| 0850022427427000 | Rp 6,787,321,124 | |
| 0029131158424000 | Rp 6,841,455,001 | |
| 0955027099543000 | - | |
| 0717730063422000 | - | |
| 0033277518542000 | - | |
| 0019034057072000 | - | |
| 0919843680545000 | - | |
| 0603279159652000 | - | |
| 0928396142001000 | - | |
| 0763228541543000 | - | |
CV Andalas Lestari | 0030328561323000 | - |
| 0313901340419000 | - | |
| 0803519677422000 | - | |
| 0866775182541000 | - | |
| 0750471872101000 | - | |
| 0016119752444000 | - | |
| 0029926722301000 | - | |
| 0021050976501000 | - |
0
PUSAT ZENI TNI ANGKATAN DARAT Lampiran 1
PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN Spesifikasi teknis pekerjaan Konstruksi
URAIAN SINGKAT
PEKERJAAN
REHAB 4 BARAK DAN PRASARANA YONIF 413 KOSTRAD
Jl. Ksatrian II Matraman Jakarta timur, Telp. 021-8583055 Fax. 021-29367045
1
PUSAT ZENI TNI ANGKATAN DARAT
PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN
URAIAN SINGKAT PEKERJAAN
Pasal 1
LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan pada proyek ini adalah Pekerjaan rehab 4 barak dan prasarana Yonif
413 Kostrad merupakan kegiatan pembangunan TNI AD TA. 2023 yang dilaksanakan sesuai
gambar.
Pasal 2
PEKERJAAN PERSIAPAN
Pekerjaan persiapan adalah suatu pekerjaan awal yang merupakan satu kesatuan
pekerjaan yang tidak terpisahkan dari pekerjaan utama yang meliputi:
1. Uraian umum.
a. Pekerjaan.
1) Pekerjaan ini adalah rehab 4 barak dan prasarana Yonif 413 Kostrad;
2) Istilah “Pekerjaan” mencakup penyediaan semua tenaga kerja (tenaga ahli,
tukang, buruh dan lainnya), bahan bangunan dan peralatan/perlengkapan yang
diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan termaksud;
3) Dalam lingkup pekerjaan ini adalah pekerjaan Direksi keet, Pekerjaan Air Kerja,
Listrik Kerja, Gudang, Papan nama proyek dan seluruh perizinan, untuk itu kontraktor
pelaksana dalam penawaran biaya totalnya sudah harus memperhitungkan pekerjaan
tersebut; dan
4) Pekerjaan harus dilaksanakan dan diselesaikan seperti yang dimaksud dalam
RKS, Gambar-gambar Rencana, Bill of Quantity (BoQ), Berita Acara Rapat
Penjelasan Pekerjaan serta Addendum yang disampaikan selama pelaksanaan.
b. Batasan/Peraturan Pelaksanaan Pekerjaan.
Dalam melaksanakan pekerjaannya Kontraktor harus tunduk kepada:
1) Undang-Undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa
Konstruksi;
2) Undang-Undang Republik Indonesia No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung;
3) Peraturan Presiden Republik Indonesia 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah yang terakhir diubah dengan Peraturan Presiden No. 70
Tahun 2012, yang berisi instruksi dan/atau informasi yang diperlukan oleh peserta;
4) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Jasa Konsultasi No. 07/PRT/M/2011
tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi;
5) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 45/PRT/1998 tentang Pedoman
Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara;
6) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 441/KPTS/1998 tentang
Persyaratan Teknis Bangunan Gedung; dan
7) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 468/KPTS/1998 tentang
Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan.
c. Saluran Pembuangan.
Kontraktor harus membuat saluran pembuangan sementara untuk menjaga
agar daerah bangunan selalu dalam keadaan kering/tidak basah tergenang air hujan
atau air buangan. Saluran dihubungkan ke parit/selokan yang terdekat atau menurut
petunjuk Pengawas.
2
d. Kantor Kontraktor, Halaman Kerja, Gudang dan Fasilitas Lain
Kontraktor harus membangun kantor dan perlengkapannya, gudang dan
halaman kerja (work yard) di dalam halaman pekerjaan, yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan sesuai Kontrak. Kontraktor harus juga menyediakan untuk
pekerja/buruhnya fasilitas sementara di luar site. Kontraktor harus membuat tata
letak/denah halaman proyek dan rencana konstruksi fasilitas-fasilitas tersebut.
Kontraktor harus menjamin agar seluruh fasilitas itu tetap bersih dan terhindar dari
kerusakan.
b. Kantor Pengawas (Direksi Keet).
Kontraktor harus menyediakan untuk Direksi di tempat pekerjaan ruang kantor
sementara beserta seperangkat furniture termasuk kursi-kursi, meja dan lemari.
Kontraktor harus selalu membersihkan dan menjaga keamanan kantor tersebut
beserta peralatannya.
1. Pagar sementara.
Kontraktor harus membuat pagar sementara yang sifatnya melindungi dan
menutupi lokasi yang akan dibangun dengan persyaratan kualitas sebagai berikut :
a. Tinggi pagar minimum 3 m.
b. Ruang gerak selama pelaksanaan dalam lokasi berpagar harus cukup leluasa untuk
lancarnya pekerjaan.
c. Pada tahap selanjutnya Kontraktor harus menyediakan/memasang pengaman
secukupnya disekeliling konstruksi bangunan untuk mencegah jatuhnya bahan-bahan
bangunan dari atas yang membahayakan baik pekerja maupun aktivitas lain disekitar
bangunan. Kontraktor bisa menggunakan kembali pagar yang sudah ada dengan
melakukan perbaikan-perbaikan terlebih dahulu bila diperlukan.
3. Papan nama proyek.
Kontraktor wajib membuat dan memasang papan nama proyek di bagian depan
halaman proyek sehingga mudah dilihat umum, dengan mencantumkan nama Proyek, nama
Pengawas, Kontraktor, Pemilik Proyek. Ukuran dan redaksi papan nama tersebut dengan
ukuran minimal 120 x 240 cm dipotong dengan tiang setinggi 250 cm atau sesuai dengan
petunjuk Pemerintah Daerah setempat. Kontraktor tidak diizinkan menempatkan atau
memasang reklame dalam bentuk apapun di halaman dan di sekitar proyek tanpa ijin dari
Pemberi Tugas.
4. Papan bangunan (bouwplank).
a. Bouwplank dibuat dari kayu terentang (kayu hutan kelas III) ukuran minimum 3/20 cm
yang utuh dan kering. Bouwplank dipasang dengan tiang-tiang dari kayu sejenis ukuran 5/7
cm dan dipasang pada setiap jarak satu meter. Papan harus lurus dan diketam halus pada
bagian atasnya.
b. Bouwplank harus benar-benar datar (waterpass) dan tegak lurus. Pengukuran
harus memakai alat ukur yang disetujui Pengawas.
c. Bouwplank harus menunjukkan ketinggian ± 0.00 dan as kolom/dinding. Letak dan
ketinggian permukaan bouwplank harus dijaga dan dipelihara agar tidak berubah selama
pekerjaan berlangsung.
4. Kebutuhan air kerja.
5. Kebutuhan listrik kerja.
6. Foto dokumentasi:
a. Saat permulaan pekerjaan (0 %);
b. Setiap jenis/item pekerjaan (proses dan finish);
c. Setiap pengajuan pembayaran angsuran;
d. Setiap masa pemeliharaan berakhir; dan
e. Foto harus berwarna ukuran postcard sebanyak masing-masing 3 (tiga) lembar dan
disusun dalam album dan diberi keterangan.
3
7. Pengukuran:
a. LINGKUP PEKERJAAN.
Pekerjaan ini meliputi semua pekerjaan pengukuran batas/garis dan elevasi
persiapan lahan dan pekerjaan pengukuran lainnya yang ditentukan dalam Gambar Kerja
dan/atau yang ditentukan Pengawas dan termasuk penyediaan tim ukur yang
berpengalaman dan peralatan pengukuran lengkap dan akurat yang memenuhi ketentuan
spesifikasi ini.
b. PROSEDUR UMUM.
1) Data Standar Pengukuran.
Standar pengukuran berdasarkan poligon tertutup tiga titik koordinat dan patok
akan disediakan Pemilik Proyek dan akan menjadi patokan pengukuran yang
dilakukan Kontraktor.
2) Bila Kontraktor berkeberatan atas penentuan sistem koordinat tersebut, maka
dalam 1 (satu) minggu setelah penentuan, Kontraktor dapat mengajukan keberatan
secara tertulis beserta data pendukung untuk kemudian akan dipertimbangkan
oleh Pengawas.
3) Persyaratan Pengukuran.
Kontraktor harus melaksanakan perhitungan pengukuran dan pemeriksaan
untuk mendapatkan lokasi yang tepat sesuai Gambar Kerja dan harus disetujui
Pengawas.
4) Patok/Bench Mark.
a) Kontraktor harus menjaga, melindungi patok standar pengukuran maupun
patok-patok yang dibuatnya.
b) Pemindahan patok, termasuk patok-patok yang dibuat pihak lain harus
dihindarkan. Mengikat sesuatu pada patok tidak diizinkan. Setiap kerusakan
pada patok harus dilaporkan kepada Pengawas. Kontraktor setiap waktu
bertanggung jawab memperbaiki dan mengganti patok yang rusak. Biaya
perbaikan patok menjadi tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya.
c) Penandaan harus jelas terbaca dan kuat/awet. Patok di tanah harus
dilindungi dengan pipa beton dan struktur lain dan harus bebas dari air dan tanah.
d) Kerangka horisontal harus dari pasak kayu, berukuran 50 mm x 50 mm
panjang 300 mm, ditanam dengan kuat ke dalam tanah, menonjol 20 mm di
atas permukaan tanah dengan paku ditengahnya sebagai tanda, atau dengan
cara lain yang ditentukan oleh Pengawas.
5) Tim Pengukur dan Peralatan.
Kontraktor harus menyediakan tim ukur yang ahli, yang disetujui terlebih dahulu
oleh Pengawas, dan mereka bertanggung jawab memberikan informasi dan data yang
berkaitan dengan pengukuran kepada Pengawas, Kontraktor harus menggunakan
sejumlah peralatan pengukuran yang memadai, akurat dan memiliki sertifikat dan
disetujui Pengawas.
c. PELAKSANAAN PEKERJAAN.
1) Perhitungan dan Catatan Pengukuran.
Catatan lengkap harus mencakup semua pengukuran lapangan, rapih dan
teratur. Pengukuran harus dengan jelas menyebutkan nama proyek, lokasi, tanggal,
nama. Buku yang dijilid harus digunakan untuk catatan.
Catatan lapangan yang terpisah harus dibuat untuk setiap kategori berikut:
a) Pemeriksaan melintang.
b) Ketinggian patok.
c) Lokasi pengukuran.
d) Konstruksi pengukuran.
e) Potongan melintang.
4
Koordinat seluruh patok, titik pemeriksaan dan lainnya harus dihitung
sebelum pengukuran. Sketsa harus disiapkan untuk setiap patok pemeriksaan dan titik
acuan yang menunjukkan jarak dan azimut ke setiap titik acuan. Profil dan bidikan
elevasi topografi harus dicatat dalam buku lapangan. Semua catatan dan
perhitungan harus dibuat permanen, dan dijaga di tempat yang aman. Penyimpanan
data lapangan yang tidak berlaku lagi dilakukan oleh Pengawas.
2) Pemeriksaan Ketepatan.
Semua elemen pengukuran, pemeriksaan dan penyetelan harus diperiksa
Pengawas pada waktu-waktu tertentu selama pelaksanaan proyek. Kontraktor harus
membantu Pengawas selama pemeriksaan pengukuran lapangan.
Pengukuran yang tidak sempurna yang dikerjakan Kontraktor, harus diperbaiki dan
diulang tanpa tambahan biaya.
Kontraktor harus menjaga semua tanda dan garis yang dibutuhkan agar tetap terlihat
jelas selama pemeriksaan. Setiap pemeriksaan yang dilakukan Pengawas tidak
membebaskan Kontraktor dari seluruh tanggung jawabnya membuat pengukuran
yang tepat untuk kerataan, elevasi, kemiringan, dimensi dan posisi setiap struktur atau
fasilitas.
Pasal 3
PEKERJAAN BETON
1. LINGKUP PEKERJAAN.
Lingkup pekerjaan ini meliputi pekerjaan beton yang dilaksanakan sesuai gambar Kerja.
Semua pekerjaan, bahan dan petunjuk kerja yang berkaitan dengan beton cor di tempat harus
sesuai dengan Spesifikasi Teknis dan Spesifikasi dan standar terkait.
2. STANDAR/RUJUKAN.
1) Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung (SNI 2847:2013)
2) American Concrete Institute (ACI):
1) ACI 318 – Building Code Requirements for Reinforced Concrete
2) ACI 347 – Formwork for Concrete SNI 15-2049-1994 – Semen Portland, Mutu
dan Cara Uji Semen
3) American Association of State Highway and Transportation Officials (AASHTO) :
1) AASHTO M6 – Standar Specification for Concrete Aggregates.
2) AASHTO M153 – Preformed Sponge Rubber and Cork Expansion Joint Fillers
for Concrete Paving and Structural Construction.
3) AASHTO T11 – Amount of Material Finer Than 0.075 mm (No. 150) Sieve in
Aggregate.
4) AASHTO T27 – Sieve Analysis of Fine and Coarse Aggregate.
5) AASHTO T112 – Clay Lumps and Friable Particles in Aggregate.
6) AASHTO T113 – Lightweight Pieces in Aggregate.
4) American Society for Testing and Materials (ASTM) :
1) ASTM C33 – Specification for Concrete Aggregate.
2) ASTM C150 – Specification for Portland Cement.
3) ASTM C260 – Standar Specification for Air-Entraining Admixtures for Concrete.
4) ASTM C494 – Standar Specification for Chemical Admixtures for Concrete.
5) ASTM C685 – Specification for Concrete Made by Volumetric Batching and
Continuous Mixing.
5) Spesifikasi Teknis :
1) Uji Beton.
2) Galian, Urukan Kembali dan Pemadatan.
3) Baja Tulangan.
5
3. PROSEDUR UMUM.
a. Gambar Detail Pelaksanaan.
1) Gambar detail pelaksanaan berikut harus diserahkan Kontraktor kepada
Pengawas untuk disetujui;
2) Diagram penulangan yang menunjukkan pembengkokan, kait, lewatan,
sambungan dan lainnya sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis;
3) Bentuk cetakan harus menunjukkan batang struktur, spasi, ukuran,
sambungan, sisipan dan pekerjaan lainnya yang terkait;
4) Metode pengecoran termasuk desain campuran, tenaga kerja, peralatan dan
alat-alat kerja.
b. Pemeriksaan, Pengambilan Contoh dan Pengujian.
1. Pemeriksaan Lapangan.
Sebelum memulai pekerjaan beton, pengujian pendahuluan tersebut di bawah
akan dilakukan oleh Pengawas dengan biaya Kontraktor. Pengujian tambahan harus
dilakukan bila diperlukan. Kontraktor harus mengacu kepada hasil campuran
percobaan dan estimasi yang akan digunakan dalam pekerjaan ini.
Kontraktor harus membantu Pengawas dalam pelaksanaan pengambilan contoh
dan pengujian. Pengujian pendahuluan akan meliputi penentuan hal hal berikut:
(1) Keawetan.
(2) Karakteristik batu pecah.
(3) Tipe dan kualitas semen.
(4) Pemilihan dan dosis bahan tambahan.
(5) Perbandingan kelas batu pecah dalam campuran.
(6) Kekuatan semen.
(7) Faktor air semen.
(8) Pengujian slump.
(9) Karakteristik berbagai campuran beton segar.
(10) Kuat tekan.
(11) Kerapatan air.
(12) Ketahanan terhadap cuaca.
(13) Ketahanan terhadap reaksi bahan kimia.
(14) Pengujian-pengujian ini harus dilakukan sampai diperoleh campuran
yang sesuai dengan ketentuan Spesifikasi Teknis ini.
2) Pengambilan Contoh dan Pengujian.
Semua pengambilan contoh dan pengujian harus dilakukan oleh Kontraktor
tanpa tambahan biaya. Pekerjaan ini akan berlangsung terus selama pelaksanaan
pekerjaan beton.
Pengambilan contoh dan pengujian harus ditentukan oleh Pengawas seperti
tersebut di bawah ini:
a) Semen.
Semen harus memiliki sertifikat dari pabrik pembuat, yang menunjukkan
berat per zak, bahan alkali yang sesuai.
b) Agregat.
Agregat harus sesuai dan diuji menurut standar ASTM C 33. Pengujian dimulai
30 hari sebelum pelaksanaan pekerjaan beton.
c) Beton.
Minimal 30 hari sebelum pekerjaan beton dimulai, Kontraktor harus membuat
percobaan campuran untuk pengujian, bahan-bahan yang akan digunakan,
dan metode yang akan digunakan untuk pekerjaan ini.
Percobaan campuran harus sesuai ketentuan.
d) Bahan Tambahan.
Semua bahan tambahan untuk beton harus diuji sesuai standar ASTM C
260 dan ASTM C 494 minimal 30 hari sebelum pekerjaan beton dimulai.
3) Pengujian Campuran/Campuran Percobaan.
a) Kontraktor harus melakukan pengujian campuran beton, setiap tipe dan
kuat tekan yang diaplikasikan, sebelum pelaksanaan pengecoran beton.
6
b) Desain campuran harus mengindikasikan rasio air-semen, kadar air, kadar
bahan tambahan, kadar semen, kadar agregat, gradasi agregat, slump, kadar
udara dan kuat tekan. Untuk nilai slump minimal dan maksimal tertentu untuk
setiap tipe dan kuat tekan beton berat normal, harus dibuat 4 pengujian
campuran, dengan menggunakan rasio air-semen yang bervariasi.
c) Pengujian campuran dilakukan ketika contoh benda uji yang dirawat
dan diuji dalam kondisi lab, kuat tekannya akan melebihi kuat tekan yang
diperlukan. Untuk setiap pengujian campuran, buat 6 contoh benda uji untuk
kuat tekan umur 7 hari, dan 28 hari. Kuat tekan umur 7 hari memiliki nilai
minimal 65% dari kuat tekan umur 28 hari. Pengujian beton harus
dilaksanakan sesuai ketentuan.
d) Laporan hasil pengujian harus diserahkan kepada Pengawas untuk
disetujui, dan penempatan beton di lokasi tidak diizinkan tanpa hasil pengujian
yang memuaskan.
4. BAHAN-BAHAN.
a. Beton.
Kecuali ditentukan lain dalam Gambar Kerja atau sesuai petunjuk Pengawas, beton
yang dikerjakan mutu Beton K300 untuk beton meja beton.
Komposisi beton, baik berat atau volume, harus ditentukan oleh Pengawas dan harus
memenuhi kondisi berikut:
a) Slump harus ditentukan sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis.
b) Campuran alternatif harus digunakan sebelum disetujui Pengawas.
c) Tanpa air yang berasal dari batu pecah.
b. Semen.
a) Semen harus dari tipe I dan memenuhi persyaratan SNI 15-2049-1994 atau
ASTM C150.
b) Semen harus berasal dari satu merek dagang, seperti Indocement, Cibinong
atau Gresik.
c. Air.
a) Air untuk campuran, perawatan atau aplikasi lainnya harus bersih dan bebas
dari unsur-unsur yang merusak seperti alkali, asam, garam dan bahan anorganik
lainnya.
b) Air dari kualitas yang dikenal dan untuk konsumsi manusia tidak perlu diuji.
Bagaimanapun, bila hal ini terjadi, semua air kecuali yang telah disebutkan di atas,
harus diuji dan memenuhi ketentuan AASHTO T26 dan/atau disetujui Pengawas.
d. Agregat Halus.
1) Agregat halus untuk beton harus terdiri dari pasir keras dan harus disetujui
Pengawas.
2) Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan anorganik, asam, alkali
dan bahan lain yang merusak. Agregat halus harus merata degradasi dan harus
memenuhi ketentuan gradasi.
e. Agregat Kasar.
a) Agregat kasar untuk konstruksi harus terdiri dari batu butiran, batu pecah, terak
dapur tinggi atau bahan lainnya yang disetujui yang memiliki karakteristik serupa
yang keras, tahan lama dan bebas dari bahan-bahan yang tidak diinginkan. Agregat
kasar harus bebas dari bahan-bahan yang merusak dan harus memenuhi
ketentuan.
b) Bahan-bahan lain yang merusak harus tidak lebih dari batas persentase
yang ditentukan dalam Spesifikasi Teknis ini dan/atau disetujui Pengawas.
c) Agregat kasar dari ukuran yang berbeda harus digabung dengan ukuran lain
dengan perbandingan berat atau volume untuk menghasilkan batuan yang
memenuhi persyaratan gradasi yang ditentukan.
7
6) Bahan Perawatan.
Bahan untuk perawatan harus memenuhi ketentuan dan mendapat persetujuan
pengawas.
7) Bahan Tambahan.
a) Bahan tambahan untuk menahan gelembung udara untuk semua beton ekspos
harus memenuhi ketentuan ASTM C 260.
b) Bahan tambahan untuk mengurangi air dan memperlambat pengerasan beton,
bila dibutuhkan, harus memenuhi ketentuan ASTM C 494 tipe B dan D.
c) Bahan tambahan untuk mempercepat pengerasan beton, bila diperlukan, harus
memenuhi ketentuan ASTM C 494 tipe C.
h. Ukuran-ukuran besi beton tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1) Cor ringbalk 20/15 menggunakan mutu beton K-300 beton bertulang (150 kg
besi + bekisting) tiap 1m³ :
a) Besi untuk tulangan pokok : Ø 10 mm
b) Besi untuk beugel : Ø 8 mm -10/15 cm
5. PELAKSANAAN PEKERJAAN.
a. Perancah dan Acuan.
a) Perancah harus dibuat di atas pondasi dengan kekuatan yang memadai untuk
menerima beban tanpa penurunan.
b) Perancah yang berdiri di atas tanah lembek harus didukung dan diperkuat
dengan perancah tambahan yang sesuai. Sebelum menempatkan perancah, gambar
rancangan pemasangan/penempatan perancah harus diserahkan kepada Pengawas
untuk disetujui.
c) Acuan harus memenuhi ketentuan berikut:
(1) Semua acuan harus dilengkapi dengan lubang pembersihan yang
memadai untuk pemeriksaan dan pembersihan setelah pemasangan baja
tulangan.
(2) Bahan acuan harus dari papan kayu tebal minimum 20 mm, kayu lapis tebal
minimal 12 mm, baja pelat lembaran tebal minimal 0.6 mm atau bahan lain yang
disetujui.
(3) Permukaan beton yang menghendaki penyelesaian halus dan diekspos
harus menggunakan acuan kayu lapis.
(4) Desain dan konstruksi acuan, penopang dan penguat menjadi tanggung
jawab Kontraktor.
(5) Acuan harus rapat dan kaku agar tidak terjadi distorsi yang diakibatkan
oleh tekanan alat penggetar dan beban beton atau lainnya.
(6) Acuan harus dibuat dengan teliti dan diperiksa kemampuan konstruksinya
sebelum pengecoran.
(7) Semua sudut sambungan/pertemuan harus kaku untuk mencegah
terbukanya acuan selama pekerjaan pengecoran berlangsung. Kontraktor
bertanggung jawab acuan dan penopangnya yang memadai.
(8) Ikatan metal, penunjang, baut dan batang harus disusun sedemikian
rupa sehingga ketika acuan dibuka, semua metal harus berada tidak kurang
dari 50 mm dari permukaan beton ekspos.
