| 0029172004713000 | Rp 677,872,000 | |
| 0841195126713000 | - | |
| 0029172970713000 | - | |
Azam Bersatu | 08*3**5****13**0 | - |
CV Raihan Adeputra | 04*2**9****13**0 | - |
Setya Mandiri | 0846856464711000 | - |
| 0032205155713000 | - | |
| 0024550923713000 | - | |
Batara Sakti, CV | 0032784563701000 | - |
Arung Semesta | 06*9**0****13**0 | - |
| 0400004958713000 | - | |
| 0617313663713000 | - | |
| 0317447944713000 | - | |
| 0940717291713000 | - |
U RAIAN SIN G KAT PEKERJ AAN
KEGIATAN : PENYELENGGARAAN JALAN KABUPATEN/ KOTA
SUB KEGIATAN : REKONSTRUKSI JALAN
PEKERJAAN : REKONSTRUKSI JALAN PERWIRA
LOKASI : KECAMATAN ARUT SELATAN
TAHUN ANGGARAN : 2023
A. UMUM
1. PENDAHULUAN
Pada setiap pembangunan proyek kostruksi jalan sebagai Penyedia Jasa
diharuskan memahami secara menyeluruh tentang bagaimana tahapan pelaksanaan
proyek yang akan dilaksanakan. Dimana setiap proyek memiliki kondisi dan kesulitan
yang berbeda-beda sehingga perlu tatacara pelaksanaan yang berbeda pula. Sedangkan
dalam kontrak kerja Penyedia Jasa diberikan batas waktu tertentu untuk menyelesaikan
proyek secara tepat waktu. Disamping itu biaya pelaksanaan dan mutu hasil kerja turut
dipertimbangkan agar tercapai target penyelesaian yang optimal. Oleh karena itu sebagai
acuan Penyedia Jasa dalam melaksanakan pekerjaan perlu memahami tahapan metode
pelaksanaan konstruksi yang tepat dan berkesinambungan dengan mempelajari rincian
volume yang terdapat di Daftar Kuantitas Dan Harga serta Gambar Kerja yang tersedia.
2. RUANG LINGKUP KEGIATAN
Kegiatan Penyelenggaraan Jalan Kabupaten/Kota ini merupakan kegiatan yang
berada di Lingkup SKPD-DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG Kabupaten
Kotawaringin Barat Tahun Anggaran 2023.
3. LINGKUP PEKERJAAN
Secara garis besar lingkup pekerjaan yang dilaksanakan dalam pelaksanaan
Pekerjaan pada Sub Kegiatan Rekonstruksi terbagi menjadi beberapa sub item pekerjaan.
Berikut dapat dijabarkan item-item pekerjaan adalah sebagai berikut :
DIVISI 1. UMUM
1.2 Mobilisasi
Ls Papan Nama Pekerjaan
Ls Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK)
DIVISI 3. PEKERJAAN TANAH
3.1.(3) Galian Batu
DIVISI 6. PERKERASAN ASPAL
6.1(2a) Lapis Perekat-Aspal Cair/ Emulsi
6.3(3) Lataston Lapis Aus (HRS-WC)
DIVISI 7. PEKERJAAN STRUKTUR
7.3 (1) Baja Tulangan Polos-BjTP 280
7.1 (7a) Beton strukur, fc’20 MPa
Ls Plastik Sheet
Ls Pengadaan dan Pemasangan Tutup Meanhole
B. PELAKSANAAN PEKERJAAN PENINGKATAN JALAN
1. BAGAN ALIR PEKERJAAN
SP MK P ER SI AP AN
1. Job Mix Formula
2. Material dan Penyimpanan
3. Jadwal Pelaksanaan
4. Pengukuran Lapangan (MC-0)
5. Mobilisasi Personil
Tidak Sesuai
6. Mobilisasi Peralatan
7. Mobilisasi Tenaga Kerja
Perhitungan Ulang
Pengecekan Kuantitas dan Gambar
Rencana Justifikasi Teknis
SHO P DR AWI NG Addendum
P EL AK SANAAN
P EK ER J AAN
1. Pekerjaan Tanah
2. Pekerjaan Perkerasan Berbutir
3. Pekerjaan Perkerasan Aspal
4. Pekerjaan Struktur
5. Pekerjaan Harian & Pekerjaan
Lain-Lain
6. Pekerjaan Pemeliharaan
Kinerja
DO K U MEN
ADMI NI ST R ASI
1. Back Up Data Quantity
2. Back Up Data Quality
3. Asbuild Drawing
4. Foto Dokumentasi
5. Laporan Harian, Mingguan,
dan Bulanan
6. Dan Dokumen lain yang
dipersyaratkan
P H O Masa Pemeliharaan
