| Reason | |||
|---|---|---|---|
| 0011474194713000 | Rp 3,811,750,000 | Tidak hadir pembuktian kualifikasi | |
| 0012092136713000 | Rp 3,940,167,000 | - | |
| 0024550360713000 | Rp 3,752,500,000 | Surat perjanjian sewa Alat tidak ada | |
| 0807255088713000 | - | - | |
| 0032205387713000 | - | - | |
| 0015805948713000 | - | - | |
| 0901771170034000 | - | - | |
| 0027125301703000 | - | - | |
CV Chezii Jaya Mandiri | 06*5**9****11**0 | - | - |
| 0926257130711000 | - | - |
U R AI AN S I N G K AT P EK E R J AAN
KEGIATAN : PENYELENGGARAAN JALAN KABUPATEN/ KOTA
SUB KEGIATAN : REKONSTRUKSI JALAN
PEKERJAAN : REKONSTRUKSI JALAN PASIR PANJANG - KUMPAI
BATU ATAS - KUMPAI BATU BAWAH
LOKASI : KECAMATAN ARUT SELATAN
TAHUN ANGGARAN : 2023
A. UMUM
1. PENDAHULUAN
Pada setiap pembangunan proyek kostruksi jalan sebagai Penyedia
Jasa diharuskan memahami secara menyeluruh tentang bagaimana tahapan
pelaksanaan proyek yang akan dilaksanakan. Dimana setiap proyek memiliki
kondisi dan kesulitan yang berbeda-beda sehingga perlu tatacara pelaksanaan
yang berbeda pula. Sedangkan dalam kontrak kerja Penyedia Jasa diberikan
batas waktu tertentu untuk menyelesaikan proyek secara tepat waktu. Disamping
itu biaya pelaksanaan dan mutu hasil kerja turut dipertimbangkan agar tercapai
target penyelesaian yang optimal. Oleh karena itu sebagai acuan Penyedia Jasa
dalam melaksanakan pekerjaan perlu memahami tahapan metode pelaksanaan
konstruksi yang tepat dan berkesinambungan dengan mempelajari rincian volume
yang terdapat di Daftar Kuantitas Dan Harga serta Gambar Kerja yang tersedia.
2. RUANG LINGKUP KEGIATAN
Kegiatan Penyelenggaraan Jalan Kabupaten/Kota ini merupakan kegiatan
yang berada di Lingkup SKPD-DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN
RUANG Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun Anggaran 2023.
3. LINGKUP PEKERJAAN
Secara garis besar lingkup pekerjaan yang dilaksanakan dalam
pelaksanaan Pekerjaan pada Sub Kegiatan Rekonstruksi terbagi menjadi
beberapa sub item pekerjaan.
Berikut dapat dijabarkan item-item pekerjaan adalah sebagai berikut:
DIVISI 1. UMUM
1.2 Mobilisasi
Ls Papan Nama Pekerjaan
Ls Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi
(SMKK)
DIVISI 3. PEKERJAAN TANAH
3.1. (1) Galian Biasa
DIVISI 6. PERKERASAN ASPAL
6.1(2a) Lapis Perekat-Aspal Cair/Emulsi
6.3(3) Lataston Lapis Aus (HRS-Wc)
DIVISI 7. PEKERJAAN STRUKTUR
7.1 (5a) Beton struktur, fc’30 MPa
7.1 (10a) Beton, fc’10 Mpa
7.3 (1) Baja Tulangan Polos-BjTP 280
Ls Joint Sealent
Ls Cat Anti Karat
Ls Expansion Cap
Ls Plastik Sheet
Ls Curing Compound
Ls Spon Eva
B. PELAKSANAAN PEKERJAAN PENINGKATAN JALAN
1. BAGAN ALIR PEKERJAAN
S P M K P ER S I AP A N
1. Job Mix Formula
2. Material dan Penyimpanan
3. Jadwal Pelaksanaan
4. Pengukuran Lapangan (MC-0)
5. Mobilisasi Personil
Tidak Sesuai
6. Mobilisasi Peralatan
7. Mobilisasi Tenaga Kerja
Perhitungan Ulang
Pengecekan Kuantitas dan Gambar
Rencana Justifikasi Teknis
S H OP DR A WI N G Addendum
P EL A K S A N A A N
P EK ER J A A N
1. Pekerjaan Tanah
2. Pekerjaan Perkerasan Aspal
3. Pekerjaan Struktur
D O K UM E N
A D M I N I ST R A SI
1. Back Up Data Quantity
2. Back Up Data Quality
3. Asbuild Drawing
4. Foto Dokumentasi
5. Laporan Harian, Mingguan,
dan Bulanan
6. Dan Dokumen lain yang
