| Administrative Score (SA) | Reason | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| 0813596806814000 | Rp 194,989,998 | 90.12 | 92.1 | - | |
| 0809522089814000 | Rp 196,859,602 | 76.25 | 80.81 | - | |
| 0925787004822000 | - | - | - | - | |
| 0763398377831000 | - | - | - | tidak menghadiri undangan klarifikasi teknis | |
| 0826222648543000 | - | - | - | tidak menghadiri undangan klarifikasi teknis | |
| 0615348331822000 | - | - | - | tidak menghadiri pembuktian kualifikasi | |
| 0030916290822000 | - | - | - | tidak menghadiri pembuktian kualifikasi | |
| 0024752073831000 | - | - | - | - | |
| 0014353346545000 | - | - | - | tidak menghadiri undangan klarifikasi teknis | |
| 0029855814822000 | - | - | - | - | |
CV Eljireh Abadi | 00*1**3****21**0 | - | - | - | - |
| 0014827380424000 | - | - | - | - | |
| 0902397058822000 | - | - | - | - | |
| 0662475300822000 | - | - | - | - | |
| 0033058645822000 | - | - | - | - | |
| 0016006967822000 | - | - | - | - | |
| 0017677824429000 | - | - | - | - | |
| 0814965190429000 | - | - | - | - |
URAIAN SINGKAT PEKERJAAN
a. Persiapan Pelaksanaan Desain
1). Tujuan
Persiapan desain ini bertujuan :
a. Mempersiapkan dan mengumpulkan data-data awal
b. Menetapkan desain sementara dari data awal untuk dipakai sebagai
panduan survey pendahuluan.
c. Menetapkan ruas yang akan disurvey.
2). Lingkup Pekerjaan
Kegiatan pekerjaan ini meliputi :
a. Melakukan perencanaan jembatan sesuai dengan ketentuan ketentuan
dalam kaidah perencanaan jalan dan jembatan.
b. Melakukan koordinasi dan konfirmasi dengan instansi terkait baik di pusat
maupun di daerah termasuk juga mengumpulkan informasi harga satuan/
upah untuk disekitar lokasi proyek terutama pada proyek yang sedang
berjalan.
c. Mengumpulkan dan mempelajari laporan-laporan yang berkaitan dengan
wilayah yang dipengaruhi atau mempengaruhi jembatan yang akan
direncanakan.
b. Survey dan Identifikasi Data :
Survey lapangan dan investigasi harus dilaksanakan untuk mendapatkan data di
lapangan sampai dengan tingkat ketelitian tertentu dengan memperhatikan
beberapa faktor, seperti kondisi lapangan aktual yang ada dan sasaran penanganan
yang hendak dicapai. Konsultan Perencana dengan persetujuan Pengguna Jasa
harus menghindarkan suatu kondisi bahwa informasi terlalu berlebihan atau terlalu
minimal. Jenis-jenis survey atau investigasi yang harus dilaksanakan tersebut
bergantung kepada jenis pekerjaan penanganan yang akan dikerjakan oleh
Kontraktor Pelaksana Konstruksi kelak. Sebagai acuan dasar, apabila tidak
ditentukan lain oleh Pengguna Jasa pada saat review hasil Survey Pendahuluan,
jenis-jenis survey dan investigasi yang harus dilaksanakan oleh Konsultan
Perencana adalah sebagaimana di bawah ini.
1) Tujuan
Tujuan pengukuran topografi dalam pekerjaan ini adalah mengumpulkan data
koordinat dan ketinggian permukaan tanah sepanjang rencana trase jalan dan
jembatan di dalam koridor yang ditetapkan untuk penyiapan peta topografi
dengan skala 1:1000 yang akan digunakan untuk perencanaan geometrik jalan,
serta 1:500 untuk perencanaan jembatan dan penanggulangan longsoran.
2) Lingkup Pekerjaan
(1) Pemasangan patok-patok
- Patok-patok BM harus dibuat dari beton dengan ukuran 10x10x75cm atau
pipa pralon ukuran 4 inci yang diisi dengan adukan betondan di atasnya
dipasang neut dari baut, ditempatkan pada tempatyang aman, mudah
terlihat. Patok BM pada lokasi rencana jembatan dipasang minimal
3,masing-masing 1 (satu) pasang di setiap sisi sungai/ alur dan 1(buah)
disekitar sungai yang posisinya aman dari gerusan air sungai.