Selesai
2. URAIAN PEKERJAAN
a. DIVISI 1. PENDAHULUAN
Pekerjaan mobilisasi atau persiapan adalah pekerjaan awal yang meliputi
kegiatankegiatan pendahuluan untuk mendukung permulaan proyek meliputi antara
lain :
1) Pembuatan Job Mix Formula
Sebelum pekerjaan utama dilaksanakan terlebih dahulu dilaksanakan
pengambilan sampel bahan dari quary yang berdekatan dengan lokasi pekerjaan
dan telah disetujui bersama pihak direksi teknis dan konsultan pengawas teknis,
diantaranya yaitu : batu, pasir, semen dan aspal dibawa ke laboratorium Job Mix
Formula/Job Mix Desain yang akan dipakai sebagai acuan kerja dalam
pelaksanaan proyek.
2) Kantor Lapangan dan Fasilitas (Direksi Keet)
Tahap berikutnya menentukan lokasi bascamp, pembuatan kantor lapangan dan
fasilitasnya dilokasi proyek dan kemudian dilanjutkan dengan mobilisasi
perlatan sesua dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan.
3) Pengaturan Arus Transportasi Dan Pemeliharaan Arus Lalu Lintas
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, pengaturan arus lalu lintas
transportasi dilakukan dengan pembuatan tanda-tanda lalu lintas yang memadai
disetiap kegiatan lapangan. Bila diperlukan dapat ditempatkan petugas pemberi
isyarat yang bertugas mengatur arus lalu lintas pada saat pelaksanaan.
4) Rekayasa Lapangan
Dengan petunjuk Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas survey/rekayasa
lapangan dilaksanakan untuk menentukan kondisi fisik dan strucktural dari
pekerjaan dan fasilitas yang ada dilokasi pekerjaan, sehingga diungkinkan untuk
mengadakan peninjauan ulang terhadap rancangan kerja yang telah diberikan
system dan tatacara survey dikordinasikan dengan direksi teknis.
5) Material dan Penyimpanan
Bahan material yang akan digunakan dalam pekerjaan harus menemui
spesifikasi dan standar yang berlaku, baik ukuran, type maupun ketentuan
lainnya sesuai petunjuk Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas. Semua material
yang akan digunakan untuk proses pembuatan Tanah Timbunan dan bahan
material yang terdapat dalam spesifikasi telah mendapat persetujuan dari pihak
Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas.
6) Jadwal Pelaksanaan
Jadwal pelaksanaan dibuat pihak kontraktor, diajukan kepada Direksi Teknis
untuk dibahas dan mendapat persetujuan pada saat dilaksanakan rapat
pendahuluan (Pre construction Meeting/PCM).
7) Pelaksanaan Mobilisasi Peralatan
Dalam pelaksanaan proyek ini mobilisasi peralatan utama meliputi :
a) Alat Bantu
b) Motor Greader
c) Vibratory Roller
8) Papan Nama Pekerjaan
a) Papan Nama ini digunakan sebagai identitas dan informasi mengenai
proyek.
b) Papan nama proyek dibuat dengan ukuran atas persetujuan Direksi
Pekerjaan.
c) Bahan yang dipakai : kayu kasau, plywood, paku, semen dan lain-lain
d) Papan mana proyek dipasang dipangkal dan ujung lokasi pekerjaan
e) Papan nama dipelihara selama pelaksanaan proyek
9) Mobilisasi Personil
Mobilisasi personil inti pada pelaksanaan pekerjaan ini meliputi penugasan
tenaga ahli maupun tenaga pendukung dan para pekerja dalam melaksanakan
pekerjaan tersebut baik dilokasi sesuai kebutuhan yang disyaratkan dalam
kontrak pelaksanaan pekerjaan
METO DE P EL A K SA NA A N PEK ER JA A N
DIVISI 3.