dipersyaratkan
P H O Masa Pemeliharaan
Selesai
2. URAIAN PEKERJAAN
a. DIVISI 1. PENDAHULUAN
Pekerjaan mobilisasi atau persiapan adalah pekerjaan awal yang meliputi
kegiatankegiatan pendahuluan untuk mendukung permulaan proyek meliputi
antara lain :
1) Pembuatan Job Mix Formula
Sebelum pekerjaan utama dilaksanakan terlebih dahulu dilaksanakan
pengambilan sampel bahan dari quary yang berdekatan dengan lokasi
pekerjaan dan telah disetujui bersama pihak direksi teknis dan konsultan
pengawas teknis, diantaranya yaitu : batu, pasir, semen dan aspal dibawa
ke laboratorium Job Mix Formula/Job Mix Desain yang akan dipakai
sebagai acuan kerja dalam pelaksanaan proyek.
2) Kantor Lapangan dan Fasilitas (Direksi Keet)
Tahap berikutnya menentukan lokasi bascamp, pembuatan kantor
lapangan dan fasilitasnya dilokasi proyek dan kemudian dilanjutkan
dengan mobilisasi perlatan sesua dengan tahapan pelaksanaan
pekerjaan.
3) Pengaturan Arus Transportasi Dan Pemeliharaan Arus Lalu Lintas
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, pengaturan arus lalu lintas
transportasi dilakukan dengan pembuatan tanda-tanda lalu lintas yang
memadai disetiap kegiatan lapangan. Bila diperlukan dapat ditempatkan
petugas pemberi isyarat yang bertugas mengatur arus lalu lintas pada saat
pelaksanaan.
4) Rekayasa Lapangan
Dengan petunjuk Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas
survey/rekayasa lapangan dilaksanakan untuk menentukan kondisi fisik
dan strucktural dari pekerjaan dan fasilitas yang ada dilokasi pekerjaan,
sehingga diungkinkan untuk mengadakan peninjauan ulang terhadap
rancangan kerja yang telah diberikan system dan tatacara survey
dikordinasikan dengan direksi teknis.
5) Material dan Penyimpanan
Bahan material yang akan digunakan dalam pekerjaan harus menemui
spesifikasi dan standar yang berlaku, baik ukuran, type maupun ketentuan
lainnya sesuai petunjuk Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas. Semua
material yang akan digunakan untuk proses pembuatan Tanah Timbunan
dan bahan material yang terdapat dalam spesifikasi telah mendapat
persetujuan dari pihak Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas.
6) Jadwal Pelaksanaan
Jadwal pelaksanaan dibuat pihak kontraktor, diajukan kepada Direksi
Teknis untuk dibahas dan mendapat persetujuan pada saat dilaksanakan
rapat pendahuluan (Pre construction Meeting/PCM).
7) Pelaksanaan Mobilisasi Peralatan
Dalam pelaksanaan proyek ini mobilisasi peralatan utama meliputi:
a) Alat Bantu
b) Asphalt Finisher
c) Tandem Roller
d) Tire Roller
e) Water Tanker
8) Papan Nama Pekerjaan
a) Papan Nama ini digunakan sebagai identitas dan informasi mengenai
proyek.
b) Papan nama proyek dibuat dengan ukuran atas persetujuan Direksi
Pekerjaan.
c) Bahan yang dipakai : kayu kasau, plywood, paku, semen dan lain-lain
d) Papan mana proyek dipasang dipangkal dan ujung lokasi pekerjaan
e) Papan nama dipelihara selama pelaksanaan proyek
9) Mobilisasi Personil
Mobilisasi personil inti pada pelaksanaan pekerjaan ini meliputi
penugasan tenaga ahli maupun tenaga pendukung dan para pekerja
dalam melaksanakan pekerjaan tersebut baik dilokasi sesuai kebutuhan
yang disyaratkan dalam kontrak pelaksanaan pekerjaan
M ETO DE PE LAKS AN AAN P E KE RJ AAN
DIVISI 3.
