Uraian Singkat pekerjaan pekerjaan Survei Kondisi Jembatan
URAIAN
Wilayah-1 mencakup pekerjaan - pekerjaan, antara lain sebagai
SINGKAT
berikut :
PEKERJAAN
1. Persiapan
2. Pemeriksaan Inventarisasi
3. Pemeriksaan Kondisi Pemanfaatan Jembatan
4. Analisa Data dan Rekomendasi
5. Kesimpulan dan Saran Tindak
I. PERSIAPAN
Persiapan meliputi persiapan peralatan survei, persiapan
personil, koordinasi / diskusi / presentasi dengan pengguna
jasa dan survei orientasi / pengenalan lapangan.
II. PEMERIKSAAN
Tujuan Pemeriksaan Jembatan
1. Pemeriksaan jembatan mempunyai hubungan utama
antara kondisi jembatan dengan rencana penanganan
pemeliharaan atau peningkatan dalam waktu
mendatang.
2. Pemeriksaan jembatan bertujuan untuk meyakinkan
bahwa jembatan masih aman berfungsi dan perlu dilakukan
tindakan tertentu untuk pemeliharaan dan perbaikan secara
berkala.
3. Pemeriksaan jembatan mempunyai beberapa tujuan
khusus yaitu :
a. memeriksa keamanan jembatan pada saat layan;
b. menjaga agar jembatan tidak ditutup;
c. mencatat kondisi jembatan pada saat pemeriksaan
dilakukan;
d. memberikan data untuk personil perencanaan teknis,
konstruksi dan pemeliharaan;
e. memeriksa pengaruh dari beban kendaraan dan
jumlah kendaraan;
f. memantau keadaan jembatan secara jangka panjang;
g. memantau perubahan kondisi jembatan secara
periodik;
h. memberikan informasi mendasar pembebanan
jembatan.
4. Pemeriksaan dilakukan mulai dari awal jembatan tersebut
masih baru selesai dibangun dan secara berkelanjutan
selama umur jembatan.
Prosedur. Secara umum pemeriksaan harus diawali dari
sebelah kiri kepala jembatan 1 (A1), seperti terlihat pada
Gambar 1, dengan urutan prosedur :
1. Dimulai turun kebawah pada sisi kiri Km kecil memutar
mengamati indikasi kerusakan untuk memotret mencatat
kondisi ; jalan pendekat / oprit, dan bangunan bawah
jembatan meliputi talud, dinding penahan tanah,
perletakan, balok beton/ baja/ kayu, lantai bagian bawah,
pengaman gerusan/ scouring pondasi pada kepala
jembatan dan pilar dan lain lain;
2. Dari bawah naik keatas sisi kanan Km. Kecil untuk
berjalan di atas trotoar menuju km besar untuk mengecek
mencatat memotret yang ada indikasi kerusakan kondisi
bangunan atas jembatan reiling, expantion joint, lantai
dan aspal , trotoar pada posisi sebelah kanan jembatan;
3. Turun kebawah pada sisi kanan km besar memutar
mengamati indikasi kerusakan untuk memotret mencatat
kondisi ; jalan pendekat / oprit, dan bangunan bawah
jembatan meliputi talud, dinding penahan tanah,
perletakan, balok beton/ baja/ kayu, lantai bagian bawah,
pengaman gerusan/ scouring pondasi pada kepala
jembatan dan pilar dan lain lain;
4. Di akhiri dari bawah naik keatas ke sisi kiri KM besar
kemudian memutar dan berjalan diatas trotoar kembali ke
Km kecil sebelah kiri, untuk mengecek mencatat dan
mendokumentasikan kondisi bangunan atas jembatan,
reiling, dan trotoar pada sisi kiri jembatan, dan berakhir di
Km kecil sebelah kiri.
Gambar 1. Proses Pemeriksaan Jembatan
Kegiatan yang dilaksanakan :
1. Secara umum pemeriksaan harus diawali dari sebelah kiri
kepala jembatan 1 (A1), seperti terlihat pada Gambar 1.
