokasi:
Menggunakan dump truck.
Diberi penutup (terpal) saat pengangkutan agar tidak tercecer
di jalan.
Lokasi pembuangan sesuai arahan pengawas dan legalitas
setempat.
5. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Pekerja harus memakai APD (helm, sepatu, sarung tangan).
Pengangkutan tanah harus aman dan tidak mengganggu lalu lintas
sekitar proyek.
Tanah tidak dibuang ke saluran air, sungai, atau area terlarang.
Area penyimpanan tanah diberi rambu dan pembatas.
6. Dokumentasi
Foto kondisi tanah bekas galian dan proses penanganannya.
Catatan volume tanah yang digunakan kembali dan yang dibuang.
Berita acara pemanfaatan dan/atau pembuangan tanah yang
ditandatangani pengawas.
3. Urugan tanah peninggi lantai (dipadatkan)
1. Tujuan
Untuk menaikkan elevasi lantai bangunan sesuai dengan rencana
ketinggian yang ditentukan dalam gambar kerja dan spesifikasi teknis.
2. Lingkup Pekerjaan
Meliputi:
Pengadaan tanah urug (material urugan)
Pengangkutan material ke lokasi
Penebaran dan pemadatan bertahap hingga mencapai elevasi yang
diinginkan
Pengendalian elevasi dan kepadatan
3. Peralatan yang Digunakan
Dump truck (pengangkut material)
Alat penyiram air (water tank)
Stamper kuda atau baby roller (pemadatan)
Alat ukur (waterpass / theodolite / level selang)
Cangkul, sekop, dan alat bantu lainnya
4. Material
Tanah urug pilihan (tidak mengandung sampah, akar, atau material
organik)
Kelembaban sesuai syarat teknis agar mudah dipadatkan
5. Prosedur Pelaksanaan
a. Persiapan
Pemeriksaan elevasi eksisting (tanah dasar) menggunakan
waterpass
Pembersihan area dari sampah, rumput, akar, dan material yang
tidak diinginkan
Penandaan batas area yang akan diurug
b. Pengadaan dan Pengangkutan Material
Pengadaan tanah urug sesuai spesifikasi
Pengangkutan material menggunakan dump truck
c. Penebaran
Penebaran dilakukan lapis demi lapis (maksimal 20 cm per
lapis)
Setiap lapis diratakan dengan cangkul atau alat bantu lain
d. Pemadatan
Pemadatan tiap lapisan dilakukan menggunakan stamper kuda /
baby roller
Kelembaban tanah dijaga sesuai kebutuhan (penyiraman bila
terlalu kering)
e. Pemeriksaan
Pemeriksaan elevasi dan ketebalan setiap lapisan
Pemeriksaan kepadatan dengan alat uji (uji sand cone atau DCP
jika diperlukan)
Pengulangan urugan dan pemadatan jika belum memenuhi
syarat
6. Pengendalian Mutu
Pengujian kadar air sebelum pemadatan
Pengujian kepadatan (minimal 95% Proctor Standard)
Pemeriksaan visual terhadap kerataan dan elevasi
7. Keselamatan Kerja
Pekerja menggunakan APD (helm, sepatu safety, rompi)
Area kerja diberi pembatas dan rambu peringatan
Koordinasi antara operator alat berat dan pekerja di lapangan
4. Urugan pasir di bawah lantai
1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pengadaan, pengangkutan, penebaran, perataan,
dan pemadatan pasir urug di bawah lantai bangunan untuk keperluan
pondasi atau pelat lantai.
2. Persiapan
Pekerjaan urugan dilakukan setelah seluruh pekerjaan pondasi, saluran
bawah tanah, dan instalasi bawah lantai selesai dan telah diuji
(terutama instalasi plumbing dan listrik bawah lantai).
Area kerja dibersihkan dari material sisa dan genangan air.
Pemasangan patok dan bowplank untuk mengontrol elevasi urugan.
3. Material
Pasir yang digunakan adalah pasir pasang bersih, bebas dari lumpur,
tanah organik, batuan besar, dan sampah.
Kadar lumpur tidak boleh lebih dari 5% (dapat diuji dengan uji
endapan dalam air).
4. Metode Pelaksanaan
1. Pengangkutan dan Penimbunan
Pasir diangkut ke lokasi kerja menggunakan dump truck atau
alat bantu lainnya.
Pasir ditimbun di area kerja sesuai urutan dan zona pekerjaan.
2. Penebaran Pasir
Pasir ditaburkan secara merata dalam lapisan setebal maksimum
±20 cm setiap lapis.
Tebal total disesuaikan dengan elevasi lantai rencana.
3. Perataan
Pasir diratakan menggunakan cangkul, garu, atau alat mekanis
ringan, sambil mengikuti kontrol elevasi dengan bantuan
waterpass, selang air, atau alat ukur lainnya.
4. Pemadatan
Setiap lapisan pasir dipadatkan menggunakan stamper kuda atau
baby roller.
Tingkat kepadatan minimal 90% Modified Proctor (bisa
disesuaikan dengan spesifikasi proyek).
Penyiraman air dilakukan secukupnya untuk membantu proses
pemadatan.
5. Pemeriksaan dan Uji Kepadatan
Setelah pemadatan, dilakukan pemeriksaan elevasi dan
kepadatan lapisan.
Bila tidak memenuhi syarat, dilakukan pengurugan dan
pemadatan ulang.
6. Alat yang Digunakan
Cangkul, sekop, dan garu
Waterpass atau alat ukur elevasi
Stamper kuda atau baby roller
Selang air / tangki semprot untuk penyiraman
7. Keselamatan Kerja
Pekerja wajib menggunakan APD (sepatu safety, helm, sarung
tangan, masker).
Pastikan area kerja aman dari runtuhan atau genangan air.
8. Pengendalian Mutu
Pemeriksaan material pasir sebelum dipakai.
Pemeriksaan elevasi dan kepadatan lapisan secara berkala.
Dokumentasi pekerjaan harian dan pengujian lapangan bila
diperlukan.
5. Urugan pasir di bawah pondasi
1. Tujuan
Menyediakan lapisan dasar berupa pasir yang merata dan padat di bawah
pondasi guna meningkatkan stabilitas, mencegah erosi tanah dasar, serta
mempercepat drainase air di bawah pondasi.
2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Pengadaan dan pengangkutan material pasir ke lokasi proyek.
Penempatan pasir di dasar galian pondasi.
Perataan dan pemadatan lapisan pasir sesuai ketebalan rencana.
3. Persiapan
Material pasir harus bersih, bebas dari tanah liat, sampah organik,
lumpur, dan batu besar.
Pemeriksaan elevasi dasar galian untuk memastikan ketebalan
urugan merata.
Peralatan:
Manual: sekop, cangkul, alat ukur, waterpass.
Pemadatan: stamper kodok/manual (untuk area sempit), vibrator
plate (jika memungkinkan).
Pastikan galian pondasi tidak tergenang air saat urugan dilakukan.
4. Proses Pelaksanaan
A. Pemeriksaan Dasar Galian
Pastikan elevasi dasar galian telah sesuai.
Bersihkan dasar galian dari sisa tanah gembur, akar, atau air
genangan.
B. Penempatan Pasir
Hamparkan pasir secara merata di seluruh dasar galian pondasi.
Ketebalan pasir disesuaikan dengan gambar kerja, biasanya
antara 5–10 cm (dalam keadaan padat).
Gunakan alat bantu (kayu siku atau besi datar) untuk meratakan
permukaan.
C. Pemadatan Pasir
Pemadatan dilakukan dengan cara:
Manual: injak kaki/alat pemadat manual untuk area kecil.
Mekanis: stamper kodok atau vibrator plate.
Pengukuran elevasi dilakukan setelah pemadatan untuk
memastikan ketebalan sesuai rencana.
D. Pemeriksaan Kualitas
Visual: lapisan padat, tidak lembek/tidak bergelombang.
Cek elevasi dan ketebalan menggunakan waterpass/sipat datar.
5. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Gunakan APD lengkap: helm, sepatu boot, sarung tangan.
Jaga area kerja agar tidak tergenang dan tidak longsor saat proses
urugan.
Alat pemadat harus digunakan oleh operator yang kompeten.
6. Dokumentasi
Foto pelaksanaan urugan pasir sebelum dan sesudah pemadatan.
Catatan volume pemakaian pasir dan area yang diurug.
Berita acara pemeriksaan ketebalan urugan dan hasil pemadatan oleh
pengawas lapangan.
III. PEKERJAAN PONDASI
1. Pasangan batu kosong/aanstamping
1. Tujuan
Membuat lapisan dasar yang kuat dan stabil menggunakan batu kosong
sebagai pondasi awal atau dasar saluran untuk menyebarkan beban,
menghindari penurunan, dan membantu drainase.
2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Pengadaan batu kosong ukuran sesuai spesifikasi.
Pemasangan batu secara manual di dasar galian.
Perataan dan pemadatan batu agar stabil dan tidak mudah bergeser.
3. Persiapan
Material:
Batu kosong (batu belah kasar) ukuran ± 10–25 cm, keras, bersih,
tidak lapuk.
Peralatan:
Manual: cangkul, sekop, palu, linggis, alat bantu pemadatan
(stamper manual).
Alat ukur elevasi (waterpass, selang level, meteran).
Pastikan dasar galian telah selesai dan bersih dari lumpur, akar, dan
genangan air.
4. Proses Pelaksanaan
A. Pemeriksaan Dasar Galian
Pastikan elevasi dan dimensi galian sudah sesuai dengan gambar
kerja.
B. Penempatan Batu Kosong
1. Batu disusun satu per satu secara manual di dasar galian.
2. Batu besar diletakkan terlebih dahulu, lalu batu yang lebih kecil
mengisi celah.
3. Disusun rapat dan stabil, tidak ada batu yang goyah.
4. Ketinggian batu disesuaikan dengan elevasi rencana (biasanya
tebal ±15–20 cm tergantung desain).
C. Pemadatan
Setelah tersusun, batu dipukul dengan palu besar atau
dipadatkan menggunakan stamper manual.
Lapisaan batu dapat dibantu dengan penaburan abu batu atau
pasir untuk mengisi celah-celah agar lebih solid.
D. Pemeriksaan
Cek visual kestabilan batu (tidak bergoyang).
Cek elevasi dan ketebalan lapisan dengan alat ukur.
5. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Gunakan APD lengkap: helm, sepatu boot, sarung tangan.
Hati-hati saat mengangkat atau meletakkan batu agar tidak
menyebabkan cedera punggung atau terjepit.
Area kerja dijaga dari air masuk atau longsoran galian.
6. Dokumentasi
Foto sebelum dan sesudah pemasangan batu kosong.
Catatan volume batu yang digunakan.
Berita acara pemeriksaan lapangan oleh pengawas/konsultan.
2. Pasangan pondasi menerus 1 Pc : 5 Psr
1. Tujuan
Melaksanakan pekerjaan pasangan pondasi batu kali dengan campuran
mortar 1 semen : 5 pasir sebagai struktur dasar bangunan yang kokoh dan
mampu menahan beban bangunan secara efisien.
2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Penyiapan bahan dan alat kerja.
Pembuatan adukan mortar 1:5.
Pemasangan batu kali/batu belah sesuai ukuran dan tinggi pondasi.
Penyusunan batu secara rapi dan padat.
Pemeriksaan dimensi dan elevasi pasangan.
3. Persiapan
Material:
Batu kali/batu belah keras, bersih, tidak lapuk.
Semen Portland (PC).
Pasir pasang bersih (tidak bercampur tanah/lumpur).
Air bersih (tidak mengandung asam atau garam).
Peralatan:
Cangkul, sekop, ember, palu karet, benang ukur, waterpass,
meteran, cetok.
Alat aduk manual atau molen (jika volume besar).
Tenaga kerja:
Tukang batu berpengalaman dan 1–2 orang pembantu tukang.
4. Proses Pelaksanaan
A. Pemeriksaan Dasar Pondasi
Pastikan urugan pasir dan batu kosong (jika ada) sudah selesai
dan padat.
