METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN
PEMBANGUNAN JEMBATAN
LINGKUP PEKERJAAN
DIVISI 1. UMUM
1. Mobilisasi
2. Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas
DEVISI 3. PEKERJAAN TANAH
1. Galian Biasa
2. Timbunan Biasa dari Sumber galian
3. Timbunan Pilihan dari Sumber Galian
DEVISI 5. PERKERASAN BERBUTIR
1. Lapis Pondasi Agregat Kelas B
2. Perkerasan Beton Semen ( Badan Jalan )
DEVISI 7. STRUKTUR
1. Beton mutu sedang fc’= 20 MPa untuk Bahu Jalan
2. Pasangan Batu
3. Baja Tulangan U 24
4. Pembongkaran Pasangan Batu
DIVISI 1. UMUM
1. Mobilisasi
Kegiatan mobilisasi mencakup pekerjaan, sebagai berikut :
Pengangkutan Material konstruksi sesuai dengan daftar peralatan yang akan digunakan untuk
mengerjakan proyek. Alat -alat yang berasal dari luar dengan menggunakan Dump Truk ke Lokasi
Pekerjaan.
Mobilisasi juga meliputi demobilisasi dari tempat kerja oleh kontraktor pada akhir kontrak, kontraktor
harus menyerahkan program mobilisasi kepada konsultan pengawas untuk diperiksa dan kemudian diajukan
ke pemimpin proyek untuk disetujui dan akan dinyatakan (persetujuannya) sebelum tanggal permulaan
berlakunya Kontrak.
a. Sewa Tanah
Sewa tanah pada masyarakat untuk pembuatan base camp, kantor kerja, barak karyawan, gudang
dan lain-lain.
b. Peralatan
Peralatan yang akan digunakan untuk melaksanakan pekerjaan ini:
Semua peralatan seperti yang tercantum pada tabel di atas dimobilisasi menuju site (lokasi kerja),
mobilisasi sebagian menggunakan Dump Truk sebagian peralatan dengan Self Loaderatau Trailer,
sedangkan yang lain selain peralatan semua personil pekerja juga dimobilisasi ke lokasi kerja.
c. Mobilisasi Fasilitas Kontraktor
• Base Camp
Pembuatan Base Camp kerja dibuat di sekitar lokasi kerja, dimana konstruksi yang digunakan
adalah konstruksi dari kayu kls II dan penutup atap seng Bjls 0,30 lantai berupa rabat beton dilengkapi
dengan pintu dan jendela. Base camp dibuat sebagai tempat tinggal para karyawan selama pekerjaan
berjalan. Base Camp harus juga dilengkapi kantor Direksi dan diisi dengan meja, kursi lipat, kotak
P3K dan papan nama proyek.
• Kantor
Pembuatan Kantor kerja dibuat di sekitar lokasi kerja, dimana konstruksi yang digunakan
adalah konstruksi dari kayu kls II dan penutup atap seng Bjls 0,30. Kantor kerja dibuat sebagai tempat
membuat laporan dan kelengkapan administrasi proyek selama pekerjaan berjalan. Ataupun dialihkan
dengan menyewa rumah penduduk untuk dijadikan sebagai kantor sementara pelaksanaan pekerjaan.
• Gudang dan Lain-lain
Pembuatan Gudang,danlain-lain dibuat di sekitar lokasi kerja, dimana konstruksi yang
digunakan adalah konstruksi dari kayu kls II dan penutup atas seng Bjls 0,30. Gudang dan lain-lain
dibuat sebagai tempat penyimpanan material dan peralatan kerja dan juga sebagai fasilitas penunjang
pekerjaan selama pekerjaan dikerjakan.
d. Mobilisasi lainnya
Pembuatan Kantor kerja dibuat di sekitar lokasi kerja, dimana konstruksi yang digunakan adalah
konstruksi dari kayu kls II dan penutup atap seng Bjls 0,30. Kantor kerja dibuat sebagai tempat membuat
laporan dan kelengkapan administrasi proyek selama pekerjaan berjalan. Ataupun dialihkan dengan
menyewa rumah penduduk untuk dijadikan sebagai kantor sementara pelaksanaan pekerjaan.
e. Lain-Lain
• Komunikasi Lapangan
Alat komunikasi lapangan perlu disiapkan untuk kelancaran pekerjaan dan komunikasi
terhadap pelaksana lapangan dan penyedia jasa.
• Asbuilt Drawing
Pembuatan As-Built Drawing dibuat setelah pekerjaan selesai, pembuatan as-built drawing
dibuat berdasarkan hasil pengukuran akhir dan dibuat sebagai laporan gambar terakhir kepada
penyedia jasa bahwa pekerjaan telah selesai.
• Papan Nama Proyek
Papan nama proyek digunakan sebagai identitas atau informasi mengenai proyek. Papan nama dibuat
dua buah dan ditempatkan pada awal dan akhir proyek,papan nama terbuat dari plywood dan kayu kaso
dengan pondasi adukan semen, pasir dan split.
f. Manajemen Dan Keselamatan Lalu Lintas.
Dalam pelaksanaan proyek, perlu diperhatikan keselamatan kerja yang baik, atau keselamatan
kepada pekerja maupun keselamatan kepada masyarakat yang melintas dilokasi jalan yang sedang
dikerjakan. Sehingga penyedia jasa harus menyediakan perlengkapan jalan sementara sesuai Rencana
Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas (RMKL), perlengkapan jalan/jembatan sementara dapat
berupa.
1. Rambu panah berkedip.
2. Rambu tetap informasi pengalihan/pengatur lalu lintas.
3. Rambu portable informasi pengalihan/pengaturan lalu lintas.
4. Rambu penghalang lalu lintas jenis plastic.
5. Rambu peringatan.
6. Rambu petunjuk.
7. Peralatan Komunikasi dan lainnya.
Penyediaan dan penempatan alat pemberi isyarat lalu lintas dan rambu lalu lintas sementara sekurang-
kurangnya harus sesuai dengan pedoman perambuan sementara untuk pekerjaan jalan. No. Pd-T-12-2003,
dan panduan teknis 3, keselamatan dilokasi pekerjaan jalan, dan peraturan menteri perhubungan No. PM
13/2014 tentang rambu lalu lintas.