2. Mengumpulkan data detail secara administrasi seperti
nama jembatan, nomor jembatan dan tahun
pembangunannya.
3. Mengumpulkan data semua dimensi jembatan seperti
panjang total dan jumlah bentang.
4. Mengumpulkan data dimensi, jenis konstruksi, dan
kondisi komponen-komponen utama setiap bentang
jembatan dan elemen jembatan secara individual.
5. Urutan pemeriksaan ini berlaku untuk jembatan yang
berbentang tunggal atau lebih, bentang awal dan bentang
akhir harus diperiksa sebelum bentang tengah.
Selama proses pemeriksaan jembatan berlangsung, pemeriksa
harus mengambil foto jembatan mengenai:
1. tampak depan jembatan dapat dilihat dari km yang kecil dan
dari km yang besar;
2. tampak samping jembatan dapat dilihat dari hulu sungai dan
hilir sungai;
3. kondisi di sekitar jembatan;
4. kerusakan dan masalah yang membutuhkan perhatian;
5. gambar sketsa
A. PEMERIKSAAN INVENTARISASI
Dilakukan pada jembatan baru atau telah dilakukan
rehabilitasi.
1. Pemeriksaan jembatan dan dokumen jembatan
dilaksanakan pada jembatan yang menjadi
kewenangan, yang berada pada Ruas Jalan Kabupaten;
2. Pemeriksaan inventarisasi dilaksanakan untuk
mencatat data administrasi, dimensi, material, dan
kondisi setiap struktur utama dan komponen jembatan;
3. Semua jembatan, lintasan kereta api, lintasan basah,
lintasan feri, dan gorong-gorong yang memiliki panjang
dua meter atau lebih harus dicatat dalam formulir
pemeriksaan inventarisasi;
4. Pemeriksaan inventarisasi dilakukan pada saat awal
untuk mendaftarkan setiap jembatan ke dalam sistem
database;
5. Pemeriksaan inventarisasi dilakukan juga pada
jembatan yang tertinggal pada waktu sistem database
dibuat;
6. Jembatan baru yang belum pernah dicatat, pemeriksaan
inventarisasi dilakukan sebagai bagian dari
pemeriksaan detil;
7. Perlintasan kereta api, penyeberangan sungai, gorong-
gorong dan lokasi dimana terdapat penyeberangan ferri
juga diperiksa dan didaftar.
8. Pemeriksaan inventarisasi melakukan kegiatan dengan
mencatat data dasar administrasi, geometri, material
dan data tambahan lainnya pada setiap jembatan,
termasuk lokasi jembatan, panjang bentang dan tipe
struktur utama untuk setiap bentang;
9. Kegiatan selanjutnya adalah, menilai kondisi komponen
utama bangunan atas dan bangunan bawah jembatan
secara keseluruhan.
Peralatan. Peyedia Jasa harus menyediakan peralatan
dan bahan yang diperlukan untuk melaksanakan
pemeriksaan inventarisasi sebagai berikut :
a. formulir Laporan Pemeriksaan lnventarisasi,;
b. kertas untuk gambar atau catatan;
c. pena
d. alat dokumentasi ( kamera );
e. alat pengukur jarak (rambu ukur, pita pengukur,lase
pengukur);
f. alat penentu lokasi jembatan (GPS, odometer
kendaraan );
g. sekop;
h. kalkulator;
i. papan tulis putih kecil dan spidol yang bukan
permanen (untuk menampilkan nama dan nomor
jembatan dalam foto);
j. palu;
k. buku pegangan pemeriksaan jembatan di lapangan;
l. peta yang memperlihatkan ruas jalan;
Peralatan Bantu Lainnya
a. Peralatan Tambahan :
Perahu, sepatu bot tinggi dan tahan air, seperangkat
peralatan panjat tebing (climbing equipment), dan
perancah (scafolding).
b. Peralatan Keamanan/Keselamatan :
topi pengaman, sarung tangan, tanda/rambu, kerucut
lalu lintas, tali pengaman (safety harness), rompi
pelampung, masker, dan kacamata pengaman.
