Metode Pelaksanaan
METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN
Sub Kegiatan : Rekonstruksi Jalan
Pekerjaan : Jalan Abdul Ancis Kecamatan Arut Selatan, Jalan Ahmad
Wongso
Lokasi : Kecamatan Arut Selatan
Tahun Aggaran : 2023
A. UMUM
1. Pendahuluan
Pada setiap pembangunan proyek kostruksi jalan sebagai Penyedia Jasa
diharuskan memahami secara menyeluruh tentang bagaimana tahapan pelaksanaan
proyek yang akan dilaksanakan. Dimana setiap proyek memiliki kondisi dan kesulitan
yang berbeda-beda sehingga perlu tatacara pelaksanaan yang berbeda pula.
Sedangkan dalam kontrak kerja Penyedia Jasa diberikan batas waktu tertentu untuk
menyelesaikan proyek secara tepat waktu. Disamping itu biaya pelaksanaan dan mutu
hasil kerja turut dipertimbangkan agar tercapai target penyelesaian yang optimal. Oleh
karena itu sebagai acuan Penyedia Jasa dalam melaksanakan pekerjaan perlu
memahami tahapan metode pelaksanaan konstruksi yang tepat dan berkesinambungan
dengan mempelajari rincian volume yang terdapat di Daftar Kuantitas Dan Harga serta
Gambar Kerja yang tersedia.
2. Ruang Lingkup Kegiatan
Kegiatan Penyelenggaraan Jalan Kabupaten/Kota ini merupakan kegiatan yang
berada di Lingkup SKPD-DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG
Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun Anggaran 2023.
3. Lingkup Pekerjaan
Secara garis besar lingkup pekerjaan yang dilaksanakan dalam pelaksanaan
Pekerjaan pada Sub Kegiatan Rekonstruksi terbagi menjadi beberapa sub item
pekerjaan. Berikut dapat dijabarkan item-item pekerjaan adalah sebagai berikut :
1) DIVISI 1. UMUM
1.2. Mobilisasi
Ls Papan Nama Kegiatan
Ls Pelaksanaan Sistem Manjemen Keselamatan Kontruksi (SMKK )
2) DIVISI 3 PEKERJAAN TANAH
3.1.(1) Galian Biasa
3.2.(3a) Timbunan Pilihan (diukur diatas bak truk)
3) DIVISI 6 PERKERASAN ASPAL
6.1 (2a) Lapis Resap Pengikat - Aspal Cair
6.3(3) Lataston Lapis Fondasi (HRS-Base)
Metode Pelaksanaan
4) DIVISI 7 STRUKTUR
7.1 (7a) Beton struktur, fc’30 Mpa
B. PELASKANAAN PEKERJAAN PENINGKATAN JALAN
1. BAGAN ALIR PEKERJAAN
PERSIAPAN
SPMK
1. Job Mix Formula
2. Material dan Penyimpanan
3. Jadwal Pelaksanaan
4. Pengukuran Lapangan (MC-0)
5. Mobilisasi Personil
6. Mobilisasi Peralatan
7. Mobilisasi Tenaga Kerja
Tidak Sesuai
Perhitungan Ulang
Pengecekan Kuantitas dan
Gambar Rencana
Addendum
Shoop Drawing
PELAKSANAAN PEKERJAAN
1. Galian Biasa
2. Timbunan Pilihan (diukur
diatas bak truk)
3. Beton struktur, fc’30 MPa
4. Lapis Perekat - Aspal Cair
5. Lataston Lapis Aus (HRS-
WC)
6. Timbunan Tanah
DOKUMEN ADMINISTRASI
1. Back Up Data Quantity
2. Back Up Data Quality
3. Asbuild Drawing
4. Foto Dokumentasi
5. Laporan Harian, Mingguan
dan Bulanan
6. Dan dokumen lain yang
dipersyaratkan
PHO Masa Pemeliharaan
Selesai
Metode Pelaksanaan
2. URAIAN PEKERJAAN
a. DIVISI 1. PENDAHULUAN
Pekerjaan mobilisasi atau persiapan adalah pekerjaan awal yang meliputi kegiatan-
kegiatan pendahuluan untuk mendukung permulaan proyek meliputi antara lain :
1) Pembuatan Job Mix Formula
Sebelum pekerjaan utama dilaksanakan terlebih dahulu dilaksanakan
pengambilan sampel bahan dari quary yang berdekatan dengan lokasi pekerjaan
dan telah disetujui bersama pihak direksi teknis dan konsultan pengawas teknis,
diantaranya yaitu : batu, pasir, semen dan aspal dibawa ke laboratorium Job Mix
Formula/Job Mix Desain yang akan dipakai sebagai acuan kerja dalam
pelaksanaan proyek.
