| 0412479651115000 | Rp 2,630,140,397 | |
| 0919843680545000 | - | |
| 0025396722524000 | - | |
| 0866775182541000 | - | |
| 0427452909922000 | - | |
| 0315895508541000 | - | |
Daliltani Ciptaselaras | 00*6**8****02**0 | - |
| 0017061839529000 | - | |
| 0634665947036000 | - | |
| 0026552596008000 | - | |
| 0932457401532000 | - | |
PT Raun Internusa Alians | 09*6**6****08**0 | - |
| 0316658343435000 | - | |
| 0903498004027000 | - | |
| 0033288705521000 | - | |
| 0627129539043000 | - | |
PT Lintas Nusa Baraya | 05*8**9****61**0 | - |
| 0928054337543000 | - | |
| 0751364134505000 | - | |
| 0033301169086000 | - | |
| 0626732408542000 | - | |
| 0017314709942000 | - | |
| 0025634304517000 | - | |
| 0033410960523000 | - | |
| 0029846185522000 | - | |
| 0032287930626000 | - | |
| 0706780426521000 | - | |
| 0013598735008000 | - | |
| 0634552905503000 | - | |
| 0032690497701000 | - | |
| 0312542632543000 | - | |
| 0764164570501000 | - | |
| 0903275592521000 | - | |
| 0838677011034000 | - | |
CV Lamgugob Perdana | 0809050263101000 | - |
| 0813654506086000 | - | |
| 0026260281122000 | - | |
| 0818229858101000 | - | |
| 0745969881419000 | - | |
| 0410537716514000 | - | |
| 0014016836008000 | - | |
| 0715766655529000 | - | |
| 0412804742542000 | - | |
| 0763564705517000 | - | |
| 0614002475429000 | - | |
| 0030927339627000 | - | |
| 0755946480521000 | - | |
| 0865484968521000 | - | |
PT Putra Alfindo Consultama | 07*2**0****05**0 | - |
| 0023786338009000 | - | |
| 0033283425412000 | - | |
| 0016286619008000 | - | |
| 0723416947524000 | - | |
| 0924720600009000 | - |
METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN
1.1. WAKTU PELAKSANAAN
Waktu pelaksanaan pekerjaan selama 100 (Seratus ) hari
kalender sejak diterbitkan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).
1.2. OUTPUT (KELUARAN)
Keluaran yang akan dihasilkan oleh Kerja ini meliputi hal-hal
sebagai berikut :
Rencana kerja penyedia jasa secara menyeluruh
Mobilisasi Bahan dan tenaga pendukung lainnya
Jadwal kegiatan penyedia jasa
Laporan dan pendapat teknis administrasi dan teknis
teknologis kepada pemberi Tugas.
Terciptanya bangunan yang bagus , kokoh dan nyaman
1.3. TAHAPAN KEGIATAN
1. Kegiatan Pendahuluan
Persiapan administrasi dan teknis
2. Kegiatan Pembanguanan
3. KegiatanPenyusunanLaporan
1.4. DATA DAN LOKASI PROYEK
UNIT KERJA :RUMAH PENYIMPANAN BENDA SITAAN
NEGARA KELAS II PURWOKERTO
NAMA KEGIATAN :PEMBANGUNAN GUDANG PENYIMPANAN
BASAN BARAN DAN PRASARANA
LINGKUNGAN
NAMA PEKERJAAN :PEKERJAAN KONSTRUKSI PEMBANGUNAN
GUDANG PENYIMPANAN BASAN BARAN DAN
PRASARANA LINGKUNGAN RUPBASAN
KELAS II PURWOKERTO
Metodologi Pelaksanaan – 1
Metodologi Pelaksanaan 2
BAB – 1
METODE PENYELESAIAN PEKERJAAN
(TAHAPAN URUTAN PEKERJAAN DAN TATA CARA PELAKSANAAN YANG
MENGGAMBARKAN PELAKSANAAN PEKERJAAN DARI AWAL SAMPAI DENGAN AKHIR )
PEKERJAAN PERSIAPAN
Pekerjaan persiapan adalah tindakan atau langkah-langkah yang diambil dalam
rangka mengoptimalkan kematangan sebelum memulai melaksanakan pekerjaan
konstruksi pada tahap selanjutnya. Kegiatan ini meliputi kegiatan-kegiatan yang
menyangkut pengendalian semua aspek kepentingan baik yang tercakup dalam
kepentingan fisik maupun kepentingan administratif yang akan menunjang dan
mengakomodir dalam kegiatan pelaksanaan proyek sesuai dengan estimasi dalam jangka
waktu tertentu yang telah direncanakan ke depan. Kegiatan tersebut diantaranya adalah :
PENGUKURAN LAHAN
Untuk memulai pelaksanaan pekerjaan Pembangunan, yang
pertama kali harus dilakukan ialah pekerjaan pengukuran
dengan cara membuat suatu titik tolak / titik duga yang
disebut BM (Bench Mark) berupa patok beton ukuran 15/15
cm, yang diberi warna sesuai dengan ketentuan.
Bench Mark merupakan titik tetap sebagai referensi ukuran
posisi horisontal dan posisi vertikal semua detail di dalam
site dan sekitarnya. Selanjutnya dapat dilakukan pengukuran
dengan menggunakan benang-benang, unting-unting,
penyipat datar serta meteran ukur biasa.
Bench Mark tersebut harus dijaga dan dipelihara mulai dari
saat pelaksanaan hingga berakhirnya pekerjaan. Untuk
mencapai keakuratan pengukuran untuk posisi horizontal
digunakan alat ukur Theodolite T. 2 , sedangkan untuk
posisi vertikal digunakan dengan alat ukur Waterpass.
Hal ini sangat penting dilakukan untuk menghasilkan akurasi pasangan dinding,
lantai dan plafond serta kemiringan saluran drainase yang merupakan masalah
rumit bagi sebuah bangunan.
PEMBONGKARAN BANGUNAN LAMA
Sebelum melakukan bongkaran dimulai, penyedia jasa harus minta persetujuan
PengawasLapangan dan hasil bongkaran ini akan dikeluarkan dari lokasi proyek agar
tidak mengganggu Lingkungan dan pelaksanaan kerja.
Metodologi Pelaksanaan 3
Apabila waktu pembongkaran terdapat saluran air bersih, Listrik, telpon, saluran air
Kotor dan lain – lain, prnyedia jasa akan memindahkan dengan izin Instansi yang
bersangkutan.
PEMBERSIHAN LOKASI
Sebelum pelaksanaan pekerjaan konstruksi fisik dimulai, terlebih dahulu harus
dilakukan pekerjaan Pembersihan Site atau lokasi dari material – material yang tidak
diperlukan meliputi pohon-pohon, akar pohon, sampah, semak, rumput dan lain-lain yang
dianggap dapat merintangi atau menghalangi jalannya pelaksanaan pekerjaan nanti :
Striping Material
Clearing & Grubbing, Tree Removal ( Pembersihan Pohon, Semak Belukar,
Akar-akar, dan lainnya)
Alat yang digunakan akan disesuaikan
dengan kondisi dan situasi di Site,
1 sementara untuk loading digunakan mesin
loader untuk mengangkat material ke dalam
Dump Truck’ sedangkan Dump Truck akan
membuang material tersebut sejauh
mungkin sehingga tidak mengganggu
keadaan pekerjaan atau dibuang ke daerah
dimana lokasi pembuangan telah mendapat
rekomendasi dari Pihak Direksi.
2
LOKASI PEMBUANGAN
YANG DISETUJUI
DIREKSI
3 PENYEDIAAN AIR / LIS
TRIK KERJA
Air Kerja dgn. Air Kerja dgn Tangki Air Air Kerja dgn
Sumur Pantek Sumuran
Penyediaan Air Kerjadengan membuat sumur pantek, sumur gali, mendatangkan
dari luar, atau penyambungan dari PDAM, Air kerja ini meliputi banyak kegunaan
bukan hanya untuk mengakomodir kebutuhan pekerjaan saja sehingga dapat digunakan
sebagai air minum, mandi, dan cuci.
Air kerja tersebut harus benar-benar bersih terbebas dari zat-zat kimiawi, serta zat-
zat organik lainnya yang dapat mebahayakan bagi manusia serta bangunan. Untuk
menjamin kebersihan air tersebut terlebih dahulu agar dilakukan Tes Laboratorium.
DIREKSI KEET /GUDANG BAHAN
Direksi Keet adalah bangunan sementara yang dilaksanakan di lokasi pekerjaan
(Site) yang brefungsi sebagai kantor/ruang keja bagi staf-staf pelaksana dan yang terlibat
langsung dalam hal pelaksanaan selama pekerjaan.
Metodologi Pelaksanaan 4
Semua kegiatan-kegiatan penting mengenai perekaman pekerjaan akan dihimpun
dan diolah secara langsung di DireksiKeet, seperti pelaksanaan rapat, Kunjungan tim
Pengawas yang terkait, dan lainnya yang menyangkut pengawasan dan pengendalian
(monitoring) serta mobilisasi selama kegiatan pelaksanaan pekerjaan.
Untuk Ruang Los Kerja dilaksanakan bersebelahan dengan ruang Direksi Keet,
berfungsi untuk penyimpanan bahan dan material untuk kebutuhan pekerjaan, sehingga
memudahkan dalam monitoring pengadaan bahan dan material untuk kebutuhan
pekerjaan. Ruang Los Kerja harus memenuhi semua persyaratan dari segi aspek
keamanan dan perlindungan ruangan terhadap keberadaan material yang ada di
dalamnya sehingga merupakan sistem proteksi terhadap material, dari pengaruh kondisi
cuaca di luar ruangan dan kebocoran ruangan, terutama untuk semen dan lainnya.