- Patok BM dipasang/ ditanam dengan kuat, bagian yang tampak di atas
tanah setinggi 20 cm, dicat warna kuning, diberi lambang, notasi dan
nomor BM dengan warna hitam. Patok BM yang sudah terpasang,
kemudian di photo sebagai dokumentasi yang dilengkapi dengan nilai
koordinat serta elevasi.
- Untuk setiap titik poligon dan sifat datar harus digunakan patok kayu yang
cukup keras, lurus, dengan diameter sekitar 5 cm, panjang sekurang-
kurangnya 50 cm, bagian bawahnya diruncingkan, bagian atas diratakan
diberi paku, ditanam dengan kuat, bagian yang masih nampak diberi
nomor dan dicat warna kuning. Dalam keadaan khusus, perlu
ditambahkan patok bantu.
- Untuk memudahkan pencarian patok, sebaiknya pada daerah sekitar
patok diberi tanda-tanda khusus.
- Pada lokasi-lokasi khusus dimana tidak mungkin dipasang patok,
misalnya di atas permukaan jalan beraspal atau di atas permukaan batu,
maka titik-titik poligon dan sifat datar ditandai dengan paku seng dilingkari
cat kuning dan diberi nomor.
(2) Pengukuran titik kontrol horizontal
- Pengukuran titik kontrol horizontal dilakukan dengan sistem poligon, dan
semua titik ikat (BM) harus dijadikan sebagai titik poligon.
- Sisi poligon atau jarak antar titik poligon maksimum 100 meter, diukur
dengan meteran atau dengan alat ukur secara optis ataupun elektronis.
- Sudut-sudut poligon diukur dengan alat ukur theodolite atau total station
(TS) dengan ketelitian baca dalam detik.
(3) Pengukuran titik kontrol vertikal
- Pengukuran ketinggian dilakukan dengan cara 2 kali berdiri/ pembacaan
pergi- pulang.
- Pengukuran sifat datar harus mencakup semua titik pengukuran (poligon,
sifat datar, dan potongan melintang) dan titik BM.
- Rambu-rambu ukur yang dipakai harus dalam keadaan baik, berskala
benar, jelas dan sama.
- Pada setiap pengukuran sifat datar harus dilakukan pembacaan ketiga
benangnya, yaitu Benang Atas (BA), Benang Tengah (BT), dan Benang
Bawah (BB), dalam satuan milimiter. Pada setiap pembacaan harus
dipenuhi: 2 BT = BA + BB.
- Dalam satu seksi (satu hari pengukuran) harus dalam jumlah slag
(pengamatan) yang genap.
(4). Pengukuran situasi
- Pengukuran situasi dilakukan dengan sistem tachimetri, yang mencakup
semua obyek yang dibentuk oleh alam maupun manusia yang ada
disepanjang jalur pengukuran, seperti alur, sungai, bukit, jembatan,
rumah, gedung dan sebagainya.
- Dalam pengambilan data agar diperhatikan keseragaman penyebaran
dan kerapatan titik yang cukup sehingga dihasilkan gambar situasi yang
benar. Pada lokasi-lokasi khusus (misalnya: sungai, persimpangan
dengan jalan yang sudah ada) pengukuran harus dilakukan dengan
tingkat kerapatan yang lebih tinggi.
- Untuk pengukuran situasi harus digunakan alat theodolit.
(5). Pengukuran Penampang Melintang.
Pengukuran penampang melintang harus dilakukan dengan persyaratan:
Untuk pengukuran penampang melintang harus digunakan alat theodolit.
(6). Pengukuran pada perpotongan rencana trase jembatan dengan sungai atau
jalan
- Koridor pengukuran ke arah hulu dan hilir masing-masing minimum 200
m dari perkiraan garis perpotongan atau daerah sekitar sungai (hulu/
hilir) yang masih berpengaruh terhadap keamanan jembatan dengan
interval pengukuran penampang melintang sungai sebesar 25 meter.