2) Kantor lapangan dan fasilitasnya
Tahap berikutnya menentukan lokasi bascamp, pembuatan kantor lapangan dan
fasilitasnya dilokasi proyek dan kemudian dilanjutkan dengan mobilisasi perlatan
sesua dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan.
3) Pengaturan arus transportasi dan pemeliharaan terhadap arus lalu lintas
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, pengaturan arus lalu lintas transportasi
dilakukan dengan pembuatan tanda-tanda lalu lintas yang memadai disetiap
kegiatan lapangan. Bila diperlukan dapat ditempatkan petugas pemberi isyarat
yang bertugas mengatur arus lalu lintas pada saat pelaksanaan.
4) Rekayasa lapangan
Dengan petunjuk Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas survey/rekayasa
lapangan dilaksanakan untuk menentukan kondisi fisik dan strucktural dari
pekerjaan dan fasilitas yang ada dilokasi pekerjaan, sehingga diungkinkan untuk
mengadakan peninjauan ulang terhadap rancangan kerja yang telah diberikan
system dan tatacara survey dikordinasikan dengan direksi teknis.
5) Material dan penyimpanan
Bahan material yang akan digunakan dalam pekerjaan harus menemui spesifikasi
dan standar yang berlaku, baik ukuran, type maupun ketentuan lainnya sesuai
petunjuk Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas. Semua material yang akan
digunakan untuk proses pembuatan Lapis Pondasi Agregat Kelas A, B dan S,
Tanah Timbunan, Semen, Asphalt, Pasir dan bahan material yang terdapat dalam
spesifikasi telah mendapat persetujuan dari pihak Direksi Teknis dan Konsultan
Pengawas.
Metode Pelaksanaan
6) Jadwal Pelaksanaan
Jadwal pelaksanaan dibuat pihak kontraktor, diajukan kepada Direksi Teknis
untuk dibahas dan mendapat persetujuan pada saat dilaksanakan rapat
pendahuluan (Pre construction Meeting/PCM).
7) Pelaksanaan Mobilisasi Peralatan
Dalam pelaksanaan proyek ini mobilisasi peralatan utama meliputi :
a) Alat Bantu
b) Concrete Pan Mixer
c) Truck Mixer
d) Asphalt finisher
e) Tyre Roller
f) Tandem Roller
g) Vibratory Roller
h) Motor Grader
8) Papan Nama Pekerjaan
a) Papan Nama ini digunakan sebagai identitas dan informasi mengenai proyek.
b) Papan nama proyek dibuat dengan ukuran atas persetujuan Direksi
Pekerjaan.
c) Bahan yang dipakai : kayu kasau, plywood, paku, semen dan lain-lain.
d) Papan mana proyek dipasang dipangkal dan ujung lokasi pekerjaan.
e) Papan nama dipelihara selama pelaksanaan proyek.
9) Mobilisasi Personil
Mobilisasi personil inti pada pelaksanaan pekerjaan ini meliputi penugasan
tenaga ahli maupun tenaga pendukung dan para pekerja dalam melaksanakan
pekerjaan tersebut baik dilokasi sesuai kebutuhan yang disyaratkan dalam
kontrak pelaksanaan pekerjaan.
METODE PELAKSANAAN
DIVISI 3.
PEKERJAAN TANAH
A. Pekerjaan Galian Biasa
Pekerjaan galian biasa harus mencakup seluruh galian yang tidak diklasifikasikan
sebabagai galian batu, galian struktur, galian sumber bahan (borrow excavation), galian
perkerasan beraspal, galian perkerasan berbutir dan galian beton.
Pelaksanaan galian biasa ini prosedurnya sebagai berikut :
a) Pengukuran dan pemasangan bowplank atau penentuan kedalaman galian.