Gambar Sketsa Pelaksanaan DireksiKeet dan Gudang Bahan
Disamping Direksi Keet (Kontraktor Keet) juga harus direncanakan secara baik Gudang
Bahan dan Los Kerja yang terdiri dari :
Los Kerja untuk Bekisting
Los Kerja untuk Pembesian
Los Kerja untuk Peralatan dan alat Bantu
Los Kerja untuk Kusen
MOBILISASI / DEMOBILISASI
Kegiatan ini mencakup seluruh kegiatan Pengadaan, Penyediaan dan dalam rangka
memenuhi dan menunjang kegiatan pelaksanaan pekerjaan yang akan dihadapi,
persiapan-persiapan ini dilakukan di kantor agar kegiatan di lapangan dapat dilakukan
secara efisien dan efektif . Kegiatan tersebut meliputi tahapan Mobilisasi awal yang
mencakup Persiapan :
A. Pencapaian Informasi dan Estimasi :
a. Kondisi medan
b. Akomodasi
c. Komunikasi
d. logistik
e. dan lain-lain
B. Data Penunjang
a. Peta Lokasi dan Skala
b. Peta situasi dan atau photo situasi (udara)
c. Gambar Rencana
Metodologi Pelaksanaan 5
C. Peralatan :
a. Kamera dan Dokumentasi
b. Alat Ukur Survey
c. Perlengkapan Camp
d. Komputer Pengolah Data
e. Media Gambar dan Alat Tulis
D. Persiapan dan Pendelegasian Personal Inti :
Personil Inti yang berkompeten dan berpengalaman dalam masing-masing divisi
Bidang Profesi :
a. Site Manager
b. Tenaga Ahli Struktur (Structure Engineer)Baja,
Mr. Beton, Kayu dan Pondasi.
EMOD
c. Tenaga Ahli Geodesi
d. Tenaga Ahli bidang Mechanical dan Electrical serta
pemasangan Plumbing System.
e. Tenaga Ahli dibidang Arsitektur
f. Tenaga Ahli dibidang Design Interior
Mobilisai juga merupakan manajemen di lapangan yang meliputi :
Mobilisasi pengadaan peralatan dan perlengkapannya yang sesuai dengan tingkat
kebutuhan dan spesifikasi persyaratan yang harus diadakan.
Mobilisasi pengadaan material (bahan) dan penyediaan air kerja sesuai dengan
tingkat kebutuhan untuk pekerjaan dan sesuai dengan persyaratan yang harus
dipenuhi.
Mobilisasi bagi para Staf ahli dan Tenaga Kerja (Pekerja) yang akan dikerahkan.
Pembuatan dan pemasangan Papan Nama Proyek.
Jenis peralatan dan material yang akan digunakan di site akan disesuaikan dengan
jenis dan tingkat pekerjaan yang telah direkomendasikan di dalam spesifikasi teknis
yang terinci di dalam Analisa Harga Satuan untuk peralatan.
Untuk Tenaga Kerja, buruh Sopir dan Operator disesuaikan dengan jumlah kebutuhan
sesuai dalam analisa teknik.
E. MobilisasiPeralatan
Mobilisasi peralatan dan perlengkapan yang sangat menunjang dalam pelaksanaan
pekerjaan nanti harus sedini mungkin diperhitungkan dan dipersiapkan untuk didatangkan
ke Site, hal ini dipertimbangkan karena jika keterlambatan peralatan penunjang pekerjaan
terjadi karena sesuatu hal maka akan menimbulkan keterlambatan secara global seluruh
pekerjaan, hal ini sangat tidak diharapkan karena akan menimbulkan kerugian di kedua
belah pihak unsur proyek yakni, yang pertama Perencanaan Direksi secara langsung
tidak dipenuhi dan yang kedua tentu kerugian dari pihak pelaksana sendiri (Kontraktor).
Metodologi Pelaksanaan 6
Excavator Lori
bergunauntukmelakukanpekerjaanpenggalian bergunauntukmelakukanpekerjaanpengankutanjarakdekat
dan juga pengerukan
Buldozerbergunauntukmelakukanpekerjaan Concrete Mixer bergunauntukmelakukanpengadukan
striping, spreading dan land clearing
Dump Truck bergunauntukmelakukan Sekop, Cangkul, dan
hauling (pengangkutan ) jarakjauh alatlainnyabergunauntukpengadukan, penggalian,
atauperapihansecara manual
Loader bergunauntukmelakukan loading ke Alat pertukanganbergunauntukmelakukanpekerjaankayu
dump truck ,tembok, dan juga untukperalatanbekisting.
F. MobilisasiBahan dan Material
Penyimpanan dan Pengamanan Material On Site
1. Material Semen (Portland Semen)
Material Semen (PC) yang akan didatangkan dari sumber (Pabrikasi) adalah harus
memenuhi spesifikasi umum yang tercantum di dalam PBI 1988 dan SKSNI T – 15 – 1991
– 03.
Dalam pelaksanaan bangunan beton bertulang dipersyaratkan adanya gudang
khusus untuk menyimpan semen. Gudang semen harus dibuat cukup kuat. Disamping itu
dinding, lantai dan atapnya harus dibuat rapat air dan rapat angin. Oleh karena itu gudang
tidak perlu berjendela, lantainya dibuat paling sedikit 30 cm di atas tanah. Bila dindingnya
dibuat dari gedeg atau papan harus dilapis dengan kertas aspal, supaya angin tidak
masuk ke dalam. Sementara atap harus benar-benar rapat dari kebocoran atau celah-
celah yang dapat menyebabkan terjadinya kebocoran.
Cara menimbun semen dalam gudang tidak boleh langsung diletakkan di atas lantai,
tetapi harus diberi alas papan yang terletak di atas balok-balok. Kantong-kantong semen
tidak boleh ditimbun terlalu dekat dengan dinding, tetapi diberi jarak antara kira-kira 50
cm, dengan maksud supaya tidak mudah terpengaruh dari lembab terutama untuk
penyimpanan cukup lama, ruang antara ini juga dapat digunakan untuk menimbun dan
mengambil semen.
Timbunan kantong-kantong semen tidak boleh lebih dari 2 m (kira-kira 10 kantong),
dengan maksud agar tidak terjadi beban yang lebih berat yang dapat menyebabkan
kantong-kantong semen bagian bawah terjadi pecah, dan dalam jangka waktu tertentu
dapat timbul penggumpalan akibat oleh kompresi beban timbunan semen di atasnya
terhadap kantong-kantong semen bagian bawah.
Metodologi Pelaksanaan 7
- Atap harusterhindardarikebocoran
- Zona sekitarruanganharusterhindardarilembab
- Ruangantidakperlujendela
- Elevasilantairuanganlebihtinggidarielevasitanah
- Elevasilantaipenyangga semen + 30 cm darilantaidasar.
0.5
Maksimum 10
m
Tumpukan Zak semen
2
+ 0.3
m
m
Gambar. Penyimpanan material Semen yang di syaratkan
2. Penyimpanan Material Agregat batu pecah, dan Pasir
Untuk Agregat yang didatangkan dari quarry, terlebih dahulu harus memberikan
informasi atau data tertulis, bahwa material tersebut telah memenuhi standar spesifikasi
yang telah direkomendasikan setelah di periksa sumber material tersebut di datangkan
atas persetujuan Direksi. Dengan demikian seorang Checker/surveyor bahan diquarry
harus ditempatkan yang bertanggung jawab atas mutu dan kuantitas material dari
sumber.
Sementara Material yang telah masuk ke Site ditempatkan pada titik lokasi yang telah
direkomendasikan, dengan mempertimbangkan bahwa material tersebut mudah untuk di
pergunakan oleh para tenaga, tidak menimbulkan kesulitan atau menghalangi jalannya
mobilisasi alat atau kegiatan lain terhambat oleh keberadaan material tersebut.
3. Penyimpanan Besi Beton
Sebelum material dipesan, sewajibnya material tersebut dilakukan uji tarik dan uji
lengkung di Instansi tertentu yang telah ditunjuk oleh Pihak Direksi. Jika kenyataan besi
tersebut tidak memiliki ketentuan spesifikasi maka dikembalikan. Besi beton merupakan
material yang sangat sensitif terhadap Korosi oleh adanya oksidasi pengaruh udara luar,
air , garam dan sulfat. Oleh Karena itu cara penyimpanan material besi harus benar-benar
aman terhadap kondisi alam terutama tanah dan kondisi kelembabannya.
Untuk meminimalisir kerusakan besi oleh kondisi tersebut di atas adalah :
1. Besi diusahakan disimpan ditempat yang kering, artinya permukaan tanah tidak terjadi
genangan air dikala hujan, atau daerah yang tinggi. Sehingga dikala hujan turun dapat
ditutup saja pada bagian atasnya dengan terpal.
2. Diupayakan di dalam perencanaan pengadaan bahan, yang memungkinkan material
besi sesegera mungkin digunakan sehingga tidak terjadi penundaan penggunaan besi
dalam jangka waktu yang lama, apalagi pada daerah yang mengandung garam yang
tinggi misal di daerah pantai/laut, atau daerah yang tercemar limbah.
4. Penyimpanan Kayu dan Papan (untuk bekisting)
Metodologi Pelaksanaan 8
Kayu merupakan material yang dapat dengan mudah mengalami perubahan bentuk
yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan keadaan tegangan-tegangan sekunder yang
diterimanya pada saat konstruksi dan pada waktu penyimpanan/penimbunanpun dapat
terjadi. Perubahan tersebut biasanya didahului terjadi pada sumbu penampang minor
tetapi tergantung besar dan ke arah sumbu mana gaya terjadi sehingga perubahan
bentuk dapat terjadi pada sumbu tertentu.
