| Reason | |||
|---|---|---|---|
| 0945853547821000 | Rp 3,988,000,000 | - | |
| 0715900981823000 | - | - | |
| 0011346756825000 | Rp 3,834,112,378 | 1. Berdasarkan Dokumen daftar Riwayat Hidup Personil Manajerial K3 a/n : Nuston Imanuel Patras, ditandatangani oleh Geovani D. Palakua. 2. Personil Manajerial a/n : Geovani D. Palakua yang ditawarkan oleh CV. KAPRITARUS, sedang terikat dalam paket pekerjaan : Peningkatan Jalan Belang – Morea (Lanjutan). | |
| 0022845994824000 | - | - | |
| 0901003301822000 | - | - | |
| 0621026525822000 | - | - | |
CV Baris Sejahtera Konstruksi | 04*1**7****22**0 | - | - |
| 0012511259823000 | - | - | |
| 0029392057821000 | - | - | |
| 0032930182822000 | - | - | |
CV Jasa Pratama Mandiri | 00*0**5****23**0 | - | - |
| 0030978118823000 | - | - | |
| 0014934285822000 | - | - | |
| 0028369403822000 | - | - | |
CV Cahaya Rafka Abadi | 05*1**8****21**0 | - | - |
PEMERINTAH KOTA BITUNG
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG
JL. W. MONGINSIDI NO. 68 Telp. (0438) 30143 – BITUNG ;
Website : www.bitungkota.go.id ;www.pupr.bitungkota.go.id; e-mail : [email protected]
URAIAN SINGKAT
PEKERJAAN
REHABILITASI JALAN
HOTMIX RSUD KOTA
BITUNG
PEKERJAAN : REHABILITASI JALAN HOTMIX RSUD KOTA BITUNG
LOKASI : KEL. BITUNG TENGAH, KEC. MAESA
SUMBER DANA : DANA ALOKASI UMUM (DAU)
TAHUN ANGGARAN : 2025
SATUAN KERJA : DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG
Pekerjaan rehabilitasi jalan yang terlalu curam merupakan upaya perbaikan geometrik
jalan yang mengalami kemiringan berlebih sehingga tidak memenuhi standar keselamatan
dan kenyamanan pengguna jalan. Jalan dengan kemiringan yang terlalu curam dapat
menyebabkan berbagi kendala, seperti resiko tergelincir, sulitnya manuver kendaraan
terutama ambulans dan kendaraan rumah sakit lainnya, serta berpotensi menimbulkan
bahaya kecelakaan.
Rehabilitasi ini meliputi penyesuaian elevasi dan kemiringan jalan melalui penggalian
dan penimbunan (cut and fill) agar gradien jalan menjadi aman dan nyaman untuk dilalui.
Selain itu, dilakukan juga perbaikan struktur pondasi jalan dan pelapisan ulang permukaan
menggunakan aspal hotmix untuk memastikan daya tahan dan kekuatan jalan yang optimal.
Pekerjaan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas infrastruktur jalan yang
mendukung kelancaran operasional rumah sakit serta menjamin keselamatan pengguna
jalan dalam lingkungan RSUD kota Bitung. Pelaksanaan pekerjaan harus mengikuti
pedoman dan standar mutu yang tercantum dalam spesifikasi umum bina marga tahun
2018 untuk pekerjaan konstruksi jalan dan jembatan (revisi 2), dan gambar teknis yang
berlaku.
Ruang lingkup pekerjaan meliputi :
DIVISI 2. DRAINASE
2.1.(1) Galian untuk selokan drainase dan saluran air
Pekerjaan galian meliputi penggalian tanah pada lokasi yang telah ditentukan
untuk pembuatan selokan drainase dan saluran air. Galian dilakukan dengan
kedalaman, lebar, dan kemiringan sesuai spesifikasi desain agar aliran air dapat
berjalan lancer tanpa hambatan. Material hasil galian dibuang atau dimanfaatkan
sesuai kebutuhan proyek. Pelaksanaan galian harus memperhatikan kestabilan
dinding galian dan keselamatan kerja di area kerja.