Perlengkapan jalan sementara yang rusak oleh sebab apapun selama periode pelaksanaan harus
diperbaiki atau diganti segera, termasuk pengecetan jika perlu oleh penyedia jasa dengan biaya sendiri.
Bila tidak diperlukan lagi , perlengkapan jalan sementara harus disingkirkan dari daerah kerja.
Perlengkapan jalan sementara harus dibuat sedemikian hingga tidak merusak kendaraan yang melalui
atau melukai pengguna jalan jika tertabrak dan harus tetap stabil dan berdiri di tempat ketika diterpa angin
maupun getaran akibat lalu lintas kendaraan lewat.
g. Demobilisasi
Semua alat kerja yang digunakan pada akhir/finishing pelaksanaan pekerjaan segera dilakukan
demobilisasi kembali.Setelah semua Pelaksanaan pekerjaan selesai maka kontraktor akan melakukan
pembersihan akhir dimana barak kerja, kantor direksi dan lain-lain akan di bongkar dan diangkut ke luar
lokasi menurut petunjuk direksi. Pembersihan ini dikerjakan pada semua lini yang terjadi akibat efek dari
pelaksanaan pekerjaan. Pihak pelaksana bersama-sama konsultan pengawas/Direksi, dan PPK melakukan
serah terima pekerjaan. Dalam jangka waktu masa pemeliharaan selama waktu yang telah ditentukan
segala sesuatu yang terjadi dari hasil pekerjaan tersebut menjadi tanggung jawab pelaksana dan harus
dilakukan perawatan.
2. Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas
Dalam pelaksanaan proyek, perlu diperhatikan keselamatan kerja yang baik, atau keselamatan
kepada pekerja maupun keselamatan kepada masyarakat yang melintas dilokasi jalan yang sedang
dikerjakan. Sehingga penyedia jasa harus menyediakan perlengkapan jalan sementara sesuai Rencana
Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas (RMKL), perlengkapan jalan/jembatan sementara dapat berupa.
1. Rambu panah berkedip.
2. Rambu tetap informasi pengalihan/pengatur lalu lintas.
3. Rambu portable informasi pengalihan/pengaturan lalu lintas.
4. Rambu penghalang lalu lintas jenis plastic.
5. Rambu peringatan.
6. Rambu petunjuk.
7. Peralatan Komunikasi dan lainnya.
Penyediaan dan penempatan alat pemberi isyarat lalu lintas dan rambu lalu lintas sementara
sekurang-kurangnya harus sesuai dengan pedoman perambuan sementara untuk pekerjaan jalan. No. Pd-
T-12-2003, dan panduan teknis 3, keselamatan dilokasi pekerjaan jalan, dan peraturan menteri
perhubungan No. PM 13/2014 tentang rambu lalu lintas.
Perlengkapan jalan sementara harus dibuat sedemikian hingga tidak merusak kendaraan yang
melalui atau melukai pengguna jalan jika tertabrak dan harus tetap stabil dan berdiri di tempat ketika
diterpa angin maupun getaran akibat lalu lintas kendaraan lewat.
a. Koordinator Manajemen Keselamatan Lalu Lintas .
a. Penyedia jasa harus menyediakan tenaga Koordinator Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas
(KMKL) yang memadai.
KMKL harus secara aktif berparstisipasi dalam semua rapat regular maupun khusus dengan direksi
pekerja. KMKL harus siap dihubungi pada setiap saat (24 jam perhari, 7 hari per minggu) melalui
komunikasi bergerak untuk mengatasi kesulitan –kesulitan, keadaan darurat dan hal-hal lain terkait lalu
lintas dan manajemen keselamatan selama periode pelaksanaan.
Tugas –tugas KMKL harus mencakup berikut ini:
1. Memahami persyaratan kontrak tual, termasuk denah, spesifikasi, dan lingkungan di mana pekerjaan
sipil akan dilaksanakan.
2. Menginspeksi rutin terhadap kondisi dan keefektifan dari pengaturan lalu lintas yang di gunakan
dalam kegiatan dan memastikan bahwa perlengkapan tersebut berfungsi sebagai mana mestinya,
bersih, dapat dilihat dan memenuhi spesifikasi,denah serta peraturan-peraturan setempat.
3. Meninjau dan mengantisipasi kebutuhan atas pengaturan lalu lintas yang sesuai, memberi pendapat
kepada direksi pekerjaan tentang hal-hal terkait, dan memastikan bahwa RMKL telah
diimplemntasikan untuk pergerakan lalu lintas yang aman dan efisiensi.
4. Mengkoordinasikan pemeliharaan dari pengoperasian lalu lintas dengan direksi pekerjaan.
5. Melakukan rapat keselamatan lalu lintas dengan penyedia jasa sebelum pelaksanaan dimulai, dan
rapat berkala yang dianggap perlu atau sebagaimana diperintahkan oleh direksi pekerja. Direksi
pekerjaan harus diberitahu sebelumnya untuk menghadiri rapat-rapat ini.
b. Urutan Kerja Keselamatan Lalu lintas Yang Perlu Diperhatikan Oleh Penyedia Jasa.
1. Penyedia jasa menyiapkan perlengkapan keselamatan jalan selama periode konstruksi sesui ketentuan.
2. Buat rencana kerja manajemen lalu lintas sesui schedule pekerjaan dan di koordinasikan dengan
seluruh personil yang terkait.
3. Kelompok kerja pengatur lalu lintas selama konstruksi menggunakan tenaga pengatur dan flagman
dengan 3 shiff.
4. Pengalihan arus lalu lintas harus ijin PPK dan pihak terkait.
5. Semua rambu lintas harus jelas dan terbaca oleh pengguna jalan.
PEKERJAAN TANAH
1. Galian Biasa
Sebelum melaksanakan galian perlu dilakukan pengukuran guna penentuan patok-patok dan titik
elevasi serta arah galian. Galian untuk Pondasi sepanjang sisi jalan yang dikerjakan. Penggalian
dilakukan dengan cara Manual.
Perlu Diperhatikan :
1. Lokasi pembuangan hasil galian ditunjukkan oleh direksi lapangan, seluruh bahan galian dibuang
dan diratakan agar tidak terjadi dampak lingkungan yang mungkin terjadi.
2. Elevasi galian dasar yang telah selesai dikerjakan tidak boleh berbeda lebih dari 3 cm dari yang
ditentukan atau yang disetujui pada setiap titik, untuk menjamin aliran yang bebas dan tanpa
genangan bilamana alirannya kecil.