Pada gambar disamping (a) adalah
Y
Y penampang irisan papan atau tick Block atau
sejenisnya, dan (b) adalah penampang irisan
balok .
X
Material kayu akan disimpan dan terlindung
X dari perubahan cuaca dan hujan yaitu dalam
ruang los bahan.
Cara penyimpanan kayu adalah :
(a
1. Jika papan atau kayu ditumpuk , maka penyimpanan disimpan ke arah sumbu Y – Y,
) (b)
dengan diberi alas terlebih dahulu dengan balok kayu pada spasi rapat @ 30 cm.
Penumpukkan tidak boleh lebih dari 1 meter jika perlu diikat rapat.
2. Untuk Tickblock dan bahan triplex jika terpaksa disimpan secara berdiri kearah
melebar sumbu Y – Y, harus rapat dan tegak tidak boleh terjadi lengkung, diikatkan
pada bagian dinding sandaran yang ada.
1 m
30 cm
Gambar. Penyimpanan dan penimbunan material untuk papan Tick Block
DOKUMENTASI / ADMINISTRASI
Kontraktor dalam melaksanakan kegiatan pelaksanaan PEKERJAAN RENOVASI
RUMAH DINAS KOPEL, diawasi oleh Konsultan Pengawas yang bertugas melakukan
pengawasan pekerjaan kontraktor, dan diwajibkan untuk melaksanakan Rapat Berkala
yang diadakan oleh Konsultan Pengawas yang dihadiri oleh pihak Pengelola Proyek.
Dalam hal ini Kontraktor diwajibkan untuk :
Membuat Laporan Harian, berisi : jenis kegiatan yang
dikerjakan, bahan – bahan yang digunakan dan alat –
alat yang didatangkan, jumlah tukang / tenaga kerja ,
keadaan cuaca , beserta besarnya prestasi pekerjaan.
dan direkap dalam Laporan Mingguan dan Laporan
Bulanan.
Metodologi Pelaksanaan 9
Membuat pemotretan , yang menggambarkan kemajuan
pekerjaan minimum 5 kali, yakni ketika pekerjaan
mencapai prestasi : 0 % , 25 % , 50 %, 75 %, 100 %.
PEKERJAAN PELAKSANAAN
PENGUKURAN PASANG BOUWPLANK
Pekerjaan Bowplank adalah pekerjaan pemasangan batas acuan awal untuk seluruh
pengukuran /Uit zet pekerjaan konstruksi pada material kayu yang dipasang. Material
yang dipakai adalah kayu terrentang, diserut rata dan terpasang waterpass dengan peil ±
0, 00./ sesuai dengan elevasi pada masing-masing bangunan. Setiap jarak 2 m papan
bouwplank diperkuat dengan patok kayu berukuran 5/7 cm. Pada papan bouwplank ini
harus dicatat sumbu-sumbu dinding, kolom dengan cat yang tidak luntur oleh pengaruh
iklim.
Garis bouwplank
Garis Konstruksi
2,5 m
2, 5 m
Gambar. Sketsa Tampak Atas Pemasangan Bouwplank
Metodologi Pelaksanaan 10
Bouwplank dipasang sejarak 2,5 m dari garis konstruksi terluar yang terukur, untuk
menghindari jika dalam pekerjaan penggalian ada kemungkinan terjadi kelongsoran
tanah.
PENGUKURAN HORIZONTAL
Pengukuran horizontal didasarkan baik pada sistem kontrol
garis ataupun sistem koordinat, namun bila dibutuhkan dapat
merupakan kombinasi dari kedua sistem di atas.
1. Sistem Kontrol Garis
Dalam sistem ini penentuan pengukuran didasarkan pada sistem referensi garis.
Dalam hal ini biasanya digunakan garis tengah Jembatan. Garis kontrol offset dapat pula
digunakan.
Titik –titik utama (key points) ditentukan dari pengikatan, titik-titik kontrol offset serta
pengukuran jarak langsung dan pengukuran sudut sepanjang garis referensi. garis-garis
kontrol tidak perlu harus lurus, dapat berbentuk lingkaran atau lengkungan spiral. Dalam
hal ini suatu perhitungan data-data koordinat kritis, pengikatan, landasan serta
lengkungan harus tercakup dan tertera pada gambar alinyemen.
2. Sistem Koordinat
Dalam sistem ini titik-titik utama harus ditentukan koordinatnya, untuk menentukan
posisi koordinat-koordinat tersebut di lapangan, dilakukan pengukuan jarak dari titik
kontrol hasil survei yang dihitung berdasarkan pada ordinat arah Utara Timur.
PENGUKURAN VERTIKAL
Ketinggian permukaan tanah dapat diukur dari titik Bench Mark. Bench Mrk
mengendali bangunan dapat ditempatkan pada lokal atau pada gabungan datum.
Geometri vertikal garis kontrol biasanya telah ditentukan. Data-data ini memerinci
rangkaian titik-titik tangen vertikal, ketinggian dan kemiringan permukaan akhir.
Pengukuran lengkung vertikal sering diabaikan jika lengkungan vertikal normal dan
dikurangi dengan ketinggian yang diukur pada interval pendek sepanjang garis-garis
rencana.
TITIK KONTROL SURVEY
Suatu jaringan titik kontrol survei ditentukan untuk mencakup seluruh daerah proyek, dan
ditempatkan pada posisi yang tepat di dalam lokasi pekerjaan konstruksi. Jarak antara
titik-titik kontrol dianjurkan kira-kira 50 meter. Untuk itu letak titik-titik kontrol tersebut
harus selalu dicek secara teratur.
GALIAN TANAHPONDASI
Galian Tanah untuk pondasi harus sesuai dengan ukuran dalam gambar atau sampai
pada tanah keras. Untuk meningkatkan daya dukung tanah sebagai landasan, maka
permukaan penggalian dipadatkan dahulu dengan Stamper untuk memperoleh kepadatan
yang optimal, pemadatan dilaksanakan layer perlayer untuk masing-masing lapisan
dengan ketebalan @ 20 cm. Apabila galian melampaui batas kedalaman, maka penyedia
jasa akan menimbun kembali dan memadatkan sampai kepadatan maksimum.
Metodologi Pelaksanaan 11
START
Persetujuan untuk
Mulai pekerjaan
Pengecekan Pengamanan Pemeriksaan
Tanah dasar penggalian berkala
Ditolak
Check
Ditolak
Disetujui
Rencana kerja
Prosedur umum
Ditolak
Pelaksanaan
penggalian
Persetujuan
Check Direksi Teknik
Disetujui
Permohonan
Pemeriksaan
Penggalian untuk
Buangan material
Ditolak
Check
Instruksi untuk
kontraktor
Disetujui
Perbaikan
pekerjaan
Pembuangan
Material galian
Perapihan
Buangan Hasil
Galian
Pemeriksaan hasil
pekerjaan
Penyelesaian dan
Penyempurnaan
Pekerjaan
sementara
Pengesahan
volume
Pembayaran
Diagram Alir Pekerjaan Galian Tanah
URUGAN TANAH KEMBALI
Pekerjaan ini terdiri dari pengangkutan, penempatan dan pemadatan tanah atau
bahan berbatu pada pekerjaan konstruksi dengan material yang disetujui oleh Direksi dan
memenuhi standar spesifikasi bahan urugan.
Urugan pilihan digunakan untuk kondisi tanah lunak seperti rawa, tanah payau atau
tanah yang selalu terendam air dimana diperlukan suatu bahan urugan dengan plastisitas
rendah ( bahan berbutir ) dan juga digunakan pada stabilitas tanggul, talud yang terjal
atau tanah dasar yang harus ditimbun sampai ketinggian dan pemadatan tertentu.
Metodologi Pelaksanaan 12
URUGAN PASIR BAWAH LANTAI
Uruganpasirbawahlantaiharusdilaksanakandengantebalsesuaigambar dan
bersihdariakar-akar dan kotoranlainnya.
PEKERJAAN PONDASI BATU KALI
Pasangan Aanstamping setebal 15 cm ditimbris pasir atau batu pecah hingga kokoh
dan Pasangan Pondasi Lajur Batu Belah 1 : 5.Material batu kali/batu pecah yang keras,
bermutu baik, tidak cacat dan tidak retak. Batu kapur, batu berpenampang bulat atau
berpori besar dan terbungkus Lumpur tidak diperkenankan dipakai.
Adukan yang dipakai untuk pasangan pondasi adalah 1pc : 5ps untuk bagian bawah
pondasi, sedangkan untuk bagian atas ( trastram) setinggi 30 cm digunakan adukan 1pc :
3ps.Air yang digunakan harus bersih, tawar, dan bebas dari bahan kimia, yang dapat
merusak pondasi seperti asam alkali atau bahan organik.Pasir pasang harus bersih,
tajam, bebas Lumpur, tanah liat tidak mengandung kotoran organik dan bahan yang dapat
merusak pondasi, untuk itu pasir yang akan digunakan terlebih dahulu dibersihkan dan
diayak lewat ayakan berlubang 2 mm.
1 2 3
Setelah penggalian Kemudian Selanjutnya
selanjutnya dilakukan dilanjutkan dengan Pemasangan
pekerjaan urugan pemasangan batu Pondasi batu kali
pasir urug kosong / dilakukan, dengan
dipadatkan dengan aanstamping sebagai adukan 1 : 5, sesuai
menggunakan landasan untuk dengan gambar
STAMPER , hal ini beban pondasi lajur, rencana seperti
dilakukan sebagai harus diperhatikan telihat pada gambar
pemerata beban agar celah-celah 3 diatas.
antara batu kali
selalu berselang
PEKERJAAN BETON NON STRUKTUR / LANTAI KERJA
seling.
