| Reason | |||
|---|---|---|---|
| 0019499664802000 | - | - | |
PT Indo Trans Konstruksi | 08*8**7****07**0 | - | - |
| 0864781828802000 | - | - | |
PT Gunung Baja Permata | 09*1**9****35**0 | - | - |
| 0014938054802000 | Rp 3,353,419,509 | - | |
| 0020087847802000 | Rp 3,437,776,488 | Gugur pada tahapan evaluasi teknis karena: Peserta tidak melampirkan daftar peralatan dan daftar personel managerial untuk pelaksanaan pekerjaan, hanya melampirkan lampiran pendukungnya sesuai yang diatur pada dokumen pemilihan Bab IV. Lembar Data Pemilihan (LDP) bag. F.2-3; | |
CV Karya Muchvi Persada | 0020327938801000 | Rp 3,400,392,398 | Gugur pada tahapan evaluasi teknis karena: a). Tidak melampirkan daftar peralatan dan daftar personel managerial untuk pelaksanaan pekerjaan beserta lampiran pendukungnya sesuai yang diatur pada dokumen pemilihan Bab IV. Lembar Data Pemilihan (LDP) bag. F.2-3; b). Dokumen Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK) pada elemen Kepemimpinan dan Partisipasi pekerja dalam keselamatan konstruksi tidak memenuhi persyaratan teknis karena pada Pakta Komitmen Keselamatan Konstruksi mencantumkan nama paket pekerjaan tidak sesuai dengan nama paket pekerjaan yang ditenderkan. |
| 0664170115825000 | Rp 3,111,000,000 | Gugur pada tahapan evaluasi teknis karena peserta tidak menghadiri undangan klarifikasi teknis Klarifikasi Dokumen Penawaran Teknis, dan Harga sesuai dengan jadwal yang tercantum pada undangan dan seteakh diadakan penambahan jadwal klarifikasi, sesuai diatur pada Dokumen Pemilihan point 28.12 Evaluasi Teknis bagian d. “Apabila dalam evaluasi teknis terdapat hal-hal yang tidak jelas atau meragukan, Pokja Pemilihan melakukan klarifikasi dengan peserta/pihak lain yang berwenang. Dalam klarifikasi, peserta tidak diperkenankan mengubah substansi penawaran” | |
| 0752375386803000 | - | - | |
Indo Royal Construction | 08*4**4****02**0 | - | - |
| 0901141309802000 | - | - | |
Khanza Ayumna Aisyah | 09*7**1****01**0 | - | - |
| 0030515597801000 | - | - | |
| 0029744802801000 | - | - | |
| 0020088969802000 | - | - | |
| 0803251271801000 | - | - | |
CV Bukit Bintang | 0716122296813000 | - | - |
Mitra Syahputra Teknik | 04*0**1****09**0 | - | - |
| 0030517684801000 | - | - | |
| 0033260175802000 | - | - | |
| 0019499656812000 | - | - | |
| 0811785823802000 | - | - | |
| 0018579342808000 | - | - | |
| 0031161318727000 | - | - | |
| 0010716181058000 | - | - | |
| 0433003530813000 | - | - |
PEMERINTAH KABUPATEN PINRANG
DINAS BINA MARGA, CIPTA KARYA DAN TATA RUANG
Jln. Lasinrang No. 26 Pinrang
DOKUMEN METODE PELAKSANAAN JALAN
PENGGUNA ANGGARAN :
SATKER/SKPD : DINAS BINA MARGA, CIPTA KARYA DAN TATA RUANG
KABUPATEN PINRANG
NAMA KPA : HAMIRUDDIN, ST
NAMA KEGIATAN : PENGGANTIAN JEMBATAN KAMP. COKA - JAMPUE
TAHUN ANGGARAN 2023
METODE PELAKSANAAN
Pekerjaan : Pengantian Jembatan Kamp. Coka - Jampue
Lokasi : Kecamatan Lanrisang
Tahun Anggaran : 2023
Lingkup Pekerjaan :
1. Devisi 1 UMUM
1.2 Mobilisasi
1.8. (1 ) Manajemen dan Keselamatan Lalu lintas dan SMK3
2. Devisi 3 PEKERJAAN TANAH DAN GIOSINTETIK
3.1. Galian Biasa
3.1.( 3 ) Galian Struktur dengan kedalaman 0 - 2 meter
3.1.( 4 ) Galian Struktur dengan kedalaman 2 - 4 meter
3.1.( 5 ) Galian Struktur dengan kedalaman 4 - 6 meter
3.2.(1a )Timbunan Pilihan dari sumber galian
3.2.(2a )Timbunan Pilihan dari sumber galian
3. Devisi 5 PERKERASAN BERBUTIR DAN PERKERASAN BETON SEMEN
5.3. ( 1a ) Perkerasan Beton Semen ( Badan Jalan untuk Opritan )
5.3. ( 3 ) Lapis Pondasi bawah Beton Kurus
4. Devisi 7 STRUKTUR
7.1 (5) a Beton mutu sedang fc’=30 Mpa ( Plat Lantai Jembatan )
7.1 (6) Beton mutu sedang fc’= 25 Mpa ( Abutmen Jembatan + Plat Injak )
7.1 (8) Beton mutu rendah fc’= 15 MPa ( Trotoar dan Tiang sandaran )
7.1 (10) Beton mutu rendah fc’= 10 Mpa ( Lantai Kerja )
7.2 (1a) Penyediaan Unit Pracetak Gelagar Tipe PC I, L.20,60 m, H. 1.25 m dan CTC 1.85
7.3 (1) Baja Tulangan U 24 Polos
7.3 (3) Baja Tulangan U 32 Ulir
7.6 (10) b Penyediaan Tiang Pancang Beton Bertulang Pracetak ukuran 400 mm x 400 mm
- Segmen Botton dia 400 mm ( Sepatu tipe pensil + Plat sambung )
- Segmen Middle dia 400 mm ( Plat sambung Atas + Plat sambung bawah )
7.6 (16) b Pemancangan Tiang Pancang Beton Bertulang Pracetak ukuran 400 mm x 400 mm
7.9.(1) Pasangan Batu
7.11.(6) Expansion Joint Tipe Baja Bersudut
7.12.(3) Perletakan Elastomerik Sintetis Ukuran 350 mm x 500 mm x 40 mm
7.13.(1) Sandaran (Railing)
7.14.(1) Papan Nama Jembatan
7.16.(2).a Pipa Drainase Baja diameter 75 mm
Pelat Panel (f'c = 28 Mpa) sudah termasuk pemasangan
Diafragma ( fc’ 28 Mpa ) termasuk pekerjaan penegangan setelah pengecoran (post tension)
Semua item – item pekerjaan tersebut diatas akan dilaksanakan sesuai dengan Dokumen spesifikasi teknis dan
menurut Volume pekerjaan yang tersedia dalam daftar kuantitas dan harga.
1. Devisi 1 UMUM
1. PEKERJAAN MOBILISASI
1. Pekerjaan peralatan
Dalam pelaksanaan proyek ini mobilisasi meliputi :
1. Concrete Mixer 0.3 – 0.6 m3 ( 1 Unit )
2. Dump Truk 3.5 m3 ( 2 Unit )
3. Motor Greder ( 1 Unit )
4. Vibratory Roller 5 – 8 Ton ( 1 Unit )
5. Truk Mixer Aligator ( 5 Unit )
6. Excavator 80 – 140 HP ( 1 Unit )
7. Water Tank Truk ( 1 Unit )
8. Generator Set ( 1 Unit )
9. Conrete Vibrator ( 1 Unit )
10. Water Pump 70-100 mm ( 1 Unit )
11. Crane On Track 35 Ton ( 1 Unit )
12. Welding Set ( 1 Unit )
13. Truk Mixer ( Agitator ) ( 1 Unit )
2. Mobilisasi fasilitas Laboratirium
1. Slump cone
Slump pada dasarnya merupakan salah satu pengetesan sederhana untuk mengetahui
workability beton segar sebelum diterima dan diaplikasikan dalam pekerjaan pengecoran
yang dilakukan sebelum pekerjaan keluar dari Bacing palnt dan setelah sampai dilokasi
pekerjaan.
2. Beam Mould for Flexural Strength (RIGID) Crushing Machine
Pekerjaan ini merupakan pemeriksaan kuat tekan beton karena pekerjaan ini merupakan
pekerjaan Perkerasan beton yang dilakukan pemeriksaannya dilaboratorium dan disaksikan
oleh pengawas Pu, konsultan Pengawas kemudian untuk pengambilan sampel dilakukan per
60 m3 untuk satu sampel sesuai dengan Dokumen spesifikasi teknis.
3. Mobilisasi Lainnya
1. Pembuatan Job Mix Desigen / Job Mix Formula ( JMF )
Sebelum pekerjaan utama dilakukan terlabih dahulu dilaksanakan pengambilan sampel
bahan dari quary yang berada dilokasi setempat atau berdekatan dengan lokasi tersebut
diantaranya : batu, pasir, dan bahan timbunan pilihan selanjutnya dibawah kelaboratorium
untuk diperiksa sedemikian rupa sehingga dapat mengeluarkan hasil perbandingan
campuran yang nantinya dapat dipakai sebagai acuan kerja dalam pelaksanaan proyek yang
disebut Job Mix Formula ( JMF )
2. Pertolongan pertama pada kecelakan P3K
Mengigat pekerjaan ini rentang dari kecelakaan kerja maka kontraktor dalam hal ini
penyedian harus mempersiapakan P3K untuk pertolongan pertama apabila terjadi
kecelakaan kerja.