(9) Untuk permukaan beton ekspos, ikatan metal, bila diizinkan, harus
disingkirkan sampai kedalaman minimal 25 cm dari permukaan beton tanpa
merusak.
(10) Kerucut yang sesuai harus disediakan. Cekungan-cekungan harus diisi
dengan adukan dan permukaan harus tetap halus, rata dan seragam dalam
warna.
d) Bila dasar acuan sukar dicapai, dinding bagian bawah acuan harus dibiarkan
terbuka, atau perlengkapan lain harus disediakan sehingga bahan- bahan asing
dapat disingkirkan dari acuan dengan mudah sebelum penempatan beton.
8
b. Perlakuan Permukaan Acuan.
Semua dinding acuan harus diberi lapisan oli yang disetujui sebelum penempatan
baja tulangan, dan acuan dari kayu harus dibasahi dengan air sebelum penempatan beton.
Bahan pelapis yang akan menyebabkan perubahan warna asli beton tidak boleh
digunakan.
c. Penempatan Pipa Drainase (Weep Hole), Konduit dan Talang Hujan.
1) Pipa-pipa drainase, konduit kabel listrik dan atau telekomunikasi serta pipa
drainase atau talang, harus dipasang sebelum pengecoran, dengan tanpa
mengurangi kekuatan beton, pipa-pipa tersebut harus dilindungi sehingga tidak
akan terisi adukan beton sewaktu pengecoran.
2) Pipa-pipa drainase harus diadakan pada semua dinding beton penahan tanah
atau sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.
3) Kecuali dinyatakan lain, pipa-pipa drainase harus di tempatkan pada jarak
merata, berselang 1.500 mm.
4) Pipa drainase, konduit kabel listrik dan talang harus dari bahan pipa PVC yang
mempunyai kuat tekan 10 kg/m2 yang memenuhi JIS K6741. diameter pipa PVC
sesuai ketentuan Gambar Kerja.
d. Papan Polystyrene dan Premolded Joint Filler.
Lembaran polystyrene mengembang dan premolded joint filler harus digunakan
untuk membentuk celah kosong antara bidang pengecoran, yang berisi bantalan
elastometric bearing.
e. Toleransi.
Kontraktor harus menjaga dan menyetel acuan untuk memastikan, setelah
pembongkaran acuan dan sebelum pekerjaan akhir, bahwa tidak ada bagian beton yang
melebihi toleransi yang diizinkan dalam Gambar Kerja. Variasi ketinggian lantai harus
diukur sebelum pembongkaran pelindung dan penumpu.
Toleransi harus memenuhi ketentuan dan/atau disetujui Pengawas.
c. Selimut Beton.
Bila tidak ditentukan, ukuran minimal selimut beton yang disesuaikan dengan
penggunaannya (tidak termasuk plesteran), adalah sebagai berikut:
1) Pondasi atau pekerjaan lainnya yang berhubungan langsung dengan tanah 75
mm atau sesuai petunjuk Gambar Kerja.
2) Kolom dan balok-balok beton 30 mm, atau sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.
d. Perbandingan dan campuran beton.
a) Perbandingan bahan ditentukan dengan penimbangan atau dengan metode
yang disetujui Pengawas. Perbandingan volume tidak diizinkan tanpa persetujuan
Pengawas.
b) Semua beton harus dicampur dengan mesin. Waktu pencampuran harus
sesuai dengan petunjuk kapasitas alat pencampur.
c) Slump yang diizinkan minimal 50 mm dan maksimal 150 mm. Pencampuran
beton tidak boleh dimulai tanpa memastikan persediaan bahan yang memadai,
dalam batas yang aman, agar pengecoran beton dapat dilaksanakan.
d) Bila pengecoran tidak dapat dihentikan, Kontraktor harus menyediakan
peralatan tambahan yang memadai yang disetujui Pengawas.
e) Beton Ready-mixed harus dicampur dan didatangkan sesuai ketentuan.
e. Penempatan Beton.
Beton tidak boleh di tempatkan sampai semua acuan, penulangan, sisipan, block
out dan lainnya telah disetujui Pengawas.
Acuan harus dibersihkan, bebas dari guncangan, celah, mata kayu, kotoran dan
bengkokan sebelum pengecoran.
Metode dan urutan pengecoran harus sesuai dengan Spesifikasi Teknis. Bagian luar
permukaan beton harus dikerjakan dengan baik selama pengecoran.
9
Penggetaran terus-menerus pada jarak 380-500 mm harus tetap terjaga untuk mencegah
kropos dan untuk mendapatkan permukaan yang halus.
Selama penggetaran beton, tangkai penggetar harus dipegang tegak lurus terhadap
permukaan horisontal beton segar.
i. Corong dan Saluran.
a) Beton harus di tempatkan sedemikian rupa untuk mencegah terpisahnya
bahan-bahan dan bergesernya baja tulangan. Bila dibutuhkan kemiringan yang
tajam, corong harus dilengkapi dengan papan-papan berukuran pendek yang
mengubah arah gerakan. Semua corong, saluran dan pipa harus dijaga agar bebas
dari beton yang mengeras dengan cara menyiram air setiap kali setelah penuangan.
Siraman air harus jauh dari beton yang baru saja selesai di tempatkan.
b) Beton tidak boleh dijatuhkan dari ketinggian lebih dari 1.500 mm kecuali melalui
corong tertutup atau pipa. Setelah ikatan awal beton, acuan tidak boleh digetarkan
dan tekanan tidak boleh dilakukan pada ujung pelindung tulangan. Beton harus
diangkat dari mesin pengaduk dan diangkut dalam waktu 1 jam ke lokasi akhir yang
disetujui Pengawas. Hal ini untuk memastikan bahwa beton sesuai dengan mutu yang
disyaratkan pada waktu penempatan dan Kontraktor harus menjaga pengangkutan
beton yang menerus/tidak terputus- putus.
c) Semua peralatan, mesin dan alat-alat yang digunakan untuk pekerjaan ini
harus bersih, dan bekerja dengan baik. Bila memungkinkan, sebuah unit
pengganti atau suku cadang harus disediakan di lokasi.
d) Bila digunakan, jalur pompa harus diletakkan sedemikian rupa sehingga aliran
beton tidak terganggung. Benda-benda tajam harus disingkirkan.
e) Kadar air dan ukuran partikel batuan harus diawasi dengan teliti ketika beton
dipompa untuk mencegah pemampatan. Kemiringan saluran untuk mengalirkan beton
segar harus dipilih dengan tepat sehingga beton dengan kadar air rendah dapat
mengalir dalam aliran seragam tanpa pemisahan semen dan batuan.
f) Bila beton di tempatkan langsung di atas tanah, alas atau dasar harus bersih
dan padat, dan bebas dari air atau aliran air. Permukaan lantai kerja yang akan
diberi beton harus benar-benar bersih dari lumpur, batu lepas, kotoran dan bahan
lapisan lain yang mengganggu. Untuk mencegah perembesan air ke beton, tempatkan
lapisan kedap air berupa bahan lembaran plastik polyethylene warna hitam tebal
minimal 0.5 mm pada permukaan lantai kerja, kecuali bila ditentukan dalam Gambar
Kerja harus menggunakan lapisan kedap air yang memenuhi ketentuan Spesifikasi
Teknis. Prosedur ini harus diketahui dan disetujui Pengawas.
j. Sambungan Konstruksi.
Sambungan konstruksi harus di tempatkan pada tempat-tempat sesuai Gambar Kerja
atau sesuai petunjuk Pengawas. Sambungan konstruksi harus tegak lurus terhadap garis
utama tekanan dan umumnya di tempatkan pada titik-titik minimum gaya geser pada
sambungan konstruksi horisontal. Batang pasak, alat penyalur beban dan alat pengikat
yang diperlukan harus di tempatkan pada tempat-tempat seperti ditunjukkan dalam
Gambar Kerja.
k. Sambungan Terbuka.
Sambungan terbuka harus dibuat seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja dengan
menyisipkan dan kemudian mencabut kepingan kayu, pelat metal atau bahan lain yang
disetujui. Penyisipan dan pencabutan cetakan harus dilakukan tanpa merusak pinggiran.
Penulangan tidak boleh melewati sambungan terbuka kecuali bila ditentukan lain.
l. Pengisi Sambungan.
a) Sambungan muai yang diisi harus dibuat serupa dengan sambungan terbuka.
Bila ditentukan pembentukan ulang sambungan muai, ketebalan pengisi yang
dipasang sesuai dengan ketentuan Gambar Kerja. Pengisi sambungan harus
dipotong dengan bentuk dan ukuran yang sama dengan permukaan yang akan
disambung.
b) Pengisi harus dipasang dengan kuat terhadap permukaan beton yang telah di
tempatkan dengan cara sedemikian rupa sehingga tidak bergeser bila di
sampingnya ditempatkan beton.
10
c) Bila diperlukan penggunaan lebih dari 1 lembar pengisi untuk mengisi
sambungan, lembaran harus di tempatkan secara rapat dan celah diantaranya diisi
dengan aspal kelas 18 kg, dan salah satu sisinya harus ditutup dengan aspal panas
agar tersimpan dengan baik.
d) Segera setelah pembongkaran acuan, sambungan muai harus diperiksa dengan
teliti.
e) Beton atau adukan yang menutup sambungan harus dipotong dengan rapih dan
dibuang. Bila, selama pelaksanaan, bukaan sebesar 3 mm atau lebih muncul pada
sambungan yang akan dilalui lalu lintas, bukaan tersebut harus ditutup dengan ter
panas atau aspal sesuai petunjuk Pengawas.
n. Sambungan Besi dan Water Stop.
Sambungan besi dan water stop harus di tempatkan pada semua sambungan
konstruksi yang berhubungan langsung dengan tanah atau air bawah tanah dan tempat-
tempat lain sesuai Gambar Kerja dan/atau sesuai petunjuk Pengawas. Water stop harus
di tempatkan secara menerus dan teliti, dan harus ditumpu dengan aman untuk
mencegah perubahan posisi. Sambungan harus dilakukan sesuai rekomendasi dari pabrik
pembuatnya.
o. Pembongkaran Acuan.
Acuan dan perancah tidak boleh dibongkar tanpa persetujuan Pengawas.
Persetujuan Pengawas tidak membebaskan Kontraktor dari keamanan pekerjaan tersebut.
Jadual pembongkaran harus ditentukan oleh Pengawas.
p. Perbaikan Beton.
1) Kontraktor harus meminta Pengawas untuk memeriksa permukaan beton
segera setelah pembongkaran acuan.
2) Kontraktor, atas biayanya harus mengganti beton yang tidak sesuai dengan
garis, detail atau elevasi yang telah ditentukan atau yang rusaknya berlebihan.
(Jangan menambal, mengisi, memulas, memperbaiki atau mengganti beton ekspos
kecuali atas petunjuk Pengawas).
3) Semua beton yang membentuk permukaan harus memiliki penyelesaian cor di
tempat menggunakan acuan khusus. Lubang pengikat harus ditutup. Permukaan
ekspos dan permukaan yang akan dicat harus bersih dari tambalan, memiliki sirip-sirip
dan tetesan adukan yang tersikat halus, dan memiliki permukaan yang bebas dari
lapisan penutup dan debu.
4) Keropos, lubang atau sambungan dingin harus diperbaiki segera setelah
pembongkaran acuan. Bahan tambalan harus kohesif, tidak berkerut dan melebihi
kekuatan beton.
5) Singkirkan cacat, karat, noda atau beton ekspos yang luntur warnanya atau
beton yang akan dicat dengan:
(1) Semprotan pasir ringan
(2) Pembersihan dengan larutan lembut sabun deterjen dan air yang
diaplikasikan dengan menggosok secara keras dengan sikat lembut, kemudian
disiram dengan air.
(3) Hilangkan noda karat dengan mengaplikasikan pasta asam oksalid,
biarkan sejenak, dan sikat dengan kikir yang disetujui.
(4) Pembersihan dengan larutan asal muriatik yang mengandung tidak
kurang dari 2 % dan tidak lebih dari 5 % asal dalam volume, yang diaplikasikan
pada permukaan yang sebelumnya telah dilembabkan dengan air bersih.
(5) Hilangkan asam. Lindungi bahan metal atau lainnya yang dapat rusak
karena asam.
(6) Tambalan kapur.
(7) Mengikir dan menggerinda.
q. Penyelesaian Beton.
a) Kecuali ditentukan lain, permukaan beton harus segera diselesaikan setelah
pembongkaran dan harus diselesaikan sesuai tingkat dan dimensi seperti ditunjukkan
dalam Gambar Kerja.
11
b) Floor hardener harus diaplikasikan pada permukaan beton yang masih segar
secara merata, dengan cara pelaksanaan dan dalam jumlah sesuai rekomendasi
dari pabrik pembuatnya, atau sebanyak 5 kg/m2, kecuali bila ditentukan lain oleh
Pengawas. Permukaan floor hardener harus dirawat dengan cairan khusus sesuai
rekomendasi dari pabrik pembuat floor hardener.
Pasal 3
PEKERJAAN PASANGAN BATA
1. Lingkup pekerjaan
a. Yang termasuk dalam pekerjaan ini ialah penyediaan tenaga, bahan-bahan,
peralatan dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan ini.
b. Pekerjaan pasangan bata yang dimaksud adalah semua pekerjaan pasangan bata
merah yang ada dalam gambar kerja atau sesuai petunjuk direksi lapangan dengan
campuran 1pc :4ps.
2. Persyaratan pekerjaan pasangan :
a. Semua batu bata yang terpasang harus memenuhi persyaratan bahan bangunan
yang berlaku dan telah disetujui direksi lapangan, baik dari segi ukuran, maupun mutu
bahan.
b. Pasangan dinding bata harus lurus, tegak, rat dalam lapisan-lapisan sejajar dan
water pass. Tidak satupun bata yang dipakai berukuran kurang dari 10 cm, kecuali
dikehendaki ukuran yang lebih banyak.
c. Sebelum dipasang, batu bata harus dicelup air hingga jenuh terutama jika
pengerjaannya dimusim kemarau, dengan maksud agar pengeringan pasangan tidak
terlalu cepat sehingga dapat terjadi ikatan yang sempurna antara bata dengan adukan.
Siar-siar harus dikerok sedalam 1 cm, sehingga terdapat alur yang rapi sebelum pekerjaan
plesteran dimulai.
d. Dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus diperhatikan sambungan dan hubungan
dengan material lain dengan mengikuti petunjuk gambar kerja.Terutama dalam pekerjaan
plesteran hal ini harus diperhatikan benar, agar dinding yang bersangkutan memenuhi
syarat untuk diberi finishing.
e. Dalam satu hari pengerjaan pasangan dinding tidak boleh melebihi ketinggian 1
meter. Pekerjaan baru boleh diteruskan setelah pasangan sebelumnya betul-betul
mengeras.
f. Pasangan dinding bata yang menempel pada beton harus diangker pada beton
tersebut, dan dalam proses pengeringannya, pasangan harus selalu dibasahi.
g. Semua keperluan pekerjaan listrik, pemipaan, dll yang berkaitan dengan pekerjaan
pasangan bata harus dipersiapkan sesuai dengan gambar dan semua dinding bata harus
difinish dengan plesteran, kecuali disebutkan lain dalam gambar.
Pasal 4
PEKERJAAN ADUKAN DAN PLESTERAN
1. LINGKUP PEKERJAAN.
Pekerjaan ini meliputi semua pekerjaan adukan dan plesteran (kasar dan halus),
seperti dinyatakan dalam Gambar Kerja atau disyaratkan dalam Spesifikasi Teknis ini.
2. STANDAR/RUJUKAN.
a. American Society for Testing and Materials (ASTM).
b. American Concrete Institute (ACI).
c. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (NI-2,1971).
d. Standar Nasional Indonesia (SNI).
e. American Association of State Highway and Transportation Officials (AASHTO).
12
3. PROSEDUR UMUM.
a. Contoh Bahan.
Contoh bahan yang akan digunakan harus diserahkan kepada Pengawas untuk
disetujui terlebih dahulu sebelum dikirim ke lokasi proyek.
b. Pengiriman dan Penyimpanan.
1) Pengiriman dan penyimpanan bahan semen dan bahan lainnya harus sesuai
ketentuan Spesifikasi Teknis.
2) Pasir harus disimpan di atas tanah yang bersih, bebas dari aliran air, dengan
kata lain daerah sekitar penyimpanan dilengkapi saluran pembuangan yang
memadai, dan bebas dari benda-benda asing. Tinggi penimbunan tidak lebih dari 1.150
mm agar tidak berhamburan.
4. BAHAN-BAHAN.
a. Adukan dan Plesteran dibuat di tempat.
1) Semen.
Semen tipe I harus memenuhi standar SNI 15-2049-1994 atau ASTM C 150-
1995 serta Spesifikasi Teknis, seperti Semen Indocement, Cibinong, Gresik .
2) Pasir.
Pasir harus bersih, keras, padat dan tajam, tidak mengandung lumpur atau
kotoran lain yang merusak. Perbandingan butir-butir harus seragam mulai dari yang
kasar sampai pada yang halus, sesuai dengan ketentuan ASTM C 33.
3) Bahan Tambahan.
Bahan tambahan untuk meningkatkan kekedpan terhadap air dan menambah
daya lekat harus berasal dari merek yang dikenal luas, seperti Super Cement, Febond
SBR, Barra Emulsion 57
b. Adukan dan Plesteran Siap Pakai.
1) Adukan dan Plesteran Khusus.
Adukan khusus untuk pemasangan Bata Ringan harus terdiri dari bahan
semen, pasir silika dengan besar butir maksimal 3 mm, bahan pengisi untuk
meningkatkan kepadatan, dan bahan tambahan yang larut air, yang dicampur
rata dalam keadaan kering sehingga adukan siap pakai dengan hanya
menambahkan air dalam jumlah tertentu, seperti MU-300 buatan PT Cipta Mortar
Utama, Lemkra, Dry-Mix.
2) Acian Khusus.
Acian khusus untuk permukaan pasangan Bata Ringan. harus terdiri dari
bahan semen, tepung batu kapur dan bahan tambahan lainnya yang telah dicampur
rata dalam keadaan kering sehingga adukan siap pakai dengan hanya menambahkan
air dalam jumlah tertentu.
3) Air.
Air harus bersih, bebas dari asam, minyak, alkali dan zat-zat organik yang
bersifat merusak.
Air dengan kualitas yang diketahui dan dapat diminum tidak perlu diuji. Pada dasarnya
semua air, kecuali yang telah disebutkan di atas, harus diuji sesuai ketentuan
AASHTO T26 atau disetujui Pengawas.
5. PELAKSANAAN PEKERJAAN
a. Perbandingan Campuran Adukan dan/atau Plesteran.
1) Campuran 1 semen dan 3 pasir digunakan untuk adukan kedap air, adukan
kedap air 150 mm di bawah permukaan tanah sampai 150 mm di atas lantai, tergambar
atau tidak tergambar dalam Gambar Kerja, plesteran permukaan beton yang terlihat
dan tempat-tempat lain seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
2) Campuran 1 semen dan 4 pasir untuk semua pekerjaan adukan dan plesteran
selain tersebut di atas.
13
3) Bahan tambahan untuk menambah daya lekat dan meningkatkan kekedapan
terhadap air harus digunakan dalam jumlah yang sesuai dengan petunjuk penggunaan
dari pabrik pembuat.
b. Pencampuran.
1) Umum.
a) Semua bahan kecuali air harus dicampur dalam kotak pencampur atau
alat pencampur yang disetujui sampai diperoleh campuran yang merata, untuk
kemudian ditambahkan sejumlah air dan pencampuran dilanjutkan kembali.
b) Adukan harus dibuat dalam jumlah tertentu dan waktu pencampuran
minimal 1 sampai 2 menit sebelum pengaplikasian.
c) Adukan yang tidak digunakan dalam jangka waktu 45 menit setelah
pencampuran tidak diizinkan digunakan.
2) Adukan Khusus.
Adukan khusus untuk pasangan batu bata ringan harus dicampur sesuai
petunjuk dan rekomendasi dari pabrik pembuatnya.
c. Persiapan dan Pembersihan Permukaan.
1) Semua permukaan yang akan menerima adukan dan/atau plesteran harus bersih,
bebas dari serpihan karbon lepas dan bahan lainnya yang mengganggu.
2) Pekerjaan plesteran hanya diperkenankan setelah selesainya pemasangan
instalasi listrik dan air dan seluruh bagian yang akan menerima plesteran telah
terlindung di bawah atap. Permukaan yang akan diplester harus telah berusia tidak
kurang dari dua minggu. Bidang permukaan tersebut harus disiram air terlebih dahulu
dengan air hingga jenuh dan siar telah dikerok sedalam 10 mm dan dibersihkan.
d. Pemasangan.
1) Plesteran Permukaan Bata ringan.
a) Pekerjaan plesteran dapat dimulai setelah pekerjaan persiapan dan
pembersihan selesai.
b) Untuk memperoleh permukaan yang rapi dan sempurna, bidang
plesteran dibagi-bagi dengan kepala plesteran yang dipasangi kelos-kelos
sementara dari bambu.
c) Kepala plesteran dibuat pada setiap jarak 100 cm, dipasang tegak
dengan menggunakan kepingan kayu lapis tebal 6 mm untuk patokan kerataan
bidang.
d) Setelah kepala plesteran diperiksa kesikuannya dan kerataannya,
permukaan dinding baru dapat ditutup dengan plesteran sampai rata dan tidak
ada kepingan-kepingan kayu yang tertinggal dalam plesteran.
e) Seluruh permukaan plesteran harus rata dan rapi, kecuali bila
pasangan akan dilapis dengan bahan lain.
f) Sisa-sisa pekerjaan yang telah selesai harus segera dibersihkan.
g) Tali air (naad) selebar 4 mm digunakan pada bagian-bagian pertemuan
dengan bukaan dinding atau bagian lain yang ditentukan dalam Gambar Kerja,
dibuat dengan menggunakan profil kayu khusus untuk itu yang telah diserut rata,
rapi dan siku. Tidak diperkenankan membuat tali air dengan menggunakan
baja tulangan.
2) Plesteran Permukaan Beton.
a) Permukaan beton yang akan diberi plesteran harus dikasarkan,
dibersihkan dari bagian-bagian yang lepas dan dibasahi air, kemudian diplester.
b) Permukaan beton harus bersih dari bahan-bahan cat, minyak, lemak,
lumut dan sebagainya sebelum pekerjaan plesteran dimulai.
c) Permukaan beton harus dibersihkan menggunakan kawat baja. Setelah
plesteran selesai dan mulai mengeras, permukaan plesteran dirawat dengan
penyiraman air.
d) Plesteran yang tidak sempurna, misalnya bergelombang, retak-retak,
tidak tegak lurus dan sebagainya harus diperbaiki.
14
3) Ketebalan Adukan dan Plesteran.
Tebal adukan dan/atau plesteran 10-15 mm, kecuali bila dinyatakan lain
dalam Gambar Kerja atau sesuai petunjuk Pengawas.
4) Pengacian.
a) Pengacian dilakukan setelah plesteran disiram air sampai jenuh sehingga
plesteran menjadi rata, halus, tidak ada bag yang bergelombang, tidak ada
bagian yang retak dan setelah plesteran berumur 8 (delapan) hari atau sudah
kering betul.
b) Selama 7 (tujuh) hari setelah pengacian selesai dilakukan, Kontraktor
harus selalu menyiram bagian permukaan yang diaci dengan air sampai jenuh,
sekurang-kurangnya dua kali setiap harinya.
5) Pemeriksaan dan Pengujian.
a) Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji.