Cek elevasi dan garis as pondasi menggunakan bouwplank dan
waterpass.
B. Pembuatan Adukan 1 PC : 5 PSR
Campurkan 1 bagian semen dan 5 bagian pasir kering secara
merata.
Tambahkan air sedikit demi sedikit hingga diperoleh adukan
plastis yang tidak terlalu encer.
Aduk manual atau gunakan molen bila memungkinkan.
C. Pelaksanaan Pemasangan
1. Batu pertama (batu pokok) diletakkan di bagian bawah pondasi.
2. Batu lainnya disusun menyilang dan saling mengunci (interlock)
3. Setiap batu diselimuti adukan mortar agar terikat kuat.
4. Pastikan lebar pondasi bawah, lebar pondasi atas, dan tinggi
pondasi sesuai gambar kerja.
5. Gunakan benang ukur untuk menjaga kelurusan dan waterpass
untuk menjaga ketinggian.
D. Finishing dan Pembersihan
Bersihkan sisa adukan yang berceceran di sisi batu.
Percikkan air secara berkala selama 3–7 hari untuk proses curing
(pengerasan mortar).
5. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Gunakan APD: helm, sepatu boot, masker debu, dan sarung tangan.
Hati-hati saat membawa dan meletakkan batu agar tidak terjepit atau
cedera.
Pastikan area kerja tidak licin dan bebas dari genangan.
6. Dokumentasi
Foto progres pemasangan batu pondasi.
Pemeriksaan dimensi dan ketinggian pondasi oleh pengawas.
Berita acara pekerjaan pondasi awal dan final.
IV. PEKERJAAN STRUKTUR
1. Beton K-225 dan Beton K-175
Berikut adalah metode pelaksanaan pekerjaan struktur beton K-225 dan K-
175, yang digunakan untuk elemen struktural seperti sloof, kolom, balok,
lantai kerja, dan pondasi tapak dalam proyek seperti Pembangunan Ruang
Kelas Baru:
1. Tujuan
Melaksanakan pengecoran beton bertulang sesuai mutu teknis yang
disyaratkan (K-225 dan K-175), untuk menjamin kekuatan, keawetan,
dan stabilitas struktur bangunan.
2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan pembesian (penulangan).
Pemasangan bekisting.
Pembuatan dan pengecoran beton mutu K-175 dan K-225.
Pemadatan beton dan curing.
3. Klasifikasi Mutu Beton
Beton K-225 (f'c = 18.7 MPa): digunakan untuk elemen struktural
utama seperti sloof, kolom, balok, plat.
Beton K-175 (f'c = 14.6 MPa): digunakan untuk lantai kerja, pondasi
tapak, dan elemen non-struktural.
4. Persiapan Pekerjaan
Material:
Semen Portland (PC).
Pasir dan kerikil/split bersih, sesuai gradasi.
Air bersih (tidak mengandung garam/asam).
Baja tulangan SNI (ULS).
Peralatan:
Cetok, palu, gergaji, molen (mixer), alat takar adukan, vibrator
beton.
Ember, sekop, alat ukur, waterpass, alat uji slump.
Tenaga kerja:
Tukang beton, tukang besi, tukang kayu (bekisting), dan mandor
lapangan.
5. Proses Pelaksanaan
A. Pekerjaan Pembesian
Potong dan rangkai tulangan sesuai gambar kerja.
Pasang begel dan pengikat menggunakan kawat bendrat.
Gunakan spacer agar tulangan tidak menempel pada bekisting.
Pastikan tulangan bebas dari karat, minyak, atau kotoran.
B. Pemasangan Bekisting
Gunakan papan/kayu multipleks atau bekisting sistem.
Pastikan ukuran sesuai rencana dan permukaan rata.
Bekisting harus kuat, tidak bocor, dan dilengkapi lubang
inspeksi/pengecoran.
Olesi bagian dalam bekisting dengan oli bekisting agar mudah
dibuka.
C. Pembuatan Adukan Beton
Manual (Site mix): Campuran untuk mutu:
o K-225 ≈ 1 semen : 1,5 pasir : 2,5 kerikil
o K-175 ≈ 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil
Takaran harus presisi menggunakan ember atau alat takar.
Tambahkan air secukupnya hingga slump ±10–12 cm.
Lakukan uji slump test untuk kontrol mutu lapangan.
D. Pengecoran Beton
Adukan dituangkan ke dalam bekisting secara hati-hati.
Gunakan vibrator untuk memadatkan beton, hindari segregasi.
Cor dilakukan tanpa jeda lama untuk menghindari cold joint.
E. Finishing dan Curing
Setelah beton mulai mengeras (±6 jam), permukaan diratakan.
Curing dimulai 12–24 jam setelah pengecoran:
o Dengan menyiram air rutin atau menutup dengan goni
basah/plastik.
o Dilakukan selama minimal 7 hari.
6. Pembongkaran Bekisting (Sesudah Pengecoran)
Bekisting vertikal (kolom/dinding): dibuka setelah 2 hari.
Bekisting horizontal (balok/plat): dibuka setelah 7–14 hari
tergantung ukuran dan beban.
Lakukan hati-hati agar beton tidak rusak.
7. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Gunakan APD lengkap: helm, rompi, sarung tangan, sepatu.
Hati-hati saat memindahkan material berat seperti semen dan besi.
Jauhkan area pengecoran dari lalu lintas proyek saat proses
berlangsung.
8. Dokumentasi
Foto progres tulangan, pengecoran, dan curing.
Catatan volume beton yang digunakan dan hasil uji slump.
Berita acara pengecoran dan uji mutu (jika disyaratkan pengambilan
benda uji silinder/kubus).
2. Pembesian Besi Polos
Berikut adalah metode pelaksanaan pekerjaan struktur pembesian untuk besi
polos Ø12 mm (tulangan utama) dan begel Ø8 mm (tulangan
sengkang/begel), yang biasa digunakan dalam sloof, kolom, balok, dan
pondasi untuk bangunan seperti Pembangunan Ruang Kelas Baru:
1. Tujuan
Melaksanakan pekerjaan pembesian secara tepat dan sesuai gambar kerja
untuk menjamin kekuatan, kestabilan, serta durabilitas struktur beton
bertulang.
2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Pemotongan, pembengkokan, dan perakitan tulangan besi polos Ø12
mm dan Ø8 mm.
Penempatan tulangan pada posisi sesuai rencana.
Pengikatan tulangan dengan kawat bendrat.
Pemasangan spacer dan pengaman sambungan.
3. Persiapan
Material:
o Besi polos Ø12 mm (tulangan pokok).
o Besi polos Ø8 mm (begel/sengkang).
o Kawat bendrat sebagai pengikat.
o Spacer beton/plastik untuk jarak selimut beton.
Peralatan:
o Gunting besi/manual cutter.
o Tang pembengkok besi/manual bender.
o Alat ukur (meteran, waterpass, jidar, unting-unting).
o Alat pelindung diri (APD).
Tenaga kerja:
o Tukang besi dan pembantu tukang.
4. Proses Pelaksanaan
A. Pemeriksaan Gambar Struktur
Baca dan pahami gambar kerja struktur:
Dimensi elemen (kolom, balok, sloof).
Diameter, jumlah, dan jarak antar tulangan.
Panjang penyaluran (anchorage) dan tumpang tindih (overlap).
B. Pemotongan dan Pembengkokan Besi
Potong besi Ø12 mm dan Ø8 mm sesuai panjang yang
dibutuhkan.
Gunakan bending tool untuk membuat begel dari besi Ø8 mm
dengan ukuran sesuai gambar.
Lengkapi dengan hook (ekor) minimal 10–12× diameter untuk
tulangan begel.
C. Perakitan Tulangan
Susun tulangan Ø12 mm (memanjang) sebagai tulangan utama.
Pasang begel Ø8 mm melintang secara berkala (misal: @150 mm
atau @200 mm).
Ikat semua sambungan dengan kawat bendrat secara kuat.
Gunakan spacer/batu beton kecil di bagian bawah dan samping
agar tulangan tidak menempel bekisting (selimut beton minimal
2.5 cm).
D. Penempatan pada Bekisting
Pastikan tulangan telah dirakit dengan benar dan sesuai posisi:
o Tidak bengkok, tidak goyang.
o Jarak selimut beton terjaga.
o Sudut, panjang, dan sambungan sesuai dengan gambar teknis.
Periksa kelurusan dan posisi dengan waterpass dan benang ukur.
5. Pemeriksaan & Pengawasan
Pemeriksaan dilakukan sebelum pengecoran:
o Jumlah dan ukuran tulangan.
o Jarak begel dan posisi tumpang tindih.
o Pemasangan pengganjal (spacer).
Jika ada kesalahan, segera lakukan perbaikan sebelum pengecoran.
6. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Gunakan APD lengkap: helm, sarung tangan, sepatu boot.
Perhatikan keamanan saat memotong atau membengkokkan besi.
Simpan material besi pada tempat yang rata agar tidak terguling.
7. Dokumentasi
Foto pekerjaan pembesian: tulangan utama, begel, dan perakitan.
Pemeriksaan bersama pengawas/konsultan sebelum pengecoran.
Berita acara pemeriksaan tulangan jika diperlukan.
3. Begesting
Berikut adalah metode pelaksanaan item pekerjaan bekisting untuk elemen-
elemen struktur seperti kolom 20/20, kolom 15/15, sloof 15/20, plat beton 7
cm, dan ring balk 15/20, yang umum digunakan dalam bangunan seperti
Pembangunan Ruang Kelas Baru.
1. Tujuan
Melaksanakan pekerjaan pemasangan dan pembongkaran bekisting beton
bertulang dengan benar dan aman, untuk membentuk elemen struktural
sesuai ukuran, posisi, dan kualitas permukaan beton yang diharapkan.
2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan bekisting kolom (20x20 cm dan 15x15 cm).
Pekerjaan bekisting sloof 15x20 cm.
Pekerjaan bekisting plat lantai 7 cm.
Pekerjaan bekisting ring balk 15x20 cm.
Pembongkaran bekisting setelah beton mengeras.
3. Persiapan
Material:
Multipleks 12 mm atau papan kayu kualitas baik.
Kayu kaso dan reng untuk penyangga dan perkuatan.
Paku, kawat, tie-rod (jika sistem bekisting fabrikasi).
Minyak bekisting (oli bekas).
Alat:
Palu, gergaji, meteran, waterpass, unting-unting.
Bor listrik, tang, alat ukur elevasi.
Tenaga kerja:
Tukang kayu, mandor struktur, dan pembantu tukang.
4. Proses Pelaksanaan
A. Pemeriksaan Awal
Cek gambar kerja: dimensi, posisi, dan ketinggian tiap elemen
struktur.
Pastikan pembesian telah selesai dan disetujui oleh pengawas
lapangan.
B. Pemasangan Bekisting
1. Kolom 20/20 dan 15/15
Gunakan multipleks/kayu sesuai ukuran kolom.
Pasang bekisting membentuk penampang kolom secara tegak
lurus (gunakan unting-unting dan waterpass).
Perkuat dengan pengaku diagonal agar tidak melengkung saat
pengecoran.
Gunakan kawat atau clamp untuk penguncian antar sisi
bekisting.
2. Sloof 15/20 dan Ring Balk 15/20
Pasang papan sesuai tinggi sloof/ring balk (20 cm), lebar (15
cm).
Bekisting dipaku ke balok penyangga atau pasang tiang-tiang
penopang vertikal.
Gunakan penahan samping agar tidak melendung saat
pengecoran.
Periksa tinggi dan kelurusan menggunakan waterpass.
3. Plat Lantai Tebal 7 cm
Pasang tripleks di atas balok pembalikan atau perancah
bambu/scaffolding.
Beri balok kayu di bawah tripleks setiap ±60 cm untuk
mencegah lendutan.
Pastikan plat memiliki kemiringan bila digunakan sebagai
atap miring atau dak talang.
C. Pemeriksaan dan Persiapan Cor
Pastikan tidak ada sambungan renggang (bocor).