2.2.(1) Pasangan batu dengan mortar
Pekerjaan pasangan batu dengan mortar dilakukan untuk membentuk struktur
saluran, dinding penahan, atau konstruksi sejenis dengan menggunakan batu
belah atau batu kali yang disusun rapi dan direkatkan menggunakan campuran
mortar (semen dan pasir). Batu disusun sesuai pola yang direncanakan, dengan
ketebalan spesi dan kerapatan yang memenuhi standar teknis. Pekerjaan ini
bertujuan untuk menciptakan struktur yang kuat, stabil, dan tahan terhadap
tekanan air atau tanah.
DIVISI 3. PEKERJAAN TANAH DAN GEOSINTETIK
3.1.(1) Galian Biasa
Pekerjaan galian biasa adalah proses penggalian atau pemotongan tanah pada
bagian trase jalan yang elevasinya lebih tinggi dari elevasi rencana. Galian
dilakukan hingga mencapai level permukaan jalan yang direncanakan, dengan
mempertimbangkan kemiringan lereng dan stabilitas tanah. Pekerjaan ini dapat
dilakukan secara manual maupun mekanis menggunakan alat berat seperti
excavator. Tanah hasil galian dapat dimanfaatkan kembali sebagai material
timbunan (fill) di lokasi lain yang membutuhkan penimbunan. Pekerjaan harus
dilakukan sesuai dengan elevasi, lebar, dan kemiringan melintang jalan yang
telah ditetapkan dalam gambar desain.
3.2.(1b) Timbunan biasa dari hasil galian
Pekerjaan timbunan biasa dari hasil galian merupakan proses penimbunan
kembali area yang membutuhkan peninggian elevasi, seperti bahu jalan, dasar
saluran, atau timbunan badan jalan. Material timbunan berasal dari tanah hasil
galian yang masih memenuhi syarat teknis, seperti tidak mengandung sampah,
akar, atau material organik. Penimbunan dilakukan bertahap dan mengikuti
elevasi serta kontur yang direncanakan dalam gambar kerja. Pekerjaan harus
dilakukan di bawah pengawasan teknis untuk menjamin kestabilan dan daya
dukung tanah hasil timbunan. Proses ini bertujuan untuk membentuk struktur
tanah yang kuat dan mendukung konstruksi di atasnya.
3.2.(2a) Timbunan pilihan dari hasil galian
Pekerjaan timbunan pilihan dari hasil galian merupakan proses penimbunan
menggunakan material tanah yang memiliki kualitas lebih baik dan memenuhi
syarat teknis tertentu, seperti kadar air, plastisitas, dan gradasi butiran tanah.
Material berasal dari hasil galian yang diseleksi dan bebas dari bahan organik,
akar, sampah, atau batuan berukuran besar.
Timbunan ini digunakan pada area yang memerlukan daya dukung tinggi,
seperti lapisan dasar konstruksi jalan, timbunan di bawah perkerasan, atau
sekitar struktur saluran dan bangunan pelengkap. Pekerjaan dilakukan secara
sistematis dengan pengawasan teknis ketat untuk memastikan mutu, elevasi,
dan kepadatan sesuai dengan gambar kerja dan standar yang berlaku.
3.3.(1) Penyiapan badan jalan
Pekerjaan penyiapan badan jalan merupakan tahap awal dalam konstruksi jalan
yang bertujuan untuk mempersiapkan area kerja sebelum pekerjaan struktur
perkerasan dilakukan. pekerjaan ini juga mencakup pemotongan tanah pada
area yang tinggi (cut) dan penimbunan pada area rendah (fill), termasuk
pemadatan lapisan tanah dasar (subgrade) untuk mendapatkan kestabilan dan
daya dukung yang sesuai standar. Penyiapan badan jalan dilakukan secara
mekanis dan manual, serta diawasi untuk memastikan kemiringan melintang,
elevasi, dan lebar sesuai gambar kerja. Pekerjaan ini menjadi dasar penting bagi
kualitas dan umur layanan jalan yang akan dibangun di atasnya.