3. Pengukuran Awal ( Shop Drawing )
Pekerjaan ini dilakukan setelah adanya kontrak antara kontraktor dengan penyedia dengan
kata lain PPK maka sebelum memulai pekerjaan harus dilakukan pengkuran awal ( shop
Drawing ) untuk memngetahui dan mencocokkan gambar rencana dan Rab yang ada dalam
kontrak.
4. Papan Proyek
Papan nama ini digunakan sebagai identitas dan informasi mengenai proyek tersebut dan
papan ini buat dengen ukuran 0.80 x 1.22 m yang disetujui direksi pekerjaan kemudian
mengunakan bahan yaitu : Balok kayu ( Tiang Ukuran 5/7 cm ), paku, triplex ( Tebal 4 mm
) dan dipasang di awal lokasi proyek.
5. Asbuil Drawing
Pekerjaan ini dilaksanakan apabila pekerjaan sudah selesai 100 % untuk pembayaran.
6. Dokumentasi dan Pelaporan
- Dokumentasi
Penyedia dalam hal ini kontraktor harus melakukan dokumentasi/foto pelaksaan setiap
pekerjaan yang dilaksanakan mulai dari 0%, 50% dan 100%.
- Pelaporan
Penyedia harus rutin membuat pelaporan yang terdiri dari laporan harian, minggua dan
bulanan selama pelaksanaan pekerjaan, penyedia cukup menyerahkan laporan mingguan
ke direksi pekerjaan.
4. Demobilisasi
Untuk pekerjaan ini dilakukan setelah pekerjaan dilapangan dianggap selesai semua. Adapun
peralatan yang di demobilasasi yaitu :
1. Concrete Mixer 0.3 – 0.6 m3 ( 1 Unit )
2. Dump Truk 3.5 m3 ( 2 Unit )
3. Motor Greder ( 1 Unit )
4. Vibratory Roller 5 – 8 Ton ( 1 Unit )
5. Truk Mixer Aligator ( 5 Unit )
6. Excavator 80 – 140 HP ( 1 Unit )
7. Water Tank Truk ( 1 Unit )
8. Generator Set ( 1 Unit )
9. Conrete Vibrator ( 1 Unit )
10. Water Pump 70-100 mm ( 1 Unit )
11. Crane On Track 35 Ton ( 1 Unit )
12. Welding Set ( 1 Unit )
13. Truk Mixer ( Agitator ) ( 1 Unit )
2. SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI ( SMKK )
2.1 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( SMK3 )
2.1.1 Penyiapan RK3K terdiri dari :
- Pembuatan Manual, Prosedur, Instruksi Kerja, Ijin Kerja dan Formulir
- Pembuatan Kartu Identitas Pekerja (KIP)
2.1.2 Sosialisai dan Promosi K3 terdiri dari :
- Induksi K3 (Safety Induction); khusus untuk pekerja baru
- Pengarahan K3 (safety briefing): Pertemuan Keselamatan (Safety Talk dan/atau Tool
Box Meeting); setiap hari
- Pelatihan K3;
- Simulasi K3
- Spanduk (banner);
- Poster;
- Papan Informasi K3.
2.1.3 Alat pelindung diri terdiri atas
- Topi Pelindung (Safety Helmet);
- Pelindung Pernafasan dan Mulut (Masker);
- Sarung Tangan (Safety Gloves);
- Sepatu Keselamatan (Safety Shoes) ;untuk Staf
- Rompi Keselamatan (SafetyVest);
2.1.4 Asuransi dan perijinan terdiri atas
- BPJS Ketenagakerjaan Dan Kesehatan Kerja
2.1.5 Personil k3 terdiri atas
- Ahli K3
- Petugas P3K;
2.1.6 Fasilitas sarana keehatan
- Peralatan P3K( Kotak P3K, Tandu, Tabung Oksigen,Obat Luka, Perban,
- Ruang P3K (Tempat Tidur Pasien, Stetoskop,Timbangan Berat Badan, Tensi
Meter,dll);
2.1.7 Rambu – rambu terdiri atas
- Rambu Petunjuk;
- Rambu Larangan
- Rambu Peringatan;
- Rambu Kewajiban;
- Rambu Informasi;
- Rambu Pekerjaan Sementara;
- Tongkat Pengatur Lalu Lintas (Warning Lights Stick);
- Kerucut Lalu Lintas (Traffic Cone);
- Lampu Putar (RotaryLamp);
- Lampu Selang Lalu Lintas.
2.1.8 Lain- Lain Terkait Pengendalian Risiko K3
- Alat Pemadam Api Ringan (APAR); 10Kg
- Sirine;
- Bendera K3;
- Jalur Evakuasi (Escape Route);
- Lampu Darurat (Emergency Lamp);
- Program Inspeksi Dan Audit Internal;
- Pelaporan dan Penyelidikan Insiden.
2. Devisi 3 PEKERJAAN TANAH DAN GIOSINTETIK
1. Galian Biasa
Pekerjaan penggalian dilaksanakan setelah pemasangan bowplank dalam hal ini penentuan
kedalaman galian tanah yang digali oleh excavator dan tenaga manusia yang langsung dimuat ke
dump truk dan diangkut keluar lokasi pekerjaan.
1.1 Tenaga
- Pelaksana
- Mandor
- Pekerja biasa
1.2 Peralatan
- Excavator
- Gerobak
- Linggis
- Sekop
2. Galian Struktur dengan kedalaman 0 - 2 meter
Pekerjaan penggalian dilaksanakan setelah pemasangan bowplank dalam hal ini penentuan
kedalaman galian tanah yang digali oleh excavator dan tenaga manusia yang langsung dimuat ke
dump truk dan diangkut keluar lokasi pekerjaan.
2.1 Tenaga
- Pelaksana
- Mandor
- Pekerja biasa
2.2 Peralatan
- Excavator
- Gerobak
- Linggis
- Sekop
3. Galian Struktur dengan kedalaman 2 - 4 meter
Pekerjaan penggalian dilaksanakan setelah pemasangan bowplank dalam hal ini penentuan
kedalaman galian tanah yang digali oleh excavator dan tenaga manusia yang langsung dimuat ke
dump truk dan diangkut keluar lokasi pekerjaan.
3.1 Tenaga
- Pelaksana
- Mandor
- Pekerja biasa
3.2 Peralatan
- Excavator
- Gerobak
- Linggis
- Sekop
4. Galian Struktur dengan kedalaman 4 - 6 meter
Pekerjaan penggalian dilaksanakan setelah pemasangan bowplank dalam hal ini penentuan
kedalaman galian tanah yang digali oleh excavator dan tenaga manusia yang langsung dimuat ke
dump truk dan diangkut keluar lokasi pekerjaan.
4.1 Tenaga
- Pelaksana
- Mandor
- Pekerja biasa
4.2 Peralatan
- Excavator
- Gerobak
- Linggis
- Sekop
5. Timbunan Biasa dari Sumber galian
Timbunan yang di klasifikasi sebagai timbunan pilihan harus terdiri dari bahan tanah atau batu yang
memenuhi semua ketentuan diatas level timbunan biasa dan sebagai tambahan harus memiliki sifat –
sifat tertentu yang tergantung dari maksud penggunaannya, seperti yang diperintahkan atau disetujui
oleh direksi pekerjaan, Tenaga teknis serta konsultan pengawas dalam segala hal, seluruh timbunan
pilihan harus bila diuji sesuai dan memiliki CBR Paling sediki 10 % setelah 4 hari perendaman dan
bila dipadat sampai 100 % kepadatan kering maksimun.
- Pekerjaan timbunan Pilihan ( Bahu dan proteksi ) dikerjakan dengan prosedur sebagai berikut :
1. Pengankutan material
Material diambil dari quary ( yang disetujui direksi ) kemudian diangkut dengan
menggunakan alat yaitu Wheel Loader yang menaikkan timbunan pilihan ke damp truk
kemudian damp truk mengankut kelokasi pekerjaan.
2. Penghamparan material
Setelah material / timbunan pilihan sudah sampai dilokasi pekerjaan dihampar dengan
menggunakan alat motor grader dan merapikannya.
3. Pemadatan
Untuk pekerjaan ini dilakukan setelah material ada dilokasi pekerjaan yang sudah dihampar
dengan menggunakan moror grader kemudian digilas dengan menggunakan alat vibrator
roller adapun tata cara penggilasannya harus berdasarkan dengan Dokumen spesifikasi.
5.1 Tenaga
- Pelaksana
- Mandor
- Pekerja biasa
5.2 Bahan
- Timbunan Pilih yang sesuai dengan Dokumen spesifikasi.
5.3 Peralatan
- Loader
- Dump Truk
- Motor Greder
- Vibrator roller
- Gerobak
- Sekop
6. Timbunan Biasa dari Sumber galian
Timbunan yang di klasifikasi sebagai timbunan pilihan harus terdiri dari bahan tanah atau batu yang
memenuhi semua ketentuan diatas level timbunan biasa dan sebagai tambahan harus memiliki sifat –
sifat tertentu yang tergantung dari maksud penggunaannya, seperti yang diperintahkan atau disetujui
oleh direksi pekerjaan, Tenaga teknis serta konsultan pengawas dalam segala hal, seluruh timbunan
pilihan harus bila diuji sesuai dan memiliki CBR Paling sediki 10 % setelah 4 hari perendaman dan
bila dipadat sampai 100 % kepadatan kering maksimun.
- Pekerjaan timbunan Pilihan ( Bawah Jalan Beton ) dikerjakan dengan prosedur sebagai berikut :
1. Pengankutan material
Material diambil dari quary ( yang disetujui direksi ) kemudian diangkut dengan
menggunakan alat yaitu Wheel Loader yang menaikkan timbunan pilihan ke damp truk
kemudian damp truk mengankut kelokasi pekerjaan.
2. Penghamparan material
Setelah material / timbunan pilihan sudah sampai dilokasi pekerjaan dihampar dengan
menggunakan alat motor grader dan merapikannya.