Lumasi permukaan dalam bekisting dengan oli bekisting agar
beton tidak lengket dan mudah dibongkar.
Periksa elevasi, ketegakan, dan penampang dengan alat ukur.
D. Pembongkaran Bekisting
Waktu pembongkaran disesuaikan dengan jenis elemen dan umur
beton:
Kolom/sloof/ringbalk: setelah 2 hari (vertikal).
Plat: setelah 7 hari (tergantung bentang dan mutu beton).
Bongkar secara hati-hati agar tidak merusak permukaan beton.
5. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Gunakan APD: helm, sarung tangan, sepatu keselamatan.
Pastikan perancah kokoh dan tidak goyah.
Simpan alat tajam (gergaji, palu) secara aman saat tidak digunakan.
6. Dokumentasi
Foto bekisting sebelum dan sesudah pengecoran.
Pemeriksaan kelurusan dan elevasi bekisting oleh pengawas.
Catatan jenis material dan volume pemakaian.
V. PEKERJAAN PASANGAN DINDING DAN PLESTERAN
1. Pasangan dinding batako , 1Pc : 5Psr
Berikut adalah metode pelaksanaan item pekerjaan pasangan dinding batako
dengan adukan 1 bagian semen (PC) : 5 bagian pasir (PSR), yang umum
digunakan dalam proyek bangunan seperti Pembangunan Ruang Kelas
Baru:
1. Tujuan
Melaksanakan pekerjaan pasangan dinding batako secara rapi, kuat, dan
presisi, dengan menggunakan campuran mortar 1 semen : 5 pasir untuk
memastikan kekuatan dan kestabilan dinding bangunan.
2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Penyiapan material dan alat kerja.
Pemasangan batako sesuai gambar kerja.
Pembuatan adukan perekat.
Pemeriksaan kelurusan, ketegakan, dan kerapian pasangan.
3. Persiapan
Material:
Batako (ukuran standar ± 40x20x10 cm atau sesuai spek).
Semen Portland (PC).
Pasir pasang bersih.
Air bersih.
Peralatan:
Cetok, ember, palu karet, waterpass, benang ukur, jidar.
Sekop, cangkul, ember adukan, alat ukur.
Tenaga kerja:
Tukang pasangan + 1-2 orang pembantu tukang.
4. Proses Pelaksanaan
A. Pemeriksaan Lapangan
Pastikan struktur pendukung (sloof, kolom) sudah siap dan
sesuai elevasi.
Tentukan posisi dan arah pasangan dengan bantuan
bouwplank atau benang ukur.
B. Pembuatan Adukan 1 PC : 5 PSR
Campur 1 bagian semen dan 5 bagian pasir secara merata
dalam kondisi kering.
Tambahkan air bersih secukupnya hingga diperoleh adukan
yang plastis (tidak encer).
Adukan bisa dibuat manual atau dengan molen (untuk
volume besar).
C. Pelaksanaan Pasangan Batako
1. Lapisan pertama:
Pasang baris pertama batako di atas sloof menggunakan
adukan mortar ±1,5–2 cm.
Gunakan waterpass dan benang ukur untuk memastikan
posisi rata dan lurus.
2. Lapisan berikutnya:
Batako disusun berselang (zigzag) dengan nat horizontal
±1,5 cm dan vertikal ±1 cm.
Setiap lapisan diperiksa kelurusannya menggunakan jidar
dan benang.
3. Penyisipan:
Gunakan adukan mortar untuk mengisi semua nat antar
batako.
Ratakan dan rapikan permukaan sambungan.
4. Peleburan Sambungan:
Setelah pasangan selesai dan agak mengering,
sambungan nat diratakan dengan alat pelubang nat atau
cetok kecil.
D. Finishing dan Perawatan
Percikkan air secara rutin selama 3 hari untuk membantu
proses pengerasan mortar.
Bersihkan sisa adukan di permukaan dinding.
5. Pemeriksaan
Cek:
Ketinggian dan elevasi pasangan.
Ketegakan dan kelurusan (benang + waterpass).
Kerapian sambungan dan tidak ada rongga kosong.
6. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Gunakan APD: helm, masker debu, sarung tangan, sepatu boot.
Waspadai bahaya kejatuhan material saat pasangan batako di
ketinggian.
7. Dokumentasi
Foto progress harian dan hasil akhir pasangan batako.
Catatan volume pemakaian material (batako, semen, pasir).
Pemeriksaan dan persetujuan pengawas teknis.
2. Plesteran dinding dan beton, 1Pc : 5Psr
Berikut adalah metode pelaksanaan pekerjaan plesteran dinding dengan
campuran 1 PC : 5 PSR (1 bagian semen : 5 bagian pasir), yang umum
digunakan pada bangunan seperti Pembangunan Ruang Kelas Baru:
1. Tujuan
Memberikan lapisan pelindung dan perataan pada permukaan dinding
pasangan batako/bata agar siap untuk finishing (acian/cat/keramik),
serta memperkuat dan merapikan tampilan dinding.
2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan plesteran dinding interior dan eksterior.
Persiapan permukaan dinding.
Pembuatan dan pengaplikasian adukan plester 1 semen : 5 pasir.
3. Persiapan
Material:
Semen Portland (PC).
Pasir halus bersih (ayak bila perlu).
Air bersih.
Peralatan:
Cetok, roskam, jidar aluminium, waterpass.
Benang ukur, ember adukan, molen (bila volume besar).
Tenaga kerja:
Tukang plester berpengalaman + pembantu tukang.
4. Proses Pelaksanaan
A. Pemeriksaan dan Persiapan Dinding
Bersihkan permukaan dinding dari debu, minyak, atau partikel
lepas.
Basahi permukaan dinding pasangan batako/bata agar tidak
menyerap air berlebih dari adukan.
Pasang titik dan jalur paku kontrol tebal plesteran (patok
adukan) untuk menjaga kerataan dan ketebalan plester
(umumnya 1,5–2 cm).
B. Pembuatan Adukan (1 PC : 5 PSR)
Campur 1 bagian semen dan 5 bagian pasir secara kering.
Tambahkan air secukupnya dan aduk merata hingga mencapai
kekentalan yang sesuai (tidak encer dan tidak terlalu kering).
Dapat dibuat secara manual atau menggunakan molen untuk
volume besar.
C. Pekerjaan Plesteran
1. Plesteran Dasar:
Oleskan adukan plester ke dinding menggunakan cetok
secara merata antara titik patok.
Gunakan jidar untuk meratakan plester dengan menggeser
vertikal dan horisontal.
2. Perataan Permukaan:
Setelah plester sedikit mengeras, ratakan permukaan dengan
jidar panjang dan finishing halus dengan roskam.
Periksa kelurusan dan kerataan dengan benang ukur dan
waterpass.
3. Sudut dan Tepian:
Gunakan alat sudut (corner trowel) untuk membuat sudut
90° yang rapi di pertemuan dinding.
Buat nat pemisah untuk mencegah retak panjang di dinding
luas (optional).
D. Perawatan
Siram hasil plesteran dengan air minimal 2–3 kali sehari
selama 3 hari untuk menghindari retak karena kekeringan
dini.
5. Pemeriksaan
Cek:
Ketebalan plester merata (±1,5–2 cm).
Permukaan rata dan halus.
Tidak ada retak rambut atau rongga udara.
Dinding dalam posisi tegak dan lurus.
6. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Gunakan APD: helm, masker (hindari debu semen), sepatu, dan
sarung tangan.
Pastikan tangga atau scaffolding aman dan stabil saat plesteran
di ketinggian.
7. Dokumentasi
Foto pekerjaan sebelum dan sesudah plesteran.
Pemeriksaan dan catatan kualitas hasil plester.
Volume penggunaan material (semen, pasir) dan luas dinding
terplester.
3. Acian
Berikut adalah metode pelaksanaan pekerjaan acian untuk dinding atau
plafon, yang biasanya dilakukan setelah pekerjaan plesteran selesai, dengan
tujuan menghasilkan permukaan yang halus dan siap untuk finishing akhir
seperti cat.
1. Tujuan
Memberikan hasil akhir permukaan dinding/plafon yang halus, rata, dan
siap untuk pengecatan, serta menutup pori-pori pada plesteran agar
tahan terhadap cuaca dan kelembaban.
2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan acian pada dinding dan/atau plafon plesteran.
Persiapan permukaan plesteran.
Pembuatan dan pengaplikasian adukan acian.
3. Persiapan
Material:
Semen (PC) kualitas baik.
Air bersih.
(Opsional) Additive khusus acian atau campuran lem putih
untuk meningkatkan daya lekat.
Peralatan:
Roskam besi, ember, cetok.
Spons atau kuas untuk finishing lembut.
Alat semprot/manual sprayer (untuk pembasahan permukaan).
Tenaga kerja:
Tukang aci dan pembantu tukang berpengalaman.
4. Proses Pelaksanaan
1. Pemeriksaan Permukaan
Pastikan plesteran sudah kering sempurna (minimal 7 hari) dan
permukaan bersih dari debu, minyak, atau sisa adukan.
Perbaiki bagian plesteran yang retak atau tidak rata sebelum
acian.
2. Pembuatan Adukan Acian
Campurkan semen dengan air bersih secukupnya hingga
membentuk adukan kental seperti pasta.
Perbandingan umum: 1 semen : ± 0.4–0.5 air (disesuaikan
kondisi lapangan).
Gunakan aditif lem putih (opsional) untuk daya rekat lebih baik.
3. Pekerjaan Acian
1. Pembasahan Permukaan:
Basahi permukaan plesteran dengan air secara merata
sebelum acian agar tidak menyerap air dari adukan
acian.
2. Pengacian:
Ambil adukan menggunakan cetok dan aplikasikan ke
dinding menggunakan roskam besi dengan gerakan
naik-turun atau memutar.
Ratakan dan haluskan sambil menekan agar menempel
kuat.
3. Penyempurnaan:
Ulangi acian tipis jika perlu pada bagian tidak rata.
Gunakan spons/kuas lembab untuk hasil akhir lebih
halus jika diperlukan.
4. Perawatan
Setelah pengacian selesai, jaga kelembaban permukaan dengan
menyemprotkan air ringan selama 1–2 hari untuk mencegah
retak rambut akibat pengerasan cepat.
5. Pemeriksaan
Pastikan permukaan:
Halus dan rata.
Tidak bergelombang.
Bebas retak rambut dan lubang kecil.
Uji rekat acian dengan goresan ringan untuk memastikan tidak mudah
terkelupas.
6. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Gunakan APD: masker (hindari debu semen), kacamata
pelindung, sarung tangan, dan sepatu.
Jika pekerjaan dilakukan di ketinggian, pastikan scaffolding atau
tangga aman dan stabil.
7. Dokumentasi
Foto progres sebelum dan sesudah acian.
Catatan luas bidang yang diaci dan konsumsi material.
Pemeriksaan hasil akhir sebelum pekerjaan finishing cat.
VI. PEKERJAAN PINTU, JENDELA DAN PARTISI
1. Pasang Kusen, Kayu Klas II
Berikut adalah metode pelaksanaan pekerjaan pemasangan kusen kayu kelas
II beserta spesifikasi teknisnya, yang umum digunakan dalam proyek
pembangunan gedung pelayanan seperti Pembangunan Ruang Kelas Baru.
1. Tujuan
Melaksanakan pemasangan kusen kayu kelas II pada bukaan
pintu/jendela secara tepat, kuat, lurus, dan rapi sesuai gambar kerja dan
standar teknis.
2. Spesifikasi Teknis Kusen Kayu Kelas II
Komponen Spesifikasi
Jenis Kayu Kayu kelas II seperti: Meranti, Kamper Samarinda,
Mahoni, atau sejenisnya
Kadar Air Maks. 20% (sebaiknya dikeringkan/oven)
Ukuran Umumnya 6/12 cm atau sesuai gambar kerja
Kusen
Permukaan Halus, bebas dari cacat seperti lubang, retak, mata mati
Sambungan Menggunakan teknik sambungan kayu seperti pasak,
lidah-alur, atau skrup
Finishing Bisa di-finishing dengan plitur, cat duco, atau melamin
sesuai kebutuhan
3. Persiapan
Material:
Kayu kelas II sesuai spesifikasi.