Prosedur. Pemeriksaan inventarisasi dilakukan sebagai
berikut :
1. mencatat nomor, nama dan lokasi Jembatan;
2. mengambil data koordinat jembatan;
3. mengukur dan mencatat dimensi jembatan
keseluruhan;
4. mencatat jenis jembatan, lintasannya, komponen
utama dan tanggal atau tahun pembangunan;
5. mencatat batas-batas muatan atau pembatasan
fungsional lainnya;
6. menafsirkan dan mencatat pengaruh lebar jembatan
terhadap lalu lintas;
7. mencatat data banjir tertinggi yang diketahui, tanggal
terjadinya dan sumber informasi;
8. mencatat apakah terdapat gambar jembatan
terlaksana (As-built drawing) dan apakah jembatan
merupakan jenis standar.
Pengisian Formulir Data Dasar Prasarana Jembatan
A. Data Administrasi
1. Nomor Jembatan
Nomor jembatan pada umumnya terdiri atas 9
(sembilan) angka yang khas untuk masing-
masing jembatan. Menunjukkan urutan posisi
jembatan sepanjang ruas jalan tersebut.
A B C D
a. Dua angka pertama menunjukan provinsi
b. Tiga angka berikutnya menunjukkan Ruas Jalan
(Lampiran 1. SK Ruas Jalan Kabupaten)
c. Tiga angka berikutnya menunjukan Nomor Urut
Jembatan (sesuai dengan urutan jembatan pada
ruas jalan tersebut mulai dari km (kilometer)
kecil.
d. Angka terakhir menunjukan jembatan tambahan
yang sudah dibangun, jembatan yang
sebelumnya tidak terdaftar karena tertinggal
dalam pendataan,dan juga menunjukkan
jembatan yang diduplikasi
e. Akhiran Ruas Jalan/Link Suffix menunjukan
bagian ruas jalan dimulai beberapa tahun
setelah database jembatan selesai
Gambar 2. Akhiran Ruas Jalan
2. Nama Jembatan
Nama jembatan tertera pada suatu pelat nama
atau diperoleh dari survei-survei sebelumnya atau
mengacu pada nama sungai dan desa setempat.
3. Km
Dapat dilihat pada patok kilometer yang berada pada
ruas jalan yang menginformasikan panjang jalan
dan/ atau jarak dari kota atau simpul tertentu.
4. Nama W ilayah
Dalam arti jarak, jembatan dibangun dari kota asal
yang biasanya merupakan awal dari suatu ruas
jalan. Setiap kota asal diberi kode abjad berjumlah
3 (tiga) huruf. Misalnya jembatan berada di daerah
Bone, maka nama wilayah ditulis “BNE” .
5. Tahun Pembangunan
Tahun jembatan tersebut dibangun. Informasi
tahun pembangunan jembatan mungkin tertera
pada papan nama. Bila tidak ada, bisa meminta
bantuan informasi dari pengelola jembatan atau
pada penduduk setempat.
B. Dimensi dan Data Geometris
1. Panjang Total Jembatan (m)
Panjang jembatan yang diukur dari expansión joint
ke expansión joint pada kepala jembatan seperti
Gambar 3 dan Gambar 4. Panjang total dicatat
dengan toleransi 0.1 meter yang diukur sepanjang
as jembatan.
2. Lebar Jembatan
Diukur dari sisi luar ke sisi luar jembatan, lebar
lantai kendaraan dan lebar trotoar.
3. Jumlah Bentang
Banyaknya bentang pada suatu jembatan.
Gambar 3. Pengukuran Panjang Total dan Panjang
Bentang Pada Jembatan
Gambar 4. Pengukuran Panjang Total dan Panjang
Bentang Pada Jembatan Pelengkung
C. Data dan Struktur Utama Jembatan
Struktur jembatan dibagi menjadi dua struktur utama
yaitu bangunan atas dan bangunan bawah. Setiap
data dari bangunan atas, bangunan bawah dan traffic
dicatat.