PEKERJAAN TANAH
A. PEKERJAAN GALIAN BIASA
Pekerjaan galian biasa harus mencakup seluruh galian yang tidak diklasifikasikan
sebabagai galian batu, galian struktur, galian sumber bahan (borrow excavation),
galian perkerasan beraspal, galian perkerasan berbutir dan galian beton.
Pelaksanaan galian biasa ini prosedurnya sebagai berikut :
a) Pengukuran dan pemasangan bowplank atau penentuan kedalaman galian.
Pengukuran dilaksanakan dengan menggunakan alat ukur theodolit dengan
mempedomani hasil rekayasa yang ttelah ditentukan oleh pihak Direksi Teknis
dan Konsultan Pengawas. Pemasangan bowplank dilakukan setelah hasil dari
pengukuran disetujui ileh pihak Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas.
b) Penggalian dengan menggunakan Alat Berat
Pekerjaan penggalian dilaksanakan setelah pemasangan bowplank dalam hal ini
penentuan kedalaman galian. Tanah yang digali oleh Excavator langsung dimuat
ke Dump Truck, kemudian diangkut keluar lokasi proyek.
c) Dasar untuk perhitungan analisa dari pekerjaan ini :
Asumsi :
Menggunakan alat berat (cara mekanik)
Kapasitas kerja sesuai kapasitas alat yang disyaratkan
Kedalaman sesuai petunjuk Direksi Teknis.
Urutan kerja/Metode kerja :
Penggalian tanah dilakukan di sisi kiri dan kanan aspal eksisting guna
memasukan Lapis Pondasi Agregat Kelas B dan Lapis Pondasi Agregat
Kelas A
Tanah yang digali dikumpulkan umumnya berada disisi jalan (kiri/kanan
jalan)
Penggalian menggunakan alat berat (Excavator)
Selanjutnya material hasil galian dimasukan kedalam Dump Truck
Dump Truck membuang material hasil galian keluar lokasi proyek sejauh
1 (satu) km atau atas petunjuk Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas.
Gambar 1. Galian Pelebaran Jalan Gambar 2. Metode Galian Tanah
M ETO DE PE LAKS AN AAN P E KE RJ AAN
DIVISI 7.
PEKERJAAN STRUKTUR
A. BETON STRUKTUR, FC’30 MPA
Pekerjaan Struktur ini akan meliputi semua pengadaan material dan tenaga kerja
untuk produksi serta pelaksanaan pekerjaan beton dan beton bertulang,
termasuk uji kekuatan dan perawatannya, yang akan meliputi antara lain :
1. Material pembentukan beton
2. Pengadaan beton
3. Baja tulangan
4. Pekerjaan beton bertulang
5. Perawatan beton
6. Uji kelayakan dan kekuatan beton
Minimal dengan kuat tekan silinder fc' = 30 MPa, artinya mempunyai kuat tekan
hancur karakteristik sebesar 30 MPa pada benda uji silinder dengan diameter 150
mm dan tinggi 300 mm, saat umur beton 28 hari. Kuat tekan tersebut di atas adalah
lebih kurang setara dengan mutu beton K-350 pada NI-2, yaitu kuat tekan hancur
karakteristik sebesar 350 kg/cm2 pada benda uji kubus dengan sisi 150 mm, saat
umur beton 28 hari. Kuat tekan karakteristik adalah kuat tekan beton yang sudah
memperhitungkan adanya deviasi secara statistik pada sejumlah benda uji beton,
baik itu silinder maupun kubus, sesuai dengan SKSNI-T15-1991, atau NI-2-1971
dalam hal benda uji kubus.