Paku, angkur/baut dynabolt, fisher, dan sekrup.
Lem kayu, dempul, amplas, dan alat finishing (jika langsung
difinishing).
Alat Kerja:
Gergaji, bor, meteran, waterpass, benang ukur.
Palu, pahat, tang, siku kayu.
Tenaga Kerja:
Tukang kayu terampil dan pembantu tukang.
4. Prosedur Pelaksanaan
1. Pemeriksaan dan Persiapan Bukaan
Periksa posisi dan dimensi bukaan kusen pada pasangan dinding
(plester atau belum).
Pastikan elevasi, ketegakan, dan posisi bukaan sesuai gambar
kerja.
2. Penyesuaian Kusen
Potong dan bentuk kayu sesuai ukuran kusen.
Rakit kusen di tempat kerja atau langsung di lokasi.
Beri lubang angkur pada kusen dan posisi dinding penyangga.
3. Pemasangan
Tempatkan kusen pada posisi bukaan.
Gunakan waterpass dan unting-unting untuk mengecek tegak
lurus dan kelurusan.
Pasang angkur pada tiap sisi kusen (biasanya 3 titik per sisi
vertikal).
Pasang ganjal sementara dari kayu agar tidak berubah posisi
selama pemasangan.
4. Pemeriksaan Awal
Cek ulang kelurusan dan posisi dengan benang, waterpass, dan
siku.
Isi celah antara kusen dan dinding dengan mortar semen-pasir
(1:3) atau busa PU (polyurethane) jika presisi tinggi dibutuhkan.
5. Finishing
Amplas permukaan kusen sampai halus.
Tutup celah atau lubang kecil dengan dempul kayu.
Lakukan pengecatan/plitur sesuai rencana finishing akhir.
6. Pemeriksaan
Kusen harus terpasang tegak lurus (vertikal) dan rata
(horizontal).
Tidak ada celah antara kusen dan dinding.
Permukaan bersih, halus, dan tidak retak/pecah.
7. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Gunakan APD seperti masker (saat mengamplas), sarung tangan,
dan kacamata pelindung.
Pastikan alat pertukangan dalam kondisi aman digunakan.
8. Dokumentasi
Foto sebelum dan sesudah pemasangan.
Catatan jenis dan jumlah kayu yang digunakan.
Laporan pemeriksaan kelurusan dan posisi kusen.
2. Pasang Daun Pintu Panel, Kayu Kelas II
Berikut adalah metode pelaksanaan pekerjaan pemasangan daun pintu dan
daun jendela kayu kelas II, yang umumnya digunakan untuk bangunan
pelayanan publik seperti Pembangunan Ruang Kelas Baru.
1. Tujuan
Melaksanakan pemasangan daun pintu dan jendela dari kayu kelas II
secara tepat, kokoh, rapi, dan berfungsi baik, sesuai dengan gambar
kerja dan kebutuhan bangunan.
2. Spesifikasi Teknis
Komponen Spesifikasi
Jenis Kayu Kayu kelas II seperti: Meranti, Kamper Samarinda,
Mahoni, atau sejenisnya
Kadar Air Maks. 20% (sebaiknya dikeringkan/oven)
Ukuran Sesuai gambar kerja
Rangka Menggunakan teknik pasak, lidah-alur, atau sekrup +
Sambungan lem kayu
Engsel & Baja tahan karat (minimal 3 engsel/pintu), kunci sesuai
Kunci tipe pintu/jendela
Finishing Bisa dibiarkan natural (di-vernish/plitur) atau dicat
sesuai desain
3. Persiapan
Material:
Daun pintu/jendela dari kayu kelas II sesuai ukuran.
Engsel, sekrup, handle, kunci, grendel.
Dempul kayu, lem kayu, finishing (cat/plitur) jika diperlukan.
Peralatan:
Obeng, bor, palu, pahat, meteran, waterpass, alat amplas.
Tangga atau scaffolding bila pemasangan dilakukan di ketinggian.
Tenaga Kerja:
Tukang kayu dan pembantu tukang.
4. Prosedur Pelaksanaan
1. Pemeriksaan Kusen
Pastikan kusen telah terpasang kokoh, lurus, dan kering (tidak
berubah bentuk).
Cek dimensi dalam kusen untuk memastikan kesesuaian
dengan daun pintu/jendela.
2. Persiapan Daun Pintu/Jendela
Amplas permukaan hingga halus.
Lakukan pengecatan atau finishing awal jika diperlukan
sebelum pemasangan.
Pasang engsel di daun pintu/jendela pada posisi standar
(biasanya 3 buah per pintu, 2–3 buah untuk jendela tergantung
ukuran).
3. Pemasangan
1. Pasang Engsel ke Kusen:
Tandai dan pahat posisi engsel pada kusen.
Sekrup engsel dengan posisi rata dan sejajar.
2. Pasang Daun Pintu/Jendela ke Kusen:
Tempatkan daun dengan bantuan ganjal untuk celah bawah
(biasanya 5–7 mm).
Cek bukaan pintu/jendela, pastikan tidak macet dan
menutup sempurna.
3. Pasang Perlengkapan Tambahan:
Kunci, handle, grendel, stopper pintu.
Kaca (untuk jendela bila belum terpasang), dipasang
dengan karet/silikon/klem sesuai kebutuhan.
5. Pemeriksaan Akhir
Daun pintu/jendela dapat membuka-menutup dengan lancar.
Celah antar kusen dan daun rata (tidak terlalu lebar atau sempit).
Perangkat pengunci berfungsi dengan baik.
Tidak terdapat goresan kasar atau kerusakan pada permukaan kayu.
6. Perawatan
Oleskan finishing tambahan (cat atau plitur) jika diperlukan.
Bersihkan sisa lem/dempul/kotoran setelah pemasangan.
7. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Gunakan APD: sarung tangan, kacamata pelindung (saat
bor/pahat), masker (saat amplas/cat).
Pastikan area kerja bebas dari penghalang dan alat tajam tersimpan
aman.
8. Dokumentasi
Foto sebelum dan sesudah pemasangan.
Catatan jumlah pintu/jendela yang telah dipasang dan ukurannya.
Laporan hasil pemeriksaan fungsi buka-tutup dan kerapian.
5. Pasang Daun Jendela, Bingkai Kayu Klas II
Berikut adalah metode pelaksanaan pekerjaan pemasangan daun pintu dan
daun jendela kayu kelas II, yang umumnya digunakan untuk bangunan
pelayanan publik seperti Pembangunan Ruang Kelas Baru.
1. Tujuan
Melaksanakan pemasangan daun pintu dan jendela dari kayu kelas II
secara tepat, kokoh, rapi, dan berfungsi baik, sesuai dengan gambar
kerja dan kebutuhan bangunan.
2. Spesifikasi Teknis
Komponen Spesifikasi
Jenis Kayu Kayu kelas II seperti: Meranti, Kamper Samarinda,
Mahoni, atau sejenisnya
Kadar Air Maks. 20% (sebaiknya dikeringkan/oven)
Ukuran Sesuai gambar kerja
Rangka Menggunakan teknik pasak, lidah-alur, atau sekrup +
Sambungan lem kayu
Engsel & Baja tahan karat (minimal 3 engsel/pintu), kunci sesuai
Kunci tipe pintu/jendela
Finishing Bisa dibiarkan natural (di-vernish/plitur) atau dicat
sesuai desain
3. Persiapan
Material:
Daun pintu/jendela dari kayu kelas II sesuai ukuran.
Engsel, sekrup, handle, kunci, grendel.
Dempul kayu, lem kayu, finishing (cat/plitur) jika diperlukan.
Peralatan:
Obeng, bor, palu, pahat, meteran, waterpass, alat amplas.
Tangga atau scaffolding bila pemasangan dilakukan di ketinggian.
Tenaga Kerja:
Tukang kayu dan pembantu tukang.
4. Prosedur Pelaksanaan
1. Pemeriksaan Kusen
Pastikan kusen telah terpasang kokoh, lurus, dan kering (tidak
berubah bentuk).
Cek dimensi dalam kusen untuk memastikan kesesuaian
dengan daun pintu/jendela.
2. Persiapan Daun Pintu/Jendela
Amplas permukaan hingga halus.
Lakukan pengecatan atau finishing awal jika diperlukan
sebelum pemasangan.
Pasang engsel di daun pintu/jendela pada posisi standar
(biasanya 3 buah per pintu, 2–3 buah untuk jendela tergantung
ukuran).
3. Pemasangan
1. Pasang Engsel ke Kusen:
Tandai dan pahat posisi engsel pada kusen.
Sekrup engsel dengan posisi rata dan sejajar.
2. Pasang Daun Pintu/Jendela ke Kusen:
Tempatkan daun dengan bantuan ganjal untuk celah bawah
(biasanya 5–7 mm).
Cek bukaan pintu/jendela, pastikan tidak macet dan
menutup sempurna.
3. Pasang Perlengkapan Tambahan:
Kunci, handle, grendel, stopper pintu.
Kaca (untuk jendela bila belum terpasang), dipasang
dengan karet/silikon/klem sesuai kebutuhan.
5. Pemeriksaan Akhir
Daun pintu/jendela dapat membuka-menutup dengan lancar.
Celah antar kusen dan daun rata (tidak terlalu lebar atau sempit).
Perangkat pengunci berfungsi dengan baik.
Tidak terdapat goresan kasar atau kerusakan pada permukaan kayu.
6. Perawatan
Oleskan finishing tambahan (cat atau plitur) jika diperlukan.
Bersihkan sisa lem/dempul/kotoran setelah pemasangan.
7. K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Gunakan APD: sarung tangan, kacamata pelindung (saat
bor/pahat), masker (saat amplas/cat).
Pastikan area kerja bebas dari penghalang dan alat tajam tersimpan
aman.
8. Dokumentasi
Foto sebelum dan sesudah pemasangan.
Catatan jumlah pintu/jendela yang telah dipasang dan ukurannya.
Laporan hasil pemeriksaan fungsi buka-tutup dan kerapian.
4. Pemasangan Kaca Tebal 5 mm
Berikut adalah metode pelaksanaan pekerjaan pemasangan kaca tebal 5 mm,
yang biasa digunakan pada daun jendela atau ventilasi dalam proyek
bangunan seperti Pembangunan Ruang Kelas Baru.
1. Tujuan
Memasang kaca bening atau buram dengan ketebalan 5 mm secara
presisi, aman, dan kuat, pada kusen jendela, daun pintu, atau ventilasi
sesuai gambar kerja.
2. Spesifikasi Teknis
Komponen Spesifikasi
Jenis Kaca Kaca polos (bening atau es/buram), ketebalan 5 mm
Ukuran Disesuaikan dengan ukuran bukaan kusen atau daun
jendela/pintu
Metode Menggunakan kaca press list kayu, kaca sistem nat, atau
Pemasangan sistem karet (rubber gasket)
Toleransi 2–3 mm pada sisi kaca untuk ruang gerak pemuaian
suhu
3. Persiapan
Material:
Kaca 5 mm sesuai ukuran.
Karet kaca (neoprene/rubber), lem kaca/silikon sealant (jika
sistem nat).
Lis penahan kaca (kayu atau alumunium), paku kaca/klem.
Alat:
Kaca cutter, penggaris logam, alat potong kaca.
Alat ukur (meteran, waterpass).
Kikir kaca, sarung tangan, alat semprot (untuk pembersih).
Kuas, lem silikon/sealant gun (jika sistem nat).
Tenaga Kerja:
Tukang kaca berpengalaman, dibantu tenaga bantu.
4. Prosedur Pelaksanaan
1. Pemeriksaan Kusen atau Daun Jendela
Pastikan kusen atau daun jendela sudah terpasang dengan benar
dan kering.
Bersihkan area tempat pemasangan kaca dari debu dan sisa
semen/cat.
2. Pemotongan Kaca
Ukur dengan akurat, sisakan toleransi 2–3 mm dari ukuran
lubang kaca.