3. Apabila terdapat pekerjaan stabilisasi timbunan atau pekerjaan galian tersebut harus direlokasi agar
tidak menggangu aliran air, relokasi yang demikian harus disetujui terlebih dahulu oleh direksi
lapangan.
• Bahan / Material:
1. Tidak ada
• Peralatan:
2. Linggis
3. Skop
4. Gerobak
5. Alat Bantu
• Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Pekerja
a. Uraian Kerjaan
1. Tanah yang dipotong umumnya berada disisi jalan
2. Penggalian dilakukan dengan menggunakan Excavator
3. Selanjutnya Excavator menuangkan material hasil galian kedalam Dump Truck
4. Dump Truck membuang material hasil galian keluar lokasi jalan sejauh yang sudah ditentukan
2. Timbunan Biasa dari Sumber galian
Pekerjaan ini mencakup pengadaan, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan tanah atau
bahan berbutir yang disetujui untuk pembuatan timbunan, untuk penimbunan kembali galian pipa atau
struktur dan untuk timbunan umum yang diperlukan untuk membentuk dimensi timbunan sesuai
dengan garis, kelandaian, dan elevasi penampang melintang yang disyaratkan atau disetujui oleh
Pengawas Pekerjaan.
a. Tujuan
Untuk mendapatkan hasil Pekerjaan Timbunan dari tanah galian yang baik yang memenuhi
syarat standar mutu sebagai berikut :
• Permukaan bidang timbunan dipadatkan terlebih dahulu dengan nilai kepadatan yang sudah
ditentukan (sesuai spesifikasi)
• Bahan Timbunan (hasil galian) memenuhi syarat (misalnya bebas dari material organis kotoran,
akar, rumput top soil)
• Bahan Timbunan yang dipergunakan telah disetujui (Approval) oleh Klien ataupun project
manager
• Dilakukan test kepadatan dari bahan timbunan di laboratorium mekanika tanah untuk diadakan
acuan test kepadatan di lapangan.
• Dilakukan trial embankment, sehingga didapatkan hasil dengan peralatan yang dipergunakan
nilai kepadatan dari timbunan tersebut (misalnya jumlah lintasan untuk pemadatan dengan
compactor yang dipergunakan).
b. Ruang Lingkup
Prosedur ini berlaku di area kerja Proyek.
c. Penanggung Jawab
- Project Manager
- Site Manager
- QA/QC
- Supervisor
d. Peralatan
1. Excavator
2. Dump Truck
3. Motor Grader
4. Vibro Roller
5. Water tank truck
e. Uraian Kerjaan
Persiapan
a. Siapkan peralatan (Gerobak, Dump Truck) yang cukup, dan dalam kondisi baik.
b. Siapkan peralatan pembantu (Linggis, Cangkul, dll) yang cukup
c. Siapkan lokasi pekerjaan yang akan ditimbun dengan urutan sebagai berikut :
Kupas/stripping permukaan tanah yang akan ditimbun dengan ketebalan sesuai
spesifikasi (± 20 cm)
Padatkan tanah sesudah dikupas/stripping sehingga diperoleh permukaan dengan
kepadatan sesuai spesifikasi.
Pelaksanaan Pekerjaan
a. Pekerjaan Pengukuran
Ukur elevasi permukaan tanah sebelum dilakukan pekerjaan kupasan (kondisi 0%)
Ukur elevasi permukaan tanah setelah dilakukan kupasan.
Ukur elevasi top permukaan tanah setelah pekerjaan timbunan selesai kondisi 100%
Dilakukan monitoring pekerjaan timbunan layer demi layer (Max 30 cm)
b. Pelaksanaan Pekerjaan Timbunan
c. Bahan timbunan dihampar dengan Bulldozer sesuai dengan patok pembatas / koridor rencana
kontruksi bangunan (misalnya tanggul badan jalan dan lain-lain) sesuai
dengan Design Drawing(Gambar Desain).
d. Maximum tebalnya hamparan sesuai dengan ketentuan (misalnya tebal timbunan per layer =
30 cm / kondisi loose)
e. Padatkan hamparan timbunan yang sudah rata dengan compactor (apabila diperlukan
permukaan tanah disiram dengan air)
f. Apabila diperlukan selama hamparan, dilakukan pembersihan kotoran (misalnya akar dan
lain-lain), dari bahan timbunan dengan tenaga kerja khusus.
g. Diadakan test kepadatan timbunan di lapangan dengan acuan data dari test kepadatan
laboratorium
h. Dilakukan penimbunan kembali (setelah tes kepadatan memenuhi syarat) layer demi layer,
sampai didapat top elevasi permukaan tanah yang ditentukan.
i. Hasil Trial Embankment merupakan ketentuan untuk patokan pelaksanaan pekerjaan
timbunan tersebut
Akhir Pekerjaan
a. Parkirkan semua alat berat di tempat yang datar dan aman.
b. Pastikan semua komponen dalam posisi aman dan terkunci.
c. Parkirkan dump truck di tempat yang telah ditentukan dan pasanglah pengganjal roda
terutama bila diparkir di tempat miring.
d. Jangan meninggalkan kunci didalam kendaraan/alat berat.
e. Taruh kembali peralatan pembantu ditempat yang aman yang telah ditentukan.
3. Timbunan Pilihan dari Sumber galian
Timbunan pilihan akan digunakan sebagai lapis penopang (capping layer) untuk meningkatkan
daya dukung tanah dasar, juga digunakan di daerah saluran air dan lokasi serupa dimana bahan yang
plastis sulit dipadatkan dengan baik. Timbunan pilihan dapat juga digunakan untuk stabilisasi lereng
atau pekerjaan pelebaran timbunan jika diperlukan lereng yang lebih curam karena keterbatasan
ruangan, dan untuk pekerjaan timbunan lainnya dimana kekuatan timbunan adalah faktor yang kritis.
Hal yang perlu diperhatikan.
• Sebelum penghamparan timbunan pada setiap tempat, semua bahan yang tidak diperlukan harus
dibuang.
• Timbunan harus ditempatkan ke permukaan yang telah disiapkan dan disebar dalam lapisan yang
merata yang bila dipadatkan akan memenuhi toleransi tebal lapisan yang disyaratkan. Bilamana
timbunan dihampar lebih dari satu lapis, lapisan-lapisan tersebut sedapat mungkin dibagi rata
sehingga sama tebalnya.