Untuk mutu beton fc’ > 30 Mpa atau K350 seluruh komponen bahan beton harus
ditakar menurut berat. Untuk mutu beton fc’ < 30 MPa atau K350 diizinkan ditakar
menurut volume sesuai SNI 03-3976-1995. Bila digunakan semen kemasan dalam
zak, kuantitas penakaran harus sedemikian sehingga kuantitas semen yang
digunakan adalah setara dengan satu satuan atau kebulatan dari jumlah zak
semen. Agregat harus ditimbang beratnya secara terpisah. Ukuran setiap
penakaran tidak boleh melebihi kapasitas alat pencampur.
Pihak Kami sekurang-kurangnya dua minggu sebelum memulai pekerjaan beton
membuat adukan percobaan (trial mixes) dengan menggunakan contoh bahan-
bahan beton (semen, agregat, air dan bahan tambahan) yang akan digunakan
nantinya untuk menunjukkan bahwa campuran tersebut memenuhi kriteria untuk
mencaai mutu kerja kinerja beton yang diisyaratkan.
Urutan pelaksanaan pekerjaan Beton F’c 30 Mpa (K-350) adalah sebagai berikut:
Pengajuan Job Mix Design
Trial campuran beton sesuai dengan Job Mix Design
1. Beton secepat mungkin dicorkan setelah pengadukan, dan dilakukan
sedemikian rupa sehingga tidak terjadi pengendapan agregat maupun
bergesernya posisi tulangan atau acuan. Pengecoran dilaksanakan
secarakontinyu dalam satu elemen struktur atau diantara siar pelaksanaan
(construction joint) yang telah disetujui.
2. Pengecoran beton tidak dibenarkan untuk dimulai sebelum
acuan/bekisting dan pemasangan baja tulangan selesai diperiksa dan
mendapat persetujuan Manajemen konstruksi. Sebelum pengecoran
dimulai, maka tempat yang akan dicor terlebih dahulu dibersihkan dari
segala kotoran (potongan kayu, batu, tanah dan lainlain) dan dibasahi
dengan air semen
3. Pengecoran dilakukan secara berlapis dan kontinyu, atau dengan metode
pengecoran yang diusulkan Pihak Kami dan disetujui oleh Manajemen
Konstruksi, dengan memperhatikan cara atau urutan pengecoran
terutama untuk volume pengecoran yang besar (beton massa), agar tidak
terjadi cold joint dan juga menghindari kemungkinan degradasi atau
kerusakan beton akibat panas hindrasi yang ditimbulkan. Untuk itu,
sebelum pengecoran dilaksanakan, Pihak Kami menyampaikan usaha
prosedur pengecoran yang optimum kepada Manajemen Konstruksi,
untuk mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi.
4. Selama proses pengecoran, perlu dilakukan uji slump dan pengambilan
contoh benda uji, dengan disaksikan persetujuan dari Manajemen
Konstruksi. Prosedur uji slump, jumlah dan cara pengambilan contoh
benda uji dan contoh cetakannya sesuai dengan SKSNl, dan terlebih
dahulu mendapat persetujuan dari Manajemen.
5. Untuk pengecoran dengan mutu beton yang sama, yang diambil minimal
1 buah benda uji setiap 5 m3 pengecoran beton untuk volume pengecoran
yang kurang dari 300 m3, atau minimal 1 buah setiap 10 m3 pengecoran
beton untuk volume pengecoran yang lebih dari 300 m3, dalam bentuk
silinder berdiameter 150 mm dan tinggi 300 mm.
6. Selama pengecoran berlangsung, beton dipadatkan dengan memakai
vibrator, yang dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak merusak acuan
maupun posisi ulangan. Pihak Kami menyediakan vibrator dalam jumlah
yang cukup untuk menjamin efisiensi pekerjaan tanpa adanya penundaan.
Pemadatan beton secara berlebihan sehingga menyebabkan
pengendapan agregat, kebocoran acuan dan lain sebagainya,
dihindarkan.
7. Beton pada umumnya dicor secara berlapis. Lapisan-lapisan ini masing -
masing dipadatkan, dan dijaga sedemikian rupa supaya mempunyai
ikatanyang baik satu sama lain.