Pengukuran dilaksanakan dengan menggunakan alat ukur theodolit dengan
mempedomani hasil rekayasa yang ttelah ditentukan oleh pihak Direksi Teknis dan
Konsultan Pengawas. Pemasangan bowplank dilakukan setelah hasil dari
pengukuran disetujui ileh pihak Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas.
b) Penggalian dengan menggunakan Alat Berat
Pekerjaan penggalian dilaksanakan setelah pemasangan bowplank dalam hal ini
penentuan kedalaman galian. Tanah yang digali oleh Excavator langsung dimuat
ke Dump Truck, kemudian diangkut keluar lokasi proyek.
c) Dasar untuk perhitungan analisa dari pekerjaan ini :
Asumsi :
Menggunakan alat berat (cara mekanik)
Kapasitas kerja sesuai kapasitas alat yang disyaratkan
Kedalaman sesuai petunjuk Direksi Teknis.
Urutan kerja/Metode kerja :
Penggalian tanah dilakukan di sisi kiri dan kanan aspal eksisting guna
memasukan Lapis Pondasi Agregat Kelas B dan Lapis Pondasi Agregat
Kelas A
Tanah yang digali dikumpulkan umumnya berada disisi jalan (kiri/kanan
jalan)
Penggalian menggunakan alat berat (Excavator)
Selanjutnya material hasil galian dimasukan kedalam Dump Truck
Dump Truck membuang material hasil galian keluar lokasi proyek sejauh 1
(satu) km atau atas petunjuk Direksi Teknis dan Konsultan Pengawas.
Gambar 1. Galian Pelebaran Jalan Gambar 2. Metode Galian Tanah
METODE PELAKSANAAN
DIVISI 6.
PERKERASAN ASPAL
A. Pekerjaan Laspis Perekat – Aspal Cair
Pekerjaan ini digunakan sebagai Lapis Perekat antara perkerasan beton fc’ 30 MPa
dengan konstruksi diatasnya, sebelum dilakukan penyemprotan aspal dipanaskan
pada tangki Aspal Sprayer dan dicampur dengan Karosin setelah aspal mencapai suhu
yang telah ditetapkan sesuai spesifikasi setelah itu aspal Lapis Resap Pengikat
disemprotkan ke Lapis Pondasi Agregat Klas A dengan ketebalan 0,15 liter / meter
persegi.
Dikerjakan secara mekanik dengan urutan kerja sebagai berikut Aspal dan minyak Flux
dicampur dan dipanaskan sehingga menjadi campuran aspal cair Permukaan yang
akan dilapis dibersihkan dari debu dan kotoran dengan Air Compresor. Di semprotkan
dengan merata dengan asphal sprayer pada badan jalan yang akan dipasang Lapisan
Lataston Lapis Aus (HRS-WC) 3,0 cm (gradasi senjang/semi senjang).
Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal pada
permukaan yang telah disiapkan sebelumnya untuk pemasangan lapisan beraspal
berikutnya. Dan dihampar diatas permukaan yang beraspal.
Tahapan dan Cara Pelaksanaan
Mulai
Pencampuran Aspal & Kerosin Pembersihan Lokasi Menggunakan
Air Compresor
Penyemprotas Campuran
Aspal Cair/Sprayer
Selesai
Gambar 23. Pelaksanaan Pekerjaan Lapis Perekat – Aspal Cair
Analisa Pengerahan Alat & Material
Alat yang dikerahkan Material yang dikerahkan
Asphalt Sprayer Asphalt
Air Compresor Kerosin/Minyak Tanah
Asphalt Distributor Bahan Lainnya
Dump Truck
Alat bantu
Analisa Pengerahan Personil & K3
Personil yang dikerahkan Aspek K3
Pelaksana Memasang Rambu Peringatan :
Petugas K3L Rambu Peringatan :
Tenaga Kerja “HATI-HATI ADA PEKERJAAN
PENGASPALAN”
Menggukana alat pelindung diri
(APD)
- Sarung Tangan
- Helm
- Sepatu Safety
Pengendalian Mutu
Mutu yang diharapkan :
Lapisan yang telah terhampar sesuai dengan rencana
Pengendalian Mutu :
Tiap 200 m ada 5 penampang, masing 1 penampang ada 3 kertas uji
METODE PELAKSANAAN
DIVISI 6.
