| 0017595729311000 | Rp 1,908,812,132 | |
CV Anabia Construction | 01*5**3****03**0 | - |
CV Gading Cempaka | 10*0**0****07**1 | - |
| 0724180179121000 | - | |
| 0023522741311000 | - | |
| 0719241234412000 | - | |
CV Hidayah Pangeran Cimpago | 00*2**4****11**0 | - |
| 0963942735328000 | - | |
CV Cahaya Ratu Emas | 05*4**8****11**0 | - |
| 0417373065311000 | - | |
CV Setetes Embun | 10*1**1****26**9 | - |
| 0022437610201000 | - | |
| 0316856772541000 | - | |
| 0032008096311000 | - | |
| 0023910714315000 | - | |
CV Naka Konstruksi | 02*9**8****01**0 | - |
| 0210798070411000 | - | |
| 0922502109311000 | - | |
CV Pandu Raja | 05*6**3****11**0 | - |
Anurika Gama Mulia | 10*0**0****55**2 | - |
| 0928754233211000 | - | |
CV Himataengineering | 08*3**0****28**0 | - |
CV Catur Pilar Cakrawala | 04*5**1****01**0 | - |
| 0844256446311000 | - | |
| 0757027305216000 | - | |
CV Bintang Lintas | 09*9**1****28**0 | - |
| 0030245245202000 | - |
PEMERINTAH KOTA BENGKULU
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
HARAPAN DAN DOA KOTA BENGKULU
Jl. Let. Jend Basuki Rahmad No. 1 Telp/Fax (0736) 345100 Kota Bengkulu
SPESIFIKASI TEKNIS
PEKERJAAN
PENGADAAN RENOVASI GEDUNG CATHLAB
LOKASI
KOTA BENGKULU
TAHUN ANGGARAN
2025
SPESIFIKASI TEKNIS
Kegiatan :
Bangunan Gedung Kesehatan
Pekerjaan :
Pengadaan Renovasi Gedung Cathlab
Tahun Anggaran 2025
1.1 LATAR BELAKANG
Ruang Cathlab adalah ruang khusus di rumah sakit yang digunakan untuk
melakukan tindakan medis pada jantung dan pembuluh darah. Cathlab merupakan
singkatan dari Catheterization Laboratory yang berarti Laboratorium Kateterisasi
Jantung.
Catheterization laboratory (Cathlab) Merupakan fasilitas diagnostik intervensi
dibidang pelayanan penyakit jantung. Terletak di area Diagnostik And Intervetion center
yang dilengkapi dengan peralatan yang canggih dan modern dengan pelayanan
profesional, terintegrasi dan terencana dengan baik. Ruang Cathlab yang didesain
senyaman mungkin untuk pasien.
Untuk tercapainya visi dan misi dari RSHD Kota melakukan peningkatan sarana
maupun prasana yang ada di rumah sakit tersebut untuk memenuhi minat masyarakat
terhadap perkembangan Kesehatan yang cenderung meningkat. Peningkatan fasilitas
Gedung dan ruang di RSHD Kota Bengkulu akan mendorong peningkatan kualitas dalam
memberikan pelayanan Kesehatan kepada masyarakat kota Bengkulu maupun luar kota
bengkulu, pada tahun anggaran 2025 ini akan melaksanakan pembangunan sarana dan
prasarana pendukung infrastruktur berupa : Pengadaan Renovasi Gedung Cathlab RSHD
Kota Bengkulu yang nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan dalam bentuk
memberikan kenyaman dan Peningkatan Kualitas Pelayanan.
1.2 MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud Spesifikasi teknis ini adalah sebagai pedoman arahan untuk
mewujudkan Pengadaan Renovasi Gedung Cathlab dan mewujudkan pembangunan
berdasarkan masukan, kriteria dan proses yang harus dipenuhi sehingga
mendapatkan hasil yang ekonomis, berkualitas dan berfungsi secara optimal dan
melaksanakan rancang bangun/konstruksi khususnya yang berhubungan dengan
pekerjaan pembangunan sarana utama dengan mengikuti standar-standar/ketentuan
yang diberikan.
1.3 TARGET/SASARAN
Target/Sasaran yang ingin dicapai dalam pengadaan pekerjaan konstruksi
adalah tercapainya kualitas, kuantitas dan spesifikasi teknis bangunan yang sesuai
dengan perencanaan, tercapainya pembangunan sesuai dengan waktu pelaksanaan
yang direncanakan serta sesuai dengan ketentuan pengadaan yang berlaku.
1.4 NAMA ORGANISASI PENGADAAN BARANG/JASA
Nama organisasi yang menyelenggarakan/melaksanakan pengadaan jasa konstruksi
adalah:
Organisasi Perangkat Daerah : Pemerintah Kota Bengkulu Rumah Sakit Umum
Daerah Harapan dan Doa Kota Bengkulu
Pengguna Anggaran : dr. LISTA CERLYVIERA, MM
1.5 SUMBER DANA DAN PERKIRAAN BIAYA
Sumber dana yang diperlukan untuk membiayai pengadaan jasa konstruksi
PENGADAAN RENOVASI GEDUNG CATHLAB ini adalah APBD Kota Bengkulu tahun
anggaran 2025 Pagu Anggaran Dengan Nilai 1.919.280.440,00 (Satu Milyar
Sembilan Ratus Sembilan Belas Juta Dua Ratus Delapan Puluh Ribu Empat Ratus
Empat Puluh Rupiah ) Dengan HPS Rp 1.918.275.735,78 (Satu Milyar Sembilan Ratus
Delapan Belas Juta Dua Ratus Tujuh Puluh Lima Ribu Tujuh Ratus Tiga Puluh Lima
Koma Tujuh Delapan Rupiah)
1.6 RUANG LINGKUP, LOKASI PEKERJAAN DAN FASILITAS PENUNJANG
Ruang lingkup pekerjaan/batasan lingkup pengadaan jasa konstruksi
Rencana Pengadaan Renovasi Gedung Cathlab TAHUN ANGGARAN 2025 ini adalah
sebagai berikut:
A. PEKERJAAN PERSIAPAN
B. SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI
C. PEKERJAAN GEDUNG CATHLAB
1. PEKERJAAN TANAH DAN PASIR
2. PEKERJAAN BETON
3. PEKERJAAN PASANGAN
4. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK
5. PEKERJAAN INSTALASI MEDIS
6. PEKERJAAN PLAFOND
7. PEKERJAAN SANITASI & SANITAIR
8. PEKERJAAN KUSEN, PINTU & JENDELA
9. PEKERJAAN PENGECATAN
C. PEKERJAAN LAIN-LAIN
1.7 JANGKA WAKTU PELAKSANAAN
Jangka waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan/pengadaan jasa konstruksi
Pengadaan Renovasi Gedung Cathlab ini sampai selesai 100% (Seratus Persen)
dengan waktu pelaksanaan 150 ( Seratus Lima Puluh) hari kalender.
1.8 KELUARAN/PRODUK YANG DIHASILKAN
a) Keluaran yang dihasilkan dari kegiatan ini adalah terwujudnya
Pengadaan Renovasi Gedung Cathlab yang memenuhi kualitas, kuantitas dan
spesifikasi yang sesuai gambar desain, rencana kerja dan syarat dengan jangka
waktu yang telah dipersyaratkan.
b) Tersusunnya administrasi proyek (laporan harian, laporan mingguan,
laporan bulanan, request,backup data, As Built Drawing serta dokumen pendukung
lainya) yang tertib dan harus dilaporkan secara berkala (Perminggu) kepada
Pengguna Anggaran dan PPTK.
BAB 1
SPESIFIKASI BAHAN BANGUNAN KONSTRUKSI
1. Umum
Pekerjaan sipil meliputi kosntruksi –konstruksi pengaman seperti sloof, kolom,
dan balok. Persyaratan bahan dan pelaksanaannya harus sesuai dengan gambar-
gambar rencana. Secara umum spesifikasi bahan-bahan konstruksi dalam pekerjaan ini
adalah sebagai berikut:
Bahan Bangunan Penunjang
Pekerjaan sipil meliputi kontruksi-kontruksi pengaman seperti fondasi, kolom, balok,
sloof, dan lantai beton. Persyaratan bahan harus sesuai dengan standard SNI yang
berlaku serta gambar rencana. Secara umum bahan-bahan kontruksi dalam
pekerajaan ini adalah sebagai berikut.
A. Bahan Semen Beton & Semen Pasangan
Semen pada pengecoran Beton menggunakan Semen Padang.
Semen pada pasangan menggunakan Semen Padang.
TKDN 97,75%
B. Bahan Pasir Pasang & Pasir Urug
Pasir pada pengecoran harus menggunakan pasir gunung tidak mengandung garam,
tanah, atau batu bara atau material lain yang dapat merusak kualitas adukan.
Pasir Urug adalah pasir bercampur batu bukan mengandung tanah, garam, atau
batu bara.
C. Bahan Krikil & Koral Beton
Krikil beton yang digunakan adalah krikil 2/3 atau 1/2 cm.
Koral beton yang digunakan harus dalam kondisi bersih.
E. Bahan Besi Beton
Besi beton yang dipakai adalah fabrikasi pabrik KSTY SNI yang berukuran Ø6
polos, Ø8 polos, Ø10 polos. TKDN 43,82%
Kawat bendrat TKDn 53,29%
F. Bahan Kayu
Kayu yang dipakai adalah Kayu Kelas II-III TKDN 43,82%
G. Bata Merah
Menggunakan Batu Bata Merah
Nilai TKDN 0%
H. Bahan Arsitekture Pelapis Dinding dan Muebler
Multiplek 9 mm, 12 mm, 15mm dan 18 mm dengan Merk Palem
TKDN 43,82%
Multiplek 3 mm,,4 MM dengan Merk albasia
TKDN 66,65%
High Pressure Laminate (HPL) dengan Merk TACO TKDN 28,66%
Wallpaper
I. Bahan Arsitekture Penutup Langit langit dan Partisi
Rangka Hollow Galvanis 40.20 Merek DIAMON TKDN 61,59%
Bahan Plafon PVC TKDN 30,34%
J. Bahan Arsitekture Kusen Pintu dan Jendela
Rangka Alumunium Alexindo TKDN 60,71 %
Alumunium Composite Panel (ACP) TKDN 40,44 %
K. Bahan Arsitekture Penutup Lantai dan Dinding
Granit 60x60 Niro TKDN 70,40%
Granit 30x60 Niro TKDN 66,91%
Keramik 30x60 Roman TKDN 69,62%
Vinyl TKDN 66,91%
L. Bahan Arsitekture Pengecatan Dinding
Dinding Exterior Jotun TKDN 56,33%
Dinding Interior Jotun TKDN 56,33%
Cat Kayu /Besi Merek Propan TKDN 54,04%
Pengencer Merek Cobra Merah
Plamir Motar TKDN 62,34 %
K . Bahan Elektrikal dan Listrik
Lampu LED 18 Watt + Fitting Philips TKDN 33,41%
Lampu TL 18 Watt + KAP Philips TKDN 46,56%
Lampu Indirect Strip
Exhaust pan Panasonic TKDN 50,36%
Stop Kontak Panasonic TKDN 32,20%
Sakelar Panasonic TKDN 30,98%
Kabel NYM 3x2,5
Tdus
Pipa 5/8
Stop Kontak AC Panasonic TKDN 32,20%
Box Panel SDP TKDN 45,43%
AC Daikin 1 PK TKDN 39,72%
Kabel Tray TKDN 53,78%
Plat, pipa high pressure, katub kran, pressure qauqe TKDN 34,00%
safty, regulator manual, ball valve, blok kuningan TKDN 38,00%
M. Bahan Sanitasi
Pipa Instalasi Air Bersih yang digunakan dengan jenis PVC AW SNI Berukuran ½”
dan ¾” Merk Rucika TKDN 89,16%
Pipa Instalasi Air Kotor yang digunakan dengan jenis PVC D SNI Berukuran 4”
dan 2” Merk Rucika. TKDN 89,16 %
Closed Duduk American standar TKDN 30,63 %
Closed Jongkok Merek American standar TKDN 70,68%
Floor Drain TKDN 42,64 %
Wastafel Merek TOTO TKDN 64,68 %.