1. Bangunan Atas
a) Struktur Bangunan Atas
Jenis –jenis struktur bangunan atas yang lazim
ditemukan di Indonesia dapat dilihat pada gambar
5.
Gambar 5. Jenis Bangunan Atas
Bangunan atas jembatan merupakan bangunan
yang berfungsi menampung beban-beban yang
di timbulkan oleh lalu lintas orang,kendaraan dan
kemudian menyalurkan kepada bangunan
bawah. Bahan untuk bangunan atas dapat
dilihat pada tabel berikut :
KODE KETERANGAN
T Beton bertulang
G Bronjong dan sejenisnya
H Pasangan batu kosong
D Beton tak bertulang
K Kayu
S Pasangan bata
M Pasangan batu
P Beton pratekan
B Baja
U Lantai baja gelombang
Y Pipa baja diisi beton
J Alumunium
E Karet
F Teflon
V PVC
N Geotekstil
O Tanah biasa/ lempung/timbunan
A Aspal
RF Kerikil/pasir
W Macadam
X Bahan asli
L Lain-lain
Tabel 1. Bahan Untuk Bangunan Atas
Berdasarkan tipenya, bangunan atas daapat
dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain
seperti pada tabel berikut :
Tipe Keterangan
PTI Plat Beton Bertulang Indonesia
GTI Gelagar Beton Bertulang Indonesia
GPI Gelagar Beton Prategang Indonesia
RBI Rangka Baja Indonesia
RBA Rangka Baja Australia (Permanent)
RBB Rangka Baja Belanda
ETI Pelengkung Beton Bertulang
Indonesia
LTI Balok Pelengkung Beton Bertulang
Indonesia
YTI Gorong2 Pipa Beton Bertulang
Indonesia
BTI Gorong2 Persegi Beton Bertulang
Indonesia (Box Culvert)
YDI Gorong2 Pipa Beton Indonesia
SBW Rangka Sementara Baja Bailey /
Acrow Panel
P Plat
S Jembatan Sementara
W Lintasan Basah
U Lain –Lain.
Tabel 2. Tipe Bangunan Atas
Nilai kondisi diberikan sesuai dengan pedoman dalam
Tabel 3.
Nilai Keterangan
Kondisi
- Jembatan dalam keadaan baru, tanpa
kerusakan
0
- Elemen jembatan verada dalam kondisi
baik
Kerusakan sangat sedikit/ kerusakan dapat
diperbaiki melalui pemeliharaan rutin dan
1
tidak berdampak pada keamanan atau fungsi
jembatan
Kerusakan yang memerlukan pemantauan
2 atau pemeliharaan pada masa yang akan
datang
3 Kerusakan yang membutuhkan perhatian
yang akan menjadi serius dalam 12 bulan
Kondisi kritis yang membutuhkan perhatian
4
segera
5 Elemen runtuh atau tidak berfungsi lagi
Tabel 3. Penentuan Nilai Kondisi
b) Lantai
Merupakan bagian tengah dari plat jembatan yang
berfungsi sebagai perlintasan kendaraan. Lebar
jalur untuk kendaraan dibuat cukup untuk
perlintasan dua buah kendaraan yang besar
sehingga kendaraan dapat melaluinya dengan
leluasa. Adapun tipe untuk lantai jembatan adalah
sebagai berikut :
T = Beton
TA = Beton – Aspal
BT = Baja – Beton
K = Kayu
c) Sandaran
Sandaran mencakup pegangan tangan, pagar
pengaman, dan tiang sandaran. Kode untuk tipe
sandaran dapat dilihat dalam Tabel 4. Dan
Gambar 6 berikut :
Gambar 6. Tipe Sandaran
Kode Material
TB Beton - Baja
BB Baja - Baja
M Pasangan batu
Tabel 4. Tipe Sandaran
KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) - 2024
2. Bangunan bawah
a) Pondasi
Informasi tipe fondasi diperoleh dari gambar
rencana/gambar pelaksanaan (Asbuilt drawing)
atau catatan pelaksanaan. Bila tidak ada
informasi, kosongkan bagian ini. Bila ada, pilih
kode dari Tabel 5 dibawah ini . Sedangkan
kode bahannya dari Tabel 1.