PERKERASAN ASPAL
A. Pekerjaan Lataston Lapis Aus (HRS-WC)(gradasi senjang/semi senjang)
Pencampuran dilakukan dengan Asphal Mixing Plant, diangkut dengan dump truck
dan dihampar dengan asphal finisher, dipadatkan dengan tandem Roller dan
Pneumatic Tyre Roller. serta dirapikan oleh pekerja dengan alat bantu.
Dilaksanakan sesuai dengan rencana dan atas persetujuan pihak Direksi Teknis dan
Konsultan Pengawas.
Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini mencakup pengadaan lapisan padat yang awet untuk lapis
perata, lapis pondasi atau lapis campuran aspal yang terdiri dari agregat dan bahan
aspal yang dicampur di AMP, serta menghampar dan memadatkan campuran
tersebut diatas pondasi atau permukaan jalan yang telah disiapkan.
Tahapan dan Cara Pelaksanaan
Mulai
Persiapan Alat dan Material
Pencampuran Asphalt+Agregat+Filler+Aditif (Proses di AMP)
Pengangkuta Aspal Kelokasi Pekerjaan
Penghamparan
Pemadatan
Selesai
Gambar 24. Pelaksanaan Pekerjaan HRS-WC
Analisa Pengerahan Alat & Material
Alat yang dikerahkan Material yang dikerahkan
AMP+Laboratorium Asphalt
Wheel Loader Agregat Kasar
Dump Truck Agregat Halus
Asphalt Finisher Filler
Tandem Roller Kerosin/Minyak Tanah
Pneumatic Tire Roller
Alat Bantu
Analisa Pengerahan Personil & K3
Personil yang dikerahkan Aspek K3
Pelaksana Memasang Rambu Peringatan :
Petugas K3L Rambu Peringatan :
Tenaga Kerja “HATI-HATI ADA PEKERJAAN
PENGASPALAN”
Menggukana alat pelindung diri
(APD)
- Sarung Tangan
- Helm
- Sepatu Safety
Pengendalian Mutu
Mutu yang diharapkan :
- Permukaan yang rata sesuai spesifikasi yang disyaratkan
- Elevasi sesuai dengan yang direncanakan
- Campuran aspal sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan
Pengendalian Mutu :
Jenis Metode Banyaknya Spesifikasi Satuan
No Keterangan
Pengujian Pengujian Pengujian Pengujian
Job Mix
1 1
Formula
tiap 250 m3 ada
2 Hot Bin Sleve -
2 pengujian
Extraksi dan tiap 250 m3 ada
3 -
Gradasi 2 pengujian
SNI 06- tiap 200 m3 ada
4 Marshall Test -
2489-1991 2 pengujian
tiap 100 m
%
5 Core Drill Minimal ada 2 > 98
benda uji
METODE PELAKSANAAN
DIVISI 5.
PEKERJAAN BETON
1) Pekerjaan Beton Mutu Sedang fc’ 30 Mpa
Perkerasan jalan beton semen atau perkerasan kaku, terdiri dari plat beton
semen, dengan atau tanpa lapisan pondasi bawah, di atas tanah dasar. Dalam
konstruksi perkerasan kaku, plat beton semen sering juga dianggap sebagai lapis
pondasi, kalau di atasnya masih ada lapisan aspal.
Beton mutu sedang fc’ 30 Mpa pada pekerjaan pada ruas jalan penanganan
merupakan beton struktur pada jalan Rigid Pavement.
Bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini :
Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton harus jenis semen Portland tipe
I,II,III,IV, dan V yang memenuhi SNI 15-2049-2004 tentang Semen Portland.
Di dalam satu proyek hanya dapat digunakan satu merek semen, kecuali
jika iizinkan oleh Direksi Pekerjaan. Apabila hal tersebut diizinkan, maka
Penyedia Jasa harus mengajukan kembali rancangan campuran beton
sesuai dengan merek semen yang digunakan.