• Tanah timbunan umumnya diangkut langsung dari lokasi sumber bahan ke permukaan yang telah
disiapkan pada saat cuaca cerah dan disebarkan. Penumpukan tanah timbunan untuk persediaan
biasanya tidak diperkenankan, terutama selama musim hujan.
• Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan, setiap lapis harus dipadatkan dengan
peralatan pemadat yang memadai dan disetujui sampai mencapai kepadatan yang disyaratkan.
• Pemadatan timbunan tanah harus dilaksanakan hanya bilamana kadar air bahan berada dalam rentang
3 % di bawah kadar air optimum sampai 1 % di atas kadar air optimum. Kadar air optimum harus
didefinisikan sebagai kadar air pada kepadatan kering maksimum yang diperoleh bilamana tanah
dipadatkan sesuai dengan SNI 03-1742-1989.
a. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku di area kerja Proyek.
b. PENANGGUNG JAWAB
- Project Manager
- Site Manager
- QA/QC
- Supervisor
c. Bahan / Material :
• Bahan pilihan
Peralatan:
1. Wheel Loader
2. Tandem
Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Pekerja
DEVISI 5. PEKERJAAN PERKERASAN BERBUTIR
1. Lapis Pondasi Agregat Kelas B
LPB adalah lapis pondasi agregat yang berada di atas tanah dasar /subgrade. Tanah dasar di bawah LPB bisa
berupa tanah asli maupun tanah timbunan dan galian. Lapis pondasi agregat kelas B ini merupakan campuran
dari berbagai fraksi agregat dengan ketentuan gradasi sesuai dengan Tabel SNI berikut.
Tabel di atas adalah gradasi lapis pondasi agregat mulai dari kelas A, kelas B dan kelas S. Agregat yang lolos saringan
sesuai dengan kriteria akan dicampur menjadi lapis pondasi. Komposisi campuran agregat kelas B tergantung dari Job
Mix Formula yang telah dibuat. Pembuatan JMF dimulai dengan berbagai pengujian material agregat antara lain
pengujian berat jenis, CBR, uji kekerasan batu (abrasi), dan lain sebagainya.
Contoh komposisi Agregat kelas B hasil dari JMF adalah sebagai berikut
Fraksi 1 (37.5 - 50) = 15%
Fraksi 2 (0 - 37.5) = 53%
Fraksi 3 (Pasir ) = 32%
Pembuatan komposisi agregat kelas B harus memenuhi syarat sebagai berikut.
A. Metode Pelaksanaan Agregat kelas B
Pelaksanaan agregat kelas B dilakukan setelah subgrade siap. Berikut langkah- langkah pekerjaan agregat kelas B.
1. Pekerjaan persiapan subgrade. Apabila sudah siap maka dilakukan pengukuran menggunakan alat ukur seperti
TS, theodolit maupun waterpass.
2. Proses pemecahan batu menjadi fraksi yang diinginkan menggunakan Stone Crusher
3. Blending material mulai dari fraksi 1, 2 dan 3 sesuai komposisi JMF. Blending bisa menggunakan alat blending
plant. Jika tidak tersedia, blending bisa menggunakan excavtor maupun wheel loader
4. Proses pengangkutan dari stockpile menuju lokasi penghamparan menggunakan dump truck.
5. Penghamparan agregat menggunakan Motor Grader. Tebal hamparan agregat maksimum 20 cm.
6. Proses pemadatan menggunakan alat berat vibro roller. Pada saat pemadatan perlu menjaga kadar air. Oleh
karena itu perlu dilakukan penyiraman menggunakan truck water tank.
7. Pengujian ketebalan LPB atau tes spit
8. Pengujian kepadatan agregat menggunakan metode sand cone. Tingkat kepadatan sampai 100%.
9. Pengujian CBR lapangan dan CBR lab. Nilai CBR minimal 60%
2. Perkerasan Beton Semen(Badan Jalan)
Anyaman kawat yang dilas (welded wire mesh)
Bahan :
Baja Tulangan
Kawat Beton
Tulangan baja menggunakan baja sesuai gambar dianyam menggunakan kawat beton dan dilas, jarak sengkang
sesuai gambar dengan lebar penulangan sesuai gambar dengan ketebalan pengecoran 20 cm. Pekerjaan pemasangan
Anyaman kawat yang dilas (welded wire mesh) dilakukan sebelum pekerjaan pengecoran atau beton K-250. Ayaman
kawat tersebut diletakkan sepanjang badan jalan yang akan dilakukan pembetonan dan ditempatkan pada level ±
7,5 cm dari urugan pasir. Untuk dapat menempatkan ayaman tersebut sesuai dengan gambar kerja, ayaman kawat
tersebut diberi alas berupa tahu beto. Setiap sambungan lempengan ayaman tersebut diikat dengan menggunakan
kawat beton. Penggunaan jenis ayaman kawat tersebut harus sesuai dengan spesifikasi teknik dan disetujui oleh
konsultan pengawas.
Lay Out Rencana(Terlampir Di Gambar rencana)
Pekerjaan Begesting
Adapun pelaksanaan pekerjaanya sebagai berikut :
1. Bekisting harus terbuat dari triplek ukuran 3 mm dan rangka yang kokoh terbuat dari kayu keras, sama
sekali tidak diijinkan memakai bambu sebagai rangka bekisting.
2. Bekisting harus rapat dan kedap air, terutama pada sambungan - sambungan. Pada saat pengecoran beton,
tidak boleh ada cairan atau adukan beton yang mengalir keluar karena bocor.
3. Untuk permukaan luar beton yang tidak akan diplester (semi exposed), permukaan dalam bekisting/ multiplex
sebaiknya dilapisi bahan sejenis minyak yang disetujui oleh Direksi/ Pengawas untuk memudahkan
pembongkaran bekisting itu kelak. Penggunaan oli bekas tidak bisa dibenarkan.
4. Penggunaan ulang dari (bahan) bekisting yang sudah pernah dipakai harus atas seijin Direksi/ Pengawas.
5. Bekisting yang sudah dipasang, harus diperiksa oleh Direksi/ Pengawas terlebih dahulu sebelum
pengecoran. Direksi berhak menolak dan memerintahkan pembongkaran atau perbaikan terhadap bekisting yang
dianggapnya tidak memenuhi syarat baik kekuatan maupun ukuran – ukurannya.