8. Beton dirawat (curing) dan dilindungi selama berlangsungnya proses
pengerasan terhadap panas matahari, angin, hujan atau aliran air dan
pengeringan sebelum waktunya.
9. Semua permukaan beton yang terbuka dijaga tetap basah selama minimal
14 hari, dengan cara menyemprotkan air atau menggenangkan air pada
permukaan beton tersebut, atau dengan cara lain yang diusulkan Pihak
Kami. Metode curing lebih dahulu diusulkan dan mendapatkan
persetujuan Manajemen Konstruksi, sebelum proses pengerasan beton.
10. Untuk pengecoran beton pada waktu cuaca panas, curing dan
perlindungan atas beton diperhatikan. Pihak Kami bertanggung jawab atas
retaknya beton karena kelalaian dalam melaksanakan pekerjaan curing
ini.
B. BETON, FC’10 MPA
Urutan pelaksanaan pekerjaan Beton F’c 10 Mpa (K-125) adalah sebagai berikut:
1. Beton secepat mungkin dicorkan setelah pengadukan, dan dilakukan
sedemikian rupa sehingga tidak terjadi pengendapan agregat maupun
bergesernya posisi tulangan atau acuan. Pengecoran dilaksanakan
secara kontinyu dalam satu elemen struktur atau diantara siar
pelaksanaan (construction joint) yang telah disetujui.
2. Pengecoran beton tidak dibenarkan untuk dimulai sebelum
acuan/bekisting dan pemasangan baja tulangan selesai diperiksa dan
mendapat persetujuan Manajemen konstruksi. Sebelum pengecoran
dimulai, maka tempat yang akan dicor terlebih dahulu dibersihkan dari
segala kotoran (potongan kayu, batu, tanah dan lainlain) dan dibasahi
dengan air semen.
3. Pengecoran dilakukan secara berlapis dan kontinyu, atau dengan metode
pengecoran yang diusulkan Pihak Kami dan disetujui oleh Manajemen
Konstruksi, dengan memperhatikan cara atau urutan pengecoran
terutama untuk volume pengecoran yang besar (beton massa), agar tidak
terjadi cold joint dan juga menghindari kemungkinan degradasi atau
kerusakan beton akibat panas hindrasi yang ditimbulkan. Untuk itu,
sebelum pengecoran dilaksanakan, Pihak Kami menyampaikan usaha
prosedur pengecoran yang optimum kepada Manajemen Konstruksi,
untuk mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi.
4. Selama proses pengecoran, perlu dilakukan uji slump dan pengambilan
contoh benda uji, dengan disaksikan persetujuan dari Manajemen
Konstruksi. Prosedur uji slump, jumlah dan cara pengambilan contoh
benda uji dan contoh cetakannya sesuai dengan SKSNl, dan terlebih
dahulu mendapat persetujuan dari Manajemen.
5. Selama pengecoran berlangsung, beton dipadatkan dengan memakai
vibrator, yang dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak merusak acuan
maupun posisi tulangan. Pihak Kami menyediakan vibrator dalam jumlah
yang cukup untuk menjamin efisiensi pekerjaan tanpa adanya penundaan.
Pemadatan beton secara berlebihan sehingga menyebabkan
pengendapan agregat, kebocoran acuan dan lain sebagainya,
dihindarkan.
6. Beton pada umumnya dicor secara berlapis. Lapisan-lapisan ini masing -
masing dipadatkan, dan dijaga sedemikian rupa supaya mempunyai
ikatan yang baik satu sama lain.
7. Beton dirawat (curing) dan dilindungi selama berlangsungnya proses
pengerasan terhadap panas matahari, angin, hujan atau aliran air dan
pengeringan sebelum waktunya.
8. Semua permukaan beton yang terbuka dijaga tetap basah selama minimal
14 hari, dengan cara menyemprotkan air atau menggenangkan air pada
permukaan beton tersebut, atau dengan cara lain yang diusulkan Pihak
Kami. Metode curing lebih dahulu diusulkan dan mendapatkan
persetujuan Manajemen Konstruksi, sebelum proses pengerasan beton.
9. Untuk pengecoran beton pada waktu cuaca panas, curing dan
perlindungan atas beton diperhatikan. Pihak Kami bertanggung jawab atas
retaknya beton karena kelalaian dalam melaksanakan pekerjaan curing
ini.