Gradasi agregat kasar dan halus harus memenuhi ketentuan yang diberikan
dalam spesifikasi teknis pada tabel 7.1.2.(1), tetapi atas persetujuan Direksi
Pekerjaan, bahan yang tidak memenuhi ketentuan gradasi tersebut masih
dapat digunakan apabila memenuhi sifat-sifat campuran yang disyaratkan
dalam spesifikasi teknis Divisi 7 pada Butir 7.1.1.(7) dan 7.1.3.(1) yang
dibuktikan oleh hasil campuran percobaan.
Air yang digunakan untuk campuran, perawatan, atau pemakaian lainnya harus
bersih, dan bebas dari bahan yang merugikan seperti minyak, garam, asam,
basa, gula atau organik. Air harus diuji sesuai dengan; dan harus memenuhi
ketentuan dalam SNI 03- 6817-2002 tentang Metode pengujian mutu air untuk
digunakan dalam beton. Apabila timbul keragu-raguan atas mutu air yang
diusulkan dan karena sesuatu sebab pengujian air seperti di atas tidak dapat
dilakukan, maka harus diadakan perbandingan pengujian kuat tekan mortar
semen dan pasir standar dengan memakai air yang diusulkan dan dengan
memakai air murni hasil sulingan. Air yang diusulkan dapat digunakan
apabila kuat tekan mortar dengan air tersebut pada umur 7 (tujuh) hari dan 28
(dua puluh delapan) hari mempunyai kuat tekan minimum 90% dari kuat
tekan mortar dengan air suling untuk periode umur yang sama. Air yang
diketahui dapat diminum dapat digunakan.
Prosedur pelaksanaan :
Seluruh beton yang digunakan dalam pekerjaan harus memenuhi kelecakan
(slump), kekuatan (strength), dan keawetan (durability) yang dibutuhkan
sebagaimana disyaratkan.
Penyedia Jasa harus mengirimkan rancangan campuran (mix design)
untuk masing-masing mutu beton yang akan digunakan sebelum pekerjaan
pengecoran beton dimulai, lengkap dengan hasil pengujian bahan dan
hasil pengujian percobaan campuran beton di laboratorium berdasarkan kuat
tekan beton untuk umur 7 dan 28 hari, kecuali ditentukan untuk umur-umur
yang lain oleh Direksi Pekerjaan. Proporsi bahan dan berat penakaran hasil
perhitungan harus memenuhi kriteria teknis utama, yaitu kelecakan
(workability), kekuatan (strength), dan keawetan (durability).
Mengajukan gambar kerja sesuai dengan kondisi lapangan setelah pekerjaan
lean concrete disetujui untuk melaksanakan pengecoran beton mutu sedang fc’
30 Mpa.
Sebelum dilakukan pengecoran, Penyedia Jasa harus membuat
campuran percobaan menggunakan proporsi campuran hasil rancangan
campuran serta bahan yang diusulkan, dengan disaksikan oleh Direksi
Pekerjaan, yang menggunakan jenis instalasi dan peralatan yang sama
seperti yang akan digunakan untuk pekerjaan (serta sudah memperhitungkan
waktu pengangkutan dll). Dalam kondisi beton segar, adukan beton harus
memenuhi syarat kelecakan (nilai slump) yang telah ditentukan. Pengujian kuat
tekan beton umur 7 hari dari hasil campuran percobaan harus mencapai
kekuatan minimum 90 % dari nilai kuat tekan beton rata-rata yang ditargetkan
dalam rancangan campuran beton (mix design) umur 7 hari. Bilamana hasil
pengujian beton berumur 7 hari dari campuran percobaan tidak
menghasilkan kuat tekan beton yang disyaratkan, maka Penyedia Jasa
harus melakukan penyesuaian campuran dan mencari penyebab ketidak
sesuaian tersebut, dengan meminta saran tenaga ahli yang kompeten di
bidang beton untuk kemudian melakukan percobaan campuran kembali
sampai dihasilkan kuat tekan beton di lapangan yang sesuai dengan
persyaratan. Bilamana percobaan campuran beton telah sesuai dan disetujui
oleh Direksi Pekerjaan, maka Penyedia Jasa boleh melakukan pekerjaan
pencampuran beton sesuai dengan Formula Campuran Kerja (Job Mix
Formula, JMF) hasil percobaan campuran.