Kran Air TKDN 84,12 %.
Bak Sink TKDN 39,63%
N. PEKERJAAN KUNCI DAN KACA
Kunci Merek Dekson 78,08%
Engsel Pintu Merek Dekson 78,08%
Casement Merek Dekson 78,08%
Rambuncis Merek Dekson 78,08%
Handle Stainless Dekson 78,08%
Grendel Pintu Dekson 78,08%
Door Closer Dekson 78,08%
Floor Hinges Dekson 78,08%
Kaca Bening Asahimas TKDN 55,69 %
Kaca Reyban Asahimas TKDN 55,69 %
Kaca Tempered TKDN 64,94 %
Acrilik TKDN 10,00%
O. PEKERJAAN DISABILITAS
Pegangan Stainless Distabilitas TKDN 43,70%
Wall Guard / Handrail Stainless TKDN 58,64%
BAB II
Spesifikasi Peralatan Konstruksi dan Peralatan Bangunan
2.1. Peralatan Minimal
Memiliki kemampuan untuk menyediakan Fasilitas/Peralatan/Perlengkapan utama
minimal yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi ini, yaitu:
JUMLAH& KAPASITAS
SATUAN DAN UKURAN
NO NAMA PERALATAN
1
Truk Bak Terbuka 1 Unit 4 Ton (3000 cc –
3500 cc )
2 CONCRETE MIXER 1 Unit 0.35 M3
3 Jack Hammer 1 Unit 15 kg (1500 watt-
2000watt)
Genset Silent 1 Unit
4 5000 watt
14 “
5 Mesin Potong/ Cut Off 1 Unit
6 Scaffolding1,70M (1set = 50 Unit) 2 Set -
BAB III
SPESIFIKASI PROSES/KEGIATAN
1. Pekerjaan Persiapan
1. Langkah awal yang harus dilakukan Kontraktor adalah membuat time schedule kurva
S/ jadwal pelaksanaan pekerjaan konstruksi.
2. Metodologi pekerjaan harus mengikuti time schedule yang telah direncanakan
3. Tenaga kerja yang didatangkan kontraktor harus bekerja sesuai hari pertama dari
jadwal yang telah direncanakan
4. Penyediaan alat dan bahan sudah tersedia pada saat tenaga kerja akan memulai
pekerjaan.
5. Kontraktor harus memastikan lokasi proyek bersih dari sampah dan barang
inventaris digedung yang akan mengganggu jalannya proyek.
6. Papan nama proyek harus dipasang pada tempat yang bisa dilihat semua kalangan.
2. Pekerjaan Konstruksi Bangunan
1. Metodologi Pengukuran, Pemasangan Bouwplank menjelasakan dari spesifikasi bahan
yang digunakann hingga pelaksanaan. Pada tahap ini dapat dilakukan pada minggu
pertama setelah kontrak
2. Metodologi Pekerjaan Pondasi seperti, Galian tanah, Pekerjaan urugan/ dan peralatan.
Setelah memperoleh data pengukuran bowplank tahap ini dilakukan pada minggu
kedua
3. Pek. Pembuangan beton dan dinding bekas Pembongkaran mengkuti instruksi
Pengawas. Untuk melakukan pembuangan memerlukan waktu paling lama 2 hari
dalam minggu kedua
4. Pekerjaan Struktur (Beton) bangunan harus mangacu pada Rencana Kerja yang ada
menggunkanan , K175. Setelah lokasi bersih dari bongkarang tahap bton bisa
dilanjutkan dan memerlukan paling lama 4 hari mulai dari pengukuran dan perakitan
pembesian.
5. Pekerjaan Konstruksi Kayu begisting Cetakan pelaksanaan lingkup pekerjaan,
referensi standar dan spesifikasi bahan, pelaksanaan konstruksi.
6. Pekerjaan Pas. Batu Bata, Plesteran dan Acian meliputi lingkup pekerjaan,
pengendalian pelaksanaan, spesifikasi bahan, campuaran, pelaksanaan. Tahap ini bisa
dilanjutkan apabila pekerjaan struktur beton sudah selesai disiapkan.
7. Pekerjaan Partisi Kayu meliputi Backdrop, Rangka partisi, Lapisan HPL dan Lapisan
WPC mengikuti intruksi Pengawas. Pekerjaan ini dapat dilaksanakan jika pekerjaan
bagian atas/ plafon sudah dilaksanakan. Dan tahap ini memerlukan waktu yang cukup
lama karna harus ada ketelitian pada ukuran lapis partisi untuk menyesuaikan kondisi
dilapangan
8. Pekerjaan Plafon PVC dan Rangka Plafon harus mengacu pada rencana kerja sesuai
dengan jarak rangka yang direncana. Pekerjaan plafon bisa memerlukan waktu 2
minggu paling lama, karna jika tidak dipercepat akan mengganggu aktifitas digedung
tersebut, karena gedung masih menjalankan aktifitas seperti biasa
9. Pekerjaan Lantai Granit, Lantai Vinyl mengacu pada rencana kerja dan intruksi
pengawas. Pekerjaan lantai tidak memerlukan waktu yang lama karna mengingat
volume yang dikerjaan tidak terlalu luas
10. Pekerjaan Instalasi Listrik harus mengikuti rencana kerja sesuai referensi standar dan
spesifikasi bahan yang telah ditentukan. Instalasi elektrikal akan dilakukan sebelum
dan sesudah pemasangan plafon serta lapisan partisi karna jalur akan tertutup pada
bagian plafon dan menampilkan lampu dan lapisan dinding seperti acian dan partisi
11. Pekerjaan Sanitair Listrik harus mengikuti rencana kerja sesuai referensi standar dan
spesifikasi bahan. Pekerjaan ini akan dilakukan bersamaan dengan pekerjaan beton
12. Pekerjaan Meja Custom mengikuti instruksi Owner dan Pengawas
13. Pekerjaan pengecatan dapat berdasarkan referensi standar dan spesifikasi bahan.
Item pekrjaan ini bisa dilakukan jika sudah dilakukan pekerjaan yang lainnya
3. Pekerjaaan Akhir
1. Untuk pekerjaan Arsitektur (Finising) menjelaskan sesuai tahapan pekerjaan yang
mencapai 100 % dengan hasil maksimal
2. Pekerjaan Arsitektur Metodologi mengakomodir peraturan-peraturan perundangan
Struktur Gedung seperti Standar Nasional Indonesia (SNI).
3. Pekerjaan Pembersihan Akhir meliputi pembersihan selama pelaksanaan,
pembersihan akhir seluruh limbah proyek
BAB IV
SPESIFIKASI METODE KONSTRUKSI/METODE PELAKSANAAN/METODE KERJA UMUM
PEKERJAAN UTAMA
A. PEKERJAAN PERSIAPAN
B. SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI
C. PEKERJAAN GEDUNG CATHLAB
1. PEKERJAAN TANAH DAN PASIR
2. PEKERJAAN BETON
3. PEKERJAAN PASANGAN
4. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK
5. PEKERJAAN INSTALASI MEDIS
6. PEKERJAAN PLAFOND
7. PEKERJAAN SANITASI & SANITAIR
8. PEKERJAAN KUSEN, PINTU & JENDELA
9. PEKERJAAN PENGECATAN
C. PEKERJAAN LAIN-LAIN
1. Kontraktor harus membuat time schedule kurva S /jadwal pelaksanaan
pekerjaan konstruksi.
2. Kontraktor harus membuat metodologi kerja sesuai dengan item pekerjan yang
tertera di BOQ.
3. Metodologi harus sesuai dengan surva S, baik waktu pelaksanaan atau
bobot pekerjaan.
4. Metodologi harus mengakomodir item pekerjaan administasi dan dokumentasi
5. Metodologi harus mengakomodir pekerjaan persiapan sarana dan prasarana
untuk membangun fasilitas proyek seperti direksi keet, gudang dan barak kerja.
6. Dalam pekerjaan struktur metodologi mengakomodir peraturan-peraturan
perundangan Struktur Gedung seperti Standar Nasional Indonesia (SNI).
7. Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan dengan sesuai Rencana Spesifikasi
Teknis yang ada.
1. Pemeriksaan dan Persyaratan Bangunan.
A. Bahan Bangunan
Semua bahan-bahan yang akan dipergunakan harus mendapat persetujuan lebih
dulu dari Pengawas/Pemberi Tugas dengan memperlihatkan contoh dari masing-
masing bahan.
2. Bahan-Bahan Yang Tidak Memenuhi Syarat.
A. Bahan-bahan yang dinyatakan tidak memenuhi syarat oleh
Pengawas/Tim pengelola pembangunan dan tidak disangkal oleh Kontraktor,
harus dikeluarkan/diangkut dari lokasi tempat pekerjaan dalam kurun waktu
paling lambat 2 x 24 jam yang dilaksanakan oleh Kontraktor.
B. Jika Kontraktor melalaikan atau mengabaikan waktu tersebut diatas, maka
bahan- bahan tersebut akan dikeluarkan oleh Pengawas/tim pengelola
pembangunan atas biaya Kontraktor.
C. Pemberi Tugas tidak menyediakan bahan atau peralatan apapun dalam
rangka pelaksanaan pekerjaan.
A. PEKERJAAN PERSIAPAN
A.1 Pek. Papan Nama Kegiatan
a. Syarat dan metode
pelaksanaan
1. Kontraktor wajib membuat dan memasang papan nama proyek dibagian
depan halaman proyek sehingga mudah dilihat umum.Ukuran dan
redaksi papan nama tersebut 90 x 150 cm dipasang dengan tiang
setinggi 200 cm. Kontraktor tidak diijinkan menempatkan atau
memasang reklame dalam bentuk apapun di halaman dan disekitar
proyek tanpa ijin dari Pemberi Tugas.
2 Kontarktor harus menyediakan daya listrik atas tanggungan / biaya
sendiri sementara yang dibutuhkan untuk peralatan dan penerangan
serta keperluan lainya dalam melaksanakan pekerjaan ini. Pemasangan
system listrik sementara ini harus memenuhi persyaratan yang
berlaku.Kontraktor harus mengatur dan menjaga agar jaringan dan
peralatan listrik tidak membahayakan para pekerja di lapangan.
5. Kontraktor harus menyediakan/ memasang pengaman secukupnya
disekeliling konstruksi bangunan untuk mencegah jatuhnya bahan-
bahan bangunan dari atas yang membahayakan baik pekerja maupun
aktivitas lain disekitar bangunan.
b). Bahan yang digunakan
Kayu Ukuran 4/6, 5/7
Papan 2/20
Plastik Terpal
Plywood 6 mm
Paku
Rambu-rambu
Papan Informasi
c). Peralatan yang digunakan
Skop
Gergaji
Pukul besi
Meteran
Alat penyiku / mistar
Truk Bak Terbuka
Gerobak dorong
d). Identifikasi Bahaya
Tergores Benda Tajam, Alat tukang
Terhirup debu dan Iritasi mata akibat debu
Terpeleset
e). Resiko
Terluka,
Tergangu pernafasan dan Penglihatan
Memar,
f). Pengendalian :
Menyediakan obat-obatan yang bersifat sebagai penaganan tahap
pertama, wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), alat Pelindung
Mata (Goggles, Spectacles), Helm Pelindung (Safety Helmet), Sepatu
Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan pekerja bangunan dan
Rompi
B.1 Pek. Administrasi dan Dokumentasi
a. Syarat dan Metode Pelaksanaan
admintrasi berupa laporan harian mingguan,bulanan dan request dan
asbulit drawing dikerjakan oleh kontraktor dan di setujui oleh pengawas
konsultan diketahui oleh direksi teknis.