Lantai kerja atau yang disebut Lean Concrete merupakan lapisan landasan di atas
permukaan tanah biasanya setelah lapisan pasir berfungsi untuk menjaga agar tidak
terjadi hubungan permukaan langsung antara beton struktur dengan permukaan landasan
tanah. Mutu beton yang dipakai di dalam spesifikasi pekerjaan ini adalah Beton Rabat
mutu B0.
Lantai kerja ini dikerjakan pada setiap pekerjaan beton struktur terutama pada
struktur Pondasi dan Abutmen. Ketebalan lapisan adalah 7 – 10 cm, sesuai dengan
kondisi tanah yang ada, adukan yang dipakai adlah campuran 1 pc : 3 ps : 5 kr.
Metodologi Pelaksanaan 13
PEKERJAAN BETON STRUKTUR
1. PERSIAPAN PENGECORAN
Evaluasi dan Pengendalian Mutu Material Besi dan Beton
Jauh sebelum pelaksanaan pengecoran beton struktur akan dimulai, terlebih dahulu
Pelaksana (Kontraktor) mempersiapkan sample material yang akan digunakan ke depan.
Sample material dipersiapkan dan disampaikan kepada pihak Balai Pengujian Material
Beton untuk dievaluasi, sehingga akan diperoleh komposisi campuran material yang
relevan sesuai dengan Mutu Beton yang akan digunakan, sebagai acuan kerja di
lapangan.
Disamping itu Pengendalian dan bentuk pengawasan pelaksanaan proses pencampuran
di lapangan jika dilakukan secara manual /tersendiri / Privasi (Site Job Mix Design) maka
dilakukan pengawasan yang ketat terhadap semua pekerjaan. Atau sebelumnya para
tenaga pekerja dan operator diberikan pengarahan terlebih dahulu. Kecuali Mix Design
dilakukan oleh Pihak tertentu yang telah dipercaya.
Sementara Untuk mengetahui mutu besi yang akan digunakan harus mendapat
sertifikat Uji Mutu besi sesuai dengan ketentuan Direksi. Sehingga jika besi yang akan
digunakan tidak memenuhi ketentuan spesifikasi maka akan ditolak secara tegas.
Sebelum memulai pengadukan dan pengecoran beton, beberapa hal yang harus
diperhatikan dan dipersiapkan terlebih dahulu yaitu mengenai :
1. Baja tulangan sudah dipasang dengan betul sesuai dengan ketentuan gambar
teknis dari pihak Direksi yaitu U – 24 dan besi U - 39. dengan standar Indonesia
untuk beton NI – 2, PBI – 1971 atau standar lain seperti JIS, ASTM atau BS.
2. Cetakan telah dibersihkan dari kotoran-kotoran dan telah disiram dengan air.
Cetakan tersebut terbuat dari papan albasiah dengan ketebalan 30 mm diperkuat
dengan rangka kayu aslbasiah dengan ukuran 5/7, 5/10 dan sebagainya.
Sehingga memiliki kekuatan dan kekakuan yang sempurna. Hal ini sangat penting
agar bentuk beton sesuai dengan perencanaan.
3. Untuk Semen, standar yang digunakan sesuai dengan peraturan semen portland
indonesia NI – 8 atau ASTM C-150 type I, atau S1 10013-81 atau ekivalen. Mutu
semen yang memenuhi syarat dan dapat dipakai adalah semen TigaRoda atau
yang setaraf NI – 8. Pemilihan salah satu merek semen adalah mengikat dan
dipakai untuk seluruh pekerjaan.
4. Pasir yang digunakan harus bersih dan bebas dari gumpalan – gumpalan kecil dan
lunak dari tanah liat, mika dan hal – hal yang merugikan dari substansi yang
merusak. Jumlah Prosentase dari segala macam – macam substansi yang
merugikan, beratnya tidak boleh lebihdari 5% berat semen. Pasir harus
mempunyai modulus kehalusan butir antara 2-32 atau jika diselidiki dengan
standar Indonesia untuk beton ( PBI-1971), adalah sebagai berikut : Jika
persentase satuan tertinggi dalam saringan no 16 adalah 20 % atau kurang, maka
batas maksimum intuk presentase satuan dalam saringan no. 8 dapat naik sampai
20 %.
5. Agregat Kasar ( Kerikil ) harus didapat dari sumber yang telah disetujui. Agrgat
tersebut berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecah betu dengan bentuk
kasar dan padat. Standar yang digunakan sesuai NI – 2, PBI – 1971.
6. Air yang digunakan untuk senua pekerjaan beton, spesimortel dan spesi injeksi
adalah air yang bebas dari lumpur, minyak asam, bahan organik, garam dan
kotoran lainya dalam jumlah yang dapat merusak. Air tersebut harus lolos uji
dengan ketentuan yang terdapat dalam PBI – 1971.
Metodologi Pelaksanaan 14
7. Alat-alat pengaduk, pengangkut, pemadat, pelinding terhadap pengaruh cuaca
dan alat pembantu lainnya sudah tersedia.
8. Pekerja-pekerja dan pengawas sudah dipersiapkan dengan matang.
Pengadukan beton dengan tangan harus dilakukan diatas bak pencampur dengan
dasar lantai dari papan kayu atau dari pasangan yang diplester, supaya kotoran-kotoran
tanah tidak mudah tercampur dan air pencampur tidak mudah keluar. Pengadukan beton
dengan jumlah besar, sebaiknya dilakukan dibawah atap, supaya dapat terlindung
terhadap panas matahari dan hujan. Pengadukan cara ini biasanya selalu denagan
perbandingan volume. Supaya adukan dapat baik, harus dibuat kotak-kotak takaran yang
sama volumenya atau denagn ember-ember yang harus sama volumenya. Pasir yang
sudah ditakar dituangkan dahulu diatas bak pencampur, kemudian semennya, dan kedua
bahan itudiaduk dengan cangkul atau sekop menjadi suatu warna yang merata. Setelah
itu krikil atu batu pecah dituangkan diatas campuran semen dan pasir dan diaduk lagi
dengan cangkul atau sekop, kemudian dituang air menurut kebutuhan dan diaduk-aduk
lagi hingga menjadi suatu adukan beton yang warnanya merata sama.
Pengadukan beton dengan mesin pengaduk beton ( beton molen ) akan
mendapatkan adukan beton lebih rata dan sempurna.
Pengadukan beton disyaratkan sebagi berikut :
Pengadukan beton pada semua mutu beton, kecuali mutu Bo, harus dilakukan
dengan mesin pengaduk. Mesin pengaduk untuk membuat beton kelas III harus
diperlengkapi dengan alat-alat yang dapat mengukur dengan tepat jumlah air pencampur
yang dimasukkkan ke dalam teromol pengaduk. Jenis mesin pengaduk dan jenis
timbangan-timbangan atau takaran-takaran semen dan agregat harus disetujui terlebih
dahulu oleh Pengawas Ahli sebelum dapat dipakai.
Selama pengadukan berlangsung, kekentalan adukan beton harus diawasi terus
menerus oleh tenaga-tenaga pengawas yang ahli dengan jalan memeriksa slump pada
setiap campuran beton yang baru. Besarnya slump dijadikan petunjuk apakah jumlah air
pencampur yang dimasukkan kedalam teromol pengaduk adalah cukup tepat atau perlu
dikoreksi dalam hubungannya dengan factor air semen yang diinginkan.
Waktu pengadukan bergantung pada kapasitas drum pengaduk, banyaknya adukan
yang diaduk, jenis dan susunan butir dari agregat yang dipakai dan slump dari betonnya,
akan tetapi pada umumnya harus diambil paling sedikit 1,5 menit setelah semua bahan-
bahan dimasukkan ke dalam teromol pengaduk. Setelah selesai pengadukan, adukan
beton harus memperlihatkan susunan warna yang merata.
Apabila karena sesuatu hal adukan beton tidak memenuhi syarat minimal, misalnya
terlalu encer karena kesalahan dalam pemberian jumlah air pencampur atau sudah
mengeras sebagian atau yang tercampur dengan bahan-bahan asing, maka adukan ini
tidak boleh dipakai dan harus disingkirkan dari tempat pelaksanaan.
Dapat juga pengadukan beton dikerjakan di pabrik yang disebut dengan beton pabrik
( ready mixed concrete ) . Beton pabrik ialah pengadukan beton yang dikerjakan di pabrik
khusus, tidak dikerjakan ditempat pekerjaan, kemudian adukan beton tersebut diangkut
denagan mobl-mobil pengangkut khusus ke tempat-tempat pekerjaan untuk dicorkan.
Pengangkutan adukan beton disyaratkan sebagai berikut :
Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ke tempat pengecoran harus
dilakukan dengan cara-cara dengan mana dapat dicegah pemisahan dan kehilangan
bahan-bahan.
Cara pengangkutan adukan beton harus lancar sehingga tidak terjadi perbedaan
waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan yang akan dicor.
Memindahkan adukan beton dari tempat pengadukan ke tempat pengecoran dengan
perantaraan talang-talang miring hanya dapt dilakukan setelah disetujui oleh Pengawas
Ahli. Dalam hal ini, Pengawas Ahli mempertimbangkan persetujuan penggunaan talang
miring ini, setelah mempelajari usul dari pelakanaan mengenai konstruksi, kemiringan dan
panjang talang itu.