Potong menggunakan glass cutter, lalu haluskan pinggiran kaca
dengan kikir kaca.
3. Pemasangan Kaca
1. Metode dengan Karet (Rubber Gasket):
Pasang karet kaca di tepi bidang kusen atau daun.
Masukkan kaca ke dalam karet secara hati-hati.
Tekan secara merata, lalu kencangkan dengan lis penahan
kaca.
2. Metode dengan Lem Kaca (Sealant):
Oleskan lem silikon/sealant ke dalam alur tempat kaca.
Tempatkan kaca, beri ganjal karet di bagian bawah kaca.
Tunggu hingga lem kering sempurna sebelum diberi beban
atau disentuh.
3. Metode dengan List dan Paku Kaca:
Tempatkan kaca ke lubang bukaan.
Kencangkan dengan lis penahan (kayu/aluminium) dan
paku kaca kecil.
Beri dempul atau sealant untuk menutup celah dan
mencegah air masuk.
5. Finishing
Bersihkan kaca dari lem, debu, atau bekas tangan menggunakan
cairan pembersih kaca.
Cek apakah kaca terpasang rata, simetris, tidak retak, dan tidak
longgar.
6. Pemeriksaan
Kaca tidak goyang, tidak retak, tidak miring.
Tidak terdapat goresan atau sisa lem yang menempel di permukaan
kaca.
Rapi, rata, dan celah antar kaca dan kusen tertutup baik.
7. Keselamatan dan Pendidikann Kerja (K3)
Gunakan sarung tangan, sepatu kerja, dan kaca mata pelindung.
Hati-hati terhadap pecahan kaca.
Area pemasangan harus bersih dan bebas lalu lintas pekerja lain.
8. Dokumentasi
Foto pekerjaan sebelum dan sesudah pemasangan.
Laporan jumlah kaca, ukuran, dan lokasi pemasangan.
Catatan hasil pemeriksaan kualitas dan keamanan pemasangan.
VII. PEKERJAAN PENUTUP LANTAI DAN DINDING
1. Beton lantai Rabat t = 0,05 cm, 1 pc : 3 psr : 5 krl
Berikut adalah metode pelaksanaan secara detail untuk item pekerjaan lantai
beton rabat (lantai kerja) tebal 5 cm dengan campuran 1 semen (PC) : 2 pasir
(PSR) : 3 kerikil (KRL) pada proyek Pembangunan Ruang Kelas Baru:
1. Persiapan Umum
Pemeriksaan lokasi kerja berdasarkan gambar dan spesifikasi
teknis.
Koordinasi lapangan dengan bagian pengukuran dan tim
pelaksana.
Penyediaan alat, bahan, dan tenaga kerja.
Pemeriksaan elevasi dan penanda batas area rabat.
2. Pembersihan dan Perataan Tanah Dasar
Bersihkan area kerja dari sisa material, akar, sampah, dan
genangan air.
Ratakan permukaan tanah dengan cangkul atau alat berat bila
diperlukan.
Lakukan pengukuran ketebalan rabat (5 cm) dari titik acuan
(nivo).
3. Pemadatan Tanah Dasar
Gunakan stamper kuda/manual atau baby roller untuk
memadatkan tanah dasar.
Lakukan pengujian visual atau uji kepadatan (Proctor Test jika
diperlukan).
Cek ulang elevasi setelah pemadatan selesai.
4. Pemasangan Plastik Cor (Lapisan Kedap Air)
Pasang plastic sheet (0,2 mm) untuk mencegah air semen meresap
ke tanah.
Plastik dipasang tanpa sobekan dan saling tumpang tindih ±15–20
cm.
Bisa diganti penyiraman tanah bila tidak tersedia plastik cor.
5. Pemasangan Bekisting Sisi (Jika Diperlukan)
Gunakan papan kayu atau besi tipis sebagai bekisting di pinggir
area rabat.
Pastikan tinggi bekisting sesuai dengan ketebalan rabat (5 cm).
Kuat dan tidak goyah saat proses pengecoran.
6. Pencampuran Beton
1. Komposisi campuran kering berdasarkan volume:
1 bagian semen : 2 bagian pasir : 3 bagian kerikil
2. Campuran dapat dilakukan dengan:
Molen (lebih dianjurkan untuk menjamin homogenitas),
atau
Manual (jika area kecil), dengan perbandingan akurat.
3. Tambahkan air secara bertahap, sampai diperoleh konsistensi
plastis (slump 5–7 cm).
4. Gunakan air bersih dan bahan tidak tercemar.
7. Pelaksanaan Pengecoran
Tuangkan beton segar ke area kerja secara merata.
Ratakan dan padatkan beton dengan jidar, kayu penggaruk, atau
alat pemadat ringan.
Tebal akhir 5 cm, dengan toleransi maksimal ±5 mm.
Lakukan pengecoran terus menerus agar tidak ada sambungan
dingin (cold joint).
8. Perataan Permukaan (Finishing)
Ratakan permukaan beton dengan jidar.
Gunakan trowel kayu untuk finishing akhir agar permukaan tidak
licin.
Bila akan dilapisi pekerjaan lain (misal keramik/plesteran),
permukaan dibuat kasar (scratched).
9. Perawatan Beton (Curing)
Setelah permukaan mengeras (±4–6 jam), tutup dengan karung
basah/plastik.
Lakukan penyiraman air selama 7 hari berturut-turut minimal 2x
sehari.
Hindari lalu lintas beban selama masa perawatan.
10. Pembongkaran dan Pembersihan
Bongkar bekisting pinggir setelah beton cukup mengeras (1–2
hari).
Bersihkan area kerja dari sisa material dan peralatan.
11. Kebutuhan Material per m³ (Perkiraan)
Untuk campuran 1:2:3 volume:
Semen: ± 7 – 8 zak (50 kg)
Pasir: ± 0,45 m³
Kerikil: ± 0,67 m³
Air: ± 120 – 150 liter
Untuk luas 1 m² tebal 5 cm (0,05 m³), kebutuhan dikalikan 0,05 dari volume
di atas.
Catatan Khusus
Beton rabat adalah non-struktural, berfungsi sebagai lapisan
dasar pondasi, lantai, atau sloof.
Tidak boleh digunakan untuk elemen bangunan yang menahan
beban langsung.
Jangan melaksanakan pengecoran saat hujan atau genangan air
tanpa perlindungan.
12. Dokumentasi
Foto pekerjaan sebelum dan sesudah pemasangan.
Catatan hasil pemeriksaan kualitas dan keamanan pemasangan.
5. Keramik 40x40 cm
Berikut adalah metode pelaksanaan untuk item pekerjaan pemasangan
keramik lantai ukuran 40x40 cm, yang umum digunakan dalam proyek
bangunan seperti Puskesmas, sekolah, atau rumah tinggal.
1. Tujuan
Melaksanakan pekerjaan pemasangan lantai keramik berukuran 40x40
cm sesuai dengan gambar kerja, elevasi, dan pola pemasangan yang
direncanakan.
2. Lingkup Pekerjaan
Meliputi:
Persiapan dan pemeriksaan permukaan dasar
Pemilihan dan pemotongan keramik sesuai kebutuhan
Pemasangan keramik dan nat
Pembersihan akhir
3. Peralatan yang Digunakan
Waterpass/manual level
Palu karet (rubber hammer)
Alat pemotong keramik (tile cutter)
Cetok (trowel)
Ember, spons, dan kain lap
Benang ukur dan penggaris siku
4. Material
Keramik ukuran 40x40 cm (sesuai spesifikasi)
Semen dan pasir halus (untuk adukan perekat)
Nat (grout) sesuai warna keramik atau spesifikasi
5. Prosedur Pelaksanaan
a. Persiapan
Pastikan permukaan lantai kerja rata, bersih, dan kuat
Periksa elevasi dan kemiringan (jika perlu ada drainase)
Tentukan titik awal dan pola pemasangan (misalnya pola lurus,
diagonal, atau kombinasi)
Rendam keramik dalam air minimal 15–30 menit sebelum
dipasang (untuk mencegah penyerap air dari adukan)
b. Pemasangan
Siapkan adukan perekat (campuran semen dan pasir halus 1:3
atau gunakan semen instan/perekat keramik siap pakai)
Oleskan adukan merata pada permukaan lantai dan bagian
belakang keramik (jika perlu)
Pasang keramik dengan posisi sesuai pola yang telah ditentukan,
tekan dengan tangan dan ketuk dengan palu karet hingga rata
Gunakan benang dan waterpass untuk menjaga kelurusan dan
kerataan
Beri spasi antar keramik (1–2 mm) untuk nat
c. Pemotongan
Potong keramik sesuai kebutuhan menggunakan alat pemotong
keramik, terutama untuk sudut, pinggiran, dan pertemuan dengan
dinding atau tiang
d. Grouting (Pemasangan Nat)
Setelah adukan kering (sekitar 24 jam), lakukan pengisian nat
dengan material nat siap pakai atau campuran semen putih
Gunakan kape karet untuk meratakan nat
Bersihkan sisa-sisa nat di permukaan keramik dengan spons basah
6. Pengendalian Mutu
Pemeriksaan elevasi dan kerataan permukaan
Pemeriksaan kelurusan dan kerataan nat
Pastikan tidak ada keramik kosong (kopong) dengan mengetuk
permukaan
Pemasangan keramik tidak retak dan bebas noda semen
7. Keselamatan Kerja
Pekerja menggunakan APD (sarung tangan, masker, sepatu
safety)
Hati-hati saat pemotongan keramik (hindari serpihan tajam)
Perhatikan kebersihan area kerja untuk menghindari tergelincir
VIII. PEKERJAAN PLAFOND
Berikut adalah metode pelaksanaan pekerjaan rangka plafon menggunakan
rangka besi hollow, penutup plafon TRIPLEKS 6 MM, dan list plafon kayu,
yang umum digunakan untuk bangunan pelayanan publik seperti Puskesmas:
1. Tujuan
Melaksanakan pemasangan plafon dengan sistem rangka besi hollow dan
penutup plafon TRIPLEKS 6 MM, termasuk pemasangan lis plafond, agar
tercapai hasil yang rapi, kuat, dan sesuai dengan desain arsitektur.
2. Lingkup Pekerjaan
Meliputi:
Pengadaan dan pemasangan rangka plafon dari besi hollow
Pemasangan panel/plafon TRIPLEKS 6 MM
Pemasangan list (lis) plafon TRIPLEKS 6 MM
Pemeriksaan akhir dan pembersihan
3. Material
Usuk 5/7cm (utama dan gantung)
Panel plafon TRIPLEKS 6 MM (ukuran sesuai produk, umum: 20 cm
x panjang 3–6 m)
List/lis TRIPLEKS 6 MM
Sekrup baja ringan (self drilling screw)
Angkur fisher, kawat penggantung (jika diperlukan)
Wall plug dan plug sekrup
4. Peralatan
Bor listrik dan mata sekrup
Waterpass/laser level
Meteran, spidol, benang tukang
Gunting besi / gerinda potong
Tang, palu, alat bantu pemasangan
5. Prosedur Pelaksanaan
1. Persiapan
Pemeriksaan kondisi lokasi dan ketinggian plafon
Penentuan tinggi plafon (menggunakan waterpass/laser level dan
benang tukang)
Penandaan garis ketinggian plafon di sekeliling ruangan
2. Pemasangan Rangka Besi Hollow
Pasang hollow ukuran 4x4 cm sebagai main frame keliling dinding
(rangka utama)
Pasang hollow gantung sebagai penyangga utama dengan jarak
maksimal 80 cm – 100 cm, tergantung beban
Pasang hollow pengikat (melintang/silang) untuk memperkuat
rangka
Semua sambungan dikencangkan dengan sekrup dan diperiksa
kerataannya
Jika perlu, gunakan kawat penggantung untuk tambahan penyangga
tengah
3. Pemasangan Panel Plafon TRIPLEKS 6 MM
Pasang list TRIPLEKS 6 MM keliling terlebih dahulu di bagian
pinggir (sebagai dudukan panel)
Masukkan panel TRIPLEKS 6 MM ke dalam list dan sambungkan
satu sama lain menggunakan sistem kunci (klik-lock)
Panel dipasang searah (biasanya memanjang) dan dipotong sesuai
panjang ruangan
Setiap panel disekrup ke rangka hollow dari sisi dalam (tidak
terlihat)
Perhatikan arah motif jika menggunakan TRIPLEKS 6 MM bermotif
4. Pemasangan List plafon kayu
Setelah panel terpasang penuh, pastikan list pinggiran TRIPLEKS 6
MM terpasang rapi dan kuat
Periksa sudut dan sambungan antar list agar tidak renggang
6. Pengendalian Mutu
Periksa ketinggian dan kerataan plafon dengan waterpass
Pastikan tidak ada panel yang longgar atau tidak terkunci sempurna
Periksa semua sekrup dan sambungan rangka
Pastikan list TRIPLEKS 6 MM rapat dan tidak bergelombang
7. Keselamatan Kerja
Gunakan APD (helm, sarung tangan, sepatu safety)
Hati-hati saat bekerja di ketinggian (gunakan tangga atau scaffolding
yang aman)
Hati-hati saat menggunakan alat potong (gerinda, bor)
8. Pembersihan
Bersihkan sisa potongan dan debu dari pemasangan
Lap permukaan plafon TRIPLEKS 6 MM dengan kain bersih agar
tampil mengkilap dan rapi
IX. PEKERJAAN ATAP
Berikut adalah Metode Pelaksanaan Pekerjaan Atap Rangka Kayu untuk proyek
pembangunan ruang kelas baru beserta perabotnya di SD Paralel Bodowaga dan
SD Paralel Waibaku, disertai dengan tujuan pekerjaan, syarat teknis, serta
referensi aturan:
1. Tujuan
Pekerjaan atap rangka kayu bertujuan untuk:
Melindungi ruang kelas dari cuaca (hujan, panas, angin).