Gambar Tulangan Welded Wire Mesh dan Begesting
Beton mutu sedang fc’ = 20 MPa (K-250)
Bahan :
Semen
Pasir Beton
Agregat Kasar
Kayu Perancah
Paku
Alat :
Con Pan. Mixer
Truck Mixer
Water Tanker
Alat Bantu
Adapun pelaksanaan pekerjaanya sebagai berikut :
Bila tidak ditentukan lain, adukan beton harus dibuat dengan menggunakan mesin pengaduk beton atau ready
mix. Penentuan jenis dan ukuran beton molen harus sepengetahuan Direksi. Permukaan bagian dalam molen harus selalu
bersih, tidak diperbolehkan ada kerak - kerak beton sisa adukan yang dibuat sebelumnya.
Campuran Adukan Beton
Campuran adukan beton harus dibuat sesuai dengan Rencana Campuran Beton yang sesuai dengan RKS.
Sehubungan dengan hal itu, jumlah PC, bahan - bahan adukan dan air untuk membuat adukan beton harus ditakar
dengan alat - alat penakar yang tertera dalam RKS.
Waktu Pengadukan
Lamanya waktu yang digunakan untuk mengaduk semua campuran beton adalah paling sedikit 1 1/2 menit
untuk 1 m3 beton dihitung dari saat sesudah semua bahan kecuali air, dimasukkan ke dalam molen.
Lamanya waktu pengadukan harus ditambah bila kapasitas mesin lebih besar dari l m3. Contoh : untuk 2
m3, waktu pengadukan adalah : 1 1/2 menit + 1 menit = 2 1/2 menit dan seterusnya. Kekentalan Adukan
Beton
Kekentalan adukan beton harus diperiksa, sesuai dengan (SKSNI T15-1990-03).
Pemeriksaan kekentalan ini harus disaksikan oleh Direksi/Pengawas.
Untuk memenuhi persyaratan kekentalan adukan beton ini, jumlah air yang digunakan dapatd irubah,
disesuaikan perubahan keadaan cuaca atau kelembapan bahan - bahan adukan.
Pengecoran Beton
Pelaksanaan pengecoran beton harus disaksikan oleh Direksi/Pengawas.
Pengecoran beton tidak boleh dilaksanakan bila keadaan cuaca buruk.
Adukan beton yang tidak memenuhi syarat tidak boleh dipakai dan harus dikeluarkan dari tempat
pekerjaan.
Pada waktu pengecoran, adukan beton tidak boleh dijatuhkan tinggi jatuh lebih dari
1,5 m. Bila tinggi jatuh adukan beton lebih dari 1,5 m maka kerikil akan terpisah dari adukan dan akan
membentuk sarang - sarang kerikil yang berongga.
Untuk pengecoran yang dalam/tinggi, dapat menggunakan saluran vertikal dan/ atau corong yang licin agar
adukan beton yang melaluinya tetap homogen.
Pengecoran harus dilakukan dengan merata, adukan beton yang telah dicorkan, tidak boleh didorong atau
dipindahkan lebih dari 2 (dua) meter dalam arah datar.
Bagian struktur yang pengecorannya harus dilakukan lapis demi lapis, tiap lapis harus mempunyai tinggi yang
merat/seragam dan tidak melebihi 100 cm, harus dihindarkan terjadinya lapisan, yang tingginya tidak
seragam dan berbentuk miring. Pengecoran lapisan yang berikutnya harus dilakukan pada waktu lapisan
sebelumnya masih lunak. Pemakaian conveyor belt untuk mengangkut adukan beton harus seijin Direksi.
Dalam cuaca panas, Rekanan harus melakukan langkah – langkah pengamanan agar adukan beton tidak
terlalu cepat mengering, misalnya dengan cara melindunginya dari panas matahari secara langsung.
Gambar Proses Pengecoran
Adukan beton yang telah dicor ke dalam bekisting, harus digetarkan dengan menggunakan alat penggetar
(vibrator) agar diperoleh beton yang padat dan homogen serta tidak terjadi sarang - sarang kerikil.
Pada waktu digunakan, jarum penggetar tidak boleh menyentuh bekisting atau besi tulangan.
Pencelupan jarum penggetar kedalam adukan beton tidak boleh terlalu lama sebab bisa mengakibatkan
pemisahan unsur – unsur adukan beton.
Ukuran diameter jarum penggetar yang digunakan harus disesuaikan dengan keadaan/dimensi bagian
yang harus dicor.
Gambar Proses Mengetarkan Beton Dengan Menggunakan Alat Penggetar (vibrator)
Pembentukan Tekstur Permukaan
Setelah dipadatkan, permukaan beton semen harus diratakan
Beton yang masih plastis diberi tekstur permukaan dengan mendirikan burlap, penyikatan dengan kawat dan
pembuatan alur
Menyikat melintang, cocok untuk lalulintas sedang atau tinggi, dapat dikerjakan secara manual atau mekanis,
penyikatan dilakukan secara melintang dan kedalaman tekstur ± 1,5 mm
Perawatan Selama Proses Pengerasan Beton
Beton yang telah dicor harus dijaga tetap basah sekurang - kurangnya selama 14 (empat belas) hari setelah dicor,
dengan cara disirami air, atau ditutup dengan karung goni yang dibasahi atau dengan cara lain yang dapat
dibenarkan.
Air tidak diperbolehkan mengalir melalui permukaan beton yang baru dicor dengan kecepatan aliran yang bisa
merusak permukaan beton tersebut.
Sama sekali tidak diijinkan menaburkan semen kering dan pasir di permukaan beton yang masih basah.
Gambar Pembentukan Tekstur Permukaan
Perlindungan Dari Air Hujan/Perawatan Beton
Lembaran plastik dan baja sisi acuan atau papan kayu harus tersedia setiap saat untuk melindungi permukaan
dan sisi perkerasan beton yang baru dihampar, bila terjadi hujan
Bila hujan menerpa perkerasan beton yang baru dihampar belum mengeras, tutup permukaand engan
lembaran plastik
Tambahan air pada permukaan perkerasan akan menaikkan rasio air semen yang berpotensi mengurangi
durabilitas
Gambar Pekerjaan Perlindungan Dari Air Hujan/Perawatan Beton
Pembukaan Bekisting
Bila tidak ditentukan lain oleh Direksi/ Pengawas, dalam keadaan normal bekisting pelat hanyab oleh
dibongkar setelah beton berumur 28 hari.