Tipe Keterangan
CA Cakar Ayam
LS Langsung
TP Tiang Pancang
PB Tiang Bor
TU Tiang Ulir
SU Sumuran
LL Lain-Lain
Tabel 5. Tipe Pondasi
b) Kepala Jembatan dan Pilar
Tipe kepala jembatan dan pilar dapat dilihat
pada Gambar 7 dan kode bahannya dapat
dilihat dari Tabel 1
Kode kepala jembatan sebagai berikut :
A Cap
B Dinding Penuh
K Kepala Jembatan Khusus
Sedangkan kode untuk pilar :
C Cap
P Dinding Penuh
S Satu Kolom
D Dua Kolom
T Tiga atau Lebih Kolom
L Lain-lain
Gambar 7. Jenis Kepala Jembatan dan Pilar
D. Bangunan Pelintasan
Bangunan pelintasan didata dan dimasukan dalam
formulir laporan inventarisasi.
1) Gorong – Gorong
Adalah bangunan yang dipakai untuk membawa
aliran air (saluran irigasi atau pembuang)
melewati bawah jalan air lainnya (biasanya
saluran), bawah jalan, atau jalan kereta api.
2) Duiker atau plat duiker
Adalah pembatas jembatan dengan pinggir got,
sungai atau dengan irigasi. Dekker berbentuk
persegi panjang dan memanjang dari ujung ke
ujung lain jembatan dan agak sedikit lebih tinggi
dari permukaan jalan atau jembatan dan
biasanya dijadikan tempat duduk.
3) Jaringan Irigasi
Merupakan saluran, bangunan, dan bangunan
pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan
yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian,
pemberian, penggunaan, dan pembuangan air
irigasi
E. Data Pelengkap
1) Nilai Traffic
Lebar jembatan yang berpengaruh pada arus lalu
lintas dicatat dalam laporan.
Nilai Keadaan Keterangan
1 Longgar Kendaran bebas
melintas diatas
jembatan
2 Cukup Lebar Kendaraan melaju
perlahan diatas
jembatan
3 Sempit Kendaraan harus
sering berhenti dan
antri
Tabel 6. Keadaan Lalu Lintas
Dalam pemeriksaan kondisi jembatan, elemen-elemen
jembatan tidak diperiksa secara terperinci, tetapi aspek-
aspek yang harus diamati dari jembatan adalah :
1. Lendutan dan getaran jembatan yang berlebihan
sewaktu dilewati lalu lintas;
2. Komponen yang rusak, hilang, berubah bentuk, karat
atau lapuk, dan perkirakan pengaruhnya;
3. Perletakan dan penahan gempa (seismic buffer);
4. Bagian sisi bawah lantai beton untuk melihat apakah
terdapat retak, selimut beton cukup, terjadinya korosi
pada tulangan, dan seterusnya;
5. Kemungkinan hilang, rusak atau lapuknya bagian-bagian
kayu;
6. Kualitas lapis permukaan lantai, terutama pada siar muai
antara dinding kepala jembatan dan lantai, supaya dapat
diketahui kerusakan apa yang mempunyai pengaruh
yang berlebihan atau yang membatasi arus lalu lintas;
7. Saluran air pada permukaan lantai dan jalan pendekat,
termasuk tanaman serta sampah yang mungkin
mengakibatkan pengumpulan air;
8. Kondisi siar muai dan karet penutupnya;
9. Kondisi sandaran yang rusak, longgar, hilang atau
berkarat;
10. Kondisi ujung balok yang rusak;
11. Kondisi perlengkapan jembatan lain seperti rambu-
rambu, utilitas, dan catat bila ada perlengkapan lain yang
dibutuhkan;
12. Terjadinya gerusan di sekitar tanah timbunan, kepala
jembatan dan pilar;
13. Terjadinya longsor, penurunan atau settlement di tanah
timbunan;
14. Kondisi tiang pancang apakah ada korosi, retak, atau
penurunan;
15. Terjadinya pergerakan atau penurunan pada kepala
jembatan;
16. Keretakan pada beton dan dinding sayap, kepala
jembatan, dan pilar;
17. Terjadinya korosi atau pelapukan pada kolom.
B. SURVEI KONDISI PEMANFAATAN JALAN
Melakukan wawancara dengan penduduk setempat untuk
mengetahui lalu lintas berat yang kemungkinan lewat
dalam waktu tertentu.