3. Pemadatan
Untuk pekerjaan ini dilakukan setelah material ada dilokasi pekerjaan yang sudah dihampar
dengan menggunakan moror grader kemudian digilas dengan menggunakan alat vibrator
roller adapun tata cara penggilasannya harus berdasarkan dengan Dokumen spesifikasi.
6.1 Tenaga
- Pelaksana
- Mandor
- Pekerja biasa
6.2 Bahan
- Timbunan Pilih yang sesuai dengan Dokumen spesifikasi.
6.3 Peralatan
- Loader
- Dump Truk
- Motor Greder
- Vibrator roller
- Gerobak
- Sekop
3. Devisi 5 PERKERSANA BERBUTIR DAN PERKERSAN BETON SEMEN
1. Perkerasan Beton Semen
1.1 Pekerjaan awal
- Mempelajari gambar rencana dan Dokumen spsefikasi
- Pemahaman lebih dalam terhadap lokasi proyek, lajur dan kemiringan
- Peralatan dan organisasi kontraktor
- Penentuan tugas dan tanggung jawab
- Menentukan pengujian, pencatatan dan laporan yang diperlukan
1.2 Bahan
- Semua bahan harus diindentifikasi mengenai sumber, jumlah dan kesesuaian dengan
persyaratan, penanganan, penimbangan dan pembuangan bahan yang ditolak. Bahan tersebut
meliputi :
- Semen
- Agregat
- Air
- Bahan tambah
- Tulangan, ruji dan bahan pengikat
- Material perawatan beton
- Bahan sambungan
1.3 Perbandingan campuran
- Pengujian agregat meliputi gradasi, berat jenis, penyerapan, kadar lempung
- Data perencanaan campuran meliputi kadar semen, proporsi agregat, air, rongga udara,
kelecakan dan kekuatan
- Volume takaran meliputi ukuran takaran, berat material dalam takaran dan koreksi kadar
air agregat
1.4 Unit penakaran/penimbangan meliputi
- Pemeriksaan peralatan untuk menimbang dan mengukur semen, agregat, air dan bahan tambah
- Pemeriksaan peralatan untuk penanganan material, pengangkut dan skala timbangan
1.5 Unit pencampuran
- Lama waktu pencampuran Proses perhitungan waktu dimulai ketika Bacthing Plant sudah
mulai pencampuran atau Mixing beton, kondisi plastis hilang pada 1.5 sampai 2.5 jam setelah
mixing beton, jadi waktu total yang dijadikan untuk acuan untuk final setting adalah 3 sampai 4
jam.
- Pemeriksana peralatan pencampuran, lama waktu pencampuran, alat pengatur waktu dan
penghitungan jumlah takaran sebelum pengecoran beton semen
- Acuan : kecocokan acuan, alinyemen, kemiringan dan ruji
- Tanah dasar : kerataan, pemeriksaan permukaan akhir dan kadar air
- Sambungan muai : bahan sambungan, lokasi, alinyemen, dudukan dan ruji
1.6 Pembetonan
- Persiapan meliputi bahan, perlengkapan peralatan, tenaga kerja dan bahan pelindung cuaca
- Pencampuran meliputi jenis peralatan, konsistensi, kadar udara, pemisahan butir (segregasi)
dan keterlambatan
- Pengangkutan meliputi batas waktu, pengecekan pemisahan butir dan perubahan konsistensi
- Pengecoran meliputi penempatan adukan, pemisahan butir, kelurusan dan kerataan, lingkungan,
pengteksturan dan perapihan tepi
- Pembentukan sambungan susut meliputi pembentukan sambungan, alinyemen, perapihan
tepi dan pemeriksaan permukaan sambungan
1.7 Setelah pembetonan
- Waktu pembongkaran acuan, kerusakan agar dihindari
- Perawatan meliputi metode, peralatan dan bahan, keseragaman, waktu mulai perawatan dan
lama waktu perawatan
- Perlindungan meliputi beton basah, hujan, lalu-lintas, cuaca dingin, cuaca panas dan pencatatan
temperature
- Sambungan yang digergaji meliputi peralatan, temperatur, bahan penutup, pembersihan
sambungan dan penutup
- Pemeriksaan permukaan meliputi kelurusan dan kerataan, perbaikan atau penggantian
1.8 Pengujian beton semen
- Campuran beton basah, pengujian kelecakan (dengan slump) dan kadar udara
- Pengujin kekuatan, pengambilan contoh, pembuatan benda uji, penyimpanan dan perawatan
benda uji, pengujian kuat tekan, pengujian kuat tarik lentur, pengambilan contoh inti dan
penggergajian perkerasan untuk pengujian kuat tarik lentur.
Adapun tenaga dan peralatan serta bahan yang digunakan :
a. Tenaga
1. Pelaksana
2. Mandor / Kepala tukang
3. Pekerja biasa
b. Bahan
1. Semen
2. Agregat Kasar ( Batu pecah )
3. Agregat Halus ( Pasir beton )
4. Air
5. Bekisting ( Papan )
6. Besi ( Untuk pembesian )
c. Peralatan
1. Mobil Mixer
2. Excavator
3. Water Tank Truk
4. Sekop
5. Cangkul
6. Concrete Vibro
7. Papan Gosok
8. Pembengkok besi
9. Gergaji
2. Lapis Pondasi bawah Beton Kurus
2.1 Pekerjaan awal
- Mempelajari gambar rencana dan Dokumen spsefikasi
- Pemahaman lebih dalam terhadap lokasi proyek, lajur dan kemiringan
- Peralatan dan organisasi kontraktor
- Penentuan tugas dan tanggung jawab
- Menentukan pengujian, pencatatan dan laporan yang diperlukan
2.2 Bahan
- Semua bahan harus diindentifikasi mengenai sumber, jumlah dan kesesuaian dengan
persyaratan, penanganan, penimbangan dan pembuangan bahan yang ditolak. Bahan tersebut
meliputi :
- Semen
- Agregat
- Air
- Bahan tambah
- Tulangan, ruji dan bahan pengikat
- Material perawatan beton
- Bahan sambungan
2.3 Perbandingan campuran
- Pengujian agregat meliputi gradasi, berat jenis, penyerapan, kadar lempung
- Data perencanaan campuran meliputi kadar semen, proporsi agregat, air, rongga udara,
kelecakan dan kekuatan
- Volume takaran meliputi ukuran takaran, berat material dalam takaran dan koreksi kadar
air agregat
2.4 Unit penakaran/penimbangan meliputi
- Pemeriksaan peralatan untuk menimbang dan mengukur semen, agregat, air dan bahan tambah
- Pemeriksaan peralatan untuk penanganan material, pengangkut dan skala timbangan
2.5 Unit pencampuran
- Lama waktu pencampuran Proses perhitungan waktu dimulai ketika Bacthing Plant sudah
mulai pencampuran atau Mixing beton, kondisi plastis hilang pada 1.5 sampai 2.5 jam setelah
mixing beton, jadi waktu total yang dijadikan untuk acuan untuk final setting adalah 3 sampai 4
jam.
- Pemeriksana peralatan pencampuran, lama waktu pencampuran, alat pengatur waktu dan
penghitungan jumlah takaran sebelum pengecoran beton semen
- Acuan : kecocokan acuan, alinyemen, kemiringan dan ruji
- Tanah dasar : kerataan, pemeriksaan permukaan akhir dan kadar air
- Sambungan muai : bahan sambungan, lokasi, alinyemen, dudukan dan ruji
2.6 Pembetonan
- Persiapan meliputi bahan, perlengkapan peralatan, tenaga kerja dan bahan pelindung cuaca
- Pencampuran meliputi jenis peralatan, konsistensi, kadar udara, pemisahan butir (segregasi)
dan keterlambatan
- Pengangkutan meliputi batas waktu, pengecekan pemisahan butir dan perubahan konsistensi
- Pengecoran meliputi penempatan adukan, pemisahan butir, kelurusan dan kerataan, lingkungan,
pengteksturan dan perapihan tepi
- Pembentukan sambungan susut meliputi pembentukan sambungan, alinyemen, perapihan
tepi dan pemeriksaan permukaan sambungan
2.7 Setelah pembetonan
- Waktu pembongkaran acuan, kerusakan agar dihindari
- Perawatan meliputi metode, peralatan dan bahan, keseragaman, waktu mulai perawatan dan
lama waktu perawatan
- Perlindungan meliputi beton basah, hujan, lalu-lintas, cuaca dingin, cuaca panas dan pencatatan
temperature
- Sambungan yang digergaji meliputi peralatan, temperatur, bahan penutup, pembersihan
sambungan dan penutup
- Pemeriksaan permukaan meliputi kelurusan dan kerataan, perbaikan atau penggantian
2.8 Pengujian beton semen
- Campuran beton basah, pengujian kelecakan (dengan slump) dan kadar udara
- Pengujin kekuatan, pengambilan contoh, pembuatan benda uji, penyimpanan dan perawatan
benda uji, pengujian kuat tekan, pengujian kuat tarik lentur, pengambilan contoh inti dan
penggergajian perkerasan untuk pengujian kuat tarik lentur.