Kontraktor setiap waktu harus memberi kemudahan kepada Pengawas untuk
dapat mengambil contoh pada bagian yang telah diselesaikan.
b) Bagi yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan
dikerjakan dengan cara yang sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan
dari Pemilik Proyek.
Pasal 5
PEKERJAAN LEMBARAN PELINDUNG DAN METAL LEMBARAN
1. LINGKUP PEKERJAAN.
Pekerjaan ini meliputi penyediaan alat, bahan serta pemasangan lembaran pelindung
dan metal lembaran untuk talang air hujan, lapisan anti bocor dan perlengkapan atap lainnya
pad seluruh bangunan, seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis ini.
2. STANDAR/RUJUKAN.
a. Standar Nasional Indonesia (SNI).
b. Japanese Industrial Standar (JIS).
c. Spesifikasi Teknis:
1) Baja Struktur.
2) Berbagai Jenis Metal.
3) Cat.
3. PROSEDUR UMUM.
a. Contoh Bahan dan Data Teknis.
Contoh dan data teknis/brosur bahan yang akan digunakan harus diserahkan
kepada Pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
b. Gambar Detail Pelaksanaan.
Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor harus membuat dan menyerahkan Gambar
Detail Pelaksanaan untuk diperiksa dan disetujui Pengawas.
Gambar Detail Pelaksanaan harus mencantumkan ukuran-ukuran, bentuk, cara
pemasangan dan detail lain yang diperlukan.
c. Pengiriman dan Penyimpanan.
Semua bahan yang didatangkan harus segera disimpan di tempat yang kering dan
terlindung dari kerusakan, baik sebelum dan selama pemasangan.
4. BAHAN-BAHAN.
a. Saringan Talang.
Saringan talang harus terbuat dari bahan kuningan dicor dengan bagian atas dapat dibuka
untuk keperluan pemeliharaan.
Ukuran dan bentuk talang datar sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.
15
b. Talang Air Hujan.
1) Talang tegak lurus dibuat dari pipa PVC dengan kelas tekanan kerja 8
kg/cm2 yang memenuhi ketentuan SNI 06-0084-1987, seperti Wavinsafe buatan
Wavin, Vinilon, Poly Unggul, Unilon, atau yang sekualitas. Pipa harus dari jenis
sambungan solvent cement. Perekat untuk PVC harus sesuai rekomendasi dari
pabrik pembuat pipa PVC.
2) Talang datar harus dibuat dari bahan baja lembaran berlapis seng campur
alumunium, seperti Zincalume, Galvalum atau yang sekualitas yang disetujui, dengan
tebal lembaran sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja. Dimensi dan bentuk talang
datar sesuai ketentuan Gambar Kerja.
3) Penumpu talang datar terdiri dari baja pelat setrip dan baja profil yang dibuat
sedemikian rupa dengan dimensi dan bentuk sesuai Gambar Kerja. Bahan baja pelat
setrip dan baja profil harus memenuhi ketentuan Spesifikasi Teknis.
4) Talang datar dari bahan beton yang dicor bersatu dengan struktur bangunan
harus memiliki dimensi dan bentuk sesuai ketentuan dalam Gambar Kerja. Bahan
beton untuk pekerjaan talang datar harus memenuhi ketentuan Spesifikasi Teknis.
c. Lembaran Pelindung (Flashing).
Lembaran pelindung untuk menutup sambungan atap vertikal ke horizontal atau
sebaliknya. Lembah pertemuan atap dan lainnya seperti ditunjukkan dalam Gambar
Kerja, harus terdiri dari bahan baja lembaran berlapis seng campur alumunium, seperti
Zincalume atau Galvalum.
d. Lapisan Pelindung.
Lapisan pelindung untuk penumpu talang yang dibuat dari bahan baja harus
terdiri dari cat dasar anti karat dan cat akhir memenuhi ketentuan Spesifikasi Teknis.
e. Lapisan Kedap Air.
Lapisan Kedap Air pada permukaan bagian dalam talang datar bahan beton
harus berbentuk lembaran seperti ditetapkan dalam Spesifikasi Teknis.
5. PELAKSANAAN PEKERJAAN.
a. Umum.
1) Pekerjaan fabrikasi dan pemasangan talang harus dilaksanakan sesuai
ketentuan dalam Gambar Kerja dan harus dikerjakan oleh tukang yang ahli dalam
bidangnya.
2) Pekerjaan fabrikasi dan pemasangan talang dari bahan baja harus sesuai
Gambar Detail Pelaksanaan yang telah disetujui dan memenuhi ketentuan.
3) Pekerjaan fabrikasi dan pemasangan talang tegak dari bahan PVC harus sesuai
petunjuk dari pabrik pembuat pipa PVC.
b. Pemasangan Talang.
1) Hubungan antara talang datar dan talang tegak harus dikerjakan dengan cara
yang sesuai dan disetujui sehingga rapi, kuat dan tidak bocor.
2) Talang datar harus dibuat sedemikian rupa sehingga terjadi kemiringan ke arah
lubang talang tegak dan air dapat mengalir dengan lancar ke talang tegak tanpa
menimbulkan genangan air.
3) Talang datar harus ditumpu pada setiap jarak tertentu seperti ditunjukkan dalam
Gambar Kerja.
4) Pembuatan talang datar dari bahan beton dengan bentuk dan dimensi seperti
ditunjukkan dalam Gambar Kerja harus dilaksanakan sesuai ketentuan Spesifikasi
Teknis.
5) Setiap lubang menuju talang tegak harus dilengkapi dengan saringan talang
yang ditanam dengan baik ke dalam lubang talang tegak dan setiap belokan talang
tegak harus dilengkapi elbow dari bahan yang sama dengan bahan talang tegak.
6) Pemasangan dan penempatan talang tegak harus sesuai ketentuan Gambar
Kerja dan harus diikatkan ke struktur bangunan dengan cara yang disetujui seperti
ditunjukkan dalam Gambar Detail Pelaksanaan.
16
c. Pemasangan Lembaran Pelindung.
Lembaran pelindung pada tempat-tempat seperti ditunjukkan dalam Gambar
Kerja harus dibuat, dibentuk dan dipasang sesuai dengan petunjuk dalam Gambar
Kerja dan disesuaikan dengan keadaan di lapangan.
Pasal 6
PEKERJAAN ATAP DAN PLAFON
1. LINGKUP PEKERJAAN.
Pekerjaan ini mencakup penyediaan bahan, tenaga kerja, peralatan bantu dan
pemasangan papan gypsum dan aksesoris pada tempat-tempat seperti ditunjukkan dalam
Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis ini.
2. STANDAR/RUJUKAN.
a. Australian Standar (AS).
b. American Standar for Testing and Materials (ASTM).
c. Spesifikasi Teknis.
1) Berbagai Jenis Metal.
2) Cat.
3. PROSEDUR UMUM.
a. Contoh Bahan dan Data Teknis Bahan.
Contah dan data teknis/brosur bahan yang akan digunakan harus diserahkan terlebih
dahulu kepada Pengawas untuk disetujui sebelum dikirimkan ke lokasi proyek.
b. Gambar Detail Pelaksanaan.
Kontraktor harus menyerahkan Gambar Detail Pelaksanaan sebelum pekerjaan dimulai,
untuk disetujui oleh Pengawas.
Gambar Detail Pelaksanaan harus mencakup penjelasan mengenai jenis/data bahan,
dimensi bahan, ukuran-ukuran, jumlah bahan, cara penyambungan, cara febrikasi, cara
pemasangan dan detail lain yang diperlukan.
4. BAHAN-BAHAN.
a. Pekerjaan rangka atap baja ringan sekualitas merk Taso dengan ukuran:
1) Tebal kuda-kuda : 0,75 mm;
2) Tebal reng : 0,45 mm;
3) Jarak kuda kuda genteng keramik : 100 cm; dan
4) Bentuk disesuaikan dengan gambar detail.
b. Sebelum dipasang atap terlebih dahulu dipasang alumunium foil doubel muka dengan
rapih, kencang menggunakan pengunci reng dan diskrup disesuaikan dengan gambar detail;
c. Pekerjaan atap menggunakan genteng keramik sekualitas merk Kanmuri warna hitam
standarisasi TNI-AD disesuaikan dengan gambar detail.
d. Pekerjaan pasangan Listplank GRC motif kayu (warna hitam) 0,5/30 sekualitas merk
Kalsiplank dan rangka disesuaikan dengan gambar detail.
e. Pemasangan Gypsum.
1) Papan Gypsum yang digunakan sekualitas merk Jayaboard.
Papan gypsum harus dari produk yang memiliki teknologi yang sesuai untuk daerah
tropis dan memliki ketebalan minimal 9 mm untuk plafon dan ukuran modul sesuai
petunjuk dalam Gambar Kerja.
Papan gypsum harus dari tipe standar yang memenuhi ketentuan AS 2588, BS 1230
atau ASTM C 36.
2) Semen Penyambung.
Semen penyambung papan gypsum harus sesuai dengan rekomendasi dari pabrik
pembuat papan gypsum.
17
3) Rangka.
Rangka untuk pemasangan dan penumpu papan gypsum harus dibuat dari bahan metal
galvalum 4x4 rangka pokok dan 4x2 rangka pembagi tebal 0,35 mm dalam bentuk dan
ukuran yang dibuat khusus untuk pemasangan papan gypsum.
4) Alat Pengencang.
Alat pengencang berupa sekrup dengan tipe sesuai jenis pemasangan harus sesuai
rekomendasi dari pabrik pembuat papan gypsum yang memenuhi ketentuan.
5) Perlengkapan Lainnya.
Perlengkapan lainnya untuk pemasangan papan gypsum, antara lain seperti tersebut
berikut, harus sesuai rekomendasi dari pabrik pembuat papan gypsum :
a) Perekat.
b) Pita kertas berperforasi.
c) Cat dasar khusus untuk permukaan papan gypsum.
d) Dan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan agar papan gypsum terpasang
dengan baik.
5. PELAKSANAAN PEKERJAAN.
a. Umum.
1) Sebelum papan gypsum dipasang, Kontraktor harus memeriksa kesesuaian
tinggi/kerataan permukaan, pembagian bidang, ukuran dan konstruksi pemasangan
terhadap ketentuan Gambar Kerja, serta lurus dan waterpas pada tempat sama.
2) Pemasangan papan gypsum dan kelengkapannya harus sesuai dengan
petunjuk pemasangan dari pabrik pembuatnya.
3) Jenis/bentuk tepi papan gypsum harus dipilih berdasarkan jenis pemasangan
seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
b. Pemasangan.
1) Rangka papan gypsum untuk pemasangan di langit-langit, partisi atau tempat-
tempat lainnya, yang terdiri dari bahan metal (metal furing) yang sesuai dari standar
pabrik pembuatnya yang dibuat khusus untuk pemasangan papan gypsum seperti
disebutkan.
2) Papan gypsum dipasang kerangkanya dengan sekrup atau dengan alat
pengencangan yang direkomendasikan, dengan diameter dan panjang yang sesuai.
3) Sambungan antara papan gypsum harus menggunakan pita penyambung
dan perekat serta dikerjakan sesuai petunjuk pelaksanaan dari pabrik pembuat
papan gypsum.
c. Pengecatan.
1) Permukaan papan gypsum harus kering, bebas dari debu, oli atau gemuk dan
permukaan yang cacat telah diperbaiki sebelum pengecatan dimulai.
2) Kemudian permukaan papan gypsum tersebut harus dilapisi dengan cat
dasar khusus untuk papan gypsum untuk menutupi permukaan yang berpori.
3) Setelah cat dasar papan gypsum kering kemudian dilanjutkan dengan
pengaplikasian cat dasar dan atau cat akhir sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis
dalam warna akhir sesuai ketentuan Skema yang akan diterbitkan kemudian.
Pasal 7
PEKERJAAN KUSEN DAN PINTU
1. UMUM
a. Lingkup Pekerjaan:
1) Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu lainnya
untuk melaksanakan pekerjaan sehingga dapat dicapai hasil pekerjaan yang baik dan
sempurna; dan
2) Pekerjaan ini meliputi seluruh kusen pintu, kusen Jendela, kusen bouvenlight
seperti yang dinyatakan/ditunjukkan dalam gambar kerja serta shop drawing dari
Kontraktor.
18
b. Pekerjaan yang berhubungan:
1) Pekerjaan sealant, monhair;
2) Pekerjaan pintu dan jendela rangka alumunium; dan
3) Pekerjaan kaca dan cermin.
c. Standar.
ASTM:
1) C 509 - Cellular Elastomeric Preformed Gasked and Selain Material;
2) C 1500 - Clasification sistem for Rubber Products in Automatic Applications; dan
3) C 2287 - Nonrigid Vinyl Chloride Polymer and Copolymer Molding and
Extinasion Compounds.
d. Pekerjaan kusen, pintu dan jendela:
1) Pekerjaan kusen pintu dan jendela menggunakan kusen alumunium 3” warna
hitam powder coating sekualitas merk Alexindo standarisasi TNI-AD disesuaikan
dengan gambar detail dan petunjuk direksi di lapangan;
2) Pekerjaan pintu menggunakan daun pintu kaca 12 mm rangka alumunium,
sedangkan untuk kamar mandi menggunakan pintu ACP lengkap disesuaikan dengan
gambar detail; dan
3) Untuk pekerjaan kaca jendela menggunakan kaca 5 mm rangka alumunium 3”
disesuaikan dengan gambar detail dan petunjuk direksi di lapangan.
e. Pelaksanaan:
1) Sebelum memulai pelaksaan Kontraktor diwajibkan meneliti gambar-gambar dan
kondisi di lapangan (ukuran, peil lubang dan membuat contoh) jadi untuk semua detail
sambungan dan profil alumunium yang berhubungan dengan sistem konstruksi bahan
lain;
2) Prioritas proses fabrikasi, harus sudah siap sebelum pekerjaan dimulai, dengan
membuat lengkap dahulu shop drawing dengan petunjuk Perencana/Konsultan
Pengawas meliputi gambar denah, lokasi, merk, kualitas, bentuk, ukuran;
3) Semua frame/kusen baik untuk dinding, jendela dan pintu dikerjakan secara
fabrikasi dengan teliti sesuai dengan ukuran dan kondisi lapangan agar hasilnya dapat
dipertanggungjawabkan;
4) Pemotongan alumunium hendaknya dijauhkan dari material besi untuk
menghindarkan penempelan debu besi pada permukaannya. Didasarkan untuk
mengerjakannya pada tempat yang aman dengan hati-hati tanpa menyebabkan
kerusakan pada permukaannya;
5) Pengelasan dibenarkan menggunakan non-activated gas (argon) dari arah
bagian dalam agar sambungannya tidak tampak oleh mata;
6) Akhir bagian kusen harus disambung dengan kuat dan teliti dengan sekrup,
rivet, stap dan harus cocok;
7) Pengelasan harus rapi untuk memperoleh kualitas dan bentuk yang sesuai
dengan gambar;
8) Angkur-angkur untuk rangka/kusen alumunium terbuat dari steel plate setebal
2 - 3 mm dan di tempatkan pada interval 600 mm;
9) Penyekrupan harus dipasang tidak terlihat dari luar dengan sekrup anti
karat/stainless steel, sedemikian rupa sehingga hair line dari tiap sambungan harus
kedap air dan memenuhi syarat kekuatan terhadap air sebesar 1.000 kg/cm²;
10) Celah antara kaca dan sistem kusen alumunium harus ditutup oleh sealant;
dan
11) Disyaratkan bahwa kusen alumunium dilengkapi oleh kemungkinan-
kemungkinan sebagai berikut:
a) Dapat menjadi kusen untuk dinding kaca mati;
b) Dapat cocok dengan jendela geser, jendela putar, dan lain-lain;
c) sistem kusen dapat menampung pintu kaca frameless;
19
d) Untuk sistem partisi, harus mampu moveable dipasang tanpa harus
dimatikan secara penuh yang merusak baik lantai maupun langit-langit; dan
e) Mempunyai aksesoris yang mampu mendukung kemungkinan di
atas.
12) Untuk fitting hard ware dan reinforcing material yang mana kusen alumunium
akan kontak dengan besi, tembaga atau lainnya maka permukaan metal yang
bersangkutan harus diberi lapisan chormium untuk menghindari kontak korosi;
13) Toleransi pemasangan kusen alumunium disatu sisi dinding adalah 10-25 mm
yang kemudian diisi dengan beton ringan/grout;
14) Khusus untuk pekerjaan jendela geser alumunium agar diperhatikan
sebelum rangka kusen terpasang;
15) Permukaan bidang dinding horizontal (pelubangan dinding) yang melekat pada
ambang bawah dan atas harus waterpass;
16) Untuk memperoleh kekedapan terhadap kebocoran udara terutama pada
ruang yang dikondisikan hendaknya digunakan synthetic rubber atau bahan dari
synthetic resin;
17) Penggunaan ini pada swing door dan double door;
18) Sekeliling tepi kusen yang terlihat berbatasan dengan dinding agar diberi
sealant supaya kedap air dan kedap suara; dan
19) Tepi bawah ambang kusen exterior agar dilengkapi flashing untuk penahan air
hujan.
Pasal 8
PEKERJAAN KACA DAN AKSESORIS
1. LINGKUP PEKERJAAN.
Lingkup pekerjaan ini meliputi pengangkutan, penyediaan tenaga kerja, alat-alat dan
bahan-bahan serta pemasangan kaca beserta aksesorinya, pada tempat-tempat seperti
ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
2. STANDAR/RUJUKAN.
a. Standar Nasional Indonesia (SNI).
b. Spesifikasi Teknis.
1) Pintu dan Jendela Alumunium.
2) Perlengkapan Daerah Basah.
3. PROSEDUR UMUM
a. Contoh Bahan dan Data Teknis.
Contoh bahan berikut data teknis bahan yang akan digunakan harus diserahkan
kepada Pengawas dalam ukuran dan detail yang dianggap memadai, untuk dapat diuji
kebenarannya terhadap standar atau ketentuan yang disyaratkan.
b. Pengiriman dan Penyimpanan.
Semua bahan kaca yang didatangkan harus dilengkapi dengan merek pabrik dan data
teknisnya. Bahan kaca tersebut harus disimpan di tempat yang aman dan terlindung
sehingga terhindar dari keretakan, pecah, cacat atau kerusakan lainnya yang tidak
diinginkan.
4. BAHAN-BAHAN.
Kaca polos tebal 5 mm dan 12 mm harus merupakan lembaran kaca bening jenis clear
glass yang datar dan ketebalannya merata, tanpa cacat dan dari kualitas yang baik yang
memenuhi ketentuan SNI 15-0047-1987 dan SNI 15-0130-1987, seperti tipe Indoflot
buatan Asahimas, Mulia, Ukuran dan ketebalan kaca sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.
20
5. PELAKSANAAN PEKERJAAN.
a. Umum.
Ukuran-ukuran kaca dan cermin yang tertera dalam Gambar Kerja adalah ukuran
yang mendekati sesungguhnya. Ukuran kaca yang sebenarnya dan besarnya toleransi
harus diukur di tempat oleh kontraktor berdasarkan ukuran di tempat kaca atau cermin
tersebut akan dipasang, atau menurut petunjuk dari Pengawas, bila dikehendaki lain.
b. Pemasangan kaca.
1) Sela dan Toleransi Pemotongan.
Sela dan toleransi pemotongan sesuai ketentuan berikut:
a) Sela bagian muka antara kaca dan rangka nominal 3 mm.
b) Sela bagian tepi antara kaca dan rangka nominal 6 mm.
c) Kedalaman celah minimal 16 mm.
d) Toleransi pemotongan maksimal seluruh kaca adalah +3 mm atau -1,5 mm.
e) Sela untuk Gasket harus ditambahkan sesuai dengan jenis gasket yang
digunakan.
2) Persiapan Permukaan.
a) Sebelum kaca-kaca dipasang, daun pintu, daun jendela, bingkai partisi
dan bagian-bagian lain yang akan diberikan kaca harus diperiksa bahwa
mereka dapat bergerak dengan baik.
b) Daun pintu dan daun jendela harus diamankan atau dalam keadaan
terkunci atau tertutup sampai pekerjaan pemolesan dan pemasangan kaca
selesai. Permukaan semua celah harus bersih dan kering dan dikerjakan sesuai
petunjuk pabrik.
c) Sebelum pelaksanaan, permukaan kaca harus bebas dari debu, lembab
dan lapisan bahan kimia yang berasal dari pabrik.
c. Penggantian dan Pembersihan.
Pada waktu penyerahan pekerjaan, semua kaca harus sudah dalam keadaan
bersih, tidak ada lagi merek perusahaan, kotoran-kotoran dalam bentuk apapun.
Semua kaca yang retak, pecah atau kurang baik sebelum penyerahan pekerjaan harus
diganti oleh kontraktor tanpa tambahan biaya dari Pemilik Proyek.
Pasal 9
PEKERJAAN ALAT PENGGANTUNG DAN PENGUNCI
1. LINGKUP PEKERJAAN.
Pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan dan pemasangan semua alat penggantung
dan pengunci pada semua daun pintu dan jendela sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.
2. STANDAR/RUJUKAN.
a. Standar dari Pabrik Pembuat.
b. Spesifikasi Teknis.
1) Pintu dan Jendela Alumunium.
2) Pintu.
3. PROSEDUR UMUM.
a. Contoh.
Contoh bahan beserta data teknis/brosur bahan alat penggantung dan pengunci yang akan
dipakai harus diserahkan kepada Pengawas untuk disetujui, sebelum dibawa kelokasi
proyek.
21
b. Pengiriman dan Penyimpanan.
Alat penggantung dan pengunci harus dikirimkan ke lokasi proyek dalam kemasan
asli dari pabrik pembuatannya, tiap alat harus dibungkus rapi dan masing-masing dikemas
dalam kotak yang masih utuh lengkap dengan nama pabrik dan merknya.
Semua alat harus disimpan dalam tempat yang kering dan terlindung dari kerusakan.
c. Ketidaksesuaian.
Pengawas berhak menolak bahan maupun pekerjaan yang tidak memenuhi
persyaratan dan Kontraktor harus menggantinya dengan yang sesuai. Segala hal yang
diakibatkan karena hal di atas menjadi tanggung jawab Kontraktor.
4. BAHAN-BAHAN.
a. Umum.
Semua bahan/alat yang tertulis dibawah ini harus seluruhnya baru, kualitas baik,
buatan pabrik yang dikenal dan disetujui. Semua bahan harus anti karat untuk semua tempat
yang memiliki nilai kelembapan lebih dari 70%.
Kecuali ditentukan lain, semua alat penggantung dan pengunci yang didatangkan harus
sesuai dengan tipe-tipe tersebut di bawah.
b. Kunci tanam, engsel pintu, windows ceasment, rambuncis dan Selot pintu sekualitas
merk Paloma, Gradino.
c. Alat Penggantung dan Pengunci.
1) Rangka Bagian Dalam.
a) Umum.
Kunci untuk semua pintu luar dan dalam (kecuali pintu kaca dan pintu
KM/WC) harus sama atau sekualitas dengan merk Paloma.
Semua kunci harus terdiri dari:
(1) Kunci tipe silinder yang terbuat dari bahan kuningan, dengan 3 (tiga)
buah anak kunci.
(2) Handel/pegangan bentuk gagang atau kenop di atas plat yang
terbuat dari bahan alumunium.
(3) Badan kunci tipe tanam (mortice lock) yang terbuat dari bahan baja
lapis seng dengan jenis dan ukuran yang disesuaikan dengan jenis
bahan daun pintu (besi, kayu atau alumunium), yang dilengkapi dengan
lidah siang (latch bolt), lidah malam (dead bolt), lubang silinder, face
plate, lubang untuk pegangan pintu dan dilengkapi strike plate.
b) Kunci dan Pegangan Pintu KM/WC.