- Koridor pengukuran searah rencana trase jembatan masing-masing
minimum 100 m dari garis tepi sungai/ jalan atau sampai pada garis
pertemuan antara oprit jembatan dengan jalan dengan interval
pengukuran penampang melintang rencana trase jalan sebesar 25
meter.
- Pada posisi lokasi jembatan interval pengukuran penampang melintang
dan memanjang baik terhadap sungai maupun jalan sebesar 10 m, 15
m, dan 25 m. Pengukuran situasi lengkap menampilkan segala obyek
yang dibentuk alam maupun manusia disekitar persilangan tersebut.
3) Persyaratan
(1) Pemeriksaan dan koreksi alat ukur.
Sebelum melakukan pengukuran, setiap alat ukur yang akan digunakan harus
diperiksa dan dikoreksi
(2) Perhitungan
− Perhitungan Koordinat.
Perhitungan koordinat poligon dibuat setiap seksi, antara pengamatan
matahari yang satu dengan pengamatan berikutnya. Koreksi sudut
tidak boleh diberikan atas dasar nilai rata-rata, tapi harus diberikan
berdasarkan panjang kaki sudut (kaki sudut yang lebih pendek
mendapatkan koreksi yang lebih besar), dan harus dilakukan di lokasi
pekerjaan.
- Perhitungan Sifat Datar.
Perhitungan sifat datar harus dilakukan hingga 4 desimal (ketelitian 0,5
mm), dan harus dilakukan kontrol perhitungan pada setiap lembar
perhitungan dengan menjumlahkan beda tingginya.
- Perhitungan Ketinggian Detail.
Ketinggian detail dihitung berdasarkan ketinggian patok ukur yang
dipakai sebagai titik pengukuran detail dan dihitung secara tachimetris.
- Seluruh perhitungan sebaiknya menggunakan sistim komputerisasi.
(3) Keluaran
- Penggambaran poligon harus dibuat dengan skala 1 : 1.000 untuk
jalan dan 1:500 untuk jembatan.
- Garis-garis grid dibuat setiap 10 Cm.
- Koordinat grid terluar (dari gambar) harus dicantumkan harga absis (x)
dan ordinat (y)-nya.
- Pada setiap lembar gambar dan/ atau setiap 1 meter panjang gambar
harus dicantumkan petunjuk arah Utara.
- Penggambaran titik poligon harus berdasarkan hasil perhitungan dan
tidak boleh dilakukan secara grafis.
- Setiap titik ikat (BM) agar dicantumkan nilai X,Y,Z-nya dan diberi tanda
khusus. Semua hasil perhitungan titik pengukuran detail, situasi, dan
penampang melintang harus digambarkan pada gambar polygon,
sehingga membentuk gambar situasi dengan interval garis ketinggian
(contour) 1 meter.
c. Survey Lalu Lintas
1) Tujuan
Survey lalu lintas bertujuan untuk mengetahui kondisi lalu lintas, kecepatan
kendaraan rata-rata, menginventarisasi jalan yang ada, serta
menginventarisasi jumlah setiap jenis kendaraan yang melewati ruas jalan
tertentu dalam satuan waktu, sehingga dapat dihitung lalu lintas harian rata-rata
sebagai dasar perencanaan jembatan.
2) Ruang Lingkup
Survey lalu lintas meliputi kegiatan :
(1) Survey volume kendaraan.
Seluruh jenis kendaraan yang lewat baik dari arah depan maupun dari arah
belakang harus dicatat. Setiap lajur minimal 2 orang dengan peralatan yang
digunakan 1 orang 1 counter serta format survey yang telah ditentukan.
(1.1) Pos-pos perhitungan lalu lintas yang terbagi dalam beberapa tipe pos
:
a. Pos Kelas A : yaitu pos perhitungan lalu lintas yang terletak pada
ruas jalan dengan jumlah lalu lintas yang tinggi dan mempunyai
LHR > 10.000 kendaraan.
b. Pos Kelas B : yaitu pos perhitungan lalu lintas yang terletak pada
ruas jalan dengan jumlah lalu lintas yang sedang dan mempunyai
5.000 < LHR< 10.000 kendaaan.
c. Pos Kelas C : yaitu pos perhitungan lalu lintas yang terletak pada
ruas jalan dengan jumlah lalu lintas yang rendah dan mempunyai
LHR < 5.000 kendaraan.