Dokumentasi 0%,50%,100% dibuat oleh kontraktor
Laporan dan dokumentasi dilaporan kan setiap bulan
b. Bahan yang digunakan
Kertas A4,A3
Tinta
Pena
c. Peralatan yang digunakan
Printer A3 DAN A4
d. Identifikasi Bahaya
Terkena Alat Kerja
e. Resiko
Terluka
f. Penanggulangan Kecelakaan Kerja
Memperhatikan saat bekerja ikuti instrukisi Direksi
C.1 Pek. Bowplank dan Pengukuran
a) Syarat dan metode pelaksanaan
Setelah area lokasi pekerjaan sudah dibersihkan dari peralatan dan barang-
barang yang ada diruangan, kontraktor harus malakukan pengukuran
kembali untuk menentukan ketersedian lahan sudah sesuai dengan
kebutuhan luas bangunan.
Kontraktor kemudian melakukan pekerjaan pemasangan bowplank yang
dijadikan acuan untuk pelaksanaan pekerjaan. Pemasangan bowplank
disesuaikan dengan denah gambar kerja atau sesuai dengan instruksi dari
Pihak Direksi.
Pemasangan bowplank harus dibuat kokoh, tidak mudah rusak dan tidak
bergeser dari titik acuan
b). Bahan yang digunakan
Kayu, Papan
Paku
Benang tukang
Terpal
c). Peralatan yang digunakan
Palu Besar (Godam) dan Palu
Kecil
Kapak dan Gergaji
Meteran
d. Identifikasi Bahaya
Terkena benda tajam / alat tukang
Terpeleset
e. Resiko
Terluka
Memar
b. Pengendalian :
Menyediakan obat-obatan yang bersifat sebagai penaganan tahap pertama,
wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa Helm Pelindung (Safety
Helmet), Sepatu Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan pekerja bangunan.
D.1 Pembongkran 1 m3 Beton Bertulang, Pembongkran 1 m3 Dinding Tembok
Bata
c) Syarat dan metode pelaksanaan
Tahapan pelaksanaaan
1. Persiapan Awal
Mulai dengan mencari tahu ukuran struktur beton yang akan
dibongkar, usahakan tempat yang bakal ditimpa robohan beton harus
bebas dari benda apapun. Pastikan pula tidak ada orang lain yang
berlalu-lalang di area kerja.
2.Pengecekan Struktur
Beton existing memiliki beton solid. Akibatnya adalah dibutuhkan
usaha yang lebih keras untuk membongkar beton solid.
3. Pembongkaran Beton
Proses pembongkaran beton biasanya dikerjakan menggunakan jack
Hammer kapasitas 15 kg (1200 watt-2000watt) karena bisa
mempercepat pekerjaan dan ukuran. jadi diperlukan ukuran yang tidak
terlalu menimbulkan getaran dan kebisingan yang berlebih, palu beton
(bogem) dan pahat serta diwajibkan menggunakan arus listrik dari
genset silent 5 KVA yang mampu menampung beban 1200 watt-2000
watt dan bermanfaat karena tidak mengganggu arus listrik rumah sakit
dan tidak menimbulkan penambahan suara bising di area kerja karena
area kerja masih terdapat ruang yang digunakan untuk aktifitas
kegiatan kesehatan
Kadang-kadang perlu memakai alat mesin potong untuk memotong
tulangan besi yang masih menancap kuat di beton. Usahakan bidang
kerja pembongkaran jangan terlalu luas. Cukup sekitar 1 x 1 m per
suatu waktu. Jadi bila telah berhasil membongkar bidang beton
seluas 1 m2, Anda dapat berpindah ke bidang di sebelahnya dengan
luas area yang sama. Selain akan memudahkan proses pekerjaan, risiko
bahaya yang ditimbulkannya pun dapat diperkecil. Pembongkaran
cukup dikerjakan dengan menggunakan jack hammer dan memukulkan
palu beton pada struktur yang akan dihancurkan tadi, dimulai dari
bagian atas ke bawah. Bagian struktur yang susah dihancurkan bisa
dibantu menggunakan pahat.
4. Pembongkaran Tepi
Tahap ini mempunyai risiko kerusakan yang sangat tinggi karena
struktur beton yang bakalan dibongkar tersambung langsung dengan
struktur di sebelahnya. Jika salah dalam melakukan pembongkaran,
bukan tak mungkin struktur di sampingnya tadi akan turut roboh.
Oleh sebab itu, harus melakukan pekerjaan ini dengan ekstra hati-
hati. Sebelum dilakukan pembongkaran, sebaiknya struktur beton tadi
disiram menggunakan air terlebih dahulu supaya kondisinya menjadi
lebih lunak. Setelah itu, Anda dapat menghantam beton tersebut
memakai palu, dimulai dari sisi yang paling luar sedikit demi sedikit.
5. Setelah selesai melakukan pembongkaran, hasil bongkaran segera
diangkut ketempat pembuangan menggunakan Truk Bak Terbuka
karena lokasi gedung ditengah kota dan mampu mempunyai daya
tampung matrial besar sehingga truk bak terbuka dianggap mampu
menjadi alat akomodasi pengangkutan material di pekerjaan cathlab
b). Bahan yang digunakan
c). Peralatan yang digunakan
Jack hammer
Skop
Mesin Potong/ Cut off
Palu Besar (Godam) dan Palu Kecil
Truk Bak Terbuka
d. Identifikasi Bahaya
Terkena benda tajam / alat tukang
Terpeleset
tertimpah
e. Resiko
Terluka
Memar
b. Pengendalian :
Menyediakan obat-obatan yang bersifat sebagai penaganan tahap pertama,
wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa Helm Pelindung (Safety
Helmet), Sepatu Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan pekerja bangunan,
Masker penutup mulut, pelindung mata
1.1 PEKERJAAN TANAH DAN PASIR
1.1.1. Pek. Galian Tanah Pondasi Tapak
a. Metode Pelaksanaan
Galian tanah dilaksanakan pada semua bagian dari wilayah pekerjaan
yang masuk dalam tanah dan semua bagian tanah yang harus dibuang.
Galian tanah harus dilaksanakan seperti yang tertera dalam gambar,
baik mengenai lebar, panjang, dalam, kemiringan dan sebagainya.
Tanah bekas galian harus ditempatkan pada daerah yang tidak
menggangu jalannya pekerjaan, kelebihan tanah galian yang tidak
dipakai untuk timbunan harus dikeluarkan/diangkat dari lokasi
pekerjaan.
b. Peralatan
Alat Tukang
Alat Gali (Manual)
c. Bahan
Papan
Paku
d. Identifikasi Bahaya
Terjatuh , Terkena Benda Tajam, Mata terkena debu, Terhirup Debu
e. Resiko
Memar, Terluka, Tergangggunya , Penglihatan, Terganggunya, Pernafasan
f. Pengendalian awal
Menyediakan obat-obatan yang bersifat sebagai penaganan Mengunakan
(Obat Luka/ Perban Iritasi Mata Dan Kulit Dan Pernapasan) dan wajib
menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker,alat Pelindung Mata
(Goggles, Spectacles), Pelindung (Safety Shoes) (Helmet), Sepatu
Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan
1.1.2. Pek. Urugan Pasir
a) Syarat dan metode pelaksanaan
Urugan pasir agar diberikan pada seluruh dasar galian untuk Lantai,
Pondasi Plat, serta bagian lainnya dengan ketebalan urugan pasir sesuai
dengan gambar rencana.
Pasir yang digunakan untuk bahan urugan harus pasir yang bergradasi baik
dan disetujui pengawas lapangan.
b) Bahan yang digunakan
Pasir Ururg
air kerja
c) Peralatan yang digunakan
Skop
Cangkul
Gerobak dorong
Truk Bak Terbuka
d) Identifikasi Bahaya
Terkena peralatan kerja yg tajam
Terpeleset
Iritasi mata
Terhirup debu pasir
e) Resiko
Luka
Memar, keseleo
Terganggu penglihatan
Tergangguna Pernapasan
f) Pengendalian
wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker,alat Pelindung
Mata (Goggles, Spectacles), Helm Pelindung (Safety Helmet), Sepatu
Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan pekerja bangunan.
2 PEKERJAAN BETON
2.1 .Pek. Beton Kolom Praktis 13/13 cm K. 175, Pek. Beton Balok 10/15 cm, Beton
Sloof 15/25 Fc 15 atau K. 175
a. Syarat dan metode pelaksanaan
Dalam persiapan pengecoran semua bagian-bagian yang akan dicor
harus bersih dan bebas dari kotoran agar terhindar dari kerusakan beton.
Kemudian Ketika bekisting telah dipasang maka siap untuk di cor
Menuangkan adukan beton yang sudah diaduk dengan menggunakan
mesin molen dengan kapasitas 0,35 m3 dikarena lahan kosong yang bisa
digunakan untuk proses pengadukan sempit dan tidak diperkenankan
menggunakan adukan manual yang mana diharapkan bisa mempercepat
proses pelaksanaan dan agar didapat mutu beton yang di inginkan yaitu f’c
= 15 Mpa (Beton K175) untuk Pek. Beton Kolom Praktis 13/13 cm Pek.
Beton Balok 10/15 cm, Pek. Bton Sloof 15/20
Pengecoran ke dalam cetakan harus sesuai sebelum adukan mulai
mengental, yang dalam keadaan normal biasanya dalam waktu 30 menit.
Pengecoran suatu unit atau bagian dari pekerjaan harus dilakukan tanpa
berhenti dan tidak boleh terputus tanpa adanya persetujuan pemberi
tugas. Tidak boleh mengecor pada waktu hujan, kecuali Kontraktor
mengambil tindakan pencegahan kerusakan yang dapat disetujui
pemberi tugas.
Pengangkutan alat concrate mixer bisa menggunakan truk bak terbuka dan
dapat juga mengangkut bahan material lainnya sehingga bisa
mengefisienkan waktu
b. Bahan yang digunakan.
Paku
Pasir beton
Semen Portland
Batu Split 2/3
Air
c. Peralatan yang digunakan
Peralatan Tukang
Gerobak Dorong
Concrate Mixer
Truk Bak Terbuka
d. Identifikasi Bahaya
Terhirup debu semen
Iritasi mata
Terjatuh dari ketinggian
Terkena benda tajam / peralatan Kerja
e. Resiko
Gangguan pernafasan
Gangguan penglihatan
Memar, Keseleo
Terluka
f. Pengendalian
wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker, alat
Pelindung Mata (Goggles, Spectacles), Helm Pelindung (Safety Helmet),
Sepatu Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan pekerja bangunan Safety
2.2 PEKERJAAN PEMBESIAN
a. Syarat dan metode pelaksanaan
Memasang besi tulangan dengan jumlah dan ukuran yang disesuaikan
dengan gambar rencana
Pemotongan Besi menggunakan mesin potong/ Cut off 14” untuk
mempercepat pekerjaan dan didukung dengan tenaga genset silent
5KVA
Besi beton harus dari baja U.24 dengan tegangan leleh 2400 kg/cm2 dan
tegangan yang diijinkan 1400 kg/cm2
Kawat pengikat harus dari baja lunak dengan diameter minimum 1 mm
serta tidak bersepuh seng dan yang telah dipijarkan terlebih dahulu.
Penyimpanan harus tidak menyentuh tanah dan tidak boleh disimpan
diudara terbuka terlalu lama.
Bilamana sesuai pengalaman/pendapat Kontraktor ditemui kekeliruan atau
perlu penyempurnaan pada pembesian pada gambar kontrak atau
perubahan lainnya, maka Kontraktor segera memberitahukan atau
mengusulkan penyempurnaan yang dimaksud kepada pemberi tugas untuk
persetujuan atau pengecekan
b. Bahan yang digunakan.