Pembongkaran bekisting harus dilakukan dengan tenaga statis tanpa getaran, goncangan ataup ukulan
yang bisa merusak beton.
Quality Control
Pengujian Beton
Test kubus
Slump test
Uji kuat tekan
Uji kelenturan
Gambar Pembuatan benda uji
BAGAN ALUR PEKERJAAN
MULAI
PENYIAPAN ALAT
PASIR URUG = 5 CM
WELDED WIRE MESH = 15 CM
PENGECORAN BETON
PERAWATAN BETON
PEMBUKAAN BEGESTING
SELESAI
ILUSTRASI PEKERJAAN JALAN YANG AKAN DIKERJAKAN
19
DEVISI 7. PEKERJAAN STRUKTUR
1. Pasangan Batu
Pekerjaan ini meliputi pembuatan proteksi dan abutment, dengan pasangan batu mortar
dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi dan sesuai dengan garis ketinggian, kelandaian dan
ukuran sebagaimana tertera dalam gambar atau perintah direksi pekerjaan.
Urutan Kerja :
f. Dilakukan dengan menggunakan tenaga manusia.
g. Bahan diterima dilokasi pekerjaan.
h. Semen, Pasir dan air dicampur dan diaduk menjadi mortar dengan menggunakan concrete
mixer.
i. Batu gunung/batu kali dibersihkan dan dibasahi seluruh permukaannya sebelum dipasang.
j. Pasang patok bantu untuk memasang profil, profil dipasang pada setiap ujung Saluran.
k. Pasang benang pada sisi luar profil sesuai dengan hasil pengukuran dan gambar rencana.
l. Siapkan adukan untuk melekatkan batu-batu tersebut, menurut perbandingan campuran
mortar pasir dan semen dan perbandingan batu dan mortar (mengacu pada Buku Spesifikasi
Pasal S12.04).
m. Pasang batukali/batu gunung dengan adukan sesuai ketinggian benang. Usahakan bidang
luar pasangan tersebut rata.
n. Melakukan penyelesaian dan perapian serta pelesteran dengan mortar setelah pemasangan
pondasi bahu saluran
o.
p. Bentuk dan ukuran saluran pasangan batu dengan mortar, sesuai dengan yang termuat dalam
gambar rencana.
Gambar. Pekerjaan Pasangan Batu
• Bahan / Material:
a. Batu Belah
b. Pasir
c. Semen
• Peralatan:
20
3. Conc. Mixer
4. Water Tanker
5. Alat Bantu
Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Tukang Batu
3. Pekerja
Plesteran tebal 1 cm, dengan mortar tipe S (setara campuran 1 PC:3 PP)
• Lingkup Pekerjaan :
a. Termasuk dalam pekerjaan plester dinding ini adalah penyediaan tenaga kerja, bahan-
bahan, peralatan termasuk alat-alat bantu dan alat angkut yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan plesteran, sehingga dapat dicapai hasil pekerjaan yang bermutu baik.
b. Pekerjaan plesteran dinding dikerjakan pada permukaan dinding bagian dalam dan luar
serta seluruh detail yang disebutkan / ditunjukkan dalam gambar.
• Syarat-syarat Bahan :
a. Semen portland harus memenuhi peraturan bahan NI-8 (dipilih dari satu produk untuk seluruh
pekerjaan)
b. Pasir harus memenuhi peraturan bahan NI-3 pasal 14 ayat 2
c. Air harus memenuhi peraturan bahan NI-3 pasal 10
d. Penggunaan adukan plesteran :
Adukan 1Pc : 3Psr, dipakai untuk seluruh plesteran dinding lainnya.
Adukan 1Pc : 4 Psr, dipakai untuk seluruh plesteran dinding lainnya.
.
a. Syarat Teknis Pelaksanaan Pekerjaan :
1). Plesteran dilaksanakan sesuai standar spesifikasi dari bahan yang digunakan sesuai
dengan petunjuk dan persetujuan Direksi, dan p
2). ersyaratan tertulis dalam Uraian dan Syarat Pekerjaan ini.
3). Pekerjaan plesteran dapat dilaksanakan bilamana pekerjaan bidang beton atau pasangan
dinding batu bata telah disetujui oleh Direksi sesuai Uraian Syarat Pekerjaan yang tertulis
dalam buku ini.
4). Dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus mengikuti semua petunjuk dalam gambar arsitektur
terutama dalam gambar detail dan gambar potongan mengenai ukuran tebal / tinggi / peil dan
bentuk profilnya.
5). Campuran aduk perekat yang dimaksud adalah campuran dalam volume, cara
pembuatannya menggunakan mixer selama 3 menit dan memenuhi persyaratan sebagai berikut
:
Untuk bidang kedap air, beton, pasangan dinding batu bata yang berhubungan dengan
udara luar, dan semua pasangan batu bata di bawah permukaan tanah sampai ketinggian
30 cm dari permukaan lantai dan 150 cm dari permukaan lantai toilet dan daerah basah
lainnya dipakai adukan plesteran 1 pc : 2 pasir.
Untuk bidang lainnya diperlukan plesteran campuran 1 pc : 4 pasir.
Plesteran halus (acian) dipakai campuran pc dan air sampai mendapatkan
campuran yang homogen, acian dapat dikerjakan sesudah plesteran berumur 8 hari
(kering benar).
Semua jenis aduk perekat tersebut di atas harus disiapkan sedemikian rupa
sehingga selalu dalam keadaan baik dan belum mengering.
Diusahakan agar jarak waktu pencampuran aduk perekat tersebut dengan
pemasangannya tidak melebihi 30 menit terutama untuk adukan kedap air.
6). Pekerjaan plesteran dinding hanya diperkenankan setelah selesai pemasangan instalasi
pipa listrik dan plumbing untuk seluruh bangunan.
21
7). Untuk Beton sebelum diplester permukaannya harus dibersihkan dari sisa-sisa bekisting dan
kemudian diketrek (scrath) terlebih dahulu dan semua lubang-lubang bekas pengikat
bekisting atau form tie harus tertutup aduk plester.