(1.2) Pemilihan Lokasi Pos
a. Lokasi pos harus mewakili jumlah lalu lintas harian rata-rata dari
ruas jalan tidak terpengaruh oleh angkutan ulang alik yang tidak
mewakili ruas (commuter traffic).
b. Lokasi pos harus mempunyai jarak pandang yang cukup untuk
kedua arah, sehingga memungkinkan pencatatan kendaraan
dengan mudah dan jelas.
c. Lokasi pos tidak dapat ditempatkan pada persilangan jalan.
(1.3) Tanda Pengenal Pos
Setiap pos perhitungan lalu lintas rutin mempunyai nomor pengenal,
terdiri dari satu huruf besar dan diikuti oleh tiga digit angka. Huruf
besar A,B,dan C memberikan identitas mengenai tipe kelas pos
perhitungan. Tiga digit angka berikutnya identik dengan nomor ruas
jalan dimana pos-pos tersebut terletak. Apabila pada suatu ruas jalan
mempunyai pos perhitungan lebih dari satu, maka kode untuk pos
kedua, digit pertama diganti dengan 4 dan seterusnya. Urutan pos
hendaknya dimulai dari kilometer kecil kearah kilometer besar pada
ruas jalan tersebut.
(1.4) Pengelompokan Kendaraan
Dalam perhitungan jumlah lalu lintas, kendaraan dibagi kedalam 10
Kelompok mencakup kendaraan bermotor dan kendaraan tidak
bermotor.
Golongan/ Jenis Kendaraan yang masuk kelompok
Kelompok
Sepeda Motor, Skuter, Sepeda kumbang dan
1
kendaraan bermotor roda 3
2 Sedan, Jeep dan Station Wagon
Opelet, Pick Up Opelet, Suburban, Combi dan
3
minibus
4 Pick Up, Micro Truk, Mobil Hantaran atau pick up box
5a Bus Kecil
5b Bus Besar
6. Truk 2 Sumbu
7a Truk 3 Sumbu
7b Truk Gandengan
7c Truk Semi Trailer
Kendaraan tidak bermotor, sepeda, becak,
8
andong/dokar,gerobak sapi
3) Persyaratan
Standar pengambilan dan perhitungan data harus mengacu pada buku Manual
Kapasitas Jalan Indonesia.
d. Survey Penyelidikan Tanah (Mekanika Tanah)
Tujuan penyelidikan tanah dalam pekerjaan ini adalah untuk memenentukan jenis
dan karakteristik tanah untuk keperluan dalam menentukan jenis pondasi dan bahan
jembatan, serta mengidentifikasi lokasi sumber bahan termasuk perkiraan
kuantitasnya.
e. Survey Hidrologi
1) Tujuan
Tujuan survey hidrologi dan hidrolika yang dilaksanakan dalam pekerjaan ini
adalah untuk mengumpulkan data hidrologi dan karakter/ perilaku aliran air
pada bangunan air yang ada (sekitar jembatan maupun jalan), guna keperluan
analisis hidrologi, penentuan debit banjir rencana (elevasi muka air banjir),
perencanaan drainase dan bangunan pengaman terhadap gerusan, river
training (pengarah arus) yang diperlukan.
