URAIAN SINGKAT PEKERJAAN
I. Informasi Proyek
Lokasi Pekerjaan Pengendalian Banjir Sungai Walanae-Cenranae Kab. Wajo
berada di Kec. Sabbangparu, Kec. dan Kec. Pammana Kab. Wajo Provinsi
Sulawesi Selatan.
Peta Administrasi Prov. Sulawesi Selatan Peta Administrasi Kab. Wajo
Kota Sengkang
Kec. Pammana
Kec. Sabbangparu
II. Latar Belakang
Provinsi Sulawesi Selatan yang beribukotakan Makassar berada pada bagian
selatan pulau Sulawesi yang secara geografis terletak antara : 0 ° 12’ - 8 ° Lintang
Selatan dan 116 °48’ - 122 ° 36’ Bujur Timur, dan secara administratif berbatasan :
Sebelah Utara dengan Propinsi Sulawesi Tengah, Sebelah Barat dengan Selat
Makassar, Sebelah Timur dengan Teluk Bone, Sebelah Selatan dengan Laut
Flores dengan luas wilayahnya 62.482,54 km2 (42 % dari luas seluruh pulau
Sulawesi dan 4,1 % dari Luas seluruh Indonesia). Berdasarkan data BPS 2010
jumlah penduduk Sul-Sel sekitar 8 juta jiwa. Posisi yang strategis di Kawasan Timur
Indonesia memungkinkan Sulawesi Selatan dapat berfungsi sebagai pusat
pelayanan, baik bagi Kawasan Timur Indonesia maupun untuk skala internasional.
Pelayanan tersebut mencakup perdagangan, transportasi darat - laut - udara,
pendidikan, pendayagunaan tenaga kerja, pelayanan dan pengembangan
kesehatan, penelitian pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan laut, air
payau tambak, kepariwisataan bahkan potensial untuk pengembangan lembaga
keuangan dan perbankan.
Kabupaten Wajo adalah salah satu Daerah kabupaten di provinsi Sulawesi
Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Sengkang, Kabupaten ini
memiliki luas wilayah 2.056,19 km² dan berpenduduk sebanyak kurang lebih
400.000 jiwa.
Secara geografis, Kabupaten Wajo terletak pada 3°39' - 4°16' Lintang
Selatan dan 119°53' - 120°27' Bujur Timur. Sebagian besar wilayahnya berupa
dataran rendah hingga dataran rendah bergelombang dengan ketinggian wilayah 0-
520 Mdpl. Hanya sebagian kecil yang berupa perbukitan di bagian utara. Bagian
timur berupa dataran rendah dan pesisir Teluk Bone, termasuk pulau-pulau pasir di
perairan Teluk Bone. Sedangkan bagian barat merupakan dataran aluvial Danau
Tempe-Danau Sidenreng.
Sejalan dengan laju perkembangan masyarakat terutama yang tinggal dan
melakukan aktivitas di dataran banjir, maka persoalan yang ditimbulkan oleh banjir
dari waktu ke waktu semakin meningkat.
Banjir menjadi masalah ketika muncul kerugian banjir. Mengingat pada
umumnya sungai lebih dahulu menempati ruang alurnya dibanding keberadaan
manusia. Sebetulnya manusialah yang mencari masalah mendatangi dataran
banjir. Mengingat sejarah pembentukan kota-kota umumnya terkait erat dengan
keberadaan sungai, banyak perkotaan terbentuk di dataran banjir, tak terkecuali di
Kabupaten Wajo.
Banjir yang terjadi setiap tahun akibat meluapnya Sungai Walanae - Cenranae.
Meluapnya air sungai ini secara garis besar diakibatkan oleh kondisi diantaranya:
a. Kondisi Alam
1. Kapasitas palung sungai yang tidak mampu menampung debit yang lewat.
2. Curah hujan yang tinggi yang mengakibatkan limpasan permukaan yang
besar.
3. Letak daerah yang rawan banjir, berada pada daerah yang relatif rendah
4. Kondisi topografi yang berbukit sangat tajam/ terjal dibagian hulu dan relatif
rata di bagian hilir, mengakibatkan aliran yang cepat mengalir kebawah,
terkumpul dan meluap dibagian hilir
5. Tertahannya aliran sungai akibat pengaruh air pasang dari laut di muara
sungai.
b. Peristiwa Alam
1. Pembendungan aliran di sungai akibat adanya pendangkalan alur / palung
sungai.
2. Terdapatnya hambatan aliran yang disebabkan oleh kondisi geometri alur
sungai, yaitu mendering dan kemiringan sungai yang landai.
Kerugian yang diakibatkan oleh bencana banjir ini bermacam-macam jenisnya,
misalnya kerugian pada bangunan-bangunan yang penting seperti perkantoran,
perumahan pemukiman dan sebagainya, Disamping itu juga banyak lahan
pertanian yang rusak karena tergenang oleh luapan air banjir.
Kerugian akibat banjir di Sungai Walanae - Cenranae diantaranya:
a. Dampak fisik adalah kerusakan pada sarana-sarana umum, kantor-kantor
pelayanan publik yang disebabkan oleh banjir termasuk kerusakan badan
sungai yang dapat melebar atau berpindah alur.
b. Dampak sosial mencakup kematian, risiko kesehatan, trauma mental,
menurunnya perekonomian, terganggunya kegiatan pendidikan (anak-anak
tidak dapat pergi ke sekolah), terganggunya aktivitas kantor pelayanan
publik, kekurangan makanan, energi, air, dan kebutuhan-kebutuhan dasar
lainnya.
c. Dampak ekonomi mencakup kehilangan materi, gangguan kegiatan ekonomi
(orang tidak dapat pergi kerja, terlambat bekerja, atau transportasi komoditas
terhambat, dan lain-lain).
d. Dampak lingkungan mencakup pencemaran air (oleh bahan pencemar yang
dibawa oleh banjir) atau tumbuhan disekitar sungai yang rusak akibat
terbawa banjir.
Kabupaten Wajo merupakan daerah yang banyak menghadapi persoalan
banjir. Pemilihan metode penanggulangan banjir harus mengetahui dampak yang
ditimbulkan oleh banjir karena apabila tidak ada dampak positifnya maka
masyarakat tentu tidak akan menerima.
III. Maksud Dan Tujuan
Maksud pekerjaan Pekerjaan Pengendalian Banjir Sungai Walanae -
Cenranae Kab. Wajo adalah Melindungi Sarana prasarana masyarakat umum yang
sering terkena dampak dari luapan Sungai Walanae - Cenranae.
Tujuan Kegiatan ini adalah untuk menurunkan resiko ancaman terhadap
jiwa manusia dan harta benda akibat banjir sampai ke tingkat toleransi serta
meminimumkan dampak bencana banjir Sungai Walanae - Cenranae Kab. Wajo.