Memberikan struktur penutup yang kokoh, awet, dan sesuai dengan
standar teknis bangunan pendidikan.
Mewujudkan bangunan yang aman, nyaman, dan estetis untuk
proses belajar-mengajar.
Menyediakan sistem rangka atap yang mampu menopang beban
penutup atap (misal: seng, genteng, asbes, dll).
2. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Atap Rangka Kayu
1) Persiapan
Pemeriksaan kondisi pekerjaan struktur di bawah atap (kolom dan
ring balok).
Pemeriksaan dimensi dan elevasi balok atas.
Pengukuran ulang di lapangan sesuai gambar kerja.
Menyediakan peralatan kerja: gergaji, palu, bor, alat sambung
(paku, mur-baut), alat keselamatan kerja.
Penyediaan material kayu (jenis sesuai spesifikasi teknis,
misalnya kayu kelas II seperti Kamper, Meranti, atau sejenis
2) Pelaksanaan
a) Pemotongan dan Perakitan
Kayu dipotong sesuai ukuran pada gambar kerja.
Perakitan dilakukan di tempat datar atau di atas balok ring
menggunakan metode sambungan paku/mur.
Rangka atap terdiri atas kuda-kuda, usuk, gording, dan reng
disusun sesuai urutan dan spesifikasi.
b) Pemasangan Kuda-Kuda
Kuda-kuda diangkat dan dipasang di atas ring balok dengan
jarak sesuai gambar.
Kuda-kuda diikat sementara agar tidak goyah.
Diperiksa kelurusan, kemiringan dan kesikuan kuda-kuda.
c) Pemasangan Gording dan Usuk
Gording dipasang mengikat antar kuda-kuda.
Usuk dipasang tegak lurus gording sebagai tumpuan reng.
Jarak usuk dan gording disesuaikan dengan jenis penutup
atap yang digunakan.
d) Pemasangan Reng dan Penutup Atap
Reng dipasang di atas balok sesuai jarak standar penutup atap
(misal: seng gelombang, genteng).
Setelah semua struktur terpasang dan diperiksa
kekokohannya, dilanjutkan dengan pemasangan penutup
atap.
e) Pemeriksaan Akhir
Pemeriksaan ulang kekuatan sambungan, kelurusan bidang
atap, dan kemiringan.
Pembersihan area kerja.
Dokumentasi hasil kerja dan berita acara pemeriksaan.
3. Syarat Teknis dan Mutu
Jenis kayu minimal kelas II, bebas dari cacat struktural (retak, lapuk,
lubang).
Kadar air kayu maksimum 20% (kayu sudah cukup kering).
Semua sambungan harus kuat dan stabil (paku galvanis, baut cincin,
plat besi jika diperlukan).
Kemiringan atap minimal 30° (tergantung jenis penutup atap).
Tahan terhadap angin dan beban hujan lokal sesuai kondisi wilayah
setempat.
4. Keselamatan Kerja
Gunakan APD lengkap (helm, sarung tangan, sepatu safety, safety
belt)
Periksa kestabilan tangga atau scaffolding
Jangan bekerja di atap saat angin kencang atau hujan
5. Pembersihan
Bersihkan sisa potongan spandek dan baja ringan
Buang sisa sekrup atau sampah logam untuk menghindari karat
Lap permukaan listplank dan spandek jika ada kotoran/noda
6. Referensi Aturan dan Standar
SNI 03-1729-2002: Tata cara perencanaan bangunan kayu.
SNI 03-2396-2002: Spesifikasi kayu konstruksi bangunan.
Permendikbud No. 24 Tahun 2007: Standar sarana dan prasarana SD.
Peraturan Umum Bangunan Gedung (PUBG).
Peraturan Menteri PUPR No. 28 Tahun 2016: Tentang sistem
manajemen keselamatan konstruksi.
Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan gambar kerja yang telah
disetujui sebagai acuan teknis.
X. PEKERJAAN PENGECATAN
Berikut adalah Metode Pelaksanaan Pekerjaan Pengecatan secara lengkap dan
terperinci, sesuai standar pekerjaan bangunan untuk proyek-proyek seperti
Pembangunan Ruang Kelas Baru.
1. Tujuan
Melaksanakan pekerjaan pengecatan pada dinding, plafon, dan elemen
lainnya secara rapi, merata, kuat, dan tahan lama sesuai dengan spesifikasi
teknis, gambar kerja, serta standar mutu.
2. Lingkup Pekerjaan
Pengecatan dinding interior dan eksterior
Pengecatan plafon (gypsum atau permukaan plafon lainnya)
Pengecatan elemen kayu dan/atau besi (jika ada)
Termasuk pekerjaan persiapan, perlindungan area sekitar, dan
pembersihan
3. Material Pekerjaan
Cat dasar (primer / sealer): untuk meningkatkan daya lekat dan
menutup pori permukaan
Cat akhir interior: biasanya berbahan dasar air (acrylic base), tahan
noda, mudah dibersihkan
Cat akhir eksterior: tahan cuaca, tahan jamur dan sinar UV
Putty / dempul tembok: untuk meratakan permukaan dinding
Cat kayu / besi: jenis synthetic enamel atau water-based
Thinner / air bersih: sebagai pelarut, sesuai spesifikasi jenis cat
4. Peralatan
Kuas, roller, dan tray
Kape / scraper
Amplas (halus dan kasar)
Ember cat, pengaduk cat manual atau mixer
Tangga / scaffolding
Masking tape dan pelindung plastik
Alat semprot (jika diperlukan untuk hasil lebih halus)
5. Prosedur Pelaksanaan
1) Persiapan Area dan Permukaan
1. Lindungi area kerja dengan plastik pelindung pada lantai, pintu,
jendela, kusen, dan instalasi lainnya.
2. Periksa kondisi permukaan dinding atau plafon:
Harus bersih, kering, tidak berjamur, tidak berminyak
Kadar air maksimal permukaan dinding: ≤12%
3. Perbaikan permukaan:
Tutup lubang, retak rambut, dan cacat plester dengan
dempul tembok
Amplas setelah kering hingga permukaan rata dan halus
2) Aplikasi Cat Dasar (Primer / Wall Sealer)
1. Campur wall sealer sesuai rekomendasi pabrik
2. Aplikasikan 1 lapis menggunakan roller atau kuas
3. Fungsi:
Menutup pori-pori permukaan dinding
Meningkatkan daya lekat cat akhir
Mencegah alkali naik ke permukaan
4. Tunggu kering ±2–4 jam (atau sesuai produk)
3) Aplikasi Dempul (Putty Wall)
1. Gunakan kape untuk meratakan permukaan
2. Khusus untuk dinding baru/plesteran kasar
3. Setelah kering, amplas hingga halus
4. Ulangi jika masih ada permukaan tidak rata
4) Aplikasi Cat Akhir (Top Coat)
1. Aduk cat hingga merata (bisa dicampur air max 5–10% jika
diperlukan)
2. Aplikasikan lapisan pertama dengan roller, kuas, atau spray
3. Setelah kering (±2–4 jam), aplikasikan lapisan kedua
4. Jika warna belum rata atau permukaan kurang sempurna,
aplikasikan lapisan ketiga
5. Cat plafon dilakukan setelah dinding, jika menggunakan jenis cat
berbeda (biasanya putih doff)
6. Pekerjaan Pengecatan Kayu / Besi (Jika Ada)
Bersihkan permukaan dari karat, debu, atau resin
Aplikasikan cat dasar:
Antikarat (besi)
Primer kayu (untuk kusen/pintu)
Setelah kering, aplikasikan cat akhir 2–3 lapis
Amplas halus antar lapisan untuk hasil maksimal
7. Pengendalian Mutu
Kerapatan dan Kerataan Warna: tidak belang, tidak tampak sapuan
kuas
Kualitas Permukaan: tidak mengelupas, tidak bergelombang
Daya lekat: dilakukan uji visual dan jika perlu uji cross-cut
Warna akhir: sesuai dengan sampel atau katalog warna yang
disetujui
8. Keselamatan Kerja
Gunakan APD: masker, sarung tangan, dan pelindung mata
Pastikan ventilasi baik saat pengecatan
Jauhkan bahan mudah terbakar dari sumber api
Simpan cat dan bahan pelarut di tempat aman
9. Pembersihan dan Finishing
Bersihkan tumpahan cat dari lantai atau perabot yang terkena
Buang limbah cat dan bahan pelarut sesuai prosedur lingkungan
Bersihkan peralatan pengecatan setelah selesai
10. Waktu dan Durasi Pekerjaan
Durasi pekerjaan tergantung:
Luas area
Jumlah lapisan
Cuaca (untuk pengecatan luar ruang)
Contoh:
Waktu pengeringan antar lapis:
Primer → Top coat: min 2–4 jam
Antar top coat: 4–6 jam
Finishing akhir: setelah 24 jam
XI. PEKERJAAN SALURAN KELILING BANGUNAN
Berikut adalah metode pelaksanaan pekerjaan saluran keliling bangunan lengkap
dengan tujuan tiap tahapannya,disusun berdasarkan acuan dari Kementerian
PUPR seperti:
Spesifikasi Umum Pekerjaan Konstruksi Jalan dan Jembatan (Divisi 500
Drainase),
Permen PUPR No. 14 Tahun 2021 (Standar Konstruksi dan Bangunan
Gedung),
SNI Drainase Lingkungan Perkotaan (misalnya SNI 8153:2015 dan SNI
7509:2011).
1. Tujuan Umum:
Untuk mengalirkan air hujan dan rembesan dari sekitar bangunan secara
aman dan terkendali, guna mencegah genangan air, kelembaban pada
pondasi, dan kerusakan bangunan.
2. Persiapan Pekerjaan
Langkah-langkah:
Pemeriksaan gambar kerja dan spek teknis.
Pengukuran dan pemasangan bowplank untuk menentukan posisi
saluran.
Pembersihan area kerja dari sampah, tanaman, dan material lainnya.
Tujuan:
Menjamin ketepatan pelaksanaan sesuai desain teknis.
Menghindari deviasi posisi dan dimensi saluran.
3. Galian Tanah
Langkah-langkah:
Galian dilakukan sesuai dimensi saluran (lebar dasar, tinggi,
kemiringan).