2) Ruang Lingkup
Lingkup pekerjaan survey hidrologi ini meliputi :
a. Mengumpulkan data curah hujan harian maksimum (mm/hr) paling sedikit
dalam jangka 10 tahun pada daerah tangkapan (catchment area) atau pada
daerah yang berpengaruh terhadap lokasi pekerjaan, data tersebut bisa
diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika dan/ atau instansi terkait di
kota terdekat dari lokasi perencanaan.
b. Mengumpulkan data bangunan pengaman yang ada seperti gorong-gorong,
jembatan, selokan yang meliputi: lokasi , dimensi, kondisi, tinggi muka air
banjir.
c. Menganalisis data curah hujan dan menentukan curah hujan rencana, debit
dan tinggi muka air banjir rencana dengan periode ulang 10 tahunan untuk
jalan arteri, 7 tahun untuk jalan kolektor, 5 tahunan untuk jalan lokal dan 50
tahunan jembatan dengan metode yang sesuai.
d. Menganalisa pola aliran air pada daerah rencana untuk memberikan
masukan dalam proses perencanaan yang aman.
e. Menghitung dimensi dan jenis bangunan pengaman yang diperlukan.
f. Menentukan rencana elevasi aman untuk jalan/ jembatan termasuk
pengaruhnya akibat adanya bangunan air ( aflux).
g. Merencanakan bangunan pengaman jalan/ jembatan terhadap gerusan
samping atau horisontal dan vertikal.
3) Persyaratan
Proses analisa perhitungan harus mengacu pada Standar Nasional Indonesia
(SNI) No: 03 3424-1994 atau Standar Nasional Indonesia (SNI) No: 03-1724-
1989 SKBI- 1.3.10.1987 (Tata Cara Perencanaan Hidrologi dan Hidrolika untuk
Bangunan di
Sungai).
f. Proses Analisa Struktur Jembatan
Setelah semua data dikumpulkan kemudian data tersebut dianalisa dan dilakukan
desain jembatan, baik itu bangunan bawah maupun bangunan atas jembatan.
Dalam perencanaan teknik jembatan konsultan harus berdasarkan peraturan
perencanaan yang telah ditetapkan atau sesuai SNI. Terutama diharapkan desain
yang tahan terhadap gempa. Untuk hal ini Konsultan mengacu pada SNI 2833 tahun
2008 tentang <Perencanaan ketahanan gempa untuk jembatan=. Dalam standar ini
dijelaskan dinamika struktur agar setiap perencana akan menguasai segi kekuatan,
keamanan dan kinerja ketahanan gempa jembatan dalam suatu proses
perencanaan utuh. Untuk analisa struktur bangunan atas dan bangunan bawah
jembatan di Analisa dengan menggunakan software.
g. Penggambaran
1). Rancangan (Draft Perencanaan Teknik)
Tim harus membuat rancangan (draft) perencanaan teknis dari setiap detail
perencanaan dan mengajukannya kepada pengguna jasa untuk diperiksa dan
disetujui.
a. Gambar detail bangunan bawah dan bangunan atas Jembatan.
b. Keterangan mengenai mutu bahan dan kelas pembebanan.
2). Gambar Rencana (Final Desain)
Pembuatan gambar rencana lengkap dilakukan setelah rancangan
perencanaan\ disetujui oleh pengguna jasa dengan memperhatikan koreksi dan
saran yang diberikan. Gambar rencana akhir terdiri dari gambar-gambar
rancangan yang telah diperbaiki dan dilengkapi dengan:
a. Sampul luar (cover) dan sampul dalam.
b. Daftar isi.
c. Peta lokasi proyek.
d. Peta lokasi Sumber Bahan Material (Quarry).
e. Daftar simbol dan singkatan.
f. Daftar bangunan pelengkap dan volume.
g. Daftar rangkuman volume pekerjaan.
h. Perhitungan Kuantitas Pekerjaan Fisik
a. Penyusunan mata pembayaran pekerjaan (per item) harus sesuai dengan
spesifikasi yang dipakai,
b. Perhitungan kuantitas pekerjaan harus dilakukan secara keseluruhan. Tabel
perhitungan harus mencakup lokasi dan semua jenis mata pembayaran (pay
item)
c. Tim harus mengumpulkan harga satuan dasar upah, bahan, dan peralatan yang
akan digunakan di lokasi pekerjaan.
d. Tim harus menyiapkan laporan analisa harga satuan pekerjaan untuk semua
mata pembayaran yang mengacu pada Panduan Analisa Harga Satuan No.
028/T/BM/1995 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Bina Marga.
e. Tim harus menyiapkan laporan perkiraan kebutuhan biaya pekerjaan
konstruksi.