Percobaan penghamparan
Kontraktor harus menyediakan peralatan dan menunjukkan metode
pelaksanaan pekerjaan dengan cara menghamparkan lapisan percobaan
sepanjang tidak kurang dari 30 m di lokasi yang disediakan oleh Kontraktor
di luar daerah kerja permanen. Percobaan tambahan mungkin diperlukan,
bila percobaan pertama dinilai tidak memuaskan.
Setelah percobaan pertama disetujui, maka percobaan sepanjang minimum 150
m tapi tidak lebih dari 300 m harus dilakukan di daerah kerja permanen.
Percobaan ini harus menunjukkan seluruh aspek pekerjaan dan harus
mencakup setiap tipe sambungan yang digunakan dalam pekerjaan.
Penghamparan perkerasan beton tidak boleh dilanjutkan sebagai pekerjaan
permanen sebelum ada persetujuan terhadap hasil percobaan.
Identifikasi peralatan yang digunakan
Untuk dapat mengidentifikasi jenis peralatan diperlukan data-data sebagai berikut:
Jenis, volume pekerjaan beton, spesifikasi teknik, lokasi pekerjaan dan kondisi
lapangan;
Jadwal waktu yang disediakan untuk masing-masing tahapan pelaksanaan
pekerjaan beton semen;
Metode kerja pelaksanaan pekerjaan yang akan digunakan;
Pelaksanaan pekerjaan perkerasan jalan beton memerlukan peralatan utama yang
meliputi:
Peralatan pencampur dan pengecoran beton (Batching Plant dan Truck Mixer),
Concrete Vibrator
Peralatan penyelesaian akhir (finishing) permukaan beton (Texturin).
Gergaji Beton
Pembuatan campuran beton yang bermutu tinggi memerlukan perhatian yang
sangat teliti pada setiap tahapan kegiatannya, mulai dari penetapan dan penakaran
komposisi bahan pembentuk beton, pencampuran, sampai kepada
pengangkutannya ke lokasi pengecoran.
Pada umumnya, proses produksi campuran dan pelaksanaan beton meliputi
kegiatan–kegiatan sebagai berikut :
Pembasangan acuan/bekkisting
Penakaran bahan-bahan beton;
Pencampuran (sesuai dengan job mix formula);
Percobaan penghamparan
Pengangkutan ke lokasi pengecoran;
Penempatan / pengecoran;
Pemadatan (konsolidasi);
Penyelesaian akhir / Perapihan (Finishing).
Pelaksanaan Pekerjaan
.Setelah bekisting, lembaran plastik dan alat – alat telah siap, penuangan beton dapat
dilaksanakan.
Sebelum melakukan pengecoran, dilakukan pengetesan beton dengan melakukan
slump test (ukuran slump 75 ± 25 mm)
Beton dituangkan perlahan – lahan sampai diperkirakan cukup untuk suatu area tertentu
sampai ketebalan yang direncanakan
Saat penuangan beton diperhatikan pula cuaca, suhu lingkungan, karena yang
digunakan slump-nya sangat rendah (± 5 cm). Cuaca disarankan cerah, tidak hujan. Dari
pengalaman untuk menghindari retak rambut permukaan, penuangan sebaiknya
dilakukan saat malam hari.
Perhatikan pula alat – alat penunjang kerja malam seperti lampu yang cukup, genset, dll.
Disaat musim penghujan perhatikan pula jalan kerja untuk menghindari cold joint.,
karena kesinambungan suplai beton sangat diperlukan sampai batas akhir.
Gambar 16. Pengecoran beton fc’3 Mpa
Beton ready mix yang sudah dituang ke dalam kotak (mal) yang telah disiapkan lalu
diratakan secara manual dengan menggunakan alat bantu tukang hingga permukaan
rata.
Proses perataan dan pemadatan terjadi karena alat concrete paver tersebut selain
meratakan juga bergetar sehingga terjadi pemadatan, sedangkan pada bagian ujung
(dekat) mal, pemadatan dibantu dengan menggunakan vibrator beton.
Untuk tempat – tempat tertentu yang volumenya lebih kecil dapat dilakukan dengan
tenaga orang dengan menggunakan cangkul atau sekop. Demikian seterusnya sampai
seluruh bidang dipenuhi dengan beton.