8). Untuk bidang pasangan dinding batu bata dan beton bertulang yang akan difinish dengan
cat dipakai plesteran halus (acian di atas permukaan plesteran).
9). Semua bidang yang akan menerima bahan (finishing) pada permukaannya diberi alur-alur garis
horizontal atau diketrek (scrath) untuk memberi ikatan yang lebih baik terhadap bahan
finishingnya.
10). Pasangan kepala plesteran dibuat pada jarak 1 m, dipasang tegak dan menggunakan keping-
keping playwood setebal 9 mm untuk patokan keratan bidang.
11). Ketebalan plesteran harus mencapai ketebalan permukaan dinding / kolom yang dinyatakan
dalam gambar, atau sesuai peil-peil yang diminta gambar. Tebal plesteran minimum 2,5
cm, jika ketebalan melebihi 2,5 cm harus diberi kawat ayam untuk membantu dan
memperkuat daya lekat dari plesterannya pada bagian pekerjaan yang diijinkan Direksi.
12). Untuk setiap permukaan bahan yang berbeda jenisnya yang bertemu dalam satu bidang datar,
harus diberi nat (tali air) dengan ukuran lebar 0,7 cm dalamnya 0,5 cm, kecuali bila ada
petunjuk lain di dalam gambar.
13). Untuk permukaan yang datar, harus mempunyai toleransi lengkung atau cembung bidang
tidak melebihi 5 mm untuk setiap jarak 2 m. Jika melebihi, kontraktor berkewajiban
memperbaikinya dengan biaya atas tanggungan Kontraktor.
14). Kelembaban plesteran harus dijaga sehingga pengeringan berlangsung wajar tidak terlalu
tiba-tiba, dengan membasahi permukaan plesteran setiap kali terlihat kering dan melindungi
dari terik panas matahari langsung dengan bahan – bahan penutup yang bisa mencegah
penguapan air secara cepat.
15). Jika terjadi keretakan sebagai akibat pengeringan yang tidak baik, plesteran harus dibongkar
kembali dan diperbaiki sampai dinyatakan dapat diterima oleh Direksi dengan biaya atas
tanggungan Kontraktor.
16). Selama 7 (tujuh) hari setelah pengacian selesai Kontraktor harus selalu menyiram dengan
air, sampai jenuh sekurang-kurangnya 2 kali setiap hari.
17). Selama pemasangan dinding batu bata / beton bertulang belum finish, Kontraktor
wajib memelihara dan menjaganya terhadap kerusakan-kerusakan dan pengotoran bahan
lain. Setiap kerusakan yang terjadi menjadi tanggung jawab Kontraktor dan wajib diperbaiki.
18). Tidak dibenarkan pekerjaan finishing permukaan dilakukan sebelum plesteran berumur lebih
dari 2 (dua) minggu.
2. Beton mutu sedang fc’= 20 Mpa( Untuk Struktrur Bagian Atas )
Beton mutu sedang f’c 20 Mpa digunakan pada Abutment. Sebelum melaksanakan
pekerjaan ini, penyedia jasa harus menyerahkan JMF dan JMD campuran beton kepada
Konsultan Pengawas atau Direksi Lapangan. Agregat beton fc’ 20 MPa dicampur sesuai dengan
komposisinya agregat kasar, pasir beton, semen dicampur dalam concretepan mixer/batching
plant sesuai komposisi mix design yang disetujui oleh direksi lapangan dan konsultan, kemudian
dicampur dengan air secukupnya.Campuran beton mutu sedang fc’20 MPa kemudian diangkut
dengan truck mixer ke lokasi pengecoran.Sebelum pengecoran dimulai bekisting sudah terpasang
dengan baik sesuai gambar dokumen kontrak.Selama pengecoran sekelompok pekerja membantu
merapikan dan memadatkan dengan concrete vibrator.
Selain itu juga perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut
1. Penyedia jasa harus mengirimkan rancangan campuran mix desain untuk mutu beton yang
akan digunakan sebelum pekerjaan beton dimulai.
22
2. Penyedia jasa harus mengirim gambar detail untuk seluruh perancah/bekesting yang akan
digunakan dan harus memperoleh persetujuan direksi pekerjaan.
3. Acuan kerja atau bekesting dari kayu balok dan multilplex 12 mm, pembuatan bekesting
sesuai dengan gambar rencana dilaksanakan oleh tukang dan pekerja di bawah arahan
mandor dan pelaksana.
4. Acuan harus dibuat sedemikian sehingga dapat dibongkar tanpa merusak beton.
5. Kayu yang tidak diserut permukaannya tidak dapat digunakan untuk permukaan beton yang
terexpos.
6. Lapis beton struktur mutu sedang fc’ 20 MPa dicampur di Concrete Mixer sesuai dengan
mix desain yang telah disepakati bersama.
7. Persetujuan atau proporsi bahan pokok campuran harus didasarkan pada percobaan
campuran (trial mix) yang dibuat oleh penyedia jasa dan disetujui oleh konsultan dan direksi
lapangan.
8. Setelah pembesian struktur selesai, maka bekesting dapat dibuat sesuai dengan gambar
rencana.
9. Sebelum memulai pengecoran seluruh kotoran yang berada dalam bekesting harus
dibersihkan.
10. Beton harus dicor sedemikian rupa sehingga terhindar dari segregasi partikel kasar dan halus
dari campuran beton harus dicor dalam cetakan tidak boleh melampaui 1 meter dari tempat
awal kerja.
11. Beton tidak boleh jatuh bebas kedalam cetakan dengan ketinggian lebih dari 150 cm.
12. Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis/Concrete Vibrator, penggetar harus
dibatasi waktu penggunaannya, sehingga menghasilkan pemadatan yang diperlukan tanpa
menyebabkan terjadinya segregasi pada agregat.
13. Beton mutu sedang fc’ 20 MPa harus segera dirawat, setelah finishing selesai seluruh
permukaan disemprot air merata kontinyu, dan kondisi kelembaban dijaga agar tetap selama
masa perawatan. Penyemprotan air dengan mengguanakan water tanker truck dan ditutup
dengan karung goni atau curing compound.