DIVISI 5. PERKERASAN BERBUTIR
5.1.(1) Lapis pondasi agregat kelas A
Pekerjaan lapis pondasi agregat kelas A merupakan salah satu bagian penting
dari struktur perkerasan jalan, berfungsi sebagai lapisan pendukung utama di
bawah lapis permukaan (aspal). Material yang digunakan adalah agregat
campuran bergradasi (umumnya terdiri dari batu pecah, abu batu, dan pasir)
yang memenuhi syarat teknis seperti kekerasan, ketahanan aus, dan gradasi
sesuai spesifikasi Bina Marga.
Pekerjaan diawali dengan pemerataan dan pembersihan permukaan subbase
atau subgrade. Selanjutnya, agregat kelas A dihampar secara merata dengan
ketebalan sesuai desain (biasanya 15–30 cm per lapis), lalu dipadatkan
menggunakan alat berat seperti tandem roller atau vibratory roller hingga
mencapai kepadatan minimal.
Permukaan akhir harus rata, padat, dan bebas genangan air, serta sesuai elevasi
dan kemiringan yang ditentukan. Lapis pondasi agregat kelas A harus
dilaksanakan dengan pengawasan ketat agar menjamin daya dukung jalan dan
stabilitas struktur perkerasan di atasnya.
DIVISI 5. PERKERASAN ASPAL
6.1.(1) Lapis resap pengikat – aspal cair/emulsi
Pekerjaan lapis resap pengikat (prime coat) adalah proses penyemprotan aspal
cair atau emulsi ke permukaan lapis pondasi agregat (biasanya agregat kelas A)
sebelum dilakukan pekerjaan pelapisan aspal. Tujuannya adalah agar aspal
dapat meresap ke dalam pori-pori agregat dan mengikat antara lapisan pondasi
dan lapis perkerasan di atasnya, serta mencegah kehilangan air dari lapisan
aspal ke lapisan bawah. Permukaan akhir harus rata, padat, dan bebas
genangan air, serta sesuai elevasi dan kemiringan yang ditentukan. Lapis
pondasi agregat kelas A harus dilaksanakan dengan pengawasan ketat agar
menjamin daya dukung jalan dan stabilitas struktur perkerasan di atasnya.
Penyemprotan dilakukan secara merata menggunakan alat asphalt distributor
dengan takaran antara 0,6 – 1,2 liter/m², tergantung jenis permukaan dan jenis
aspal yang digunakan.
Setelah disemprot, lapisan ini harus dibiarkan selama beberapa waktu hingga
aspal meresap dan mengering (curing) sebelum dilanjutkan dengan pelapisan
berikutnya. Pekerjaan ini harus dilakukan pada kondisi cuaca cerah dan
permukaan kering agar hasilnya optimal.
6.3.(5a) Laston lapis aus (AC-WC)
Pekerjaan Laston Lapis Aus (AC-WC) merupakan lapisan paling atas dalam
struktur perkerasan lentur (aspal), berfungsi sebagai permukaan jalan yang
langsung menerima beban lalu lintas dan pengaruh cuaca. AC-WC (Asphalt
Concrete – Wearing Course) menggunakan campuran aspal panas dan agregat
halus-kasar bergradasi rapat, yang dirancang untuk memberikan kekesatan,
kenyamanan, dan ketahanan terhadap aus.
Campuran aspal AC-WC diproduksi di AMP (Asphalt Mixing Plant) dengan suhu
pencampuran dan pemadatan sesuai spesifikasi (biasanya ±150–160°C untuk
pencampuran, dan ±135–145°C untuk pemadatan). Campuran kemudian
dihampar di lapangan menggunakan asphalt finisher, dan dipadatkan dengan
tandem roller atau pneumatic roller secara bertahap hingga mencapai kepadatan
minimal 98% dari kepadatan maksimum Marshall.