(1) Kunci pintu KM/WC harus sesuai atau sekualitas dengan merek
Paloma, dan terdiri dari:
(2) Selot pengunci di atas pelat dibagian sisi dalam pintu, dengan
indikator merah/putih dibagian sisi luar pintu.
(3) Handel bentuk gagang di atas pelat.
(4) Bahan kunci yang dilengkapi lidah pengunci (latch bolt), lubang untuk
selot pengunci dan hendel, face plate dan strike plate.
(a) Kecuali ditentukan lain, engsel untuk pintu alumunium tipe ayun
dengan bukaan satu arah, harus dari tipe kupu-kupu dengan Ball
Bearing berukuran 102 mm x 76 mm x 3 mm,
(b) Kecuali ditentukan adanya penggunaan engsel kupu- kupu,
engsel untuk semua jendela harus dari tipe friction stay dari ukuran
yang sesuai dengan ukuran dan berat jendela. Produk Paloma atau
sekualitas.
c) Hak Angin.
Hak angin untuk jendela yang menggunakan engsel tipe kupu-kupu
produk Paloma atau sekualitas.
22
d) Pengunci Jendela.
Pengunci jendela untuk jendela dengan engsel tipe friction stay harus dari
jenis spring knip produk Paloma atau sekualitas.
e) Grendel Tanam/Flush Bolt.
Semua pintu ganda harus dilengkapi dengan Grendel tanam produk
Paloma atau sekualitas.
f) Pull Handel.
Pegangan pintu yang memakai floor hing atau semi frame less
menggunakan handel buka produk Paloma atau sekualitas.
d. Warna/Lapisan.
Semua alat penggantung dan pengunci harus berwarna stenlist, kecuali bila
ditentukan lain.
e. Perlengkapan Lain.
Gasket.
Ketentuan pemasangan gasket pada pintu adalah sebagai berikut:
1) Airtight - PEMKO S2/S3.
2) Fireproof - PEMKO S88.
3) Smokeproof - PEMKO S88.
4) Soundproof - PEMKO 320 AN.
5) Weatherproof - PEMKO S2/S3.
5. PELAKSANAAN PEKERJAAN.
a. Umum.
1) Pemasangan semua alat penggantung dan pengunci harus sesuai dengan
persyaratan serta sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuatnya.
Semua peralatan tersebut harus terpasang dengan kokoh dan rapih pada tempatnya,
untuk menjamin kekuatan serta kesempurnaan fungsinya.
2) Setiap daun jendela dipasangkan ke kusen dengan menggunakan 2 (dua)
buah engsel dan setiap daun jendela yang menggunakan engsel tipe kupu-kupu
harus dilengkapi dengan 1 (satu) buah hak angin, sedangkan daun jendela dengan
friction stay harus dilengkapi dengan 1 (satu) buah alat pengunci yang memiliki
pagangan.
3) Semua pintu dipasangkan ke kusen dengan menggunakan 3 (tiga) buah engsel
atau sesuai dengan gambar kerja.
4) Semua pintu memakai kunci pintu lengkap dengan badan kunci, silinder,
handel/pelat.
5) Engsel bagian atas untuk pintu kaca menggunakan pin yang bersatu dengan
bingkai bawah pemegang pintu kaca.
b. Pemasangan Pintu.
1) Kunci pintu dipasang pada ketinggalan 1.000 mm dari lantai atau sesuai dengan
gambar kerja.
2) Pemasangan engsel atas berjarak maksimal 120 mm dari tepi atas daun pintu
dan engsel bawah berjarak maksimal 250 mm dari tepi bawah daun pintu, sedang
engsel tengah dipasang diantar kedua engsel tersebut atau sesuai dengan gambar
kerja.
3) Semua pintu memakai kunci tanam lengkap dengan pegangan (handel), pelat
penutup muka dan pelat kunci.
4) Pada pintu yang terdiri dari dua daun pintu, salah satunya harus dipasang slot
tanam sebagaimana mestinya, kecuali bila ditentukan lain dalam Gambar Kerja.
c. Pemasangan Jendela.
1) Daun jendela dengan engsel tipe kupu-kupu dipasangkan ke kusen dengan
menggunakan engsel dan dilengkapi hak angin, dengan cara pemasangan sesuai
petunjuk dari pabrik pembuatnya dalam Gambar Kerja.
23
2) Daun jendela tidak berengsel dipasangkan ke kusen dengan menggunakan
friction stay yang merangkap sebagai hak angin, dengan cara pemasangan sesuai
petunjuk dari pabrik pembuatnya.
3) Penempatan engsel harus sesuai dengan arah bukaan jendela yang diinginkan
seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja, dan setiap jendela harus dilengkapi
dengan sebuah pengunci.
Pasal 10
PEKERJAAN PELAPIS DINDING KERAMIK
1. LINGKUP PEKERJAAN.
Pekerjaan ini mencakup penyediaan bahan dan pemasangan pelapis dinding
keramik pada tempat-tempat sesuai petunjuk Gambar Kerja serta Spesifikasi Teknis ini.
2. STANDAR/RUJUKAN.
a. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI- 1982).
b. Standar Nasional Indonesia (SNI).
c. SNI 03-4062-1996 – Ubin Lantai Keramik berglasir.
d. Australian Standar (AS).
e. British Standar (BS).
f. American National Standar Institute (ANSI).
g. Spesifikasi Teknis.
1) Adukan dan Plasteran.
2) Penutup dan Pengisi Celah.
3. PROSEDUR UMUM.
a. Contoh Bahan dan Data Teknis Bahan.
Contoh bahan dan teknis/brosur bahan yang akan digunakan harus diserahkan
kepada Pengawas untuk disetujui terlebih dahulu sebelum dikirim ke lokasi proyek.
Contoh bahan ubin harus diserahkan sebanyak 3 (tiga) set masing-masing dengan 4
(empat) gradasi warna untuk setiap set. Biaya pengadaan contoh bahan menjadi
tanggung jawab Kontraktor.
b. Pengiriman dan Penyimpanan.
Pengiriman ubin ke lokasi proyek harus terbungkus dalam kemasan pabrik yang
belum dibuka dan dilindungi dengan label/merek dagang yang utuh dan jelas. Kontraktor
wajib menyediakan cadangan sebanyak 2,5% dari keseluruhan bahan terpasang untuk
diserahkan kepada Pemilik Proyek.
4. BAHAN-BAHAN.
a. Umum.
Ubin harus dari kualitas yang baik dan dari merek yang dikenal yang memenuhi ketentuan
SNI.
Ubin yang tidak rata permukaan dan warnanya, sisinya tidak lurus, sudut-sudutnya tidak
siku, retak atau cacat lainnya, tidak boleh dipasang.
b. Ukuran keramik yang dipergunakan:
1) Keramik 30/60 untuk dinding KM/WC warna coklat muda bermotif merk Roman;
dan
2) Granite tile 60/60 untuk meja dan dinding dapur warna cream polos sekualitas
merk Indogress.
c. Ubin Keramik.
Ubin keramik lokal atau sekualitas terdiri dari beberapa jenis seperti tersebut berikut:
1) Ubin keramik untuk tempat-tempat lain seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
24
2) Step nosing dari keramik bergaris degan ukuran sesuai standar dari pabrik
pembuat dan warna masing-masing ubin keramik harus sesuai Skema Warna yang
sudah ditentukan pada pembangunan tahap sebelumnya.
d. Adukan.
Adukan terdiri dari campuran semen dan pasir yang diberi bahan tambahan penguat
dalam jumlah penggunaan sesuai petunjuk dari pabri pembuat.
bahan-bahan adukan dan bahan-bahan tambahan harus memenuhi ketentuan Spesifikasi
Teknis .
Adukan perekat khusus untuk memasang ubin, jika ditunjukkan dalam Gambar Kerja
atau sesuai petunjuk Pengawas.
e. Adukan Pengisian Celah.
Adukan pengisi celah harus merupakan produk campuran semen siap pakai.
5. PELAKSANAAN PEKERJAAN.
a. Persiapan.
1) Pekerjaan pemasangan ubin baru boleh dilakukan setelah pekerjaan lainnya
benar-benar selesai.
2) Pemasangan ubin harus menunggu sampai semua pekerjaan pemipaan air
bersih/air kotor atau pekerjaan lainnya yang terletak di belakang atau di bawah
pasangan ubin ini telah diselesaikan terlebih dahulu.
b. Pemasangan.
1) Sebelum pemasangan ubin pada dinding dimulai, plesteran siap pakai (mortar)
harus dalam keadaan kering, padat dan bersih, seperti yang tertera dalam
Spesifikasi.
Tebal adukan untuk semua pasangan tidak kurang dari 25 mm, kecuali bila ditentukan
lain dalam Gambar Kerja.
2) Adukan untuk pasangan ubin pada dinding harus diberikan pada permukaan
plesteran dan permukaan belakang ubin, kemudian diletakkan pada tempat yang
sesuai dengan yang direncanakan atau sesuai petunjuk gambar Kerja.
3) Adukan untuk pasangan ubin pada lantai harus di tempatkan di atas lapisan
pasir dengan ketebalan sesuai gambar Kerja.
4) Ubin harus kokoh menempel pada alasnya dan tidak boleh berongga. Harus
dilakukan pemeriksaan untuk menjaga agar bidang ubin yamg terpasang tetap lurus
dan rata. Ubin yang salah letaknya, cacat atau pecah harus dibongkar dan diganti.
5) Ubin mulai dipasang dari salah satu sisi agar pola simetri yang dikehendaki
dapat terbentuk dengan baik.
6) Sambungan atau celah-celah antar ubin harus lurus, rata dan seragam, saling
tegak lurus. Lebar celah tidak boleh lebih dari 1,6 mm, kecuali bila ditentukan lain.
Adukan harus rapi, tidak keluar dari celah sambungan.
7) Pemotongan ubin harus dikerjakan dengan keahlian dan dilakukan hanya pada
satu sisi, bila tidak terhindarkan. Pada pemasangan khusus seperti pada sudut-sudut
pertemuan, pengakhiran dan bentuk-bentuk yang lainnya harus dikerjakan serapi dan
sempuna mungkin.
8) Siar antar ubin dicor dengan semen pengisi/grout yang berwarna sama
dengan warna keramiknya dan disetujui Pengawas.
Pengecoran dilakukan sedemikian rupa sehingga mengisi penuh garis-garis siar.
Setelah semen mengisi cukup mengeras, bekas-bekas pengecoran segera
dibersihkan dengan kain lunak yang baru dan bersih.
9) Setiap pemasangan ubin keramik seluas 8m² harus diberi celah mulai yang
terdiri dari penutup celah yang ditumpu dengan batang penyangga berupa
polystyrene atau polyethylene. Lebar celah mulai harus sesuai petunjuk dalam
Gambar Kerja atau sesuai pengarahan dari Pengawas.
Bahan berikut cara pemasangan penutup celah dan penyangganya harus sesuai
ketentuan Spesifikasi Teknis.
25
c. Pembersihan dan Perlindungan.
Setelah pemasangan selesai, permukaan ubin harus benar-benar bersih, tidak ada yang
cacat, bila dianggap perlu permukaan ubin harus diberi perlindungan misalnya dengan
sabun anti karat atau cara lain yang diperbolehkan, tanpa merusak permukaan ubin.
Pasal 11
PEKERJAAN PELAPIS LANTAI
1. LINGKUP PEKERJAAN.
Pekerjaan ini mencakup penyediaan bahan dan pemasangan lantai pada tempat-
tempat sesuai petunjuk gambar kerja serta Spesifikasi Teknis ini.
2. STANDAR/RUJUKAN.
a. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI-1982).
b. Standar peraturan bahan nasional yang berlaku.
3. PROSEDUR UMUM.
a. Contoh Bahan dan Data Teknis Bahan.
Bahan yang dipakai pada pekerjaan ini adalah keramik dengan ukuran sesuai pada
gambar perencanaan, lokal atau sekualitas.
b. Pengiriman dan Penyimpanan.
Pengiriman bahan ke lokasi proyek harus terbungkus dalam kemasan pabrik yang
belum dibuka dan dilindungi dengan label/merek dagang yang utuh dan jelas.
4. BAHAN-BAHAN.
a. Homogeneous Tile.
Ubin penutup lantai yang dipakai ukuran 60 x 60 cm jenis Homogeneous Tile (HT).
Semua bahan buatan dalam negeri (produk lokal atau sekualitas). Corak dan warna HT
akan ditetapkan kemudian oleh Pengawas/Pemberi Kerja.
Sebelum keramik dan Homogeneous tile dibawa ke tempat pekerjaan, Kontraktor harus
menyerahkan contoh dan katalog/persyaratan teknis operatif dari pabrik pembuat kepada
Pengawas untuk memperoleh persetujuan. Semua keramik dan homogenous tile yang akan
diipakai harus berada dalam kotak aslinya. Ubin-ubin keramik yang akan dipasang harus
mulus dan bebas cacat.
b. Ukuran Granite/keramik yang dipergunakan untuk lantai:
1) Granite tile 60/60 untuk lantai ruangan warna cream polos merk Indogress;
2) Plin granite tile 10/60 untuk lantai warna cream polos merk Indogress;
3) Granite tile 60/60 (kasar) untuk lantai teras dan tempat cuci warna cream polos
merk Indogress;dan
4) Keramik 30/30 (kasar) untuk lantai KM/WC + ruang jemur warna coklat tua
bermotif merk Roman.
5. PELAKSANAAN PEKERJAAN.
a. Persiapan.
Lantai kerja harus bersih dari debu dan kotoran, dan disiram terlebih dahulu.
b. Pemasangan keramik lantai.
Keramik lantai sebaiknya pada tahap akhir, untuk menghindari kerusakan akibat
pekerjaan yang belum selesai. Permukaan lantai yang akan dipasang keramik harus
bersih, cukup kering dan rata air. Tentukan tulangan dengan mempertimbangkan tata letak
ruangan/tangga/lantai yang ada. Pemasangan keramik lantai dimulai dari tulangan ini.
Sebelum dipasang, keramik lantai agar direndam dalam air terlebih dahulu. Setiap jalur
pemasangan sebaiknya ditarik benang dan rata air. Adukan yang dipakai (mortar) untuk
pemasangan keramik dengan ketebalan rata 2,5 cm. Lebar nat yang dianjurkan untuk lantai
adalah 3-5 mm serta ketebalan nat yang dianjurkan adalah 2-4 mm. Karena sifat alamiah dari
26
produk keramik, yang disebabkan proses pembakaran pada temperatur tinggi, dapat
terjadi perbedaan warna dan ukuran, untuk itu periksa dan pastikan keramik lantai yang
akan dipasang mempunyai seri dan golongan ukuran yang sama.
Pasal 12
PEKERJAAN AKSESORI DAERAH BASAH/SANITAIR
1. LINGKUP PEKERJAAN.
Lingkup pekerjaan mencakup pengangkutan, pengadaan dan pemasangan aksesori
daerah basah pada tempat-tempat seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja dan/atau
Spesifikasi Teknis ini.
2. STANDAR/RUJUKAN.
a. Standar dari Pabrik Pembuat.
b. Spesifikasi Teknis.
c. Perlengkapan Plambing.
3. PROSEDUR UMUM.
a. Contoh Bahan dan Data Teknis.
Contah dan/atau data teknis/brosur aksesoris daerah basah yang akan digunakan
harus diserahkan kepada Pengawas untuk disutujui terlebih dahulu sebelum dikirimkan ke
lokasi proyek.
Data teknis harus mencantumkan tipe, dimensi, warna dan data lain yang diperlukan
untuk pemasangan.
b. Gambar Detail Pelaksanaan.
Sebelum pemasangan kontraktor harus menyerahkan Gambar Detail Pelaksanaan
yang mencakup dimensi, detail tata letak, cara pemasangan dan pengencangan dan
detail lain yang diperlukan, kepada Pengawas untuk diperiksa dan disetujui.
c. Penyimpanan.
Semua bahan-bahan harus disimpan dalam tempat yang bersih dan kering serta
terlindungi dari kerusakan, sebelum dan sesudah pemasangan.
4. BAHAN-BAHAN.
Pekerjaan floordrain, kloset duduk lengkap, hand shower tiang + kran lengkap, kran air,
gantungan handuk steinles panjang dan Tempat sabun merk sekualitas Toto, American
Standar (di sesuaikan dengan gambar).
Barang-barang yang akan dipakai adalah sebagai berikut:
a. Kloset duduk
Bahan porselen, produk dalam negeri (lokal atau sekualitas) lengkap dengan
stop kran dan peralatan lain (warna standar).
b. Wastafel
Wastafel Dinding Bahan porselen, produk (lokal atau sekualitas), lengkap dengan
keran, siphon dan perlengkapan lainnya (warna standar).
c. Sink dapur (lokal atau sekualitas)
Semua wastafel dan Sanitary yang lainnya sudah lengkap dengan keran, siphon
dan perlengkapan lainnya yang diperlukan.
Keran, Floor Drain, Dll
1) Keran air (Produk lokal atau sekualitas)
2) Floor Drain (Produk lokal atau sekualitas)
3) Jet Washer (Produk lokal atau sekualitas)
4) Shower (Produk lokal atau sekualitas)
Barang-barang yang akan dipasang harus benar-benar mulus dan tidak cacat sedikitpun.
Kontraktor harus mengajukan contoh-contoh untuk disetujui oleh Pengawas.
Aksesori.
27
Kecuali ditentukan lain, aksesori untuk daerah basah, seperti kamar mandi harus
sesuai atau dengan produk berikut dan terdiri dari tempat sabun.
d. Pemasangan menara air menggunakan besi L dengan ukuran disesuaikan gambar
detail dan petunjuk direksi di lapangan.
e. Pemasangan torn air 2000 L sekualitas merk Penguin disesuaikan gambar detail dan
petunjuk direksi di lapangan.
f. Pemasangan mesin pompa pendorong sekualitas merk Sanyo disesuaikan gambar
detail dan petunjuk direksi di lapangan.
g. Pemasangan mesin jetpump sekualitas merk Sanyo disesuaikan gambar detail dan
petunjuk direksi di lapangan.
h. Pekerjaan bor sumur jetpump + instalasi dengan kedalaman disesuaikan kebutuhan
sehingga menghasilkan air yang jernih dan layak pakai.
i. Pemasangan sepitanck biofil kapasitas 2 m3 dan resapan disesuaikan gambar detail
dan petunjuk direksi di lapangan.
5. PELAKSANAAN PEKERJAAN.
a. Semua aksesoris harus dipasang menurut petunjuk pabrik dan gambar Kerja, kecuali
bila dinyatakan lain secara tertulis. Letak/posisi pemasangan dan jumlah setiap jenis
aksesori harus dengan petunjuk dalam gambar Kerja.
b. Kontraktor bertanggung jawab melengkapi semua aksesoris daerah basah yang
diperlukan sehingga pemasangan terlaksana dengan baik.
c. Cermin berupa produk jadi harus dipasang sesuai petunjuk dari pabrik pembuatnya,
sedang cermin selain produk jadi harus dipasang sesuai petunjuk dalam gambar kerja
dan sesuai ketentuan spesifikasi teknis.
d. Perlengkapan plumbing seperti kloset, wastafel dan lainnya dapat dilihat dalam
spesifikasi teknis.
Pasal 13
PEKERJAAN ELECTRICAL
1. Lingkup pekerjaan mekanikal electrical meliputi:
a. Instalasi penerangan dan instalasi stop kontak sekualitas merk Supreme;
b. Saklar dan stop kontak sekualitas merk Panasonic, Philips;
c. Lampu kotak inbow sekualitas merk Philips;
d. Pemasangan Box panel + MCB sekualitas merk Sneichder;
2. Peraturan umum:
a. Persyaratan Pelaksana Pekerjaan listrik:
1) Harus mempunyai SIK-PLN golongan C yang masih berlaku;
2) Harus dapat disetujui oleh Pemberi Tugas/Direksi/Pengawas;
3) Mengikuti aturan PUIL (Peraturan Umum Instalasi Listrik ) & PLN;
b. Semua instalasi penerangan dan stop kontak menggunakan sistem 3 base dimana
base ketiga merupakan jaringan pentanahan disatukan ke panel listrik; dan
c. sistem tegangan listrik 380 Volt – 3 fase – 50 Hz atau 220 Volt – 1 fase 50 Hz.
3. Ketentuan Pelaksanaan Pekerjaan.
a. Ketentuan Umum.
1) Persyaratan ini merupakan bagian dari persyaratan teknis. Apabila ada
klausul-klausul yang dituliskan kembali dalam persyaratan teknis ini, berarti
menuntut perhatian khusus pada klausul-klausul tersebut dan bukan berarti
menghilangkan klausul-klausul tersebut dan bukan berarti menghilangkan klausul-
klausul lainnya dari syarat-syarat umum.
2) Gambar-gambar dan Spesifikasi perencanaan ini merupakan satu kesatuan dan
tidak dapat dipisah-pisahkan. Apabila ada sesuatu bagian pekerjaan atau bahan atau
peralatan yang diperlukan agar instalasi ini dapat bekerja dengan baik dan hanya
dinyatakan dalam salah satu gambar perencanaan atau spesifikasi perencanaan saja,
Kontraktor harus tetap melaksanakannya tanpa ada biaya tambahan.
28
b. Contoh Bahan, Data Teknis dan Daftar Bahan.
1) Dalam waktu tidak lebih dari 30 (tiga puluh) hari setelah kontraktor menerima
pemberitahuan meneruskan pekerjaan kecuali apabila ditunjuk lain oleh Pemberi
Tugas/Pengawas, kontraktor diharuskan menyerahkan daftar dari material-material
yang akan digunakan. Daftar ini harus dibuat rangkap 4 (empat) yang di dalamnya
tercantum nama-nama, alamat manufacture, katalog dan menyertakan surat
keterangan keaslian material dari pabrik pembuat dan surat ketersediaan material dari
distributor/pabrik pembuat yang sudah memperhitungkan jumlah dan waktu
kedatangan material serta keterangan lain yang dianggap perlu oleh Pengawas.
2) Kontraktor harus menyerahkan contoh bahan-bahan yang akan dipasang
kepada Pengawas paling lama 6 (enam) hari setelah daftar material disetujui.
Kontraktor diwajibkan melampirkan surat pernyataan keaslian dan ketersediaan
material dari Pabrik/Distributor yang telah disetujui.
3) Semua biaya yang berkenaan dengan penyerahan dan pengembalian contoh-
contoh ini adalah menjadi tanggung jawab Kontraktor.
4) Kontraktor harus membuat daftar yang lengkap untuk bahan, barang, dan
peralatan yang akan digunakan, dan menyerahkannya kepada Pengawas Lapangan
untuk mendapat persetujuan dari pemberi tugas, dengan dilampiri brosur-brosur yang
lengkap dengan data teknis serta performance dari peralatan.
5) Contoh bahan berikut brosur/data teknis semua bahan jaringan komunikasi data
dan perlengkapannya harus diserahkan kepada Pengawas sebelum
diadakan/didatangkan ke lokasi. Contoh dan/atau brosur/data teknis
bahan/barang/peralatan untuk pekerjaan ini harus diajukan terlebih dahulu kepada
Pengawas untuk disetujui.
6) Kontraktor wajib menyerahkan daftar bahan yang akan digunakan, seperti
disebutkan dalam Spesifikasi Teknis ini, kepada Pengawas untuk diperiksa dan
disetujui oleh pemberi tugas.