A. Bahan / Material:
1. Semen
2. Pasir
3. Agregat Kasar
4. Kayu Perancah/Multiplex
5. Paku
B. Peralatan:
a. Concrete Mixer
b. Truck Mixer
c. Concrete Vibrator
d. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Pekerja
3. Baja Tulangan U 32
Pekerjaan ini mencakup pengadaan dan pemasangan baja tulangan sesuai dengan
spesifikasi dan gambar, atau sebagaimana yang diperintahkan oleh konsultan dan direksi
lapangan.
1. Baja beton U 32 diangkut ke lokasi kerja selanjutnya dipotong sesuai dengan gambar
rencana,kemudian dirakit dan diikat dengan kawat bendrat atau kawat beton
23
2. Tulangan harus dibersihkan sesaat sebelum pemasangan untuk menghilangkan lumpur,
kotoran, kerak, dan lain-lain.
3. Tulangan harus ditempatkan akurat sesuai dengan gambar dan dengan kebutuhan selimut
beton minimum yang diisyaratkan
4. Batang tulangan harus diikat kencang dengan menggunakan kawat pengikat.
Prosedur pelaksanaan pekerjaan pembesian yaitu:
1. Menyiapkan material besi tulangan sesuai dengan ukuran dan gambar yang sudah
direncanakan,
2. Menyiapkan lokasi untuk pemotongan dan perakitan tulangan,
3. Menyiapkan peralatan dan tenaga pembesian sesuai dengan kebutuhan,
4. Pastikan perakitan tulangan dengan bendrat bersilangan tumpang tindih,
5. Potong dan rakit pembesian dengan sesuai ukuran gambar rencana,
6. Menyiapkan lokasi pemasangan panel rakitan pembesian di lapangan bersih dari segala
kotoran, dan
7. Pastikan posisi ikatan antar besi tulangan sudah cukup kuat dan pada tempatnya.
Prosedur pelaksanaan pekerjaan pembesian yaitu:
1. Siapkan perijinan untuk memulai pekerjaan (request) yang disetujui oleh direksi pekerjaan,
2.
3. Cek bersama dengan direksi sebelum dilakukan pekerjaan pengecoran,
4. Lakukan pengecoran dan setiap melakukan pengecoran maka campuran beton sudah harus
dilakukan pengecekan terhadap kadar airnya dengan slump test dan buat silinder untuk
pengujian kuat tekan beton tersebut,
5. Pastikan skor-skor dan perancah kuat menopang beton basah sehingga didapatkan hasil yang
sesuai dengan gambar, dan
6. Lakukan pemeliharaan beton dengan penyiraman terus menerus atau dengan
pemberian karung goni sampai beton mencapai umur 28 hari
A. Bahan / Material:
1. Baja Tulangan U-32
2. Kawat Bendrat (Pengikat)
B. Peralatan:
1. Alat Bantu
C. Tenaga Kerja:
1. Mandor
2. Tukang Besi
24
Gambar Contoh Pembesian Plat Lantai
bekisting lantai beton biasa dengan multiflex 12 mm atau 18 mm (TP)
Perancah bekisting kolom beton menggunakan kayu 5/7 cm, tinggi 4 m, JAT < 1,0m
A. Perakitan dan pembuatan di Lokasi
Urutan pelaksanaan pekerjaan Bekisting plat lantai jembatan adalah sebagai
berikut:
1. Pembuatan bekisting plat lantai
2. Pelaksanaan pekerjaan pembesian
Pemasangan bekisting dilakukan setelah pemasangan gelagar jembatan yang di
atasnya telah dipasangi shear conector.
Berikut ini adalah prosedur pelaksanaan bekisting:
1. Menentukan lahan yang akan dipasangi bekisting,
2. Melakukan pengukuran rencana lokasi pengecoran sesuai gambar rencana,
3. Membersihkan lokasi bekisting dari segala macam kotoran,
4. Menyiapkan komponen-komponen dan panel-panel bekisting besi di lapangan,
5. Merakit dan setting panel/komponen bekisting di lapangan dengan kuat dan tepat,
6. Melakukan pengecekan apakah letak dan posisi bekisting sudah sesuai, dan
7. Olesi dengan pelumas bagian dalam bekisting yang akan dilapisi beton basah, agar
mudah untuk membuka dan menghasilkan beton keras yang bagus dan tidak keropos.
Pemasangan /Pengadaan Pipa GIP dia 3''
Pekerjaan yang dimaksud disini adalah di peruntukan untuk penempatan pipa , pelaksanaan kegiatan
dengan menggunakan alat dan tenaga manusia, khususnya untuk pemasangan pipa dengan diameter 3’’
Methode Pelaksanaan :
1. Permintaan persetujuan untuk melakukan pekerjaan kepada Direksi.
2. Pengukuran dan penandaan (pemasangan profil) lokasi pekerjaan yang akan dilaksanakan sesuai
Gambar Rencana bersama Direksi.
3. Semua pemasangan pipa mengikuti persyaratan dan prosedur pekerjaan sesuai gambar rencana
dan Spesifikasi Teknis yang ada.
4. untuk Penggalian dengan kedalaman tertentu,tanah keras serta berbatu kita lakukan dengan
mengunakan excavator dan untuk kedalaman biasa menggunakan tenaga manusia dengan
mengacu garis ketinggian dan elevasi yang ditentukan dalam gambar atau sesuai petunjuk
Direksi.
25
5. Hasil galian dibuang disekitar lokasi galian yang nantinya akan digunakan sebagai urugan
setelah pemasangan pipa sudah Tertanam dengan aman.
6. Permintaan persetujuan untuk pengecekan hasil pekerjaan kepada Direksi. Mutual check
dilakukan bersama - sama dengan Direksi untuk mendapatkan pekerjaan yang sebenarnya
dilaksanakan / gambar terpasang (as built drawing) sebagai dasar volume pekerjaan yang akan
dimintakan pembayarannya (termin) dan bila terjadi pekerjaan tambah kurang maka pengajuan
paling lambat 1 bulan sebelum waktu pelaksanaan berakhir (spesifikasi teknik).
7. Foto dokumentasi 0% sebelum pelaksanaan pekerjaan.
8. Foto dokumentasi 50% selama pekerjaan berlangsung.
9. Foto dokumentasi 100% setelah pekerjaan selesai 100%.
Pinrang, Maret 2023
CV. AZKA CONSULTANT
MUH. RIDWAN, ST
Direktur