Pemeriksaan kondisi dilakukan setiap tahun. Dapat
dilaksanakan diantara waktu survei inventarisasi dan
bertujuan untuk :
1. Mengetahui kondisi jembatan dan memeriksa hasil
pemeliharaan jembatan;
2. Memastikan bahwa perubahan tiba-tiba atau tidak
terduga yang terjadi pada kondisi jembatan secara
keseluruhan di antara dua pemeriksaan detail dapat
terdeteksi dan dilaporkan sehingga dapat diambil
tindakan yang tepat;
3. Apakah harus dilaksanakan tindakan darurat atau
perbaikan untuk memelihara jembatan supaya tetap
dalam kondisi aman dan layak;
Peralatan dan Material.
1. Laporan Pemeriksaan Inventarisasi (untuk jembatan yang
telah dicatat sebelumnya)
2. Formulir pemeriksaan kondisi jembatan
3. Peralatan tulis menulis
4. Kendaraan dengan odometer yang berfungsi
5. Pita pengukur 5 m dan 30 m
6. Kamera dan film
7. Kalkulator
8. Papan tulis putih kecil dan spidol bukan permanen
Prosedur. Pada tahap ini diperlukan data pelengkap :
1. Batasan Fungsional
Batasan fungsional pada jembatan mempunyai hubungan
dengan batas beban. Setiap batasan beban kendaraan
atau Muatan Sumbu Terberat (MST) yang ada di
lapangan harus dicatat pada formulir pemeriksaan
inventarisasi. Batasan lainnya, seperti batasan muatan
gandar, batasan lebar jalan dan batasan lainnya.
2. Lebar Jembatan Terhadap Lalu Lintas
Dampak lebar jembatan terhadap arus lalu lintas dinilai dan
dicatat seperti yang terlihat dalam Formulir
pemeriksaan kondisi jembatan . Nilai 1 apabila lalu lintas
melintas tanpa hambatan, nilai 2 apabila lalu lintas masih
dapat melintas dengan tanpa hambatan walau harus
memperlambat kecepatan, dan nilai 3 apabila lebar
jembatan sempit dan lalu lintas harus memperlambat
kendaraannya atau kendaraan harus antri atau berhenti.
3. Data Banjir
Ketinggian muka air banjir tertinggi yang diketahui
berhubungan dengan elevasi permukaan komponen
paling bawah dari bangunan atas jembatan, sedangkan
untuk muka air banjir yang melebihi lantai kendaraan
maka pengukuran tinggi muka air banjir diukur dari
permukaan lantai. Sumber informasi harus dicatat pada
Formulir pemeriksaan kondisi jembatan. Data ini dapat
digunakan untuk menentukan ketinggian permukaan
lantai jembatan dari suatu jembatan baru
III. ANALISA DATA DAN KESIMPULAN
A. Data Dasar Prasarana Jembatan
Data dari hasil survey pemeriksaan inventarisasi dan
survey pemeriksaan kondisi jembatan tiap ruas jalan
Kabupaten Bone dimasukan dalam format data dasar
prasarana jembatan yang memuat :
a) Nomor Jembatan
b) Nama Jembatan
c) Km ruas jalan yang disurvey
d) Nama W ilayah
e) Dimensi Jembatan mencakup (Panjang, Lebar dan
Jumlah bentang jembatan)
f) Tipe Bangunan Atas
g) Tahun pembuatan jembatan
h) Nilai Kondisi untuk bangunan atas, permukaan
lantai, bangunan bawah, daerah aliran sungai dan