Galian manual atau dengan alat berat tergantung kondisi lokasi.
Hasil galian disingkirkan atau digunakan kembali jika layak.
Tujuan:
Menyediakan ruang kerja sesuai ukuran saluran.
Menjamin kemiringan dasar saluran untuk kelancaran aliran air.
4. Pemadatan Dasar Galian
Langkah-langkah:
Dasar galian diratakan dan dipadatkan.
Pemasangan lantai kerja (pasir urug atau beton kurus setebal 5–10
cm).
Tujuan:
Mencegah penurunan (settlement) saluran.
Memberi alas yang stabil untuk pekerjaan struktur saluran.
5. Pekerjaan Struktur Saluran (Batu Kali/Gunung/ Beton)
a. Jika menggunakan pasangan batu kali/Gunung:
Batu kali disusun secara teratur dengan mortar 1 PC : 5 PS.
Dinding dan dasar saluran dibuat sesuai ukuran rencana.
b. Jika menggunakan beton cor atau precast:
Pemasangan bekisting dan pembesian sesuai gambar.
Pengecoran beton mutu K-175 s/d K-225.
Jika menggunakan U-Ditch/precast, saluran dipasang pada lantai
kerja beton.
Tujuan:
Memberikan kekuatan struktural terhadap tekanan tanah dan air.
Menjamin durabilitas dan umur layanan saluran.
6. Pemasangan Tutup Saluran (Jika Direncanakan)
Langkah-langkah:
Tutup dari beton bertulang atau pelat baja sesuai desain.
Dapat dilepas untuk inspeksi dan pemeliharaan.
Tujuan:
Melindungi saluran dari sampah masuk.
Menjaga keselamatan di area pejalan kaki atau lalu lintas ringan.
7. Uji Kemiringan dan Aliran
Langkah-langkah:
Pengujian kemiringan dasar dengan alat waterpass/leveling.
Uji aliran dengan air untuk memastikan tidak ada genangan.
Tujuan:
Memastikan air mengalir lancar ke arah saluran utama atau sumur
resapan.
Mencegah endapan dan sumbatan saluran.
8. Pembersihan dan Finishing
Langkah-langkah:
Pembersihan area dari sisa adukan, tanah, dan bekisting.
Pembuatan sambungan/expansion joint bila diperlukan.
Tujuan:
Meningkatkan mutu estetika dan fungsi saluran.
Menyiapkan saluran untuk digunakan secara optimal.
9. Dokumentasi dan Pengawasan Mutu
Langkah-langkah:
Dokumentasi pekerjaan harian, foto, volume, dan kualitas material.
Pengujian mutu beton, pasangan batu, dan elevasi lapangan.
Tujuan:
Memastikan seluruh pekerjaan sesuai spesifikasi teknis Kementerian
PUPR.
Menjamin keselamatan dan fungsionalitas jangka panjang saluran.
10. Penerapan K3 (Keselamatan dan Pendidikann Kerja)
Langkah-langkah:
Penyediaan dan penggunaan APD (helm, sepatu, rompi, sarung tangan).
Pemasangan rambu dan pembatas area kerja.
Tujuan:
Menjamin keselamatan pekerja dan lingkungan sekitar proyek.
XII. PEKERJAAN TEMBOK PENAHAN
Berikut adalah metode pelaksanaan pekerjaan tembok penahan tanah (retaining
wall) lengkap dengan tujuan tiap tahapannya, disusun berdasarkan aturan dari
Kementerian PUPR, khususnya:
Permen PUPR No. 28/PRT/M/2016 tentang Pedoman Teknis Bangunan
dan Gedung,
Spesifikasi Umum Pekerjaan Konstruksi PUPR Divisi 600: Struktur
Beton dan Pasangan Batu,
SNI 8460:2017 tentang Perencanaan Tembok Penahan Tanah,
SNI 2834:2002 tentang Mutu dan Tata Cara Pengecoran Beton.
Tujuan Umum:
Menahan tekanan lateral tanah agar lereng atau elevasi tanah yang berbeda tetap
stabil, serta mencegah longsor dan erosi di area sekitar bangunan atau
infrastruktur.
1. Pekerjaan Persiapan
Langkah-langkah:
Pemeriksaan gambar rencana, titik koordinat, elevasi, dan panjang
tembok.
Pemasangan bowplank dan waterpass untuk menentukan posisi dan
elevasi tembok.
Pembersihan lahan dari semak, batuan, dan sisa material.
Tujuan:
Menjamin akurasi pelaksanaan sesuai desain.
Menghindari kesalahan posisi dan dimensi tembok.
2. Pekerjaan Galian dan Perataan Dasar
Langkah-langkah:
Penggalian dilakukan sesuai dimensi pondasi tembok penahan.
Pemadatan dasar galian (kompaksi minimal 95% Mod
AASHTO).
Pemasangan lantai kerja (pasir urug atau beton kurus 5–10 cm).
Tujuan:
Menyediakan fondasi yang kuat dan stabil.
Menghindari penurunan diferensial (differential settlement).
3. Pemasangan Pondasi Tembok Penahan
Langkah-langkah:
Pemasangan bekisting dan tulangan pondasi sesuai gambar
teknis.
Pengecoran pondasi menggunakan beton mutu minimal K-225
(FC' = 18,7 MPa).
Pemadatan dengan vibrator dan perawatan (curing) beton
minimal 7 hari.
Tujuan:
Menjamin kekuatan struktural dasar tembok penahan.
Mencegah keretakan akibat beban dan gaya dorong tanah.
4. Pekerjaan Badan Tembok Penahan
a. Jika menggunakan beton bertulang (cast in-situ):
Pemasangan bekisting vertikal dan tulangan dinding penahan.
Pengecoran beton secara bertahap.
Pemasangan saluran drainase (weep hole) setiap 2–3 meter.
b. Jika menggunakan pasangan batu kali:
Batu disusun dengan mortar 1 PC : 5 PS.
Pekerjaan berlapis dari bawah ke atas, mengunci antar batu.
Pemasangan weep hole dari pipa TRIPLEKS 6 MM Ø 2"–3".
Tujuan:
Memberi kekuatan terhadap gaya dorong tanah aktif.
Menyalurkan tekanan air dari balik tembok untuk mencegah
rembesan dan hidrostatik.
5. Pekerjaan Drainase Belakang Tembok
Langkah-langkah:
Pemasangan lapisan drainase seperti kerikil/sirtu setebal 20–
30 cm.
Geotekstil sebagai pemisah antara tanah dan agregat.
Saluran pembuangan air dari belakang tembok menuju outlet
atau saluran umum.
Tujuan:
Mengurangi tekanan air tanah (uplift/hydrostatic pressure).
Meningkatkan umur dan kestabilan tembok.
6. Pekerjaan Finishing
Langkah-langkah:
Pembongkaran bekisting setelah beton mencapai kekuatan awal.
Perapian permukaan, pelesteran (jika perlu), dan pengecatan.
Penimbunan kembali bagian belakang tembok secara bertahap
dan dipadatkan.
Tujuan:
Menyempurnakan bentuk akhir dan tampilan tembok.
Menjamin keselamatan dan estetika bangunan.
7. Pengujian dan Pengawasan Mutu
Langkah-langkah:
Uji kuat tekan beton (cylinder/cube test).
Pengawasan pemasangan tulangan, mutu material, dan
pelaksanaan pengecoran.
Pencatatan progress harian dan dokumentasi lapangan.
Tujuan:
Menjamin pelaksanaan sesuai spesifikasi teknis PUPR dan SNI.
Menghindari risiko kegagalan struktur.
8. Pendidikann dan Keselamatan Kerja (K3)
Langkah-langkah:
Penggunaan APD wajib: helm, rompi, sarung tangan, sepatu
safety.
Area kerja diberi pembatas, rambu, dan jalur evakuasi.
Material disimpan rapi, tidak menghalangi akses.
Tujuan:
Melindungi keselamatan pekerja dan lingkungan sekitar.
Memenuhi standar K3 konstruksi sesuai peraturan perundangan.
XIII. PEKERJAAN MEKANIKAL, ELEKTRIKAL, DAN PLUMBING
1. Pekerjaan Plumbing
Berikut adalah metode pelaksanaan pekerjaan plumbing (sistem perpipaan)
lengkap dengan tujuan tiap tahapannya, disusun berdasarkan aturan dari
Kementerian PUPR, mengacu pada:
Permen PUPR No. 14 Tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha dan
Produk pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko
Sektor PUPR,
SNI 8153:2015 – Sistem plambing pada bangunan gedung,
SNI 122:2019 – Sistem distribusi air bersih dan air limbah dalam bangunan
gedung.
Tujuan Umum:
Menjamin sistem distribusi air bersih, air panas, dan pembuangan air limbah
di dalam bangunan berfungsi dengan baik, aman, higienis, dan sesuai
dengan peraturan serta standar teknis nasional.
1. Pekerjaan Persiapan
Langkah-langkah:
Studi gambar kerja plumbing dan koordinasi dengan struktur dan
arsitektur.
Pemeriksaan ketersediaan material dan alat sesuai spesifikasi
(pipa, valve, fitting, water meter, dll).
Penentuan jalur instalasi pipa (horizontal dan vertikal) serta titik-
titik pemakaian (faucet, WC, wastafel, dll).
Tujuan:
Menjamin kesesuaian dan integrasi sistem plumbing dengan
seluruh pekerjaan bangunan.
Menghindari konflik jalur antar utilitas (MEP).
2. Instalasi Pipa Air Bersih dan Air Panas
Langkah-langkah:
Pemasangan pipa PPR, HDPE, atau TRIPLEKS 6 MM sesuai
spesifikasi (biasanya PPR untuk air panas, HDPE/TRIPLEKS 6
MM untuk air bersih).
Penyambungan pipa dilakukan dengan metode welding (PPR),
mechanical joint, atau lem (TRIPLEKS 6 MM).
Pipa dilengkapi dengan kran kontrol, saringan (strainer), dan
valve.
Tujuan:
Menyalurkan air bersih dan air panas dari sumber ke titik
pemakaian dengan tekanan dan debit yang sesuai.
Menjamin sambungan pipa tahan terhadap tekanan air dan suhu.
3. Instalasi Pipa Air Kotor dan Air Limbah (Plumbing Drainase)
Langkah-langkah:
Pemasangan pipa TRIPLEKS 6 MM/SNI untuk air limbah
(abu-abu, hitam).
Diperhatikan kemiringan minimum pipa (± 2%) untuk
menjamin aliran gravitasi.
Pemasangan floor drain, vent pipe, grease trap (untuk dapur),
dan inspection chamber.
Tujuan:
Menyalurkan air bekas dan limbah domestik keluar dari
bangunan secara aman dan higienis.
Mencegah penyumbatan dan bau tidak sedap melalui sistem
ventilasi pipa (venting).
4. Pekerjaan Sistem Ventilasi Pipa (Vent Pipe)
Langkah-langkah:
Pipa ventilasi dipasang dari saluran buangan menuju atas atap.
Menghindari pertemuan langsung air limbah dengan udara
luar tanpa filter.
Tujuan:
Menghindari terjadinya tekanan negatif dalam pipa buangan
yang bisa menyedot air jebakan (trap).
Menjaga agar sistem tertutup tetap berfungsi normal tanpa bau
kembali ke ruang.
5. Pekerjaan Plumbing Sanitasi
Langkah-langkah:
Pemasangan perlengkapan sanitasi seperti kloset, wastafel,
urinoir, shower, dan kran.
Perlu penyambungan ke pipa air bersih dan pipa buangan.
Penggunaan sealant/silicon di sambungan alat.
Tujuan:
Menjamin semua perlengkapan berfungsi dengan baik dan
tidak bocor.
Memberi kenyamanan dan sanitasi bagi pengguna bangunan.
6. Pekerjaan Sistem Air Hujan (Rainwater Drainage)
Langkah-langkah:
Pemasangan talang horizontal dan pipa tegak (downpipe).
Pemasangan bak kontrol dan penyaluran ke sumur resapan
atau saluran kota.