Besi tulangan(Sesuai dengan Gambar Kerja)
Kawat pengikat besi / bendrat c. Peralatan yang digunakan
Peralatan Tukang
c. Peralatan yang digunakan
Mesin Alat Pemotong Besi/ Cut Off
Truk Bak Terbuka
d. Identifikasi Bahaya
Terhirup debu Besi
Iritasi mata terkena debu Besi
Terkena benda peralatan Kerja
Tertusuk Besi
e. Resiko
Gangguan pernafasan
Gangguan penglihatan
Terluka
Terluka
f. Pengendalian
wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker, alat Pelindung
Mata (Goggles, Spectacles), Helm Pelindung (Safety Helmet), Sepatu
Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan pekerja bangunan Safety
2.3 PEKERJAAN BEGISTING
2.3.1 Pek. Begisting Sloof 15/25 cm
a. Syarat dan metode pelaksanaan
Bahan harus dibuat dari papan kayu bermutu bagus dan lurus, bisa
menggunakan Plywood dengan ketebalan tergantung dari kualitas dan
jarak penguat cetakan tersebut. Untuk ukuran bekisting dipotong
menggunakan alat mesin potong/ cut off karna alat bisa multifungsi sebagai
alat potong dan agar ukuran semua sama dan cepat dalam pelaksanaan
Perakitan Perancah/Begisting.Cetakan dirakit dan diberi penguat serta
disangga sedemikian rupa, sehingga tidak ada perubahan bentuk akibat
getaran atau lengkungan dikarenakan tekanan adukan beton yang
cair/padat. Pada cetakan kolom dan dinding harus ada bagian yang
mudah dibuka untuk menyingkirkan kotoran dan keperluan pengecoran.
Cetakan kayu harus bersih dan dibasahi sebelum pengecoran dan dicegah
penggenangan air pada bagian bawah cetakan
Memasang bekisting dipasang kuat dan rapih serta dibenang.
Dalam persiapan pengecoran semua bagian-bagian yang akan dicor
harus bersih dan bebas dari kotoran agar terhindar dari kerusakan beton.
Kemudian Ketika bekisting telah dipasangn maka siap untuk di cor.
Dengan menggunakan checklist pengecoran, surat ijin pengecoran diajukan
kepada Direksi. Setelah diadakan pengecekan ol eh direksi, dan ijin
pengecoran telah ditanda tangani/ dijinkan, maka pengecoran dapat segera
dilaksanakan.
Bekisting dapat dibongkar setelah umur beton memenuhi ketentuan
yang dipersyaratkan
b. Bahan yang digunakan.
Kayu kelas IV
Paku 5 cm – 12 cm
Minyak bekisting
c. Peralatan yang digunakan
Peralatan Tukang
Gergaji Kayu
Palu
Mesin potong / cut off 14”
Truk Bak Terbuka
d. Identifikasi Bahaya
Terhirup debu/Serbuk Kayu
Iritasi mata terkena debu/Serbuk
Terkena benda peralatan Kerja
Tertimpa matrial
kayu
e. Resiko
Gangguan pernafasan
Gangguan penglihatan
Terluka
Memar
f. Pengendalian
wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker, alat
Pelindung Mata (Goggles, Spectacles), Helm Pelindung (Safety Helmet),
Sepatu Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan pekerja bangunan Safety
2.4 Pek. Begisting Kolom 13/13 cm, Pek. Begisting balok 10/15 cm
a. Syarat dan metode pelaksanaan
Bahan harus dibuat dari papan kayu bermutu bagus dan lurus, bisa
menggunakan Plywood dengan ketebalan tergantung dari kualitas dan
jarak penguat cetakan tersebut. Untuk ukuran bekisting dipotong
menggunakan alat mesin potong/ cut off karna alat bisa multifungsi sebagai
alat potong dan agar ukuran semua sama dan cepat dalam pelaksanaan
Perakitan Perancah/Begisting.Cetakan dirakit dan diberi penguat serta
disangga sedemikian rupa, sehingga tidak ada perubahan bentuk akibat
getaran atau lengkungan dikarenakan tekanan adukan beton yang
cair/padat. Pada cetakan kolom dan dinding harus ada bagian yang
mudah dibuka untuk menyingkirkan kotoran dan keperluan pengecoran.
Cetakan kayu harus bersih dan dibasahi sebelum pengecoran dan dicegah
penggenangan air pada bagian bawah cetakan
Memasang bekisting dipasang kuat dan rapih serta dibenang.
Dalam persiapan pengecoran semua bagian-bagian yang akan dicor
harus bersih dan bebas dari kotoran agar terhindar dari kerusakan beton.
Kemudian Ketika bekisting telah dipasangn maka siap untuk di cor.
Dengan menggunakan checklist pengecoran, surat ijin pengecoran diajukan
kepada Direksi. Setelah diadakan pengecekan ol eh direksi, dan ijin
pengecoran telah ditanda tangani/ dijinkan, maka pengecoran dapat segera
dilaksanakan.
Bekisting dapat dibongkar setelah umur beton memenuhi ketentuan
yang dipersyaratkan
b. Bahan yang digunakan.
Kayu kelas IV
Paku 5 cm – 12 cm
Kayu balok kelas IV
Plywood tebal 9 mm
Dolken kayu 7-9 mm
c. Peralatan yang digunakan
Peralatan Tukang
Gergaji Kayu
Palu
Mesin Potong
d. Identifikasi Bahaya
Terhirup debu/Serbuk Kayu
Iritasi mata terkena debu/Serbuk
Terkena benda peralatan Kerja
Tertimpa matrial kayu
e. Resiko
Gangguan pernafasan
Gangguan penglihatan
Terluka
Memar
f. Pengendalian
wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker, alat
Pelindung Mata (Goggles, Spectacles), Helm Pelindung (Safety Helmet),
Sepatu Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan pekerja bangunan Safety
3. PEKERJAAN PASANGAN
3.1 Pek. Pas. Dinding 1/2 Batu Bata 1: 4
a. Syarat-syarat dan metode pelaksanaan Pelaksanaan
Pertama dilakukan persiapan dengan cara membersihkan area
yang akan dipasang dinding bata merah, menghitung volume
pekerjaan dan kebutuhan material yang dibutuhkan.
Buat marking jalur-jalur dinding dua sisi setelah dinding dan
dibuat tanda posisi kolom praktis, ring balok, dan lubang kusen.
Bata merah direndam dulu (sampai gelembung udaranya
hilang)
sebelum dipakai untuk mengurangi penyerapan air.
Memasang bata merah pada jalur marking serta jalur benang
acuan yang telah dipasang pada profil kayu pada ujung jalur
dinding lapis demi lapis sampai setinggi 1 m dengan
menggunakan adukan 1 pc : 4 ps.
Pada pelaksanaannya, adukan semen pasir tersebut
diaplikasikan secara merata ke permukaan bata merah.
Kemudian bata merah disusun di atas adukan mortar tersebut
sambil terus diperiksa kerataan pasangannya. Kemudian bata
merah dipukul perlahan sampai mencapai elevasi yang
diinginkan.
Periksa kelurusan serta vertikal pasangan bata merah, apabila
sudah benar dan sesuai dengan yang diinginkan maka lanjutkan
pemasangan sampai dengan tinggi maksimum 1 m,
kemudian periksa lagi kelurusan dan vertikalnya, setelah itu
dilanjutkan cor kolom praktis dan dilanjutkan pemasangan
bata merah sampai elevasi yang ditentukan dan cor kolom
praktis sampai elevasi sesuai gambar
Untuk pekerjaan pemasangan dinding batu bata di area yang
tinggi, harus menggunakan Scafolding
Pengangkutan bahan batu bata bisa menggunakan truk bak
terbuka dengan kapasitan muatan besar dan masih dianggap layak
untuk ditengah kota bisa satu kali pengantaran
b. Bahan yang digunakan
Bata merah
Semen
Pasir
Air
c. Peralatan yang digunakan
Saringan Pasir,
Peralatan Tukang spt Cangkul, Sekop, Ember, Sendok Semen, Dolak,
Meteran, Waterpass, Profil Kayu dan Benang Nylon, Scafolding
Truk bak terbuka
d. Identifikasi Bahaya
Terjatuh dari Ketinggian
Tertimpa bata
Iritasi Mata
Terhirup debu bata/ semen
e. Resiko
Memar
Terluka
Gangguan Penglihatan
Gangguan pernapasan
f. Penanggulangan Kecelakaan Kerja
wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker,alat
Pelindung Mata (Goggles Spectacles), Helm Pelindung (Safety Helmet),
Sepatu Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan pekerja bangunan
dan Safety belt (sabuk pengaman)
1.9.4. Pek. Plesteran Dinding 1 : 4
a. Syarat-syarat dan metode Pelaksanaan Berikut ini langkah-langkah
pelaksanaan pekerjaan plesteran :
Pekerjaan plesteran dimulai dengan jalan membuat kepalaan
plesteran pada sisi vertikal. Kepalaan dibuat dengan cara
memasang paku pada sisi atas dinding, memasang lot pada paku
tersebut, kemudian memasang paku di bawahnya dengan jarak 1
atau 2 m sesuai panjang jidar/sipatan. Lakukan pemlesteran pada
vertikal, lebar 10 cm, ratakan dengan jidar. Kepalaan dibuat
setiap jarak 1 m sepanjang dinding yang akan diplester. Diamkan
kepalaan plesteran paling tidak 1 hari supaya kering.
Buatlah adukan plesteran dari campuran pasir, semen, dan air
dengan perbandingan sesuai spesifikasi bangunan yang ingin dibuat
(1:2 untuk trastam dan 1:4 pasangan selain trasram). Jangan lupa
perhatikan pula contoh adukan yang disarankan pada kemasan sak
semen. Penggunaan komposisi bahan bangunan yang tepat akan
menghasilkan adukan plester yang memiliki kualitas tinggi.
Sebelum melakukan pekerjaan plesteran, pasangan bata merah
disiram atau dibasahi dengan air. Air yang digunakan untuk
membasahi dinding dan mencampur adukan plesteran tidak boleh
mengandung zat kimia seperti asam dan garam.
Selanjutnya adukan plesteran dapat dikamprotkan secara
merata.
Proses pengamprotan dari bawah ke atas di antara ke dua kepalaan
plesteran, setelah itu ratakan dengan menggunakan kasut dan jidar
aluminium hingga rata dan halus. Untuk jidar yang digunakan harus
lebih panjang dari jarak kepalaan plesteran, rata dan lurus. Biarkan
plesteran mengeras 3-4 hari.
Lakukan curing Perawatan plesteran dengan cara dibasahi minimal
1 kali per hari selama 3 hari.
Setelah plesteran kering/ keras dan rata sesuai dengan
yang diinginkan kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan acian.
Untuk pekerjaan plesteran di area yang tinggi, herus menggunakan
Scafolding
b. Bahan yang digunakan
Air
Semen Portland
Pasir Sungai/ Pasir Pasangan
c. Alat yang digunakan.
Concret Mixer/ Beton Molen
Alat Ukur (Meteran)
Sekop
Cangkul
Sendok Semen
Raskam besi dan kayu
Benang
Selang air
Waterpass
Gerobak dorong
Scafolding
d. Identifikasi Bahaya
Terkena benda tajam / peralatan kerja
Terhirup debu
Iritasi mata
Jatuh dari ketinggian
e. Resiko
Terluka
Terganggu pernafasan
Terganggu penglihatan
Memar
f. Pengendalian
wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker,alat
Pelindung Mata (Goggles, Spectacles), Helm Pelindung (Safety Helmet),
Sepatu Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan pekerja bangunan
dan Sabuk pengaman (safety belt)
1.9.5. Pek. Acian dinding dan kolom
d) Syarat-syarat dan metode Pelaksanaan
Pelan-pelan menaburkan semen kedalam air, cukup ditaburkan saja
dan tidak boleh diaduk karena dapat menyebabkan semen
menggumpal serta cepat kering sehingga tidak dapat digunakan untuk
bahan acian dinding.