Adapun tenaga dan peralatan serta bahan yang digunakan :
d. Tenaga
1. Pelaksana
2. Mandor / Kepala tukang
3. Pekerja biasa
e. Bahan
1. Semen
2. Agregat Kasar ( Batu pecah )
3. Agregat Halus ( Pasir beton )
4. Air
5. Bekisting ( Papan )
6. Besi ( Untuk pembesian )
f. Peralatan
1. Mobil Mixer
2. Excavator
3. Water Tank Truk
4. Sekop
5. Cangkul
6. Concrete Vibro
7. Papan Gosok
8. Pembengkok besi
9. Gergaji
4. Devisi 7 STRUKTUR
7.1 (5)a. Beton mutu sedang fc’=30 Mpa ( Plat Lantai Jembatan )
Beton mutu sedang pada pekerjaan ini digunakan untuk pada lantai jembatan.Sebelum melaksanakan
pekerjaan ini, penyedia jasa harus menyerahkan JMF dan JMDcampuran beton kepada Konsultan
Pengawas atau Direksi Lapangan.Agregat beton fc’30MPa dicampur sesuai dengan komposisinya
agregat kasar, pasir beton, semen dicampur dalamconcrete pan mixer/batching plant sesuai komposisi
mix design yang disetujui oleh direksilapangan dan konsultan pengawas, kemudian dicampur dengan
air secukupnya. Campuran beton mutu sedang fc’ 30MPa kemudian diangkut dengan truck mixer ke
lokasi pengecoran.Sebelum pengecoran dimulai perlu diperhatikan lahan, bekisting dan pembesian
lantai jembatan telah terpasang atau siap dengan baik sesuai gambar rencana pada dokumenkontrak.
Selama proses pengecoran sekelompok pekerja membantu merapikan danmemadatkan dengan
concrete vibrator.
Selain itu juga perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1. Penyedia jasa harus mengirimkan rancangan campuran mix desain untuk mutu betonyang akan
digunakan sebelum pekerjaan beton dimulai.
2. Penyedia jasa harus mengirim gambar detail untuk seluruh perancah/bekesting yangakan
digunakan dan harus memperoleh persetujuan direksi lapangan.
3. Acuan kerja atau bekesting dari kayu balok dan multilplex 12 mm, pembuatanbekesting sesuai
dengan gambar rencana dilaksanakan oleh tukang dan pekerja dibawah arahan mandor dan
pelaksana.
4. Acuan harus dibuat sedemikian sehingga dapat dibongkar tanpa merusak beton.
5. Kayu yang tidak diserut permukaannya tidak dapat digunakan untuk permukaan betonyang
terexpos.
6. Lapis beton struktur mutu sedang fc’ 30 MPa dicampur di Concrete Pan Mixer/BatchingPlant
sesuai dengan mix desain yang telah disepakati bersama.
7. Persetujuan atau proporsi bahan pokok campuran harus didasarkan pada percobaancampuran
(trial mix) yang dibuat oleh penyedia jasa dan disetujui oleh konsultanpengawas dan direksi
lapangan.
8. Material pasir beton, semen, agregat kasar dimasukkan ke Concrete Pan Mixer atauBatching
Plant dengan menggunakan Excavator kemudian campuran material tersebutdimasukkan ke
dalam truck mixer.
9. Pengangkutan beton struktur mutu sedang fc’ 30 MPa dengan menggunakan truckmixer atau
penghantar jenis agitator (penggoyang bolak - balik) dan harus mampumenuangkan beton
dengan konsistensi adukan yang diisyaratkan.
10. Setelah pembesian struktur selesai, maka bekesting dapat dibuat sesuai dengan gambar rencana.
11. Sebelum memulai pengecoran seluruh kotoran yang berada dalam bekesting harus dibersihkan.
12. Beton harus dicor sedemikian rupa sehingga terhindar dari segregasi partikel kasar danhalus dari
campuran beton harus dicor dalam cetakan tidak boleh melampaui 1 meterdari tempat awal kerja.
13. Beton tidak boleh jatuh bebas kedalam cetakan dengan ketinggian lebih dari 150 cm.
14. Beton harus dipadatkan dengan pengetar mekanis/Concrete Vibrator, penggetar harusdibatasi
waktu penggunaannya, sehingga menghasilkan pemadatan yang diperlukantanpa menyebabkan
terjadinya segregasi pada agregat.
15. Beton mutu sedang fc’ 30 MPa harus segera dirawat, setelah finishing selesai
seluruhpermukaan disemprot air merata kontinyu, dan kondisi kelembaban dijaga agar
tetapselama masa perawatan. Penyemprotan air dengan mengguanakan water tanker truckdan di
tutup dengan karung goni atau curing compound.
A. Bahan / Material:
1. Semen
2. Pasir
3. Agregat Kasar
4. Kayu Perancah/Multiplex
5. Paku
B. Peralatan:
1. Concrete Pan Mixer/Batching Plant
2. Truck Mixer
3. Water Tanker Truck
4. Concrete Vibrator
5. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Pekerja
7.1 (6) Beton mutu sedang fc’= 25 Mpa ( Abutmen Jembatan + Plat Injak )
Beton mutu sedang f’c 25 Mpa digunakan pada Abutment. Sebelum melaksanakanpekerjaan ini,
penyedia jasa harus menyerahkan JMF dan JMD campuran beton kepadaKonsultan Pengawas atau
Direksi Lapangan. Agregat beton fc’ 25 MPa dicampur sesuaidengan komposisinya agregat kasar,
pasir beton, semen dicampur dalam concrete panmixer/batching plant sesuai komposisi mix design
yang disetujui oleh direksi lapangan dankonsultan, kemudian dicampur dengan air secukupnya.
Campuran beton mutu sedang fc’ 25MPa kemudian diangkut dengan truck mixer ke lokasi
pengecoran. Sebelum pengecorandimulai bekisting sudah terpasang dengan baik sesuai gambar
dokumen kontrak. Selamapengecoran sekelompok pekerja membantu merapikan dan memadatkan
dengan concretevibrator
Selain itu juga perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1. Penyedia jasa harus mengirimkan rancangan campuran mix desain untuk mutu betonyang akan
digunakan sebelum pekerjaan beton dimulai.
2. Penyedia jasa harus mengirim gambar detail untuk seluruh perancah/bekesting yangakan
digunakan dan harus memperoleh persetujuan direksi pekerjaan.
3. Acuan kerja atau bekesting dari kayu balok dan multilplex 12 mm, pembuatanbekesting sesuai
dengan gambar rencana dilaksanakan oleh tukang dan pekerja dibawah arahan mandor dan
pelaksana.
4. Acuan harus dibuat sedemikian sehingga dapat dibongkar tanpa merusak beton.
5. Kayu yang tidak diserut permukaannya tidak dapat digunakan untuk permukaan betonyang
terexpos.
6. Lapis beton struktur mutu sedang fc’25 MPa dicampur di Concrete Pan Mixer/BatchingPlant
sesuai dengan mix desain yang telah disepakati bersama.
7. Persetujuan atau proporsi bahan pokok campuran harus didasarkan pada percobaancampuran
(trial mix) yang dibuat oleh penyedia jasa dan disetujui oleh konsultan dandireksi lapangan.
8. Material pasir beton, semen, agregat kasar dimasukkan ke Concrete Pan Mixer atauBatching
Plant dengan menggunakan Excavator kemudian campuran material tersebutdimasukkan ke
dalam truck mixer.
9. Pengangkutan beton struktur mutu sedang fc’ 10 MPa dengan menggunakan truck mixer atau
penghantar jenis agitator (penggoyang bolak - balik) dan harus mampu menuangkan beton
dengan konsistensi adukan yang diisyaratkan.
10. Setelah pembesian struktur selesai, maka bekesting dapat dibuat sesuai dengan gambarrencana.
11. Sebelum memulai pengecoran seluruh kotoran yang berada dalam bekesting harusdibersihkan.
12. Beton harus dicor sedemikian rupa sehingga terhindar dari segregasi partikel kasar danhalus dari
campuran beton harus dicor dalam cetakan tidak boleh melampaui 1 meterdari tempat awal kerja.
13. Beton tidak boleh jatuh bebas kedalam cetakan dengan ketinggian lebih dari 150 cm..
14. Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis/Concrete Vibrator, penggetar harusdibatasi
waktu penggunaannya, sehingga menghasilkan pemadatan yang diperlukantanpa menyebabkan
terjadinya segregasi pada agregat.
15. Beton mutu sedang fc’25 MPa harus segera dirawat, setelah finishing selesai seluruhpermukaan
disemprot air merata kontinyu, dan kondisi kelembaban dijaga agar tetapselama masa perawatan.
Penyemprotan air dengan mengguanakan water tanker truck dan ditutup dengan karung goni atau
curing compound
A. Bahan / Material:
1. Semen
2. Pasir
3. Agregat Kasar
4. Kayu Perancah/Multiplex
5. Paku
B. Peralatan:
1. Concrete Pan Mixer/Batching Plant
2. Truck Mixer
3. Water Tanker Truck
4. Concrete Vibrator
5. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Pekerja
7.1 (8) Beton mutu rendah fc’= 15 MPa ( Trotoar dan Tiang sandaran )
Beton mutu sedang f’c 15 Mpa digunakan pada dinding dan trotoar jembatan. Sebelum melaksanakan
pekerjaan ini, penyedia jasa harus menyerahkan JMF dan JMD campuran beton kepada Konsultan
Pengawas atau Direksi Lapangan.Agregat beton fc’15 MPa dicampur sesuai dengan komposisinya
agregat kasar, pasir beton, semen dicampur dalam concrete pan mixer/batching plant sesuai komposisi
mix design yang disetujui oleh direksi lapangan dan konsultan, kemudian dicampur dengan air
secukupnya. Campuran beton mutusedang fc’ 15 MPa kemudian diangkut dengan truck mixer ke
lokasi pengecoran. Sebelum pengecoran dimulai bekisting sudah terpasang dengan baik sesuai
gambar dokumen kontrak. Selama pengecoran sekelompok pekerja membantu merapikan dan
memadatkan denganconcrete vibrator.
Selain itu juga perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut
1. Penyedia jasa harus mengirimkan rancangan campuran mix desain untuk mutu beton yang akan
digunakan sebelum pekerjaan beton dimulai.