PEKERJAAN TANAH
A. PENYIAPAN BADAN JALAN
Pekerjaan ini mencakup penggarukan, penyiapan dan pemadatan permukaan tanah
dasar atau permukaan jalan kerikil lama untuk penghamparan Lapis Pondasi Agregat,
Lapis Pondasi Agregat pada galian pelebaran badan jalan. Pelaksanaan pekerjaan
penyiapan badan jalan ini prosedurnya sebagai berikut :
Asumsi
Menggunakan Alat Berat (Cara Mekanik)
Kapasitas kerja sesuai kapasitas alat yang disyaratkan
Kemiringan sesuai petunjuk Direksi Teknis
Urutan Kerja/ Metode Kerja :
Tanah yang sudah digali dan ditimbun dipadatkan lalu dibentuk
penampang jalan sesuai dengan elevasi jalan yang direncanakan
Tanah eksisting sepanjang jalan lokasi pekerjaan diratakan menggunakan
alat motor grader dan dipadatkan menggunakan vibratory roller dibentuk
penampang jalan sesuai dengan elevasi jalan yang direncanakan
Pekerjaan ini dilakukan berulang dengan beberapa lintasan dan overlay
blade diikuti pengecekan elevasi kemiringan dan kerataan badan jalan
Pekerjaan ini dilakukan menggunakan motor grader dan vibro roller.
Dilakukan pemadatan dengan vibro terlebih dahulu kemudian motor
grader membentuk penampang jalan. Setelah itu dipadatkan kembali
dengan vibro roller. Begitu seterusnya hingga terbentuk kemiringan
penampang yang direncanakan atau yang disyaratkan berdsarkan
spesifikasi teknis.
Gambar. Pekerjaan Penyiapan Badan Jalan
B. PEKERJAAN TIMBUNAN TANAH
Pekerjaan ini mencakup pengadaan, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan
tanah atau bahan berbutir yang disetujui untuk pembuatan timbunan, untuk
penimbunan kembali galian pipa atau struktur dan untuk timbunan umum yang
diperlukan untuk membentuk dimensi timbunan sesuai dengan garis, kelandaian, dan
elevasi penampang melintang yang disyaratkan atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
a) Pengajuan Kesiapan Kerja
Untuk setiap timbunan yang akan dibayar menurut ketentuan Seksi dari
Spesifikasi ini, Penyedia Jasa harus menyerahkan pengajuan kesiapan di bawah ini
kepada Direksi Pekerjaan sebelum setiap persetujuan untuk memulai pekerjaan
disetujui oleh Direksi Pekerjaan:
Gambar detil penampang melintang yang menunjukkan permukaan yang
telah dipersiapkan untuk penghamparan timbunan
Hasil pengujian kepadatan yang membuktikan bahwa pemadatan pada
permukaan yang telah disiapkan untuk timbunan yang akan dihampar
cukup memadai, bilamana diperlukan menurut Pasal 3.2.3.1).b) di bawah
ini.
Penyedia Jasa harus menyerahkan hal-hal berikut ini kepada Direksi Pekerjaan
paling lambat 14 hari sebelum tanggal yang diusulkan untuk penggunaan pertama
kalinya sebagai bahan timbunan:
Dua contoh masing-masing 50 kg untuk setiap jenis bahan, satu contoh
harus disimpan oleh Direksi Pekerjaan untuk rujukan selama Periode
Kontrak
Pernyataan tentang asal dan komposisi setiap bahan yang diusulkan untuk
bahan timbunan, bersama-sama dengan hasil pengujian laboratorium
yang menunjukkan bahwa sifat-sifat bahan tersebut memenuhi ketentuan
yang disyaratkan Pasal 3.2.2.