Menyiram dinding yang akan diaci dengan air hingga basah, hal
ini dimaksudkan agar nantinya dinding tidak banyak menyerap air
semen.
Melaburkan bahan acian semen yang sudah jadi ke permukaan
dinding dengan menggunakan cetok.
Menghaluskan pekerjaan acian dengan kertas bekas semen
sehingga permukaan benar-benar rata dan halus.
Usahakan agar hasil acian dinding tidak cepat kering, bisa dengan
cara menyiram air. karena pengeringan yang terlalu cepat dapat
menyebabkan keretakan dinding.
Pekerjaan acian dinding selesai, namun perlu menunggu beberapa
waktu untuk melanjutkan ke pengerjaan pengecatan.
Untuk pekerjaan Acian di area yang tinggi, herus menggunakan
Scafolding
e) Bahan yang digunakan
Air
Semen Portland
f) Alat yang digunakan
Sendok Semen
Raskam besi dan kayu
Ember
Gerobak dorong
Scafolding
g) Identifikasi bahaya
Terhirup debu
Iritasi mata
Jatuh dari ketinggian
h) Resiko
Terganggu pernafasan
Terganggu penglihatan
Memar (Patah Tulang)
f. Pengendalian Resiko
wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker,alat
Pelindung Mata (Goggles, Spectacles), Helm Pelindung (Safety Helmet),
Sepatu Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan pekerja bangunan
dan Sabuk pengaman (safety)
1.9.6. Pek. Pas. Lantai Granit 60 x 60 cm ( Polishd ), Pek. Pas. Granit60 x 60 cm
(Unpilshd ) ), Pek. Pas. Dinding Keramik 30 x 60 cm ( Polishd)
a. Syarat dan metode pelaksanaan
Yang dimaksud dari pekerjaan Penutup Lantai dan Dinding adalah
pemasangan granit lantai dan dinding pada bangunan dengan ukuran
dan motif yang ditentukan.
Dimulai dari persiapan adukan dan kesiapan peralatan
untuk menghasilkan kualitas yang baik agar bata, semen dan pasir
teraduk dengan sempurna
Spesifikasi teknis yang dipersyaratkan seperti lantai anti slip dan
keramik dinding licin bermotif sesuai yang dibutuhkan.
Sebelum pemasangan Granit, granit lantai dan dinding agar
dipasang terlebih dahulu titik acuan yang ditentukan oleh
selang air atau waterpass agar pasangan rata sesuai dengan elevasi
dan bidang yang ditentukan.
Semua bahan agar direndam terlebih dahulu kedalam tampungan
air
sebelum dipasang agar tidak menyerap air lagi. Setelah itu
dilaksanakan perletakkan adukan terlebih dahulu dan dilumuri semen
kering diatas adukan baru diletekkan granit tersebut yang dasarnya
telah dilumuri dengan adukan semen dengan air saja. Setelah granit
dipasang baru ditekan kedalam adukan sesuai dengan elevasi tali
benang yang terpasang degan menggunakan palu karet.
Pada sambungan antara granit digunakan semen warna yang telah
diaduk dengan air.
Lanjutkan pemasangan dengan selalu mengontrol simetrisnya
pasangan.
b). Bahan yang digunakan:
Granit Niro ukuran 60x60 cm Kasar
Granit Niro ukuran 60x60 cm Halus (lantai)
Keramik Roman ukuran 30x60 cm Halus (Dinding)
Semen Portland
Semen Warna
Pasir Pasang
Air
c). Peralatan yang digunakan
Alat Ukur (Meteran)
Sekop dan Cangkul
Gerobak Dorong
Sendok Semen
Waterpass
Ember
Palu karet
Alat Potong Granit
d). Identifikasi Bahaya
Terhisap debu semen
Terkena benda tajam / peralatan tukang
e). Resiko
Gangguan pernafasan
Terluka
f). Pengendalian :
wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker,
Sepatu Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan pekerja bangunan
a. Pek. Lantai Vinyl
a. Syarat dan metode pelaksanaan
Lantai vinyl adalah jenis lantai sintetis yang terbuat dari bahan PVC (Polyvinyl
Chloride), menawarkan tampilan yang menyerupai kayu, batu, atau keramik
dengan harga lebih terjangkau. Lantai vinyl memiliki kelebihan seperti tahan air,
mudah dipasang, dan tahan lama.
Lantai dasar harus kering. Tingkat kelembaban dari lantai dasar dapat diperiksa
dengan cara meletakkan lembaran plastik dan rekatkan semua sisi dengan
selotip. Pastikan rapat/kedap udara dan biarkan semalaman. Periksa kondisi
permukaan plastik yang menghadap ke lantai. Jika masih ada embun/air yang
terperangkap, menandakan bahwa lantai belum kering sempurna.
Lantai dasar harus rata dan bebas dari cacat, retak, dan ketidakrataan, jika tidak
harus dihaluskan atau diratakan.
Untuk lantai yang tidak rata, penggunaan campuran mortar direkomendasikan
untuk meratakan permukaan, sebelum instalasi lantai Vinyl.
Sebelum pemasangan, subfloor harus dibersihkan secara menyeluruh.
Lantai harus bersih, kering, halus, bebas dari debu, sisa perekat, kotoran, minyak,
cat, bahan kimia dan kontaminan lainnya.
Sangat dianjurkan dan diwajibkan untuk menyapu dan menyedot debu dan
kotoran lain pada lantai dengan benar sebelum proses pemasangan.
Kerataan lantai dasar tidak boleh melebihi variasi 2 mm dalam 2 meter
b). Bahan yang digunakan:
Vinyl
Lem
c). Peralatan yang digunakan
Alat Ukur (Meteran)
Waterpass
Alat Potong / Cutter
d). Identifikasi Bahaya
Terhisap aroma lem
Terkena benda tajam / peralatan tukang
e). Resiko
Gangguan pernafasan
Terluka
f). Pengendalian :
wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker,
Sepatu Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan pekerja bangunan
3.5 Pek. Dinding Backdrop
a. Metode Pelaksanaan
Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti
gambar-gambaryang ada dan kondisi di lapangan, termasuk mempelajari
bentuk, pola lay-out / penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan
detail-detail sesuai gambar.Juga terlebih dahulu harus memeriksa
untuk dikoordinasikan dengan pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan
partisi, diantaranya adalah Pekerjaan Instalasi pada dinding
Sebelum pemasangan rangka partisi/ Multiplex 9 mm dibuat tanda/marking
terlebih dahulu di atas bidang lantai sesuai gambar rencana dan diajukan
untuk diperiksa terlebih dahulu oleh Konsultan Pengawas. Buatlah pola
sesuai ukuran dinding. Sebisa mungkin minimalkan potongan untuk
menghasilkan tampilan yang
bersih dan rapi. Lakukan pemotongan multyplek dan HPL
secara tepat.
Multiplex yang dipasang adalah yang telah dipilih dengan baik,bentuk
dan ukuran masing-masing unit sama, tidak ada bagian yang
retak,gompal atau cacat-cacat lainnya dan telah mendapat persetujuan dari
Konsultan Pengawas.
Bahan penutup multiplex 9 mm dengan mutu bahan seperti yang
telah dipersyaratkan dengan pola pemasangan sesuai yang ditunjukkan
dalam gambar.Penutup partisi dipasang dengan sekrup khusus, dengan
menggunakan alat bor listrik dan setiap pemasangan masing-masing
sekrup sejajar minimal berjarak 300 mm . Setelah panel board terpasang,
bidang permukaan partisi harus rata, lurus dansiku, dan antara
unit-unit tidak terlihat bergelombang dan sambungan. Untuk menguji
kesikuan/kerataan bidang partisi, dilakukan dengan menggunakan
waterpas khusus, dan diperiksa bersama-sama Konsultan Pengawas
Oleskan lem kuning di bagian belakang HPL/ WPC serta
permukaan dinding. Tempelkan HPL/WPC tersebut secara hati- hati.
Tekanlah dari tengah ke atas, lalu tekan lagi dari tengah ke bawah. Arah
serat dari HPL/WPC, sesuai yang ditunjukkan dalam gambar
rencana/desain.
Permukaan HPL dilarang keras diamplas Bagian tepi (edging) dari
daun pintu, bidang atas/top meja /credenza, diberi edging berbahan
PVC tebal minimal 2 mm. Warna dan motif disesuaikan dengan warna
HPL nya atau sesuai petunjuk gambar rencana/desain
Pemotongan multiplek menggunanakan mesin potong / cut off 14’ karna
mampu memotong multiplek dengan berbagai ketebalan, saat menggunakan
mesin potong diwajibkan menggunakan arus listrik dari genset silent yang
dapat bermanfaat tidak mengganggu arus listrik rumah sakit dan tidak
menimbulkan penambahan suara bising di area kerja karena area kerja
masih terdapat ruang yang digunakan untuk aktifitas kegiatan kesehatan
b. Peralatan
Mesin Potong / cut off 14”
Waterpass
Gerinda
Kompresor
Paku Tembak Angin
Gergaji
Herdrayer
Jigsaw
Bor Listrik
Bor Tembok
Paku Tembok
Scafolding
Genset silent
c. Bahan
Multiplex 9 mm
Multiplex 18 mm
HPL
WPC
Lem
d. Identifikasi Bahaya
Terjatuh, Tertimpa alat kerja,, Mata terkena debu,Terhirup Lem Saat Menempel
HPL
e. Resiko
Luka ringan, luka RIngan, Gangguan Penglihatan, Ganguan
Pernapasan
f. Pengendalian awal
Menyediakan obat-obatan yang bersifat sebagai penaganan Mengunakan (Obat
Luka/ Perban, Iritasi Mata.) Wajib Menggunakan Alat Pelindung Diri (Apd)
Berupa Masker, Alat Pelindung Mata (Goggles, Spectacles), Pelindung (Safety
Shoes) (Helmet), Sepatu Keselamatan (Safety Shoes)
1.10 PEKERJAAN BESI, KAYU, KACA DAN ALUMUNIUM
1.10.1. Pek. Kusen Pintu dan Jendela Profil Alumunium 4 ", Kaca Bening 5 mm
Rangka Alumunium, Pek. Jendela Hidup Kaca Bening 5 mm Rangka
Casement, Pek. Jendela Mati Kaca Bening 5, Pek. Pintu Tempered
a. Metode Pelaksanaan
Pembuatan dan pengajuan gambar shop drawing pekerjaan pintu, kusen
dan jendela aluminium.
Approval material yang akan digunakan.
Persiapan lahan kerja.
Persiapan material kerja, antara lain : alumunium kusen, alumunium
frame, hardware, sekrup, fisher, engsel, sealant, baut dynabolt, dll.
Persiapan alat bantu kerja, antara lain : cutting well/gerinda, bor,
gergaji, waterpass, meteran, unting-unting, reevet, gun sealant,
selang air, cutter, dll
Lakukan pengecekan dan pengukuran dilapangan untuk opening yang
akan dipasang kusen aluminium apakah sudah sesuai dengan gambar
kerja atau belum
Kusen dan frame alumunium difabrikasi di lokasi proyek untuk
memudahkan apabila ada perbaikan.
Alumunium dipotong dan di sambung/dirangkai menggunakan
sekrup galvanis.
Alumunium yang sudah di fabrikasi di proteksi dengan menggunakan
protection tape (blue sheet) dan diberi tanda untuk memudahkan waktu
pemasangan
Kusen alumunium yang telah difabrikasi dipasang setelah kondisi
lapangan siap yaitu pekerjaan plesteran dan acian sudah selesai. Sistem
pemasangan dengan di screw fisher menggunakan fisher S8.