2. Penyedia jasa harus mengirim gambar detail untuk seluruh perancah/bekesting yang akan
digunakan dan harus memperoleh persetujuan direksi pekerjaan.
3. Acuan kerja atau bekesting dari kayu balok dan multilplex 12 mm, pembuatan bekesting sesuai
dengan gambar rencana dilaksanakan oleh tukang dan pekerja dibawah arahan mandor dan
pelaksana.
4. Acuan harus dibuat sedemikian sehingga dapat dibongkar tanpa merusak beton.
5. Kayu yang tidak diserut permukaannya tidak dapat digunakan untuk permukaan betonyang
terexpos.
6. Lapis beton struktur mutu sedang fc’15 MPa dicampur di Concrete Pan Mixer/Batching Plant
sesuai dengan mix desain yang telah disepakati bersama.
7. Persetujuan atau proporsi bahan pokok campuran harus didasarkan pada percobaan campuran
(trial mix) yang dibuat oleh penyedia jasa dan disetujui oleh konsultan dan direksi lapangan.
8. Material pasir beton, semen, agregat kasar dimasukkan ke Concrete Pan Mixer atau Batching
Plant dengan menggunakan Excavator kemudian campuran material tersebut dimasukkan ke
dalam truck mixer.
9. Pengangkutan beton struktur mutu sedang fc’15 MPa dengan menggunakan truck mixer atau
penghantar jenis agitator (penggoyang bolak - balik) dan harus mampu menuangkan beton
dengan konsistensi adukan yang diisyaratkan.
10. Setelah pembesian struktur selesai, maka bekesting dapat dibuat sesuai dengan gambar rencana.
11. Sebelum memulai pengecoran seluruh kotoran yang berada dalam bekesting harus dibersihkan.
12. Beton harus dicor sedemikian rupa sehingga terhindar dari segregasi partikel kasar dan halus dari
campuran beton harus dicor dalam cetakan tidak boleh melampaui 1 meter dari tempat awal kerja.
13. Beton tidak boleh jatuh bebas kedalam cetakan dengan ketinggian lebih dari 150 cm.
14. Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis/Concrete Vibrator, penggetar harus dibatasi
waktu penggunaannya, sehingga menghasilkan pemadatan yang diperlukan tanpa menyebabkan
terjadinya segregasi pada agregat.
15. Beton mutu sedang fc’20 MPa harus segera dirawat, setelah finishing selesai seluruh permukaan
disemprot air merata kontinyu, dan kondisi kelembaban dijaga agar tetapselama masa perawatan.
Penyemprotan air dengan mengguanakan water tanker truck dan ditutup dengan karung goni atau
curing compound.
A. Bahan / Material:
1. Semen
2. Pasir
3. Agregat Kasar
4. Kayu Perancah/Multiplex
5. Paku
B. Peralatan:
1. Concrete Pan Mixer/Batching Plant
2. Truck Mixer3. Water Tanker Truck
4. Concrete Vibrator
5. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Pekerja
7.1 (10) Beton mutu rendah fc’= 10 Mpa ( Lantai Kerja )
Beton mutu rendah f’c10 Mpa digunakan pada lantai kerja. Sebelum melaksanakanpekerjaan ini,
penyedia jasa harus menyerahkan JMF dan JMD campuran beton kepada Konsultan Pengawas atau
Direksi Lapangan. Agregat beton fc’10 MPa dicampur sesuai dengan komposisinya agregat kasar,
pasir beton, semen dicampur dalam concrete panmixer/batching plant sesuai komposisi mix design
yang disetujui oleh direksi lapangan dan konsultan, kemudian dicampur dengan air secukupnya.
Campuran beton mutu rendah fc’ 10MPa kemudian diangkut dengan truck mixer ke lokasi
pengecoran. Sebelum pengecoran dimulai bekisting sudah terpasang dengan baik sesuai gambar
dokumen kontrak. Selama pengecoran sekelompok pekerja membantu merapikan dan memadatkan
dengan concrete vibrator
Selain itu juga perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut
1. Penyedia jasa harus mengirimkan rancangan campuran mix desain untuk mutu beton yang akan
digunakan sebelum pekerjaan beton dimulai.
2. Penyedia jasa harus mengirim gambar detail untuk seluruh perancah/bekesting yang akan
digunakan dan harus memperoleh persetujuan direksi pekerjaan.
3. Acuan kerja atau bekesting dari kayu balok dan multilplex 12 mm, pembuatan bekesting sesuai
dengan gambar rencana dilaksanakan oleh tukang dan pekerja dibawah arahan mandor dan
pelaksana.
4. Acuan harus dibuat sedemikian sehingga dapat dibongkar tanpa merusak beton.
5. Kayu yang tidak diserut permukaannya tidak dapat digunakan untuk permukaan beton yang
terexpos.
6. Lapis beton mutu rendah fc’10 MPa dicampur di Concrete Pan Mixer/Batching Plant sesuai
dengan mix desain yang telah disepakati bersama.
7. Persetujuan atau proporsi bahan pokok campuran harus didasarkan pada percobaan campuran
(trial mix) yang dibuat oleh penyedia jasa dan disetujui oleh konsultan dandireksi lapangan.
8. Material pasir beton, semen, agregat kasar dimasukkan ke Concrete Pan Mixer atau Batching
Plant dengan menggunakan Excavator kemudian campuran material tersebut dimasukkan ke
dalam truck mixer.
9. Pengangkutan beton mutu rendahfc’ 10 MPa dengan menggunakan truck mixer ataupenghantar
jenis agitator (penggoyang bolak - balik) dan harus mampu menuangkanbeton dengan konsistensi
adukan yang diisyaratkan.
10. Setelah pembesian struktur selesai, maka bekesting dapat dibuat sesuai dengan gambar rencana.
11. Sebelum memulai pengecoran seluruh kotoran yang berada dalam dekesting harus dibersihkan.
12. Beton harus dicor sedemikian rupa sehingga terhindar dari segregasi partikel kasar dan halus dari
campuran beton harus dicor dalam cetakan tidak boleh melampaui 1 meter dari tempat awal kerja.
13. Beton tidak boleh jatuh bebas kedalam cetakan dengan ketinggian lebih dari 150 cm.
14. Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis/Concrete Vibrator, penggetar harus dibatasi
waktu penggunaannya, sehingga menghasilkan pemadatan yang diperlukan tanpa menyebabkan
terjadinya segregasi pada agregat.
15. Beton mutu rendah fc’ 10 MPa harus segera dirawat, setelah finishing selesai seluruh permukaan
disemprot air merata kontinyu, dan kondisi kelembaban dijaga agar tetapselama masa
perawatan. Penyemprotan air dengan mengguanakan water tanker truck dan ditutup dengan
karung goni atau curing compound
A. Bahan / Material:
1. Semen
2. Pasir
3. Agregat Kasar
4. Kayu Perancah/Multiplex
5. Paku
B. Peralatan:
1. Concrete Pan Mixer/Batching Plant
2. Truck Mixer
3. Water Tanker Truck
4. Concrete Vibrator
5. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Pekerja
7.2 (1a) Penyediaan Unit Pracetak Gelagar Tipe PC I, L.20,60 m, H. 1.25 m dan CTC 1.85
Gelagar Tipe I Jembatan ini dipesan melalui pembuat dan pemasok Beton Pracetak dengan spesifikasi
panjang bentang dan mutu beton sesuai dengan spesifikasi teknik atau atas persetujuan konsultan
pengawas dan direksi lapangan. Dalam hal ini pembuat dan pemasok gelagar ini sendiri harus
memiliki izin sertifikat dan ISO yang mendapat pengakuan/dikeluarkan oleh instansi pemerintah
terkait. Setelah bentangan tiba di lokasi pekerjaan, penyedia jasa harus mengecek kembali
dudukan/abutment sebagai tempat dudukan Gelagar Pracetak. Apakah Dudukan gelagarnya
sudah tepat dan sesuai. Selanjutnya Gelagar Pracetak ini diangkat dengan menggunakan Crane on
Track dimana minimal harus terdapat 2 Crane on Track yang mengangkat gelagar ini dimasing-
masing ujung gelagar dandapat pula dibantu oleh excavator. Gelagar diangkat dan didudukan di
kedua abutment. Dalam Pengangkatan Gelagar ini penyedia jasa terutama operator crane in track
harus berhati-hati dan sangat teliti dalam mengangkan dan mendudukan gelagar pracetak ini sambal
mengikuti arahan dan petunjuk dari konsultan pengawas.
A. Bahan / Material:
1. Gelagar Pracetak Tipe I Bentang 20,6 Meter 40 MPa
B. Peralatan:
1. Crane on Truck
2. Excavator
5. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Pekerja
7.3 (1) Baja Tulangan U 24 Polos
Pekerjaan ini mencakup pengadaan dan pemasangan baja tulangan sesuai dengan spesifikasi dan
gambar, atau sebagaimana yang diperintahkan oleh konsultan pengawas dan direksi lapangan.
1. Baja beton U-24 polos diangkut ke lokasi kerja selanjutnya dipotong sesuai dengangambar
rencana, kemudian dirakit dan diikat dengan kawat bendrat atau kawat beton
2. Tulangan harus dibersihkan sesaat sebelum pemasangan untuk menghilangkan lumpur,kotoran,
kerak, dan lain-lain.
3. Tulangan harus ditempatkan akurat sesuai dengan gambar dan dengan kebutuhanselimut beton
minimum yang diisyaratkan
4. Batang tulangan harus diikat kencang dengan menggunakan kawat pengikat.
A. Bahan / Material:
1. Baja Tulangan U-242. Kawat Bendrat (Pengikat)
B. Peralatan:
1. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Tukang Besi
7.3 (3) Baja Tulangan U 32 Ulir
Pekerjaan ini mencakup pengadaan dan pemasangan baja tulangan sesuai dengan spesifikasi dan
gambar, atau sebagaimana yang diperintahkan oleh konsultan dan direksi lapangan.