C. PEKERJAAN BAJA TULANGAN POLOS-BJTP 280
Pekerjaan ini harus mencakup pengadaan dan pemasangan baja tulangan sesuai
dengan Spesifikasi dan Gambar, atau sebagaimana yang diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan.
Adapun prosedur pelaksanaan pekerjaan Baja Tulangan Polos-BJTP 280:
1. Sebelum penyetelan dan pemasangan baja tulangan dimulai, Pihak Kami
membuat rencana kerja pemotongan dan pembengkokan baja tulangan
(barbending schedule), yang sebelumnya diserahkan kepada Manajemen
Konstruksi untuk mendapatkan persetujuan.
2. Tulangan bebas dari kotoran-kotoran seperti lemak, karet lepas, tanah,
serta bahan-bahan atau kotoran yang bisa mengurangi daya letaknya.
3. Pembengkokan baja tulangan dilakukan secara hati-hati dan teliti, sesuai
dengan aturan dalam SKSNI. Pembengkokan tersebut dilakukan oleh
tenaga yang ahli, dengan menggunakan alat- Alat sedemikian rupa
sehingga tidak menimbulkan cacat, patah dan retak-retak pada batang
baja.
4. Pemasangan dan penyetalan tulangan berdasarkan peil-peil yang sesuai
dengan gambar, dan sudah diperhitungkan mengenai toleransi
penurunannya. Pemasangan dilakukan dengan menggunakan pengganjal
jarak selimut beton (beton decking) untuk mendapatkan tebal selimut yang
sesuai dengan gambar. Apabila hal tersebut tidak tercantum di dalam
gambar atau dalam spesifikasi, maka dapat dipakai ketentuan dalam
peraturan yang berlaku. Yang dimaksud dengan selimut beton adalah
jarak minimum yang terdapat antara permukaan dari setiap besi beton
termasuk begel terhadap permukaan beton yang terkecil atau terdekat
untuk setiap bagian dari masing-masing pekerjaan beton.
Adapun ketebalan selimut beton minimum yang disyaratkan adalah :
5. Tulangan dipasang sedemikian rupa sehingga sebelum dan selama
pengecoran tidak akan berubah tempatnya.
6. Ketebalan selimut beton dibuat dengan pengganjal yang umum dipakai
dalam praktek, seperti terbuat dari beton (dengan mutu paling sedikit
sama dengan mutu beton yang akan dicor), dengan jumlah minimum 4
buah setiap m2 cetakan atau lantai kerja, atau seperti yang diinstruksikan
oleh Manajemen Konstruksi, dan tersebar merata.
M ETO DE PE LAKS AN AAN P E KE RJ AAN
DIVISI 6.
PEKERJAAN PERKERASAN ASPAL
A. LAPIS PEREKAT - ASPAL CAIR/EMULSI
Pekerjaan ini digunakan sebagai Lapis Perekat antara perkerasan beton fc’ 30
Mpa dengan konstruksi diatasnya, sebelum dilakukan penyemprotan aspal
dipanaskan pada tangki Aspal Sprayer dan dicampur dengan Karosin setelah
aspal mencapai suhu yang telah ditetapkan sesuai spesifikasi setelah itu aspal
Lapis Resap Pengikat disemprotkan ke Lapis Pondasi Agregat Klas A dengan
ketebalan 0,15 liter / meter persegi.
Dikerjakan secara mekanik dengan urutan kerja sebagai berikut Aspal dan minyak
Flux dicampur dan dipanaskan sehingga menjadi campuran aspal cair Permukaan
yang akan dilapis dibersihkan dari debu dan kotoran dengan Air Compresor. Di
semprotkan dengan merata dengan asphal sprayer pada badan jalan yang akan
dipasang Lapisan Lataston Lapis Aus (HRS-WC) 3,0 cm (gradasi senjang/semi
senjang).
Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal pada
permukaan yang telah disiapkan sebelumnya untuk pemasangan lapisan
beraspal berikutnya. Dan dihampar diatas permukaan yang beraspal.