Penyedia Jasa harus menyerahkan hal-hal berikut ini dalam bentuk tertulis kepada
Direksi Pekerjaan segera setelah selesainya setiap ruas pekerjaan, dan sebelum
mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan, tidak diperkenankan menghampar
bahan lain di atas pekerjaan timbunan sebelumnya :
Hasil pengujian kepadatan seperti yang disyaratkan dalam Pasal 3.2.4
Hasil pengukuran permukaan dan data survei yang menunjukkan bahwa
toleransi permukaan yang disyaratkan dalam Pasal 3.2.1.3) dipenuhi
b. Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan
Sebelum pekerjaan dimulai, terlebih dahulu mempersiapkan gambar design dari
data-data awal yang diambil pada saat joint survey dan gambar design lokasi ini
diajukan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan terlebih dahulu yaitu dengan
gambar penampang melintang yang menunjukkan elevasi permukaan tiap titik.
Setelah gambar design penampang melintang disetujui, kemudian dilaksanakan
pemasangan patok-patok elevasi (bowplang).
Sebelum material didatangkan dari quarry yang telah disepakati bersamasama
dengan Direksi, diadakan pengujian sample material selected terlebih dahulu. Dan
setelah pengujian material telah disetujui oleh Direksi dan kemudian dituangkan
ke dalam report hasil investigasi dan menjadi pegangan untuk pelaksanaan
pengiriman material untuk pekerjaan.
Setelah itu, material dari quarry dikirim ke lokasi dengan memakai dump truk, dan
pada lokasi telah tersedia peralatan penghamparan dan pemadatan serta water
tank untuk menjaga pada saat penghamparan material tetap dalam kadar air yang
telah disepakati bersama dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
Material dihampar dengan Motor Grader secara per layer dengan tebal hampar
maksimum 20 cm dan kemudian diikuti dengan pemadatan oleh Vibro Roller yang
juga telah disepakati jumlah lintasan pemadatan dan disetujui oleh Direksi
Pekerjaan. Kemudian, apabila penghamparan dilaksanakan pada saat terik
matahari yang mengakibatkan material menjadi kering dan terburai oleh
hembusan angina maka segera dilakukan penyiraman air dengan water tank.
Kemudian setelah penghamparan telah tercapai 200 m’ maka dilakukan test
kepadatan dengan menggunakan alat Sandcone.
Jika hasil test sudah sesuai lanjutkan pekerjaan lain.
c. Peralatan Yang Digunakan
Motor Grader
Vibro Roller
Dump Truck
Water Tank
METO DE P ELA K SA NA A N P EK ER JA A N
DIVISI 7.
PEKERJAAN STRUKTUR
A. BETON STRUKTUR, FC’30 MPA
Pekerjaan Struktur ini akan meliputi semua pengadaan material dan tenaga kerja untuk
produksi serta pelaksanaan pekerjaan beton dan beton bertulang, termasuk uji
kekuatan dan perawatannya, yang akan meliputi antara lain :
1. Material pembentukan beton
2. Pengadaan beton
3. Baja tulangan
4. Pekerjaan beton bertulang
5. Perawatan beton
6. Uji kelayakan dan kekuatan beton
Minimal dengan kuat tekan silinder fc' = 30 MPa, artinya mempunyai kuat tekan hancur
karakteristik sebesar 30 MPa pada benda uji silinder dengan diameter 150 mm dan tinggi
300 mm, saat umur beton 28 hari. Kuat tekan tersebut di atas adalah lebih kurang setara
dengan mutu beton K-350 pada NI-2, yaitu kuat tekan hancur karakteristik sebesar 350
kg/cm2 pada benda uji kubus dengan sisi 150 mm, saat umur beton 28 hari. Kuat tekan
karakteristik adalah kuat tekan beton yang sudah memperhitungkan adanya deviasi
secara statistik pada sejumlah benda uji beton, baik itu silinder maupun kubus, sesuai
dengan SKSNI-T15-1991, atau NI-2-1971 dalam hal benda uji kubus.