Sebelum kusen dimatikan ke dinding, harus dicek dahulu elevasi dan
kesikuan kusen alumunium dengan alat bantu waterpass/unting- unting.
Apabila tidak lurus maka diganjal dengan bahan dari hardboard,
sehingga lebih kuat dan tahan lama.
Untuk mencegah kebocoran maka hubungan antara alumunium dengan
dinding di isi silicone sealant.
Setelah kusen aluminium terpasang, dilanjutkan dengan
pemasangan frame untuk pintu/jendela, kaca dan hardwere. Frame
pintu/jendela dipasang pada kusen dengan menggunakan penggantung
engsel yang disekrup ke kusen.
Pemasangan hardware dikerjakan setelah kondisi lapangan benar- benar
aman dan tidak ada lagi pekerjaan yang dapat merusak kusen dan
alumunium dan daunnya
Proteksi plastik (blue sheet) pada bagian kusen alumunium dapat
dilepas, apabila lokasi pekerjaan sudah benar-benar bersih dari
kotoran dan tidak ada lagi pekerjaan yang dapat merusak aluminium
tersebut.
b. Peralatan
cutting well/gerinda,
bor,
gergaji,
waterpass,
meteran,
unting-unting,
reevet,
gun sealant,
selang air,
cutter
Scafolding
c. Bahan
a Pek. Kusen Pintu dan Jendela Profil Alumunium 4 "Kusen
Profil alluminium 4" warna coklat
Baut fixer
Sealant
b. Pek. Pintu Alumunium Kaca Bening 5 mm
Bingkai profil aluminium warna coklat
Kaca Riben 5 mm
Profil almunium kaca
Karet kusen aluminium
Skrup fixer
Sealant
Door Closer
Kunci Pintu Alumunium
Engsel Pintu Dekson
Handle stainless
c. Pek. Jendela Hidup Kaca Bening 5 mm Rangka Casement
Bingkai profil aluminium warna coklat
Kaca Riben 5 mm
Profil Almunium kaca
Karet kusen aluminium
Skrup fixer
Engsel Casement 10
Engsel Casement 16
Sealant
d. Pek. Jendela Mati Kaca Bening 5 mm
Bingkai profil aluminium warna coklat
Kaca Riben 5 mm
Profil Almunium kaca
Karet kusen aluminium
Skrup fixer
Engsel Casement 16
Sealant
e. Pek. Pintu Tempered
List alumunium U merk Alexindo
ACP merk SEVEN
Engsel Floor Hinge merk Dekkson
Patch Fiting (Botom PT10, Top PT20, Lock 2 Silinder US10,
Overpanel PT21) merk Dekkson
Pull Handle Besar Stainlles merk Dekkson
Kaca tempred 12 mm
Sunblast Kaca
f. Pas. Pintu Alumunium KM/WC
Pintu Alumunium KM/WC
Engsel Pintu
Gerendel Pintu
e. Identifikasi Bahaya
Tertimpa alat kerja, Terkena benda tajam , Dan Serpihan
Potongan, terkena mata Suara Bising Dari Proses Pemotongan
Alumunium
f. Resiko
Luka ringan, Luka Ringan, Iritasi Mata, Ganguan
Pedengaran
g. Pengendalian awal
Menyediakan obat-obatan yang bersifat sebagai penaganan
Mengunakan
(Obat Luka/ Perban Iritasi Mata Dan Kulit ) Wajib Menggunakan Alat
Pelindung Diri (Apd) Berupa Masker, Alat Pelindung Mata (Goggles,
Spectacles), (Helmet), Sepatu Keselamatan (Safety Shoes), Sarung
Tangan (Earplug)
1.11 PEKERJAAN PLAFON
1.11.1. Pekerjaan Rangka Plafon Hollow
a. Syarat dan metode pelaksanaan
Pemasangan Rangka dan Penggantung Plafond sesuai dengan ukuran plafond
yang direncanakan
Untuk mendapatkan bidang langit-langit yang rapi dan rata maka bidang
rangka plafon bagian bawah harus dibenang dan ditimbang air hingga rata.
Rangka plafon harus dipasang kokoh dan kuat.
b. Bahan yang digunakan
Besi hollow galvalum rangka plafond ukuran 40 x 40 mm dan 20 x 40
mm dengan ketebalan 0,3 mm
Baut dinabold 8 mm
Sekrup / baut
c. Peralatan yang digunakan
Steager/ scafolding, mesin bor listrik, alat pemotong besi, Meteran dan
benang nylon.
d. Identifikasi Bahaya
Terkena alat kerja,
Tertimpa material / besi hollo
Terjatuh dari Ketinggian
e. Resiko
Terluka
Terluka
Memar (patah tulang, terjatuh dari ketinggian)
f. Pengendalian
Penanggulangan Kecelakaan Kerja
Selalu menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa alat Sepatu
Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan pekerja bangunan, Sabuk
pengaman dan helm pelindung
1.11.2. Pekerjaan Plafon Gypsum, Pekerjaan List Plafon (bila ada)
a. Syarat dan metode pelaksanaan
Plafond Gypsum 9 mm, yang dipakai berkualitas baik produksi dalam
negeri
Setelah permukaan yang akan dipasang plafond diperiksa, maka pemasangan
penutup plafond dapat dilaksanakan.
Pemotongan Gypsum board (sesuaikan ukuran) ketetapan jalur dan detail
sesuai rencana, perlu didapatkan penyelesaian yang sempurna
Gypsum Board dipakukan/ dibaut ke rangka plafond dengan hati- hati dan
cukup untuk menghindari lengkungan / lendutan.
Pada sambungan papan Gypsum dan lubang skrup akan dilaksanakan
pelabaran dengan adukan compound dengan air dan disebarkan dengan
sekrap plastik yang lebar
Hasil pemasangan harus sesuai dengan ketepatan jalur dan detail gambar
pelaksanaan.
b. Bahan yang digunakan
Gypsum boar 9 mm
List Plafon Gypsum
Baut sekrup
Compound
c. Peralatan yang digunakan
Steager/ scafolding, mesin bor listrik, alat pemotong gypsum / GRC
board, Meteran dan benang nylon, alat pertukangan
d. Identifikasi Bahaya
Terkena alat kerja,
Tertimpa material pecahan Gypsum
Terjatuh dari Ketinggian
e. Resiko
Terluka
terluka
Memar (patah tulang, terjatuh dari ketinggian)
f. Penanggulangan Kecelakaan Kerja
Menyediakan obat-obatan yang bersifat sebagai penaganan tahap pertama.
Selalu menggunakan Alat Pelindung Diri ( APD ) berupa alat Sepatu Keselamatan
(Safety Shoes), Sarung Tangan pekerja bangunan, Sabuk pengaman dan helm
pelindung
1.11.2. Pekerjaan Plafon PVC, Pekerjaan List PVC
a. Syarat dan metode pelaksanaan
Plafond PVC 6 mm, yang dipakai berkualitas baik produksi dalam negeri
Setelah permukaan yang akan dipasang plafond diperiksa, maka pemasangan
penutup plafond dapat dilaksanakan.
Pemotongan Plafon PVC (sesuaikan ukuran) ketetapan jalur dan detail sesuai
rencana, perlu didapatkan penyelesaian yang sempurna
Plafon PVC diskrup/ dibaut ke rangka plafond dengan hati- hati dan cukup
untuk menghindari lengkungan / lendutan.
Pada sambungan Plafon PVC dan lubang skrup akan disambung
menggunakan sambungan PVC sesuai arah yang ditentukan
Hasil pemasangan harus sesuai dengan ketepatan jalur dan detail gambar
pelaksanaan.
b. Bahan yang digunakan
Plafon PVC 6 mm Setara SNI
List Plafon PVC
Baut sekrup
Sambungan PVC
c. Peralatan yang digunakan
Steager/ scafolding, mesin bor listrik, alat pemotong, Meteran dan
benang nylon, alat pertukangan
d. Identifikasi Bahaya
Terkena alat kerja,
Terjatuh dari Ketinggian
e. Resiko
Terluka
terluka
Memar (patah tulang, terjatuh dari ketinggian)
f. Penanggulangan Kecelakaan Kerja
Menyediakan obat-obatan yang bersifat sebagai penaganan tahap pertama.
Selalu menggunakan Alat Pelindung Diri ( APD ) berupa alat Sepatu Keselamatan
(Safety Shoes), Sarung Tangan pekerja bangunan, Sabuk pengaman dan helm
pelindung
8. PEKERJAAN PENGECATAN
8.1. Pek. Cat tembok Exterior, Pek. Cat tembok Interior
a. Syarat dan metode pelaksanaan
Pengecatan tembok baru dilaksanakan setelah bidang
plesteran tembok benar-banar sudah rata dan kering.
Permukaan plesteran yang belum rata atau cacat harus
diperbaiki terlebih dahulu
Bidang tembok yang sudah rata dan kering, kemudian diplamur
sampai rata dan menutup pori-pori/ rengat-rengat plesteran/
acian
Setelah plamuran betul betul kering, maka plamuran diamplas
sampai halus dan dibersihkan dari debu bekas amplasan yang
menempel dengan menggunakan kain bersih
Pengecatan bertahap lapis demi lapis menggunakan cat encer
sampai betul-betul rata seluruh bidang yang dicat
Setiap lapis ditunggu sampai kering, baru kemudian
pengecatan lapis berikutnya.
Pengecatan dilaksanakan menggunakan scafolding sebanyak 100
unit dikarenakan bidang yang akan dikerjakan luas dan tinggi
sehingga bisa mempercepat pekerjaan, mengingat tempat
pekerjaan masih dilalui pengguna gedung
Setelah pengecatan selesai, bidang cat yang terbentuk harus utuh,
rata dan tidak ada bagian-bagian yang belang dan dijaga dari
pengotoran-pengotoran
b. Bahan yang digunakan
Plamur tembok yang berkualitas baik
Cat penutup tembok menggunakan cat tembok berkualitas baik,
merek Jotun Jotashield Coloure Extreme untuk pengecatan tembok,
balok, kolom dan bagian tembok lainnya di bagian luar bangunan dan
Jotun Jotashield antifade colourse untuk pengecatan tembok, balok,
kolom dan bagian tembok lainnya yang terletak di bagian dalam gedung
Cat Dasar Tembok bagian luar bangunan/ eksterior
menggunakan Jotun jotashield Primer Cat,
Cat Dasar Tembok bagian dalam bangunan/ interior
menggunakan Jotun jotaplast Primer
Air kerja
c. Peralatan yang digunakan
Steager/ scafolding
Kuas kayu
Kuas roll
Bak cat
d. Identifikasi Bahaya
Terjatuh dari Ketinggian
Terhisap Aroma Cat
Iritasi Mata
e. Resiko
Memar
Patah Tulang
Gangguan Pernafasan
Gangguan penglihatan
f. Penanggulangan Kecelakaan Kerja
Selalu menggunakan Alat Pelindung Diri ( APD ) berupa sepatu
Keselamatan (Safety Shoes), Helm pelindung dan Sabuk pengaman
8.2. Pek. Wallpaper
a. Syarat syrat Metode Pelaksanaan
Proses pemasangan wallpaper melibatkan beberapa tahapan, mulai
dari persiapan dinding, pengukuran, pemotongan wallpaper, hingga
penempelan dengan lem khusus. Penting untuk memastikan dinding bersih
dan rata, kemudian wallpaper dipotong dengan ukuran yang tepat dan
ditempelkan dengan rapi, dengan memperhatikan pola dan sambungan.
Berikut adalah langkah-langkah spesifik dalam proses pemasangan wallpaper:
1. Persiapan Dinding:
Membersihkan Dinding:
Bersihkan dinding dari kotoran, debu, noda, dan paku yang menempel.