1. Baja beton U 32 diangkut ke lokasi kerja selanjutnya dipotong sesuai dengan gambar rencana,
kemudian dirakit dan diikat dengan kawat bendrat atau kawat beton
2. Tulangan harus dibersihkan sesaat sebelum pemasangan untuk menghilangkan lumpur,kotoran,
kerak, dan lain-lain.
3. Tulangan harus ditempatkan akurat sesuai dengan gambar dan dengan kebutuhan selimut beton
minimum yang diisyaratkan
4. Batang tulangan harus diikat kencang dengan menggunakan kawat pengikat
A. Bahan / Material:
1. Baja Tulangan U-322. Kawat Bendrat (Pengikat)
B. Peralatan:
1. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Tukang Besi
7.6 (10)b Penyediaan Tiang Pancang Beton Bertulang Pracetak ukuran 400 mm x 400 mm
Tiang Pancang adalah salah satu jenis pondasi yang biasanya diaplikasikan di daerah dengan kondisi
tanah yang kurang stabil dimana umumnya dengan jenis tanah lembek atau tanah gambut dengan
elevasi muka air yang cukup tinggi. Tiang Pancang dalam defenisinya merupakan susunan tiang beton
bertulang dengan diameter 40 cm yang dimasukkan ataudi tancapkan secara vertikal ke dalam
tanah dengan menggunakan Pile Driver + Hammer yang ditunjukkan untuk memperkuat daya dukung
terhadap beban di atasnya. Tiang Pancang yang digunakan harus sesuai dengan spesifikasi yang telah
ditentukan atau berdasarkan petunjuk dan persetujuan dari konsultan pengawas dan direksi lapangan.
Berikut ini akan dijelaskan mengenai Metode Pemancangan Beton Tiang pancang menggunakan alat
pancang hidrolik hammer, yaitu sebagai berikut :
1. Penyiapan lahan area kerja yang cukup guna penampatan alat berat juga area manuveralat.
2. Penyiapan lahan untuk penempatan material (tiang pancang) pada posisi yang strategis guna
memudahkan dalam pengerjaannya.
3. Pada masing masing tiang pancang diberi identitas dan diberi meteran per satu meter.
4. Penyiapan alat-alat kerja pendukung lainnya.
5. Melakukan pengukuran :
Pengukuran dilakukan oleh Pemborong dengan disaksikan dan disahkan olehDireksi/MK.
Kedudukan/posisi dari masing-masing tiang pancang harus ditandai dengan patokbergaris
tengah 80 mm dengan panjang 300 mm yang ditancapkan didalam tanah.
Bagian atas patok sepanjang 150 mm harus dicat dengan warna yang menyolokSebelum
mulai jacking, tiang yang akan dijacking harus dicheck dan berada
dalamkeadaan/posisi vertikal.
Penyambungan tiap bagian tiang dengan las harus dilakukan secermat mungkin danbenar,
sehingga tidak ada celah/lubang pada sambungan las tersebut.
Semua tiang pancang harus mempunyai nomor referensi, tanggal cor, panjang dan lain
lainnya dengan aturan sebagai berikut :
Setiap tiang pancang bagian I diberi tanda pada interval 50 Cm.
Setiap tiang pancang bagian II diberi tanda pada interval 25 Cm.
Setiap tiang pancang bagian III diberi tanda pada interval 10 Cm.
6. Pengujian Tiang pancang :
a. Pengujian dilakukan terhadap suatu Tiang pancang percobaan yang tidak dipakai
(unusedpile) sebelum dilakukan pemancangan sebenarnya (used pile).
b. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk membuktikan kebenaran asumsi
yangdipergunakan dalam penurunan dan perhitungan design load dari tiang pancang.
7. Penyipapan informasi data teknis : Panjang tiang Pancang, Energi Hammer, Literaturdan
Referensi teknis lengkap tentang alat pemukul yang dipakai.
8. Tahap-tahap pelaksanaan pemancangan :
a. Sebelum dilakukan pemancangan, semua tiang pancang pra-cetak harus diberikanperincian
dan data secara jelas pada sisi puncak tiangnya meliputi nomor referensi , Panjangtiang,
tanggal pengecoran, beban Kerja.
b. Sebelum dilakukan pemancangan harus diteliti terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut :
Pada pemancangan tiang yang utuh maka pemancangan (set) maksimum umumnya
diperoleh dengan cara menggunakan alat pemukul (hammer) yang paling tepat dan paling
lunak. Bila pemancangan dilakukan secara sebagian (segmental) maka ketinggian
maksimum pemukulan yang diusulkan harus semaksimal mungkin konsisten dengan
tegangan maksimum yang diijinkan pada beton dan massa alat pemukulnya juga harus
diganti dengan yang sesuai, harus pula diperhitungkan kemungkinan adanya kehilangan
energi pada sambungan.
Bila tiang pancang segmental menemui tanah yang lembek sekali, batuan keras
ataulapisan-lapisan batuan maka ketinggian pemukulannya harus dikurangi.
Pemborong harus memberikan perincian tentang urutan pemancangan yang harus disusun
sedemikian rupa untuk menghindari terangkatnya kembali (up lifting) tian pancang.
Bila tiang yang dipancangkan pada tanah lunak sampai kelapisan keras pendukung untuk
memperoleh penumpuan ujung yang kuat (high end bearing) maka ketinggian semua tiang
pancang yang berdekatan harus diperiksa apakah terjadi pengangkatan, bila mengalami hal
tersebut.
Pemborong harus bertanggung jawab untuk melaksanakan semua usaha untuk memancang
kembali tiang pancang yang terangkat tersebut.
Semua pemancangan harus dilakukan sampai mencapai kedalaman yang direncanakan dan
disyaratkan, dalam pemancangan setiap titik pancang harus secara terus menerus tanpa
terputus kecuali terdapat penyambungan bagian tiang pancang. Dalam pemancangan perlu
diperhatikan bahwa jumlah pukulan pada masing-masing tiang pancang diusahakan agar
dibatasi sampai lebih kurang 2000 pukulan, apabila dalam harus dilakukan test integritas
tiang (Pile Integrity test/PIT) yang bertujuan untuk mengetahui kualitas tiang
pancang terpasang.
Mengecek kelurusan / kemiringan sudut tiang pancang dengan menggunakan
theodolitmin. 2 sudut yang berbeda.
9. Siapkan kertas grafik kalendering pada tiang pancang tersebut
10. Secara berlahan hummer diangkat keatas hingga ketinggian tertentu, kemudian hummer
dilapaskan.
11. Bila tiang pancang perlu mendapat sambungan karena kedalaman pemancangan masih belum
terlampaui, maka hentukan pemancangan tiang pancang hingga +/- 1 meter dari mukatanah
terhadap kepala tiang pancang.
12. Melakukan sambungan dengan tiang pancang berikutnya yang mana sambungan tersebut dilas
pada ujung tiang pancang dengan menggunakan mesin las yang kemudian hasil las diberibahan
anti karat maka konsultasikan dengan Konsultan Perencana untuk langkahberikutnya.
A. Bahan / Material:
1. Tiang Pancang
B. Peralatan:
1. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Pekerja
7.6 (16)b Pemancangan Tiang Pancang Beton Bertulang Pracetak ukuran 400 mm x 400 mm
Setelah Tiang pancang telah tiba di lokasi pekerjaan, sebelum memulai pemancanganterlebih dahulu
kita harus mengecek titik-titik lokasi yang akan dipancang. Apakah lahannyasudah siap dan alat-alat
yang digunakan telah ready. Setelah semuanya telah siap maka tiangpancang kemudian diangkat
dengan crane on track kemudian didirikan tegak lurus denganpile driver, selanjutnya dipancang
dengan menggunakan hammer sampai tiang pancangnyamendapatkan/menyentuk titik keras tanah.
Untuk posisi pemacangan di tengah sungai, makatiang pancang sedianya diangkat dan dibawah
dengan menggunakan ponton. Perludiperhatikan disini dalam pengerjaan pancang ditengah sungai
lebih berisiko karena bebanarus aliran sungai.Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses
pemancangan tiang adalahsebagai berikut :
1. Penyusunan tiang pancang di lapangan.
Pengangkatan dan penyusunan tiang pancang yang disimpan di lapangan harusmemperhatikan titik
angkat dan titik tumpu untuk penyimpanan material, sesuai denganpetunjuk teknis dari produsen
tiang pancang.
2. Pemeriksaan material tiang pancang
Pada waktu kedatangan material, harus dipastikan dilampiri mill sheet untukpemantauan
kesesuaian material yang diterima dengan spesifikasi teknis pekerjaan harusdipastikan kode dan
tanggal produksi sesuai dengan mill sheet yang dilampirkan pada suratpengiriman barang.Sebelum
digunakan, material tiang pancang harus diperiksa kembali :Tidak ada yang retak, cacat dan
pecah jika ada yang retak, cacat atau pecah makaharus dipisahkan untuk direpair oleh produsen
tiang pancang sebelum digunakanUkuran penampang dan panjang harus sesuai dengan spesifikasi
dan penempatannyapada gambar konstruksi Umur beton harus sudah memadai untuk
dipancang jika masih belum cukup umurmaka dipisahkan dulu dan ditunggu sebelum dipakai
3. Persiapan tiang untuk pemancangan.
Tiang pancang harus diberi marking atau tanda dengan cat merah, untuk keperluanpemantauan
pada saat pemancangan dilakukan :
Tiap jarak 0,5 m’ dari ujung tiang pancang sampai ke pangkalnya.
Diberi angka pada tiap meternya dari ujung bawah ke pangkal tiang.