Gambar 17. Perataan dan pemadatan beton
Pembuatan alur (grooving) dilakukan secara manual setelah beton dalam keadaan
setengah mengeras ± 3 - 4 jam sesudah pengecoran
Pada beton yang sudah terlanjur mengeras, penggunaan tekanan pada alat grooving
malah akan mengakibatkan tercungkilnya split beton dan berakibat fatal pada kerapihan
permukaan beton. Beton yang belum mengeras juga kurang baik bila dilaksanakan
grooving, karena akan terlalu lembek hingga texture tidak akan terlihat rapih.
Berdasarkan pengalaman dan percobaan – percobaan yang dilakukan dilapangan,
didapatkan alat grooving yang paling efektif seperti pada gambar. Kadang – kadang
masih didapat garis texture kurang rapih, hal ini masih dapat diatasi dengan perapihan
texture dengan paku atau kawat, namun tetap dilakukan oleh tenaga yang terampil dan
sabar.
Pembukaan acuan/bekisting
Pembukaan bekisting dilakukan setelah umur rencana beton terpenuhi sesuai
dengan spesifikasi teknis yang disyaratkan yaitu Acuan harus tetap dipasang
selama paling sedikit 3 hari setelah penghamparan beton. Setelah acuan
dibongkar, permukaan beton yang terbuka harus segera dirawat.
Gambar 19. Pembongkaran acuan/bekisting
Pembukaan dan pembatasan lalu lintas
Perkerasan yang sudah jadi harus dilindungi terhadap kerusakan akibat operasi
dan lalu- lintas pelaksanaan sampai saat penyerahan hasil pekerjaan.
Dalam hal apa pun, peralatan pengangkut adukan atau mesin pengaduk
di lapangan, truk pengangkut adukan hanya diijinkan lewat di atas jalur
yang baru selesai, setelah perkerasan dirawat paling sedikit 4 hari dan
beton telah mencapai kekuatan (flexural strength) umur minimum 40 kg/cm2.
Sambungan melintang dan memanjang harus ditutup atau dilindungi dengan
cara lain sebelum lalu-lintas pelaksanaan diijinkan lewat. Semua tepi pelat
harus dilindungi dari kerusakan.
Perkerasan yang dilewati peralatan pelaksanaan harus tetap bersih, dan
ceceran beton atau bahan lainnya harus segera disingkirkan. Lalu-lintas
umum harus dicegah masuk dengan memasang rintangan dan rambu-rambu
sampai beton berumur paling sedikit 14 hari atau lebih lama bila diperlukan untuk
memperoleh kekuatan cukup. Lalu-lintas tidak diijinkan masuk selama
sambungan belum ditutup. Setiap perkerasan yang rusak akibat lalu-lintas /
peralatan pelaksanaan atau kareha hal lainnya sebelum penerimaan hasil
pekerjaan, harus diperbaiki atau diganti dengan metoda yang telah teruji.
Pengedalian mutu pekerjaan
Jenis Metode Banyaknya Spesifikasi Satuan
No Keterangan
Pengujian Pengujian Pengujian Pengujian
Job Mix
1 1
Formula
Setiap
mm
2 Slump Test - pengecoran 1 60-100
truk mixer
pada
pengecoran >
Kg/m2
3 Tes Kubus - 60 m3, per 20 350
m3 ada 1
sampel
pada
pengecoran >
Kg/m2
4 Tes Silinder - 60 m3, per 20 300
m3 ada 1
sampel
A. PENUTUP
Untuk melaksanakan pekerjaan dalam butir tersebut diatas, berlaku dan mengikat pula :
1. Gambar bestek yang dibuat Konsultan Perencana yang sudah disahkan oleh
Pemberi Tugas termasuk juga gambar – gambar detail yang diselesaikan oleh
Kontraktor dan sudah disahkan/disetujui oleh pengawas.
2. Rencana Kerja dan Syarat – Syarat ( RKS ).
3. Surat Perintah Kerja ( SPK ).
4. Surat Penawaran beserta lampiran – lampirannya.
5. Jadwal Pelaksanaan ( Tentative Time Schedule ).
6. Kontrak / Surat Perjanjian Pemborongan.
7. Instruksi – instruksi Direksi dan Pengawas.