Memperbaiki Kerusakan:
Jika ada kerusakan seperti retak atau lubang, perbaiki dengan dempul atau
plamir.
Mengamplas:
Amsa halus permukaan dinding yang sudah diperbaiki untuk memastikan
permukaannya rata.
Primer:
Jika diperlukan, oleskan primer untuk memberikan lapisan tambahan pada
dinding sebelum pemasangan wallpaper.
2. Pengukuran dan Pemotongan:
Mengukur Dinding: Ukur tinggi dan lebar dinding dengan presisi.
Memotong Wallpaper: Potong wallpaper dengan ukuran yang sudah dihitung,
dengan menambahkan beberapa sentimeter untuk penyambungan dan
pemotongan.
3. Pemasangan:
Oleskan Lem:
Oleskan lem khusus wallpaper pada bagian belakang wallpaper atau pada
dinding, sesuai dengan jenis wallpaper.
Menempelkan Wallpaper:
Tempel wallpaper pada dinding, mulai dari sudut atau garis lurus sebagai
panduan.
Meratakan dan Memastikan Sambungan:
Ratakan wallpaper dengan spatula atau alat khusus, dan pastikan sambungan
antar lembar wallpaper rapi dan tidak ada gelembung.
Menyelesaikan Pemasangan:
Setelah semua wallpaper dipasang, bersihkan sisa lem atau noda pada
permukaan wallpaper.
4. Perawatan:
Membersihkan Wallpaper: Bersihkan wallpaper secara rutin dengan lap basah
atau kain lembut.
Menghindari Kerusakan: Hindari penggunaan bahan kimia keras atau benda
tajam yang dapat merusak wallpaper.
b. Bahan yang digunakan
Wallpaper
Lem
c. Peralatan yang digunakan
Steager/ scafolding
Kuas kayu
Cutter
d. Identifikasi Bahaya
Terjatuh dari Ketinggian
e. Resiko
Memar
f. Penanggulangan Kecelakaan Kerja
Selalu menggunakan Alat Pelindung Diri ( APD ) berupa sepatu Keselamatan
(Safety Shoes), Helm pelindung dan Sabuk pengaman
4. PEKERJAAN ELEKTRIKAL
4.1. Lampu LED 18 Watt + Fitting , Pas. Lampu LED TL 18 Watt+ Kap
a. Metode Pelaksanaan
Untuk Lokasi Pemasangan 1.13.2. Lampu LED 18 Watt
disesuaiakan dengan gambar kerja
Saat melakukan penyambungan, jangan lupa perhatikan perhatikan
bagian positif dan negatifnya.
Apabila salah melakukan penyambungan, kemungkinan
terburuknya bisa menyebabkan korsleting listrik dan sangat
membahayakan.
Power supply yang digunakan harus disesuaikan dengan daya
yang dibutuhkan oleh lampu
Tempel Lampu Sesuai Rencana
b. Peralatan
Obeng
Tespen Listrik
Bor Tembok
Paku Tembok
Scafolding
c. Bahan
Lampu Downlight
Lampu Industrial
Kabel NYM
sakelar
Lem
Isolatif
d. Identifikasi Bahaya
Terkena alat kerja, Mata terkena debu.
e. Resiko
Terluka, tergangguna Penglihatan
f. Pengendalian awal
Menyediakan obat-obatan yang bersifat sebagai penanganan
Mengunakan (Obat Luka/ Perban, Iritasi Mata.) Wajib Menggunakan
Alat Pelindung Diri (Apd) Berupa Masker, Alat Pelindung Mata
(Goggles, Spectacles), Pelindung (Safety Shoes) (Helmet), Sepatu
Keselamatan (Safety Shoes
4.2. Pas. Stop Kontak, Pas. Saklar Ganda, Pas. Saklar Tunggal, Pas. Instalasi
Titik Api
Metode pelaksanaan
1. Kabel dan kawat tembaga
Seluruh instalasi didalam bangunan dan kabel-kabel utama
digunakan
NYY 1 x 2,5 mm2 dengan jumlah inti disesuaikan dengan gambar.
Tidak diperkenankan mengganti type/jenis kabel tersebut
Sambungan kabel di dalam tanah tidak diperkenankan. Seandainya
keadaan tidak memungkinkan dan telah ada izin dari konsultan,
Kontraktor harus menggunakan sambungan resin dari merk Supreme.
2. Konduit
Kabel yang turun menuju saklar dan stop kontak didalam tembok
dan
Konduit yang digunakan harus dari merk Supreme.
Ukuran konduit yang digunakan minimum ukuran Diameter 5/8”.
Peralatan bantu untuk konduit harus dilengkapi dalam dokumen
gambar.
4.3. Instalasi penerangan
Instalasi penerangan dimaksud adalah titik lampu dan stop kontak,
dan
Instalasi stop kontak AC sesuai petunjuk gambar.
Letak pasti dari lampu-lampu tersebut disesuaikan dengan
keadaan lapangan.
Pada pemasangan diatas plafond, kabel-kabel tidak
diperkenankan diklem kerangka plafond, tetapi harus diklem ke
lantai beton, kecuali diatas plafond tidak ada lantai beton.
Pada setiap pencabangan titik lampu harus diberi doos/junction
box.
Sambungan didalam junction box menggunakan isolasi PVC
kemudian ditutup dengan lasdop.
Sambungan kabel untuk titik penerangan hanya diperkenankan
pad a junction box/doos tersebut.
Kabel-kabel harus diklem setiap 30 cm, jalan-jalan kabel harus
diatur
dengan baik dan rapi.
4.4. Stop Kontak AC, Pas. Saklar Ganda, Pas. Saklar Tunggal, Pas. Penagkal
Petir
Seluruh stop kontak harus memiliki terminal fase netral dan
pentanahan (Grounding) yang semuanya dihubungkan dengan
kabel-kabel yang sesuai ukuran dan warnanya.
Pemasangan stop kontak tertanam di dalam dinding ( model inbow).
Pemasangan box stop kontak dalam dinding harus kokoh sehingga
tidak mudah tercabut, selanjutnya panel stop kontak disekerupkan
pada kotak tersebut..
b. Bahan :
Sakelar Ganda
Sakelar Tunggal
Stop Kontak AC
NYY 1 x 2,5 mm2
Klem
Isolasi
Pipa
Tdus
c. Alat :
Palu
Gerinda
Gergaji
Bor
Meteran
d. Identifikasi Bahaya :
Terkena Alat Kerja
Terhirup debu
Iritasi pada mata akibat debu pengelasan
Tertimpa bahan material
e. Resiko :
Terluka
Terganggu Pernapasan
Terganggu Penglihatan
Cidera Memar
f. Pengendalian awal :
Menyediakan obat-obatan yang bersifat sebagai penanganan tahap pertama
Wajib menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa Helm Pelindung
(Safety Helmet), Sepatu Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan (Safety
Gloves).
4.5. Pek. Kabel Tray
a. Syarat syrat Metode Pelaksanaan
Proses pemasangan kabel tray meliputi marking jalur, pengeboran untuk
gantungan, pemasangan gantungan, pemasangan kabel tray, dan
sambungan grounding. Penting untuk memastikan lokasi pemasangan tidak
menghalangi akses, kabel tray dipasang pada area yang aman, dan kabel
power serta signal dipisahkan untuk memudahkan perawatan.
Elaborasi:
1. Marking Jalur:
Jalur pemasangan kabel tray harus ditandai sesuai dengan shop drawing
atau gambar kerja proyek.
2. Pengeboran dan Pemasangan Gantungan:
Tandai lokasi pengeboran untuk gantungan atau support lalu bor sesuai
tanda. Setelah itu, pasang gantungan atau support kabel tray.
3. Pemasangan Kabel Tray:
Pasang kabel tray pada gantungan atau support yang telah dipasang.
4. Sambungan Grounding:
Pastikan setiap sambungan kabel tray dilengkapi dengan penghubung
grounding untuk mencegah risiko korsleting.
5. Pertimbangan Tambahan:
Jarak Antar Kabel Tray: Jika kabel tray dipasang secara bertumpuk,
pastikan jarak antara kedua tray minimal 35 cm.
Area Aman: Pilih lokasi yang tidak mudah terbakar dan tidak
menghalangi akses ke tangga, pintu, dll.
Pemisahan Kabel: Pisahkan kabel power dan kabel signal untuk
memudahkan perawatan jika diperlukan.
6. Peralatan:
Perhatikan jenis dan ukuran kabel tray yang sesuai dengan
kebutuhan. Beberapa jenis kabel tray memiliki spesifikasi material yang
berbeda, seperti penggunaan Hot Rolled Coil (SPHC) dengan ketebalan
tertentu.
7. Standar:
Perhatikan standar yang berlaku, seperti standar NEMA VE untuk kabel
tray, serta standar tambahan seperti NEMA FG, NEMA PR, dan NEMA 3R.
8. Konsultasi:
Berkonsultasi dengan pabrikan kabel mengenai tegangan tarik
maksimum, kecepatan tarikan, dan radius tekukan kabel.
Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, proses pemasangan kabel tray
dapat dilakukan dengan benar dan aman, serta sesuai dengan spesifikasi
yang dibutuhkan.
b. Bahan :
Kabel Tray
Skrup
c. Alat :
Gerinda
Gergaji
Bor
Meteran
d. Identifikasi Bahaya :
Terkena Alat Kerja
Iritasi pada mata akibat pemotongan jika menggunakan mesin
potong listrik
Terjatuh
e. Resiko :
Terluka
Terganggu Penglihatan
Cidera Memar
f. Pengendalian awal :
Menyediakan obat-obatan yang bersifat sebagai penanganan tahap pertama
Wajib menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa Helm Pelindung
(Safety Helmet), Sepatu Keselamatan (Safety Shoes), Sarung Tangan (Safety
Gloves).
6. PEKERJAAN SANITASI DAN SANITAIR
6.1.Pek. Pas. Closet Duduk, Pek. Pas. Closet Jongkok, Pek. Pas. floordrain stainless
steel, Pek. Shower, Pek. Pas. Kran Air, Pas. Wastafel
a. Syarat dan Metode Pelaksanaan
Closed duduk,Closed Jongkok, Kran Wastafel, floordrain stainless steel, .
Shower, dipasangkan rapih dan kuat / kokoh dengan letak sesuai dengan
Gambar Rencana Kerja.
b. Bahan yang digunakan
Closed duduk
Closed Jongkok
Kran Wastafel
floordrain stainless steel
Shower,
Semen Portland
Semen Warna
Pasir
Air
c. Peralatan yang digunakan
Cangkul, Skop, Ember, Sendok Semen, Waterpass
d. Identifikasi Bahaya
Terhirup debu semen
e. Resiko
Gangguan pernapasan
f. Pengendalian awal
Selalu menggunakan Alat Pelindung Diri ( APD ) berupa masker
6.2. Pek. Instalasi air bersih Piva 1/2 ",
6.3 Pek. Instalasi air Kotor Piva 2 ",
6.4 Pek. Instalasi Piva dia 3 "
a. Syarat dan Metode Pelaksanaan
PiPa 1/2 ",, PiPa 2 PiPa dia 3 " ", dipasangkan rapih dan kuat / kokoh dengan
letak sesuai dengan Gambar Rencana Kerja.
b. Bahan yang digunakan
PiPa 1/2 "
PiPa 2
PiPa dia 3 "
Sealtape
Lem Pipa
c. Peralatan yang digunakan
Gergaji Pipa/ Alat Potong
Scafolding
d. Identifikasi Bahaya
Terhirup Lem
e. Resiko
Gangguan pernapasan
f. Pengendalian awal
Selalu menggunakan Alat Pelindung Diri ( APD ) berupa masker, Sarung Tangan,
Rompi, Helm,
7. PEKERJAAN KUNCI PENGGANTUNG
a. Syarat dan Metode Pelaksanaan
Kunci Pintu Alumunium, Handel Stainless, Engsel Pintu Tanam, Engsel Casement
16, Engsel Casement 10, Gerendel Tanam Pintu Alumunium, Gerendel Jendela,
dipasangkan rapih dan kuat / kokoh dengan letak sesuai dengan Gambar
Rencana Kerja.
b. Bahan yang digunakan
Kunci Pintu Alumunium
Handel Stainless
Engsel Pintu Tanam
Engsel Casement16
Engsel Casement 10
Gerendel Tanam Pintu Alumunium
Gerendel Jendela
c. Peralatan yang digunakan
Obeng Palu Tang
d. Identifikasi Bahaya
Terkena Alat Kerja
e. Resiko
Terluka
f. Pengendalian awal
Selalu menggunakan Alat Pelindung Diri ( APD ) berupa masker, Sarung Tangan,
Rompi, Helm
8. PEKERJAAN INSTALASI MEDIS
Pemasangan instalasi gas medis melibatkan beberapa tahapan, mulai dari perencanaan
hingga pengujian dan commissioning. Perencanaan mencakup identifikasi kebutuhan,
desain sistem, dan pemilihan material yang sesuai. Pemasangan meliputi pengolahan
dan pemasangan pipa, pemasangan alat-alat seperti alarm, katup, dan outlet, serta
pengujian untuk memastikan keamanan dan fungsionalitas sistem.