7) Daftar bahan meliputi tipe, model, nama pabrik pembuat, jumlah, ukuran dan
data lain (seperti performance dari peralatan) yang diperlukan.
8) Semua barang dan peralatan yang diadakan oleh Kontraktor harus disertai
dengan Surat Keterangan Keaslian Barang (Letter of Origin) dari pabrik pembuatnya
(Manufacturer) atau agen utamanya (Authorized Dealer/Agent).
9) Bahan yang digunakan adalah sesuai dengan yang dimaksud di dalam
spesifikasi teknis ini dan harus dalam keadaan baru serta menggunakan teknologi
terakhir sehingga tidak terjadi diskontinue spare part.
10) Kontraktor diwajibkan untuk mengecek kembali atas segala ukuran/kapasitas
peralatan (equipment) yang akan dipasang. Apabila terdapat keragu-raguan,
kontraktor harus segera menghubungi pengawas untuk berkonsultasi dan koordinasi.
11) Pengambilan ukuran atau pemilihan kapasitas equipment, yang sebelumnya tidak
dikonsultasikan/dikoordinasikan dengan Pengawas, apabila terjadi kekeliruan maka
hal tersebut menjadi beban tanggung jawab kontraktor.
12) Untuk itu pemilihan equipment dan material harus mendapatkan persetujuan
dari Pengawas dan Pemberi Tugas.
c. Gambar Perencanaan.
1) Gambar-gambar perencanaan tidak dimaksudkan untuk menunjukkan semua
aksesoris dan fixture secara terperinci. Semua bagian di atas walaupun tidak
digambarkan atau disebutkan secara spesifik harus disediakan dan dipasang oleh
kontraktor, sehingga sistem dapat bekerja dengan baik.
2) Gambar-gambar instalasi menunjukkan secara umum tata letak dari peralatan
instalasi. Sedang pemasangan harus dikerjakan dengan memperhatikan kondisi dari
proyek. Gambar-gambar arsitektur dan struktur/sipil harus dipakai sebagai referensi
untuk pelaksanaan dan detail "finishing" dari proyek.
3) Sebelum pekerjaan dimulai, kontraktor harus mengajukan gambar-gambar kerja
dan detail (shop drawing) yang harus diajukan kepada Pengawas untuk
mendapatkan persetujuan. Setiap shop drawing yang diajukan kontraktor untuk
29
disetujui Pengawas dianggap bahwa kontraktor telah mempelajari situasi dan telah
berkonsultasi dengan pekerjaan instalasi lainnya.
4) Kontraktor harus membuat catatan-catatan yang cermat dari penyesuaian-
penyesuaian pelaksanaan pekerjaan di lapangan, catatan-catatan tersebut harus
dituangkan dalam satu set lengkap gambar (kalkir) dan tiga set lengkap gambar
blue print sebagai gambar-gambar sesuai pelaksanaan (as built drawings).
5) As built drawings harus diserahkan kepada Pengawas segera setelah selesai
pekerjaan.
d. Gambar Detail Pelaksanaan.
1) Kontraktor harus membuat dan menyerahkan Gambar Detail Pelaksanaan
kepada Pengawas untuk disetujui oleh pemberi tugas.
2) Gambar Detail Pelaksanaan harus disediakan sebelum pengadaan bahan
sehingga diperoleh cukup waktu untuk memeriksa dan tidak ada tambahan waktu bagi
Kontraktor bila mengabaikan ini.
3) Gambar Detail Pelaksanaan harus lengkap dan berisi detail-detail yang
diperlukan.
4) Bila ada perbedaan antara Gambar Kerja yang satu dengan Gambar Kerja yang
lain atau antara Gambar Kerja dengan Spesifikasi Teknis, Kontraktor harus
menyampaikannya kepada Pengawas untuk dicarikan jalan keluarnya.
5) Gambar Perencanaan ini hanya menunjukkan tata letak dan peralatan, dan
gambaran umum jalur kabel. Gambar Perencanaan ini harus diikuti dengan seksama
kemudian disesuaikan dengan kondisinya di lapangan untuk diubah menjadi Shop
Drawing. Dalam mempersiapkan Shop Drawing untuk acuan Detail Pelaksanaan di
lapangan, dimensi dan ruang gerak yang digambarkan harus mengacu kepada
Gambar Arsitektur, Struktur dan Gambar lainnya yang berkaitan.
6) Kontraktor harus dengan teliti memeriksa kebutuhan ruangan dengan Kontraktor
lain yang mungkin bekerja pada lokasi yang sama untuk memastikan bahwa semua
peralatan dapat dipasang pada tempat yang telah ditentukan.
e. Quality Assurance.
1) Pabrik pembuat : perusahaan yang bergerak dalam bidang
pembuatan/perakitan Main Equipment Elektronik sesuai dengan tipe dan ukuran
yang diperlukan, dimana produknya telah digunakan dengan hasil baik/memuaskan
untuk keperluan yang sama tidak kurang dari 5 (lima) tahun.
2) Quality Assurance Plan: Kontraktor harus mengajukan quality assurance plan
sesuai dengan persetujuan dari Pengawas/Kontraktor Utama/Quality Assurance
Manager.
3) Quality Assurance Plan harus termasuk di dalamnya quality assurance/kontrol
program mencakup secara detail di dalamnya adalah struktur organisasi
tenaga/personil dan pembagian tugas dari masing-masing personil di lapangan,
rencana penyelesaian pekerjaan, methodology, prosedur, ceklist, inspeksi rutin dan
program monitoring, dokumentasi kerja, penyimpanan barang-barang dll.
f. Pengiriman dan Penyimpanan.
1) Semua bahan dan peralatan yang didatangkan harus dalam keadaan baik, baru,
bebas dari segala cacat, dan dilengkapi dengan label, data teknis dan data lain yang
diperlukan.
2) Semua barang dan peralatan yang diadakan oleh kontraktor harus disertai
dengan surat jaminan keaslian barang (Letter of Origin) dan mempunyai jaminan
serta garansi (Warranty).
3) Semua bahan dan peralatan harus disimpan dalam kemasannya pada
tempat yang aman dan terlindung dari kerusakan.
g. Ketidaksesuaian.
1) Pengawas berhak menolak setiap bahan yang didatangkan atau dipasang yang
tidak memenuhi ketentuan Gambar Kerja dan/atau Spesifikasi Teknis ini.
30
2) Kontraktor harus segera memperbaiki dan/atau mengganti setiap pekerjaan yang
dinilai tidak sesuai, tanpa tambahan biaya dari Pemilik Proyek.
3) Bila bahan-bahan yang didatangkan ternyata menyimpang atau berbeda dari
yang ditentukan, kontraktor harus membuat pernyataan tertulis yang menjelaskan
usulan penggantian berikut alasan penggantian, dengan maksud bila diterima, akan
segera diadakan penyesuaian. Bila kontraktor mengabaikan hal di atas, Kontraktor
bertanggung jawab melaksanakan pekerjaan sesuai dengan Gambar Perencanaan.
4) Peralatan yang disebut dengan Merk dan Penggantinya bahan-bahan,
perlengkapan, peralatan, aksesoris dan lain-lain yang disebut dan dipersyarakan
dalam spesifikasi ini, maka Kontraktor wajib menyediakan sesuai dengan nama/merk
tersebut di atas. Penggantian dapat dilakukan dengan persetujuan Pengawas dan
Pemberi Tugas.
5) Perlindungan Pemilik atas penggunaan bahan material, sistem dan lain-lain
khususnya dalam pelaksanaan konstruksi oleh kontraktor, maka Pemilik/Pemberi
Tugas dijamin dan dibebaskan dari segala claim ataupun tuntutan yuridis lainnya.
h. Koordinasi.
1) Koordinasi yang baik perlu diadakan untuk mencegah agar pekerjaan yang satu
tidak menghalangi/menghambat pekerjaan lainnya.
2) Kontraktor pekerjaan instalasi ini dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus
bekerja sama dengan Kontraktor bidang lain atau disiplin lainnya, agar seluruh
pekerjaan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan jadwal waktu yang telah
ditentukan.
i. Testing & Coomissioning.
1) Kontraktor pekerjaan instalasi ini harus melakukan semua testing dan
pengukuran-pengukuran yang dianggap perlu untuk memeriksa/mengetahui apakah
seluruh instalasi yang dilaksanakan dapat berfungsi dengan baik dan telah memenuhi
persyaratan-persyaratan yang berlaku.
2) Semua tenaga, bahan dan perlengkapan yang diperlukan dalam kegiatan
testing tersebut sudah menjadi tanggung jawab Kontraktor. Hal ini termasuk pula
peralatan khusus yang diperlukan untuk pelaksanaan testing dari sistem ini seperti yang
dianjurkan oleh pabrik.
3) Semua prosedur, metode pelaksanaan dan form-form testing commisioning agar
diajukan ke Pengawas untuk disetujui.
4) Listrik dan Air untuk keperluan testing dan commissioning menjadi tanggung
jawab kontraktor, kecuali ditentukan lain dalam kontrak.
5) Pelaksanaan testing dan commissioning harus disaksikan oleh Pengawas,
Pemberi Tugas dan Pengelola Gedung (jika diperlukan).
j. Masa Garansi dan Serah Terima Pekerjaan.
1) Peralatan-peralatan utama dan instalasi harus digaransikan selama satu tahun
terhitung dari serah terima pertama dan dilengkapi dengan Berita Acara Serah
Terima Pertama Pekerjaan (BAST 1) yang telah disetujui oleh Pengelola
gedung/Building Manajemen.
2) Selama masa garansi, Kontraktor pekerjaan instalasi ini diwajibkan untuk
mengatasi, memperbaiki, mengganti segala kerusakan-kerusakan dari peralatan dan
instalasi yang dipasangnya tanpa ada biaya tambahan, kecuali bila disebabkan
kesalahan operasi dari operator pengelola gedung.
3) Selama masa pemeliharaan, Kontraktor pekerjaan instalasi ini harus
menyediakan minimal dua teknisi yang ahli berada dalam operasional gedung
selama jam kerja dan tenaga kerja lainnya yang dapat dihubungi setiap saat bila
diperlukan, dan diwajibkan langsung mengatasi, memperbaiki, mengganti segala
kerusakan-kerusakan dari instalasi yang dipasang. Dalam masa ini Kontraktor
bertanggung jawab penuh terhadap seluruh instalasi yang telah dilaksanakan.
31
4) Penyerahan pekerjaan pertama (BAST 1) baru dapat diterima setelah
dilengkapi dengan bukti-bukti hasil pemeriksaan, dengan pernyataan baik yang
ditandatangani bersama oleh Main Kontraktor, Pengawas, Pemberi Tugas dan
Pengelola Gedung/Building Manajemen serta dilampirkan sertifikat pengujian yang
sudah disahkan oleh Badan Instansi yang berwenang.
5) Satu minggu sebelum serah terima pertama, Kontraktor harus mengadakan
semacam pendidikan, training dan latihan secara periodik sampai mengerti betul
kepada 3 orang/lebih calon operator (Building Manajemen) untuk setiap pekerjaan
yang ditunjuk oleh Pemberi Tugas.
6) Kontraktor harus menyerahkan asbuilt drawing dan composit drawing kepada
pemilik dan sebagai dasar dalam pemberian training terutama untuk sistem
operasionalnya. Training tentang operasi dan perawatan tersebut harus lengkap
dengan 4 (empat) set untuk operating maintenance and repair manual books,
sehingga para petugas operator (Building Manajemen) dapat mengoperasikan dan
melaksanakan pemeliharaan.
7) Jika pada masa pemeliharaan/garansi tersebut, Kontraktor pekerjaan instalasi
tidak melaksanakan atau tidak memenuhi teguran-teguran atas perbaikan,
penggantian, kekurangan instalasi selama masa tersebut, maka Pemberi Tugas
bersama dengan Pengelola Gedung dan pengawas berhak menyerahkan pekerjaan
perbaikan/kekurangan tersebut kepada pihak lain atas biaya dari Kontraktor yang
melaksanakan pekerjaan instalasi tersebut.
8) Berita Acara Serah Terima Pertama dapat diajukan oleh kontraktor setelah
menyerahkan sbb:
a) Operational Maintenance Manual Bookss sebanyak 4 set (1 asli + 3 copy)
lengkap dengan schedule program maintenance.
b) Surat penawaran kontrak service (asli + 3 copy) untuk satu tahun
pertama (bila diperlukan)
c) Berita acara Testing & Commissioning, dan pengetesan lainnya (asli + 3
copy) yang disetujui dan ditandatangani oleh Operator Gedung.
d) Surat keaslian barang dan country origin dari pabrik pembuat (asli + 3
copy).
e) Sertifikat Pengujian Peralatan dari Pabrik (bila ada) dan surat/sertifikat
garansi (minimal satu tahun sejak dari tanggal BAST pertama diajukan) untuk
setiap peralatan utama ( asli + 3 copy)
f) Surat rekomendasi dari instansi penanggulangan bahaya kebakaran dari
Dinas Pemadam Kebakaran dibawah koordinasi paket pekerjaan Pemadam
Kebakaran (asli + 3 copy).
g) Asbuilt Drawing dan composit drawing 4 set (asli + 3 copy) dan 4 soft copy
dalam bentuk CD
h) Berita Acara Pelaksanaan Trainning/Pelatihan kepada Operator Pengelola
Gedung (asli + 3 copy)
i) Surat Jaminan “ After Sales Service” dari keagenan peralatan yang
dipasang (asli + 3 copy)
j) Foto-foto untuk setiap peralatan dan instalasi yang sudah Terpasang (asli +
copy berwarna)
b. Laporan.
1) Laporan Harian.
Kontraktor wajib membuat "Laporan Harian" & "Laporan Mingguan" yang
memberikan gambaran dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan di lapangan secara
jelas, Laporan tersebut dibuat dalam rangkap 3 (tiga) meliputi:
a) Kegiatan Fisik.
b) Catatan dan perintah Pengawas yang disampaikan secara tertulis.
c) Hal-hal yang menyangkut masalah:
(1) Material (masuk/ditolak).
(2) Jumlah tenaga kerja.
(3) Keadaan cuaca.
(4) Pekerjaan tambah/kurang.
(5) dll
32
Berdasarkan laporan harian, dibuat laporan mingguan dimana laporan
tersebut berisi ikhtisar dan catatan prestasi atas pekerjaan minggu lalu dan rencana
pekerjaan minggu depan. Laporan ini harus ditandatangani oleh Manager Proyek dan
diserahkan kepada Pengawas untuk diketahui/disetujui.
2) Laporan Pengetesan.
Kontraktor harus menyerahkan kepada Pengawas dalam rangkap 4
(empat) mengenai hal-hal sebagi berikut:
a) Hasil pengetesan seluruh komponen.
b) Hasil pengetesan peralatan-peralatan instalasi.
c) Hasil pengukuran-pengukuran dan lain-lain.
Semua pengetesan atau pengukuran tersebut harus disaksikan oleh Pengawas
dan Pemberi Tugas.
c. Penanggung Jawab Pelaksana.
1) Sesuai dengan jadwal pelaksanaan pekerjaan Kontraktor harus menempatkan
seorang penanggung jawab pelaksanaan yang ahli dan berpengalaman dan harus
selalu berada di lapangan/site, yang bertindak selaku wakil dari Kontraktor dan
mempunyai kemampuan untuk memberikan keputusan teknis, dan bertanggung
jawab penuh dalam berkoordinasi dan menerima segala instruksi-instruksi dari Main
Kontraktor dan Pengawas.
2) Penanggung jawab tersebut harus berada di tempat pekerjaan selama jam kerja
dan pada saat diperlukan dalam pelaksanaan, atau pada saat yang dikehendaki oleh
Main Kontraktor, Pengawas dan Pemberi Tugas. Petunjuk dan perintah Pengawas
harus disampaikan langsung kepada pihak Kontraktor melalui penanggung jawab
Kontraktor.
d. Perubahan, Penambahan dan Pengurangan Pekerjaan.
1) Pelaksanaan pekerjaan yang menyimpang dari gambar-gambar rencana harus
disesuaikan dengan kondisi di lapangan dan dikonsultasikan terlebih dahulu dengan
Main Kontraktor dan Pengawas.
2) Dalam merubah gambar rencana tersebut, Kontraktor harus menyerahkan
gambar perubahan untuk disetujui.
3) Pengaduan dan perubahan material, gambar rencana dan lain sebagainya, harus
diajukan oleh Kontraktor kepada Pengawas secara tertulis. Perubahan-perubahan
material dan gambar rencana yang mengakibatkan pekerjaan tambah kurang harus
disetujui secara tertulis oleh Main Kontraktor, Pengawas, dan Pemberi Tugas.
e. Pembobokan, Pengelasan dan Pengeboran.
1) Pembobokan tembok, lantai, dinding dan sebagainya yang dilakukan dalam
rangka pemasangan instalasi ini maupun pengembaliannya seperti keadaan semula
adalah termasuk pekerjaan Kontraktor instalasi ini.
2) Pembobokan hanya dapat dilaksanakan setelah mendapat izin tertulis dari
Pengawas.
3) Pengelasan, pengeboran dan sebagainya pada konstruksi bangunan hanya
dapat dilaksanakan setelah memperoleh izin/persetujuan tertulis dari Pengawas.
o. Pemeriksaan Rutin.
1) Selama masa pemeliharaan, harus diselenggarakan kegiatan pemeliharaan dan
pemeriksaan rutin.
2) Pekerjaan pemeliharaan dan pemeriksaan rutin tersebut, harus dilaksanakan
tidak kurang dari dua bulan sekali dan dibuatkan laporannya sebagai bahan untuk
pengajuan serah terima pekerjaan kedua (BAST 2).
p. Kantor Kontraktor, Los Kerja dan Gudang.
1) Kontraktor diperbolehkan untuk membuat keet, kantor, gudang dan los kerja
di area proyek, untuk keperluan pelaksanaan, tugas administrasi lapangan,
penyimpanan barang/bahan, serta peralatan kerja, dan sebagai area/tempat kerja
33
(peralatan pekerjaan kasar), dimana pelaksanaan tugas instalasi berlangsung.
2) Pembuatan keet kantor, gudang dan los kerja ini dapat dilaksanakan, bila
terlebih dahulu mendapatkan izin dari Main Kontraktor, Pengawas dan Pemberi
Tugas (bila diperlukan).
q. Penjagaan.
1) Kontraktor wajib mengadakan penjagaan dengan baik serta terus menerus
selama berlangsungnya pekerjaan atas bahan, peralatan, mesin dan alat- alat kerja
yang disimpan di tempat kerja (gudang lapangan).
2) Kehilangan yang diakibatkan oleh kelalaian penjagaan atas barang-barang
tersebut di atas, menjadi tanggung jawab Kontraktor.
r. Penerangan dan Sumber Daya.
1) Pada kantor, los kerja, gudang dan tempat-tempat pelaksanaan pekerjaan yang
dianggap perlu, harus diberi penerangan yang cukup.
2) Daya listrik baik untuk keperluan penerangan maupun untuk sumber
tenaga/daya kerja harus diusahakan oleh Kontraktor.
3) Bila menggunakan daya listrik dari bangunan/Gedung, harus dilengkapi
dengan KWH meter.
s. Kebersihan dan Ketertiban.
1) Selama pelaksanaan pekerjaan berlangsung, kantor, gudang, los kerja dan
tempat pekerjaan dilaksanakan dalam bangunan, harus selalu dalam keadaan bersih.
2) Penimbunan/penyimpanan barang, bahan dan peralatan baik di dalam
gudang maupun di luar (halaman), harus diatur sedemikian rupa agar memudahkan
jalannya pemeriksaan dan tidak mengganggu pekerjaan dari bagian lain.
3) Peraturan-peraturan yang lain tentang ketertiban akan dikeluarkan oleh Main
Kontraktor dan Pengawas pada waktu pelaksanaan.
t. Kecelakaan dan Peti P3K.
1) Jika terjadi kecelakaan yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan ini,
maka Kontraktor diwajibkan segera mengambil segala tindakan guna kepentingan si
korban atau para korban, serta melaporkan kejadian tersebut kepada instansi dan
departemen yang bersangkutan/berwenang (dalam hal ini polisi dan Departemen
Tenaga Kerja) dan mempertanggung jawabkan sesuai dengan peraturan yang
berlaku.
2) Peti PPPK dengan isinya yang selalu lengkap, guna keperluan pertolongan
pertama pada kecelakaan harus selalu ada di tempat pekerjaan.
u. Pegawai Penyelenggara dari Kontraktor.
1) Pimpinan harian pada pelaksanaan pekerjaan oleh Kontraktor harus diserahkan
kepada penyelenggara kepala dengan kualifikasi ahli, berpengalaman dan
mempunyai wewenang penuh untuk mengambil keputusan.
2) Project/Site Manager harus berada di tempat pekerjaan selama jam-jam kerja dan
setiap saat diperlukan.
3) Project/Site Manager mewakili Kontraktor di tempat pekerjaan, dapat bertindak
penuh dalam mengambil keputusan kepada Main Kontraktor, Pengawas dan Pemberi
Tugas.
4) Petunjuk dan perintah Pengawas di dalam pelaksanaan, disampaikan langsung
kepada Kontraktor melalui Project/Site Manager, sebagai penanggung jawab di
lapangan.
5) Kontraktor diwajibkan untuk menjalankan disiplin yang ketat terhadap semua
pekerja (buruh) dan pegawainya, kepada mereka yang melanggar terhadap peraturan
umum, mengganggu ataupun merusak ketertiban, berlaku tidak wajar, melakukan
perbuatan yang merugikan terhadap pelaksanaan pekerjaan, harus segera
dikeluarkan dari tempat pekerjaan atas perintah pengawas harian. Bila Kontraktor
lalai, maka akan dikenakan tindakan sesuai yang dimaksud dalam pasal denda.
34
v. Pengawasan.
1) Pengawasan setiap hari terhadap pelaksanaan pekerjaan adalah dilakukan oleh
Main Kontraktor, Pengawas, dan Pemberi Tugas (bila diperlukan).
2) Pada setiap saat Pengawas atau petugas-petugasnya harus dapat mengawasi,
memeriksa dan menguji setiap bagian pekerjaan, bahan dan peralatan.
3) Kontraktor harus mengadakan fasilitas-fasilitas yang diperlukan.
4) Bagian-bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan tetapi luput dari pengamatan
Pengawas adalah tetap menjadi tanggung jawab kontraktor.
5) Jika diperlukan pengawasan di luar jam-jam kerja (08.00 sampai dengan
16.00), dan hari libur maka disampaikan kepada Pengawas.
6) Di tempat pekerjaan, Pengawas menempatkan petugas-petugas pengawas yang
bertugas setiap saat untuk mengawasi pekerjaan kontraktor, agar pekerjaan dapat
dilaksanakan atau dilakukan sesuai dengan isi surat perjanjian kontrak serta dengan
cara-cara yang benar dan tepat serta cermat.
w. Bagan Kemajuan Pekerjaan.
1) Dua minggu setelah dinyatakan sebagai pemenang lelang, harus telah siap
dengan bagan kemajuan pekerjaan (Time Schedule/Network Planning) sesuai
dengan batas waktu maksimal yang telah ditetapkan.
2) Bagan tersebut disusun secara konvensional (barchart) dengan network planning.
3) Di dalam bagan kemajuan pekerjaan ini dicantumkan volume masing-masing
bagian pekerjaan serta mandays yang diperlukan.
4) Dalam progres schedule harus tercantum kurva gambaran mengenai nilai dan
harga pekerjaan-pekerjaan sesuai dengan volume dan harga penawaran serta
schedule yang dibuat oleh Kontraktor.