Untuk mutu beton fc’ > 30 Mpa atau K350 seluruh komponen bahan beton harus ditakar
menurut berat. Untuk mutu beton fc’ < 30 MPa atau K350 diizinkan ditakar menurut
volume sesuai SNI 03-3976-1995. Bila digunakan semen kemasan dalam zak, kuantitas
penakaran harus sedemikian sehingga kuantitas semen yang digunakan adalah setara
dengan satu satuan atau kebulatan dari jumlah zak semen. Agregat harus ditimbang
beratnya secara terpisah. Ukuran setiap penakaran tidak boleh melebihi kapasitas alat
pencampur.
Pihak Kami sekurang-kurangnya dua minggu sebelum memulai pekerjaan beton
membuat adukan percobaan (trial mixes) dengan menggunakan contoh bahan-bahan
beton (semen, agregat, air dan bahan tambahan) yang akan digunakan nantinya untuk
menunjukkan bahwa campuran tersebut memenuhi kriteria untuk mencaai mutu kerja
kinerja beton yang diisyaratkan.
Urutan pelaksanaan pekerjaan Beton F’c 30 Mpa (K-350) adalah sebagai berikut :
Pengajuan Job Mix Design
Trial campuran beton sesuai dengan Job Mix Design
1. Beton secepat mungkin dicorkan setelah pengadukan, dan dilakukan sedemikian
rupa sehingga tidak terjadi pengendapan agregat maupun bergesernya posisi
tulangan atau acuan. Pengecoran dilaksanakan secarakontinyu dalam satu
elemen struktur atau diantara siar pelaksanaan (construction joint) yang telah
disetujui.
2. Pengecoran beton tidak dibenarkan untuk dimulai sebelum acuan/bekisting dan
pemasangan baja tulangan selesai diperiksa dan mendapat persetujuan
Manajemen konstruksi. Sebelum pengecoran dimulai, maka tempat yang akan
dicor terlebih dahulu dibersihkan dari segala kotoran (potongan kayu, batu,
tanah dan lainlain) dan dibasahi dengan air semen
3. Pengecoran dilakukan secara berlapis dan kontinyu, atau dengan metode
pengecoran yang diusulkan Pihak Kami dan disetujui oleh Manajemen
Konstruksi , dengan memperhatikan cara atau urutan pengecoran terutama
untuk volume pengecoran yang besar (beton massa), agar tidak terjadi cold joint
dan juga menghindari kemungkinan degradasi atau kerusakan beton akibat
panas hindrasi yang ditimbulkan. Untuk itu, sebelum pengecoran dilaksanakan,
Pihak Kami menyampaikan usaha prosedur pengecoran yang optimum kepada
Manajemen Konstruksi, untuk mendapatkan persetujuan Manajemen
Konstruksi.
4. Selama proses pengecoran, perlu dilakukan uji slump dan pengambilan contoh
benda uji, dengan disaksikan persetujuan dari Manajemen Konstruksi. Prosedur
uji slump, jumlah dan cara pengambilan contoh benda uji dan contoh
cetakannya sesuai dengan SKSNl, dan terlebih dahulu mendapat persetujuan
dari Manajemen.
5. Untuk pengecoran dengan mutu beton yang sama, yang diambil minimal 1 buah
benda uji setiap 5 m3 pengecoran beton untuk volume pengecoran yang kurang
dari 300 m3, atau minimal 1 buah setiap 10 m3 pengecoran beton untuk volume
pengecoran yang lebih dari 300 m3, dalam bentuk silinder berdiameter 150 mm
dan tinggi 300 mm.
6. Selama pengecoran berlangsung, beton dipadatkan dengan memakai vibrator,
yang dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak merusak acuan maupun posisi
ulangan. Pihak Kami menyediakan vibrator dalam jumlah yang cukup untuk
menjamin efisiensi pekerjaan tanpa adanya penundaan. Pemadatan beton
secara berlebihan sehingga menyebabkan pengendapan agregat, kebocoran
acuan dan lain sebagainya, dihindarkan.
7. Beton pada umumnya dicor secara berlapis. Lapisan-lapisan ini masing - masing
dipadatkan, dan dijaga sedemikian rupa supaya mempunyai ikatanyang baik
satu sama lain.