Metodologi Pelaksanaan 15
Adukan beton pada umumnya sudah harus dicor dalam waktu 1 jam setelah
pengadukan dengan air dimulai. Jangka waktu tersebut dapat diperpanjang sampai 2 jam,
apabila adukan beton digerakkan kontinyu secara mekanis.
Apabila diperlukan jangka waktu yang lebih panjang lagi, maka harus dipakai bahan-
bahan penghambat pengikatan yang berupa bahan campuran tambahan.
Untuk bagian konstruksi yang dikehendakikedap air pada daerah basah, minimal
harus memakai adukan 1 pc : 1.5 ps : 2.5 kr tanpa mengurangi persyaratan mutu beton K
225. bagian – bagian ini harus dilaksanakan trus menerus tanpa putus sampai meliputi 1
bagian penuh.
2. PEKERJAAN CETAKAN ( ACUAN ) BETON DAN PERANCAH
Acuan berupa suatu konstruksi yang di dalamnya beton muda akan dicor. Acuan
harus dibuat dari kayu atau bahan lain yang akan digunakan untuk mencetak beton segar
demikian sehingga sesudah beton itu megeras, beton akan sesuai dengan ukuran-ukuran
dan posisi seperti yang ditunjukkan di dalam gambar rencana.
Acuan atau bekisting dibuat dari kayu atau bahan yang bermutu baik yang lain cukup
untuk keperluan yang diuraikan dalam dokumen kontrak. Kayu harus memenuhi
Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PPKI – 1961) dan disetujui oleh pihak Direksi.
Bahan Acuan atau bekisting Kayu harus tersimpan ditempat yang tidak memiliki
kelembaban yang tinggi atau kering, karena berbahaya dapat merubah struktur kayu dan
menjadikan mengurangi kekuatan.
3. PENGECORAN BETON DAN SIAR PELAKSANAAN
Beton yang dicorkan itu harus dapat mengisi semua ruangan cetakan dengan padat
dan dapat membungkus semua baja tulangan. Setiap kelonggaran antara baja tulangan.
Setiap kelonggaran antara baja tulangan denga baja tulangan, kelonggaran antara sisi
tulang yang bawah dan samping dengan cetakan ( penutup beton ) harus terisi penuh
dengan adukan beton.
Selama adukan beton dicorkan itu harus ditusuk-tusuk dengan sepotong kayu, bambu
atau besi. Begitu juga bagian samping cetakan supaya dipukul-pukul dengan palu kayu.
Penusukan harus dihentikan bila bagian atas adukan beton yang dicorkan kelihtan ada
airnya. Selama Pengecoran bila terjadi buih-buih supaya dihilangkan sebelum betonnya
menjadi agak kaku, sebab buih-buih akan menyebabkan beton yang telah mengeras
berlobang-lobang kecil, sehinggga mutu betonnya akan kurang baik.
Untuk keperluan pemdatan pada pengecoran beton dapat juga dipakai alat pengetar (
vibrator ). Pemakaian alat penggetar tersebut harus hati-hati, jangan sampai mengenai
baja tulangan, hingga dapat merubah letak baja tulangan dan jarum penggetar juga tidak
boleh terlalu lama dimasukkan kedalam adukan beton, sebab pemisahan antara pasta
seme dengan pasir dan kerikil akan terjadi.
Untuk pengecoran lantai yang luas, untuk menentukan tebal lantai dibuatkan mistar-
mistar pengukur dibuat dari kayu dan diberi kaki. Bagian bawah misrtar pengukur dibuat
rata dan tingginya sama denga tebal lantai yang dicor.
Pada waktu pengecoran telah mencapai tebalnya, mistar pengukur dapat dipindah
tempatnya dan lobang-lobang bekas kaki kita cor dengan beton sampai padat.
Pengecoran untuk suatu bagian dari konstruksi, misalnya lantai dengan balok pada
suatu tingkat, secepat mungkin dilaksanakan terus menerus sampai selesai. Bila hal
tersebut tidak mungkin, pengecoran dapat dilakukan tempat-tempat tertentu yang tidak
membahyakan. Jadi harus direncanakan pemberhentian untuk setiap waktu. Bila belum
sampai pada tempat pemberhentian terjadi hujan maka pengecoran harus dilanjutkan
dengan melindungi tempat yang dicor dengan penutup tenda atau bahan lain yang dapat
melindungi bercampurnya air hujan dengan adukan beton. Begitu juga pengadukan beton
Metodologi Pelaksanaan 16
yang diangkut dari mesin pengaduk beton sampai tempat pengecoran harus dilindungi
terhadap bercampurnya dengan air hujan.
Pengecoran dan pemadatan disyaratkan sebagai berikut :
Beton harus dicor sedekat-dekatnya ketujuannyayang terakhir untuk mencegah
pemisahan bahan-bahan akibat pemindahan adukan didalam cetakan.
Sejak pengecoran dimulai, pekerjaan ini harus dilanjutkan tanpa berhenti sampai
mencapai siar-siar pelaksanaan yang telah ditetapkan.
Untuk mencegah timbulnya rongga-rongga kosong dan sarang-sarang krikil, adukan
beton harus dipadatkan selama pengecoran. Pemadatan ini dapat dilakukan dengan
menumbuk-numbuk adukan atau dengan memukul-mukul cetakan , tetapi dianjurkan
untuk senantiasa menggunakan alat-alat pemadat mekanik ( alat penggetar / Concrete
Vibrator ). Pada pembuatan beton kelas klas III ke atas penggunaan alat-alat penggetar
ini adalah diwajibkan. Dalam hal digunakan alat penggetar, maka beton harus sedemikian
plastisnya, hingga slump tidak lebih dari 12,5 cm.
Dalam hal pemadatan beton dilakkan dengan alat-alat penggetar, juga harus
diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Pada umumnya jarum getar harus dimasukkan kedalam adukan kira-kira vertical, tetapi
dalam keadaaan-keadaan khusus boleh miring sampai 45.-derajat.
Selama penggetaran, jarum tidak boleh digerakan kearah horizontal, karena hal ini akan
menyebabkan pemisahan bahan-bahan.
Harus dijaga agar jarum tidak megenai cetakan atau bagian beton yang sudah mulai
mengeras. Karena itu jarum tidak boleh dipasang lebih dekat dari 5 cm dari cetakan atau
dari beton yang sudah mengeras. Juga harus diusahakan agar tulangan tidak terkena
oleh jarum, agar tulangan tidak terlepas dari betonnya dan getaran-getaran tidak
merambat ke bagian-bagian lain dimana betonnya sudah mengeras.
Lapisan yang digetarkan tidak boleh lebih tebal dari panjang jarum dan pada
umumnya tidak boleh lebih tebal dari 30 @ 50 cm. Berhubungan dengan itu, maka
pengecoran bagian-bagian konstruksi yang sangattebal harus dilakukan lapis demi lapis,
sehingga tiap-tiap lapis dapt dipadatkan dengan baik.
Jarum penggetar harus ditarik dari adukan beton apabila adukan mulai nampak
mengkilap sekitar jarum ( air semen mulai memisahkan diri dari agregat ), yang pada
umumnya tercapai setelah maksimum 30 detik. Penarikan jarum ini tidak boleh dilakukan
terlalu cepat, agar rongga bekas jarum dapat diisi lagi dengan adukan.
Jarak antara pemasukan jarum harus dipilih sedemikian rupa, hingga daerah-daerah
pengaruhnya saling menutupi.
Suhu beton sewaktu dituang tidak boleh lebih dari 32 derajat dan tidak boleh kurang
dari 4,5 derajat celcius
1. Pemberhentian tempat pengecoran beton disebut dengan siar pelaksanaan.
2. Seperti telah diterangkan diatas bahwa siar pelaksanaan harus diberhentikan
pada tempat-tempat yang tidak membahayakan.
Tempat siar pelaksanaan ini dalam praktek ada bermacam-macam
pandangan :
a. Pada pengecoran kolom, siar pelaksanaan diadakan dibawah balok.
b. Pada pengecoran pelat, siar pelaksanaan diadakan :
- di tempat-tempat, di mana momen-momennya kira-kira sama dengan 0.
- Di tempat-tempat di mana gaya lintangnya kira-kira sam dengan 0 atau
biasanya ditengah-tengah bentangan balok.
Pada pengecoran pelat, siarpelaksanaan diadakan:
- Di atas tepi balok, atau
- Di tempat-tempat di mana momen-momennya kira-kira sama dengan 0, yang
biasanya berada kira-kira 1/5 dari jarak bentan, .atau
- Di tempat-tempat di mana gaya-gaya lintangnya kira-kira sama dengan 0,
biasanya berada di tengah-tengah bentangan.
Metodologi Pelaksanaan 17
- Pada pelat yang hanya mempunyai tulangan pokok dalam satu arah dapat di
mana saja, asal garis siar pelaksanaan sejajar dengan tulangan pokok.
Pada waktu akan meneruskan pengecoran beton, penyambungan pada siar
pelaksanaan dapat dilaksanakan sebagai berikut :
Bidang-bidang yang akan disambung dibersihkan, krikil-krikil yang akan lepas dilepas
sama sekali dan disiram dengan air sampai kenyang.
Kemudian mortel semen dan pasir yang sama dengan perbandingan semen dan
spasi pada adukan beton dilapiskan yang tipis saja pada bidang sambungan.Setelah itu
adukan beton yang baru dapat dicorkan untuk menyambung.
Tempat siar pelaksanaan dapat ditentukan sebagai berikut:
Siar-siar pelaksanaan harus ditempatkan dan dibuat sedemikian rupa hingga tidak
banyak mengurangi konstruksi. Apabila tempat siar-siar pelaksanaan tidak ditunjukkan
dalam gambar-gambar rencana, maka tempat siar-siar pelaksanaan itu harus disetujui
oleh Pengawas Ahli. Penyimpangan tempat-tempat siar pelaksanaan dari pada yang
ditunjukkan dalam gambara rencana harus disetujui oleh Pengawas Ahli.