5) Bagian-bagian tersebut di atas harus mendapatkan persetujuan dan
pengesahannya dari Pengawas.
x. Regulasi/Permintaan Referensi dari Otoritas.
Peraturan atau permintaan dari otoritas Pekerjaan pemasangan dalam kontrak ini
haruslah berdasarkan peraturan terakhir dari referensi tersebut dibawah ini:
1) Peraturan Umum Instalasi Listrik tahun 2011 (PUIL)
2) National Fire Protection Association (NFPA)
3) Indonesian Electrical Installation Code (SPLN)
4) Peraturan dan Ketentuan Keselamatan Kerja oleh Depnaker 1.24.2. Standar
yang dijadikan acuan, juga dijadikan standar acuan untuk pegangan pelaksanaan
antara lain adalah :
a) AVE Belanda.
b) VDE/DIN Jerman.
c) British Standar Association.
d) IEC Standar.
e) JIS Japan Standar.
f) NFC Perancis.
Dalam spesifikasi ini dan dalam gambar tidak tercantum peraturan-peraturan dengan
tujuan untuk tidak menimbulkan konflik baik dengan Peraturan Nasional maupun Lokal
ataupun Undang-undang yang berlaku pada pekerjaan instalasi ini. Peraturan serta undang
-undang yang berlaku merupakan bagian dari spesifikasi ini. Kontraktor diminta untuk dapat
memenuhi permintaan ini.
y. Standar Kode/referensi
Standar dan kode selain tersebut di atas harus tercantum pada bagian ini. Kontraktor
harus sesuai dengan kode/peraturan standar dibawah ini tanpa adanya kompensasi biaya
tambahan, sebagai berikut:
1) Standar Nasional Indonesia (SNI), PUIL 2011.
2) American Society for Testing Materials (ASTM).
3) American National Standar Institute (ANSI).
4) Institute of Electrical and Electronic Engineers (IEEE).
35
z. Training.
Dalam menunjang operasi dan maintenance secara teliti dan benar/terampil kontraktor
harus memberikan training bagi operator dan teknisi/Engineer sampai mengerti betul untuk
sistem yang digunakan:
1) Pemahaman sistem secara keseluruhan.
2) Pemahaman fungsi masing-masing peralatan sistem, pemahaman penggunaan
termasuk fasilitas-fasilitas tersebut.
3) Pemahaman melakukan pembuatan program atau programmer, perubahan
program, pengaman serta fasilitas yang tercakup dalam sistem.
Pasal 13
DISTRIBUSI TEGANGAN RENDAH
1. LINGKUP PEKERJAAN.
Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, peralatan dan bahan serta
pemasangan berikut penyerahan sistem electrical dalam keadaan baik dan siap untuk
dipergunakan. Pekerjaan ini mencakup tetapi tidak terbatas pada hal-hal berikut:
a. Panel-panel TR yang akan dipasang pada tempat-tempat seperti ditunjukkan dalam
Gambar Perencanaan.
b. Khusus untuk Panel LVMDP yang ada di setiap substation dan MDP yang ada di
setiap gedung dipersyaratkan harus difabrikasi oleh Panel Maker yang sudah memiliki
sertifikasi Type Test serta dirancang menggunakan form agregasi jenis 3B.
c. Jaringan kabel feeder, busbar trunking dari sumber daya yang ada ke panel-panel
seperti ditunjukkan dalam Gambar Perencanaan.
2. STANDAR/RUJUKAN.
a. Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL – 20110).
b. Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir (PUIPP – 1983).
c. International Electrotechnical Commision (IEC).
d. Verband Deutscher Electrotechniker (VDE).
e. Japanese Industrial Standar (JIS).
f. Standar Nasional Indonesia (SNI).
g. Galian, Urukan Kembali dan Pemadatan.
3. PROSEDUR UMUM
a. Contoh Bahan, Data Teknis dan Daftar Bahan.
1) Sebelum diadakan ke lapangan, contoh dan/atau brosur/data teknsi
bahan/peralatan untuk pekerjaan sistem electrical tersebut harus diajukan dahulu
kepada pengawas untuk disetujui.
2) Kontraktor harus membuat daftar bahan/peralatan yang akan digunakan dan
menyerahkannya kepada Pengawas untuk disetujui.
b. Gambar Detail Pelaksanaan.
1) Sebelum pelaksanaan pekerjaan sistem electrical dimulai, kontraktor harus
membuat dahulu Gambar Detail Pelaksanaan serta diajukan kepada Pengawas
untuk mendapatkan persetujuan.
2) Dalam membuat Gambar Detail Pelaksanaan dan dalam pelaksanaan
pekerjaan, kontraktor harus bekerja sama dengan Kontraktor lain yang mungkin
bekerja pada lokasi yang sama agar seluruh pekerjaan dapat berjalan dengan lancar
sesuai dengan waktu yang ditetapkan.
3) Kontraktor harus membuat Gambar Kerja yang diperlukan untuk mendapatkan
ijin dari PLN.
4) Gambar Kerja electrical hanya menunjukkan secara garis besar letak dari
peralatan, instalasi, jalur kabel, titik penomoran pada sambungan-sambungan.
Pemasangan harus dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi setempat lapangan.
36
c. Pengiriman dan Penyimpanan.
1) Semua bahan dan peralatan yang didatangkan dan akan dipasang harus
dalam keadaan baru, tidak rusak, bukan barang bekas dan tidak bercacat dan harus
dilengkapi dengan data teknis yang jelas yang menyebutkan bahwa bahan-bahan
tersebut sesuai dengan yang telah disetujui.
2) Semua bahan dan peralatan harus disimpan dalam kemasannya pada tempat
yang aman dan terlindung dari kerusakan.
d. Ketidaksesuaian.
1) Bila bahan-bahan yang didatangkan ternyata menyimpang atau tidak sesuai
dengan yang telah disetujui, maka kontraktor wajib menggantinya dengan bahan
yang sesuai dan yang disetujui Pengawas.
2) Biaya yang ditimbulkan karena hal di atas menjadi tanggung jawab kontraktor
sepenuhnya dan tanpa tambahan waktu.
e. Persyaratan Lainnya.
1) Pekerjaan sistem electrical harus dilaksanakan oleh kontraktor yang terdaftar
di PLN dan memliki surat izin dari PLN yang masih berlaku, minimal pas PLN kelas
C, dan sesuai dengan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan.
2) Kontraktor diwajibkan untuk mendidik petugas-petugas dari Pemilik Proyek
sehingga memahami seluruh sistem electrical ini dan dapat menjalankannya
dengan baik.
3) Dalam hal ada perbedaan antara satu pernyataan dengan pernyataan lain atau
antara Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis ini, maka kontraktor harus
menginformasikan masalah tersebut kepada Pengawas untuk pemecahannya.
4. BAHAN-BAHAN.
a. Panel.
1) Panel harus dari tipe pemasangan sesuai petunjuk Gambar Kerja, terdiri dari unit
tertutup yang dilengkapi pintu depan dan bagian belakang panel dapat dibuka.
2) Kecuali ditentukan lain, badan dan pintu panel harus dibuat dari baja pelat,
bak untuk panel daya maupun panel penerangan dan lainnya dengan dimensi
sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.
3) Panel harus dibuat pada rangka yang kuat dengan pengaku dan penumpu yang
dibutuhkan.
4) Setiap panel harus menggunakan cat bakar dalam warna sesuai Skema Warna
yang akan diterbitkan terpisah.
5) Pintu panel dipasang ke badan panel menggunakan engsel sebanyak 2 buah,
dan pintu panel harus dilengkapi dengan kunci tipe lock handle, yang semuanya harus
berasal dari kualitas terbaik.
6) Sekeliling bidang bukaan/pintu panel harus dilengkapi dengan gasket untuk
mencegah masuknya debu dan air.
7) Tipe dan besaran komponen panel yang akan dipasang harus sesuai dengan
ketentuan dalam Gambar Kerja atau disesuaikan dengan tipe peralatan yang
digunakan.
8) Komponen-komponen pengaman yang dipakai harus dari tipe mini circuit
breaker, moulded case circuit breaker dan air circuit breaker, kecuali bila ditentukan
lain dalam Gambar Kerja.
9) Setiap pintu panel harus dilengkapi dengan lampu indicator pentunjuk fasa serta
lampu pijar yang di tempatkan di dalam panel yang semuanya harus berasal dari
kualitas terbaik. Kabel untuk lampu-lampu tersebut harus dari jenis yang tahan
terhadap hubung singkat.
10) Khusus untuk Panel LVMDP yang ada di setiap substation dan MDP yang ada
di setiap gedung dipersyaratkan harus difabrikasi oleh Panel Maker yang sudah
memiliki sertifikasi Type Test serta dirancang menggunakan form agregasi jenis 3B.
b. Kabel.
1) Kabel-kabel feeder untuk penanaman langsung pada 600V/1kV atau lebih
rendah, harus dari Jenis NYFGbY (SNI 04-2700 -1992), dengan ukuran yang sesuai
ketentuan Gambar Kerja.
37
2) Kecuali ditentukan lain dalam Gambar Kerja, kabel daya dan penerangan yang
dipasang di dalam conduit untuk tegangan kerja 600V/1kV atau lebih rendah, harus
dari tipe NYY (SNI 04-2701-1992) atau NYM (SNI 04-2699-1992).
3) Kecuali ditentukan lain, standar warna kabel yang digunakan adalah sebagai
berikut:
a) Netral : Biru.
b) Ground : Hijau-Kuning.
c) Fasa : Merah, Hitam, Kuning.
4) Alat penyambung kabel/mof harus dari merek atau 3M yang dikenal atau dari
jenis yang sesuai dengan tipe kabel yang akan disambung.
c. Konduit.
1) Konduit untuk kabel-kabel yang menuju stop kontak, sklar, titik lampu dan
peralatan harus terbuat dari pipa high impact UPVC tipe high impact yang memenuhi
standar BS 6099, dengan diameter sesuai petunjuk Gambar Kerja.
2) Kabel yang ditanam dalam tanah, dibawah atau melintang jalan dan
perkerasan harus di tempatkan dalam konduit yang terbuat dari pipa baja lapis
galvanis kelas medium standar SNI 07-0039-1987 atau pipa PVC kelas 8kg/cm2 yang
memenuhi standar SNI 06-0084-1987, dengan diameter sesuai Gambar Kerja.
3) Konduit fleksibel harus terbuat dari pipa lentur UPVC yang memenuhi standar
BS 4607, digunakan pada tempat-tempat tertentu sesuai petunjuk dalam Gambar
Kerja. Konduit fleksibel ini harus tahan cuaca, panas, tidak mudah pecah, serta kedap
air dan debu.
d. Rak Kabel.
Rak kabel harus terbuat dari baja lembaran berlubang lapis seng/galvanis,
dengan tipe lengkap tutup, bentuk dan dimensi sesuai Gambar Kerja.
e. Soket dan Saklar.
1) Stop kontak, baik tipe tunggal maupun ganda, dengan kontak
pembumian disisi-sisinya, harus dari tipe pemasangan terbenam (lengkap
dengan kotak) dan harus memenuhi standar CEE7. Kapasitas minimal stop kontak
adalah 250V 16A, tipe tunggal dan ganda.
Stop kontak yang dipasang pada ketinggian sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.
2) Saklar, baik tipe tunggal, rangkap maupun hotel, harus dari tipe pemasangan
terbenam (lengkap dengan kotak), dengan kapasitas minimal 10A dan harus
memenuhi standar BS3676. Saklar dipasang 120 cm di atas permukaan lantai, kecuali
ditentukan lain dalam Gambar Kerja.
3) Seluruh saklar dimaksud dalam pekerjaan ini adalah harus buatan dari
Panasonic, Legrand atau Schneider model Zen Celo dan pemasangannya
tersambung sebagai Digital Input yang sudah disiapkan dalam Direct Digital Control
(DDC) yang telah disediakan dalam lingkup pekerjaan IBMS.
4) Stop kontak dan tusuk kontak untuk peralatan harus sesuai dengan
rekomendasi dari pabrik pembuat peralatan. Stop kontak dipasang antara 30 – 90
cm di atas permukaan lantai,kecuali ditentukan lain dalam gambar.
5) Kecuali ditentukan lain, semua stop kontak, saklar dan saklar grid harus
berwarna putih/Ivori.
5. PELAKSANAAN PEKERJAAN
a. Umum.
1) Prinsip Suplai Listrik.
Suplai daya untuk penerangan dan lainnya akan ditentukan kemudian dan harus
terdiri dari 4 (empat) kawat, 3 fasa, 380/220/50 Hz.
2) Prinsip Distribusi.
Distribusi secara radial dari panel distribusi utama ke panel-panel.
3) Distribusi daya untuk penerangan, dipisahkan dari distribusi daya untuk peralatan
lainnya.
38
4) Prinsip Proteksi.
a) sistem listrik harus dilengkapi dengan proteksi terhadap hubung singkat di
setiap panel, proteksi terhadap beban lebih dan hubung singkat untuk panel
distribusi utama dan panel daya, kecuali bila ditentukan lain dalam Gambar
Kerja.
b) Semua bagian metal dari peralatan listrik harus dihubungkan ke kabel PE
seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
c) Termasuk dalam hal ini adalah, tetapi tidak terbatas pada kolom
bangunan, konduit, peralatan electrical, rangka motor dan lainnya.
d) sistem pembumian sesuai Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir
(PUIPP-1983).
b. Panel dan Komponen.
1) Sebelum fabrikasi dan pengadaan panel, Kontraktor harus menyerahkan
Gambar Detail Pelaksanaan kepada Pengawas untuk disetujui.
2) Panel-panel harus difabrikasi dan dipasang sesuai notasi dalam Gambar
Kerja.
3) Semua komponen panel harus dipasang sesuai notasi dalam Gambar Kerja
atau sesuai instruksi Pengawas.
4) Seluruh panel kontrol panel daya, pemutus daya (CB), saklar pengaman dan
peralatan electrical lainnya, harus dubuatkan papan nama untuk identifikasi dan
petunjuk penggunaan alat tersebut.
5) Papan nama (direktori) harus dibuat dari pelat logam dengan huruf timbul.
Keseluruhan papan nama harus berukuran 1,5” (3,81 cm) tinggi dengan lebar
seperlunya. Tinggi huruf 1,0” (2,54 cm). Ketebalan pelat minimal 3 mm.
Papan nama harus menempel dengan kokoh dengan cara dibaut atau dirivet.
6) Setiap daun pintu dari masing-masing panel disambungkan/dipasangkan kawat
pembumian ke badan panel.
7) Setiap panel harus diketanahkan (grounded) dengan harga tahanan
pembumian maksimum 2 ohm. sistem pembumian adalah PNP.
8) Lubang penarik pada panel harus berukuran sesuai dengan ukuran dan jumlah
konduit, penghantar dan konfigurasi penghantar.
9) Pada semua jalur masuk ke panel, lubang penarik atau lubang ke luar tanpa
leher berulir, konduit harus diikat pada tempatnya dengan mur pengunci di luar
kotak dan dengan mur pengikat dan bantalan pada bagian dalam kotak. Bantalan
harus dari jenis penyekat.
10) Setiap panel harus dilengkapi dengan diagram pengkabelan/bagan aliran arus
dan kartu direktori yang di tempatkan di bagian dalam pintu panel.
Kartu direktori harus diisi lengkap oleh Kontraktor dengan mencantumkan semua
beban terhubung.
c. Pemasangan Kabel.
1) Luar Bangunan.
a) Pemasangan kabel di dalam tanah harus dilakukan dengan cara
sedemikian rupa sehingga kabel itu cukup terlindung terhadap kerusakan
mekanis dan kimiawi yang mungkin timbul pada tempat kabel tersebut dipasang.
b) Kabel ditanam minimal 800 mm dari permukaan tanah dan harus
diletakkan di dalam pasir, di atas galian tanah yang stabil, kuat, rata dan bebas
dari batu-batuan dengan ketentuan tebal lapisan pasir tidak kurang dari 10cm.
Sebagai timbunan perlindungan, di atas urukan pasir harus dipasang beton atau
batu bata pelindung.
c) Kabel-kabel yang ditanam melintang jalan harus di tempatkan dalam
konduit pipa baja lapis galbani atau PVC, seperti ditentukan dalam Spesifikasi
Teknis ini, dengan diameter sesuai Gambar Kerja.
d) Pemasangan dan jenis konduit yang dipilih sesuai dalam Gambar Kerja.
e) Pekerjaan galian, urukan kembali dan pemadatan yang dibutuhkan
untuk penanaman kabel harus dilaksanakan sesuai ketentuan Spesifikasi
Teknis.
39
f) Letak penanaman kabel harus ditandai dengan patok tanda kabel yang
kuat dan jelas.
g) Setiap tarikan kabel feeder yang memerlukan sambungan harus
dilengkapi dengan alat penyambung kabel.
2) Dalam Bangunan.
a) Pembengkokan dan pengukuran harus seragam dan simetris tanpa
memipihkan atau merusak permukaan konduit. Pembengkokan harus dibuat
dengan alat dan perlengkapan standar yang dibuat khusus untuk maksud
tersebut. Jari-jari pembengkokan konduit minimal 15 (lima belas) kali diameter
konduit.
b) sistem konduit harus diadakan dan dipasang sesuai ketentuan Gambar
kerja. sistem ini harus menghubungkan semua kotak keluaran (termasuk
soket dan saklar), kotak penghubung, perlengkapan penerangan, panel dan
lainnya seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
c) Jalur konduit harus terpasang sesuai ketentuan dalam Gambar Kerja.
Konduit harus vertikal, horisontal atau sejajar dengan garis struktur.
Semua konduit horisontal harus diarahkan ke arah konduit vertikal untuk
dihubungkan.
d) Semua konduit yang dipasang di bawah lantai harus terdiri dari pipa
PVC seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja. Tipe pipa PVC harus memenuhi
ketentuan. Konduit yang dipasang di bawah lantai harus memiliki penutup
minimal 50 mm.
e) Penyambungan kabel harus diusahakan se-minimal mungkin.
Semua sambungan harus dibuat dengan junction box atau kotak terminal yang
disetujui.
f) Hubungan kabel pada terminal busbar panel harus menggunakan sepatu
kabel.
3) Pengujian dan Commissioning/testing.
a) Kontraktor harus melakukan semua pengujian dan pengukuran yang
dianggap perlu oleh Pengawas untuk memastikan bahwa seluruh instalasi dapat
berfungsi dengan baik dan memenuhi semua persayaratan.
b) Peralatan, fasilitas pengujian, pengawasan pengujian dan pemeliharaan
peralatan agar tetap dalam kondisi baik, harus diadakan oleh Kontraktor.
c) Catatan pengujian harus dibuat oleh Kontraktor dan diserahkan secara
resmi kepada Pengawas sebelum serah terima pekerjaan.
d) Pengujian dan uji pengoperasian akan ditentukan oleh Pengawas.
e) Seluruh peralatan harus lulus uji fungsional.
f) Kabel-kabel feeder sebelum dan sesudah dipasang harus lulus uji
tahanan isolasi. Tahanan isolasi dari semua bagian yang tidak diketanahkan
baik anatara hantaran maupun antara hantaran dan tanah, sekurang-kurangnya
1.000 ohm untuk setiap satu volt tegangan nominal.
g) Kabel-kabel feeder sebelum dan sesudah dipasang harus lulus uji
kontinuitas.
h) Dalam masa pemeliharaan pekerjaan sistem electrical ini, kontraktor
wajib mengatasi segala kerusakan dan kekurangan
i) Kontraktor bertanggung-jawab mengganti setiap peralatan/perlengkapan
yang rusak sampai pada saat pemeriksaan terakhir dan penyerahan kepada
Pengawas.
j) Kontraktor harus menyerahkan kepada Pengawas semua buku asli
petunjuk/manual pemeliharaan dan cara pengoperasiannya dalam bahasan
Inggris dan Indonesia, yang selanjutnya akan diteruskan kepada Pemilik Proyek.
40
Pasal 14
PEKERJAAN SISTEM PENERANGAN
1. LINGKUP PEKERJAAN.
Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, peralatan dan bahan serta pemasangan
berikut penyerahan seluruh sistem penerangan dalam keadaan baik dan siap untuk
dipergunakan pada tempat-tempat seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
1. STANDAR/RUJUKAN.
a. Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL – 2011).
b. International Electrotechnical Commision (IEC).
c. Standar Nasional Indonesia (SNI).
d. Cat.
e. Distribusi Tegangan Rendah.
3. PROSEDUR UMUM.
a. Contoh Bahan, Data Teknis dan Daftar Bahan.
1) Sebelum diadakan ke lapangan, contoh dan/atau brosur/data teknis
bahan/peralatan untuk pekerjaan ini harus diajukan dahulu kepada Pengawas untuk
disetujui.
2) Kontraktor harus membuat daftar bahan/peralatan yang akan digunakan dan
menyerahkannya kepada Pengawas untuk disetujui.
b. Gambar Detail Pelaksanaan.
1) Kontraktor harus membuat dan menyerahkan Gambar Detail Pelaksanaan
kepada Pengawas untuk disetujui.
Gambar Detail Pelaksanaan harus diserahkan sebelum pengadaan bahan sehingga
diperoleh cukup waktu untuk memeriksa dan tidak ada tambahan waktu bagi Kontraktor
bila mengabaikan hal ini.
Gambar Detail Pelaksanaan harus lengkap dan berisi tata letak dan detail-detail yang
diperlukan.
2) Bila ada perbedaan antara Gambar Kerja yang satu dengan Gambar Kerja
yang lain atau antara Gambar Kerja dengan Spesifikasi Teknis, Kontraktor harus
menyampaikannya kepada Pengawas untuk dicarikan jalan keluarnya.
3) Gambar Kerja Electrical hanya menunjukkan tata letak bahan dan peralatan, jalur
kabel dan sambungan-sambungan. Gambar Kerja ini harus diikuti dengan seksama
mungkin. Dalam mempersiapkan Gambar Detail Pelaksanaan, dimensi dan ruang
gerak yang digambarkan dalam Gambar Kerja Arsitektur, Struktur dan Gambar Kerja
lainnya yang berkaitan, harus diperiksa.
4) Kontraktor harus dengan teliti memeriksa kebutuhan ruangan dengan Kontraktor
lain yang mungkin bekerja pada lokasi yang sama untuk memastikan bahwa
semua bahan dapat dipasang pada tempat yang telah ditentukan.
c. Pengiriman dan Penyimpanan.
1) Semua bahan dan peralatan yang didatangkan dan harus dalam keadaan
baik, baru, bebas dari segala cacat, dan dilengkapi dengan label, data teknis dan
data lain yang diperlukan.
2) Semua bahan dan peralatan harus disimpan dalam kemasannya pada tempat
yang aman dan terlindung dari kerusakan.
d. Ketidaksesuaian.
1) Pengawas berhak menolak setiap bahan yang didatangkan atau dipasang yang
tidak memenuhi ketentuan Gambar Kerja dan/atau Spesifikasi Teknis.
Kontraktor harus segera memperbaiki dan/atau mengganti setiap pekerjaan
yang dinilai tidak sesuai, tanpa tambahan biaya dari Pemilik Proyek.
41
2) Bila bahan-bahan yang didatangkan ternyata menyimpang atau berbeda dari
yang ditentukan, Kontraktor harus membuat pernyataan tertulis yang menjelaskan
usulan penggantian berikut alasan penggantian, dengan maksud bila diterima, akan
segera diadakan penyesuaian. Bila Kontraktor mengabaikan hal di atas, Kontraktor
bertanggung jawab melaksanakan pekerjaan sesuai dengan Gambar Kerja.
4. BAHAN-BAHAN.
a. Umum.