8. Beton dirawat (curing) dan dilindungi selama berlangsungnya proses
pengerasan terhadap panas matahari, angin, hujan atau aliran air dan
pengeringan sebelum waktunya.
9. Semua permukaan beton yang terbuka dijaga tetap basah selama minimal 14
hari, dengan cara menyemprotkan air atau menggenangkan air pada permukaan
beton tersebut, atau dengan cara lain yang diusulkan Pihak Kami. Metode curing
lebih dahulu diusulkan dan mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi,
sebelum proses pengerasan beton.
10. Untuk pengecoran beton pada waktu cuaca panas, curing dan perlindungan atas
beton diperhatikan. Pihak Kami bertanggung jawab atas retaknya beton karena
kelalaian dalam melaksanakan pekerjaan curing ini.
B. BETON, FC’10 MPA
Urutan pelaksanaan pekerjaan Beton F’c 10 Mpa (K-125) adalah sebagai berikut :
1. Beton secepat mungkin dicorkan setelah pengadukan, dan dilakukan sedemikian
rupa sehingga tidak terjadi pengendapan agregat maupun bergesernya posisi
tulangan atau acuan. Pengecoran dilaksanakan secara kontinyu dalam satu
elemen struktur atau diantara siar pelaksanaan (construction joint) yang telah
disetujui.
2. Pengecoran beton tidak dibenarkan untuk dimulai sebelum acuan/bekisting dan
pemasangan baja tulangan selesai diperiksa dan mendapat persetujuan
Manajemen konstruksi. Sebelum pengecoran dimulai, maka tempat yang akan
dicor terlebih dahulu dibersihkan dari segala kotoran (potongan kayu, batu,
tanah dan lainlain) dan dibasahi dengan air semen.
3. Pengecoran dilakukan secara berlapis dan kontinyu, atau dengan metode
pengecoran yang diusulkan Pihak Kami dan disetujui oleh Manajemen
Konstruksi , dengan memperhatikan cara atau urutan pengecoran terutama
untuk volume pengecoran yang besar (beton massa), agar tidak terjadi cold joint
dan juga menghindari kemungkinan degradasi atau kerusakan beton akibat
panas hindrasi yang ditimbulkan. Untuk itu, sebelum pengecoran dilaksanakan,
Pihak Kami menyampaikan usaha prosedur pengecoran yang optimum kepada
Manajemen Konstruksi, untuk mendapatkan persetujuan Manajemen
Konstruksi.
4. Selama proses pengecoran, perlu dilakukan uji slump dan pengambilan contoh
benda uji, dengan disaksikan persetujuan dari Manajemen Konstruksi. Prosedur
uji slump, jumlah dan cara pengambilan contoh benda uji dan contoh
cetakannya sesuai dengan SKSNl, dan terlebih dahulu mendapat persetujuan
dari Manajemen.
5. Selama pengecoran berlangsung, beton dipadatkan dengan memakai vibrator,
yang dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak merusak acuan maupun posisi
tulangan. Pihak Kami menyediakan vibrator dalam jumlah yang cukup untuk
menjamin efisiensi pekerjaan tanpa adanya penundaan. Pemadatan beton
secara berlebihan sehingga menyebabkan pengendapan agregat, kebocoran
acuan dan lain sebagainya, dihindarkan.
6. Beton pada umumnya dicor secara berlapis. Lapisan-lapisan ini masing - masing
dipadatkan, dan dijaga sedemikian rupa supaya mempunyai ikatan yang baik
satu sama lain.
7. Beton dirawat (curing) dan dilindungi selama berlangsungnya proses
pengerasan terhadap panas matahari, angin, hujan atau aliran air dan
pengeringan sebelum waktunya.
8. Semua permukaan beton yang terbuka dijaga tetap basah selama minimal 14
hari, dengan cara menyemprotkan air atau menggenangkan air pada permukaan
beton tersebut, atau dengan cara lain yang diusulkan Pihak Kami. Metode curing
lebih dahulu diusulkan dan mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi,
sebelum proses pengerasan beton.