jembatan itu sendiri
i) Nilai arus lalu lintas, dan
j) Lebar jalan
B. Analisa Data Administrasi, gambar layout, tampak atas
dan potongan memanjang jembatan
C. Dokumentasi Jembatan
Seluruh data lapangan yang masuk dilakukan analisa teknis,
Dalam analisa harus dilakukan penilaian kondisi pada bagian
yang rusak dengan nilai kondisi antara lain diperinci sebagai
berikut :
1. Kondisi baru tanpa kerusakan
2. Kerusakan kecil
3. Kerusakan yang memerlukan pemantauan atau
pemeliharaan diwaktu mendatang
4. Kerusakan yang memerlukan tindakan secepatnya
5. Kondisi kritis
6. Elemen jembatan tidak berfungsi lagi
Hasil analisa selanjutnya disusun kesimpulan, saran dan
tindakan penanganan yang diperlukan sebagai berikut :
1. Pemeliharaan rutin jembatan
2. Rehabilitasi jembatan
3. Penggantian jembatan
4. Relokasi jembatan
DINAS BINA MARGA, CIPTA KARYA DAN BRIDGE
TATA RUANG KABUPATEN BONE MANAGEMENT
BIDANG BINA MARGA SYSTEM
DATA DASAR PRASARANA JEMBATAN
DD - 2
PROVINSI : SULAWESI SELATAN
KABUPATEN : BONE
TAHUN
Dimensi Bangunan Atas Bangunan Bawah
Titik
Nama No. Nama Struktur
Koordinat
NO. Kec. Panjang Lebar Jumlah Lantai Sandaran
Jembatan Ruas Ruas Bangunan Atas Pondasi Kepala Jembatan Pilar
(m) (m) Bentang Type Kondisi Bahan Kondisi Bahan Kondisi Type Bahan Kondisi Type Bahan Kondisi Type Bahan Kondisi
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25
1
2
3
4
5
6
Sub Jumlah I
DINAS BINA MARGA, CIPTA KARYA DAN TATA BRIDGE
RUANG KABUPATEN BONE MANAGEMENT
BIDANG BINAMARGA SYSTEM
NO. JEMBATAN
NAMA JEMBATAN :
POTONGAN MEMANJANG
Pammusureng
Mattirowalie
TAMPAK ATAS
TAMPAK ATAS
S I T U A S I
SITUASI
Mattirowalie
Pammusureng| Authority | |||
|---|---|---|---|
| 29 June 2021 | Pengawasan Teknis Peningkatan Jalan Kec. Maiwa | Kab. Enrekang | Rp 550,000,000 |
| 6 May 2025 | Pengawasan Kontruksi Jembatan Bila | Kab. Pinrang | Rp 470,815,000 |
| 18 September 2020 | Biaya Jasa Konsultan Penyusunan Master Plan Rsul | Kab. Pinrang | Rp 350,000,000 |
| 15 April 2020 | Supervisi Dan Pengawasan(loan) | Kab. Pinrang | Rp 342,309,180 |
| 26 September 2022 | Paket 18 / Perencanaan Teknis Rekonstruksi/Peningkatan Jalan Ruas Pasa Pasae - Macanang | Kab. Wajo | Rp 319,500,000 |
| 15 February 2021 | Biaya Perencanaan (Dak) | Pemerintah Daerah Kabupaten Wajo | Rp 310,954,000 |
| 4 February 2022 | Paket 05 / Biaya Pengawasan Pembangunan Jembatan Soreang Lopie Kec. Belawa | Kab. Wajo | Rp 300,000,000 |
| 15 March 2019 | Perencanaan Pembangunan Gedung Pkm Topoyo (Dak) Afirmasi | Pemerintah Daerah Kabupaten Mamuju Tengah | Rp 294,200,000 |
| 1 March 2020 | Perencanaan Pembangunan Gedung Tempat Tidur Pkm Babana | Kab. Mamuju Tengah | Rp 250,131,000 |
| 4 March 2024 | Perencanaan Teknis Pembangunan Gedung Puskesmas Lempa | Kab. Wajo | Rp 245,000,000 |