Semua bahan penerangan harus berasal dari produk pabrikan yang dikenal luas serta
dalam keadaan baru, bebas dari segala cacat dan disetujui Pengawas.
b. Penerangan.
1) Lampu kotak Inbow sekualitas merk Philips.
Untuk memastikan kemampuan distribusi cahaya, semua produk lampu yang
akan dipasang harus disertai dengan perhitungan pencahayaan dengan sampling
area untuk menunjukkan kontur isoline dari penyebaran distribusi cahaya, kurva
fotometrik termasuk Light Output Ratio-LOR, DLOR, ULOR & TLOR juga harus
disertakan.
Untuk produk indoor, kesilauan diindikasikan dengan UGR - Unified Glare Rating
(mengacu kepada standar dan rumus CIE) harus disertakan untuk setiap Armature
indoor untuk menunjukkan pengukuran terhadap gangguan yang diakibatkan oleh
kesilaun dengan skala penilaian dari 10(unnoticeable) to 30 (unbearable).
Semua Armature lampu harus dibuat oleh satu pabrikan dengan kualitas yang
sesuai dengan Standar IEC.
a) Lampu TL-LED
Lampu TL-LED standar warna putih (Cool Daylight) memiliki indeks colour
rendering (C.R.I>80) yang dilengkapi dengan komponen bawaan pabrik
pembuat seperti built-in ballast, kapasitor yang menghasilkan factor daya
minimal 0,9 dan memiliki nilai Efikasi minimal 100 Lumen/Watt, semuanya
buatan Inlite atau Sekualitas.
b) Lampu Down Light LED
Lampu Down Light LED standar warna putih (white.84) merupakan lampu
built-up buatan Inlite atau sekualitas yang di dalamnya sudah dilengkapi dengan
balas dan kapasitor secara built-in sehingga menghasilkan faktor daya minimal.
2) Armature Lampu TL LED
a) Armature Lampu Recessed Mounted
(1) Armatur lampu harus terbuat dari baja pelat tebal 0,7 mm dengan
penyelesaian cat bakar, dengan kapasitas lampu sesuai ketentuan dalam
Gambar Kerja.
(2) Housing end plates, socket bridges, reflector, saluran kabel and
penutup ballast terbuat dari baja cold rolled (tebal minimum 0.7 mm yang
tebal minimum) kecuali jika ditetapkan cara lainnya.
(3) Pegangan lampu, putih berat/lebat dengan batas pengunci dan
disepuh perak untuk umur dan operasi lampu yang sesuai, pegangan
lampu outdoor, neoprene gasketed dan jenis tekan, stop kontak dengan
voltase sirkuit terbuka, safety type dan didesain untuk membuka sirkuit
pada penggantian lampu.
(4) Cover depan harus berbentuk cermin double parabolic (C6 atau M6)
dengan teknologi Omni Directional Luminance Control untuk mengurangi
kesilauan dan harus menyertakan data UGR (lihat bagian Kemampuan
Armature Pencahayaan), diffuser prismatic atau seperti yang ditunjukkan
pada gambar.
(5) Armature dibuat sedemikian rupa hingga ballast dapat diperbaiki
atau diganti tanpa melepas housing Armature tersebut.
42
b) Armature Lampu Jalan
Armatur lampu jalan harus merupakan lampu built-up dengan kapasitas
lampu sesuai ketentuan dalam Gambar Kerja.
c. Bahan Electrical.
bahan-bahan electrical seperti kabel daya, conduit, saklar, soket dan lainnya harus
memenuhi ketentuan.
d. Penumpu/Penopang.
Semua penumpu/penopang yang dibutuhkan peralatan dalam Spesifikasi Teknis ini
harus disediakan.
Penumpu/penopang dapat terdiri dari rangka baja, pelat, rak dan bentuk lain dengan
ukuran yang memadai, dan harus dipasang dengan baut, sekrup atau las. Semua
penumpu/penopang baja dan/atau metal harus memenuhi ketentuan Gambar Kerja.
5. PELAKSANAAN PEKERJAAN.
a. Pemasangan Penerangan.
1) Kontraktor harus melengkapi semua Armature, perlengkapan penerangan,
komponen, tenaga kerja dan bahan pemasangan yang diperlukan agar sistem
penerangan terpasang dengan lengkap seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
2) Semua armatur dan peralatan penerangan harus dipasang lengkap dengan
aksesori penggantung, rumah lampu, soket, pemegang, reflektor, penyebar cahaya,
balas, kapasitor dan komponen lain yang diperlukan serta seluruh pengkabelan
yang dibutuhkan.
Armatur dan lampu untuk daerah berbahaya harus dari jenis yang sesuai untuk tujuan
tersebut.
3) Perlengkapan penerangan yang tidak sesuai dengan ketentuan tidak diijinkan
dipasang.
4) Jika Kontraktor bermaksud menggunakan perlengkapan penerangan selain
dari yang telah ditentukan, perlengkapan pengganti berikut data fotometrik harus
diserahkan kepada Pengawas untuk disetujui dengan mengacu pada ketentuan
dalam Spesifikasi Teknis ini.
Informasi tambahan seperti cara menggantung, penyelesaian dan/atau contoh bahan
perlengkapan harus diserahkan atas permintaan.
b. Pengujian dan commissioning/Testing.
1) Setelah selesainya pekerjaan dan sebelum penyerahan, Kontraktor harus
melakukan pengujian lengkap dan pengukuran yang dianggap perlu dengan dihadiri
Pengawas. Semua sistem dan peralatan harus dioperasikan agar berfungsi sesuai
ketentuan Spesifikasi Teknis.
2) Peralatan, fasilitas pengujian, pengawasan pengujian dan pemeliharaan
peralatan agar tetap dalam kondisi baik, harus diadakan oleh Kontraktor.
3) Catatan pengujian harus dibuat Kontraktor dan diserahkan secara resmi
kepada Pengawas sebelum serah terima pekerjaan.
4) Pengujian dan uji pengoperasian harus ditentukan oleh Pengawas.
5) Semua peralatan harus lulus uji fungsional.
6) Kontraktor bertanggung jawab untuk mengganti setiap peralatan/perlengkapan
yang rusak, termasuk kaca, plastik atau penyebar cahaya sampai pada saat
pemeriksaan terakhir dan penyerahan kepada Pengawas.
c. Pembersihan.
Kontraktor dari waktu ke waktu harus menjaga agar tempat kerja dan sekitarnya bersih
dari segala bahan-bahan terbuang atau kotoran yang diakibatkan oleh pekerjaan.
Pada akhir pekerjaan, Kontraktor harus menyingkirkan semua kotoran, alat-alat, perancah
dan bahan sisa dari lokasi pekerjaan, sehingga pekerjaan terlihat bersih dan siap untuk
digunakan.
43
d. Lapisan Pelindung.
Kecuali ditentukan lain, semua bahan metal yang terlihat, seperti
penopang/penumpu, conduit dan lainnya, harus diberi lapisan pelindung cat anti karet
dalam warna sesuai Skema Warna.
e. Spesifikasi Lampu Penerangan.
Bahan cat dan cara pengecatan harus memenuhi ketentuan dalam Spesifikasi Teknis.
Spesifikasi Lampu Penerangan, mengikuti ketentuan dalam Spesifikasi Teknis.
Pasal 15
PEKERJAAN JARINGAN UTILITAS
1. LINGKUP PEKERJAAN.
a. Lingkup pekerjaan ini mencakup semua pengadaan bahan, tenaga kerja, peralatan
dan pemasangan jaringan utilitas yang lengkap di tapak sampai pada jarak 150 mm dari
bagian luar bangunan.
b. Jaringan utilitas ini meliputi pemipaan distribusi air bersih, pemipaan air kebakaran,
peralatan penangkal kebakaran, pembuangan air kotor berikut pengujian seluruh sistem
sehingga dapat bekerja dengan baik.
c. Pekerjaan ini juga akan meliputi penyambungan ke pipa distribusi seperti
ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
2. STANDAR/RUJUKAN.
a. American Society for Testing and Materials (ASTM).
b. International Standar Organization (ISO).
c. Standar Nasional Indonesia (SNI).
d. American National Standars Institute (ANSI).
e. American Water Works Association (AWWA).
f. British Standars (BS).
3. PROSEDUR UMUM.
a. Contoh Bahan dan Data Teknis.
1) Kontraktor harus menyerahkan contoh dan data teknis/brosur dari bahan yang
akan dipergunakan untuk mendapatkan persetujuan Pengawas terlebih dahulu,
sebelum mendatangkannya ke lokasi.
2) Semua biaya penyerahan dan pengadaan contoh bahan menjadi tanggung
jawab Kontraktor.
3) Bila contoh yang diserahkan berbeda dari yang ditentukan, kontraktor harus
menjelaskan perbedaan tersebut secara tertulis, dengan permohonan penggantian,
bersamaan dengan alasan penggantian, sehingga bila diterima, tindakan yang sesuai
dapat dilakukan untuk penyesuaian. Bila kontraktor mengabaikan hal ini maka
kontraktor tidak dibebaskan dari tanggung jawab untuk menghasilkan pekerjaan
sesuai dengan ketentuan Gambar Kerja.
b. Gambar Detail Pelaksanaan.
1) Kontraktor harus menyiapkan dan menyerahkan Gambar Detail Pelaksanaan
pekerjaan jaringan utilitas yang disebutkan di sini, atau yang membutuhkan koordinasi
dengan pekerjaan lain.
2) Gambar Kerja hanya menunjukkan secara garis besar lokasi bahan dan
peralatan. Gambar Kerja harus diikuti dengan seksama mungkin. Gambar Struktur
dan gambar lainnya yang terkait, dan semua elemen yang dipasang harus diperiksa
dimensi dan kebutuhan ruang geraknya sebelum pemasangan.
3) Gambar Detail Pelaksanaan harus diserahkan kepada Pengawas se-segera
mungkin sebelum pengadaan bahan sehingga diperoleh cukup waktu untuk
memeriksa, dan tidak ada tambahan waktu bagi kontraktor bila mengabaikan hal ini.
Gambar Detail Pelaksanaan harus lengkap dan berisi detail-detail yang diperlukan.
44
4) Kontraktor harus mendapatkan, atas biayanya, semua izin yang diperlukan dan
mengatur semua pemeriksaan yang dibutuhkan yang berhubungan dengan jaringan
utilitas yang disebutkan di sini.
c. Pengiriman dan Penyimpanan.
1) Setiap bahan pipa (satu panjang utuh), sambungan dan perlengkapan lain
yang digunakan dalam jaringan utilitas harus mempunyai tanda/merek yang jelas dari
pabrik pembuatnya dan kelas produk bila ditentukan oleh standar yang berlaku.
2) Semua beban harus disimpan di tempat yang aman dan terlindung dari segala
jenis kerusakan.
d. Ketidaksesuaian
1) Kontraktor wajib memeriksa Gambar Kerja yang ada terhadap kemungkinan
kesalahan/ketidaksesuaian, baik dari segi dimensi, kapasitas, jumlah maupun
pemasangan dan lain-lain.
2) Semua perlengkapan pemipaan utilitas yang didatangkan atau dipasang tanpa
tanda/merek harus disingkirkan dan diganti dengan yang sesuai tanpa tambahan
biaya kepada Pemilik Proyek.
e. Garansi.
Kontraktor harus memberikan kepada Pemilik Proyek surat garansi yang
menyatakan bahwa jaringan utilitas telah bekerja dengan baik yang jangka waktu 1 (satu)
tahun sejak tanggal penyerahan terakhir. Selama periode tersebut Kontraktor harus
memperbaiki atau mengganti kerusakan dan membayar biaya setiap perbaikan atau
penggantian.
4. BAHAN-BAHAN.
a. Umum.
Semua bahan, peralatan utama dan peralatan tambahan yang akan dipasang harus
dalam keadaan baru, tidak rusak/cacat dan berkualitas baik.
b. Pemipaan Air Bersih.
1) Pipa sekualitas merk Wavin AW.
Untuk distribusi air bersih harus dari pipa Poly Propelyne kelas 10kg/cm2 yang
memenuhi standar ISO 4065, ISO 4427 dan/atau DIN 8075.
Diameter dan panjang pipa yang dibutuhkan harus sesuai ketentuan Gambar Kerja.
2) Sambungan Pipa.
Sambungan-sambungan pipa seperti socket, elbow, reducer, knee, nipple, tee
dan sebagainya, harus terbuat dari bahan PE yang sesuai untuk pipa PP kelas 10
kg/cm², serta berasal dari merek yang sama dengan merek pipa.
3) sistem Sambungan.
sistem sambungan terdiri dari compression fitting, butt-fussion welding, electrofusion
atau sesuai petunjuk dari pabrik pembuat pipa PP. sistem sambungan yang dipilih
harus disetujui Pengawas.
5. Pipa yang digunakan:
a. Instalasi Air Bersih:
1) Pemasangan Pipa PVC Ø 1/2" dipasang sesuai gambar, jenis pipa yang
digunakan sekualitas merk Wavin AW sambungan harus benar-benar rapat (tidak
bocor) khususnya yang tertanam dalam dinding/ lantai bangunan;
2) Pemasangan Pipa PVC Ø 3/4" dipasang sesuai gambar, jenis pipa yang
digunakan sekualitas merk Wavin AW sambungan harus benar-benar rapat (tidak
bocor) khususnya yang tertanam dalam dinding/ lantai bangunan;
3) Pemasangan Pipa PVC Ø 1" dipasang sesuai gambar, jenis pipa yang
digunakan sekualitas merk Wavin AW sambungan harus benar-benar rapat (tidak
bocor) khususnya yang tertanam dalam dinding/ lantai bangunan; dan
45
4) Pemasangan Pipa PVC Ø 2" dipasang sesuai gambar, jenis pipa yang
digunakan sekualitas merk Wavin AW sambungan harus benar-benar rapat (tidak
bocor) khususnya yang tertanam dalam dinding/ lantai bangunan.
b. Pas. Instalasi air sisa dan air kotor:
1) Pemasangan Pipa PVC Ø 3" dipasang sesuai gambar, jenis pipa yang
digunakan sekualitas merk Wavin AW sambungan harus benar-benar rapat (tidak
bocor) khususnya yang tertanam dalam dinding/ lantai bangunan; dan
2) Pemasangan Pipa PVC Ø 4" dipasang sesuai gambar, jenis pipa yang
digunakan sekualitas merk Wavin AW sambungan harus benar-benar rapat (tidak
bocor) khususnya yang tertanam dalam dinding/ lantai bangunan.
6. PELAKSANAAN PEKERJAAN.
a. Umum.
1) Semua tenaga kerja harus ahli dan mampu serta berpengalaman seperti
disetujui Pengawas.
2) Semua lokasi dan dimensi perlengkapan sistem pemipaan harus sesuai Gambar
Kerja dan petunjuk Pengawas.
3) Semua bahan, baik yang disebutkan maupun yang tidak disebutkan atau
ditunjukkan dalam Gambar Kerja, harus disediakan dan dipasang untuk melengkapi
sistem sesuai mutu pemasangan terbaik dan disetujui Pengawas.
b. Pemasangan.
1) Pemipaan.
a) Semua sistem pemipaan yang dipasang harus tetap bersih dan bekerja
dengan baik melalui pengujian berkala yang dilakukan Kontraktor sampai
pekerjaan diserahkan dan diterima Pemilik Proyek.
b) Semua pipa harus dipasang sesuai koordinasi yang ditentukan.
c) Kontraktor bertanggung jawab mengadakan bagian sambungan yang
diperlukan sehingga membentuk pemasangan yang lengkap. Semua
sambungan harus diperiksa dengan teliti untuk memastikan semua bagian
yang harus disediakan tersebut sudah lengkap.
d) Semua pemipaan yang disambung dan yang akan dihubungkan dengan
peralatan, harus dilengkapi dengan sambungan pipa atau flensa yang sesuai
seperti disebutkan dalam Spesifikasi ini.
e) Pipa harus digunakan dalam panjang penuh jika memungkinkan.
f) Perubahan ukuran pipa harus dilengkapi dengan alat sambungan reducer
atau increaser.
g) Katup yang disediakan untuk kesempurnaan sistem kontrol harus di
tempatkan pada lokasi yang mudah dicapai dengan ruang gerak yang cukup
untuk bukaan penuh, pembongkaran, penggantian dengan batang
pengoperasian ke arah horisontal atau vertikal.
h) Pipa pembuangan air kotor harus dipasang menurun 10 mm setiap 100
cm panjang pipa, kecuali bila ditentukan lain dalam Gambar Kerja. Sebelum pipa
pembuangan air kotor dipasang, Kontraktor harus memeriksa di lapangan semua
pipa yang akan dipasang untuk memeriksa benar tidaknya sistem pemipaan
sehingga pipa-pipa tersebut dapat dipasang sesuai persyaratan.
i) Setiap peralatan harus dilengkapi dengan katup penutup air yang di
tempatkan sesuai Gambar Kerja, sehingga setiap peralatan dapat diperiksa
secara terpisah tanpa mengganggu peralatan lainnya.
j) Lubang periksa dari bahan beton cor di tempat harus dibuat dengan
mengikuti ketentuan yang ditetapkan dalam Spesifikasi Teknis.
k) Lubang periksa dari beton pracetak harus dipasang dan di tempatkan
pada tempat-tempat seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja dengan cara-
cara yang direkomendasikan oleh pabrik pembuatnya.
l) Pekerjaan pemipaan dan peralatan utilitas lainnya yang membutuhkan
penggalian dan pengurukan harus dilaksanakan sesuai ketentuan.
46
2) Penumpu dan Alat Pengencang.
a) Semua pipa, sambungan dan peralatan harus ditumpu dan diikat dengan
kuat dan aman.
b) Penumpu pipa harus dipasang sedemikian rupa sehingga arah dan
kemiringan pipa tetap terjaga dan cukup kuat memegang pipa dan pemuaian
yang disebabkan karena perubahan panas.
c) Penumpu pipa harus dipasang dengan jarak yang sudah ditentukan.
d) Jenis penggantung/penumpu adalah sebagai berikut:
(1) Baja pelat.
(2) Baja siku Atau baja profil lainnya sesuai Gambar Kerja.
e) Penggantung dan penumpu harus di tempatkan pada lokasi berikut:
(1) Perubahan arah aliran.
(2) Titik percabangan.
(3) Beban terpusat karena adanya katup dan peralatan lain yang sejenis.
f) Bahan penumpu/penggantung dan penumpu lain yang dibutuhkan harus
memenuhi ketentuan Spesifikasi Teknis.
3) Pompa.
a) Sebelum pemasangan pompa, setiap pompa harus sudah diuji di pabrik
pembuatnya sesuai dengan standar pengujian yang berlaku, dan ketika
didatangkan ke lokasi, setiap pompa harus dilengkapi sertifikat pengujian
pabrik dan kurva penampilan.
b) Semua pompa harus dipasang sesuai petunjuk pemasangan dari pabrik
pembuat dan Gambar Detail Pelaksanaan yang telah disetujui.
c) Pengerjaan yang baik dan unjuk kerja pompa-pompa yang telah
terpasang dengan lengkap termasuk motor penggerak, komponen pelindung
dan aksesori lainnya menjadi tanggung jawab pembuat/pemasok pompa.
d) sistem electrical harus dikerjakan sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis.
4) Roughing-In.
a) Roughing-In untuk pipa dan sambungan harus dilakukan sepanjang
konstruksi, dan harus dikoordinasikan antara Pengawas dan Kontraktor.
b) Lokasi bukaan dengan ukuran yang tepat untuk lewatnya pipa harus
disediakan bila diperlukan. Lokasi sesuai ketentuan Gambar Kerja, dan
koordinasi posisi terakhir harus dibicarakan dengan Pengawas. Semua bahan
seperti pengikat saluran dan perlengkapan lainnya yang ditanam dalam beton
harus bersih dari segala jenis karat, kerak dan cat.
c. Pembersihan dan Penyesuaian.
1) Selama pelaksanaan, Kontraktor harus menutup semua saluran/pipa, untuk
mencegah masuknya pasir, kotoran dan lainnya. Setelah selesai pemasangan setiap
sistem pemipaan harus dihembus langsung dengan udara selama mungkin untuk
membersihkan seluruh sistem pemipaan.
2) Setelah seluruh sistem terpasang lengkap, Kontraktor harus menjalankan
peralatan pada kondisi normal untuk membuat semua penyesuaian penting
menyeimbangkan katup, kontrol tekanan otomatis dan lainnya, sampai semua
persyaratan tercapai.
d. Pengujian sistem Saluran Pembuangan
1) Seluruh sistem saluran pembuangan dan sistem pembuangan udara harus
dilengkapi lubang-lubang yang dapat ditutup dengan rapat sehingga seluruh sistem
dapat diisi dengan air sampai elevasi tertinggi batang saluran pembuangan udara
seperti ditunjukkan dalam Gambar.
2) sistem ini harus menahan air tersebut selama 30 menit dan dalam waktu
tersebut ketinggian air tidak berubah.
3) Bila menurut pendapat Pengawas dibutuhkan pengujian tambahan, seperti
pengujian asap/udara pada sistem saluran pembuangan, Kontraktor harus
melaksanakan pengujian tersebut tanpa tambahan biaya kepada Pemilik Proyek.
47
e. Pengujian sistem Bertekanan
1) Setelah selesai pemasangan dan roughing-in seluruh sistem pemipaan harus
diuji pada tekanan hidrostatis 1,5 (satu setengah) kali tekanan kerja nominal dan
dibiarkan pada tekanan tersebut selama 24 jam. Tekanan udara nominal untuk air
bersih adalah 8 kg/cm² dan untuk air kebakaran adalah 10 kg/cm².
2) Bila suatu bagian sistem pemipaan akan ditutup sebelum seluruh pemasangan
selesai, bagian tersebut harus diuji pada tekanan yang sama dengan tekanan yang
digunakan untuk seluruh sistem dan disaksikan oleh Pengawas.
3) Seluruh jaringan pipa air bersih harus dibilas dengan baik dan didesinfeksi
dengan klorin, sebelum diserahkan kepada Pemilik Proyek melalui Pengawas.
4) Dosis klorin adalah sebesar minimal 50 ppm dalam air.
5) Setelah melewati jangka waktu tidak kurang dari 6 (enam) jam, air yang masih
banyak mengandung klorin tersebut harus dapat dibuang dan jaringan pipa dibilas
sehingga kadar klorin yang tertinggal mencapai 0.2 ppm.
f. Cat Pelindung.
1) Semua pipa, sambungan dan penumpu pipa yang terlihat harus dicat dalam
warna sesuai Skema Warna yang akan diterbitkan kemudian, semua pipa yang
terlihat juga harus diberi tanda arah aliran.
2) Bahan cat dan pekerjaan pengecatan harus sesuai ketentuan.
Pasal 16
PEKERJAAN PLESTERAN SEMEN
1. LINGKUP PEKERJAAN
Kecuali disebutkan lain, bahan penyelesaian atau penutup permukaan
dinding/tembok bata dan adalah plesteran. Pekerjaan plesteran mencakup pembuatan dan
pemasangan plesteran pada dinding-dinding tembok bata dan bidang-bidang beton,
meliputi penyediaan bahan, tenaga kerja dan peralatannya. Semua permukaan plesteran
dicat dengan cat tembok, kecuali disebutkan lain.
2. PROSEDUR UMUM.
a. Bahan.
Komposisi bahan adukan sesuai dengan persyaratan, yaitu:
1) Campuran 1 pc : 3 pasir untuk permukaan beton, dinding trasram atau daerah
basah dan dinding luar yang tidak tertutup atap.
2) Campuran 1 : 2 dan sudut dinding.