Berikut adalah langkah-langkah pemasangan instalasi gas medis secara lebih detail:
1. Perencanaan:
Identifikasi kebutuhan:
Tentukan jenis gas medis yang dibutuhkan, lokasi pemasangan, dan jumlah titik
outlet.
Desain sistem:
Buat desain sistem pasokan gas yang sesuai dengan kebutuhan dan standar yang
berlaku.
Pemilihan material:
Pilih pipa, sambungan, dan komponen lain yang sesuai dengan standar dan jenis gas
medis yang akan digunakan.
2. Pemasangan Pipa:
Pemasangan pipa:
Pipa gas medis harus terbuat dari tembaga dan dipasang dengan menggunakan
gantungan pipa dari baja dengan jarak maksimal 2,5 meter.
Pengelasan:
Sambungan pipa harus dilakukan dengan pengelasan perak, dan saat pengelasan,
pipa harus dialiri gas nitrogen.
3. Pemasangan Alat-alat:
Pemasangan alarm gas medis:
Alarm gas medis dipasang di titik-titik strategis untuk mendeteksi kebocoran gas dan
memberikan sinyal peringatan.
Pemasangan katup:
Katup induk (main valve) dipasang pada ruang sentral, sedangkan katup pembagi
(zone valve) dipasang sesuai dengan pembagian instalasi.
Pemasangan outlet gas medis:
Outlet gas medis dipasang di area yang membutuhkan pasokan gas medis, seperti
kamar pasien, ruang operasi, dan ruang perawatan.
4. Pengujian dan Commissioning:
Pengujian kebocoran:
Lakukan pengujian kebocoran pada setiap sambungan pipa dan komponen untuk
memastikan tidak ada kebocoran.
Pengujian fungsional:
Uji fungsionalitas setiap katup, outlet, dan alarm untuk memastikan sistem bekerja
dengan benar.
Commissioning:
Lakukan commissioning sistem untuk memastikan sistem memenuhi standar dan
persyaratan yang berlaku.
5. Pemasangan Bedhead:
Penentuan titik pemasangan:
Tentukan titik pemasangan bedhead, termasuk ketinggian dan posisi sesuai dengan
desain.
Pemasangan bracket:
Pasang bracket bedhead dengan baut dan mur sesuai dengan titik yang telah
ditentukan.
Pemasangan panel:
Pasang panel bedhead dan pastikan terpasang dengan benar, termasuk memastikan
akurasi dan presisi panel.
6. Pemasangan Zone Box Valve:
Penentuan titik pemasangan: Tentukan titik pemasangan zone box valve dan
ketinggiannya.
Pengeboran: Lakukan pengeboran pada dinding sesuai dengan dimensi zone box valve.
Pemasangan bracket: Sesuaikan bracket dan pastikan tepi depan rakitan box valve rata
dengan dinding.
7. Persyaratan Tambahan:
Ruang penyimpanan gas:
Ruang penyimpanan gas harus memenuhi persyaratan keamanan, ventilasi, dan
ketahanan api.
Ventilasi:
Ruang penyimpanan gas harus memiliki ventilasi yang memadai untuk mencegah
akumulasi gas yang berbahaya.
Penyimpanan tabung gas:
Tabung gas harus disimpan dengan benar dan terhindar dari benturan atau
kerusakan.
b. Bahan yang digunakan
Plat
pipa high pressure
katub kran,
pressure qauqe
safty
regulator manual
ball valve
blok kuningan
c. Peralatan yang digunakan
Obeng Palu Tang
Alat Potong
d. Identifikasi Bahaya
Terkena Alat Kerja
e. Resiko
Terluka
f. Pengendalian awal
Selalu menggunakan Alat Pelindung Diri ( APD ) berupa masker, Sarung Tangan,
Rompi, Helm, Sepatu Safety
8. PEKERJAAN GROUNDING ALAT KESEHATAN
Pemasangan grounding pada alat medis di rumah sakit melibatkan beberapa tahapan
penting untuk memastikan keselamatan pasien dan personel, serta fungsi normal
peralatan. Grounding ini berfungsi melindungi dari sengatan listrik dan memastikan
stabilitas tegangan di area medis yang kritis.
Langkah-langkah Pemasangan Grounding:
1. Pemilihan Sistem Grounding:
Sistem grounding harus sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik area medis
yang akan dilindungi. Terdapat beberapa jenis sistem grounding, seperti TN-C, TN-
S, TT, dan IT, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangan.
Untuk area medis yang kritis, seperti ICU dan unit bedah, sering digunakan sistem
pembumian ekuipotensial untuk memastikan tegangan yang seragam dan
mencegah potensi beda tegangan berbahaya.
2. Pemasangan Elektroda Batang:
Elektroda batang (grounding rod) adalah elektroda yang dipancangkan ke dalam
tanah untuk menyalurkan arus pembumian.
Pemasangan harus dilakukan dengan benar, termasuk memilih material yang
berkualitas, menentukan kedalaman, dan mempertimbangkan jenis tanah.
Jumlah dan jarak antara grounding rod harus sesuai dengan standar dan kebutuhan,
serta mempertimbangkan jenis dan luas area.
3. Sambungan Kabel Grounding:
Kabel grounding harus terhubung dengan grounding rod dan semua perangkat yang
akan dipbumikan.
Sambungan harus kuat dan aman, menggunakan konektor yang sesuai dan
berkualitas untuk mencegah kerusakan atau lepasnya sambungan.
4. Pemasangan Grounding pada Alat Medis:
Alat medis, seperti peralatan bedah, peralatan diagnostic, dan lampu bedah, harus
terhubung ke grounding melalui titik pembumian khusus.
Pemasangan harus dilakukan oleh tenaga ahli yang berpengalaman untuk
memastikan keamanannya dan menghindari potensi masalah.
5. Pengukuran dan Pemeliharaan:
Setelah pemasangan, perlu dilakukan pengukuran untuk memastikan resistansi
pembumian berada dalam batas yang aman.
Pemeliharaan rutin, termasuk pemeriksaan sambungan dan kondisi grounding rod,
harus dilakukan secara berkala untuk memastikan kinerja sistem.
Hal-hal Penting yang Harus Diperhatikan:
Material Grounding:
Pilihlah material grounding rod yang berkualitas tinggi dan tahan terhadap korosi,
seperti baja atau tembaga, untuk memastikan umur pakai yang panjang.
Kedalaman:
Grounding rod harus ditanam dengan kedalaman yang sesuai dengan jenis tanah
dan kebutuhan pembumian, biasanya sekitar 1 meter.
Ukuran Kabel Grounding:
Pilihlah ukuran kabel grounding yang sesuai dengan beban dan arus yang akan
disalurkan, serta mempertimbangkan panjang kabel.
Koneksi yang Aman:
Pastikan semua sambungan kabel grounding dilakukan dengan benar dan aman,
menggunakan konektor yang sesuai dan berkualitas.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini dan memperhatikan hal-hal penting,
pemasangan grounding pada alat medis di rumah sakit dapat memberikan
perlindungan yang optimal bagi pasien dan personel, serta memastikan fungsi
normal peralatan.
b. Bahan yang digunakan
Elektroda batang (grounding rod)
Kabel grounding
konektor
c. Peralatan yang digunakan
Obeng Palu Tang
Alat Potong
Alat Bor
d. Identifikasi Bahaya
Terkena Alat Kerja
Tersengat arus listrik
e. Resiko
Terluka
f. Pengendalian awal
Selalu menggunakan Alat Pelindung Diri ( APD ) berupa masker, Sarung Tangan,
Rompi, Helm, Sepatu Safety
4. RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (RK3) IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO, PENGENDALIAN DAN
PELUANG.
PENILAIAN RESIKO KECIL
DESKRIPSI RISIKO PENILAIAN TINGKAT RESIKO PENILAIAN SISA RISIKO
PERSYARAT
NIL NILA
Jenis AN
IDENTIFIKAS
Bahaya PEMENUHA
AI
PENGENDA
I TINGK
KEMUN Kepar TINGKAT
I BAHAYA PENGENDALIAN RESI RISI AT KETERAN
URAIAN (Tipe N LIAN KEMUNGKI KEPARA
NO (Skenario AWAL GKINAN ahan KO RESIKO KO RESIK GAN
PEKERJAAN Kecelakaan PERATURA LANJUTAN NAN (F) HAN (A)
Bahaya) (F) (A) (F X (TR) (F X O (TR)
) N
A) A)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
A. PEKERJAAN PENGECATAN
Memar,
Pek.
Terjatuh dari
Patah Tulang
Pengecatan ketinggian
Ulang Tembok Gangguan
1 Pernafasan
Exterior Terhisap
Aroma Cat
Gangg
uan
Iritasi Mata Pengli
hatan
BAB V
SPESIFIKASI JABATAN KERJA KONSTRUKSI
5.1. Informasi
a. Untuk melaksanakan tugasnya, kontraktor pelaksana harus mencari informasi
yang dibutuhkan selain dari informasi yang diberikan oleh pejabat pelaksana teknis
kegiatan termasuk melalui kerangka acuan kerja ini.
b. Kontraktor pelaksana harus memeriksa kebenaran informasi yang digunakan dalam
pelaksanaan tugasnya, baik yang berasal dari pejabat pelaksana teknis
c. Kegiatan, maupun yang dicari sendiri. Kesalahan/kelalaian pekerjaan sebagai akibat
dari kesalahan informasi menjadi tanggung jawab penyedia jasa.
5.2. Persyaratan Kualifikasi
a. Bidang Bangunan Gedung dengan Sub Bidang Jasa Pelaksana untuk
Konstruksi Gedung Kesehatan (BG005) KBLI 41015
b. Kualifikasi Usaha Kecil
5.3. Tenaga Ahli
Untuk melaksanakan tujuannya, penyedia jasa harus menyediakan tenaga ahli yang
memenuhi ketentuan dari dokumen ini, baik ditinjau dari segi lingkup kegiatan maupun
tingkat kompleksitas pekerjaan; Tenaga ahli dan tenaga pendukung yang dibutuhkan
oleh kontraktor pelaksana adalah sebagai berikut:
No Jabatan Jumlah Pengalaman Keahlian
SKK
Manajer Lapangan
Pelaksanaan
1 Pelaksana 1 2 Tahun
Pekerjaan Gedung
Jenjang 6
Petugas Sertifikat Petugas
Keselamatan 1 0 Tahun K3 Konstruksi
2 Konstruksi