Antara pengecoran balok atau plat dan pengakhiran pengecoran kolom harus ada
waktu antara yang cukup, untuk memberi kesempatan kepada beton dari kolom untuk
mengeras. Balok, pertebalan miring dari balok dan kepala-kepala kolom untuk harus
dianggap sebagai bagian dari sistim lantai dan harus dicor secara monolit ( utuh
sempurna ) dengan itu.
Pada plat dan balok siar-siar pelaksanaan harus ditempatkan kira-kira ditengah-
tengah bentangnya, dimana pengaruh gaya melintang sudah banyak berkurang. Apabila
pada balok di tengah-tengah bentangnya, dimana pengaruh gaya melintang sudah
banyak berkurang. Apabila pada balok di tengah-tengah bentangnya terdapat pertemuan
atau persilangan dengan balok lain, maka siar pelaksanaan ditempatkan sejauh 2 kali
lebar balok dari petemuan atau persilangan itu.
Target Kualitas Pekerjaan Pengecoran Beton :
1. Warna beton sama
2. Sisi Sudut yang membentuk siku dan tidak geripis
3. Tidak terjadi kekeroposan akibat mortar tidak terisi secara merata
4. Bekisting tertanam/terpasang kuat sehingga tidak terjadi lendutan-
lendutan ke arah horizontal yang mengakibatkan struktur memiliki
permukaan yang cembung.
5. Posisi Struktur tegak lurus terhadap sumbu acuan horizontal.
Sebelum melaksanakan pengecoran lebih lanjut, maka dilakukan Test Slump
Beton dengan menggunakan Slump Tester (kerucut Abraham). Ketentuan Nilai Slump
di lapangan ditentukan oleh Pihak Direksi Sesuai kondisi struktur beton yang akan
digunakan.
Setelah dilakukan Test Slump Mortar dan nilai Slump tersebut memenuhi Mortar tersebut
dimasukkan ke dalam Kubus Beton dengan ukuran 15 x 15 cm untuk pembuatan sample
beton untuk Uji Kubus Beton. Kubus Beton dibuat paling sedikit 20 sample yang dapat
mewakili untuk masing-masing Mix Design. Pembuatan Kubus Beton ini bertujuan untuk
mengetahui kembali kekuatan beton tersebut di lapangan sesuai dengan Job Mix
sebelumnya direkomendasikan untuk komposisi campuran masing-masing material.
Sementara pada saat pelaksanaan pengecoran untuk mendapatkan hasil pekerjaan
pengecoran yang merata maka dilakukan penggetaran atau pemadatan mortar dengan
menggunakan alat Concrete Vibrator secara kontinyu dan tidak acak sehingga mortar
berpenetrasi dan mengisi rongga-rongga yang kosong.
Jika Pengecoran dilaksanakan di areal terbuka sehingga mortar muda terkena
langsung sinar matahari, sangat tidak diperkenankan karena akan memperngaruhi
Metodologi Pelaksanaan 18
pada saat pengeringan awal, yang menimbulkan pelepasan air awal secara cepat,
dan ini akan mengurangi kekuatan struktur beton untuk jangka waktu tertentu.
Tahapan pengecoran meliputi :
1. Pembersihan Lokasi
2. Pasang Besi Kolom
3. Pasang Bekisting Kolom
4. Pasang Pipe Suport
5. Inspeksi Terakhir
6. Pengecoran
7. Pembongkaran Bekisting (atas rekomendasi pihak Direksi)
8. Perawatan Beton ( masa Curing ) dilakukan dengan cara memberikan air
pelembab jika terkena langsung sinar matahari pada waktu pengeringan, atau
ditutup dengan penutup dapat dari karung goni yang telah dibasahi dengan air.
Hal ini bertujuan untuk memberikan kelembaban terhadap struktur beton yang
masih berumur muda (untuk menstabilkan waktu pengikatan awal).
Gambar Ilustrasi Sketsa Pelaksanaan Pengecoran
4. PENGUJIAN DARI KONSTRUKSI BETON DAN BENDA – BENDA UJI BETON
Pengujian beton yang dilaksanakan adalah pengujian kerucut slump,
selinder, dan kubus. Untuk pengujian kerucut slump, tidak boleh kurang dari 8 cm
dan tidak boleh lebih dari 12 cm untuk segala pengerjaan beton. Pengujian harus
sesuai dengan NI – 2 PBI – 1991. Kekuatan tekan beton diuji dengan selinder
berukuran 15 x 15 x 15 cm atau kubus 20 x 20 x 20. cara pembuatan, pengujian
dan jumlah sampel harus sesuai dengan NI – 2 PBI – 1971. senua pengetesa
Metodologi Pelaksanaan 19
tersebut dilakukan oleh direksi, dan direksi berhak untuk menuntut nilai
menghasilkan beton berkualitas lebih tinggi.
5. PERAWATAN BETON SEHABIS DICOR ( MASA CURING )
Setelah dicor, beton dalam waktu pengikatan dan pengerasan harus mendapat
perawatan baik, supaya mutu beton yang diharapkan dapat tercapai. Selama 24 jam
sesudah selesai dicor, beton yang dilindungi terhadap pengaruh hujan lebat, air mengalir,
getaran. Selama 2 minggu setelah dicor harus dilindungi dari panas matahari secara
langsung, jika tidak tetap basah karena keadaan alam, beton harus selalu dibasahi. Untuk
melindungi dari panas matahari secara langsung dan untuk membasahi selama dua
minggu terus-menerus dapat dikerjakan dengan karung-karung basah. Bila pasir atau
karung kelihatan akan kering, maka harus disiram air lagi.
Seperti telah diterangkan bahwa air untuk perawatan beton juga harus air bersih, jadi
paling baik adalah air minum.
Cara perawatan beton sehabis dicor adalah sebagai berikut :
Untuk mencegah pengeringan bidang-bidang beton selama paling sedikit 2 minggu
beton harus dibasahi terus menerus, antara lain dengan menutupinya dengan karung
basah.
Pada plat-plat atap pembasahan terus-menerus ini harus dilakukan dengan
merendamnya (menggenanginya) dengan air. Pada hari pertama setelah selesai
pengecoran, proses pengerasan tidak boleh diganggu.
Sangat dilarang untuk mempergunakan bahan-bahan atau sebagi jalan untuk
mengangkut bahan-bahan berat.
Perawatan dengan uap bertekanan tinggi, uap bertekanan udara luar, pemanasan atau
proses-proses lain untuk mempersingkat waktu untuk pengerasan dapat juga dipakai
dengan persetujuan terlebih dahulu oleh Pengawas Ahli.
6. PEMBONGKARAN CETAKAN DAN ACUAN
Cetakan dan acuan beton baru boleh dibongkar setelah betonnya cukup kuat. Yang
dimaksud beton cukup kuat ialah apabila sudah dapat menahan berat sendiri dan beban-
beban yang akan bekerja pada konstruksi beton bertulang tersebut.
Pada saat membongkar cetakan dan acuan harus berhati-hati, jangan sampai
menimbulkan kerusakan pada beton. Misalnya pada pembongkaran bagi tiang acuan di
tempat momen positif jangan sampai menimbulkan banyak gaya ke atas tengah plat yang
tidak diperhitungkan sehingga dapat merusak beton. Pada pembongkaran tiang acuan
pada plat yang terjepit pada 4 sisinya harus dari tiang-tiang acuan plat tengah (di dalam).
Sesudah tiang-tiang acuan baloknya dibongkar juga dari tengah tepi.
Untuk memudahkan pelaksanaan waktu prmbongkaran cetakan dan acuan, yang
dapat dilaksanakan oleh semua pelaksana pekerjaan beton bertulang, pada umumnya
dapat diambil waktu sebagai berikut :
Untuk cetakan bidang samping plat, balok, dan dinding, 3 hari sesudah beton selesai
dicor.
Untuk cetakan di bawah plat yang bentangnya kurang dari 3 m, 1 minggu sesudah
dicor.
Untuk cetakan dan acuan lainnya 3 minggu, setelah beton selesai dicor.
Cara pembongkaran cetakan dan acuan adalah sebagai berikut :
Metodologi Pelaksanaan 20
Cetakan dan acuan hanya boleh dibongkar apabila bagian konstruksi tersebut dengan
sistem cetakan dan acuan yang masih ada telah mencapai kekuatan yang sukup untuk
memikul berat sendiri dan beban-beban pelaksanaan yang bekerja padanya. Kekuatan
ini harus ditunjukkan dengan hasil pemeriksaan benda uji dan dengan perhitungan-
perhitungan. Pengawas Ahli baru memberikan persetujuan cetakan dan acuan setelah
ia memeriksa hasil-hasil pemeriksaan benda uji dan perhitungan-perhitungan tersebut.
Apabila pembongkaran cetakan dan acuan tidak dibuat benda-benda uji seperti yang
lain, cetakan dan acuan baru boleh dibongkar setelah beton berumur 3 minggu.
Apabila dalam hal ini ada jaminan bahwa setelah cetakan dan acuan dibongkar, beban
yang bekerja pada bagian konstruksi itu tidak melampaui 50% dari beban rencana
total, maka pembongkaran cetakan dan acuan itu dapat dilakukan setelah beton
berumur 2 minggu. Jika tidak ditentukan lain, cetakan samping dari balok, kolom dan
dinding boleh dibongkar setelah 3 hari.