9. Untuk pengecoran beton pada waktu cuaca panas, curing dan perlindungan atas
beton diperhatikan. Pihak Kami bertanggung jawab atas retaknya beton karena
kelalaian dalam melaksanakan pekerjaan curing ini.
C. PEKERJAAN BAJA TULANGAN POLOS-BJTP 280
Pekerjaan ini harus mencakup pengadaan dan pemasangan baja tulangan sesuai dengan
Spesifikasi dan Gambar, atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
Adapun prosedur pelaksanaan pekerjaan Baja Tulangan Polos-BJTP 280:
1. Sebelum penyetelan dan pemasangan baja tulangan dimulai, Pihak Kami
membuat rencana kerja pemotongan dan pembengkokan baja tulangan
(barbending schedule), yang sebelumnya diserahkan kepada Manajemen
Konstruksi untuk mendapatkan persetujuan.
2. Tulangan bebas dari kotoran-kotoran seperti lemak, karet lepas, tanah, serta
bahan-bahan atau kotoran yang bisa mengurangi daya letaknya.
3. Pembengkokan baja tulangan dilakukan secara hati-hati dan teliti, sesuai dengan
aturan dalam SKSNI. Pembengkokan tersebut dilakukan oleh tenaga yang ahli,
dengan menggunakan alat- Alat sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan
cacat, patah dan retak-retak pada batang baja.
4. Pemasangan dan penyetalan tulangan berdasarkan peil-peil yang sesuai dengan
gambar, dan sudah diperhitungkan mengenai toleransi penurunannya.
Pemasangan dilakukan dengan menggunakan pengganjal jarak selimut beton
(beton decking) untuk mendapatkan tebal selimut yang sesuai dengan gambar.
Apabila hal tersebut tidak tercantum di dalam gambar atau dalam spesifikasi,
maka dapat dipakai ketentuan dalam peraturan yang berlaku. Yang dimaksud
dengan selimut beton adalah jarak minimum yang terdapat antara permukaan
dari setiap besi beton termasuk begel terhadap permukaan beton yang terkecil
atau terdekat untuk setiap bagian dari masing-masing pekerjaan beton.
Adapun ketebalan selimut beton minimum yang disyaratkan adalah :
5. Tulangan dipasang sedemikian rupa sehingga sebelum dan selama pengecoran
tidak akan berubah tempatnya.
6. Ketebalan selimut beton dibuat dengan pengganjal yang umum dipakai dalam
praktek, seperti terbuat dari beton (dengan mutu paling sedikit sama dengan
mutu beton yang akan dicor), dengan jumlah minimum 4 buah setiap m2
cetakan atau lantai kerja, atau seperti yang diinstruksikan oleh Manajemen
Konstruksi, dan tersebar merata.
METO DE P ELA K SA NA A N P EK ER JA A N
DIVISI 6.
PEKERJAAN PERKERASAN ASPAL
A. LAPIS PEREKAT - ASPAL CAIR/EMULSI
Pekerjaan ini digunakan sebagai Lapis Perekat antara perkerasan beton fc’ 30 Mpa
dengan konstruksi diatasnya, sebelum dilakukan penyemprotan aspal dipanaskan pada
tangki Aspal Sprayer dan dicampur dengan Karosin setelah aspal mencapai suhu yang
telah ditetapkan sesuai spesifikasi setelah itu aspal Lapis Resap Pengikat disemprotkan
ke Lapis Pondasi Agregat Klas A dengan ketebalan 0,15 liter / meter persegi.
Dikerjakan secara mekanik dengan urutan kerja sebagai berikut Aspal dan minyak Flux
dicampur dan dipanaskan sehingga menjadi campuran aspal cair Permukaan yang akan
dilapis dibersihkan dari debu dan kotoran dengan Air Compresor. Di semprotkan dengan
merata dengan asphal sprayer pada badan jalan yang akan dipasang Lapisan Lataston
Lapis Aus (HRS-WC) 3,0 cm (gradasi senjang/semi senjang).
Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal pada
permukaan yang telah disiapkan sebelumnya untuk pemasangan lapisan beraspal
berikutnya. Dan dihampar diatas permukaan yang beraspal.