6.3.(8) Bahan anti pengelupasan
Bahan anti pengelupasan adalah zat atau material tambahan yang digunakan
dalam campuran aspal atau pada lapisan perkerasan jalan untuk mencegah
terjadinya pengelupasan (stripping) antara agregat dan aspal. Pengelupasan
dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan perkerasan seperti retak, lubang,
dan penurunan kekuatan ikatan.
Bahan ini biasanya berupa additive kimia berupa anti stripping agent yang
dicampurkan langsung ke dalam campuran aspal atau diaplikasikan sebagai
lapisan pelindung. Contoh bahan yang sering digunakan adalah amina
kuaterner, hydrated lime, atau bahan organik tertentu yang dapat meningkatkan
adhesi antara agregat dan aspal.
Penggunaan bahan anti pengelupasan sangat penting terutama pada kondisi
lingkungan dengan kelembapan tinggi atau pada agregat yang bersifat mudah
terkelupas. Dengan bahan ini, daya tahan lapisan perkerasan terhadap air dan
beban lalu lintas meningkat, sehingga umur jalan menjadi lebih panjang.
DIVISI 7. STRUKTUR
7.1.(8) Beton, fc’15 Mpa
Pekerjaan beton dengan kekuatan tekan fc’ 15 MPa merupakan pembuatan
struktur beton ringan yang digunakan untuk pekerjaan bahu jalan. Beton ini
terdiri dari campuran semen, agregat (pasir dan kerikil), dan air dengan
perbandingan yang memenuhi standar mutu untuk mencapai kekuatan tekan
minimal 15 megapaskal (MPa) setelah 28 hari pengerasan.
Pencampuran beton dilakukan secara merata, baik secara manual maupun
menggunakan mesin mixer, kemudian beton dihampar dan diratakan pada area
kerja sesuai spesifikasi. Setelah pengecoran, beton dirawat (curing) secara rutin
untuk menjaga kelembapan agar proses pengerasan berjalan optimal dan
kekuatan tercapai sesuai target.
7.3.(2) Baja tulangan sirip BjTS 280
Baja tulangan sirip BJTS 280 adalah jenis baja tulangan beton yang memiliki
permukaan bergelombang (bersirip) untuk meningkatkan daya rekat antara
beton dan baja tulangan. Baja ini memiliki sifat mekanik dengan kekuatan leleh
minimum sebesar 280 MPa, sesuai standar SNI untuk baja tulangan struktur.
Baja tulangan sirip BJTS 280 biasanya digunakan sebagai tulangan utama
maupun tulangan tambahan pada struktur beton bertulang seperti balok, kolom,
pelat, dan pondasi. Penggunaan tulangan sirip memastikan ikatan kuat antara
beton dan baja sehingga struktur memiliki kekuatan dan kekakuan yang optimal.
Pemasangan baja tulangan dilakukan sesuai dengan gambar kerja dan
peraturan teknis, dengan menjaga jarak lapang dan perlindungan beton yang
cukup untuk mencegah korosi dan memastikan umur struktur.
7.9.(1) Pasangan batu
Pekerjaan pasangan batu adalah proses menyusun batu alam atau batu pecah
secara rapi dan terikat menggunakan mortar (campuran semen dan pasir) untuk
membentuk struktur seperti dinding penahan, saluran drainase, pondasi, atau
elemen konstruksi lainnya. Batu yang digunakan dipilih berdasarkan ukuran,
bentuk, dan kualitas agar sesuai dengan fungsi dan estetika bangunan.
Pasangan batu dilakukan dengan menata batu secara sistematis, mengisi celah
dengan mortar agar struktur menjadi kuat, stabil, dan tahan terhadap beban
serta pengaruh lingkungan seperti air dan cuaca. Ketebalan lapisan mortar dan
teknik pemasangan harus sesuai standar teknis untuk memastikan daya tahan
dan keawetan konstruksi.