Untuk tiang sambungan, angka harus melanjutkan angka dari tiang yang disambung.
Tiang sambungan harus selalu diposisikan di dekat titik pancang yang sedang dikerjakan -
supaya tidak terlalu lama mengambil tiang sambungan jika diperlukan penyambungan.
4. Pemantauan pelaksanaan pemancangan
Pada saat pekerjaan pemancangan harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Tiang pancang telah ditempatkan pada titik rencana dan diperiksa vertikalitasnya dari
2arah (X-Y penampang tiang pancang), toleransi kemiringan mengikuti
ketentuanspesifikasi alat dan spesifikasi teknis pemeriksaan boleh dilakukan
denganpendulum/bandul, selama kondisi angin tidak terlalu besar dan tidak mengganggu
posisibandul (harus bisa diam/stabil).
b. Tiang pancang harus sejajar dengan sumbu hammer dan ladder alat pancang jika
tidaksejajar, berpotensi tiang akan pecah atau patah dan dipantau berkala oleh
operator alat pancang dan helper counter harus mencatat jumlah pukulan per 0,5 m’ atau
per 1 m’
c. Kelurusan/vertikalitas tiang pancang selama pemancangan harus selalu dipantau oleh
helper operator dan jika terjadi pergeseran vertikalitas atau tiang menjadi miring,
makaharus dihentikan dulu pemancangannya :
Jika masih memungkinkan, tiang pancang diatur supaya vertikal kembali.
Jika sudah tidak memungkinkan penyesuaian tiang pancang, dilakukan
penyesuaian sumbu.
d. Jatuh hammer supaya sejajar dengan kemiringan sumbu tiang dan jika
kemiringanbertambah semakin parah di luar toleransi, pemancangan dihentikan.
e. Selama pelaksanaan pemancangan, tinggi jatuh hammer dipantau tidak boleh lebih dari2,5
m kecuali atas persetujuan khusus Konsultan Pengawas, namun tidak boleh lebih dari 3m
dalam segala kondisi pelaksanaan.
f. Jika diperlukan penyambungan diusahakan tidak melebihi 3 sambungan tiang.
g. Jika terdapat lapisan lensa/lapis tipis tanah keras, diusahakan untuk ditembus dengantidak
mengakibatkan tegangan internal melebihi spesifikasi material.
h. Tinggi jatuh hammer harus dipantau pada saat pengambilan final set yaitu:
Harus sesuai dengan syarat dari Konsultan Desain (untuk drop hammer).
dicatat sesuai dengan ram stroke yang terjadi untuk diesel hammer dan
hydraulichammer.
i. Pengambilan final set harus dilakukan :
Menggunakan kertas milimeter yang masih baru (tidak boleh berupa fotocopy).
Dengan pulpen supaya garis yang dihasilkan tidak terlalu tebal dan tidak luntur
jikaterkena air dan oli, tidak boleh dengan spidol atau pensil yang memberikan
garis yangtebal sehingga menyulitkan pembacaan garis grafik.
Pulpen harus dialasi acuan yang stabil dan tidak terpengaruh penurunan tiang saat
dipukul.
Arah penarikan pulpen harus sejajar dengan garis milimeter pada
kertasrecord/milimeter.
Grafik yang diambil harus jelas, tidak terlalu rapat garis rebound-nya dan tidak
miring.
Diambil pencatatan final set untuk minimal 10 kali pukulan.
Jika tidak tercapai nilai final set yang ditetapkan, maka pemancangan harus
dilanjutkan dan diambil lagi final setnya pada lembar yang sama, sampai tercapai
finalset yang ditetapkan.
5. Pemeriksaan terhadap heaving (pengangkatan).
Pile heaving adalah kondisi terangkatnya kembali tiang pancang yang sudah selesai dipancang,
akibat tekanan tanah yang terjadi pada saat pemancangan titik pondasi berikutnya yang berdekatan,
yang radiusnya tergantung dari sifat tanah di lokasi pekerjaan.
Untuk pemancangan tiang dalam kelompok (2 atau lebih), harus diperiksa secara berkala apakah
terjadi pile heaving atau tidak :
a) Untuk kelompok tiang yang terdiri dari 2-4 tiang pancang, tetap harus diperiksa pile heaving
pada pemancangan awal sebagai data awal– jika tidak terjadi pile heaving setelah 5
kelompok tiang pertama diperiksa, maka pemeriksaan berikutnya dapat dilakukan secara
random, namun jika terjadi pile heaving, maka harus diperiksa setiap kelompok tiang
berikutnya.
b) Setiap titik pancang yang telah selesai dipancang dalam satu kelompok harus dicatat level top
of pile nya sebelum dilakukan pemancangan berikutnya (level yang dicatat boleh merupakan
pinjaman level setempat dan tidak diikat ke BM, karena surveyor juga harus melakukan tugas
yang lain dan mungkin hanya dapat melakukan pengukuran optik dari posisi yang tidak
memungkinkan memindahkan acuan BM level ke tiang yang diukur).
c) Setiap selesainya pemancangan 2-4 tiang berikutnya dalam satu kelompok tiang,dilakukan
pengukuran ulang level tiang pancang yang telah terpancang sebelumnya dan dipastikan tidak
terjadi pile heaving.
d) Jika terjadi pile heaving, maka tiang pancang yang terangkat harus dipukul ulang/redrive
untuk mengembalikan level top of pile ke posisi semula atau sedikit lebih rendah dari level
awal – untuk pekerjaan re-drive harus dicatat pada piling record yang ada dan tidak perlu
dilakukan pengambilan grafik final set lagi.
e) Proses pengukuran dan pengecekan harus dilakukan terus sampai seluruh tiang pancang
dalam satu kelompok tiang selesai dipancang.
f) Penetapan nilai pengangkatan (heaving) yang disyaratkan untuk dilakukan re-driveharus
mengikuti ketentuan spesifikasi teknis atau persetujuan Konsultan Pengawas
direkomendasikan nilai 5 mm untuk end-bearing pile dan 3 cm untuk friction pile.
Untuk menghindari atau mengurangi resiko pile heaving dapat dilakukan langkah sebagai
berikut :
Jarak bersih antar tiang pancang tidak kurang dari 2 diameter atau diagonal
penampangtiang ditentukan oleh konsultan desain, jika terjadi pile heaving dalam 5
kelompok tiang berturut-turut, maka diinformasikan kepada PM untuk diputuskan
apakah akan diubah jarak antar tiang pancang atau tidak.
Jika terdapat kelompok tiang pancang, pemancangan dimulai dari posisi terdalam lalu
melingkar keluar
6. Penghentian Pekerjaan Pemancangan.
Penghentian pemancangan dilakukan jika salah satu kondisi berikut terjadi atautercapai final set
sudah dicapai (end-bearing pile) atau kedalaman pemancangan yang disyaratkan sudah dicapai
(friction pile). sudah mencapai maksimal 2.000 pukulan hammer/palu pancang. Telah mencapai
batas kelangsingan tiang pancang sesuai spesifikasi material atau ketentuan Konsultan harus
dilakukan penambahan titik pondasi tiang jika diperlukan. terjadi kerusakan pada tiang (pecah,
retak, patah, dsb) : harus dilakukan penambahan titik pondasi tiang terjadi kemiringan di luar
toleransi : harus dilakukan penambahan titik pondasi tiang.
7. Pencatatan data pelaksanaan.
Pencatatan data pelaksanaan yang harus dilakukan, minimal meliputi :
o Data jenis dan spesifikasi alat pancang yang dipakai.
o Data jenis, ukuran dan kapasitas material tiang pancang yang dipakai.
o Data pelaksanaan (Pile Driving Record dan Grafik Final Set).
o Data panjang tertanam termasuk konfigurasi sambungan tiang dan tanggalpemancangan,
yang ditabelkan sesuai dengan penomoran titik pancang pada gambarkonstruksi.
o Data pergeseran titik pancang yang diplotkan pada gambar dan ditabelkan,
sesuaipenomoran titik pancang.
o Data titik pancang yang berubah vertikalitas tiang pancangnya selama pemancangan,
dicatat dan ditabelkan sesuai nomor titik pancang pada gambar konstruksi.
o Tabel nilai kapasitas ultimate dan ijin tiap titik pancang sesuai nomor pada
gambarkonstruksi, dengan menggunakan rumus dinamik yang telah diverifikasi dengan
pengujian PDA Test atau Static Loading Test.
o Kekurangan serta kelebihan menggunakan pondasi tiang pancang.
A. Bahan / Material:
1. Tiang Pancang
B. Peralatan:
1. Crane on Track
2. Ponton
3. Pile Driver + Hammer
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Pekerja
7.9 (1) Pasangan Batu
Pasangan batu biasa digunakan pada struktur dinding penahan, tembok pada kepala gorong-
gorong, lantai gorong-gorong, pekerjaan pelindung lainnya pada lereng. Dalam Hal ini pasangan
batu pada pelaksanaan pekerjaan ini berperan sebagai talud.
Uraian pelaksanaanya ialah,
1. Dilakukan dengan menggunakan tenaga manusia .
2. Bahan diterima di lokasi pekerjaan.
3. Semen, Pasir dan air dicampur dan diaduk menjadi mortar dengan menggunakan
concretemixer, air diambil dengan menggunakan wáter tanker.
4. Batu dibersihkan dan dibasahi seluruh permukaannya sebelum dipasang.
5. Pasang benang pada sisi luar profil sesuai dengan hasil pengukuran dan gambar rencana.
6. Landasan dari adukan baru paling sedikit 3 cm tebalnya harus dipasang pada pondasi yang
disiapkan sesaat sebelum penempatan masing masing batu pada lapisan pertama.