Pada bagian-bagian konstruksi dimana akibat pembongkaran cetakan dan acuan akan
bekerja beban-beban yang lebih tinggi daripada beban rencan dan/atau akan terjadi
keadaaan yang lebih berbahaya daripada keadaan yang diperhitungkan, maka cetakan
dan acuan dari bagian-bagian konstruksi tidak boleh dibongkar selama keadaan
tersebut tetap berlangsung. Pembongkaran cetakan dan acuan dari konstruksi-
konstruksi yang berlangsung akan memikul praktis seluruh beban rencana.
Cetakan-cetakan balok dapt dibongkar setelah dari semua kolom-kolom penyangga telah
dibongkar cetakannya dan dari penglihatan ternyata baik pembetonannya.
PEKERJAAN KONSTRUKSI BAJA IWF
Metode Pemasangan Rangka Struktur BAJA harus dilakukan denganketentuan sebagai
berikut :
1. Pemasangan angkur dan support harus dilakukan pada posisi dan elevasi yang
benar.
2. Sebelum dimulai pemasangan space frame, diperiksa sekali lagi posisi support untuk
memastikan jarak antar support dan Elevasi sudah benar.
3. Methode pemasangan harus mengikuti method dari pabrik Baja / Workshop yang
sudah dibuat. Kalau ada perubahan method pemasangan, harus dibicarakan dengan
pihak Pengawas
4. Semua Baja harus terpasang pada posisi akhir yang benar, dengan bantuan
scaffolding atau mini tower sebagai penahan sementara pada saat pemasangan.
5. Semua baja terpasang lurus, sesuai posisi dan elevasinya.
6. Pada saat melaksanakan partial pemasangan / pengangkatan pakai crane, harus
diperhatikan kemungkinan terjadinya moment atau tegangan yang tidak terduga, hal
ini harus diperhitungkan atau dicegah.
Metodologi Pelaksanaan 21
7. Jika diperlukan, dipakai member sementara sebagai penahan untuk membuat truss
yang sedang diangkat tetap stabil.
8. Pengencangan baut harus dilakukan dengan benar, sehingga baut masuk sesuai
dengan rencana dan tidak terjadi celah pada pertemuan
PEKERJAAN PASANGAN DINDING BATA DAN PLESTERAN
A. PASANGAN BATU BATA
Terlebih dahulu pilih batu bata yang berkualitas baik.
Bouwplank dipasang dengan memasang benang-benang yang diikatkan pada
kaso 5/7 yang terpasang di batas konstruksi. Pemasangan benang dimaksudkan
agar pemasangan bata teratur dan rapi.
Ukur dengan waterpass agar jarak benang dari titik yang satu ke titik berikutnya
terpasang lurus.
Berikan jarak antar benang kira-kira 5 bata.
Setelah bouwplank terpasang, Batu Bata dipilih dan direndam terlebih dahulu ke
dalam air sebelum dipasang dengan spesi 1 pc : 5 ps. Dan 1 pc : 3 ps
pemasangan batu bata di dekat rencana pemasangan kolom praktis karena akan
dipasang angkur besi kolom untuk memperkuat pasangan batu bata sehingga
pasangan dinding bata tidak retak.
Sesuai pemasangan batu bata dengan rencana pengecoran, max. Tinggi 120 m’.
Air Kerja
Bata t = 5 cm
Kaso 5/7
Bata t = 5 cm Tulangan Besi
Adukan
Rencana Pengecoran
Kolom
Tarikan Benang
108 cm
Angkur Beton
Sloof Beton
15 cm
B. PLESTERAN DAN ACIAN
Siram permukaan dinding bata yang akan diplester dengan air
Tempelkan Adukan Halus 1 : 3 atau 1 : 5 Sesuai dengan spek yang dibuat Dereksi/
Konsultan Pengawas, pada dinding bata yang telah disiram dengan air
Ratakan dengan menggunakan mistar Allumunium
Metodologi Pelaksanaan 22
Haluskan permukaan plesteran dengan menggosokan kertas kantong semen /
amplas
Diamkan minimal selama 7 hari
Siram permukaan plesteran yang akan di aci dengan air
Tempelkan Acian Semen pada permukaan plesteran yang telah di siram air
Haluskan dengan menggunakan kape
Penyelesaian akhir pekerjaan acian dengan digosok menggunakan kertas kantong
semen
PEKERJAAN PASANGAN KUSEN PINTU DAN BOUVENLIGHT
A. PEKERJAAN KUSEN
a. Check sudah betulkah ukuran tinggi & lebar (Dimensi) daun pintu / jendela dan
dimensi bahannya
b. Apakah terdapat cacat bahan atau cacat pengerjaan
c. Apakah detail sambungan telah sesuai dengan gambar rencana
d. Bagaimana bentuk daun pintu / jendela sebelum diterima
- Apakah dalam keadaan Plat ? ( BAIK)
- Apakah dalam keadaan melincang ? (TIDAK BAIK)
- Apakah dalam keadaan melengkung ? (TIDAK BAIK)
e. Check Kondisi kusen yang akan dipasangi Pintu / Daun jendela
- Apakah sudah lot / tegak lurus
- Apakah sejajar satu sama lain
- Sponing siku
f. Check Ketinggian & Perbedaan elevasi
g. Malkan daun pintu terhadap lubang kusen
h. Buat Peletakan Engsel & Kunci sesuai rencana
1. Pemasangan frame yang 2. Check sudut 90° frame
telah siap terhadap dinding
3. Pembuatan lubang untuk 4. Pemasangan baut pada
pasangan baut lubang yang telah dibuat
Metodologi Pelaksanaan 23
5. Pemasangan rangka 6. Pengisian sealent dan
jendela mortar
PEKERJAAN KONSTRUKSI ATAP
Setelah pekerjaan pengecoran kolom maka dilanjutkan dengan pembesian
ring balk, lalu dilanjutkan dengan pekerjaan bekisting pekerjaan bekisting setelah
selesai kemudian di cor.
Setelah konstruksi balok selesai, dilanjutkan dengan pemasangan rangka atap
dari besi hitam yang telah dirangkai.
PEKERJAAN PENUTUP ATAP
Bahan penutup atap menggunakan Polycarbonat. Sebelum pemasangan
Polycarbonat harus dicek kemiringan dan kerataan rangka atap sehingga di peroleh
bidang yang rata.
Metodologi Pelaksanaan 24
PEKERJAAN PEMASANGAN U DITCH
Berikut ini adalah urutan metoda Pemasangan U Ditch / Saluran U
1. Dimulai dengan melakukan pengukuran dan membuat patok ukur tetap yang
menjadi pedoman bagi pengukuran- pengukuran lanjutan.
Patok tetap ini, dibuat di luar garis bangunan yang akan dibangun agar tidak
hilang selama pelaksanaan.
2. Menggali tanah dengan ukuran lebar sama dengan lebar pondasi bagian bawah
dengan kedalaman yang disyaratkan
3. Cek posisi, lebar, kedalaman dan kerapiannya sesuai dengan rencana
4. Urug pasir di ratakan pada dasar galian dan disiram air untuk mendapatkan
kelembapan yang optimum untuk pemadatan, kemudian pasir urug dipadatkan
dengan alat stamper
5. Pasang bowplank bantu untuk membantu kelurusan pemasangan saluran precast
dan level permukaan saluran rata.
6. Pemindahan saluran precast (saluran U) kedalam galian yang telah disiapkan
sebelumnya,
Pemindahan dilakukan dengan alat bantu seperti excavator, crane, tripod, dan alat
bantulainnya.
7. Saluran U di atur kelurusan dan level permukaan salurannya dibantu dengan
menggunakan benangan bowplank.
8. Celah antara galian dan saluran precast di urug kembali dengan tanah bekas
galian, dan sisa galian yang tidak digunakan sebagai bahan urugan dibuang atau
diratakan di sekitar saluran.
Galian Tanah Pemasangan U ditch
PEKERJAAN PASANGAN PAVING BLOCK
Sebelum memasang paving block, harus menyiapkan alat kerja dan pendukung
Tentunya, setiap alat mempunyai fungsi masing-masing
Alat kerjanya di antaranya;
1. Stamper kuda;
2. Cangkul atau sekop
Metodologi Pelaksanaan 25
3. Benang patok;
4. Palu karet;
5. Kayu kaso;
6. Stamper kodong; dan
7. Alat potong paving block.
Sedangkan alat pendukungnya, yaitu sebagai berikut
1. Kanstin beton;
2. Abu batu;
3. Pasir;
4. Cat batu alam; dan
5. Pengisi nat.
Cara pemasangan :
Merapikan dan meratakan lahan pemasangan
Bersihkan lahan dari objek yang mengganggu seperti daun, rumput liar, bebatuan,
dan sampah. Gunakan cangkul untuk mengerjakannya.
Setelah itu ratakanlah lahan tersebut agar paving block menempel dengan baik
pada tempatnya. Jangan lupa perhatikan kepadatan tanah.
Apalagi kalau paving block tersebut digunakan sebagai Jalan .Maka tanah harus
kuat menahan beban kendaraan supaya tidak amblas.
Mengukur ketinggian dan kemiringan lahan
Metodologi Pelaksanaan 26
yang akan dipasang paving block disebut juga leveling. Proses ini perlu untuk
menghindari hal berikut, Struktur paving block yang bergelombang; dan Genangan
air hujan.
Jika leveling ini dilakukan secara tepat, maka air hujan akan lebih mudah meresap
kedalam tanah. Permukaan paving block pun bebas becek.
Hal berikutnya yang harus dilakukan saat pemasangan paving block adalah
Memasang kanstin.