Pekerjaan ini juga meliputi perapihan permukaan dan pembersihan sisa material
setelah pemasangan selesai.
7.1.(5a) Beton struktur fc’ 30 Mpa
Pekerjaan beton struktur dengan kekuatan tekan fc’ 30 MPa adalah pembuatan
beton bertulang yang digunakan untuk elemen-elemen utama struktur
bangunan yaitu lantai plat deuker. Beton ini terdiri dari campuran semen,
agregat (pasir dan kerikil), air, dan bahan tambahan jika diperlukan, dengan
komposisi yang telah dirancang untuk mencapai kekuatan tekan minimal 30
megapaskal setelah 28 hari pengerasan.
Pencampuran beton dilakukan secara mekanis untuk memastikan homogenitas,
kemudian beton dicor dan dipadatkan dengan vibrator agar tidak ada rongga
udara yang dapat mengurangi kekuatan. Setelah pengecoran, beton dirawat
dengan curing secara rutin untuk menjaga kelembapan dan mempercepat
proses pengerasan sehingga mencapai kekuatan yang diinginkan.
Beton fc’ 30 MPa merupakan standar kekuatan beton untuk struktur gedung dan
infrastruktur yang menuntut kestabilan dan daya tahan tinggi.
DIVISI 9. PEKERJAAN HARIAN DAN PEKERJAAN LAIN-LAIN
9.2.(1) Marka jalan thermoplastik
Pekerjaan marka jalan thermoplastik adalah proses pengecatan garis-garis
marka lalu lintas pada permukaan jalan menggunakan bahan thermoplastik
yang dipanaskan hingga mencair dan kemudian diaplikasikan secara panas (hot
applied). Bahan thermoplastik ini memiliki daya rekat yang kuat, ketahanan aus
tinggi, serta reflektansi yang baik untuk visibilitas terutama pada malam hari
dan kondisi basah.
Penerapan marka dilakukan dengan terlebih dahulu membersihkan permukaan
jalan agar bebas debu, minyak, dan kotoran. Kemudian bahan thermoplastik
dipanaskan hingga suhu tertentu (sekitar 180–200°C) sebelum diaplikasikan
menggunakan alat khusus seperti spraying machine atau extrusion machine
sesuai dengan pola dan ketebalan yang direncanakan.
Marka thermoplastik memiliki umur pakai yang lebih lama dibanding cat biasa,
tahan terhadap beban lalu lintas berat dan kondisi cuaca ekstrem, sehingga
sangat cocok untuk marka jalan permanen pada jalan raya, persimpangan, dan
area parkir.
9.2.(22a) Pekerjaan stabilisasi dengan tanaman adalah metode penguatan dan
pengendalian erosi tanah menggunakan tanaman penutup atau tanaman akar
kuat yang mampu menjaga kestabilan lereng, badan jalan, atau area terbuka
lainnya. Tanaman yang digunakan berfungsi untuk mengikat partikel tanah,
memperbaiki struktur tanah, dan menyerap air sehingga mengurangi risiko
longsor dan erosi akibat air hujan atau aliran permukaan.
Proses pekerjaan meliputi persiapan lahan dengan pembersihan dan
pengolahan tanah, penanaman bibit tanaman yang sesuai dengan kondisi
lokasi (misalnya rumput vetiver, alang-alang, atau tanaman penutup lainnya),
serta perawatan tanaman hingga tumbuh kuat dan merata.
Stabilisasi dengan tanaman merupakan solusi ramah lingkungan yang efektif
untuk menjaga keawetan konstruksi jalan dan menjaga kelestarian lingkungan
sekitar.
Demikian uraian singkat pekerjaan ini dibuat dan dapat dipergunakan sebagaimana semestinya.
Bitung, 2025
Dinas Pekerjaan Umum dan Tata
Ruang Kota Bitung,
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)