7. Batu besar pilihan harus digunakan untuk lapis dasar dan pada sudut sudut. perhatianharus
diberikan untuk menghindar pengelompokan batu yang ukuran sama.
8. Batu harus dipasang dengan muka yang terpanjang mendatar dan muka yang tampakharus
dipasang sejajar dengan muka dinding dari batu yang terpasang.
9. Dinding dari pasangan batu harus dilengkapi dengan sulingan. Kecuali ditunjuk lain
padagambar atau diperintahkan oleh direksi lapangan, lubang sulingan harus ditempatkan
dengan jarak antar tidak lebih dari 2m dari sumbu satu ke sumbu yang lain dan
harus berdiameter 50mm.
10. Melakukan penyelesaian dan perapian setelah pemasangan oleh sekelompok pekerja.
A. Bahan / Material:
1. Batu Kali/Gunung
2. Semen
3. Pasir
B. Peralatan:
1. Concrete Mixer
2. Water Tanker
3. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Tukang Batu
3. Pekerja
7.11 (6) Expansion Joint Tipe Baja Bersudut
Item Expansion Joint Tipe baja bersudut dipasang di antara plat lantai dan platinjak, dipasang
untuk meredam surut dan muai beton dan juga mengalihkan beban. Ada beberapa hal perlu
diperhatikan dalam pekerjaan ini, antara lain :
1. Lokasi sambungan pelaksanaan harus ditunjukkan dalam gambar rencana, dan tidak
ditempatkan pada pertemuan elemen struktur,
2. Tidak boleh ada sambungan konstruksi pada tembok sayap,
3. Sambungan konstruksi harus tegak lurus terhadap sumbu memanjang dan diletakkanpada
gaya geser minimum,
4. Pada sambungan vertikal, baja tulangan harus menerus melewati sambungan agarstruktur
tetap monolit,
5. Untuk pelat, untuk luas pelat minimum 40 m2 boleh diletakkan sambungan konstruksi dengan
dimensi maksimum tidak lebih dari 1,2 x dimensi yang lebih kecil
6. Boleh digunakan bonding agent untuk pelekatan sambungan konstruksi seiizin konsultan
pengawas atau direksi lapangan,
7. Tidak diperkenankan adanya sambungan konstruksi pada daerah air asin pada tempat 75 cm
di bawah muka air tertinggi atau 75 cm di atas muka air terendah.
A. Bahan / Material:
1. Elastomer/Logam
2. Bahan Pengisi/Filler/Beton/Aspal Sealent
3. Sealent (Penutup)
B. Peralatan:
1. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Pekerja
7.12 (3) Perletakan Elastomerik Sintetis Ukuran 350 mm x 500 mm x 40 mm
Material dan peralatan disiapkan, Perletakan Elastomerik Bearing Pad ukuran 350x 500 x 40 mm
dipasang dengan seksama. Penyelesaian dan perapihan setelah pemasangan. Pekerjaan dilakukan
secara mekanik dengan urutan perletakan harus ditandai dengan jelas tentang jenis dan tempat
pemasangan pada saat tiba ditempat kerja. Alat – alat pengamanan yang cocok harus disediakan
sebagaimana diperlukan. Alat– alat penjepit sementara harus digunakan untuk menjaga orientasi
bagian-bagian dengan tepat
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perletakan elastometrik adalah sebagai berikut:
Bahan harus cukup keras yaitu mempunyai hardness 55 ± 5 duro
Untuk bantalan karet dengan ketebalan > 1”, menggunakan laminasi antara pelat baja
dengan karet
Perlu uji kelekatan (geser) antara pelat baja dengankaret
Perlu aging test bahan karet sesuai ASTM 573, dimana pemuluran sampai putus50%,
perubahan kuat tarik max 15%, kekerasan max 10 Hs.
Bahan polymer dalam campuran karet tidak boleh lebih dari 60% terhadap volume total
bantalan
Tebal pelat baja minimum adalah 1/16”
Ujung-ujung pelat baja tertanam tidak tajam.
A. Bahan / Material:
1. Elastomer Bearing Pad
B. Peralatan:
1. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Pekerja
7.13 (1) Sandaran (Railing)
Pekerjaan ini terdiri dari penyediaan, fabrikasi dan pemasangan sandaran baja untuk jembatan dan
pekerjaan lainnya seperti galvanisasi, pengecatan, tiang sandaran, pelat dasar, baut pemegang, dan
sebagainya, sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar atau diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan dan memenuhi Spesifikasi ini
Kontraktor harus menyerahkan gambar kerja untuk disetujui Direksi Pekerjaan untuk setiap jenis
sandaran baja yang akan dipasang. Fabrikasi tidak boleh dimulai sebelum gambar kerja
disetujui.Kontraktor harus menyerahkan sertifikat pabrik pembuat sandaran baja yang
menunjukkan mutu baja, pengelasan, dan sebagainya
A. Bahan / Material:
1. Pipa D : 7,6 cm Galvanised
2. Dudukan Plat
3. Dudukan, mur, baut, dll.
B. Peralatan:
1. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Pekerja Besi
7.14 (1) Papan Nama Jembatan
Papan Nama Jembatan dipasang secara manual menggunakan alat bantu dan menggunakan adukan
semen sebagai perekat. setelah itu, Finishing dengan membersihkan papan
A. Bahan / Material:
1.Marmer
2.Adukan Semen
B. Peralatan:
1. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2.Pekerja
7.16 (2)a Pipa Drainase Baja diameter 75 mm
Pipa ini berfungsi sebagai pembuangan air hujan yang terletak pada lantai jembatan ke arah
bawah. Diameter minimum 75 mm, dengan bahan dari baja galvanis.
Pelat Panel (f'c = 28 Mpa) sudah termasuk pemasangan
Plat Deck beton dipesan dari penyedia sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan atau
berdasarkan dari gambar rencana dengan mutu Fc’ 28 MPa dan Tebal 7 cm. Setelah Plat Deck tiba
di lokasi area pekerjaan, selanjutnya plat deck tersebut diangkat denganmenggunakan Crank on
Track secara hati-hati dan didudukan di atas gelagar. Perludiperhatikan dudukan Plat Deck ini
harus pas sesuai agar nantinya tidak terjadi kegagalanstruktur selanjutnya
A. Bahan / Material:
1.Plat Deck fc’ 28 MPa, t = 7 cm
B. Peralatan:
1. Crane on Track + Ponton
2. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2.Pekerja
Diafragma ( fc’ 28 Mpa ) termasuk pekerjaan penegangan setelah pengecoran (post tension)
Diafragma merupakan elemen yang ditempatkan pada elemen lain atau pada sistem super structure
untuk mendistribusikan gaya-gaya serta untuk meningkatkan kekuatan dan kekakuan system.
Diafragma adalah elemen struktur yang berfungsi untuk memberikanikatan antara Girder sehingga
akan memberikan kestabilan pada masing Girder dalam arah horisontal. Pengikat tersebut
dilakukan dalam bentuk pemberian stressing pada diafragmadan gelagar sehingga dapat bekerja
sebagai satu kesatuan. Diafragma berfungsi sebagai pengunci dan pengaku antar girder agar tidak
terjadi guling. Setelah pekerjaan pemasangan balok girder selesai, dilanjutkan dengan pemasangan
beton diafragma. Beton diafragma dicetak di lokasi atau dicetak di tempat lain dengan mutu dan
bentuk sesuai dengan spesifikasi/gambar rencana dan telah mendapat persetujuan dari konsultan
pengawas maupun direksi lapangan. Perlu diperhatikan sebelum pekerjaan diafragma
dilaksanakan,terlebih dahulu dilakukan penyatuan gelagar dengan menggunakan metode Post
Tension.Metode Post Tension dilakukan dengan menggabungkan beberapa segmen balok untuk
kemudian disatukan dengan menggunakan perekat lalu disetressing
A. Bahan / Material:
1.Beton Diafragma fc’ 28 MPa
B. Peralatan:
1. Crane on Truck
2. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2.Pekerja
Pinrang, Februari 2023
Pejabat Pembuat Komitmen
HAMIRUDDIN, ST
Nip. 19660505 200212 1 003| Authority | |||
|---|---|---|---|
| 19 November 2015 | Penggantian Jbt..S.Appabatu,cs | Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat | Rp 19,363,100,000 |
| 13 February 2018 | Pembangunan Fasilitas Rumdis Korem 142/Tatag Mamuju Kodam Xiv/Hsn | Kementerian Pertahanan | Rp 13,128,756,000 |
| 13 March 2023 | Peningkatan Jembatan Jalan Poros Letta - Kariango Kec. Lembang | Kab. Pinrang | Rp 9,800,000,000 |
| 14 March 2018 | Konsolidasi Pembangunan Permukiman Transmigrasi Sp2 Tammajannang | Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI | Rp 7,619,500,000 |
| 13 February 2018 | Pembangunan Fasilitas Gedung Korem 142/Tatag Mamuju Kodam Xiv/Hsn | Kementerian Pertahanan | Rp 7,250,892,000 |
| 8 January 2020 | Pemb. Rumdis Kodim Mamasa | Kementerian Pertahanan | Rp 6,664,896,000 |
| 29 July 2015 | Peningkatan Jalan Poros Kimtrans Tandeallo Ulumanda (4.700 M) | Rp 5,986,220,000 | |
| 1 August 2016 | Pembangunan Bangunan Atas (Rangka Baja) Jembatan Bamba Kec. Batulappa | Agency LPSE Pinrang | Rp 5,046,625,000 |
| 7 February 2019 | Pemb. Gedung Ajenrem 142/Tatag (Paket 1) | Kementerian Pertahanan | Rp 4,764,368,000 |
| 5 February 2019 | Pemb. Gedung Denhubrem 142/Tatag (Paket 1) | Kementerian Pertahanan | Rp 4,764,368,000 |