Agar kanstin terpasang kuat, gunakan back up concrete atau beton penyokong
pada konstruksi tersebut.
Seperti namanya, beton penyokong sendiri berfungsi sebagai pembantu tugas
kanstin dalam menahan beban kendaraan.
Dengan material ini, kanstin menjadi lebih kuat dan juga tahan lama.
Mengaplikasikan sand bedding
Ada dua cara yang bisa dilakukan dalam proses sand bedding, yakni pre-
compacted dan uncompacted.
Jika kamu memilih pre-compacted, makapasir akan dipadatkan dengan stamper
plate, lalu lakukan teknik penjidaran.
Namun, bila kamu memilih uncompacted maka pasir akan langsung dijidar tanpa
dipadatkan.
Kelebihandari pre-compacted sudahjelas, dengan cara ini pasir alas paving
block menjadi lebih tebal dan padat.
Sedang kekurangannya, proses ini memakan waktu lama dan harus dikerjakan
lebih dari satu orang.
Metodologi Pelaksanaan 27
Berbeda dengan uncompacted, waktu pengerjaannya tergolong lebih cepat
namun tanah yang digunakan sebagai alas justru lebih gembur, serta perlu
perhitungan lebih saat memasang paving block
Memasang paving block
Setelah selesai melakukan sand bedding, saatnya mengaplikasikan cara
pemasangan paving block.
Pertama-tama, tempelkan masing-masing sisi paving block sesuai polanya.
Kemudian, pastikan material tersebut tersusun secara rapat, hingga tidak adalagi
celah atau jarak di antara paving block tersebut.
Untuk area tepi jalan, mungkin kamu perlu menyesuaikan ukuran dari paving
block tersebut.
Jika harus dipotong, lakukan langkah pemotongan paving block, seperti berikut
ini:
Ukur celah yang dibutuhkan untuk memasang paving block.
Potong block tersebut dengan ukuran lebih besar atau sama dengan setengah
ukuran paving block.
Pastikan kamu memotong secara benar hingga tersisa tiga sisi paving block yang
utuh.
Mengisi joint filler dan pemadatan
Terakhir, langkah pemasangan paving block secara benar adalah melakukan
pengisian joint filler serta pemadatan.
Isi pasir pada sisi-sisi paving block, kemudian lakukan pemadatan
dengan stamper plate.
Metodologi Pelaksanaan 28
Ulangi proses ini pada lintasan blok selanjutnya, pastikan paving block telah
terpasang rapi dan sempurna.
Bagaimana, cukup sederhana kan cara pemasangan paving block secara baik
dan benar?
Demikian cara pemasangan paving block .
PEKERJAAN PASANGAN EFOXY LANTAI
Mempersiapkan Permukaan
Langkah 1: Persiapkan permukaan
Aplikator Epoxy Lantai professional menjalankan prosedur persiapan substrat, ini
diperlukan untuk memastikan adhesi antara cat epoxy lantai dan substrat. Metode
yang cocok adalah pengamplasan atau grinding. Permukaan yang terkontaminasi
dengan minyak mungkin juga membutuhkan pembersihan kimia.
Persiapan permukaan sebelum aplikasi epoxy lantai
Metodologi Pelaksanaan 29
Langkah 2: Membersihkan lantai dari debu
Gunakan vakum industry untuk membersihkan lantai dari debu. Lantai harus
dibersihkan dari semua debu dan residu sebelum mulai pelapisan cat primer. Jika
tidak, Anda akan memiliki berbagai partikel terperangkap di dalam coating dan
adhesi akan melemah secara signifikan. Semakin sedikit debu mikro di
permukaan, semakin sedikit pula cat primer yang Anda butuhkan.
Membersihkan debu sebelum pelapisan primer
Melapis Primer dan Filling
Langkah 3: Melapis lantai dengan cat primer
Selalu pastikan untuk melapis primer lantai, jangan percaya klaim bahwa melapis
primer tidak diperlukan. Melapis primer akan membuat lantai memiliki daya tahan
lebih dan berumur lebih panjang serta memiliki adhesi yang lebih baik kesubstrat.
Cat primer akan melapis substrat dan menghilangkan risiko gelembung dan gas.
Melapis primer juga membantu mengurangi jumlah cat yang akan dibutuhkan di
tahap selanjutnya. Pastikan bahwa area tersebut berventilasi baik.
Catatan: pastikan
tidak ada retakan pada substrat, jika terdapat retakan dan lubang, lakukan
penutupan dengan epoxy mortar, atau epoxy grout.
Melapis primer
Metodologi Pelaksanaan 30
Pengaplikasian Cat Epoxy Lantai
Langkah 4: Mengaplikasi lapisan pertama cat epoxy
Lakukan pencampuran 2 komponen epoxy, yakni resin epoxy dan hardener
(pengeras). Gunakan mixer listrik dan aduk rata setidaknya selama dua menit.
Janganberhemat pada pencampuran! Langkah ini sangat penting. Pencampuran
yang burukakanmengarahke LANTAI TIDAK BAGUS
Pencampuran yang tepatdari dua komponen cat epoxy sangat penting
Langkah 5: Terapkan cat epoxy dengan roller
Gunakan roller yang berkualitas baik, karena roller berkualitas buruk dapat mudah
terlepas. Anda harus dapat melapisi kembali setelah 24 jam. Keesokan harinya
Anda mungkin memperhatikan berbagai masalah yang muncul seperti retakan,
lubang, dll. Pastikan untuk menambalnya sebelum memulai lapisan berikutnya.
Anda mungkin juga perlu mengamplas beberapa permukaan yang tidak rata yang
muncul setelah lapisan pertama. Jika perlu, tunggu hingga benar-benar kering
sebelum dilapisi kembali.
Lapisan pertama epoxy lantai
Metodologi Pelaksanaan 31
Langkah 6: Terapkan lapisan akhir
Sebelum memasang lapisan akhir, pastikansemua lubang dan retakan telah terisi,
dan tidak ada debu. Jika tidak, Anda akan mendapatkan tekstur jelek di
permukaanakhir. Ingatlah bahwa sebagian besar cat epoxy memiliki masa pakai
atau pot life sekitar 40 menit (atau bisa kurang), maka disarankan untuk
mencampurkan satu ember sekaligus dalam sekali pengaplikasian.
PEKERJAAN PENGECATAN
PENGECATAN DINDING :
1. Ratakan Permukaan Dinding dengan plamur tembok
2. Haluskan permukaan dinding tersebut dengan ampelas sampai halus
3. Pengecatan dasar dinding dengan roll cat / kuas
4. Cek permukaan dinding tersebut jika masih terdapat permukaan yang tidak rata di
ratakan dengan plamur
5. Pengecatan kedua dilakukan dan seterusnya hingga tiga kali pengecatan sesuai
dengan persyaratan yang telah ditentukan.
6. Rapihkan / Tusir bagian pinggir dinding atau plafond yang tidak rapih dengan
menggunakan kuas.
PENGECATAN KUSEN, PINTU DAN JENDELA :
1. Ratakan Permukaan dengan plamurkayu
2. Haluskan permukaan kayu tersebut dengan ampelas sampai halus dan rata.
3. Pengecatan dasar permukaan kayu dengan kuas.
4. Cek permukaan kayu tersebut jika masih terdapat permukaan yang tidak rata di
ratakan dengan plamur
5. Pengecatan kedua dilakukan dan seterusnya hingga tiga kali pengecatan sesuai
dengan persyaratan yang telah ditentukan.
Metodologi Pelaksanaan 32
PEKERJAAN ELEKTRIKAL
Pemasangan Power Cable
Pada pemasangan power cable jenis pekerjaan ini yang perlu diperhatikan
adalah pemasangan kabel
Khusus pemasangan kabel NYY didalam ruang genset akan dilaksanakan
didalam parit kabel dan diatasnya ditutup dengan plat bordes
Peralatan / alat ukur yang diperlukan pada saat testing / commissioning antara
lain :
- Megger 0 – 500 volt
- Ampere meter s/d 1000 ampere
- Voltmeter
Metodologi Pelaksanaan 33
METODE URAIAN PEKERJAAN
PENUNJANG
(TAHAPAN URUTAN PEKERJAAN DAN TATA CARA PELAKSANAAN YANG
MENGGAMBARKAN PEKERJAAN SEMENTARA YANG MEMEPENGARUHI KELANCARAN ,
ANTISIPASI CUACA DLL )
1. PENGADAAN TERPAL SEBAGAI PELINDUNG DARI DEBU
SERTA KOTORAN AKIBAT BONGKARAN
2. PEMBUATAN DIREKSI KEET GUNA PENYIMPANAN BAHAN
BAHAN MATERIAL
3. PEMBUATAN PAGAR PENGAMAN DARI SIRKULASI ORANG
KHUSUSNYA ANAK – ANAK SEKOLAH DILINGKUNGAN
REHAB GEDUNG
4. PENGADAAN SCAF POLDING UNTUK KELANCARAN
PEMASANGAN PLAFON DAN ATAP
Metodologi Pelaksanaan 34
PEMASAANGAN SCAF POLDING UNTUK KELANCARAN PEMASANGAN BANGUNAN
POSISI YANG TINGGI
PENUTUP
Dengan dilaksanakannya program sistem mutu ini kami memiliki optimisme yang tinggi
sesuai dengan segenap kemampuan kami dalam melaksanakan kegiatan pembangunan
dengan rasa penuh tanggung jawab dan moralitas yang tinggi untuk membuahkan hasil
karya yang bermutu dengan mengedepankan misi memajukan pembangunan bangsa dan
untuk kepentingan bangsa khususnya pada pelaksanaan pekerjaan akan terselenggara
dengan baik.