Tujuan:
Mengalirkan air hujan dari atap bangunan ke sistem drainase
tanpa merusak struktur.
Mencegah genangan di area bangunan.
7. Pengujian Sistem (Testing)
Langkah-langkah:
Hydrostatic Test: Pipa air ditekan dengan air bertekanan
(biasanya 6–10 bar) dan diamati kebocoran.
Gravity Test: Pipa buangan diuji dengan air mengalir dan
dicek kelancaran dan sambungan.
Pengujian dilakukan minimal 24 jam sebelum penutupan
dinding/lantai.
Tujuan:
Menjamin sistem plumbing tidak bocor dan bekerja sesuai
fungsi.
Menjaga kualitas dan mencegah perbaikan ulang setelah
finishing.
8. Pekerjaan Insulasi (Jika Ada)
Langkah-langkah:
Pipa air panas atau pipa terbuka di luar bangunan diberi
insulasi (foam rubber, glasswool, PE).
Dilindungi dari sinar UV dengan lapisan aluminium foil atau
ducting.
Tujuan:
Menjaga efisiensi termal air panas.
Mencegah kondensasi dan korosi.
9. Finishing dan Pembersihan
Langkah-langkah:
Perapian jalur pipa, pengecatan pipa terbuka (sesuai warna
standar: biru untuk air bersih, abu-abu untuk limbah, kuning
untuk gas).
Pembersihan alat, fitting, dan area kerja.
Tujuan:
Menjamin estetika dan kemudahan inspeksi.
Menyiapkan sistem plumbing untuk digunakan.
10. Pendidikann dan Keselamatan Kerja (K3)
Langkah-langkah:
Penggunaan APD oleh teknisi plumbing: helm, rompi,
masker, sarung tangan.
Pengamanan area kerja terutama saat menggunakan lem pipa
atau alat pemanas.
Tujuan:
Menjaga keselamatan pekerja dan lingkungan sekitar proyek.
Memenuhi standar K3 proyek konstruksi PUPR.
2. Pekerjaan Elektrikal
Berikut adalah metode pelaksanaan pekerjaan elektrikal (instalasi kelistrikan
bangunan), disusun sesuai aturan Kementerian PUPR dan Kementerian
Pendidikann, serta mengacu pada standar nasional seperti:
1. Landasan Peraturan
Permen PUPR No. 14 Tahun 2021 – Standar Kegiatan Usaha &
Produk Bidang PUPR.
Permen PUPR No. 28/PRT/M/2016 – Pedoman Teknis
Bangunan Gedung.
Permenkes No. 24 Tahun 2016 – Persyaratan Teknis Bangunan
dan Prasarana Puskesmas (jika bangunan layanan Pendidikann).
SNI 0225:2011 – Instalasi listrik bangunan gedung.
SNI 04-7017-2004 – Tata cara perencanaan instalasi listrik
rumah dan gedung.
PUIL 2011 – Persyaratan Umum Instalasi Listrik (revisi dari
PUIL 2000).
2. Tujuan Umum:
Menjamin sistem kelistrikan bangunan berfungsi dengan aman, andal,
efisien, serta sesuai dengan standar keselamatan dan Pendidikann,
terutama untuk bangunan publik atau fasilitas Pendidikann seperti
Puskesmas.
3. Persiapan dan Pemeriksaan Gambar
Langkah-langkah:
Tinjau gambar instalasi listrik (single line diagram dan layout).
Koordinasi dengan tim arsitektur, struktur, dan MEP lainnya.
Identifikasi titik lampu, saklar, stop kontak, panel distribusi, dan
grounding.
Tujuan:
Memastikan integrasi antar sistem.
Menghindari tumpang tindih atau benturan dengan pekerjaan lain.
4. Pekerjaan Jaringan Pipa dan Ducting (Conduit & Tray)
Langkah-langkah:
Pemasangan pipa TRIPLEKS 6 MM, EMT, IMC, atau kabel tray
untuk jalur kabel.
Pipa ditanam di dalam dinding/plafon atau digantung sesuai
gambar.
Pemasangan box (outlet, saklar, junction) di titik rencana.
Tujuan:
Melindungi kabel dari kerusakan fisik.
Menjamin keteraturan dan kemudahan perawatan.
5. Penarikan Kabel
Langkah-langkah:
Kabel ditarik setelah ducting selesai.
Kabel sesuai spesifikasi (NYA, NYM, NYY, dll) dan SNI.
Pemberian label pada kabel dan tray.
Tujuan:
Menjamin konektivitas antar titik dan panel distribusi.
Menghindari korsleting akibat salah tarik kabel.
6. Instalasi Panel Distribusi
Langkah-langkah:
Pemasangan Main Distribution Panel (MDP), Sub Distribution
Panel (SDP), dan Miniature Circuit Breaker (MCB).
Pemasangan ELCB atau MCCB untuk proteksi kebocoran arus
dan kelebihan beban.
Penyesuaian beban tiap panel agar tidak overload.
Tujuan:
Mendistribusikan daya listrik secara aman dan seimbang.
Melindungi peralatan dari gangguan listrik.
7. Instalasi Titik Pemakaian (Outlet, Lampu, Saklar)
Langkah-langkah:
Pemasangan fitting lampu, stop kontak, dan saklar sesuai
rencana.
Ketinggian disesuaikan dengan standar (misalnya stop kontak
30–40 cm, saklar 110–120 cm dari lantai).
Saklar dan stop kontak di area basah harus tahan air
(IP44/IP55).
Tujuan:
Menyediakan akses listrik dengan ergonomis dan aman.
Menghindari kecelakaan akibat penempatan yang tidak sesuai.
8. Sistem Grounding dan Penangkal Petir
Langkah-langkah:
Pemasangan grounding rod (besi tembaga min 16 mm²) sedalam 2–
4 meter.
Kabel grounding disambungkan ke panel dan perangkat.
Penangkal petir (lightning arrester) dipasang di atap dan
dihubungkan ke grounding.
Tujuan:
Mencegah bahaya sengatan listrik dan gangguan akibat petir.
Menjaga keamanan sistem dan pengguna.
9. Pengujian Sistem (Testing & Commissioning)
Langkah-langkah:
Pengujian kontinuitas kabel, isolasi, dan tahanan grounding.
Simulasi beban untuk mengetahui kestabilan tegangan.
Pencatatan hasil pengujian dalam berita acara.
Tujuan:
Menjamin sistem kelistrikan sesuai dengan standar keamanan.
Mencegah kerusakan atau kegagalan fungsi sebelum digunakan.
10. Pembersihan dan Dokumentasi
Langkah-langkah:
Merapikan jalur kabel, box, dan panel.
Labelisasi semua titik dan kabel (kode panel dan sirkuit).
Menyusun dokumen As-Built Drawing dan berita acara
pengujian.
Tujuan:
Mempermudah pemeliharaan dan inspeksi di masa depan.
Menjadi arsip resmi pelaksanaan proyek.
11. K3 (Pendidikann dan Keselamatan Kerja)
Langkah-langkah:
Penggunaan APD (sarung tangan, sepatu karet, helm, rompi).
Mematikan aliran listrik utama saat pekerjaan instalasi aktif.
Rambu dan batas pengaman di area kerja elektrikal.
Tujuan:
Menjamin keselamatan pekerja dan penghuni.
Memenuhi standar K3 konstruksi dan kelistrikan.
XIV. KATA PENUTUP
Demikian dokumen metode pelaksanaan perencanaan pembangunan
Gedung Pembangunan Ruang Kelas Baru Desa Anakalang ini disusun sebagai
acuan pelaksanaan kegiatan konstruksi agar berjalan sesuai standar teknis,
prosedur kerja yang benar, serta memenuhi aspek keselamatan, mutu, dan waktu
pelaksanaan.
Dokumen ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi pelaksana,
pengawas, dan semua pihak terkait dalam proses pembangunan sehingga
tercapai hasil bangunan yang layak fungsi, berdaya guna, dan berkelanjutan
sesuai tujuan pelayanan Pendidikann masyarakat desa.
Apabila dalam pelaksanaan terdapat perubahan kondisi lapangan, maka
metode pelaksanaan ini dapat disesuaikan dengan tetap mengacu pada ketentuan
teknis dan peraturan yang berlaku.
Semoga dokumen ini dapat menjadi landasan pelaksanaan yang
bermanfaat dan mendukung kelancaran pembangunan fasilitas Pendidikann yang
aman, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
XV. REFERENSI PERATURAN & STANDAR TEKNIS
Referensi Peraturan & Standar Teknis
1. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud)
Permendikbud No. 24 Tahun 2007
Tentang: Standar Sarana dan Prasarana untuk SD/MI, SMP/MTs,
SMA/MA, dan SMK/MAK
2. Standar Nasional Pendidikan (SNP) – BSNP
Dokumen terkait:
Standar Sarana dan Prasarana (Permendiknas No. 24 Tahun 2007 & SNP)
Digunakan untuk evaluasi kelayakan fisik dan fungsi ruang kelas.
Pedoman Teknis dari Kementerian PUPR
3. SNI dan Pedoman Umum:
SNI 03-1733-2004 → Tata cara perencanaan bangunan gedung sekolah
tahan gempa.
SNI 1727:2020 → Beban minimum untuk perancangan bangunan dan
struktur lainnya.
SNI 2847:2019 → Beton bertulang (jika menggunakan struktur beton).
4. Petunjuk Teknis (Juknis) Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik
5. Juknis DAK Fisik Bidang Pendidikan Tahun Terbaru (tiap tahun
diperbarui)
Mengatur:
Syarat penerima bantuan pembangunan RKB
Spesifikasi teknis (tipe bangunan, material, ukuran)
Tata letak dan orientasi bangunan
Proses perencanaan, pengawasan, hingga pelaporan.
Biasanya diterbitkan oleh:
Direktorat Jenderal Cipta Karya (PUPR)
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
(Kemendikbudristek)
Dokumen Acuan Lain
Perda Tata Ruang Wilayah (RTRW) setempat
Peraturan Zonasi dari Pemda (terutama jika berada di area
kota) UU No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
Permen PUPR No. 22 Tahun 2018 tentang Pembangunan
Bangunan Gedung Negara
Waibakul,28 Mei 2025
Menyetujui :
Konsultan Perencana
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olah Raga
CV. SAVANA KREATOR KONSULTAN
Selaku Pejabat Pembuat Komitmen
YULIUS UMBU RUNGA, ST
MAGDALENA KALLI,S.Pd.SD
DIREKTUR
NIP. 19730407 199903 2 006| Authority | |||
|---|---|---|---|
| 27 June 2019 | Pembangunan Puskesmas Radamata - Dak Reguler | Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat Daya | Rp 2,474,690,000 |
| 13 April 2018 | Pembangunan Rumah Dinas Dokter Rsud Waikabubak | Kab. Sumba Barat | Rp 1,500,000,000 |
| 3 June 2017 | Penataan Dan Rehab Berat Gedung Tk Pembina | Kab. Sumba Barat | Rp 1,200,000,000 |
| 25 June 2019 | Pembangunan Gudang Benih | Kab. Sumba Barat | Rp 700,000,000 |
| 24 May 2021 | Rehabilitasi Ruang Kelas Dengan Tingkat Kerusakan Minimal Sedang Beserta Perabotnya (Dak-Sd) Sdm Waikabubak II | Kab. Sumba Barat | Rp 684,108,156 |
| 12 July 2016 | Pembangunan Jut Praikaroku | Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Tengah | Rp 660,000,000 |
| 2 May 2023 | Rehabilitasi Ruang Kelas Sd Katolik Waikabubak III (Dak) | Kab. Sumba Barat | Rp 584,000,000 |
| 26 July 2016 | Perkerasan Jalan Wee Memala - Wee Masa | Kab. Sumba Barat Daya | Rp 540,000,000 |
| 22 August 2016 | Pembangunan Ruang Kelas Sman 1 Wanukaka | Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat | Rp 525,000,000 |
| 24 June 2016 | Pembangunan Pagar Puskesmas Delu Depa (Dak) | Kab. Sumba Barat Daya | Rp 500,000,000 |