3) Campuran 1 pc : 5 pasir untuk dinding bata bagian dalam gedung Semen PC
yang dipakai adalah produk lokal yang terbaik (satu merek untuk seluruh pekerjaan).
4) Plesteran untuk penutup dinding bata ringan ketebalan 2 mm. Ketebalan dapat
diatur sesuai dengan grade : kasar, sedang, halus.
b. Pelaksanaan.
1) Plesteran dinding bata.
Sebelum diplester, permukaan dinding bata harus dibersihkan dan dibasahi dengan
air, siarnya dikorek sedalam 1 cm. Tebal plesteran minimum 1,5 cm dan
maksimum 2 cm. Plesteran diselesaikan dengan papan plesteran dan kayu perata
atau sekop baja. Sudut-sudut dibuat serapi-rapinya dan menyiku. Sambungan dari
plesteran-plesteran harus mulus dan lurus.
Dalam mendirikan dinding yang tidak berada dibawah atap, selama waktu
hujan harus diberi perlindungan dengan menutup bagian atas dari tembok dengan
bahan pelindung yang cukup sesuai.
Selama proses pengeringan, plesteran harus disiram dengan air selama 7 (tujuh) hari
terus menerus.
48
2) Plesteran Beton.
Seluruh permukaan beton yang tampak harus menghasilkan permukaan yang
halus dan rata. Bila pelaksanaan pekerjaan beton tidak dapat menghasilkan
permukaan yang halus dan rata, maka permukaan tersebut harus diplester hingga
menghasilkan permukaan seperti yang dimaksud di dalam gambar rancangan
pelaksanaan.
Permukaan beton yang akan diplester harus disiapkan dulu dengan pekerjaan
pendahuluan dengan urutan sebagai berikut:
a) Permukaan dibuat kasar dengan betel/pahat beton.
b) Dibasahi dengan air.
Mortar untuk plesteran adalah campuran 1 Pc : 2 Ps yang diaduk secara benar-benar
homogen.
Ketebalan plesteran adalah rata-rata 10 mm-15 mm Plesteran harus diakhiri dengan
acian halus dari adukan air semen (Pc).
3) Plesteran Dry Mortar.
a) Tuangkan air kedalam ember yang bersih.
b) Masukkan serbuk secara bertahap kedalam ember dengan perbandingan
campuran (1 kg Plester: 250 cc air).
c) Aduk hingga rata dengan menggunakan mixer.
d) Tebarkan adukan tersebut pada media dinding yang sudah diplester.
e) Rapikan / haluskan dengan gosokan (roskam).
4) Semua pasangan dinding bata harus diplester dan diaci kecuali pasangan
dinding bata yang tertanam di dalam tanah atau di bawah lantai dasar cukup diplester
dengan campuran 1 : 3 tanpa acian.
Pasal 17
PEKERJAAN BATU ALAM
1. LINGKUP PEKERJAAN.
Pekerjaan ini mencakup penyediaan bahan dan pemasangan dinding luar dan dalam,
lantai atau pada tempat-tempat sesuai petunjuk Gambar Kerja serta Spesifikasi Teknis ini.
2. STANDAR/RUJUKAN.
a. Specifications for Architectural Granite and Recommedation of The National Building
Granite Quarries Association, Inc. (NBGQA).
b. Semua standar perturan bahan nasional yang berlaku.
3. PROSEDUR UMUM.
b. Mock-Ups dan Contoh Bahan.
Sebelum pengadaan bahan, Kontraktor harus menyerahkan contoh bahan lengkap kepada
Pengawas untuk diperiksa dan disetujui.
Kontraktor harus membuat mock-up beserta bahan-bahan lain yang berkaitan untuk
diperiksa dan disetujui oleh Pengawas. Biaya pengadaan contoh menjadi tanggung jawab
Kontraktor sepenuhnya.
c. Gambar Detail Pelaksanaan.
Kontraktor harus membuat dan menyerahkan Gambar Detail Pelaksanaan kepada
Pengawas, untuk diperiksa dan disetujui. Gambar Detail Pelaksanaan harus mencakup
dimensi, tata letak, tipe, cara pemasangan dan detail lain yang diperlukan.
d. Pengisi Celah.
Bahan yang dipakai untuk pengisi celah batu alam menggunakan mortar/filler (nat).
e. Pengiriman dan Penyimpanan.
Batu harus dijaga terhadap cuaca, suhu, kelembaban dan kerusakan fisik serta disimpan
dalam gudang.
49
bahan-bahan yang didatangkan harus dalam keadaan baik, bebas dari segala cacat, dan
dilengkapi dengan label dan data teknis.
4. BAHAN-BAHAN.
a. Batu alam acak.
Batu ggunung lokal, berukuran sesuai yang tertera pada gambar.
b. Semen, Pasir.
Portland Cement:
Sesuai dengan standar ASTM C150. Serta standar nasional yang berlaku, produk Semen
Cibinong, Semen Gresik.
Pasir:
Sesuai dengan standar ASTM C144 atau standar nasional yang berlaku.
Mortar dan Grouting:
Non staining sesuai dengan standar ASTM C270 atau Spesifikasi Teknis.
5. PELAKSANAAN PEKERJAAN.
a. Persiapan.
1) Batu harus benar-benar bersih sebelum dipasang dengan dicuci menggunakan
sikat plastik serta air bersih.
2) Pekerjaan atau instalasi lain yang terkait dalam pekerjaan pemasangan batu
ini harus dipelajari terlebih dahulu serta di marking sesuai dengan gambar
pelaksanaan.
b. Pemasangan.
1) Batu harus dipasang oleh tukang yang ahli serta apabila diperlukan batu dapat
dipotong di lapangan dengan menggunakan mesin pemotong.
2) Toleransi pemasangan antar batu pada dinding tidak lebih dari 9 mm untuk setiap
6 m tinggi pasangan, serta untuk lantai tidak lebih dari 6 mm untuk setiap 3 m lebar
pasangan.
Pasal 18
PEKERJAAN CAT
1. LINGKUP PEKERJAAN.
Lingkup pekerjaan ini mencakup pengangkutan dan pengadaan semua peralatan,
tenaga kerja dan bahan-bahan yang berhubungan dengan pekerjaan pengecatan
selengkapnya, sesuai dengan Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis ini.
Kecuali ditentukan lain, semua permukaan eksterior dan interior harus dicat dengan
standar pengecatan minimal 1 (satu) kali cat dasar dan 2 (dua) kali cat akhir.
2. STANDAR/RUJUKAN.
a. Steel Structures Painting Council (SSPC).
b. Swedish Standar Institution (SIS).
c. British Standar (BS).
d. Petunjuk pelaksanaan dari pabrik pembuat.
3. PROSEDUR UMUM.
a. Data Teknis dan Kartu Warna.
Kontraktor harus menyerahkan data teknis/brosur dan kartu warna dari cat yang akan
digunakan, untuk disetujui terlebih dahulu oleh Pengawas.
Semua warna ditentukan oleh Pengawas dan akan diterbitkan secara terpisah dalam
suatu Skema Warna.
b. Contoh dan Pengujian.
1) Cat yang telah disetujui untuk digunakan harus disimpan di lokasi proyek dalam
kemasan tertutup, bertanda merek dagang dan mencanbtumkan identitas cat yang
ada di dalamnya, serta harus disetrahkan tidak kurang 2 (dua) bulan sebelum
50
pekerjaan pengecatan, sehingga cukup dini untuk memungkinkan waktu pengujian
selama 30 (tiga puluh) hari.
2) Pada saat bahan cat tiba di lokasi, Kontraktor dan Pengawas mengambil 1
liter contoh dari setiap takaran yang ada dan diambil secar acak dari
kaleng/kemasan yang masih tertutup. Isi dari kaleng/kemasan contoh harus diaduk
dengan sempurna untuk memperoleh contoh yang benar-benar dapat mewakili.
3) Untuk pengujian, Kontraktor harus membuat contoh warna dari cat-cat tersebut di
atas 2 (dua) potongan kayu lapis atau panel semen berserat berukuran 300 mm x
300 mm untuk masing-masing warna. 1 (satu) contoh disimpan Kontraktor dan 1
(satu) contoh lagi disimpan Pengawas guna memberikan kemungkinan untuk
pengujian di masa mendatang bila bahan tersebut ternyata tidak memenuhi syarat
setelah dikerjakan.
4) Biaya pengadaan contoh bahan dan pembuatan contoh warna menjadi
tanggung jawab Kontraktor.
4. BAHAN-BAHAN.
a. Umum.
Cat harus dalam kaleng/kemasan yang masih tertutup patri/segel, dan masih jelas
menunjukkan nama/merek dagang, nomor formula atau Spesifikasi cat, nomor takaran
pabrik, warna, tanggal pembuatan pabrik petunjuk dari pabrik dan nama pabrik pembuat,
yang semuanya harus masih absah pada saat pemakaiannya. Semua bahan harus sesuai
dengan Spesifikasi yang disyaratkan pada daftar cat.
Cat dasar yang dipakai dalam pekerjaan ini harus berasal dari satu pabrik/merek
dagang dengan cat akhir yang akan digunakan.
Untuk menetapkan suatu standar kualitas, disyaratkan bahwa semua cat yang dipakai
harus berdasarkan/mengambil acuan pada cat-cat hasil produksi lokal atau sekualitas.
b. Cat Dasar.
Cat dasar yang digunakan harus sesuai dengan daftar berikut:
1) Water-based sealer untuk permukaan pelesteran, beton, papan gipsum dan
panel kalsium silikat.
2) Masonry sealer untuk permukaan pelesteran yang akan menerima cat akhir
berbahan dasar minyak.
3) Wood primer sealer untuk permukaan kayu yang akan menerima cat akhir
berbahan dasar minyak.
4) Solvent-based anti-corrosive zinc chomate untuk permukaan besi/baja.
c. Undercoat.
Undercoat digunakan untuk permukaan besi/baja.
d. Cat Akhir.
Cat akhir yang digunakan harus sesuai dengan daftar berikut:
1) Emulsion untuk permukaan interior pelesteran, beton, papan gypsum dan panel
kalsium silikat.
2) Emulsion khusus untuk permukaan eksterior pelesteran, beton, papan gypsum
dan panel kalsium silikat.
3) High quality solvet-based high quality gloss finish untuk permukaan interior
pelesteran dengan cat dasar masonry sealer, kayu dan besi/baja..
5. PERSYARATAN BAHAN DAN WARNA:
a. Pengecetan dinding luar watershield harus sesuai gambar dengan warna cat yang
digunakan harus sesuai Prototype standarisasi TNI AD, jenis cat yang digunakan adalah
sekualitas merk Jotashield S 1515 G20Y.
b. Pengecetan dinding dalam dan plafon harus sesuai gambar dengan warna cat yang
digunakan harus sesuai Prototype standarisasi TNI AD, jenis cat yang digunakan adalah
sekualitas merk Jotaplast S 0500 N.
51
c. Pengecetan penebalan kolom dinding luar harus sesuai gambar dengan warna cat
yang digunakan harus sesuai Prototype standarisasi TNI AD, jenis cat yang digunakan
adalah sekualitas merk Jotashield S 5020 G30Y.
d. Pengecetan listplank beton harus sesuai gambar dengan warna cat yang digunakan
harus sesuai Prototype standarisasi TNI AD, jenis cat yang digunakan adalah sekualitas
merk Jotashield S 5020 G30Y.
e. Pengecetan kayu harus sesuai gambar dengan warna cat yang digunakan harus
sesuai Prototype standarisasi TNI AD, jenis cat yang digunakan adalah sekualitas merk
Movilex.
6. PELAKSANAAN PEKERJAAN.
a. Pembersihan, Persiapan dan Perawatan Awal Permukaan.
1) Umum.
a) Semua peralatan gantung dan kunci serta perlengkapan lainnya,
permukaan polesan mesin, pelat, instalasi lampu dan benda-benda
sejenisnya yang berhubungan langsung dengan permukaan yang akan dicat,
harus dilepas, ditutupi atau dilindungi, sebelum persiapan permukaan dan
pengecatan dimulai.
b) Pekerjaan harus dilakukan oleh orang-orang yang memang ahli dalam
bidang tersebut.
c) Permukaan yang akan dicat harus bersih sebelum dilakukan persiapan
permukaan atau pelaksanaan pengecatan. Minyak dan lemak harus dihilangkan
dengan memakai kain bersih dan zat pelarut/pembersih yang berkadar racun
rendah dan mempunyai titik nyala di atas 38⁰C.
d) Pekerjaan pembersihan dan pengecatan harus diatur sedemikian rupa
sehingga debu dan pecemar lain yang berasal dari proses pembersihan
tersebut tidak jauh di atas permukaan cat yang baru dan basah.
2) Permukaan Pelesteran dan Beton.
Permukaan pelesteran umumnya hanya boleh dicat sesudah sedikitnya selang
waktu 4 (empat) minggu untuk mengering di udara terbuka. Semua pekerjaan
pelesteran atau semen yang cacat harus dipotong dengan tepi-tepinya dan ditambal
dengan pelesteran baru hingga tepi-tepinya bersambung menjadi rata dengan
pelesteran sekelilingnya.
Permukaan pelesteran yang akan dicat harus dipersiapkan dengan
menghilangkan bunga garam kering, bubuk besi, kapur, debu, lumpur, lemak, minyak,
aspal, adukan yang berlebihan dan tetesan-tetesan adukan.
Sesaat sebelum pelapisan cat dasar dilakukan, permukaan pelesteran
dibasahi secara menyeluruh dan seragam dengan tidak meninggalkan genangan air.
Hal ini dapat dicapai dengan menyemprotkan air dalam bentuk kabut dengan
memberikan selang waktu dari saat penyemprotan hingga air dapat diserap.
3) Permukaan Gypsum.
Permukaan gypsum harus kering, bebas dari debu, oli atau gemuk dan
permukaan yang cacat telah diperbaiki sebelum pengecatan dimulai.
Kemudian permukaan gypsum tersebut harus dilapisi dengan cat dasar khusus
untuk gipsum, untuk menutup permukaan yang berpori, seperti ditentukan dalam
Spesifikasi Teknis.
Setelah cat dasar ini mengering dilanjutkan dengan pengecatan sesuai ketentuan
Spesifikasi ini.
4) Permukaan Barang Besi /Baja.
a) Besi/Baja Baru.
Permukaan besi/baja yang terkena karat lepas dan benda-benda asing lainnya
harus dibersihkan secara mekanis dengan sikat kawat atau penyemprotan
pasir/sand blasting sesuai standar Sa2½.
52
Semua debu, kotoran, minyak, gemuk dan sebagainya harus dibersihkan dengan
zat pelarut yang sesuai dan kemudian dilap dengan kain bersih. Sesudah
pembersihan selesai, pelpisan cat dasar pada semua permukaan barang
besi/baja dapat dilakukan sampai mencapai ketebalan yang disyaratkan.
b) Besi/Baja Dilapis Dasar di Pabrik/Bengkel.
Bahan dasar yang diaplikasikan di pabrik/bengkel harus dari merek yang
sama dengan cat akhir yang akan diaplikasikan di lokasi proyek dan memenuhi
ketentuan dalam butir 4.2. dari Spesifikasi Teknis ini. Barang besi/baja yang
telah dilapis dasar di pabrik/bengkel harus dilindungi terhadap karat, baik
sebelum atau sesudah pemasangan dengan cara segera merawat permukaan
karat yang terdeteksi.
Permukaan harus dibersihkan dengan zat pelarut untuk menghilangkan debu,
kotoran, minyak, gemuk. Bagian-bagian yang tergores atau berkarat harus
dibersihkan dengan sikat kawat sampai bersih, sesuai standar St 2/SP-2, dan
kemudian dicat kembali (touch-up) dengan bahan cat yang sama dengan yang
telah disetujui, sampai mencapai ketebalan yang disyaratkan.
c) Besi/Baja Lapis Seng/Galvanis.
Permukaan besi/baja berlapis seng/galvanis yang akan dilapisi cat warna
harus dikasarkan terlebih dahulu dengan bahan kimia khusus yang diproduksi
untuk maksud tersebut, atau disikat dengan sikat kawat. Bersikan
permukaan dari kotoran-kotoran, debu dan sisa-sisa pengasaran, sebelum
pengaplikasian cat dasar.
b. Selang Waktu Antara Persiapan Permukaan dan Pengecatan.
Permukaan yang sudah dibersihkan, dirawat dan/atau disiapkan untuk dicat harus
mendapatkan lapisan pertama atau cat dasar seperti yang disayaratkan, secepat mungkin
setelah persiapan-persiapan di atas selesai. Harus diperhatikan bahwa hal ini harus dilakukan
sebelum terjadi kerusakan pada permukaan yang sudah disiapkan di atas.
c. Pelaksanaan Pengecatan.
1) Umum.
a) Permukaan yang sudah dirapikan harus bebas dari aliran punggung cat,
tetesan cat, penonjolan, gelombang, bekas olesan kuas, perbedaan warna dan
tekstur.
b) Usaha untuk menutupi semua kekurangan tersebut harus sudah
sempurna dan semua lapisan harus diusahakan membentuk lapisan dengan
ketebalan yang sama.
c) Perhatian khusus harus diberikan pada keseluruhan permukaan,
termasuk bagian tepi, sudut dan ceruk/lekukan, agar bisa memperoleh
ketebalan lapisan yang sama dengan permukaan-permukaan di sekitarnya.
d) Permukaan besi/baja atau kayu yang terletak bersebelahan dengan
permukaan yang akan menerima cat dengan bahan dasar air, harus telah
diberi lapisan cat dasar terlebih dahulu.
2) Proses Pengecatan.
Harus diberi selang waktu yang cukup di antara pengecatan berikutnya
untuk memberikan kesempatan pengeringan yang sempurna, disesuaikan
dengan kedaan cuaca dan ketentuan dari pabrik pembuat cat dimaksud.
Pengecatan harus dilakukan dengan ketebalan minimal (dalam keadaan cat
kering).
d. Permukaan Eksterior Pelesteran, Beton, Panel Kalsium Silikat.
Cat Dasar : 1 (satu) lapis water-based sealer.
Cat Akhir : 2 (dua) lapisan emulsion khusus eksterior.
53
e. Permukaan Interior dan Eksterior Pelesteran dengan Cat Akhir Berbahan Dasar
Minyak.
Cat Dasar : 1 (satu) lapis masonry sealer.
Cat Akhir : 2 (dua) lapisan high quality solvent- based high quality gloss finish.
f. Permukaan Besi/Baja.
Cat Dasar : 1 (satu) lapis solvent-based anti- corrosive zinc chromate primer.
Undercoat : 1 (satu) lapis undercoat.
Cat Akhir : 2 (dua) lapisan high quality solvent- based high quality gloss finish.
Ketebalan setiap lapisan cat (dalam keadaan kering) harus sesuai dengan ketentuan
dan/atau standar pabrik pembuat cat yang telah disetujui untuk digunakan.
1) Penyimpanan, Pencampuran dan Pengenceran.
a) Pada saat pengerjaan, cat tidak boleh menunjukkan tanda-tanda
mengeras, membentuk selaput yang berlebihan dan tanda-tanda kerusakan
lainnya.
b) Cat harus diaduk, disaring secara menyeluruh dan juga agar seragam
konsistensinya selama pengecatan.
c) Bila disyaratkan oleh keadaan permukaan, suhu, cuaca dan metoda
pengecatan, maka cat boleh diencerkan sesaat sebelum dilakukan pengecatan
dengan mentaati petunjuk yang diberikan pembuat cat dan tidak melebihi
jumlah 0,5 liter zat pengencer yang baik untuk 4 liter cat.
d) Pemakaian zat pengencer tidak berarti lepasnya tanggung jawab
kontraktor untuk memperoleh daya tahan cat yang tinggi (mampu menutup
warna lapis di bawahnya).
2) Metode Pengecatan.
a) Cat dasar untuk permukaan beton, pelesteran, panel kalsium silikat
diberikan dengan kuas dan lapisan berikutnya boleh dengan kuas atau rol.
b) Cat dasar untuk permukaan papan gypsum diberikan dengan kuas dan
lapisan berikutnya boleh dengan kuas atau rol.
c) Cat dasar untuk permukaan kayu harus diaplikasikan dengan kuas dan
lapisan berikutnya boleh dengan kuas, rol atau semprotan.
d) Cat dasar untuk permukaan besi/baja diberikan dengan kuas atau
disemprotkan dan lapisan berikutnya boleh menggunakan semprotan.
g. Pemasangan Kembali Barang-barang yang dilepas.
Sesudah selesainya pekerjaan pengecatan, maka barang-barang yang dilepas
harus dipasang kembali oleh pekerja yang ahli dalam bidangnya.
Pasal 19
PEKERJAAN PRASARANA
Pekerjaan Prasarana meliputi:
1. PEKERJAAN SALURAN LUAR.
a. Pekerjaan galian tanah disesuaikan gambar detail dan petunjuk direksi di lapangan.
b. Pekerjaan Urukan tanah tebal 10 cm kembali disesuaikan petunjuk direksi di lapangan.
c. Cor lantai kerja tbl. 5 cm dengan campuran 1pc : 3ps: 5kr.
d. Pemasangan saluran U ditch 60.60.120 disesuaikan petunjuk direksi di lapangan.
e. Pemasangan bak kontrol menggunakan pasangan batu bata campuran 1pc : 4ps
disesuaikan petunjuk direksi di lapangan.
2. PEKERJAAN JALAN MASUK.
a. Pekerjaan cor rabat tbl. 7 cm dengan campuran 1pc : 3ps: 5kr.
54
b. Pemasangan batu andesit disesuaikan gambar detail dan petunjuk direksi dilapangan.
3. PERBAIKAN JALAN.
a. Pembesihan lahan disesuaikan gambar detail dan petunjuk direksi di lapangan.
b. Perbaikan penetrasi disesuaikan gambar detail dan petunjuk direksi di lapangan.
c. Pekerjaan aspal hotmix diratakan dan dipadatkan dengan tebal mencapai 3 cm
disesuaikan gambar detail dan petunjuk direksi di lapangan.
d. Pemasangan kansteen abu-abu 15 x 25 x 40 disesuaikan gambar detail dan petunjuk
direksi di lapangan.
e. Pengecatan kansteen sekualitas merk Movilex disesuaikan gambar detail dan petunjuk
direksi di lapangan.
4. PERBAIKAN PAGAR.
a. Pekerjaan plesteran dinding pagar campuran 1pc : 4ps disesuaikan petunjuk direksi
dilapangan.
b. Pekerjaan acian pletsrean dinding pagar disesuiakan petunjuk direksi dilapangan.
c. Pengecatan pagar sekualitas merk Jotun disesuaikan gambar detail dan petunjuk
direksi dilapangan.
Pasal 20
PERUBAHAN-PERUBAHAN
Apabila ada perubahan dari ketentuan-ketentuan di atas karena sesuatu hal harus seizin
Pejabat Pembuat Komitmen.
Pasal 21
P E N U T U P
1. Semua bahan dan persyaratan mengenai pekerjaan konstruksi, electrical dan mechanical
serta mengenai bahan-bahan yang berlaku namun belum tercantum dalam Bestek ini, kontraktor
harus mematuhinya. Apabila terdapat perbedaan penafsiran pengertian mengenai pasal pada
bestek ini akan dilakukan penetapan di lapangan oleh direksi lapangan.
2. Demikian bestek ini dibuat untuk menjadi pedoman bagi pelaksanaan pekerjaan rehab 4
barak dan prasarana 413 Kostrad.
Pejabat Pembuat Komitmen,
TTD
Maryono
Brigadir Jenderal TNI