Tahap dan Cara Pelaksanaan
MULAI
PEMBERSIHAN LOKASI
PENCAMPURAN ASPAL & KEROSIN
MENGGUNAKAN AIR COMPRESOR
PENYEMPROTAN CAMPURAN ASPAL
CAIR/ SPRAYER
SELESAI
Gambar. Pelaksanaan Pekerjaan Lapis Perekat – Aspal Cair/ Emulsi
Analisa Pengerahan Alat & Material
a) Alat yang digunakan
Asphalt Sprayer
Air Compresor
Asphalt Distributor
Dump Truck
Alat bantu
b) Material yang digunakan
Asphalt
Kerosin/Minyak Tanah
Bahan Lainnya
Analisa Pengerahan Personil & K3
a) Mutu yang diharapkan :
Lapisan yang telah terhampar sesuai dengan rencana
b) Pengendalian Mutu:
Tiap 200 m ada 5 penampang, masing 1 penampang ada 3 kertas uji
B. LATASTON LAPIS AUS (HRS-WC)
Pencampuran dilakukan dengan Asphal Mixing Plant, diangkut dengan dump truck
dan dihampar dengan asphal finisher, dipadatkan dengan tandem Roller dan
Pneumatic Tyre Roller. serta dirapikan oleh pekerja dengan alat bantu.
Dilaksanakan sesuai dengan rencana dan atas persetujuan pihak Direksi Teknis
dan Konsultan Pengawas.
Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup pengadaan lapisan padat yang awet untuk lapis
perata, lapis pondasi atau lapis campuran aspal yang terdiri dari agregat
dan bahan aspal yang dicampur di AMP, serta menghampar dan
memadatkan campuran tersebut diatas pondasi atau permukaan jalan yang
telah disiapkan.
Tahap dan Cara Pelaksanaan
MULAI
PERSIAPAN ALAT DAN MATERIAL
PENCAMPURAN
ASPHALT+AGREGAT+FILLER+ADITIF
(PROSES DI AMP)
PENGANGKUTAN ASPAL KELOKASI
PEKERJAAN
PENGHAMPARAN
PEMADATAN
SELESAI
Gambar. Pekerjaan Lataston Lapis Aus (HRS-WC)
Analisa Pengerahan Alat & Material
a) Alat yang Digunakan
AMP+Laboratorium
Wheel Loader
Dump Truck
Asphalt Finisher
Tandem Roller
Pneumatic Tire Roller
Alat Bantu
b) Material yang digunakan
Asphalt
Agregat Kasar
Agregat Halus
Filler
Kerosin/Minyak Tanah
Analisa Pengerahan Personil & K3
a) Personil yang dikerahkan
Pelaksana
Petugas K3L
Tenaga Kerja
b) Aspek K3
Memasang Rambu Peringatan
c) Menggukana alat pelindung (APD)
Sarung Tangan
Helm
Sepatu Safety
Pengendalian Mutu
a) Mutu yang diharapkan :
Permukaan yang rata sesuai spesifikasi yang disyaratkan
Elevasi sesuai dengan yang direncanakan
Campuran aspal sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan
b) Pengendalian Mutu
C. PENUTUP
Untuk melaksanakan pekerjaan dalam butir tersebut diatas, berlaku dan mengikat
pula:
1. Gambar bestek yang dibuat Konsultan Perencana yang sudah disahkan
oleh Pemberi Tugas termasuk juga gambar – gambar detail yang
diselesaikan oleh Kontraktor dan sudah disahkan/disetujui oleh pengawas.
2. Rencana Kerja dan Syarat – Syarat (RKS).
3. Surat Perintah Kerja (SPK).
4. Surat Penawaran beserta lampiran – lampirannya.
5. Jadwal Pelaksanaan (Tentative Time Schedule ).
6. Kontrak / Surat Perjanjian Pemborongan.
7. Instruksi – instruksi Direksi dan Pengawas.
Pangkalan Bun, 20 Oktober 2023
Dibuat Oleh,
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)
Sub Kegiatan Rekontruksi Jalan
Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang
Kabupaten Kotawaringin Barat
HERTO, ST
NIP. 19660202 1999303 1 014