Tahap dan Cara Pelaksanaan
MULAI
PEMBERSIHAN LOKASI
PENCAMPURAN ASPAL & KEROSIN
MENGGUNAKAN AIR COMPRESOR
PENYEMPROTAN CAMPURAN ASPAL
CAIR/ SPRAYER
SELESAI
Gambar. Pelaksanaan Pekerjaan Lapis Perekat – Aspal Cair/ Emulsi
Analisa Pengerahan Alat & Material
a) Alat yang digunakan
Asphalt Sprayer
Air Compresor
Asphalt Distributor
Dump Truck
Alat bantu
b) Material yang digunakan
Asphalt
Kerosin/Minyak Tanah
Bahan Lainnya
Analisa Pengerahan Personil & K3
a) Mutu yang diharapkan :
Lapisan yang telah terhampar sesuai dengan rencana
b) Pengendalian Mutu:
Tiap 200 m ada 5 penampang, masing 1 penampang ada 3 kertas uji
B. LATASTON LAPIS AUS (HRS-WC)
Pencampuran dilakukan dengan Asphal Mixing Plant, diangkut dengan dump truck dan
dihampar dengan asphal finisher, dipadatkan dengan tandem Roller dan Pneumatic Tyre
Roller. serta dirapikan oleh pekerja dengan alat bantu. Dilaksanakan sesuai dengan
rencana dan atas persetujuan pihak Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas.
Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup pengadaan lapisan padat yang awet untuk lapis perata,
lapis pondasi atau lapis campuran aspal yang terdiri dari agregat dan bahan aspal
yang dicampur di AMP, serta menghampar dan memadatkan campuran tersebut
diatas pondasi atau permukaan jalan yang telah disiapkan.
Tahap dan Cara Pelaksanaan
MULAI
PERSIAPAN ALAT DAN MATERIAL
PENCAMPURAN
ASPHALT+AGREGAT+FILLER+ADITIF
(PROSES DI AMP)
PENGANGKUTAN ASPAL KELOKASI
PEKERJAAN
PENGHAMPARAN
PEMADATAN
SELESAI
Gambar. Pekerjaan Lataston Lapis Aus (HRS-WC)
Analisa Pengerahan Alat & Material
a) Alat yang Digunakan
AMP+Laboratorium
Wheel Loader
Dump Truck
Asphalt Finisher
Tandem Roller
Pneumatic Tire Roller
Alat Bantu
b) Material yang digunakan
Asphalt
Agregat Kasar
Agregat Halus
Filler
Kerosin/Minyak Tanah
Analisa Pengerahan Personil & K3
a) Personil yang dikerahkan
Pelaksana
Petugas K3L
Tenaga Kerja
b) Aspek K3
Memasang Rambu Peringatan
c) Menggukana alat pelindung (APD)
Sarung Tangan
Helm
Sepatu Safety
Pengendalian Mutu
a) Mutu yang diharapkan :
Permukaan yang rata sesuai spesifikasi yang disyaratkan
Elevasi sesuai dengan yang direncanakan
Campuran aspal sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan
b) Pengendalian Mutu
C. PENUTUP
Untuk melaksanakan pekerjaan dalam butir tersebut diatas, berlaku dan mengikat pula :
1. Gambar bestek yang dibuat Konsultan Perencana yang sudah disahkan oleh
Pemberi Tugas termasuk juga gambar – gambar detail yang diselesaikan oleh
Kontraktor dan sudah disahkan/disetujui oleh pengawas.
2. Rencana Kerja dan Syarat – Syarat ( RKS ).
3. Surat Perintah Kerja ( SPK ).
4. Surat Penawaran beserta lampiran – lampirannya.
5. Jadwal Pelaksanaan ( Tentative Time Schedule ).
6. Kontrak / Surat Perjanjian Pemborongan.
7. Instruksi – instruksi Direksi dan Pengawas.
Pangkalan Bun, 22 Mei 2023
KEPALA BIDANG BINA MARGA SELAKU PPK
PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG
KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT
H E R T O , S T
NIP. 19660202 1999303 1 014